Share this post on:

Melacak Hewan

Source

Penerjemah: Daffa Stanwood

“—dengar, Subaru. Faktanya, mulai dari sini, kau harus paham kalau kau ini selalu hampir mati.”

“Hei-hei, nyonya gadis kecil ini bercandanya tidak lucu.”

“Betty bukan gadis kecil, dan ini pun bukan candaan, kurasa! Faktanya, kau harus menganggapnya serius!”

Saat Beatrice mengatakannya dengan wajah merona, Subaru mengangguk seraya bilang, “Paham, paham.”

Subaru duduk di karpet tanpa bintik sambil melipat kaki, sedang diomeli Ibu guru Beatrice yang tengah menyilangkan lengannya, tetapi omelannya sama sekali tidak berguna.

Penyebab utamanya gara-gara Subaru menyela antar jeda omelannya, tapi—

“Semua ini karena keimutan Beako. Gawat …”

“Betty kira akhirnya kau serius mendengarkan, tapi kau malah ngomongin apa!? …. Yah, sudah jelas Betty itu imut, jadi mau bagaimana lagi, kurasa …”

“Indeks dere-mu luar biasa tepat setelah melewati kejadian itu …”

“Kau sudah kelewatan membuat Betty kesal!”

Beatrice menghentak-hentak tanah, menyatakan kemarahannya. Tingkahnya saat ini masihlah sama, tapi di sisi lain, perasaan Subaru sangat berbeda.

Hingga kini, mereka senantiasa berselisih tentang ide dan pendapat masing-masing, Beatrice kesannya ibarat anak kucing lingkungan sebelah yang tidak gampang menerimanya. Akan tetapi, bagi Subaru, Beatrice sekarang ini adalah—

“Mirip kucing peliharaan menggemaskan yang membuatku ingin menghabiskan waktu dengan membenamkan wajahku ke perutnya.”

“Anggap! Serius! Betty! Kurasa!”

“Uagh!”

Setelah menggumamkannya dengan emosi dalam-dalam, Subaru diterbangkan Beatrice yang mengulurkan tangan ke arahnya. Ketika Subaru menempel di dinding lalu jatuh ke lantai, Beatrice mengangkat bahu putus asa.

“Jangan buat Betty mengatakannya lagi. Ini pembicaraan penting, kurasa. Faktanya, ini sangat berbahaya jika kau lewatkan—Ini soal masalah gerbangmu, kurasa.”

“… soal gerbangku, ya.”

Mendadak Subaru menegakkan tubuhnya, duduk bersila persis di tempat dirinya jatuh.

Pelan-pelan menyentuh dadanya, dia memikirkan organ dalamnya—sesuatu yang matanya tak bisa lihat, ataupun sentuh.

Gerbang adalah organ penting yang ada dalam makhluk hidup, dimanfaatkan untuk menggunakan sihir di dunia yang pemikirannya berbeda dari akal sehat Subaru. Entah itu layak atau tidak, rupanya ada hubungannya dengan bakat seseorang untuk menjadi pengguna sihir, dan dalam kasus Subaru, kualitas gerbangnya tidak terlalu bagus.

Tidak terlalu, karena gerbangnya sudah rusak dan hilang.

“Spesifiknya, gerbangmu masih ada. Kau merusaknya.”

“Sebab aku sembarangan menggunakannya meski dikasih tahu untuk jangan menggunakannya. Yah, lain waktu aku bertemu Felix, aku tidak cuma kena omelan. Aku melakukannya begitu saja dan menghancurkan semua perawatannya.”

“Selamat atas kekhawatiran barumu, kurasa …. Faktanya, lain waktu tentang ini tidak dijamin.”

Akibat dirinya mengabaikan saran Felix, yang bertugas memulihkan gerbang Subaru yang telah tertekan karena terlalu digunakan. Subaru menyusut ketakutan, yakin Felix akan marah padanya seganas oni, tetapi tatapan mata Beatrice mengimplikasikan situasinya lebih buruk dari kelihatannya.

“Imbas gerbang rusakmu, kau tidak bisa mengeluarkan mana dengan benar, kurasa. Faktanya, terlepas dari itu, mana akan terus diproduksi, atau diserap sepanjang hidupmu, terus menumpuk dalam tubuh. Tapi, karena kau tidak bisa mengeluarkannya …”

“Jangan bilang aku akan kepenuhan mana terus meledak?”

“…”

“Waduh, Beatrice-san!? Aku jadi takut saat kau diam!”

Subaru berteriak ketika Beatrice memalingkan padangannya, terdiam dengan ekspresi gelisah di wajah. Melihat Subaru akhirnya menganggap serius perkataannya, Beatrice mengangkat jari seraya berkata, “Dengar.”

“Sebenarnya, persepsimu benar. Jika terus seperti ini, kondisi fisikmu akan memburuk sebab mana yang berangsur-angsur menumpuk dalam tubuhmu, dan pada akhirnya kau akan duar gara-gara mana yang mengkeruh, kurasa.”

“Menakutkan amat! Apa ada penanganannya!?”

“Di situlah peran Betty, faktanya. Untunglah Betty membuat kontrak denganmu …. Subaru, dan kita saling terhubung lewat jiwa, kurasa. Faktanya, sesuai kata-kata Betty, Betty itu beda sedikit dari Roh lain dan perlu mana dari orang. Berarti …”

“—kau akan menangani mana yang menumpuk dalam tubuhku!”

Mendengar ide Beatrice, idenya laksana home run yang mengubah gelombang pertandingan kasti, Subaru berdiri penuh semangat dan mengangkat tubuh mungil rohnya.

Terus Subaru angkat rohnya ke udara lalu rohnya berteriak-teriak, “Nnh, kyaah!?” kemudian berputar-putar di tempat …

“Kau luar biasa, Beako! Sebetulnya, aku sangat berhutang budi pada keberadaanmu, rasanya tidak bisa sebanding denganmu! Dengan ini, kita senasib baik nama dan kenyataan!”

“T-tidak bisa diselesaikan begitu saja, kurasa! Mulai dari sekarang, kau harus ingat setiap kali suasana hati Betty kau rusak, hidupmu akan teramat-amat rapuh kayak seikat busa. Misal kau tidak mau mati, jangan berhenti mencurahkan hati dan jiwamu untuk menyenangkan Betty, kurasa.”

“Heh, jadi kau menyuruhku memberikan segala milikku untuk menyayangimu. Yang ada, tergantung berapa lama kau bisa terus jadi spektakuler dan memesona. Tanggung jawab besar itu ada di pundakmu, Beako.”

“Kenapa juga Betty mesti diberi tahu itu! Betty tidak bisa terima, kurasa!”

Subaru terus berputar-putar sembari mendengarkan teriakan Beatrice berwajah memerah yang masih diangkat.

Berputar-putar, putar, putar, dan putar.

Putar putar putar putar putar putar putar putar putar putar—

Seperti itulah, sensasi bidang pandangnya yang berputar-putar tiba-tiba berakhir, dan kesadarannya terbangun.

Penderitaan yang dialaminya sebelumnya, sesuatu mirip-mirip perasaan tenggelam tahu-tahu telah sirna, dan Subaru diserang rasa sakit ritme pernapasannya yang tidak seimbang, sekaligus ukuran tanah yang punggungnya rasakan.

“—akh, ah, ghagh.”

Subaru duduk sambil menggosok punggungnya, menelusuri kembali ingatan kejadian yang menimpanya.

Di waktu bersamaan, sewaktu melirik bagian tengah dadanya, Subaru tak melihat panah yang semestinya mencuat dari sana. Selain itu, goresan yang dia dapatkan karena menggores tubuhnya di pohon juga telah menghilang.

Wajar berakhir seperti ini. Dadanya ditusuk satu serangan menyeramkan itu.

“Aku … mati …”

Mengalami sensasi samar yang rasanya seolah tanah di bawah kakinya runtuh, darah Subaru mendingin sewaktu bergidik.

Adapun peristiwa yang menyebabkan hal ini, Subaru ditelan bayangan hitam di Menara Penjaga Pleiades, dan baru beberapa lusin menit dirinya dibawa pergi dari sana—hanya perlu waktu selama itu hingga Subaru kehilangan nyawanya.

Sekali lagi, dia memahami betapa parah posisinya, lalu bangkit berdiri. Entah bagaimana berhasil menopang tubuh goyahnya, Subaru mengamati sekeliling.

Kemudian—

“Sial, ini memuakkan …”

Memastikan dia lagi berada di tengah-tengah dataran hijau berumput yang membentang jauh nan luas, dan di manapun tidak mendapati sosok yang dia harap akan tetap bersamanya, Subaru mengutuk kemalangannya.

Tidak salah lagi ini padang rumput tempat dirinya dan dua orang lainnya dilempar dari menara.

Masalahnya Rem, yang dikirim ke sini bersamanya, tidak dia temukan, Louis pun juga hilang. Singkatnya, titik waktu dirinya dikembalikan Return by Death adalah—

“Setelah Rem mencekikku dan membuatku pingsan …!”

Titik ulangnya adalah ketika dia jatuh pingsan, dicekik Rem yang digendongnya di punggung.

Tidak jauh-jauh mengembalikannya sampai kebangkitan Rem tidak ada, dan tidak pula meniadakan perulangan terakhirnya di Menara Penjaga. Dari hal itu pun, Subaru pikir itu kabar baik.

Atau, jika dia bisa kembali ke perulangan terakhir di menara, bukannya dia tidak mengharapkan kemungkinan dirinya berbincang dengan Rem yang menghilang, harapan yang bertahan sekejap, namun—

“Aku ini bego, ya? Tidak, aku memang bego.”

Semisal dia menanggung perasaan penyesalan sebesar itu, seharusnya dia meluangkan lebih banyak waktu untuknya selagi masih bisa berhubungan, selagi masih ada kesempatan tuk bicara dengannya, dan selagi dia masih diberkahi bisa mendengar perasaannya.

Bagi Natsuki Subaru, yang tidak melakukannya, dia tak berhak meratapinya.

Bagaimanapun, saat ini—

“—aku akan mencari Rem.”

Dia mesti mengejar gadis yang melarikan diri itu, dan dia harus menjernihkan kesalahpahamannya.

Andai alasan kaburnya Rem adalah bau Penyihir yang menyelubunginya, maka karena dia barusan Return by Death, intensitas baunya barangkali kian kuat.

Kecil sekali kemungkinan Rem akan mengindahkan kata-katanya dibanding sebelumnya.

Akan tetapi, satu tahun yang dihabiskan Natsuki Subaru tidak sesia-sia itu, sampai-sampai dia rela menyerah mengembalikan Rem karena hal semacam itu.

“Dan lagi, ada pula masalah orang yang membunuhku …. Tapi, panah itu seharusnya bukan serangan Rem.”

Skenario kasus terburuknya adalah Rem menyerangnya, kemungkinan itu ada, namun Subaru tak mampu membayangkan dirinya sanggup mengumpulkan alat-alat yang diperlukan dalam kurun waktu sesingkat itu.

Terlebih lagi, busur serta anak panah bukan barang yang bisa mudah dan cepat dipersiapkan.

“Panah yang menusukku ada mata panahnya, ada juga bulu yang tertempel …. Boleh jadi karena panah itu menembus jantungku, tapi aku tak merasa terlalu sakit. Walaupun …”

Bila Rem terkena panah kuat dan kekuatan tusuk beratnya yang ditembakkan busur, maka Rem takkan dapat menahannya terlepas dari kekuatannya.

Karena dia tidak bisa bebas menggerakkan kakinya, dia akan sulit kabur. Apa pun risikonya, Subaru mesti menyelamatkannya dari tempat ini sebelum jadi korban panah.

Sekalipun Rem amnesia tidak menganggapnya sekutu, yang memang itu benar.

“Waktunya pergi, Natsuki Subaru—Tunjukkan mereka seberapa hebat dirimu.”

Menampar pipi, yang sementara waktu dia singkirkan dari pikirannya adalah kejutan dari kematian barusan, dan kesedihan yang dia rasakan karena tak disukai oleh gadis yang baginya penting. Entahlah Subaru bisa bergabung dengannya atau tidak biarpun menemukannya, tapi menemukannya adalah nomor satu.

Jadi sedih dan marah, adalah sesuatu yang bisa dilakukan orang hidup.

“…”

Menghembuskan napas dalam-dalam, dengan cara sama sebagaimana sebelumnya, Subaru mengikuti jejak kaki yang dia simpulkan telah diikuti Rem, melihat rerumputan menunduk, kemudian masuk ke hutan.

Akan tetapi, dia ragu-ragu perkara mesti berteriak atau tidak saat mencarinya.

Subaru telah melalui proses inisiasi berkat panah itu, barangkali karena musuh mendapati Subaru yang tanpa pertahanan.

Siapa pun mereka, identitas dan tujuan mereka sama-sama tidak jelas, tetapi susah menganggap mereka bersahabat, mempertimbangkan mereka bertujuan membunuhnya dengan satu serangan. Akan ada kematian jika mereka menemukan Subaru. Dia harus menganggap mereka sebagai musuh semacam itu.

“Tapi, karena dia menggunakan alat … busur dan panah, dia bukan Monster Iblis, melainkan manusia yang kulawan.”

Semisal lawannya adalah manusia, maka ada peluang dia bisa keluar dari situasi ini tanpa mencoba saling membunuh, tergantung bagaimana Subaru bernegoisasi dengannya. Biarpun, dari awal dia tidak tahu mereka bersedia duduk di meja negoisasi atau tidak.

Sebagian besarnya, dari jumltah total perulangan Subaru sejauh ini, persentase kematiannya yang disebabkan manusia dan Monster Iblis tampaknya sedikit condong ke manusia.

Hanya karena lawannya manusia yang mengerti perkataannya, bukan berarti Subaru pikir dia bisa serampangan membentuk hubungan persahabatan antara mereka.

Subaru memang berpikir kemungkinan menemukan Rem akan meningkat, seandainya lebih banyak orang yang mencarinya, tapi—

“—Cor Leonis.”

Menutup matanya, Subaru mengusir pikirannya yang mengoceh-oceh, mengaktifkan Wewenang yang berada dalam dirinya.

Kekuatan baru yang menunjukkan keganasannya di Menara Penjaga, Cor Leonis adalah keahlian penyelidik yang memungkinkannya mendeteksi lokasi rekan-rekannya, mereka yang akan mendukung sang Little King.

Menggunakannya, Subaru mati-matian memegang harapan dirinya dapat secara tepat menentukan keberadaan Rem.

Sayangnya—

“… gawat, tidak ada reaksi. Dia mungkin sudah pergi jauh dariku, atau kalau bukan itu … apa karena dia tidak menganggapku sebagai sekutu?”

Informasi mengenai jarak pasti Cor Leonis cuma sedikit, tapi Subaru tidak melihat cahaya samar yang menandakan sekutunya di area kemampuannya berlaku.

Memikirkan alasan dirinya tidak bisa mendeteksi lokasi mereka, Subaru merenungkan jarak antara mereka dan hubungannya dengan dia.

Emilia dan teman-teman pernah menjadi target efeknya, tetapi dia sekarang ini tidak bisa merasakannya sama sekali. Sekalipun dia secara pribadi kenal baik Reid dan Kerakusan, dia pun tidak tahu lokasi mereka.

Dia tentunya bisa memastikan aktivasi Cor Leonis.

Jika harus dia jelaskan, radar sekutunya dihidupkan, kendatipun dalam keadaan nonreaktif. Alasannya menjadi seperti itu adalah karena Emilia dan teman-teman di luar jangkauan efeknya, dan Rem yang semestinya berada dalam jangkauannya, tidak menganggap Subaru dalam kategori sekutunya.

—fakta dirinya juga tidak tahu lokasi Louis yang bertindak selaras dengan Rem, membuktikan teorinya.

Mana mungkin aku menganggapnya sekutu. Karena itulah tidak muncul di radarku yang punya cinta sepihak untuk Rem.”

Sampai detik ini, Subaru menyesali komunikasi buruknya ketika berinteraksi dengan Rem.

Karena dia dibungkus bau Penyihir, dia tak yakin kata-kata apa yang harus diucapkan demi mendapat kepercayaannya. Meski begitu, walau dia berbohong, dia tidak bisa mengatakan hal berkaitan apa pun untuk mencegah Louis ikut dengan mereka.

“Sial, bangsat … kenapa …!? Rem akhirnya … akhirnya bangun, jadi kenapa aku harus …”

Main petak umpet dengannya seperti ini?

Subaru menanti-nantikan hari di mana Rem bisa berdiri dan bergerak sendiri, namun seketika dia betul-betul aktif seperti ini, Subaru merasa tidak menyukainya.

Sekiranya dia pikirkan siapa yang harus dibenci atas hal itu, amarahnya malah melonjak, tertuju pada Uskup Agung Dosa Besar yang mencakup Louis pula.

“…”

Menyimpan pikiran dalam benaknya yang berputar-putar, Subaru was-was bergerak menyusuri hutan.

Tubuhnya tetap direndahkan selagi berjalan sebab seseorang membunuhnya sekali—dia akan menyebutnya pemburu biar lebih mudah, tapi itulah tindakan putus asanya untuk menghindari kontak dengan sang pemburu.

Subaru pikir dia kudu berusaha lebih, seperti mengusap wajahnya dengan lumpur, menyamarkan pakaiannya dengan dedaunan, dan menerapkan efek warna pengecoh pada dirinya sendiri, sayangnya dia tidak bisa menghabiskan waktunya untuk hal-hal itu.

Andaikan dia setidaknya tahu persis berapa banyak waktu berlalu setelah berpisah dari Rem, pencariannya akan mencapai suatu tempat.

“Pikir, pikir …. Di saat-saat seperti inilah aku bisa menggunakan pikiran licikku. Rem melupakan semuanya, dan tidak ingat apa-apa. Tapi, dia masih sanggup menahanku dan merasakan bau Penyihir. Artinya ingatan episodiknya hilang.”

Amnesia, sering kali muncul di manga dan gim, tetapi sebagian besar amnesia yang ada pada karya-karya tersebut berhubungan dengan kurangnya ingatan episodik.

Kondisi sama seperti halnya Subaru yang kehilangan ingatannya begitu masuk menara akibat menemui Kerakusan—bukan, Subaru baru kehilangan ingatannya kala tiba di dunia berbeda, lantas Rem tidak benar-benar satu kondisi dengannya, tetapi mirip-miriplah.

Dengan kata lain, Rem dalam keadaan tahu nama-nama beda, dia pun mengingat aksi refleksif yang diserap tubuhnya, tetapi dia kehilangan ingatan namanya sendiri dan nama orang-orang, sekaligus detail apa pun yang mengikat ingatannya mengenai waktu yang dia habiskan bersama mereka.

Bukti Rem menyebut dirinya Aku, dan naluriah waspada dari Subaru sebab baunya, adalah pembuktiannya.

“Dia pasti kebingungan. Dia tidak bisa selamanya kabur. Andaikata dia sudah cukup jauh berpisah dariku, maka dia akan meluangkan waktu untuk menenangkan diri lalu merenung. Lebih-lebih lagi jika membawa Louis bersamanya.”

Bodohnya Subaru mendoakan hal itu, tapi dia inginnya berharap Louis bakalan jadi penghalang besar dan merintangi pelarian Rem.

Ngambek, sesekali tidak mau jalan, dan terus-terusan menyebabkan masalah pada Rem, kesempatan Subaru menyusul Rem ujung-ujungnya akan datang misalkan itu terjadi.

Atau, tidak apa-apalah bila Rem meninggalkan Louis.

Seumpama Rem memutuskan dirinya takkan bisa menjaganya sebab tidak mampu mengurusnya, itu pun bisa juga—

“… sebetulnya, aku tidak tahu soal itu.”

Subaru tidak tahu Rem meninggalkan Louis atau tidak, melihat Louis kurang lebih bagaikan bayi tanpa daya.

Kehilangan ingatan episodiknya dan kurang lebih menjadi seseorang tanpa arti, bisa dibilang Rem tak punya kompleks inferioritas1 dari interaksinya dengan Ram, ataupun pembangunan identitasnya sendiri.

Meski kehilangan eksistensi Rem, tidak normal Ram bisa tetap stabil, tanpa adanya perubahan. Subaru bertanya-tanya apakah hal sama akan terjadi kepada Rem.

Rem saat ini bukan saudari perempuan Ram, kompleks inferioritas dan kebanggaannya sebagai bagian Klan Oni tidak berarti baginya, dia tidak menganggap Natsuki Subaru sama sekali. Rem itu—

“—ah.”

Selagi dia bayangkan, Subaru merasakan sensasi terbakar dalam dadanya, lalu melangkah panjang nan kuat ke depan.

Ranting-ranting korban keluaran emosinya berderak lalu patah, setelah itu tubuhnya mencondong ke depan sembari berjalan mengitari rerumputan tinggi di depannya, nyaris tergelincir di tanah berlumpur.

“—ah?”

Tanpa diduga-duga, hutannya membuka medan lain, dan Subaru mendapati dirinya telah keluar dari hutan ke dataran berumput lain.

Mengira dia bisa jadi berputar-putar dalam hutan, dan ujungnya tiba di tempat yang sama, wajah Subaru memucat. Akan tetapi, saat dia penuh perhatian mengamati daerahnya, dia sadar masalahnya bukan demikian.

Mirip padang rumput pertama, tapi ketinggian rumput di bawah kakinya beda.

Dibandingkan dataran berumput di awal, rumput di sini sedikit lebih tinggi. Ditambah lagi, tempat tersebut betul-betul dikelilingi hutan pada sudut 360 derajat, namun area ini hanya punya hutan yang Subaru buru-buru keluar dari sana.

Di depannya ada dataran berumput dan di belakangnya ada hutan, dia dapat melihat cakrawala besar di antara celah-celah padang rumput. Langit terlihat sangat jauh dan tinggi di udara, lalu ilusi perasaan misterius seakan disedot ke dalamnya membuat tanah di bawahnya berguncang.

Namun bukan hanya langit jauh itu yang menarik perhatiannya.

Tidak jauh dan lebih dekat dari itu, ada sebuah area terbuka kecil yang dibuat dengan membelah padang rumput, kemudian alat-alat berkemah yang ditaruh di sana—singkatnya, tanda seseorang sebelumnya pernah di sini.

“…”

Seketika, kehati-hatian meningkat dan memenuhi tubuh Subaru, lalu bidang pandangnya menyempit drastis.

Untung saja, tidak ada siluet seorang pun di tempat yang mestinya dia sebut sebagai tempat berkemah sederhana. Hanya bekas-bekas kemungkinan seseorang berkemah di luar sini, sulit menganggapnya jebakan.

Masalahnya adalah sebenarnya siapa yang membuat tempat berkemah ini.

“Kemungkinan paling pastinya adalah orang yang membunuhku … kan?”

Subaru memikirkan pemburu yang membunuhnya. Usai melanjutkan perburuan di hutan, kemungkinan besar dia menjadikan tempat ini sebagai pangkalan.

Jika demikian, maka Subaru harus segera menjauh dari sini, selanjutnya memastikan keselamatannya sendiri.

Antara Subaru menemuinya di hutan atau dataran, tidak salah lagi pemburu itu adalah individu berbahaya.

Kerap kali disebutkan bahwa Matagi1 tidak sengaja menembak manusia karena salah mengiranya sebagai rusa, tetapi salah menembak seseorang yang sedang mencari-cari kenalan mereka sambil berteriak keras-keras sebab si penembak mengira targetnya adalah rusa sepenuhnya tidak mungkin, jika Subaru mempertimbangkan keahlian mereka.

Pemburu itu adalah musuh yang mengancam. Subaru harus menyimpulkannya demikian sebelum bertindak.

Tapinya—

“… seandainya saja aku setidak-tidaknya bisa nyolong satu pisau.”

Untuk maju melewati pohon-pohon rapat di sesuatu yang dia sebut hutan lebat, Subaru menginginkan bantuan sebuah alat. Sayangnya saja, barang satu-satunya yang dia miliki adalah cambuk yang biasa dia gunakan—Guiltywhip, dibuat dari material musuh yang perkasa.

Pakaiannya yang berfungsi untuk menaklukkan laut berpasir, agak berguna untuk menaklukkan hutan lebat. Namun demikian, situasinya akan berubah drastis bila sekurang-kurangnya dia punya satu alat berbilah untuk menebang pohon agar bisa lewat.

Karena itulah, situasi akan berjalan cukup berbeda misal dapat satu alat yang mirip dengan itu.

Menganggapnya demikian, Subaru menuntaskan renung singkatnya, dan berjalan menuju perkemahan.

Dia pun punya pilihan untuk cepat-cepat berbalik lalu kembali ke hutan, tetapi menimbang apa yang dikejarnya, dia tidak ingin kembali ke sana dengan tangan kosong.

Sembari memerhatikan langkah kakinya dan sekitarnya, Subaru memasuki lokasi.

“Ada bekas api disulut, dan kelihatannya tidak rapih, tapi … ini tempat tidurkah?”

Dia tahu bekas api menyala tertinggal di tengah-tengah kamp, dan ada pula sesuatu yang terlihat seperti tempat tidur di sebelahnya, disejajarkan dengan rumput dipotong. Tidak salah lagi seseorang tinggal di sini.

Tempat tidurnya kosong pula, nampaknya tidak ada apa-apa lagi di area ini, tapinya—

“Kalau saja aku menemukan pisau, atau sesuatu semacamnyalah—”

“—hah, jadi kau mau pisau. Yah, kau muncul di waktu yang tepat.”

Sesaat Subaru mencoba mencari alat yang dapat digunakan, melakukan pencarian singkat di sekitar kamp, dia tertegun seketika mendengar suara seseorang di belakangnya, dan merasakan benda dingin ditodongkan ke lehernya.

Napasnya tercekat di tenggorokan, sewaktu lamban laun menurunkan pandangannya, Subaru melihat benda yang diangkat di samping kanan lehernya adalah bilah pedang, diasah dan dihaluskan dengan indah.

“…”

Selagi menahan napas, Subaru mengerti dia telah memberi lawannya hak untuk memutuskan apakah dia perlu membunuh Subaru atau tidak.

Akan tetapi, kepala Subaru kebingungan karena orang itu bicara dari belakang—dia berhati-hati. Was-was sembari jelas memperhitungkan keadaannya, karena dia tengah dalam situasi yang mempertaruhkan nyawa.

Tentu saja, di antara manusia super yang hidup di dunia lain ini, Subaru tahu ada orang yang mampu bergerak melebihi kecepatan mata, ada juga seseorang yang bisa teleportasi.

Terlepas dari itu …

“Apa di sini aku berhasil menggulir undian salah satu dari beberapa pengecualian itu, sekarang ini? …. Sialku ini bisa separah apa?”

“Bodoh. Siapa bilang kau boleh bicara? Kau harus hati-hati memilih setiap kata-katamu. Jangan lupa kamilah … akulah yang menentukan nyawamu.”

Bahkan selagi Subaru mengutuk kemalangannya sendiri, tiada belas kasih pada suara orang di belakangnya.

Sesuai perkataannya, boleh jadi kepalanya akan langsung melayang jika coba-coba melakukan hal lucu. Merasakan tekanan sangat kuat tak tertahankan yang mengemukakan semuanya akan berakhir demikian, Subaru habis-habisan memikirkan jalan keluar.

Menilai suaranya, orang itu pria.

Karena dia terdengar amat muda, dia bisa saja seumuran Subaru, atau lebih tua sedikit. Cara pria itu memilih kata-katanya kedengaran aneh, tetapi ganjilnya tidak terasa absurd bagi Subaru.

Dan paling krusialnya—

“Aku tahu kau sedang memeras otakmu berpikir dalam-dalam sementara mulutmu ditutup. Meski begitu, kau tidak berpikir akan membuang hidupmu dan mencoba menyerang balik … hmm.”

Pria itu punya pemahaman yang memungkinkannya memahami pikiran batin bisu Subaru.

Tampaknya dia sedang mempertimbangkan sesuatu sambil melihat punggung Subaru seraya bernapas seolah-olah lagi merenungkan pikirannya, lalu …

“Gaya pakaianmu asing di tempat ini. Aku tidak yakin pakaian ini cocok untuk iklim Buddheim. Tangan dan kaki pucat … kau bukan orang lokal.”

“Aku … uwah!”

“Diam. Siapa bilang kau boleh membuka mulutmu? Sekali lagi kau membuatku tidak senang, aku penasaran kau masih bisa bicara atau tidak setelah kepalamu kupisahkan dari tubuhmu.”

Pria itu tak berniat terlibat dalam percakapan. Subaru dipaksa menyadarinya sewaktu sayatan tipis mengenai lehernya.

Seiring rasa sakit sensasi tusukan itu, darah berangsur-angsur tumpah dari lukanya dan menetes ke lehernya, tetapi pria itu belum selesai memeriska Subaru.

“Pecut di pinggangmu terlampau dan sangat tidak berguna untuk digunakan di hutan. Tangan-kakimu juga sedikit terlatih, tetapi tidak terlalu sampai menyertakanmu ke pasukan serigala …. Rupanya kau tidak datang ke sini untuk mengejarku.”

“…”

“Kenapa kau diam? Jika tidak mengenalkan diri, apa kau lebih ingin mati di sini?”

“Eeh!? Aku diizinkan bicara kali ini!? Bukannya itu tak masuk akal!?”

Ketika Subaru memprotes ketidakadilan pria itu, tatapan tajam yang menusuk kepala belakangnya kian menajam.

Subaru menegang, tahu dirinya mengatakan hal tidak penting, namun tubuh kakunya akhirnya melemas saat pedang di lehernya ditarik.

Namun …

“—balik badan pelan-pelan. Apabila hendaknya kau …”

“Kau akan memenggal kepalaku?”

“Tidak. Aku ‘kan memotong anggota tubuhmu, mencungkil jantungmu, kemudian membakarnya di depan matamu.”

“Ancaman yang kelewatan jahatnya!”

Subaru mendapat pesan ancaman dari intensitasnya, berikutnya  mengangkat kedua tangan, mulai berbalik sedikit demi sedikit sambil membuktikan dia tidak berniat menyerang balik.

Setelah itu, dia menatap pria yang telah membokongnya—

“… kau serius?

—Subaru saling berhadapan dengan pria di depannya, yang wajahnya disembunyikan lilitan kain.

Dia sungguh-sungguh pria yang terlihat aneh.

Dia lebih tinggi sedikit dari Subaru, dan fisiknya nampak agak kurus. Menunjukkan anggota tubuh rampingnya selagi berdiri, dia memegang sesuatu mirip pedang atau rapier di tangannya, pedang berbilah tipis yang mengiris leher Subaru.

Pakaian yang dikenakannya mirip pakaian bangsawan dengan kualitas sangat bagus, bisa dibilang gayanya lebih asing dari penampilan Subaru. Seandainya Subaru amati lebih dekat, dia bisa melihat kain yang melilit wajahnya barangkali adalah jubah.

Entah dia mengalami luka di wajahnya atau sekadar tak ingin menunjukkannya, tidak jelas alasan dia mengenakan kain di wajahnya, tapi—

“Ada apa? Kenapa wajahmu bodoh begitu.”

“Kesampingkan kalau maksudmu itu tampang bodoh, wajahku sudah begini dari lahir, jadi bukannya itu masuknya menjelekkanku …? Ada banyak hal, tapi reaksiku terpaksa begini apalagi sesudah melihat penampilanmu.”

“Kau berandai-andai. Aku pun sedang melihat wajahmu, saat ini sekali lagi curiga kau ini pembunuh atau bukan.”

“Orang-orang tidak mendapat pekerjaan karena model mata mereka! Sejak awal peranku justru kebalikannya pembunuh. Alih-alih ofensif, aku lebih ke tipe pria defensif.”

Tanpa mengendurkan penjagaannya, pria itu—tidak, pria bertopeng itu tetap mengarahkan pedangnya ke Subaru.

Menanggapi suaranya yang serba keraguan, Subaru melihat peralatan pria bertopeng tersebut, lanjut barang bawaan yang diletakkan di belakangnya, lalu mengerutkan alis.

Pakaian pria itu yang tidak cocok untuk berkemah atau aktivitas apa pun di hutan, telah menarik perhatian Subaru, tetapi yang lebih menarik perhatiannya adalah karung yang tergeletak di belakangnya—Subaru cuma bisa menganggapnya sebagai sesuatu yang tahu-tahu muncul di tempat terbuka, sebagaimana pria yang muncul di belakangnya.

Selain itu, mengenai peralatan pria bertopeng itu—Dia tidak punya busur, tidak pula panah.

“… sepertimua kau bukan pemburunya.”

“Pemburu?”

“Masalah pribadi. Omong-omong … apa kau bisa melakukan hal semacam melintasi jarak secara instan atau jadi tidak kasat mata … hal-hal semacam itu?”

“…”

Tatkala Subaru mengajukan pertanyaan tersebut, mata hitam pria itu yang dapat dilihat dari celah topengnya, menyempit.

Tetapi reaksi pria bertopeng itu bukanlah amarah atau berpikir meninggalkannya, tetapi reaksinya menunjukkan dirinya tertarik pada Subaru.

Malahan, pria itu mendesahkan, Hah

“Apa yang membuatmu berpikir begitu? Nyatakan alasanmu.”

“… aku waspada sama sekelilingku sebelum mendekati tempat ini, untuk jaga-jaga saja. Tentu, aku tahu ada banyak orang yang bisa menembus apa pun seburuk kewaspadaanku, tapi kau bukan salah satunya.”

“Kenapa begitu?”

“Aku ingin kau mendengarkan tanpa marah padaku, tapi ada banyak kejadian aku kebetulan berpapasan sekelompok orang-orang jago, atau yang kau sebut manusia super. Membandingkanmu dengan orang-orang gila itu, firasatku bilang kau ini … uh, biasa saja.”

Misalkan Subaru bicara dengan seorang prajurit terkenal, yang Subaru katakan pastinya menyinggungnya.

Walau begitu, itulah yang Subaru rasakan usai bicara dengan si pria bertopeng. Dia amati bahwa pria di depannya tidak salah lagi sanggup menggunakan pedang, tetapi keahliannya rata-rata, mencapai tingkatan itu dengan sejumlah pelatihan.

Memandangnya dari sudut pandang Subaru yang mengenal orang-orang semacam Reinhard, Garfiel, Wilhelm, dan Julius, dia bisa bilang pria bertopeng tersebut lebih rendah sewaktu dia membandingkan mereka.

“Bila aku benar, maka teori dirimu melompat ke sini di luar persepsiku tidak berlaku dan dibatalkan. Sisanya adalah kemungkinanmu langsung menutup jarak dan muncul di belakangku, atau misal bukan itu …”

“Antara itu atau aku menghilang dari pandanganmu menggunakan Concealment.”

“—ahk!?”

Tak lama setelahnya, Subaru tersentak kaget ketika pria itu menghilang dari pandangannya, padahal lagi berdiri di depannya.

Namun keterkejutannya tidak berakhir di situ.

“Kau menghilang … tapi, apa kau tepat di depanku?”

“—kau benar. Concealment bahkan tidak bisa menghapus kehadiranku.”

Ditanya Subaru, pria bertopeng itu kembali nampak ketika menjawab, berdiri di tempat sama dengan postur sama pula.

Benar yang Subaru pikirkan, pria itu tidak menghilang sungguhan, menghilangnya cuma sekadar tidak terlihat. Dan fakta dia kembali nampak seketika menjawab pertanyaan Subaru artinya—

“Akan dibatalkan semisal menyentuh seseorang, atau orang lain menyadarimu?

“Walaupun, ini alat idealnya menahan napas dan berbaring bersembunyi.”

Mengucapkannya, pria bertopeng menurunkan pedang yang menghunus Subaru, dan mengarahkannya ke pinggiran kemah. Dia menunjuk tempat karungnya.

“Tempat tidur itu umpan. Aku lagi menahan napasku di sana, sedikit jauh dari situ. Aku melihatmu menyelinap ke sini dari awal. Lucu sekali.”

“Melihat dari samping, orang-orang kelihatan bodoh banget saat lagi waspada … bentar, sekarang itu tidak penting! Kau menurunkan pedang, jadi artinya …”

“Kau bukan pengejarku. Aku tidak tahu bagaimana kau, ataupun motifmu, tapi kau pastinya orang tersesat. Jika begitu, aku tak punya alasan untuk menghukummu berat-berat karena itu. Aku juga tidak perlu memberimu pelajaran dengan pedang ini.”

Seolah-olah menunjukkan dia tidak berniat bertarung, pria bertopeng itu mengembalikan pedang terbuka itu ke sarung di pinggangnya. Melihat hal itu, ketegangan di tubuh Subaru akhirnya melunak.

Saat merileks, Subaru mengingat rencana awalnya.

“Agh, bukan waktunya menenangkan diri. Hei, maaf banyak bertanya begini, tapi apa kau melihat seorang gadis berambut biru? Kami terpisah di sekitar sini.”

“Rambut biru? Tidak, tidak lihat. Malah, waktu menuju tempat ini, hal pertama yang kulihat adalah wajahmu. Memangnya kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa, deh!? Tidak kenapa-kenapa, tapi … sial, di sini pun gagal, ya. Hei, ini masih kemungkinan, tapi bisakah kau membantuku mencari …”

“…”

“Yea, sudah kuduga …”

Subaru gagal mendapat pernyataan saksi, dan upaya terakhirnya yang mengandalkan tali hubungan antar manusia, juga telah dipotong darinya.

Jawabannya adalah, Subaru ditatap sorot mata bagai pisau nan dingin si pria bertopeng sampai-sampai sorotnya bisa-bisa memotong apa pun yang menyentuhnya. Seperti itulah, demi mengembalikan waktu yang hilang, dia mencoba kembali ke hutan.

“Berhenti. Bila kau terpisah di hutan ini, maka bertemu kembali dengannya bukan hal yang bisa mudah dilakukan. Walaupun, aku yakin tindakan terbaik adalah mengutamakan kelangsungan hidupmu?”

“—maaf, tapi aku tidak akan berhenti. Hanya saja dia itu lebih penting dari hidupku. Aku akan bertemu kembali dengannya apa pun yang terjadi. Tidak, aku harus membawanya pulang.”

“Lebih dari hidupmu, ya. Sisihkan puisi bardik para biduanita itu, aku semata membayangkan kata-kata itu tidak ada artinya jika sungguhan mendengarnya. Aku semata-mata cuma bisa membayangkan itu, tetapi yang menarik adalah matmau.

Tatkala intensitas tatapan Subaru menajam melihat sikap pria yang mengejek kecerobohannya, jarinya menunjuk tepat matanya.

Kala Subaru melangkah mundur, mengira dia hendak mencongkel matanya, pria bertopeng itu terkekeh …

“Mata itu tidak berbohong ataupun berdusta. Aku tidak tahu akan berubah atau tidak saat benar-benar diukur dengan pertaruhan nyawamu, namun saat ini, sepertinya kau tidak merangkai kata-kata tipuan.”

“Terus … terus apa? Terus kalau yang kukatakan itu benar, apa yang akan …”

“—kurang lebih akan menarik minatku. Aku ‘kan mengizinkanmu meminjam kecerdasanku.”

Dengan satu jari, pria bertopeng tersebut mengetuk bagian di sekitar pelipisnya.

Mendengarkan jawabannya, Subaru pikir dia harusnya meneriakkan, Berhenti bermain-main! Pada pria itu, tetapi komentar kasar seperti itu tak keluar dari tenggorokannya.

Misteriusnya, ini pun hal aneh, tetapi Subaru tidak merasa curiga sama sekali pada si pria—Tidak, dia sudah mencurigakan. Tapi, hal mencurigakannya sudah ditutupi sifat meyakinkannya.

Kemungkinan besar efek kharisma alami yang dia miliki sejak lahir.

“Jelaskan detail kejadian sebenarnya. Akan kucarikan cara untuk menemukannya.”

“… aku dan dia tiba-tiba terlempar ke tempat ini.”

Tanpa sadar, Subaru mulai menjawab pertanyaan pria itu, pelan-pelan.

Bukannya dia betul-betul meyakini orang ini, maupun percaya kepadanya—Hanya saja Subaru sudah putus asa bukan hingga mengupayakan usaha apa pun. Ketika Subaru merasa seperti ini, dirinya ingin mengandalkan seseorang, sekalipun lebih tidak bisa dipercaya dari peluang undian.

Mungkin, hampir-hampir demikian.

“Kau ceroboh.”

Seperti itu, usai kelar mendengar penjelasan keadaan Subaru, kata-kata respon pertama pria itu nyelekit.

Mengikuti permintaannya, Subaru mendeskripsikan jelas-jelas kejadian antara dirinya dan Rem—meninggalkan situasi kompleks yang menyelimuti mereka.

Subaru bilang ingatan Rem itu campur aduk, bahwa dia telah kabur setelah membuatnya pingsan. Dan, Subaru pun memasukkan bagian dirinya beraksi bersama seorang gadis kecil berbahaya.

“Aku tahu. Aku tahu, aku bego banget. Tapi, kau takkan berhenti … kan? Mengekspos masa lalu kelam yang baru-baru ini kualami, dan menyelesaikan semuanya sehabis meledekku …”

“Bodoh. Mana bisa aku repot-repot menggunakan waktu berhargaku untuk mencemooh seorang pelawak sepertimu?—gadis itu, dia bisa berpikir cepat sampai tingkat tertentu, ya?”

“Ah, ya, pikirku begitu, barangkali.”

Terintimidasi oleh aura yang dipancarkan pria bertopeng, Subaru mengangguk jujur.

Sebagai pelayan serba bisa, Rem berperan aktif di berbagai momen kehidupan sehari-hari, tetapi evaluasi semacam itu tidak bisa diperoleh hanya dengan ahli melakukan pekerjaan rumah tangga saja.

Menentukan kemampuan orang berbeda kemudian memposisikan masing-masingnya di tempat yang tepat lalu menyuruh mereka bekerja—Bahkan selama bertarung, dia memprediksi gerakan Subaru dan bergerak selaras, biarpun Subaru sendiri tidak memberi aba-aba apa pun.

Rem itu pintar, kendatipun hilang ingatan—

“Seandainya seperti itu, sangatlah mungkin kau telah dijebak.”

“D-dijebak? Kau bilang aku ditipu? Itu … aku tidak …”

“Dalam hal ini, dia punya ingatan atau tidak bukan masalahnya. Hal pentingnya adalah gadis itu tahu dia lagi dikejar, dan dia mampu memikirkan langkah ini untuk melawan pengejarnya.”

Kata-kata Subaru dipotong, pria bertopeng menatap Subaru dari ujung kepala sampai kaki dengan mata hitamnya.

Merasa tindakan gegabahnya dikritik, Subaru mendempetkan bahu.

Melihat Subaru, pria bertopeng menyipitkan mata …

“Contohnya sengaja meninggalkan jejak di padang rumput untuk menyamarkan arah kaburnya.”

“…”

“Kau pastinya cemas sekali, setelah terbangun dari pingsanmu. Saat kau merasa perlu menemukannya sesegera mungkin, kau akan berbuat apa semisal ada langkah kaki dijiplak di sana seakan-akan ditujukan padamu?”

Bersemangat dan menggebu-gebu, Subaru mengejar jejak Rem bak anjing kampung.

Realitanya begitu, dan itulah jawaban tatapan mengejeknya. Tentu saja, Subaru bisa membantahnya, tapi—

“—benar saja, aku tidak menemukan jejak apa-apa lebih jauh ke dalam hutan. Tapi kukira karena jalannya tidak rata dan susah dilalui …”

“Kau tak buta terhadap kebenaran yang merugikanmu.”

“Aku tahu aku ini tolol dan goblok dari lama. Hanya saja aku dikaruniai kemampuan adaptasi dan tekad, sesuatu yang dimiliki diri lainku.”

Tidak dapat disampaikan biarpun mengutarakannya, namun Subaru menjawabnya seperti itu.

Sesungguhnya, spekulasinya masuk akal bukan kepalang. Dilihat-lihat lagi, jejak yang tertinggal di atas rumput rasanya kelewat jelas.

Di antara hewan liar layaknya rubah dan kelinci, ada juga hewan-hewan yang sengaja meninggalkan jejak kaki dan melompat ke rerumputan di tengah jalan, menggunakan teknik yang membingungkan pemangsanya.

Jejak yang ditinggalkan Rem di rerumputan itu sama, lantas bagaimana bila itu jebakan licik untuk menipunya?

“Dia membuatku pergi ke arah berbeda, dan dia pergi ke arah lain …?”

“Kalau begitu, arah yang dipilih seseorang seringnya justru ke arah berlawanan. Masuk akal apabila memilih metode yang bisa menjauhkannya sejauh mungkin, mengingat keadaan pikirannya—Kau mengerti?”

“… ini membuatku frustasi, tapi aku mengerti. Sial! Rem itu!”

Sebagaimana perkataan pria bertopeng, seandainya Rem sengaja meninggalkan jejak sebagai pengecoh, ada kemungkinan besar dia melarikan diri ke arah sebaliknya.

Akan tetapi, andaikata Subaru berhasil menebak tindakannya dan pergi ke sisi lain hutan, dia bisa jadi menemukan sesuatu untuk menyusulnya. Subaru entah bagaimana merasa mirip penjahat, tapi—

“Aku terbiasa memberi kesan pertama buruk pada orang lain gara-gara hal semacam wajah dan bau badanku. Aku pasti akan menyusulnya!”

“Bersemangat sekali—Ini, bawa ini bersamamu.”

“Uweh!?”

Bangkit berdiri, saat Subaru hendak kabur, tidak bisa diam lebih lama lagi, dia melempar sesuatu kepadanya usai mengorek-ngorek karung barang-barangnya.

Seketika Subaru melihat benda yang baru saja dia tangkap, dia dapati barang itu adalah pisau kecil yang disarungkan sarung kulit.

Pas Subaru membelalak, pria itu mengangkat bahunya …

“Hutan ini tidak dapat kau hadapi dengan satu cambuk. Gunakanlah sebaik mungkin.”

“Aku benar-benar berterima kasih atasnya, tapi … kau yakin? Sekarang aku tidak bisa membalasnya.”

“Tidak keberatan. Kadang kala, aku ingin menjadi pemberi. Ataukah, kau akan merampas semua barang milikku dengan pisau?”

Kedengarannya dia bercanda, tetapi benar memang dia memberi Subaru kekuatan untuk melakukannya.

Pria itu punya sejumlah keahlian, tapi tidak bisa dibilang tiada peluang Subaru bisa menandinginya, entah sekecil apa peluang itu. Dalam konteks ini, aksi pria itu seperti pertaruhan.

Akan tetapi—

“—namaku Natsuki Subaru. Ini jelas hutang budiku padamu. Aku pasti akan membalaskan budi yang kuterima. Aku takkan melakukan hal yang tak tahu terima kasih.”

Mengikat kuat-kuat pisau yang dia terima ke punggungnya, Subaru membungkuk dalam-dalam. Melihatnya, dia mendengus lirih, “Hmph …”

“Sudah kutunjukkan jalannya. Lanjutkan dan pergilah. Dengan segala cara, kau harus melakukan apa pun tuk memenangkan kepercayaan gadis yang melarikan diri itu.”

“Aku setuju total. Makasih atas bantuannya! Oh sebentar, terima kasih sih iya, tapi …”

“Apa?”

Melambaikan tangannya untuk mengungkapkan rasa terima kasih, Subaru berhenti tepat sewaktu dia hendak masuk hutan. Suara pria itu terdengar jengkel sedikit karena dia sibuk sekali, namun Subaru menunjuk hutan di depannya …

“Aku lewat sini buat kembali ke padang rumput tempatku berada, tapi kau jangan benar-benar menggunakan jalan ini. Ada pemburu menakutkan di sini. Mereka akan mencoba membunuhmu dari jauh dengan busur, jadi mau sebanyak apa nyawamu, takkan cukup melawan mereka. Jika kau mau pergi ke suatu tempat, aku sarankan memutar pinggiran hutan.”

“—begitu. Aku mengerti. Aku ingat baik-baik.”

“Iya, tolong ingat—Sampai jumpa!”

Mendengar jawabannya, Subaru berhasil mencegah penolongnya dibunuh langsung oleh si pemburu, menghindari potensi kejadian yang meninggalkan ingatan buruk pada dirinya.

Kemudian, belari ke dalam hutan secepat-cepatnya, dia mulai berlari ke padang rumput awal sekuat tenaga.

“—potongan pisaunya bagus amat!”

Beruntungnya, Subaru tidak terlalu kesulitan kembali ke padang rumput awal-awal.

Itu sebab pisau yang dia dapatkan dari pria tadi bilahnya tajam, sangat meningkatkan kekuatan pemotongan cabang dan daun yang menghalangi jalannya.

Normalnya, soal pisau seperti ini, tampaknya bilahnya akan sangat retak karena terlalu digunakan, namun Subaru tidak merasakan gangguan itu sama sekali. Mungkin pisau ini terlampau baik dengan kualitas tertinggi.

“Pakaiannya pun kelihatan cukup mahal juga. Dia sebenarnya siapa …?”

Selagi bertanya-tanya, Subaru kembali ke padang rumput asli dengan amat tergesa-gesa. Selanjutnya, ketika dia mencari area sekitar yang mengarah ke daerah berlawanan—

“—ketemu. Pasti ini.”

Barusan, di sisi lain jejak yang ditinggalkan sengaja, Subaru menemukan sepasang langkah kaki dalam bentuk tak merata di rumput. Kelihatannya Rem mencoba sebaik mungkin menghapus jejaknya, tetapi kecil kemungkinan dia bisa menghapus jejaknya sendiri, dan tidak dapat sepenuhnya menghapus jejak Louis.

Sebab ada usaha untuk menghilangkan jejaknya, tak masuk akal menganggapnya umpan tambahan.

Artinya—

“Akhirnya, ketemu jejakmu, Rem …!”

 Walau tadi dia sadar, Subaru menuturkan kata-kata yang membuatnya langsung terdengar bagai penjahat, berlari secepat mungkin sambil mengejar jejak tanda lokasi Rem yang baru ditemukan.

Jejak yang berlanjut hingga jalan masuk hutan sama seperti kali terakhir. Akan tetapi, tidak mungkin bisa menyamarkan ranting patah di jalan masuknya, maupun jejak kaki di lumpur.

“Ketemu! Misalkan ini kugunakan—”

Aku bisa menyusul Rem, pikir Subaru selagi berusaha melacak jejak kaki di lumpur dengan berapi-api.

Sesaat berikutnya.

“—ahk!?”

Tatkala Subaru memerhatikan jejaknya, sebuah sulur yang diikat telah putus di bawah kakinya. Tolak baliknya membuat cabang yang menopang sulurnya menembak ke arahnya, lalu pukulan kuat menghujamnya dari samping.

“Agh, ugh.”

Menerima cambukan horizontal dari cabang setebal lengannya, Subaru dihempas jauh. Teriakan sakit keluar darinya selagi berguling-guling di lumpur, tidak sanggup berdiri dari dampaknya.

Penglihatannya berkedip hidup-mati, dan terkena serangan mendadak yang tidak dikira-kiranya, kesadaran Subaru berputar-putar sakit dan syok bagai putaran cahaya mobil polisi.

“S-sekarang, mungkinkah …”

Kala rasa sakitnya berkurang setelah beberapa waktu berlalu, Subaru akhirnya berdiri di tempat. Meski dia tahu dampaknya memengaruhi lututnya, dan dia pun tahu terjadi kerusakan internal besar di tubuhnya.

Namun keterkejutannya melampaui itu.

“—jebakan?”

Sekalipun Rem melarikan diri, dia takkan akhiri dengan pelarian belaka.

Meskipun kehilangan ingatan, dia bisa memanfaatkan dirinya sepenuhnya. Semenakutkan itulah gadis itu—Rem.

Natsuki Subaru akhirnya tersadar saat itu juga.

—bahwasanya inilah awal pertarungan sejati lagi nyatanya yang kedua melawan Rem, semenjak dia tiba di dunia ini.

Catatan Kaki:

  1. Menyadur American Psychological Association, inferiority complex atau kompleks inferioritas, adalah kondisi psikis yang timbul karena rasa ketidakcukupan dan insecure yang berasal dari kekurangan fisik atau psikologis aktual maupun yang dibayangkan.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments