Share this post on:

Jalan Pulang Kereta Naga

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

Sumber Gambar

—kelompok Natsuki Subaru terus menuju timur sesudah meninggalkan kota Pristella.

Mereka ke ujung timur dunia—area tempat Bukit Pasir Augria berada, sebidang tanah yang kaya akan sejarah monster iblis yang senantiasa eksis selama ratusan tahun, menolak seluruh keberadaan yang menginjakkan kaki mereka ke wilayah mereka.

Mengandung miasma yang menyebabkan para pengelana kehilangan kesadaran akan arah dan menggerogoti hati mereka.

Berisi sekelompok monster iblis di garda depannya yang suka memain-mainkan hidup orang-orang. Kemudian ada seorang pencari perdamaian dunia—seseorang di menara penjaga yang menentukan setiap dan semua kegagalan serta kesalahan orang-orang yang mendekat. Orang ini adalah Shaula, sang Sage.

“Tahu hal itu saja rasanya kita seakan mau mengantri bunuh diri.”

Diingatkan rintangan di depan muka sudah cukup membawa keputusasaan.

Kenyataannya orang-orang yang bertujuan pergi ke sana padahal tahu apa yang akan dihadapi mungkin sama seperti orang yang hendak bunuh diri, atau barangkali pemuja penyihir. Pokoknya, mereka sama saja makhluk yang punya kelainan otak.

Namun Subaru dan kawan-kawan bukanlah orang-orang itu sebab mereka tidak berniat mati. Malahan sebaliknya mereka ingin hidup.

Mereka ‘kan menyediakan jalan hidup dan merespon setiap dan semua orang yang kehilangan nyawa mereka di jalan lain.

Mereka memulai ekspedisi ini demi mendapatkan benih harapan tersebut.

“… bagaimanapun, masih misterius.”

Subaru—yang diisolasi oleh anggota-anggota kelompoknya yang duduk di depan—membisikkan kata-kata tersebut sembari terus membayangkan goncangan kereta naga yang sebetulnya tidak gemetar. Begitu orang-orang dalam gerbong mendengar bisikannya, mereka beralih menghadap Subaru.

Totalnya 4 sorot mata—ditambah Subaru dan orang-orang di gerbong ini totalnya ada 5. Seperti inilah situasinya.

“Misterius? Sesuatu terjadikah?” tanya Emilia.

“Tidak, tidak penting, Emilia-tan. Hanya saja, pas salah satu naga yang dengan ramah kita tumpangi menunjukkan ekspresi konyol ke kita, aku pikir dalam hati, Ada hal yang cukup mengagetkan di dirinya.”

Demikian respon Subaru sambil menepis pertanyaan Emilia. Emilia dan Beatrice masing-masingnya di kanan-kiri Subaru selagi mengamankan kedua sisinya. Mereka sekutu Subaru. Jelaslah keduanya menyertai Subaru, tapi meski begitu, pertanyaannya adalah dua orang di depannya.

“Yah, mungkin normal kau merasa seperti itu. Sebetulnya, aku pun berpikir sangat mengagetkan. Wajarlah Natsuki-kun merasa tak nyaman, ya.”

“Aahh, itu benar.”

Orang yang tertawa cempreng dan mengatakannya dengan logat kansai—logat yang disahkan menjadi logatnya Kararagi—adalah Anastasia. Sehabis si sadis lemah itu merespon dengan logat kansai, dia menatap Subaru dengan mata penuh arti sambil meraba-raba rambutnya.

“Walaupun kau mungkin saja tidak separah Julius, kalau membicarakan hal-hal semacam ejekan menghibur.”

“Itu kejam. Akan tetapi, tolong jangan khawatir—Pribadi sejati saya adalah kesatria. Satu malam pun sudah cukup untuk menyesuaikan keadaan hati. Belum lagi, beberapa hari terakhir telah … saya berjanji untuk takkan lagi menunjukkan hal memalukan seperti di hari kemarin.”

“Elegan sekali. Kalau begitu kami akan berharap demikian, barangkali.”

Julius membungkuk lalu menanggapi cara bicara Anastasia yang seolah mengejek karena insiden sebelumnya.

Hal yang sudah jelas jika kau menganggapnya demikian. Julius dihajar wewenang Kerakusan, tapi wewenang itu spesifiknya lebih berdampak ke seluruh teman-temannya alih-alih dirinya sendiri; memengaruhi semua orang kecuali dirinya.

Maka, orang-orang yang mengubah perilakunya adalah teman-temannya, bukan dia. Julius tidak menyembunyikan perasaan tak nyaman saat dibalas reaksi-reaksi seperti ini, dan terlebih mengenai yang dia ucapkan sebelumnya, nampaknya teman-temannya tidak akan mudah menerimanya lagi.

“… kau menakjubkan.”

Pujian Subaru dituturkan suara yang kedengarannya tanpa emosi.

Kekurangan Subaru adalah dirinya tidak sanggup membuat pujian besar. Bukan berarti dia boleh melupakan perasaan itu juga—perasaan keberadaanmu ditinggalkan, tidak mampu menceritakan ingatanmu pada semua orang di dekatmu.

Natsuki Subaru pasti punya ingatan hidup-hidup lain yang tak diingat siapa-siapa, karena dialah orang yang mampu kembali ke masa lalu dengan kemampuannya, Return by Death.

Bila dia mengingat suatu pengalaman dirinya membangun koneksi yang berujung kehilangan koneksi tersebut, dalam hati berpikir pengalaman itu ialah awal-awal waktunya di mansion Roswaal—hari-hari berulang di mansion Roswaal.

Dia dipanggil ke dunia lain, mondar-mandir melakukan segala macam hal di Ibu Kota Kerajaan untuk membantu Emilia lalu hasilnya, dia diundang masuk ke mansion Roswaal. Kemudian mengalami 4 perulangan peristiwa sebelum menginjakkan kaki ke dunia ke-5.

Ingatan hingga dunia ke-4 disimpan dalam diri Subaru dan tidak di tempat lain.

Bahkan kini, sulit melupakan syok yang dirasakannya karena diperlakukan layaknya orang asing oleh orang-orang yang menjalin hubungan dengannya pada masa-masa itu di mansion.

Sakit dan pedihnya takkan hilang.

“… apa? Subaru, kenapa kau mendadak mengelus kepala Betty?”

“Jangan khawatir. Hanya saja emosi mendalamku bilang, Waktu itu aku benar-benar diselamatkan dirimu. Makasih. Makasih.”

“Aku tidak paham, kurasa. Dan juga, rambutku semakin berantakan jadi hentikan … jangan berhenti, tapi elusnya sedikiiit lebih lembut.”

Beatrice menyodorkan kepalanya ke Subaru selagi menduduki setengah kursinya. Subaru mengelus kepalanya sesuai permintaan, tidak membiarkan Beatrice melupakan keadaan pikiran Subaru ketika dia benar-benar diselamatkan.

Satu-satunya orang yang tidak mengubah perasaan mereka kepada Subaru selama hari-hari perulangan di mansion adalah Beatrice. Mereka bertemu sebelum awal-awal Return by Death. Dia konstan menjadi satu-satunya orang yang tidak mengubah cara berhubungannya dengan Subaru setelah itu pula.

Selain itu, Beatrice pun akan menyimpan fakta dirinya menyelamatkan Subaru sebagai rahasia abadi.

“Setelahnya, Emilia-tan menyelamatkanku, ya.”

“…?”

Emilia menanggapi ingatan Subaru dengan wajah penasaran.

Subaru yang berada di sini saat ini karena diselamatkan kebaikan, suara, tingkah, dan kehangatan pangkuan Emilia.

“…”

Karena hal-hal itulah Subaru percaya dengan Julius yang punya kesan mampu melakukan apa-apa sendirian. Subaru bisa sampai sini dari caranya meraih pencapaian-pencapaiannya; dia dapat bantuan sebesar mungkin seiring berjalannya waktu selagi berupaya membenarkan semuanya sebanyak empat kali.

Atau boleh jadi karena akan ada seseorang yang menawarkannya bantuan.

Seseorang yang dilupakan Anastasia; seseorang yang tidak meminta bantuan satu pun anggota fraksinya; seseorang yang ikatannya terputus dengan roh-roh yang dikontraknya; seseorang yang saudara sedarahnya tidak mengingatnya pula.

Bila demikian, maka Subaru akan berterimakasih kepadanya.

“Terus menatap wajah orang seperti itu … ada yang salahkah, Subaru?”

“Bukan apa-apa. Aku cuma mau memberitahu Emilia-tan kalau kau ini cantik dan aku mencintai dirimu yang tersenyum dengan anggun.”

“Sangat elegan … itu memang terdengar bagus. Aku tidak pernah dipuji seperti itu darimu. Aku teramat senang … atau, barangkali itu berlebihan. Yah, bukannya elegan indahku itu berkah?”

“Aku tidak berniat memujimu. Apalagi jadi menyebalkan kalau kau katakan seperti itu!”

Dengan sikap Julius yang tidak berubah—lebih tepatnya, reaksinya yang menjadikannya seolah-olah terlihat makin ahli keceplosan, Subaru jadi kesal terhadap hal ini.

Subaru susah menerima kelemahan nyata yang ditunjukkan di depannya ketika Julius berada di kamar rumah sakit adiknya di Pristella. Dulu Julius penuh semangat, dan Subaru ingat saat Julius tidak merasa puas maka akan tampil di ekspresinya. Akan tetapi, kesemua itu sekarang sepenuhnya dilupakan sejarah.

“Kau dan Julius akur dengan baik. Umm, umm, kayak hubungan kalian sekarang dan saat sedang mengobrol.”

“Emilia-tan, kau salah sangka. Mana mungkin aku dan orang ini akur. Kau lihat wajahku? Mataku punya rupa paling menakutkan sepanjang sejarah. Meskipun, itu pendapatku saja.”

“Masa? Kurasa kau tidak benar, tapi …. Ah, aku tidak membicarakan rupa matamu. Aku membicarakan saat kalian berdua tidak rukun. Mata Subaru punya tingkat menakutkan ekstrem sama seperti biasanya.” Kata Emilia.

“Tingkat menakutkan ekstrem sama seperti biasanya!?”

“Yah buatku, aku suka mata Subaru. Aku sungguh-sungguh jujur.”

“Ah, sial dah. Berharap sekali bagian mataku yang itu tidak dimasukkan rekaman audio …”

Emilia nyengir selagi membuat Subaru merasa penuh penyesalan. Selanjutnya berbalik menghadap Julius dengan tatapan penasaran, mengundang sorot mata Julius.

“Saya sendiri tidak bisa menyangkalnya. Kenyataannya, menyebut saya dan dia itu dekat … bukan hal yang patut dikatakan. Walaupun di mata saya, kami saling berkompromi, terlepas keadaannya.” Kata Julius.

“Menyebutnya kompromi, itu namanya merendahkan. Bahkan sudah masuk mencela …. Mungkin akan membuatnya kesal.”

“Sulit diungkapkan. Saya bertanya-tanya kita harus bilang apa padanya.”

Subaru meminta persetujuan Emilia tentang pendapatnya soal Julius, tetapi dia tanggapi percakapan mereka dengan menyisir rambutnya lalu …

“Sudah kuduga, kalian sangaaaaat akrab, ‘kan …?” tanya Emilia.

“Ayolah. Itu mah jelas tidak.” Protes Subaru.

“Eh? Yah, kalau begitu saya rasa kami akrab .…”

Subaru tidak sependapat dengan Emilia, namun Subaru sendiri dan Julius bertingkah seolah-olah tak terjadi apa-apa. Karenanya Emilia makin bingung. Anastasia mencoba menahan diri untuk tak tertawa, cekikikan sambil tersenyum.

Reaksi Anastasia membuat Julius mendadak mengendurkan bibirnya, ibarat menunjukkan dia sudah tenang—Hubungan tuan-pelayan itu mencurigakan bagi Subaru, yang sudah familier dengan situasi sebaliknya.

Anastasia di sini berbeda dari Anastasia Hoshin asli, karena dia palsu.

Tubuh Anastasia adalah tubuh yang roh buatan, Echidna—nama panggilan Eridna (Eridona)—saat ini gunakan. Eridna ini tidak berniat merebut tubuh Anastasia, namun Subaru tidak yakin seberapa jauh dia bisa percaya padanya. Menjadi seseorang yang menyadari situasi ini, satu hal yang Subaru tidak gagal lakukan adalah mengawasi Emilia dan Julius—yang keduanya tidak menyadari situasinya—sembari berusaha tidak memberi pencerahan.

“… Subaru, hentikan.”

Beatrice mengucapkan kata-kata itu ke Subaru yang tentu sedang berpikir keras. Rambut gadis ini berantakan, karena Subaru mengelus-elus kepalanya selama masa hening ini. Wajah manisnya kelihatan masam.

“Ohhh!? Salahku, Beako! Penampilan imutmu jadi kacau … rambutmu acak-acakan sekarang.”

“Mungkin harusnya kau jangan membuat-buat seolah keimutan Betty rusak cuma karena tatanan rambut! Terlebih lagi, wajahmu mulai kelihatan seram.”

Subaru mengangkat pantatnya dari separuh kursi saat Beatrice berkata demikian selagi panik memperbaiki rambutnya. Subaru menggumam, “Ooh,” menahan dirinya untuk bicara, sedangkan Beatrice mukanya apatis melihat ketidakcakapan Subaru.

“Tidak ada gunanya wajahmu resah begitu, kurasa …. Betty akan urus. Misal terjadi sesuatu, Betty jauh lebih cepat ketimbang Subaru perihal menyadarinya.”

“… iya.”

Kata Beatrice merespon kecemasan Subaru. Dia Beatrice—orang lain yang kenal Eridna dan kondisi dirinya yang mengambil alih Anastasia.

Mereka menjanjikan dua pernyataan yang ‘kan menyembunyikan kebenaran. Keduanya adalah: pertama, Subaru takkan membuat keributan tak penting mengenainya. Kedua, pastikan Eridna tidak punya niatan mencuri tubuh Anastasia. Akan tetapi, Beatrice-lah satu-satunya orang yang akan menyadarinya tatkala sudah terlambat.

Dua makhluk ini sama-sama tipe roh buatan yang punya hubungan serupa dengan Penyihir Echidna. Jikalau Eridna merencanakan sesuatu, Beatrice pasti akan merasakannya.

Sekalipun, seandainya Subaru mempertimbangkan emosi Beatrice, rasanya sangat tidak disarankan Beatrice terlibat dengan Echidna, tapi …

“Kesampingkan kecurigaan tidak pentingmu itu, boleh-boleh saja kau bertindak seperti dirimu sendiri dan mencari bantuan siapa pun tanpa peduli siapa orangnya. Tapi kau mendatangi Betty duluan, kurasa. Oleh karena itu kali ini aku puji.”

Jawab Beatrice, jadi begitulah.

“—aku melihatnya.”

Persis seketika Subaru pikir kereta naganya terdiam, Emilia tiba-tiba membisikkan kalimat itu.

Rupanya Emilia sudah melihat tujuan mereka biarpun masih jauh selagi melihat keluar jendela kereta naga. Subaru juga paham bagaimana pemandangan di luar jendela berganti menjadi pemandangan tak asing.

“Jalannya nostalgia banget. Tidak lama lagi kita akan sampai di mansion Roswaal, ya.”

Subaru menggumamkannya, pertama-tama menahan perasaannya agar tidak sampai ke dekat pos pemeriksaan pertama, mengingat tujuan awal mereka.

Tujuan grup ini sama seperti tujuan awal, Bukit Pasir Augria—tempat mereka akan bicara dengan sang Sage Shaula. Namun mereka sudah berencana mampir ke mansion Roswaal di tengah jalan untuk bersiap-siap akan perjalanan mereka sekaligus menjadi titik pemberhentian ekspedisi panjang.

Banyak hal yang ingin mereka bicarakan di fraksi, termasuk insiden Pristella dan kesempatan bicara dengan Sage. Juga, apalagi—

“Bukan cuma pemberhentian sederhana, oke.”

Ada arti di balik mampirnya ke mansion Roswaal sebelum menjalankan ekspedisi mereka untuk menemui Sage.

Artinya adalah, mungilnya dunia kala dilihat mata besar, tetapi melalui mata kecilnya Natsuki Subaru, artinya adalah kemungkinan besar.

“…”

Subaru menyipitkan mata untuk membayangkan mansion jauh yang belum terlihat.

Semua orang dalam kereta itu melihat Subaru. Berbagai emosi ada di warna mata mereka, namun Subaru tidak menyadarinya karena tak tenang.

1 jam lewat tengah hari barulah kereta naga itu tiba di mansion Roswaal.

Migrasi panjang dari Kota Pristella—yang baru berlangsung selama 10 hari—berhenti sementara.

“Subaru!”

“Ohh, Petra, waduh!?”

Mereka mengendarai naga darat menuju mansion Roswaal, mengucapkan terima kasih kepada bapak pengemudi, kemudian turun. Seorang pelayan kecil lari menuju Subaru dari mansion dan melompat ke arahnya dengan kekuatan penuh.

Dia datang ke dadanya dengan ketangguhan dan kekuatannya, dan Subaru entah bagaimana berhasil menangkapnya sambil mundur. Berikutnya dia belai kepala gadis yang terbang ke pelukannya.

“Petra, kalau kau melakukannya setiba-tiba itu nanti mengejutkanku, tahu. Kepergianku sudah satu bulan sekarang, tapi kau baik-baik sajahkah?”

“Aku baik-baik saja, seperti yang kau lihat sendiri. Tapi, Subaru …. -sama kesulitan, ‘kan? Aku sudah cemas semenjak surat yang datang sudah dua hari lalu. Kau terluka parah lagi, ‘kan? Bisa kau tahan rasa sakitnya?”

“Gelitik-gelitik.”

Petra menyentuh tubuh Subaru untuk memastikan rasa sakitnya selagi rambutnya yang dicat cokelat dan sedikit diwarnai merah berayun ke depan-belakang. Subaru tanggapi dengan seringai, kemudian semua orang turun dari kereta naga.

“Hei, Petra. Lakukan pekerjaanmu sebagai pelayan dengan benar. Kalau tidak, Ram sama Frederica akan marah padamu.”

“… oke. Beri tahu aku kejadiannya nanti.”

Petra segera kembali, tapi sepertinya kepercayaan Petra betul-betul rusak. Wajar Petra gelisah karena Subaru memberi kabar bagaimana dirinya tersangkut suatu kegemparan yang memengaruhi seluruh kota. Sekalipun Subaru tidak menyebabkan kegemparan itu sendiri karena disebabkan oleh Kultus Penyihir. Akan tetapi, dalih tersebut takkan ada artinya.

Berdalih pun tak berguna, mengingat kebenarannya adalah sebagian besar tujuan Kultus Penyihir terkait dengan Fraksi Emilia.

“Selamat datang tamu sekalian. Saya menyanjung usaha Anda dalam perjalanan panjang ini. Saya Petra Leyte, seorang pelayan keluarga Mathers. Sayalah yang akan memandu Anda sekalian menuju mansion.”

Subaru menghentikan ingat-ingatnya, lalu Petra menyampaikan pemberitahuan yang bisa orang dengar ketika memasuki kuil.

Julius meraih tangan Anastasia untuk membantunya turun kereta, selanjutnya mereka berdua turun dengan ekspresi kagum di wajah. Raut wajah mirip-mirip bangga Emilia dan Beatrice terlihat di muka mereka.

“Kau cukup layak biarpun masih kecil, ya. Pelatihanmu bagus.”

“Nampaknya perilaku Subaru jadi sepenuhnya berbeda setelah dipeluk, ya.”

“—pemandangan yang memalukan.”

Julius setuju bersama Anastasia tersenyum, terus paras Petra mulai merona begitu mendengar perkataan mereka. Julius menatap Petra, lalu lanjut menatap Subaru. Setelah itu …

“Begitu … kau makin-makin membuat orang suka memujimu sebagai Penyihir Loli.”

“Kuberi tahu, Petra tidak sebelia gadis cilik, dan meskipun kau panggil aku begitu, satu-satunya gadis kecil yang kumiliki adalah Beako. Luruskan pemahamanmu.”

“Betty juga bukan gadis yang bekerja keras untuk dimanfaatkan Subaru sesukanya, kurasa. Subaru, kau pun harus meluruskan pemahamanmu.”

Subaru membalas dingin ocehan Julius, kemudian Beatrice menegur dengan lebih dingin.

Mulut Subaru mengkerut. Dia terdiam dan Beatrice buang napas. Setelah itu Beatrice melihat bagian bawah Petra. Gadis kecil itu sedang berdiri bersamanya, lalu bergerak sedikit untuk meraih ujung rok Petra.

“Dan lagi, lihatlah. Tidak banyak berubah sepanjang hidup Betty dan Petra, kurasa … sebentar. Betty merasa Petra telah tumbuh sedikit. Rambutnya pun sama, kurasa …!”

“Karena satu bulan sudah berlalu, dan sekarang ini lagi masa pertumbuhanku. Punggungku nanti tumbuh, rambutku juga misal tidak dipotong. Tapi Beatrice-chan tetap kecil.”

“Apa, apa-apaan …!”

Petra memeluk erat Beatrice yang tersenyum heran. Dia terus memeluk Beatrice—yang wajahnya marah—sampai puas, terus menjauh seraya berkata, “Kalau begitu, izinkan saya menuntun Anda sekalian.”

“Baiklah, akhirnya kita ke … uagh.”

Subaru hendak mengikuti, tetapi tangan seseorang meraih belakang lehernya. Ketika dia berteriak dengan tenggorokan tersumbat dan melihat ke belakang, mengejutkannya dia mendapati Emilia-lah yang memegang lehernya.

Kereta naga di belakang menyentak dagu Subaru sementara Emilia memegangi bagian belakang lehernya.

“Subaru, Patrasche kelihatannya tidak senang.”

“… ini jadi situasi egois, ya.” ujar Anastasia.

Andai kau lihat naga daratnya ketika Emilia mengatakannya, dari dua naga darat yang mereka ajak berkelana, kau akan mendapati naga darat hitam legam cantik itu melotot ke Subaru dengan mata teramat-amat tajam.

Dialah naga penyayangnya Subaru, Patrasche. Sewaktu Subaru mencoba membalas tatapannya, dia langsung berbalik. Mengeluarkan suara lirih tak senang.

“Kau benar-benar tidak bisa berbaikan dengannya, kendati punya waktu 10 hari, ya.”

“Iya aku tahu, tapi aku betulan tidak berpikir kali ini salahku …”

Subaru menggaruk kepalanya selagi berpikir harus mengapakan Patrasche yang lagi bersandar di perutnya.

Perkara masalah Subaru yang dibantu Patrasche hingga sekarang, kilas balik sejak mereka meninggalkan Kota Pristella—atau yah, mari pindah sedikit lebih jauh lagi. Seketika Subaru pergi ke kandang naga darat sehabis bertahan dari serangan Kultus Penyihir, suasana hati Patrasche sudah buruk.

Subaru tidak bicara dengan naganya, sebab tidak tega membiarkan sendirian Otto yang terluka. Patrasche itu pengertian, sederhananya karena mereka telah kenal lama. Naga penyayang ini juga mencoba memahami kemarahan Subaru dari waktu ke waktu.

“Itu, yah aku tahu sudah mengabaikannya selama kegemparan itu, bahkan aku membiarkannya kesepian, tapi … uwaaah!?”

“Subaru!?”

Subaru lagi di ujung kata-katanya namun ketika itu Patrasche mengayun ekor, akibatnya Subaru serba tanah sesudah kena serangan langsung. Benar memang, serangan Patrasche tidak ada belas kasihnya. Bila Subaru membalasnya dengan berbohong, dia tanpa ragu-ragu akan menyerang.

“Tak pernah kuduga …. Tidak kusangka aku punya terlalu banyak perlindungan padahal terhadap serangan Regulus aku kurang perlindungan …”

“Kau tidak apa-apa? Patrasche mendadak menggoyangkan ekornya lagi, tapi bukannya ini artinya kau akan diserang lagi misalkan salah bicara?”

Subaru dibantu Emilia selagi memangkunya, dan bangkit berdiri saat mendengar maksud menakutkan Emilia. Subaru melihat Patrasche, naga itu jelas lagi menggoyang-goyang ekor panjangnya. Dia tebas udara dengan ekornya seakan mengancam Subaru. Rasanya dia bilang akan menggandakan kekuatan serangannya di setiap kesalahan Subaru.

Subaru tanpa sadar tidak dapat bicara dengan benar, dan tenggorokannya sesak sewaktu menyadari dirinya tidak boleh menjawab sembarangan.

“Kendatipun kau ceroboh seperti itu, naga daratmu tetap bersimpati besar padamu.”

Akan tetapi, pernyataan Julius—yang menjatuhkan awal hidayah Subaru—akan mendatangkan efek tak diinginkan kepada Subaru. Subaru menunjuk dirinya dan Patrasche sebagai respon argument Julius lalu ….

“Serius? Aku agak tertutupi semua kotoran ini, tahu? Kau sebut ini simpati?”

“Sekiranya kau pernah merasakan bukti kasih sayang mendalam, kau akan mengerti, bukan? Naga darat ini emosional dan ruwet. Dia gusar karena tidak bisa membantumu selama kegemparan itu, dan dia marah padamu karena tidak meminta bantuannya. Jadi mungkin hanya emosi saja, alih-alih murka ke dirimu.”

“Kau bilang apa? Kau mau buat kekuatan heroine-nya setinggi apa? Hentikanlah.”

Tingkat kebenaran pendapat Julius tak diketahui, tetapi sekurang-kurangnya, ucapannya mengakhiri ayunan ekor Patrasche. Subaru sekali lagi melihat naganya, dan naganya mengalihkan pandangan, seperti biasa, tapi—

“Lihat dia sekarang, rupanya agak malu sehabis mendengarnya.”

“Emilia-tan, kau menyadarinya juga? Aku pun sama. Hatiku jadi berdebar-debar, jadi tolonglah jangan sering-sering melakukannya, Patrasche.”

Subaru menuturkan kata-katanya, tangannya dengan gugup diulurkan, akhirnya Patrasche menunduk, mengizinkan Subaru menyentuh tubuhnya yang dilapisi sisik-sisik keras. Dengan ini, tampaknya perang dingin yang punya waktu 10 hari untuk memperbaikinya berakhir dengan baik.

“Bukankah sudah cukup? Apa semuanya baik-baik saja sekarang?”

Petra memperlihatkan ketidaksabarannya selagi mereka menetap di taman depan mansion tanpa mengindahkan waktu.

Petra datang kemari disuruh membimbing mereka, namun mereka masih saja memakan banyak waktu.

“Jika kita tidak cepat kembali, Ram nee-sama akan marah lagi terus …”

“—jika kau meresahkan hal-hal semacam itu, artinya usahamu kurang.”

“Hua—!?”

Petra—yang mengeluarkan suara lirih dengan langkah kakinya—menjerit dan menegakkan punggungnya. Saat berbalik, dia melihat seorang pelayan berambut merah muda datang dari jauh dalam mansion.

Dia Ram, tidak salah dan tidak ragu lagi. Ram perlahan-lahan memalingkan pandangannya ke kelompok Subaru dan para tamu sementara Petra terdiam bagai patung oleh sorot matanya dan …

“Saat kukira kerjamu sudah lebih baik dan ingin mengakui usahamu, aku melihat situasi ini … Ram sungguh-sungguh kecewa.”

“M-maaf Ram nee-sama … soal usahaku, Ram nee-sama akan mengakuiku?”

“Iya. Masakanmu lebih baik dari Ram; bersih-bersihmu lebih masuk akal dari Ram; cucianmu lebih bagus dari Ram; dan kau bangun lebih awal dari Ram, jadi aku hampir mengakuimu.”

“Kau semestinya lebih ragu lagi saat mengungkit hal-hal ini!”

Seberapa buruk pelayan veteran ini dibandingkan gadis yang punya 1 tahun pengalaman jadi pelayan? Walaupun kau menghitung kemampuan cepat belajarnya Petra, kesulitan perbandingannya terlampau rendah sampai-sampai tidak layak dipertimbangkan.

Rem mengendus hidungnya dengan gaya yang sangat dikenali Subaru merespon teriakannya—

“Mana bisa seseorang terus meragukan dirinya sendiri? Ram semata-mata memegang ekspektasi dan kepercayaan diri untuk dirinya sendiri.”

“Aku selalu merasa bagian yang itu dari dirimulah satu-satunya hal yang betul-betul pantas dihormati.”

Demikian Subaru menanggapi pernyataan bangga Ram selagi tercengang.

Pada kenyataannya, ada alasan dirinya mengambil pelajaran optimismenya Ram—lebih persisnya, ada alasan belajar dari ketabahannya. Subaru hanya berharap Ram akan sedikit lebih bercermin, tapi …

“Kalau kau melakukannya, kurasa kau takkan benar-benar jadi Ram asli, ya.”

“Itu pemikiran menakutkan. Selain itu, kurasa tidak ideal membiarkan para tamu begitu lama di sini. Ayo cepat masuk mansion.”

Subaru menyetujui perkataan Ram yang seperti menyudahkan persoalan.

Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di luar mansion. Tidak mengejutkan Frederica dan bahkan Roswaal pada akhirnya muncul jikalau mereka membuang-buang waktu lebih lama lagi.

Para Kandidat Pemilihan Raja dan Kepala Wilayah dikumpulkan, namun pertanyaannya adalah mereka mau melakukan apa.

“Apa Roswaal dalam perjalanan ke mansion?”

Ram—yang mulai berjalan membimbing yang lain—menepuk bahu Petra untuk menghilangkan kakunya. Sesaat Emilia mencoba memanggil Ram dari belakang, dia menjawab, “Ya,” tanpa berbalik.

“Untungnya, beliau bilang kalian semua boleh tinggal di mansion begitu suratnya sampai. Beliau mengatakan itu saja. Ada ringkasan dalam suratnya mengenai Pristella … dan seharusnya ada hal-hal yang diisi dengan detail di sana.”

“Iya mestinya ada, mengingat banyak hal terjadi …”

“Ada banyak perbedaan jumlah orang di sini sekarang ini ketimbang pertama kali kau berangkat, ya—Apa Garf dan Otto mati?”

“Mustahil aku membiarkan mereka mati! Mereka belum mati! Aku cuma terlambat kembali menemui mereka di saat mereka terluka!”

Kala Subaru berusaha bertanya apa rincian dalam suratnya, malah jawaban komedinya yang keluar. Ram mengangkat bahu apatis menanggapinya.

“Aku terlalu akrab dengan isi hati pria yang kurang tenang. Khususnya Barusu, adalah orang yang punya lubang terbuka dan isinya telah dikeluarkan, jadi kau mesti berhati-hati. Orang-orang menyadari isi hatimu lalu mendapati dalamnya kosong adalah hal terburuk.”

“Itu kelewat menyakitkan, jadi hentikanlah! Juga, selain itu …”

Apabila surat yang dikirim ke mansion dari Pristella sebelum kepergian mereka—andaikata detail-detail itu ditulis dalam suratnya, mereka sepatutnya mengerti bahwa ini bukan perjalanan pulang sederhana belaka bagi Subaru dan yang lain.

Maka dari itu, kala Subaru mencoba mengonfirmasi isi paruh kedua suratnya, dan waktu memikirkan ingin bilang apa, Ram mengangkat jari.

“Sudah kubilang, bukan? Jangan khawatir. Roswaal-sama bilang kau boleh tinggal … dan juga, sudah dilakukan persiapan untuk si Putri Tidur dan ruang kurungan. Meskipun—”

Ram memotong akhir kata-katanya di depan Subaru sesudah itu menjilat lembut bibirnya.

Ujung lidah merahnya membasahi bibir dengan gerakan yang rasanya disertai keanggunan entah di sebelah mana kemudian mengutarakan ini:

“Meskipun, keduanya bukan pekerjaan Ram. Itu pekerjaan Frederica dan Petra.”

“Mengapa wajahmu sombong begitu?”

Bagaimanapun, biarpun ini pertemuan setelah satu bulan berlalu, Ram masih tetap sama seperti ini.

Share this post on:
Subscribe
Notify of
guest
3 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Zhen

Makasih min, akhh akhirnya, kirain stelah tamat arc 5 sy harus baca tl en nya

Yuda

Makasih min.. semoga cepat di up lagi lanjutannya

Boho

Makasih banyak min,semangat translate sambil kuliahnya