RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 81

Posted on

Dia yang Mengisi Wadah Keserakahan

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

—rangkaian Kerusuhan Kultus Penyihir terjadi di Pristella, Kota Bendungan.

Bekas luka pertempuran masih menetap di seluruh kota, bersama tragedi yang menimpa penduduknya. Ada banyak fasilitas kota yang belum sepenuhnya pulih tuk menebus hilangnya personel.

Masalah-masalah tersebut masih ada, namun situasinya membaik dan mulai bergerak menuju cerita berikutnya.

Bagi Natsuki Subaru juga, banyaknya masalah kota menyakiti hatinya.

Namun demikian, selagi dia mengamati kota sesudah mundurnya Kultus Penyihir, Subaru merasa boleh berasumsi barangkali dirinya dapat sedikit berkontribusi demi akhir itu.

“Walaupun masih banyak masalah tak terselesaikan …”

Bekas luka yang ditinggalkan Uskup Agung Dosa Besar, terutama yang ditinggalkan Kenafsuan serta Kerakusan, sangatlah besar.

Penduduk kota yang tubuhnya dimutasi Wewenang Kekuasaan Kenafsuan. Tubuh mereka ditempatkan pada Kondisi Mati Suri oleh Emilia dan sedang menunggu momen dibangunkan kembali di selter dalam kota.

Dan kebanyakan orang yang diserang nafsu makan Kerakusan bahkan kini sedang tidur selamanya dan bahkan ikatan mereka dengan orang-orang yang setulus hati mengharapkan mereka bangun telah direnggut.

Ekspresi Emilia yang mengusulkan cara penundaan solusi masalah warga yang berubah, menyakitkan.

Penderitaan Julius yang kehilangan tempat dan menderita akan situasinya, tidak terbayangkan.

Tidak usah menyebutkan luka di hati warga yang orang tersayangnya terkena.

Semua orang terluka.

Tugas Subaru-lah untuk berusaha sekuat mungkin menyembuhkan luka-luka itu …

Lalu …

“Masih ada masalah yang harus kuurus.”

Untuk menyelesaikan masalah terakhir yang belum terpecahkan, Subaru mengangguk.

Hanya ini, yang perlu Subaru lakukan.

“Julius akan ikut sama kita.”

“Aku mengerti, kalau begitu aku bisa merasa lebih tenang.”

Seusai Subaru menuntaskan berbagai diskusinya, Subaru kembali ke ruang konferensi dan disambut Anastasia.

Anastasia adalah satu-satunya orang yang tinggal di meja bundar ruang konferensi. Pembahasan topik utama berlangsung di sana beberapa jam lalu.

Sejumlah orang telah kembali ke penginapan dan yang lainnya bersiap-siap meninggalkan Pristella. Bahkan tanpa konferensi, harinya melelahkan. Tidak perlu beristrirahat di meja bundar keras dan menghabiskan waktumu di selter kosong nan gelap.

“—apa?”

Tetapi dia tetap tinggal di sini, menunggu kedatangan seseorang.

Bukannya Subaru sudah tahu. Tapi dia pun mengira Anastasia ada di sini.

Lagian, saat ini wanita itu seharusnya tak merasa nyaman di mana-mana.

“Dengan ini, orang-orang yang bertujuan ke Menara Pengawas Pleiades adalah Emilia, aku, dan Beako. Selain itu, jika kita tambahkan Julius dan dirimu, totalnya ada lima orang.”

“Bukannya kau salah perhitungan jumlah partisipan? Lagi pula, bukan berlima, tapi berenam. Akan jadi masalah kalau kau melupakan Echidna manisku.”

Dia membuka gulungan syal lehernya dan dihamparkan ke meja bundar sambil diputar-putar. Syal rubah putih patuh pada permainan tidak berbahaya majikannya, layaknya boneka.

Anastasia tak kelihatan natural memainkannya.

“Aku tidak lupa—Itulah sebabnya … kita berlima.”

“…”

Selagi menyandarkan punggungnya ke pintu ruang konferensi, Subaru memberi tahu hal tersebut ke Anastasia yang sedang mengangkat syalnya.

Mendengar perkataan tersebut, senyum Anastasia membeku. Senyuman anggunnya lenyap seolah-olah meleleh kemudian kepalanya perlahan memiring.

Menarik syal ke bibirnya, disertai ekspresi bingung di wajahnya.

“Oh, itu aneh. Kok kau tahu aku bukan Ana?”

Nada bicara Anastasia berubah total, signifikan sekali sampai jelas dirasakan.

Sangat ramah dan akrab, namun bagian pentingnya betul-betul hilang. Sekalipun suaranya sama, jelas berbeda.

“Kalau ingin kau sembunyikan, aktingmu mestinya lebih baik. Tentu saja setahuku, Anastasia adalah kandidat paling rasional dan realistis, tapi …. Dia tidak punya sifat kurang manusiawi sepertimu, ataupun cara bicaranya yang sepert itu.”

“Selama ini aku memerhatikan Ana, jadi harusnya aku bisa menirunya, tetapi tidak berjalan sebaik perkiraanku. Kau orang kedua yang menyadarinya.”

“Orang kedua?”

“AI-kun juga sadar. Dia memanggilku Penyihir, teganya dia melakuka hal kejam itu?”

“Itu …”

Itu istilah yang pas, Subaru mengagumi AI.

Echidna Anastasia dan Penyihir Echidna dasarnya berbeda, tetapi mustahil tidak berhubungan, tidak salah lagi.

Barangkali hanya AI seorang yang memahami wawasan dirinya sendiri.

AI adalah orang yang dipanggil ke dunia lain ini sebagaimana Subaru. Seandainya kekuatan Penyihir Kecemburuan terhubung ke panggilan dunia lain, AI juga dapat dikaitkan dengan Penyihir.

Biasanya, Subaru akan lebih detail membicarakannya dengan AI, tapinya—

“Bagaimanapun, sekarang itu tidak berarti. Persoalan paling pentingnya adalah kau yang membajak tubuh Anastasia dan mencoba menjadikannya milikmu.”

“Menyebutnya membajak kedengarannya terlalu menyimpang. Sekilas, situasi sekarang buruk, itu fakta, tapi harus kubilang kau salah menafsirkan. Serius deh ini menyakitkan.”

“Dari caramu mengucapkannya, kau membuatnya kedengaran seolah tidak jadi soal.”

“Kenyataanya itu tak benar meskipun tidak bisa kau lihat. Aku cuma meminjam tubuh Ana, tidak ada pilihan lain. Andai tidak demikian, kami berdua akan tamat. Setelahnya, aku terus menggunakan Ana sebagai wadah bukan karena kehendakku.

“Kepanjangan. Singkatnya?”

“Tidak masalah meminjam tubuhnya, tapi aku tidak bisa keluar …”

Aku paham, ini Syaldona—Kala ini, dia menyebutnya Eridna tapi tidak pernah dia kira Eridna tak punya hubungan sama Echidna, namun interaksi mereka sekarang tidak merasakan ciri-ciri jelas Echidna.

Walaupun caranya memanjangkan sesuatu sama seperti aslinya.

“Untuk saat ini, aku akan coba dengarkan kisahmu.”

Bergerak menjauh dari pintu, Subaru memposisikan diri untuk bicara kepada Eridna.

Kini Subaru yang telah mengungkap identitasnya tidak bisa dibiarkan hidup oleh Eridna, nampaknya boleh-boleh saja menduga bahaya Eridna memasang jebakan telah hilang.

Subaru duduk di sisi lain meja bundar, menghadap Eridna.

“Dari awal, meminjam tubuhnya? Situasi macam apaitu?”

“Sederhananya, aku menulis ulang keberadaanku di Od Ana, dan aku bebas meminjamnya, begitu situasinya. Dalam keadaan ini aku bisa mengendalikan tubuh Ana sesukaku, aku juga dapat memanipulasi gerbang Ana yang sejak awal sudah cacat dan jadi bisa menggunakan sihir.”

“Apa maksudmu dari awal sudah cacat?”

“Kau lumayan penasaran, ya? Aku mengerti serakahnya ingin tahu sesuatu lantas aku tidak menyalahkanmu, namun ingin mengetahui lebih banyak tentang gadis dan roh lain, bukannya akan membuat Emilia-sama dan Beatrice-mu cemburu?”

“Aku tidak perlu kekhawatiranmu, biarpun mereka cemburu, mereka tetap saja imut, jadi tidak apalah. Berhenti memperumit dan beri tahu aku.”

Ketika Subaru mencoba menghantam meja bundar dengan jari tak senangnya, Eridna mengangkat bahu. Kemudian, dia hati-hati melipat syal yang telah dilepas dan mengatakan, “Ana itu …”

“Seorang gadis yang terlahir dengan gerbang cacat. Kukira kau sudah tahu kalau gerbang adalah organ yang menyerap mana dari sekitar dan mengeluarkan mana dari tubuh, tidak berfungsi dengan baik pada Anastasia. Dia orang yang menderita kekurangan mana kronis. Ada orang yang punya cacat tidak sanggup melepaskan mana, biarpun kau semestinya sudah tahu yang kubicarakan.

“Entahlah itu buruk atau tidak, dan aku tak tahu siapa yang kau maksud.”

“Oh benarkah? Itu tidak terduga. Ngomong-ngomong, orang yang punya kekurangan tidak mampu melepaskan mana merupakan keturunan Pedang Suci. Sekalipun dalam kasusnya, jumlah mana yang dia serap itu tidak normal, dan tampaknya ditambah kemampuan fisiknya, lantas tak jadi ancaman.”

“Reinhard?”

Subaru mengangkat alisnya sebab kaget mendengar ucapan Eridna. Namun setelah dipikir-pikir dia pun merasa Reinhard pernah menuturkan hal semacam itu di suatu tempat sebelumnya.

Reinhard tidak dapat menggunakan sihir, dia cuma kekurangan di aspek itu.

Namun itu karena kekuatan penyerapan gerbangnya terlampau kuat—begitu, jadi itulah alasan Reinhard tidak cocok mendekati roh, termasuk Beatrice.

“Yah, bahkan tanpa sihir, bukan berarti dia tak punya cara untuk menyerang dari jarak jauh, sedari awal kasusnya takkan mengherankan bila dia mengalahkan lawannya dengan tekanan pedangnya, jadinya sama sekali bukan kekurangan. Tapi, mari bicarakan Anastasia …”

“Aku tidak berusaha pura-pura, tapi kebiasaanku adalah membicarakan yang aku ketahui. Lantas pembicaraan ini …. Benar juga, mengenai konstitusi Ana. Perihal gerbang Ana, fungsi melepaskan mana tidak berkembang dan tak bekerja dengan baik …. Maka dari itu dia cuma sanggup menggunakan sihir dengan menyerap mana yang awalnya ada dalam tubuhnya. Misalkan dia kelelahan, dia harus menggunakan Od-nya yang merupakan sumber kehidupan. Aku tidak boleh membiarkannya berbuat hal gila seperti itu, kan? Itulah alasannya Ana tidak mampu menggunakan sihir.”

“Tapi, kau yang bisa menggunakan sihir setelah meminjam tubuhnya itu tak masuk akal. Fakta mana yang semula berada dalam tubuhnya sudah langka tetaplah sama. Ataukah kau yang dapat menggunakan mana dalam jumlah kecil?”

“…”

“Jangan diam, jawab.”

“Dari awal aku tidak mampu menyelamatkan nyawanya tanpa mengikis nyawanya, aku tak punya pilihan. Tapi diskusi antara Ana dan aku perihal ini telah berakhir. Seseorang sepertimu yang tidak ada hubungannya, tak berhak mengomentarinya. Kau juga tidak ingin aku berkomentar apa pun soal kontrakmu dengan Beatrice, kan?
Dia tepat sasaran.

Hubungan Subaru dan Beatrice bersama kontrak mereka, hanya milik mereka saja.

Dia tak mau orang lain campur tangan, dan bila mereka melakukannya Subaru akan menolak.

Apabila Anastasia dan Eridna dalam satu kondisi, Subaru tidak boleh bilang apa-apa.

Itu hubungan mutlak antara kontraktor serta rohnya yang tidak boleh diganggu orang lain.

“Sekarang ini, aku meminjam tubuhnya atas kemauan Ana sendiri, lagian situasinya darurat. Kau tahu Uskup Agung yang datang ke Balai Kota, kan? Untuk mengusirnya, aku dan AI-kun harus menggunakan tenaga penuh kami. Penting tuk membuat keputusan dalam tekanan.”

“Dan apa maksud kau tidak bisa keluar?”

“Ya, itu masalahnya sekarang ini …”

Mendengar kata-kata gelisah Subaru, Eridna menepuk tangan sekali dan tersenyum. Kendatipun senyumnya seperti Anastasia, senyumnya jelas menunjukkan isinya berbeda.

Dasar aneh, pikir Subaru, tapi dia segera melupakan perasaannya.

Akhirnya, perbincangan mereka hendak menutupi pertanyaan utama.

Di hadapan Subaru, Eridna menyentuh dada kurus Anastasia.

“Ini bukan pertama kalinya aku meminjam tubuh Ana dengan cara ini. Tapi tidak sering-sering, sih. Ana dan aku tidak punya kontrak resmi. Itu pun sebab persoalan gerbangnya, aku tidak ingin membebani Ana. Biarpun di antara roh, aku bangga menjadi orang yang memakan sedikit energi. Kalau soal eksis saja, aku tidak butuh mana dari kontraktor.”

“Oh gitu. Beako-ku ingin memegang tanganku tiga kali sehari.”

“Dua kalinya hanya karena dia pengen memegang tanganmu, mungkin. Ini tentang kedekatan—Jadi, mengenai percakapan kita, tidak banyak kejadian aku meminjam tubuh Ana dalam keadaan semacam itu. Sebanyak-banyaknya, ini pasti kali keempat atau kelima. Hubunganku dengannya telah berlangsung selama hampir sebelas tahun sekarang, jadi tidak terlalu mengagetkan, benar?”

“Yah, siapa tahu? Mengingat kau bilang waktu intervalnya sekali setiap dua tahun, bukannya itu serendah rasio dirimu terkena flu?”

“Itu kasar.”

Eridna melepaskan tawanya yang ditahan-tahan, tawanya sama seperi halnya Penyihir yang Subaru kenal. Tatkala itu, dia takut sosok Anastasia terlihat bak kembaran Echidna.

Keberadaan Echidna meninggalkan beban dalam diri Subaru yang takkan hilang. Kalu bisa, dia tidak ingin melihatnya lagi karena Beatrice.

Di sisi lain, Julius akan sangat tersakiti jika Anastasia asli telah menghilang. Subaru pun ingin menghindarinya.

“Kalau begitu, apa yang terjadi, Echidna-san yang semenyebalkan flu?”

“Aku tak tahu flu apa yang kau bicarakan, tapi pokoknya, aku tidak punya banyak pengalaman.  Jadi, tanpa preseden apa pun entahlah kenapa ini terjadi …. Aku tidak dapat memisahkan kesadaranku dari badan Ana. Alhasil, Ana terlelap jauh dalam Od-nya.”

Eridna bicara sambil menyentuh dadanya, seolah-olah Od itu ada dalam dirinya, lalu melihat syalnya yang tergeletak lunglai di meja bundar. Selama kesadaran Syaldona ada dalam Anastasia, syalnya semestinya benar-benar cuma berbentuk bulu rubah, tapi …

“Kerjaku cukup baik sebagai dalang di ruang konferensi, kan?”

“Banyak orang yang tertipu oleh dampak penampilanmu. Yah, ada pula beberapa orang selain diriku yang berpikir itu aneh …”

Atau demikian yang dipikirnya.

Boleh jadi cuma Subaru yang familier dengan Roh Buatan merasakan sensasi aneh tersebut.

“Kendati kau tidak menyadarinya di tempat itu, orang-orang yang berhubungan dekat dengan Anastasia akan langsung tahu bahwa kau bukan Anastasia.”

“Tapi, hanya orang-orang yang hubungannya minim sepertimu dan AI-kun yang tahu. Bukannya berarti peniruanku tentang Ana berjalan baik?”

“Saat ini, Ricardo dan anak-anak kucing lagi sibuk sama masalah mereka. Julius pula.”

“…”

Mendengar kalimat itu, Syaldona menyipitkan mata.

Merespon reaksinya, wajah Subaru curiga, tapi Syaldona langsung menghela napas.

“Lagian, Julius itu Kesatria Ana? Dari aliran percakapan ruang konferensi, kupikir itu kemungkinan besar, tapi …. Wewenang Kekuasaan Kerakusan itu menyeramkan. Bahkan sanggup mencuri ingatanku, dan aku seharusnya suatu eksistensi yang melampaui kata normal.”

“Kau … kau ingin mengapakan Anastasia?”

“…?”

“Mengenai pertanyaan kau bermaksud membajak tubuh Anastasia atau tidak, jujur saja, biar kita membicarakan masalah ini, tidak dapat kita lakukan apa-apa tentang ini, jadi aku takkan mengganggumu. Aku katakan jelas-jelas sekalipun kau bilang itu salah paham, aku tidak punya dasar untuk percaya padamu, tapi …”

Dirinya yang tidak dapat kembali ke tubuh Anastasia … tak bisa diterima.

Bagi sang Kesatrianya Kesatria, artinya kehilangan salah satu harapannya.

Kematian spiritual seorang kandidat—Subaru tak mau memanfaatkannya dalam pertarungan Pemilihan Raja.

“Aku takkan menyerah mengembalikan orang itu, Echidna.”

“Tenang saja. Aku tidak sesombong itu hingga berpikir mampu mengambil alih tubuh Ana dan hidup menggantikannya.”

Dihadapkan Subaru marah yang bertekad bergerak maju, Syaldona menyampaikannya dengan pesimis. Dia memeluk tubuh kecil dan kurus Anastasia sambil memasang ekspresi sedih.

“Kau tahu, aku suka Ana. Lebih dari sepuluh tahun aku habiskan di sisinya tanpa kontrak bukan semata-mata ingin memerhatikannya. Aku tidak tahu misalkan ini perasaan benar atau tidak, tapi aku punya perasaan serupa seperti halnya seorang wali atau keluarga, aku menyadarinya. Kalau bisa, aku ingin dia baik-baik dan lebih dari segalanya, ingin dia bahagia.”

“…”

Syaldona ngomong lancar dan tanpa perasaan seperti biasa, namun perawakannya seraya bicara dan menyentuh tubuh mulus Anastasia—wadahnya sekarang—terlihat ada afeksi.

Selayaknya Puck yang merasakan cinta dan kasih kepada Emilia, Beatrice kepada Subaru, Syaldona barangkali merasakan hal sama kepada Anastasia.

Andai demikian …

“Jadi alasanmu sebenarnya ingin menemui Sage.”

“Kau peka banget. Aku tidak peduli pada orang-orang yang nama mereka dimakan oleh Kerakusan. Aku hanya pengen tahu cara mengembalikan tubuh ini ke Ana. Karenanya demi hal itulah aku akan memanfaatkanmu juga.”

“Memangnya ada jaminan kalau Sage tahu caranya.”

“Tidak ada jaminan. Tapi, perkara Sage yang katanya mampu melihat segalanya dan mengetahui semuanya, ada peluang. Aku akan bertaruh pada peluang yang dirinya kemungkinan besar tahu, itu saja.”

Tiada imbuh bantahan instan terucap dari Subaru tuk membalas tutur Syaldona yang penuh tekad kelewat kuat.

Tidak salah lagi, kesimpulannya kelewat egois dan individualis. Akan tetapi, Syaldona bersikap begitu demi mencapai tujuannya dengan cara model Syaldona-nya sendiri.

Jadi, yang perlu Subaru pastikan adalah …

“Kau sungguhan tahu cara sampai ke Sage di Menara Pengawas Pleiades?”

“Tentu saja.”

“Kau pastinya punya karakter penjelasan yang bilang, Aku tak punya ingatan masa lalu. Mengapa orang sepertimu tahu cara masuk Menara Pengawas yang tidak orang lain ketahui? Tak masuk akal.”

“Aku cuma mengetahui yang aku ketahui. Menyusahkan kiranya kau menanyakan asalnya, tapi seperti itulah. Kalau kau mau kata-kata eloknya, ya karena pergi ke sana itu takdir, kurasa.”

“Takdir? Takdir yang ditentukan siapa?”

“Penciptaku, mungkin.”

Balasan Syaldona lebay, tapi menurut Subaru itu jawaban terburuk.

Seumpama Pencipta yang dia maksud adalah Echidna maka orang yang menaruh jalan menuju Menara Pengawas ke ingatan roh tersebut hanya Echidna seorang.

Berarti ada sesuatu yang berkaitan dengan Echidna di Menara Pengawas Pleiades.

Tentu saja, itu memberikanya firasat buruk dan suatu harapan tentang pengetahuan Sage.

“Aku ingin tahu, apa itu meyakinkanmu?”

Syaldona menanyakan ini kepada Subaru yang tetap diam setelah sampai pada satu konklusi.

Selagi ragu-ragu harus setuju langsung atau tidak, Subaru menghembuskan napas panjang-dalam.

“Bukannya aku sangat yakin, tapi paling tidak aku paham. Kau punya tujuan sendiri dan hal-hal yang perlu dilakukan, ditambah tidak menginterupsi tujuan kami sendiri.”

“Memang. Kami berdua punya sesuatu yang ingin ditanyakan kepada Sage. Karena itulah kami akan bekerja sama untuk berkehendak melakukannya. Tidak ada yang aneh.”

“Hentikan. Kau jadi mencurigakan saat bilang begitu.”

“Itu agak kasar.”

Rupanya dia akan gila bila terus bicara dengan Syaldona berwujud Anastasia lebih lama lagi.

Intinya, mereka punya banyak waktu untuk saling menemani selagi pergi menuju Menara Pengawas Pleiades. Bukit Pasir Augria tempat Menara Pengawas Pleiades berada, letaknya di ujung timur peta dunia—perjalanan panjang.

“Aku lambat laun mulai terbiasa sama dirimu, jadi berikan aku waktu sedikit lagi.”

“Tak apa, biarpun kau tidak suka ini. Serius deh, Natsuki-kun dingin banget sama gadis imut. Kau melukai perasaanku. Haduuuuuh.”

Membungkus syal ke lehernya, Syaldona meniru perilaku Anastasia.

Memang, performanya bagus, tapi …

“Intonasi Aku-mu itu salah. Juga, aksen Kansai-mu terlalu halus. Dibanding orang-orang yang kukenal dari Kararagi, kurang keaslian.”

“Keaslian?”

Perbedaan yang kecilnya bukan main. Syaldona melirihkan tepat kata itu untuk memastikan yang baru dikatakan Subaru, pada akhirnya mendesau seakan Syaldona menyerah.

Dari pihak Subaru, tak perlu dia konfirmasikan ke Syaldona. Dan soal mengembalikan tubuh Anastasia, itu tergantung keputusan Sage dari Menara Pengawas Pleiades.

Akan tetapi …

“Jangan bilang-bilang Julius … atau orang lain mengenai fakta kau meminjam tubuh Anastasia.”

“… aku tidak keberatan, tapi permintaan Natsuki-kun tak terduga.”

“Aku tidak ingin menyebabkan keributan tak penting dalam situasi yang sudah cukup kacau ini. Dan juga, seandainya mereka tahu bahwa kau sebenarnya yang mengajukan ide ini bukannya Anastasia, Ricardo dan beberapa orang lain barangkali akan langsung menentang. Akan merepotkan juga jika kita tidak bisa pergi ke Menara Pengawas. Terlepas dari keegoisan itu.”

Ada kemungkinan Ricardo, Mimi, dan yang lain mencemaskan tubuh Anastasia dan menghentikannya.

Kalau begitu, mereka bisa jadi terpaksa menghentikan perjalanan menuju Menara Pengawas sekalipun itu solusi sempurna untuk masalah mereka. Itu merepotkan buat Subaru dan kelompoknya juga, dikarenakan mereka ingin menyelamatkan para korban Wewenang Kekuasaan.

“Bagusnya korban Kerakusan, Kenafsuan, dan tentu saja persoalan dirimu dan Anastasia dapat diselesaikan sang Sage. Andai semuanya berjalan lancar, maka Ricardo dan yang lain takkan komplain setelahnya. Tidak, meskipun mereka komplain, takkan aku dengarkan.”

“Seperti perkataan Hoshin, Pembukuan pada akhirnya akan seimbang1.”

“Aku setuju sama Hoshin-san soal itu.”

Hoshin memang hebat, Hoshin yang mungkin datang dari tempat sama dengan Subaru mengatakan hal-hal bagus.

“Baiklah.”

Maka dari itu, diskusi mereka sementara ini selesai.

Kemungkinan terburuknya, andaikata Syaldona berniat mengeksploitasi tubuh Anastasia, akan ada peluang pertempuran terakhir di Pristella akan terjadi di sini; Subaru lega itu tidak terjadi.

Gara-gara alasan itulah pertanyaan itu datang di waktu-waktu Subaru lengah.

“Ngomong-ngomong, Natsuki-kun.”

“Hmm?”

Subaru berbalik tepat ketika dia menempatkan tangannya ke pintu untuk mencoba meninggalkan ruang konferensi.

Masih bersandar di kursi meja bundar, Syaldona manisnya memiringkan kepala mirip Anastasia ke Subaru.

“—ada orang lain, bukan? Orang lain, yang ingin kau tanyakan kepada Sage tentang cara mengembalikannya.”

“…”

“Lagian, di Pristella ada orang-orang yang punya gejala serupa, kan? Sebaiknya membawa satu orang yang memperlihatkan gejala-gejala itu untuk menanyakan bagaimana mengembalikannya.”

Tangannya yang masih memegang pintu, tenggorokan Subaru, napas Subaru, membeku.

Syaldona hingga akhir terus tanpa emosi memandang Subaru yang ekspresinya menegang, matanya terbuka lebar.

“Kau pengen berbuat apa? Ini sepenuhnya tergantung kepadamu, Natsuki-kun.”

“Aku …”

“Bagaimanapun, kita mampir ke Mansion Margrave Mathers, kan? Misalkan kita tidak bersiap-siap dalam perjalanan melintasi Bukit Pasir Augria, kita takkan diizinkan pergi ke Menara Pengawas. Selagi bersiap-siap, si cantik tertidur itu semestinya ada di sana.”

“…”

“Kurasa itu bukan hal buruk. Kita akan selamatkan semua orang, hanya saja siapa yang akan diselamatkan paling dulu … tak apa-apa misalkan Natsuki-kun memperkenankan kelonggaran semacam ini.”

Suara tanpa perasaan Syaldona, entah kenapa, rasanya semacam godaan setan mengerikan bagi Subaru.

Subaru paham maksudnya. Dan walau, tidak salah lagi pria itu ingin mengikuti kata-katanya, dia tidak dapat langsung membalas.

Tentunya karena—

“Subaru!”

“—ah!”

Mendengar namanya dipanggil, Subaru mendongak kaget.

Emilia dan Beatrice berdiri di hadapan Subaru yang napasnya tertahan di tenggorokan. Mereka berdua membelalak melihat reaksi Subaru, dan Emilia memiringkan kepala lalu bertanya, “Ada apa?”

“Kau bilang mau pergi menemui Julius-san …. Kau bilang begitu, tapi karena kau tak berada di bangsal rumah sakit, aku akhirnya khawatir. Kau selama ini sedang apa?”

“Tidak, bukan apa-apa …. Kau tahulah, orang itu mukanya sedih banget sampai-sampai aku tidak tahan melihatnya lama-lama. Jadi, bukan perubahan suasana, tapi perubahan pandangan.”

“Masa? Padahal kataku Julius wajahnya tampan sih …”

“Emilia-tan juga berpikir begitu?”

“Ah, tapi, wajah Subaru bagus juga, kurasa wajah cakep. Kau tahu, sejenis makin lama kau lihat semakin suka, atau, iya gitu deh.”

“Lanjutannya menyakitkan amat!”

Emilia resah mengoreksi ucapannya, namun cara mengatakannya pun jadi masalah. Tersenyum pahit, Subaru melemaskan bahunya. Kali ini, Beatrice yang berdiri diam di samping Emilia lagi memikirkan sesuatu.

Beatrice terus saja melihat ke belakang Subaru, menuju selter di belakangnya. Seakan-akan roh itu punya firasat tentang percakapan yang Subaru perbincangkan di sana.

“Subaru, andaikata kau ingin melakukan hal berbahaya kau harus panggil Betty, kayaknya. Faktanya, bila aku meninggalkanmu sendirian dan jadi bahaya, Betty bakalan marah.”

“Itu kasih sayang sama yang selalu kurasakan padamu. Karena kau ini manis banget, aku jadi tidak tenang memikirkan berapa lama hingga kau dibawa penculik yang mau mencuri permen.”

“Betty bukan roh yang kelihatan murahan, kayaknya! Jangan mengejekku!”

Jadi agak marah, Beatrice menghampirinya hendak menamparnya berkali-kali. Selagi dia lakukan, Subaru mengangkat Beatrice ke pelukannya, gadis itu berteriak terkejut, “Uaaaaahhh.” dan berjalan mendekati Emilia.

“Le-lepaskan aku, turunkan aku, kayaknya! Ah, tapi pelan-pelan menurunkannya.”

“Itu cukup sulit, jadi kau harus tetap seperti ini sekarang.”

Tubuh Beatrice ringan, tapi anehnya terasa hangat. Sudah umum anak-anak punya suhu tubuh lebih tinggi, tetapi Beatrice itu gadis kecil, apa dia juga seperti itu? Walau dia ini roh.

Emilia yang berada di samping Subaru, menatap wajahnya dari samping, Subaru nyengir-nyengir. Selagi separuh elf itu melihatnya dengan mata menghadap atas, Subaru bertanya, “Ada apa?”

“Apa aneh kalau aku dan Beako main?”

“Tidak. Setahun terakhir ini, bukan hal aneh lagi … tapi kurasa kau sekarang yang berwajah gelisah itu aneh buat setahun terakhir ini.”

“—begitukah? Meski tidak bisa kubilang semuanya ok-ok saja, sebagian besar masalah telah diselesaikan, dan bagiku sekarang ini, otot-otot wajahku sudah cukup rileks atau demikianlah menurutku.”

“Kalau kau bilang begitu aku akan percaya, tapi …”

Emilia menurunkan mata beralis panjangnya dari Subaru yang sedang mencubit-cubit otot wajahnya seolah karet. Kemudian, berangsur-angsur melanjutkan kata-katanya yang dia potong.

“Waktu kau memutuskan apa yang harus kau lakukan, beri tahu aku. Dan, seandainya kau tidak menemukan jawabannya apa pun yang kau lakukan, pastikan konsultasi denganku, oke? Alangkah baiknya andai kau menjanjikanku hal itu.”

“Janji, ya?”

“Iya, janji yang Subaru tidak pandai tepati. Kau ahli melanggar janji, kan?”

“Waduh, tidak biasanya omongan Emilia-tan berbisa.”

Dia dievaluasi pedas dari Emilia sebab hasil janji-janji masa lalunya hingga masa kini.

Lalu Emilia sembari tersenyum tipis di wajahnya, mengulurkan jari kelingking. Melihatnya, Subaru instan memindahkan Beatrice ke bahu, lanjut mengaitkan jari kelingkingnya selagi Beatrice berteriak, “APA YANG KAU LAKUKAN!”

“Janji kelingking, kalau melanggar potong jari, tonjok sepuluh ribu kali. Harus ditusuk ribuan jarum2.”

“Potong jariku2.”

Jari mereka saling berpisah.

Selagi mengulurkan jarinya, Emilia menyeringai ke Subaru.

“Subaru, yang satu ini total jarumnya berapa?”

“Yah, kurasa jumlahnya tidak sampai sepuluh ribu.”

“Kalau begitu, pastikan jangan sampai sepuluh ribu, oke?”

Subaru menjawab singkat, “Yoi.” pada perkataan Emilia yang terdengar seperti doa.

Emilia merasa aman absolut mendengar jawabannya—Hal semacam itu bagi Emilia mungkin mustahil. Dia bahkan dari awal tak berencana membuat janji.

Oleh karenanya janjinya sekarang jadi peringatan kepada Subaru.

—tak apa-apa misalkan Natsuki-kun memperkenankan kelonggaran semacam ini.

Godaan terakhir Syaldona kembali melayang dalam benaknya.

Mampukah Subaru memperkenankan kelonggaran semacam ini, benar-benar bisa dia biarkan?

Siapa yang akan mengizinkannya? Bagi dirinya yang mengandalkan hal-hal seperti itu.

“Aku akan berikan jawaban—Sesampainya di mansion, pasti akan kuberikan jawaban.”

Biar begitu, kau mengharapkan sesuatu dari seseorang yang namanya sama dengan sang Penyihir itu.

Sejatinya, memanfaatkan sisi terlemah orang adalah keahliannya.

“Benar-benar, terlalu menjijikkan …”

“Kau barusan bilang sesuatu, kayaknya?”

“Tidak, dari caraku menggendongmu, aku bisa menyentuh atau menampar pantat Beako seinginku.”

“KYAAA! L-lepaskan aku! Turunkan aku! Pelan dan lembut, seperti saat kau mengagumi bunga!”

“Hahahaha.”

“Berhenti menampar pantatku sambil ketawa—!”

Beatrice yang meronta-ronta di bahunya, Subaru mengejar punggung kurus yang sudah mendahuluinya. Emilia kerap kali berbalik kelihatannya mau bergabung dengan mereka.

Meskipun Subaru telah diberkati, walaupun dia telah diselamatkan.

Seandainya saja dia di sini, pikirnya, terheran-heran akan Keserakahannya.

Pertempuran Natsuki Subaru di Kota Bendungan telah berakhir.

—dan kini, diam-diam beralih ke cerita berikutnya yang mengarah ke Menara Pasir.

 

Catatan Kaki:

  1. Maksud kata-kata Hoshin itu, Laba dan Ruginya sama-sama seimbang, resiko dan ganjarannya sama.
  2. Janji kelingking sedikit berbeda hukumannya di Jepang, errr … makna semantic yang Subaru bilang tuh, Kalau melanggar potong jari, ditonjok sepuluh ribu kali, ditusuk seribu jarum. Terus Emilia jawab, Potong jari. Jelas kaga masuk akal buat orang Indonesia yang misalkan ngelanggar janji cuma minta maaf atau kabur, dan gua sama sekali ga bisa lokalin karena setiap daerah beda-beda adatnya, jadi ya gua samain aja ama versi Jepangnya.

4 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 81”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *