RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 74

Posted on

Hasil Pertempuran Memperebutkan Pristella I

Penerjemah: DaffaNier

Ilustrasi:

  1. Wilhelm
  2. Garfiel (Gada, link udah dihapus)

“Kultus Penyihir keji yang merebut empat Menara Pengendali dan mengancam kota telah dipukul mundur. Dengan ini, keamanan Kota telah dipastikan—Kemenangan untuk Kota Bendungan Pristella!”

Subaru mendengar siaran yang bergema di kota bersama Emilia selagi bergegas menuju Balai Kota.

Pengumuman menggembirakan ditransmisikan lewat alat sihir yang menyalurkan suaranya ke kota.

Meskipun suaranya pecah-pecah, pecahnya karena fluktuasi suara si penyiar. Tidak ada alasan untuk meragukan isi pengumuman membahagiakan itu.

“Subaru! Barusan mereka bilang …!”

“Jadi keknya. Entah bagaimana, rasanya sudah berakhir.”

Di depan wajah cerah Emilia, Subaru mengendurkan pipinya sambil melemaskan bahu.

Alasan kelesuannya adalah karena lega dan sedikit kecemasan.

“… bagaimanapun, karena musuhnya mereka …”

Ada Capella Kenafsuan yang memiliki Wewenang Kekuasaan Variation and Change; skenario terburuknya, ada kemungkinan suara siarannya adalah tipuan tuk memberi harapan palsu kepada warga kota. Tidak ada yang menjamin mereka takkan sampai segitunya, dan kedengkian itulah yang membuat para Uskup Agung sangat menakutkan.

Namun suara siarannya—yang kedengarannya suara Kiritaka Muse, pernyataannya secara sadar penuh hormat, dia tidak bisa menyembunyikan emosi dan kesenangan samarnya. Mendengar suara tersebut, orang tidak perlu cemas dikelabui oleh tipu daya sejahat itu.

“Artinya, semua orang berhasil …”

Siarannya menyatakan bahwa keempat Menara Pengendali yang diduduki uskup Agung Dosa Besar telah direbut kembali.

Setidaknya dengan begini, aman beramsumsi A K H I R di mana Bendungan akan dibuka, lalu kota akan dibanjiri dan musnah, telah dihindari.

Kalau demikian, mereka boleh lega dari dalam hati. Seandainya ada satu masalah yang merisaukan Subaru—maka adalah korbannya.

“Ajaibnya, Regulus tidak membuat korban jiwa.”

Walaupun mereka entah bagaimana punya barisan kuat pula, musuh-musuh mereka adalah para Uskup Agung yang punya satu-dua keanehan khas.

Satu-satunya alasan mereka melampaui perang salib melawan Regulus tak terkalahkan adalah karena dia sendiri payah dalam pertempuran.

Kenafsuan dan Kemarahan licik yang kekalahannya tidak sempat Subaru lihat. Serta Kerakusan yang berhubungan dengannya lewat takdir, menyebut mereka musuh menyulitkan atau ancaman tidaklah cukup.

Sekalipun mereka menang, kerusakannya—teramat mengerikan.

“Kata Subaru, ada juga Uskup Agung Dosa Besar di Menara Pengendali lain. Apa yang lainnya, aku penasaran apa mereka baik-baik saja …?”

Perkataan Emilia-lah yang disertai kegelisahan serupa yang dirasakan Subaru, wajahnya tidak dapat gembira.

Subaru menggeleng kepala, menggigit bibir, di depan Emilia yang menunduk.

“Aku pun mencemaskannya, tapi …. Kita hanya bisa percaya orang lain. Aku ingin pastikan mereka baik-baik saja secepat-cepatnya.”

“Iya, itu benar …”

Dari ucapan hiburan sederhana itu, dia tidak mampu menghilangkan kesedihan Emilia.

Apabila mereka mempertimbangkan seberapa kuat musuhnya kali ini, mereka tidak bisa menghidari kemungkinan adanya korban jiwa di antara para sekutu mereka. Tetap, tidak bisa dibilang kehancuran besar demi menyelamatkan kota adalah hasil yang mereka inginkan.

Maka dari itu, kendati tergantung keadaannya, mempertimbangkan menggunakan Return by Death sebagai salah satu pilihannya adalah kebulatan hati yang dipegang Subaru sejak dimulainya operasi ini.

Pribadi, Subaru tidak suka strategi menyertakan Return by Death-nya.

Tentu saja, dia tak setuju memilih kematiannya sendiri, tetapi juga terkait Ujian yang disaksikannya pada Sanctuary, dunia seusai kematian Subaru.

Faktanya, tidak diketahui dunia berlanjut atau tidak setelah kematian Subaru, namun Ujian mengungkap ada kemungkinannya. Lantas Subaru memutuskan tegas dia takkan menggunakan Return by Death untuk meningkatkan jumlah percobaan.

Biar begitu, sekiranya Subaru bersedia memilih Return by Death, maka saat-saat itu ketika hasilnya adalah harus melanjutkan hidup dengan kehilangan sesuatu yang tidak dapat diterima menunggunya.

Lalu kali ini, Subaru tengah mempertimbangkan kemungkinan tersebut.

Mereka yang bersumpah merebut kembali kota dan menantang Uskup Aung Dosa Besar serta kandidat raja, kesatria-kesatria mereka, juga sekutunya.

Agar tidak kehilangan orang-orang yang tak ingin Subaru lepaskan, dia siap mengulang rasa sakit dan penderitaan.

“… Subaru, alismu sangaaaaaaat mengkerut.”

“Hah?”

Emilia menatap lurus persis ke Subaru yang ekspresi wajahnya muram dan serius. Dia tatap alis mengkerut Subaru, membuat Subaru refleks membelalak.

Ketika mata kecubungnya penuh kesuraman, Emilia bicara padanya.

“Lagi pula, apa pun yang kau lakukan, kau masih peduli. Maaf. Meski ini waktu sulit, karena mereka yang menculikku …”

“Tidak, bukan salah Emilia-tan. Bahkan tanpa Emilia-tan, masih penting untuk mengalahkan Regulus. Jika Emilia-tan tidak di sana, entahlah kita bisa menyelamatkan pengantin-pengantinnya atau tidak.”

Untuk menyelamatkan para pengantin dari Keserakahan, mereka mesti menghentikan sementara jantung para pengantin yang membawa Lion’s Heart.

 Emilia-lah barangkali satu-satunya orang yang dapat melakukannya dari formasi mereka. Felix boleh jadi bisa.

Tanpa Emilia, kemungkinan terburuknya, para pengantin wanita harus berkorban untuk mengalahkan Regulus.

“Yah, aku pun tidak mau memilih itu dan Reinhard takkan mengizinkannya.”

Walau itu pengorbanan penting untuk menghadapi kejahatan sebesar itu, Reinhard tidak bisa menerimanya.

Pemuda itu yang adalah gabungan keadilan, takkan pernah membiarkan pengorbanan sesedikit apa pun. Dalam situasi itu, masalah Regulus bisa jadi tak bisa diselesaikan secepat itu.

“Atau, aku kemungkinan mati di tengah-tengahnya andaikata aku terlibat.”

Pertama-tama, seumpama Emilia tidak diculik, takkan mungkin formasi tim untuk mengalahkan Uskup Agung Dosa Besar akan jadi sangat berbeda. Sebab tidak satu orang pun tahu jawaban benarnya, jadi sia-sia memikirkannya.

Tetapi, semoga—

“Sehabis kita berpisah, Reinhard pergi ke yang lain. Itu akan meminimalkan dampak serangan …. Itu yang ingin kuyakini.”

“Iya, itu benar—Kita harus memastikannya secepat mungkin.

Menanggapi jawaban Subaru, Emilia mengangguk sambil memasang ekspresi serius di wajahnya.

Dan dia lanjut melangkah maju menuju Balai Kota di sebelahnya, Subaru menaruh tangannya pelan-pelan ke dada. Dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang—di jantungnya, kegelisahan lain Subaru selain persiapannya untuk Return by Death.

Sensasi kekuatan hitam aneh melingkar-lingkar di sebelah jantungnya.

Itu ketidakmurnian jahat yang menyelundup masuk ke Subaru di waktu sama tatkala Kematian Regulus dipastikan. Subaru samar-samar mengetahui identitas ketidakmurniannya.

Gen Penyihir.

Hal itu mungkin identitas ketidakmurnian yang menghubungkan Subaru dengan Kultus Penyihir.

Tepat sesudah mengalahkan Betelgeuse Romanee-Conti Uskup Agung Kemalasan, Subaru merasakan ketidaknyamanan sama dalam tubuhnya. Identitas kekuatan asing yang dirasakannya adalah Gen Penyihir, kemudian orang pertama yang memberitahunya adalah Penyihir Echidna.

Gen Penyihir punya hubungan pada Uskup Agung Dosa Besar serta Penyihir Dosa Besar.

Dan entah kenapa, itu pun memengaruhi Subaru, ibarat memakannya.

Kalau begitu, ini pasti terkait Penyihir Kecemburuan yang mendatangkan Return by Death-nya.

Bukan sesuatu yang bisa dianggap positif.

“Tidak peduli berapa banyak hal-hal menyeramkan merasukiku, aku ya aku …. Mestinya tak apa.”

Entah sebesar apa pengaruh Gen Penyihir meningkat, dia takkan membiarkannya memengaruhinya.

Sekalipun Gen Penyihir memakan Subaru setiap kali dia mengalahkan Uskup Agung Dosa Besar.

Ditambah—

“Semisal Beako bangun, dia bakalan marah padaku karena tidak memberitahunya.”

Apa pun Gen Penyihir itu, Subaru tidak perlu merisaukannya sendirian.

Dia punya rekan yang akan bekerja sama mencoba memecahkan masalah sewaktu dia menyatakan keresahannya kepada mereka.

Subaru yakin akan menemukan cara untuk mengatasinya.

“Subaru? Sesuatu terjadikah?”

Gelisah pada Subaru yang bicara canggung, Emilia berpaling menghadapnya. Subaru membalas, “Tidak.” dan menggeleng kepalanya, kemudian setelah berpikir sejenak …

“Omong-omong, selagi mendengarkan siaran sebelumnya, kurasa Kiritaka baik-baik saja. Seumpama Liliana tahu, dia pastinya akan senang.”

“Kiritaka-san menghilang?”

“Dia melindungi Otto dan masih misterius dia hidup atau mati. Entah kenapa rasanya dia tidak mati, jadi aku tak terlalu khawatir.”

“Kalau begitu senang sedikit dong, atau nanti aku kasihan padamu.”

Seolah-olah membuang kecemasan yang menyelimutinya, Emilia cemberut ke Subaru.

Alih-alih cemas soal kemungkinan seseorang disakiti, Subaru harusnya senang seseorang telah diselamatkan.

Barangkali itu pun sikap penting untuk keadaan pikirannya sekarang ini.

Jadi, mereka berdua bergegas berusaha tidak saling mengkhawatirkan satu sama lain sebisa mungkin, namun pemandangan yang menunggu mereka bukan hal optimistis.

“… ini … buruk.”

Subaru terperangah melihat Balai Kota telah runtuh dan menjadi gunungan puing di depan matanya.

Ucapan yang teurai dari bibir keringnya berpendapat jujur tentang pemandangan tersebut.

Balai Kota adalah gedung setinggi lima lantai yang jarang-jarang dilihat di bangunan-banugnan dunia ini, tetapi kebesarannya telah runtuh tanpa sisa.

Tanda-tanda kehancuran meluas hingga fondasi gedungnya, bagian tengah sebidang tanah lokasi Balai Kota telah hancur lebur, lubang besar di bawah terlihat semacam mulut menganga.

Keruntuhannya kemungkinan besar takkan terjadi kecuali fondasi bangunannya menerima serangan besar.

Subaru berasumsi demikian dari sisa-sisa gedung; Emilia yang menyaksikan hal sama, melihat-lihat sekeliling dengan raut wajah gelisah.

“Siaran sebelumnya, pastinya menggunakan alat sihir di gedung itu, kan? Tapi, gedungnya yang seperti ini …”

“—! Benar katamu, itu benar …”

Dihadapkan kegelisahan Emilia, Subaru melihat sekelilingnya cepat-cepat.

Runtuhnya Balai Kota bukan hal tidak penting. Tak salah lagi gara-gara diselundupi cengkeraman jahat Kultus Penyihir. Selain itu, di Balai Kota tidak hanya ada alat sihir, Otto dan orang-orang yang tak berpartisipasi dalam kelompok tuk merebut kembali Menara Pengendali juga korban Wewenang Kekuasaan Capella juga ada di sana.

Karena Balai Kota mengalami kerusakan besar, berarti ada pertempuran. Jika iya, apa yang terjadi di Balai Kota yang hanya ditinggali non-kombatan?

Transmisi Kiritaka, bahkan persoalan itu jadi mencurigakan.

Tetapi, risau Subaru—

“Ah, begitu merasa seseorang datang, rupanya Subaru dan Emilia, faktanya.”

“… Beatrice?”

Suara familier gadis itu sampai Subaru dan Emilia yang menghentikan langkah mereka.

Saat mendongak, Beatrice berada di puncak reruntuhan sambil memandangi mereka berdua seraya berjalan turun memegang ujung gaun halusnya. Dia menghampiri Subaru yang matanya membuka kaget, lalu melihatnya dari atas sampai bawah untuk memeriksa kondisinya …

“Hmm, kau kelihatannya tidak terluka, aku lega, kayaknya. Kalau kau terluka selagi Betty absen, aku takkan bisa meninggalkanmu meski ke kamar mandi sekalipun.”

“Aku bukan anak kecil yang perlu perhatian sebanyak ini …. Lebih tepatnya yang harusnya kukatakan itu, Beako, kenapa kau di sini?”

Subaru terkejut Beatrice menyilangkan tangan pendeknya dan mengangkat kepala tinggi-tinggi sambil memasang ekspresi tenang di wajahnya. Tingkah kurang ajarnya sama seperti biasa.

“Bukannya kau menghabiskan semua mana-mu alhasil meninggalkan garis depan? Kurang lebih, kau sepatutnya tidak bisa berpartisipasi dalam pertempuran ini.”

“Kedengarannya kau menyalahkan Betty, jadi berhenti, kayaknya! Andaikata bukan karena pengabdian Betty, faktanya, kakimu akan sedikit lebih kurus sekarang. Terima kasihmu, apresiasimu, dan pelukanmu takkan cukup, kayaknya!”

“Aku tahu, aku tahu.”

Subaru membelai lembut kepala Beatrice murka seperti biasanya. Beatrice cemberut tidak puas namun meski begitu, dia melangkah lebih dekat ke Subaru, diam-diam menikmati elusannya.

Lanjut mengikuti interaksi Kontraktor dan Rohnya, Emilia nyamber baik-baik.

“Beatrice.”

“Alhamdulillah, faktanya, Emilia juga kelihatan baik-baik saja. Bila terjadi sesuatu padamu, nanti aku kelimpungan, kayaknya. Karena itu, faktanya Subaru mempertaruhkan nyawa bertarung sama Betty. Jika kau mendapat pelajaran soal hal ini, jangan biarkan dirimu ditangkap lagi, kayaknya.”

“Mmmn, makasih. Maaf sudah membuatmu cemas.”

“Khususnya, faktanya, Betty hanya sedikit saja meresahkanmu!”

Emilia melihat Beatrice yang memalingkan wajah mengikuti suasana hati, dengan senyum di wajahnya. Kemudian, Emilia menatap seluruh tubuh Beatrice dan berangsur menyipitkan matanya lebar-lebar.

Gaun berornamen, rambut ikal terawat rapi.

Keduanya sedikit ternodai lumpur dan darah. Inilah bukti gadis roh ini tidak cuma baru bangun dari mimpi damainya.

Tanpa kehadiran Subaru, juga runtuhnya Balai Kota.

Peristiwa tidak terduga ini pastinya terkait kebangkitan Beatrice.

“…”

Emilia mengarahkan pandangannya yang serba pemikiran itu, lalu Subaru berserah diri. Dan selagi menatap Beatrice yang masih dielusnya, Subaru bilang:

“Makasih, sepertinya kau bekerja keras selama aku tidak ada. Maaf atas segalanya. Aku hanya membawakanmu masalah.”

“Aku cukup terbiasa dengan dirimu yang membuat masalah, jadi tidak usah mengkhawatirkannya, kayaknya. Tidak, sebenarnya masih sedikit khawatir tentang itu, faktanya. Khawatirkan, terus kasih terima kasihmu, kayaknya.”

“Iya, iya …. Tapi, biarpun kau kerja keras tapi masih sedikit berlebihan. Menghancurkan seluruh gedung ini tuh teramat-amat berlebihan.”

“Hah, Beatrice melakukan ini?”

Emilia memandang bingung Beatrice sembari menunjuk-nunjuk gunungan puing.

“Kau tahu berapa biaya buat memperbaiki gedung kek gini … Subaru?”

“Dengan uang saku Beatrice, aku tahu jadi proyek besar yang memakan waktu beberapa dekade.”

“Faktanya, kalian berdua ngomongin apa!? Yang dilakukan Betty tuh beda, kayaknya! Faktanya, Betty melihat gedung saat sudah jadi puing-puing!”

“Kubilang aku tahu. Jika kau menyerangnya, kami bisa dengar dari jauh sekali suaranya. Dasar gadis imut.”

Subaru terkekeh sewaktu Beatrice mencoba membela diri dari tuduhan palsu. Mendengar percakapan ini, Emilia berkata, “Eh, siapa yang menghancurkannya?” sementara waktu ini.

Andaikan mereka bertemu Beatrice dekat sisa-sisa Balai Kota, maka …

“Setidaknya kita tidak perlu meresahkan Kultus Penyihir mencoba berbuat jahat di sekitar sini. Jadi, nasib Otto dan orang lain yang mestinya berada di Balai Kota bagaimana?”

“Hmm, menjelaskan itu bakalan rumit, kayaknya. Tapi, orang-orang yang ada di Balai Kota itu …”

“Kami juga sempat kabur, jadi ga usah gelisah.”

Suara logat Kansai atau lebih tepatnya, Kararagi, menonjol di sela-sela jawaban Beatrice.

Sesaat mereka berbalik meresponnya, mereka melihat sesosok mungil tengah berjalan di sekitar gunungan puing. Sepintas, mereka merasakan hal aneh mengenai penampilan orang itu, sebab warna rambutnya yang dirapikan sisir kini berbeda dari sebelumnya.

“Kaukah itu, Anastasia-san?”

“Kenapa ragu memanggilku … Eh, aah, pasti gara-gara ini, kan? Karena warna rambutku beda sekarnag.”

Rambut ungu muda mulusnya sekarang diwarnai hijau tua.

Hanya saja Anastasia mengenakan kimono-nya, kesan mereka berubah banyak. Dia menatap Subaru dan Beatrice, selanjutnya melihat Emilia, dia mengangguk puas dengan anggun.

“Nampaknya kalian bisa mengambil kembali Emilia-san tanpa masalah, Natsuki-kun. Pedang Suci yang bilang padaku, jadi aku tidak khawatir soal itu.”

“Jadi Reinhard sempat menemui orang-orang lain tanpa masalah.”

“Dia datang melesat dari langit. Sekarang ini, dia mencari-cari orang tersesat karena Kultus Penyihir …. Atau tepatnya, seharusnya kubilang dia bawa Felix-san menjambangi selter evakuasi.”

“Menjambangi selter …. Itu pastinya tugas seorang penyembuh.”

Kendati mereka mengusir Uskup Agung Dosa Besar, banyak upaya dibutuhkan tuk memperbaiki kerusakan yang kotanya terima. Peran Felix akan penting demi pemulihan cepat fungsi kota. Kelihatannya Reinhard saat ini menggantikan kaki Felix untuk mendatangi tempatnya satu per satu.

“Maaf, aku juga amat merepotkannya …. Tapi, kau kenapa, Anastasia-san? Seperti, warna rambutmu atau gedung ini.”

“Benar, benar. Kau lagi pencitraan dengan mengubah warna wajahmu yang lebih enak dilihat mata? Kurasa lebih cocok buatmu, tapi saat kau mengenal Anastasia-san asli, rasanya aneh saja.”

“Natsuki-kun, kau ahli menyemburkan omong kosong. Tapi, aku cuma mengecatnya untuk strategi kecil. Lagian, tidak berhasil …. Berbading terbalik, setahuku malah jadi buruk.”

Anastasia mendesah sembari jemarinya memutar-mutar rambutnya, dan melihat sisa-sisa Balai Kota. Dari ucapannya, tampaknya dia ikut andil dalam runtuhnya Balai Kota.

“Felix baik-baik saja, kan? Apa yang terjadi, dan orang-orang bagaimana?”

“Ceritanya sederhana …. Sehabis semua orang pergi untuk mengalahkan Uskup Agung Dosa Besar, musuh menyerang memanfaatkan absennya kalian. Mereka sedikit mengacaukannya.”

“Kelihatannya mereka tidak sedikit mengacaukan sesuatu …”

Jelas sekali itu pertarungan sengit yang kontras nada lesu Anastasia.

Serangan Balai Kota—trik ganas yang memanfaatkan kepergian para kombatan, rasanya mungkin Kenafsuan aau Kemarahan yang berada di baliknya, tetapi yang dia rasa paling mungkin adalah …

“Apa yang datang ke sini tuh Kenafsuan?”

“Sesuai yang kudengar, kepribadiannya paling buruk. Pertemuanku dengannya ngebuatku gelisah.”

Lawannya semestinya tidak seremeh itu hingga cuma menggelisahkan orang saja, tetapi perilaku Anastasia tidak terlihat takut atau kaget. Butuh keberanian nyata buat menghadapi Uskup Agung Dosa Besar.

Dia ingin memujinya dengan, Kau memang hebat, tapi ada sesuatu lebih mendesak yang menggerogoti pikiran Subaru.

“Maaf. Kami meninggalkan Menara Pengendali dan setelahnya ada serangan kejutan di Balai Kota … harusnya aku lebih berhati-hati.”

“Jangan cemaskan. Kami cuma bertindak sesuka kami selagi Natsuki-kun menghilang. Terlebih lagi, memalukannya kami tak dapat hasil apa-apa dari itu.”

Menurut perkataan Anastasia, keknya dia memperkirakan serangan mendadak, itu yang dirasakan Subaru. Dia barangkali mewarnai rambutnya jadi hijau sebagai strategi penanggulangannya.

Seketika Subaru pikirkan hubungan rambut hijau tua dengan orang yang diminati Capella, dia samar-samar paham strategi yang mereka buat.

“Anastasia-san, kau berpakaian seperti Crusch-san dan jadi pancingan, maksudmu itukah? Kalau kau mengusir Kenafsuan hanya dengan dirimu dan Felix, maka itu situasi berbahaya.”

 “Keren kalau kami mengusir Kenafsuan, tapi ada orang lain di sana. Kesatria terhormat Priscilla-san.”

“… AI?”

Mendengar nama tidak terduga terucap darinya, mata Subaru membeliak terkejut.

AI-lah orang yang paling tidak tertarik terhadap pertempuran memperebutkan kota. Dan sedari awal, dia sepatutnya pergi bersama Priscilla dan Liliana untuk mengalahkan Kemarahan.

Kalau saja dia tetap tinggal di Balai Kota, tim penangkapan Kemarahan akan dalam keadaan tidak pasti dan mencemaskan kekuatan tempur dan kombinasi mereka.

“Asal kau tahu saja, tim yang menghadapi Kemarahan kembali dengan aman.”

Anastasia menjelaskannya kepada Subaru yang keraguannya tergambar di seluruh wajahnya. Sembari nyengir, dia melihat arah Menara Pengendali yang Kemarahan tempati, berikutnya bilang:

“Priscilla-san kembali dengan baik-baik saja. Biduanita Liliana kembali bersama pangerannya, itu yang mengejutkan semua orang.”

“Pangerannya …. Maksudmu Kiritaka? Dua orang itu bertempur dan balik-balik sama orang yang tidak jelas masih hidup atau sudah mati; apa yang terjadi?”

Banyak sekali misteri, seperti halnya Priscilla kembali tanpa luka dari pertempuran melawan Kemarahan dan Kiritaka beserta Liliana bereuni. Dia ingin mendengar lebih banyak detail ceritanya, namun Subaru mesti memprioritaskan inti umumnya.

“Bisa percaya siaran Kiritaka sebelumnya?”

“…”

“Pemulihan semua Menara Pengendali sukses. Selanjutnya nasib para petarung. Mereka bagaimana?”

Balai Kota telah runtuh, tapi mereka barangkali mengeluarkan alat sihir dari sana.

Jadi, bukan berarti Subaru harus meragukan kemungkinan siarannya jebakan. Masalah lainnya adalah pada akhirnya, dari awal mereka hanya mempertimbangkan dampaknya.

Dan terhadap pertanyaan Subaru, Anastasia menjawab …

“Kau tidak usah khawatir. Natsuki-kun, kau dan kalian semualah yang paling terakhir kembali.”

“Kami yang terakhir … terus yang lainnya bagaimana?”

“Jangan khawatir.”

Emilia dan Beatrice resah mengamati bersama Subaru yang terlihat sedikit tidak sabaran. Di hadapan tiga orang itu, Anastasia mengangguk seraya tersenyum kemudian berkata:

“Semuanya kembali selamat. Tidak ada yang tidak balik.”

Dan itulah tanggapannya.

“Kapten! Lu kembali baek-baek!”

Seorang anak laki-laki pirang berlari dan memanggilnya dengan suara ceria selagi menatap Subaru serta orang-orang yang bergabung bersamanya—dia Garfiel.

“Oh … Garfiel … eh.”

Ketika dia mencoba mengangkat tangannya, dia kaget oleh sosok yang datang berlari.

Kendati tubuh bagian atas Garfiel telanjang, seluruh tubuhnya berlumuran darah. Walau demikian, ekspresinya berseri-seri, kelihatannya dia mengalami pertempuran agak sulit, tapi nyatanya dia telah memenuhi tugasnya.

Melihatnya saja, Subaru segera mengubah ekspresi terkejutnya ke senyuman.

“Woi, kau yang kelihatannya tidak baik-baik saja. Wajahmu terlihat buruk.”

“Gua ga pengen denger kata-kata itu dari lu, kapten … keknya ga bisa gua ulangin lagi. Tapi, kapten yang punya nyali. Lu nyelametin Emilia-sama tanpa masalah.”

“WOGHIYADONG.”

Sambil mengulurkan tinjunya, tangan Garfiel meninju tinjunya.

Itu sudah cukup untuk menghormati pertarungan baik satu sama lain.

“Tapi, dengar-dengar Kenafsuan muncul di Balai Kota. Kau, di mana dan lawan siapa kau bertarung?”

“Jelas, ngelawan Kurgan Lengan Delapan …. Tapinya, gua ga tau dia setingkat apa sampe bisa dipanggil nama itu.”

“—? Maksudmu apa?”

“Gua yang hebat ini cuma ngelawan mayat mati. Tentu pas dia hidup dia kaga kek gitu. Itulah kenapa rasanya gua kayak ga menang.”

Teknik rahasia untuk memanipulasi tubuh mayat orang mati dan menggunakannya sebagai petarung.

Tidak salah lagi teknik rahasia ini digunakan secara rahasia oleh Kultus Penyihir. Akan tetapi nampaknya kapasitas petarungnya telah turun dibanding waktu mereka masih hidup. Jika dia petarung seperti Garfiel, dia mungkin mengetahui perbedaannya.

Menarik perhatiannya atau tidak, selain kemenangannya sendiri, entah kenapa nampak seolah Garfiel seakan gagal mendapatkan hasil yang diinginkannya.

Perasaan itu bukanlah sesuatu yang Subaru tidak ketahui.

“Musuhnya tak kuat, karenanya kau kalah?”

Emilia yang mendengarkan percakapannya, menggelengkan kepala, sebab dia tidak mengerti perasaan itu.

Mendengar pertanyaannya, Garfiel mula-mula bilang, “Baguslah lu baik-baik aja.” senang Emilia kembali, lalu dia menggaruk rambut pirang pendeknya dengan kasar.

“Kalah karena dia ga kuat …. Bukan itu. Pokoknya, ga bisa dijelasin dah. Karena Emilia-sama tuh wanita.”

“Sesuatu yang tidak dimengerti wanita? Terus, Subaru mengerti?”

“Sedikit saja, sih. Tapi bahkan bagi pria ada semacam penghalang asing antara kuat dan lemah …. Tapi, kurasa hasilnya adalah sebab Garfiel kuat. Bukannya kau terlalu memikirkannya?”

“Apa gua … terlalu mikirin?”

Muka Emilia mengutarakan dia tidak paham dan respon Subaru tak sepenuhnya positif. Karenanya, Garfiel mengangguk dengan tampang sedih di wajahnya.

Kepala Garfiel penuh pikiran sehubungan kekuatan. Ada pertanyaan tentang mengajak duel Reinhard dan juga setelahnya dia menerima aksi pembuka menyakitkan lewat cara Kultus Penyihir.

Walau kepalanya pikirkan, tidak peduli seberpikir apa, jawaban atas masalahnya tak ditemukan.

Mungkin saja memang begitu. Itulah mengapa, soal itu—

“Hei, Garfiel. Kalau kau memikirkan …”

“Oh! Ada Gar~f! Itzuuuuu!”

“Uagh-!”

Di depan Subaru yang mencoba menasihatinya, badan Garfiel jatuh gedebruk keras. Dia hampir tak menyadari sosok kecil yang menabrak pinggang Garfiel, namun tangannya tidak bergerak tepat waktu untuk mencegah erangan kesakitannya, lalu jatuh.

Subaru menatap Garfiel jatuh; orang yang duduk di dadanya yang terjatuh lengah adalah gadis kucing sedang mengibas-ngibaskan ekornya.

Gadis tersebut menajamkan telinganya sambil memasang ekspresi ceria dan menggemaskan di wajah …

“Fuhahaha! Kau lengah, Gar~f! Musuhmu sebenarnya ada dalam hatimu! Dan dalam hatimu, kau sudah ada orang-orang penting di sana! Maksudku, sudah terisi.”

“Lu ngegetok dan manjat dada orang …”

“Hehehe, Nona ngasih tau Mimi! Kalau menampar pantat orang bisa menarik cinta …. Atau semacamnya? Nona bilang itu atraktif atau apalah itu! Menampar pantatnya tuh kata Nona!”

Mimi tertawa terbahak-bahak di atas Garfiel.

Dia tidak lagi pendarahan dari luka dalam tidak tersembuhkannya. Di hadapan wajah gadis yang sudah sembuh total ini, Subaru menyentuh dadanya kemudian membungkuk.

“Kau kelihatan bersemangat, Mimi.”

“Oh, Onii-san, selamat datang! Selamat datang! Keknya banyak hal ruwet terjadi selagi Mimi tidur, kerja bagus! Mimi tidur nyenyak bagnet! Tapi sepertinya Gar~f juga berusaha sangat keras, iya ‘kan? Kerja bagus!”

“K-kau sepertinya tidak berubah, itu hal terpenting. Benar ‘kan, Garfiel?”

Dia dengar luka Mimi disebabkan karena telah melindungi Garfiel.

Garfiel yang terguncang sampai relung hati terdalam sebab luka Mimi tidak mau menutup dan menggendongnya di ambang kematian. Dia bertanya-tanya Garfiel lega atau tidak melihat Mimi membaik.

Tapinya, mendengar panggilan Subaru, Garfiel yang duduk mengusap hidungnya.

“Hadeh, bakal jadi masalah kalau gua kebanyakan berubah. Gua bilang berkali-kali, tapi ribut-ribut pas memulihkan diri …”

“Hmm, apa? Kau ngomong sesuatu, Gar~f? … ah!”

Mimi yang mendekatkan wajahnya ke Garfiel, berteriak dan menatap dadanya sendiri. Mimi memeriksa bagian dalam jubah putihnya kemudian membuka mata lebar-lebar kaget …

“Gar~f, ini mengerikan! Lukamu terbuka lagi! Darah mengalir keluar!”

“Idiot! Makanya gua bilang lagi dan lagi! Sialanlah, kalau ga gua balut terus salurkan sihir penyembuhan nanti kaga bakal sembuh! Aduh, sini!”

“Ukyaa! Sakiiiittt! Sakiiiiitt!”

Karena lukanya makin parah, Garfiel meraih tangan mimi yang tetap tenang, kemudian membawanya ke bagian dalam selter. Dihadapkan percakapan berisik bagaikan topan, bahkan Subaru terdiam seribu bahasa.

“Pfffft …. Tapi ya, kalau Garfiel tetap seperti ini, dia mungkin tak sempat cemas.”

Namun di samping Subaru yang tertegun, Emilia menyentuh bibirnya dan tiba-tiba bilang begitu. Sambil menatap punggung mereka berdua yang semakin jauh, dia merujuk kembali keresahan Garfiel sebelumnya.

Begitu, pikir Subaru, setuju sama pendapat itu.

“Terlepas dari segalanya, mereka pasangan serasi. Keduanya, itu dia.”

“Mimi tuh manis, dan kelihatannya dia sangaaaaaaaat menyukai Garfiel …. Kayaknya Garfiel suka Ram, jadi menurutku takkan segampang itu.”

“Iya, pastilah …. Bentar, apa Emilia-tan berkomentar tentang cinta antara pria-wanita!?”

Kendati contohnya cukup mudah dipahami, Subaru terkejut Emilia bisa membuat perbincangan semacam itu.

Emilia yang bahkan sebelum ditembak Subaru berada dalam kondisi tidak mengerti cinta antara pria dan wanita, mampu mengomentari cinta orang lain.

“Hmph, Subaru, rasanya kau barusan mengatakan sesuatu yang sangaaaaaaat tidak sopan.”

“Baiklah, meski pikirku itu pengakuan akurat …. Tidak mungkin, Emilia-tan betulan berubah tanpa kusadari? Dan dia mengenakan gaun pengantin!”

“Biarpun akhirnya amat berantakan.”

Karena sukar bergerak, dia robek gaun pengantinnya; tampaknya dia tidak perlu terlalu merisaukannya sekarang.

“Duh, duh. Mereka itu cuma kumpulan anak-anak, nampaknya mereka hanya tumbuh besarnya saja, kayaknya.”

“Aku tak mau mendengarnya darimuu, yang paling mirip bocil di sini.”

Saat Beatrice bercanda untuk merekap segala halnya, Subaru berdehem. Lantas, jika Mimi sudah pulih, artinya—Dia melihat-lihat sekeliling selter mencari jawaban …

“…”

Di pojokan, orang-orang bersukacita atas reuni mereka, dia mendapati sosok pendekar pedang bijaksana berdiri diam. Subaru menahan napasnya pada sosok Iblis Pedang yang matanya menutup diam.

“Subaru …”

“Maaf. Nanti aku kembali.”

Membalas Emilia yang terlihat cemas, Subaru meninggalkan dirinya dan Beatrice di sana, lalu berjalan lamban ke tempat yang dipandangnya.

Pertama-tama, dia harus katakan apa kepadanya? Akan tetapi, kegelisahan itu akhirnya menjadi tidak penting.

“—Subaru-dono-kah?”

“… ya, benar.”

Wilhelm yang membuka sebelah matanya, melihat Subaru yang mendekat, ragu-ragu bicara duluan. Melihat mata biru membisunya, Subaru sadar diam saja tidak ada gunanya.

Wilhelm tengah bersandar di dinding batu dingin, Subaru berdiri di sampingnya dan melihat sosoknya dari sudut matanya.

Sosok serba luka yang membuat Subaru merasakan gaung pertarungan sengit.

Ada bekas-bekas luka di sekujur pakaian tipis tanpa jaketnya, rambut abu-abunya yang diikat ke belakang telah lepas dan tegerai hingga punggungnya. Yang kelihatan lebih menyakitkan adalah kain berlumuran darah yang melilit bagian atas kaki kanannya—

Cukup memberi tahu luka itu dalam hingga mengancam nyawanya.

Tapi yang paling menarik perhatian Subaru bukan Wilhelm sendiri.

Tetapi jaket di sebelahnya yang sepertinya dibungkus sesuatu penting di dalamya.

“Wilhelm-san, itu …”

“…”

Subaru hendak mencoba memeriksa isi jaketnya tanpa pikir panjang. Menerima perkataan Subaru, Wilhelm memandang bungkusannya.

Pendekar pedang bijak membisu sepintas, selanjutnya menggerakkan bibir keringnya …

“… sesuai dugaanmu, ini istriku.”

“…”

“Segera setelah dia meninggal, tubuhnya berubah menjadi tumpukan abu. Akan terlampau menyedihkan meninggalkannya dianginkan seperti ini, meskipun memalukan aku menaruhnya ke jaketku …. Walaupun dia hanyalah abu, aku ingin memakamkannya dan berkabung.”

Berarti—teknik rahasia yang menggerakkan mayat orang mati, ujung-ujungnya, mayatnya berubah menjadi abu.

Penistaan terhadap jiwa seseorang setelah kematian, dan dampaknya kepada orang-orang yang menjadi target teknik rahasia ini tidak dapat diukur. Subaru bahkan tak sanggup membayangkan apa yang terjadi dalam hati Wilhelm ketika memikirkannya.

“Aku sungguh mohon maaf. Ini sepertinya rasa keterikatan lembek dan tanpa arti.”

“Jangan bilang begitu!”

“…”

Subaru langsung meninggikan suaranya begitu mendengar suara Wilhelm yang kedengarannya menyalahkan diri sendiri.

Meski tidak sadar Subaru membuat dirinya sendiri berapi-api, dia menatap langsung Wilhelm. Wilhelm membuka sedikit matanya dan balas menatap Subaru.

“Aku pikir Wilhelm-san tidak salah, Wilhelm-san, sekarang juga tidak, begitu pun saat penaklukan Paus Putih, kau adalah orang luar biasa yang aku hormati. Apa salahnya menghargai orang-orang tersayang? Tidak ada yang memalukan, berpikir demikian tidak bagus.”

“Subaru-dono …”

“Kau luar biasa, Wilhelm-san. Istrimu … memakamkannya, berkabung, pemikiran itu tidak salah. Aku tidak terlalu ahli mengekspresikan diriku, tapi kau luar biasa.”

Itulah perasaan sejati Subaru.

Tidak salah lagi perasaan sejati Subaru, pikiran sebenarnya yang tidak ingin disangkalnya.

Dulu pada waktu-waktu Paus Putih dan selama reuni sedihnya sekarang, takdir benar-benar kejam kepada Wilhelm.

Namun kendati demikian, Iblis Pedang telah melawan takdir sebisa mungkin; dia lewati dengan tekad prbadi, dan mencoba menggapai cinta. Tidak semua hasil akhirnya baik.

Pertaubatan dan penyesalannya barangkali tetap kekal. Namun, harusnya berakhir dengan baik.

Cinta Wilhelm dalam mencintai orang yang dicintainya, mestinya semuanya berakhir baik.

“Tidak ada yang memalukan. Tolong, makamkan beliau. Dan, misal ada kesempatan, dan tidak terlalu menganggu, tolong izinkan aku berkunjung ke makam beliau juga.”

“…”

“Aku ingin berkunjung, kupikir itulah yang harus dilakukan seseorang.”

Subaru tidak piawai berkata-kata, dan terlebih lagi dia jadi lebih emosional Subaru jadi kesal pada dirinya sendiri.

Mendesak perasaan egoisnya sendiri, dia tidak bisa berbuat apa-apa misalkan Wilhelm tertawa. Sangat wajar jika Wilhelm bilang itu bukan urusan Subaru dan menolaknya.

Namun Wilhelm tiba-tiba mengendurkan bibirnya di depan Subaru.

Ada celah kecil muncul di wajah kaku-tegangnya. Berikutnya, dia berkata:

“… ya, tolong berkunjunglah, Subaru-dono. Aku juga ingin kau mempersembahkan sejumlah kata kepada istriku, kurasa. Kalau itu kau.”

“—! Y-ya, pasti. Aku terhormat.”

Subaru diizinkannya, atau lebih tepatnya, berkat kemurahan hati Wilhelm.

Setelah mendengar keinginan egois Subaru, Wilhelm mendesau pelan. Menebak wajahnya dia tak ingin bicara lagi, Subaru menundukkan kepalanya.

Dia harus meninggalkan Wilhelm bersama istrinya sebentar.

Tetapi sebelum meninggalkan tempat itu, dia ingin memastikan satu hal.

Dan itu adalah …

“Wilhlem-san—Tentang istrimu, anu, apa kau berhasil melakukan itu?”

“…”

Sudahkah dia dan istrinya mencapai akhir?

Sudahkah dia mencapai hasil yang tak diinginkannya?

Tentu saja, menghadapi istri yang sudah meninggal mustahil mencapai hasil yang diinginkan. Walau begitu, tidak seorang pun selain Wilhelm diperkenankan menghadap istrinya; setelah menerima situasi tersebut, Wilhelm mencari akhir.

Lantas paling tidak Subaru harusnya bukan satu-satunya orang yang menginginkan itu.

“Istriku …”

Wilhelm mulai berbicara kepada Subaru yang berhenti sejenak untuk melihat kakek tua itu. Tetapi kata-katanya tertambat di sana. Pandangan Wilhelm sedikit menjauh dari Subaru. Dia arahkan pandangannya ke jaket yang membungkus abu istrinya.

Sepersekian detik, pusaran emosi nian besar melayang melalui iris matanya. Lanjut, dia bicara:

“—ya. Aku berbicara dengan istriku, dan tentu saja, aku menyampaikan kata selamat tinggal.”

Kata-katanya, itu ekspresi kiasan, kemungkinan besar.

Istri Wilhelm menjadi Pedang Suci sebelumnya, menyilangkan pedang melawannya, adalah perbincangan tiada duanya bagi Iblis Pedang. Bilah penutupan mereka masing-masing semestinya kata-kata terakhir perpisahan mereka.

Karenanya, pastinya penutupan itu adalah hasil pilihan Wilhelm—

“Aku mencintai istriku—seharusnya aku sampaikan itu.”

“Aku mengerti.”

Pernyataan cinta lirih Wilhelm.

Berbeda dari nada sopan suaranya, terdapat api yang menghanguskan hati para pendengarnya, dan dada Subaru kian memanas. Menarik napas dalam-dalam, Subaru menutup mata.

Gelombang emosi berkecamuk keluar dari dalam dirinya. Menjaga emosi dan tubuhnya tetap terkendali, dia membuka mata.

Wilhelm yang berada di depan pemuda itu menampakkan senyum kesepian di wajahnya. Akan tetapi, sebab dia tersenyum, rasanya laksana dia telah diselamatkan, dan Subaru pun membiarkan bibirnya rileks.

“Wilhelm-san. Terima kasih atas kerja kerasmu.”

“…”

“Mungkin, sebentar lagi semuanya akan jadi sibuk, kupikir, tapi hingga saat itu tolong istrirahatlah. Aku akan berkeliling sedikit lagi untuk melihat-lihat apa yang terjadi.”

Subaru bicara kecepetan dan tidak yakin apakah tutur terakhirnya benar atau tidak. Salah satu jarinya menggaruk pipi dan merasa malu selagi memunggungi Wilhelm.

Di belakang punggungnya …

“Subaru-dono—”

“Iya?”

Seketika dipanggil sewaktu mencoba pergi, Subaru berhenti dan balik badan. Kemudian Wilhelm yang wajahnya sedikit kaget, segera bilang, “Tidak.” dan menggeleng kepalanya.

“Maaf. Itu hal sepele …. Tolong jangan pedulikan aku.”

“Begitukah? Tidak, kalau kau bilang begitu, membuatku merasa sebaliknya …. Tapi, baiklah, iya. Sampai nanti.”

Subaru berjalan menjauh dari sana bersama senyuman pahit menghias wajahnya sebab reaksi atipikal Wilhelm.

Melihat tampang Subaru ketika dia kembali, tampaknya wajah Emilia dan Beatrice terlihat lega. Karena itu, ekspresi Subaru mungkin berubah sedikit di saat dirinya pergi dan dirinya kembali.

Subaru sendiri sangat-sangat menyadarinya.

Karena bertemu kembali orang mati bukan hal membahagiakan.

Namun setidaknya Wilhelm akhiri dengan caranya sendiri, dan dia puas akan hasilnya. Dia merasa fakta itu adalah suaka sederhana.


Selagi menyipitkan matanya, sang Iblis Pedang menatap punggung anak laki-laki berambut hitam yang berjalan pergi.

Bibirnya terkatup rapat agar menahan sesuatu.

Hancurnya kamuflase yang beberapa waktu lalu dia samarkan maksud nyatanya dengan kehendak kuat. Emosi menggila yang kurang lebih ‘kan menggigit keras bibirnya seumpama di abaikan, bahkan hingga kini.

Tentunya yang dia sembunyikan dari dada anak muda itu sampai sekarang adalah—

“Subaru-dono …. Kau …”

Hanya dalam mulutnya, berbisik dengan suara serak, Iblis Pedang itu menyebutkan nama anak tersebut …

“Kau bisa menjadi—”

Setelah mengatakannya, Iblis Pedang memejamkan mata bak menutup hati lemahnya.

Kelanjutan kata-kata tanpa suaranya tidak didengar siapa pun.

Itu juga sesuatu yang takkan pernah keluar dari mulut Iblis Pedang.

Itu satu-satunya hal yang sang Iblis Pedang takkan biarkan.

9 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 74”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *