RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 70

Posted on

Gerhana

Penerjemah: Devola

Batenkaitos yang semestinya menghapus nama Felt dan mulai menyantap Makanan, malah muntah-muntah.

Merintih kesakitan, menyemburkan cairan lambugnnya, tingkah Kerakusan tidak jujur. Jadi, meski dia tak memasukkan sesuatu berbentuk ke mulutnya, dia masih meremas perutnya selagi muntah.

Kesannya seperti tontonan misterius, tontonannya sendiri tidak ada absurd-absurdnya.

“Sial, itu sakit …. Mempermainkanku …”

Mengelus dada bersihnya, Felt berdiri dengan kondisi luka-luka gores.

Yang bisa dilihat sudut mata Felt adalah Beatrice dan yang lain belum melupakan dirinya.

Makanan Kerakusan telah gagal.

“Entah apa alasannya, tapi … kesempatan bagus!” kata Dynas.

Dynas menyerbu Batenkaitos yang kesadarannya sepenuhnya di luar medan perang, sambil menumpahkan cairan lambut dari tepi mulutnya.

Dua pedang menyapu dan tanpa ampun menghujam Batenkaitos.

Menuju leher tanpa pertahanan, bilah perak katana berlanjut—

“Agh, o~o~h!”

Mengangkat suara binatangnya, Batenkaitos mengelak pedangnya ke samping.

Hindarannya sedikit terlambat dan sejumlah rambutnya tertebas, namun pedang ganda Dynas belum cukup menembus kulit Felt. Memutar tubuh mungilnya sangat cepat, Kerakusan lolos dari serangan yang disertai langkah mengerikan.

“Pedagang!”

“Aku, tahu!!”

Merespon panggilan Beatrice, Otto mengayun tangan kanannya. Dua Batu Sihir dilempar dari lengan bajunya, mengontak Batenkaitos yang kabur dari serangan sebelumnya.

Kala itu, cahaya meledak, dan arus energi magis yang dimiliki batunya meledakkan tubuh Batenkaitos—akan tetapi, sang Uskup Agung menanggapinya dengan refleks saraf ajaib.

Huma~!”

Seiring cahaya merekah, cahaya dan kekuatan destruktifnya Batu Sihirnya sendiri menelan Batenkaitos, tatkala itu Batenkaitos merapal sihir, membungkus ledakan magisnya ke dalam es.

Ledakan hasil Batu Sihir kehilangan area rekahnya dan berakhir menjadi tumpukan es hancur, berjatuhan ke tanah, membuat suara. Sihir es itu adalah keterampilan kelas teramat tinggi hingga signifikan menghalangi gelombang sihir tanpa warna.

Barangkali bahkan sihir itu pun adalah kemampuan seseorang yang Namanya telah dimakan Batenkaitos sampai sekarang.

Memikirkan Seseorang pastinya telah memelajari kemampuan itu dan kini terkumpul dalam perut Batenkaitos tanpa membekas di ingatan siapa pun sudah memualkan.

Namun demikian, sekarang bukan waktunya merasa sepert itu.

Yang krusial di sini adalah—

“Wa~h ~tsu! Bahaya bahaya … tapi berhasil kami lewati ~tsu!”

Menendang es yang menjebak Batu Sihir, kemudian jatuhkan langsung ke kanal adalah perbuatan Batenkaitos tertawa-tawa. Dia menggoyang-goyangkan perutnya, seolah-olah mengatur isinya, lalu tangannya menyeka mulut, leher condong maju.

Yang diamati mata rusak itu adalah Felt, dia mengayun-ayun tangan-kakinya untuk memastikan sejauh mana lukanya. Menyadari Batenkaitos menatapnya, Felt mendengus.

“Ngapa. Sama sepertimu, aku pun merasa marah, bangsat.”

“Tidak marah sama sekali ~tsu, malah i~tu mengesankan. Ma~af, menganggapmu tidak cerdas, hanya dari sampulnya.”

“Hah? Maksudmu apa …”

“Tidak pernah kami kira, kalau kau pintarnya menggunakan nama lain buat melawan kami. Kami sungguh-sungguh tertipu. Kami berniat tidak rakus melahap sampai Nama terungkap tapi … tidak~ di~sang~ka, ganjarannya perubahan kejadian tak terduga ini.”

“…”

Nama lain, mendengar Batenkaitos mengatakannya, Felt terdiam.

Reaksi Felt mengerutkan alisnya menunjukkan sebesar apa dia tidak mengira yang didengarnya barusan. Sekilas bisa dimengerti bahwa Felt tidak paham maksud omongan Batenkaitos.

Sementara Beatrice setelah mendengar percakapan ini, paham alasan di balik kegagalan Makanan Batenkaitos sebelumnya.

Batenkaitos memegang Wewenang yang mampu memakan Nama seseorang yang namanya sudah dia ketahui atau didapat dari sepengetahuannya, dengan menyentuh seseorang itu—meski begitu, namanya haruslah nama asli orang itu.

Nama lain atau nama panggilan, keduanya tak cukup.

Dikarenakan nama Felt tidak memenuhi syarat Makanan, Batenkaitos yang telah mencicipinya, menderita.

Karena itu …

“Onii-san sebelah sana dan Felt-chan … ada dua orang yang namanya tak diketahui, dua-duanya pun bertekad dimakan, merepotkan banget.”

Otto yang namanya murni tidak diketahui, dan Felt yang sepertinya menggunakan nama samaran.

Dynas yang namanya langsung terungkap, serta Beatrice yang diketahui namanya lewat ingatan Rem tidak lagi jadi hambatan, itulah tabiat Kerakusan, menyebalkan memang namun menamai dirinya Pencicip Makanan dan fokus memakan Nama ada celah tak menguntungkan tersendiri.

“Hei! Sudah cukup mendengarmu, sekarang tutup mulutmu dan dengarkan, maksudmu apa?”

Beatrice yang merenung sendiri, serta Batenkaitos yang melanjutkan siksaannya. Di sisi lain Otto dan Dynas mengmatai situasi, Felt berteriak keras dan kasar.

Dia sebal oleh kesimpulan berulang-ulang mengenai dirinya, lalu membidik Batenkaitos dengan Meteor, mencoba menyerangnya.

“Nama lain atau apa pun deh, jangan bercanda denganku. Aku sudah hidup selama lima belas tahun dengan nama Felt yang diberikan kepadaku oleh Kakek Rom. Bilang itu bohong bukan candaan.”

“Tipe orang yang tak menyadari nama lain mereka sendiri ya~. Itu, artinya orang tua yang membesarkanmu bagus sekali, bukan ~tsu. Bagi kami, itu gangguan tak terbatas tapi …. Dengan kata lain, nama sebelum nama itu diberikan dengan be~nar, kepadamu.”

“Nama yang diberikan orang tua brengsek yang meninggalkanku di gang belakang? Lantas aku pastinya beban atau makanan boros atau sampah. Maka dari itu, masih mau julurkan lidahmu untuk makan dan melihatnya?”

“Jangan kontradiksi kesadaran Pencicip Makanan dengan menyebutnya tebakan atau semacamnya …. A~h, itu dia.”

Mengekspos gigi menonjolnya, Batenkaitos mengangkat tangan ke Felt yang tersenyum marah.

“Setelah makan semua orang selain dirimu, kami akan hati-hati menahanmu. Terus, bagaimana kalu menemui orang yang memberikanmu nama palsu, Kakek Rom? Kakek Rom barangkali tahu nama sejatimu. Kami pandai membuat orang memberi tahu yang mereka ketahui. Bi~sa kau serahkan ke kami.”

“… bahkan meluangkan waktumu untuk itu. Apa kau tak punya pilihan untuk menyerah?”

Otto tanpa pikir panjang mengatakannya kepada Kerakusan yang membicarakan jadwal menyinggung. Mendengarnya, Batenkaitos menutup mulut, dan mengelus tenggorokannya seakan menikmati …

“Misalkan jumlah nyawa di dunia itu terbatas, maka jumlah pencicip makanan lezat yang layak p~un terbatas. Jadinya, kita sama sekali takkan melewatkan kesempatan pertemuan pencicip makanan lezat terbatas ini ~tsu. Rakus minum ~tsu! Kerakusan ~tsu! Menjilatnya mengunyahnya menyeruputnya, kami akan jilat dan rasakan hing~ga tersisa saus di piring. Ups, tentu saja onii-san juga bukan pengecualian jadi kenapa tidak rileks sa~ja?”

Tatapan Batenkaitos memperjelas bahwa dirinya tak berniat melewati empat hadiah.

Fiksasi Kerakusan akan makanan tidak bisa dipahami Beatrice dan yang lainnya yang telah dianggap layak oleh Pencicip Makanan. Akan tetapi, raut wajahnya yang terlihat kesulitan menyimpan dendam tidak ada arti lebih.

Dan keinginan penghujat itu untuk makan makin meningkat, dan itu membuat Felt kesal sendiri.

“Begitukah. Aku harus melakukan sesuatu di sini, kalau tidak kau akan memba~waku ke Kakek Rom, ya.”

Suara lirihnya berkata demikian, Felt mengayun kakinya.

Sepatu yang dia kenakan sudah lepas sepenuhnya, dan Felt seperti halnya pihak lain. Kedua kakinya melangkah maju memijak batu besar tanpa alas kaki, dia meninggalkan Meteor berbaring horizontal dan mengeluarkan belati.

“—? Itu tidak masuk akal, Felt-chan. Itu, bukannya itu kartu truf?”

“Alih-alih alat yang tidak biasa aku gunakan, ini jauh lebih gampang buat digunakan. Bedanya tidak banyak, sedari awal. Ketimbang alat yang penggunaannya menyusahkan, sebaiknya memakai yang mudah digunakan, oke!”

Kaki tanpa alasnya meringkuk ke tanah kemudian sepintas setelahnya, Felt meluncur maju. Sep mata dia sudah secepat itu, sebagaimana angin.

Melihatnya, bahkan Batenkaitos membelalak dan mengganti kuda-kudanya tepat ketika direspon bilah lain yang diangkat tinggi. Batenkaitos lawan balik dengan mengeluarkan kemampuan fisiknya lewat ayunan lengan, mengendalikan tubuhnya yang telah teringat dalam di ingatannya.

“Ra~!”

Kecepatan Felt yang telanjang kaki melampaui kecepatan energik gadis muda gesit manapun.

Dukungan kekuatan di luar kecerdasan manusia—tidak salah lagi, itu Divine Protection. Dia ayunkan belatinya beberapa kali, namun dihadang teknik belati Batenkaitos sendiri.

Tentu saja taktik Batenkaitos pada teknik itu jauh lebih unggul, tetapi Felt tidak dikalahkan karena Dynas juga mendukungnya.

“Jangan terlalu paksakan dirimu, dengan tubuh penting itu!”

“Kau juga, om, diamlah, jangan lamban!”

Terampil menangani dua pedang, Dynas entah bagaimana memenuhi celah serangan balik Kerakusan. Dalam jangka waktu itu, Felt buru-buru memposisikan dirinya ke titik buta Kerakusan, letusan baja saling berbenturan menggema seketika ketiga bayangan bercampur seiring percik api menari-nari.

Saling menukar serangan yang mana sekali lagi, serangan penentu tidak bisa dilancarkan.

Walau begitu, kali ini, serangan penentu sedang dipersiapkan di luar medan perang—

“Serangannya … telah berlalu, ini bakal sakit banget, kayaknya!”

“Kalian berdua, tolong menjauh!”

Selagi diacuhkan kejadiannya, mereka telah menyusun serangan, mengambil waktu yang diperlukan.

Operasi yang biasanya tidak penting telah memperpanjang jadwal prosesnya sebab persyaratan kehati-hatian kelewat cermat, berkat pemasangan saringan tambahan.

Hasil kerja itu akhirnya akan membuahkan hasil.

“…”

Mendengar teriakan Otto, Felt dan Dynas menjauh dari posisi Batenkaitos.

Kerakusan langsung menggapai Felt, tetapi meski menyentuhnya, Kerakusan tidak siap memakan Nama Felt.

“Le … paskan!”

Kuat-kuat mengayun pergelangan kakinya yang dicengkeram keras dan menggunakan satu kaki, Felt terbang mundur ke jarak sangat jauh. Dynas pun berguling meninggalkan tempat tersebut, semata menyisakan Kerakusan yang segaris pandang Beatrice.

Mengincar ke sebelah sana, Beatrice memanggil sihir yang membutuhkan kekuatan seribu, lalu menyelesaikannya sambil menghormati kekuatan seribu.

“Kali ini bukan lelucon, beneran …. Ul Minya!!”

Setelah merapal, semburan sinar ungu bersinar kemudian cahayanya menorehkan lingkaran dengan Batenkaitos di tengah-tengahnya. Uskup Agung itu mengangkat wajah untuk mencari tahu apa yang terjadi, tetapi reaksinya lambat.

Tidak bersiap bertahan, melainkan meloloskan diri apa pun serangannya adalah jawaban tepatnya.

“—~tsu!”

Sekali napas, cahaya berkumpul selanjutnya membungkam Batenkaitos dengan membentuk cincin di sekitar tubuh serta lengannya. Cincin cahaya laksana rantai terus mengunci Kerakusan yang gerakan tubuh bagian atasnya terikat.

Di kecepatan sama, jika seluruh tubuhnya terbungkus cincin cahaya, dia takkan lagi sanggup kabur dari kebesaran Ul Minya.

Cahaya ungu mengkristal terus menguatkan cengkeramanya ke tubuh bagian atas Batenkaitos. Di kecepatan setara, kontrol cincinnya bahkan sampai mencapai tubuh bagian bawah, Kerakusan yang tidak mampu bergerak, ambruk di tempat.

Dan suasananya membuat suara seakan berderit, sewaktu cahaya ungu kebiruan di atas kepala penghujat mulai turun bersama ujung tajamnya mengarah Batenkaitos.

Kekuatan Ul Minya, untuk mengikat, dan menyerang.

Serangan yang dimiliki Beatrice menghantam sambil mendesak, dan mewujudkan kehancuran yang menghujani Batenkaitos tanpa henti.

“…”

Dapat mendengar raungan, namun di hadapan cahaya ungu destruktif raungannya diredam.

Cahaya luar biasa dapat merobek batu besar, angin yang dihasilkan ledakannya menyelimuti alun-alun dalam cahaya dan asap, dengan rok gaun Beatrice berdesir kelewat kencang.

“Sukses!?”

“Berhasilkah!?”

“Apa beneran berhasil!?”

Di depan ledakan, tiga orang berbaring, berteriak berbarengan.

Batenkaitos yang berada di paling inti pusat ledakan, tidak mungkin menghindar. Andaikan dia sungguh-sungguh menerima serangan itu sekarang, maka sisa-sisa tubuhnya akan menghilang seluruhnya, bahkan tidak menyisakan potongan tulangnya—

“Belum berakhir, kayaknya!”

Beatrice memperingatkan mereka untuk berhati-hati dengan suara kerasnya, lalu warna raut wajah ketiga orang yang tadinya gembira telah berubah. Beatrice tidak kesulitan duluan mendapati keanehan kejadiannya sebelum tiga orang itu.

Beatrice bisa merasakannya.

“—empat, tersisa.”

Batu Sihir besar yang disimpan dalam jangka waktu lama tidak mampu menahan Ul Minya dan hancur tepat sebelum Batenkaitos dihancurkan.

Meskipun sudah dirapalkan, masih belum dapat digunakan sepenuhnya. Sinarnya tak sanggup mengikis Batenkaitos serta tubuh Kerakusan—

“Yang sekarang barangkali membuat kami sedikit tidak sabaran ~tsu!”

“…!”

Menembus asap, Batenkaitos terbang menuju Beatrice dari sudut rendah. Pasti hasil penilaiannya soal siapa yang mesti diurus terlebih dahulu, berdasarkan kekuatan sihir barusan.

Beatrice punya kemampuan luar biasa sebagai pengguna sihir, namun kemampuan fisiknya—seperti yang terlihat, tidak lebih dari seorang gadis muda.

Beatrice tidak punya keterampilan pertarungan jarak dekat melawan Batenkaitos yang kemampuannya setara para jenius.

Mulai dari sekarang, melawan serangan Batenkaitos, Beatrice langsung menggunakan batu sihir ketiganya.

“—Murak!”

“Trik lain—”

Rapalan Beatrice hampir didahului tangan Batenkaitos yang hendak menggapainya.

Jari-jari terangkat Batenkaitos punya satu maksud, untuk tidak melepaskan Beatrice sebab seluruh rintangannya sudah disingkirkan. Akan tetapi, dia gagal maning.

Begitu dia mengira mencapai gaun Beatrice, tubuh mungil gadis itu terbang mundur bagaikan daun malayang tertiup angin.

“…”

Yang Beatrice rapalkan tadi adalah Murak, sihir Bayangan gravitasi pengganggu. Sihir mengganggu yang kekuatannya menarik tubuh seseorang ke bawah atau meniadakan berat badan si perapal itu sendiri, namun Beatrice gunakan untuk mengurangi berat badan tubuhnya ke angka nol kala itu.

Berkatnya, Beatrice bisa melayang tertiup angin dan menghindar jauh dari jemari yang mencoba menyentuhnya.

“Si kecil, ini—!?”

 Sesuai keinginannya, tubuh Beatrice menjauh dari Batenkaitos kemudian sekejap melompat ke tepian alun-alun besar.

Batenkaitos mencoba mengikutinya, tapi sesudah mendengar langkah kaki gaduh dari arah berlawanan langsung dari arah yang dihadapnya, lantas Batenkaitos seketika berbalik.

Mengusap belati di belakangnya, dia berusaha menebas penyusup kaku itu. Tetapi serangannya mengenai udara. Entah kenapa, di sana tidak ada seorang pun yang membuat suara langkah kaki.

“Garfiel atau Pemburu Usus, orang-orang semacam itu bakal benar-benar dihajar!”

Menggunakan sihir angin, Otto mengirim langkah kaki terbang berupaya membuat Batenkaitos balik badan, dan Otto kemudian melempar lebih banyak lagi Batu Sihir.

Gelombang panas meledak yang dihasilkan Batu Sihir diarahkan langsung ke punggung lengah Batenkaitos, kali ini tidak bisa mengelak, dia menerima dampaknya.

“Kali ini pasti, adalah akhirnya!”

Berguling-guling di alun-alun dengan seluruh anggota tubuhnya terentang lurus, Batenkaitos roboh. Menukik menuju tubuhnya, Dynas yang sebelumnya sudah siap menguatkan genggaman dua gagang katana-nya, bermaksud melancarkan serangan pramungkas—

“…”

Dengan kondisi babak belurnya, pemuda roboh itu membisikkan sesuatu.

Entah itu permohonan atas hidupnya ataukah kata penyesalan, Dynas takkan ragu-ragu. Bagi dirinya yang hidup sebagai tentara bayaran, berjuang demi hidup adalah hasil persaingan ketat.

Dalam perjuangannya, masalah jadi orang dewasa atau anak-anak adalah perihal sepele, dan emosi berkabung serta taubat adalah perasaan yang diperkenankan setelah bertahan hidup, itu saja.

Seterusnya sudah jelas. Tapi, walaupun pergerakan Dynas yang dipikirkan baik-baik sudah ada dalam dirinya, tidak menunjukkan keraguan, biar begitu dia tidak mampu tak mengungkap misteri yang tersimpan dalam dadanya.

Karena yang Batenkaitos bisikkan barusan, kedengaran seperti ini:

Lunar Eclipse, lalu …

“—oh?”

Setelah gema bunyinya sampai tempat tujuan, suara yang belum ada dalam interval ini, menggema.

Momen berikutnya, anggota badan Dynas yang memegang kedua pedang pendeknya tinggi-tinggi, menyemburkan darah sekaligus. Pada masing-masing anggota badannya, belati menusuk sangat dalam, menimbulkan luka serta uratnya telah dipotong secara akurat.

Yaitu, artinya fungsi anggota tubuhnya telah hilang sepenuhnya, dan Dynas tak sanggup mencegah tubuhnya runtuh dan jatuh.

“Uggh, ah!?”

Dynas jatuh ke batu bulat di depannya, kepala Dynas diinjak sekuat-kuatnya dari atas. Hidung Dynas dihancurkan batu bulat, kesadaran Dynas yang telah ditelan serangannya, sinar.

Dynas ditebas dan dihancurkan, lalu menendang tubuhnya, Batenkaitos berdiri kemudian perlahan-lahan berbalik ke arah posisi Otto.

“… ah.”

Bukan pertama kalinya dia bertatapan mata rusak tersebut.

Namun sepintas, batin Otto telah dibelit dan dimakan mata rusak tersebut.

Karena pusaran kegilaan dan kebencian berbeda besar dari pusaran sebelum-sebelumnya, pusarannya kini bahkan lebih gelap.

“…”

Sekejap.

Jarak antara mereka hilang sekejap mata dan sesaat Otto menyadarinya, panas terik menembus kedua kaki Otto. Sewaktu Otto lihat, di bagian depan kedua paha kakinya ada belati, seolah mengukir luka salib.

Seperti mengupas kulit buah, dengan juluran lidah, dia menyingkap kulit di balik celananya. Potongan salib merah dan urat merah muda di balik kulitnya, serta saraf juga tulang putih terbuka di dalamnya, seluruh pembuluh darah hijau, semuanya terekspos, tanpa penutup, lalu tenggorokan Otto penuh sesak persaan kuat tidak sesuai.

Dia tercengang. Hingga kini dia belum pernah melihat teknik seindah ini.

Pendarahannya minimal—tidak, tidak ada pendarahan sama sekali. Penanganan ujung bilahnya sungguh terlampau, menghancurkan daging manusia dengan gerakan amat indah.

“…”

Meringkuk, Batenkaitos mengecup luka itu. Sensasi kasar lidahnya di bawah, menjilat seluruh bagian vital kaki Otto yang berada dalam kulitnya.

Otto, tulang, pembuluh darah, saraf, Otto merinding saat merasa semuanya dijilat, di waktu-waktu berikutnya, baik indra penglihatan dan indra perasanya, Otto merasa jijik sulit ditahan dan rasa sakit hebat mendidih di otaknya.

“Ah, aaahh~a~a~a~a— ~ahk!”

Tidak ada darah yang tumpah. Tak masuk akal.

Dia bisa merasakan sakitnya. Itu pun alih-alih darah menyembur keluar, tulang atau saraf tanpa penutup disapu angin lembab, dan rasa sakit ekstrimnya adalah karena itu, rasanya otot-ototnya dikelupas kasar oleh jarum.

Penglihatannya mati-nyala, dan otaknya meledak terbuka. Organ yang seharusnya memahami rasa sakit menolak memahaminya. Tenggorokan menjerit gemetar hebat, seakan-akan muntah darah dan anggota tubuhnya tidak bergerak, dia bahkan tak kuasa merasa menderita.

Dan selagi Otto menjerit, Batenkaitos menghadapnya sambil memiringkan leher. Rambut panjang cokelat tua tergerai sampai bahu, Kerakusan mendesah, seolah-olah capek.

“Tepat pas kami kira bisa beristrirahat sehabis makan, dari keadaan ini. Sekalipun pencicip makanan dan makanan aneh bahkan tidak jadi soal …. Beneran deh, tidak seorang pun mengerti apa itu makan selain kami.”

Mendekat sembari tersenyum dan bertingkah sinting yang sekarang tengah dipraktikkannya, suaranya teramat berpandangan jauh.

Batenkaitos pelan-pelan memutar leher dan berperilaku bak lagi mengejek dirinya sendiri—persis ketika kesannya muncul, dia cepat-cepat mengubah ekspresi.

“Jangan ngomong seperti i~tu. Memang sedikit menyusahkan kalau bermain-main, walau begitu, suguhan selera Louis tel~ah ditemukan.”

Menunjukkan taringnya, Batenkaitos memutar leher dan pandangannya mengarah ke Beatrice. Melihat pandangan itu dan tontonan buruk Otto, kedua gadis muda itu tanpa sadar menarik napas. Namun melihat reaksi keduanya, ekspresi Batenkaitos sekali lagi jadi kelihatan datar dan lesu.

“Tentu saja tak terlihat buruk tapi … wadahnya kelihatan lebih menjamin ketimbang dalamnya, bukan. Selain itu, deskripsi Kitab juga belum dibaca.”

“Louis barangkali tidak bisa melihatnya namun, anak di dalam kami se~dang memberi tahu kami. Yang di sana itu, Beatrice-sama, dia, mungkin saja. Kalau dilahap maka baik jiwa dan raga akan sama-sama kenyang, bukannya dia kesempatan ideal ~tsu!”

Berbalik menghadap kanan lalu bicara, berbalik menghadap kiri lalu bicara, Batenkaitos bercakap-cakap seakan-akan dia tidak berbincang sendiri, melainkan sama seseorang yang seakan jelas bisa dia lihat nyata.

Kelihatannya, ibarat dia berkonversasi bersama orang lain yang ada dalam dirinya.

Tidak, sesungguhnya, itu mungkin.

Dalam Nama pemakan-penghujat, Ley Batenkaitos saat ini adalah jiwa-jiwa tak terhitung banyaknya. Maka, boleh jadi dia bisa berbicara dengan mereka atau bahkan berdiskusi dengan baik.

Apabila demikian, barulah percakapan dengan dirinya sendiri entah bagaimana bisa dipahami.

“Bisa bergerak, bocil?”

“Ah? Kau pun bagaimana, kuharap kau tidak takut, gadis kecil.”

Memanggil satu sama lain, Beatrice dan Felt bertukar sejumlah kata.

Saling melirik, mereka pastikan semangat juang mereka berdua tidak hancur.

Felt mendengus sedikit kemudian melirik tepi alun-alun terbuka. Beatrice mengonfirmasi kehadiran di sana dan memperhitungkan maksud mereka.

“… sekarang, dia akan mengincar Betty, kayaknya. Faktanya, mereka akan terkurung.”

“Kau akan menghentikannya? Kalau itu jadi rintangan maka aku …”

“Kau tidak boleh berekspektasi tolol kek membuatnya muntah dua kali, kayaknya. Paling pentingnya, terlepas tekad, itu bukan sesuatu yang bisa digunakan Betty. Kau harus melakukannya.”

Dihadapkan permintaan Beatrice, Felt raut wajahnya merenung. Namun sesudahnya, dia mengangkat alis dan memutar leher, menggaruk rambut pirangnya, dia bilang, “Ah!”

Selanjutnya, dia kepalan tangannya menunjuk Beatrice.

“Jangan gagal, gadis kecil.”

“Kau juga, kayaknya, bocil.”

Tiada hal istimewa untuk membalas kepalan tangannya yang menunjuk Beatrice, mereka cuma saling menghina sebelum menerima pertarungan penentuan.

Ketika percakapan Beatrice dan lawan bicaranya berakhir, hampir di waktu sama, diskusi pribadi Batenkaitos pun berakhir. Beatrice tidak percaya diri untuk menghadapi langsung kekuatan tempur yang telah menebas dan mengalahkan Dynas beserta Otto.

“Yah, apa persiapan kalian tunt~as, Beatrice-sama~?”

“Misal jawabannya belum dan kau akan menawarkan penangguhan karenanya, maka faktanya, jawabannya begitu. Tapi, misalkan tidak demikian, lantas pertanyaan itu tidak ada artinya, kayaknya.”

“Begitulah tepatnya. Hmm, baiklah, sekali lagi—ayo makan!”

Dari sudut lain, dengan matanya terkunci pada Beatrice, Batenkaitos terbang langsung menuju gadis itu. Kecepatannya, tak setara ancaman mimpi buruk yang telah disaksikan sebelumnya. Biar begitu, itu cukup mengancam Beatrice. Ketidakunggulannya dalam pertarungan jarak dekat masih tidak berubah.

Karenanya, sebagai ahli sihir Bayangan, bagusnya tidak berbentrokan langsung.

“Ma~kan, in~i—!”

Persis di depan Beatrice, tubuh Batenkaitos yang tangannya menempel di tanah, berputar vertikal. Putaran tumitnya mendekat ke sisi kanan atas kepala Beatrice, kemudian serangan tajam menembus ubun-ubun si gadis kecil.

“Faktanya, itu takkan terjadi.”

—tepat sebelum terjadi, sekali lagi, dia bergerak miring mundur berkat kekuatan hentakan udara. Itulah hasil membiarkan efek Murak yang sebelumnya telah dirapalkan, berlanjut.

Tubuh Beatrice menyerong belakang, kemudian melompat lurus ke atas. Terbebas dari efek gravitasi, bebas dari efek berat, gadis muda itu melayang gemulai.

Dengan cekatan melipat rok gaunnya, tubuh Beatrice melayang di udara, berpindah-pindah.

“Luar biasa! Ta~pi, terima hukuman kerasnya!”

Batenkaitos sambil menjulurkan lidah, setelah mendarat dan tidak menunggu Beatrice turun, dia terbang ke tengah udara dan berusaha menangkapnya.

Kekuatan serta akurasi seekor burung pemangsa yang menangkap mangsanya, jari-jari itu menggapai-gapai Beatrice.

Namun di saat sama, musuhnya yang naik ke tengah udara tidak ada tempat kabur.

Selain menggunakan sisa jumlah sihir yang memungkinkan, fokusnya sekarang paling terlihat untuk menyerang.

Beatrice mengarahkan telapak tangannya ke Batenkaitos yang maju dari bawah kemudian merapalkan sihir yang paling biasa dia gunakan, sepanjang hidupnya selama 401 ini.

Yaitu—

Shamak!!”

Batu Sihir pecah dalam sakunya, selagi mengikuti rapalan Beatrice, muncul kabut hitam—Batenkaitos yang melompat langsung kena kepalanya, lalu terkurung dunia tak terjelaskan.

“A~rgh—!?”

Kabut hitamnya mengepul kemudian tubuh Batenkaitos jatuh ke batu bulat tanpa daya. Dia harusnya dalam kondisi tidak mampu melakukan apa-apa hingga kabutnya pudar, tetapi efek Shamak tidak bertahan lama.

Sisa kartu yang Beatrice pegang sekarang—tersisa satu Batu Sihir yang bisa digunakan, bila mana dia mendaratkan serangan fatal, Batenkaitos takkan mampu menanganinya. Karena itu, inilah momen-momen Beatrice memilih.

“A~h! Bukannya akan kau lakukan, Beatrice-sama ~tsu. Seolah, kau bertarung persis seperti orang itu …. Apa kau kena pengaruhnya atau semacam~nya!?”

Menampik Shamak, Batenkaitos menunjukkan taringnya, berbalik. Melihat-lihat alun-alun, matanya tertuju langsung ke Beatrice ibarat terpaku.

Itulah sebabnya meski melihat pengaruh Subaru ke sosok bertarung Beatrice, Uskup Agung itu tidak sadar betapa besar makna pengaruhnya

“Nih, berpestarialah sama Batu Sihir terakhir!”

Bebas dari sentimennya, Beatrice menunjuk Otto yang tengah berbaring dengan kaki ditekuk meringkuk. Menggunakan kekuatan sihir Batu Sihir terakhir, gelombang penyembuhan diarahkan ke luka-luka kaki Otto.

Jauh dari kata menyembuhkannya sepenuhnya, tetapi hanya mengurangi rasa sakit menyiksanya. Otto yang berguling sambil menangis, batuk-batuk sembari terisak-isak dan mengerang.

“Ga guna banget, nah, apa yang terjadi kalau dia bangkit lagi?”

“Inilah yang terjadi!”

Beatrice meneriakkan konsekuensi tindakannya pada Batenkaitos yang sedang tertawa-tawa, berkata Beatrice telah menyia-nyiakan barangnya.

Begitu Uskup Agung mengerutkan alis terhadap ucapan pedas si gadis, di belakang kaki Batenkaitos ada sesuatu yang menggigitnya. Ketika taring menusuk dalam ke kaki kiri, kuda-kuda si bocah jatuh.

Lansung menatap kakinya, melihat itu, Batenkaitos membelalak.

“Ha~h!?”

Kaget oleh sesuatu di luar nalar, di sana ada Naga Air bermandikan darah.

Lehernya memanjang, Naga Air itu menerjang gila melintasi batu bulat, menggigit Batenkaitos. Naga Air yang pernah terpojok dan sampai tidak sanggup bertarung, tengah bertahan dengan kehendak terakhirnya.

Dari lima Batu Sihir, digunakan ini Batu Ketiga.

Satunya untuk Ul Minya kuat yang tidak sempat diselesaikan, Batu Kedua untuk menghindar cepat lewat penggunaan Murak, Batu Ketiga untuk pemulihan Naga Air sekarat sebelum merapalkan Murak.

Yang keempat untuk menggunakan Shamak, dan yang kelimat buat merawat rasa sakit Otto.

Itulah lima kartu Beatrice, lima Batu Sihirnya untuk meraih kemenangan, telah digunakan.

“—a~h! Itusakititusakit, itu sa~kit!”

Menangis sejadi-jadinya sampai tenggorokannya tampak mau meledak. Otto yang menyembunyikan panggilan Naga Air dalam jeritannya, telah memenuhi perannya, sekarat, berteriak atas penderitaannya sendiri.

Otto betul-betul tajam dalam hal semacam ini, setelah dirawat Beatrice, dia mulai paham apa yang mestinya dilakukan di bawah situasi seperti ini.

Hanya dialah yang mampu menjadi pejabat dalam negeri fraksi Emilia yang seringkali diseret paksa ke medan perang.

“Bagus sekali, kayaknya, faktanya ini liburanmu!”

“Aku tidak begitu paham tapi tidak senang mendengarnya!”

Itulah tanggapan Otto yang sambil menangis kepada pujian tak wajar Beatrice. Setelahnya, di depan dua orang itu, Batenkaitos yang digigit Naga Air, dilempar ke tanah dan ditahan, entah bagaimana Naga Airnya sendiri telah melepaskan taringnya, dan anak itu mulai berdiri.

Akan tetapi, reaksi mereka sudah pas sebelum kartu trufnya selesai tepat waktu.

“—persiapannya, tuntas semua. Kau sudah berusaha keras, gadis kecil.”

Bergema suara gembira atas keberhasilannya, bagian belakang Meteor menghentak tanah, menghasilkan suara kelewat keras.

Tongkatnya, dibuat menipu seolah bagian belakang tangki septik, ujungnya diarahkan Batenkaitos oleh Felt. Di tangannya, Meteor diwarnai cahaya samar dan efeknya meledakkan bungkusnya.

Bungkusan putih lepas, tongkat putih tipisnya terungkap dari balik bungkusan.

Gagangnya cukup panjang hingga menyetarai panjangnya tombak, tanpa desain istimewa atau mekanisme menarik.

Bisa dibilang utilitas dan susunannya sungguh mencerminkan jiwa penciptanya.

Jiwa persis Penyihir Echidna yang tak mencari nilai lebih dari nilai yang semestinya cukup dimiliki alat itu.

“Ibu …”

Sebetulnya, Beatrice belum pernah melihat Echidna menggunakan tongkat tersebut. Sekalipun begitu, dia sadar akan tujuannya, kekuatannya.

Untuk merundung Naga Ilahi Volcanica—tidak disangka senjata itu bahkan mampu mengganggu Naga Ilahi.

Dengan demikian, ada beberapa syarat dalam penggunaannya.

Antara memenuhi persyaratan itu akan sulit atau masalah dengan penggunanya, jadi jelas menunjukkan seluruh spesifikasi tak terbatasnya itu sukar—

“Ba~iklah, kekuatan yang bahkan setara Reinhard, rasakan dan lihatlah~!”

Dengan syaratnya terpenuhi, jika Felt masih punya stok mana, jumlah yang diharapkan harusnya sudah cukup.

Menguras keluar mana dari penggunanya, Meteor tanpa henti terus menguras tenaga dan pancaran cahaya di ujungnya yang dibidik ke Batenkaitos.

“… ~tsu.”

Bahkan Batenkaitos tidak kuasa mencegah kekuatan yang mendatanginya.

Menilai ada kemungkinan kekuatannya terbukti fatal, Batenkaitos instan menyerang moncong Naga Air yang menahan kakinya dan seketika taringnya mengendur, dia melompat terus terbang selagi terluka.

Kala itu, Meteor berkedip mencolok dan kuat.

“Ayo—ahk!”

Cahaya melebar di ujung Meteor dan cahaya korona ditembakkan ke Batenkaitos.

Batenkaitos yang langusng kabur dari kekangan Naga Air, entah bagaimana berguling menjauh dari jalurnya dengan kaki terluka. Di waktu bersamaan, cahaya meleset dan menabrak Naga Airnya—tatkala itu, lintasannya melengkung. Cahayanya menggambar lintasan rumit dan mendekati Batenkaitos.

“Kok bisa—~tsu!?”

 Meloloskan diri dari peluru cahaya mengejar, Batenkaitos berteriak. Di saat yang sama, membawa dan melompat tubuh tajamnya, dia keluar dari lintasan peluru cahaya yang kian dekat.

Tetapi sia-sia. Walaupun Batenkaitos kabur, berguling, melompat menjauh, peluru cahaya itu melengkung, melengkung, makin dekat dan mengarahkan serangan langsung.

Itulah kekuatan terbesar Senjata Sihir Meteor yang diciptakan Echidna.

Sesaat menetapkan sasarannya, Meteor terus bekerja untuk konstan melacak sasarannya.

Senjata ciptaan Echidna untuk mengganggu Naga Ilahi Volcanica. Seandainya Echidna sungguh-sungguh serius menciptakannya dan ingin merekayasa perangkat semata-mata demi tujuan mengganggu, jelas dia tidak membiarkan sasarannya kabur dan menjadi senjata yang serangannya senantiasa tepat sasaran.

“Uunnh, ~tsuagh …. Kalau begitu, ini bagaimana!?”

Tidak peduli dia berlari sampai mana, perlu cahaya tanpa kekangan itu melanjutkan pengejarannya, dan dengan sejumlah pengamatan, Batenkaitos melancarkan serangan baliknya. Kekuatan magis bangkit dan lingkungan Batenkaitos membeku.

Berbagai macam es melayang terbentuk, ujung runcingnya menghadap peluru cahaya serta badai rentetan es menghujani cahaya korona tersebut—namun, oposisinya salah.

Begitu es menyentuh cahaya korona, esnya langsung menjadi mana mulai dari ujungnya, sebelum bisa menyentuh cahayanya, es-es berpecahan menjadi fragmen-fragmen lebih kecil dan dimakan peluru cahaya. Selanjutnya, peluru cahaya menyerap semua pencegat sihir yang mendekat, dan ketika skala kekuatannya membesar, pelurunya terus mendekati musuh.

“Sial, tidak mungkin … tidak mungkin ~tsu!”

Berguling, entah bagaimana keluar dari jalurnya, Batenkaitos mengutuk. Namun demikian, luka di kakinya cukup dalam dan tidak mengizinkannya membuat lompatan penuh.

Andai tidak terluka, kakinya bisa cukup gesit, malah mungkin dia mengarahkan peluru cahayanya ke Beatrice dan makanannya yang lain, atau diarahkan ke Felt sendiri yang sisa energinya tidak banyak.

Peluru cahaya mengejar menelusuri jalurnya mengelilingi Batenkaitos berguling-guling sekaligus menghancurkan area kaburnya, sedikit demi sedikit menyelimuti tubuh Kerakusan dalam kekuatan destruktifnya—

“Mustahil, oleh sesuatu yang kelihatannya sebodoh itu, kami akan, kami akan—!”

“Bacot. Sekarang, Gerhana Matahari harusnya dimulai.”

Sewaktu kena serangan itu, Batenkaitos berteriak malang dan sekali lagi ditutupi suara sangat dingin. Kemudian, cahayanya meledak.

“…”

Cahaya korona mempesona menonjol di pusat alun-alun terbuka, dan membuat kawah terbesar sepanjang masa ini.

Cahaya merekah memutihkan dunia, bagian-bagian yang termakan ledakan telah lenyap ibaratnya kehilangan warna.

Alun-alun terbuka telah dilubangi bulat-bulat dan air yang mengalir di kanal mengalir ke dalamnya.

Meski begitu …

“Wah, ya ampun. Punya saudara tidak cakap beneran menyusahkan.”

Di samping bencana alam merusak ada bayangan mengitip di kanal.

Punya rambut cokelat memanjang, tubuh penuh luka. Sudah jelas ciri-ciri fisiknya tidak salah lagi adalah Ley Batenkaitos yang tengah dihadapi mereka.

Bisa-bisanya dia berhasil menghindari serangan peluru cahaya—tetapi yang paling mencengangkan di tempat ini bukan itu.

“Apa maksudnya.”

Kata-kata Beatrice asalnya bukan karena dia bingung serangannya gagal.

Pertama-tama, serangan gagalnya tidak jadi masalah. Sebab peluru cahaya seharusnya mengenai Batenkaitos dan hanya Batenkaitos seorang.

Itulah alasannya, jelas takkan menyerang pria raksasa berotot yang punggungnya menghadap mereka. Masalahnya adalah dari mana pria itu muncul.

“Itukah … Kerakusan?”

Tukas Otto, mengangkat wajah menderitanya dan melirik ke arah yang sama. Walaupun ingin dia sangkal, Beatrice sekarang ini tidak bisa mengatakan apa-apa. Ditatap Beatrice bisu dan yang lainnya, pria raksasa itu mendadak berbalik.

Yang berada di sana adalah manusia raksasa berwajah muram yang mirip namun tidak cocok Batenkaitos.

Perawakannya menunjukkan umurnya dekat usia empat puluhan, bahkan tidak ada bagian dari dirinya yang mirip si penghujat. Di depan Beatrice yang tengah menyipitkan mata, pria raksasa itu memegang dagunya.

“Tidak usah wajahnya kebingungan begitu. Kami cuma, melakukan ini.”

Dan berbicara dengan suara feminim, bertentangan dengan penampilannya, pria itu santuy memotong rambut panjangnya menggunakan pedangnya. Begitu helai rambut yang terpotong jatuh ke tanah, Beatrice paham mengapa peluru cahayanya dihindari.

Pelacak Meteor berfungsi hingga mengontak targetnya.

Itulah kekuatannya. Biarpun menyentuh bagian kecil tubuhnya, boleh jadi cukup memakan seluruh tubuhnya. Poin itu dimanfaatkan secara terbalik.

Pria itu—mungkin Batenkaitos telah memotong rambutnya dan membuatnya nampak peluru telah mengontak tubuh sasarannya. Lalu melarikan diri dari jangkauan serangan sekuat tenaga dia berhasil menghindari dampaknya.

Secara alami untuk menentukan target Meteor, penting untuk menyelaraskannya dengan calon target dan Membidik.

Walaupun paling bagusnya menghubungkan Od atau Gerbang target, namun kali ini, digunakan sebagai penanggulangan darurat, tembakannya diaplikasikan ke rambut Batenkaitos yang berjauthan di tengah pertempuran. Hasilnya, peluru cahaya melenceng ke arah umpan rambut.

“…”

Berpikir demikian, Beatrice menggertakkan gigi melihat betapa tidak menguntungkan situasinya.

Dia tidak menyangkanya sama sekali kalau kartu truf, Meteor, akan dihindari dengan cara semacam itu. Batu Sihirnya sudah habis, satu-satunya batu tersisa yang dimilikinya ingin dia gunakan untuk menyelamatkan Puck.

Otto serta pria-pria lain tidak mampu lagi bertarung, Felt pun sama, dia telah menghabiskan sebagian besar mana-nya yang dikuras, dia kacau dan bernapas terengah-engah.

Tidak ada lagi yang mampu dilakukan Beatrice sekarang—walau ide itu terbesit di benaknya, Beatrice menggeleng kepala horizontal.

Lebih baik mati ketimbang menerima kekalahan. Sebagaimana Subaru yang menemukan jalan keluar dari situasi terburuk, dia pun harus melakukan hal serupa.

Karenanya, Beatrice mengangkat wajahnya, lalu menatap pria itu.

Menghadap tatapan tersebut, Batenkaitos membulatkan matanya. Setelahnya di tolak pinggang dan telapak tangan satunya menutup wajahnya. Lalu …

“Bagus, bagus sekali, bukannya bagus, tentu bagus, barangkali bagus, bisa jadi bagus, karena itu mungkin bagus … kami juga, kami juga, melihat nilai Memakan dirimu.”

“—ha.”

Sebelum Beatrice sempat menegur celotehan yang didengarnya, tubuh Batenkaitos mulai berubah. Tulangnya menekuk, menciptakan suara-suara khusus, darah menyembur keluar sampai melihatnya saja menyakitkan, tubuh pria raksasa itu menciut.

Mencucurkan darah dari luka baru, kembali mewujud sebagai seorang anak bocah laki-laki, dialah Batenkaitos, napasnya megap-megap.

Seluruh tubuh Batenkaitos terluka, sekalipun begitu, dia terus mengekspresikan senyum sintingnya.

Kerakusan, melihat ke arah Beatrice seraya membunyikan tenggorokannya yang menghadap ke bawah, melebarkan kedua tangan, tampak bahagia.

“Nama kami adalah, Uskup Agung Dosa Besar Kultus Penyihir mewakili Kerakusan, Louis Arneb.”

“Louis …?”

Ley Batenkaitos, semestinya itulah namanya.

Tanpa membaca maksud dibalik mendadak memberikan nama berbeda untuk dirinya sendiri, Beatrice mengerutkan alis. Kemudian menghubungkan celah kebingungan itu, Batenkaitos dengan kaki kanannya saja, menghentak tanah kuat-kuat.

Beatrice menguatkan tubuhnya, mengamati perbuatannya, namun Kerakusan terbang ke tepi alun-alun, memungut kain compang-campingnya yang terjatuh di sana dan mengenakannya, ibarat menyembunyikan bekas luka di kulitnya.

Selain itu …

“Sayangnya, untuk hari ini itu saja. Gara-gara baik Ley dan Roy kecapekan. Kalau dilanjutkan bakal jadi hambatan buat melahirkan. Mari bertemu lagi, nona muda manis.”

“—! Kau kira, kau bisa kabur, kayaknya!”

“Mohon jangan bertingkah kuat. Meskipun Gerhana tidak dapat ditangani dengan baik dalam tubuh ini, kurang lebih masih bisa dimusnahkan sepenuhnya. Alasan tidak bisa dilakukan adalah karena meja makannya belum disiapkan.”

Batenkaitos menggeleng kepala dan menunjuk Beatrice yang mencoba melangkah maju.

Sikapnya sangat feminisme—tidak, sejatinya, Batenkaitos sekarang ini mungkin saja seorang wanita. Karena itu, ada esensi sesuatu yang sukar dipahami.

Batenkaitos mengangguk kepada Beatrice yang berhenti sambil merasakan perasaan tidak enak dan kewaspadaan.

“Baik Ley Pencicip Makanan dan Roy Pemakan Makanan Aneh tidak tahu apa-apa. Lagipula, makanan itu bukan apa yang kau makan. Melainkan bersama siapa kau memakannya.

“…”

“Baiklah. Lain kali, temui kami bersama orang yang kau sayangi.”

“Tung—”

Tunggu, tepat seketika dia mau mengatakannya, Batenkaitos meluncur ke bayangan alun-alun terbuka kemudian menghilang. Beatrice tidak bisa mengejarnya, di situasi penuh orang terluka. Mengikutinya dan masuk ke situasi Kerakusan punya keunggulan jelas itu sama-sama gegabah.

Tidak dapat melakukan apa-apa lagi, kini bahkan kartu truf Meteor telah gagal.

“… ini soal tekad.”

Menahan keinginannya untuk bicara, Beatrice melihat sekeliling.

Rasa sakit telah mengikis sebagian besar kesadaran Otto, para tentara bayaran dan pelayan pribadi Felt telah jatuh pingsan. Muka Felt letih, tetapi roman-romannya dia bisa pingsan kapan pun juga.

Dan Beatrice pun tidak terkecuali.

Sesuai permohonan tulus dalam hati Kiritaka, masalah tuntas tanpa kematian mestinya dapat diterima sebagai hasil partisipasi Beatrice di medan perang.

Terlepas dari itu—

“Sepertinya Subaru bahkan tidak yakin bisa dimintai pelukan, kayaknya …”

Dalam mangsa yang dibiarkan kabur—dalam Ley Batenkaitos, tertidur jiwa seorang gadis muda.

Memastikan kepastiannya, bagaimana cara menyampaikannya ke Subaru.

Dengan kesedihan teramat-amat pilu, Beatrice balik badan dan melangkah menghampiri Felt, memanggilnya lirih.

Ironisnya, pertarungan di medan perang ini berakhir dengan mundurnya Uskup Agung Dosa Besar—

Kini tersisa beberapa medan perang diwasiatkan di Kota Bendungan.