RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 71

Posted on

Iblis Pedang vs Pedang Suci Pendahulu

Penerjemah: Popola

Berbagai pertempuran di penjuru kota berangsur-angsur mencapai akhir.F

Kehancuran yang disebabkan bagian-bagian kota yang telah dirubah menjadi medan perang sangatlah besar, juga fasilitas kota amat terpengaruh.

Kebenaran ini menyampaikan sejauh mana malapetaka terjadi di kota Pristella—bisa dibilang akibat kejahatan yang dibawa Kultus Penyihir ke kota.

Dalam situasi kehancuran setinggi itu yang kian meningkat dan timbul, terdapat satu medan perang yang warna rambutnya berbeda.

Malah, bahkan mungkin tidak tepat menyebutnya medan perang.

Hanya suara gema serius pedang bersilangan, dengan masing-masing pedangnya diayun mengincar nyawa satu sama lain.

Di sana hanya ada dua keinginan terang-terangan dua pendekar pedang, ujung pedang mereka menghunus satu sama lain, mencabik-cabik segala sesuatu yang tidak diperlukan, kurang lebih bisa dibilang itulah keinginan sejati mereka.

“…”

Bilah pedang terus bersinar di bawah sinar bulan dan pendekar pedang terus bertukar cinta melalui benturan baja.

Letusan tajam, percikan api bersebaran, rambut abu-abu dan merah konstan menari disinari sinar rembulan.

Tarian pedang terlampau indah dan terasah, tariannya akan mencuri pandangan seluruh penonton atau merampas hati mereka, begitu terlampau sampai-sampai Dewa Pedang pun ‘kan meratap sedih.

Gerakan pedang panjang berkilau tak terbayangkan, ibaratnya menebas air.

Memantul ke belakang, pedang kembar tersebut menyapu angin, saling menyerang bagaikan kilat.

“…”

Laksana menari di pertunjukan fiksasi timbal balik, kedua pedangnya terus-menerus menjalin satu sama lain.

Wilhelm menerima tebasan pedang yang ada di depannya, tebasan Theresia yang masih secantik sebagaimana dia muda dulu, dari depan, bermandikan tebasan pedang dengan kekuatan sama, merasa sedih atas reaksi yang dirasakan Wilhelm di telapak tangannya.

Mendidih dari dalam tubuhnya, adalah elu hati diri belum dewasanya, tidak sebanding usianya.

—dia semakin bersemangat.

—dia semakin senang.

—dia semakin berkembang.

Dia harus tegaskan dengan jujur.

Iblis Pedang Wilhelm memikirkan hari-hari lampau dan merindukan masa kini di mana dia bisa sekali lagi terhubung istri mudanya. Hatinya dihanguskan hal itu.

Pikirannya kini dipenuhi pemikiran itu, betapa ingin dan relanya dia meninggalkan segalanya, bila saja pertukaran pedang ini, pertemuan ini, tepat seperti ini, takkan pernah berakhir.

“Namun—”

Keserakahan itu penghinaan, menanggungnya saja dia tidak termaafkan.

Penghinaan, pada hari-hari tanpa kenal lelahnya Iblis Pedang Wilhelm mendedikasikan dirinya ke pedang.

Penghinaan, pada perasaannya tuk maksimal berdedikasi kepada tuannya, sebagai seorang pendekar pedang.

Cinta yang menerangi dada Wilhelm van Astrea, mengikutinya secara terpisah, akan menjadi penghinaan atas segala sesuatu yang hidup di dunia ini sekarang ini.

—seterusnya, dia tidak boleh selalu menuntaskannya di lain waktu.

—terlepas selama apa pun momen-momen ini, telah terbukti menjadi surga menyenangkan bagi Iblis Pedang.

“…”

“Hiyaaaaaahhh!!”

Tebasan bisu pedang, seperti halnya badai, terus menyapu, dia tanggapi dengan rentetan serangan pedang tak terhitung banyaknya.

Rambut panjang merah tua berdesir, gerakan Theresia yang dibalut pakaian putih, tidak goyah.

Selayaknya daun berjatuhan ke aliran sungai, pedang mematikan itu diayunkan dari bagian dalam posisinya yang sepenuhnya alami.

Atas, bawah, kiri, kanan, serangan pedangnya tak punya sudut tertentu.

Akan tetapi, seiring serangannya saling bersilangan, Wilhelm merasa ada yang janggal. Dan perasaan meyakinkan akan hal ganjil, dia pun merasakannya pada tanggapan Theresia.

Kemampuan Theresia van Astrea sebagai seorang pendekar pedang sangatlah istimewa.

Itu sesuatu yang pada masa itu, masa-masa keemasan fisik Wilhelm, dia saingi sekali, keistimewaan Theresia masih ada di wilayah ilmu pedang murni.

Sekarang ini, keterampilan itu terus menjadi tanda di pedang Theresia, selagi dirinya berdiri di depan Wilhelm, membisu.

Teknik Pedang Suci, untuk membunuh musuh tanpa ampun membawa kelegaan dan kecemburuan para penjaga.

—akan tetapi, dirinya saat ini dan dirinya kala itu terdapat bidang pembeda mutlak di antaranya.

“—ringan.”

Saat pedang kembar dan pedang panjang bertabrakan langsung serta percikan apinya menyebar ke sekitar, sang Iblis Pedang mengucapkannya.

Mengunci pedang, Wilhelm menatap intens mata biru di sisi lain bilah pedang.

“Bahkan tidak perlu membandingkan, pedangnya ringan, Theresia—Pedangmu yang menjatuhkan beban beratnya, itu sangat ringan.”

“…”

Suatu nada, kata-kata itu bercampur kekecewaan, namun demikian, alis wajah cantiknya bahkan tak bergerak.

Theresia dengan mata jernihnya, tanpa emosi, kembali melihat Wilhelm.

Tiada sanggahan, tidak memberontak, bahkan tak ada rasa permusuhan.

Dia dulunya seorang wanita yang kerap kali tersenyum, sering marah, suka ngambek.

Dia dulunya seorang wanita cantik bagaikan pedang ketika dia diam, namun waktu-waktu diamnya hampir tidak ada.

Dia dulunya seorang wanita selayaknya bunga bulat, bermekaran disinari matahari.

—lantas, kondisinya sekarang, tragis belaka.

“…”

Yang hadir di sana cuma fisik istrinya yang terdiam.

Seketika bertukar tebasan pedang bersama sosok yang selalu dia cintai, hati Wilhelm hancur berkeping-keping.

Bermunculan seolah kembali ke masa lalu, memudar seakan memahami hari-hari di masa lalu yang tidak bisa kembali, membuang hari-hari itu seolah-olah bermimpi selayaknya gelembung-gelembung bermunculan di permukaan air.

—selama lima belas tahun, hidup semacam apa yang harus dijalani Theresia.

Sewaktu Wilhelm memikirkan kembali kala dia kehilangannya, dan mengabdikan diri ke balas dendam, luka tak tersembuhkan di bahu Wilhelm menetap sendiri.

Luka yang ditimbulkan Divine Protection of Death God, tidak pernah hilang.

Itu Divine Protection yang dilimpahkan kepada Theresia oleh Dewa Pedang selain Divine Protection of the Sword Saint, demi mengakhiri hari-hari perang itu.

Sekali potong mampu menghasilkan aliran darah, beberapa tebasan sanggup menumpuk tumpukan mayat.

Sejak kala itu, dia tidak harus pintar dan mahir tipu muslihat, baginya, hidupnya hanya untuk memotong benang kehidupan.

Memang, satu-satunya cara mengalahkan Theresia adalah dengan ilmu pedang yang lebih unggul darinya.

Wilhelm di masa lalu telah membebani dirinya hingga batas ekstrim, kerasnya bukan main sampai mengubah dirinya menjadi pedang, terus hingga akhir, dia berhasil mencapainya.

Tidak mungkin mengalahkan Theresia yang kemampuannya juga didorong sampai batas lewat Divine Protection of the Sword Saint.

Dan kini setelah bersilangan pedang dengan diri mudanya, Wilhelm mengerti.

—kemampuan berpedangnya sudah transenden, terletak di wilayah ketangkasan. Meski begitu, ada satu bayangan besar pada ilmu pedang tersebut.

“Walaupun kau kesusahan sebelum memegang pedang, kau takkan lagi kesusahan setelah memegangnya. Kau seorang wanita, yang tahu itu lebih baik dari aku sendiri.”

“…”

“Ingatkah di hari kita berpisah. Tatkala Penaklukan Besar, kau mengguncangku ketika aku menghentikanmu, dan membuat luka tidak tersembuhkan di bahu ini—Kata-kata saat itu, aku tidak lupa satu pun.”

Theresia tidak menjawab. Wilhelm tak menuntun jawabannya.

Ini hanyalah, upacara Wilhelm, kilas balik ke hari-hari itu.

Bersama rasa sakit di bahunya, ingatan yang terukir padanya juga kembali dihidupkan.

Sementara dia memulai Penaklukan Besar, dengan perjalanan tanpa jalan pulang, Theresia benar-benar melepaskan dirinya dari Wilhelm dan berkata:

—saat aku kembali, hari itu, tolong biarkan aku mendengar kata-kata yang tidak bisa kudengar.

“Aku datang ke sini, untuk memenuhi janji itu—!”


Pedang kembar itu meraung, dan pedang panjang Theresia tersentak.

Mantan Pedang Suci mengayunkan pedangnya menggunakan serangan balik itu, namun Wilhelm, bahkan tanpa melihat serangan baliknya, menghindar dengan sepenuhnya membaca lintasannya.

Dia tahu.

Ke mana pedangnya ‘kan datang, cukup tahu sampai menyukainya.

“Hu, aaaaahhh!”

Kebiasannya sama. Tekniknya sama.

Hangus ke jiwanya, dengan ketajaman diri Wilhelm yang dulu, ketika dia cabik-cabik dirinya, dia ingat dalam pikirannya, teknik Pedang Suci yang dia kejar.

Mengalahkannya, bersumpah mengambilnya darinya, menggapai wilayah itu, dia damba-dambakan dan terbakar dalam jiwanya.

Sama sebagaimana sosok istrinya yang menghangatkan dadanya.

“…”

Bahkan melawan permohonan Wilhelm, wajah indah merah tua bahkan tak gentar sedikit pun.

Seketika pedangnya mengincar tangkapannya tanpa suara, sunyi, tiada emosi. Wilhelm menebas habis semuanya.

Wilhelm teramat-amat mencintainya, dia tahu itu biarpun matanya terpejam.

Karenanya, dia pilih mencintainya tanpa memejamkan matanya.

“—ahk.”

—di atas, membalas tebasan, menukar gesekan, mengangkat bilahnya, pedang menebas diagonal.

Menerima pedang yang menghujaninya, Wilhelm kemudian menenggelamkan serangan balasan, menghindari tebasan keras lalu balas menyerang, memutar tubuhnya di sekitar titik lompatan jika kedua pedangnya menebas diagonal ke arah bahu satu sama lain, lalu menjalin pedang mereka sebagai kunci pertunjukannya, dan beralih ke serangan balik.

Melampaui serangan dengan pertahanan elegan, kemustahilan muncul di ilmu pedang Theresia.

Theresia yang menerima serangan, mundur, lanjut Wilhelm terjun ke celahnya tanpa ragu-ragu.

“…”

Sesaat, emosi muncul di mata Theresia yang tengah menatap Iblis Pedang.

Tidak, itu salah pengertian. Hati membenci Wilhelm telah membangkitkan ingatan situasi masa lalu, persis sama seperti ini.

—dipandang warga kota ramai, Wilhelm telah menyerang dan mengalahkan aktor utama upacara tersebut, Pedang Suci, dan merampok gelar pendekar pedang dari seorang pemudi bernama Theresia.

Kembalinya situasi itu, tepatnya sama, seperti ini.

Lantas, kesimpulannya juga, akan sama lagi.

“Theresia—agh!!”

Wilhelm menyerang pedang panjang, terbang menuju dada Theresia.

Iblis Pedang mengangkat pedang kembarnya melawan pedang panjang, tidak sanggup menahan beratnya, terbentuk celah di bilahnya. Tetapi di waktu bersamaan pedang panjang ditangkis dengan dibelokkan ke kanan atas, dan separuh tubuh Theresia tanpa pertahanan.

Menggambar setengah lingkaran besar, pedang kembar Wilhelm kembali.

Semenjak awal pertemuan ini sampai sekarang, Theresia yang berada persis di depan matanya, membuat celah terbesar. Dengan otot lengan Wilhelm yang membengkak, dia mencengkeram gagang pedang sampai-sampai berderit.

Selanjutnya menyerang sekuat tenaga, dia harus mengakhiri reuni tak terbayangkan ini—

—dia berusaha, mengakhirinya.

“—agh!”

Gairah membara memenuhi tenggorokannya, disertai ekspresi wajah tak terhitung jumlahnya membayang di matanya.

Wajah istrinya ketika menangis, marah, merajuk, tersenyum, ekspresi-ekspresi tersayangnya membesit, dari wanita sama.

Menampiknya sepenuhnya, Wilhelm menurunkan pedangnya.

Irisan pedangnya melesat, langsung menuju kepala hingga tubuh wanita itu—

“…”

Sebelum menebas, bayangan seseorang terbesit di sudut mata Wilhelm.

Pada batas konsentrasi tertinggi, kesadarannya yang awalnya mustahil bergejolak menjadi mungkin. Walau demikian, hanya ada gejolaknya saja. Tanpa pengaruh apa-apa, tidak sampai bisa dia abaikan begitu saja.

Sebagai seorang pendekar pedang, mempertaruhkan nyawanya, dia mesti menyilangkan pedang di perbatasan hidup-mati, orang luar takkan sanggup menciptakan celah keraguan di sana.

Mengabdikan segalanya ke eksistensi di depan matanya, dia memenuhi tujuannya dengan tebasan layak akan nama Iblis Pedang.

Sepatutnya dia hendak melakukan itu. Semestinya itulah yang dapat dia lakukan.

—seandainya pantulan bayangan orang itu bukan bayangan merah.

“—ayah?”

Ada jarak di antara keduanya.

Suara keraguan yang jarak gemanya tidak mencapai Wilhelm.

Biar begitu, dia merasa seakan-akan suaranya berbisik tepat ke telinganya.

Melihat dirinya, adalah seorang pria bermata biru dan rambut merah.

Heinkel Astrea tengah mengamati momen-momen terakhir pertempuran ini.

Kebingungan, terhadap konklusi ilmu pedang ayahnya, Wilhelm, dan ibunya, Theresia, selagi mereka mengincar hidup satu sama lain.

—kala itu, kilat pedangnya menumpul.

“—~agh.”

Seharusnya Wilhelm melancarkan serangan pramungkas.

Mempersembahkan dirinya ke gaya bertarung, serangan pedang yang harusnya mengakhiri mimpi panjang ini—kilau tumpul itu melahirkan celah untuk serangan balik.

“…”

Theresia intens menekuk tubuhnya, membalik pergelangan tangan, pedang panjang yang kembali itu menolak pedang kembar.

Suara dua pedang bertabrakan bergema, dan Theresia mengacaukan serangan yang berjanji untuk melukainya, Theresia dengan segenap hatinya, teknik, fisik, makin menjauhkan penyelesaian tujuan Wilhelm seiring percik-percik api menyebar.

“Kuh … ukh.”

—kenapa, Wilhelm menyadarinya.

Menerima hantaman pedang yang terbang di udara, beratnya berzig-zag, Wilhelm sepenuh hati menghadapi langsung dengan munculnya keraguan.

Kalau saja dia tidak mendapati keberadaan Heinkel, atau dia mengabaikannya, kalau saja berkonsentrasi pada Theresia, dia takkan dalam kondisi buruk sekarang ini.

Dia memutuskan mendedikasikan seluruh hidupnya dan merenggut Theresia dari Dewa Pedang.

Hasil keputusan dilebih-lebihkan tersebut, apakah mesti menjadi kesulitan ini.

Sekali lagi, memulai rangkaian suara serangan pedang ringan.

Akan tetapi, pedang yang sebelumnya transparan setelah bertukar serangan, tarian pedangnya nyaris hilang.

Kotoran asing bercampur.

Menggunakan semua jenis kekuatan dari seluruh batas memungkinkan, kian meningkatkan kemurnian bilahnya, semuanya hilang di ujung pedang yang mestinya diayun dua kali, hilang oleh kemunculan satu orang di sisi lain.

Yang tersisa semata-mata serangan tunggal Iblis Pedang tua kepada istri tercintanya, di depan putra mereka.

Tanpa menjadi pedang, tanpa hidup sebagai Iblis Pedang, dia terlalu tidak dewasa, kekurangan nian, sebagai seorang ayah, sebagai seorang suami, sebagai seorang pendekar pedang, sebagai seorang pria.

Pada akhirnya karena tidak mampu mengayun satu ayunan pun, dia menyadari ketidakdewasaannya.

Dia tidak sanggup menghentikan campuran kejahatan, dengan esensi ilmu pedangnya yang mengalir di dalam pedang.

Mulai dari sini, hasilnya barangkali tidak bisa diubah.

“—agh!?”

Menggetok kedua pedang miliknya, Wilhelm segera mengguncang pedang panjang istrinya.

Menerima kekuatan serangan pedang dengan kesungguhan bebalnya, lalu kekuatan adu pedangnya diperhitungkan pada celah yang dibuat kaki berhenti Theresia—seketika Wilhelm memenangkan perlawanan dan melangkah maju, tubuh kurus di depan matanya berputar, menghilang.

Kaki muncul di hadapannya, di tengah-tengah langkah majunya, terdapat celah.

“…”

Segera seusainya, firasat akan kematian mendatanginya.

Dia menerima tebasan pedang kuat bukan kepalang, dingin tebasannya tidak usah dipetanyakan lagi, Wilhelm balas dengan menggerakkan pedangnya ke samping tanpa tertunda sepersekian detik pun.

Tidak kuasa menghentikan serangan penghancur wanita tersebut, pedang kakek-kakek yang menahannya, menembus dalam ke bahunya sendiri. Langkahnya terhuyung-huyung, tubuh yang membungkuk maju menyemburkan darah. Tulang-tulang Wilhelm berderit, ototnya mendenyut kilat dalam otaknya.

Pedang kanan menahannya. Pedang kiri masih ditahan.

Dengan darah mengalir keluar dari tepi mulut, Wilhelm bersama pedang kanannya, ibarat dia bawa di bahu, sekali lagi menangkis pedang panjang Theresia ke atas.

Dengan akurat, pedang panjang Theresia diangkat ke atas.

Di saat bersamaan, pedang di tangan kanan Wilhelm terjatuh. Dia tak pikirkan. Apabila tangan kanannya sekarang terbebas, dia mesti mengerahkan seluruh kekuatannya ke pedang kiri tersisa dan menyerang.

Menggunakan pedang kiri, dia layangkan pukulan ke Theresia di belakang.

Tangan kanannya melintas dan menembus lurus Theresia—

“…”

Percik api menyebar.

Suara menggema, suara bernada tinggi.

Berat pedang di tangan Wilhelm terbelah dua, kakek itu melakukan kesalahan, dia yang terus mengenali kelemahannya sendiri sekali lagi menyadarinya.

Ketika serangan itu menyerang Theresia, Wilhelm memilih bertindak tanpa sadar.

Pedang digenggam tangan kirinya, dia serang dengan putar ke kiri atau kanan.

Perbedaan kecil dan sedikit belaka.

Namun di waktu bersamaan, bagi keduanya yang telah mencapai ilmu pedang ekstrem, itu variasi mematikan.

Semisal dia pilih kecepatan, maka tangan kiri, sekiranya dia pilih kekuatan maka tangan kanan.

Sesudah terjebak pilihan itu, seumpama dia sadar telah keliru dalam tindakan tersebut, segala halnya masih bisa diperbaiki.

Wilhelm menimbang apakah dia harus menatap langusng bojonya atau tidak, dalam waktu sekejap itu, tersesat.

“…”

Satu ayunan genggaman Theresia menghadapi serangan Iblis Pedang.

Menangkapnya selagi di udara, Theresia memotong jalur serangannya.

Begitu Theresia lawan pedangya dan membenturnya sambil berdiri diam, dia ayunkan dengan kekuatan besar. Sampai-sampai meretakkan tengah pedang kakek tua itu, sekaligus menolak bajanya tanpa menghadapi perlawanan apa pun.

Pedang panjangnya pecah, lalu Wilhelm merasa kehilangan senjata khususnya. Instan dia genggam pedang patah bersiap akan serangan lanjutan sebagaimana kata insting pendekar pedangnya.

Akan tetapi, kesiapannya akan membuahkan hasil, andai kemurniannya sebagai pendekar pedang berbeda.

Dalam hal itu, wanita di depan matanya adalah lawan terburuk soal kemurnian.

Iblis Pedang yang kehilangan pedangnya dan Pedang Suci yang dicintai Dewa Pedang.

Perbedaannya jelas, tidak perlu disebutkan.

—waktu itu dia bahkan lupa berkedip, Wilhelm melihat pedang panjang menembus kaki kanannya.

“…”

Pedangnya indah nian hingga nyaris terpesona olehnya.

Bilahnya menembus sendi kaki kanan pendekar pedang tua dan ujung pedangnya terkontaminasi sedikit darah.

Tidak perlu menyerang hal tak penting, langsung menembus celah antara serabut otot dan saraf, menghilangkan fungsi kakinya semata, itulah keunggulan ilmu pedang terbaik.

Kurangnya perlawanan membuatnya tampak bak bilahnya semata-mata menyapu air.

Penampilan di atas kaki kanannya sendiri, punggung Wilhelm gemetaran.

Apakah itu perasaan kagum, terganggu, jatuh cinta, orang yang bersangkutan tidak tahu harus merasakan yang mana.

Yang dia ketahui adalah kebenaran kekalahannya didesak ke wajahnya.

“Gah, ugh … ahk.”

Tatkala bilahnya bersembunyi di kaki kanan Wilhem dan meluncur masuk, lututnya berat sebelah.

Tepat ketika pedang panjang menembus seiring dagingnya ditarik keluar tanpa suara, Wilhelm mengerang sakit yang tertunda kemudian roboh.

Begitu darah membanjiri luka di kakinya, tubuh bagian bawahnya tidak berdaya.

Misalkan kekuatan Divine Protection of Death God dipanggil, tipe sihir penyembuhan apa pun yang dia gunakan takkan menyembuhkan. Bila pengguna Divine Protection-nya dekat, lantas semakin dekat jaraknya, makin efektif efektivitasnya, tidak peduli sekecil bagaimanapun lukanya, menjadi kutukan yang mengikis kehidupan dan memaksa pendarahan tanpa akhir pada korban.

“…”

Luka di kaki kanan Wilhelm juga tidak bisa asal disebut luka dangkal. Lukanya mampu mengancam nyawa misalkan diabaikan, dan Divine Protection of Death God diwajibkan menolak semua pemulihan.

Nampaknya ibarat batas waktu hidupnya telah ditetapkan teramat singkat.

“… sungguh disesalkan.”

Sesaat otaknya dihanguskan rasa sakit, dia mengutarakan kesedihannya dulu baru penderitaannya.

 Rasa sakit itu merangsang teriakan tanpa henti, tapi wajah Wilhelm mengungkapkannya dengan mengangkat alis semata.

Dia tidak memaksa menahannya atau tempelkan ke tekadnya.

Rangsangan tajam di tubuhnya, tidak peduli apa pun yang terjadi, tak membiarkan hatinya berlindung dari bayangan kegelapan.

Selagi keputusasaan, kesedihan, dan kepengecutan serta ketidakberdayaannya sendiri membara ke jiwanya, sebesar apa makna menahan rasa sakit bagi pendekar pedang tua ini.

“…”

Menjatuhkan pedang di tangannya, Wilhelm menempelkan tangannya ke luka.

Pendarahannya harusnya mengeluarkan nyawanya tetapi yang kalah tidak berniat kabur membawa aib. Meski begitu, menurut etiket, sang Iblis Pedang tidak boleh menemui ajalnya karena pendarahan.

Dia telah bertarung sebagai pendekar pedang, dia melawan sebagai pendekar pedang, dia dikalahkan sebagai pendekar pedang.

Maka, nyawa yang kalah akan diambil pedang yang menang.

“Theresia, aku …”

“…”

Pendekar wanita berwarna merah tua dengan pedang panjang di pundaknya, sedang melihat Wilhelm di bawah.

Di mata itu, sungguh, tak hadir emosi mendalam. Tidak mengingat apa-apa hingga akhir, terus tidak mengingat apa pun, dialah sang dewa kematiannya pedang yang ‘kan mencabut nyawa Wilhelm.

Dia tatap wajah cantiknya sampai-sampai terpikat.

Theresia diam-diam mengayun pedang di depan Wilhelm. Di saat pedangnya jatuh, nyawa kakek tua itu pun akan berakhir.

Tapi—

“Tidak pernah, sendirian …!”

Momen-momen pedang panjangnya turun, Wilhelm mengulur tangan kanan. Di tangannya, pecahan pedang kembar—pedang yang Theresia buang, tergeletak di sana.

Wilhelm pungut dengan jarinya, dan berjuang keras, tidak terima momen kematiannya hingga akhir.

Kekalahannya, masih ada.

Tidak bisa dicegah.

Namun Theresia sekarang, Wilhelm tidak boleh membuat Theresia, dia, sendirian.

Tidak mampu menghentikan istrinya yang dipaksa mengayunkan pedang, dia tidak boleh membiarkannya pergi mendatangi Crusch yang sangat dia hutang budi, atau Subaru dan yang lainnya.

Seandainya hidupnya dibakar pun tidak cukup, maka dia tak keberatan jiwanya hancur setelah kematian.

—namun gelombang resolusi itu adalah:

“…”

“Theresia …?”

Menjaga pedangnya tetap terangkat tinggi, Theresia melompat mundur jauh.

Wanita itu menjauh hingga sejarak pedang yang dipegang tangan kanan Wilhelm tidak sampai menjangkaunya. Wilhelm dalam posisi kaki terlukanya tak kuasa mencapainya, Theresia sedikit memiringkan leher.

Mata tanpa emosi, melihat warna hampa mengerikan di matanya, Wilhelm, pertama kalinya, ketakutan.

Ketakutan itu adalah ketakutan yang bangkit dalam instingnya, insting Wilhelm sebagai pendekar pedang.

Tidak perlu berlebihan dan melancarkan serangan pramungkas ke mangsa yang mengalami luka fatal.

Dengan kebanggaan seorang pendekar pedang yang sudah hilang sejak dulu, itulah penilaian yang cuma bisa dijatuhkan oleh dewa kematian berkepala dingin.

“Sebentar … sebentar, Theresia!!”

Wilhelm berteriak, sebab takut ditinggalkan.

Kakinya tak sakit. Lupa akan rasa sakit di kaki kanannya, Wilhelm mencoba mengejar Theresia jauh. Namun rasa sakitnya, atau sekurang-kurangnya, lukanya, itu nyata. Tanpa kekuatan sedikit pun, dia tersandung. Bahunya jatuh menabrak tanah, pendekar pedang tua ekspresinya menyatakan betapa tidak termaafkannya ini.

Rambut merah panjangnya berayun-ayun, Theresia semakin jauh.

Di depan jalur langkah kakinya, ada Heinkel berdiri tegak.

Pedang panjang yang sampai saat ini semangat juangnya tidak melemah, menjadikan Heinkel mangsa berikutnya.

Menebas pria yang tak dia sadari adalah suaminya, selanjutnya dia akan menebas pria yang tidak dia sadari adalah putranya, karena itu—

“Hentikan, Theresia! Kau kira itu … itu bisa dimaafkan!? Lawan aku! Lihat aku … aku! Lihatlah, aku, Theresiaaaaaa!!”

Suarnaya yang kedengaran ibarat berdarah, Wilhelm memanggil Theresia.

Berkali-kali, tak terhitung jumlahnya, nama itu yang dia panggil di depan wanitanya, sosok yang dipikirkannya berkali-kali dan sosok dulunya persis sama, amarah alih-alih cinta yang dipendam, kegilaan alih-alih hasrat, mencurahkan semuanya ke teriakan itu.

Akan tetapi, dia tidak menoleh ke belakang.

Memegang erat pedang yang ditinggali dewa kematian, wanita itu mulai pergi menuju Heinkel. Heinkel menarik napas di hadapan sosok yang melangkah mendekat, tidak sanggup menghunus pedang kesatria dipegang tangannya yang semestinya diayunkan.

“S-sebentar, kubilang sebentar. K-kau …. Theresia, katanya, tidak mungkin? Tidak mungkin …. Tidak, mungkin ibu … agh.”

“…”

“Tidak, biarpun bukan ibu … bukan itu! A-ayah sudah menjadi seperti itu, jadi … sialanlah! Apa-apaan ini, apa yang kau lakukan!”

Mendekat di depan matanya adalah Theresia yang masih muda.

Sosoknya, dan sosok dirinya sebagai ibu bagi Heinkel, saling tumpang dindih. Lehernya menggeleng horizontal menyangkal, habis-habisan berusaha menolak kejadian di depan matanya, menyuarakan kata-kata yang tidak dapat dihentikannya.

Lututnya gemetaran, garis pandangnya berantakan, dan rupa dirinya sambil memegang pedang pun terlihat lemah.

Dihadapkan mantan Pedang Suci, bahkan tidak ada sedikit pun peluang untuk menahannya.

Kalau begini, tidak salah lagi, Heinkel akan ditebas mati oleh Theresia.

Hanya saja, hal itu tidak boleh dibiarkan terjadi.

“Theresia! Aku di sini! Aku masih hidup! Kalau kau ingin membunuhku maka bunuh aku dulu! Heinkel, mustahil kau bisa melawannya! Sekarang juga, pergilah!!”

Mendukung dirinya menggunakan pedang, Wilhelm berdiri sembari merasa bak tengah memijak keras batu. Tidak ada waktu untuk menahan pendarahan lukanya, bebannya meluas, ditambah lagi, darahnya mengalir keluar.

Sesudah bebatuan bulatnya dipenuhi darah segar, telah berubah menjadi warna merah, dan sambil menarik uliran darah, Wilhelm mengejar punggung Theresia.

Jauh. Terlalu jauh.

Lambat. Terlalu lambat.

Sekali lagi, Wilhelm tak berhasil.

Sekali lagi, Wilhelm tak dapat mencapainya.

“Hugh … agh.”

“…”

Pedang panjang Theresia mengukir lengkungan, dan pedang kesatria Heinkel yang dia tarik ke bahu, menghadapnya.

Tidak tertahan sebentar pun, pedang kesatria Heinkel teramat-amat cepat meninggalkan tangannya, membuat suara melengking ketika jatuh memantul di atas batu bulat.

“H-hentikan …. Tolong hentikan, b-bu … uh.”

Tanpa senjata, Heinkel yang ketakutan jatuh pantat duluan ke tempat itu. Anggota tubuhnya bergerak-gerak kepayahan, Heinkel mencoba kabur, ibarat merangkak.

Namun jari-jari bergeraknya, hati ketakutannya, mata tanpa emosi Theresia, mengikat pikiran dan tubuhnya ke rasa takut, dan dia hampir tidak mampu bergerak di tempat sama sekali.

Tenggorokannya kering, dia seka keringat dinginnya, Heinkel, wajahnya memucat.

Tapi kemungkinan dia tidak kuat menahan kencing juga. Setelah tidak tenang dan dipermalukan demikian, Heinkel menatap ujung pedang panjang yang diangkat.

—laksana mengiris bulan, pedang panjang itu tegak lurus ke langit.

Di penghujung hidupnya, Wilhelm menyaksikan pemandangan istrinya menebas putranya samai mati di depan matanya.

Dia berteriak. Teriakannya tak sampai. Dia mengulur tangan. Tangannya tak sampai.

“Theresia—!!”

Tiada kekuatan tersisa pada suara teriakan Iblis Pedang yang tidak dapat menyerahkan segalanya ke pedang.

Tanpa perasaan, pedang panjang pendekar pedang wanita itu diayun tuk memotong nyawa Heinkel—

“—sudah cukup.”

 Suara itu, tiba-tiba tetapi jelas, memotong ketegangan yang sepertinya menyengat.

Dengan suara bermartabat dan tidak satu pun kegelisahan di dalamnya, suara itu tak punya pengampunan. Barang siapa yang mendengarnya akan dikejutkan perasaan eksistensi maha besar, wajar jika mengikuti kehendak pemilik suara.

Wilhelm, Heinkel, bahkan Theresia berhenti.

Di depan garis pandang ketiga orang itu, berdiri seorang pemuda.

Rambut merah menyala layaknya api, murni sempurna, mata biru berkilauan yang menangkap langit.

Kendatipun pakaian putihnya telah terkontaminasi darah serta lumpur, dia berdiri tegak, sama sekali tidak membutuhkan kata-kata untuk menghormatinya selain kata heroik.

Pemuda itu perlahan terus maju mendekat.

Di tangannya, ada sarung berukiran luka dalam, dan pedang kesatria terhunus dari sarungnya.

Bilah pedang dipoles abnormal, dia genggam Pedang Naga Reid.

—suara tawa sang Dewa Pedang beresonansi parau di telinga Iblis Pedang.