RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 65

Posted on

Penyesalan Liliana Masquerade

Penerjemah: DemonSoul

Ya-ya, sekarang kami berada di bagian utara Kota Pristella! Terlibat dalam pertempuran pengambilalihan salah satu Menara Pengendali—!

Keempat Menara Pengendali telah dikuasai Kultus Penyihir! Untuk merebut menaranya, orang-orang paling cakap di kota telah bergerak, melancarkan pertempuran skala besar yang menghantam keempat menaranya sekaligus!

Di antara pasukan yang tak gugup sedikit pun, entah kenapa seorang musisi imut sepertiku pun benar-benar bergabung dalam pertempuran pula, sangat tak terduga! Akan tetapi, mundur sama sekali bukan pertimbangan!

Baiklah, selanjutnya adalah memperkenalkan wajah sinting yang akan bergabung dalam operasi ini bersamaku, Liliana Masquerade!!

“Wajah itu nyaris muak. Tunjukkan lehermu di bawah diriku. Saat kepala itu dipenggal, tengkoraknya bagus untuk tempat lilin.”

Baiklah itu dia~! Kata-kata tak berbelah kasih dan taktik ganas! Namun kalau dilakukan kami pun bakal tamat! Aku bakal mati jadi tolong kasihanilah!

Menari sedikit di bawah mata merah menyipit, sosok beliau kembali menyerupai api! Bahkan karakter sulit itu bagaikan bentuk api yang terus-menerus berubah, jelas berbahaya semisal disentuh!

Memegang Pedang Yang di satu tangan adalah jawara ofensif kami! Priscilla Bariel-sama!

Priscilla-sama menyeberang kanal terbakar di samping, dalam sekali napas mengayun Pedang Yang mempesona! Mengayun! Mengayunmengayunmengayun!

Dampak! Cahaya! Suara! Orang yang menerimanya telah terlempar mundur jauh~!

Namun kemudian! Mensinkronkan langkahnya! Lalu menatap Priscilla-sama!

“Aah, aah, aaaaaaaaaah! Sungguh, sungguh, sungguh! Mengapa yang satu ini dan yang itu atau mereka semua suka berkumpul bersama-sama! Maksud kalian untuk mencegahku menemui orang itu! Penderitaan, penderitaan, betapa menderitanya aku! Patah hati mengoyak hatiku! Mengguncang perasaan putus asa dalam hati! Penderitaan semacam itu tak dapat ditahan—!”

Yang muncul adalah—! Seseorang berteriak-teriak sambil mengalirkan air matas deras, orang sinting marah terbungkus perban sedang tersedu-sedu!

Wajah tertutup perban putih dililit, dililit, dililit dan dililitkan untuk menutupi mata! Tubuh sepenuhnya tertutup jubah! Jujur saja jenis kelaminnya tidak bisa dikenal walaupun suaranya mungkin perempuan! Dengan pakaian semacam itu yang melepas identitas wanita, pikiran berbahaya mengayun-ayunkan rantai yang berputar-putar dan berputar melingkari lengannya! Adalah seseorang yang aku atau semua orang sudah kehilangan jejak perkataannya.

Uskup Agung Dosa Besar Kultus Penyihir mewakilkan Kemarahan, Sirius Romanee-Conti! Yang dia perkenalkan barusan!

Wajah tertutup Sirius gila itu dialirkan air mata! Air matanya seolah-olah berapi-api, membiarkan lidah api jatuh ke halaman di bawah Menara Pengendali! Koneksi semacam itu! Tak terjelaskan!

Selain itu ada eksistensi tangan putih api di kanal, menempel pada orang-orang, orang-orang, orang-orang di luar yang merasa tak peduli! Orang-orang yang semestinya bersembunyi di selter sebelah utara, sebagian besarnya bergegas keluar untuk melihat pertarungan ini—tapi beneran deh! Karena saat ini semua orang tengah berguling-guling di tanah dan menangis tersedu-sedu! Perasaannya sama sebagaimana Sirius sinting tersebut! Inilah kekuatan Kemarahan yang telah menyebarkan kekacauan di seluruh kota—!

Di mata semua orang yang terisak serta menjerit, tetap tak ada jejak kesadaran! Bila mana mereka dibilang telah diracuni perasaan atau dimanipulasi perasaan atau disiksa perasaan sebagai barang mainan, yah perasaannya seperti itulah! Jelas terlampau sejelas air atau kristal kejadian selanjutnya andai mereka dibiarkan, lantas berusaha sedikit lebih kuat di sini itu bagus bukan!

“Uh, uuhh …. Datanglah, datanglah, jelas ini merupakan panggung besar!”

Di atas platform tinggi! Dari atas aku mengamati yang berada di bawah panggung ini, juga para penonton yang masih terisak-isak, serta aktor yang menyebarkan api seakan-akan menggila, berteriak untuk naik ke panggung juga.

Sejujurnya, gara-gara meninggalkan daerah perasaan kelewat kuat Priscilla-sama, tadi dadaku telah ditusuk tanpa henti ibarat diserang kesedihan dan kesepian, tapi jangan kira karena alasan itu aku akan menghentikan langkah, jari-jari melemas, atau napas tercekat sebab nyala api membara!

Seandainya kau dipaksa merasakan sesuatu semacam penderitaan, sekiranya sebuah lagu dialami secara langsung maka setidaknya terjadi sesuatu, jadi misalkan cahayanya datang dengan gelombang lebih besar aku takkan dikalahkan!

Pada akhirnya, aku akan memperkenalkan semua orang yang telah kehilangan akal, kepada orang yang memainkan peran utama~!

“Datanglah, datanglah, yang jauh dengarkan suaranya! Yang dekat lihat tariannya! Yang lebih jauh lagi aku akan berteriak agar kalian dengar! Liliana Masquerade di sini bernyanyi dan menari serta tampil untuk kalian, jadi dengar baik-baik!—Datanglah, langit yang melampaui tengah hari!”

Mengerahkan kekuatan halus nan berani ke jari-jari yang memainkan kecapi, tenggorokan membuka tuk menggapai-gapai sejauh mungkin, gema bergaung dekat, meminjam suara dan ritme dunia, mulai bermain—!

Tapi sebelum itu! Mari luangkan waktu sejenak, tuk mengingat bagaimana situasi ini terjadi!

“Jadi, jadijadijadi, Priscilla-sama! Jadi, tidak apa-apakah?”

“Soal apa?”

Langkah Priscilla-sama tak melambat sedikit pun.

Mengejar sosok itu, aku buru-buru melempar kata-kataku.

Kalau begitu, jelas sudah. Saat langkah selanjutnya adalah bertarung melawan Uskup Agung Dosa Besar, satu-satunya orang yang diseret ikut adalah aku!

Benar, kan? Di awal dari awal dari awalnya, aku tak merencanakan ini.

Setelah siaran ketiga Kultus Penyihir, Natsuki Subaru-sama telah membuat, bagaimana menggambarkannya, tidak tegas tetapi meninggalkan jejak dalam hati, bagaimanapun siarannya punya perasaan semacam itu. Apalagi kami sudah berkumpul kembali bersama orang-orang di Balai Kota!

Sekitar waktu itu, mendengar Kiritaka-san mungkin kondisinya menggelisahkan, sesuatu mirip kekhawatiran terbentuk dalam hatiku, namun kala itu kenyataan mengejutkan telah muncul!

Entah bagaimana, Uskup Agung Dosa Besar yang mendatangi Pristella bukan hanya Kenafsuan seorang. Para Uskup Agung Dosa Besar yang bahkan satu saja sudah seperti bencana, tapi faktanya ada empat! Keempatnya telah menempati menara, itu cukup aneh.

Siapa yang menyebar berita bahwa Kultus Penyihir adalah sekelompok orang menyimpang tanpa komandan yang tidak dapat berfungsi sebagai kelompok. Bukannya ini contoh sempurna kerja tim. Bukankah ini hasil dari kerja samanya.

Apakah satu-satunya bagian yang sesuai soal mereka adalah penyimpangannya. Tak mungkin—itu malah menakutkan—!

Tapitapi, yang dipihak kami adalah kandidat Pemilihan Raja!

Kendatipun beberapa orang-orang berharga yang hadir telah terluka dari pertempuran sebelumnya, tetapi orang-orang yang dihadapkan prospek perebutan kembali kota matanya tak murung! Saat ini kau anggap bagaimanapun, sisanya hanyalah mengerahkan semua orang yang penuh energi.

“—tiada yang perlu ditakutkan selama diriku dan musisi itu ada.”

Mendadakmendadak, telinga mengkilat oleh sakramen Kiritaka-san, aku mendengar dekrit yang datangnya dari Priscilla-sama!

Di tengah-tengah pertempuran melawan Uskup Agung Kemarahan, faktanya aku dibawa.

Tidaktidak, bukannya terlalu dipaksakan, tolong pertimbangkan kembali—meskipun aku berani beragumen demikian, dengan sikap dingin ibarat beliau melupakan jam-jam yang kami habiskan bersama, Priscilla-sama menikanmu dengan kata-kata provokasi.

Menerima kata-kata semacam itu, kok bisa, aku hanya seorang wanita biasa. Seorang penyair.

Selanjutnya mendengar sang Kemarahan yang mengirim pergolakan ke seluruh kota, maka dari itu mundur bukan pilihan.

Awalnya, Priscilla-sama membawaku untuk menggunakan alat sihir di Balai Kota tuk menyebarkan lagu kepada semua orang di kota. Namun gara-gara tujuanku telah diganti pidato Subaru-sama, aku tidak naik panggung dan dibiarkan dengan perasaan kekalahan …

Bila mana ada kesempatan lain untuk menghadapi Kemarahan, itu jadi kesempatan sempurna untuk bertarung sekali lagi.

Malahan ini merupakan pembukaan kembali perang yang berakhir tanpa pertempuran, pertempuran balas dendam yang tak diketahui lawan.

Semacam itu deh, bukannya itu praktis membuat orang membara.

“Luar biasa! Nona Liliana! Di atas panggung atas perintah Priscilla-sama, bersama kecapi serta tenggorokan ini, akan bernyanyi dengan indah!”

Jreng-jreng! Anggun dilakukan.

Ketika Priscilla-sama dan AI-sama fokus pada pertarungan melawan Kemarahan, aku dari belakang akan melingkari orang-orang yang dipengaruhi Kemarahan tak terjelaskan dengan lagu. Pengaturan sempurna!

Kupikir begitu. Baiklah, dengan begitu kembali ke adegan percakapan sebelumnya. Menghadap Priscilla-sama yang merespon suara memalukanku dengan, Soal apa.

Benar, tentu saja akan bilang begitu.

“Kenapa Anda meninggalkan AI-sama di aula? Dua orang wanita saja, satunya saya yang menggemaskan dan satunya Priscilla-sama cantik, bukannya ini sedikit mencemaskan?”

“Tidak. Sedari awal, diriku sendiri sudah lebih dari cukup. Lagi pula, keadaannya sangat kekurangan personel sampai-sampai diriku sendiri mesti bertidak. Ketika diriku didesak tuk berusaha biasa, para anggota Kultus Penyihir pastilah percaya diri telah berada di ambang kemenangan.”

“…? Saya betul-betul tak paham apa yang Anda kataaaaaaaa—! Priscilla-sama mengagumkan!”

Dipelototi dari samping oleh Priscilla-sama, bagian yang dipelototi kesakitan! Ilusi optikkah!? Apakah teramat dekat hingga merasakan gairah membara Priscilla-sama, karena itulah tubuhku dikondisikan oleh beliau!?

“Seharusnya sebagaimana yang engkau dengar. Selama sinyalnya dikirim ke Menara Pengendali, tentu seorang pemuja akan mengincar markas kosong sebagai target dan beraksi. Tatkala terjadi, yang ditinggalkan di Balai Kota akan dipermainkan tanpa perlawanan. Walaupun si pedagang itu sepertinya menyadarinya.”

“Ah, jadi Anda berbicara dengan Anastasia-sama sebelum pergi.”

“Sekalipun tampaknya pilihan mengambil alat sihirnya saja lalu sembunyi di selter bersama non-kombatan lain telah dipertimbangkan … sebab Kultus Penyihir bagaimanapun akan datang, memilih menyambut mereka dengan pertempuran hasilnya positif memuaskan. Yang kembali boleh jadi adalah Kenafsuan, namun misalkan AI yang di sana, dia bisa melakukan sesuatu.”

“Ah, jadi begitu … AI-sama memang nampaknya dipercaya eeeeeeeh!”

Mendengar kata-kata Priscilla-sama, dia melotot selagi aku mengangguk sambil mencoba mengikuti.

Tapi barusan aku tidak berbuat salah! Karenakarena, seperti meninggalkan seorang sekutu di tempat di mana musuh akan mencoba merengsek masuk, pasti sesuatu yang tak dapat dilakukan tanpa kepercayaan.

“Jangan sembarangan membicarakan kepercayaan dan ketergantungan. Biarpun aku tak menyangkal didukung AI dan Schult. Walau orang itu pura-pura bodoh, faktanya dia itu berguna. Sekalipun sebenarnya sebuah kartu yang digambar kekhasan luarnya, menaruhnya di samping diriku takkan jadi penghalang.”

Suara menghina, Priscilla-sama bicara lirih seolah bosan.

Sebetulnya, kata-kata itu sepatutnya tak ditujukan pada kesatria-sama paling utama, ujung-ujungnya tingkat keramahan dalam evaluasi rekan terpercaya nilainya nol, mengapa demikian.

Kata-kata tersebut jelas mempunyai sedikit makna dan perasaan, tetapi apa alasannya sampai terasa seakan-akan itu cukup.

“Karena evaluasi kepada orang lain rendah nian, jadi yang dievaluasi normal rasanya seperti evaluasi bagus, masalah pembagiankah …?”

“Tak perlu engkau memahami tingkah lakuku. Mengenai hasilnya semata-mata bisa diterima. Tidak pula diriku mengharapkan engkau memahaminya. Yang diriku harapkan dari engkau adalah yang diakui oleh diriku sendiri.”

“S-sesuatu milik saya yang bisa dianggap berguna sampai diakui?”

“Dapat dibilang berguna sampai dibawa bersama diriku. Engkau tak berkewajiban menanggapi harapanku.”

Wih, dianggap seperti itu betulan membuat tugasnya berat!

Atau, yah, bagaimanapun, mengesampingkannya, aku baru saja menyadari sesuatu.

Pada pertemuan di Balai Kota sebelumnya, Priscilla-sama memang merujukku sebagai kau di sana kau di sana kau di sana (kisama), tiba-tiba rasanya terdapat jarak, tapi rujukan beliau berubah kembali ke engkau (sonata). Mungkinkah …?

“Sisi khusus yang Anda tunjukkan pada orang-orang yang Anda anggap baik hati, bercandaaaa … wuaaah!”

Aku mendekap kepala, bersembunyi dari tatapan membara Priscilla-sama. Uuh, aku belajar dari beberapa jam silam. Bagaimana bilangnya, dari Priscilla-sama, atau karena suasananya? Perubahan halus pada Priscilla-sama kesemuanya telah terpikat telinga, kulit, dan anggota tubuh sensitifku lainnya …

“Hmm? Teguram tajam yang diantisipasi tidak menyerang? Kok bisa, ekspesktasi Liliana ini tak sesuai …”

“Biarpun masih berada di tengah-tengah permainan kecil ini, minat leluconmu cuma sampai sejauh ini.”

“Ah, balik lagi memanggil kau …”

Apakah jarak sekali lagi diciptakan karena itu? Selagi memegang perasaan agak sedih, aku mengangkat kepala untuk memahaminya. Ah, mengerti, bukan waktunya main-main.

Pada saat ini, kami sudah sampai di Menara Pengendali. Baiklah, Menara Pengendali yang jadi masalah setahuku terdapat konflik—

“Tahukah Anda, Priscilla-sama. Menurut laporan saya mengenai Pristella, Menara Pengendali mestinya bukan sesuatu yang entah bagaimana kebakaran.”

“Betul. Sekalipun dekorasinya diriku akui, desain kinerja tanpa harapan ini melampaui minyak mentah. Api membara sangat panas ini akan membangkitkan semangat, tapi tidak ada bagusnya mengandalkan kebodohan.”

Meski Priscilla-sama merupakan gambaran ketenangan, aku tidak bisa menganggap itu keren.

Menara Pengendali utara, menara pendukung yang dikelilingi berbagai kanal, keseluruhan bangunannya saat ini dilalap nyala api. Sebab menaranya dibangun dari batu, materialnya tak bisa mudah terbakar. Ah, sepertinya datang besit.

“Tersebit. Menara batu panggang dan ubi bakar. Berkenankah Anda mendengarnya?”

“Seumpama hanya ingin jejak kakimu tersisa di dunia ini maka nyanyikanlah. Seandainya ada kekeliruan yang menjadi kenyataan. Mediokritas, banalitas, kesamaan, jikalau kemuliaanku diandalkan maka perlakukan dengan benar, sekelompok orang bodoh tidak dapat mencapai apa-apa. Jangan harap diriku begitu berbelas kasih dengan berbelas kasih pada orang-orang bodoh yang melukai dirinya sendiri.”

Tiba-tiba menunjukkan sedikit rupa kejam beliau! Apakah ini tanda-tanda Priscilla-sama telah memasuki kondisi mempersiapkan pertarungan?

Benar, benar. Menyaksikan Menara Pengendali kebakaran membuat tekanannya tumbuh meningkat. Terus terus, yang menyambut kami berdua, orang yang menyambut kami, adalah orang aneh sedang berdiri di depan menara terlahap api sembari melebarkan tangannya! Dengan ini tak mungkin salah orang.

“Maaf, tapi tak keberatankah kalian melangkah maju? Terima kasih.”

Kalimat pertama orang aneh itu tak disangka-sangka tenang, seakan-akan mempertimbangkan kami.

Dikombinasikan tangan yang dari awal dilebarkan, cara kepalanya menunduk entah kenapa rasanya agak lucu. Apakah disebabkan kekontrasan penampilannya? Barangkali dari perasaan itu.

“Biarpun mungkin agak terlalu berlebihan untuk tonggak batas, tetapi karena fungsi kota dihentikan malam ini, rasanya laksana kekurangan cahaya, bukan? Tersesat dalam kegelapan, atau tergelincir ke kanal dan kehilangan pijakan, bakal teramat-amat berbahaya, sebab itulah aku menyalakan api untuk cahaya.”

Ibaratnya menganggap ini sebagai ide bagus, orang aneh diperban itu, tidaktidak, itu tak sopan. Mari sebut Perban-san. Perban-san memberi tahu kami alasan kebakarannya.

Mmn, jadi begitu. Tak bisa tidak merasa tersentuh. Kota yang dikenal sebagai Kota Bendungan Pristella tentu dipenuhi kanal. Lalu diingatkan untuk berhati-hati sewaktu berekspedisi malam hari itu biasa. Terutama pas pergi menuju tempat seperti gang belakang. Jalan utama buat perjalanan malam ini diberikan bantuan penerangan, walau demikian kanal punya tingkat bahaya tinggi.

Huuh, seorang master dari tempat lain faktanya dapat mengenali dan menimbang sesuatu seperti ini di Pristella, akan mengarahkan perasaan bahagia.

Ah, tidak, bukan berarti Pristella itu semacam kampung halamanku, tetapi berdiri sebagai perwakilan Pristella dan bersyukur rasanya agak aneh.

Eh, karena aku melihat Kiritaka-san melakukan banyak hal perihal operasi kota, melihat usaha orang tak asing bagimu terbayarkan sama sekali tidak mengecewakan. Mhm.

“Tapi, semua orang di kota ini sangatlah menakjubkan. Biarpun boleh jadi kedengarannya seolah pendapat serampangan, tetapi reaksi atas situasi darurat yang datang sungguh-sungguh baik sekali. Orang dewasa membantu anak-anak, pria membantu wanita, suami membantu istri, kakak laki-laki membantu adik perempuan, kakak perempuan membantu adik laki-laki, bahkan orang asing membantu mereka yang lebih lemah. Semangat gotong royong ini sudah tertanam kuat di lubuk hati. Setelah melihat sosok-sosok itu bergegas menuju selter, aku merasa pemandangan saling mendukung itu benar-benar luar biasa.”

Klang-klang. Sesudah diperiksa lebih dekat suara itu dari rantai yang melilit kedua lengan Perban-san. Menurut Subaru-sama, itu kelihatannya senjata Perban-san, tapi lihatlah, melihatnya seperti ini buukankah agak modis?

Perban-san mengenakan mantel kebesaran di seluruh tubuhnya …. Anggap saja pertimbangan selera berpakaian dan itu lumayan … mm, lumayan sama sekali!

Nada perban-san sangat sopan, tetapi suaranya sedikit, bagaimana, tak nyaman? Sekalipun tinggi, terdapat semacam perasaan kepalsuan licik yang tak dapat dilewatkan seseorang yang mencari nafkah lewat suara, tetapi itu tak menguranginya sama sekali.

Mengamatinya secara holistik, yah, tidak bisa dibilang mengatakan lebih lagi itu tak penting!

“Ini melegakan, Priscilla-sama. Sepertinya lawannya bisa lancar dikomunikasikan. Perkara apakah situasinya berjalan buruk, Priscilla-sama akan kerepotan aaaaaaa, mataku aaaaa!?”

Mataku, mataku mau meleleh! Mau meleleh dan tidak mampu melihat pemandangan indah dunia ini!

“Aah, sial … kalau tahu ini bakal terjadi, aku akan benar-benar menjejalkan pemandangan-pemandangan indah di Balai Kota ke mataku …!”

“Bodoh. Angkat kepalamu. Jangan terlalu santai dan mengecewakan diriku.”

Mendengar kehangatan Priscilla-sama yang sama sekali tak hangat, wajahku yang mengkerut berkedip dan mengangkat kepala. Ah, bagus banget, mataku masih utuh. Masih bisa melihat dunia, dapat melihat semuanya. Sanggup melihat Priscilla-sama merah, dan Perban-san putih.

Beneran, ekspresi Priscilla-sama terhadap Perban-san biasa saja. Perban-san bergerak pelan memiringkan kepalanya menghadap tatapan tersebut.

Ayolah, kalau begini Priscilla-sama betul-betul jadi salah.

“Priscilla-sama, tidak boleh begitu. Anda tak boleh memperlakukan semua orang siapa pun itu dengan sikap Anda seolah-olah mereka itu anjing peliharaan. Lantas karena dada rata dan wajah saya, karena dada rata saya … bersikap seakan bernegoisasi …”

Eeeh, kenapa begini. Entah kenapa air mata mau turun.

Tetapi tak apa. Semisal aku bersikap seperti menghadapi kenyataan dada rata saya ini, bisa menjadi jembatan yang menghubungkan jiwa Priscilla-sama dan Perban-san, air mata itu bakal tertelan!

“Ayolah, atas nama dada rata saya, ulurkan tangan Anda …!”

“Memang, ini hal indah. Aku menyetujui kehangatan nona tersebut. Orang-orang bisa saling berkomunikasi, saling memahami, saling membagikan pengalaman. Hadapi kehangatan dengan kehangatan, kebaikan dengan kebaikan, cinta dengan cinta! Persis melakukannya akan membawa kebahagiaan.”

“Naaaah! Aku pun berpikir begitu! Betul, ini sejatinya cinta, kan. Priscilla-sama, ini cinta! Meskipun saya tak mampu menyangkal persetujuan ini adalah karena pengaruhnya, tapi mengikuti arus itu punya cita rasa tersendiri! Hei, ini Kota Bendungan, kota yang dipenuhi aliran air! Hei, hei!”

“…”

Perkataan Perban-san dari kata per kata telah menggerakkan hati. Uwu, akan menembus jiwa, menembusnya—

Melihat Perban-san dan aku punya pemikiran sama, tekad keras Priscilla-sama perlahan-lahan hancur, mengungkapkannya kepada kami … ekspresi tegang?

“Sampai bisa seperti itu, diriku harus akui perkiraanku terlalu rendah. Tidak ada cara lain.”

“Hah—? Priscilla-sama, mengapa ekspresi Anda seperti itu …”

Priscilla-sama yang menyentuh alisnya ibarat sedang berpikir sembari mendesah. Sosok mendesah itu bisa saja membuat potret indah, tetapi dia segera bergerak ke depanku laksana menemukan sesuatu.

Sebab perawakanku bisa dianggap agak mungil, lantas di belakang Priscilla-sama yang mengenakan sepatu hak tinggi berdiri di hadapanku, aku cuma bisa mendongak menatapnya. Menyebalkan, kenapa mendadak dekat.

“Priscilla-sama, huuuu.”

“…”

Seusai merasakan dada Priscilla-sama yang menonjol ke depan, jari-jari putih itu mencekik leherku kemudian daguku. Lalu, wajah Priscilla-sama mendekat. Lebih tepatnya, bibir bertemu bibir eeeeeh—!?

“Nnn—! Nnnnnn—! Nnnmmmnnnh—!”

Plak-plak, dug-dag, aku melawan sekuat tenaga dengan wajah memerah cerah. Tapi kekuatan yang mendekat sangatlah kuat, dan bibir yang menekan keterlaluan lembut apaan ini!!

Ah, hah, bentar, yang mengalir dari bibir Priscilla-sama rasanya cabul, ahn, uuuh, ahh.

“… haaah.”

Panas yang tak henti-hentiniya mengalir keluar membuat pusing, seketika aku sadar telah jatuh ke tanah gara-gara kelelahan. Priscilla-sama sekilas menatapku, saat lidah merahnya membasahi bibir.

“Yah, itu harusnya cukup.”

Seperti ini, seperti ini, seperti ini, bicaranya memprovokasimemprovokasimemprovokasimemprovokasi.

Aku mengusap paksa kelopak mata lembabku, mengerahkan kekuatan ke pinggan yang telah direnggut kekuatan untuk berdiri. Sungguh Priscilla-sama barusan, aaaah, aku akan memberontak!

“P-Priscilla-sama, barusan, barusan apa! Tolong, tolong tanggung jawab. Dipaksa melakukan hal itu, aku sekarang tidak bisa menikah—!”

“Mengizinkan sentuhan mulut, diriku sendiri tak mengakui ini juga. Walaupun meunggunakan kali pertama sebagai dalih itu hak prerogatifmu, tapi bukannya berkat ini kau bisa mengembalikan akal sehatmu.”

“Eh? Mengembalikan akal sehat apa?”

Setelah menginjak-injak kemurnian orang lain, Priscilla-sama sungguhan menampakkan ekspresi tak menyesal. Apakah Priscilla-sama berpikir boleh saja melakukan hal apa pun pada seorang penyair. Hiks hiks.

“Tingkahmu buruk nian. Yah, angkat kepalamu, lihat orang itu.”

“Hikshikshiks-eh?”

Sebab kelemahan seorang wanita yang akan mematuhi kata-kata tersebut, aku mengangkat kepala, kemudian melihat posisi asli mereka, Priscilla—sama dan Perban-san, tidak, hah, Perban-san?

Tidaktidaktidak, kok bisa. Kenapa aku tidak merasa tidak nyaman, dengan ramah-tamah memanggil orang itu Perban-san? Tak terjelaskan, sepenuhnya tak terjelaskan!

“Baik wanita dan mereka … sekalipun, masih ada yang berbentuk seperti itu. Kendatipun bentuk cinta semua orang berbeda, walaupun mereka punya haluan berbeda jumlah cinta mereka masih sama. Sebetulnya lebih baik mengekspresikan kecantikan manusia yang mencintai manusia …”

“—hentikan lelucon konyol ini. Sungguh tak pantas.”

Tangan orang aneh diperban itu menekan wajahnya seraya mengoceh-ngoceh dan melihatku serta Priscilla-sama, namun kata-katanya cepat membuatku merasa tak puas.

Hingga sekarang yang kelihatannya dapat dipercaya tanpa kondisi adalah kata-katanya, tindak-tanduknya, sikapnya, setelah tanpa masalah menerima kondisi-kondisi yang ditampakkan si perban aneh itu, tiba-tiba jadi terbalik.

Tidak, menerangkan menaranya karena gelap tidaklah mungkin, menganggap modis rantai merah-gelap berlumpur itu sepenuhnya salah, pada akhirnya, evaluasi orang-orang di selter sangat-sangat membuat jijik! Kau kira siapa yang membuat ini terjadi!?

“Biarpun dalam dunia ini, cinta ekstrim dan pemikiran pendek orang-orang yang tenggelam dalam kesenangan ada banyak, tetapi di antara mereka kekhusyukanmu sudah ekstrim. Menyebutmu badut tak cocok dengan sifat menjijikkan berlebihanmu, menyebutmu bodoh terlalu baik untukmu … nilai dalam kelangsungan hidupmu mustahil ditemukan.”

“Aduh, aduh, aduh aduh, begitukah? Terima kasih atas pertimbanganmu, maaf? Dengan rasa terima kasih, permintaan maaf. Kata-kataku rasanya sukar dikomunikasikan padamu … tapi, ini terjadi.”

“Aduh, lumayan masuk akal. Berkenan cepat persembahkan lehermu.”

“Benar, tentu saja. Menguras kata-kata demi pemahaman mutual, ini pun merupakan upacara penting dalam hubungan antar manusia. Demikian pula, tak lama kemudian hati akan melunak, selanjutnya bergabung menjadi satu. Lalu cinta akan menyatu, tekad kerja keras akan menyatu. Cinta ditinggikan, selama ini aku diajarkan demikian, selama ini aku hidup seperti itu!”

“Uwaaah! Walau sadarnya agak terlambat, saya baru tersadar, namun pertama kalinya saya berciuman dengan orang lain!”

“Hanya keberadaan menara terbakar yang menyambut diriku inilah yang layak dipuji.”

Waw! Meski bagiku itu sedikit membingungkan, tapi sekarang, dialognya belum terjalin sedikit pun!

Memanggil orang aneh diperban yang selama ini rasanya ibarat tak punya akal, Priscilla-sama melangkah maju dengan cara beliau sendiir, dan aku yang kehilangan arah sebab serangan di bibirku! Hei, bukankah aku sama sekali tak dibutuhkan?

“Engkau akan dibutuhkan setelah ini. Ciuman mulut ke mulut adalah untuk itu.”

“Tolong berhenti mengingatkan saya soal itu! Juga, mohon jangan menganggapnya seperti ini. Rasanya seakan-akan ketika Priscilla-sama melihat ke belakang, dada saya bakal berdegup …”

“Hasilnya yang keterlaluan efektif bisa jadi masalah. Kecantikanku memanglah dosa.”

Dari samping diriku yang mencoba menahan degup, Priscilla-sama mendesau seolah-olah diganggu kekhawatiran. Profil beliau rasanya menyenangkan sampai-sampai menyakitkan … eeeeeeh, bukan waktunya mengatakan itu. Priscilla-sama dari awal sudah gigih, tetapi lawan orang aneh diperban tidak menunjukkan tanda-tanda mundur, maka dari itu jelas jadi pertempuran! Bila aku tinggal di sini maka aku punya kewajiban!

“B, bukankah lebih baik jika saya mundur sedikit?”

“Baiklah kalau begitu …”

Hei, kenapa Anda segitunya memainkan orang.

Berikutnya, sesudah aku memikirkan kejadian ini. Telinga tajam dan penglihatanku menangkap suara. Langkah kakikah, tak salah lagi. Bukannya tak salah lagi pula, langkah kaki tersebut tidak cuma sepasang, namun ada banyak …. Tidak, lebih dari kata kebanyakan! Kebanyakannya bukan main!

“Jadi begitu, mengumpulkan semua orang terdekat dan mengkonveregensinya di sini.”

“Semua orang itu adalah yang sesuai dengan cintaku. Biar kadang-kadang ada orang keras kepala seperti kalian, tapi sebagaimana kata pepatah seketika air hujan jatuh ke kanal semua perbedaan hilang sudah. Jikalau hatimu akan diasingkan, perspektifnya bakal berubah pula?”

Apa sesuatu semacam air hujan yang dicampur mendadak akan mengkontaminasi—biarpun pepatah tersebut artinya ini, sekarang bukan saatnya meluangkan waktu memikirkannya!

Menara Pengendali terbakar! Semua sisinya dikepung kanal! Kami berada di halaman menghadap Menara Pengendali! Lalu kerumunan besar mengintip kami dari sisi lain kanal!

Betul-betul sangat banyak. Tentu bukan kek pusat konvensi yang punya seratus atau dua ratus orang! Ini seribu, atau mungkinkah lebih? Memang orang sebanyak itu mengepung kami, dan meski bilang ini tak sopan, tatapan bencana mereka melotot pada kami!

Apakah ini, artinya kondisi jiwa seseorang telah dikuasai sepenuhnya oleh Kemarahan sesuai penjelasan Subaru-sama!?

“Kali pertama kubilang, kau yang tadi memasang ekspresi sama dengan yang di sana.”

“Uwaaah, masa!? Menakutkan banget! Ah! Tapitapi, kalau begitu kalau Priscilla-sama mencium mereka satu per satu, semua orang akan sadar kembali, kan!? Misalkan bibir Priscilla-sama tak dirawat mereka bakal mengerumun aaaa!”

“Siapa yang mau beramal tanpa memerhatikan siapa yang menerima. Apa kau mau dibakar dimulai dari kulitmu.”

Pergantian peristiwa yang akan membakar kulit! Memilih jawaban keliru artinya kematian! Situasi ini terlalu tak simpatik pada orang-orang sepertiku yang sering kali bicara tanpa berpikir!

“Pokoknya, itu peranmu. Menurutmu diriku berpikir apa membawamu ke sini. Meninggalkan tugasmu sendiri dan memohon bantuanku itu memalukan.”

“Tidak tapi, ini, saya paham alasannya tapi—”

Apa yang terjadi sama banyak orang yang hilang kesadaran mereka, tanpa persiapan memadai, sebuah lagu tak bisa dinyanyikan. Jika pertunjukannya terjadi di depannya, orang aneh diperban itu barangkali mencoba mengakhiri pertunjukannya.

“Karenanya, diriku akan naik panggung.”

Sesaat aku mundur sambil bergidik, Priscilla-sama berbicara seakan merasa jijik.

Tidak, walau aku akui Priscilla-sama luar biasa, melawan banyak orang itu … hah bentar, sampai sekarang aku berpikir Priscilla-sama luar biasa! tapi memangnya Priscilla-sama beneran luar biasa?

Biarpun aku sudah melihat telapak tangan beliau memukul seorang pria muda, bug, namun selain itu tak ingat ada luar biasanya! Eeeh, karena itu biarpun Kemarahan adalah lawan satu-satunya, apakah Ikut serta sungguh-sungguh keputusan benar?

“Jangan. Jelas hubungan kalian berdua dekat sampai saling ciuman, usaha mesti diperluas agar saling memahami tuk lebih dekat. Selama hasrat menyatu, pikiran akan dapat terhubung. Sebagaimana sekeliling halaman ini, seperti halnya mayoritas, menyatu!”

Selagi orang diperban melangkah mundur, begitu pula semua orang di sekeliling halaman. Tingkah laku yang seribu orang ulangi tanpa kekeliruan sedikit pun, bisa dianggap gembilang.

Kekuatan itu membuat halamannya gemetar, permukaan air goyah, menara yang terbakar nampak miring … walaupun tak jelas cinta ini bisa diperebutkan atau tidak, tetapi tak salah lagi ini ancaman!

Bila mana perkumpulan besar itu akan mendekat tuk berusaha menangkap kami—

“Ayo, kalian juga, akan diselimuti cinta, mengalami suka cita menjadi satu—!”

Eh, hiah! Pas kukatakan beneran terjadi! Tamat sudah!

Seribu lawan dua, perbedaan jumlah ini bahkan takkan bisa diabaikan seorang pahlawan sejati.

Dengan suara ibarat raungan amarah, kala salah satu orang maju. Mengabaikan hal lain seperti kanal, bagaikan gerombolan mayat yang mendatangi tubuh perawan kami—!

Uwah! Ayah-sama Ibu-sama Kiritaka-san, maaf! Tempat-tempat selain bibir Liliana akan dikotori!

“Kalau aku tahu ini akan terjadi lebih baik tidak makai pengaman dengan Kiritaka-san …”

“Entah kau yang pesimistis atau kerumunan optimistis, kalian semua kira diriku ini siapa?”

“Eh?”

Di hadapan diriku yang berputus asa, Priscilla-sama bergerak. Tak sempat menyadarinya, Priscilla-sama memegang pedang merah—Pedang Yang. Pedang yang sudah cukup bersinar tatkala dilihat di pusat konvensi pada siang hari, malam hari tanpa matahari memancarkan kecantikan merinding.

Nyaris bak menghidupkan kembali matahari yang harusnya menyingsing—

“Gentar terhadap pedang menawanku itu wajar. Inilah api asal, api yang pertama kali menyalakan kursi kaisar—biar kepercayaanku adalah cahaya merah ini sama sebagaimana yang kalian semua kenal.”

“…”

Priscilla-sama sungguh-sungguh mengatakannya, terbang tinggi sambil memegang Pedang Yang.

Aksinya hanya bisa disebut terbang. Sekalipun terlihat jelas cuma lompatan ringan, namun selincah angin. Kelihatannya menghampiri tepi kanal di hadapan kerumunan buas yang menyerbu maju, Priscilla-sama mengarahkan ujung Pedang Yang-nya ke permukaan air.

Kemudian setelahnya mengikuti.

“—!?”

Di depan mataku, dinding merah tua menjulang—tidak, itu api, dinding nyala api.

Api kekuasaan melintasi penghalang merah tua, bahkan nampak putih. Ibarat menolak deskripsi goyah apa pun, cahaya sedih berserakan, bukti akan teror panasnya.

Jalan airnya hangus, bahkan airnya sendiri hangus. Air yang seharusnya efektif melawan api, air adalah musuh alami api—pemandangannya membalikkan gagasan alami tersebut.

Api Pedang Yang Priscilla-sama bahkan mampu membakar air.

Selain itu—semua hal yang mengelilingi kanal di sekitar halaman!

“Ini …”

Melihat pemandangan tak duniawi, orang aneh diperban—tidak, mari henitkan. Kemarahan, betul, bahkan Kemarahan tak mampu berkata-kata.

Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata seperti membara, api yang eksis. Menghentikan langkah kerumunan orang yang mencoba menyeberangi kanal, memaku mereka di tempat.

Tentu saja itu jadi masalah. Kendati ngengat yang berkerumun di sekitar nyala api adalah dekrit alam, manusia memiliki kebijaksanaan dan naluri yang sanggup melawannya.

“Meskipun hanya sekadar bentuk, penggunaan cintamu dijadikan dalih untuk menolak dominasi ini adalah kelemahan kritismu. Jikalau kekuatan ini bahkan mampu diungguli insting taat, sesuatu setingkat ini takkan sanggup menghentikan langkah seseorang.”

Memasang kuda-kuda baru dengan Pedang Yang-nya, Priscilla-sama mencemooh Kemarahan yang diam.

Mengejek, mengolok, mendusta hasrat, menghina—hal-hal itu cuma bisa disebut ekspresi indah berbahaya.

Aah, sesuatu sepenting ini telah aku abaikan.

Selama ini aku hanya melihat ekspresi kejam gagah Priscilla-sama, walaupun punya keindahan tersendiri, benar tak dapat dibandingkan.

Sewaktu jelas tiada yang lebih indah daripada kejahatan ini yang membentuk kecantikan belaka membuat bulu kuduk naik.

“Bahkan jika kehendak bebas diatasi, jika insting tak dikendalikan maka persis inilah bentuknya. Rupanya tak ada yang sampai mau dimakan api, bukti cinta yang kau bicarakan.”

“…”

“Inilah buah cinta murahanmu yang kau tangisi. Kejadian seperti ini namanya konyol, Uskup Agung. Betapa sungguh-sungguh tak mampu menandingi gelar berlebihan itu.”

Seraya mengutarakan cemoohnya, Priscilla-sama bersama momentum terus-menerus menghukum Kemarahan yang diam seribu bahasa.

Tanganku dengan sendirinya basah keringat, tatapan silih berganti ke tempat kejadian. Pikiran apakah Priscilla-sama betul-betul luar biasa atau tidak hingga bertahan sampai sekarang, telah sepenuhnya tersingkir.

Priscilla-sama luar biasa! Priscilla-sama kuat!

“Ujung-ujungnya, kata-kata layaknya cinta menjadi satu hanyalah angan. Diri tak tertandingiku berada di puncak, maka seberjuang apa kalian rakyat jelata takkan pernah bisa menyatu dengan diriku.”

Waah, Priscilla-sama luar biasa! Walaupun beliau luar baisa, tapi hah, bukannya situasinya aneh?

“Sekalipun sanggup mendekati diriku, sampai menandingi diriku absolut mustahil. Cinta yang kau bicarakan sudah dikalahkan, betul. Oleh karenanya, bicara menjadi satu hanyalah kata-kata liar.”

“Uhm, Priscilla-sama, sudah waktunya …”

“Meskipun miskonsepsi menjadi seseorang keleat keliru. Terlahir sebagai sesuatu lain, dan ingin menjadi seseorang sama saja menyangkal diri sendiri. Mengapa sesuatu yang dirimu kekurangan punya nilai misalkan didekatkan. Seluruh premisnya cacat, bertindak berdasarkan kesalahan ini sudah biasa—Sesuatu, sesuatu yang sangat vulgar.”

“Uwaaah! Kenapa absolut ditolak seperti itu!?”

Sesuatu seperti ini! Jelas karena darah mengalir deras ke kepala! Jelas!

Kendatipun darah Priscilla-sama telah mengalir ke kepala beliau barangkali masih ada sedikit pergerakan, tetapi bagi orang tak penting sepertiku, preferensi kepada diri terhomat Anda agar menahan diri untuk tak melakukannya dan akhiri pertempuran secepat mungkin!

Boleh jadi dia tahu, bagi Kemarahan yang dihadapkan kata-kata Priscilla-sama tengah menundukkan kepala dan tenggelam dalam keheningan. Yah, menghadapi banyak sekali kata-kata arogan, siapa pun bakal marah. Karena bicara balik rasanya akan membawa banyak respon, sehingga dia tetap diam geram.

Bisa dibilang seratus persen suasananya berubah jadi tak nyaman, kalau bisa Priscilla-sama mengalahkan Kemarahan-san dan sebut kemenangan itu akan melegakan.

“Bodoh. Kalau melakukan itu, artinya semua orang selain diriku akan dibelah dua, benar ‘kan. Sekalipun pemandangan kota diwarnai merah darah akan menarik, tapi tak perlu membawanya ke negaraku. Baiklah kesempatan ini harus ditunda dulu, kau pun semestinya memenuhi kegunaanmu pula.”

Ah—betul demikian. Pada akhirnya kewajibanku adalah ini semata.

Menerima pengaruh Kemarahan berarti berbagi rasa sakit dan bahkan luka yang diberikan ke orang itu. Untuk membebaskannya membutuhkan laguku.

“Setelah melihat kejadian sebenarnya, aku benar-benar sangat gelisah jadi siapa tahu laguku akan betulan berfungsi!”

“Andai tak berkenan, kepalamu dan orang-orang di kerumunan itu silahkan jatuh bersama si makhluk. Seandainya kejadian itu dihindari, tanpa gagal tempatkan hatimu ke dalam lagu.”

Aku lanjut mencengkeram kecapi, mundur sebab tanggung jawab terlampau tinggi yang dilimpahkan kepadaku.

kanal terbakar menjauhkan kerumunan, namun kerumunannya tetaplah sandera, dan cara untuk membebaskannya adalah laguku! Tugas Priscsilla-sama adalah—?

“Jadi begitu jadi begitu, sampai saya menggunakan lagu saya untuk mengguncang kerumunan terpikat, tugas Priscilla-sama adalah menjaga hidup saya, bukannya seperti itu!?”

“Kalau kau mati, sisanya cuma memenggal kepala mereka secepat mungkin. Lebih baik menganggap seluruh hidup mereka dililit tenggorokanmu.”

“Hiyah—!”

“Dasar pemahaman lamban. Baiklah sekarang … hmm.”

Setelah menutupi wajahku dengan teriakan tajam, ekspresi Priscilla-sama berubah. Priscilla-sama memberengut pada Kemarahan yang sampai sekarang terdiam.

Dengan firasat cemas, aku mengintip ke arah yang sama lewat celah jari-jariku.

“—betapa, lucunya.”

“Eh?”

“Betapa lucunya, menyenangkan sekali. Boleh jadi ini namanya kesenangan. Tidak, barangkali tidak bisa menamakan perasaan kuasa ini dalam hatiku.”

Suara lirihnya berkata demikian, Kemarahan pelan-pelan mengangkat wajah. Di wajahnya yang dikaburkan perban, mata bergelora mondar-mandir.

Menatap Priscilla-sama, di dinding api, ke aku, tunggu tolong jangan lihat aku.

“Maaf, aku barusan buyar. Akan tetapi, terima kasih. Aku sudah terbangun. Seperti ini, kalimat seperti hasrat untuk saling memahami tanpa usaha masih terlalu egois.”

Tertawakah.

Mulut monster itu membelah horizontal, mengungkap senyum gigi putih, monster itu tertawa.

Secara intim, ibaratnya menyambut seorang teman atau keluarga, ditolak seperti itu dengan cara itu!

“Mohon perkenankan aku sekali lagi memperkenalkan diri. Aku Uskup Agung Dosa Besar Kultus Penyihir mewakilkan Kemarahan, Sirius Romanee-Conti. Kuharap urusanku bisa membuat kalian tersentuh.”

Dia membungkuk, memberi salam sopan.

Selanjutnya orang aneh diperban—Sirius sang monster membuka ikatan rantai di lengannya. Pergelangan tangan memutar, melepas ikatan, melonggarkan rantai, rantainya berputar, menebas udara, suara logam demi logam mewujud kedengkian, memotong suasana.

Biar demikian, monster itu tersenyum.

“Ini Ujian! Memang, tak salah lagi Ujian! Demi kota yang sekali lagi suamiku jumpai, bertemu dirinya sekali lagi, mengekspresikan cinta dengan kata-kata, Ujian mendatangiku! Kesaksian cintaku yang ditakdirkan menemui orang tercintaku sekali lagi! Kaulah Ujian yang menghalangiku!!”

Dengan suara nyaring, hiasan seorang gadis jatuh cinta, monster itu tak henti-hentinya mengayun rantainya, memperpendek jarak menuju tempat ini dalam sekali napas. Oh tidak oh tidak, tersentuh saja sudah membunuhku.

“Setelah mengatasi kerumunannya, lawan makhluk itu adalah diriku. Jangan buat gerakan tak masuk akal.”

“Hweh? Priscilla-sama!?’

“Kau siapkan lagumu—Sekiranya satu bayangan pun mendatangi Pedang Yang, diriku tak peduli apa yang terjadi akan memotong kepala penuh kekejian itu. Sebelum terjadi, lakukanlah.”

Bahkan sampai sewenang-wenang dibatasi oleh Anda itu—!

Seolah tak mendengar kata-kataku, Priscilla-sama dan Sirius si monster saling menyerang, memulai pertempuran mereka!

Mendengar benturan sengit rantai dan pedang, kupikir paling tidak harus melakukan sesuatu.

Alih-alih menyebutnya rasa tanggung jawab, lebih condong didesak maju oleh perasaan tak jelas, aku mulai berlari menuju dinding api di kanal. Tanpa harapan.

Lari lebih cepat! Sialan, bukankah saat ini tak bisa memikirkan apa-apa!

“Lantas sementara waktu, tolong dengarkan sebentar—Hoshin dari Tanah Kosong, huuuh panas!?”

Mendekati batas kanal, aku bersiap menyapu orang-orang dalam jangkauan pendengaran ke dalam pusaran lagu, tapi langsung seketika mendekat wajahku dihancurkan api!

Tidak bisa! Beneran tidak bisa! Sekalipun paksa membuat suasana pertunjukan, dinding api Priscilla-sama terlampau panas! Panasnya ekstrim! Lebih panas dari normalnya!

Tapi tanpa mendekati batas ini, sejujurnya tak ada yang bisa melihat!

“Uuuwaah, panaspanaspanas—! Tanganku bakal hangus! Misalkan tenggorokan atau paru-paruku hangus, pertempuran ini akan kalah … benar, hah?”

Dijilat lidah api, selagi tegesa-gesa mengutuk wajah yang pasti hangus sampai tak dapat diperbaiki, aku mendapati tangan yang seharusnya dimakan api tak terluka … lebih tepatnya, bahkan kecapinya tidak dihancurkan api, yang artinya?

“Ini, bukan api biasa …?”

Tidaktidak, dari awal sudah terbukti apinya tidak biasa, tapi nyatanya api ini tak menyala? Kendati panasnya terik, tapi tak membakar?

Kalau begitu maka ini! Apinya tidak lama lagi akan ditembus ‘kan! Apa-apaan ini! Ini tiruan api yang dimaksudkan menakuti orang!? Ikut serta memang keputusan salah

2 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 65”

  1. sirius itu fortuna .. mamak angkat e emilia ..

    jd kenapa sangat menggilI betelgeuse , itu jawabnya ..
    juga pas ketemu emilia , langsung marah dan hilang akal,
    karena di masalalu , yang bikin Harmonis ny geuse sama fortuna runtuh adalah si emilia ..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *