RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 57

Posted on

Letak Jantung

Penerjemah: DarkSoul

—karena Subaru telah menyerahkan hidupnya di tangan takdir, sekitar sepuluh menit telah berlalu.

“Dahlah! Coba berusaha melakukan sesuatu sekali saja, bagaimana kalau nurut mati di sini?”

“Uwaaah!”

Regulus menendang sebuah rumah, memotong seutuhnya dengan presisi mengerikan, lalu bangunan tanpa pendukungnya runtuh tanpa daya.

Debu puing-puing yang menyertai kehancuran me

menuhi sekeliling, dan Regulus yang penglihatannya sendiri mengabur, mengklik lidah tak sabaran—Subaru kembali ke medan perang yang telah kehabisan jebakannya.

“Bergerak terburu-buru … kau sama sekali tidak ingin menyerang langsung? Walaupun aku tidak mengindahkan hubunganmu dengan lonte itu, tapi kalau kau mengaku sebagai kesatria mereka atau apalah, apa beginikah cara bertarungnya!?”

“Silahkan bicara apa pun sesukamu sampai puas!”

“Ketemu kau!”

Seandainya Subaru mencoba membantah gumam jahat Regulus, gantinya dia akan menyambut segenggam pasir yang akan mengakhiri hidupnya.

Seketika Subaru melarikan diri jauh-jauh, puing-puing yang menyembunyikannya di belakang telah menguap.

Bersentuhan dengan pasirnya menyebabkan luka fatal, kena satu serangan akan langsung membunuhnya.

Sejauh ini, semua serangan Regulus ajaibnya meleset. Karena tepat sasaran artinya tamat, berterima kasih pada keberuntungan rasanya sedikit tidak pantas.

“Konsentrasi! Konsentrasi! Konsentrasi!”

Sambil menarik napas, menyeka keringat, dia menegangkan seluruh perhatiannya untuk bersiap-siap menghindar.

Debu yang beterbangan menodai wajahnya, kemudian Subaru meludahkan air liur yang serasa dari tanah.

Menerapkan hasil latihan parkour-nya.

Berbeda dengan hari-hari tatkala latihannya tanpa tujuan, tujuan jelas kini berdampak sangat besar pada keadaan pikiran Subaru.

Di hutan dekat Mansion Baru Roswaal, diulang setiap hari sampai muak—waktu itu tidak sia-sia.

“Fuh, apa pun yang terjadi, fyuh, aku cuma orang yang bisa mengacau dengan keahlian amatir …!”

Bahkan waktu itu, dialah orang yang telah menghentikan Uskup Agung dari Kultus Penyihir.

Mempertimbangkan situasi medan perang dan kemampuan pribadi Subaru, tidak berlebihan menyebut Subaru sedang mencapai hal istimewa.

Jika Pristella bisa lolos hidup-hidup dari tangan jahat Kultus Penyihir, apa pun yang terjadi dia akan mencoba berkontribusi sedikit lagi—

“Jadi …!”

“Apa kau akan terus berusaha membunuhku dengan ini, serius mengira seseorang sepertimu bisa mengancamku? Kau cuma orang yang sedikit mengetahui rahasia Keserakahan, tapi jangan salah mengira kemampuannya untuk melawanku!”

Bahkan tanpa sempat mengatur napas, Regulus yang murka meningkatkan cakupan kehancurannya. Regulus tidak lagi peduli sebanyak apa kerusakan yang disebabkannya untuk membunuh Subaru.

 Pristella yang terkenal akan pemandangan indahnya, perlahan-lahan telah kehilangan pemandangan tersebut karena kejahatan Kultus Penyihir.

Jembatan batu yang membentang di jalur air telah hancur, toko yang detail didekorasi dengan kaca telah hancur. Mendapati perasaan indah aneh pada kilatan kaca gemetar yang tak selaras dengan pemandangan, Subaru percaya pada kaki kanannya, memanfaatkan momentum kehancuran sebagai sinyal pelarian.

Ironisnya, muncul gelombang kekuatan dari kaki kanannya.

Hitam pekat menginfeksi sesuatu asing, kaki kanannya saat ini adalah garis hidup Subaru.

Cambuknya memecut, menempel di selokan hujan bangunan-bangunan menghadap horizontal. Mempercayai tekanan cambuknya, Subaru menghentak tanah keras-keras, melintasi jalanan ibarat berlari di dinding—melewati sisi Regulus seakan-akan spesifiknya mendesak si penjahat mengawasinya dengan mata lebar-lebar, Subaru menjulurkan lidah menambah provokasi extra.

“Kau!! Sama sekali tidak tahu apa kelayakanmu!!”

Batu yang dilempar dari ayunan lengannya terbang jauh, sepenuhnya meleset dari Subaru yang melarikan diri menggunakan momentum tarikan cambuknya.

Bahkan tidak berniat menyerang sekali pun, hanya menggunakan taktik kabur.

Mereka yang tewas oleh Keserakahan, mati sebab keberanian berlebihan. Lemah, rapuh, penuh rasa takut bersikeras melarikan diri. Tentu saja orang seperti itu takkan kalah.

Karenanya, kemalangan dirinya bisa disingkirkan di sini.

Demi tujuan itu—

“Apa masih belum siap juga, Emilia?—jantung, orang ini!”


“Ada yang punya petunjuk … adakah?”

Di depan para pengantin wanita yang menjanjikan bantuan mereka, Emilia menerima misteri kemungkinan dan menggigit bibirnya.

53 pengantin berkumpul, semuanya saling melirik pada pertanyaan Emilia, kemudian menggeleng kepala pelan.

“Mohon maaf sekali. Menyingkirkan kuasa pria itu dan ingin membantumu, itu tulus. Hanya saja …”

Kepala menunduk menyesal, orang ini adalah perwakilan para istri, wanita pirang bernama Sylphy.

Di antara semua istri Regulus, dialah orang yang palnig tahu mengenai situasi terkini, lantas dia menjadi semacam perwakilan.

“Aku hampir tidak percaya bahwa orang itu akan menaruh sesuatu sepenting ituke kami. Walaupun pria tersebut memanggil kami istri, pengantin, dan sebutan lain … tapi berperilaku sebagaimana suami-istri, itu tidak pernah terjadi.”

“Meskipun aku diberi tahu tentang Regulus yang orang sangaaaat bermasalah, harusnya tidak begitu. Lion’s Heart … Regulus pasti, pasti ditempatkan pada kalian.”

Walaupun Sylphy mulai berkecil hati karena kurang petunjuk, Emilia takkan semudah itu putus asa.

Akhirnya, Sylphy dan istri-istri lain, atas kehendak mereka sendiri telah menemukan tekad untuk melarikan diri dari genggaman Regulus. Ini cuma awal tekad mereka. Berkecil hati di langkah pertama ini benar-benar tidak diperbolehkan.

Sedangkan Emilia, dia tidak sedikit pun meragukan kepercayannya pada Subaru.

Subaru luar biasa. Bukan hanya dia sadar akan hal-hal yang tak diketahui Emilia, tetapi mampu menerapkan pengetahuan dan tingkah penuh energinya menjadi solusi, apa pun kesulitan yang mereka hadapi di masa lalu. Maka dari itu …

Emilia tidak meragukan kecurigaannya bahwa Wewenang Kekuasaan Regulus adalah Lion’s Heart.

Bukan berarti Emilia bertindak tanpa pikir panjang atau kepercayaan buta.

Hanya karena dia Subaru lantas tak apa, bukan itu masalahnya. Bahkan Subaru bisa berbuat kesalahan, kadang-kadang dia bakal gagal. Akan tetapi, kesalahan itu akan dibenarkan. Atau dia akan meraih tangannya dan menjadi kekuatan yang dapat membantunya, itulah sumber kepercayaan Emilia padanya.

“Subaru pikir Lion’s Heart pasti berada di dalam para istri …”

Menyentuh dagunya ibarat merenung, Emilia mengingat rahasia kekuatan Kerakusan yang Subaru beri tahu.

—Wewenang Kekuasaan yang mampu menghentikan waktu suatu obyek, membuatnya tak berubah.

Sekalipun awalnya dia menganggap kekuatan seperti itu tidak bisa dibayangkan, Emilia mendapati terlalu banyak hal yang sesuai penjelasannya.

Mungkinkah ini sungguhan eksis? Daripada tidak pasti, lebih baik bilang—

“Itu dia, kekuatan suuuuuper tak terbayangkan sedang bekerja.”

Rupanya sesuatu ini bahkan lebih tidak masuk akal dari Divine Protection.

Sayangnya, Emilia pun kurang Divine Protection, tidak bisa memahami kekuatan yang melekat pada orang-orang yang diberkahi Divine Protection.

Namun pada Regulus, dia bisa merasakan sesuatu serupa. Sesuatu jauh lebih ganas dan jelek dibanding Divine Protection, itulah Wewenangnya.

“Jantung, jantung …”

Bagi Emilia, skenario terburuknya adalah seandainya salah satu istri betul-betul orang kepercayaan yang terhubung ke jantung Regulus. Pengantin wanita sejati ini lalu akan berpihak kepada Regulus, kemudian menyembunyikan hatinya dari Emilia.

“…”

Membiarkan Emilia merenung, para pengantin melingkari Sylphy, mengamati percakapan mereka sebelumnya untuk mencari-cari petunjuk.

Mata kecubung Emilia memperhatikan wajah-wajah mereka yang tengah dalam percakapan serius.

Di waktu yang sama, dia mengarahkan roh-roh kecil untuk mencari perubahan dalam tubuh mereka. Roh-roh kecil ini tidak teramat sensitif pada perubahan orang, sehingga tindakan mereka yang bak sedang mengetes orang-orang yang bersedia membantu jelas tidak menyenangkan.

Tetapi keraguannya telah lama melampaui batas, Aku tidak ingin meragukannya.

“Mmm …”

Roh-roh kecil memberi tanggapan.

Biarpun tidak bisa dibilang pasti, para istri memberi reaksi jelas. Dalam lingkup yang bisa diamati Emilia, jelas tidak ada istri yang menjadi orang kepercayaan Regulus.

Dalam hal ini, satu-satunya kemungkinan lain yang muncul di benak adalah—

“Eh?”

Mendadak merasa seakan-akan rambutnya disisir, Emilia langsung mengangkat kepala.

Di depan mata, menari-nari di garis pandang Emilia adalah roh kecil bercahaya biru. Roh kecil yang semestinya melacak salah satu pengantin, bergerak-gerak di udara ibarat hendak menyampaikan sesuatu ke Emilia.

Matanya menelusuri garis gerak roh itu, dia dapati sekarang tengah menghadap Sylphy. Dia pun sekarang ini bekerja keras, sebagai penyanyi utama paduan suara para istri yang memberontak melawan Regulus.

Roh-roh kecil itu bergerak mondar-mandir tidak jelas di punggungnya, seakan naik turun.

“Hei, bisa bicara sebentar?”

Dipanggil Emilia, Sylphy berbalik dan ekspresinya kaget. Emilia menghampiri Sylphy, melirik roh-roh kecil yang menegaskan kehadirannya di dekat dada.

“Apa?”

“Maaf sebentar.”

Orang-orang di sekitar Emilia tidak dapat melihat roh-roh kecil yang tidak punya bentuk fisik. Lantas, seberusaha apa pun roh-roh kecil berusaha berkomunikasi, mereka tidak bisa mengjangkau siapa pun kecuali Emilia.

Jadi, ketika Emilia tiba-tiba mengulurkan tangannya ke dada Sylphy, Sylphy balas menatap Emilia seolah-olah terkejut.

“Eh? Eh-eh-eh?”

“Tunggu, tolong diam sebentar. Aku sedang memeriksa sesuatu sekarang.”

“Kau memeriksa apa, hei, kau periksa apa …?”

Pipinya memerah, Sylphy menanyai Emilia tanpa mampu menutupi keterkejutannya.

Selanjutnya Emilia dengan wajah seriusnya menjawab Sylphy.

“Ritme, jantungmu.”

“—!”

“Itu karena aku ini spiritualis. Biarpun mitra kontrakku sedang cuti, aku masih bisa berkomunikasi sama roh-roh kecil. Aku meminta roh-roh kecil tersebut untuk menyelidiki tubuhmu, terus tanggapannya detak jantungmu aneh.”

“Jantungku …?”

Sylphy menelan seteguk air liur.

Ekspresinya sepenuhnya mengejutkan tak percaya. Kejutannya wajar. Lagi pula, dia baru mendengar ringkasan Lion’s Heart, sebelum diberi tahu detak jantungnya telah berubah.

Kalau segalanya sudah seperti ini, maka penjelasannya hanya satu—

“Terlalu cepat … Regulus menggabungkan jantungnya, bersama jantung orang-orang yang dia klaim sebagai istrinya …!”


“Kau anggap bagaimanapun, sekalipun kau menunjukkan citra kebajikan sembari membaca retorika terhormatmu, asal perkiraan pertempuran untuk mengulur waktumu sejatinya akan membuahkan hasil, masih misteri sepenuhnya bagiku. Meski aku tak tahu cara kau memahami kekuatanku, namun kini setelah memahaminya benar-benar, kau masih ingin terus berjuang?”

Seraya melirik Subaru yang berdarah-darah, Regulus tampak sedang mendongak menyombongkan kemenangannya.

Kolaps di tanah, terbaring di sisi bangunan sembari menarik napas kesakitan, separuh wajah Subaru dinodai darah segar.

“Ah, guuuh …”

“Biarpun aku membiarkanmu lari ke sana-kemari, kau bosan sekali setelah tumbang. Yah, wajar sih. Tak mungkin tidak seperti itu. Mengingat perbedaan antara kau dan aku, ini semata-mata menuai panen ketika panennya selesai. Dengan ini, pada akhirnya, tanpa suasana hati tidak menyenangkan, akhir telah tiba.”

Menghampiri Subaru yang kolaps, tumit Regulus menghancurkan bebatuan yang mengotori jalannya. Wewenang Kekuasaannya masih aktif, seakan-akan ingin disaksikan.

“Singkatnya, bukannya kau merasa ini salahmu karena teramat sombong? Sampai sekarang, banyak orang sepertimu yang ingin mengalahkanku atau bertarung melawanku. Tetapi kesemua orang itu, tidak satu pun berhasil menyentuhku. Inilah nasib orang-orang yang hasratnya melampaui kemampuan mereka, hukum alam absolut. Kau mengertikah?”

Uskup Agung Dosa Besar Keserakahan membahas kodrat hasrat, menegaskan penghinaannya kepada mereka yang membiarkan hasrat berlebihannya mengorbankan diri sendiri.

Mempunyai hasrat berarti menciptakan perjuangan tanpa makna. Mempunyai hasrat akan menciptakan kelaparan tanpa batas. Mempunyai hasrat akan menciptakan kekejaman tiada batas.

Persis karena inilah, berharga jika tidak mempunyai keinginan dan hasrat.

Berdoa saja jika kau miskin, agar talentamu bisa optimal.

“Puas saja dengan masa kini, mendamba sesuatu di luar kemampuan sendiri akan membawamu ke kehancuran. Berkumpul satu sama lain tetapi menolak belajar, kalian sekelompok makhluk tanpa harapan nian.”

Sembari mendesah, Regulus menyelipkan tangan ke rambut putihnya, kepala menggeleng seolah-olah mabuk pergolakan tragedi.

Akan tetapi, kesedihan dalam suaranya bukan pura-pura. Regulus kurang lebih dari lubuk hatinya, mendesau atas kebodohan Subaru dan orang lain yang bukan dirinya sendiri.

Suara sok benar, suara kesepian seorang mahakuasa tak dikenal.

“Sebelum … aku mati … kekuatanmu …”

“Hah? Aaah, persembahan terakhir, sesuai kata pepatah? Kau mempercayai sesuatu sekuno itu. Kau mengalahkanku dengan pengetahuan tak relevan, itukah yang coba kau katakan?”

Regulus tertawa sesaat melihat Subaru yang napasnya nampak hampir tercekat, mengharapkan jawaban terakhir tersebut. Tanpa jalan keluar satu pun, yang tersisa dari eksistensi menyedihkannya hanyalah kematian yang ‘kan terjadi.

“Yah, kau sudah sampai sejauh ini. Hingga akhirnya, aku aku akan memberikan imbalan untuk pribadi tak bermanfaatmu atas usahamu. Akan kuberitahu, bahwa waktu yang kau ulur sampai titik darah terakhir, semuanya sama sekali tak berguna.”

“Tak berguna … katamu …”

“Semuanya sangat sederhana. Jantungku yang kau dan wanita itu cari-cari memang diemban oleh istri-istriku—Namun, perihal siapa pun di antara mereka yang mengembannya, baik aku atau mereka tidak mengetahuinya. Hak keadilan, cinta terbagi rata, dan tanggung jawab serta kewajiban yang mereka tanggung pun sama.’

Menghadap Subaru tercengang, Regulus mengangkat bahu seperti, Yah, kek gitu?

“Kepada mereka yang punya banyak istri, memperlakukan mereka secara adil itu jelas. Selain sejumlah pembenaran cerdas, hanya mereka yang mempraktikkan kesetaraan diizinkan menggunakan Wewenangnya. Dengan kata lain, aku mempertaruhkan hidupku. Terus-menerus, mewujudkan cintaku pada mereka.”

“Lalu para istri tidak tahu kondisi jantung ini karena?”

“Alasannya tidak rumit—Tak henti-henti mendengar suara jantung seseorang setiap harinya, takkan ada seorang pun di luar sana yang menggubrisnya, kan?”

Melihat Regulus yang tertawa dengan mulut terbuka, Subaru paham.

Metode yang digunakan Regulus tuk menyembunyikan hatinya, metode jahat tersebut.

Sederhana dan efektif, lebih defensif dari metode lain.

“Jantungmu dan jantung istri-istrimu, kau …!”

“Mengelola properti suami termasuk kewajiban istri. Tapi tahukah kau, karena aku ini pria tanpa hasrat. Sedari awal, aku tak punya harta tak berguna yang sebanyak milik banyak orang, sepertimu. Jadi, yang aku percayakan kepada istri-istriku adalah keberadaanku pribadi … sungguh indah, bukannya ini intisari cinta pernikahan?”

—menjijikkan.

Wewenang kejam tanpa sadar Regulus. Tanpa kejahatan, tanpa pertaubatan, dia yakin bahwa itu adalah tatanan dan proses alami.

Subaru sudah memikirkan sejumlah teori tentang Lion’s Heart yang tersembunyi, sebelum mengirim Emilia ke gereja. Tapi mau diapakan, ini bukan salah satu teori Subaru.

Terlebihi lagi, misalkan tak seorang pun mampu menghancurkan—

“Sesuatu melebihi akal … Emilia, tidak mungkin dia bisa melakukan sesuatu.”

Barusan, seumpama yang dibanggakan Regulus dengan wajah penuh kebanggaannya adalah keseluruhan Lion’s Heart, maka seharusnya ada metode untuk menghancurkannya. Andai bisa disampaikan ke Emilia, dengan kekuatannya, Emilia dapat cepat mengurusnya.

Yang jadi pertanyaan bukan kemungkinan, tapi kebenarannya.

—itu dia, pilihan hidup-mati.

“Hah? Hei, kau …”

Selagi bangun berdiri dengan ekspresi jijik, tatapan Regulus tidak paham selagi melihat Subaru yang menatapnya.

Terjebak dalam penghancuran kota, Subaru yang hingga kini di ambang kematian, menyapu debu dari lututnya sambil berdiri, masih melotot. Sejenak sesudahnya, Subaru mengangkat alis, ahh, seketika melihat keraguan Regulus.

“Pura-pura mati … ah, tidak. Pura-pura di ujung tanduk kematian. Karena batu terbang mengiris dahiku, aku cuma mau mencobanya, itu saja.”

Wajahnya dicat darah dan berpura-pura kesakitan sampai sekarang.

Wajah serba senyuman, Subaru menatap Regulus yang dipermainkan sesuai rencananya.

“Aku percaya padamu. Kau ini pasti jenis orang yang pas mendapati musuh sekarat terus kau akan dengan angkuhnya menyombongkan kemenangan seraya mengoceh tanpa henti.”

“—!”

“Whoa!”

Melompat bangkit, tubuh Regulus terbang maju lurus.

Kecepatannya sangat gesit, gerakan normalnya kikuk, dia terbang lurus langsung. Pada momen-momen langka ini, akselerasi Regulus bahkan dapat mengejutkan Reinhard.

Akan tetapi, tanpa sempat melihat mekanismenya, Subaru tidak tahu banyak soal itu.

“Fuu!”

Mengakselerasikan kaki kanannya, tanpa ragu-ragu tubuhnya terbang ke sisi kiri. Tujuan Regulus adalah menghantam langsung Subaru, namun dia digagalkan batas linearitas.

Sinngkatnya, kemampuan manusia super Regulus sesaat adalah hasil aplikasi pembekuan bentuk fisiknya. Kekuatan pria itu adalah tatkala tubuhnya terputus dari dunia dan tidak lagi terganggu. Jika dia mendadak menyerang dengan cara itu, entah gravitasi atau resistansi udara ataupun kelembaman, takkan bisa menahannya.

Tidak selalu berefek karena hal-hal itu adalah pembatas—

“—uughh, dasar brengsek!”

“Justru aku yang mau teriak …! Mesti cari jalan ke Emilia …”

Posisi jantung Regulus, mutlak perlu diberi tahu.

Memberitahunya, kemudian membuat pilihan. Metode apa yang tersedia—

Demi menyelamatkan kota, Emilia diperlukan.

“Emilia …”

Berbeda dari Regulus yang mengumpulkan momentum, Subaru melihat arah gereja tempat Emilia harusnya berada.

Di tengah-tengah kehancuran, jalan yang tidak bisa dilintasi akibat perbuatan Regulus, di tengahnya terdapat gereja setengah hancur.

—tempat itu sekilas berikutnya, diselimuti cemerlang sinar biru dan putih.

Jantung para istri dan Regulus bergabung.

Kesimpulan Emilia menggemparkan semua istri yang mendengar di sekelilingnya.

Sylphy yang paling terpengaruh, mendapati dirinya penerima jantung yang sama.

“Jantungku … dan …?”

Sesudah tangan Emilia ditarik, wajah Sylphy tertegun sembari mundur selangkah-selangkah. Wanita yang berdiri di belakangnya dengan cemas menyentuh punggung Sylphy.

“Jangan sentuh aku!”

Sekejap berikutnya, Sylphy refleks bicara sambil mengayunkan lengannya.

Ibarat ingin menjauhkan istri-istri lain darinya, mempertahankan posturnya, dia menatap Emilia.

“Kau yakin tidak keliru?”

“Kata roh kecil itu tidak alami. Aku, juga bisa merasakan sedikit tumpang tindih dalam suara detak jantungmu.”

“…”

Sylphy menyentuh dadanya, memejamkan mata seolah memastikan perkataan Emilia. Kecepatan, kekuatan, dan interval detak jantungnya bergema di tenggorokan, dia menghela napas dalam-dalma.

“Begitu … sebesar apa, sampai mana lagi dia ingin menginjak-injak jiwa orang lain, dasar pria itu!”

“Tunggu sebentar, kau mau melakukan apa!?”

Mengekspos senyum teramat-amat kering, Sylphy berjalan ke kedalaman gereja. Setengah hancur oleh serangan Reinhard, di sudut gereja berserakan pecahan dari langit, kaca berukiran indah.

Sylphy mengambil pecahan kacanya kemudian berbalik.

“Kau mengerti ‘kan, skema orang itu. Memaksakan kelemahannya kepada orang lain, lantas memaksakan keputusan kepada mereka pula.”

“Keputusan … maksudmu.”

“Demo menghentikan jantung pria itu, menghentikan jantungku sendiri adalah satu-satunya cara yang layak. Sebagaimana perkataan pria itu, sampai kematian memisahkan kita, bukannya begini?”

Sembari memainkan pecahan kacanya, suara Sylphy bicara sembarangan. Emilia paham maksudnya, di waktu yang sama memahami pesan yang mendasarinya. Pencerahan Sylphy dan kebencian Regulus.

“Bentar, jangan! Pasti ada, pasti ada cara lain …”

“Cara sebagus itu, kau yakin itu ada? Jantung kami yang sudah saling bergabung, menghentikan jantung pria itu tanpa menghentikan jantungku, tidak bisa dilakukan, dan lagi …”

“Jangan menyerah segampang itu! Seandainya aku biarkan seperti ini, buat apa aku …. Buat apa aku meninggalkan hutan itu!”

Sekali lagi harus ada korban.

Karena kekuatan dan pengetahuan Emilia kurang, pengorbanan sekali lagi akan terjadi di hadapannya. Seperti semua orang di hutan. Seperti halnya Fortuna atau Geuse. Seakan-akan ingin mengubur yang tidak dapat dijangkau Emilia, semua orang kecuali Emilia cenderung menggunakan kehidupan mereka sendiri.

“Hari-hari menjadi istri pria itu sulit sekali.”

Putus asa, emilia mempertimbangkan apakah terdapat cara lain.

Selama waktu ini, jantung Sylphy pelan-pelan menenang, jelas menghampiri akhir hukuman, dia perlahan-lahan mulai membulatkan hatinya.

“Hanya untuk menghindari penyulut amarah pria penguasa itu, aku memegang erat kesadaran akan kematian. Mengesampingkannya entah sebrutal apa pria itu, menyambut para pengantin baru … hanya kepada anak-anak yang sama posisinya sepertiku, apa pun yang terjadi, aku mau melindungi mereka. Sama dengan yang aku temui pertama kali, dengan yang melindungi mereka sebelum aku.”

Bertindak sebagai wakil para istri, memposisikan dirinya di depan semua orang lain apa pun yang terjadi, kini makna sejatinya jelas.

Sebelumnya dia orang lain. Memicu kemarahan Regulus, seseorang yang berdiri di garis depan semua wanita yang tertangkap ini. Setelahnya Sylphy meraih tekadnya, sebab sekarang para istri tetap diam.

“Kendatipun semangat kami dinodai orang itu, sebab dia takkan pernah menyentuh tubuh kami …. Tentu saja, kalau keduanya dinodai, kami dari lama takkan bertahan. Jadi hingga hari ini, apa pun bahasa atau suara atau perilaku dia, tanpa akhir kami tahantahantahantahantahantahantahantahantahantahantahantahan, namun!”

Sudah sampai titik ini, Sylphy yang menggigit bibirnya memiringkan kepala ke atas.

Di mata besarnya, terdapat tetes air mata besar, sekaligus amarah yang terasa cukup membakar hingga bahkan menguapkan air mata tersebut.

“Tangan pria itu, telah mencemari bahkan tubuhku! Kupikir setidaknya bisa melindungi tubuhku, tapi bahkan sesuatu yang ingin seingin itu aku lindungi dari awal tidak pernah diselamatkan!”

Air mata mengalir menyertai teriakan yang merobek jiwanya sendiri, lalu tangan Sylphy menyeka darah. Kaca yang dia genggam telah mengiris telapak tangannya, walau dahinya memberengut terhadap rasa sakitnya, sudut-sudut mulutnya segera menenang.

“Gara-gara wanita yang punya luka dianggap tidak normal, bahkan memar sedikit pun sama saja mati oleh pria itu. Luka itu, adalah kebebasanku.”

“…”

“Mana mungkin ini salahmu. Aku kelewat berterima kasih padamu. Terhadap dia, balas dendam setiap harinya hingga sekarang, cara lebih baik tentu takkan ditemukan di mana pun.”

Disertai sedikit senyuman pada Emilia, Sylphy menatap istri-istri lain—memandang mereka yang dapat disebut rekan-rekannya.

Kemudian kedua tangannya mencengkeram kacanya sendiri, dia tempelkan ke dada.

“Jika aku mati, jantung ini akan dipindahkan ke orang lain. Ini pasti. Orang itu takkan memanfaatkan diriku seorang sebagai perisai buat jantungnya. Seperti itu, semua orang tak punya dalih untuk tidak mengetahui sifat keras kepalanya.”

“Jelas demikian.”

Sosok pengantin yang menggumam lembut kata-kata itu masih tak diketahui.

Seakan-akan menyetujui perkataan Sylphy, istri yang menjawab muncul dari kerumunan. Seorang wanita berambut cokelat panjang, dia juga mengambil salah satu pecahan kaca yang tersebar di bawha kaki Sylphy.

“Sesuatu seperti kematian, aku pun sudah mempertimbangkannya berkali-kali. Biarpun aku hidup seperti ini, tidak bisa dibilang aku sungguhan hidup. Lebih baiknya bereuni dengan keluargaku di akhirat.”

“Alasanku tak melakukannya bukannya mau mati. Sekalipun dibebaskan dari rasa sakit ini, aku tidak punya kenangan hidup indah.”

“Tapi, andaikan mati … andaikan hidup bisa membawa dendamku kepada pria itu … andaikata kematianku tanpa makna …”

Satu per satu, para istri maju dan mengambil pecahan kaca.

Para pengantin wanita memandangi ujung-ujung tajam itu, seolah-olah memandang harapan mereka. Didorong peluang ucapan Emilia, para istri menemukan harapan mereka, menemukan sesuatu yang bisa dihabiskan hidup mereka.

“Terima kasih, kami terlampau berterima kasih kepadamu—Pria itu, selain kami, dia tidak punya istri lain. Sesuatu ini dapat kami jamin. Jadi, kami akan merepotkanmu atas apa yang terjadi selanjutnya.”

“…”

“Tolong bantu kami bicara. Kemarahan kami, mesti menjangkau pria itu—Kami hanya dapat merepotkanmu, setelah didesak dia lalu menolaknya sepenuhnya, kau seorang yang dapat melakukannya.”

Permintaan Sylphy dituturkan dengan suara penuh kehangatan.

Semua istri mendekati pecahan-pecahan kaca kotor gereja hancur saksi pernikahan, memegang pecahnnya di tangan mereka sebagai simbol, memilih tujuan akhir mereka.

Mengarahkan ujung tajamnya ke leher memucat mereka, napas terakhir sebelum bunuh diri—

“Sebentar.”

Perbuatan mengundang kematian pasti itu dihentikan kata-kata Emilia.

Emilia kini terdiam. Kata-katanya mengandung kekuatan. Baik arti fisik maupun metaforis.

Tangan-tangan es menjangkau-jangkau dari tanah dan menyegel pergerakan para istri. Gerakan menebas bunuh diri berhasil dihalangi, sukses mencegah tindakan bunuh diri mereka.

Mata membelalak Sylphy menyaksikan aksi Emilia, lanjut bicara dengan suara gemetaran …

“Kumohon, tolong pahami kami! Perasaan, perasaanmu, aku teramat-amat berterima kasih. Tapi metode apa pun selain ini …”

Tiada arti namun kematian dapat membayar kembali.

Tiada arti namun kematian mampu menghantam pria tersebut, menghantam Regulus.

Itulah keputusan Sylphy, para istri.

Menghentikan jantung mereka sendiri, jawaban menyedihkan ini pun Emilia pahami. Lantas tuk mencari tahu cara menyangkalnya, berpikir dan berpikir, selama ini dia pikirkan cara.

Jadinya—

“Maaf. Tidak seperti ini.”

“Eh …?”

“Kalau Subaru, dia barangkali menemukan cara. Tapi kepalaku sedikit lamban, jadi sekeras apa pun aku berpikir, tidak dapat petunjuk satu pun …. Jadi …”

Di sekeliling Emilia yang tengah bergumam, cahaya biru-putih cemerlang mulai menari-nari.

Mendapatkan mana, cahaya bergerak-gerak adalah roh-roh kecil yang memasuki mode terlihat. Seolah-olah menelan seluruh bangunan runtuh, kumpulan berjumlah besar roh-roh kecil mulai muncul—itu, dengan kata lain, pemandangan sesakral impian, kemudian Sylphy dan lainnya menahan napas.

“Aku ingin, menghentikan detak jantungmu—Karena semisal aku menusuk lehermu dengan senjata seperti itu, kau takkan mati mudah.”

Seusai emilia mengangkat tangan, roh-roh kecil kelihatan mengikuti gerakannya sembari bersinar, salju biru mulai turun di gereja. Salju berlapis tipis di sekitar para pengantin, menyikat kulit mereka, mengubahnya menjadi kristal putih.

Sihir yang sanggup dirapalkan Emilia ini paling lembut dan paling kejam.

“—maaf. Aku cuma bisa menggunakan metode ini.”

“Tolong jangan minta maaf.”

Setelah menyadari niat emilia, Sylphy mendesah lega. Perasaan para istri sama. Mereka menatap Emilia, tidak mampu mengujar satu suara pun, dan bicara serempak.

“Makasih.”

“…”

Berikutnya, cahaya cemerlang menyinarkan biru-putih menelan gereja—

Tombak es membumbung laksana serangan dari langit beku sepenuhnya menyegel sekeliling lingkungan gereja.

Membentuk suara sangat sedih seolah turun dari langit, ibarat langitnya sendiri telah memutih dan mati. Dalam susunan es yang bangkit itu, sebanyak apa sedih yang terkumpul?

Tidak satu orang pun, kecuali yang bertanggung jawab atas kejadian ini, memahaminya.

“… Emilia.”

Es yang diciptakan pusaran magis terlampau kuat tiada bandingnya, hanya Emilia seorang yang mampu membuatnya.

Lion’s Heart … benar-benar telah ditundukkan—bersama hidup para pengantinnya yang berkumpul, detak jantungnya telah berhenti. Satu-satunya metode.

Kemudian, metode itu mustahil diwujudkan.

Subaru bahkan bersiap-siap menghadapi kegagalan emosional Emilia mencapai gereja.

Tapi, sesudah melihat tontonan itu jawabannya jelas.

—jawaban itu, dipilih oleh Emilia.

“Hei-hei, bukannya ini sedikit …”

Regulus melihat ke arah yang sama seperti Subaru, siapa bisa membayangkan hasil susunan es ini, pipinya mulai mendenyut. Tempat es-esnya berdiri adalah tempat para istrinya saat ini, Regulus juga mengerti dengan baik. Serta makna tontonan itu.

Lantas.

“Kalian berdua! Inikah tujuan kalian! Inikah sesuatu yang mampu dilakukan manusia!? Merenggut orang tercinta orang lain sewenang-wenang tanpa izin! Sedingin … sedingin apa hati kalian hingga melakukan hal sekejam itu—!?”

Regulus menginjak tanah seraya berteriak pada Subaru yang berdarah.

Solnya menghancurkan batu tulis, bahkan mendistorsi bumi hingga membuat ilusi laksana kotanya sendiri hancur.

Bergegas maju tanpa pikir panjang, Regulus menunjuk Subaru.

“Puas? Kau puaskah?! Cuma untuk membunuhku seorang, kau beraninya merebut nyawa semua istriku yang tak bersalah, bahkan merasa bahagia melakukannya, kemanusiaanmu—”

Mulutnya meludahkan sumpah serapah kotor, badan Regulus yang membicarakan kesedihan karena sesuatu direbut darinya mendadak terbang.

Karena, tombak es yang dikirim seorang gadis dari gereja.

Tombak es menghujam Regulus dengan momentum mencengangkan, tanpa henti menyerang tubuh Regulus yang berdiri tegak. Tubuhnya diterbangkan layaknya boneka, di tengah terbangnya beberapa tombak es datang ke arahnya.

Momentumnya tak berhenti sampai itu pula, tubuh Regulus bak dibanting langsung menuju jalur air, dengan suara retakan keras di jalur air yang membeku, menjadi patung es berbentuk Regulus.

“—semua yang terjadi barusan, anggap saja penceraian dari istrimu.”

Melangkah menyusuri jalan-jalan membeku, Emilia kembali ke medan perang yang mengkilat sinar keperakan.

Dia berdiri di jalan runtuh, menatap Subaru yang mendekat, mata kecubung sedihnya memicing.

“Subaru, luka-luka itu …”

“Aku baik-baik saja! Cuma goresan yang sedikit lebih berdarah. Lebih pentingnya lagi, gereja … mana istri-istri lain?”

“… semua orang, ingin mengalahkan Regulus. Jadi …”

Mengalihkan pandangan, perhatian Emilia sepintas melayang kembali ke gereja.

Reaksinya sudah cukup, cukup menyampaikan pilihan Emilia bukan pilihannya seorang. Bobot pilihannya pun, Subaru tidak harus menanggungnya juga.

“Tapi, tapi efek Lion’s Heart terganggu. Trik tak terkalahkan pria itu mestinya hilang.”

“Tidak. Sepertinya bukan sesuatu yang gampang diselesaikan.”

“Eh?”

Pengorbanan dari hasil pilihan kita, sepatutnya adalah harga atas jawabannya, Emilia menggeleng kepala pelan ke arah Subaru yang sedang memikirkannya.

Selagi dia kagum oleh reaksinya, es yang mengisi jalur air di belakang mereka mulai retak.

Retakannya mengembang, bahkan memengaruhi aliran jalur air yang tersumbat. Keruntuhannya menyebar ke letak jalur air bersilangan dengan aliran air, sol sepatu Subaru sudah tenggelam dalam air meluap-luap.

“Sungguh-sungguh arogansi konyol, vulgar tak terobati, ketidakmampuan yang membuat orang kehabisan kata, tidak mengenal malu membawa keraguan, inferioritas tanpa harapan …!”

Meninggalkan kanal, pembunuh yang lepek namun tidak basah sedikit pun itu menghampiri.

Jas putihnya tak ternoda, rambut putih tidak tertiup angin, wajah putihnya bebas dari luka. Esksistensinya bagaikan angan-angan—tidak, lebih baik menyebutnya mimpi buruk yang muncul tengah hari.

“Kini, ulah kalian selanjutnya apa? Kalian berdua, bagaimana tanggung jawabnya? Biarpun kau tanpa henti ngomong terus-terusan kek melakukan hal besar, ujung-ujungnya cuma berbuah kalkulasi gagal, pada akhirnya hanya ada pengorbanan belaka, bagaimana caramu memperbaiki situasi ini!?”

Rupa Regulus yang murka sampai sinting, efek Lion’s Heart tak berubah dan belum hilang.

Emilia melancarkan serangan sekaliber itu, jangankan terluka, bahkan bekas-bekas serangannya tidak terlihat sama sekali.

“Kok bisa! Baru saja kau membicarakan efek tanpa henti Lion’s Heart …. Menggertak pikiran di situasi seperti itu, bisa-bisanya orang sepertimu melakukannya!” kata Subaru.

“Kau kira aku sebaik itu sampai-sampai mau menutup telinga pada yang harusnya tak diabaikan? Kubilang, bukannya gagasan tak melanggar etiket orang lain itu dasar!? Jelas tidak ada yang meremehkan hak-hak orang lain, jadi bagaimana mungkin kalian berdua selalu melakukan sesuatu kek orang kurang mental? Kesampingkan Nurani, bahkan kecerdasan dasar pun kalian kekurangan?” balas Regulus.

Menghadapi ucapan provokatif tak disengaja dari Subaru, Regulus melihat ke bawah dan memasang wajah tak terkesan, mengetuk kepala berambut putihnya.

“Nyatanya, perhitungan sombong lonte itu salah, kan? Tidak ingat jumlah nyawa sekalipun dialah yang mencurinya, cara berpikir seorang pembunuh. Pasti ada yang salah soal itu.”

“Sejak kapan kau berhak mengatakannya …”

“Jangan diam-diam mengubah topik. Apa pun yang aku lakukan untuk mengencani mereka dan semacamnya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa tak tahu terima kasih. Jangan berpaling dari dosa yang kau lakukan. Jangan berpaling. Membuang masalahmu sendiri lalu menyalahkan pihak lain, tidakkah kau malu menyebut dirimu orang?”

Ke mana pun dia pergi, Regulus mengemban kemarahan mengesalkan tuk menjatuhkannya kepada orang lain.

Tidak membawa sedikit pun keraguan tentang cara hidupnya, dialah Regulus Corneas.

Sebanyak apa pun kontradiksi yang muncul pada rangkaian pidatonya sampai dia puas.

Ceramah Regulus benar-benar merusak kewarasan. Menghadapi Uskup Agung Dosa Besar Kultus Penyihir, nyatanya menjadikan ilusi bahwa normal itu salah.

“Tapi … lihat, kau salah perhitungan.”

Pengganti-pengganti untuk jantung Regulus, apakah menghancurkan semua penggantinya bisa mengangkat ke tak terkalahkan Regulus?

Dalam teori seharusnya tidak ada masalah. Selama pertaruhan hidup berisikonya, Regulus telah membuktikan bahwa dirinya tidak begitu pintar untuk mengartikan kata-kata terampil sebagaimana Subaru.

Regulus tak sanggup memperdaya atau mengandalkan kefasihan berkata-kata menyesatkan.

Dia betul-betul tidak dapat mengubah cara berpikirnya. Di dunianya, hanya ada dirinya seorang. Pernikahannya jadi-jadian, perkataannya ideologis belaka, pertempuran dipimpin orang luar. Cara hidupnya semata-mata kebencian murni—hampir persis seperti Raja Kecil.

“53 orang …”

Di samping Subaru gemetaran, Emilia bergumam.

Sampai sekarang di hadapan kekeliruan Regulus, sumpah serapah, komplain tak terungkap, tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Hanya satu kalimat, kalimat itu saja yang dia tutur.

“Hah? Apa? Barusan, kau bilang apa?”

“Aku bilang, 53 orang. Jumlah wanita yang secara paksa kau paksakan menyertaimu. Mungkinkah aku salah? Itu mustahil banget. Aku tidak pernah salah menghitung jumlah nyawa.”

“Hmm—mmm. Terus? Terus apa? Kau coba mengatakan apa?”

Dengan perilaku merendahkan, Regulus menolak pernyataan tenang Emilia. Jarinya mengorek kuping, sikap penuh cemooh.

Bahkan sarkasme yang paling Subaru kuasai ingin memuji lagak tak tahu adat Regulus. Seketika Subaru hendak menerima provokasi Regulus, Emilia menatap langsung dirinya. Selanjutnya Emilia menggeleng kepala sedikit pada Subaru yang napasnya tertahan.

“Tak apa, Subaru. Aku sekarang mengerti.”

“Mengertinya, maksudmu …”

“Dan, karena aku sangat-sangat marah sekarang …. Takkan lagi, aku memaafkannya.”

Merasakan takut sedang meremas dadanya, Subaru melihatnya.

Pada wajah lembut tersebut, suara lembut Emilia ditemani emosi yang lenyap tanpa suara. Membekukan perasaannya seperti itu, adalah Emilia paling murka yang dia lihat hingga kini.

Sikapnya memperlihatkan nyala api dingin bergulir di mata membeku, Emilia menyentuh dadanya.

Lalu, berkata.

“Jantung Regulus di sini—Saat ini, berdetak dalam dadaku.”

7 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 57”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *