RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 56

Posted on

Menandatangani Surat Penceraian

Penerjemah: AerithMatiLagi

—Wewenang Kekuasaan Keserakahan terkait dengan nama bintangnya, tampang sejati Invincibility-nya.

Nama-nama bintang yang Subaru ketahui, selaras dengan nama para Uskup Agungnya.

Etimologi Betelgeuse, Tangan Orion cukup pas seperti Unseen Hand milik orang sinting Betelgeuse Romanee-Conti.

Karenanya, Subaru yakin bahwa nama-nama julukan bintang melekat erat dengan Wewenang Kekuasaan Uskup Agung mereka.

Lalu Uskup Agung Keserakahan bernama Regulus Corneas. Nama Regulus bahasa latinnya Leo, yang artinya Raja Kecil sekaligus—Jantung Singa.

Meskipun dia pernah mencemooh idenya, Subaru sadar gagasan ini bukannya tak berarti dan alhasil mengejar alur pemikirannya, sehingga tiba pada suatu hipotesis.

Dari awal, bagaimana definisi sang Raja?

Kerajaan Lugnica saat ini berada di tengah pemilihan raja, setiap kandidat menunjukkan Status Raja mereka. Walaupun setiap visi Status Raja cepat atau lambat akan terungkap, Subaru ingin mengangkat topik Raja di sini, dalam situasi di mana dirinya mengambil makna yang lebih umum.

Raja yang diproklamirkan ini merupakan perwakilan kerajaan, dia yang berdiri di puncak.

Menguraikan definisinya, suatu bangsa bisa didirikan dari apa pun, namun satu orang tidak bisa menjadi bangsa.

Raja yang melambangkan negara eksis dari Warga Negara di dalamnya.

Mengikuti garis pemikiran ini, mengemban nama Raja Kecil, Regulus Corneas barangkali juga punya Warga Negara yang dapat memberinya gelar Raja.

“Lantas, orang-orang yang menjadi Regulus raja, mana Warga Negara Kerajaan Kecil ini?”

Subaru bahkan tidak perlu memikirkannya.

Tanpa membawa para pemuja, mereka menyerang kota Pristella.

Sekalipun kelompok iblis ini bertindak independen, meresahkan, dan jahat, satu-satunya orang yang membawa orang tak diperlukan adalah Regulus.

Mengapa di mesti melakukannya?

Biarpun, mengetahui Regulus, tidak mungkin dia semata-mata memamerkan keserakahannya, tapi jika tidak, jika dia bertindak karena perlu—

“Agar Regulus menjadi Raja Kecil, dia harus membawa Kewarganegaraan kolektif istri-istrinya. Kendatipun masih misteri kalau jarak punya hubungan atau tidak, tampaknya karena pembatasan ini, meskipun ada lima puluh istri, Regulus masih harus membawa mereka.”

Apa syarat Invincibility ini didasarkan jumlah istri-istrinya? Ataukah jarak dari para istrinya?

Bila identitas Regulus sebagai Raja Kecil bersyarat, ruang lingkup yang mampu dijangkau Keserakahan berpotensi dipengaruhi batas-batas tersebut.

Singkatnya, istri-istri Regulus sama sekali tidak relevan dengan Invincibility -nya.

“Tapi, tapi ini belum cukup untuk mengungkapkan rahasia triknya.”

Subaru hanya memahami bagian sang Raja Kecilnya.

Nama lainnya, Jantung Singa, masih belum terjelaskan, begitu pula kekuatan maha kuat ofensif dan defensif yang menyertai Invincibility-nya, sekaligus lingkungan yang tidak memengaruhinya, seluruhnya tetap misteri.

Kalau dia hanya punya tubuh yang diperkuat, tak mustahil Reinhard menembusnya; Namun, Invincibility Regulus jelas melampaui perlawanan semacam itu.

“Tidak mungkin penghalnag sangat kuat. Semua langkah untuk menghentikan musuh Invincible sudah dicoba. Selain itu dia jelas tidak punya detak jantung dan suhu tubuh. Lantas—”

Nama Jantung Singa membuka pikirannya, maka potongan teka-teki terakhir jatuh di tempat.

Wewenang Kekuasaan Keserakahan Regulus bukanlah Invincibility.

Wajah sejati kekuatan luar biasa si pembunuh itu adalah Stillness of an Object’s Time (Penghentian Masa Objek).

Lengkap sudah, sudah dipertimbangkan, tanpa lubang.

Kata-kata yang selalu dituturkan bibir pemuas dirinya adalah betapa dirinya seorang pria yang puas pada keberadaan idealnya, tetapi di saat yang sama tidak berusaha menyembunyikan kodrat kemampuannya.

“Waktu di tubuhnya membeku, bukan hanya serangan; bahkan air pun takkan membasahinya. Waktu pasir yang dilemparnya membeku, jadi tidak memantul, langsung melesat lurus.”

Di antara kekuatan super terkenal di manga, ada Space Break (Perusakan Ruang) yang mirip dengan kekuatannya.

Kekuatan ini, sebagaimana namanya, menyebabkan kehancuran di ruangnya, memotong sesuatu dari lingkungannya entah apa yang mencoba mempengaruhinya; di suatu titik keberadaan Regulus sendiri demikian.

Regulus Corneas yang sanggup memotong dirinya dari aliran waktu bisa dibilang mendistorsi ruangan itu sendiri.

Memang, katanya dimensinya berbeda— Invincibility hanyalah efek samping Stillness of an Object’s Time.

Harus dibilang apa—

“—teknik rahasia membekukan waktu adalah kemampuanmu yang sebenarnya!”

“Terserah sesukamu mengatakan sesuatu dengan bangga, aku takkan berkomentar! Kau pria tipe itu? Orang yang yakin berharap tahu sesuatu, lantas semua orang di sekitarmu juga mencari tahu? Bahkan kesombongan mesti diukur, tunjukkan sedikit kesadaran diri, dasar bocah nakal!”

Punggung Subaru menekan dinding batu, menyembunyikan sosoknya seraya berteriak, lalu Regulus menyerbunya sambil mengejek.

Menerobos dinding, melewati kanal, harfiahnya langsung melintas dalam barisan kehancuran—alhasil, Regulus menyusul Subaru.

Saat ini, Subaru menghadapi semua itu sendirian. Karenanya, sebetulnya ini bukanlah pertandingan menarik yang menyiratkan kata pertarungan.

“Kabur ke sana-kemari sungguh-sungguh mengesalkanku. Tidak melarikan diri membuatmu menjadi pria sejati, pikirmu aku bilang begitu? Kau dan aku sama sekali tidak bisa dibandingkan. Sekalipun kau jelas melongo ketika aku menghempas sang Pedang Suci, kau bahkan tidak paham hal seperti ini? Entah kau anggap bagaimana, bukannya ini namanya meremehkanku!?”

“Soal orang yang kau benci, apa pun perbuatan mereka, benar atau salah, selalu saja menjengkelkan. Seandainya aku kabur, aku bakal sampai masa depan yang sulit hingga membunuhku. Sebaliknya … pilihan ini adalah jawaban yang benar, harusnya begitu.”

“Jawaban benar matamu. Mau itu pilihan pribadi atau strategi, semua-semuanya! Hasilnya akan melenceng sampai membuatmu terbunuh, benar? Misal kau ingin datang untuk melanjutkan pertarungan, bukannya jauh lebih baik gadis berbunga itu tinggal? Seorang pezina sepertimu, apa bisa melakukan hal lain selain menyentuh istri orang lain?

“Yang kau katakan padaku sebetulnya cukup kasar.”

Meski perkataan pahit Regulus pas, Subaru tidak menggubrisnya sedikit pun.

Tidak cemas, tidak kesal; bahkan jijiknya sudah hilang, sebab dia hanya mengandalkan mulut cerdasnya untuk mengendalikan situasi.

Kini, Subaru telah memancing Regulus jauh dari gereja, terpisah dari Emilia, menghadapi sang pembunuh sendirian.

Menghadapinya, dibilang sampai berhadap-hadapan tidak akurat. Karena Subaru sedang mencoba menyembunyikan dirinya sendiri, dia menjaga tingkah mengejeknya, semata-mata berusaha mengulur waktu.

Andaikata Regulus menyadarinya, melancarkan serangan destruktif yang membelah ruang dari atas sampai bawah, rencana Subaru bakal hancur dalam sekejap. Akan tetapi, Subaru yakin Regulus takkan melakukannya.

Pada periode waktu singkat ini, sifat permusuhan interaksi mereka, Subaru akuratnya mengetahui seluk-beluk karakter Regulus.

Singkatnya, Regulus itu sampah.

Pernyataan sederhana sama sekali tidak bisa menjelaskan semua masalah Regulus.

Lebih tepatnya, Regulus adalah orang yang terlampau menghargai dirinya sendiri, tentu takkan mampu mengabaikan keberadaan orang lain.

Sejujurnya, tidak berlebihan menyebutnya inkarnasi hasrat diakui dan hasrat pamer.

Mengaku dirinya tak punya keinginan dan permintaan dengan kata-kata pintar, menganggap eksistensinya sebagai sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan, Regulus nampaknya tidak bisa hidup tanpa menyatakan nilainya sendiri kepada orang lain.

Menekan perasaan orang lain, memaksakan nilai-nilainya sendiri kepada mereka, mengintimidasi dan kekerasan tuk secara paksa menempatkan dirinya sebagai otoritas tertinggi.

Perilaku itu bukan cuma caranya memperlakukan para pengantinnya, tetapi caranya memperlakukan seluruh dunia.

Oleh sebabnya, dalam arti tertentu, Regulus benar-benar atentif dan serius terhadap apa pun yang dihadapinya.

Pertarungannya melawan Reinhard adalah bukti sempurnanya.

Jikalau Regulus mengira dia bisa melakukannya, dia bisa saja sepenuhnya membatalkan serangan Reinhard dengan Invincibility-nya, kemudian membunuh Subaru dan Emilia yang menyebalkan.

Terlepas dari ini, dia sengaja berkehendak menerima serangan Reinhard secara langsung, alhasil tidak bisa mengimplementasikan rencana cermat ini.

Biarpun bukan berarti Regulus menghargai semangat tanpa pikir panjang manapun.

Alih-alih, jelas semakin membuktikan sifat yang sepatutnya dia buang.

—pria ini, Regulus, tanpa menggunakan segenap kekuatannya untuk mematikan semuanya, dia tidak bisa berhenti.

Karenanya, tidak menghancurkan Reinhard menyebalkan atau hanya mengabaikan Subaru yang memprovokasi, bukanlah keputusan yang bisa diambil Regulus dalam pertempuran.

Diyakinkan premis dirinya tidak bisa terluka atau dikalahkan, dia perlu memaksa lawan-lawannya untuk menyerah selamanya, membiarkan semangat mereka dikalahkan dan hancur—seorang pria yang hanya tahu cara pertempuran seperti ini.

Sifat menjijikkannya betul-betul tak sedap dipandang.

Alasan anggapan ini adalah untuk meyakinkan semua orang tanpa terkecuali agar menyimpan perasaan serupa. Bahkan Subaru sendiri sadar akan keburukan semacam itu dalam sifatnya sendiri.

Justru gara-gara memaksakan orang-orang untuk memandang keburukan ini, karena itulah keberadaan Regulus kelewat dibenci.

Akan tetapi, alasan tepat inilah yang memungkinkan pandangan sekilas peluang kemenangan kecil.

“Metode rahasiamu adalah membekukan waktu, oke silahkan abaikan, tapi bagian pertamanya bagaimana? Apa spekulasiku sungguh-sungguh meleset? Kalau kau bersedia, kendatipun hanya gagasan kasar, kuharap kau berkenan menguraikannya untukku.”

“Kenapa juga aku mesti menjawab pertanyaannya? Tidak masuk akal dan tak wajib untukku. Perkara mengekspos rahasiaku sendiri, itu bahkan namanya bukan hak lagi. Kau mau meremehkan aku sampai mana. Dasar keparat, kau tidak paham kalau tulangmu tak dijadikan debu dulu!?”

Terpedaya provokasi Subaru, Regulus menghentak tanah kuat-kuat.

Ujung kakinya menembus jalan berbatu, seolah semudah menginjak puding. Arah amunisi yang dilepaskan cuma bisa dilacak berdasarkan suaranya, secara acak menghancurkan area dekat tempat persembunyian Subaru.

Jauh sebelum peluru dapat menemukannya, Subaru yang membaca gerakan Regulus sudah melarikan diri dari dinding terlebih dahulu. Selama pelariannya, dia pun menjatuhkan pilar-pilar batu yang berdiri di ujung jalan.

Dengan demikian, tali yang diikat ke pilar batu terlepas kemudian memunculkan serangkaian suara gema mini.

Dia atas kepala Regulus yang melihat-lihat apa yang terjadi, pecahan es tak terhitung jumlahnya terbang ke bawah. Dibantu Emilia, jalannya berubah menjadi ladang ranjau jebakan yang dipasang dengan cermat.

Tentu saja, tempat Regulus yang terdampak tidak berefek sama sekali, tapi—

“Hal kek gini! Hanyalah penghabisan mati-matian kemampuan terbatas!”

Regulus, tanpa berusaha mengelak dari es yang jatuh, merentangkan tangan dan seluruh tubuhnya menerima.

Tentu saja, tanpa harapan menusuk Invincibility-nya, pecahan-pecahan es pecah menjadi serpihan-serpihan, berhamburan dan menyebar menjadi partikel-partikel mana. Termasuk bagian-bagian yang gagal menyentuh tubuhnya, ibarat sedang pamer, Regulus menginjak-injak serpihan-serpihan es yang tersebar, menghancurkan seluruhnya.

“Maksudnya apa? Misalkan teori yang kau ocehkan panjang-panjang itu benar, tidak bisakah kau memikirkan betapa sia-sianya serangan ini? Lihat dengan cara ini, bukankah serangan gadis itu jauh lebih efektif. Mengulang-ngulang begini, niatmu ini apa!”

“Niatku dengan mengulang-ngulang begini, kalau aku jawab pertanyaanmu, kau pun harus menjawab pertanyaanku juga. Ini syarat pertukaran kita sepantasnya, bukan?”

“Pertukaran antara aku dan kau, ini namanya kesombongan liar belaka!”

Subaru buru-buru mundur melewati sudut besar, memberi jarak antara dirinya dan Regulus.

Menolak melepaskannya, Regulus mengejar Subaru terus-menerus, pelan-pelan menekuk lutut dan melompat sekali gerak. Bergerak maju oleh daya dorong tenaga penggerak, sekejap jarak antara keduanya menyusut.

Seperti ini, ujung jari kematian mencapai Subaru—nyaris, sebelum Regulus kehilangan pijakannya.

“Apa!?”

“Kendati ini di luar dugaanku nian, tapi kelemahanmu yang cuma tahu memaksa tuh dasarnya menyedihkan.”

Perangkap lubang klasik, juga bergantung pada sihir Emilia untuk menggali tanahnya, sebuah mekanis primitif yang memanfaatkan lapisan es tertutupi tanah.

Namun demikian, seorang veteran dari ratusan pertempuran harusnya mengetahui perangkap sederhana tersebut, Regulus faktanya benar-benar terkena jebakannya. Biar ironis, fungsinya sebagai bukti bahwa Regulus hanya mampu memaksakan kemenangannya dengan kekuatan kasar.

Tepat dan mulus, menggunakan kemampuan curangnya untuk secara langsung menghancurkan lawan dengan kekuatan kasar.

Inilah satu-satunya keahlian Subaru, jelas seorang pria yang tidak menganggap taktik pertempuran lain.

“Berbeda dari kekuatanmu, apa pun yang diperlukan untuk mengalahkanmu, kami lakukan. Mengulang hal semacamnya, malah sulit bilang siapa antagonisnya lagi.”

Lewat jalan pintas sehingga lebih dulu sampai di gereja, bertarung setiap detiknya untuk menyulap area ini menjadi ladang ranjau perangkap.

Walau Emilia menolak meninggalkan Subaru sampai saat-saat terakhir, gara-gara sifat polosnya, dia takkan bisa menggunakan taktik kotor ini. Distribusi tenaga kerjanya dengan pemilihan kesesuaian.

“…”

Begitu Regulus memanjat keluar dari lubang, Subaru diam-diam melirik kaki kanannya. Bahkan setelah parkour berat pelariannya, kakinya masih dalam kondisi sangat baik. Baik tatkala dirubah menjadi bentuk terkoyak-koyak berdarah dan kala diselimuti bahan hitam misterius ini, kakinya telah menjadi sesuatu yang takkan pernah dia lupakan.

Barangkali inilah pengaruh Darah Naga yang serasa hampir darahnya berbicara kepada Subaru.

Raja palsu arogan ini adalah musuhmu, tunjukkan padanya martabat Kerajaan Naga.

“Kalau begini, aku meminta lebih banyak bantuanmu. Sekalipun aku bakal berhutang banyak padamu.”

“Terus merengek, membuatku kesal bukan main!”

Tanah meletuskan potongan-potongan batu dan gumpalan tanah, berhamburan kuat.

Didukung kekuatan Regulus, kemudian potongan batu dan gumpalan tanah menyebabkan kerusakan parah di jalan. Meski sehancur ini, Subaru tidak jalan jangkauan destruktif.

Setelah terbang keluar dari tanah, mata Regulus membelalak benci, memelototi Subaru yang sekali lagi menjauh. Dengan sangat sengaja Subaru mengangkat jari tengahnya ke Regulus.

“Keknya ada orang pernah bilang Hanyalah penghabisan mati-matian kemampuan terbatas, boleh tanya siapa yang mengatakannya, lagi? Meskipun seringkali pepatah bilang memperlakukan orang lain layaknya cermin dapat menuntun pemahaman akan kemenangan dan kekalahan, tapi tidakkah sebaiknya kau perhatikan betul cerminnya lebih dulu?”

Setelah dengan sopannya menunjukkan kekurangannya, Regulus menunjukkan ekspresi ganas.

Kemungkinan besar, perasaan ingin membunuhnya kepada Subaru telah mudah sampai titik puncak, dan nyala api kebencian teelah memakan tubuh pembunuh tak berubahnya.

Regulus rupanya tidak menyadarinya sama sekali, bahwa ini semua kruang lebih termasuk ruang lingkup harapan Subaru.

Karena, tanpa menajamkan hawa membunuhnya, serangan asal dan berantakannya tidak efektif, itulah hal yang berlum disadari Regulus bahkan di waktu-waktu sekecil apa pun.

“Biar begitu, aku tidak boleh menganggap enteng ini.”

Menyeka keringat dari leher, Subaru menyeringai sembrono, bersiap-siap mati.

Yang tidak bisa dia biarkan Regulus lihat, adalah niatnya hanya buat mengulur waktu. Sekalipun ketahuan, Regulus benar-benar tidak tahu alasan di baliknya.

Inilah kondisi untuk kemenangan Subaru atas pertarungan ini, tugas yang Subaru perlu selesaikan seusai menyuruh Emilia pergi.

Inilah yang dirinya dan Emilia sumpah satu sama lain, bahwa mereka akan memenuhi tugas masing-masing bagaimanapun caranya.

Lantas—

“Aku serahkan padamu, Emilia—Pastikan keluarkan perasaan sepenuh hati para istri.”

Ketika Emilia tiba di gereja, para pengantin wanita masih berada di tempat yang mereka tinggalkan.

“Luar biasa, semuanya masih persis—”

Melihat istri-istri yang berada jauh, Emilia menyatakan perasaannya.

Akan tetapi, dia terdiam, karena posisi istri yang hadir tetap tidak berubah secara harfiah.

Apabila ingatan Emilia benar—mereka tidak bergerak sedikit pun semenjak Emilia kabur dari gereja.

“Karena Regulus memerintahkan untuk tetap diam …?”

Regulus tidak punya kekuatan pengikat, itulah yang Emilia pahami setelah diberi tahu Subaru tentang Wewenang Kekuasaan Keserakahan.

Biarpun dia berulang kali menekankan, ini cuma hipotesis, Emilia percaya penuh jawaban Suabru.

Demi mengalahkan pembunuh itu, apa pun yang terjadi Subaru dan Emilia harus menyelesaikan tugasnya.

“Semuanya, masih tinggal … kalau begitu, masalah pertama tidak jadi soal.”

Kemungkinan paling menakutkan adalah para istri berpencar, ada yang bersembunyi, atau kabur dari gereja dengan panik.

Sebelum terlambat, mereka harus mengambil langkah terakhir. Rencana yang sungguh-sungguh Subaru usulkan, Emilia ingin menghindarinya misal memungkinkan.

Lantas—

“Semuanya, aku memohon berbicara dengan kalian.”

Tidak ada waktu.

Meski kemungkinan mereka mendengarkan, Emilia mesti mengatasi kendala ini sekarang.

“—suami-sama, dia bagaimana?”

Dalam gereja yang hancur separuh, berdiri di tengah-tengah menghadap Emilia, seorang wanita berambut pirang meresponnya—184.

Tidak seperti istri-istri bungkam lain yang duduk berbaris rapi, hanya dia yang duduk di depan altar runtuh terdekat.

Setelah membantu Emilia ganti pakaian, memberikan nasihat, mata sedingin ketika mengatakan keputusasaannya di masa depan kelak, 184 menanyakan kembalinya Emilia dengan suara datar.

“Regulus di luar …. Maaf. Kami masih bertarung. Aku tidak bisa membunuhnya.”

“Begitu … ‘kan.”

Sudut-sudut mulut 184 hampir tidak terlihat.

Senyum kecil, seolah-olah tidak tahu mengapa dia tersenyum. Dan lagi, Emilia memahami senyuman ini tidak membawa sukacita maupun kesedihan, tetapi lebih seperti ejekan.

Karena, senyum sepertinya ada untuk menyakiti orang lain, Emilia sudah berkali-kali melihatnya di masa lalu.

Maka dari itu—

“Senyumnya dingin banget. Kurasa tidak cocok denganmu. Ekspresi ini.”

“… maaf. Karena Suami-sama melarang senyum, aku membiarkanmu melihat ekspresi tak terhormat.”

“Tolong jangan minta maaf. Yang aku maksud, bukan ini.”

Mendengar kata-kata penghinaan diri 184, Emilia menggeleng kepala.

Dalam dadanya, panas mulai terkonsentrasi ke suatu tempat yang tidak berada di hatinya. Sebagaimana perkataan Subaru, kata-kata itu terus muncul di kepalanya.

Perasaan dahsyat intens sampai-sampai serasa tidak nyaman, merekah tak tertahankan dalam hati.

Menutup mata, menedesak emosi yang bergejolak, Emilia bolak-balik melirik gereja sebelum dia bicara.

“Kami berencana membunuh Regulus. Untuk melakukannya, kami butuh bantuan semua orang.”

“…”

“Aku tidak tahu perlakuan apa yang kalian rasakan di tangan Regulus sampai sekarang, bahkan aku pun yang sebentar berhubungan dengannya, tahu bahwa Regulus itu salah.”

Dibawa olehnya selagi tidak sadar, Regulus melamarnya begitu Emilia bangun. Kemudian, dia langsung sibuk oleh upacara pernikahan, lalu diberi tahu pemikiran Regulus mengenai pernikahan serta caranya memperlakukan para istrinya.

Itu jauh dari pernikhaan bahagia yang Emilia ketahui.

“Aku tidak mau kalah dari Regulus. Aku memahaminya dalam pertempuran, sukses atau tidaknya tak relevan dengan benar dan salah. Tapi saat ini, sekarang ini, aku tidak mau kalah dari Regulus. Andai aku kalah … jelas, hal penting bagiku akan diinjak-injak.”

“Hal-hal penting … ya.”

“…”

“Seandainya kau mau hidup, sepatutnya mematuhi Suami-sama dari awal, atau dari awal coba kabur tanpa memperhatikan hal lain. Keduanya bisa. Tentu, itulah hal terbaik untukmu.”

Disertai tatapan gelap, 184 menjawab Emilia.

“Bagaimana nasib Pedang Suci dan kesatriamu yang menyertai sebelumnya? Mereka diserang balik Suami-sama, dan gugur dalam pertempuran. Karena itulah, kau sendirian melarikan diri ke sini.”

“Tidak. Baik Subaru atau Reinhard masih melawan Regulus. Kembalinya aku ke sini, adalah yang mereka percayai dan nantikan.”

“Kau bisa apa dengan kembali? Apalagi, bilang perlu bantuan kami dan semacamnya … aku tidak paham maksudmu.”

“Kau sungguhan benar-benar tidak paham maksudku?”

“…?”

Dihadapkan interogasi Emilia, 184 mengangkat alis tanpa kata.

Reaksi alami ini, rupanya tidak dipaksakan sedikit pun. Sekalipun dia melemah sewaktu menyerah, sedari awal 184 tidak berniat menipu Emilia yang ucapannya khawatir.

Dengan kata lain, dia betul-betul tak tahu.

—bahwasanya Jantung Regulus telah dipercayakan kepada istrinya, termasuk dirinya.

“Lainnya? Semuanya, apa kau betulan menerima ini? Ingin melakukan apa pun, ingin orang lain melakukan sesuatu, apa tidak ada yang berpikir seperti ini?”

“Tolong hentikan. Aku akan mendengarmu. Kalau kau punya pertanyaan, silahkan tanya aku. Jawabanku adalah jawaban semua orang.”

Menghadapi Emilia yang mencoba membaca orang-orang di sekitarnya, 184 menyela dengan tutur keras.

Keras kepala, atau mungkin berani—Emilia ingat betapa demi dirinya, 184 bahkan mempertanyakan Regulus dengan taruhan nyawanya sendiri.

Sekalipun itu memang merupakan bentuk altruisme—

“Yang pentingnya, aku merasa telah meninggalkan hidupmu.”

“…”

“Kau sebenarnya yang paling penting, kau cuma tidak menyadarinya, itu benar ‘kan?”

Mengingat awal semua ini, 184 adalah orang yang berbicara sama Emilia.

Bukan semata-mata karena Regulus menyuruhnya mengurus Emilia. Menggantikan Emilia, dia mengujar opininya kepada Regulus, berdiri mewakili pengantin-pengantin lain, saat ini berkehendak menerima perkataan yang dilontarkan pada mereka semua.

Tindakannya menempatkan 184 sebagai orang kepercayaan regulus—oportunis yang memanipulasi Emilia dan mempelai wanita lain, itulah kecurigaan Emilia.

“Tapi, kurasa tidak begitu. Kau bukanlah Jantung Regulus. Aku ingin percaya ini.”

Emilia telah diselamatkan beberapa kali oleh 184.

Tidak secara nyata melindunginya, atau meraih tangannya lalu membimbingnya.

Sebaliknya, dalam menghadapi kebencian tak dimengerti, memastikan Emilia siap melanjutkan hidup.

Seseorang sebegitu pedulinya kepada orang lain—

“Menjadi pengantin sejati orang semacam itu, aku tidak dapat membayangkannya.”

“… barangkali aku ingin kau percaya itu, makanya aku berbicara denganmu, tahu.”

“Begitukah. Aku, kepalaku masih tidak bagus-bagus amat, jadi misalkan kau mencoba membodohiku, bisa saja aku langsung tertipu. Tapi.”

Emilia tidak tahu dia menatap orang lain atau tidak.

Sekarang ini, rekan-rekan Emilia yang mendukungnya bukan karena Emilia memilih dan mengharapkan mereka agar dan hingga akhirnya menjadi rekan-rekannya.

Sebab rekan-rekan Emilia-lah yang memilihnya.

Tetapi untuk dipilih, dia tidak pernah melakukan hal-hal kek, bukannya aku luar biasa.

Malahan dia selalu merasa tidak nyaman, takut mesti memenuhi ekspektasi.

Akan tetapi, dia ingin merespon harapan yang dianugerahkan padanya, dan ingin dirinya mampu merespon ekspektasinya. Senantiasa, dia berdoa demikian.

“Aku ingin percaya padamu. Inilah pilihan yang kubuat.”

“…”

“Kenapa, kau membela orang-orang diam ini? Kenapa, meski matamu menyerah, kau masih membantuku? Kenapa, kau—”

“Semua pertanyaannya.”

Menginterupsi pertanyaan Emilia, 184 menggeleng kepala.

Kemudian, sejak pertama kali Emilia tiba, dia mengangkat wajah.

Perasaan beku pada ekspresi kaku.

Mata kering dan bibir tertutup seperti itu.

Perasaan sedih, membuat wajah cantik wanita tersebut ke derajat lain.

Akan tetapi, yang dia pikirkan adalah.

“Mohon pergi secepatnya. Jika Suami-sama melihat kita, kita semua akan mati.”

“Dengarkan aku—”

“Aku tidak punya alasan untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan ini. Kau, bukan lagi istri Suami-sama. Tak seperti kami.”

“—aku ini blasteran elf.”

“Eh?”

Dihadapkan pengakuan Emilia, wanita itu diam seribu bahasa.

Sadar dirinya melakukan sesuatu tak terduga, Emilia tersenyum sedikit. Di sisi lain, wanita itu akhirnya paham arti pengakuan Emilia.

Dia paham orang yang berdiri di depannya adalah blasteran iblis berambut perak.

“Blasteran elf … berambut perak …”

“Sejujurnya, hingga sekarang, kau dan aku berbeda. Berbeda situasi, berbeda asal, bahkan berbeda di bagian kualitas paling dasar. Tapi, kukira bukan karena Semua hal tentang kita itu berbeda, maka kita tidak punya hubungan.”

“…”

“Hal yang kau dan aku lihat pasti sama. Saat kau menangis, kau bakal mau menangis, ketika kau menemui sesuatu yang tidak bisa dipecahkan, kau akan marah, waktu kau menemui sesuatu membahagiakan, kau akan tertawa gembira. Itu sama, kan?”

“Persisnya, kau ingin mengatakan apa?”

Emilia yang berbicara cepat-cepat, membuat 184 mendesau.

Mendengar pertanyaannya, Emilia mendapati dirinya kebingungan. Sebetulnya dia ingin menyampaikan apa, jikalau dia ingin mengatakannya, dia sendiri tidak tahu ingin bilang apa.

Kejadian ini menunjukkan Emilia terlalu emosional, membuatnya melupakan dan melenceng dari topik. Dia mesti belajar dari Subaru, lalu mengatakan apa yang ingin dia katakan lebih blak-blakan—

“Bahwa, aku …”

Ada sesuatu yang ingin dia ketahui. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan.

Sesuatu megnenai Jantung Regulus. Sesuatu perihal memihak dan memimpin peran istri—istri. Beserta raut wajahnya yang sungguh-sungguh kalah, melindungi Emilia yang nyaris kalah.

Gabungan seluruhnya, dia berharap akan diberi tahu olehnya.

Satu hal lagi, bahwa dia harus tahu lebih dulu.

Bahwa itu—

“Namamu, boleh kasih tahu aku?”

“…”

“Namaku Emilia, Emilia saja. Biarpun keadaannya berbeda darimu, tentu punya kesamaan denganmu, seorang blasteran elf.”

“Hmph …”

“Seandainya kita bisa saling memahami, membagikan harapan sama …. Tentu saja, pembicaraan ini bukannya takkan berarti.”

Suatu kala, dia memperkenalkan dirinya seperti ini sebelumnya.

Tatkala hatinya diliputi kegelisahan, sewaktu dia yakin tidak dapat mengandalkan siapa pun, seketika merasa bak banjir tanpa akhir menelannya.

Dulu, dia tertarik oleh kata-kata serupa.

—bahkan sampai hari ini, pikirnya.

Kemudian, dia betul-betul bahagia.

Anak laki-laki yang belum pernah dia temui sebelumnya mengakui keberadaannya, itu membuatnya sangat senang.

Ketika penolakan segera datang, mendadak dilempar ucapan semacam itu, Emilia sepenuhnya jatuh tanpa harapan.

“…”

Sekali lagi, dia meminjam kekuatan Subaru.

Setiap saatnya, dia meminjam, lalu mati-matian menyambungkannya.

Tapi itu sudah cukup.

“Jangan, main-main …. Kenapa, sampai sekarang …”

Di depan Emilia, 184—wanita itu mendekap kepala, menggeleng seraya berteriak sekuat tenaga.

Ekspresinya penuh penderitaan, suaranya disertai kebencian, dan matanya diisi perasaan menatap sesuatu yang dibencinya.

Inilah, sedari awal, emosi tulus pertama yang Emilia munculkan darinya—

“Kenapa setelah selama ini, kau tiba-tiba bilang kami bisa menjadi manusia lagi!”

Seakan-akan melepas emosi lama yang tertahan, dia meratap.

“Bukan soal tidak jadi manusia lagi, jadi boneka tak apa. Pria itu, puas kalau kami hanya bertindak seperti boneka taat. Misalkan kami berpura-pura seperti boneka, hidup kami akan aman-aman saja. Percaya itu, kami bertahan sampai sekarang … itu yang terjadi, jadi!”

Mewujudkan kekuatan perasaannya, dia bentrok dengan Emilia.

Orang luar tak tahu apa-apa, mereka tahu apa tentang orang-orang seperti dia, berjuang habis-habisan untuk tetap hidup.

“Kau tahu apa tentang kami!”

“Aku tahu kau teramat baik.”

“Kau tahu apa tentang kami!”

“Aku pun tahu sekeras apa kau berusaha bertahan.”

“Kau tahu apa tentang kami, tentang kami …!”

“Aku tahu, kau menangis ingin diselamatkan.”

Mendengar ucapan Emilia, wanita itu mengangkat wajah, ibarat bangkit kembali.

Mata bundar melebarnya, bibir yang samar-samar berjuang bergerak.

Bahkan satu kata pun, tak mampu dia ujar.

Karena hingga sekarang, jika di antara mereka mengatakannya, hati mereka pasti menyerah.

Keputusasaan yang disebut bantuan, dan pencarian bantuan yang disebut penyelamatan, artinya sama saja.

Memegang harapan itu, hingga kini, tidak diperkenankan. Agar pikiran mereka tidak menyerah, pemikiran-pemikiran tersebut mesti ditekan dalam hati mereka.

Hasilnya adalah, bahkan teriakan paling sederhana yang tersegel jauh dalam hati, adalah hasilnya.

“Aku ingin diselamatkan; kalian semua bilang begitu. Lantas aku akan menyelamatkan kalian. Akan kubebaskan kalian dari tangan Regulus. Maka dari itu—”

“…”

“Mohon pinjamkan aku kekuatan kalian. Tolong bantu orang-orang yang bagiku, dan kalian … mereka yang bahkan sekarang masih bertempur.

Emilia menunduk.

Dengan tulus, menyatakan harapannya, Emilia menunduk.

Dia menatap tajam lantai.

Degup jantungnya melompat menyakitkan, suasana kabur hampir tak terdeteksi yang menyelimutinya serasa bagaikan badai.

Dia menahan tubuhnya yang sekarang di ambang kehancuran, menggertakkan gigi tuk menguatkan hati.

Bukan Emilia seorang, yang merasa takut.

Karena, tentu untuk waktu yang jauh lebih lama sampai-sampai tidak dia ketahui, mereka tak bisa bangun dan hidup ditemani mimpi buruk.

Kemudian—

“… tolong, tunggu sebentar.”

“…”

Menghadap Emilia yang kepalanya menunduk, wanita tersebut bicara, menggigit bibirnya.

Selanjutnya bernapas dalam-dalam, dia beralih dari Emilia. Terkumpul istri-istri yang diam saja, mengamati alur dialog.

“Aku punya pertanyaan yang ingin kutanyakan. Pertanyaan yang sampai kini, belum kutanyakan ke siapa pun.

Wanita itu berhenti sejenak, dan para istri memasang raut wajah dingin.

Emilia pun tidak dapat berkata apa-apa, diam menunggu hasil.

Di lautan tatapan yang mencekat napas, wanita yang senantiasa berdiri sebagai pemimpin para istri, bicara.

“Adakah orang, yang menyukai pria itu?”

Pertanyaan yang diajukannya sambil memiringkan kepala pelan, telah menyebar ke seluruh gereja.

Pertanyaannya mengagetkan Emilia, dan para pengantin wanita yang terdiam saling menatap satu sama lain. Kebingungan disertai emosi samar terbesit di benak mereka.

Bagai riak air, menyebar.

“… benci dia.”

Orang yang mengatakannya, bukan Emilia maupun wanita yang menjadi wakil para istri. Namun salah satu istri yang duduk di barisan, seorang wanita berambut pendek.

Kata-kata yang nyaris tak keluar, bukan hanya mengejutkan Emilia saja.

“Aku juga, benci dia.” “Aku benci dia juga.” “Aku selalu membencinya.” “Aku membencinya, beneran membencinya.” “Dasar aneh.” “Kepalanya kacau.” “Apa dia pernah menyukai orang sebelumnya?” “Dia suka dirinya doang.” “Entah sebanyak apa aku membayangkan menolaknya.” “Aku mau nangis.” “Tapi tidak bisa.” “Benci dia.” “Dia harusnya mati saja.” “Membencinya lebih dari apa pun.” “Bencibencibenci, bencinya bukan main.” “Tatapannya serba benci.” “Benci caranya menegaskan omongannya.” “Benci caranya berjalan.” “Tidak dicintai alam.” “Aku membencinya lebih dari kemarin.” “Akan semakin kubenci dia esok hari.” “Menjijikkan.” “Mesum.” “Otak bocah.” “Bahkan bocah lebih baik.” “Naga saja lebih baik.” “Tidak ada yang cocok dengannya.” “Secara psikologis tidak diterima.” “Bencibencibenci.” “Dia buat aku ingin muntah.” “Aku tidak tahu berapa kali membayangkan menghajarnya sampai mati.” “Terburuk.” “Terburuk dari yang terburuk.” “Berada di dekatnya membuatku mual.” “Sentuhannya serasa membuatku membusuk.” “Hatiku mati.” “Musuh keluargaku.” “Bagaimana bisa aku menyukainya padahal dia dengan paksa menculikku?” “Memangnya kejahatan tak termaafkan semacam itu ada?” “Menyakitkan banget sampai-sampai pengen mati.” “Kesombongan panjang bertele-telenya, setiap kali bicara dengannya aku mau sedikit lebih mati lagi.” “Kuharap isi perutnya membusuk.” “Kembalikan kekasihku.” “Aku mau pulang, aku mau pulang …” “Berhenti mempermainkan kami, bunuh saja dia.” “Bajingan sampah.” “Sungguh dibenci, akan kubenci dia selamanya!” “Tidak ada wanita yang membencinya, kan?” “Pria pun Tidak.” “Manusia manapun takkan ada.”

Selayaknya bendungan pecah, istri-istri mencurahkan kata-kata yang sampai sekarang disimpan dalam hati mereka.

Kata-kata meluap-luap itu adalah dendam dan jijik yang sudah lama membusuk dalam hati mereka, diisi kebencian dan penderitaan bertahun-tahun, tentu bukanlah perasaan yang datang membawa sukacita.

—biar begitu, ekspresi mereka ketika mengutarakannya menjadi gembira dan jelas.

“Sungguh pendapat sepakat yang belum pernah diujar sebelumnya.”

“Kau juga, ada yang mau diimbuhkan?”

“Ah, ada.”

Setelah mendengar pengakuan para istri, wanita tersebut berbalik menghadap Emilia.

Membelai rambut pirang panjangnya, wajah tersenyum penuh—menyingkirkan perintah melarang senyum, pertama kalinya dia mengungkap senyum indahnya.

“Jenis manusia yang paling dibenci—tolong, tolonglah kami.”

Seperti itulah, dengan senyum tipis, pernyataan penceraian ditandatangani.

9 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 56”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *