RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 55

Posted on

Penantang sang Dewa Perang

Penerjemah: daRkSouL

—legenda sang Dewa Perang, Kurgan, tersiar luas di Kekaisaran Vollachia.

Di Kekaisaran Vollachia kuat, selama seseorang punya kemampuan, seluk-beluk kelahiran mereka akan dikesampingkan.

Dibandingkan Lugnica yang punya perbedaan perlakuan manusia hewan, serta Kerajaan Suci Gusteko yang melarang orang asing, Vollachia mengadopsi sistem serupa yang kurang mempertimbangkan keturunan atau rupa Kararagi.

Maka dari itu, di antara empat negara utama, Vollachia dianggap negara terbaik untuk ditinggali manusia-manusia tak berdarah murni.

Namun di sisi lain, hukum rimba jahat mengartikan adanya represi serta penindasan parah kepada mereka yang kurang kekuatan atau kebijaksanaan. Tentu saja, penilaian pribadi dan penilaian ras berbeda.

Terkhusus, Klan Berlengan Banyak telah berkeliaran selama bertahun-tahun, sebagai ras nomaden yang tak pernah tinggal di satu tempat. Sosok Klan Berlengan Banyak cuma namanya saja, kecocokan mereka terhadap kemampuan penggunaan sihir sebagai blasteran manusia sangatlah rendah, bisa dianggap inferior.

Jumlah total orang-orang Klan Berlengan Banyak tidak banyak.

Bila terjadi perselisihan, mereka lebih cenderung pindah alih-alih berjuang melindungi tanah air.

Ras seperti itu diusir dari tempat yang tak terhitung banyaknya sudah tidak bisa dielakkan, mereka mendatangi Vollachia yang wajar jika akan ditelan kekaisaran militerisme dan dihadapkan kemunduran.

—dalam dunia kekuasaan ini, teriakan penolakan terdengar dari seorang pria bernama Kurgan.

Walaupun karakteristik Klan Berlengan Banyak adalah mereka punya lebih dari dua lengan yang dimiliki manusia, jumlah tangannya bervariasi dari masing-masing orang. Kurgan yang punya delapan tangan sedangkan kebanyakan hanya empat atau lima menjadikannya eksistensi aneh.

Kurgan muda kala itu menolak penguasa setempat yang hendak mengambil kembali tanahnya, melambaikan kedelapan tangannya untuk mengusir sang utusan. Kemudian, menggertak saudara sekaumnya yang ketakutan, pasukan pribadi sang penguasa terusir dan ditembus, berkali-kali, hingga akhirnya mansion penguasa tersebut diserang.

Meskipun serangan barbar telah menakuti penguasa tersebut, Kurgan tak menawarkan solusi kekerasan.

Dia bicara bahwa dia dan rakyatnya akan membuktikan sendiri, lalu menerima kedudukan paling berharga di pasukan pribadi sang penguasa. Setelahnya, sepanjang berbagai pertempuran, nama Kurga Delapan Tangan diwariskan sebagai legenda di Kekaisaran Vollachia.

“…”

Seluruh tubuhnya terendam air dingin, dia masih dapat melihat bulan yang berbayang lewat air mengalir di atas kepalanya.

Tulang yang menopang mata kanannya patah, bola mata yang terlingkung dalam rongga mata kelihatan mau copot. Seketika tangan kirinya mendukung perawatan sihir dan menerapkan penyembuhan minimal.

Mata kirinya yang masih bertahan jelalatan, mengamati endapan merah yang mengalir beserta air, tubuhnya melengkung naik dari dasar kanal.

“…”

Tentu saja dia berbaring tenggelam dalam air, tetapi tak bisa merasakan kesejukan dinginnya.

Terbebas dari beratnya gravitasi, kekuatan pelan-pelan mengalir kembali ke tangan dan kaki pada dunia tanpa beban ini.

Seandainya membongkar beban hati sesederhana melepas beban di tubuh—hatinya kini tenggelam dalam kegelapan.

Atau dia bisa terus tenggelam demikian, pemikiran semacam itu sama sekali tidak hilang dari hatinya. Akan tetapi, tarikan napas serasa semakin menyakitkan dan dalam kegelapan matanya tak terbutakan sepenuhnya.

Gadis berambut persik, gadis kucing berambut jingga, serta bocah berambut hitam muncul lalu menyulut hatinya yang basah kuyup.

Barangkali sebuah api yang akan segera hilang. Sebelumnya, yang terjadi adalah itu, biarpun si pembual sok pemberani sudah dihancurkan habis-habisan, yang mana memang iya. Kendati, apa pun yang terjadi.

—tidak ada alasan untuk terjebak di tempat selamanya.

“Uwah!”

Meregang dan meluruskan punggung, menyelam dalam ke air dan membangkitkan dirinya sekali napas, sesaat kepalanya muncul dari air, Garfiel menggeleng.

Penglihatan di mata kanannya masih terhambat dan efek samping dari pukulan-pukulan Kurgan berubah menjadi tinitus yang mendengung tanpa henti di kepala. Sekujur tubuh terluka berlumuran darah dibanjiri mual, kurangnya sensasi di mulut berefek sumbang pada giginya.

“Sialan …”

Meraih pinggiran kanal untuk menarik dirinya, bagaikan binatang buas, mengguncang seluruh tubuh untuk membersihkan air, Garfiel melihat sekeliling.

Tadi, Garfiel telah dihantam sampai masuk kanal.

Tak berubah sedikit pun, sang dewa perang tetap berdiri di tempat.

Posisi Parang Iblis yang dihuunus masih sama, aura pertempurannya ditangguhkan, tidak salah lagi serangan Garfiel gagal, selagi Kurgan mempertahankan posisi.

“…”

Melihat dewa perang terdiam, Garfiel mulai berpikir.

Bagaimanapun, bentrokan tak terhindari antara Garfiel dan Kurgan memang kecil. Tugas yang Garfiel harap akan capai adalah menghentikan serangan kejutan yang Kenafsuan kemungkinan akan lancarkan ke kota. Sekalipun dia bertarung melawan Kurgan di sini, dia takkan menyelamatkan kota yang berisikan non-kombatan.

Sepintas, semua orang bakal menyuruh Garfiel menghindari pertarungan melawan Kurgan di sini.

“Tapi … ga mungkin, dia ngebiarin gua kabur.”

Tubuh kebesaran yang sampai-sampai kepala mesti mendongak untuk melihat seluruhnya serta jumlah otot-otot besar. Sekalipun dia kelihatan tidak gesit, meskipun Garfiel mencoba lari, dia tidak dapat membayangkan bisa kabur dari jangkauan parang-parang itu.

Semenjak sang dewa perang muncul di hadapannya, Garfiel dianggap tidak bisa melarikan diri.

Kini, hanya ada dua pilihan yang bisa Garfiel buat.

—bertarung sampai mati. Memberontak terhadap kematian, dua pilihan belaka.

“Sial … bukan waktunya berpikir kek gitu sekarang!”

Pemikiran negatif terlintas di benak, Garfiel menggertak gigi tuk menyingkirkannya. Taring-taring yang cepat tumbuh untuk menebus kekalahannya diwarnai rasa sakit, namun rasa sakit itu mendorong keluar pikiran kalah negatif menuju relung dalam.

Setiap angan perasaan kalah, pertanda kekalahan, akan diratakan.

Kata-kata pemuas diri untuk membenarkan kekalahannya, tidaklah perlu!

—menang, menang, menang, menang, menang, menang!
Rebut kemenangan, buktikan kelayakannya!

“UUUUUUUUUUaaaaaaaahhh!”

Mengaum keras, mengusir segala kelemahan, Garfiel sekali lagi menyerbu maju. Di pertempuran sebelumnya, satu serangan paling kuatnya telah ditahan.

Akan tetapi, andaikan berat tidak cukup, dia bisa saja menggunakan kecepatan untuk mengendalikan lawannya.

Menggunakan cakar, gigi, membuka, merobek, menggigit, menggarong.

“…”

Dewa perang bisu itu menyapa serbuan Garfiel.

Serangan dari Parang Iblis datang mengincar bahu Garfiel.

Menyebutnya serangan jitu, tetapi kekuatan penetrasiniya terlalu rendah, menyebutnya serangan penghancur, tapi gerakannya kelewat tajam. Serangannya khas Kurgan, kombinasi permainan pedang dan kekuatan yang menghancurkan lawan-lawannya.

Bilah Parang Iblis yang mendadak mendekat melewati kepala belakang Garfiel yang membungkuk ke depan. Setelah serangan meleset tipis itu, Garfiel semakin berpikir kuat.

Kalau cuma ada satu serangan, Garfiel bisa menghindarinya tanpa masalah. Kecepatan sosok kecilnya yang lentur berbeda dari kecepatan tubuh besar Kurgan dengan lengan dan senjata yang sama besarnya.

Seusai menghindari serangan massif, meninggalkan torehan cakar di dada Kurgan adalah hal mudah. Lebih tepatnya, seharusnya mudah.

“—ugh.”
Akan tetapi, Garfiel yang terkubur dalam-dalam di lengan tersebut, terpaksa mengelak di tempat. Salah satu lengan samping raksasa Kurgan menyapu ke atas, mengancam hendak menerbangkannya dengan menyerang dagu.

Ini pun tak terduga—tidak, indra keseimbangan tubuhnya terlampau berbeda.

Kurgan dilahirkan di Klan Berlengan Banyak, telah mengayunkan ke delapan lengan dan berlatih tanpa henti untuk menemukan gaya yang cocok sesuai tubuhnya sendiri.

Mengasah teknik tubuh menakutkan yang sepenuhnya berbeda dari gerakan yang Garfiel ketahui tentang pelatihan empat anggota badan.

Kala serangan Garfiel berakhir, tubuhnya terbuka, kelemahan terungkap, akal sehat itu diterapkan di sini.

Semisal satu tangan untuk bertahan, maka bagian lain digunakan untuk menargetkan titik buta lawannya.

Walaupun Garfiel mampu memblokir serangan fatal satu tangan, masih ada tujuh tangan lain untuk dihadapi.

Bila dia tak dapat menanganinya, kematianlah yang menunggu.

“Ergh, gaaaaahhhh!”

Di depan Garfiel yang gemetaran, lengan dewa nampaknya cukup mengguncang dunia.

Deru Parang Iblis menyerang dari segala arah, menghancurkan tubuh lawannya dengan kekuatan hebat.

Memblokir satu serangan dengan perisai, membungkuk untuk menghindari satunya, melesat mundur agar mengurangi dampak berikutnya, berputar menghindari serangan lain, mengimbangi satu serangan sekuat-kuatnya, membiarkan satu tangan meremukkan bahu sehingga terhindar dari cedera fatal. Belenggu berwujud binatang buas memaksakan satu pukulan dan satu serangan untuk menjatuhkan Garfiel dari tangga batu.

“Uwah, uuh.”

—delapan tangan.

Barusan, Garfiel telah mengerahkan seluruh kekuatannya melawan Kurgan, nyaris tidak selamat dari serangan balasan susulan.

Serangan semacam itu seperti badai mematikan, namun bagi Kurgan, dia cuma mengayun-ayunkan masing-masing lengannya.

Jika perlu hal ini untuk menjadi dewa perang, sekiranya pertarungan ini berlanjut, Garfiel akan dibantai dalam sekejap. Saat ini dia pingan di tanah, Garfiel berdarah masih menarik napas hanya karena dewa perang yang masih berdiri tidak berniat mengejar.

“…”

Asumsikan kuda-kudanya sama ketika Garfiel memanjat keluar dari kanal, dia melihat perjuangan yang kalah.

Diremehkan, tiada perasaan frustasi muncul.

Pertanyaan sekarang adalah, cara menduduki dimensi setara.

Bersaing satu sama lain, petarung di medan perang.

Nama dewa perang ini, Kurgan Delapan Lengan, adalah legenda.

“Huu … huu …”

Dia tidak bisa menang. Mustahil menang.

Sebuah legenda yang telah berlalu, seorang pria telah menjadi pahlawan, dewa perang ini.

Berkembang mengagumkan di Vollachia walaupun klannya lebih rendah dan dibenci, dialah orang yang mengubah takdir rasnya sendirian.

Garfiel tak lebih dari anak kecil yang memuja legenda tersebut.

“Huu … huu … huu.”

Jelas benar, namun mengapa badannya sembuh sendiri.

Meski batinnya begitu terguncang, tapi tubuhnya berdiri tegak.

“Haaaahh … berisik, berisik, berisik bat sial!”

Jantung yang berdegup kencang kini luar biasa keras.

Dering drum menyertai telinganya, Garfiel menghentak tanah. Bebatuan yang dilangkahinya mulai membelah dan retakan membentang langsung di bawah Kurgan.

Kurgan yang diam dan Garfiel berdarah berdiri berhadap-hadapan.

Goyah, Garfiel mengumpulkan kekuatan di jari kaki, sekali lagi menghentak tanah. Kemudian Kurgan bergerak.

Tidak, dia digerakkan.

“…”

Lewat tapak kaki Gafiel, Divine Protection of Earth-Soul melancarkan kekuatannya. Kekuatan berpindah dari retakan baru oleh langkah kaki Kurgan, tanah yang menopang raksasa itu terbang ke langit.

Tubuh raksasa mengambang di udara, kendati diasah ratusan pertempuran namun masih menjadi budak hukum fisika.

Kehilangan dukungan tubuh bagian bawah, dia tak mampu lagi menyerang kuat.

“Haaaaaaaaaaah!”

Momen ini adalah kuncinya.

Membidik tempat Kurgan melayang di udara, Garfiel mengayunkan tangan.

Lengan berbulu dan berotot harimau raksasa setengah hewan menabrak Kurgan. Bahkan dewa perang tidak mampu melawan jika tidak dapat menyesuaikan kuda-kudanya di tengah udara.

Suara senjata bertabrakan, intersepsi Parang Iblis terhempas, membangunkan Kurgan.

Lalu tendangan Garfiel menunggunya. Memanfaatkan celah pertama di baju besinya, cakar Garfiel menembus otot-otot perut tebalnya.

Meraung, Garfiel tanpa henti memukul mundur lawan, menekan serangan Kurgan.

Dada, paha, lutut, dan perut, semuanya mengalami pukulan konstan.

Terdesak kekuatan dampak, lengan banyak Kurgan tidak sanggup bertahan, dia cuma bisa menahan satu serangan pada posisi terbukanya.

“Sebelah sini!”

Garfiel yakin kemenangan sudah di depan mata, dia berteriak.

Cakar mencabi-cabik dan merobek badan Kurgan, darah gelap menyemprot Garfiel.

Mengusap darah tersebut dari tubuhunya, terus menekan maju.

Yakin lawannya sudah dibuat tak berdaya, mata Garfiel mendapati Kurgan tidak bergeming—rambutnya berdiri ketika perasaan merinding menyelubungi dirinya.

“…”

Mata dewa perang menatap Garfiel, gerak-geriknya masih sama dengan awal, tidak berubah, tak tergoyahkan sedikit pun.

“—hah?”

Seketika itulah, Garfiel menyadari.

Serangan balasan dewa perang yang tertunda.

Ayunan Parang Iblis menghantam sepsasang perisai Garfiel yang buru-buru diangkat, seluruh tubuhnya terbanting jatuh, menabrak tanah dengan keras.

“Ugh.”

Bahkan dia tidak sempat menggerutu.

Sekilas, tekad menghilang dari penglihatannya, anggota tubuh Garfiel sepenuhnya dikendalikan dampak yang menerbangkannya.

Pokoknya Garfiel hanya tahu itu terjadi.

Di tengah udara, tanpa tiitk pijakan, Kurgan menyerang ganas dengan tubuh bagian atasnya semata.

Sederhana dan frontal adalah metodenya.

Meraih bilah Parang Iblis dengan kedua tangan untuk menambah bobot ayunan, kekuatannya akan meroket.

—itulah arti sebenarnya menyentil jidat.1

Menggunakan dua tangan sebagai basis untuk mengubah serangan menjadi serangan fatal.

Menerbangkan lawan, mengurangi kekuatan serangan lawan. Metode pertempuran ini telah sepenuhnya diputuskan lawan Garfiel.

“—agh.”

Rentetan serangan baliknya dicegat, Garfiel dikejutkan kaki dari tubuh besar tepat di atasnya.

Sepasang kaki membawa momentum jatuhnya, tubuh Garfiel terbanting ke atas dari tanah seketika keduanya mengontak.

Kepalanya serba sakit dan kalah, naluri bertahan hidupnya belaka mendesaknya menggunakan sihir penyembuhan.

Menyatukan kembali tulang-tulang patah di lengan atas, siku, dan bahu remuk, memperbaiki organ-organ internal yang mengeluarkan isinya. Tulang rusuk, pinggang, paha kiri juga patah, tapi luka-luka itu terbukti teramat sulit dipulihkan dalam waktu-waktu darurat.

Gerbangnya memanas dalam tubuh, dia menggunakan semua sihirnya, menghabiskan persediaan mana-nya.

Memanfaatkan kemampuan untuk menarik kekuatan dari tanah dengan menempelkan tubuhnya, Garfiel mulai merawat dan memperbaiki dirinya dari kepala sampai kaki.

Beberapa detik, atau puluhan detik, atau boleh jadi beberapa menit.

Bahkan menghalangi jalannya waktu, Garfiel fokus memulihkan tubuh.

Akhirnya sampai di titik dirinya hampir tak mampu bergerak, dia meludah darah dari tenggorokan lalu bangkit.

“…”

Dengan tenangnya, sang dewa perang memandang Garfiel yang berlumuran darah.

Melihat sikapnya, sudut mata Garfiel terbakar. Panas dalam tubuh membuat kepalanya menunduk, gigi gemetaran.

“Apa-apaan ini …?”

Sedari awal, posisi Kurgan tetap konsisten.

Dia akan menghadapi tantangan Garfiel, namun takkan berinisiatif menyerang, tidak pula menyerbu Garfiel dengan parang terhunus.

Garfiel telah tanpa ampun dikalahkan tiga kali.

Perasaan kalah dan penghinaan dalam hati menghancurkannya, kesombongan dan kearoganan seorang prajurit.

Garfiel merasa harus menang melawannya.

Dengan cara sama, dia pun berpikir jauh lebih baik membunuh dirinya sendiri alih-alih menderita terhadap ejekan ini.

Kurgan sang dewa perang, pahlawan Vollachia.

Dianggap puncak seluruh prajurit, memintanya memahami frustasi di hati Garfiel tidaklah mungkin.

“Baiknya …”

Bunuh gua, dia bisa meminta Kurgan melakukannya.

Jujur mengakui kekalahan, mengakui perbedaan jelas kekuatan, meminta dibiarkan mati sebagai seorang petarung.

Menjatuhkan perisai, merentangkan tanang, menunjukkan ekspresi gembira.

Memohon padanya seperti ini, berkenankah dia?

Mati di pertarungan melawan dewa perang; bagi seorang petarung, inilah kematian paling membanggakan.

“Di tempat ini …”

Bukannya bakal lebih mudah kalau semuanya berakhir.

“Kaga bakal semudah itu, kalau semuanya berakhir, ya.”

Dilengkapi perisainya, menguatkan lengan menunjukkan permusuhan.

Menatap ke depan, seolah-olah ingin berjuang.

“Pikiran kek gini datang terus.”

Seseorang pernah bilang padanya sekali, agar tidak usah banyak berpikir ketika bertarung.

Kau cukup kuat, kalau tidak memikirkan hal-hal tak berguna, gunakan saja instingmu untuk bertarung.

—benarkah, demikian?

“Suaranya, ga ilang-ilang …”

Menyebalkan sekali detak jantungnya.

Setiap tulang dalam dirinya berputar dan terhubung, suara mulai terbentuk.

Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan.

Suara asing tersebut, semuanya, sepenuhnya, seluruhnya, sungguh menyebalkan.

—suaranya, tidak bisakah kau dengar?

“Bisa denger … selalu, ya iyalah gua yang hebat ini bisa denger.”

Meski dia berusaha tidak mendengarkannya, itu tak berarti apa-apa.

Di telinga Garfiel, atau barangkali sebagian dirinya telah terpisah dari membran timpani2, suara itu masih diterima.

Suara seseorang, suara intim, suara familier, suara menghangatkan hati, suara tersedak, suara bangga, suara yang tidak dapat menahan amarahnya.

Semua suara ini, tak melepaskan Garfiel.

Biarpun dia mengandalkan naluri bertarungnya, gelombang suara tak masuk akal ini takkan surut sama sekali, lantas Garfiel takkan sendirian.

Semakin dia pikirkan, kian lemah dirinya, dirinya saat ini juga teramat-amat lemah.

Berbeda dari tatkala dia berada di Sanctuary, menjadi serigala penyendiri. Kini, dia lebih rendah hati, telah melihat lebih banyak hal.

Makin banyak orang berarti bagi seseorang, kian lemah pula seseorang itu, kemudian menghabiskan hidup mereka semakin lemah.

“Kok … bisa.”

Merangkul suara-suara tak pudar itu, menelan kekalahannya, membangkitkan hasrat untuk menang, menyertakan kagum dan iri.

—Garfiel, menantang dewa perang.

“—uuh.”

“…”

Tatapan Garfiel beralih.

Kurgan yang menyaksikannya diam-diam bergerak.

Dari empat Parang Iblisnya, dia menyarungkan dua.

Akan tetapi bukan berarti kekuatan Kurgan melemah. Sebaliknya, membuatnya lebih fokus pada dua Parang Iblis saja. Seakan-akan menjelaskan sang dewa perang menyesuaikan posisinya.

Dewa perang berdiri menghadap depan, menyeimbangkan kaki kanan, condong sedikit selagi menghadap Garfiel.

Inilah posisi bertarung.

—bukti bahwa Kurgan akhirnya menganggap Garfiel musuh.

“—jadi barusan lu nganggep gua yang hebat ini kek anak-anak. Burung osprey tak cocok diasuh sebagai anak, yang terjadi kek begini?”

 “…”

Sunyi, garfiel menerjang dewa perang.

Parang Iblis merespon serangan brutal ofensif.

Menekan perasaan mengerikan keputusasaan yang menghampiri, Garfiel cepat-cepat maju, mengambil kesempatan dengan segenap kemampuannya.

Taktik keliru dari serangan sebelumnya.

Disebabkan aura Kurgan, sekaligus kekaguman Garfiel pada sang pahlawan.

“Uwaaaaahhhhh!”

Dia menyerang Kurgan menggunakan pengait.

Meski kedengaran suara besi berat pada daging, dia tidak mengenai titik tujunya, tetapi lengan terulur yang menghalanginya.

“Lelucon macam apaan ini!”

Melihat tinjunya dihalangi telapak tangan tersebut, Garfiel meraung.

Menarik kekuatan dari telapak kaki, dia menuangkan kekuatannya kembali ke tinjunya yang bertemu telapak tangan Kurgan, mendesak maju.

Kurgan memutar-mutar jari tuk menghindari kekuatan tinju mendadak, Garfiel mengambil kesempatan tersebut untuk mendarat di pinggang dewa perang, kemudian berlari naik ke dada ibarat salto.

Kurgan mundur, di saat bersamaan menyabet Parang Iblisnya.

Membaca aliran angin dan suasana untuk memprediksi arah, Garfiel menerima serangan dengan sepasang perisainya.

Suara gemuruh, tubuh Garfiel terbang menjauh.

“Haaaaaaahh—”

Tubuh terhempas menuju lantai batu, memaksakan badannya menetap di tempat. Mendongak, pengejaran dewa perang sudah mendekat.

Kurgan yang belum melangsungkan serangannya sendiri, sekarang bergegas maju tuk menghentikan Garfiel.

Sekejap saja untuk memprediksi, satu momen untuk berekasi, sedetik sampai hasilnya berbuah.

“…”

Garfiel mengulurkan tangan yang menyentuh bebatuan, mengangkat tanah di depannya. Serbuan Kurgan menghancurkan dinding yang diluncurkan menuju bahunya, kemudian menerjang membawa Parang Iblisnya.

Kekacauan.

Garfiel menerima serangan langsung, terdesak mundur. Tumit yang berusaha berdiri kokoh terseret di tanah, serpihan gigi terbang ke depan.

Namun—

“Jangan remehin gua, bangsat!”

Garfiel menggunakan giginya untuk memblokir tekanan parang hantu.

Dari gigi serinya, darah menetes melapisi Parang Iblis, tetapi Garfiel tidak ragu-ragu.

“…”

Dia menegangkan kekuatan di leher dan rahangnya, kemudian tubuh Kurgan gemetaran.

Tangan lain Kurgan memegang Parang Iblis yang digigit Garfiel, berusaha menariknya dalam satu gerakan, tetapi gigi yang menusuknya tidak menyerah.

Bukan hanya itu, tetapi kekuatan gigitan giginya belum meningkat. Tubuh atas Garfiel membesar dan mulai tumbuh atribut-atribut hewan.

“GHROOOOoooooooooaaaaaaaaaa, GRAAAAAAAAA!!”

Mengubah kepalanya menjadi bentuk binatang akan menurunkan kapasitas berpikir rasionalnya secara signifikan.

Akal sehatnya akan menurun sampai tingkat binatang buas, berkali-kali dia diberitahu bahwa ini adalah senjata makan tuan.

Namun pada saat ini, itulah pilihan Garfiel.

Kekuatan yang diinginkan ini sangat diperlukan.

Dihadapkan ras Berlengan Banyak, bagaimana caranya menang kalau menyangkal sifat dasarnya sendiri?

Wahai harimau, wahai harimau, wahai harimau, saat ini, pinjamkan gua kekuatan lu—!

“…”

Seketika harimau emas membuka mata, Parang Iblis terkoyak.

Bilahnya diiris, kekuatan hancurnya bergerak dari bilah menuju gagang, mengguncang sosok sang raksasa yang mendadak kehilangan genggamannya dan bimbang.

—sungguh-sungguh sebuah peluang.

“Huuh, hah, haah!”

Binatang itu mengayunkan cakarnya, menghajar kepala Kurgan. Raksasa tersebut tidak mampu mempertahankan pijakannya saambil menghadapi serangan berulang si binatang buas.

Irisan dan pukulan di waktu bersamaan, Kurgan meneteskan darah, terpaksa mundur.

“…”

Dia seharusnya mengejar lebih jauh, namun disambut pukulan.

Wajah harimau besar dihantam siku, lalu pangkal hidungnya ambruk, segera mengikuti dari bawah, serangan mengincar rahang bawahnya.

Si harimau mengendalikan tubuhnya yang roboh, kemudian tinju dari depan memukul wajahnya.

Darah menciprat ke bidang penglihatannya yang redup.

Tekad, kendali, lenyap dari benaknya.

Bukan karena ada hubungannya dengan dia. Yang penting adalah isi hatinya.

Bahkan tanpa memikirkannya, itu takkan lenyap, malah mendorong tubuhnya yang berdarah dan babak belur.

Parang Iblis mendekat.

Sisa-sisa sepasang senjata yang belum hancur.

Sekejap saja untuk memprediksi, satu momen untuk berekasi, sedetik sampai hasilnya berbuah.

“Guu, uuh …”

Bilah pemotong yang menuju tubuhnya menggesek perisai dan mengontak perut.

Walau dampaknya dihilangkan, serangan ini masih punya kekuatan untuk memotong otot-otot perut tebal di badannya.

Akan tetapi, dihahdapkan bbulu-bulu yang sekaku jarum emas, serta tubuh harimau raksasa, bilahnya masih tidak sanggup membelahnya.

Garfiel menginjak kaki Kurgan. Itulah efek Divine Protection of Earth-Soul-nya.

“Grooooooooaaaaahh!”

Bilahnya masih tersangkut di otot perutnya, dengan demikian Garfiel terus bertarung.

Dalam kontes gulat, Kurgan unggul, tetapi Garfiel tidak boleh diam saja.

Kekurangan gigi, lengan yang patah beberapa kali, juga insting yang menguasai kepekaannya menangkap Kurgan erat-erat.

“…”

Sembari menarik tubuh besarnya, Garfiel melempar Kurgan—ke kanal di belakang.

Begitu dia dilempar, lengan Kurgan meraih-raih untuk mencapai Garfiel, menyeret keduanya bersama.

Disertai percikar dahsyat, keduanya jatuh ke kanal.

Dua tubuh besar lecet oleh arus, darah yang tersaring air ikut tersapu.

“…”

Dalam air, dua sosok masih terus menyerang dan bertahan.

Dalam cairan gelap yang menutupi penglihatan, Garfiel dan Kurgan terus saling menghajar tak menghiraukan perlawanan air.

Tinju raksasa menghancurkan organ-organnya, luar biasanya mengeluarkan udara dari paru-paru. Rasa sakit demi rasa sakit, penderitaan demi penderitaan, lantas pertempuran dalam air berlanjut.

Dari situ, Garfiel paham ketidakunggulannya sendiri.

Entha kenapa, sang dewa perang di hadapannya terlihat tidak bernapas. Garfiel rasa tubuh lawannya seolah dibangkitkan.

Kekurangan oksigen membuatnya lesu, Garfiel mendapati setiap tindakannya lambat dan stagnan.

Aliran air berangsur-angsur melonjak dan membesar, lagi dan lagi, dua sosok jatuh dari air terjun ke air terjun lain.

Ketika kesadarannya memudar, semangat juang dirinya dikuras.

“—hah.”

—napasnya, tidak cukup.

Inilah penyebab kekalahan sejatinya, sebab kesadaran Garfiel meninggalkannya. Kemenangan milik—

“…”

Kedengaran suara berat yang dibawakan pria bisu tersebut.

Kembali ke kesadaran nan jauhnya, Garfiel melihatnya di dalam keruhnya air.

Parang Iblis memotong dinding dan permukaan tanah kanal, serangan dewa perang menciptakan celah terpisah di kanal.

Dia tidak sempat atau punya oksigen untuk bertanya tujuannya.

Suara bilah dari segala arah mengguncang aliran air, hingga akhirnya suara logam pecah dan desakan bergema mengejutkan secara bersamaan.

Sesaat berikutnya, datang aliran air baru.

Terpisah dari aliran kanal sebenarnya, aliran airnya berbeda sepenuhnya. Badan Garfiel terjebak aliran air ini, dia tersedot dan terlempar keluar dari kanal.

“—huah, kuuh, kuuh.”

Sensasi air di sekitarnya menghilang, lalu Garfiel meludahkan volume air yang ditelannya.

Dari mata, hidung, telinga, seluruh lubang dalam dirinya mengalirkan air keluar, kemudian Garfiel menggeleng kepala.

Sewaktu memikirkan apa yang terjadi, dia mendengarnya.

“—Harimau Menawan?”

Dalam suara air mengalir, seseorang dengan tenang memanggilnya.

 

 Catatan Kaki:

  1. Bahasa inggrisnya That was the principle of a flick to the forehead. Gua gatau artinya, jadi gua terjemahkan secara literalnya aja, mungkin ada yang tau? Hubungin FP gua.
  2. Gendang telinga atau membrana timpani adalah selaput atau membran tipis yang memisahkan telinga luar dan telinga tengah. Ia berfungsi untuk menghantar getaran suara dari udara menuju tulang pendengaran di dalam telinga tengah.

8 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 55”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *