RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 49

Posted on

Demikian Dibukalah Perang Salib Melawan Keserakahan

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

“—Subaru!”

Suara itu terdengar memanggil Subaru, si pria telah menghantam pintu katedral dan menerobos masuk.

Suara itu asanya dari Emilia, dia sedang berdiri di depan altar, mengenakan gaun pengantin.

Mengenakan gaun putih salju, rambut panjangnya dikepang melingkar, dia terlalu cantik; indahnya sampai mempesona. Kalau situasinya benar, Subaru, lebih dari orang lain pasti mengagumi pakaian pengantin Emilia.

“Aku pilah pemikiranku tentang E.M.T nanti. Sepertinya kita merusak pernikahan di sini.”

“Upacaranya sudah salah, tampaknya. Terlepas dari itu kita masih dianggap pengacau di sini.”

Dari jauh, Reinhard melirik Emilia dan Regulus ketika mereka saling melotot, dan setuju dengan gumam Subaru. Upacaranya terlihat berjalan buruk, memberi mereka kesempatan sempurna untuk menyusup.

Setelah mendengar kata-kata mereka, wajah tidak sabaran Regulus memerah murka. Dia menarik bagian depan jasnya dan mulutnya berubah.

“Maaf, meskipun aku menghargai tamu tak diundang seperti kalian, bagaimanapun, pernikahan ini akan segera menjadi pemakaman. Persiapan emosional untuk acara penuh kegembiraan ini menjadi acara berkabung … ah, iya juga, kau tidak perlu memikirkan hal-hal semacam itu. Karena kau ‘kan berubah jadi yang mestinya mengucapkan selamat tinggal menjadi yang diucapkan selamat tinggal.”

“Hei-hei, maksudmu apa padahal ditolak tepat sebelum pernikahan berlangsung? Pengantinnya juga kelewat muak sampai-sampai mengajukan penceraian Narita1. Tunjukkan aku sedikit rasa malumu. Lagian, kau tidak dengar saat memperkenalkan orang di sampingku?”

Perihal ocehan kejam Regulus, Subaru mengejeknya selagi menatap Reinhard. Kaget, Regulus mendesau, ‘Ah’, dari sela-sela giginya.

“Siapa, Pedang Suci? Kupikir pernah sekali mendengar tentangnya. Bukannya dia dijuluki seseorang yang tidak tahu apa-apa selain mengayunkan pedang doang? Kau dan orang macam dia merencanakan apa? Mungkinkah kau menganggapnya kartu truf? Ahahaha, lucu. Entah itu reputasi sejarah atau kemuliaan garis keturunan dan apalah, kesemuanya semata-mata tradisionalisme kuno. Gagasan seperti itu, tatkala dilanda gelombang kemajuan, akan hancur menjadi abu. Bukankah itu cara kerja alam? Kalian berdua, apa datang ke sini untuk menunjukkannya?”

“Tidak tahu apa-apa selain mengayunkan pedangnya. Omonganmu lucu. Faktanya, banyak harapan pada peranku asalnya dari satu fakta itu. Namun ada sedikit masalah di sini.”

Bahkan ketika dihadapkan kesombongan itu, Reinhard tidak sedikit pun terlihat jengkel. Seraya bicara, tangannya pelan-pelan bergerak ke pinggang.

Pedang surgawi terselubung, pahatan yang diukir langsung oleh sang naga sendiri, pedang yang senantiasa Reinhard bawa. Akan tetapi, saat telapak tangan mengepalnya meraih sekitar gagang, dia menggeleng kepala.

“Ada apa, Reinhard?”

“Pedang Naga, adalah pedang tak tertandingi yang sudah diwariskan semenjak awal keturunan Astrea, tetapi kekurangannya hanya satu. Ia menolak dihunuskan di depan musuh apa pun yang dianggapnya tak layak.”

“Artinya?”

“Tampaknya pedang menyimpulkan tak layak dihunuskan melawan musuh ini.”

“—ah.”

Entah Reinhard bermaksud demikian atau tidak, Regulus mendapat hinaan yang lumayan memalukan. Tapi Subaru secara langsung telah menyaksikan sewaktu melawan Elsa, pedangnya tak terhunus, lantas dia mengerti maksud Reinhard.

Namun terlepas dari hal jelas tersebut, Regulus masih tidak berpikiran baik.

“Seorang Pedang Suci yang tak mampu menghunus pedangnya, mengapa juga aku repot-repot mengurusmu? Jangan kurang ajar, sampah. Dari awal, tingkatanmu bahkan tak sama denganku; kau, yang berjuang dengan keburukan dan dalih tak pasmu, bahkan tidak dapat dibandingkan dengan orang yang sudah sampai kesempurnaan. Orang tolol yang tidak bisa menjamin keberhargaan dirinya tanpa membandingkan diri ke orang lain tak berhak menghadapi diri ilahiahku.”

“Kedengarannya begitu, kau beneran berpikir demikian.”

Menurut mata membara Regulus, dia sedang melihat najis, Subaru tersadar dia benar-benar terkejut.

Mengabaikan semua ancamannya, dan cuma mendengarkan inti pidatonya—

“Kau ahlinya munafik, kan? Mengaku-ngaku mencapai kesempurnaan, padahal tidak memenuhi satu pun perbandingan orang mana pun yang kau temui?”

“—uh! Dasar rendahan, jangan berlagak menceramahi aku yang sempurna!”

Marah oleh cemooh Subaru, Regulus akhirnya menindak ancamannya.

Dengan niat membunuh, dia menghentak tanah di depan altar; seketika, lantai beraspal hancur oleh kekuatan mencengangkan. Aliran kehancuran menabrak lurus ke depan, menyapu pecahan kayu serta batu pada proses maha kuatnya dan semakin menghancurkannya.

“—uwahh!?”

“Subaru, sebelah sini.”

Persis saat gelombang destruktif mendekatinya, seseorang tepat waktu meraihnya dan menariknya ke tempat aman.

Hembusan angin keras mendadak membebaskan Subaru dari belenggu pusaran; itu tindakan Reinhard. Dengan satu tangan dia menarik Subaru ke dekatnya sambil menghindari serangan.

Pelan-pelan memposisikan Subaru ke tanah, Reinhard berbalik, bersiap menghadapi Regulus. Akan tetapi—

“Jangan bergerak! Berani melakukan apa pun, mereka semua sekejap akan mati.”

“….”

Memelototi Reinhard yang berdiri tegak, tangan Regulus menempel di dinding katedral.

Barisan wanita berpakaian rumit dengan tenang mengawasinya. Jelas-jelas mengetahui maksud perbuatannya dan gentingnya situasi, tetapi mereka tetap berbaris, tak acuh menerima kekacauan di sekitarnya.

“Begini, walaupun aku inginnya tak terlalu tahu, siapa wanita-wanita ini?”

“Mereka semuanya adalah istri tercintaku. Putri-putri cantik yang menghargai dan dihargai olehku. Bisakah kau tahan melihat orang tak bersalah mati? Teganya kau sekejam ini!?”

“Sialan, memang aku sudah curiga, ternyata benar tidak bisa mengajaknya bicara sama sekali.”

Adakah yang dapat Subaru perbuat? Retorika Regulus betul-betul tidak masuk akal.

Menyandera para wanita ini, dan masih mengklaim mereka istri-istrinya, tak masuk dunia akal. Paling buruknya adalah proklamasi tak bersalah dan gagasan bahwa Regulus akan membunuh mereka, tidak salah lagi benar.

Pertempuran sandera tidak logis ini memang taktik yang sangat efektif.

“Bukannya aku ingin mereka mati atau semacamnya. Kendati begitu, jika kau masih saja menolak, tidak ada alasan lain. Akan aku mulai dari awal dan lanjutkan secara bertahap. Bukannya memaksaku melakukan hal buruk itu namanya tak berperasaan?”

“Memang sama sekali tidak masuk akal, namun aku tak ingat pernah memaksamu sampai segitunya?”

“Jangan terus membalas! Barangkali aku yang secara langsung membunuh mereka. Tetapi kau menyalakan sumbu ini. Niat membunuhmu adalah senjata sejatinya. Kau memanfaatkanku sebagai penyokongnya. Kaulah pembunuh sebenarnya! Jangan hindari tanggung jawab. Dasar pembunuh istri tanpa perasaan ….!”

Caci maki membara di mata Regulus seraya dia menggertak gigi. Pembunuh yang menyemburkan retorika sintingnya terlihat tidak terganggu sedikit pun oleh pernyataan menjijikkannya.

Sembari mencoba mengulur waktu dengan dialog, Subaru melirik Reinhard. Namun lawan mereka yang tak stabil menawan lima puluh sandera. Kalau dua dinding runtuh di saat bersamaan, bahkan Reinhard pun takkan mampu mencegah korban.

“….”

Seandainya terus seperti ini, mereka akan dalam situasi buntu—tidak, situasinya berlanjut sesuai harapan Regulus.

Akan tetapi, seketika dia berpikir demikian ….

“Kau sudah melupakanku?”

“Huh?”

Cahaya-cahaya es mulai menari di samping Regulus.

Sesaat, cahayanya menyelimuti seluruh gereja; berikutnya, suara-suara tajam terlahir. Cahaya serta suara mengikuti satu sama lain, tersambung dan beresonansi, melodi sederhana jernih yang menyelubungi seluruh katedral.

Di waktu yang sama, pesona es bersinar di tengah-tengah ruangan.

Pesona es terpusat pada katedral, membentuk perlindungan es di sekitar para wanita yang disandera Regulus.

Selain itu, es telah membekukan kaki Regulus ke tanah, dan pedang beku bergerak sendiri hingga menekan leher Regulus yang tanpa pertahanan—pedang yang memanjang dari tangan Emilia.

 “Kau terlalu ceroboh tadi. Bahkan aku pun tak menyangka bisa langsung melawanmu, jadi aku perlu bersiap lama dan pasti untuk membekukanmu seperti itu. Kau kalah.”

“… menurutku, kau benar-benar tidak sanggup membaca suasananya, bukan? Saat ini, bukankah aku hendak memaksa mereka agar mundur? Inii adegan penting, menunjukkan bahwa aku mampu menghadapi musuh tercela dengan penuh tekad. Serta istri-istriku pula, semua orang jelas percaya dan mendoakan kemenanganku … menurutmu kau siapa?’

“Lepaskan kami semua sekarang juga. Sekalipun tidak ada yang mengatakannya, beberapa ada yang tinggal bersamamu karena takut saja. Biarpun begitu, kau harus menghargai mereka, karena merekalah yang berusaha membantumu ….”

“—sungguh, kau pikir lagi bicara dengan siapa? Sepertinya bijaksana tidak menjadikanmu seorang istri?”

“Eh?”

“Emilia, jangan! Itu belum cukup untuk menghentikannya!”

Biasanya, serangan Emilia adalah aksi finalnya. Keputusan Emilia tepat.

Namun lawannya saja yang semata-mata melampaui batas kemanusiaan.

“—cih.”

Sambil mendecih, Regulus mulai memelintir anggota tubuhnya yang membeku, gerakan minimnya mulai menghancurkan es yang menjebak kakinya.

Sekejap sisa-sisa es mulai mencair, penjara beku hancur menjadi debu. Dihadapkan tindakan pembalik itu, Emilia hampir tak sempat menarik napas karena Regulus sudah mencekik lehernya, dia digantung oleh tangannya.

“Kesombongan semacam itu, bahkan tanpa tahu cara membuat dirimu layak sebagai seorang pria. Tidak masalah jika kau perawan secara fisik atau mental, roh tak murnimu yang menentukan. Dasar lonte. Pelacur kotor. Seakan-akan memainkan hati tak bersalahku belum cukup, kau semakin memperparahnya, dan hendak mengancamku. Tidak pernah aku melihat wanita setaktermaafkan ini.”

“Uggh, erh … uuuh ….”

“Wajah manismu, berapa banyak pria yang tertipu? Satu senyum singkat, dan kau sudah menghangatkan hati mereka. Suara lirih, sudah memenangkan semua perhatian mereka. Sentuhan lembut, lalu mereka akan memberikan banyak hadiah kepadamu. Ah, ah, sungguh wanita kotor.”

“Hentikan! Singkirkan tanganmu darinya, brengsek!”

Dirinya mendesah, suara Regulus terdengar jijik seraya bicara dengan Emilia yang masih dicekik tangannya. Mata Regulus dingin dan tak manusiawi, kata-kata tak terucapkan menembus amarah Subaru.

 “Kau ini sebodoh apa, sampai tidak bisa menyelesaikan situasi ini? Ataukah kau orang-orang tolol itu yang menyerah paham? Padahal aku tak henti-hentinya berusaha menjelaskan, tetapi orang-orang sepertimu yang tidak ingin memperbaiki diri dan malah mengabaikan pemikiran logis, bukannya sia-sia bermurah hati padamu? Berusaha sebaik mungkin berada di pihak lain, kau bahkan tidak bisa melakukan itu? Masih sama pula tingkahnya, bukannya kemampuan interaksimu memalukan?”

“Lepaskan Emilia, baru aku dengar permintaanmu.”

Dari samping Subaru yang terdiam marah, Reinhard berbicara kepada Regulus.

Mendengarnya, orang biadab tersebut mengangkat alis. Kelihatannya memutuskan percakapan dapat mengalir lebih lancar pada Reinhard alih-alih Subaru yang mendidih.

“Lumayan, lumayan, sikap rendah hati itu. Justru karena banyak orang punya segala macam alat komunikasi, apabila mereka ingin topik mengalir ke arah yang diinginkan, mereka mesti menggunakan metode ini secara efektif. Mereka yang tak memahaminya, mayoritas, cuma dapat mengandalkan kekerasan untuk mengerti pesan-pesannya. Betapa menyebalkan. Bukannya jelas persoalan yang bisa diselesaikan negosiasi tak memerlukan kekuatan fiisk? Yah, orang-orang seperti itu sama sekali tak mengesankan. Orang-orang sepertinya tidak berpeluang melawan pasifis sepertiku, bukannya itu wajar?”

“Tak usah diutarakan dengan dramastis. Biarkan aku mendengar permintaanmu. Melihat Emilia-sama menderita sama-sama menyakitkan aku dan temanku.”

“Baiklah. Maka akan aku utarakan lugas-lugas—jatuhkan sarung itu dari pinggangmu dan hadap aku di depan altar.”

Saat wajah Emilia memucat, Regulus sengaja mengangkat Emilia lebih tinggi. Kakinya menggantung di udara, dan pedang esnya sirna sampai tak kelihatan lagi.

Melihatnya, Reinhard tak ragu-ragu lagi. Dia membebaskan Pedang Naga dari pinggangnya dan menyerahkan ke Subaru.

“… kalau ini sandiwara, aku betulan ingin menghunus pedang ini dan mengakhiri bajingan itu.”

“Itu ide bagus, tapi sayangnya, aku ragu kau bisa menghunusnya. Tenanglah, aku akan menyelamatkan Emilia-sama.”

Menyimpulkan kasak-kusuk mereka, Reinhard mematuhi perintah Regulus.

Sang Pedang Suci berdiri, tanpa senjata, di tengah kuil, berhenti kala Regulus memerintahkan, ‘berhenti di sana’. Hanya ada sekitar lima meter jarak antara keduanya; jarak yang mampu sekejap dilewati Reinhard.

Namun masalahnya adalah Regulus sekarang ini yang lagi mencekik Emilia, dia akan membunuhnya sewaktu Reinhard mendekat. Kemudian sifat sejati Regulus yang tak terkalahkan belum terpecahkan, sekalipun petunjuknya mereka miliki.

Membebaskan diri dari penjara Emilia, lanjut memulai jalan kehancuran. Di suatu tempat itu bersemayam Invincibility-nya.

“….”

Sembari menahan napas, Subaru hati-hati mengamati gerakan Reinhard.

Pada saat ini, tidak sanggup menemukan kesempatan untuk memecah kebuntuan, dia semata-mata mengandalkan Reinhard. Karena ingin segera bertindak, Subaru tahu dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelesaikannya.

“Sesuai permintaanmu, aku berhenti di sini. Berikutnya apa?”

“Biarkan aku membunuhmu. Mudah, toh? Sedikit klise, aku pun berpikir demikian. Tapi apakah kau di sini untuk istriku, atau untuk pelacur ini? Aku tak merasakan ketulusan dalam kepalamu. Bukan aku ingin memaksamu. Aku cuma tidak mau disalahpahami sebagai orang egois dan idividualis. Aku ini cuma pria normal, puas dengan kegembiraan hidup sehari-hariku. Aku harap kau mengerti sepenuhnya.”

“….”

“Lantas, hanya ada satu syarat agar aku melepaskan sanderanya. Tetap di sini, dan tahan satu seranganku. Jangan bertahan, jangan menghindar. Selama kau melakukannya, akan aku bebaskan semua orang. Dengan begitu serangan tak adilmu padaku akan dimaafkan, benar?”

“Satu serangan, ya?”

Dihadapkan tuntutan Regulus, Reinhard mengelus dagu selagi memikirkannya.

Menyaksikan sosok merenungnya, mental Subaru menggeleng kepala mendengar seberapa absurd tuntutannya. Bagaimanapun penampilan Regulus, kekuatan serangannya jelas.

Kekuatan memuakkan yang mampu menghancurkan segala yang nampak; bahkan Reinhard takkan sanggup menahan serangannya. Walaupun dia nyaris tak bergantung pada hidupnya, semisal dia dibiarkan tanpa pertahanan, pertarungan ini mustahil dilanjutkan.

“Aku mengerti. Aku terima.”

Namun, bertentangan dengan gangguan internal Subaru, Reinhard tanpa ambil pusing menerimanya. Terperangah, Subaru melihat Regulus mengangguk setuju.

“Pencerahan bijaksana, aku paham. Aku menghormatimu. Meskipun kau musuh yang mencoba membunuh istri-istriku, kau paling tidak terlihat punya kerendahan hati dasar manusia.”

“Mengandalkan sandera biarpun dia sendiri tak terkalahkan, apalagi merasa tidak bersalah ….”

Sekilas, Regulus serta tutur lembutnya, imbuh berbunga-bunga menjijikkan benar. Akan tetapi, tampaknya Regulus tidak mendengar ocehan Subaru, tangannya tetap mencekik Emilia dan tangan kanannya mulai menghadap Reinhard.

“R-Reinhard, kau … apa yang kau pikirkan?”

“Subaru, seperti yang dijanjikan. Sisiku yang kurang, kau akan menemukan cara mengisi celahnya, kan?”

“Jangan buat aku tidak semangat ….”

Bahkan pertarungan tersulit pun ada peluang menangnya, itulah jawaban yang Subaru harap akan didengarnya. Tetapi, sebelum dia sempat merespon, Regulus melambai kepeada Reinhard.

Dia tak melihatnya. Ujung jari mengiris udara, seakan-akan melempar sesuatu ke Reinhard; namun proyektilnya gaib. Serangan itu mungkin sangat mirip Unseed Hand.

Spekulasinya benar atau tidak, masih tak terjawab.

“….”

Sosok Reinhard yang telah berdiri di hadapan Subaru, runtuh hingga menjadi percikan darah.

Tubuhnya yang terbagi dua jatuh ke tanah, seolah-olah tertancap oleh corong seorang penembak jitu di samping, seratus persen tak seperti watak halus normalnya.

“Eh—?”

Darah mengalir keluar dari mayat Reinhard yang jatuh, karpet merah tua diwarnai ungu kehitaman. Tubuhnya gemetar layaknya pegas, terguncang oleh kematiannya.

Akhirnya, kemudian tiba tatkala pergerakannya melemas, lalu mayatnya memasuki alam kematian sejati.

Inilah kematian Reinhard van Astrea.

“Bagaimanapun perbuatan seseorang semasa hidup, kematian adalah hal sederhana. Mereka yang memiliki prestasi besar, mereka yang telah melakukan dosa besar; kematian memperlakukan mereka setara, mencuri hidup dengan cara sama. Dalam dunia yang sangat tak adil ini, itulah salah satu dari sedikit sesuatu yang betul-betul bagian kehidupan.”

Membunuh Reinhard dengan lambaian tangan, Regulus menggeleng-geleng kepala belaka.

Si pembunuh memasang mata tenang, seolah-olah bukan perbuatannya.

“Justru karena mereka tahu akhir akan datang, orang yang hidup tak seharusnya mengejar terlalu banyak kebahagiaan semasa hidupnya. Karenanya, aku sangat puas dengan ambang rendah kebahagiaanku. Dan seandainya aku Kesarakahan, itu semata-mata karena selalu ingin menghargai yang aku miliki, dan yang kelak aku miliki. Semisal aku tak pernah puas dengan jumlah yang aku miliki, aku takkan pernah bahagia dalam hidupku. Namun untungnya, aku lahir dengan hadiah unik. Sensibilitas menemukan kepuasaan pada suka cita sederhana.”

Sambil menempelkan lengan mati Reinhard ke dada, Regulus mulai tertawa.

Kemudian—

“Aku yang puas penasaran, apa kau puas dengan kematian? Apabila iya, maka selamat atas kematianmu. Sekiranya tidak, itu adalah kata-kata takdir.”

“AAAAAAAAARRRRRRGHHHHHHH—”

Sebelum dengung perkataan konyol Regulus pudar, Subaru meraung beraksi.

Subaru meraih kursi dan dilemparkan ke Regulus. Menghadapi serangannya, Regulus hempas jauh dengan satu lambaian, seakan mengusir serangga. Dampak remehnya menghancurkan kursi, lalu Regulus melangkah pergi sembari menunjukkan ekspresi tak menyenangkan.

“Dibanding orang lembut itu, kau sungguh-sungguh berisik dan kasar.”

“Seorang kesatria tanpa sifat kekesatriaan memang spesialisku!”

Menginjak karpet yang dinodai darah Reinhard, Subaru mengambil cambuk di pinggangnya dan ujungnya diarahkan ke Regulus.

Menanggapi, Regulus cuma menunjukkan cengkeraman ketatnya di leher Emilia sambil mengangkatnya.

“Apa matamu itu hiasan saja? Kau tidak lihat aku yang berpengaruh di sini?”

“—semua ini aneh sekali. Padahal janjimu, harusnya kau sudah membebaskan para sandera.”

“—eh!?”

Seketika Regulus mendengar suara tersebut, wajahnya terlihat ketakutan.

Selagi mengalihkan pandangannya dari pusat katedral, Subaru melihat sesosok tubuh ramping yang berlumuran darah, tenggorokannya tiba-tiba merasa syok.

“Apa—!?”

Divine Protection of The Phoenix.”

Dengan singkat, Reinhard merespon Regulus yang bimbang, tiga orang bergerak secara bersamaan.

Subaru melompat ke altar, menarik seorang wanita berambut pirang ke tempat aman.

Meskipun tenggorokannya tercekat, Emilia menendang pedang esnya ke Reinhard.

Reinhard yang muncul entah dari mana, menangkap pedangnya dan dihunuskan ke Regulus.

Para wanita yang terlindungi barisan api, sang pemilik pedang tidak lagi menahan diri.

Sedetik berikutnya, suara menghilang dari dunia—cahaya biru cemerlang menyertai gelombang kejut yang menghampar katedral.

4 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 49”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *