RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 43

Posted on

Sebelum Menuju Titik Pertemuan

Penerjemah: Looking Glass Knight.

“Maafkan aku karena tidak membantu pada waktu-waktu kritis ini. Aku hanya bisa belajar dari kekuranganku.”

Ditatap semua orang di dalam, Reinhard meminta maaf.

Melihat sang Pedang Suci menundukkan kepala, semua orang sejenak terdiam.

Bicara kasar sebagai tanggapan permintaan maafnya adalah masalah sederhana. Tetapi, penyalahan lebih mudah dibuat ketimbang penyampaian niat sejati.

Sejujurnya, selama ini mereka teramat membutuhkan kekuatannya, Reinhard statusnya menghilang dan belum berubah.

Saat Balai Kota direbut kembali, jika kekuatan setara ada di sana, tak terpikirkan lagi hasilnya.

Bahkan kata-kata negatif saja, tidak mudah terucap dari bibir siapa pun.

Hanya satu orang ….

“Masa, dasar dungu. Karena kau tidak di sini, menurutmu seberapa sulit bagi kami?”

Mendekati pahlawan merah tua tersebut, Subaru memanggil sambil mendorong dadanya.

Ketika tinju pelan menyentuh Reinhard, tingkahnya tidak bisa membenarkan dirinya dari Subaru, alhasil dia mengalihkan pandangan. Dirinya yang dimarahi dan kecewa tidak cocok dengan penampilannya, Subaru mendengus.

“Kau tahu, kalau kau mau datang, muncul saja lima belas menit sebelumnya! Lalu aku takkan berpidato yang tak sesuai karakterku sama sekali. Itu harusnya pekerjaanmu.”

“Maaf … akan tetapi, pidatonya sangat cocok padamu. Walaupun aku bisa melakukan banyak hal, memberi siaran yang membangkitkan semangat semacam itu bukan keahlianku. Kaulah pilihan tepatnya.”

“Antara kau dan aku, peran yang diperlukan buat siaran itu sedikit berbeda, kurasa.”

Sekali lagi Subaru mendorong dada Reinhard yang tersenyum pahit itu. Jarinya pun menotol ujung hidung pahlawan yang tertunduk itu.

“Reinhard.”

“….?”

“Kedatanganmu laksana seratus orang, tidak, seribu. Dengan begitu, aku dapat berekspektasi sebanyak itu, kan? Dapatkah aku mengandalkannya?”

“…..”

Kekuatannya menyaingi musuh. Seratus kali lipat Subaru, bahkan evaluasi seribu pun menggelikan.

Pada pertanyaan penuh harap Subaru, mata biru Reinhard berkedip. Tetapi keraguan itu segera memudar, bibir Reinhard tersenyum.

“Aah, andalkan aku. Seandainya kau berharap sebanyak itu, maka akan kujawab.”

“Jenis bicara yang entah bagaimana membuat wanita senang, tidak bisa kau hentikan? Apa, cukuplah … karena itu, apabila orang lain punya sesuatu yang hendak dikatakan, tolong beritahu kami.”

Melihat ketidaknyamanan awal menghilang dari muka Reinhard selagi Subaru tertawa, Subaru berbalik dan menoleh ke belakang. Menatap mereka yang sampai sekarang belum bilang apa-apa, dia menunjuk Reinhard.

“Pada momen-momen ini, pihak yang mendapat perlakuan khusus lebih menderita. Selain itu, kesempatan marahin pedang suci ini tidak sering terjadi. Jadi seingin apa pun itu, lakukan saja.”

“….”

“Setelah mengutarakan pikiran kita, mari bicara—mengenai bagaimana membantu semua orang.”

Membuka hatinya, Subaru berbicara demikian.

Melihat tingkahnya, suasana serasa menahan napas.

Otto dan Garfiel, cuma keduanya yang terbiasa oleh keberanian Subaru dan tersenyum olehnya.

Omong-omong, satu atau dua orang tahu niat sebenarnya Subaru merasa baik.

Mereka tak menahan pikiran, karena itu memang tepat setelah dia berpidato.


Sesudahnya, pembicaraan pribadi Reinhard (rincian dihilangkan) diadakan, sekali lagi membicarakan cara merebut kembali kota dimulai.

Meskipun bilang begitu, selain pikiran Reinhard dan Otto yang setuju, tidak ada peningkatan jelas. Jumlah musuh yang dapat dilawan, serta strategi merebutan menara pengendali secara bersamaan tidak berubah.

“Tetapi di tengah kekacauan ini, Reinhard di mana dan dia sedang apa?”

Selagi mereka duduk dalam bentuk lingkaran, Subaru mulai mengajukan pertanyaan itu.

Ekspresi Reinhard berkabut mendengar ucapan Subaru. Hari ini, wajahnya kerap kali seperti itu.

“Felt tidak bersamamu, dan banyak hal yang ingin aku dengar. Ah, memarahimu itu tidak termasuk, bukan semacam itu, kan? Perkaranya, dari kata-kata sebelumnya, aku menganggap tidak terjadi apa-apa.”

“Tukas Natsuki-kun, yah, sebagian diriku penasaran juga. Mustahil sang Pedang Suci ketakutan dan bersembunyi, aku tidak berpikir seperti itu. Namun aku mau dengar alasan meyakinkan.”

Atas pertanyaan Subaru, Anastasia bergabung. Cermat mengamati tingkah laku Anastasia, sepertinya dia telah menerima laporan dari Julius.

Persis sebelum kekacauan terjadi, Reinhard bersama Felt menghubungi Heinkel bersama, katanya.

Setelah ditanya Anastasia, raut wajah berkabut Reinhard tampak membuktikan pernyataan itu.

Wilhelm pun, soal penjelasan Heinkel van Astrea, sangat-sangat kabur. Terlepas darinya, pendekatan mereka layaknya—

“Layaknya seorang anak yang terjebak sepuluh tahun, dan kini bocah nolep pro dianggap tidak berguna oleh orang tua yang sudah lanjut usia ….”

“Natsuki-san berdelusi aneh, jadi aku minta maaf, tapi kau bagaimana? Andai sulit bagi Reinhard-san untuk mengatakannya, maka bisa aku katakan, tapi.”

Selagi Subaru teringat kilas balik berita malam khusus tentang Hikkikomori, Otto menimpali. Tatapan resahnya diarahkan kepada Reinhard, dan nada suaranya seolah terdengar minta maaf.

“Dan kau datang bersama Reinhard ‘kan, tapi mungkinkah kau bersamanya selama kekacauan juga?”

“Tidak, tidak seperti itu? Aku bergabung sama Reinhard-san di saat-saat terakhir …. Akan tetapi, aku sebagian besar sudah memahami situasinya.”

“Terima kasih, Otto. Tapi ini masalah Keluargaku. Sungguh, topik ini sulit didiskusikan, sebaiknya aku simpan sendiri saja.”

Atas pertimbangan Otto, kepala Reinhard menunduk dan menolak tawarannya.

Menatap ke depan, postur tubuh menegak sesaat kemudian.

“Pertama-tama, biarpun sudah aku tutur berkali-kali, izinkan aku meminta maaf sekali lagi. Sementara berada dalam posisi yang semestinya sejak awal turut membantu, banyaknya waktu aku mengabaikan situasi. Aku teramat amat meminta maaf, dan menanggapi masalah ini serius.”

“… waktu itu pandangan kami sesuai perkataan tadi. Kami tidak bisa memaafkan semuanya seolah tidak ada masalah. Akan tetapi, kau dibutuhkan pada pertempuran yang akan datang. Semisal kau ingin bertaubat, maka usahakan yang terbaik di pertarungan selanjutnya.”

“Akan aku lakukan, Julius …. Ketika siaran pertama Kultus Penyihir, Felt-sama dan aku berada di sudut Second Street karena dipanggil. Orang yang memanggil kami adalah Wakil Kapten Heinkel.”

Reinhard yang mulai berbicara, menyebut Heinkel Wakil Kapten dengan suara kaku.

Sudah jadi rahasia umum mereka ayah-anak. Terlepas dari itu, memanggil ayahnya dari gelar, cukup membuat orang paham hubungan antara keduanya bukan ayah-anak sederhana belaka.

“Setelah pertengkaran dan perpisahan sebelumnya, Felt menjawab panggilannya?”

“Felt-sama pun, dalam hati beliau pasti ingin menolak. Akan tetapi, pembicaraan ini perkara wewenang Kepala Keluarga Astrea, jadi opsi penolakan jelas tidak ada. Permintaannya kami tidak tahu …. Felt-sama menyertaiku, kami pergi ke tempat pertemuan.”

“Bagiamana keputusan pembicaraan di sana ….”

“Maafkan aku, tetapi karena masalahnya terkait dan mengacu Pemilihan Raja. Aku sangat menghargai andai diperkenankan untuk tak menguraikannya. Singkatnya, pembicaraan tidak berjalan lancar.”

Nada suara Reinhard melirih, mudah mengetahui percakapannya berjalan buruk.

Sekalipun tidak seperti itu, Felt tidak punya pengalaman mengendalikan emosi negatif.

Mempertimbangkan sifat tercela Heinkel, tidak sukar membayangkan bagaimana perbincangannya berlangsung.

Di tengah-tengah konversasi itu—

“Kemudian, datang siaran pertama Kultus Penyihir. Kendati kami hampir tidak bisa mempercayai telinga sendiri, jelas kami harus segera bergerak. Seumpama ada situasi yang betul-betul mengerikan. Memang niatku langsung segera keluar. Pengikut-pengikut lain, mereka pun punya metode untuk memanggilku bila diperlukan.”

Metode itu adalah meluncurkan sihir ke langit kapan pun. Itulah sinyalnya.

Tatkala Sirius muncul, jika Latius melepaskan sinyalnya, Reinhard akan selalu berlari ke TKP dalam waktu 30 detik. Yang dia katakan benar.

Akan tetapi, Reinhard telah mendengar siaran Kultus Penyihir dan kedengkian jelasnya, tetapi masih tidak bergerak. Dia tidak berlari ke tempat kejadian, bukan itu saja, selama beberapa jam kemudian dia tetap diam.

Itu terlampau …. Kenapa, sih?

“Siaran yang mengaku asalnya dari Balai Kota, Kau pun tahu itu. Kala itu, kau punya opsi untuk pergi ke Balai Kota …. Terus kenapa, kau tidak datang?”

“…..”

Subaru memarahinya bukan tanpa alasan. Maksudnya bukan itu, tapi suara kerasnya mendesak jawaban.

Ada lebih dari beberapa hal yang terpikir olehnya. Jika Reinhard datang sebelum pertarungan sulit perebutan kembali Balai Kota—bahkan kini, Crusch yang tengah berjuang melawan penderitaannya takkan tersakiti. Barangkali berakhir tanpa kaki kanan Subaru mengalami insiden aneh lain.

Meskipun itu tidak disengaja, tatapan yang kian tajam di sini bukan hanya Subaru.

Menerima tatapan semua orang di ruangan tersebut, Reinhard yang sampai kini berbicara lancar, menutup mulut dan pandangan sekali lagi menurun.

Bulu mata panjang dan sepasang pupil bersinar, di depan itu dia ragu-ragu berbicara sepatah kata pun.

Kendati begitu, setelah beberapa detik konflik itu berangsur berlalu, sang pahlawan mulai berbicara lagi.

“—Wakil Kapten Heinkel telah menyandera Felt-sama.”

“….”

“Ini kegagalanku yang tidak bisa diubah. Felt-sama didekap dan sebuah pedang diarahkan ke lehernya untuk menghentikanku. Lantas, aku tidak sanggup melakukan apa-apa.”

Mengatakannya, Subaru jelas paham kenapa Reinhard telah berjuang begitu gigih.

Nona yang mesti dia berikan segalanya, telah ditawan oleh ayahnya sendiri.

Dihina dan dipermalukan, separah apa mental Reinhard menyalahkan dirinya sendiri?

“… cih, kenapa begitu? Wakil Kapten, dia bidak Kultus Penyihir atau semacamnyatah?”

Menerima pengakuan mengejutkan sambil mempertimbangkan perasaan Reinhard, Subaru bergumam sendiri. Apakah kebenaran itu kelewat kejam. Kultus Penyihir bersembunyi di mana-mana, jadi siapa tau dia sendiri seorang pemuja yang dia dengar sekarang. Namun muncul di tengah keluarga seperti itu adalah sesuatu yang tak ingin dipikirkan. Selain Betelgeuse, setelah melihat kenyataan Uskup Agung Dosa Besar lain, dia kini lebih memikirkannya. Sebab semua Kultus Penyihir adalah manusia sampah terendah.

“—misal demikian, bagaimana reaksiku. Perasaanku, bagaimana ….”

“Apa?”

Namun terhadap kesimpulan Subaru—dari orang-orang yang hadir, sekitar setengahnya tampak yakin, dan Reinhard merespon dengan suara paham.

Tingkahnya itu, Subaru merenungkannya. Akan tetapi sebagian pihak yang terdiri dari Anastasia, Julius, dan Otto, ekspresi mereka seakan mengatakan telah mencapai kesimpulan lain.

“Wakil Kapten, bukanlah anggota Kultus Penyihir …. Setidaknya pada perbuatan hina beliau yang menawan Felt-sama, aku tidak meyakininya sama sekali.”

“Terus, kenapa, apa dia idiot? Tidak, biarpun dia tidak tolol, okelah tidak apa …. Lantas, mengapa? Mengapa menyandera Felt? Melakukan hal seperti itu, apa—”

Faedahnya, adalah yang Subaru ingin utarakan, seketika dia menyadari sesuatu ….

Raut wajah depresi Reinhard dan muka iba Otto. Melihatnya, kesimpulan yang ditariknya hampir ingin membuatnya tertawa.

Subaru tidak bisa tersenyum karena itu. Tiada cara untuk menyelamatkannya. Andai demikian, perbuatan Heinkel ….

“Bukan itu, perbuatannya semata-mata dia ingin menahanmu di sana?”

“….”

“Dari siaran Kultus Penyihir, dia menyadari kotanya berbahaya …. Jadi, agar dia aman dan terlindungi, dia cuma ingin erat-erat bergantung kepada pria terkuat di sana?”

“… Wakil Kapten bilang …. Nona berharga dan ayahmu ada di sini dua-duanya. Apakah kau akan meninggalkan mereka demi menyelamatkan sejumlah bajingan yang bahkan wajahnya tak kau ketahui?”

“Ayahmu sendiri menyemburkan omong kosong itu!”

Tinju Subaru menghantam lantai.

Sepanjang hari ini, pada pagi hari berulang-ulang dia bertemu amarah ini secara langsung. Tapi tidak mungkin dia pernah membayangkan akan semarah ini pada musuh yang sepenuhnya tidak terkait dengan Kultus Penyihir.

“Aku tidak bsia menanggapi apa-apa. Tentu saja, Felt-sama bilang itu semua gertakan saja. Karena beliau akan baik-baik saja, beliau bilang: ‘sana selamatkan yang lain’—tetapi aku tetap tinggal di sana, itu pilihanku. Aku memang salah.”

“Bagaimana bisa begitu! Siapa salahnya, jelas bagi semua orang di sini siapa yang salah!”

“Sekalipun begitu, aku yang memilih.”

Merespon teriakan Subaru, Reinhard tak menyerah menyalahkan dirinya.

Reinhard keras kepala, dia barangkali takkan berubah pikiran tidak peduli perkataan orang lain. Subaru dengan marah menahan lidahnya, dan mendesak perasaan murkanya tenang.

“Namun demikian, gara-gara pilihannya aku menemui jalan buntu. Yang terjadi setelahnya bukan hal menakjubkan. Bahkan setelah siaran lebih lanjut aku tidak berbuat apa-apa … aku hanya dimarahi habis-habisan oleh Felt-sama.”

“Tapi dia tidak bersamamu, apa Felt-chan baik-baik saja?”

Anastasia bertanya kepada Reinhard yang nyengir-nyengir.

Gadis yang merasakan sensasi sentuhan selendangnya sembari melangsungkan tatapan kosong yang sulit dibaca maksudnya, menunjukkan kepedulian perihal kondisi Felt sebab dia belum bergabung bersama mereka.

“Disandera berjam-jam seperti itu akan sangat melelahkan mental. Karena Reinhard-kun ada di sini, aku pikir maslaahnya mungkin sudah beres.”

“Ya, itu benar. Felt-sama kini bergabung dengan pengikut-pengikut beliau di selter. Wakil Kapten telah ditangkap dan Felt-sama mengawasi beliau.

“Ditangkap …. Dia tertangkap, ya.”

“Aku senang hati menerimanya. Tetapi tanpa bantuan Otto, itu sulit dicapai, pikirku.”

“Nama Otto nyangkut di sini, ya.”

Otto tidak muncul-muncul juga hingga saat ini, Subaru mengerutkan alis. Sekarang giliran Otto yang berdeham lirih untuk meminta perhatian.

“Seperti itulah. Meski demikian, kebetulan saja aku sampai di kejadian itu. Hanya karena aku menyadari hubungan antara ketiganya, terjadi di kejadian yang kurang lebih aku pahami situasinya.”

Masalah keluarga Astrea serta situasi pencalonan kandidat raja, Felt.

Mengetahui sebanyak itu, dia mendapati Heinkel menahan Reinhard dengan menyandera Felt. Walaupun otakmu buruk berpikir, cuma dari itu kau akan mengerti situasinya.

“Aku pun paham tidak dapat meminjam kekuatan Reinhard dalam perang melawan Kultus Penyihir adalah skenario terburuk. Di waktu yang sama wajahku memucat, dan memikirkan bagaimana bisa membantu.”

“Jadi Otto entah bagaimana menarik perhatian ke dirinya sendiri, dan entah apa Felt terbebas. Mulai dari situ Reinhard bisa bergerak, dan kini sukses mencapai kita …. Seperti itu, benar?”

“Beruntungnya, pidato besar Natsuki-san terjadi, jadi titik pertemuan telah diputuskan tanpa ambil pusing. Lebih bagus lagi jika bergerak sedikit lebih cepat, tapi ada banyak hal yang terjadi di sisiku juga.”

Biarpun singkat, Reinhard mengangguk terhadap kontribusi Otto.

Lagi-lagi, selagi orang-orang diam-diam tidak bertindak baik, Otto adalah penyelamat di balik layar.

“Tetap saja, bagaimana nasib Otto-san sampai sekarang? Mondar-mandir di kota dengan kekuatan Otto-san, itu sama saja bunuh diri.”

“Soal itu, ada banyak tikungan dan belokan …. Tidak, akan aku bicarakan.”

Membersihkan tenggorokan, Otto menunjuk bagian luar gedung Balai Kota.

“Sesuai jadwal pagi ini, aku pergi ke Perusahaan Muse sendirian. Untuk meminta Kiritaka-san melanjutkan negoisasi. Pihak mereka pun sudah mendinginkan kepala setelah satu malam berlalu, dan tampaknya janji negoisasi dapat diperoleh tanpa banyak masalah ….”

“Tampaknya, tapi?”

Sewaktu dia berhenti bicara dan terdiam, Kultus Penyihir hendak memulai siaran mereka, tebak Subaru.

Akan tetapi, Otto berbicara kembali sembari menggeleng kepala.

“Di lokasi Perusahaan Muse, alun-alun Third Street, Kultus Penyihir …. Seorang Uskup Agung Dosa Besar muncul. Sosok itulah yang membuat kegemparan, lantas ketahuan serangan Kultus Penyihir.”

“Seorang Uskup Agung ….! Sebelum siaran?’

“Ya. Memang, sebelum siaran.”

Otto mengonfirmasi keterkejutan Subaru, badannya condong maju.

Tetapi kalau dipikir-pikir, itu tidak mustahil. Jika Uskup Agung Dosa Besar beraksi sebelum siaran, Sirius dan Regulus juga termasuk.

Selain Capella yang kala itu menyerang Balai Kota, para Uskup Agung dengan waktu luang di Pristella yang melakukan sesuatu, kemungkinannya tinggi—

“Bentar, Otto.”

“….”

Di hadapan Subaru yang nada suaranya melirih, tatapan Otto memancarkan cahaya suram.

Tingkah risaunya, menegaskan perkiraan dalam imajinasi Subaru.

Sirius dan Regulus sama-sama bertemu Subaru kala itu dan tidak mungkin di sana. Capella juga berpartisipasi dalam serangan Balai Kota.

Mengatakannya, Uskup Agung yang datang di hadapan Otto adalah dia seorang.

“Yang kebetulan kau temui, mungkinkah Uskup Agung Dosa Besar Kerakusan?”

“… ya. Klaimnya itu. Percuma pula berbohong tentangnya, jadi aku rasa itu benar. Di alun-alun, memperkenalkan diri sebagai Uskup Agung Kerakusan, dia masih nampak bak anak-anak.”

Kesaksian Otto sesuai dengan yang Subaru lihat mengenai Roy Alphard.

Standar pemilihan Uskup Agung, bukan berarti dia pengen tahu apa-apa tentang itu, tetapi Kerakusan paling tidak luarnya adalah anak kecil. Seorang anak yang terbungkus kain robek-robek dan terlihat kotor. Soal cara bicara serta perilakunya, dia kelihatan mirip anak kecil.

“Pertama-tama aku merasa tidak yakin apakah itu seorang anak kecil yang dicampakkan, seseorang menghampirinya karena dipanggil. Karena orang itu berjaga-jaga di dekat Perusahaan Muse, aku rasa dia salah satu dari anggota organisasi Sisik Naga Putih. Dialah yang pertama ditelan Kerakusan. Sungguh, aku tidak mampu bergerak.”

“….”

 “Seperti itulah, dia seratus persen tamat, walaupun setidak nyata seperti apa pun kau cuma bisa mempercayainya. Segera, lebih banyak Sisik Naga Putih bergerak mengepungnya, tetapi tidak berakhir bahagia.”

Wjaha yang kian membiru, Otto diam-diam membicarakan tontonan menyedihkan itu.

Kerakusan ibarat tengah menari, semata-mata menebas tantara bayaran satu per satu. Yang bahkan lebih menakutkannya lagi, hidung tajam Kerakusan—ia adalah indra yang takkan pernah kehilangan jejak mangsanya.

“Karena situasinya seperti itu, tanpa memikirkan siapa yang mati, mereka semua mencoba kabur. Akan tetapi, orang itu tak membiarkannya. Sejatinya tidak ada yang tahu dia melakukan apa. Bahkan orang-orang yang berada jauh kena serangan Kerakusan. Bahkan di dalam gedung pun, sama.”

“Apa, yang dia incar?”

Tanpa sadar bertanya, Subaru menyadari bahwa pertanyaannya tak berarti.

Tindakan Kultus Penyihir, motif orang-orang itu tidak pasti. Alih-alih menjawab, Otto memalingkan kepalanya.

“Coba pikir, apa incarannya …. Ngomong-ngomong, situasinya mengerikan. Bahkan mereka yang berusaha melarikan diri dari sana, seketika berbalik mereka langsung diserang. Penjaganya ada sedikit, tetapi keadaannya tanpa harapan …. Jika Kiritaka-san tidak di sana, aku pikir aku pun tidak bisa sampai sini.”

“Kiritaka, bagaimana dia melakukannya?”

“Sedari awal sepertinya dia orang yang berhati-hati. Dalam kantor presiden Perusahaan Muse, ada lorong tersembunyi bawah tanah dalam gedung yang terhubung ke saluran. Aku kabur dari sana menggunakan perahu mini. Selagi melarikan diri, aku melihat punggung Kiritaka-san dibelah.”

“….”

“Dari Third Street, sepertinya aku berlari kalang kabut. Setelahnya, terjadi siaran Kultus Penyihir dan dia mustahil secara sembrono berjalan menyusuri kota, aku hati-hati bergerak dari daerah sekitarnya. Kemudian itu terjadi, dan kami nyaris tidak bertemu, kejadian yang dijelaskan sebelumnya.”

Dalam artian kejadian yang dia maksud adalah saat mendapati Reinhard tertahan.

Kala kisahnya terhubung sejauh ini, waktu Subaru paham Otto telah melalui penderitaan, dan lagi-lagi entah bagaimana caranya berhasil selamat.

Tetapi yang dikatkaannya tadi, membebani pikiran Subaru.

“Mengapa Kiritaka bertindak sejauh itu? Seandainya sesuai penjelasanmu, dia bahkan mengorbankan tubuhnya sendiri untuk membantu pelarian Otto. Kedengarannya demikian bagiku.”

“… ya, memang. Kiritaka-san mengorbankan dirinya untuk membiarkanku kabur. Pada akhirnya, dia ditebas karena mendorongku ke lantai dan menutupi tubuhku.”

“Kenapa sampai segitunya ….”

Dalam hati Subaru, gambaran mentalnya perkara Kiritaka hampir tidak ada. Bahkan sedikit gambaran yang dimilikinya adalah wajahnya memerah, dia berteriak, melempar batu sihir sambil gemetaran, hanya dari situasi itu saja. Tentu pria dalam gambaran Otto tidak sama dengan dugaannya.

Namun mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang asing. Tingkat kekuatan itu, pada akhirnya belum pernah dia lihat.

“Karena aku adalah pelanggan yang diundang ke tokonya, dia boleh jadi punya sesuatu semacam kebanggaan pedagang. Tetapi pastinya, dia punya alasan yang lebih baik padanya. Alasan kecil yang mudah dipahami.”

“Mudah dihapami, katamu.”

“Kau tak sadar? Itu Natsuki-san.”

Otto tegas memberikan jawabannya kepada Subaru yang bingung.

Tatkala namanya muncul mendadak, Subaru terguncang.

Melihat reaksi Subaru itu, Otto memejamkan matanya sebentar.

“Mengetahui keberadaan Uskup Agung Dosa Besar, melihat bawahannya mati, Kiritaka-san pasti memiliki sesuatu yang samar-samar tersisa dalam benaknya. Hanya saja, kupikir dia mempunyai semacam kewajiban. Maka yang menjadi harapannya adalah kau, Natsuki-san.”

“…..”

“Sesudah kejadian sehari sebelumnya, Kiritaka-san sudah tahu soal Natsuki-san yang tinggal di sini. Juga pencapaianmu dalam penaklukkan Kemalasan pula. Karena itulah, secara alamiah alurnya akan menuju harapan. Mengutamakan keselamatanku dari apa pun, jelas sebab mengharapkanku untuk bergabung kembali bersama Natsuki-san sebagai rekan.”

Penjelasan Otto pas sekali, dan itu menghujam dada Subaru dengan bunyi gedebuk.

Namun demikian, ceritanya tidak masuk akal.

Dari pikirannya dia sudah tahu. Untuk terus maju mengembannya, itu benar, dia telah memutuskan itu.

Tapi, apakah lagi-lagi itu. Betulkah semua orang mengharapkan itu dari Subaru?

Hanya orang kecil tanpa harapan dan tidak berguna, apakah mereka betul-betul mempercayai nasib kota kepada orang seperti dia?

“Natsuki-san, tolong jangan salah paham?”

Tanpa sadar tersenyum sinis, Subaru disadarkan oleh sebuah suara.

Otto memandang lurus ke depan, seakan menatap Subaru. Dia berbicara dengan ekspresi kaku Subaru sambil mengangkat bahu ….

“Kiritaka-san pula, dalam kepalanya memikirkan berbagai sudut, perkara peran serta tanggung jawabnya untuk kota. Bahwa Natsuki-san juga ragu-ragu menanggung nasib kota ini, aku tahu itu. Namun satu hal yang pasti, sesuatu yang dipercayakan Kiritaka-san pada Natsuki-san adalah hal yang sedikit lebih sederhana.”

“… apa?”

“Sudah jelas. Di suatu tempat dalam kota ini, wanita yang Kiritaka-san cintai. Sebelum mengharapkan keselamatan kota yang dia harapkan dari Natsuki-san adalah agar orang tercintanya selamat.”

“….”

“Sebab sewaktu dia mendorongku ke lantai, itulah yang dia sampaikan.”

Singkatnya, Otto ingin memberi tahu Subaru, kau terlalu berjuang.

Setelah menentukan nasib kota hanya karena dia merasa demikian dan sekarang meresahkannya, melihat Subaru kini berjuang atas beban-beban tersebut, Otto tak bisa menahan terucapnya kata-kata itu.

Dan itu melebihi segalanya, menusuk jantung baru yang berpura-pura kukuh dan kuat.

Wajahnya kian panas, Subaru merasa malu pada dirinya sendiri.

Bagaimana nasib kota ini, apa semua harapan dan ekspektasinya, betapa bodohnya.

Kota ini yang akan tertimpa masalah jika tak diangkat dan diselamatkan, itulah yang dilihatnya.

Sesuatu yang sekiranya gagal Subaru lindungi maka sesuatu takkan selamat, tidak seperti untaian kata jelas nan sulit. Seseorang, satu orang menyelamatkan kota. Satu orang belaka, kemudian yang lainnya …. Hidup itulah yang penting.

Lalu masing-masing hidup itu memiliki hal berharga bagi mereka, masalahnya hanyalah menyelamatkan koneksi-koneksi itu.

“Jangan berpikir kau memikul satu entitas besar, melainkan mengangkat banyak bagian-bagian kecinya di seluruh punggungmu, apa itu sedikit meredakan perasaanmu?”

Bantuan kekuatan Otto ketinggian, Subaru sungguh-sungguh hanya mampu menyerah kepadanya.

Paras Subaru yang sebelumnya menurun kini dinaikkan, melihat hasilnya Otto terpuaskan.

“Apa, tuh, bukannya ini hubungan baik? Melihatnya saja membuatku cemburu.”

Merasakan jeda dalam obrolan mereka, Anastasia bercanda seperti itu. Duduk-duduk, hampir saling bertatapan seraya bicara, Subaru dan Otto di sana merenung sendiri.

Kemudian menatap mereka semua lagi, Anastasia memiringkan kepala.

“Terlepas semuanya, berdasarkan laporanmu …. Perusahaan Muse sudah tamat ….”

“Kita tidak tahu kepastiannya, itu kebenarannya. Aku cuma tahu hingga Kiritaka-san ditebas, tetapi soal luka itu mengancam atau tidak ….”

“Motif Kerakusan, bukannya memikirkan itu buang-buang waktu? Bagiku, tidak peduli apa, gagasan dirinya menyebabkan kerusuhan tanpa alasan itu tak masuk akal.”

Ujar Julius yang wajahnya jijik.

Nada suara tegasnya masuk dalam kepala seseorang.

“Jangan jadi aneh seperti itu. Apakah ada, sejumlah bukti atasnya?”

“… tidak, tapi ada dasar jelas atasnya, tapi tidak bisa kuklaim. Semata-mata kesanku ketika bersilangan pedang dengannya di Balai Kota. Orang itu, menganggapnya hedonis sederhana adalah hal salah, aku yakin itu.”

Namun kesan itu bukankah berbeda jawaban dari asumsi Julius ….

“Menurut siaran, bukannya tuntutan Kerakusan adalah roh buatan? Bisa jadi, kemungkinan dia sudah pergi mencarinya?”

“Kalau itu memang mungkin. Tetapi pertanyaan yang lebih mendesak adalah, tidakkah kita curiga makhluk yang dikenal Roh Buatan itu nyatanya ada? Sebetulnya, apa memang ada makhluk itu?”

Selagi Subaru menutup mulut, Reinhard bergabung.

Pertanyaannya barangkali dipikirkan orang-orang yang mendengar siaran.

Di tempat ini hanya Subaru dan Anastasia yang tahu jawabannya.

Tanpa maksud, Subaru melirik wajah Anastasia, namun ekspresinya tidak berubah, pengalamannya memang hebat. Dia tidak ingin ketahuan, benarkah itu maksud ekspresinya?

“—maaf, ada satu hal.”

Di depan Subaru yang ragu-ragu menilai, Otto kembali meminta perhatian.

Sang pria yang mukanya gelisah, menghembuskan napas dan menyerah.

Lalu ….

“Perihal roh buatan, aku pun tidak tahu. Tapi soal tuntutan lain, persoalan Kitab Kebijaksanaan oleh Kemarahan.”

Memotong ucapannya, Otto lanjut berbicara setelah ragu beberapa saat.

3 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 43”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *