RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 44

Posted on

Tiada yang tak Dibahas

Penerjemah: Burnt Ivory King

Otto mengangkat tangan dan menjatuhkan bom, membuat semua orang dalam ruangan syok. Keberadaan tak pasti, ‘Kitab Kebijaksanaan’, baru dikonfirmasi, bukan oleh orang lain, tetapi dari salah satu orang mereka sendiri. Wajar saja mereka kaget—dan Subaru yang paling terkejut dari semuanya.

“K-kenapa kau punya Kitab Kebijaksanaan?”

“Sebelum kau salah paham, biarkan aku menjelaskan. Memang aku yang membawa sesuatu yang disebut Kitab Kebijaksanaan ke kota, namun kitabnya bukan milikku. Aku cukup terekjut ketika mendengar tuntutan Kultus Penyihir juga.”

Yang disebut? Kesimpulan aneh. Maksudmu apa?”

Saat Otto menjawab Subaru yang terguncang, Anastasia mengambil alih deskripsi tersebut dan bertanya. Mendengarnya, Otto memandang sekeliling dan …

“Kalian semua tahu Kitab Kebijaksanaan, kan? Sederhananya, semacam Kitab … kitab-kitab nubuat mencurigakan yang dimiliki para pemuja … kecuali sepertinya itu asli. Dengar-dengar perbedaan keakuratannya sangat besar.”

“Kitab asli ….? Mungkin hanya firasat, tetapi itu mengingatkanku akan ramalam Batu Annal Naga. Walau tentu saja kredibilitas, reputasi, serta sudut pandangnya sama sekali tidak sama.”

“Aku belum pernah melihat Batu Annal Naga dan Kitab ramalan secara langsung jadi tidak berani membahas reabilitasnya … Kitab Kebijaksanaan pun sama. Tatkala aku memegangnya, kitab tersebut sebagian besarnya tidak lebih dari sisa-sisa bakar.”

“Sisa-sisa bakar ….” ucap Subaru.

Deskripsi Otto cocok dengan kedua jilid Kitab Kebijaksanaan dalam benak Subaru.

Taunya milik Beatrice, telah hilang termakan nyala api Perpustakaan Terlarang yang kebakaran. Satunya dimiliki Roswaal, dan menurut Ram, kitabnya hilang saat Sanctuary kebakaran.

Sulit bilang berapa banyak ciptaannya, testimoni Echidna bisa dipercaya, tetapi misalkan ucapannya ingin dipercaya—maka kedua kitab seharusnya dibakar.

Karenanya, Otto pasti mendapatkan sisa-sisa bakarnya.

“Begitu. Aku sepertinya paham kenapa Otto-kun membawa kitab itu ke Pristella sekarang. Adalah untuk meminta bantuan Master Restorasi Dartz, bukan?”

“… itu benar.”

Dari jawaban sederhana tersebut, Otto mengangguk terhadap kesimpulan Anastasia. Walaupun baik Julius dan Reinhard tampaknya dengan pengertian menerimanya, Subaru terlihat bingung oleh istilah yang belum pernah dia dengar sebelumnya.

“Hei kalian jangan mendadak paham dan membiarkan aku ketinggalan di sini. Apa itu Master Restorasi?”

“Sebagaimana namanya, mereka adalah spesialis sihir cahaya yang mampu mengembalikan objek ke bentuk aslinya. Dartz yang tinggal di kota ini, cukup terkenal dari kalangan mereka. Bahkan buku-buku yang sebagian rusak bisa dipulihkan dengan hasil yang lumayan bagus, kalau diberi cukup waktu.”

“Aku berhasil mengontak Master Dartz dan memberikan beliau sisa-sisa Kitab Kebijaksanaan. Jadinya kitab tersebut mestinya ada di bengkelnya saat ini.”

Oleh kesaksian Otto, keberadaan Kitab Kebijaksanaan akhirnya terungkap.

“Tapi, kapan brotto ketemu orang itu?”

“Kemarin, setelah negoisasi dengan Perusahaan Muse berantakan. Setelah semua orang berpisah, aku menjambangi Master Dartz. Kami mengobrol empat mata, dan beliau kelihatan cukup antusias untuk menerima pekerjaan itu ….”

Subaru bisa membayangkan wajah Otto memucat ketika mendengar, ‘Buku Kebijaksanaan,’ diungkit selama pergolakan hari ini.

Itu menjelaskan bagaimana Kitab Kebijaksanaan bisa selamat dari kebakaran dan alasannya dibawa ke kota ini, namun motif Otto masih tak diketahui. Kenapa juga dia ingin memulihkan Kitab Kebijaksanaan?

“Aku takkan sampai merinci caraku mendapatkannya atau kenapa mesti dipulihkan. Aku hanya bermaksud mengklatifikasi eksistensi Kitab Kebijaksanaan dan lokasinya saat ini. Selain itu adalah persoalan internal fraksi kami.”

“Namun kini Kultus Penyihir tengah mendaftar Kitab Kebijaksanaan sebagai salah satu tuntutan mereka. Menurutmu tanggung jawab siapa itu?”

“Aku pikir apa pun perbuatan Kultus Penyihir bisa disalahkan kepada orang lain selain Kultus Penyihir itu sendiri. Namun bila kau bersikeras, maka aku akan membuat komentar pribadi tak ramah.”

Otto bertahan atas protes Julius. Melihat Otto mengalihkan pandangannya ke Anastasia, Julius cepat-cepat menggeleng kepala.

“Aku minta maaf. Aku barusan mengatakan sesuatu yang tidak berguna. Alamiahnya, aku tak bermaksud menyalahkanmu. Kejahatan Kultus Penyihir akan dibayar benar tatkala kita menuntut hukuman atas mereka.”

“Setuju.”

Otto mengangguk pada kata-kata bertekad Julius sambil melirik-lirik Subaru. Tetapi, menyadari lirik rahasianya, Subaru tidak mampu mengatakan apa-apa. Apa yang ada dalam kepala Otto? Kendati Subaru tidak berniat mencurigainya, dia masih tidak tahu rencananya. Otto diam-diam menggerakkan bibir ….

Kita bicara nanti.’

Pesannya sampai. Dia akan menjelaskan semuanya. Kalau begitu, mereka sebaiknya menunda masalah sementara ini.

“Sekarang Kitab Kebijaksanaan telah dipastikan keberadaannya, kita tidak bisa yakin-yakin amat perkara Roh Buatan, itu hanyalah omong kosong delusi.”

Setelah masalahnya kelar, Reinhard memperbincangkan topik baru.

Walaupun cuma mengikuti arus saja, saat ini Otto berpotensi mengutarakan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri, Subaru tidak perlu menahan-nahannya lagi.

“Anastasia-san.”

“Aku tahu, aku tahu. Yah, ini tidak akan mudah.”

Melihat Subaru meminta peprsetujuannya, Anastasia melepas syal di lehernya. Dia bentangkan di atas meja, sedangkan semua orang memiringkan kepala terhadap ekspresi penuh tekad Anastasia. Namun, yang dia lakukan selanjutnya membuat kepala mereka lurus.

“—tidak usah pura-pura mati lagi, Echidna. Kau sekarang boleh bicara.”

“Dalam hal ini, daripada pura-pura mati, bukannya pura-pura bego lebih tepat, Ana?”

“….!”

Menuruti panggilan Anastasia, syal rubah putih merentangkan anggota tubuhnya sendiri. Melihatnya, raut wajah Julius dan Ricardo syok.

Rupanya bahkan Anastasia menyembunyikan Roh Buatannya dari anggota fraksinya sendiri.

“Hei Nona … aku tidak kenal makhluk itu. Dia itu apa ….”

“Maaf menyembunyikannya darimu, Ricardo. Julius juga—Anak ini adalah Roh Buatan yang kita bicarakan. Namanya Echidna, dan dia sudah lama jadi rekan jahatku, lama sekali.”

“Hei, Ricardo. Aneh banget memperkenalkan diriku seolah baru saja bertemu padahal teknisnya sudah kenal lama. Kita bisa temanan seperti biasa kalau kau mau.”

Echidna sangat ramah kepada Ricardo yang seakan-akan tengah menatap sesuatu menyeramkan. Dan Ricardo yang lama tertegun oleh tingkah si rubah, wajah Julius malah lebih syok lagi.

Dihadapkan rahasia tuannya yang disembunyikan dari dirinya sendiri, pupil-pupilnya bimbang oleh kecemasan langka dan rasa cemas yang tidak dapat disembunyikan ….

“… berarti Anastasia-sama juga seorang Spiritualis?”

“Hmm~ tidak juga. Tidak ada Kontrak Roh antara aku dan Echidna. Aku tidak berkemampuan untuk itu. Dan juga, tidak seperti roh biasa, Echidna sama sekali tak bisa bertarung.”

“Benar itu, aku tidak kompeten. Aku takut barangkali roh paling lemah. Kelewat lemah sampai-sampai Kesatria Roh tidak sanggup merasakan kehadiranku.”

“Begitukah, jadi … tidak, tapi ….”

Kecurigaan Julius dihapuskan oleh Anastasia dan Echidna secara bergantian. Tetapi, alih-alih diyakinkan, dia memalingkan pandangannya ke Subaru yang berdiri di pinggir.

Sorot mata kuning yang diarahkan ke Subaru terlihat ada ketajaman tertentu.

“Mengapa Subaru kelihatannya seakan tahu? Padahal aku … sebagai Kesatria Anda … tidak tahu, bagaimana bisa dia ….”

“Tidak seperti itu. Itu ….”

“Itu karena dia Roh Buatan, sebagaimana rekanku, Beatrice. Setelah kami mendengar permintaan Kultus Penyihir, Anastasia-san menjelaskannya kepadaku …. Jadinya aku baru-baru saja tahu, tidak beda-beda amat darimu.”

“Dia Roh Buatan ….? Anastasia-sama, benarkah itu?”

Memotong Anastasia, Subaru menjelaskan kepada Julius yang terdiam. Melihat Anastasia mengangguk pada pertanyaannya, Julius menggumam, ‘Begitukah ….’ dan cepat memejamkan mata ibarat menerima semuanya sebelum mendesah panjang.

“Maaf menginterupsi Anda. Mohon maafkan ketidaknyamanan yang barangkali saya lakukan kepada Anda, Anastasia-sama. Saya sungguh malu.”

“Aku tidak berhak menghukummu karena selama ini aku rahasiakan. Malah semestinya aku meminta maaf padamu.”

Julius mengangguk kepada Subaru dan meminta maaf ke Anastasia. Tetapi, meliat permintaan maaf Julius dari samping, Ricardo menarik Echidna dari meja.

“Tetap saja, itu jahat banget, Nona! Sudah berapa lama kita saling kenal? Mengapa kau menyimpan sesuatu semacam itu dariku? Aku agak terluka! Apa hanya itu yang kita miliki satu sama lain?”

“Aku lebih senang jika kau tidak kasar-kasar denganku. Biarpun masih dalam wujud ini, aku masih cukup memikirkan rambutku. Dan kita tak ingin merusak penampilan menggemaskan Ana, bukan?”

“Kau ini pandai bersilat lidah, ya. Duh, lupakan saja. Kali ini aku biarkan.”

Setelah menarik dan menekannya hingga puas, Ricardo kelihatan puas dan melepaskan rubah putih. Mendarat di atas meja, dia buru-buru menghampiri Anastasia, melilit lehernya, dan sekali lagi pura-pura mati.

Telah tinggal lama di sana, mengesankan betapa cepatnya dia mampu kembali ke keadaan tak bernyawa.

“Jadi, Roh Buatan juga ada …. Demikian, sama halnya Kitab Kebijaksanaan Otto-kun, aku tidak berniat menyerahkan anak ini ke Kultus Penyihir.”

“Maaf sudah merahasiakannya. Tapi aku pun sama. Beako itu rekanku. Aku bahkan takkan membolehkannya memegang tangan orang-orang sinting tersebut.”

Baik Anastasia dan Subaru menyatakan keputusan mereka untuk menolak tuntutan Kultus Penyihir.

Mendengar ini, Reinhard mengangguk lalu ….

“Aku tahu. Tentu saja. Kita tidak boleh menerima satu pun tuntutan mereka. Namun, mungkin soal pernikahan si pengantin wanita tidak bisa diabaikan.”

“Tentu saja tidak! Sebab pengantin yang mereka maksud itu Emilia!”

“Heh!? Emilia-sama diculik!? Dari tadi aku bertanya-tanay kenapa belum melihat beliau, jadi beliau dalam masalah!? Tidak bisa bahas lebih cepat!?”

Mata Reinhard membelalak, dan berita mengejutkan tersebut membuat mata Otto berputar-putar. Subaru menggertakkan gigi di hadapan reaksi kedua orang itu dan melanjutkan dengan kata, ‘Maaf ….’

“Ini semua salahku, aku menyaksikannya diculik. Tetapi karena mereka membicarakan pernikahan, mereka harusnya tidak menyakitinya. Lantas kita kudu pergi ke sana, membunuh mereka, dan membawanya kembali. Harus, harus ….”

“—ya, akan kita lakukan. Kita betul-betul tidak boleh memperkenankannya.”

Memikirkan Regulus saja sudah membuat benak Subaru mendidih, dan Reinhard pun membakar niat bertarungnya sebaagai pendukung kemarahan Subaru. Aura yang serasa bisa diandalkan sampai-sampai menakutkan. Tak salah lagi, eksistensinya benar-benar meyakinkan.

Pada pemikiran ini, Subaru mengalihkan pandanganya ke sudut ruangan—menuju pria yang selama ini diam membisu.

Duduk di sana, bersandar di dinding, raut wajahnya disembunyikan helm.

“Hei, AI. Kau mesti bergabung dalam perbincangan juga. Kau tidak bilang apa-apa sejak akhir pidato. Senjata paling mematikan kita ditahan gara-gara orang yang kau bawa itu. Lebih baik berbuat sesuatu untuk menebusnya, tahu.”

Berjalan mendekati, Subaru memanggil AI yang menunduk.

Mendesau sebab kurangnya reaksi, Subaru membawa-bawa ayah Reinhard—Heinkel.

Heinkel telah menyandera Felt dan secara efektif menahan Reinhard. Jelas pengkhianatan karena mengubah kandidat Pemilihan Raja menjadi sebuah senjata bukanlah kejahatan kecil, jelas-jelas suatu pengkhianatan. Normalnya, tidak mungkin sang pelaku dapat lolos dari hukuman mati sesudah melakukan kejahatan sekeji itu, tetapi bagaimana cara Reinhard menanganinya?

Sekurang-kurangnya, Subaru tidak tahu itu dari samping wajah Reinhard.

“—maaf, tapi aku tidak ikut.”

“… hah?”

Bisa jadi terganggu oleh pikirannya pada Reinhard, Subaru tak bereaksi sampai AI sudah berdiri. Punggungnya tak menyender lagi dari dinding, AI kelihatan seolah-olah hendak berjalan melewati Subaru. Menyadarinya, Subaru mendadak meraih bahu AI, membalikkannya.

“B-bentar! Kau tidak ikut? Kau bilang apa? Kita membutuhkan setiap pejuang yang bisa didapatkan sekarang, dan kini kau ingin meninggalkan kami? Kau ini kenapa, gila?”

“Gila atau apa punlah, kau yang gila jika menghitungku sebagai pejuang. Pria acak mana pun yang kau tarik dari selter yang punya pengalaman bertarung akan lebih hebat dariku. Alhasil tidak masalah aku pergi atau tidak.”

“Apa-apaan itu! Jangan tba-tiba ungkapkan omong kosong perusak suasana hati! Apa yang terjadi seketika ini? Misal ada yang ingin dikatakan, katakanlah!”

“—kaulah satu-satunya orang yang tak ingin aku dengar mengatakan itu, saudara.”

Menepis tangan Subaru, sorot mata tajam AI menembusnya dari dalam helm.

Tatapan tidak jelas dan nada tak dikenal itu menjalari bulu kuduk Subaru.

Tidak mirip permusuhan atau niat membunuh, tetapi emosi berapi-apinya sama.

Subaru laksana melihat emosi tak terjelaskan dari suatu tempat, namun dia tak ingat di mana dan apa emosi itu. Terus tanpa pengertian selagi melanjutkan kebuntuannya, tatkala itu—

“Inspirasiku muncul! Dengarkan bila mana ingin:—tatapanmu menghadirkan panas dalam dadaku~”

“Diam!”

“Pyiichi!?”

Subaru secara refleks menyerang suara riang gembira yang muncul entah dari mana. Targetnya loncat oleh teriakan itu dan jatuh dengan cantik ke meja di belakangnya.

Berugling-guling, merintih, dan meratap, ialah seorang gadis berkulit pirang—

“Kau … Liliana!?”

“Uuugghuuu! Sikuku! Lututku! Setiap hal yang bisa disebut tulang dalam tubuhku hancur herantakan! Keenam tulang rusuk patah! Tidak salah lagi!”

Orang yang gelindingan di lantai depan Subaru adalah sang Biduanita, Liliana.

Melihatnya bertingkah biasa, Subaru bahkan tak repot-repot menjelaskan bahwa manusia punya lebih dari enam tulang rusuk, malah menepuk dada lega.

“Aku cukup cemas setelah kita berpisah, tapi aku senang melihatmu aman-aman saja. Melegakan.”

“Aman!? Tidak bisakah kau melihat aku mau mati di sini!? Teganya kau menepuk dada lega di hadapan wanita kesusahan ini, humor macam apa itu!? Insprasiku muncul! Dengarkan bila mana ingin:—jari! Telinga! Serta mata~!”

“Kau masih bersemangat, ya?”

Duduk bersila di lantai, dia memetik Lullyleigh-nya, mendadak kelihatan sehat. Kendati kesembuhan mendadaknya agak menggelisahkan, Subaru bahagia saja dia baik.

“Tapi, bagaimana bisa kau sampai ke Balai Kota? Pastinya berbahaya berkeliaran di luar ….”

“Naturalnya, bukankah hal itu aku yang putuskan? Rakyat jelata.”

“Agh.”

 Sebelum sempat bertanya Liliana bagaimana dia bisa selamat sampai di sini, jawabannya diwakilkan suara sombong.

Suara tepakan langkah kaki bertumit tinggi, seorang wanita berpakaian merah cemerlang melangkah masuk ke ruang pertemuan. Dihiasi gincu dari kepala hingga ujung kaki, mata merahnya menyapu ke seluruh ruangan.


“Sepertinya semua aktor sudah berkumpul. Baik sekali kalian para pengacau sudah siap menyambut kedatangan bintang. Pertahankan itu di masa depan kelak.”

Tersenyum dalam suasana hati baik sambil memegang kipas yang melebar ke seluruh bibirnya—dialah Priscilla.

Kedatangan mendadaknya mengejutkan semua orang termasuk Subaru, tetapi yang pertama bereaksi tidak lain adalah pelayannya, AI.

“P-putri-san! Jadi kau baik-baik saja … aku khawatir tidak bisa menemukanmu.”

“Hmm, kaukah AI? Apa artinya menghabiskan waktu bersama rakyat jelata ini alih-alih melayaniku? Sudah tugasmu melihat sosokku, mendengar suaraku, menghirup bauku, dan mematuhi perintahku? Apalagi Schult, sampai aku mesti mencarinya sendiri, penghinaanmu tentu ada batasnya.”

“T-tolong maafkan aku, Priscilla-sama ….”

Selagi Priscilla tanpa ampun mencaci maki pelayannya yang risau, seorang bocah lelaki berseragam kepala pelayan mengintip dari belakang, malu-malu menempel di gaunnya. Nampaknya Priscilla bukan hanya menyelamatkan Liliana, tetapi juga kepala pelayan sembari berjalan mengitari kota yang dikuasi Kultus Penyihir.

“Keberanian sinting macam apa ini ….”

Subaru mendesau pada garis tipis pemisah keberanian dan kecerobohan. Mendengarnya, pandangan Priscilla berpaling ke Subaru. Sambil menutup kipasnya, dia berjalan cepat mendekatinya, kemudian ….

Dengan hembusan angin, mengarahkan ujung kipasnya ke tenggorokan Subaru.

Seperti biasa, gerakannya cepat tak terbayangkan, dia sudah sampai pria itu duluan sebelum mata Subaru sempat mengikuti. Tetapi karena Reinhard tak ikut campur, Subaru mengira dia dalam bahaya sebenarnya.

“Kau sedang apa? Kami lagi punya percakapan penting di sini, kami tak punya waktu buat ….”

“Bagus—jadi siaran canggung sebelumnya adalah suaramu, ya?”

“… ya, memangnya kenapa?”

Menyedihkan karena bergantung pada kurangnya tanggapan Reinhard, Subaru memilih balas terengah-engah kepada Priscilla yang terengah-engah. Terhadapnya, dia menyipitkan mata.

“Jelas, takkan aku tolelir siapa pun yang mendapatkan perhatian lebih dariku. Alhasil, akan aku buktikan betapa superiornya aku bagi orang-orang sepertimu.”

“Hah? Aduh!?”

Menjentikkan kipasnya ke leher Subaru, menabrak dagunya keras sekali sampai-sampai air matanya keluar. Seusainya, Priscilla meninggalkannya dan dengan angkuh duduk di salah satu kursi meja bundar.

“Dasar kursi tidak berguna. Aku tahu betapa murahnya hanya dengan duduk di atasnya.”

Berkomentar tegas tentang kualitas furniturnya, wajahnya menatap semua wajah semua orang yang duduk di meja. Lalu, membuka bibir berlipstik merahnya, raut wajahnya telrihat senyum mengerikan.

“Ayolah, aku izinkan kalian memberi tahu segalanya mengenai situasi saat ini. Jaidlah budak yang baik dan penuhi tanggung jawabmu. Sebagai hadiahnya, aku pinjamkan bantuanku. Ingatlah untuk bersyukur.”

“Bentar, Putri-san! Karena sudah menemukan satu sama lain, tidak ada artinya tinggal di sini, kan? Kita harus keluar dari tempat berbahaya ini dan ….”

“Kau menyarankanku melarikan diri, AI? Sekiranya demikian, maka kau terlampau keliru.”

Melihat Priscilla bersandar di kursinya ibarat ingin ikut serta dalam konferensi, AI buru-buru protes. Tapi Priscilla balas menatap, seketika membekukan AI dalam helm besinya.

“Kau dengar tidak? Akulah yang memutuskan tinggal di kota ini. Dan akulah yang memutuskan pergi atau tidak. Aku takkan menerima instruksi dari siapa pun. Selain itu, kau ingin aku gelap mata pada orang-orang bodoh sinting ini dan kabur tanpa tahu malu? Kau pikir aku siapa?”

“….”

“Segala sesuatu di dunia ini bekerja untukku. Lantas kenapa aku mesti pergi dan membiarkan kekacauan menyebalkan ini berlanjut? Misal kau ingin menyebut dirimu pelayanku, maka ketahuilah ini, AI. Aku dinaungi Divine Protection, karenanya tindakanku adalah Divine Protection.

Priscilla takkan tergoyahkan.

Semua orang yang hadir, terutama AI, tahu ini. Melihat AI merosotkan pundaknya, si kepala pelayan muda—Schilty, diam-diam meringkuk di dekatnya. Lalu tersenyum masam pada tingkah penghiburnya, AI juga telah menetapkan keputusannya.

“Otto, ada waktu sebentar?”

“Ya, ayo pergi.”

Saat meja bundar mulai memberi arahan kepada Priscilla soal situasi terkini, Subaru berbisik ke Otto. Rupanya setelah mengantisipasi ini, Otto menurutinya tanpa terkejut sedikit pun.

“Garfiel, beri tahu aku kapan selesai.”

Meninggalkan instruksi tersebut, Subaru meninggalkan ruang pertemuan bersama Otto.

Dan begitu mereka di luar, mereka berbalik dan saling berhadapan di koridor. Menemui tatapan Subaru, mata Otto tiada kebingungan. Dia tahu persis mereka harus membicarakan apa.

“Kenapa kau mencoba mengembalikan Kitab Kebijaksanaan? Tidak, sebelum itu, kapan kau mengambil sisa-sisanya?”

“Kejadiannya setahun lalu, setelah kita menyelesaikan masalah di Sanctuary. Sesudah salju Emilia-sama menghilang, aku mondar-mandir di sekitar tempat itu dan kala itu … yah, bukan kebetulan. Aku mendengar kejadiannya dari Ram-san, lantas aku juga aktif mencari sisa-sisa bakarnya.”

“Alhasil, yang kau temukan adalah Kitab Kebijaksanaan Roswaal?”

“Ya. Aku sangat beruntung karena kebetulan tempat itu ingin kuperiksa.”

‘Keburuntungan tak biasa’, pasti suatu sarkastik sebab dia senantiasa tidak beruntung.

Sekalipun Otto tersenyum masam, Subaru tidak berminat membagi perasaannya.

Karena alasan Otto melakukan ini masih menjadi beban dalam dada Subaru.

“Jujurlah, Natsuki-san, menurutmu Margrave Mathers bagaimana?”

“Roswaal?”

Sewaktu Subaru terdiam, Otto mengajukan pertanyaan itu. Kedengarannya agak relevan dengan topik masa kini, tetapi tidak relevan relevan. Sejenak, Subaru merenungkan pertanyaan itu ….

“Yah … aku pikir kita tak boleh lengah pada orang itu. Tidak setelah semua yang terjadi satu tahun lalu. Namun karena tujuan orang itu sekarang jelas, dan asumsikan tujuannya tidak berubah sama sekali, aku tidak menganggapnya sebagai ancaman langsung. Faktanya, saat ini kami saling memahami, aku merasa seolah jadi kaki-tangannya.”

“Aku sepenuhnya tidak mempercayai Margrave Mathers.”

Deklarasi Otto, menunjuk naifnya pemikiran Subaru.

Mendengar ini, mata Subaru membelalak oleh tajamnya pernyataan Otto.

“Kau membicarakan kejadian setahun lalu. Ya, benar itu. Namun dia telah merencanakan sesuatu jauh sebelum apa yang terjadi di Sanctuary. Kau dan Emilia-sama kelihatannya memaafkan itu.”

“… bukannya kami memaafkannya. Segala sesuatu yang diperbuat pria itu membuatku ingin berteriak, Apa-apaan, dan aku masih kelewat kesal. Tetapi faktanya, kita memerlukan bantuan orang itu. Tidak banyak yang bisa kita lakukan, Emilia pun punya pertimbangan sama.”

“Itu namanya memaafkan. Biarpun bukan berarti itu buruk.”

Otto menembak tatapan tak sabar kepada Subaru, menyampaikan urgensinya.

Dengan kata lain, Otto mengatakan bahwa Subaru tidak cukup waspada. Tentu saja Subaru tahu sesuatu itu harus diawasi, tapinya ….

“Tidak apa. Caramu tidak apa-apa. Tak usah diubah. Karena aku akan mencari tindakan pencegahan penting.”

“Pencegahan?”

“Sebagai Menteri Dalam Negeri, aku punya banyak kesempatan berinteraksi bersama Margrave Mathers. Menurutku selama satu tahun ini, aku tak mendapati tanda-tanda perbuatan licik atau tindakan aneh. Tapi, bukan berarti dia belum meletakkan rencananya sebelum itu. Dia dapat dengan mudah menaruh semacam aktivasi tertunda.”

“….”

Subaru menutup mulut. Kecemasan dan keresahan Otto berhasil diatasi.

Dia punya banyak alasan untuk tak mempercayai Roswaal. Itulah konsekuensi aksi seorang pria, baik-buruknya. Walaupun dalam hal ini, kebanyakan buruknya.

“Seumpama dia mengikuti setiap kata Kitab Kebijaksanaan dan meyakini bahwa itu meramalkan masa depan, maka yang kita lihat dalam bukunya akan memberi tahu kita dia merencanakan sesuatu atau tidak. Dari situ kita bisa mengambil langkah-langkah penting untuk mencegah pengkhianatan di masa depan nanti.”

“Maksudmu, kau ingin memulihkan buku itu … karena tidak mempercayai Roswaal?”

“… cukup berlawanan. Itu karena aku tak ingin tidak mempercayai sekutuku makanya aku pastikan. Paling tidak, aku ingin tahu pasti tidak ada kemalangan yang akan terjadi. Jadi aku simpan Kitab Kebijaksanaan dan berharap untuk memulihkannya …. Aku belum berkonsultasi denganmu perkara ini, maaf soal itu.”

Atas permintaan maafnya, Otto menundukkan kepala.

Tetapi di depannya, Subaru tak mampu menuturkan satu patah kata pun. Dia tidak berhak mengatakan sesuatu.

Kekhawatiran Otto dan tindakannya untuk menyelesaikannya—semua hal itu semestinya disadari Subaru dan Emilia. Malah, rasa sakit yang dia lakukan semua ini semuanya demi Subaru dan Emilia.

Kini setelah menyadari Otto diam-diam membantu, Subaru merasa malu, menyesal, dan tak yakin dia tidak menyadarinya lebih awal.

Kenapa juga Otto melakukan ini untuknya? Apakah hanya karena mereka teman?

“Takkan kuberi tahu alasannya, sih. Lagian cukup membosankan.”

Seakan-akan membaca pikiran Subaru, Otto menjawab.

Dihajar pukulan senyuman Otto, Subaru menghela napas dalam-dalam.

“Entah bagaimana, seolah-olah kau selalu mengecualikan aku, tahu.”

“Boleh jadi, tapi aku pikir kau baik sebagaimana dirimu ketika membuat siaran itu, Natsuki-san.”

Otto menggaruk kepala, di sisi lain Subaru mendecakkan lidah dan bahunya melemas, sedikit malu oleh pertimbangannya.

“Aku mengerti. Aku ikut tentang Kitab Kebijaksanaan. Tapi masalahnya, bangsat-bangsat itu masih mencarinya. Jadi kita sebenarnya harus bagaimana?’

“Terlepas dari sukses atau tidak pemulihannya, aku kira sebaiknya kita ambil kembali. Kemungkinan besar Master Dartz bisa terluka, dan aku paling tidak ingin itu.”

“Namun kita akan terus-menerus menyerang keempat Menara Pengnedali. Kita tidak punya pasukan cadangan untuk itu.”

“Aku mungkin bukan petarung, tapi aku bisa mengurusnya jikalau pergi lewat kanal. Aku mungkin tidak kelihatan seperti itu, tetapi hewan bodoh semacam naga air itu salah satu keahlian paling bagusku, tahu.”

Tangan bergerak ke samping mulut, Otto pasti membualkan Divine Protection of Anima Whispering-nya. Malahan, parkara melarikan diri, Divine Protection Otto mungkin sebetulnya cukup berguna. Lagipula, pasukan utama musuh dikonsentrasikan di Menara Pengendali. Mengira mereka tidak membawa pemuja-pemuja tambahan, Otto mestinya tak terlalu dalam bahaya.

“Ketimbang merisaukanku, kau sepatutnya memikirkan penyerangan. Kau harus menyelamatkan Emilia-sama. Tanggung jawab cukup besar.”

“Dimengerti. Aku akan menghadapi si Keserakahan bajingan itu sendirian.”

Monster berambut putih yang menculik Emilia terbayang dalam kepalanya.

Itu dan fakta dirinya seorang Uskup Agung Dosa Besar, berarti dia adalah musuh yang wajib dikalahkan.

“Kembalikah? Mereka harusnya sudah selesai pengarahan ulang.”

Melihat Subaru bersemangat, Otto menoleh ke ruang rapat. Tetapi tepat Subaru mengangguk dan hendak masuk bersamanya ….

“Subaru-dono.”

Dia dihentikan panggilan dari tangga.

Pemilik suaranya tak diragukan lagi. Orang di lantai atas, pupil biru kuatnya mengawasi—dia Wilhelm.

“Otto, kau duluan saja.”

“Okelah. Kita lanjutkan nanti.”

Otto kembali ke ruang rapat sedangkan Subaru berjalan menaiki tangga untuk menemui Wilhelm yang menunggu di lantai atas.

Sebegitu mereka sama tingginya, Wilhelm menundukkan mata pelan.

“Maaf aku tidak bisa ikut ke konferensi. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.”

“Dikarenakan situasinya begitu, tidak ada yang menyalahkanmu, Wilhelm-san. Jadi, anu … bagaimana keadaan Crusch-san?’

Dengar-dengar dia tidak sehat. Atau, bukan hanya tidak sehat, tetapi dalam kondisi mengerikan. Sebagai seorang wanita, dia barangkali tak ingin orang lain melihatnya seperti itu.

Memikirkan kembali kondisi buruk kakinya, dia mampu membayangkan kerusakan seperti apa yang dialami Crusch. Pemikiran itu saja membuat Subaru menyesal membayangkannya.

Menjawab pertanyaan Subaru, Wilhelm pelan-pelan menurunkan pandangan.

“Crusch-sama meminta untuk berbicara denganmu, Subaru-dono. Berkenankah kau mengikutiku?”

“Crusch-san memintaku? Tidak, tentu saja aku akan datang, tapi … apa tak apa?”

“Itu keinginan tulus beliau. Biarpun Felix takkan senang karenanya.”

“… aku rasa tidak.”

Felix mungkin akan berkata-kata kasar kepada Subaru.

Bagiamanapun, hanya dua orang itu yang menghadapi Capella di puncak lantai Balai Kota, dan Subaru sendiri harusnya melindunginya.

“Seumpama Felix menukas sesuatu tidak sopan, tolong jangan pedulikan. Dan kalau bisa, maafkanlah dia. Jauh di lubuk hatinya, dia mengerti. Hanya saja dia menghadapi emosi yang tak bisa diprosesnya.”

“Melihat orang paling penting baginya menderita … aku paham kenapa dia ingin mengutuk orang-orang di sekitarnya, tidak apa bila itu bisa mengalihkan pikirannya dari orang yang dia cemaskan.”

Semisal melampiaskan amarahnya bisa meringankan rasa sakit, lalu siapa yang bisa menyalahkannya?

Lantas Subaru bersiap-siap menerima sejumlah hinaannya.

“Lewat sini.”

Tanpa mengomentari balasan Subaru, Wilhelm menuntun Subaru menuju tempat Crusch menunggu. Drap, drap, ritme teratur langkah kaki mereka bergema di sepanjang koridor. Dan di tengah jalan ….

“Subaru-dono, ada hal lain yang perlu aku informasikan.”

“Apa itu? Apakah itu bukan mengenai Crusch-san ….?”

“Perihal kedua pendekar pedang yang menyertai Uskup Agung.”

Tanpa sadar, dia berhenti bernapas.

Teramat jelas sekali bagaimana dia biarkan melintas dalam benaknya? Luka tak tersembuhkan Mimi, ditimbulkan oleh ‘Divine Protection of the Death-God’. Identitas sejati dari para pendekar pedang kelas super itu adalah—

“Salah satunya adalah Kurgan sang Tangan Delapan. Pendekar pedang tangguh yang pernah menjadi Jenderal Kekaisaran Vollachia, seorang pria yang mestinya mati sepuluh tahun lalu.”

“Seorang pria … yang harusnya mati? Umm, Wilhelm-san ….”

“Dan yang satunya ….”

Wilhelm menyela Subaru sebelum sempat bertanya.

Langkahnya berhenti dan Subaru mengikuti. Kemudian, Wilhelm balik badan dan terdiam sejenak. Subaru maju satu langkah untuk mengintip wajah Wilhelm—tetapi dia seketika menyesalinya.

Dia sepantasnya tidak melihat itu.

“—yang satunya, adalah sang Pedang Suci generasi sebelumnya, Theresia Van Astrea. Istriku … yang sepatutnya mati dalam pertempuran melawan Paus Putih lima belas tahun lalu.”

“….”

Dia yang masih sanggup mempertahankan suaranya dengan baik pastinya menjadi bukti kekuatan kehendaknya.

Tetapi ketika Subaru melihat penderitaan pilu yang mengubah sisi wajah Wilhelm, seluruh kesannya hilang.

Mengigit bibir, kemarahan dan kesedihan terjalin satu sama lain dalam matanya, hasrat gila menggeliat wajah keriputnya hingga tak dikenal lagi—sekali tatap ekspresinya, semua emosi akan jelas sebagaimana siang hari.

“Istrimu … dan jenderal Kekaisaran? Kecuali … mereka sebenarnya masih hidup …?”

“Jikalau benar … tidak, itu tak mungkin. Baik istriku atau Kurgan, mereka berdua sudah mati. Itu tidak bisa diubah. Orang mati ya orang mati, tetapi sampai dikotori seperti ini.”

“Andai mereka sudah mati, lantas … apakah ini semacam Necromancy?”

Necromancy—sihir yang memanipulasi orang mati, cukup umum di alam semesta fiksi. Tentu saja sejauh menyangkut fiksi, sihir yang mampu menghidupkan orang mati juga cukup umum. Kendatipun tiada yang seberguna itu di dunia ini.

Ini adalah sesuatu yang Subaru pahami dengan pahit selama bertahun-tahun masa tinggalnya di sini.

“Sihir yang memanipulasi orang mati itu dilarang. Sekalipun aku memang tahu seseorang yang pernah menggunakannya. Kala Perang Demihuman—perang saudara Lugnica antara Manusia dan Demihuman telah terjadi beberapa dekade lalu, dia adalah salah satu dari tiga musuh Kerajaan yang berpihak kepada Demihuman.”

“Tiga musuh kerajaan ….?”

“Pahlawan Demihuman, Libre Fermi. Strategis Agung, Valga Cromwell. Lalu ….”

Setelah berhenti sesaat ….

“Sphinx sang Penyihir. Eksistensi keji yang tanpa mengedipkan mata, tanpa ampun menumpahkan darah Manusia dan Demihuman. Satu-satunya Penyihir selain Satella yang namanya diingat dalam Sejarah Kerajaan.

6 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 44”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *