RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 42

Posted on

Pahlawan Terbaru dan Pahlawan Terkuno

Penerjemah: Daffa Cahyo Alghifari

—keheningan menekan menghampar ke selter pengungsian.

Sesekali terdengar suara isak tangis dan seseorang dengan gugup mengetuk-ngetuk jarinya ke lantai.

Mendengar suara-suara meresahkan dalam hening itu, si gadis memeluk lutut, punggungnya merasa dingin.

Gadis kecil berambut emas.

Dagunya diistrirahatkan di atas tempurung lutut kecil dan pucat, kepala dikubur ke dada dan kakinya, adalah seorang anak laki-laki lebih muda—adik si gadis. Dia sampai sekarang menangis, tetapi karena lelah terisak-isak, dia kini tertidur.

Lintasan air mata masih terlukis di pipinya, sudut matanya merah karena menangis. Gadis itu ingin membelai lembut rambut adiknya, tetapi ragu-ragu, takut kalau itu akan membangunkannya.

Jika dia bisa tidur, maka lebih baik dia tidur terus.

Selagi mendengarkan adik laki-lakinya mendengkur tenang, berharap paling tidak bisa beristrirahat dalam mimpinya. Sebab kenyataan di luar mimpi teramat keras untuk ditanggung adiknya.

Meskipun hal sama berlaku pada kakak perempuannya yang memikirkan si adik.

—sudah beberapa jam semenjak pengumuman Menara Pengendali Bendungan Besar Pristella telah direbut.

Pagi itu, si gadis berada di alun-alun kota bersama adik laki-laki seraya mendengar siaran. Dia tidak mampu mempercayai telinganya tatkala mendengar kalimat itu, penuh kebencian dan kedengkian. Khawatir pada orang tuanya selagi mendengar ultimatum tak diterima itu, sang gadis meraih tangan adik laki-lakinya yang ketakutan dan berlari ke selter bersama orang-orang dewasa di sekitarnya.

—semisal situasi tak terduga terjadi, cepatlah pergi ke selter.

Itu prosedur tanggap darurat yang disiarkan Balai Kota setiap pagi.

Sejujurnya, gadis itu tak selalu mendengarkan siaran pagi selain lagu-lagu sang Biduanita. Tetapi kata-kata itu tersimpan dalam benaknya dan langsung mengingatnya kala terjadi keadaan darurat.

Akan tetapi, baik gadis maupun orang dewasa di sekitarnya terlihat tahu harus melakukan apa begitu berada dalam selter.

—Kultus Penyihir. Menara Pengendali. Bendungan Besar. Tuntutan.

Suara wanita jahat yang menusuk telinga itu menghujani ketakutan pada orang-orang.

Setiap kata-kata sinting dan tak masuk akal memenuhi si gadis serta kepala orang dewasa dan membuat mereka ketakutan.

Terperangkap dalam selter gelap ini, mereka tidak tahu apa-apa yang terjadi di luar sana. Wajar bila waktu berlalu tanpa kemajuan, panik mulai melanda. Awalnya, suara jahatnya melirih, kemudian, berangsur-angsur, kecemasan dan frustasi membara dalam kebisuan. Tatkala siapa pun menyadarinya, raut wajah semua orang di sekitarnya tak nyaman, dan suasana sudah serba ketidakpuasan tertahan dan sorot mata jahat.

Sesaat dimulai, tidak ada yang menghentikannya. Menatap satu sama lain, berteriak kepada satu sama lain. Kemungkinan terburuknya, orang-orang mulai saling meninju.

Bahkan dalam selter ini, suasananya membayang-bayang, siap meledak oleh sentuhan kecil apa pun.

“aa———hhhh.”

Namun suasana berbahaya di ujung pertumpahan darah hancur oleh tangisan adik laki-lakinya.

Rupanya, walaupun ada desakan mendidih dalam diri mereka, orang dewasa masih tidak tega menyerang gadis kecil rambut emas yang menangis minta tolong.

Suara tangisan seorang anak sangat kuat.

Dia selalu berpikir tangisan adik laki-lakinya itu berisik. Namun menyadari pencapaian tangisannya, si gadis memeluk adiknya dari belakang dan terisak sedikit.

Karena itu saja, kekerasan dalam selter telah dicegah.

Tapi semua orang tahu ketenangan ini sementara, tengah berada di atas keseimbangan berbahaya.

Lain kali, pasti bukan sesuatu yang anak-anak sanggup hentikan.

Tahu ini, orang-orang dalam selter yang saling terikat oleh nasib yang sama, mulai menjaga jarak satu sama lain, tidak hanya secara lisan, tetapi dari tatapan dan napas mereka.

Seolah-olah berusaha tak dipengaruhi kesadaran orang lain, mereka menutup diri dari dunia luar. Entah apa yang menarik perhatian orang lain, memicu kemarahan mereka, dan ujung-ujungnya menyulut konflik? Jadi entah untuk dirinya sendiri, atau untuk orang lain, mereka menahan napas dan paras wajah mulai kaku selagi menunggu waktu berlalu. ‘Sesuatu akan berubah bila kau menunggunya’, mereka menyerahkan diri kepada harapan yang cepat berlalu.

“—a.”

Mendadak, si gadis mengangkat wajahnya sambil mengerang lirih.

Sementara diam-diam merindukan perubahan yang akan datang, dia terjebak dalam perubahan halus suasana.

Terdorong oleh reaksi sama, orang-orang di sekitarnya pun menoleh, barangkali pertama kalinya dalam beberapa jam ini. Sebab semua orang yang tinggal di kota ini tahu getaran samar udara—adalah tanda-tanda datangnya siaran.

Dalam dunia sunyi itu, hampir terdengar seakan-akan seseorang mendesau. Prekurso siaran mengirim rasa mual fisik ke seluruh tubuhnya. Perubahan yang mereka harapkan semestinya menjadi sesuatu positif. Tetapi siaran hanya mengantar kedengkian Kultus Penyihir.

Tuntutan mustahil macam apa yang diminta suara melengking itu berikutnya? Tetapi kali ini, prediksi pesimis si gadis dikhianati.

“—uuuhh … jadi, anu … semua orang bisa dengar aku baik-baik? Cek mic, cek mic, cek mic, satu-dua, satu-dua.”

Malah dia mendengar suara seorang pemuda yang entah agak bingung.

Tak seperti siaran lain sebelum ini, suara pemuda tersebut kurang percaya diri. Tidak karismatik dibanding seorang pria yang setiap hari dia dengar suarnaya. Namun suara muda yang belum pernah didengarnya.

Mata si gadis membulat. Orang-orang dewasa di sekitarnya juga saling memandang ragu, tak yakin apa yang tengah terjadi.

Perasaan itu tidak menjangkau orang di balik alat penyiaran. Namun demikian, sesudah melakukan beberapa uji coba lagi untuk memastikan siarannya berjalan, pemuda itu berdeham. Lalu ….

“Kedengarannya kalian bisa mendengarku, itu sangat melegakan. Jadi, pertama-tama, maaf karena melakukan siaran secara tiba-tiba. Aku barangkali menakuti kalian, ya. Mengingat keadaannya, kalian sebagian besar pasti ingin tahu aku ingin bilang apa. Jangan khawatir. Ini bukan siaran Kultus Penyihir. Tolong ketahuilah itu dulu.”

“… bukan, Kultus Penyihir?”

Kedengaran tidak terbiasa berbicara melalui alat, volume suaranya berfkultuasi naik-turun. Tapi karena para pendengar begitu kewalahan oleh isi kata-katanya, tidak ada yang repot-repot mengomentarinya. Melihat ke atas menuju tempat suara tersebut nampaknya terdengar, ekspresi gelap pada paras orang-orang mulai berubah. Perasaan melihat secercah harapan pertama.

“Kalau begitu, artinya … kita diselamatkan?”

Kata-kata itu mencakup harapan semua orang dalam naungan. Itu dia. Bukan? Jika ada orang selain Kultus Penyihir berbicara melalui alat penyiaran, itu artinya mereka telah merebut Balai Kota. Seandainya seseorang berhasil mengusir Kultus Penyihir, maka mungkin Kultus Penyihir dalam Menara Pengendali dan seluruh kota juga telah—

“Kultus Penyihir … sudah diusir semua ….?’

“Selanjutnya, aku mesti meminta maaf sebab menaikkan harapan kalian semua, karena ancaman Kultus Penyihir belum hilang juga. Kami dapat merebut kembali Balai Kota, tetapi mereka masih mendiami Menara Pengendali. Tuntutan orang-orang itu serta bahaya kota yang akan tenggelam di bawah air masih ada. Tolong pahami itu juga.”

“….”

Tetapi, harapan singkat ini tak dihancurkan orang lain, tetapi pemuda di balik alat penyiaran itu sendiri.

Seakan-akan si pemuda telah membaca pikiran semua orang dalam selter. Tetapi bukankah kejam nian memadamkan harapan kecil mereka dengan cara ini?

Seseorang yang tanpa sadar berdiri dengan harapan di matanya kini duduk lagi.

Tidak ada yang menyalahkan orang itu karena merasa berkecil hati, diberi tahu harapan mereka telah dihidupkan kembali oleh rasa takut yang salah tempat. Malahan, titik sengit amarah semua orang beralih menuju pemuda yang membuat siaran.

“Maafkan aku.”

Akan tetapi si pemuda nyatanya meramalkan bahwa kemarahan orang banyak akan menimpanya.

“Di mana kalian mendengar siaran ini? Mungkin berada di salah satu selter, dan aku yakin ada juga yang tidak berhasil melarikan diri ke selter. Semua orang pasti gelisah, bukan? Aku mengerti bagaimana rasanya takut dan ingin meringkuk jadi bola. Aku rasa kalian semua berpikir, Siapa lelaki acak yang bermain-main sama harapan semua orang di saat-saat seperti ini?

“….”

“Aku … bukan siapa-siapa. Seperti orang lain, hanya dilempar-lempar oleh takdir, dihantam keadaan tak masuk akal, sangat ketakutan sampai-sampai kakiku tidak mau berhenti gemetaran. Orang semacam itu. Bahkan pekerjaan siaran ini … hanya kuterima setelah membuat keributan besar. Dan kupikir bebannya keberatan bagiku. Sejujurnya, ada orang lain yang lebih memenuhi syarat untuk berbicara dengan semua orang seperti ini. Aku yakin ada.”

Suara si pemuda gentar, seakan berbicara langsung dari hati orang ketakutan dan gemetar. Kemudian, yang terjadi selanjutnya semata-mata pikiran jujur seorang pemuda yang meragukan nilainya sendiri.

Sikap para pendengar telah melampaui terkejut dan kecewa, yang tersisa adalah ketidakpastian.

Saat ini, di waktu semua orang menginginkan harapan, kenapa mereka menyuruh pemuda ini melakukan siaran?

Bahkan si pemuda itu sendiri bilang ada yang lebih memenuhi syarat.

Tetapi mengapa mereka mengirimnya?”

“Tapi di sinilah aku, berbicara sama semua orang. Begitu banyak orang yang lebih hebat dariku bilang aku harus melakukannya. Bahwa itu tidak sepenuhnya sia-sia. Tapi, dapatkah kalian mendengar aku yang gemetar? Berbicara di depan orang-orang bukan keahlianku. Aku tak pandai berkata-kata, tidak punya karisma memimpin seorang pun. Aku lemah, tidak berdaya, bahkan di posisi sepenting ini, aku semata-mata melarikan diri ….”

Nada suaranya perlahan-lahan melirih, seakan menyeret hati pendengar ke dalam jurang.

Suara lemah goyah itu terdengar bak retakan dada yang menciut cemas, dan tersangkut di perutnya. Jika si pemilik suara bisa dijangkau lengan, gadis kecil tersebut akan menutup mulutnya dan membungkamnya.

“Kakak ….”

Tahu-tahu, adiknya sudah bangun.

Mendengar panggilan itu, si gadis menutup telinga sang adik seolah-olah mencegah suara pengecut tersebut menyelinap masuk agar tak menularnya.

Tetapi, harga untuk melindungi adik laki-lakinya, suara itu terus menyerang gendang telinga si gadis, menariknya ke dalam kelemahannya sendiri.

Namun suara si pemuda masih berlanjut ….

“Aku tidak tahu mesti apa … aku hanya mau menyumbat telingaku, bersembunyi di sudut sendirian dan menunggu orang lain membetulkan segalanya ….”

“—tidak ….”

Memejamkan mata, gadis tersebut menggeleng kepala seakan-akan menolak perasaan tak berdaya nan putus asa tersebut.

‘Aku tahu. Aku tahu sekalipun tak kau ingatkan.’

Yang diucapkan anak muda tidak lain adalah pikiran batin setiap orang yang meringkuk oleh ancaman Kultus Penyihir.

Kelemahan yang menggerogoti hati gadis itu.

Kepengecutan yang bersemayam dalam benak orang dewasa.

Rasa takut tak tertahankan yang menyiksa jiwa adik laki-lakinya.

Tentu saja itu sesuatu yang tidak mampu diatasi seorang pun.

Mesti menghadapi kenyataan tak masuk akal terlepas dari hal ini—

“—tapi, karena aku tidak bisa melarikan diri, aku akan bertarung. Aku orangnya memang seperti ini.”

Mengatakannya, suara si pemuda jelas gentar.

“… hah?”

Tidak yakin dia salah dengar atau tidak, si gadis membuka mata dan melihat sekeliling.

Pemilik suara tidak di sana. Tetapi di mana-mana, dia dapat melihat wajah-wajah terperangah seperti wajahnya.

Suara itu berhenti sejenak, seakan-akan memilah kata-kata selanjutnya. Kemudian ….

“Izinkan aku bertanya lagi. Semua orang yang mendengar suara ini, kalian di mana? Sudahkah kalian pergi ke selter? Apa bersembunyi dalam rumah? Apakah gemetaran sendirian? Apa kalian bersama orang paling penting bagi kalian? Atau, kalian berada di samping wajah-wajah asing, wajah yang mulai kalian kenal selama beberapa jam ini?”

“….”

“Permintaan ini agak memaksa, barangkali sulit, tapi tolong jangan sendirian. Saat seseorang sendirian, mereka mulai memikirkan pemikiran-pemikiran buruk. Aku tahu dari pengalaman itu. Percaya padaku. Jadi tolong jangan sendirian. Tetap bersama seseorang. Dan—”

Menghirup napas, dan sedikit keraguan ….

“Dan kalau bisa, lihatlah wajah orang yang bersamamu.”

“….”

Mengikuti kata-kata si pemuda, tatapan gadis itu perlahan mengarah ke lengannya.

Si adik laki-laki menatap. Mata zamrudnya yang bergerak menemui matanya.

“Wajah siapa yang kalian lihat sekarang? Apakah seseorang yang penting bagimu, atau orang asing yang bersamamu selama beberapa jam ini? Atau mungkinkah seorang teman …. Tapi kemungkinan besar, wajahnya buruk. Wajah yang hampir menangis, wajah yang tengah dalam kesulitan, dan aku bayangkan mungkin tidak tersenyum. Tidak, bisa jadi ada seseorang yang wajahnya kuat, terpaksa tersenyum agar tak mencemaskan orang-orang di sekitarnya. Jika iya, maka orang itu luar biasa. Seandainya seseorang yang kalian sayangi tersenyum seperti ini, kalian seharusnya bangga kepada mereka. Tapi sekarang, kalian ingat itu, bandingkan dengan senyum yang kalian tahu.”

Wajah sang kakak hampir menangis.

Wajah kumal, wajah yang mau hampir menangis lagi.

Sedangkan, tercermin pada dalam wajah adiknya adalah wajah sang kakak yang kosong seakan-akan telah kehilangan ekspresinya.

“—kalian terima itu?”

“… tidak mungkin.”

Suara lirih terurai dari bibir si gadis.

Suara lemah dan pecah yang tidak mungkin didenganrya sendiri.

Namun ….

“Aku tidak terima ini. Takkan aku terima.”

Suara si pemuda naik, seolah-olah telah mendengar jawabannya.

“Aku juga punya orang-orang yang kuhargai. Teman yang kusayangi. Dan takkan kumaafkan siapa pun yang menunjukkan ekspresi sedih, sengsara di depan wajah-wajah orang yang aku cintai. Aku tak mendesak kalian untuk tersenyum. Kalian bercanda? Berhenti bercandalah. Aku ingin berteriak dan meneriakkan senyum gadis yang aku tahu jauh lebih manis dari ini ….”

“K-kakak ….”

“Aku tidak ingin kalah terus. Menyedihkan sekali menyerah di sini. Tidak mungkin aku membiarkannya. Merekalah yang salah. Sekalipun kalian kelewat lemah untuk melakukan hal benar, menjatuhkan hal salah, paling tidak kalian tahu apa hal yang benar. Dan tatkala kalian tahu kalian benar, tidak mungkin kalian boleh kalah dari mereka yang salah. Kurang lebih, aku tidak bermaksud menyerah dan tunduk kepada orang-orang itu.”

“Fredo ….”

Mendengar adik laki-lakinya samar-samar memanggilnya, dia dengan lembut memeluknya lebih dekat dan menekan dahinya ke dahi si adik. Panas, sangat panas, panasnya kehidupan.

Dia tidak tahu panas itu dari adik laki-lakinya atau dirinya sendiri, tetapi panasnya memang ada.

“Aku mau kabur, tapi tidak bisa. Aku ingin nangis, tapi tidak bisa. Musuh kuat, tapi aku tidak pengen kalah. Jadi, aku akan bertarung. Aku tahu aku lemah, tolol, tapi masih ingin bertarung. Mereka salah. Mereka salah telah membuat orang-orang yang sangat kusayangi kelihatan hendak menangis. Jadi, bertarung. Aku akan bertarung—dan aku ingin kalian semua bertarung.”

“—ah.”

Napasnya tertahan. Tenggorokannya mendadak tertutu, malu oleh kelemahannya sendiri.

Tentu, karena suara pemuda telah berhenti bergetar, tetapi menjadi kuat, seakan-akan menunjuk jalan di depan.

Dia memahami perasaan pemuda itu. Menerima pesan si pemuda, menyakitkan dan jelas. Dalam hatinya, kehendak gadis itu sama dengan kehendak pemuda. Dia ingin bertarung. Ingin berusaha sebisa mungkin untuk mengusir para penjahat yang menyerang kota mereka. Tetapi, baik dia dan adik lelaki kecil dan mudanya, jangkauan mereka amat pendek.

Mereka tak berdaya, bodoh, lemah, pengecut, dan jadi—

“Jangan salah paham. Aku bilang aku ingin kalian bertarung, tapi tidak menyuruh kalian mengambil tongkat dan melawan mereka. Malahan, mohon hindari perbuatan sembrono. Aku tak ingin kalian berkerumun dan menumpahkan darah melawan Kultus Penyihir. Yang aku minta kalian perjuangkan adalah untuk tidak berputus asa.”

“Tidak … putus asa ….”

“Melihat kakimu takkan mengubah apa-apa. Tatapan kalian takkan membuat lubang di lantai, dan biarpun iya, itu takkan membenarkan apa pun …. Jadi tolonglah, angkat wajah kalian dan lihat ke depan.”

Dia mendongak. Bukan ke lututnya, bukan ke rambut pirang kakaknya, tetapi ke selter.

Di sana, dia melihat wajah orang-orang di sekitarnya terangkat juga.

Mata mereka saling bertatapan, melebar ibarat takjub.

Seperti si gadis, semua orang tanpa sadar mengangkat wajah mereka, menuruti suara pemuda.

“Jika kalian melihat sekeliling pasti, kalian akan menemui mata seseorng. Seperti kalian, seseorang itu takut dan ingin melarikan diri … tapi, seperti kalian, ia juga seseorang yang tidak ingin kalah. Dialah orang yang kalian hormati, dialah orang yang kalian tatap sekarang, dan bila menambah dirimu ke daftarnya, sudah ada tiga orang sekarang. Semestinya ada lebih banyak tergantung di mana kalian berada.”

 Sesuai perkataan si pemuda, tatapan orang-orang saling bersilangan selagi mengangkat wajah.

Kilau dalam iris mata mereka rumit, dan tentu, mata si gadis sendiri sama. Namun, sekarang tampaknya ada seusuatu yang lebih dari sekadar getaran teror.

“Kalau kalian mendapati diri kalian tak sendirian, maka itu sudah cukup. Kalian tidak sendirian. Itu saja sangat kuat, kan? Aku tidak ingin melihat ekspresi sedih dari wajah-wajah orang yang aku cintai. Dan aku tak ingin orang yang melihatku sekarang mendapati ekspresi menyedihkan di mataku. Bukan aku seorang yang begitu tak berguna, lemah, dan keras kepala, kan!?”

“….”

Suara memohon dan memanggil itu mencoba mengumpulkan keberanian orang-orang.

Tetapi di telinga si gadis, pemuda tersebut memohon bantuan—akan sesuatu, apa pun itu, yang bisa dia pegang teguh.

Lalu dia menyadarinya. Perasaan pemuda itu tidak pernah berubah sejak dimulainya siaran ini.

Sementara meratapi dirinya yang lemah dan tak kuat, dia tidak menyerah.

Mengatakan pada dirinya sendiri bahwa itu satu-satunya senjatanya, mengatakan kepada semua orang bahwa itu juga sama.

“Tolong, bantu aku percayai ini. Aku barangkali lemah dan tanpa daya, tetapi aku belum boleh menyerah dulu. Aku bukan satu-satunya pengecut yang benci menyerah … tolonglah, bantu aku percayai ini.”

Suara pengecut. Permohonan pengecut.

Suara yang terdengar, ketika semua orang membutuhkan bantuan, dia berteriak tanpa malu-malu dan lebih dari siapa pun: ‘Tolong bantu aku’

“Ataukah … hanya aku seorang?”

Suara tersebut hilang kepercayaan diri. Lebih tepatnya. Suara si pemuda dari awal tidak percaya diri.

Mulai terasa kegelisahan. ‘Jangan pergi’. Apa pun yang terjadi, dia ingin berteriak agar dia tetap tinggal.

“… kau tidak … sendirian.”

Suara samar, tak terdengar  layaknya tangisan nyamuk, terdengar dari tenggorokannya.

Suara ini takkan mencapainya. Jawabannya mesti lebih keras. Demi menjawab suara pengecut, penakut, dan kesepian itu—

“Siapa yang percaya … bahkan sekarang, kita masih bisa bertarung … apa aku satu-satunya?”

“—KAU TIDAK SENDIRIAN!”

Membuka mulutnya, si gadis berteriak sekeras-kerasnya.

Suara-suara bergema ke seluruh selter. Bukan hanya ke gadis. Orang lain yang juga mengangkat wajah mereka ikut berteriak.

Suara-suara yang menentang kesedihan, kelemahan, dan ketakutan.

Apabila itu rencana si pemuda selama ini, maka mereka telah tenggelam sepenuhnya.

Siapa peduli, kalau memang iya? Suara lemah dan gemetarnya, bicaranya putus-putus, dorongan menyedihkan itu, kalimat basa-basi gemetar, menyedihkan, memohon, serta mencengkeram kuat kepercayaannya, biarpun semua itu pura-pura ….

Jikalau mereka tertipu performa semaster itu, siapa yang bisa menyalahkan?

Tetapi andai ini benar-benar suara pengecut canggung, bagaimana mungkin orang-orang membiarkannya begitu saja?

“Aku tidak sendirian, kan?”

“—kau tidak sendirian!”

“Kalian masih bertarung, bukan? Kalian belum ditelan kelemahan, kan?”

“Kami belum … dan tidak ingin kalah!”

Bagian dalam dadanya makin panas. Gusinya goyah, terasa gairah berbeda dari amarah berkecamuk.

Perasaan itu bukan dimiliki si gadis seorang. Itu adalah semangat membara yang menelan semua orang hingga jadi menjadi neraka tunggal.

Keresahan yang barusan mereka bagikan kini menjadi api unggun emosi berbeda.

“Seandainya kalian bersama seseorang yang penting bagi kalian, pegang tangan mereka dan percaya pada mereka. Seumpama bersama seseorang yang tak kalian kenal, mengangguklah dan yakinkan mereka kalian akan berusaha yang terbaik bersama-sama. Karena maupun kalian atau orang itu tidak pula dihancurkan oleh kekalahan atau menyerah untuk bertarung. Selama semua orang bertarung, aku akan bertarung hingga akhir juga. Aku akan bertarung—aku akan bertarung, dan menang.”

“….”

Pada akhirnya, tempat itu hanyalah selter yang jauh dari Balai Kota.

Entah sekeras apa mereka berteriak di sini, tidak peduli bagaimana mereka berteriak bahwa mereka bersama si penyiar, tidak ada yang mencapai anak muda tersebut.

Tetap saja, si pemuda kedengaran lega, seolah telah mendengar gadis itu dan balasan lain. Dia menerimanya, menerimanya lalu memproklamirkannya dengan suara gentar karena emosinya menguat:

—aku akan bertarung, dan menang.

Tidak pasti dia bisa menang atau tidak

Hanya rasa percaya yang pasti, dia pasti menang.

Sebagaimana si pemuda percaya bahwa gadis itu dan orang-orang kota ini belum termakan keputusasaan—

Si gadis dan penduduk kota yakin pemuda di balik suara itu akan menang dalam pertempuran berbahaya di depan.

Mengapa mereka mempercayainya? Karena tentu saja, suara ini—

“—namaku Natsuki Subaru. Aku adalah Spiritualis Roh yang mengalahkan Uskup Agung Dosa Besar Kemalasan dari Kultus Penyihir.”

“….!!”

Kegaduhan terjadi ketika si pemuda mengungkap identitasnya.

Gadis itu tidak terlalu mengerti pentingnya pernyataan itu. Tetapi orang-orang di sekitarnya tidak seperti dia. Dampaknya membahana, tentu bukan hal negatif.

Pada awalnya mereka terkejut, kemudian setelah mulai paham—harapan dan kepercayaan secara eksplosif menyebar hingga hati si gadis ditelan pusaran emosi tersebut.

“Aku dan rekan-rekanku akan melakukan segala cara untuk mengurus Kultus Penyihir di kota ini! Jadi, tolonglah percaya pada kami dan terus bertarung. Genggamlah tangan orang-orang yang berharga bagi kalian lalu buang bagian diri kalian yang meringkuk ketakutan yang ingin menyerah. Kemudian ….”

“….”

“—serahkan sisanya padaku!”

Sorak-sorai memekakkan telinga meletus, selter banjir antusiasme tinggi. Ekspektasi menjadi harapan, dan dalam satu tarikan napas, satu harapan menjadi harapan tak terbatas.

Gadis itu menatap adik laki-laki di lengannya dan tak salah lagi melihat cahaya di matanya. Memastikannya, sang kakak memeluk adiknya erat-erat sekali lagi. Dibalas tangan adiknya yang memeluk tubuhnya, sambil menikmati kehangatan pelukannya, si gadis menatap langit-langit.

Tidak bisa menyembunyikan ketakutan atau kecemasannya, pemuda itu tetap meraih harapan semua orang di kota ini dan menyatakan dia akan bertarung.

Si gadis memejamkan mata, mengimajinasikan sketsa wajah seorang pahlawan yang bahkan sketsa wajahnya tidak dia ketahui, bahkan kini pun masih mendoakan seluruh macam keberuntungan yang bisa dibayangkan untuknya.

—karena yakin, pasti dia hanya seorang pemuda awam yang bertarung demi orang-orang penting baginya.


Membiarkan alat sihir berbentuk pramofon, Subaru pelan-pelan mundur.

Keringat gugup betul-betul membasahi dahinya. Bersandar pada meja kerja terdekat, dia dengan kasar mengusap alisnya.

Berkali-kali menarik napas dalam, dia penasaran apakah alatnya mendeteksi suara itu.

Tetapi ketika dia melihat Anastasia sebagai penanggung jawab pengoperasian alat di sampingnya, sepertinya dia sudah mematikannya dengan aman. Seketika, dia merasa lega.

“… haahhh, itu melelahkan.”

Dia menghela napas sesaat kepalanya bergejolak karena rasa lelah tak terbayangkan.

Sejujurnya, kondisi terkini membuatnya tidak ingat perkataannya sendiri jika bicara. Bukannya lupa semuanya, namun ingatannya di sejumlah bagian samar-samar. Dia juga punya cacatan pidato Anastasia ….

“….”

Lengan baju menyeka tetes air keringat yang menggantung di dagunya, Subaru menyadari ruangan terlalu sunyi.

Orang-orang yang melihat siaran tidak berbicara sepatah kata pun.

Di samping Anastasia, ada Garfiel dan AI. Sedangkan Julius dan Ricardo yang telat bergabung bersama mereka berdiri di sudut ruangan. Mendapati semua orang yang biasanya berisik tiba-tiba sunyi bukanlah pertanda baik.

Kecuali, siarannya buruk banget?

“Natsuki-kun.”

“Uwah! Aku minta maaf! Lain kali aku akan berusaha lebih baik!”

“Kenapa minta maaf? Dasar anak aneh.”

Hatinya yang gelisah, Subaru menyampaikan permintaan maaf begitu mendengar namanya dipanggil. Sementara Anastasia menertawakan reaksinya sambil memiringkan kepala dan tersenyum.

“Absurd menyebutmu anak aneh, tapi, Natsuki-kun, apa kau ….”

“Hmm?”

“Dulu kau ini penipu atau semacamnyakah?’

“Tuduhan tanpa dasar macam apa itu!? Seperti yang kau lihat sekarang, aku cuma murid normal umum … atau sebenarnya, dalam artian lain, aku bahkan bukan murid!”

“Ah, tidak, tidak … aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya mencoba bilang caramu bicara itu eloknya bukan main … caramu membuat mereka putus asa kemudian diangkat lagi, semata-mata retorika sempurna.”

Menolak protes Subaru, Anastasia cekikikan lirih, ‘Tahahahaha’.

Tapi, mendengar ini hanya membuat Subaru lebih bingung dari sebelumnya.

“Retorika? Kau ngomong apa, sih? Kepalaku langsung kosong dan bahkan tidak tahu bilang apa. Semua huruf di lembar contekannya terlihat berbayang dan aku tidak dapat mengingat apa pun setelah berhenti membaca.”

“Ya, kau sepenuhnya melewatkan draf kita. Kau tidak mampu membayangkan bagaimana perasaanku saat itu juga ketika kau mulai mengatakan hal-hal yang tak ada hubungannya sama sekali dengan diskusi kita … tapi tampaknya aku sendiri tidak perlu khawatir.”

“Aku sungguh menyesalinya! Tapi, umumnya, apa kurang lebih itu sesuai catatan? Maksudku, kalau seburuk itu, kau pasti menghentikanku ‘kan, Anastasia-san?”

Catatan di tangannya: lembaran yang dia lupakan pada momen-momen kritis penuh pidato berbunga-bunga yang dirancang untuk menghilangkan kerisauan masyarakat kota ini.

Campuran teknik negoisasi kebanggaan Anastasia, peribahasa luas Garfiel, dan bahkan sejumlah ilmu pengetahuan modern Subaru mengenai komentar rapi dan cerdas.

Walaupun dia tidak bisa membacanya padahal sangat-sangat penting, dia barangkali memiliki beberapa ide yang melayang di atas kepalanya dan akhirnya dijejalkan dalam pidato entah bagaimana caranya.

“Aku tidak tahu mesti bilang apa, tapi, Natsuki-kun, pidatomu bahkan sama sekali tak ada hubungannya sama catatan. Maksudku, sama sekali tidak ada.”

“—eh?”

Tidak menyisakan ketidakjelasan pada masalah ini, ucapan Anastasia langsung menjatuhkan spekulasi Subaru.

Dia mendadak jadi kaku, Subaru menatap orang-orang lain untuk memastikan apakah ini benar. Akan tetapi, empat orang lain menunjukkan versi wajah canggung masing-masing seketika tatapan Subaru menyorot mereka.

Di antaranya, Julius maju selangkah sembari memilin rambut depannya ….

“Subaru, seperti perkataan Anastasia-sama. Siaranmu tidak mengandung hal-hal yang kita diskusikan sebelumnya. Terkhusus bagian yang seharusnya terungkap di awal-awal, tentang keberhasilanmu membunuh Uskup Agung Dosa Besar, malah dipindahkan ke pertengahan bagian ke dua. Hampir saja aku ingin bertanya kau ini mau melakukan apa.”

“Serius? Seandainya aku tidak bilang begitu, bukannya aku cuma orang super acak bagi mereka!? Andai memang begitu, kau bisa saja menghentikanku! Bahkan jika harus memulai dari awal, itu lebih baik ketimbang membingungkan mereka!”

“Mulai dari awal? Tidak terpikirkan.”

Selagi Subaru mulai membalik pengakuan keraguan Julius, kesatria itu menggelengkan kepala dan ekspresinya seirus.

Kemudian, hampir dengan rasa hormat terhadap Subaru.

“—itu … pidato yang indah.”

“… hah?”

“Tidak masalah kau lupa catatannya. Dari kemampuanmu sendiri, kau mencapai sesuatu yang jauh melalui ekspektasi kami. Aku cuma bisa memuji prestasimu. Ini perasaan sama yang aku rasakan pas kau membunuh Paus Putih dan Kemalasan.”

Di depan Subaru yang tertegun, Julius hanya fokus kepada pujian berlebihannya.

Lewat cara yang sama sekali tak seperti Julius, Subaru pikir dia melihat kegembiraan di mata, ‘Kesatria Paling Sempurna’. Tetapi begitu dia kembali sadar, Subaru mulai curiga sesuatu telah terjadi. Ada apa dengan kepala Kesatria ini? Mungkinkah sampai segitunya Subaru mengacaukan ketenangannya?

“Jangan bercanda … aku selalu berpikir leluconmu tidak lucu, tahu.”

“Jika menurutmu itu lelucon, maka itu karena kau terlalu menganggap remeh dirimu. Tapi, lagi-lagi, mungkin itulah persisnya yang membuat pidatomu demikian. Pidato yang tidak bisa dilakukan siapa pun kecuali kau.”

“Kau beneran menghinaku, kan?”

Mempertimbangkan situasi kritis yang mereka hadapi, pujian Julius membuat Subaru makin frustasi.

Subaru sekarang sudah terbiasa dengan sarkasme Julius, tetapi saat ini bukan waktunya buat bertengkar tanpa makna. Misalkan pidato itu efeknya tidak sesuai harapan, lantas mereka perlu menyusun rencana lain sesegera mungkin.

“Alih-alih memberikan orang kekuatan, bila perbuatanku membuat mereka tak mempercayai kita, walau dicoba lagi pun takkan berhasil. Lain kali orang lain mesti ….”

“Natsuki-kun, cukup sudah meremehkan dirimu sendiri, tahu? Membuat orang yang mendengarkan merasa tak nyaman.”

Berkata begitu, Anastasia menghentikan rengekan Subaru dari samping. Melotot dan ekspresi manisnya mengungkap ketidaksetujuan ….

“Pidatomu sangat efektif, sepertinya harus aku bilang sendiri karena kau tidak menyadarinya—Natsuki-kun, pidatomu lebih sempurna dari yang kami bayangan. Kau punya talenta menjadi seorang demagog1 sejati, tahu.”

“Kau tahu, aku setuju sama nona muda! Huuaaa, itu membuatku merinding! Ada apa denganmu dan perkataanmu itu! Kau seolah membuatnya mudah, bro! Itu caramu menipu Emilia-sama, Crusch-sama, dan si gadis kecil serta naga darat jatuh hati padamu, bener ‘kan!?”

“Kalian bedua mengatakan sesuatu yang tidak bisa kubiarkan! Apa maksudnya ditipu! Kau siapa memanggilku demagog!”

Mendengarkan evaluasi kelewat heboh mereka, Subaru menaikkan suaranya, berteriak.

Tapi Anastasia dan Ricardo polosnya menatap satu sama lain dan mengangkat bahu. Kini, melihat bagaimana semua orang nampaknya satu pikiran, Subaru mulai curiga mereka tidak betul-betul bercanda.

Semuanya kian jelas saat melihat Garfiel yang berjongkok di lantai, melihatnya.

“Kapten ….”

“Garfiel … menurutmu bagaimana?”

“Kapten memang bener Kapten. Gua bener ngikutin lu keluar Sanctuary … itu yang gua pikirin.”

“… ekspektasimu selalu keberatan padaku.”

“Ya, itu salah lu sendiri, kan, Kapten.”

Garfiel bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya, memamerkan taringnya sambil tersenyum.

Melihat itu, Subaru menghembuskan napas melalui lubang hidungnya, dan ….

“Kalau begitu, kabur dari tanggung jawab berarti sama saja menyerah, bukan begitu. Aku tidak mau itu terjadi … barangkali itu yang aku ucapkan dalam siaran, benar?”

“Tuh mengerti.”

Anastasia tersenyum, memperhatikan Subaru menggaruk kepalanya, terlihat mengempis seakan-akan barusan menerimanya. Dada kecilnya memompa oleh hasil tak terduga ini dan tangannya mengelus lembut syalnya.

“Malahan, kau terlampau meningkatkan moral setiap orang sampai-ampai aku khawatir mereka hendak melakukan hal bodoh. Bahkan di sini, kau membuat kami penuh semangat karena Wewenang Kekuasaan Kemarahan, tahu.”

“Kalau kau melebih-lebihkannya seperti itu, aku mengira kau bohong lagi … serius, nih, seahli apa aku yang seorang DJ radio ini ….”

Setelah diangkat begitu tinggi semakin sulit memahami masalah di sekitarnya.

Menjauh dari pusaran tatapan hangat, Subaru perlahan berjalan menuju alat misterius sekali lagi.

“Bagaimanapun, andaikan pidato itu membuat perbedaan, itu lebih baik dari apa pun juga. Mudah-mudahan, ini cukup untuk mencegah terjadinya kekerasan lagi dalam selter …. Jadi, ada pendapat mengenai langkah kita selanjutnya?”

“Karena sekarang warga sudah tenang, kita selesai mengurus semuanya kecuali akar masalahnya sendiri. Akan tetapi, setelah pidato Natsuki-kun, Kultus Penyihir pasti tahu niat kita sekarang ….”

“Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Seperti katamu, selain fakta yang mungin bisa jadi tidak rasional, tidak banyak yang bisa diteruskan. Pada waktu yang sama, kita harus menyelesaikan ini sesegera mungkin.”

Terlepas dari efektivitas pidato Subaru, sarana untuk menghancurkan kota ini tengah dipegang oleh orang gila, fakta itu belum berubah. Bahkan disertai peluang optimisme terbesar, Bendungan Besar akan dilepaskan pada tengah malam dan kota akan ditelan banjir.

Apa pun yang terjadi, mereka harus mengakhiri ini sebelum itu terjadi.

“Dan untuk melakukan ini, kita kudu merebut keempat menara sekaligus … benar?”

“Ada empat Uskup Agung Dosa Besar dan dua musuh yang tak kita ketahui. Kita harus berkonsultasi bersama pasukan kita tentang cara mengatasi ini.”

Secara bersamaan menguasai keempat Menara Pengendali itu syarat penting untuk menyelamatkan kota ini. Mengkonsentrasikan pasukan mereka seperti ketika menyerang Balai Kota tidak bagus. Sebab, seketika mereka menyerang menara manapun, ada risiko ketiga lainnya membuka bendungan. Subaru tidak yakin mereka mampu selamat dari ancaman empat kali berturut-turut.

Melawan enam musuh utama, kekuatan bertarung mereka adalah—

“Ini … persoalan sukar. Kemungkinan penyerangannya akan sama seperti sewaktu menyerang Balai Kota. Tapi … andaikan kita punya satu kartu lagi saja.”

“—kalau begitu, bagaimana dengan Joker?”

Selagi Subaru menghitung kekuatan mereka dengan jarinya, suara yang tiba-tiba berbunyi.

Tanpa berpikir, Subaru berbalik menghadap sosok yang berdiri di pintu masuk, dan ….

“Persis layaknya kali terakhir aku melihatmu, penilaianmu tentang diriku naik sedikit?”

“Tidak sebanyak Natsuki-san yang diminta berpidato … tidak kusangka ada pahlawan di antara teman-temanku, tapi kukira aku salah.”

“Tapi tetap saja aku pikir tidak cocok untukku.”

Melihat si sosok tersenyum nakal padanya, Subaru mengangkat bahu dan tertawa. Lalu berjalan ke pintu masuk, dia tos pada si sosok tersenyum.

Melihat reuni ini, wajah Garfiel mencerah juga ….

“Brotto! Lu baik-baik aja, kan!”

Mendengar panggilan senang Garfiel, Otto yang menghilang semenjak masalah dimulai, menjawab dengan anggukan.

Selain kotoran di pakaiannya, Otto tampak tidak terluka sama sekali. Bergabung bersama mereka, Garfiel pun tos sama Otto.

“Aku nyaris tidak selamat. Ajaib aku bisa sampai sini hidup-hidup entah bagaimana. Senang melihat kalian berdua baik-baik saja. Meski aku tahu kalian jauh lebih sulit dibunuh daripada aku, jadi aku tidak seresah itu.”

“Benarkah. Sebetulnya, aku tidak begitu mencemaskanmu. Kenapa, ya?”

“Entah. Mungkin itu aura naturalnya Brotto?”

“Tidak bisa apa kalian lebih merisaukanku!? Dalam krisis semacam ini, berbahaya berada di luar sendirian, tahu!?”

Tetapi kenyataannya dia berhasil bergabung kembali dengan mereka, jadi itu tak terlalu meyakinkan.

“Ngomong-ngomong, selagi mereka berada di tengah-tengah reuni menggembirakan ini dan merapatkan diri ke perbincangan ….

“Oke, oke, tenang, tenang. Pertama-tama, senang melihat Otto-kun selamat. Dan aku yakin ada segunung hal yang ingin kalian tanya satu sama lain dan semacamnya, tapi ….”

Memotong kata-katanya di sana, Anastasia menembak mata hijau-bawang Otto ….

“Pernyataan mencolok yang kau katakan itu … berkenan memberitahuku artinya?”

“Joker, kan? Ceritanya gampang. Jikalau aku membiarkannya datang dengan cara benar, kelangsungan hidupku pasti diabaikan, jadi aku yang cerdik memintanya menunggu di luar sebentar.”

Kelihatan sedikit malu, Otto berjalan ke pintu atas desakan Anastasia dan memberi sinyal kepada seseorang di sisi lain pintu.

Didahului suara langkah kaki, karakter baru masuk ke dalam ruangan. Lalu ….

“—maaf aku telat.”

Satu kalimat. Dan kalimat itu saja membuat pendengarnya diperkuat sepuluh ribu orang.

Selain sensasi hembusan angin, terdapat ilusi api yang menjulang tinggi muncul di hadapan mereka, membuat hati berguncang.

Pada kenyataannya, reuni ini memang memiliki kekuatan seperti itu.

Karena kekuatan yang telah lama ingin mereka dapatkan telah tiba.

“Reinhard van Astrea—sedikit terlambat, namun aku akan bergabung bersama kalian.”

Berkata demikian, sang Pedang Suci berapi merah mengumumkan niatnya untuk bergabung dalam pertarungan.

Catatan Kaki:

  1. Apabila kita merunut dari asal katanya, Demagog merupakan istilah dari bahasa Yunani. Demagog berasal dari kata Demos dan Agogos. Demos artinya rakyat. Sedangkan Agogos adalah pemimpin. Tapi makna pemimpin di sini lebih mengarah ke penghasut. Sehingga, demagog berarti pemimpin yang pandai menghasut dengan cara membakar naluri massa untuk meraih tujuan tertentu. Dengan kondisi massa yang tak menentu, maka seorang demagog akan sangat piawai mengarahkan massa agar berpihak padanya. Memanfaatkan ketidaktahuan rakyat. Contoh orang demagog: Hitler.

8 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 42”

  1. akhirnya yg di tunggu2,thanks min udh up.. semangat min ngeTL nya.. jaga kesehatan juga dalam kondisi dunia seperti ini, di nantikan lagi chap selanjutnya

  2. Thanks min update nya, terus semangat…

    Btw, DanMachi kok udah ga di upload?… Serah Mimin, saya cmn bisa baca, berterima kasih, n Kasih semangat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *