RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 39

Posted on

Kekesatriaan dan Seorang Pria Lamban

Penerjemah: Daffa of Rivia

Setelah menegaskan kembali tekad mereka, Subaru dan Anastasia turun tangga menuju ruang resepsi.

Mereka berbicara di lantai tiga dari total lima lantai dalam gedung, dan biasanya lantai terbawah ini berfungsi sebagai ruang konferensi.

“Karena lantai lima benar-benar dihancurkan oleh naga, lantai empat secara teknis lantai teratas sekarang. Semua korban Kenafsuan ada di sana.”

“…bagaimana radio sihirnya ketika lantai lima terbakar?”

“Jangan khawatir, radionya dibongkar dan disimpan dengan mana. Instrumen magis itu sendiri hanya berbentuk kotak logam besar, jadi mudah dipindahkan. Sepertinya suara dikumpulkan ke dalam kotak itu sendiri dan diperluas ke seluruh kota.”

Sebuah antena … atau barangkali pengeras suara?

Kotak logam ataupun pengeras suara, apa pun itu, barang sihirnya dipulihkan dengan aman disertai para sandera. Mungkin itu satu-satunya berita baik yang Subaru dengar saat tersadar.

Radio sihir hampir terbukti bermanfaat nanti, dan mengetahui para sandera aman-aman saja meningkatkan moral secara drastis.

“Kau bilang korban Capella dikumpulkan di lantai empat?”

“Meskipun mereka semua lalat atau naga, kepalanya masih manusia, lantas mereka paham yang kita katakan dan mengikuti petunjuk … sekalipun tidak bisa dibilang itu bagus.”

“….”

Subaru pun tidak dapat memutuskan apakah dia mesti senang atau tidak soal orang-orang yang berubah masih mempertahankan kesadaran manusia mereka.

Agar sadar menjadi makhluk yang sepenuhnya berbeda, seekor cacing pasti merasa bingung dan sedih kehilangan.

Meski kehilangan raga mereka, mereka masih bertahan hidup dalam kondisi lain. Apakah ini disebut kehilangan diri? Pertanyaan ini, mungkin hanya diketahui oleh mereka yang mengalaminya.

“Mereka juga bisa bergerak normal. Alhamdulillah, belum ada percobaan bunuh diri. Semuanya terjadi kelewat mendadak, kebanyakan orang tidak sempat bereaksi …. Singkatnya, jika kita sanggup memperbaiki segalanya sebelum keadaan jadi jelas, seluruhnya akan baik-baik saja.”

“Bunuh diri ….?”

“Tidakkah kau berpikir itu patut dipermasalahkan?”

“….”

Itu pertanyaan yang tidak mampu dijawab Subaru seketika.

Dibanding Subaru, Anastasia tampaknya menghadapi situasi kacau ini dengan baik.

“Selama ada kehidupan, ada juga harapan, namun tanpa keinginan untuk hidup, harapan itu melemah. Punya tubuh yang bisa bernapas saja sudah cukup. Keinginan untuk hiduplah yang tidak boleh hilang.”

Biarpun dia tidak bisa melihat wajah Anastasia, Subaru mendengar keyakinan pada suaranya kala dia melangkah maju.

Subaru sepenuh hati menyetujui kegigihannya perkara hidup-mati. Hidup itu penting.

Selama masih ada kehidupan, masih ada peluang melawan. Karenanya ….

“Anastasia-sama.”

Sewaktu Subaru dan Anastasia berjalan turun, orang pertama yang menyadari kedatangan mereka adalah Julius, dia memanggil nama tuannya.

Awalnya Subaru cuma melirik resepsi lantai pertama. Meski sekilas saja, tanda-tanda perjuangan berani nampak jelas.

Meja dan kursi terbalik, dinding-dinding serba retak-retak dan hangus oleh sihir, cipratan darah di mana-mana dengan cepatnya disapu.

Kendatipun Julius sangat menyesal Kerakusan dibiarkan kabur, dirinya sendiri jelas tidak ragu-ragu saat bertarung melawannya.

“Bagaimana diskusi Anda bersama Subaru?”

“Agak panjang, tapi kesimpulannya mulus. Sama seperti kita, Natsuki-kun sangat bertekad.

Anastasia mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Julius. Seusai jeda waktu singkat, pandangannya teralih ke arah lain.

Seberang tangga tempat Subaru turun, sosok kekar Ricardo terlihat di depan pintu masuk lobi. Dia ingat bahwa Anastasia bilang Ricardo sedang di luar, mencari para penyintas.

“Ricardo, selamat datang kembali. Bagaimana situasinya?”

“Nona, kau kelihatan bersemangat sekali … umumnya buruk, dan seiring waktunya kian buruk. Bangsat-bangsat itu ahli membuat masalah.”

Ricardo mengerutkan kening dan mendesau pada hasil pemeriksaannya.

Sembari menggosok kepala hewan buasnya, dia memberikan serangkaian instruksi kepada banyak anggota Taring Besinya. Beberapa orang tinggal berjaga-jaga, sementara yang lainnya menyebar dan beristrirahat lebih jauh lagi di lorong.

“Para penyihir itu ngasih tahu kalian masalahnya? Tidak, kupikir tidak lebih menyusahkan dari itu … apa ada hal lain?”

“Siarannya, Kapten. Siaran pemuja sesat ntu nurunin semangat.”

Garfiel menjawab pertanyaan membingungkan Subaru selagi turun tangga.

Taring-taringnya menggemeletuk frustasi, Subaru menyuruh seseorang menjelaskan.

“Siarannya … tentang tuntutan merekakah? Apa mereka menyampaikan hal lain lagi?”

“Tidak berlebihan, mereka menyebarkan berita bahwa pasukan yang merebut kembali Balai Kota sudah dihancurkan. Namun pengucapan Uskup Agung Kenafsuan itu memang beracun.”

“Berkatnya, orang-orang di banyak tempat selter yang kukunjungi hampir tidak punya semangat juang yang tersisa untuk menguasai kembali kota mereka. Sulit memperkirakan berapa banyak orang yang dapat dipulihkan.”

Julius memejamkan mata, Ricardo mengerutkan hidung.

Setelah mendengar jawaban mereka, Subaru segera mengerti apa yang diinginkan Kultus Penyihir.

Sebelum pengambilalihan Balai Kota berhasil, Capella sudah membuat siaran dengan daftar tuntutan.

Masyarakat biasa yang tak mampu bertarung benar-benar berkecil hati oleh apa yang mereka anggap merugikan. Lalu para kombatan memahami implikasi lebih kerasnya.

Mereka akan paham setiap upaya untuk merebut kembali Balai Kota berarti invasi skala penuh, yang malah membuat kegagalannya makin menyedihkan.

Di sisi lain, siaran Capella adalah usaha untuk menangkis perlawanan yang meningkat di selter-selter lain.

“Berkat catatan di Balai Kota, kami menemukan semua selter di kota, mengunjungi yang terdekat satu per satu, tapi ….”

Ricardo merentangkan tangan, memastikan ketakutan Subaru.

Masalahnya ada di hati orang-orang. Kegagalannya tidak menjadi motivasi, kesalahannya ada pada Kultus Penyihir yang luar biasanya sangat dibenci.

“Tanpa keteguhan, kita tidak punya keberanian. Pertarungan selanjutnya memang akan berbahaya ….”

Berbanding terbalik dengan kemarahan Subaru, Anastasia merenung diam.

Mendengar suara lembutnya, Subaru mengangkat kepala. Anastasia menghadapnya sambil berkata, “Bukannya itu benar?”

“Sekalipun kita bertarung, kita tak bisa menang—menjejalkan ini ke pikiran semua orang dan menyuruh mereka menyerah tanpa perlawanan. Menurutmu apa yang terjadi?”

“Mereka akan menyerang dalam putus asanya … bukannya itu jawaban yang kau mau dariku?”

“Seandainya mereka ingin memeluk lutut dan menangis, tingkahnya hampir kekanak-kanakan, benar? Tapi itu takkan terjadi. Mereka tidak punya pilihan bertarung, tapi hidup mereka takkan hilang. Jadi, apa sisanya?”

“… maksudmu ….”

Dasarnya, Subaru cukup yakin dia mengerti maksudnya.

Akan tetapi, anggapan Kultus Penyihir sengaja berusaha menciptakan situasi ini membuat rasa jijik tak terkatakan.

Seakan ingin mendorong getaran yang tumbuh dalam diri Subaru, Anastasia menepuk tangan. Dan berkata ….

“Jawaban atas keselamatan mereka telah diberikan, kurang lebih dalam bentuk tuntutan. Aksi paling masuk akal dalam situasi putus asa ini adalah mengikuti tuntutannya. Jadi, Buku Kebijaksanaan dan kontraktor roh buatan tak akan aman, kan? Bahkan pasangan yang saling mencintai bisa jadi pengorbanan.”

“Tetapi tidak semua orang akan seekstrem itu, betul!?”

“Tentu saja tidak. Ada beberapa yang tidak mau menukar kelangsungan hidup mereka dengan nyawa orang lain, tapi memilih menyelinap keluar dari kota. Apa pun yang terjadi, akan ada sejumlah kepanikan, dan kita takkan mampu menyelesaikan apa-apa dalam kalang kabut itu.”

Begitu wabah kepanikannya menyebar, satu langkah salah saja sudah membuat situasi genting runtuh semuanya. Sulit membayangkan kota dalam keadaan itu, di mana Kultus Penyihir mengendalikannya lewat rasa takut. Seolah-olah mereka penguasa boneka, menarik tali sekehendak pribadi.

“Jadi … bisakah kita mengunjungi semua orang dan memotivasi mereka?”

“Itu tidak terlalu realistik, kan?”

“Maka situasinya bakal kelewat pesimistis!”

Kepanikan alamiahnya akan datang tatkala semua orang gelisah.

Dan satu-satunya cara melawan kepanikan tak terhindari ini adalah menghantarkan harapan.

“Kita tengah bersiap melakukan serangan balasan—mengatakan itu saja akan memberi sedikit harapan pasti untuk mencegah kepanikan masal, bukan?”

“Kupikir mestinya mengambil jalan pengorbanan minimum. Setiap sumber daya yang kita habiskan dengan kurang baik memberikan pihak lain keunggulan.”

“Bentar, bentar, Anastasia-san. Kedengarannya tak seperti yang ada dalam kepalaku.”

Ucapan Anastasia menyengat, dan Subaru merengut, membuatnya mendesau lelah.

“Idealisme Natsuki-kun adalah tak ingin mengorbankan seorang pun—biarpun mengagumkan, itu sama sekali tidak realistis. Pasukan kita sudah terlampau terhajar di tahap-tahap pertempuran terbuka, dan kita takkan mampu bertahan tanpa kerugian apa pun. Bukannya itu kebenaran jelasnya?”

“Kali kedua yang pertama … memang itu benar. Namun kali ini, kita tidak boleh menerima kerugian begitu mudahnya … malah, itulah tepatnya yang coba kita hindari!”

“Sekiranya kita hendak melancarkan satu serangan kemenangan terakhir, aku setuju padamu. Tapi tidak mungkin kepada situasi kita. Pikirkan saja seperti perang laut. Tentu saja kita akan membantu para prajurit pemberani yang berenang dari kapal karam mereka ke kapal kita yang masih kokoh … tapi tidak masuk akal semisal mencoba menyelamatkan mereka yang menyerah dan memilih tenggelam.”

“——! Tapi meski kita menang pun, itu—!”

“Dan andai kita kalah, kita semua akan tenggelam! Jika kau tidak memedulikan kalah-menangnya, lantas kau siap mati? Ataukah kau ingin hidup!? Natsuki-kun, filosofi tanpa kerugianmu benar-benar naif!”

Amarah numpuk Anastasia hanya mengipasi api kemarahan Subaru sendiri.

Mengangkat lengan peringatan, Julius menghentikan Subaru mendekat. Tetapi tatapan hati-hatinya tidak ditujukan kepada Subaru, melainkan Anastasia, ibaratnya dia berpihak kepada Subaru. Menghela nafas ringan dan menutup mata.

“Anastasia-sama, saya memahami perasaan Anda, tetapi saya juga setuju dengan Subaru. Mencegah kecemasan Anastasia-sama memang mustahil. Tetapi menerima pengorbanan orang-orang tidak bersalah tentu menyedihkan Anda juga. Serta merusak moral kita … itulah tepatnya rencana Kultus Penyihir.”

“J-Julius!”

Dukungan Julius terhadap Subaru sama saja menentang tuannya sendiri dan mengejutkan amarah Subaru, dia bahkan merasakan gelombang kepercayaan baru.

Jikalau Julius adalah teladan kebenaran, Ksatrianya Ksatria tersohor sependapat dengan Subaru, maka Subaru sendiri tak mungkin salah.

Akan tetapi, Anastasia hanya menoleh pada Julius, mengelus syalnya.

“Kau pikir aku suka bilang menerima kerugian? Aku bahkan tak tahu selter-selter lain kacau! Ujung-ujungnya, cuma sebatas kemungkinan belaka. Walau begitu, tidak mungkin kita mampu menghadapi setiap kemungkinan merepotkan satu per satu!”

“Tapi ….”

“Kau bukan anak kecil lagi, jadi kau pun paham, bukan? Betapa terbatasnya sumber daya kita, cara satu-satunya menangani Kultus Penyihir adalah manempatkan semuanya ke sisi ofensif. Kendati demikian, tidak banyak yang sanggup kita lakukan. Seandainya pasukan kita menyebar hingga terlalu sedikit yang tersisa, mustahil kita dapat memaksimalkan ruang lingkup pengaruh kita.”

Kata-kata Anastasia pasti terdengar dingin dan tanpa belas kasih bagi Julius, dia menggigit bibir kesal, bak anak yang dimarahi. Di waktu yang sama mereka juga berbicara kepada Subaru yang awalnya mengusulkan gagasan itu.

Tentu saja Subaru paham perspektif sempurna Anastasia. Berat satu kehidupan pun bebannya terlampau berat.

Menyelamatkan satu orang saja sulitnya ampun-ampunan. Dan semakin banyak orang perlu diselamatkan, semakin sulit menyelamatkan kesemuanya. Menyelamatkan orang sebanyak mungkin nyaris tidak mungkin.

Tentu saja, anak-anak pun bisa menarik kesimpulan ini.

Kian banyak apel yang dipegang tangan mungil rapuh, kian kuat pula kekuatan si anak. Tetapi pada akhirnya, anak itu takkan disisakan apa-apa.

“Demi kemenangan, kita harus berkompromi bersama orang-orang dewasa, ketimbang mengoceh terus seperti anak manja. Sebagai seorang kesatria, bukankah kau harusnya tahu perbedaan itu?”

“….”

Julius menutup mata, seolah menegaskan pernyataan Anastasia.

Selagi menundukkan kepala, Subaru mendapati tinjunya mengepal di belakang badan. Walau begitu, Julius jelas tidak ingin menyangkal lebih jauh.

Akan tetapi ….

“Menyerah di sini berarti tidak layak disebut kesatria.”

“… hei, Natsuki-kun, kau mendengarkan tidak? Bukannya kau bertingkah sebagaimana dulu di Ibu Kota? Entah apa pun rintangan dan perubahan, kau tahu-tahu menjadi kesatria.”

“Ya, aku juga kesatria sekarang. Dan karena aku kesatria, aku tak akan menyerah!”

Semakin banyak apel yang kau pegang, semakin besar kemungkinan apel tersebut jatuh ke lantai.

Tetapi Subaru dan Julius adalah kesatria, daripada memegang apel, mereka memegang sesuatu yang jauh lebih berharga.

Daripada memegang buah-buahan yang bisa saja jatuh tanpa konsekuensi, mereka malah menahannya di tangan hidup; hidup yang menjerit, terisak, dan berharga.

“Ini sesuatu yang penting bagiku sejak awal. Aku masih bertindak berdasarkan belas kasih idealisme itu. Moral dunia ini belum segitunya mempengaruhiku!”

“Kau mengatakan sesuatu yang misterius lagi …. Tapi faktanya, selama pertempuran melawan Paus Putih, dan pertempuran Kultus Penyihir setelahnya … banyak orang mati. Selama ada perjuangan, korban tidak dapat dihindari, Natsuki-kun, melihatnya dengan mata kepalamu sendiri, apakah kau sungguh-sungguh mengerti perkataanmu?”

“Jangan remehkan orang-orang itu, Anastasia. Kematian mereka tragis, namun mereka adalah tantara yang mengorbankan diri dalam pertempuran. Mereka paham pekerjaan mereka. Orang-orang tak bersalah yang hendak dikorbankan, mereka tidak paham itu. Itu perbedaan fundamentalnya!”

Dia mengerti gagasan itu tak masuk akal, dan barangkali sepenuhnya tak masuk akal.

Namun inilah yang diyakini Subaru. Paham itu penting baginya dalam situasi hidup atau mati.

“Warga kota ini hanyalah penduduk sipil. Tidak wajib mereka mengadopsi paham tantara. Kultus Penyihir sewenang-wenang memaksa mereka masuk medan perang. Meninggalkan mereka karena itu tuh salah.”

“Biar salah juga, mereka sewenang-wenang ditarik ke medan perang. Paham mereka dipaksa. Mereka menduga akan diserang, benar? Dan mereka mesti berjuang demi diri sendiri, seperti kita.”

“Entah tidak adil ataupun masuk akal apa bagi pihak bertahan tanpa persiapan yang diserang penyerang siap. Tapi itulah gunanya kesatria. Tugas mereka melindungi orang-orang yang tak siap melindungi diri sendiri. Itulah kesatria yang aku idolakan. Itulah kesatria gagah yang pura-pura aku tampilkan, di depan anak-anak desa tanpa daya.”

Sesudah menerima penghargaan seorang kesatria, Subaru mendapati dirinya sanggup menjalani mimpi. Wajar jika ia berpikir demikian.

Idealisme itu asalnya dari anak-anak desa yang matanya bersinar kagum setiap kali Subaru mengatakan hal gagah dan keren. Subaru ingin berusaha sebaik mungkin demi mereka.

Tentu saja apalagi Emilia matanya sama bersinar dan berkilau selagi mendengarkan.

“Sebagai kesatria Emilia, aku akan bertarung demi Emilia, tapi bukan berarti selain Emilia orang lain tidak berarti. Anastasia-san, sebagai kesatriamu, Julius bertarung di atas kalian semua, segalanya untukmu. Tapi dia tidak berhenti di sana. Itulah sifat alami seorang kesatria; mereka takkan berhenti untuk terlihat lebih gagah dan keren.”

“….”

“Khususnya Julius. Dia bisa saja di ambang kematian dan masih menampakkan perangai kerennya, karena keparat ini Kesatrianya Kesatria. Dengan kata lain, dia ingin kelihatan jauh lebih keren dari orang lain.”

Sewaktu Anastasia terperangah di depannya, ibu jari Subaru menunjuk Julius, dia mendadak terdiam canggung.

Anastasia tak mampu berkata-kata serta Julius tertegun jarang sekali kelihatan sampai-sampai Subaru menyeringai.

“Mengalahkan orang-orang jahat itu tujuan sederhana. Tetapi memutuskan hidup bersama rasa bersalah karena mengorbankan orang itu konyol. Semua orang mesti diselamatkan, semua penjahat harus dikalahkan. Walaupun kau gagal, kau wajib berniat dengan ide itu, kan?”

Kalah seperti itu sama saja mati sebelum perang, tetapi ada perbedaan penting dalam bagaimana kekalahan memengaruhimu.

Tentu saja, mudah menafsirkannya sebagai egoisme, tetapi ….

“—hidup demi ego sendiri adalah cara hidup terbaik. Aku sepenuhnya setuju denganmu, saudara.”

“….!”

Selagi Subaru menyatakan cita-cita naifnya, suara baru masuk ke dalam peristiwa.

Semua orang berputar dan menghadap pintu masuk lobi. Setelah menarik perhatian semua orang, pria di sana bolak-balik melihat, tampak tidak bahagia.

“Hei, menatapku seantusiasme itu, agak aneh. Aku tahu daya tarikku tidak dalam masa keemasan, jadi aku pun tak tahu akan memenuhi ekspetasimu atau tidak.”

“…. AI?”

Mengenakan helm gelap, berbicara santai tidak nyolot, pria ini adalah salah satu kenalan Subaru yang menghilang setelah meninggalkan hotel pagi itu—AI.

Melirik ke sana-kemari pada orang-orang yang berkerumun di ruangan itu lagi.

“Di mana semua muka yang kukenal? Bukannya ada lebih banyak pagi ini?”

“Mereka di atas sama Crusch-san. Mengapa kau di sini?”

“Yah, ketika kekacauan dimulai, aku putuskan kabur dan mencari tempat bersembunyi sebentar. Begitu semuanya tenang, aku mengintip ke luar dan mendengar siaran mengenai Balai Kota. Pikiran pertamaku adalah bahwa kau barangkali terlibat, dan apabila tidak, sekurang-kurangnya menemukan seseorang yang tahu apa yang terjadi.”

Kendatipun dia bicara melalui saringan helmnya bersama optimisme absurd biasa, semua orang merasa sedikit tak senang terhadap jawabannya.

Bagaimanapun, dialah salah satu dari sedikit orang yang cakap bertarung, namun dia memilih memprioritaskan keselamatannya sendiri.

“Ayolah, jangan lihat aku seperti itu. Aku merasa sedikit bersalah, tapi benarkah kau bilang kelewatan pertarungan terakhir itu salahku sepenuhnya? Lagian, aku rasa hasilnya takkan berubah dari keberadaanku seorang.

“Hei, Kapten, orang ini nantangin kita?’

Akhlak kasual AI dari awal sudah buat Garfiel murka.

Kalau dipikir-pikir, AI dan Garfiel belum pernah bertemu. Sewaktu Priscilla menghantam sarapan lezat di hotel, Garfiel tidak hadir.

Dari sudut pandangnya, AI adalah pria aneh dan berpotensi berbahaya.

“Tunggu, tunggu, Garfiel, orang ini terlibat dalam Pemilihan Raja. Dia AI, kesatria Priscilla, biarpun belum secara resmi menemuimu. Aku tidak sadar kau tahu atau tidak, namun kelima kandidat sekarang ada di kota.

“Teknisnya aku ini bawahan tuan putri, sebetulnya bukan seorang kesatria. Aku dapat sangat cocok dengan itu. Oh, ngomong-ngomong, aku tidak bermaksud kasar kepadamu, saudara.”

Meskipun Subaru menghentikan reaksi berlebihan Garfiel, AI merespon perkenalan Subaru dengan suatu ironi. Gerak-geriknya membuat Garfiel menggertak gigi marah lagi.

“Baiklah, cukup, cukup! Sssst! Kalian semua teramat amat menyebalkan.”

Tangan Anastasia menepuk keras, dia meredakan ketegangan yang meningkat cepat.

Mata bulatnya tertuju kepada AI.

“Bukankah kau mirip tuanmu, muncul mendadak dan mengacak-acak suasana? Tidak sopan sekali. Menyulut perkelahian akan membuat orang jengkel, bagaimana kalau kau hentikan sekarang?”

“Waw, Anda jujur banget. Sayangnya, inilah saya. Semua orang bilang saya ini membuat orang sebal dan mengganggu perasaan mereka. Yah, ini berhasil sebagai teknik bertahan hidup.”

AI memasukkan jarinya ke celah antara kepala dan helmnya, menggaruk leher malu-malu. Anastasia menoleh ke Subaru dan menghembuskan napas singkat.

“Sekalipun semuanya entah kenapa jadi rumit, kebijakanku takkan berubah. Jikalau jalan menuju kemenangan membutuhkan pengorbanan, maka akan kulakukan. Andai Natsuki-kun menolak rugi, maka bekerja keraslah untuk memikirkan sebuah rencana. Aku pun ingin menghindari pengorbanan apa pun seandainya memungkinkan.”

“Kalau begitu, kau takkan menghentikanku mengunjungi selter-selter lain?”

“… bila kau bisa melakukannya sendiri, maka lakukan. Omong-omong, kita membutuhkan kekuatan tempur lebih. Andaikan menemukan seseorang yang mampu bertarung, cobalah rekrut ke pihak kita.”

Walau dia masih tidak setuju, Anastasia menarik penolakan sebelumnya atas ide Subaru. Meyakinkannya untuk berubah pikiran sama saja mustahil, itulah sebabnya Subaru tidak komplain atas keleluasaan yang diberikan kepadanya.

“Ambil Cermin Konversasi. Sementara waktu, batas waktumu adalah enam jam. Akan kuhubungi dirimu seumpama kau perlu kembali. Berhati-hatilah, dan sebaik mungkin jangan mengacaukan semuanya.”

“Batas waktu … benar juga, aku belum bertanya. Jam berapa ini?”

“Masih di hari yang sama, sekitar tengah malam—kita akan berangkat sembilan jam dari sekarnag.

Kali ini Julius yang memberikan informasi.

Semisal mereka ingin mengadakan konferensi di jam 6, maka Subaru hanya punya waktu sekitar tiga jam untuk menjadikan Anastasia memihaknya.

Paling pentingnya, sebelum tenggat waktu habis, dia pun mesti menemukan cara untuk mengalahkan Kultus Penyihir dan menyelamatkan kota … tetapi tidak, itu pun belum cukup.

Dia juga harus menyelamatkan Emilia dan meraih ingatan Rem dari Kerakusan, mengembalikan mereka yang dimutasi Kenafsuan. Hanya mencapai semua tujuan inilah bisa dibilang mereka mengklaim kemenangan penuh.

“Tidak banyak waktu tersisa, kau punya peta letak selter?”

“Yap, kami punya beberapa. Ini peta tempat semua bocah-bocah Ricardo dari Taring Besi, dan ke mana mereka pergi sekarang.”

Anastasia memberikan peta Ricardo, menunjukkan Taring Besi telah berangkat ke selter terjauh. Berguna sekali, Subaru tinggal mendatangi selter terdekat, dia pergi sambil berjalan kaki.

Seakan-akan seseorang telah mengatur situasi ini.

“Subaru, aku ikut.”

“Julius? Tidak, harusnya tidak. Bantuanmu sangat besar, tapi kita bakal mampus misalkan tidak meninggalkan cukup pejuang di Balai Kota.”

Ricardo posisinya berpatroli di luar, dan Subaru berniat membawa Garfiel juga. Biarpun Wilhelm di lantai atas, menyuruhnya mempertahankan seluruh Balai Kota tentu keberatan.

Dan walaupun masalahnya bukan itu, fraksi Crusch sekarang ini mendekam dalam kesuraman. Setelah mendengar jawaban Subaru, Julius mengangguk, meskipun enggan.

Nampaknya dia jauh lebih tenang dari biasanya, sifat impulsifnya memang jarang terlihat. Subaru menepuk pundaknya opelan, kemudian mengelus dagu dan menunjuk Garfiel.

“Garfiel, ikutlah denganku. Kita akan datangi selter-selter lain dan cari orang-orang yang bisa bertarung. Kita kudu mencari cara mengakhiri kegelisahan berkepanjangan ini.”

“… ok, paham. Serahkan ama gua yang hebat ini.”

Kendatipun respon Garfiel terhadap permintaan Subaru terlambat, dia akhirnya setuju. Dengan itu, Subaru memeriksa peta di tangannya, mencari selter di dekat Balai Kota.

Prioritas utamanya adalah mengamankan kekuatan tempur—dalam hal ini, menemukan Reinhard adalah tindakan terbaiknya.

“Barangkali pergi ke selter dekat hotel dahulu? Aku pikir putri tidak pergi jauh dari sana.”

“Kalau begitu, misalkan kita mengikuti jalan ini … bentaran.”

Subaru terhenti, jarinya masih menyusuri peta. Seketika AI telah memasukkan rencananya sendiri ke Subaru yang blak-blakan, kepalanya memiring penasaran, Subaru bertanya ….

“Kau … ikut denganku juga?”

“Yap. Lagipula, pergi sendirian itu merepotkan, tidak menemukan sang putri juga sangat merepotkan. Sebab kau sudah tahu banyak, aku mungkin punya kesempatan terbaik jika pergi bersamamu. Dalam kekacauan ini, tidak menemukan putri agak menakutkan.”

“… sungguh gambaran sempurna mengenai hubungan tuan-pelayan.”

Meskipun situasinya memberi firasat agak janggal, untungnya Subaru ditemani lebih banyak orang. Garfiel di sisi lain, jijik sesaat mendengar AI menemani mereka. Lagian, di waktu-waktu genting ini, dia pasti akan mengawasi orang-orang asing.

Ngomong-ngomong, walaupun AI entah bagaimana menjengkelkan, dia tampaknya betul-betul ingin menemukan Priscilla.

“Ngomongin Priscilla, kali terakhir aku melihatnya ada di taman First Street lima belas menit sebelum serangan terjadi. Kalau dia tidak pergi, harusnya dia di selter dekat sana.”

“Sungguhan? Itu info yang super membantu, saudara. Kalau begitu mulai dari sana.”

Senang mendengar berita ini, AI menepuk Subaru beberapa kali.

Lalu Subaru bersama AI yang senang dan Garfiel marah-marah, meninggalkan Balai Kota menuju selter terdekat.

Dan yang menghantarkan kepergian mereka adalah—

“Aduh, kau benar-benar diperlakukan layaknya orang jahat di sini, ya?”

“Diam, rubah syal. Bukannya aku belum memikirkannya. Semisal Natsuki-kun masih bisa berbicara dengan keyakinan itu pas kembali, lantas dia betul-betul buruk soal belajar.”

Anastasia berbicara sembari memasang paras depresi, syal dekat lehernya sedikit berdesir. Tak seorang pun menyadari perbincangan singkat tersebut.

5 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 39”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *