RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 38

Posted on

Tuntutan Kultus Penyihir

Penerjemah: The Pursuer

Saat Subaru menatap makhluk itu—matanya membelalak kaget, sejenak lupa bernapas.

“Walaupun aku sudah mengantisipasi tanggapan ini, rasanya masih agak luar biasa. Meskipun aku kelihatannya seperti ini, berdasarkan jenis kelamin, aku ini wanita … tidak, aku roh, jadi sulit menentukan aku punya jenis kelamin atau tidak. Mungkin haruskah aku mengidentifikasi diriku sebagai perempuan?”

Rambut seputih salju serta mata hitam tajam.

Suara terkesan netral, kalimat licik bertele-tele. Karakteristik itu mengingatkannya akan penyihir hitam-putih yang kepribadiannya konsisten sebagaimana rubah ini.

“Benar-benar … candaan buruk. Kau mengaku sebagai Echidna?”

Pertemuan pertamanya dengan sang Penyihir Keserakahan adalah sebelum Ujian dalam Makam Sanctuary, ketika memikat Subaru ke salah satu pesta tehnya.

Menarik tamunya dengan ucapan manis dan berupaya mengubahnya menjadi boneka yang dikendalikannya. Dan, paling pentingnya, dia ingin meminjam Subaru untuk mencari seluruh jawaban yang tak mampu dia saksikan. Bisa dibilang suatu inkarnasi hasrat keingintahuan.

Dialah seseorang yang Subaru tidak pernah bayangkan akan melihatnya lagi.

“Kau … betul-betul menjadi rubah? Jangan main-main. Muncul persis di waktu-waktu krisis ini, kali ini kau merencanakan apa?”

“Tunggu sebentar, jangan langsung menyimpulkan sesuatu, dengarlah!”

Subaru sedikit pulih dari keterkejutan awal, siap membalas rubah putih di hadapannya yang mengaku Echidna. Namun dihentikan desakan Anastasia.

Permusuhan Subaru kepada si rubah putih juga beralih ke Anastasia yang santainya memamerkan syal di leher.

“Jangan main-main! Jangan bohong padaku! Kau … ada apa dengannya? … apakah Echidna menipu Anastasia? Bagaimanapun, semestinya dia tidak ke luar Sanctuary.”

“Aku tidak terlalu paham apa yang terjadi, tapi sudah sekitar sedekade semenjak aku pertama kali bertemu Echidna … dan sejak saat itu, kami hampir tidak pernah terpisah. Bukannya itu sedikit tak sesuai ceritamu?”

“Sedekade lalu ….?”

Berpikir penyihir ini telah lama berencana untuk berkeliaran di dunia luar, telah menyalakan api kemurkaan dalam Subaru.

Menurut kesaksian Echidna sendiri, dia tidak berasal dari Benteng Mimpinya. Lantas, seandainya bahkan sebelum waktu itu dia merencanakan sesuatu semacam ini ….

“Kau selalu saja seperti ini … apa kau senang melihat orang-orang berkeliaran dalam kegelapan selagi kau menertawakan ketidaktahuan mereka?”

“… aduh, aduh, sepertinya aku terus-terusan dibenci. Biarpun aku yakin ini semua merepotkan bagimu, tampaknya ada semacam kesalahpahaman tak terjelaskan.”

“Yap, persis perkataan Echidna.”

Berbanding terbalik dengan amarah galak Subaru, Anastasia dan rubah putih saling memandang tenang dan pengertian.

Rubah arktik yang membuat Subaru cemberut tidak terduganya menggeleng kepala seperti tingkah laku manusia.

“Biarpun aku tidak tahu sama sekali dari mana asal ketidakpercayaanmu kepada Echidna lain, aku bilang masalah-masalah itu tiada hubungannya denganku.”

“Maksudnya?”

“Sederhana saja. Aku tidak mengenal apa pun mengenai Echidna luar kecuali diriku, karena saat lahir aku hanya tahu nama Echidna dan rasku, roh buatan. Itulah petunjuk satu-satunya tentang asalku.”

“—apa?”

Subaru mengira ada semacam penjelasan, tetapi rubah arktik mengutarakan kata-kata konyol yang tak sesuai Echidna Subaru kenal. Lebih tepatnya, semisal dia beneran Echidna, maka tutur lainnya berarti perkataan menyesatkan untuk menipu Subaru.

Mengklaim dirinya roh buatan dan Echidna, kendatipun roh ini bilang dia tak punya ingatan masa lampau perihal Subaru, dia tidak bisa sembarang percaya.

“Apa ini? Ekspresi Natsuki-kun penuh kecurigaan.”

“Tentu saja, bagiku yang mengenal sifat sejati Echidna, reaksi ini wajar saja. Kau pun juga … oh, ya, salahku. Echidna bilang dia tidak ingat apa-apa, kan?”

“Tampaknya kau betulan tidak berniat mempecayainya … ah, situasi ini, operasi kita ada tenggat waktunya, sungguh-sungguh buat pusing.”

Berbeda dengan Subaru yang waspada, Anastasia berbicara santai seperti biasa.

Echidna bekerja bersamanya—hal itu saja sudah cukup membuat Subaru was-was terhadap Anastasia. Sekalipun dia menghormati Julius dan Ricardo, tingkat kepercyaannya kepada mereka barangkali perlu disesuaikan.

Subaru tidak boleh terlalu berharap kalau tuan dan bawahannya tak punya pendapat sama tentang hal ini.

“Kenapa beri tahu aku namamu, jika memang tidak punya ingatan? Selain berusaha mendapatkan kepercayaanku? Apa itu mestinya meyakinkan aku bahwa kau bukanlah dia?”

Echidna menyatakan namanya dan sedikit asal-usulnya. Bukannya itu membuktikan bahwa dia Echidna dari Pesta Teh? Artinya dia bukan Echidna dalam Peti Mati yang Roswaal cari-cari. Tidak salah lagi dialah Echidna yang Subaru temui. Dalam hal ini, ada segunung pertanyaan yang ingin Subaru tanyakan kepadanya.

Demikian, Subaru paham ini bukan waktunya menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Akan tetapi, menghadap Subaru tak sabar, Anastasia menghela napas lelah.

“Sepertinya keadaan jadi lebih gaduh karena Natsuki-kun ketinggalan siarannya.”

“Saran dari Kultus Penyihir? Bagaimana bisa berhubungan dengan ini?”

“—karena salah satu tuntutan mereka adalah Serahkan Roh Buatanmu. Si rubah putih menjawab sederhana.

Isi dari tuntutan mengosongkan pikiran Subaru selagi dia berjuang memahami konsekuensinya.

Siaran, Kultus Penyihir, roh buatan. Begitulah—

“Mungkinkah itu ….”

“Biarpun tidak senang meyakininya, mereka menginginkan roh buatan kita … itu, mereka menginginkan gadis yang menemanimu. Jadi bukankah wajar kami datang kepadamu untuk mengobrol?”

“Tahu dari mana Beatrice adalah roh buatan?”

“Aku tersadar tatkala melihatnya, jawabanku hanya itu. Aku tak yakin-yakin amat caranya. Tapi aku rasa dia pun mengenalku pada pandangan pertama. Mungkinkah semacam deteksi roh?”

Perilaku lebih berhati-hati, rubah putih menjawab pertanyaan Subaru satu per satu.

Paling tidak, di saat Beatrice menjumpai Anastasia pertama kalinya di hotel, dia tak membahas apa pun perkara syal rubah putih. Namun sangat mungkin Beatrice menyadari sesuatu, tapi tak yakin seakurat apa perasaannya, tidak mengatakan kekhawatirannya.

Mengapa dia harus menanggung seluruh beban itu sendirian? Subaru berbalik dan bertanya kepadanya, seketika merasakan rasa sakit tajam, seolah-olah seseorang menusuk jantungnya.

“Anak di sisimu tidak bisa mendeteksiku, mau bagaimana lagi. Sebagai roh aku punya banyak kecacatan, aku pun tidak mampu mengikat kontrak dengan siapa pun. Aku bahkan tidak sanggup menggunakan sihir tempur dengan lancar. Meskipun untuk mengimbanginya, aku yakin akan kemampuan menyembunyikan kehadiranku, kepercayaan diri itu saat ini belum berkurang.”

“Tidak dapat membuat kontrak … kalau begitu, kau dan Anastasia ….”

“Anak ini dan aku tidak punya hubungan roh dan kontraktor. Hubungan tersebut memerlukan sesuatu yang sepenuhnya berbeda …. Demikianlah, kami hanya kenalan saja.”

“Aku ingin menyaksikan masa depan anak ini, itulah sebabnya aku mengikutinya seperti ini. Sudah bersamanya selama beberapa tahun, dan kami menjadi semacam mitra percakapan. Seiring berjalannya waktu, dia bahkan mendiskusikan masalah bisnisnya kepadaku.”

Si rubah arktik berbicara seraya menyeringai singkat, dan Anastasia pelan-pelan menggaruk leher. Hubungan mereka kelihatan harmonis, dan Subaru menganggap tingkat kepercayaan mereka setara.

“Kenapa … kau mengungkap urusan internalmu yang tidak ada hubungannya sama pertempuran saat ini ….?”

“Bukannya wajar kami mengungkap sejumlah urusan internal kami agar mendapatkan kepercayaanmu? Selain itu, kehidupan seluruh penduduk kota yang diseimbangkan … pada masa kritis ini, kita yang mesti bertindak. Tidak bagus kalau malah jadi perselisihan internal gara-gara menyembunyikan detail kecil tak signifikan.”

“Aku pun ingin menghentikan Capella, tapi … anak ini tidak menghiraukan nasihat apa pun dari orang lain setelah membulatkan keputusannya, jadi … aku ingin kau paling tidak mendengarkannya, untuk saat ini.” ucap Anastasia.

Echidna sangat jujur dan tulus, kata-kata tambahan Anastasia meyakinkan. Terlambat, Subaru menyadari alasan Anastasia bertingkah dingin barusan, dia seperti itu agar dapat sendirian bersama Subaru.

Setelahnya, agar sukses membujuk Subaru, dia sengaja mendesak Julius dan Garfiel ke dalam ruangan.

“Tentu saja, aku takkan memenuhi tuntutan Kultus Penyihir, tetapi aku meminta Natsuki-kun berdiri di pihakku sehubungan roh buatan. Semisal tidak, umpamanya kita menolak tuntutan mereka, tak semua orang akan dengan mudahnya menerima keputusan kita.”

“Aku tidak berniat mendengarkan apa pun yang dikatakan kelompok itu, jadi aku sangat setuju … namun bukan berarti seluruh keraguanku pada si rubah Echidna telah terhapus.”

“Kau terlalu mengkhususkan nama. Apa Echidna yang kau kenal beneran punya sifat buruk, Natsuki-kun? Kalau iya, agak merepotkan melihatmu memperlakukan Echidna-ku seperti itu.”

“Aku minta maaf bila itu seratus persen orang lain, tetapi sikap dan pola bicaranya nyaris identik … dan ….”

“Dan?”

Subaru mencari kata-kata penjelasan kepada Echidna bingung.

Sifat roh buatan tidak jelas bagi Subaru, namun dia tahu Beatrice dan Puck sama-sama dibuat Penyihir Echidna.

Tentu saja apabila rubah putih betulan roh butan, maka dia pun asalnya dari Echidna.

Dalam mencari kehidupan abadi, Echidna merancang tiruan dirinya sendiri.

Kata-katanya banyak yang mencurigakan. Tapi bila mana yang dia utarakan itu benar, maka kesimpulan Echidna telah menjad Roh Buatan masuk akal.

Membuang dagingnya, terbebas dari angan-angan umur sebagai roh—apabila dia mampu memperpanjang eksistensinya dengan cara ini … ini pasti cocok dengan Penyihir Keserakahan yang penuh hasrat kemahatahuan.

Jadi … rubah putih ini adalah Roh Buatan yang bernama Echidna, tak salah lagi. Akan tetapi, dia mengaku tidak punya ingatan—apakah itu benar atau salah?

Anastasia bilang mereka telah bersama selama lebih dari satu dekade. Tapi hal itu saja tidak membuatnya dapat dipercaya. Tidak mengherankan apabila dia merencanakan sesuatu selama selang waktu itu.

Sekiranya seseorang bilang dia telah merencanakan sesuatu demi momen tepat ini … Subaru tak sulit mempercayainya.

“Hei, hei, kelihatannya dia agak galak.”

“Kebencian sebegitu kuatnya membuatku sangat penasaran soal Echidna lain ini, tapi kurasa kita mesti mengesampingkan topik itu sekarang. Dia percaya kita atau tidak itu tak relevan. Omong-omong, Ana, harusnya langsung beri tahu saja kejadiannya?”

Rubah arktik berbicara dengan nada putus asa, menerima dendam mencurigakan Subaru. Anastasia yang didesak, ia mengangkat bahu dan menepuk tangan kembali memimpin percakapan.

“Nah, sekarang keraguanmu sudah beres, masalah paling mepet adalah Kultus Penyihir. Mereka mengajukan tiga tuntutan lain.”

“Tiga lainya … jadi, totalnya ada empat?”

“Ya, yang mana ini jumlah total dari para Uskup Agung yang tersisa. Karena sebagian besar tuntutannya agak menghina … jadi jangan tersinggung.”

Tuntutan mengejek … sekali lagi, mereka keterlaluan.

Kultus Penyihir entah bagaimana menentang gagasan Subaru yang berkata mereka takkan bisa jadi lebih buruk lagi.

Anastasia membelai ekor rubah Arktik. Lalu, menjilat bibirnya sendiri, dia bilang …

“Syarat pertamanya adalah Penyerahan Roh Buatan Kita, dari Kerakusan.”

“Kerakusan ….”

“Walaupun punya banyak hal yang ingin kukomentari, tapi kusimpan untuk nanti. Selanjutnya Kemarahan—dia menginginkan Buku Kebijaksanaan yang dibawa ke kota ini.”

“… ah!?”

Mendengar kejutan tak terduga lain, mata Subaru tanpa sadar membelalak. Melihatnya, mata berwarna terang Anastasia menyipit.

“Melihat reaksi itu, aku duga Natsuki-kun tahu sesuatu tentang ini?”

“….”
“Jangan cemas. Sedikit menggangguku. Baik Julius dan Echidna tidak tahu apa-apa juga.”

“… si rubah sungguh-sungguh tidak tahu apa pun? Walaupun Kitab Kebijaksanaan, ya.”

Anastasia tersenyum sedikit. Lagian, sebelum ini, dia tengah bertanya-tanya perihal sesuatu yang tak diketahui cara menemukannya. Namun kini, dia menemukan secercah harapan. Tentu saja, senyum itu sedikit imut.

“Tidak, aku rasa tidak tahu satu hal pun … kalau begitu, jika kau membolehkanku berspekulasi … Echidna yang kau kenal terhubung sama Kitab Kebijaksanaan ini, betul?”

“Ya, itu benar.”

“Dalam hal ini, aku mesti bertanya meskipun tak ingin. Orang macam apa Echidna-mu itu? Apakah dia punya semacam koneksi dengan Kultus Penyihir?”

Biarpun Subaru yakin dia tidak pura-pura tak tahu, firasatnya bilang Anastasia dan si rubah putih berbicara seolah-olah sedang menjalin hubungan tak biasa dengan salah satu klien mereka.

Tentu saja, menurut cara berpikir mereka ini penting.

Apabila dia percaya yang dikatakan rubah arktik, nama Echidna merujuk kepada eksistensinya seorang. Hanya Subaru yang mengenal pencipta roh buatan, Echidna. Dan lebih pentingnya, ini membuktikan bahwa hanya nama Penyihir Kecemburuan seorang yang tercatat dalam sejarah.

“—Echidna … adalah nama seorang penyihir sejak dulu kala. Selain Penyihir Kecemburuan, ada penyihir jahat lain, dan dia adalah salah satunya. Biarpun sudah lama mati, jiwanya tetap berlabuh di sini. Sudah berjumpa dengannya sebelumnya, kini aku sangat was-was terhadapnya.”

“Hei, Natsuki-kun, kau demam? Kata-katamu agak tidak patut di sini.”

“Kepalaku tidak salah. Para penyihir itu tak bisa dimengerti, eksistensi gila. Mereka bahkan mampu membuat roh buatan, jadi terima saja ini.”

“Kalau begitu … maka Echidna ini bisa dibilang orang tuaku, ya.”

Jawaban Subaru diselimuti implikasi, dan rubah putih menarik makna yang pasti terdengar terburu-buru. Walau Subaru tak sengaja mencoba menyembunyikan apa-apa, Subaru merasa sedikit menyesal sebab tidak berterus terang padanya.

“Di waktu tak terduga, mendapati rahasia kelahiranku adalah salah satu dari banyak kebahagiaan hidup. Andai kau punya kesempatan, pastikan beri tahu aku secara rinci.”

“… meski kau sendiri roh, kau jelas tidak tahu mengenai keberadaan roh buatan. Beatrice kami sepertinya tahu lebih banyak daripada … tidak, kalau dipikir-pikir, dia belum pernah membicarakanmu. Dari mana asalmu, apa tujuanmu?”

“Menyesalnya, semuanya masih tak kuketahui, entah keadaan kelahiranku dan tujuan yang harus dipenuhi—Ya, segalanya masih misteri bagiku. Sekarang ini, aku semata-mata mengikuti jalan seorang anak yang lumayan menarik.”

Ditanyai Subaru, si rubah arktik melirik Anastasia, dia pelan-pelan memindahkan pandangannya ke Subaru dari samping.

“Aku pun cukup penasaran perakara hubungan Echidna dan penyihir. Dan dia … tak berhubungan dengan penyihir ini. Jadi, mari kembali ke topik Kitab Kebijaksanaan ….”

“Kitab Kebijaksanaan adalah asal kitab kultus Penyihir … namun, itu versi lengkapnya. Buku Kebijaksanaan satu prinsip dengan Batu Naga.”

“Batu Naga … maka, kredibilitasnya akan sangat tinggi. Mungkinkah sang penyihir membuatnya sendiri?”

“Itulah maksudnya, tetapi dua salinannya telah terbakar. Jika ada lebih banyak salinannya, maka aku tidak tahu.”

Echidna memberikan salinan Kitab Kebijaksanaan kepada Beatrice dan Roswaal. Kedua salinannya tentu telah dihancurkan setahun lalu.

Kitab Kebijaksanaan Beatrice telah menjadi abu bersama Perpustakaan Terlarang. Dan Ram telah membakar Kitab Kebijaksanaan Roswaal, menolak masa depan yang tertulis di dalamnya.

“Tetapi itu semata-mata kau dengar dari Penyihir Echidna. Apakah kata-katanya sungguhan menggambarkan kebenaran situasi?”

“Itu masalahnya ….”

Kendatipun tak senang Anastasia menolak pernyataannya, Subaru sendiri paham kredibilitas pernyataannya tidak tinggi. Akan tetapi, dia pikir Echidna tidak berbohong tentang itu.

Rasanya hanya Subaru yang berbicara secara langsung sama sang penyihir yang punya perasaan semacam itu.

“….”

“Tidak mempercayai orang, tapi kata-katanya. Sungguh orang yang merepotkan bagi Natsuki-kun.”

“Aku sendiri pun berpikir begitu …. Jelas tidak bermaksud mempercayainya, tapi aku percaya ucapannya, betapa kontradiktif.”

Setiap tindakan Echidna ditulis cerdas, dimaksudkan membujuk Subaru menjadi bonekanya.

Kendati demikian, bukan berarti semuanya bohong. Apakah Subaru mempercayainya karena hanya ingin percaya saja? Ataukah dia masih dipermainkan si penyhiir?”

“Sesaat, terlepas dari perasaan pribadimu, kita menemukan tiga kemungkinan mengenai Kitab Kebijaksanaan ini. Yang pertama adalah asli dari penyihir, dan yang lainnya salinan.”

“Kedua adalah Kultus Penyihir tidak tahu Kitab Kebijaksanaan telah tiada, dan cuma main-main sama kita, dan yang ketiga?”

“Kecuali dia berbohong, maka cuma ada satu cara agar Kitab Kebijaksanaan tetap eksis. Yaitu, salah satu salinan tidak hancur sepenuhnya, dan masih ada yang tersisa.”

“—apa ….”

Sisa-sisa Kitab Kebijaksanaan bukan sesuatu yang sama sekali dipertimbangkan Subaru.

Anastasia mengangguk di depan Subaru tercengang.

“Sekalipun tidak jelas, kitabnya dibuat seorang penyihir, bukan? Bukannya bisa dibilang itu sulit dihancurkan, dan bahkan boleh jadi mampu meregenerasi sendiri?”

“Memang, aku tidak bisa bilang mustahil … tetapi pertanyaan sebenarnya adalah, siapa yang menemukan dan menyimpan sisanya?”

“Andaikan kau tidak melihat dengan mata kepala sendiri kitabnya telah terbakar, dan terakhir terlihat di suatu tempat yang mudah diakses … mungkin aku kelewat berpikir, dan hipotesis kedua paling bisa dipercaya, intinya kita takkan menerima tuntutan mereka.”

Anastasia menghadap Subaru sambil menutup mulut dengan tangan mungilnya, mengutip berbagai kemungkinan.

Siapa yang punya akses ke sisa-sisa Kitab Kebijaksanaan ….? Kitab yang di arsip itu niscaya telah hilang, bersama Perpustakaan Terlarang itu sendiri.

Bagaimana Kitab Roswaal? Meski dengar—dengar Ram membakarnya dengan sihir … tapi, dalam hal ini, pastinya sudah berubah jadi abu, dan terkubur di bawah badai salju Emilia.

Jika ada yang tersisa, pasti seseorang memungutnya, tapi ….

“Misalkan ada yang membawanya ke sini, pasti orang dari fraksiku, dan mereka semua telah memberitahuku. Karenanya, aku yakin Kitab Kebijaksanaan tidak ada di kota.”

“Kalau demikian, tidak jadi soal. Tidak perlu terlampau memikirkan sebuah buku yang tak kuketahui apa-apa isinya.”

Percaya diri—biarpun bilang begitu perasaannya barangkali lebih ingin percaya.

Sayangnya, Anastasia tak merenungkannya, tidak juga berniat menggali lebih dalam detail-detail Kitab Kebijaksanaan. Malah ….

“Lalu, tuntutan selanjutnya dari Keeserakahan dan Kenafsuan. Gampang dan sederhana, tidak ada gunanya mendiskusikan perkataan mereka.

“Keduanya … tidak. Kerakusan dan Kemarahan berbeda. Jadi apa, nih? Mereka bilang apa?”

Capella dari Kenafsuan tidak salah lagi adalah yang terburuk dari geng mereka.

Bahkan sebelum bertemu Capella, Regulus telah melukai kaki kanannya dan menculik Emilia, lantas Subaru mempunyai semacam emosi negatif kepadanya. Dia tak ditebak, itu yang meresahkan Subaru.

“Kuharap kau takkan terlalu marah soal ini.”

“Aku usahakan yang terbaik, mari kita dengar.”

Subaru segera menanggapi pembuka informasi menggelisahkan Anastasia. Sambil memasang muka, ‘Kalau memang begitu,’ Anastasia menarik napas.

“Tuntutan Kenafsuan tidak sama dari yang lainnya, nampaknya cuma olok-olok saja …. Kirim Dua Puluh Orang yang Saling Mencintai ke Jalan Air Sentral—Mereka Mutlak Takkan Disakiti. Semacam itulah.”

“Si lonte pembohong itu! Apa maksudnya, mereka takkan disakiti!? Dia lupakah telah mengubah orang-orang menjadi lalat dan naga hanya untuk bersenang-senang!?”

Seperti biasa, Subaru menjadi marah ketika berhadapan perbuatan jahat Capella.

Dua puluh orang yang saling mencintai—cuma memikirkan perlakuan si monster soal cinta jelek semacam itu, mengerikannya bukan main.

“Seahuku, uskup agung itu tidak menganggap mengubah seseorang itu sama saja menyakiti. ‘Aku takkan menyakiti seorang pun~,’ persis sebagaimana kata-katanya … aku hampir merasa seakan dapat melihatnya berbicara. Yah, selanjutnya tuntutan Keserakahan ….”

“….”

Subaru memilih diam, dengan marah menunggu kalimat Anastasia berikutnya.

Namun melihat tindak-tanduknya. Anastasia tampak sulit melanjutkan, merasa ragu-ragu.

Kemudian ….

“tuntutan dari seorang pria bernama Keserakahan, Aku Ingin Menggelar Pernikahan Bersama Mempelai Wanita Berambut Perakku. Jadi Apa pun yang Terkait Persiapan Perinkahan, Jangan Berani-Beraninya Menghalangiku!”

“Echidna ….”

“Ana sepertinya sulit mengatakannya, jadi kuharap tidak apa-apa yang ini aku gantikan.”

Mengganti Anastasia yang ragu-ragu, rubah putih yang menjaga lehernya berbicara.

Tetapi dua orang saling pengertian saat ini sama sekali tidak relevan dengan Subaru.

—mengadakan pernikahan dengan mempelai wanita berambut perak.

Siapakah pengantin Regulus sang Keserakahan? Jawabannya tidak perlu dipikirkan.

“—JANGAN BERCANDA DONG! KONTOL!”

Itulah sebabnya, letusan amarah vulkanik Subaru masuk akal sepenuhnya. Anastasia memberengut, dan rambut si rubah putih naik. Sedemikian terang-terangan dan murni kemarahan Subaru.

Kepalanya membayangkan sosok seorang pria berambut putih.

Lelaki bodoh terlampau kuat itu menangkap Emilia, bersikukuh bahwa keistimewaan satu-satunya ada pada wajahnya.

Namun pria kuat itu gila. Omong kosong macam apa yang dia ujar saat ini?

“Beatrice! Dan Buku Kebijaksanaan! Juga Emilia! Mereka bilang menginginkannya? Hah! Kultus Penyihir takkan mendapatkan satu pun! Aku tunjukkan mereka akibat main-main sama tuntutan tidak jelas itu!”

“… aku mengantisipasi reaksi tersebut, tapi mendengarmu menukasnya dengan jelas sungguh meyakinkan kembali.

Melihat pertunjukkan penuh semangat Subaru, Anastasia turut tersenyum.

Bukan karena suasana hati baik, tapi semangat yang sama juga naik dalam dirinya.

“Roh buatan kita … yah, aku tak berniat memberikannya kepada Echidna. Apalagi, aku tidak setuju membiarkan Kultus Penyihir mengintimidasiku. Aku mengundang Crusch-san dan Emilia ke kota, Kultus Penyihir beraninya menyakiti mereka … jadi aku tidak berani menghadap mereka andaikata tidak mengeluarkan kita dari sini!”

“Oh, Ana, kau agresif sekali.”

“Justru karena aku paham caranya memanfaatkan medan tempur sehingga bisa menang. Kita teramat amat tidak bisa kabur sekarang. Karena kita yakin hendak menghantam Kultus Penyihir dan paksa mereka bayar reparasinya.”

Menghitung kemalangan, reputasi, kemenangan, dan kekalahan.

Tutur pandainya sedikit dipoles, tetapi semangat Anastasia tak sedikit pun mau mundur dari pertempuran.

Tidak seperti Julius, Garfiel, Wilhelm, atau bahkan Felix, cara bicaranya tak teratur karena kurang pengalaman pribadi melawan kengerian kultus berdosa itu.

Namun Subaru tidak melakukan hal semacamnya.

Sekarang ini, sama sekali tidak penting mengucapkan apa pun yang akan merusak moral mereka. Bahkan lebih pentingnya, kehadirannya yang penuh dendam sebagaimana sosoknya, tak salah lagi bisa dipercaya.

“Semua orang harus setuju maklumat ini, setidaknya sedikit. Terlepas dari itu, masih ada beberapa langkah ke depan, tapi siapa yang bersedia menerima tujuan ini! Kita akan cari dalih kesalahannya ketika berada di dunia lain!’

“….”

“Selama kita masih hidup, masih ada peluang. Dan kita absolut itdak boleh menyerahkan hidup kita! Itu tragis nian.”

Senyum lembut muncul di wajah Anastasia selagi mengutarakan kehendak bajanya.

Tekanan dari sosok mininya bisa membuat siapa pun lupa dia bukan pejuang yang berpengalaman dalam medan perang … tidak, itu salah. Faktanya dialah seorang pejuang ratusan dan ribuan petarungan.

Sesudah akalnya memilih medan perang, dia sudah menjadi petarung tangguh.

“Entah itu Crusch-san, atau orang-orang yang kehilangan wujud manusianya, seandainya mampu mengalahkan Kenafsuan, semestinya dapat membatalkan perbuatannya. Dan Natsuki-kun, putri kesayanganmu terculikmu. Ini bukan sesuatu yang bisa kau terima, kan?”

“Memangnya harus ditanyakan! Emilia itu pengantinku! Akan kusingkirkan si Keserakahan brengsek itu, dan kurebut ingatan Rem! Kucari Sirius banyak bacot itu dan kupatahkan giginya! Kuseret Capella ke sini dan memaksanya untuk meminta maaf lalu mengubah semua orang kembali kemudian kuhajar sampai mati!”

“Waduh, Ana, dan Natsuki-san sama-sama menganggap hal mustahil jadi mudah. Tapi sungguhan, itu hal yang menurutku paling memotivasi.”

Subaru menggemakan deklarasi kuat Anastasia, melihat semangat mereka, si rubah arktik mengangguk puas.

Pertempuran pertama dan kedua berakhir gagal.

Namun pertempuran berikutnya ada di depan mereka. Tak seorang pun akan mati, dan mereka takkan membiarkan siapa pun mati. Pada akhirnya mereka akan bertahan dan menjadi pemenang. Itulah pencapaian mereka.

“Ricardo masih berjaga-jaga, Joshua mencari anak-anak hilang lain. Dia harus segera kembali. Dan kemudian, sekali lagi, kita akan menghelat pertemuan strategi lengkap.”

“Kita juga perlu mengonfirmasi kembali situasi di seluruh tempat selter dan dekat menara lainnya.”

“Kepalaku takkan melewatkannya. Hei, rupanya benakku mulai aktif kembali.”

Karena mereka telah memutuskan harus melakukan apa, hati mereka dikuatkan tekad. Itu cara naturalnya.

Sembari mengangguk pada kata-kata Anastasia, Subaru mengalihkan pandangannya ke luar Balai Kota. Dari sudut pandangnya, dia hanya melihat menara air tinggi.

Tidak ada cara untuk membedakan timur, barat, utara, dan selatan.

Jadi, masing-masing bisa-bisa berisi Emilia, ingatan Rem, musuh bebuyutan, atau monster menjijikkan.

—di kota ini, pertempuran menyelamatkan orang-orang terkasih nan berharga, terus berlanjut.

6 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 38”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *