RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 37

Posted on

Berkumpul Kembali

Penerjemah: Last Giant

Gema jauh, sangat jauh.

Suara asing. Ataukah suara-suaranya familier?

Maskulinkah? Femininkah? Dari atas atau bawah? Segala sesuatu tentang sang suara tidak diketahui.

“….”

Suara marah. Dan erangan.

Juga seperti suara menuduh. Dan apakah itu suara tangisan?

Suara.

Air terjun suara mengalir deras, ombaknya kuat, pusaran airnya menjerat.

Seakan-akan seseorang telah berbaik hati menjawab pertanyaan yang mengakar dalam hatinya. Identitasnya yang keruh tersapu, hilang termakan ombak.

Tangan dan kaki, kepala, bawahan, dada, punggung. Meleleh, mencampur, menyaru.

Bahkan keberadaannya sendiri yang tak dimengerti, telah ditelan oleh air terjun suara, mengalir seolah-olah hilang selamanya.

Yang dia ketahui dan rasakan hanyalah kabut hitam menelan dunia.

Ketika itulah menyadari kabut gelap tersebut menghancurkan tubuhnya, tidak membolehkannya melawan, menuntun hingga akhir konstan.

Tetapi ikatan simpul yang tak dapat diuntai menahan erosi itu saat ini.

Bahkan telah dicopot, ciut, ditiadakan, simpul itu tidak ingin menyusut.

Tubuhnya sama sekali tak mengalah pada kabut di tubuhnya, keseluruhannya sama sekali tidak menyerah kepada medan perang gelap itu.

Dan akhirnya, akhirnya ….

“….”

Suara pertama yang membanjiri telinganya adalah raungan amarah seseorang.

Sambil mendengar suara tajamnya, dia membuka mata dan disambut langit-langit putih. Di saat yang sama, dia tersadar tengah berbaring luas di atas permukaan kasar.

“—ga guna!”

Kesadarannya yang baru kembali menghantarkan suara jelas umpatan marah.

Tampaknya mencakup wabah perasaan, tampilannya semacam tindakan spesifik. Dia mendengar suara tangan menampar kulit.

“Hentikan! Kau seharusnya paham tanggung jawab atas kesalahan itu tak ditanggung seorang pun di sini.”

“Bacot! Aku tidak ingin mendengar ucapan tak bermakna itu! Orang luar tidak boleh menyela!”

Suara mendakwa dan amarah tak terpadamkan.

Dari apa yang didengarnya, sekutu-sekutunya kedengaran berdebat di sebuah ruangan luas. Mengulurkan tangan kiri, mencoba menopang dirinya sendiri dengan dinding saat bangkit.

Tetapi, di tengah jalan, sebuah paku menyentuh tengkoraknya, napasnya tiba-tiba terhenti. Matanya terasa seakan-akan pakunya adalah tongkat dinamit meledak, bidang penglihatannya mendadak dinodai darah merah.

Ketika dampak rasa sakit itu menghancurkannya, akhirnya menarik tubuh bagian atasnya hingga tegak, menatap pertengkaran.

—tiga pria dan wanita bertengkar di tengah ruangan … atau, lebi tepatnya, ketiganya adalah pria.

Felix menangis sedang memukul wajah Wilhelm, sementara Julius putus asa mencoba menghentikannya. Suara yang barusan didengarnya adalah suara Felix yang mengelus pipi Wilhelm. Pria tua berwajah merah itu menunduk malu.

“Dari lubuk hatiku, aku minta maaf.”

“Paling tidak beri alasan! Beri alasan agar aku bersedia menerimanya! Permintaan maafmu saja tak berguna!”

“Felix, keributan ini tanpa faedah! Tenanglah! Tidak bisakah kau melihat Wilhelm-sama sangat menyesal?”

“Menyesal ….!? Apa gunanya menyesal? Tak berguna! Tak berarti! Semua orang, semuanya … mengapa sampai seperti ini ….? Kenapa kalian tidak berpikir untuk menyelamatkan Crusch-sama!?”

Felix meledak marah lagi ke Wilhelm dan Julius,  tetapi segera jatuh ke lantai, kalah dan lemah.

Seketika Felix menangis dan menyumpah-nyumpah, kedua pria itu terdiam. Felix melempar sarung tangannya ke lantai.

“Aku harus jujur? Aku bahkan tidak bisa melakukan apa-apa sekarang … tidak berguna, tidak berguna, tidak berguna, tidak berguna tidak berguna tidak berguna ….”

Felix terisak seraya terus mengutuk marah.

Kali ini, amarahnya diarahkan kepada dirinya sendiri.

Itu pilihan lain yang dapat diambilnya. Lagipula, tidak seorang pun mampu mengganggu ratapan yang ditujukan untuk dirinya sendiri.

“….”

Felix terisak dicampur desauan Julius. Wilhelm tetap menutup mulut. Suasana kacau menyelimuti ruangan sekitar mereka.

“Yo, Kapten. Akhirnya bangun?”

Garfiel muncul di ambang pintu, mendapati Subaru yang luput dari tiga orang lain. Julius mengikuti tatapan Garfiel dan memperhatikan Subaru yang terbangun, memasang ekspresi lega.

“Luar biasa. Felix, Subaru akhirnya sadar.”

“… oke.”

Atas panggilan Julius, Felix mengusap wajahnya dengan lengan baju saat berdiri. Sikap memalukannya hilang selagi memeriksa tubuh Subaru dan perhatiannya terpusat padanya seorang.

“Yah, kau nampaknya baik-baik saja. Kepalamu jernih, kan? Kau tahu nama dan tempat lahirmu?”

“Aku Natsuki Subaru, dari Jepang.”

“Kampung halaman yang belum pernah aku dengar … aku lahir di wilayah Crusch-sama.”

Raut wajah Felix mengungkap bahwa dia percaya lelucon tak berguna Subaru. Dia berdiri dan langsung pergi. Tidak ada yang berani menuduhnya, lantas semua orang pun terdiam seribu bahasa.

Hanya Wilhelm yang mengejar Felix. Sebelum dia pergi, pria tua menghadap Subaru dan membungkuk hormat.

Setelah keduanya pergi, suasana tegang ruangan akhirnya mengendur.

Tetapi di waktu yang sama, perasaan mendesak lainnya tumbuh kian kuat.

“Kapten, kalau lu ga bisa bangun, jangan maksa ngelakuin apa-apa sekarang.”

“… itu kalimatku, kondisimu terlihat mengerikan.”

Bersandar di dinding, Garfiel menyapa Subaru yang balas menyapa seorang remaja nampak kuyu.

Pipi dan rambut pirangnya serba darah, banyak titik tak terhitung di pakaiannya sobek-sobek. Pucatnya sama mengerikan seperti ketika pertama kali membawa Mimi ke selter.

Selagi dipikir-pikir, otak lambat Subaru akhirnya menyusul.

“Kita hidup, ya.”

“Bener. Gua yang hebat dan Kapten selamat, jadi semuanya baik-baik aje, tapi kita malah kaga bisa ngerayain itu. Anjing!”

Menegaskan gumam Subaru, gigi Garfiel menggertak getir.

Selagi melihat Garfiel, Subaru sekali lagi mengonfirmasi keselamatannya sendiri—yakni, dia paham bahwa Return by Death tidak dipicu, dan dia belum menyaksikan akhir perjuangan di Balai Kota.

Tentu saja, karena dia masih hiduplah, dia harus diselamatkan, tetapi ….”

“Apa yang terjadi di Balai Kota? Bagaimana aku bisa sampai sini?”

“Kita masih di Balai Kota sekarang. Kultus Penyihir menyerahkannya, dan kita merebut kembali target. Melihat hasilnya, bisa dibilang operasi ini sukses, tapi ….”

Julius berlutut di sebelah Subaru seraya mulai menjawab pertanyaannya.

Setelah diperiksa lebih dekat, Kesatrianya Kesatria terlihat ngeri. Rambutnya berantakan dan tak sesuai karakternya, wajah serta lehernya penuh luka. Seragam kesatrianya pun berlumuran darah, tidak membuat pikiran tenang.

Tapi, yang paling pentingnya, wajah anggun biasanya berubah menyesal dan malu.

“Pertama dan terpenting, senang melihatmu sadar lagi. Seandainya sesuatu terjadi kepadamu, kami bakal kehilangan sumber moral.”

“… jangan mengatakan omong kosong semacam itu. Apa yang terjadi? Kultus Penyihir memilih meninggalkan gedung, bagaimana bisa?”

“Sewaktu kami menduduki tempat ini, Kultus Penyihir sudah meninggalkan gedung, dan kita merebut kembali Balai Kota. Tetapi para sandera berubah menjadi makhluk-makhluk tak manusiawi, dan iblis yang menyebabkan semua ini berhasil melarikan diri sesudah melakukan semua perbuatannya. Tidak mungkin hasil ini terbilang baik.”

Dibanding cemas Subaru, Julius menjelaskan situasinya dengan lembut.

Akan tetapi, nada kaku dan mata terkulainya … tak salah lagi Julius jelas sedang menjelaskan keadaan mereka sambil merasa marah.

Dan Subaru tidak tega mengabaikan apa yang barusan diberitahu kepadanya.

“Makhluk-makhluk tak manusiawi, artinya ….”

“Kau semestinya melihat pemandangan mengerikan tanpa akhir di lantai teratas.”

Sembari menggeleng kepala, Julius menegaskan kenyataan kejamnya.

Subaru jelas-jelas mengingat banyak pasang mata merah mengkilap dan suara sayap mati-matian menyingkirkan tangisan minta tolong. Mualnya tertahan seketika tahu mereka sedang mencari bantuan padanya, manusia lain.

Hatinya serasa tercekat sakit oleh sesuatu yang bukan simpati atau ketakutan.

Uskup Agung Kenafsuan dari Kultus Penyihir, Capella, adalah monster teramat tercela yang menginjak-injak martabat serta nilai-nilai manusia, semuanya dilakukan sembari meludah cemooh.

Yang dimainkan monster itu bukanlah roh manusia atau hatinya, namun sesuatu yang bahkan lebih sakral.

“Seluruh alun-alun, dari lantai tertinggi hingga bagian eksteriornya. Setelah pembagian kerja divisi kita mendapatkan waktu, Kultus Penyihir punya terlalu banyak keunggulan …. Mereka bisa saja, perlahan-lahan, membunuh kita semua. Alasan mengapa itu tak terjadi adalah penilaian tajammu serta naga hitam yang bertarung paling gigih.”

“Penilaian … aku?”

“Cermin Konversasi aktif sebelum kau bergerak ke lantai atas, dan alhasil, status Balai Kota secara sukses dikomunikasikan ke Anastasia dan Felix. Kedatangan bala bantuan lebih cepat, Taring Besi dan Felix, segalanya karena tindakanmu.”

“Kau pikir ucapanmu menghiburku?”

“… itu bukan maksudku. Aku semata-mata menyampaikan kebenaran. Fakta, apa adanya.”

Subaru kesal oleh jawaban tenang Julius. Akan tetapi, jawaban dingin Julius juga merupakan bukti bahwa dia sendiri tak tenang.

Memastikan kondisi mental keduanya tidak hebat, Subaru menarik napas dalam-dalam.

“Satu hal lagi mengenai perkataanmu, apa yang terjadi pada naga hitam?”

“Ini terjadi di lantai paling atas, jadi aku tidak lebih tahu daripada kau … tetapi kekuatan Kenafsuan itu transformasi, benar? Dan mengejutkannya, seseorang yang berubah menjadi naga hitam berhasil sampai di puncak gedung, walaupun di ambang kematian, melawan Kenafsuan. Kami dapat menyelamatkanmu berkat dirinya.”

Orang yang dimaksud Julius tak salah lagi naga yang diserang gencar Subaru dan Crusch.

Karena kekuatan Capella adalah variasi dan transformasi, maka naga hitam itu kemungkinan besar adalah salah satu sandera Balai kota. Subaru mengabaikan permintaan bantuannya, meninggalkan orang itu.

Dalam keadaan itu, padahal pertarungan masih berlangsung ….

“Orang yang berubah menjadi naga hitam, apakah dia ….”

“Dia ga bisa mati.”

Seketika Subaru risau, suara tenang Garfiel menyela.

Dia tak membalas tatapan Subaru, melainkan menyorot langsung langit-langit.

“Gua yang hebat ini ga bakal biarin dia mati. Sangat mustahil kalau mereka mati di sini, oleh makhluk macam itu. Dia pasti diselamatkan … misal tidak ….”

“Dia memang seperti itu. Sang naga sepertinya dikenalnya. Meskipun baunya berubah, Garfiel roman-romannya kenal dari tindak-tanduknya. Pokoknya, penyembuhannya kini selesai. Dia baik, biarpun menggelisahkan sedikit, tapi istrirahat akan membantu.”

“Seorang kenalan? Garfiel, apa orang ini kau kenal dari kota?”

“….”

Subaru terkejut oleh Garfiel yang tetap diam, dia tak mampu menangkap tatapannya.

Bagaimanapun, dia bersyukur mereka selamat, sang naga hitam. Tetapi yang lainnya, para lalat, mereka ….

“Yang lainnya bisa dibilang oke-oke saja, setidaknya keselamatan mereka terjamin. Felix telah mendiagnosanya, tetapi ….”

“Artinya, bahkan Felix pun tidak sanggup menyembuhkannya? Sial!”

Tidak mampu menahan desakan untuk memukul lantai, Subaru merenungkan perasaan orang-orang yang kehilangan tubuh mereka.

Sekuat apakah rasa kehilangan mereka? Mereka berubah menjadi sesuatu tidak manusiawi, horor dan kejamnya yang berbeda dari kehilangan nyawa.

Hilang nyawa berarti akhir dari indentitas dan eksistensi.

Namun kehilangan wujud manusia berarti hilang identitas … sekalipun eksistensinya masih ada.

Mereka yang disiksa oleh kutukan tak tersembuhkan itu dimasukkan dalam kantor kecil.

Apa mereka di atasnya? Atau di bawah? Menyesal dia bahkan tidak ingat berapa banyak orang yang menderita nasib itu, Subaru mesti memikirkan hal-hal lain yang harus dipastikan.

Semenjak dia tahu dirinya masih hidup, pertanyaan berikutnya terkesan natural.

“Apa kau dan Garfiel sama-sama tidak terluka?”

“Seperti yang kau lihat, baik Garfiel dan aku sendiri tidak terluka parah, Ricardo juga tidak, walau bisa dibilang kami dihina … namun itu bahan renungan saja.”

“….”

Meski dia berkata demikian, gigi Julius menggigit bibirnya, suaranya penuh rasa malu. Melihat kemarahannya, Subaru termakan perasaan kebencian frustasinya.

Julius bertarung melawan Kerakusan memuakkan, Alphard.

Sejujurnya, Subaru hanya ingin menghancurkan satu Uskup Agung itu. Bahkan apabila Subaru tetap tinggal dan melawannya, dia mustahil bisa kabur.

Namun Subaru tak bisa tenang, tahu musuh bebuyutannya telah melarikan diri.

“… maaf aku tidak dapat menyelesaikan tugasku.”

“Bila kau bersikeras mengatakannya, tidak bisa kusangkal … mereka kelihatannya sukses melakukan siaran.”

“Betul, dan Kenafusan untung ganda. Dan … oh, aku yakin mereka membahas semacam tuntutan atau negoisasi di siaran terbarunya.”

Dari raut wajah Julius, Subaru tahu tuntutan Kenafsuan tidak pantas. Biarpun tak ingin dia dengar, mengesampingkannya sudah sia-sia. Dia harus tahu cepat atau lambat. Namun, sebelum itu ….

“Kesampingkan siarannya … bagaimana Crusch-san?”

“….”

“Dia ikut pergi ke lantai teratas bersamaku … dan posisinya lebih buruk daripada aku, lebih lama menderita di tangan Kenafsuan ….”

Gambaran Crusch muntah darah, hanya dari mata putihnya melintas di benak Subaru.

Luka-luka luarnya parah, dampaknya mengerikan. Rupanya, terjadi sesuatu yang mengancam nyawa.

Teriakan sedih Felix. Kendati tak ingin mempercayai yang terburuk, kesimpulan paling jelasnya adalah ….

“Felix … bilang sesuatu yang terdengar tidak beruntung, jadi ….”

“Memang benar Crusch-sama masih hidup, tapi ….”

“Jangan pakai ungkapan!”

Di sela-sela singkat, Subaru merasakan sedikit harapan dalam dadanya. Namun, harapannya menghilang begitu melihat raut wajah Julius.

Raut wajah tak ditolelir yang bukannya menenangkan pikiran karena akhirnya menyelamatkan nyawa, tapi malah membawa teror takdir buruk.

“Felix reaksinya sedikit berlebihan, namun situasi ini tentu tak diinginkan.”

“Tak diinginkan …. Apa-apaan yang tengah terjadi? Crusch-san … jika Felix tidak mampu melakukan apa-apa, kenapa tidak bergotong royong dan mencoba membantu!?”

“Tenanglah! Entah seberusaha apa kau, situasinya takkan berubah. Jadi tenanglah.”

Julius membentak keras ledakan emosi memalukan Subaru.

Namun tenang Julius malah menyulut kemarahan Subaru saat ini.

“Bangsat, bisa-bisanya kau tenang! Kita kalah telak, oleh orang-orang itu! Kok bisa kau tidak marah!?”

“—tentu saja aku pun marah mendidih!”

Julius dengan kasar menepis rentangan tangan Subaru. Subaru terdiam selagi melihat tatapan Julius goyah ketika berteriak.

“… maaf atas amarah tak pantasku. Sepertinya aku belum cukup dewasa untuk mengendalikan diri.”

Julius mengulurkan tangan ke Subaru yang tak seimbang setelah lengannya secara paksa diblokir. Sekalipun memahami perasaan Julius, Subaru sengaja menyerang tingkahnya, dan dia merasa malu sewaktu mendengar permintaan maaf Julius.

“Crusch-san, dia ….”

“… diserang Kenafsuan, kan? Suatu perantara luar telah mencemari tubuhnya dan kini mendatangkan malapetaka. Reaksi Felix mengejutkannya hampir luar biasa.”

Selagi Julius bicara, Subaru mengingat gambaran jelas rasa sakit hebat Crusch di waktu-waktu terakhir ingatannya.

Rasa sakit ekstremnya, kala tubuhnya disusupi monster yang menyedot daging, darah, tulang dan bahkan jiwa. Rasa sakit itu mestiniya tak seorang pun pikul.

Tetapi dia memikulnya, Subaru langsung menempatkan ini sebagai alasan sikap Felix sebelumnya.

Sebelum dan sesudah Subaru tersadar, Felix tampaknya menyalahkan Wilhelm. Nyatanya, dia meminta pertanggungjawaban seorang pendekar pedang tua karena tidak sanggup melindungi tuan mereka di medan perang.

Malah, dia mencari seseorang untuk disalahkan. Felix yang menuduk dan Wilhelm yang dituduh memahaminya.

Jadi Wilhelm tetap diam setelah Felix menyerangnya, dan Felix diam-diam menangisi kelemahannya sendiri.

Kedua pria yang barusan meninggalkan ruangan kini bersama tuan mereka yang menderita.

Memikirkan si trio, perasaan gagal dalam hati Subaru tumbuh kian kuat. Julius menyela melankolis Subaru.

“—Subaru, ada sesuatu yang harus aku konfirmasi.”

“Apa itu?”

“Kendati agak sulit bagiku untuk membahasnya … kelihatannya kau belum menyadairnya.”

Subaru merasakan gelombang keraguan pada eufemisme cermat Julius. Matanya sedikit menyipit selagi Julius menyentuh kakinya.

Tidak yakin Julius sedang apa, Subaru sedikit-sedikit melihat ke bawah … di mana tangan Julius menelusuri paha Subaru hingga kaki kanannya.

Subaru pun tanpa sadar mengikuti dengan matanya.

Subaru tak sengaja mengingat ingatannya soal Crusch di lantai teratas Balai Kota, dan sepenuhnya lupa luka-lukanya sendiri.

Apa yang terjadi sebelum dia tidak sadar?

Tanpa sadar memahami dan menerima kehadiran Return by Death—namun perasaan kematian itu belum datang-datang juga. Mestinya dia lega, tetapi ….

“Apa? Ini—!?”

Napasnya seketika tersangkut di tenggorokan membeku, Subaru meragukan matanya sendiri. Matanya bilang bahwa kaki kanannya masih nempel, tapi ….

Letak kakinya buntung, terdapat jahitan kulit hitam jelek dan gosong. Kulit hitam itu menyebar ke seluruh kaki kanannya.

“Bukan Felix yang memperbaikinya, juga bukan jenis sihir penyembuhan. Kakimu … kaki yang tercabik-cabik … telah betul sendiri. Dan bahkan tidak kelihatan sakit.”

“….”

Sesuai perkataan Julius.

Kaki kanan jeleknya tidak merasakan sakit apa-apa maupun sensasi buruk. Insting pertamanya penasaran apakah hanya mempertahankan ilusi kakinya yang terhubung, namun Subaru bebas menekuk lutut dan menggerakkan jari kaki.

Setiap luka di kakinya menghitam, dan kehitaman itu mengalir di pembuluh darahnya, membentang di bagian atas-bawah kaki kanannya.

“Subaru, aku kudu mengonfirmasinya denganmu lagi.”

“….”

Sesudah melihat perubahan dramastis pada kaki sendiri, Subaru bahkan tidak mampu bicara. Perkara pertanyaan Julius, Subaru cuma bisa pelan-pelan mengangkat kepala, dan kemudian ….

“Apakah ini … akan betul-betul baik-baik saja?”

 


 

Hal paling menakutkan mengenai kaki kanannya yang kembali nyambung adalah … tidak ada penghalang yang mencegahnya berdiri dan berjalan sesukanya.

“Nee-san bernama Felix bilang: kaki Kapten engga terluka atau sakit, meski gua yang hebat ini nyoba make sihir penyembuhan, kaga bakal ada efeknya. Padahal harusnya bukan sesuatu yang bisa disembuhin.”

Menggulung kaki celananya, Subaru melihat kakinya penuh pembuluh darah hitam. Pola-pola sulaman nampaknya fleksibel saat disentuh. Jika dia mengabaikan warnanya, bisa saja menyebut kulitnya telah normal, tapi ….

“Apa kau pasang kembali sendiri? Itu satu-satunya hal yang meyakinkanku saat ini.”

Sudah jelas, namun Subaru tidak punya kekuatan regeneratif. Ini kali kedua dia kehilangan kaki, memorinya sendiri mengatakan itu baru terjadi pertama kali, kakinya tidak menunjukkan tanda-tanda memperbaiki bagiannya sendiri.

Tentu saja, pemikiran tepat yang patut ditelusuri adalah mencari tahu penyebabnya, tetapi Subaru cuma bisa memikirkan satu hal.

“Apakah itu karena Capella si jalang yang meneteskan darahnya ke kakiku ….?”

Dia langsung tenggelam bingung sesudah kakinya dilepas.

Karena alasan itu, ingatannya mengabur, tidak mampu menyimpulkan dengan pasti bahwa masalahnya memang itu. Namun Subaru tidak ragu telah melihat Capella memotong pergelangan tangannya sendiri dan meneteskan darah.

Kala itu, dia pun menyebut-nyebut sesuatu yang memprihatinkan. Ya, itu adalah ….

“Crusch-san … mengalami hal yang kualami.”

“Makhluk itu … meneteskan darah ke lukanya? Tindakannya tidak bagus. Barangkali semacam ritual … meninggalkan dampak langsung? Ataukah bisa jadi kutukan, yang tak beroperasi di bawah hukum sihir biasa.”

“Kutukan … ya, kutukan terdengar benar. Kutukan darah … tidak, sesuatu berbeda … semacam … darah naga? Ya, darah naga. Itu katanya!”

Selagi Subaru menatap Julius yang bingung, dia menyaring ingatan berkabutnya, menepuk tangan terhadap kesuksesannya.

Capella keparat itu memang membicarakannya, selagi menyiksa Subaru dengan darahnya yang bercampur darah naga.

Ternyata bukan lelucon, gertakan, atau kebohongan. Dan memberikan sejumlah petunjuk.

“Darah Naga … apakah artinya dia menerimanya dari keluarga kerajaan?”

“Aku tak tahu rinciannya, tapi apakah sesuatu semembantu itu ada?”

“Salah satu harta karun yang diberikan atas kontrak dengan naga Volcanica, terkenal akan kemanjurannya yang bahkan mengubah tanah tandus menjadi subur kembali.

“Darah naga mahakuasa … aku tak tahu seberapa relevan, atau apa implikasinya.”

Mempertimbangkan Capella memanggil dirinya Lugnica, objek ini memprihatinkan, terutama seperti kata Wilhelm, gara-gara Emerada Lugnica menjadi tokoh sejarah nyata.

Dia tidak mungkin bagian keluarga kerajaan, kan? Tetapi darah naga yang bercampur darahnya menimbulkan pertanyaan.

“Ngomong-ngomong, kabar bagus pas tahu mungkin ada hubungannya dengan darah, Felix boleh jadi bisa membantunya dengan informasi ini.”

“Ah, benar juga. Ayo cepat ….”

“Bentar, Kapten. Jangan ikut sama dia.”

Akhirnya, ada informasi yang bisa memutar keadaan.

Subaru ingin buru-buru membagikan informasinya, tetapi lengan Garfiel menyilang sembari bersandar di dinding, dia menuangkan seember air es dingin metaforis ke atas kepalanya. Merespon sorot mata menuduh Subaru, Garfiel mengalihkan pandangan.

“Kapten belom liat, makin dikit orang yang liat semakin baik.”

“… apa maksudnya?”

“Maksudnye seperti yang lu pikirin. Nee-san cantik itu ga suka kalau lu ngeliatnya.”

Garfiel berpaling dari tatapan penasaran Subaru.

Kian gelisah, Subaru malah berbalik ke Julius yang seperti Garfiel, menggeleng kepala.

“Kenyatannya, aku takut Crusch-sama sangat berharap untuk tak dilihat orang lain saat ini. Karena beliau seorang bangsawan, lantas beliau tidak ingin seseorang melihat keadaan begitu lemah beliau.”

“Apakah … sungguh-sungguh karena dia lemah sekarang?”

“….”

Julius tidak berkata apa-apa.

Dia semata-mata memalingkan matanya dari Subaru. Dan satu tindakan kecil itu menjawab segalanya.

“… semuanya salahku.”

“Subaru, itu—”

“Segalanya salahku! Aku … tentu saja, harusnya tahu lebih baik dari orang lain betapa liciknya mereka! Mestinya sudah kuramalkan kurang lebih sebagian dari ini!”

Apa yang terjadi kepada Crusch? Semakin dia bayangkan, semakin ngeri jadinya.

Lalu pikiran-pikiran intens pencelaan dirinya yang diungkit Subaru sendiri… itu adalah produk murkanya atas ketidakmampuannya sendiri, sekaligus dari kemarahannya juga, ditambah keberanian dan penyesalan karena telah masuk ke dalam tantangan.

Kultus Penyihir … Subaru tahu sifat buruk mereka, hingga ke akar-akarnya.

Bukan hanya Betelgeuse belaka. Sebelum memasuki Balai Kota, Subaru pertama kali bertemu Sirius dan Regulus, secara berurutan. Setelah pertemuan itu, bisa-bisanya dia meremehkan Capella?

Apakah angkuh memutuskan balas menyerang bahkan pada posisi kurang menguntungkan? Seluruhnya terjadi karena penilaiannya.

“S-semuanya salahku ….”

“—sudah cukup. Terserah mau nangis atau ngeluh, benar-benar cukup menyusahkan, jadi tidak keberatankah kau menghentikannya?”

Subaru menanggung semua kesalahan, hendak tenggelam ke lautan pembenci dirinya sendiri.

Pada saat ini, bukan suara lembut yang membimbingnya dari pikiran-pikiran gelap tersebut, tetapi suara dingin, apatis yang disertai sorot mata tak ramah.

“….”

Dia berbalik menghadap pintu masuk ruangan besar.

Berdiri sambil menepuk tangan, ditatap semua orang dalam ruangan itu, dialah seorang wanita pengusaha berambut ungu dan wajah lembut.

Akan tetapi, tatapan mematikan yang dia pertahankan pada Subaru betul-betul tak sesuai wajah lembutnya.

“Anastasia ….”

“Aku tidak salah paham seoal kekecewaan setelah kalah dalam medan perang, tapi andai kata yang kau lakukan semata-mata ngeluh dan komplain, kau malah mengganggu orang-orang di sekitarmu, kayak orang tolol. Meski dilakukan pun, semua kekalahanmu takkan kembali.”

Teguran Anastasia diarahkan ke Subaru yang hancur oleh kekalahan.

Sebentar, Subaru kelewat tertegun untuk memahaminya. Ketika mulai bereaksi, kepalanya marah, tapi ….

“Anastasia-sama, tolong tarik kembali pernyataan Anda. Subaru adalah orang yang punya kontak paling langsung dengan para pendosa, Kultus Penyihir. Kendati dia murung atau mendesau ….”

“Tidak sepertimu saja, Julius. Kau biasanya bisa fokus pada masalah masa kini, namun sekarang kau terlalu dewasa sebelum waktunya … sekiranya kau datang ke sini untuk main sama teman-teman, barangkali Joshua sedikit lebih cocok untukmu.”

“….”

Julius yang berusaha membela Subaru, layu ditatap pandangan dingin itu. Amarah panas Subaru agak mendingin, tetapi masih merasa sangat bingung perihal sikap Anastasia.

Kemudian, melihat Subaru yang nantang, Anastasia mengutak-atik syal bulu rubah di lehernya dan berbicara kepada dua penghuni ruangan lainnya.

“… hei, Julius, masalah menyangkut Crusch-san sepertinya agak sibuk sekarang, ya? Kenapa tidak pergi dan cari tahu kau bisa membantu atau tidak? Dan, bocah pirang di sana, berkenankah kau menemaninya?”

Mendesak Julius dan Garfiel dari ruangan, Anastasia menatap Subaru.

Jika dua dari empat orang dalam ruangan pergi, konfrontasinya hanya antara Subaru dan Anastasia.

“Jangan khawatir, aku takkan melakukan yang tidak diinginkan.”

Anastasia berjanji sambil tersenyum tak sopan.

Julius membungkuk dan pergi, lalu Garfiel membuntut di belakang, cahaya waspada di matanya. Hingga akhir, dia menjaga tatapan risaunya kepada Subaru, lanjut mengangguk dan pergi.

“Garfiel-kun tampak seperti anak berbakti. Sampai akhir, mata gelisahnya tertuju pada Natsuki-kun. Sepertinya merawat orang-orang dengan baik.”

“… aku yakin kau tidak menyuruhku sendirian di sini untuk bergosip.”

Anastasia diam-diam mulai memperbincangkan Garfiel seketika dia pergi. Ini terjadi di interaksi sebelumnya, tatkala bermaksud membuat lengah Subaru.

Subaru menoleh dan melihat Anastasia membelai rambutnya seraya mengamati ruangan setengah hancur, berikutnya menarik kursi dan duduk sendiri.

“Ya ampun, obrolan santai seperti ini bersama Natsuki-kun benar-benar membuat nostalgia … sampai malam pertempuran melawan Paus Putih.”

“Dulu, rencana kita berhasil. Kali ini, tidak mendekati sedikit pun …. Biarpun kita merebut kembali Balai Kota, situasinya belum membaik sama sekali ….”

“Ya, tidak ada yang berubah. Semuanya memburuk, dan kita tidak punya petunjuk langkah optimal ….”

Subaru menyadari suara riangnya, sekejap, menjadi bilah tajam pisau.

Punggungnya menegak, di sisi lain Anastasia melirik kakinya.

“Apa kakimu tidak ada masalah? Terakhir kali kudengar, robek-robek.”

“Untungnya, aku bisa lari dan melompat, biarpun kelihatan menjijikkan.”

“Yah, bisa lari dan melompat saat ini paling penting. Setelahnya, ada banyak hal untuk dilakukan, tetapi hingga saat itu ….”

Anastasia membiarkan pembicaraannya terbang ringan menuju luka Subaru, sebelum udaranya dihirup tajam.

Subaru tersadar dia akhirnya tiba ke poin utama dan mengerutkan kening. Tangannya menunjuk langit-langit—tidak, melaluinya.

“Apa kau mendengar siaran ketiga?”

“Tidak, tidak dengar, apa kata mereka? … mungkin semacam tuntutan, kan?”

“Natsuki-kun ketinggalan dua dari tiga siaran, ceroboh banget.”

Anastasia terkikik lirih, menutup mulut, dan Subaru cemberut tak senang. Walau demikian, Anastasia terus menutup mulut dan menyipitkan mata.

“Tuntutan yang diberikan—rupanya hanya Natsuki-kun dan aku yang mampu memahaminya.”

“Hanya aku … dan Anastasia-san?”

Maksudnya apa pula? Kepala Subaru berenang dalam pertanyaan.

Dia tak pernah merasa mereka secara khusus memiliki kesamaan. Lagipula, inilah pertama kalinya mereka terlibat dalam interaksi semacam itu.

Dari hubungan sesingkat ini, apa yang sebenarnya mereka ….

“—duh, duh, Ana, ada waktunya cara bicaramu melemahkan semangat. Kadang kala malah membuat orang lain sebal, tahu. Bukankah itu tepatnya yang terjadi di sini?”

“….!?”

Suara orang ketiga mendadak bergema di telinga Subaru.

Suara ini bukan dari Subaru atau Anastasia. Malahan, terdengar lebih ringan dan netral.

Mata bingung Subaru menatap sekeliling ruangan, tapi tidak ada orang asing di sana. Julius dan Garfiel telah pergi, tidak kelihatan akan kembali.

Dari manakah suara itu?

“Kau bilang begitu, tapi bukannya melakukan hal serupa? Lihatlah Natsuki-kun malang. Dia berada dalam situasi kebingungan nan kacau sekarang ini.”

“Oh, itu tidak boleh.”

“Itu, siapa ….!?”

Anastasia berbicara kepada suara ketiga seakan-akan semuanya alami.

Alih-alih menghilangkan kegilaan Subaru, dia malah terperangah sambil menuntut, ‘Apa yang terjadi?’

“Kau kelihatan teramat amat ketakutan, aku minta maaf.”

“….”

Mata Subaru tertuju padanya.

Sekejap, pemilik suara lain masuk dengan suara keras ke kejadian ini.

Tidak, suara ketiganya tidak mengangguk. Memang sejak awal ada di ruangan ini. Faktanya, dia masuk ruangan bersama Anastasia.

“Aku Echidna. Yah, bisa dibilang begitu, tetapi aku sebetulnya adalah roh buatan.”

“Echi—!?”

Ia, tersenyum cepat kepada Subaru yang sepenuhnya kaget.

Bibir meringkuk, mata agak menyipit. Selayaknya … barangkali, sesuatu semacam senyum tiruan.

—melilit leher Anastasia, syalnya yang terlihat mirip bulu rubah palsu telah berseri-seri. Penyihir yang namanya tidak dapat dia lupakan baru mengungkap dirinya sebagai roh.

9 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 37”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *