RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 35

Posted on

Penyergapan dan Kejutan

Penerjemah: Dark Souls

Serangan tanpa ampun pertama Subaru ditahan gigi.

“….”

Menggigit ujung depan cambuk, digoyang-goyang seakan sengaja berniat menyulut amarah Subaru, dialah Kerakusan, Roy Alphard.

Alphard1. Subaru sedikit terkejut oleh nama itu.

“Keparat ini namanya juga dari nama bintang—ah!”

“Subaru-sama, topik itu sudah berakhir! Biarkan aku melawannya!”

Saat Subaru mengangkat tangannya dan hendak melancarkan serangan brutal lain, Alphard mengeluarkan senjatanya sendiri. Di waktu yang sama, Crusch melancarkan Hundred Man Strike-nya.

Bilah angin berkecamuk menyapu lantai pertama Balai Kota, menghempas dua kursi dan meja resepsionis.

Tentu tebasannya mesti memotong Alphard tanpa ampun juga, tapi—

“Waw, keren! Walaupun yang satu ini kelihatannya kuat ….”

“—eh!?’

Bocah itu seolah melihat bilah angin tak kasat mata, membungkuk ke belakang untuk menghindarinya. Bagaikan titian, kepalanya bersandar di lantai sebentar, kemudian salto ke belakang.

Aksinya menandakan dia berubah menjadi posisi siap tempur.

“Serangan itu, malah lebih seperti taktik kelas tiga. Bau-baunya tidak begitu enak!”

Selesai, Alphard melompat dari lantai, tubuhnya terbang maju layaknya peluru.

Tubuhnya terbuka dan memperlihatkan sederetan gigi tajam menyerupai anjing. Ditambah penampilannya, orang akan keliru mengira dia seekor anjing liar lusuh. Hanya saja, tingkat bahaya anjing liar takkan bisa menandinginya.

Crusch mengangkat pedang untuk melawannya, berusaha memenggal kepalanya, namun ….

“Meskipun kualifikasimu bagus, tapi masih belum cukup! Bagi kami, kau bahkan bukan pemula!”

“—ah!”

Selagi dia menyapu tangannya, pedang Crusch terpantul menjauh dengan suara tajam. Kalau dilihat lebih dekat, sesuatu terbungkus kain yang digenggam pergelangan tangan Alphard adalah belati kembar.

Masing-masing tangannya memegang belati, senjata yang memungkinkan tubuh kurus nan kecilnya bertarung cepat dan fleksibel.

Sambil menangkis pedang Crusch, tangan kirinya menyapu menuju tenggorokan Crusch. Kendati dia segera menghindar, Alphard bersalto di udara, dan menendang bahunya sampai terbang ke samping.

“Apa—!”

“Crusch-san!”

“Jangan diam saja dan menonton padahal kau ini target paling gampang!”

Alphard menghentak tanah, terbang ke Subaru. Dalam cahaya redup itu, sosok kurus Kerakusan terselimuti kain, menghilang dalam kegelapan, Subaru kehilangan sosoknya—

“Gawat …”

“Kau tidak bisa mengimbangi, karena kau Kemalasan.”

“Apa!?”

Mengincar Subaru yang penuh titik buta, Alphard mengungkapkan satu kekurangannya lagi.

Suatu kala merasa tidak berdaya, Subaru bersumpah apa pun situasinya, dia takkan bertindak secara impulsif dan tergesa-gesa.

Menggigit bibir, dia menahan rasa sakit, membiarkan anggota kelompok terkuat mereka dapat kesempatan menyerang.

Perintah tenang Julius menyebar melalui udara.

Alphard berhasil mengelak dengan memuntir tubuhnya, tetapi masih ditebas oleh Kesatrianya Kesatria.

Sang Kerakusan berguling-guling di tanah, seluruh tubuhnya berlumuran darah.

“Aaww! Waw, mengejutkan—”

“Kalau begitu, bagaimana dengan kejutan lain. Saksikan tunasku mekar!”

Ketika Julius berbicara, arwahnya memulai serangkaian serangan selagi Alphard bangkit berdiri dan melesat kabur.

Sedetik itu, warna-warni memenuhi aula samar cahaya. Aurora tumbuh dari belakang Julius, menyelam menuju Kerakusan.

“Para roh!”

“Aku harap orang-orang sepertimu yang menghargai pencicip makanan akan menikmatinya. Entah kuncup mana, aku bangga menikmati mekarnya bunga anak-anak ini.”

“Mengerikan, mereka ini sok-sokan, kami tidak menyukainya!”

Melihat dunia terbakar aurora, Alphard berbicara seraya melarikan diri. Pedang tipis Julius mengikuti punggungnya, menekannya, dan dia pun berusaha melarikan diri sambil mencibir+.

“—Penyihir Loli!”

“Jangan panggil aku dengan nama itu! Juli!”

“Bawa Valkyrie bersamamu ke lantai teratas! Hentikan siarannya!”

Sambil memilih nama samaran satu sama lain, Julius menyatakan dia akan menahan Alphard.

Sembari mendukung Crusch yang megap-megap, Subaru menilai tindakan ini paling masuk akal, tetapi dia tidak bersedia setuju-setuju saja.

Bocah mengejek yang melesat ke sana-kemari adalah Kerakusan.

Musuh ini telah Subaru kejar-kejar selama lebih dari satu tahun. Tidak berlebihan jika prioritas utama Subaru adalah mengalahkannya.

“A-aku mengerti. Juli-sama, aku berdoa semoga pedangmu tangkas dan benar.”

“—uh.”

Akan tetapi, sebelum Subaru dapat protes, Crusch berdiri dan menanggapi Julius, wajahnya penuh keengganan.

Crusch adalah korban lain Kerakusan, ingatannya telah dirampas olehnya.

Tentu saja dia pun ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari-cari memorinya. Biar begitu, dia memikul tanggung jawabnya sendiri dan mempercayakan Kerakusan kepada orang lain.

Sekalipun mengesampingkan perasaan tersebut, dia pun sadar akan kekurangan kekuatannya sendiri. Mempertimbangkan kemampuan Subaru serta Crusch, inilah cara satu-satunya.

“Jadi, bagaimana ini? Cara kita melakukannya? Apa kita semua akan bertarung bersama? Bahkan wanita mengecewakan dan pria berbadan kurus itu bisa dijadikan hidangan pembuka. Selanjutnya, Juli-sama, kita akan makan dia, telan dia, kunyah dia, jilat dia, cicipi dia, gigit dia sampai terpotong-potong, hingga terpisah-pisah, lalu lahap! Lumayan!”

“Jangan mengatakan hal-hal tak perlu. Aku tidak ingin sia-sia menjadi Juli!”

Meski berangsur-angsur aurora di ruangan sempit menghilang. Alphard masih tersenyum santai. Julius mengejar kemenangan, bilah saling bertabrakan, menggaungkan suara besi.

Saat ini, Julius dan Subaru saling melirik.

Garis pandangnya saling dimengerti Subaru, seakan-akan dia tidak perlu terlibat lebih jauh lagi—

“Ah, sial! Dengar! Bangsat, kau benar-benar tidak boleh kalah!”

“Itu kalimatku. Tidak masalah, deh, aku takkan kalah, tidak, aku sangat tidak boleh kalah di sini.”

“Ayo pergi, Penyihir Loli-sama!”

Sembari menggaruk-garuk kepala, sementara waktu, Subaru mengesampingkan perasaannya dan bergerak.

Kendatipun setidaknya dia harus berjalan di depan Crusch, meski kebenarannya memalukan, reaksinya terhadap serangan kejutan lebih cepat dari Subaru.

Subaru mengikuti di belakang Crusch yang terluka, mereka berdua berlari menaiki tangga. Sebelum pergi, dia sekali lagi melirik Julius dan Alphard.

Julius nampaknya unggul, tetapi tidak boleh lengah.

“Pergilah!”

“—bajingan!”

Menyadari tatapan Subaru, Julius sampai akhir meresahkannya.

Sekalipun dia teramat menjengkelkan, kalau-kalau terjadi sesuatu padanya akan merepotkan. Subaru berbalik dan mengekor Crusch, cepat-cepat menaiki tangga.

Tahu mungkin saja mereka akan disergap, mereka langsung naik tangga lain, menuju ruangan paling atas.

 


 

Ada beberapa elemen penting dalam penyergapan.

Pertama-tama adalah lokasinya. Penyergapan adalah taktik yang diterapkan seorang musuh yang menunggu kesempatan menyerang dari lokasi yang lebih dominan. Itulah elemen terpentingnya.

Kedua, musuh betul-betul muncul di lokasi yang ditentukan. Sukses mengatur penyergapan tetapi musuh penting tidak ada, akan sama sekali tak berguna.

Selain itu, perlu juga berspekulasi kapan musuh datang ke tempat penyergapan. Seandainya kurang konsentrasi di tengah waktu penyergapan, efeknya takkan maksimal.

Jadi, beranggapan jikalau Kenafsuan menyergap, seluruh tiga kondisi ini telah dipenuhi.

Bagaimanapun, mereka harus membobol ruang siaran dalam waktu yang ditentukan. Menurut sudut pandang musuh, takkan ada mangsa yang lebih menyenangkan untuk diburu.

“Karena itulah, kita pertama-tama harus menghancurkan situasi ini.”

“Aku paham poin ini …. Tidak, aku memutuskan percaya Subaru. Aku takkan bilang apa-apa lagi.”

Setelah tiba di ruangan paling atas, mereka menemukan tangga.

Yakni, tangga menuju atap, tempat Subaru dan Crusch harus bersiap-siap untuk mengalahkan strategi Capella.

Crusch yang awalnya bingung soal saran Subaru, tampaknya telah bertekad. Caranya melakukan sesuatu adalah kelebihannya, sebelum dia hilang ingatan.

“Jujur saja aku cuma mau tahu jalannya pertarungan di alun-alun ….”

“Tapi bila kita memeriksanya, maka tindakan kita tak berarti.”

Bahkan di ketinggian ini mereka bisa mendengar benturan pedang dan umpatan Garfiel. Pertarungannya masih berlangsung, lantas tidak bisa mengharapkan bantuan pada lini itu.

“Ngomong-ngomong ….”

Melihat-lihat, Subaru mengamati situasi atap.

Bekas cakar di lantai tertinggal di mana-mana, jejak-jejak naga hitam berjalan di sekitarnya. Pagar serta pegangannya yang menghadap alun-alun telah hancur oleh sihir Julius.

Subaru memikirkan kekuatan mengerikannya, menyelidiki ruangan, memastikan mereka sungguh-sungguh berada di bawah ruang siaran.

Tentu saja Capella menunggu untuk menyergap mereka di sana.

“… ah.”

“Apa yang terjadi? Tolong manfaatkan waktumu apabila tidak siap.”

“Maaf, tapi barusan, aku menyadari sesuatu.”

“….?”

Cara bicara Crusch agak lemah seketika Subaru menyibukkan dirinya dengan pagar besi. Subaru menatap kaget dia, ekspresi kakunya balas menatap.

“Aku sepertinya takut ketinggian.”

“Kelemahan tak terduga … dimengerti. Siap!”

Mengonfirmasi ketakutannya diatasi baik-baik, mengangguk ke Crusch yang wajahnya kaku, pelan-pelan melangkah ke pelukan Subaru.

“—tolong jangan lepaskan.”

“Crusch-san, akan ada banyak pria yang salah paham, sebaiknya tidak sering-sering bilang begitu.”

“….?”

Crusch menoleh sambil menyeringai. Lalu, bersama Crusch yang bersandar di lengannya, menempel padanya, Subaru melompat dari gedung.

Tentu saja badan mereka ditarik ke bawah oleh gravitasi. Saat jatuh, mereka sampai di titik terendah cambuk yang melilit pergelangan tangan Subaru.

“—ugh!”

Di satu waktu, mendukung berat mereka berdua, bahu Subaru cukup sakit sampai-sampai mau patah.

Berputar ke samping, mereka berdua berayun ke atas, mencapai dinding luar Balai Kota. Melihat jendela terdekat, Subaru merentangkan kakinya dan diterobos.

“Gah—ahk!”

“Wha!?’

Keitka kaca pecah, Subaru dan Crusch berguling-guling di ruang siaran. Sesaat, Crusch kedengarannya mengerang singkat, tapi Subaru pura-pura tidak mendengarnya dan melepaskannya.

Berdua-duaan berdiri, langsung melihat sekeliling, dan mereka mendapati ….

“—huh.”

Tercengang, menatap dua orang yang barusan menerobos masuk, matanya melebar, adalah naga hitam yang posisi duduknya kaku.

Tubuh massif sama yang mereka lihat di atap telah masuk dalam ruangan. Naga hitam itu melipat sayapnya, menghadapi pintu yang biasanya dimasuki seseorang.

Barangkali, dia mulanya bermaksud menyulap Subaru menjadi abu ketika dia masuk, tetapi strategi itu telah dikalahkan sepenuhnya.

Karena terhalang tubuh besarnya, dia berada di sebuah ruangan yang sangat membatasi pergerakannya. Meskipun si naga hitam berusaha bersiap-siap menyerang, sayapnya bergerak ….

“Crusch-san!”

“Oke!”

Seolah mengatasi rasa takut akan ketinggian, Crusch mengangguk, dan menebas.

Bilah anginnya mengiris naga hitam, merusak sayap serta memotong kaki depan. Naga hitam menjerit keras sewaktu darah gelap mulai menyemprot.

“AAAAAAAAAAAAHHHHHHH!”

“Awas! Merunduk … oah!?”

Capella menggeliat kesakitan, sayap naganya menghancurkan ruangan selagi mengepak-ngepakkan sayapnya dengan liar.

Biarpun ruangan ini agak lebih besar dari ruangan biasa, daya tahannya tidak terlalu kuat menahan kerusuhan makhluk seukuran gajah. Melarikan diri dari kekisruhan ini, Subaru berbalik dan hendak berlari, tapi saat itu dia mendapati ….

—di kaki naga hitam, seorang gadis muda yang dirantai gemetaran.

”….!”

Subaru mentap mata gadis yang menangis itu.

Menyadari bahwa sang Kenafsuan mengadopsi strategi penyanderaan kelewat efektif, andai serangan awalnya gagal, Subaru akan naik pitam.

Fokus, naluriah Subaru bergerak maju alih-alih melarikan diri.

Memikirkan cara menghindari ekor yang menggantung di atas kepalanya, dia meluncur ke si gadis mungil. Meraih tubuh gemetarannya, mengibas cambuk keras-keras ke punggung naga hitam. Kelihatannya tidak terlalu berefek, tapi Subaru bisa mengekspresikan kemarahannya.

Tetapi serangan Crusch tidak begitu lemah.

“Bentar! Bentar! Aku bukan … ah!”

“Tak perlu dijawab! Ini balasan atas bencana yang kau timpakan ke kota!”

Bilah Crusch tanpa henti bergerak seakan-akan punya kepala sendiri.

Kerapuhannya mengecewakan, Capella tidak mampu menahan kekuatan itu.

Crusch memotong sisa-sisa sayap, dan Capella merintih. Meski sepertinya tidak terlalu disebabkan serangan Subaru, tubuh besarnya terguncang oleh serangan besar, dia tersandung ke arah berlawanan dari jendela yang dirusak Subaru.

Sayap si naga hitam kali ini tidak beregenerasi.

Walau dia menyebut tubuhnya abadi, andaikan ini adalah kecepatan regenerasinya, maka itu tidak bisa disebut ancaman.

“—berakhir sudah!”

“Tunggu—”

Tidak membiarkannya bicara, Crusch melepaskan beberapa serangan berturut-turut pada tubuh, kepala, serta sayap naga hitam. Tubuh besarnya membentur dinding, menghancurkan bingkai jendela dan jatuh ke luar.

Naga hitam yang jatuh tersebut hendak mengembangkan sayapnya, tetapi satu sisi sayap naga terpotong habis, sisi lain sayapnya seperti terpotong-potong, tidak sanggup mendukung terbangnya.

“… ah.”

Sang naga hitam tidak sempat beregenerasi, tidak punya waktu bilang apa-apa, hanya jatuh ke tanah saja.

Beberapa detik kemudian, Uskup Agung Kenafsuan menabrak tanah dan terdengar suara daging mengenai dinding atau handuk basah jatuh ke tanah.

“Aku akan memastikan situasinya. Subaru-sama, bisa urus anak ini?”

“I-iya, bisa.”

Menyaksikan puing-puing hitam berjatuhan dari tepi jendela, Crusch masih senantiasa waspada. Tulus percaya kepadanya, dia pun menurunkan gadis yang barusan pulih.

Si gadis masih ketakutan, bingung dan matanya gemetar selagi memandangi Subaru. Wajar saja. Setelah selama itu, semua orang juga bakal takut.

“Tidak apa-apa, naga tadi telah dibunuh kakak perempuan superhero di sana, meskipun tidak mudah … orang-orang lain di mana?”

“Ah, eh ….”

“Meskipun sulit dipercaya, kami ini pihak lain, dan datang ke sini untuk menyelamatkanmu. Kita harus segera menyelesaikannya, sebelum orang-orang jahatnya balik lagi. Kau bisa bantu aku?”

Subaru berlutut, agar tatapannya selaras, nada bicaranya stabil.

Tanpa sadar inilah tingkahnya setiap kali berbicara kepada orang yang lebih muda. Dia tampak sedikit tenang, bernapas dalam-dalam seolah menguatkan dirinya sebelum menjawab.

“Ada ruangan di sana … semua orang, di sana.”

“Apakah terkunci? Ruangan itu …”

Si gadis menunjuk sebuah ruangan kecil dalam ruang siaran.

Sebenarnya, ruangan ini bukan ruang siaran, kan? Meskipun ruangannya besar, tidak ada peralatan siaran sama sekali. Sekalipun radio itu alat sihir, Subaru bisa saja menemukan sesuatu yang boleh jadi ada di ruangan ini. Kemudian, ruangan yang ditunjuk gadis kemungkinan besar adalah ruang siaran sebenarnya.

Selagi mengalihkan pandangannya, Subaru ragu-ragu. Dia ingin bertanya tentang hidup-mati orang-orang di dalamnya.

Akan tetapi, menanyakan seorang gadis hal semacam itu terlampau kejam dan kesannya berdarah dingin.

Subaru menyentuh kepala gadis yang masih gemetaran, perlahan-lahan berjalan menuju ruangan.

“….”

Jantung berdegup, Subaru merasakan keringat di lehernya.

Bahkan detik-detik pertempuran kacau sebelumnya tidak membuatnya gugup, tetapi mendadak, tenggorokannya serasa kering. Inilah rasanya firasat buruk, teror yang menyibukkan pikirannya.

“Subaru-sama?”

“Semuanya baik-baik saja. Aku pengen melihat-lihat. Apa yang terjadi pada Kenafsuan?”

“… semuanya pun baik-baik saja di sini … tidak tahu kenapa, namun dia diam di tempat.

 Crusch menjawab sambil memperingati Uskup Agung Kenafsuan. Setelah mendengar jawabannya, Subaru menarik napas dalam-dalam dan menuju ruangan, menyentuh gagang pintunya.

Dalam ruang radio, kemungkinan pemuja lain bersembunyi. Hal itu masuk pertimbangan Subaru.

Tapi, entah kenapa, kekhawatiran semacam itu rasanya berlebihan. Padahal, ide ini benar. Karena kenyataannya, tidak ada pemuja yang menempati ruangannya. Yang menempati, adalah—

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

“….”

——————————————————————————————————

——————————————————————————————————

——————————————————————————————————

Matanya terdiam seribu bahasa, menatap takjub Subaru.

Tidak, bisa jadi Subaru hanya ingin menganggap mereka sedang mencari-cari. Subaru tidak tahu cara mereka memahami dunia, dan dia pun tidak ingin tahu.

Dia cuma merasa cemas. Suaranya takkan berfungsi. Situasi ini bisa dibilang terbungkam. Benaknya membeku, tidak memikirkan apa-apa. Namun, ada sesuatu yang akhirnya dia pahami.

—sumber suara menjengkelkan pada siaran yang dia dengar di selter.

“—apa, apa ini?”

Merespon Subaru, Suara itu berbicara.

Suaranya adalah suara yang menyambut Subaru, suara menakutkan, suara menantang, suara riang gembira, suara tanpa arti—

Suara kepakan sayap tak terhitung bergema di seluruh ruangan.

Dalam ruangan gelap, banyak mata merah bergerak, ibarat tengah melihat Subaru.

Siarannya kedengaran seakan-akan banyak lalat dijejalkan ke satu ruangan. Semua lalat tersebut, ukurannya semanusia, yang ini, yang itu juga, semuanya.

“—aaaaaahhh!!”

“—eh!?”

Di tengah lautan hampa, Subaru tiba-tiba menangis.

Kaget oleh respon mendadak, Subaru membanting pintu, dan langsung menutupnya bersamaan dengan suara ratusan kepakan sayap. Melihat ke belakang, dia mendapati ….

“Gahahahahaha! Goblok, bego! Dasar ampas, daging di kepalamu memang tidak cukup. Kau beneran mencoba menandingiku soal pertarungan akal? Siapa, sih, yang memasukkan gula ke otakmu dan melebur otak besarnya~! Kahahahahahaha!”

Crusch hancur di bawah tumit gadis yang tertawa parau. Tidak saah lagi tawa beracun ini familier ….

“Ini aku, Capella-chan! Gahahahahahaha!”

Seketika Capella mengedipkan mata dan menjulurkan lidahnya, Crusch muntah darah, bagian putih matanya nyaris tidak terlihat.

Catatan Kaki:

  1. Alphard (α Hya / α Hydrae / Alpha Hydrae) adalah bintang paling terang di rasi Hydra. Alphard merupakan bintang raksasa jingga (orange giant star). Bintang ini berada pada jarak 177 tahun cahaya dari Bumi dan bermagnitudo 1.99. Ukuran perputaran radial yang sangat cepat menyebabkan perubahan variasi kelas yang juga sangat cepat dari bintang ini. Etimologi Bintang ini disebut Alphard yang berasal dari bahasa Arab الفرد (al-fard), “yang terpencil”, karena tidak ada bintang yang cemerlang di dekat bintang ini.

5 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 35”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *