RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 34

Posted on

Duel Kacau

Penerjemah: LordOfCinder

—berdiri di atap Balai Kota, seekor naga hitam memamerkan sayapnya ke kelompok Subaru.

Membuka mulut dan menunjukkan barisan gigi tajam serta lidah merah panjang dan bergerak seperti lidah ular, sang naga hitam menyipitkan mata emas, terus tertawa besar dan tersedak-sedak.

Penampakan sang naga hitam kurang lebih seperti bagaimana Subaru menggambarkan spesies naga.

Ia punya aura kekaguman seperti naga tanah layaknya Patrasche, namun rambut dan fisiknya tak sama. Jika naga tanah rata-rata seukuran pterosaurus1, naga ini sebesar gajah.

Fisik sebesar itu, si naga hitam tidak mungkin bisa terbang. Barangkali sayapnya hanya untuk menggertak saja.

Ya, seharusnya tidak mungkin bisa terbang.

“Terpesona oleh tatapan panas kalian semua, dasar makhluk-makhluk daging kepanasan! Ah~ ini mengerikan, dilihat orang-orang sepertimu yang cuma memikirkan kepuasan seksual! Jadi, aku tidak akan mendekatimu!”

Sayapnya mengipas ke tanah, hembusan angin menyebar. Lidah merah melayang ke luar seolah-olah menjilat bibirnya, Capella sang naga hitam tersenyum gila. Ekspresi naga tersebut sungguh menakutkan.

Karena kendala bahasa, komunikasinya hanya sekadar penafsiran belaka. Patrasche contoh bagusnya.

Sebab Patrasche sangat ekspresif, sikap kerasnya sedikit disukai. Namun naga ini menjijikkan total.

“… aku belum pernah mendengar tentang ini sebelumnya, tapi bisakah naga berbicara?”

“Setelah hidup begitu lamanya, para naga teramat cerdas dan memahami bahasa manusia. Naga pelindung Lugnica, Volcanica, yang mengikat perjanjian dengan kerajaan tentu saja bisa berkomunikasi sama umat manusia melalui bahasa, tetapi ekspresinya tidak seintensif ini. Belum pernah kudengar naga punya kemampuan itu.”

Julius dari samping Subaru memberikan jawaban rinci atas pertanyaannya.

Kesatrianya Kesatria mengangkat pedangnya setinggi bahu, mata tak pernah meninggalkan naga hitam. Tentu saja Subaru dan kawan-kawan lain sama.

Berdiri di depan mereka adalah dua pendekar pedang berkekuatan luar biasa, serta naga hitam yang menamai dirinya sendiri Uskup Agung Kenafsuan.

Kegelisahan nyata mereka menjadi dinding ketegangan.

“Paling tidak, kita punya peluang melawan pendekar-pendekar pedang itu ….”

Si wanita yang hampir tidak punya titik buta pada kuda-kudanya ketika menggenggam pedang, lalu si raksasa yang mengayun-ayunkan pedangnya seolah-olah mengakrabkan diri sama kelompok Subaru.

Walaupun tingkatan kekuatan wanita berpedang tersebut masih belum diketahui, raksasa memilih menahan serangan langsung Ricardo. Sudah jelas itu bukan karena kecerobohannya, namun sebab dia sudah menyiapkan strategi. Serangan jarak jauh, rencana mereka sebelumnya, masih akan sangat efektif.

“Apa di sini ada yang pernah melawan naga ….”

“—aku.”

“Wilhelm-san, masa?”

Meskipun Subaru menganggap pertanyaannya sia-sia, Wilhelm tegas menanggapinya. Si pendekar pedang tua berbalik menghadap Subaru terkejut.

“Nyaris empat puluh tahun lalu, aku dikirim untuk mengalahkan naga jahat bernama Valgren yang muncul di selatan Lugnica. Insiden itu menyebabkan banyak ketegangan diplomatik karena dekat Vollachia.”

“Kesampingkan konsekuensi diplomatik, bagaimana pengalamanmu melawan naga?”

“Lebih sepuluh persen dari seluruh kesatria kami dikirim menuju pertempuran, kendati perang salibnya berhasil, empat puluh persen pasukan kesatria gugur. Perang salibnya memang berhasil, tetapi bayarannya cukup besar. Kemampuan terbangnya, stamina tak habis-habisnya, adalah sesuatu yang mesti kita pertimbangkan baik-baik.”

“Sepertinya situasi kita sedikit tanpa harapan ….”

Melihat keputusasaan Subaru, Wilhelm melanjutkan ….

“Kalau dipikir-pikir ….”

“Dibandingkan Valgren, naga ini ukurannya lebih kecil. Pasti mati setelah dipancung.”

“Dan Valgren tidak?”

“Valgren totalnya punya tiga kepala yang kesemuanya harus ditebas.”

Setelah selesai membicarakan pertarungan lama itu, genggaman pedang Wilhelm mengerat. Jadi memenggal kepalanya pasti membunuhnya. Itu meyakinkan.

Melihat posisi siap Wilhelm, Subaru pun bersiap tempur, cambuk di tangan. Melihat mereka menolak, Capella nampak agak terkejut.

“Duh, duh, duh, kalian semua menjijikkan banget. Kalian dihajar dan sengsara oleh bala bantuanku, kalian melawan Uskup Agung! Dasar makhluk-makhluk busuk mestinya menggantung kepala kalian dan menurut seperti tikus, tapi kalian malah bertingkah normal-normal saja? Apa menyamakan kalian sama para serangga itu salah? Gahahahahaha!”

“Jangan canda dah! Lu bisa ngapain ngelawan jumlah kami? Gua yang hebat ini bakal naik dan hancurin elu!”

“Kahahahahaha, gonggongan anjing gila ini menyakiti telinga suciku. Lebih tepatnya, aku keliru. Kau bukan anjing gila, cuma anak kucing kecil! Meong~ meong~ meong~, jangan marah hanya karena kucing yang tadi bersamamu mati!”

“A-apa—ah!?”

Dihadapkan serangan kejam Garfiel berteriak, namun tersedak oleh responnya sendiri.

Naga itu jelas membicarakan kekalahan Garfiel sebelumnya, saat dia hampir dihajar sampai mati. Seseorang, Capella, telah menonton pertarungan.

Dan itu lebih mengejutkan Garfiel ….

“Bangsat, tau dari mana lu gua yang hebat ini manusia hewan ….”

“Hah? Aku tahu dari mana? Jangan anggap tinggi dirimu, bahkan sehelai rambutmu pun aku tidak tertarik. Aku tahu kau manusia hewan kotor seketika melihatmu! Matilah seperti cara hidupmu, sebagai binatang rendahan!”

Menuturkan kutukan-kutukan kejam, Capella menghadap sisa kelompok, menghirup udara.

“Bau sekali! Benar-benar bau busuk! Kalian semua daging bau busuk! Berjamur, busuk, daging sampah! Daging awetan sampah! Ah, menjijikkan!”

Capella terus-menerus mengumumkan komentar beracunnya, mengalihkan pandangan sedikit—ke arah Crusch.

Cahaya lekat nan panas memasuki matanya selagi mengarahkan seluruh perhatiannya ke Crusch, perempuan itu tanpa sadar mendekap dirinya erat-erat. Sewaktu Capella berbicara lagi, suaranya terdengar dia sedang merasa senang.

“Tapi tercampur semua sampah dan onggokan daging itu! Sangat menarik, amat sesuai selera! Daging ini baunya seperti daging terbaik! Sungguh cantik! Tubuh itu! Daya tarik itu! Ah, aku sungguhsungguhsungguh pengen menghancurkannya dengan kedua tanganku!”

“—sudah uckup.”

“Ahh?”

“Dia terpesona.

Raut wajahnya seolah kesurupan, naga hitam itu mencondongkan diri ke Crusch, seakan ingin menjilatnya dari atas sampai bawah.

Waktu-waktu ini, tekanan amarah menyela satu sama lain.

“….”

Perhatiannya masih tertuju pada Crusch, si naga tak sabar menantikannya.

Julius yang mendekati Crusch dalam kondisi kacaunya, kelihatan mirip konduktor.

“Terbakarlah oleh cahaya enam kali lipatku, Al Clarista!”

Keenam roh Julius masing-masing menyilaukan warna-warna berbeda saat menembakkan seberkas cahaya ke atas. Tatkala cahaya warna-warni itu mencapai Capella, cahaya tersebut bersinar putih, dan naganya mulai menjerit.

“—GAAAAAAAAAAAH!”

“Ini akibat ocehanmu. Bila kau punya keahlian nyata, kau takkan mengatakan omong kosong semacam ini.”

Mematuhi perintah Julius, rohnya terus-terusan menembakkan lampu menyalanya.

Teriakan menusuk Capella sebagai musik latarnya, dua pendekar pedang yang tadinya diam-diam saja, mendadak menghentak tanah berbatu, menyerbu kelompok Subaru.

“Berhenti di sana!”

“Apa-apaan!”

Di sana, Garfiel dan Wilhelm, keduanya angkat bicara.

Wilhelm langsung menerjang wanita berpedang, sementara Garfiel melawan pedang kembar raksasa dengan perisai kembarnya sendiri.

“….”

“Jangan lari, tunjukkan permainan pedangmu!”

Saat dia mulai mundur setelah menahan serangan pertama, Wilhelm menyelanya dengan serangan tiba-tiba.

Sang pendekar pedang tua sekuat tenaga menerobos ke atas-bawah selayaknya keras badai. Ukuran pedangnya tak kondusif untuk gerakan cepat, pertahanannya memburuk karena Wilhelm melancarkan serangan cepat bertubi-tubi.

Biar demikian, wanita itu pun terbukti menakutkan. Dia cerdiknya menghindar dari ayunan apa pun yang tidak bisa dia tangkis, dengan santai dan terlatih, posturnya kembali seimbang.

Setiap kali pedangnya berputar-putar hendak menikam, semakin jelas tubuh pendekar pedang wanita dilahirkan untuk pedang yang digunakannya.

Keahlian Wilhelm sudah cukup untuk meenantang paus putih, tetapi melawan keterampilan si wanita, sudah cukup hingga menekan mundur Wilhelm.

“G-Goooooaaahh!”

“….”

Menimbulkan suara gemuruh dan menghantarkan momentum sehalus kondom sutra, rotasi potongan dan ayunan Wilhelm kian mencepat.

Walaupun tubuhnya sendiri tua, tekniknya masih kelewat terasah. Permainan pedangnya adalah puncak ilmu pedang, sebagian besar pendekar pedang muda takkan mampu mencapainya.

Pedangnya bagaikan kilat, terbang di udara, bersiap meratakan si wanita ke bumi. Masih diam, wanita itu siap menahan setiap serangan, tekadnya menguat.

Tanpa ucapan, tanpa kebenaran, wanita tersebut bagai boneka yang tujuannya hanya bertempur. Kata taat telah diukir di tubuh boneka yang semata-mata mengayunkan pedang.

Tabrakan bilah meletus di udara bak ledakan.

Namun pedangnya pasti ringan, jauh lebih ringan dari Wilhelm.

Permainan pedang masing-masing pihak tentu bersih dan murni, selain menyerang targetnya, tidak ada kerusakan sia-sia.

Mereka berdua terbang menuju tarian tunggal permainan pedang solo.

“Hah!”

“….”

Keduanya mengobarkan pertarungan bisu, pedangnya hanya terlihat kilat-kilat.

—inilah ranah sakral duel mereka, penyusup tidak ditolelir. Tak jauh dari sana, pertarungan menggelora.

“Yah! Hah! Yah!”

“….”

Mengaum, otot-otot melentur, Garfiel menangkis serangan raksasa.

Terjebak dalam pusaran memusingkan, dia menyerang balik, memukul, mengaum, ditebas, mual-mual, tulang berderak.

Berbeda dengan duel elegan di sebelah mereka, pertarungan ini serba kacau.

Sekalipun si raksasa bisa disebut pendekar pedang, gaya bertarungnya berbeda dari arti tersirat gelar itu. Tidak rasional, ibarat orang barbar atau hewan buas.

“Hah, huu, ah!”

Sejalan dengan gayanya, Garfiel pun bertarung tanpa aturan.

Gaya bertarung Garfiel liar dan kehewanan. Karena pengaruh Subaru, dia menakannya Aliran Bertarung Garfiel. Hanya keganasan absurd yang cuma bisa dilakuan Garfiel karena dia mengandalkan insting; tidak dapat ditiru siapa pun.

Kenyataannya, pukulan keras Garfiel cocok melawan raksasa barbar di depannya.

Duel biadab ini mengadu stamina; yang duluan lelah dia akan kalah. Karenanya, tingkat keberhasilan atau kegagalannya tak terprediksi.

“….”

Pedang raksasa itu terlampau berat sehingga serangan langsung pasti akan menghancurkan siku Garfiel, dia perlu menggunakan lengan untuk menghadapinya.

Garfiel harus dengan kuat menggunakan perisainya. Digenggam memiring, lengannya menghalangi pedang besar itu, tapi Garfiel membiarkan pedangnya meluncur di sepanjang perisai agar bisa menangkisnya.

Gerakan tak terbaca raksasa bukan hanya sekadar barbarisme, namun dia tidak menggunakan trik sedikit pun, serangan mengejutkannya langsung mengincar sasaran dan kuat.

Serangan ini tidak cuma membutuhkan bakat; raksasa tersebut jelas telah berlatih puluhan juta ayunan untuk mendapatkan kekuatannya.

Menghadapi pedang itu secara langsung, menghalanginya, pasti mustahil.

Salah Saturda langkah, pedang raksasa akan membelah dua perisai peraknya, tubuh Garfiel pun akan senasib senjata rusaknya.

“Jangan … maen-maen … jangan lagi!”

Garfiel berusaha sebisa mungkin melawan tekanan pedang besar.

Seketika menebas dari atas, kala menyapu dari samping, mengayun ke atas dari bawah, Garfiel menangkis semuanya. Lalu, dari celah, lengannya meninju, mendesak mundur Garfiel.

Masalahnya, selain dua tangan perkasa mengayun-ayunkan pedang besar, raksasa itu punya enam lengan lain.

Pertahanan Garfiel bisa ditusuk tangan ketiga, raksasa itu mulai menggunakan lebih dari dua, tiga lengan memegang pedang.

Garfiel unggul kecepatan, namun kekuatan raksasa itu jauh lebih unggul.

Saat dagunya dipukul, seketika itulah Garfiel menangkis pedang besar, lututnya ditendang, mukanya menabrak tanah. Empat serangan lain mengikuti, namun Garfiel berhasil mengendalikan keseimbangan selagi terjatuh, akhirnya berhasil memblokir serangan, kakinya tertanam kuat-kuat di tanah.

Darah, tulang patah, tangisan pahit, itulah yang memenuhi medan perang. Melihat dua pejuang penuh semangat, Subaru tidak dapat mengintervensi kekacauan tersebut.

“….”

Satu sisi duel tenang Wilhelm, dan di sisi lain perperangan kacau Garfiel.

Subaru dan Crusch menahan napas, tidak bergabung menuju medan perang di kedua belah pihak. Ini bukan karena dia kurang kemampuan, namun kelewat kaget oleh semangat juang kedua belah pihak.

Akan tetapi, tidak seperti Subaru yang terkagum-kagum.

“Gawat, kita harus segera bertindak.”

Ricardo yang mengamati sihir Julius, maju selangkah. Melihat Ricardo bergerak, Subaru pun berkata, ‘Baik,’ dan mulai bergerak juga, tapi ….

“Subaru-sama!”

“Menunduk!”

Kerahnya mendadak disentak, Subaru mendapati dirinya diseret ke tanah oleh Crusch. Ricardo berdiri di depan keduanya, melindungi mereka berdua, meraung-raung ganas.

“WAAAA, HAAAA—!”

Gelombang suara dahsyat mengguncang suasana, menciptakan kekuatan hancur tak kasat mata.

Deru gelombang ini sama seperti yang digunakan Mimi serta adik-adiknya sewaktu melawan Paus Putih. Keterampilan teramat amat kuat yang jelas melukainya, Ricardo pun barusan sendirian mengerahkannya sekuat mungkin.

Nyala api hitam bercahaya terpukul mundur oleh raungan Ricardo.

Api gelap menyebar karena gelombangnya. Sifat api bahkan lebih menakutkan ketimbang terbakar. Apa pun yang disentuhnya akan hancur menjadi abu, apinya tumpah-ruah ke seluruh alun-alun di kejatuhannya.

Namun, kengerian nyata pada residu-residu api yang menyebar itu, adalah ….

“Apinya … tidak padam ….?”

Abu hitam jatuh menimpa tanah berbatu, masih membara tanpa sunstansi apa-apa. Apinya terus menyala dan membesar, meregang, dan menyebar.

Api mana pun yang jatuh di permukaan air juga terus menyala.

Sebagaimana meneteskan minyak ke dalam api, apinya melompat lebih tinggi seolah-olah menunjukkan keunggulannya.

“Bro, berapa lama kau tetap berencana seperti ini? Ngomong-ngomong, bukannya situasi ini malah terjadi secara terbalik?”

“Subaru, bagaimanapun, dilindungi seorang wanita, itu ….”

Baik Ricardo dan Julius mengutarakan kata-kata negatif kepada Subaru, dia masih belum pulih dari teror api berserakan. Menurut sudut pandang mereka, Subaru berbaring di tanah, di bawah Crusch yang membelokkan serangan apa pun menujunya.

“Wah!”

“Baguslah kau tak terluka. Tenang saja, aku tidak akan bilang apa-apa soal ini kepada Felix dan Emilia.”

“Aku lebih merasa malu daripada lega!”

Crusch menrariknya berdiri, menambah poin lain pada skor rasa malu Subaru.

Menepuk-nepuk tubuhnya, Subaru menatap sumber api hitam—tentu saja, sumbernya adalah si naga hitam, dia duduk cemberut.

Subaru hanya merasakan rasa jijik darinya.

“Menjijikkan, menjijikkan, jangan begitu girang menatapku! Berhenti menatap, jangan nodai aku sama mata kotor kalian itu! Kahahahaha! Sesuai perkataan mereka, kau dilarang membelai penari yang tampil untukmu, jadi berhentilah merayu nona menarik ini! Gahahahaha!”

“Bagaimana ….!”

Meskipun secara langsung diserang sihir Julius, Capella bertingkah seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

Tapi, bukan berarti dia sama sekali tidak terluka. Malahan dia merasakan cukup banyak dampak dari serangan Julius.

Sayap kanan si naga telah terbakar sampai sisanya tak lebih dari sepotong daging berdarah bernanah. Mungkin ingin menggunakan sayap untuk melindungi tubuhnya, tetapi luka itu adalah harga atas keselamatan tubuhnya.

Sihirnya membakar sayap naga, hingga tubuhnya. Perutnya hangus dan meleleh, bagian dalam tubuhnya nampak telah direbus. Sisi kanan wajah sang naga meledak, lidahnya goyang selagi senang mengolok-olok orang lain. Matanya berkeliaran bebas, tidak lagi bersandar di rongganya.

Setengah mati; dia tak lebih dari mayat.

Subaru jelas menelan ludah, Julius dan Ricardo mengerutkan kening, dan Crusch menahan napas seperti gadis kecil. Tapi ini bukan karena kondisi mengerikan naga.

—malahan, sebab regenerasi kilat.

Tulang yang meleleh kembali menumbuh, otot-otot hancur memanjang, jaringan terputus menjahit; tubuh hancur Capella beregenerasi dalam kecepatan gila.

Panas yang mustahil dihantarkan oleh regenerasinya menguapkan jejak-jejak sisa darah.

“Nah, setelah melihat organ indahku, apa kalian puas? Apa kalian ini sekelompok makhluk sampah busuk yang bernafsu setelah metamorfosisku? Gahahahaha! Puas? Hei, kalian puas sekali sampai rasanya berlebih?”

“Bagaimana … apa yang terjadi?”

“Bukannya kau bisa melihatnya sendiri? Apa kau betulan harus bertanya? Tolol banget? Tetapi wanita penuh kasih ini akan menjawabmu. Seperti yang kau lihat, aku ini nyatanya abadi!”

Abadi—adalah deskripsi paling sederhana, terabsolut dari kekuatannya.

Subaru menelan ludah saat mendengar penjelasan Capella tentang kekuatannya sendiri. Perkiraan itu hanya gertakannya saja terlintas dalam benaknya. Menenangkan memang jika berpikir dia cuma menggertak.

“Cuma kemampuan regenerasi cepat saja ….”

“Terserah kau mau sebut apa. Aku tidak kuat-kuat amat sampai dibilang tak terkalahkan, kalau abadi iya.”

“….”

“Wah, wah, wah, kau bahkan tidak bisa bicara lagi! Dasar telur busuk menjijikkan! Daging busuk bau tengik! Matilah! Semua orang selain aku semestinya mati—bentar! Bentar! Bentar!”

Capella menyela ucapan kotornya sendiri. Membentangkan sayapnya yang sudah sembuh dan dikepakkan, perlahan-lahan membawa sosok besarnya menuju atap Balai Kota.

Menyangka dirinya tengah bersiap-siap menukik ke mereka, Subaru bersiap menghadapi serangannya. Tapi ….

“Waktu habis, aku harus membuat siaran berikutnya, jadi aku bakal kembali ke dalam. Berbicara pada kalian buang-buang waktu, dan aku lagi terburu-buru! Kalian semua diam di sini dan mati sana, bersama potongan daging sedikit indah itu! Membusuklah di neraka!”

“H-hah?”

Tiba-tiba hilang minat, Capella menguap dan pergi ke aula dengan santai, ketika itu Subaru kehilangan sosoknya.

Dia mempertimbangkan apakah maksudnya adalah untuk menarik musuh lebih dalam—

“Dia barangkali mencoba memikat kita, benar … tapi kita tak boleh membiarkannya membuat siaran itu.”

“Andai kita biarkan dia pergi, kotanya akan panik lagi. Semua orang akan tahu aksi kita. Kita harus menyusulnya!”

Firasat tak dikenal menuntunnya.

Terlebih lagi, dengan ukuran sebesar itu, bagaimana pula Capella masuk ke Balai Kota? Sekalipun Subaru tidak tahu sebesar apa ruang siarannya, tampaknya Capella bisa menghancurkan ruangan itu sekali gerak. Tapi dia tidak sempat memikirkannya sekarang.

“Baiklah, aku akan tinggal sama dua orang itu dan mengurus yang di luar. Bro, kau masuk sana dengan Jul-chan dan Crusch-san.”

Ricardo memberi instruksi kepada Subaru yang bertanya-tanya karena kata-kata tegasnya.

“Pendekar pedang ini sedikit berlebihan untukmu dan Crusch-san, aku pun tidak terlalu cocok perkara aksi dalam ruangan. Jul-chan bisa mengatasinya cukup baik. Benar.”

“Penilaian sangat tepat. Sejujurnya, aku khawatir meninggalkan Wilhelm dan Garfiel di sini, jadi kuserahkan kepadamu, Ricardo.”

“Tentu saja, takkan kukecewakan!”

Julius dan Ricardo saling mengangguk, tidak ragu sama sekali.

Karena berasal dari fraksi yang sama, barangkali mereka dapat berkomunikasi secara cepat. Subaru tidak protes, malah marah sambil garuk-garuk kepala ….

“Garfiel! Kau seratus persen tidak boleh kalah! Setelah kau terbangkan orang itu dan kita mengalahkan Kenafsuan, kita akan menyelamatkan Emilia, dengar aku!?”

“Kapten, gua kaga punya waktu buat itu sekarang!”

Subaru berbicara kepada Garfiel yang masih terlibat dalam peperangan kacaunya. Di sampingnya, Crusch mengangkat tangan ke mulut, suaranya diarahkah ke Wilhelm.

“Wilhelm, aku serahkan padamu!”

“Tidak perlu risau!”

Wilhelm menanggap singkat tukas ringkas tuannya.

Tuan sejati dan pengikutnya semata-mata memerlukan kata-kata pendek itu. Kemudian, dibimbing Julius, Subaru bersama Crusch bergerak.

Meninggalkan alun-alun pusat, ketiganya berlari ke dalam Balai Kota. Dua sosok yang menjaga menara pengendali meresponnya, mendatangkan lawan mereka saat ini untuk kelompok Subaru.

“Berbaris di sini memudahkan segalanya untukku, haa—!”

Tawa ganasnya membuat gelombang suara destruktif yang menghanyutkan batu-batu kecil berserakan, wanita dan raksasanya agak goyah. Meskipun kekuatan deru gelombangnya berkurang, masih efektif menghentikan mereka berdua. Di belakangnya, musuh-musuh menyusul, mata mereka tanpak menghina.

“Tidak sopan sekali mengabaikanku, padahal aku hanya memperhatikanmu.

“Jangan alihkan mata lu dari musuh karena mata elu bakalan ilang!”

“….”

Menebas dan mengiris, menyerang lalu menusuk, duel kacau alun-alun berlanjut, pertempuran sengit yang tidak membiarkan intervensi luar.

Tidak bisa mendengar suara pertempuran lagi, Subaru bergegas menuju pintu masuk Balai Kota.

“Di manakah ruangannya?”

“Aku tidak tahu pasti, tapi kupikir berada di paling atas, agar suaranya menyebar sejauh mungkin.”

“Mungkin ada penyergapan di tengah jalan, berhati-hatilah.”

Melewati pintu masuk utama, mereka tiba di dalam Balai Kota.

Sebuah tempat yang harusnya ramai, disertai wanita cantik yang menyediakan layanan penerimaan tamu serta lampu-lampu terang yang mewarnai pemandangannya, kini terlihat remang-remang dan hancur lebur.

Untungnya, tidak ada pemuja lain di lantai ini, ataupun mayat berserakan di seberang ruangan, jadi—

“Ayo, mari pergi. Harusnya ada semacam peta lantai yang memberi tahu kita letak ruangannya!”

“Kalau bisa, aku ingin memastikan keadaan para pegawai di sini, meski kelihatannya tidak memungkinkan ….”

“Apa ….”

Dia memeriksa meja bantuan dan mengonfirmasi tidak ada orang bersembunyi di sana, selanjutnya menunjuk tangga. Julius diam-diam menaikinya, mengintip ke koridor, dan menggeleng kepala pelan.

Crusch turut memberengut, dan setelah tatapannya berkeliaran, raut wajahnya gemetaran.

Melihat reaksinya, Subaru ikut melihat—apa yang mereka lihat, menahan napas. Langkah berderap-derap, menyeret, muncul seseorang.

Mengintip di sekitar tangga, seorang anak memasang senyum iblis muncul. Sekilas, dia terlihat seperti anak-anak biasa.

Tubuh mungil, raut wajah anak kecil, memunculkan citra kemudaan. Namun penampilannya saja begitu.

Rambut cokelat gelapnya terurai panjang, tubuhnya terbungkus sehelai kain, penampilannya malah terlihat agak suram.

Senyum iblis di paras kecilnya, matanya nampak seolah mengandung seluruh racun dunia, pendar-pendar busuk dan cairan beracun—tentu saja, bukan mata seorang manusia.

Dan dalam keadaan ini, jelas ada yang salah darinya.

“Bahagia banget, bahagia banget, bahagia banget-banget, banget-banget-banget bahagia, kebahagiaan itu, kebahagiaan besar, kebahagiaan besar itu, kebahagiaan-kebahagiaan besar itu, layak didapatkan! Sebuah pesta! Pesta! Sudah sangat menderita menunggu, dengan perut kosong ini! Jadi gigitan pertama pasti lezat sekali untuk menebusnya!’

Senang, bahagia dari lubuk hatinya, bocah bertelanjang kaki maju seakan menari sesuai birama.

Seraya bicara, mengungkap gigi panjang bertaringnya. Melihat gambaran itu, sikap itu, pengakuan berlebihannya, kepala Subaru mulai mendidih.

Seandainya bukan imajinasinya saja, sekiranya amarah mendidih ini memang ada, maka anak ini adalah—

“Kalau kau anak nakal yang menyelinap ke sini sambil main petak umpet, jelaskan kejadiannya cepat. Tapi, andai tidak demikian, cepatlah beri tahu namamu.”

Berbicara lirih, Subaru sengaja memaksa dirinya untuk tetap tenang.

Seolah sengaja memprovokasi Subaru, si anak mengubah ekspresi remajanya dan tertawa mengejek.

“Kau benar-benar menghadapi kami dengan tingkah laku itu? Apakah tingkahmu itu untuk kami atau orang lain? Periksa sendiri sana.”

“Sudah cukup. Aku tahu kau ini musuhku!”

“Kami adalah Uskup Agung Dosa Besar Kerakusan dari Kultus Penyihir, Roy Alphard.”

“KERAKUSAN—!!”

Seketika si anak mengaku sebagai Kerakusan, Subaru memukul cambuknya.

Menebas udara, cambuknya tanpa ampun menuju wajah musuhnya. Akan tetapi ….

“Yah, hampir jarang bertemu orang-orang yang ingin menggigit kami.”

Giginya menggigit ujung cambuk, Kerakusan berani berkata demikian.

6 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 34”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *