RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 33

Posted on

Siasat di Balai Kota

Penerjemah: DunkSouls (Daffa)

—pengepungan bisu Pristella sampai sekarang hanyalah suatu cerita fantastis. Berjalan di atas lempengan batu, Subaru sekilas melihat aliran jalan air.

Alirannya jernih dan bebas polusi. Bahkan masih terus mengalir, dan jalannya baik. Mekanisme yang memisah aliran air kanan dan kiri masih mulus dan apik. Selama pintu airnya mengalirkan air, semua orang percaya-percaya saja kota dalam bahaya sedang sedikit mimpi buruk.

“Kapten, lu ga boleh nyeret kaki, tau.”

“Aku tahu, aku tahu. Tingkat bahaya para Penyerbu Balai Kota meningkat 10 persen setiap detiknya.”

“Kalau begitu, kita bakal tamat kalau sampai sebelas detik, ya? Wah, mungkin itu benar, sebetulnya.”

Garfiel yang membimbing paling depan, matanya menyipit saat suara Ricardo terdengar di tengah udara. Namun raut wajah si manusia hewan tak sedikit pun berkecil hati.

Membawa-bawa parang tajamnya, langkah-langkah kuatnya bergerak maju, tapi sikap pemberaninya pun tak menghilangkan ketegangan dan rasa bersalah Garfiel.

Ricardo kelihatan sama seperti biasanya, sedangkan Garfiel jelas membuang tingkah normalnya.

Meski begeitu, tiga orang yang Ricardo anggap keluarga terluka, kepalanya tidak tenang saat ini. Faktanya sudah jelas dari selter.

Di sisi lain, kepercayaan diri Garfiel dan kecerobohannya tumpas sudah dan hanya tersisa kehati-hatian dan lebih penyegan, perubahannya memberikan pesan buruk.

“… yah, tidak bisa bilang aku lebih baik juga.”

Bukan hanya dua orang itu yang tak mampu mempertahankan kondisi pikiran normalnya

Kondisi terluka Subaru sendiri, Beatrice tak sadarkan diri, dan paling pentingnya. Keamanan Emilia; semua itu terlampau membebani benaknya.

Walaupun dia cuma fokus cepat-cepat membalas dendam, pengalaman mengajarkannya bahwa terburu-buru akan menjadi akhir buruk.

Demikianlah filosofi kelompok, Penyerbu Balai Kota yang berjuang menggapai hasil terbaik.

Tak menemui pemuja di sepanjang jalan, mereka tiba di titik pertemuan. Di sanalah ….

“Subaru-dono!”

“Senang melihat kalian semua baik-baik saja.”

Sosok Wilhelm dan Crusch mendekat, sekaligus Julius yang elegannya membelai rambut.

“Aku yakin kau mengkhawatirkan Emilia-sama, tapi tidak apa-apakah kau malah datang ke sini?”

“Soal prioritas, berada di sini lebih penting, tapi aku masih gelisah. Tapi aku tak tahu apa-apa tentang situasi Emilia, dan tidak boleh melakukan sesuatu yang makin bisa membahayakannya.”

“Aku mengerti. Jikalau Anastasia-sama berada di situasi yang sama, aku ragu diriku dapat tetap tenang.”

Mengangguk terhadap kata-kata pedulinya, Subaru menoleh ke Wilhelm.

Pendekar pedang tua tersebut menggerakkan jari sambil memejamkan mata, pemanasan.

Betapa kacau kepalanya saat itu … sudah di luar pemahaman Subaru.

Namun, seolah merasakan tatapan Subaru, Wilhelm membuka mata dan merogoh mantel. Dia mengeluarkan cermin dan menyerahkannya ke Subaru.

“Subaru-dono, ini Cermin Konversasi. Di tengah sengitnya pertarungan, aku ragu sempat menggunakannya, lantas aku berikan kepadamu.”

“Dipahami. Mari bergerak sesuai rencana.”

Hati-hati menaruh cermin di sakunya, Subaru menegakkan punggung.

Dia dipercayakan tanggung jawab membangun percakapan dengan kedua kelompok lain.

Subaru yang paling kurang terlibat dalam pertarungan, memegang satu cermin, sementara cermin satunya dipegang Felix yang berkelana ke selter-selter lain. Cermin terakhir digenggam Anastasia yang berfungsi sebagai sumber kecerdasan mereka.

Idealnya mereka bertiga bisa bekerja sama.

“Kalau begitu, mengulang penjelasan sekali lagi. Kita bergerak ke medan perang yang diidentifikasi Garfiel-sama, tempat dua iblis itu menjaga Balai Kota. Salah satunya raksasa memegang pedang besar, dan satunya seorang wanita dengan pedang panjang tipis, benar ‘kan?”

“Yap, bener itu. Mereka bukan pendekar pedang normal. Walaupun ga serius bertarung, mungkin gua bakal kebelah dua oleh salah satunya.”

Sekali lagi memeriksa informasi mereka, Crusch orang pertama yang angkat bicara. Balas mengangguk respon Garfiel, dia menghadap Julius dan Wilhelm.

“Balai Kota ditempati Uskup Agung Kenafsuan dan dua orang itu. Aku perkirakan pemuja-pemuja lain akan datang di sana juga. Apa ada dari kalian yang pernah mendengar Uskup Agung Kenafsuan?”

“Maaf. Bahkan sebagai anggota kesatria, saya tidak banyak tahu mengenainya. Uskup Agung Kemalasan dan Keserakahan jauh lebih terkenal, tetapi keduanya telah ditemui Subaru.”

Setelah bicara, Julius menoleh ke Subaru. Subaru mengangguk, bilang:

“Sekalipun sudah melihat Keserakahan secara lansung, aku tidak yakin informasi tentangnya tak benar. Tapi … kekaisaran itu. Dia mengalahkan kesatria terkuatnya? Sepertinya agak mencurigakan. Dia kuat, tapi soal kekuatan tempur, bahkan aku pun bisa menandinginya. Biarpun, dia mampu meniadakan serangan apa pun ….”

“Dan serangan itu bukan kekuatanmu sendiri?”

“Kali ini tidak. Biarpun Uskup Agung Keserakahan diselubungi api Uskup Agung Kemarahan. Pakaiannya tak tersentuh. Dia bahkan tidak berkeringat.”

Kekuatan Regulus bisa dibilang tak terkalahkan.

Alangkah bergunanya. Misalkan benar, maka Penyerbuan Balai Kota terpaksa akan melawan musuh terburuk. Meskipun dia ingin percaya kekuatan tak masuk akal seperti itu tidak ada.

“Tentu saja, kita dalam masalah bila Uskup Agung Keserakahan ada di sini, tapi kami tak perlu mengkhawatirkan itu ….”

“Reinhard takkan absen ketika warga sipil tak berdosa dalam bahaya seperti ini. Aku rasa dia menghadapi masalah yang menahannya. Seperti kita, dia barangkali bertemu para pemuja lain.”

Hanya Julius yang tampaknya memahami isi kepala Subaru saat ini.

Sebelum awal semuanya, Felt dan Reinhard telah mengontak Heinkel. Dia cuma bisa berharap pemikiran jengkel dalam kepalanya tatkala mendengar pertemuan mereka itu tidak benar.

“Selain itu, ada sesuatu yang ingin aku pastikan. Nama Uskup Agung Kenafsuan ….

Capella Emerada Lugnica. Mengapa dia sebut dirinya Lugnica?

“Dia jelas mengejek kita. Setiap anggota keluarga kerajaan itu tersohor.”

“Mungkin tidak salah. Nampaknya terlalu dini menganggapnya sebagai lelucon.”

Ricardo dan Crusch masing-masing mengutarakan pendapat berbeeda.

Kultus Penyihir menunjukkan jati diri aslinya, entah kemungkinannya layak dipertimbangkan. Watak buruk sang Uskup Agung Kenafsuan jelas terdengar dalam suaranya. Lelucon, kata Ricardo bisa jadi benar, tapi boleh jadi itu teka-teki.

Akan tetapi, di hadapan dua pernyataan, Wilhelm mengangkat tangan.

“Aku ingat satu hal.”

“Apa itu?”

“Kendatipun tak tahu nama Capella mana pun, aku sedikit mendengar reputasi Emerada Lugnica. Sekalipun bukan berarti ada koneksi langsung … tapi memang ada seseorang bernama Emerada dalam sejarah keluarga kerajaan Lugnica.”

“….!”

Terkejut, mata Subaru membelalak selagi Wilhelm merenung sambil mengelus dagu.

“Nama beliau tercatat sebelum Perang Manusia Hewan, sebelum aku bergabung tantara. Jadi sekitar lima puluh tahun lalu. Kala itu, Emerada-sama terkemuka sebab sangat cantik dan pintar.”

“Dan Uskup Agung Kenafsuan menyebut dirinya Emerada? Apa latar belakangnya?”

“Perkara latar belakangnya, aku pun tidak tahu. Hanya saja, dengar-dengar Emerada-sama meninggal dunia sebab penyakit di usia muda. Namun … pemakaman kenegaraan tak pernah diadakan untuk menghormatinya.

Tak menyelenggarakan pemakaman atas kematian keluarga kerajaan praktis tak terpikirkan. Memiringkan kepala, Wilhelm mengerutkan kening seraya berusaha menjelaskan.

“Masa-masa sulit, itulah alasan tak diselenggarakannya. Akan tetapi, penyebab utamanya adalah orang-orang tidak ingin mengadakan pemakaman untuk beliau.”

“Orang-orang tidak mau ….?”

“Walaupun Emerada terlampau ayu dan cerdas, beliau … teramat kejam, tingkatan kegelapan dalam diri beliau tak terukur. Oleh karena itu, bahkan keluarga kerajaan Lugnica sendiri menganggap beliau sebagai … sesat, fakta yang disembunyikan dari publik.”

 Hanya dari kesaksian tanpa konfirmasi, menuturkan kata-kata meragukan perihal kerajaan yang dia layani boleh jadi meninggalkan kesan pahit pada Wilhelm. Ucapannya mulai goyah di pertengahan penjelasan kedua.

Semua orang tahu sendiri kerasnya sifat Uskup Agung Kenafsuan.

“Jadi Uskup Agung Kenafsuan mengaku Emerada … untuk apa ….”

“Jikalau mereka mencoba memfitnah keluarga kerajaan Lugnica, nama Emerada takkan berpengaruh. Hampir tiada yang mengingat beliau hari ini.”

Hasil kesimpulan Wilhelm adalah napas lega.

Berbeda dengan orang-orang seperti Subaru, Garfiel, serta Ricardo yang setia melayani kerajaan; perasaan Crusch, Wilhelm, dan Julius tak terduga.

Hinaan tanpa tahu terima kasih dan jahat kepada keluarga kerajaan jelas tak diizinkan.

“Terlepas dari itu … Capella ….”

“Ada dugaan perkara nama itu?”

Julius mengalihkan perhatian tajamnya seraya bicara, Subaru menunjukkan ekspresi pahit.

“Tidak ada, hanya saja ….”

Sejenak, Subaru menggaruk kepala sambil melanjutkan.

“Bukan hanya Capella. Regulus dan Sirius pula. Kalau dipikir-pikir, bahkan Betelgeuse … mustahil ini tidak ada maknanya.”

“Langsung ke intinya ajalah Kapten. Apa istimewanya nama-nama itu?”

“Aneh, tahu? Cuma, kau bisa bilang nama-nama mereka seperti bintang-bintang di kota asalku, atau semacamnyalah.”

“Nama bintang-bintang, kan?”

“Kalau dipikir, namaku, Subaru, juga bintang. Tidak, tidak masalah. Itu pemikiran bodoh.

Merespon Subaru, mata Crusch melebar dan kelihatan sangat tertarik. Melihat semua orang reaksinya sama, Subaru menggaruk kepala.

“Jangan aneh-aneh menatapku, oke? Kampung halamanku menamakan semuanya dari bintang, dan Uskup Agung kebetulan nama bintang. Aku cukup senang mempelajari bintang-bintang dan kisahnya, jadi aku tahu beberapa rincian tambahan.”

“Beneran, ketertarikan itu nampaknya tak sesuai denganmu. Bintang, ya.”

“Namaku, Subaru, asalnya juga dari bintang. Karena itu. Maaf jika membosankan.”

Merasa malu, Subaru lupa menyusuri detailnya.

Namun Crusch mencegah Subaru mengakhiri pembicaraan.

“Tolong tunggu, Subaru-sama. Apa nama-nama mereka kebetulan nama bintang-bintangmu?”

“Maksudmu apa?”

“Contohnya, mungkin saja bintang-bintang yang diketahui Subaru adalah asal nama mereka? Dari alasan pendirian dan aktivitas mereka, semua hal tentang Kultus Penyihir diselimuti banyak lapisan misteri. Kita tidak bisa dengan mudahnya membuang sesuatu yang sama hubungannya.”

“….”

Kendati Subaru kaget oleh pertanyaan tak terduga Crusch, dia masih berpikir dalam-dalam. Serius, Subaru selalu yakin nama bintang semata-mata kebetulan belaka. Kenapa?

Lagian ini dunia lain. Tidak ada orang lain yang tahu ilmu bintang seperti Subaru.

Tapi bisakah dia mengatakannya dengan pasti?

Persis di tempat ini, Pristella, Subaru telah menyaksikan arsitektur Jepang. Diteruskan dalam budaya Kararagi, bahkan cerminan dialek Kansai adalah pengaruh Jepang, mungkin dari tangan Hoshin sendiri.

Mungkin pembentukan ideologi Kultus Penyihir ada hubungannya sama pengetahuan modern yang diketahui Subaru. Uskup Agung yang namanya dari nama bintang-bintang tidak tentu terkait.

“Betelgeuse. Regulus. Sirius. Capella ….”

“Benar. Subaru bilang itu nama-nama bintang. Apa ada cerita atau anekdot di baliknya? Mungkin koneksi entah di mana.”

“Soal itu di pikir-pikir ….”

 Menggali-gali ingatan dari dunia asalnya yang menipis, akhirnya mengingat pengetahuannya mengenai bintang-bintang.

Dia pernah kelewat mencintai ilustrasi astronomis. Tahu asal mula namanya dari para bintang, Subaru dengan rakus tenggelam ke gambaran rasi bintang dan telah mengukir sejumlah bintang ke benaknya.

Terkait nama orang-orang berdosa nan keji tersebut ….

“Ketiak Orion1, atau tangan Orion ….”

“Eh?”

Mendengar kata ketiak di tempat yang tidak pernah dia bayangkan, kepala Crusch memiring.

Walau begitu, Subaru tak mengindahkan reaksinya, mencengkeram dan mengguncang bahu rampingnya saat mendekat.

“Benar juga! Namanya tangan Orion!”

“Su-Subaru-sama? Apa … tangan itu?”

“Betelgeuse … asal namanya adalah sebuah bintang. Wewenang Kekuasannya adalah Unseen Hand, dan nama lain bintang itu adalah tangan Orion!”

Lucunya, hampir dibuat-buat.

Tapi apakah kebetulan ada hubungannya? Benarkah ini semacam kebetulan simbolisme mengesankan?

Bukan Betelgeuse2, namun bintang yang bernama Betelgeuse—nama itu familier bagi Subaru. Ketidakcocokan kecil adalah alasan dia belum menyadarinya.

“Sirius3 itu bersinar, dan dia mampu menggunakan sihir api, itu tidak mirip sama sekali. Tapi secara harfiah … Regulus4 itu raja kecil. Bukannya mirip sifat egoisme si bangsat itu!? Kalau begitu, Capella5 ….!”

“Capella itu ….?”

“Kambing kecil! Seekor kambing! Capella itu kambing!”

Menggali ingatannya, Subaru mencari-cari beberapa hubungan makna antara mitos bintang-bintang dan Uskup Agung Dosa Besar.

Wajah Subaru menyeringai seolah bilang, ‘Lumayan, lumayan.’

Sebaliknya, mendengarkan jawaban Subaru, Crusch terus menekan alisnya sembari memegang pundak. Kemudian dia melihat keempat orang lainnya, raut wajah mereka pun kompleks ….

“Tangan Orion?” kata Julius.

“Bersinar?” ucap Wilhelm.

“Raja kecil?” ujar Ricardo

“Kambing kecil tuh apaan?”

“—ah?”

Reaksi empat orang yang menoleh, Subaru akhirnya tersadar penemuannya jauh lebih tak berguna dari perkiraannya.

“Subaru-sama, aku minta maaf. Sepertinya pikiranku menyesatkan kami.”

Ya, bahkan Crusch pun kelihatan menyesal.

 


 

Korelasi Simbolisme bintang-bintang dan nama-nama Uskup Agung spektakulernya gagal.

Sayangnya mereka tak punya waktu untuk meratapi kegagalan itu sebelum meluncurkan operasi secepat kilat.

Alhasil, mereka menyerang setelah berbagi dan mendiskusikan kemampuan serta gaya bertarung mereka.

Anggota Taring Besi yang menyertai Julius dan Crusch, maju sebagai pasukan pengintai, memastikan bahwa jalan menuju Balai Kota telah jelas. Keenam-enamnya akan datang dengan selamat.

“Ya, kek terakhir kali, ga ada yang berubah ….”

Hidung berkedut, Garfiel bilang tidak ada musuh baru yang muncul.

Menurut perkataannya, setelah melintasi jalan lurus di depan, dia disergap seketika bersiap-siap memasuki Balai Kota. Tetapi baik hidung Garfiel maupun mata Subaru mendapati sosok-sosok yang dia sebutkan.

Bila mereka tidak di sini, mereka bisa saja langsung merebut Balai Kota dan lanjut bergerak. Seperti Subaru yang ingin merayakan kurangnya musuh ….

“….”

Garfiel memegang perisainya dan Ricardo menggenggam parang dalam posisi siap tempur. Di sisi lain, Wilhelm, melihat alun-alun bak danau tenang.

Bagi tiga orang itu, pertarungan ini kemungkinan menjadi persoalan pribadi. Khususnya Wilhelm yang perlu menegaskan banyak hal.

“Area ini benar-benar terbuka. Walaupun roh quazi-ku dikirim untuk mengamatinya, mereka tak menemukan jalan yang bisa sembunyi-sembunyi kita lalui. Sepertinya satu-satunya pilihan kita adalah secara langsung mendekat.”

Julius telah mengirim roh-rohnya untuk mengintai lingkungan mereka. Geografi lokasi ini sulit diserang dan sulit pula dipertahankan.

“Tidak bisakah mengirim rohmu untuk mengintai ke dalam? Mengetahui jumlah musuh di sana dan tata letak umum bangunan akan memudahkan pekerjaan kita.”

“Maaf, namun teman-temanku masih tidak sanggup menjalankan perintah rumit. Musuh pun belum tentu tidak bisa mendeteksi keberadaan roh, jadi itu sulit.”

“Itu bukan salahmu. Tetap saja, sangat disayangkan, padahal akan betul-betul membantu.”

Tidak tahu keadaan Balai Kota itu sendiri akan meningkatkan bahaya serangan langsung.

Demikianlah, menunggu hanya akan memperburuk situasi. Meskipun Kultus Penyihir mengklaim mereka bersedia bernegoisasi dalam siaran mereka, sejatinya itu terlampau tidak mungkin.

“Kalau begitu, sesuai rencana. Kendati musuh punya keunggulan medan tempur, kita punya kekuatan jumlah. Pada dasarnya masing-masing tiga lawan satu. Kita akan cepat menangani ini, kemudian menyingkirkan orang yang menempati tempat ini!”

“Sekalipun pemikiran itu optimis, aku menantikan kesuksesan kita.”

Julius memberi tanggapan masam kepada pidato Subaru, lalu kelompok itu pergi.

Tidak membutuhkan sinyal, mereka berlari di jalan lurus, menuju alun-alun depan Balai Kota. Sembari menahan napas, mereka menunggu musuh muncul.

Garfiel menuntun, diikuti Wilhelm dan Julius. Ricardo mengikuti mereka, Crusch dan Subaru di belakang.

Kaki kanannya entah bagaimana baik-baik saja. Walau aneh karena mati rasa, dia bisa berlari tanpa hambatan.

“—mereka di sini!”

Dua sosok menyerbu Garfiel dari atas, bocah itu berdiri di paling depan.

Seketika kelompok melihat bilah besar dan pedang tipis menderu di udara, seorang prajurit di antara mereka dengan berani bersama senjatanya sendiri. Dari belakang ….

—Serangan Seratus Orang dilepaskan.

Crusch menghunus pedangnya yang dilengkapi sihir angin, melancarkan serangan memotong ke musuh.

Segala sesuatu di pandagnannya, bahkan pada jarak yang kelewat jauh pun terkena. Inilah permainan pedang jarak jauh Crusch.

Serangannya bahkan melukai pertahanan yang diperkuat sihir Paus Putih. Suara besi menabrak besi terdengar, raksasa dan wanita tersebut berbalik.

“Kau mengenainya?”

“Tidak, mereka mengelak!”

Serangan kejutan mendadak tepat sasarannya gagal melakukan kontak.

Sambil mengayunkan tubuh ke samping, mendarat rapi di atas batu, kedua sosok berpakaian hitam menarik senjata masing-masing dan memasang kuda-kuda bertahan kuat.

Dua bilah raksasa dan satu pedang tajam. Dari atas hingga bawah, mereka mengenakan pakaian hina para pemuja penyihir.

Nampaknya seratus persen menepis dampak serangannya, tubuh mereka sedikit bergerak ke depan, hendak menyerbu.

Akan tetapi, sebelum itu ….

“Walaupun kau bertahan melawan serangan Crusch-sama, mampukah kau menahan ini?”

Tiga warna berbeda bersinar dari atas, cahaya yang disinarkan roh-roh mengalir ke atas para pemuja.

Roh quazi Julius bekerja dengan tiga kelompok, menyerang si raksasa dan wanita. Subaru belum pernah melihat ini sebelumnya, menekan musuh-musuh mereka, memaksanya berlutut.

“Meskipun kau bertahan dari serangan Crusch-sama, bisa kau tahan ini?”

Tiga warna berbeda yang dipancarkan para roh melimpahi para pemuja.

Enam roh quazi Julius dibagi dalam tiga kelompok, menyerang raksasa dan wanita. Sihir cahaya lain yang belum pernah dilihat Subaru sebelumnya memberikan tekanan mengerikan kepada musuh-musuh mereka, memaksa mereka jatuh terlutut.

Menghadapi tekanan musuh-musuh mereka yang tak tertahankan, Garfiel dan Wilhelm menyerbu si wanita, sedangkan Ricardo mengayunkan pedangnya di atas kepala si raksasa selagi dia menyerbunya.

“Makan nih!”

“Haah—!”

“Berakhir sudah!”

Sekilat perak, memancarkan tekanan luar biasa, sang Pedang Iblis lepas landas.

Kekuatan tak manusiawi Garfiel dan Wilhelm menyerang ke bawah, siap membelah terbuka pertahanan musuh.

Jika mereka bisa menyerang di sela-sela waktu ini—

“….”

Wanita yang jatuh terlutut itu memutar pedang dalam genggamannya dan menebas kaki Garfiel serta Wilhelm. Mereka langsung menghindar, tetapi si wanita ikut mengejar pula, kakinya melilit leher Garfiel dan menggerakkannya ke ruang lingkup sihir Julius.

“Apa—”

Dilingkupi tangan Garfiel, wanita itu melindungi dirinya dari efek sihir dengan Garfiel sebagai perisainya. Kemudian, lututnya menghancurkan hidung Garfiel lalu meraih lengan kiri Garfiel dengan tangan kanan kosongnya dan lagi-lagi menjadikannya perisai dari Wilhelm.

Menampilkan keterampilan ahli, Garfiel berteriak kesakitan, sedangkan Wilhelm menyumpah-nyumpah.

Menghancurkan kebuntuannya, dia menendang si pendekar pedang tua dan di tengah-tengahnya melepaskan Garfiel.

Meskipun gerakan si wanita seharusnya terbatas, serangannya kuat sekali sampai-sampai menerbangkan Wilhelm. Seketika dia kembali memasang posisi, wanita itu sudah setengah berputar dan dilanjutkan tendangan.

“….”

Sementara itu, serangan Ricardo terhenti di atas kepala raksasa.

Masih berlutut karena efek sihir yang dirapalkan Julius, raksasa tersebut dengan entengnya membuang pedang besar di kedua tangannya. Kemudian, tangan kosongnya mengangkat.

“Idiot, mati kau!”

Hasil penilaian buruk, lengannya akan terputus.

Walaupun parang Ricardo tumpul, namun momentumnya maha kuat. Lengan tebal si raksasa teramputasi dan terbang ke atas karena dampak serangan, udara merah serta tulang putih berseliweran.

“….”

Ricardo melangkah mundur dan menyapu parangnya, hendak ditebas ke bawah mengincar kepala raksasa.

Akan tetapi, tangan ekstra raksasa mengambil pedang, menangkis serangan selanjutnya yang mestinya berakibat fatal.

“Apa!?”

Raksasanya lanjut mengangkat tangan, membiarkan semburan darah menyembur-nyembur, menghilangkan sihir yang dirapalkan Julius. Kini terbebas dari sihir, si raksasa sekali lagi mampu bergerak lincah yang tak sesuai sosok besarnya. Setelah memilih melepas lengannya, dia telah lepas dari kelemahan yang bahkan lebih mempersulitnya.

Ricardo, tak sanggup menahan bilah-bilah berat, lengannya berhasil menahan serangan dan nyaris tidak bisa mundur dari dampak yang lebih buruk.

Mengerang tatkala tinju raksasa menabrak wajahnya, menghempas mundur tubuh kekar manusia hewan.

“….”

“….”

Melawan tiga musuh yang kini dalam posisi bertahan, wanita dan raksasa mengangkat senjata mereka, senjata jenis khusus dan dengan jelas niat membunuh.

Akhirnya menyusul tiga rekannya ….

“Fell Goa!”

Mantara Julius menghantarkan angin, membentuk api merah berputar-putar.

Tornado api langsung mengenai wanita yang mendekat, mengusirnya dari Garfiel dan sesudahnya menangkapnya.

Lalu, suara yang hampir mirip doa, sayatan dan siul cambuk memotong udara.

Bilah angin Crusch digabungkan cambuk Subaru menabrak tubuh raksasa. Sosok raksasanya diserang, luka menandai dadanya.

Luka itu bukan masalah serius baginya. Biar demikian, mereka sukses menghentikan serbuan raksasa, dan Ricardo yang terjatuh menendang rahang raksasa.

“Ha, kau yang minta!”

“Sempat-sempatnya bilang begitu? Cepat balik, Ricardo!”

Dibawa momentum tendangan, Ricardo berbalik mundur, mengambil pedang dan menyeka darahnya sebelum mundur dan bergabung bersama Crusch serta Subaru, siap menghadapi raksasanya lagi.

Melihat wanita itu dikurung dalam sangkar angin membara, mata Subaru tanpa sadar membelalak.

“Apa tuh!? Kau, kau sebenarnya bisa menggunakan sihir semenakjubkan ini!?”

“Ini cuma menggertak saja. Aku belum cukup mahir hingga membuatnya jadi mematikan.”

Jawab pahit Julius, tontonan di depan mata mereka memastikan kata-katanya.

Sewaktu pendekar wanita mandi dalam tornado api, pedang di tangannya menyala-nyala—dan jantung angin tertusuk oleh gerakan minimnya. Tak seimbang, kandang ambruk.

Permainan pedang wanita tersebut elegan dan tiada banding. Bahkan si raksasa memiliki fisiologi khusus.

“… kau bercanda ….”

Bagian depan jubah hitamnya terbuka, tangan banyak sang raksasa terungkap. Apatisnya mengambil lengan yang terputus dari tanah dan ditempelkan ke tunggulnya, kala darah dan daging menyatu menciptakan suara-suara memuakkan.

Sekejap berikutnya, lengan raksasa yang sebelumnya hilang kembali disambungkan, hanya sedikit bekas luka saja yang tersisa. Seolah-olah mengumumkan penyembuhannya, dia membawa bilah besar lagi, bangganya dilambai-lambaikan.

Keduanya terlihat tak terkalahkan.

“Sebaliknya, jelas blitzkrieg6 kita gagal.”

Dari samping, Julius dan Wilhelm dilindungi sihir Julius, luka-luka mereka dirawat Garfiel.

Perkiraan Garfiel dan Wilhelm bekerja sama akan tak terkalahkan, kenyataan terbalik. Keputusasaan itu takkan mudah terhapus.

Namun demikian, salah bila bilang situasi mereka sama sekali tiada harapan.

“Kendati pertarungan jarak dekat tidak bisa diandalkan … serangan jarak jauh masih efektif.”

Entah itu sihir Julius, bilah angin Crusch, atau bahkan cambuk Subaru, mereka masih punya harapan.

Yang terakhir barangkali takkan membantu, sekalipun berhasil—usahanya masih ada, tapi dua serangan lain berpeluang mengubah keadaan.

“….”

Mendengar komentar Subaru dan tatapan penuh harapnya, baik Julius dan Crusch mengangguk.

Garfiel dan Wilhelm pun memahami kekuatan lawan mereka dalam pertempuran jarak dekat. Sejak awal, Ricardo tidak berencana menghadapi keduanya sendirian.

Petarung jarak dekat akan meredam gerakan musuh, celah apa pun akan penuh serangan sihir.

Kemungkinan cara terbaik meminimalkan cedera dan meraih kemenangan. Menyatukan seluruh kelompok akan memulai langkah pertempuran lagi. Lalu, ketika itu ….

“Dengan kacau dan tak diinginkan, konspirasi ini telah datang! Potongan daging macam apa kalian ini~ yang bodoh, jelek, nan rendahan berani-beraninya hidup? Demi kata-kata wanita elegan penyabar ini—Kahahahahaha!”

Mendadak yang menembus medan perang adalah gelak tawa tajam.

Tetapi setelah mendengar suara tersebut, semua orang mengerti kemunculan pemilik suara berarti situasi beurbah menjadi yang terburuk. Subaru bergidik dan memalingkan pandangan, mencari-cari sosoknya.

Dimanakah dia? Dari mana tawa itu berasal?

“Kalian melihat ke mana, kotoran dungu goblok? Karena tolol kalian inilah~ kalian tak bisa diselamatkan. Sini-sini, buka mata anjingmu lebar-lebar, suruh kepala kosongmu berpikir keras. Mungkin dengan begitu wanita lembut ini akan berbelas kasih kepada jiwa kotormu!”

“….”

Dari sebelah Subaru yang sorot matanya melirik-lirik, Crusch menarik napas serak.

Mata kuningnya tertuju ke atas. Seiring waktu mulai paham, Subaru mengikuti tatapannya dan berharap melihat Uskup Agung Kenafsuan di ujung pandangannya.

Sorot matanya menuju atap Balai Kota.

Cemooh keras menghujam mereka dari sana, seakan-akan si pembicara melihat semut dari kejauhan.

Faktanya, kurang lebih situasinya demikian. Itu karena ….

“Gahahahahahahahahahaha! Beneran, wajah itu! Wajah bego! Wajahmu khusus begitu hanya untukku? Kalau benar, wanita baik ini akan memuji kalian kera-kera bodoh! Ataukah kalian lebih suka air liur? Kalian akan bahagia atas air liur berhargaku? Buat kalian para onggokan sampah, pastinya harta yang diidam-idamkan, kan~!”

Tawa parau menggema di udara tatkala Subaru menoleh ke atas.

Sang raksasa dan pendekar pedang tidak bereaksi sekecil apa pun sewaktu seorang sekutu bergabung melawan sesama lawan mereka.

Sang Uskup Agung Kenafsuan tiba-tiba muncul di medan perang—

“Kalau begitu, sekali lagi! Wanita cantik ini adalah Uskup Agung Dosa Besar Kenafsuan—!”

—saat nama Kenafsuan diumumkan, naga hitam menatap rendah mereka sambil tersenyum.

“Akulah Capella Emerada Lugnica-sama! Matilah! Dasar daging busuk!”

 

Catatan Kaki:

  1. Orion atau Waluku (“Bintang Bajak”), adalah suatu rasi bintang yang sering disebut-sebut sebagai sang Pemburu. Rasi ini mungkin merupakan rasi yang paling terkenal dan mudah dikenali di angkasa.

  2. Betelgeuse (pengucapan: /ˈbiːtəldʒuːz/ atau /ˈbɛtəldʒuːz/) (Alpha (α) Orionis) adalah bintang yang terletak 427 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini merupakan bintang paling terang kedua di rasi bintang Orion dan bintang paling terang kesembilan pada langit malam.

Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal dari bahasa Arab yang berarti “rumah sang raksasa”.

  1. Sirius (/ˈsɪriəs/, atau α Canis Majoris (Huruf latin: Alpha Canis Majoris, disingkat Alpha CMa, α CMa)) adalah bintang paling terang di langit malam. Nama Sirius diambil kata Yunani Σείριος (Seirios), yang berarti “berkilau”. Dengan magnitudo tampak −1.46, Sirius hampir dua kali lebih terang dari Canopus, bintang paling terang ke-2 di langit malam. Sirius adalah sebuah sistem bintang biner yang terdiri dari bintang deret utama dengan kelas spektrum A0 atau A1, yang disebut Sirius A, dan katai putih redup dengan kelas spektrum DA2, yang disebut Sirius B. Sirius A dan B saling mengorbit satu sama lain dengan waktu 50 tahun.

Sirius tampak cerah diakibatkan luminositasnya dan kedekatannya terhadap Tata Surya. Pada jarak 2,64 parsec (8,6 tc), Sirius adalah salah satu tetangga terdekat Bumi. Sirius secara bertahap bergerak mendekat ke arah TatKoordinat: Peta langit 06j 45m 08.9173d, −16° 42′ 58.017″a Surya, sehingga kecerahannya akan meningkat dalam 60.000 tahun ke depan. Setelah itu, Sirius akan mulai menjauh, dan Sirius akan menjadi lebih redup, tetapi akan terus menjadi bintang paling terang di langit malam Bumi selama 210.000 tahun ke depan.

Nama bintang ini berasal dari bahasa Yunani Σείριος (Seirios, yang berarti “menyala-nyala” atau “amat panas”). Sebagai bintang paling terang di rasi “Anjing Besar”, seringkali disebut juga sebagai “Bintang Anjing”.

Nama Latin untuk bintang ini adalah Canicula (“anjing kecil”) dan dalam bahasa Arab: الشعرى, aš-šyi‘rā dalam astronomi Islam, di mana nama alternatif Al Shira diturunkan. Dengan nama aš-šyi‘rā, bintang ini disebut dalam Al-Quran Surah An-Najm ayat 49, yang berbunyi:dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang syi’ra.

Dalam bahasa Sanskerta, bintang ini dikenal sebagai Mrgavyadha (“pemburu rusa”) atau Lubdhaka (“pemburu”). Sebagai Mrgavyadha, Sirius melambangkan Siwa.

Dalam Bahasa Tionghoa bintang ini dikenal sebagai bintang serigala langit atau (satu bintang di rasi) Serigala di Langit (Bahasa Tionghoa dan Jepang: 天狼; Bahasa Korea: 천랑; Romanisasi Tionghoa: Tiānláng; Romanisasi Jepang: Tenrō; Romanisasi Korea: Cheonlang) dalam Rumah Jǐng (井宿) (rasi Tionghoa yang merupakan bagian dari rasi Gemini modern), sementara nama dalam bahasa pasar Jepang untuk bintang ini adalah 青星 (Aoboshi, “bintang biru”).

  1. Regulus (α Leo / α Leonis / Alpha Leonis) adalah bintang paling terang di rasi Leo dan termasuk bintang yang cemerlang di langit malam. Bintang ini berada pada jarak 77.5 tahun cahaya dari Bumi. Regulus merupakan sistem multi bintang yang terdiri dari empat bintang yang tergabung dalam dua pasang bintang. Regulus A terdiri dari bintang biru keputihan dan pasangannya yang belum diamati, berkemungkinan adalah bintang kurcaci putih (white dwarf). Di depan Regulus A terdapat pasangannya yang terdiri dari Regulus B dan Regulus C, yang merupakan bintang redup. Rēgulus berasal dari bahasa Latin yang berarti pangeran atau raja kecil. Orang Yunani menyebutnya Basiliscus yang berarti sama

  1. Capella (α Aurigae / α Aur / Alpha Aurigae / Alpha Aur) adalah bintang yang paling terang di rasi Auriga, tercerah keenam di langit malam dan tercerah ketiga in di langit utara setelah Arcturus dan Vega. Meskipun terlihat sebagai satu bintang, sebenarnya bintang ini terdiri dari dua bintang ganda.

Pasangan pertama merupakan bintang raksasa tipe G (type-G giant stars), keduanya memiliki radius 10 kali dari Matahari. Kedua bintang ini mendekati tahapan pendinginan dan akan mendekati tahapan sebagai bintang raksasa merah.

Pasangan kedua terpisah sekitar 10,000 AU dari pasangan pertama dan merupakan pasangan bintang katai merah Bintang ini berjarak cukup dekat dengan Bumi, yaitu 42 tahun cahaya.

Nama Capella berasal dari bahasa Latin yang kambing betina (kecil), dan pada abad klasik nama Capra juga banyak digunakan. Pada 2016, Persatuan Astronomi Internasional (PAI) membentuk Badan Kerja untuk Nama Bintang-Bintang (singkatan bahasa Inggris: WSGN) yang menstandarkan dan menyusun katalog nama-nama bintang. Dalam tabel yang dikeluarkan dalam buletin pertama WSGN (Juli 2016), terdapat dua kumpulan nama-nama yang pertama kali disetujui oleh WSG. Salah satu nama yang disetujui adalah Capella, sehingga nama inilah yang dimiliki bintang ini dalam Katalog Nama-Nama Bintang PAI. Lebih tepatnya, nama Capella dimiliki oleh bintang Aa dari tata bintang ini.

Nama tradisional dari Capella adalah Alhajoth (juga disebut Alhaior, Althaiot, Alhaiset, Alhatod, Alhojet, Alanac, Alanat, Alioc), dimana nama ini berasal dari bahasa Arab العيوق, al-cayyūq. cAyyūq dan mungkin merupakan Arabisasi dari kata bahsa Yunani αίξ aiks “kambing”, kemudian menjadi Αίγα Aiga, “feminisme sang kambing”.

  1. Blitzkrieg (arti dari bahasa Jerman: serangan kilat) merupakan sebuah metode perang secara cepat yang diujungtombaki oleh infantri dengan kendaraan lapis baja, didukung oleh dukungan udara jarak dekat. Metode ini dengan cepat merusak garis pertahanan lawan dan kemudian mengacaukan barisan pertahanan, dengan menggunakan unsur kecepatan dan kejutan untuk mengelilingi mereka. Dengan penggunaan berbagai manuver, Blirzkrieg berusaha merusak keseimbangan lawan dengan membuatnya kesulitan merespon perubahan front yang terus menerus, dan akhirnya diakhiri dengan Vernichtungsschlacht, pertempuran pemusnahan.

Angkatan bersenjata Jerman (Wehrmacht) adalah contoh bagaimana menggunakan suatu bentuk peperangan dari kombinasi dan koordinasi kekuatan-kekuatan udara, laut dan darat. Serangan yang mendadak, cepat dan tak terduga akan membawa kekalahan yang ideal di pihak lawan dengan tidak memberikan kesempatan apapun juga untuk mengorganisasikan suatu pertahanan diri yang stabil. Namun demikian, Jerman sendiri jarang menggunakan istilah blitzkierg sebagai metoda perang yang digunakan.

Media pada masa perang dunia kedua menyederhanakan blitzkierg sebagai sebuah serangan tiba-tiba dengan banyak kendaraan berat di dalamnya.

5 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 33”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *