RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 32

Posted on

Konferensi Penyerbuan Balai Kota

Penerjemah: Daffa Ganteng

“Ah, serius! Sihir penyembuhan tidak ada efeknya, jadi kita cuma bisa melakukan perawatan primitif!”

Felix, yang pipinya ternoda darah, mengertak gigi sebal sambil melambai tangan.

Berbaring di depannya, darah masih mengalir keluar dari dada, tubuh tak sadarkan Mimi.

Sepenuh hati hendak menghentikan pendarahan, dia terpaksa mengikat lukanya dengan kain sihir dan beberapa lapis perban.

Sesuatu yang biasanya diterapkan untuk cedera tangan dan kaki, tapi bisa juga diaplikasikan pada dada agar lukanya tetap menutup dan mencegah pendarahan. Hanya saja, luka di dada Mimi persis di atas jantung.

Sisa waktu hidupnya bergantung pada vitalitasnya sendiri.

Subaru bersandar di dinding, putus asa menyaksikan perawatannya selagi meresahkan Garfiel. Tatapannya ke bawah, alih-alih melihat Mimi, tangan berdarah Garfiel dimasukkan ke rambut pirang pendek dan terlihat jauh sekali dari dirinya yang optimis.

Darah yang menutupi tubuhnya bukan hanya milik Mimi. Jelas terlihat dia sendiri terluka parah. Darah menodai mulutnya, jumlah darah yang masih mengalir di bahunya sangat menyayat hati. Celana panjang sisi lutut sobek-sobek, dagingnya hilang dan tulang putih kelihatan.

“Garfiel. Mimi bisa dipercayakan kepada Felix, untuk saat ini. Kau pun membutuhkan perawatan pada luka sendiri. Bisa rapalkan mantra penyembuhan sendiri?”

“… ah, ya.”

Mengangguk, Garfiel perlahan menekan telapak tangan ke luka-lukanya dan menyalurkan mana penyembuhan ke diri sendiri. Selagi melihat luka yang perlahan-lahan sembuh, Subaru menatap Cermin Konversasi di tangannya.

Tercermin di permukaan Cermin itu adalah seorang pendekar pedang tua yang terdiam, wajah keriputnya menunjukkan ekspresi rumit.

Di lubuk hati terdalamnya, kebingungan macam apa yang muncul? Tak salah lagi, Wilhelm pasti satu kesimpulan dengan Subaru.

“Lukanya tidak bisa ditutup, berarti ….”

“Kemungkinan besar, itu karena Divine Protection of Shinigami.”

Menyelesaikan kata-kata Subaru, konklusi Wilhelm sudah diperkirakan.

Kutukan mengerikan luka tak tersembuhkan diberikan oleh berkah sang dewa kematian. Luka Mimi tak bisa disembuhkan sihir adalah mungkin karena berkat semacam itu.

Maka dalam kepala Subaru, hanya satu orang yang sanggup melakukan ini.

Tentu saja meskipun sementara waktu tidak ada kepastian kalau orang lain kemungkinan punya Divine Protection yang sama ….

“Wilhelm-san. Walaupun ini tidak membahagiakan … bagaimana luka pergelangan tanganmu?”

“….”

Wilhelm menutup matanya sebentar, kemudian melepaskan mantelnya dan mengulurkan tangan kiri ke Subaru.

Perban yang terbungkus erat-erat tidak mengandung noda darah. Bahkan pendarahannya tak ada—pasti penyerangnya tidak dekat.

“Meski berasumsi lukanya diberikan oleh seseorang yang sama Divine Protection-nya seperti istriku, selama lukaku belum terbuka, seharusnya dia tidak dekat. Biarpun itu sudah jelas ….”

Dia frustasi, atau lega? Subaru tak tahu.

Wilhelm kehilangan istrinya lima belas tahun lalu. Bahkan setahun lalu, dia yakin akan kematiannya.

Terlepas dari situasi tanpa harapan manapun, mendapati hasil yang diinginkan dengan harapan tanpa syarat dan lebih mempercayai harapan sederhana, adalah kelemahan umat manusia. Biarpun Wilhelm menyerah pada kelemahan itu, Subaru tak merasa malu karenanya.

Maka dari itu, pada saat ini, Subaru tidak tahu mesti berkata apa kepada Wilhelm yang tentunya tidak juga memerlukan hiburan atau penyemangat.

Di belakang Subaru, situasi telah berubah. Perubahannya ialah ….

“Bro. Maaf, menyia-nyiakan waktumu pas sedang mengobati luka.”

Berkata demikian, Ricardo duduk di tanah.

Dekat Felix, mati-matian merawat dirinya, si manusia hewan duduk di depan Garfiel yang berdarah-darah, menatap tajam dirinya.

Balas menatapnya, Garfiel perlahan mengangkat kepala.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi seandainya bro tidak membawanya ke sini, Mimi tak akan selamat. Jadi ….”

 “….”

“Sungguh, terima kasih banyak. Aku sangat berterima kasih.”

Dua tangan mengepal menyentuh tanah, Ricardo berlutut dan menundukkan kepala.

Saat dahi Ricardo sampai tanah, berterima kasih kepada Garfiel sebab membawa keluarganya ke sini, dia nampak terkejut.

Status Mimi masih belum optimis. Dapat dimengerti kalau Garfiel merasa bersalah karena tak berhasil mempertahankan Mimi. Tapi itu sama sekali bukan salah Garfiel. Apa bagusnya menyalahkan dia?

Ricardo tentu saja mengharapkan kepulangan sehat Mimi, dan setelah dia kembali dengan keadaan seperti ini, tidak mungkin Ricardo tenang.

Meskipun begitu, di sudut pandang Subaru, postur tubuh Ricardo benar-benar tulus.

Di waktu yang sama, dia marah besar kepada orang-orang yang meninggalkan Mimi dalam kondisi kronisnya. Oleh sebab itu ….

“Garfiel. Sekalipun ini menyusahkanmu, beri tahu aku tepatnya apa yang terjadi. Biarpun keadaanmu seperti ini, tak terbayangkan. Belum lagi ….”

Selagi meminta Garfiel menjelaskan situasinya, ide muncul di kepala Subaru.

Awalnya, seraya memilah-milah informasi dari Julius dan Wilhelm, merenungkan pengepungan Pristella, gagasan itu sempat terlintas di benaknya.

Merebut lima menara pengendali, Kultus Penyihir telah menyandera seluruh kota.

Setiap lokasi pastinya ditempati kekuatan besar. Anggap itu benar—masing-masing kemungkinan besar dijaga oleh Kemarahan, Keserakahan, Kenafsuan. Kemudian peluang kehadiran Kerakusan tinggi pula.

—Kerakusan itu target Subaru.

Keserakahan yang menculik Emilia, juga Kemarahan yang menganggap Subaru sebagai Betelgeuse. Kenafsuan yang sifat jeleknya sudah dia dengar sebelum-sebelumnya, dan Kerakusan sebagai target yang dia buru.

Walaupun situasinya memang terburuknya terburuk, di saat yang sama, tiada kesempatan lebih baik dari sekarang.

Terjebak dalam jaring laba-laba adalah waktu yang tepat untuk memusnahkan semua laba-laba.

“Ngomong-ngomong, ujung-ujungnya kita harus menyerang orang-orang itu. Lagian, kalau tidak, kita takkan bisa kembali dengan selamat dan sehat wal’afiat.”

“….”

Garfiel menatap heran.

Subaru mengangguk menyemangatinya, mendesaknya berbicara.

“… abis denger siarannya, gua yang hebat dan cebol pergi ke tengah kota. Kami bedua benci suara ngeselin si penyiar.”

“Kami pun mendiskusikan cara menyerangnya. Sepertinya kau kedapatan kesempatan pertama.”

“Di tengah jalan ke Balai Kota, kaga ada penjaga, ga ada penghadang apa pun. Jadi gua yang hebat ini langsung pergi ke Balai Kota, di sana ….”

Penjelasan Garfiel berhenti, selagi menguatkan gigi, tinjunya gemetar.

Bukan ketakutan, melainkan kemarahan. Akan tetapi, Subaru yakin kemarahan itu diarahkan pada lawannya, bukan Garfiel sendiri.

Napasnya marah dan berapi-api, Garfiel melanjutkan.

“Muncul dua musuh. Salah satunya lelaki megang dua pedang raksasa. Satunya wanita kurus megang pedang tipis. Kek gimanapun, misalkan mereka serius bertarung, dia nandingin gua misal satu lawan satu. Enggak … mereka kemungkinan besarnya lebih kuat dari gua yang hebat ini.”

“Bahkan lebih kuat darimu … diakah salah satu penyiarnya?”

“… kemungkinan besar bukan.”

Subaru hampir bertanya-tanya telinganya bermasalah atau tidak.

Garfiel bukan hanya orang terkuat di fraksi Emilia, dia semestinya menghadapi Kultus Penyihir bila sewaktu-waktu diperlukan, dia pun duduk di puncak kekuatan gabungan mereka.

Garfiel barusan menilai dua orang itu masing-masing lebih kuat dari dirinya sendiri. Apabila dugaannya betul, orang-orang itu cuma pemuja biasa.

“Dua orang itu kagak sedengki penyiar. Walaupun gua yang hebat ini ngebuka pertahanan pas kabur, kami masih bisa lari … keknya mereka punya semacam kode etik pendekar pedang atau semacamnya.”

Garfiel memandang kagum lawan-lawannya.

Tak seperti dirinya yang biasanya riang, dia tampaknya lesu, jelas masih terpengaruh keadaan Mimi.

Ricardo yang mendengarkan Garfiel menampar lututnya lalu bangkit berdiri. Kemudian meraih bahu Garfiel ….

“Kuat atau tidak kuat, aku sudah paham. Yang ingin kuketahui, siapa yang membuat bro sampai seperti ini? Siapa yang melukai Mimi? Aku mesti balas dendam sama siapa? Kasih tahu aku.”

“… luka gua yang hebat kebanyakan dari si pria, sedangkan wanita itu pengalih doang. Tetapi karna wanita itu, Mimi ….”

“—wanita itu, bisakah kau serahkan kepadaku.”

Ricardo tersulut balas dendam atas Mimi, Garfiel dengan rasa malu ikut bersumpah satu tujuan. Orang yang menyela adalah Wilhelm, dia diam-diam mendengarkan dari cermin.

Baginya, ini adalah sesuatu yang sepenuhnya tak boleh dia biarkan. Namun kejam bagi dua orang yang tak tahu alasan Wilhelm.

“Kenapa? Ini tidak ada hubungannya denganmu, Wilhelm-san. Bahkan kau tidak berhak membalas dendam orang-orang yang menyakiti keluarga tersayangku.”

“Aku … belum yakin tanpa bukti pasti. Akan tetapi, sekiranya kecurigaanku benar, maka wanita itu sangat penting bagiku. Aku bersikeras.”

“Itu … bila kau membuatku marah, aku takkan bisa mengampunimu.”

Kendati Ricardo menggeram gelisah, Wilhelm keras kepalanya menolak.

Justru karena dia memahami situasi kedua belah pihak, Subaru tidak bisa menentukan siapa yang benar. Karena itulah, bukan Subaru yang mengakhiri pertengkarannya, tapi ….

“—Wilhelm. Dan Ricardo-sama. Sekarang, kita rekanan, tidak boleh berselisih. Tidak sewaktu banyak nyawa warga sipil dalam bahaya.”

“Crusch-sama ….”

Suara tenang dan teguh, Crusch menegur keduanya.

Ditegur tuannya, Wilhelm membungkuk dan menggaruk kepala malu. Sementara itu, mempertimbangkan opsi untuk menghindari perselisihan internal ….

“Oke, oke. Ayo buat keputusan.”

Menepuk tangan lembut, Anastasia mengambil Cermin dan menunjuk Subaru. Menertawakan Subaru yang enggan, Anastasia mengutak-atik syal rubahnya ….

“Pertama-tama, aku ingin memulai penyerbuan Balai Kota yang diusulkan Natsuki-kun dan didukung fraksi Crusch-san. Lagipula, seumpama kita menyerang menara pengendali manapun, Balai Kota itu akan memberikan semuanya. Walaupun akan direbut kembali, situasi di kanal bisa sedikit ditingkatkan, benar? Sekalipun itu angan-anganku semata.”

“Tidak, usulanku sama. Terlebih lagi, jikalau pihak lain melancarkan serangan duluan, pilihan kita akan habis. Apabila kita ingin bertindak, lebih cepat lebih baik.

“… apa, nih, setahun terakhir kau jadi bisa diandalkan, ya? Pokoknya, sebagaimana perkataan Natsuki-kun. Berkat Cermin Konversasi, kelompok kita bisa bekerja sama, dan untungnya, sekitar 70 persen dari total kekuatan tempur kita bisa dikirim segera. Masuk akal seandainya penyerangan Balai Kota akan berjalan baik, betul?”

Subaru melirik Garfiel dan Ricardo.

Demi menaklukkan Balai Kota sekali langkah, penting membagi pasukan tempur mereka.

Penyerbuan Balai Kota itu penting, dalam situasi mereka, mengerahkan pasukan dari selter terdekat, Garfiel dan Ricardo. Kemudian dari selter lain, Julius dan Wilhelm akan ikut.

Anggota-anggota Taring Besi, bersama Ton dan Kan, juga petualang-petualang lain yang tinggal di kota. Menambah mereka ke dalam pasukan akan meningkatkan efektivitas tempur mereka.

“Sejujurnya, seandainya Reinhard di sini, semuanya akan baik-baik saja … bisa minta Ton dan Kan memanggilnya?”

“Aneh memang kita belum menemukannya, apakah itu yang kau pikirkan?”

Julius, menanggapi upaya Subaru untuk memaksimalkan kekuatan tempur mereka, mengalihkan pandangan kepadanya.

“Sebelum masuk selter, mereka berdua sepertinya menembak sihir api ke langit sebagai sinyalnya. Sudah begitu, Reinhard yang mestinya langsung datang, tak datang-datang juga. Dan dugaan ini tidak baik, tapi ….”

“Tapi apa? Beneran, nih, saat ini kau masih ragu-ragu?”

“Baiklah, aku biarkan kau merasakan ketakutan yang aku rasakan—pengikut Felt-sama terpisah darinya dan Reinhard tak lama sebelum semua ini terjadi. Nampaknya mereka terakhir kali terlihat sedang berbicara dengan seorang pria berambut merah.”

“Pria berambut merah … tak mungkin bajingan bangsat itu, kan?”

“Aku tidak bisa mengonfirmasi atau menyangkalnya.”

Subaru menggertak gigi marah selagi mendengar jawaban elegan Julius.

Felt dan Reinhard bertemu, andai spekulasi Subaru benar, ayah Reinhard, Heinkel. Mereka berdua bilang apa kepada pria itu?

Dan sekarang, mengapa mereka tak bertindak?

“Namun dia muncul di pidato Sirius saat perulangan sebelumnya …. Apa bedanya? Apa karena siarannya? Apa dia sudah bertindak?”

Setelah perulangan terakhir kondisinya berbeda, dan Subaru tidak tahu jelas perbedaannya.

Intinya, tahu mereka tidak bisa mengandalkan Reinhard memang mencemaskan. Pundak Subaru merosot dalam renungnya. Di sisi lain, Felix telah kembali.

Kostum femininnya bernoda darah hitam, wajahnya berkeringat penuh ….

“Haahh. Cukup lama.”

“Jadi, bagaimana kondisi Mimi? Dia baik-baik saja? Apa kau menyelamatkannya?”

Seketika Felix menyeka dahinya yang berkeringat, Ricardo bertanya sembari terengah-engah. Dan Garfiel dari belakang memandang panik tanpa berdiri.

Tetapi, di mata tulus mereka, Felix menggeleng kepala kejam.

“Aku tidak bisa bilang telah menyelamatkannya, tapi lukanya tak bertambah parah. Semuanya berkat adik-adiknya sekarang, meong. Dengan memperkuat hubungan mereka, dia hampir tak bertahan.

“Itu Divine Protection of Triplets mereka, kan? Kalau begitu, adik-adiknya bagaimana?”

“Berkat mereka adalah tiga anak berbagi kelelahan dan lukanya. Penguatan hubungan mereka membuat adik-adiknya dibagi luka dari kakaknya yang terluka parah. Begitulah, meski hidup sang kakak bisa diperpanjang ….”

“—saat hidup kakak habis, kami juga akan mati, kan?”

Dari cermin, terdengar suara sedih.

Ricardo emngerutkan kening dan mengambil Cermin Konversasi yang memantulkan Hetaro serta Tivey, mereka duduk berdampingan. Kedua saudara itu juga mencengkeram dada kesakitan mereka.

“Dasar idiot. Serius, sekelompok orang bego tanpa harapan.”

“… tapi, saat aku pikir ini rasa sakit kakak, tahu kami sama-sama sakit membuatku sedikit lebih bahagia.”

“Aku tidak sekuat kakakku. Jadi, Kepala. Aku yakin kau bisa membantu kami secepat mungkin. Karena kalau aku mati, nanti aku jadi hantu dan akan menghantuimu.”

Bertugas membantu cedera kakak mereka, kedua saudara lelaki mengalami cedera serius yang sama.

Melihat Hetaro dan Tivey berbaring bersebelahan di selter mereka, Ricardo mendesau dan mengambil parang.

Lalu ….

“… kalau begitu, kita harus bergerak cepat, ya. Jika tidak, maka tak ada gunanya.”

Bisik suara berat Ricardo yang memancarkan perasaan penuh hatinya.

“Kirim Taring Besi dan suruh mereka mengamankan jalan sampai kau sampai Balai Kota. Perintahkan orang-orang terbaik kita tembus gedung itu sendiri, coba merebutnya sekali serang. Musuh adalah pria besar dan wanita kurus. Mengikuti mereka barangkali mengantarkan ke Kenafsuan.”

“Para elit di sini ada Garfiel dan Ricardo. Terus Wilhelm-san dan Julius.”

“—aku ikut juga.”

Kata-kata itu dari Crusch, rambutnya diikat kuncir kuda.

Berdiri sambil mengenggam tangan, melepaskan baju dan mengenakan zirah besi yang cocok untuk pertarungan.

“Crusch-san, bilang kau pergi, maksudnya kau bisa bertarung?”

“Sekalipun aku tak sekuat sebelumnya, Wilhelm guruku. Dan lagi, aku bisa menggunakan angin untuk menambah seranganku. Aku tak bermaksud menjadi beban.”

Kekuatan Crusch sebelum hilang ingatan cukup membuat eksistensinya saja membawa perbedaan dalam pertempuran melawan Paus Putih. Akan tetapi, kekuatan Crusch yang amnesia saat ini tak diketahui Subaru.

Jujur saja, Subaru pikir kewanitaan barunya menghilangkan kemampuan adaptasi bertarung.

“Talenta Crusch-sama dengan pedang belum menurun. Aku jamin itu.”

Imbuh Wilhelm menghapus keraguan terakhir Subaru. Pendekar pedang tua itu mengangguk, menatap cermin sisi tuannya.

“Meskipun begitu, harap berhati-hatilah. Saya mohon, utamakan keselamatan Anda.”

“Sudah tugas kaum bangsawan untuk menanggung beban dan menumpahkan darah demi rakyatnya. Andaikan orang tak bersalah menangis, maka aku akan melindungi mereka di bawah sayapku. Aku akan bertarung, Wilhelm.

“… baiklah. Tapi, karena inilah saya menawarkan pedangku.”

Crusch berbicara tegas kepada kesetiaan Wilhelm. Felix mengangkat tangan saat menonton, wajahnya serba kekaguman.

“Ya! Ya! Felix-chan juga! Semisal Crusch-sama bertarung, biarkan Felix-chan menemanimu! Tolonglah!”

“Felix bepergian dari selter ke selter untuk merapalkan sihir penyembuhan kepada mereka yang membutuhkan. Aku sangat membanggakan kontribusimu. Tapi jangan tempat medan perang.”

“Ugh ….”

Dibungkam, Felix menundukkan kepala, mencari-cari tanggapan. Tidak bisa menemukannya, dia mengangkat satu bendera putih dan kelihatan mau nangis.

“Wil-jii. Berusahalah melindungi Crusch-sama, oke? Mutlak, harus.”

“Hmmm, aku mengerti. Walaupun hidupku dalam bahaya, meskipun itu terbakar—akan kulakukan.”

Itulah jawaban Wilhelm atas kepercayaannya, tekad tragis.

Ricardo menggoyang pelan pedangnya, Garfiel menyelesaikan perawatannya dan berdiri sambil menyandarkan punggung ke dinding.

Melalui cermin, Wilhelm berdiri dengan pedang di pinggangnya, dan Julius memakai seragam kesatrianya tanpa terburu-buru.

Inilah awal pertempuran penentuan—Natsuki Subaru termasuk.

“Gahh, ughh, aahh ….!”

“S-Su-Subaru-kyun! Kau ngapain!?”

Menggigit gerahamnya untuk menahan rasa sakit di kaki kanan, Subaru akhirnya berdiri.

Wajahnya memerah marah, menampar atas kepala Subaru, memelototi kakinya yang masih kehilangan kulit dan otot.

“Felix, itu sakit!”

“Tentu saja sakit! Aku jelas bilang kau benar-benar perlu istrirahat, apa yang membuatmu sampai berdiri? Mau kakimu membusuk?”

“Biar robek juga, masih ada sesuatu yang harus kulakukan. Felix, kau harusnya memahami perasaanku. Tidakkah kau pikir aku dapat betul-betul tinggal patuh di sini dan menunggu hasil?”

“… mmuuuhh.”

Felix menutup mulutnya sedangkan Subaru mendesak.

Menghantarkan rekan-rekannya ke tempat yang sangat membahayakan nyawa, lalu menunggu hasil. Subaru takkan pernah sanggup menahannya. Jika dengan berkeliaran dia bisa kedapatan ide bagus dan membantu seseorang, bagaimana bisa dia berbaring di sini?

“Kau tidak bisa bertarung seperti ini. Yah, aku harus bertarung juga. Beatrice melindungiku, dan Emilia dalam bahaya oleh Keserakahan. Kalau sudah begini, kau mau aku mundur?”

“… apa kau tak menyesal kehilangan kakimu?”

“Tentu saja aku akan menyesalinya. Tapi aku menyesal tidak bertaung lebih.”

“Heh … okelah, Subaru-kyun juga ingin memainkan peran keren.”

Dengan raut wajah letih, tangan Felix menyentuh dahi. Setelahnya, tangannya menekan luka kaki Subaru.

“Yang kulakukan sekarang adalah sedikit melipurmu!”

“Pelipur itu … ah, bentar, Felix-san. Lukanya agak sakit, jadi digosok bolak-balik seperti ini akan teramat-amat sakit ….?”

Tangannya di luka, Felix mengacak-acak kaki Subaru—sepatutnya begitu, tapi alih-alih ada garis cemerlang yang bersinar di cederanya, mengakhiri rasa sakit yang menusuk-nusuk bagaikan pisau tajam.

Subaru terkejut oleh efek sihirnya, menatap wajah Felix. Kemudian ….

“Kau kelihatan mau membunuh orang!?” tukas Felix.

“Tidak, tidak! Padahal, andai kata kau punya sihir seberguna itu, jangan enggan memberikannya lebih cepat! Ini hebat, aku bisa bergerak!”

Saat lidah tajam Felix menggigit, kaki kanan Subaru melompat ringan. Sambil menikmati kegembiraan karena baru bebas bergerak, dia mulai menari di tempat. Rasa sakitnya tak jadi masalah.

Telapak tangannya menepuk luka selagi merayakan perubahan menakjubkan. Selanjutnya, Subaru melihat ke bawah, sesuatu serasa lengket dan basah. Tangannya penuh kemerahan, dan luka kakinya pecah.

“Hei, hei hei!? Bukannya kau sembuhkan!?”

“Tidak pernah bilang aku menyembuhkannya, meong. Aku cuma tanya kau menyesal tidak kalau kehilangan kaki. Felix-chan menghilangkan rasa sakit dari sentuhan, kakimu baik-baik saja semisal tidak berlarian.”

Kaki berdarah Subaru bergetar seketika Felix kembali membalut luka dan merapalkan sihir segar. Darahnya berhenti; namun Subaru merasa semakin tidak nyaman, sadar kakinya mati rasa.

Mirip anestesi, tetapi dia tak merasa lamban. Selain mati rasa, gerakan kaki kanannya hampir normal.

Tapi rasa sakit itu sendiri penting agar terhindar dari penghancuran diri. Demi kefaedahan, sensasinya dicabut, sayangnya ….

“Tentu saja aku enggan melakukan ini. Ketika kita bertemu kembali, pasti akan ada efek residu. Aku ingin tahu sampai akarnya, jadi berhati-hatilah!”

“… dimengerti. Kau sangat membatu, aku berterima kasih.”

“… Subaru-kyun absolut, pasti mengabaikan peringatan Felix-chan.”

Felix menghela napas sementara Subaru memeriksa kakinya lagi sambil mengangguk.

Sekalipun dia ingin bilang sesuatu seperti, ‘Tidak mungkin aku lakukan itu,’ misal situasi mendesak muncul, dia tidak bisa janji akan menuruti Felix.

Tak sanggup menjanjikan apa pun, Subaru semata-mata berterima kasih sekali lagi sebelum kembali ke Garfiel dan Ricardo.

“Ok, aku ikut juga. Tidak ada gunanya menghentikanku. Aku pikir pasti tak banyak bisa membantu dalam pertarungan, tapi pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan ….”

“Kenapa juga aku menghentikanmu? Kau setara kekuatan seratus orang. Aku akan mengandalkanmu.”

“Aku mampu melakukan hal semacam … hah?”

Meski dia hanya menunggu penolakan, dia dengan antuasiasnya disambut kembali ke kelompok. Subaru bertanya-tanya apa yang membuat manusia hewan ini menerimanya.

“Paus Putih, dan Kemalasan. Dua kali aku melihat upayamu secara langsung, bro. Salah kiranya menyangka hanya Wilhelm yang tahu nilaimu. Aku pun tahu seseorang yang layak dipuji.”

“Benarkah, sungguhan?”

Terinspirasi ucapan Ricardo, Subaru bergabung tanpa banyak hambatan.

Sebelum meninggalkan selter, Subaru mendekati tempat tidur Beatrice dan menyentuh lembut dahi gadis yang tidur tenang tersebut.

“Beatrice, aku akan keluar. Aku kacau dan meninggalkanmu seperti ini, jadi ini giliran kerja kerasku. Aku urus kultus itu dan bawa kembali Emilia. Kau tinggal di sini dan istrirahat baik-baik.”

“….”

Diam. Dihibur napas damainya, Subaru berdiri.

Sementara itu, Garfiel dan Ricardo berbicara pada Mimi yang terlihat sedih ketika dia terbaring tak sadarkan diri. Walaupun dia juga tidak memberi tanggapan, ekspresi kedua pria berlawanan, kehendak kuat yang dicurahkan ke penaklukan wilayah tak diketahui.

“Kami akan meninggalkan selter dan bergabung di jalur besar menuju Balai Kota—jadi, bergembiralah, oke?”

Sebelum keberangkatan mereka, semua orang saling berpandangan, kebulatan hati dari sumpah masing-masing, momentum perkasa mendorong maju.

Perang merebut Pristella akan dimulai dengan serangan sentral ke Balai Kota. Kedua pendekar pedang bersama harapan mereka, dan Uskup Agung Dosar Besar Kenafsuan.

Menuliskan target-target itu di benak mereka, para prajurit berbaris menuju medan perang.

5 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 32”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *