RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 29

Posted on

Harimau Menawan

Penerjemah: Ricard The Archer

—setengah hari sebelum Garfiel ke selter ….

“Terus~ Hetaro sudah mau nangis, jadi Mimi terpaksa memegang tangannya. Lalu Tivey kelihatan kesepian, jadi Mimi terpaksa juga~ ujung-ujungnya memegang kedua tangan mereka~!”

“… ah, gitu ya?”

“Yap, benar begitu~ kemudian, selanjutnya~, Nona terlihat sangat~ senang!”

Meskipun tanggapannya terkesan tidak tertarik, gadis mungil yang berjalan di sampingnya tersenyum, tidak berkecil hati sedikit pun.

Gadis naif tersebut bermata bundar jingga. Garfiel tidak tahu mengapa dia tertarik kepada orang yang faksinya bermusuhan—Mimi si manusia hewan ini.

Dia sudah seperti ini semenjak datang ke kota Pristella. Tidak, jika diingat-ingat kembali, dia sudah nempel dengan Garfiel sejak pergi ke Mansion Roswaal sebagai pembawa pesan.

Awalnya curiga Mimi mencoba mencari informasi mengenai pengikut terkuat Emilia, namun hipotesis itu telah lama dihapus sebab perilaku Mimi. Sekarang Garfiel tidak tahu mengapa Mimi terpikat padanya.

Alasannya mustahil disimpulkan, Garfiel hanya bisa memiringkan kepala penasaran.

—kini, mereka tengah berjalan di sepanjang jalan Pristella bersama senja.

Tidak satu pun dari mereka ngajak jalan, yang ada Mimi mengikuti Garfiel tepat ketika dia pergi jauh dari hotel.

Walaupun pengennya sendirian untuk menjernihkan kepalanya, Garfiel terlalu malu untuk menyampaikan alasannya agar Mimi tidak ikut. Dikuasai ketersediaan Mimi, Garfiel terperangkap dalam percakapan basa-basi ini, sembari berusaha memilah-milah perasaannya.

“Gar~f, ekspresimu aneh~ apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang~ menyenangkan?”

“Seandainya ada yang nyenengin, bukannya gua yang hebat ini bakal bahagia? Gua yang hebat ini kaga mau ngomongin itu, kagak wajib juga gua omongin.”

“Kalau kau terus ngomongin hal-hal rumit seperti kewajiban, nanti kau malah jadi Joshua, ok? Mimi pikir lebih baik santai saja dan bersenang-senang! Bagus lagi misal Garfiel menyenderkan kepalanya ke belakang~ tertawa kayak orang idiot~”

“Maksud lu gua mirip orang idiot?”

Kata-kata berlebihan Mimi benar-benar dilebih-lebihkan, Garfiel memamerkan giginya yang terbuka lebar. Mimi membalas, “Aaahh~!” dan berlari kabur. Agak jauh dia berhenti, cekikikan, selagi menunggu Garfiel menyusul, tampaknya melupakan interaksi sebelumnya. Garfiel tidak percaya Mimi menuduhnya bak orang idiot yang suka tertawa-tawa.

Sejam sebelumnya, pra makan malam, Garfiel menantang bertarung sang Pedang Suci Reinhard.

Orang terkuat di kerajaan—atau, beberapa orang bilang, terkuat di dunia saat ini adalah Pedang Suci.

Sebelum pertemuan sejati mereka, Garfiel mendengar kekuatannya dari Subaru.

Reinhard adalah seorang teman, penolong, dan secara ribetnya, saingan Subaru. Menemuinya di tempat tak terduga ini mengejutkan.

Melalui percakapan mereka, Subaru mengungkap bahwa dia kurang lebih berhasil menyelesaikan tindakan mempermalukan dirinya. Karena kesan buruknya tidak ada, Garfiel tidak berkewajiban bertingkah benar lagi.

Gelar Terkuat memiliki makna spesial bagi Garfiel.

Menjadi yang terkuat. Bertujuan menjadi yang terkuat. Berjuang keras menjadi yang terkuat. Garfiel meyakininya seketika dia dilahirkan, tangisan pertamanya adalah menempatkan terkuat sebagai tujuan mulianya.

Semua orang tak peduli siapa pun, pernah mendamba dan bermimpi menjadi yang terkuat seketika menyusuri jalan panjang yang disebut Kehidupan. Semua orang pada akhirnya akan melupakan mimpi jauh tersebut. Semua orang kecuali Garfiel.

Mimpi itu telah berakar dalam hatinya, menjadi sumber dari banyaknya kegigihan di sepanjang jalan. Bagi Garfiel, gelar Terkuat adalah kombinasi antara tujuan yang dilimpahkan sejak lahir, serta kondisi tak terpisahkan yang memotivasinya untuk menjaga segala hal yang ingin dia lindungi.

Sebab itulah, di hadapan seorang pria yang berdiri di puncak kekuatan, Garfiel tak menahan gigi sekaligus cakar cemasnya.

Garfiel mendatangi Subaru dan diizinkan menantang Reinhard.

Sang Pedang Suci nampaknya jauh sekali dari kata terkuat, kesannya adalah pria lembut, baik, yang tak cakap bela diri.

Akan tetapi, Garfiel tahu orang paling kuat mampu menyembunyikan kekuatan mereka sendiri. Mengesampingkan dorongan hatinya untuk beraksi, kebanyakan orang kuat tidak terlihat kuat saat menjalani kegiatan sehari-harinya. Roswaal dan Subaru seperti itu.

Garfiel menganggap Reinhard seperti mereka.

—kontesnya berlangsung di halaman hotel yang permukaannya kerikil.

Menolak permintaan Garfiel untuk meninggalkan hotel ke sekitar bagian luar kota karena takut merusak lingkungan mereka, Reinhard menuntaskan pertarungannya di hotel, dengan syarat Tidak Merusak Halaman.

Hal demikian memalukan. Walaupun Reinhard adalah orang terkuat, dia meremehkan Garfiel. Bocah itu langsung ingin membuatnya menyesali kesombongan rendah hatinya itu, Garfiel menyeretnya ke luar.

Konfrontasinya terjadi di halaman, Subaru bertindak sebagai aba-aba pemulai pertarungan. Garfiel memamerkan giginya, cuma berpikir melemparkan logam di pergelangan tangannya ke pahlawan merah itu.

“….”

Pemikiran tersebut hampir lenyap seketika.

Pria di hadapannya mampu bergerak lebih cepat daripada kedipan mata.

Persis saat itu, aura lembutnya masih belum menghilang. Setelahnya auranya pudar dan mengungkap bilah tajam berapi yang diasah dengan baik.

Orang biasa takkan sanggup merasakan keadaan alamiahnya yang setajam silet, seolah-olah dia sendiri merupakan pedang.

Jika dihitung-hitung, bila seseorang paham sedikit seni bela diri, perasaan tersebut akan mewujud menjadi sensasi desakan yang menghancurkan paru-paru mereka.

Namun seseorang itu bukan Garfiel.

Garfiel setidaknya mempunyai kekuatan yang layak dilawan Pedang Suci.

Menyadari tubuh alaminya dan bahkan organ-organ dalamnya gemetar, Garfiel meraungkan keraguannya sesaat menerjang Reinhard.

Pertarungan mereka semestinya tidak sampai saling melukai, sepakat tidak menyebabkan cedera serius—melupakan perjanjian itu, Garfiel mengincar tenggorokan Reinhard dengan cakar tajamnya, berniat melancarkan serangan pramungkas.

Sewaktu itu, sebelum serangannya sempat mendarat, tubuhnya dengan elegan diserang di tengah udara, lalu Garfiel betul-betul memahami perbedaan kekuatan mereka.

“—aku kalah.”

 Sesudahnya, meskipun melangsungkan serangan ofensif dari berbagai sudut, Reinhard santainya menghindari semua taktik Garfiel.

Terlebih lagi, Reinhard menghindari semuanya tanpa melangkah dari tempat berdirinya.

Dengan kata lain, Garfiel telah menghabiskan seluruh kekuatannya hanya untuk melawan tubuh bagian atas Reinhard.

Mendadak serangan berat menyasarnya dan berhasil menerbangkannya, Garfiel menyatakan kekalahannya.

Sang Pedang Suci bahkan tidak menghunuskan pedang yang ahli dia mainkan. Mengalahkan Garfiel hanya dengan tinju kosongnya.

Yang dikatakan Reinhard dan Subaru seusainya, Garfiel tidak mengingatnya baik-baik.

Setidaktahu terima kasih dan bodohnya tak menerima kekalahan bukanlah kesan yang ingin diberikan Garfiel. Dia meninggalkan hotel setelah mengatakan beberapa kata saja.

Garfiel tak mampu memilah-milah perasaannya yang tersapu ke pusaran air.

Tercekik emosi tak terjawabnya, Garfiel mencari jawaban sendiri selagi keluyuran di Kota Bendungan—akhirnya sampai sini.

“Gar~f! Gar~f! Lihat! Lihat, dong~! Matahari terbenam ada cerminannya di air! Itu super~ merah! Ini menakjubkan~! Luar biasa! Indah banget~!”

Gadis berisik itu membawa Garfiel berkeliling, menarik lengan bajunya, menarik rambutnya, merapikan pundak, dan tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

Berkat Mimi, Garfiel memang meninggalkan hotel namun waktu-waktunya tidak sendirian.

“Woi, dari awal pun, lu ini berisik amat. Ga bisa tenang sedikit apa, cebol?”

“Aaaahh … gak bisa~!”

“Langsung dijawab?!”

Mimi menggenggam tangan Garfiel, berlarian dan berputar-putar. Cengkeraman tangan Mimi mengagetkannya kuat, Garfiel ikut berputar bersamanya.

Kepalanya berpikir melepaskan tangannya dan melarikan diri secepat cahaya sudah terbesit dalam benaknya, tetapi Garfiel tidak tahu kalau darah manusia hewan Mimi membuatnya tak kalah dengan kekuatan Garfiel. Mimi dengan mudahnya dapat mengejar Garfiel yang kabur.

Garfiel harus memperhatikan penampilannya yang mencolok.

Sebelum berangkat ke Pristella, Frederica dan Ram sama-sama mengingatkannya berulang kali bahwa merepotkan Emilia atau Subaru karena perilakunya sendiri adalah contoh buruk. Satu-satunya orang yang bisa dia repotkan adalah Otto, dirinya bak kakak laki-laki yang terbiasa menyelesaikan masalah.

“Haha.”

“Oh~oh~, ada apa, Gar~f? Apa kau jengkul … jengkil … menjengkulkan?”

“Maksud lu menjengkelkan?”

“Yap, menjengkulkan! Ada apa~? Omongin, dong~, kasih tahu~!”

Garfiel tidak bisa jujur dengan Mimi yang memukulnya berkali-kali seraya bilang, ‘Hei, heeeei.’  walaupun dia mungil, namun anehnya kuat, Garfiel bergidik karena bingung.

Dia bersandar ke kanal, menikmati pemandangan.

“Ah … beneran penampakan yang nyentuh hati.”

“Benar? Ini mantep~! Menakjubkan!”

Meskipun Mimi harusnya hanya mendengarkan sebagian ucapan Garfiel, pantulan matahari terbenam di air memang pemandangan cerah dan menginspirasi. Air berkilauan berwana cahaya putih serta kuning, langit terbalut matahari jingga yang menyingsing.

Menyadarinya, Garfiel duduk di tepi kanal, menyaksikan perahu layar datang dan pergi.

“Hmmmm~ hmm~ hmmm~”

Duduk di sampingnya, Mimi mengayun-ayunkan kaki sambil bergembira seraya hidungnya bersenandung. Kendati karakternya tidak bisa diam, saat ini tingkah lakunya cukup baik. Menangkap bahu Garfiel yang setengah telanjang, Mimi mengangkat kepalanya ke atas dan bawah.

Melirik wajah bahagia Mimi, Garfiel mendapati warna rambut Mimi persis dengan warna jingganya matahari terbenam. Tanpa sadar tangannya terulur dan mengelus kepala Mimi, gadis itu kelihatan senang, bersandar sampai menyentuhnya.

“Halus? Halus? Kepala Mimi~ sering disentuh Nona juga! Dia mengelusnya dan katanya mirip Idola Penyembuhnya.”

“Ah, emang nyaman. Idola Penyembuh, Kapten terkadang ngomong kek … gitu.”

“Gar~f, kau masih kesal?”

“Sekarang kesalnya karna hal laen!”

“Hah?”

Ketika Mimi memiringkan kepalanya, wajahnya sangat polos, Garfiel tak sengaja tertawa.

Dadanya mulai melega, perasaan Garfiel yang merasa lemah kini tidak lagi demikian. Penghinaan tergantikan tekad.

“… mendadak jadi yang terkuat tuh mustahil. Gua yang hebat ini masih dalam perjalanan ke sono.”

“Oooh, jadi kau memanjat tangga untuk menjadi yang terhebat~!”

“Hei, lu ngerti juga. Yea, cara yang tepat buat jadi yang terkuat.” Mimi mengerti lebih dulu, balasannya Garfiel menyentuh luka putih di dahinya.

Sekalipun dia menyebalkan karena banyak omong, Mimi juga menghiburnya. Jika Garfiel sendirian, mungkin dia masih murung sekarang. Ditemani Mimi ternyata sangat membantu

“Woi, cebol, mumpung kita lagi di sini, gimana kalau ke warung terus makan? Gua yang hebat ini bakal traktir lu.”

“Gar~f, liat!”

“Ah?”

Sambil mengundang Mimi, Garfiel bangkit, menepuk-nepuk bokongnya.

Mimi masih duduk-duduk di tepi sungai, teriakannya menarik perhatian Garfiel selagi mengikuti pandangan Mimi. Kemudian menyipitkan mata.

Di sisi lain kanal, tali perahu layar terlepas, perahu terdampar dan mulai terhanyut air. Perahunya kosong, tapi masalahnya bukan itu.
“Hei, anak-anak!”

Mimi berteriak keras ke sebelah sana—arah lima anak yang tengah bermain di perahu singgah.

Anak-anak itu tidak sadar ada perahu lain mendekati mereka. Seandainya sampai tabrakan, kapal mereka bisa-bisa terbalik, melemparkan anak-anak ke kanal.

Mendengar teriakan Mimi, orang-orang di sekitar kanal tersadar. Salah satu pemilik perahu dengan panik menghampiri anak-anak, namun dia takkan sampai tepat waktu.

Mendengar jeritan para penonton, anak-anak itu akhirnya menyadari situasi mereka dan panik tatkala melihat perahu mendekat.

Lalu—

“Yo, anak-anak. Berterima kasihlah kepada kakak kucing cebol yang melihat kalian.”

“Gar~f!”

Tiba-tiba melompat ke atas kapal, mencengangkannya masih bisa menjaga keseimbangan ketika mendarat. Bagi anak-anak itu, Garfiel bisa-bisa disangka keajaiban dari surge.

Senyumnya melebar dan tertawa ganas, anak-anak mulai menegang, terintimidasi oleh orang asing berambut pirang menakutkan. Kala kepanikan mereka mereda, Garfiel meraup kelima anak itu ke pelukannya, dan melompat sekali lagi.

Mereka mendarat di trotoar dekat kanal sesaat perahu menabrak keras, membalikkan kapal yang barusan ditempati anak-anak.

Garfiel cerdiknya menahan tali yang menghubungkan kapal, mencegah reaksi berantai dari tabrakan yang hendak menenggelamkan serangkaian perahu.

Menahan pergerakan kapal yang terbalik mencegah perahu penabrak untuk terus hanyut lebih jauh ke hilir dan meminimalkan efek rarea.

“Dah, harusnya cukup!”

Setelah mengikat talinya kuat-kuat, Garfiel mengakhiri perjuangannya, sorak-sorai dan tepuk tangan riuh dari para saksi.

Salah satu pemilik kapal yang semestinya memantau kondisi miliknya, menundukkan kepala sebagai ucapan terima kasih, Garfiel tidak mengindahkannya, menggaruk-garuk kepala dan kelihatan malu.

Selanjutnya ….

“O-Onii-chan. Terima kasih banyak.”

“Oooh?”

Anak-anak yang diselamatkan dan mengutarakan kata-kata syukur ke Garfiel.

Mereka sudah tidak takut lagi seperti saat di perahu, tatapan berkilauan mereka tertuju kepada Garfiel. Sewaktu Garfiel menemui tatapan mereka, tepuk tangan meriahnya malah lebih menjadi-jadi.

Menghadapinya, Garfiel merasakan suasana hatinya berdebar-debar sambil menggosok hidung.

“Kagak usah segitunya. Cuma kebetulan … ah, kebetulan. Gua yang hebat ini dibimbing takdir angin. Kota Air, dikelilingi kanal … andai semua orang di sini nangis, nanti malah jadi banjir, ya?”

Tepuk tangan mulai mereda tatkala Garfiel memberikan tanggapan puasnya.

Sorak-sorainya pun mulai terputus-putus. Akan tetapi, tak seperti para penonton, reaksi anak-anak dramastis.

“Waw, hebat!” “Keren banget~!”

“Tidak pernah menangis apa pun bahayanya!”

“Jangan pernah kaget! Jangan pernah takut! Jangan pernah ragu!”

Garfiel mengangguk puas pada anak-anak bersemangat itu. Setelahnya dengan sorot mata penasaran, salah satu anak-anaknya bertanya.

“Kakak, namamu siapa?”

“Ga layak disebutin. Tapi, kalau mau tau banget … gua yang hebat ini seorang harimau. Ya, harimau menawan. HARIMAU MENAWAN!”

“Harimau! MENAWAN!”

Garfiel berpose, kepala tersandar tangan sambil merentangkan tangannya dengan miring ke langit. Mata berbinar-binar, anak-anak berbisik girang sembari menirunya.

Saat Garfiel membagikan isi hatinya dengan anak-anak di sekeliling, Mimi mendekat, matanya pun bersinar.

“—Gar~f, karen banget~!”

Dia berlari dan bergabung bersama barisan anak-anak yang mengkerumuni Garfiel.

Tawa gembira anak-anak, Mimi, juga Garfiel terdengar di kanal rumit.

—tepuk tangan dan sorak-sorai telah lama sirna, menyisakan pemilik kapal yang menyendiri sambil tersenyum.

 


 

Garfiel penuh energik saat membagikan makanan ringan kepada anak-anak di suatu warung.

“Mereka, gua yang hebat ini bilang, ‘Nah, gua gak bakal ngebiarin lu maju selangkah lagi, dasar sampah rendahan! Ini wilayah Kapten, dan kalian udah kejebak di sini!’ Hah!”

“Mantap~! Keren banget~!”

“Waaahhh! Keren banget~!”

Tatkala Pristella diselundup cahaya matahari terbenam, Garfiel mengisahkan cerita setahun lalu bersama Mimi dan anak-anak.

Ceritanya adalah peristiwa paling mengesankan yang pernah terjadi, Perburuan Laba-Laba Tanah.

Desa terdekat diserang mahluk sihir yang disebut Laba-Laba Tanah, entah bagaimana, Subaru, Garfiel, dan Otto, terjebak dalam perang salib melawan mereka, membuat kombinasi skema sempurna antara rencana licik Otto feat Subaru dan kekuatan Garfiel.

Salah satu anak yang diselamatkan dengan gembiranya mendengarkan cerita Garfiel. Dia adalah seorang anak berambut pirang yang berumur enam sampai tujuh tahun.

Parasnya cantik dan wajah tersenyumnya manis, suatu hari nanti akan membuat nafas seorang wanita terhenti. Namun saat ini, anak lelaki itu cuma mengagumi cara hidup Garfiel.

Setelah membelikan anak-anak makan ringan, Garfiel secara sukarela mengantarkan anak-anak ke rumah mereka masing-masing, satu per satu. Empat dari lima anak telah kembali ke rumah tanpa terluka, berarti bocah ini yang terakhir.

“Grup kecil doang, main lu kelewatan. Bukannya itu bahaya?” selagi penuh perhatian mengantarkan si anak ke rumahnya, Garfiel mengerutkan kening.

Petualangan anak-anak membawa mereka ke persimpangan First Street dan Second Street, dekat lokasi Markas Besar Muse. Sesaat mereka berjalan, Garfiel merasa mereka berjalan terlalu jauh.

Malahan mereka datang jauh-jauh dari Third Street. Tanpa jalan memutar, perjalanannya akan memakan waktu hampir sejam penuh.

Jawaban si bocah adalah seringainya.

“Kadang-kadang, sang Biduanita pergi ke taman di First Street. Kami mencarinya!”

“Uh … gitu? Kapten bilang nyanyiannya sangat kuat pula, tapi gua yang hebat ini agak curiga.”

Menggosok hidungnya, Garfiel sulit menyetujui jawaban anak itu.

Garfiel hanya pernah sekali bertemu Liliana sang Biduanita, di Markas Besar Muse. Bahkan interaksi singkat sudah cukup meninggalkan dampak signifikan kepadanya. Liliana tak salah lagi adalah seorang gadis berkepribadian kuat. Akan tetapi kekuatan yang dimaksud agak tak sesuai dengan kesan seorang penyanyi murni dan jujur.

 “Gar~f, tidak pernahkah kau mendengar Biduanita menyanyi? Beneran~sangat kuat!”

“Betulan, cebol?”

“Yap~! Aku sama sekali tidak ketiduran sampai akhir~! Mimi tuh kuat~! Puji Mimi~!”

Garfiel tanpa ragu membelai kepala Mimi. Gadis hewan berlagak, ‘Sukses~!’ dan senangnya berlarian, sebelum berbalik sambil memasang ekspresi penuh harapan.

“Jadi, apa kau mendengarnya bernyanyi?”

“Tidak, kami melewatkannya. Tetapi karena kami sudah jauh-jauh pergi ke First Street ….”

“Jadi kalian main di sungai? Untungnya gua yang hebat ini ada di sono.”

“Harimau Menawan!”

“Ha!”

Kala bocah itu mengulurkan tangannya ke langit, Garfiel meniru gerakannya. Referensi pose Harimau Menawan.

Mereka sangat bersemangat berpose bersama, tapi bocah itu segera menurunkan pergelangan tangannya dan mendesau. Garfiel memiringkan kepala.

“Kenapa lu keliatan murung banget? Jangan ngeluh, nanti kebahagiaan lu ilang, tau.”

“Yah, itu … pas di rumah, kakakku akan marah.”

“Apa?”

Begitu anak itu mengungkapkan ketakutannya kepada teriakan si kakak, Garfiel bereaksi berlebihan dengan cemasnya meraih bahu.

“Ah, maaf. Tapi, kenapa dia bakal marah besar?”

“… karena aku kabur.”

“Ah ….”

Anak ini tampaknya tidak memberi tahu kakaknya kalau hari ini akan bermain keluar bersama kawan-kawan. Alhasil, keluarganya barangkali frustasi dan khawatir besar.

Perasaan itu tak asing bagi Garfiel. Sebagai seorang adik, eksistensi seorang kakak tak peduli selama apa, terus menjadi penghalang menakutkan.

Bahkan setelah sepuluh tahun berpisah, saat dewasa pun, rasa takut kepada kakaknya terus meningkat alih-alih berkurang.

“Paham. Serahkan ke gua yang hebat ini.”

“… hah?”

Garfiel menepuk-nepuk dadanya dengan bangga sedangkan si kecil syok.

Seakan-akan berusaha meredakan kemurungannya, Garfiel tertawa dan menunjukkan gigi-gigi tajamnya.

“Kengerian kakak perempuan udah familiar buat gua. Kalau kakak menakutkan lu maju, entar gua yang hebat ini bakal ngelindungin lu.”

“Bang!”

Anak emosional itu memeluk Garfiel erat-erat. Mimi ikut memeluk Garfiel dari belakang.

Dengan cara ini, ditahan dari depan dan belakang oleh anak kecil, Garfiel memperbaharui tekadnya dan berjuang bersama-sama selagi melanjutkan perjalanan.

Matahari terbenam sungguh-sungguh mendekat, dan mereka takkan kembali pada waktu makan malam, namun hari ini tidak buruk-buruk amat.

Entah bagaimana anggapan Garfiel, dia takkan bisa makan dengan tenang di satu aula bersama Reinhard. Akan tetapi setelah pendinginan semalaman, dia mungkin mampu menanganinya.

Berkat anak-anak yang mengagumi Harimau Menawan, sekaligus tingkah ceria Mimi yang menginspirasi.

“—Fred!”

Suara bernada tinggi yang berdengung di telinga mendadak menyerang kuping Garfiel.

Manusia harimau itu mengangkat kepalanya karena terkejut, dan mendapati sosok seorang gadis berlari. Rambutnya pirang panjang dan elegan, tengah menatap tajam bocah itu dan Garfiel.

Si bocah melihat ke arah gadis yang berlari dan kemudian membuka mulutnya. Selanjutnya ….

“Kakak ….”

“Kau, mau membuat kami sekhawatir apa hingga kau puas!?”

Gadis tersebut melompat maju dan menendang adiknya yang mundur.

Garfiel melihat aksi itu, membeku sebab kaget dan kelewat lamban menanggapi gadis cantik itu, kaki si kakak mendarat secara halus.

Selama itu, si gadis cantik menatap tajam Garfiel dan menginjak kakinya.

“Dasar orang mencurigakan, mau kau apakah Fred-ku?”

“Agh … pertama-tama, gerakin kaki lu, cebol.”

Sembari manghadapi amukan serangannya serta kata-kata murka, suara stabil Garfiel menjawab. Melihat serangan pencegahannya tak berefek sedikit pun, si gadis mundur ke belakang pelan-pelan.

Walaupun dia menyangka Garfiel akan marah, Garfiel sendiri tidak sampai murka. Malahan tercengang.

Tak pernah membayangkan ada seorang kakak yang tanpa belas kasih dengan ganasnya menendang adik laki-lakinya.

Kebetulan bocah lelaki yang ditendang itu efeknya telah melunak. Mimi mendekatinya sambil berkata, ‘Hei~!’ dan memeluknya.

Kini mereka sudah tenang, saling mengusir satu sama lain.

Melhatnya dari sudut mata, Garfiel menghela nafas. Dan menghadapi reaksinya ….

“Kenapa, sikapmu begitu … semisal mau mengatakan sesuatu, katakana saja, jangan lakukan sesuatu kepadaku atau Fred … aku, aku akan menakutkan kalau marah ….”

“Semuanya salah paham. Dan juga jangan asal nendang adek lu kayak gitu. Bisa-bisa gak sengaja jadi cedera berat, ngerti?”

“Hah ….”

 Berjongkok, Garfiel berbicara lirih kepada si gadis.

Adik bocah itu juga masih muda—sekitar sepuluh tahun, terlalu cepat pubertas sampai melakukan hal berlebihan. Ketajaman awalnya sudah hilang, wajahnya berubah menjadi berkaca-kaca setelah direspon Garfiel dengan tenang dan baik.

Yang dia tukas pasti hanya gertakan, mengerahkan keberaniannya untuk melawan Garfiel. Dengan kata lain, keberaniannya membuatnya semakin takut, situasi tak menguntungkan.

“Uwaaah, Harimau Menawan …. Tolong jangan terlalu marah kepada kakakku.”

Selanjutnya, tak tahan melihat kakak perempuannya gemetaran, si bocah menepuk-nepuk debu dari badannya dan berdiri di depan si kakak, memohon pada Garfiel. Ekspresi si kakak berkata bahwa harga dirinya telah terluka melihat adiknya memohon untuknya, namun si kakak masih punya martabat untuk mencoba melindungi adiknya dari Garfiel. Kendati Garfiel tak tahu kejadian mulanya, hubungan mereka tampaknya tidak buruk.

“Jadi gua yang hebat ini keliatan kek orang jahat. Gak enak mendengarnya.”

“Orang jahat! Menjadi orang jahat itu tidak baik~, Gar~f, jadi Harimau Menawan saja!”

Mimi melompat dan menepuk-nepuk kepala Garfiel. Sekalipun tidak sakit, serangannya agak membingungkan.

Konfrontasi tak berguna antara sepasang saudara dan Garfiel terus berlanjut. Sejenak bertanya-tanya hingga kapan ini berlanjut ….

“Kakak, Fred, kalian berdua di mana?”

Suara yang memecah situasi stagnan berasal dari orang lain.

Mendengar suara lembut tersebut, kakak beradik saling menatap. Garfiel melihat mereka berdua berlari ke arah asal suara.

Kakak dan adik tiba di sudut jalan tempat seorang wanita muncul. Mereka tak ragu-ragu langsung menghampirinya.

Wanita berambut pirang itu kemungkinan besar adalah ibu mereka.

“Ibu!”

“Bu, orang mencurigakan itu, soal menawan, dan Fred ….”

Si kakak masih memegangi ibunya, terisak-isak, dan adik kecil membela Garfiel. Sesudah mendengarkan ocehan anak-anak, ibu mereka tersenyum.

“….”

Dia melangkah maju, anak-anaknya masih nempel, wajahnya terlihat.

“Gar~f?”

Garfiel membeku, dan Mimi berbalik, mengamatinya.

Namun Garfiel tak dapat menanggapi kecemasan Mimi. Hatinya semrawut oleh gelombang kebingungan, tiada energi tuk mengindahkan panggilan Mimi.

Bagaimanapun, orang yang berdiri di sana adalah ….

“Yah, anak-anakku sepertinya kau jaga, maafkan aku. Bila memungkinkan, bisa beri tahu apa yang terjadi?”

Cara bicaranya menenangkan, nada lembut yang tak menunjukkan sedikit pun kebencian atau kecurigaan.

Maju beberapa langkah, sang ibu sampai di depan Garfiel. Bahkan sewaktu Garfiel gemetar dan merinding oleh kehadirannya, ibu kakak beradik itu memiringkan kepala, seakan-akan bingung.

Ekspresi itu, gerak-gerik itu, suara itu, kesemuanya mengejutkan Garfiel.

“—Ibu?”

Tenggorokannya bergumam serak.