RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 25

Posted on

Teater Leo

Penerjemah: Titanite Demon

Seorang pemuda berambut putih misterius mendadak memasuki medan perang tandus nan kacau yang diobrak-abrik es dan api.

Rambut putihnya tidak kepanjangan atau kependekan, tanpa gaya mencolok. Sosoknya pun tak terlalu berotot ataupun kelewat kurus, tubuhnya sedang-sedang saja dan kesannya tengah di ambang melayang dan hendak ditelan massa api.

Namun ….

“Uskup Agung … Keserakahan ….?!”

Pengenalan biasa pria muda ini memberikan dampak cukup besar kepada Subaru. Selama telinga Subaru tak salah dengar, maka orang itu sebetulnya adalah Uskup Agung Dosa besar dari Kultus Penyihir.

Pengenalan dirinya memang tidak bohong.

Kalau bukan karena itu, lantas bagaimana bisa dia tak terluka sedikit pun oleh serangan terakhir Sirius?

—anomali semacam itu mustahil.

“Walau begitu, baguslah aku sampai. Lagipula, pengantinku hampir saja berubah menjadi abu. Bahkan aku yang jarang-jarang mengungkap ekspektasi apa pun, tentu berharap ada seseorang yang mampu menjaga sisi kemanusiaan pengantinku. Lebih dari itu barangkali masalah jasa saja, aku pikir masalah biasa. Lagian, aku tidak boleh melakukan penyimpangan seperti mencintai abu.”

Seperti ini, menghadirkan ketakutan yang menolak sirna, menenun ucapan tersebut mengenai Emilia, Uskup Agung muda bernama Regulus sedang berdiri di hadapan Subaru yang gemetaran.

Sekalipun bicaranya lancar dan fasih, isi ceramahnya kosong, seakan-akan cuma menuturkan lelucon berulang kali.

Emilia yang terpaksa mendengarkan leluconnya sama sekali tidak bergerak. Dia sepertinya betul-betul pingsan, perawakan rampingnya tertidur di lengan Regulus, macam gendong ala putri.

Regulus menelusuri rambut putih di alisnya.

“Kendati sangat menyenangkan saat tahu tidak ada yang salah, rupanya menyesalkan karena aku tak bisa menunjukkan aksi kepahlawananku kepada pengantin wanitaku hari ini. Kupikir penyelamatan heroik di tengah krisis tanpa harapan ini ‘kan membawa dua hati insan ke suatu tempat penting. Yah, bagaimanapun, penyatuan sepasang hati itu sudah fakta dan satu-satunya persoalan hanyalah waktu. Bukannya itu hebat?”

“Kau, sebenarnya maksudmu apa ….?”

“Hmmm?”

Regulus yang mengutarakan pengakuan kebenarannya, mendapati eksistensi Subaru dan mengerutkan kening. Kemudian menghela nafas lelah.

“Tidakkah kau mengerti konsep dasar seperti kesopanan? Hal pertama yang aku lakukan adalah mengenalkan diri. Soal mengapa kau hendak memperkenalkan diri, karena itu adalah hal terpenting untuk memulai suatu hubungan. Entah hubungan macam apa itu, bukankah penting untuk merajut suatu hubungan yang mengenal satu sama lain? Itulah sebabnya, cuma karena aku orang yang memerhatikan hal-hal semacamnya, sesekali berpikir kepada siapa pun perkenalan itu, aku akan berusaha sebersahabat mungkin. Aku tak bilang nihilnya kemungkinan pihak lain yang merasa malu. Biarpun kau merasa ingin terhubung baik-baik, ketika kau mulai memperkenalkan diri, sesuatu dalam dirimu pasti ragu-ragu. Mempertimbangkan orang-orang seperti mereka, aku mencoba memperkenalkan diri sebaik mungkin dan bertingkah baik demi membuat ruang yang membuat mereka merasa nyaman. Tentu saja aku tak mengharapkan ketepatan sopan santun ini. Akan tetapi, aku tentu berharap setelah beberapa waktu, mereka dapat mengetahui makna perkenalan diri. Atau lebih tepatnya, mereka akan mengetahuinya. Apakah wajar berbicara dengan seseorang yang kau temui pertama kali tanpa memperkenalkan diri? Bila iya, maka ada sedikit perbedaan antara akal sehatku dan budaya setempat. Sekiranya demikian, kendati kedua pihak merasa wajib memperkenalkan diri, maka penting tuk menolak perkenalan pihak lain agar tak terjadi kesalahpahaman. Bukannya berbeda jauh dari yang kuimbuh sebelumnya, bersikap lembut kepada orang lain? Malahan, berkata seperti itu serasa tidak sopan. Pertanda tidak punya etika, kemudian pihak lain merasa kurang dihargai. Salah menafsir nilai satu sama lain akan berdampak pada orang lain lagi. Itu merupakan pelanggaran hak pribadi lainnya. Dari perspektif rasional manapun, ini melanggar hak-hak diriku.”

“Oh. Ohh ….? M-maaf … namaku Natsuki Subaru.”

 Tatapan marah terlihat di mata Regulus saat dia berceloteh, menjadi sirene peringatan untuk Subaru. Bertindak berdasarkan ketakutan itu, Subaru gemetar hebat sesaat menyebut namanya sendiri.

Lalu seusai mendengar perkenalan Subaru, Regulis menyipitkan matanya yang membelalak.

“… ya, tak apa. Karena memberikan hormat ‘kan mengundang kehormatan. Sekalipun syarat mencapai dunia keduanya di dunia bisa diterima. Kau tak perlu mencari-cari kebahagiaan orang lain. Selama kau mengejar kebahagiaan sendiri, orang-orang pun akan menemukan kebahagiaan. Jangan terjebak dalam keinginanmu, terima saja kebenarannya dan syukurilah bersama kebutuhan sehari-harimu. Itulah cara hidup damai.”

Barangkali patut dipertanyakan apakah deklarasi halusnya serius atau tidak. Tetapi mata cerahnya membuktikan bahwa kata-katanya tidaklah bercanda atau terkesan ironis, sebaliknya seperti kepercayaan asli.

Menduga ucapannya di luar konteks bisa jadi seperti Sirius.

Faktanya, tindak-tanduk serta tukas Regulus memiliki ketidakjelasan dan semenyesatkan Sirius.

“Lagipula, masa, sih, sesulit itu menemukan suasana hati yang baik untuk bercakap-cakap? Mengapa mustahil melakukannya sebagai perkara demi umat manusia? Kenapa dianggap tidak mungkin tuk secara sadar, ataupun tidak sadar, secara berbeda, terus-menerus menyakiti orang lain secara halus padahal hari-hari kejadiannya telah terlewat? Cedera sakit secara halus, benar? Terlebih lagi, jika ada hal-hal serius mendampak ke kita, bisa jadi akan tumbuh menjadi penyakit yang mengancam jiwa. Jiwa dan raga adalah satu eksistensi. Aku benci mereka yang meremehkan hidup sampai-sampai secara tak sadar mengancam orang lain. Bukankah pikiran mereka tidak normal?”

“.…”

“Jelas sekali mereka manusia-manusia cacat, dan perilaku tersebut tidak boleh dilakukan tanpa sadar. Memang, tentu salah menaruh beban kepada orang-orang yang didiskriminasi. Kebanyakan orang punya akal sehat, namun kenapa mereka tidak sadar bahwa dunia perlahan-lahan menyadari? Bahkan semisal tidak sadar mereka diam-diam telah menginjak-injak hati orang lain, seandainya mereka tak menyadari kesalahan gila nan tercela, maka bukannya kaki mereka lanjut menginjak-injak?”

Seakan-akan tak senang oleh bungkamnya Subaru, Regulus berkali-kali mendesak sebuah jawaban.

Pidato Regulus kian cepat dan cepat, jelas-jelas menyampaikan peningkatan rasa penasaran. Meskipun begitu, Subaru masih belum bisa menjawab.

Memikirkan respon, hatinya tersentak.

“Dari semua itu, tahukah kau ….”

“Terima kasih atas pelajarannya—TERBAKARLAH, HANGUSLAH, DAN MENGHILANGLAH!” riam api berjatuhan dari belakang Regulus.

Sirius melambaikan tangannya dan memanggil api tanpa ampun yang memakan sesame Uskup Agung. Subaru yang menyaksikan kekejaman itu sekali lagi tidak sanggup bergerak.

“Subaru ….”

“Aku … tahu. Tapi, tidak apa.”

Beatrice juga gemetar ketakutan, mencengkeram keras bahu Subaru sampai-sampai terluka. Dia terlalu mengkhawatirkan Emilia yang terperangkap dalam nyala api.

Mustahil Subaru tak takut pada bahaya yang menyangkut Emilia. Walau begitu, Subaru berkeyakinan teguh. Keteguhannya adalah ….

“—menurutku, menginterupsi obrolan orang lain seperti itu, buruk sekali kau membaca suasana hati? Misalkan mau mengatakan sesuatu, angkat saja tanganmu. Kau pikir aku bersedia sabar menunggumu bicara?”

Regulus memutar pergelangan tangannya, dan pusaran api Sirius menghilang.

Gelombang panas menghilang seolah-olah ditiadakan sihir, sementara Regulus tengah berdiri di tengah pusaran, dirinya tak tersentuh. Alamiahnya, Emilia yang beristriahat dalam pelukannya masih dalam kondisi yang sama.

Bahkan sedang diselimuti intensitas nyala api itu, tak setetes keringat pun muncul di wajahnya.

“Kau dan aku sama-sama mengemban gelar Uskup Agung. Karena aku tahu kepalamu kacau, seumpama kau hanya membuat kesalahan kecil, lantas bisa aku biarkan. Untungnya, tidak ada yang celaka. Hanya saja ….”

Berpaling, Regulus melirihkan suaranya dan memelototi Sirius, wanita itu balas menatap dan menutup mantelnya, sekali lagi menyembunyikan gadis yang terikat padanya, menggertakkan gigi terus-menerus.

“Kau berencana membakar gadis ini bersamaku. Aku sedikit enggan memaafkan perilaku semacam itu. Ah, lebih baik bilang tidak mungkin dimaafkan. Semenjak zaman kuno, entah apa cerita atau moralitas karakter, bila orang yang dicintai terluka, maka amarah mereka mustahil ditahan. Karena itulah hak semua orang, aku sadar betul berhak membalas dendam.”

“Kemarahan! Hah, kau marah!? Jangan buat aku tertawa! Pria superfisial dan tidak jelas tak boleh membahas kemarahan! Kemarahan adalah hakku! Itu yang kudapat darinya, dan itu jauh lebih penting dari semuanya. Bagi—”

“Oh, aku mengerti. Kau masih nempel sama si idiot yang terus mempertaruhkan nyawanya? Menyebalkan banget, sungguh menjijikkan. Sama sekali tak konstruktif atau rasional. Kematian adalah akhirnya. Ini masalah kejelasan, benar? Tak berkenan mengakuinya dan hanya mengandalkan memori … kau betul-betul cacat. Andai orang tercintamu mati, cari yang lain lagi. Daripada meneriakkan cinta, cinta, cinta, gunakan hak yang kau terima. Mengacaukan siklus alamiah itu, ah, kau betulan sampah tanpa harapan.”

“Kau, yang menertawakan kematian orang itu, BERBICARA SEAROGAN ITU!”

Sirius yang dihina-hina tanpa henti, naik pitam.

Permukaan batu retak-retak oleh hentakan perempuan gila tersebut sesaat mengarahkan api kembarnya ke depan, terbang menuju Regulus dengan kecepatan mengkhawatirkan. Suara berisik dan merobek-robek menyertai perjalanan mematikan sang senjata.

Rantainya mengenai daging Regulus, membentur sisi pipinya. Akan tetapi, baik kemarahan Sirius atau serangan rantainya telah ditangkis satu gerakan.

Kiri ke kanan, atas hingga bawah, depan sampai belakang, rantai tembaga Sirius gemetar tanpa henti di tubuh Regulus. Apalagi, rantai yang terbang secepat kilat tersebut diselimuti gelombang panas.

“Menghilanglah, menghilanglah, menghilanglah! JADILAH ABU BERSAMA BLASTERAN PENYIHIR ITU!”

Pagar api menutup di tengah-tengah, memerangkap Regulus dalam amukan neraka.

Suhu badai itu cukup tinggi sampai mampu melelehkan pijakan Regulus, dan tanah di bawahnya entah menguap atau meleleh.

Melihat hasil pembakarannya, nafas Sirius meliar.

Tersalurkan kemarahannya, orang-orang yang termakan amarah di sekelilingnya berdarah dari mata sampai hidung mereka, mengeluarkan suara-suara aneh ketika berkumpul bersama.

“Kubilang, berapa kali harus kukasih tahu hal yang sama?”

Regulus melangkah maju di atas permukaan batu seakan-akan tidak ada yang terjadi.

Entah rambut putih, pakaian, atau tangan Emilia, tidak ada sedikit pun bekas luka. Hanya ekspresinya yang berubah menjadi semacam ketidakpuasan.

“Aku sudah memikirkannya. Tidak peduli berapa kali kuulangi, beberapa orang ada yang tidak paham. Mereka tidak cukup perhatian untuk berusaha memahami apa yang dikatakan. Benarkah itu penghinaan? Jadi, entah mengukir apa yang mereka pelajari dalam hati sebagai perintah, atau melakukan pemeriksaan diri hati-hati, ataukah mengingat makanan untuk esok, mereka tidak melakukannya. Mereka melupakannya, dan tercuci bersih. Mengatakan hal sama berkali-kali bukan hanya penistaan, namun juga penghinaan yang menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak. Sama-sama nilai mereka dan nilai pihak lain yang dasarnya menurun. Demikianlah. Bentuk kekerasan yang tidak menghiraukan kata-kata apalagi tindakan. Kemudian aku berpikir ….”

“Dasar serangga bangsat ….!”

“Doktrin Kultus Penyihir seperti ini, ‘Bila mana satu pipi diserang, suguhkan pipi satunya dan tanya musuhmu mengapa mereka bertarung seperti itu,’ doktrin ini menunjukkan pemahaman mutualisme. Ah, tapi aku pun memikirkannya. Memang benar pula jika pipi seseorang dihajar, maka orang itu wajib melawan balik—terutama diwajibkan bagi mereka yang tidak tahu rasa sakit.”

Hanya mendengarkan ucapannya membuat Regulus terkesan keras. Namun keberadaan pria itu amburadul.

“….”

Regulus yang keluar dari kegelapan tersenyum muram.

Senyum tersebut jelas-jelas tidak ramah, malahan bak menjilat lidah tatkala sang predator mengamati mangsanya.

Masih misteri mengapa Regulus berhasil bertahan melawan api serta rantai Sirius. Boleh jadi kekuatannya murni defensif, mungkin Wewenang Keserakahan tidak untuk ofensif.

Karena itulah jelas-jelas perilaku Regulus bukanlah bukti konklusif dari konsekuensi fatal.

—tetapi bila pertempuran berlanjut terus, Sirius akan mati.

Belum lagi tidak ada jaminan kalau Regulus adalah pemegang kemampuan bertahan murni.

Semisal pemuda itu merencanakan sesuatu, seratus persen Sirius akan mati. Andai kata demikianlah situasi saat ini, lantas tidak ada yang dipermasalahkan. Sebaliknya, mengurangi jumlah Uskup Agung karena perang saudara layak dirayakan.

Meskipun memuaskan, kematian Sirius akan melibatkan sebagian besar orang di sekitarnya. Tentu saja termasuk Subaru, sekaligus orang-orang yang terhasut Kemarahan, Lusbel dan Tina yang saling mendoakan keselamatan dan mengorbankan diri mereka sendiri pasti ikut terkena.

“….”

Bahkan kini, ketakutan tengah menyebar ke seluruh tubuh Subaru.

Lutut lemasnya bergetar hebat sampai-sampai bernafas pun dirasa tidak normal. Tetapi dalam waktu-waktu ini ….

“Subaru.”

Di telinganya, suara lirih tak bisa diandalkan terdengar.

Sekalipun pemilik suara tidak sanggup menyembunyikan ketakutan besarnya, suara hangatnya masih berbicara di belakang. Andalkan aku—ia menyampaikan pesan tersebut.

Subaru mengepalkan giginya dan terhuyung-huyung berdiri.

Tidak ingin tidak melakukan apa-apa dan melimpahkan segalanya ke beban seorang anak di belakangnya. Berkata begitu, Subaru takkan mampu melakukan apa-apa tanpa kekuatan Beatrice.

Oleh sebab itu, Subaru tak ingin berjuang sendiri, namun tidak ingin pula menyerahkan semuanya kepada satu orang. Andaikan Subaru sendirian maka dia tetap jatuh terlutut.

Alasan Subaru masih kuat berdiri adalah karena dia tidak sendirian. Orang-orang lain yang dilanda kegilaan berbeda. Hanya Subaru yang mempunyai orang terdekatnya, hanya Subaru yang tidak sendirian.

Berpegang erat pada pernyataan nyata itu, Subaru berjuang mati-matian.

“Beatrice.”

“Aku tahu, ya.”

Sekali panggil, Beatrice paham sepenuhnya apa yang Subaru butuhkan.

Saling memastikan tidak lagi penting. Masing-masing sudah melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka—selama hal itu terus dilakukan, lantas mereka akan mencapai hasil yang didambakan.

Entah itu Sirius atau Regulus, para pemuja sudah benar-benar melupakan Subaru.

Mereka hanya fokus satu sama lain dan berniat membunuh lawannya. Kemungkinan terbaiknya adalah Sirius membakar Regulus sampai jadi abu, tapi itu mustahil.

Maka dari itu, Subaru perlu menghentikan amukan Regulus.

Subaru kudu menarik perhatian Regulus dan mencegah jatuhnya banyak korban.

Dan yang paling penting ….

“Berhenti menyentuh Emilia-ku ….!”

Cinta tiada tara mengusir rasa takut dari Subaru dan menyalakan hatinya. Jikalau dia tidak menyatakan isi hati tak jujurnya, maka Subaru takkan pernah mampu melawan Regulus.

Detik ini, punggung Regulus menghadap Subaru, perhatiannya teralih penuh oleh Sirius, dan itu keuntungan besar bagi Subaru.

“—Shamak!”

Tatkala Subaru memaksa menggerakkan kaki terguncangnya, Beatrice mulai merapalkan mantra di belakangnya.

Sihir terkuatnya, Shamak, menelan tubuh Regulus ke dalam kabut hitam kala mulai memisahkannya dari dunia, indah nian menghalangi langkahnya. Tepat sebelum Regulus dibungkus seluruhnya, Subaru memasang kuda-kuda tempur dan kuat-kuat menggerakkan cambuknya ke depan.

Menyasar leher Regulus.

Cambuknya bergerak selagi berusaha menjerat Regulus. Tentunya usaha segigih ini akan membuat orang searogan Regulus memindahkan perhatiannya ke Subaru. Mungkin sampai Beatrice sukses merapalkan sihir, sehingga Regulus berstatus korban tanpa menyadari apa yang terjadi.

“Tidak ada respon!”

“Dia datang!”

Peringatan Beatrice datang sesudah kepanikan massif menghantam Subaru. Cambuknya tidak mengenai apa-apa, targetnya yang mendadak menghilang menyakitkannya nyata.

Sesaat berikutnya, pemuda berambut putih menghentak tanah dan menyerbu Subaru, menerjang dari dalam kabut hitam.

“Sedari awal pun sudah berantakan. Kau membuat berantakan kehidupan lancarku dengan sihirmu. Bisa kau aktifkan di tempat lain?”

“Mi …. Salah, Murak!”

 Tangan kanan Regulus memeluk Emilia, tangan kiri kosngnya tiba-tiba menyapu Subaru. Beatrice seketika melancarkan serangan sebagai mantra perubahan gravitasi kepada Subaru.

Subaru segera memahami aksi Beatrice dan melompat ke atas untuk menghindari ujung jari Regulus. Murak adalah tipe sihir bayangan dengan efek membebaskan benda fisik dari ikatan gravitasi. Daging Subaru sekarang lebih ringan dari bulu. Dia terbang ke atas, meninggalkan Regulus.

“Kenapa kau mau menghindarinya?”

“Kenapa juga tidak aku hindari, karena itu menakutkan!”

Subaru mencambuk Regulus yang mendongak melihat Subaru. Bukannya mengincar arah tertentu, Subaru menyerang saja, memukul kepala Regulus. Rambut putihnya terbang dari dampaknya dan kepala yang mestinya terkoyak oleh cambuk betul-betul tidak terluka. Rambutnya yang berkibar pun sama.

“Bagaimana kalau pengantinku terluka? Kau tidak peduli bahwa anak perempuan mestinya diperlakukan lembut, dan hal itu tak perlu diajarkan untuk memahaminya? Kau tidak tahu ini?”

“Jangan tolol! Orang yang pengen kuperlakukan paling lembut di dunia ini adalah gadis itu. Apa urusannya pengantin ini dan itu, kau ngomongin apa ….”

“Sudah diputuskan. Lagian ini takdir, aku membuat janji dalam mimpiku.”

Satu tangan sedang menahan sihir, Subaru tercengang oleh Regulus yang menjawab sembari tersenyum. Sesuatu terasa serba salah namun Regulus tentunya tak peduli.

“Dia akan terhubung denganku. Takdir ini, kau tahu. Secara umum aku sendiri merasa puas, dan aku tak menginginkan apa-apa. Walaupun tidak terlalu memendam hasrat apa pun, aku tak seberpikiran sempit itu hingga tak menerima suatu pemberian. Terkhusus apa yang diberikan takdir kepadaku. Biarpun kebanyakan orang tidak menduganya, segala sesuatu yang dapat kugapai, ingin aku menjaganya. Sesuatu itu adalah diriku dan orang-orang penting bagiku.”

“….”

“Aku akan melindunginya. Aku sambut dia sebagai pengantinku dan mencintainya sebagaimana dia mencintaiku, bersama kami akan menikmati hidup damai. Sebab itulah aku takkan menahan diri tuk mengerahkan kekuatan yang telah diberikan kepadaku.”

“Terus, apa … kehendak gadis itu sendiri bagaimana? Tahu sendiri salah satu pihak belum setuju, bertunangan seperti ini kelewat terburu-buru.”

Pernyataan tegas Regulus baru saja mengkonfirmasi keyakinannya. Hanya Subaru seorang yang punya insan terdekatnya, hanya Subaru yang tidak sendirian.

Di satu sisi, cara berpikir ini terlalu blak-blakan meski tidak berbahaya. Di sisi lain, konyolnya mematikan.

Sulit menjelaskan mengapa mematikan, tetapi hal itu sudah jelas dari awal. Karena Regulus menggila, semuanya jadi menyimpang.

Suara Subaru tidak hanya gemetar karena ketakutan. Soal pertanyaannya, Regulus tersenyum dan terus melanjutkan seakan-akan memperbincangkan topik basi.

“Kau meresahkanku? Jika iya, terima kasih. Namun demikian, tidak ada masalah apa pun. Takdir tidak bisa dihindari … malahan, dalam cinta atau pertemanan, kata-kata seseorang tidak dapat ditetapkan. Bila mana takdir bilang bahwasanya dia akan menjadi pengantinku, maka aku ditakdirkan menjadi pengantin prianya, semua ini sudah diputuskan.”

“… ada yang salah darinya, kayaknya.”

Mendengar Regulus dan teori serba kekurangannya, Beatrice tanpa sadar bergumam jijik.

Subaru punya pendapat serupa. Regulus menggunakan kata-kata indah nan halus untuk menutupi kegilaan yang mendasari keyakinannya. Subaru bahkan tak tahu tingkat kesulitan yang dihasilkan perasaan tersebut.

“Cukup sudah. Mustahil kita bisa memahami satu sama lain. Menjijikkan rasanya saat tahu orang seburuk ini adalah rival cintaku.”

Subaru menghentikan sihirnya dan mengapung kembali ke tanah. Melihat Subaru yang terdiam, Regulus mengangguk seakan mengerti maknanya.

“Begitu. Aku paham. Kau tahu, maaf sekali, namun … takdir seorang kekasih tak bisa dibagikan. Seorang pengantin wanita yang mengagumi pria lain sangatlah tidak atraktif.”

“Bacot! Emilia-tan tuh pengantinku. Takkan kuberikan kepada seseorang sepertimu.”

“Ooohh, Emilia ini. Nama yang indah. Nama yang teramat cocok untuk dipanggil kekasihnya, cocok sekali untuk anak tercinta ini.”

“Kau bahkan tidak tahu namanya … dan malah ingin menjadikannya pengantin? Kau bercanda! Kok bisa ….?”

“Wajahnya.”

Subaru tercekat dan terbungkam oleh kemarahan. Menyalahpahami bungkamnya, Regulus memiringkan kepala.

“Wajah imut. Itulah definisi cinta, kan?”

“Pergilah ke neraka.”

“Mati aja.”

Menyetujui pernyataan Subaru, Beatrice pun menyangkal cinta terlampau kasual Regulus.

Turun ke tanah, tubuh tanpa bobot Subaru masih dipengaruhi Murak. Sewaktu dia memperpendek jarak antara mereka sambil menunggangi angin, Regulus mengangkat pandangannya, seolah-olah kaget.

Kini, Regulus tidak memahami implikasi pertempuran jarak dekat.

Subaru sendiri mengerti. Daripada menjadi bodoh, Regulus tidak terbiasa dengan pertarungan model Sirius. Bukan berarti dia tak siap, namun dianya yang memang tak butuh senjata.

Karenanya mendekati Regulus sudah seperti bunuh diri. Meskipun begitu, Subaru punya alasan mendesak sampai bertempur jarak dekat dengan Regulus.

—karena inilah satu-satunya cara Subaru bisa menggunakan kartu asnya.

“Kenapa kau datang ke sini? Aku tak amat mengerti. Biarpun tak penting, aku harap kau bersedia memberitahuku. Aku tidak kurang perhatian, yah. Bahkan aku pun ingin memahami musuh lemah.”

“Terima kasih atas pencerahannya—Beako!”

“Siap!”

Regulus menghampiri Subaru sembari mengulurkan tangannya.

Setiap jari itu kemungkinan besar adalah senjata fatal yang akan mengakhiri hidup Subaru. Sebelum sempat terjadi, Subaru menarik nafas dan berteriak.

Inilah salah satu hasil dari usaha Subaru dan Beatrice kumpulkan setahun silam.

“—E.M.M!”

“… apa?”

Rapalan bernada tinggi memaksa gerbang rusak Subaru menyerap mana Beatrice dan merapalkan sihir eksklusif orisinil.

Mereka meluncurkan sihir pertahanan absolut, E.M.M, salah satu dari tiga sihir asli yang dibuat Beatrice dan Subaru.

Tubuh Subaru berselimut bidang magis tak terlihat yang memungkinkannya mengelak dari eksistensi masa kini, meniadakan serangan apa pun, entah itu fisik maupun sihir.

Ujung jari Regulus tak membahayakan Subaru sewaktu mencapainya. Setelah menyaksikan kejadian ini, pertama kalinya Regulus menunjukkan ekspresi terkejut.

Subaru menyasar wajahnya dan kuat-kuat mengayunkan tangan kirinya.

“CIAAT!”

“—ah.”

Sisi wajah Regulus terpukul.

Subaru memukulnya keras-keras, tetapi tak setitik pun tanda terlihat ketika kepala Regulus terhempas ke belakang. Dampaknya tidak ada. Subaru memang sudah mengiranya, tubuh pelindung konstan nan abadi Regulus.

“Belum siap, kayaknya!”

Sebelum Regulus sempat melakukan serangan balik, Beatrice berteriak bahwasanya syarat langkah selanjutnya belum terpenuhi.

Dalam jarak sedekat ini, Subaru harus menghindari serangan Regulus. Bertahan akan mempersulit langkah apa pun. Kalau begini, Subaru mesti menyerahkan sebagian jiwanya.

“Jangan khawatir ….”

“Wewenang Kekuasaan. Unseen Hand!”

Saat Regulus terkena serangan, kata-katanya terputus.

Itu karena Regulus diterbangkan. Subaru melihatnya ketika batuk darah, lengan bajunya menyeka sudut mulut dengan kasar.

Mata Subaru seorang yang mampu melihat Wewenang Kekuasaan itu.

Subaru jelas melihat tangan hitam ketiga keluar dari dadanya, mengalir kekuatan mengerikan.

Seluruh tubuhnya berderit, jiwanya melemah, sesuatu berbisa mengalir melalui tubuhnya, mewujud laksana darah hitam di tenggorokannya.

Setelah membayar harga atas kemampuannya, Subaru bisa saja melangsungkan serangan habis-habisan. Serangan yang merenggut begitu banyak hal dari Subaru, barangkali takkan setara tendangan Garfiel.

Sekalipun begitu, serangan tak terlihat tersebut pastinya punya efek sesuai upaya untuk mengaktifkannya.

“Subaru, kau tidak apa-apakah?”

Uhuk … entah bagaimana masih baik. Soal pria itu, dia kuat, tapi serangannya agak datar. Dari semua orang yang kuhadapi sejauh ini, serangannya sama seperti Larkins.”

Meludahkan sisa darah yang menyumbat tenggorokannya, Subaru menunjukkan rendahnya energi pertarungan Regulus.

Regulus mengungkapkan bahwa dirinya adalah orang awam tanpa pengalaman yang setingkat Subaru. Selama Subaru konsentrasi pada pergerakan mulut, ujung jari membunuh itu bisa jadi terus dihindari.

“….”

Bahu Subaru terbentur. Itulah laporan sunyi Beatrice.

Karena efeknya kuat, efek orisinilnya berdurasi singkat. Selain itu, mantra mereka punya batas harian, penggunaan berlebihan mengakibatkan hilangnya potensi.

“Walau efek E.M.M sudah habis, saat ini tanpa sihir pun Subaru punya kesempatan. Jadi, andai kau bergegas ….”

“Kemenangan masalah nanti. Aku melihat cahaya harapan.”

“Tidak ada hal semacam itu. Maafkan aku atas kesalahpahamannya. Aku terlalu lama berdiam diri, karena kau tidak teramat-amat menarik. Namun persoalannya bukan itu. Tidak baik kita berselisih. Ini pelanggaran hak. Sebab aku diserang dua kali semenjak pertarungan dimulai, misalkan aku tak menyerang, maka tidak adil, kan?”

Regulus mendarat dari udara, melihat Subaru yang penuh tekad.

Raut wajahnya tidak tenang lagi dan sedang marah.

“Apa!?”

“… kau merencanakan apa?”

Tanah antara Subaru dan Regulus seketika menyala.

Subaru terdorong mundur oleh gelombang panas yang mengguyurnya, sedangkan Regulus menahan udara panas yang berhembus di wajahnya.

Tentu mereka berdua berpaling ke si pelaku—Sirius.

Sejauh ini entah alasan apa, wanita sinting itu tidak terlibat dalam pertarungan Subaru melawan Regulus. Kendatipun niatnya tidak diketahui, Subaru lebih suka dia diam saja. Aksinya mengakibatkan perubahan yang sangat tiba-tiba.

Subaru tidak tahu cara melawan api Sirius, dan lebih ingin memerangi Regulus, lantaran laki-laki itu cuma bisa dilawan dalam pertarungan jarak dekat. Subaru juga belum menemukan solusi untuk mengalahkan Sirius.

Subaru menelan ludah sewaktu situasi memburuk.

Aktualnya, keadaan jauh lebih buruk dari yang bisa dibayangkan Subaru.

“—ketemu.”

“—?”

Berdiri aneh, Sirius menatap ke kedua orang pria—tidak, hanya ke Subaru.

Wanita gila sungguh-sungguh melupakan keinginannya untuk membunuh Regulus, semata-mata terobsesi kepada Subaru seorang. Tatapannya tergila-gila, tenggorokan Subaru sekejap tersedak.

Lalu mengangkat tangan yang tadinya tak bernyawa dan loyo, kemudian ditempelkan ke wajah.

“Ketemu, ketemu, ketemu, ketemu. Ah, ah, ahahahah! Aaaaaaaah! Akhirnya, beneran kau! Maaf, aku tidak menyadarinya tadi. Maaf, maaf. Baguslah. Beneran kau. Tentu saja kau kembali kepadaku!?”

“Apa ….?”

“Sayang, dari mana saja kau!? Ke mana pun aku mencari, tidak kutemukan, bahkan setelah kurobek bagian dalammu, tidak kutemukan di mana-mana. Meskipun aku selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu selalu mencari … kau tahu aku sedang mencari, lantas kau kembali!”

Suara nyaring bernada tingginya penuh antusiasme.

Tangan ditempelkan ke pipi, tubuh menggeliat-geliat dan suaranya terdengar senang. Keadaan macam apa sekarang? Gerak-gerik anehnya kelewat tak terjelaskan.

Akan tetapi, kalau dimintai jawaban, tindakannya nampak mirip layaknya perilaku seseorang yang telah lama mencari pujaan hatinya. Seorang wanita yang tenggelam cinta buta.

“Karena cita-citaku tercapai! Lantaran aku ingin bersamamu—akhirnya kau menyadari dambaan yang kudoakan! Cintaku akhirnya menggapaimu!”

“….”

“Aku senantiasa menunggumu … sayangku, sayang Betelgeuse Romanee-Conti!”

Berbicara sambil tesenyum gila, Sirius Romanee-Conti memanggil nama kekasihnya yang dia ratap sambil menatap lembut serba kasih sayang ke Subaru.

10 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 25”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *