RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 22

Posted on

Respon Kasual

Penerjemah: Daffa Cahyo

Mungkinkah ini pertarungan udara?

Reinhard melompat ke Sirius, menjatuhkan lawannya dari menara dan menerbangkannya ke langit.

“Hahahaha! Ah, menakjubkan sekali dirimu!”

Ketika sosok heroic itu terbang ke arah musuhnya, Sirius meninggikan suara, gembira, dan melambaikan tangan. Yang menyertai Gerakan itu adalah bunyi-bunyi rantai yang terlepas dari pergelangan tangannya.

Rantai yang memanjang sepenuhnya sekarang digunakan sebagai cambuk, meskipun manfaatnya sebagai senjata lebih condong ke intimidasi serta gangguan suara keras alih-alih kebergunaannya. Seseorang yang memilih senjata semacam itu jelas tidak sehat kepalanya.

Ular besi tersebut tak salah lagi telah mencicipi darah lebih dari beberapa orang, dan saat ini tengah melangsungkan rutinan berburunya, hendak menghancurkan mangsa dengan rahang besi, suara siuran angin menyerupai suara tepuk tangan.

Namun bahkan ular tumpul berkecepatan suara itu tidak berdaya.

—di dunia ini, ada eksistensi seorang manusia seperti Sirius yang menyimpang dari jalan seharusnya.

“Rantai, sangat merepotkan.”

Mendengar suara rantai memasuki pertarungan, sang Pedang Suci mengerutkan kening dan menggumam sebal.

Di tengah-tengah pertempuran intens, dia tampaknya sedikit mengeluh, bak jeda singkat dalam kekisruhan kelas.

“Hahaha!”

Sirius yang hampir terengah-engah, tersenyum penuh gairah di depan para penontonnya.

Jelas pertarungannya pasti ditonton. Akan tetapi, alasan di balik kesenangan Sirius masih misterius. Entah karena putus asa, atau murni senang, satu ekspresi jelas bagi seluruh penonton.

Situasi ini hanya bisa ditertawakan Sirius.

“….”

Sirius terbang ke atas, Reinhard mengejarnya dari bawah.

Reinhard sebagai targetnya, Sirius melancarkan pukulan cepat dan tepat. Bahkan ketika menghadapi datangnya rantai, Reinhard tak meraih pedang yang tergantung di pinggangnya.

Jika kata-kata tempo dulunya benar, maka bukan karena Reinhard tak ingin menghunus pedangnya, hanya saja dia tidak bisa. Pedang legendaris Reinhard hanya akan muncul saat menghadapi lawan yang layak.

Dalam hal ini, dia sama saja tak bersenjata tatkala melawan orang aneh mengerikan itu. Bahkan Reinhard yang paling dipercayai Subaru, mesti sulit-sulit bergulat—bahkan mungkin gagal memenuhi ekspektasi Subaru, soal menunjukkan kelemahan manusia.

Seandainya benar, kepercayaan Subaru tak lama lagi akan hancur.

Serangan kedua menyasar Reinhard, suara bernada tinggi berbicara.

Gelombang kejut dan percak-percik api menari-nari di tempat kejadian. Bagi Subaru dan penonton lainnya, bagaikan kilat melintas di langit.

Kemampuan menguasai keahlian itu merupakan bukti bahwa Reinhard melampaui batas-batas keterampilan manusia.

Reinhard melawan rantainya secara langsung, mengangkat kaki ramping untuk menahannya.

Serangan itu mengejutkan sekali sampai-sampai dia tertawa. Setelah terkena dampaknya, Reinhard mengalihkan perhatian dan membungkus kakinya dengan rantai, digerakkan sesuai keinginannya.

Gerakannya sendiri tak spesial-spesial amat. Reinhard memenuhi rantai yang datang dengan kaki kanan, melilitnya dan dijadikan senjata darurat, dimanfaatkan kemudian melangsungkan serangan lanjutan.

Dalam sekejap, dia teramat mudah berganti-ganti posisi dari ofensif ke defensif.

Jelas saja, tidak semua orang bisa meneruskan pertarungan tersebut. Hanya segelintir orang terlatih yang bisa mengikuti serangan cepat dan gencar itu.

Saat-saat berusaha memahaminya, dorongan hati ingin tertawa. Subaru menghembus nafas panjang dan mengendurkan bahu. Untungnya, Reinhard rekanan, lantas pemikiran-pemikiran itu tidak penting. Andai dia musuh, lantas bahu, lutut, serta kandung kemih Subaru sudah menyerah.

“Haha, hahahaha! AHAHAHA, AHAHAHAHAHA!”

Sirius tertawa keras, tangan kanannya berputar liar layaknya tornado.

Karena tangan kirinya tertangkap Reinhard, dia cuma bisa menggunakan tangan kanan. Namun kendati siulan ular menembus langit, terbang dari segala arah, tetap diblokir oleh rantai yang melilit kaki kanan Reinhard, menciptakan bunyi detang frekuensi tinggi juga percikan api.

Setiap percikannya berdansa di cakrawala biru, ditemani instrumen logam yang iramanya merobek alun-alun, dalam gerakan putaran merah dan kuning.

Serangan lain, pukulan lain, selama periode itu, Reinhard kian menutup jarak antara dirinya dan Sirius. Segera setelah saling melancarkan serangkaian pukulan, Reinhard mencapainya.

“Tak kusangka! Kau sudah sampai sini! Hebat!”

“Kau sangat mahir. Sayang sekali kau hendak melakukan kejahatan.”

Pada momen-momen itu, mereka berdua saling bertukar kata selagi bertarung.

Reinhard cepat-cepat menarik kembali kaki kanannya lalu jari merapat tangan kirinya menyodok ke depan. Sirius menyambutnya dengan ayunan lengan kaut, rantai berombak-ombak menyosor Reinhard sambal membuka taring-taringnya.

Meskipun rantainya terbuat dari baja, Reinhard menggunakan tangan kosong bagai bilah dan membelahnya jadi dua.

Di masa lalu, Subaru menyaksikan pembelahan sempurna sumpit kayu sekali pakai—trik pesta. Apabila Reinhard ikut serta dalam pertunjukan itu, dia bisa membelah bilah besi ibarat kertas. Dialah potret permainan pedang yang sangat indah.

Bagian rantai yang terputus dihempas oleh momentum serangan di arah menara jam, tabrakan hebat menghancurkan salah satu dinding bangunan. Pemandangan asap dan puing-puing menabrak alun-alun mengguncang Subaru.

Subaru benar-benar terkagum-kagum.

Pertarungan Reinhard vs Sirius, tidak, pertarungan Reinhard telah memikatnya. Entah iri atau takut yang jadi daya tariknya, itu masalah lain.

“Menyerahkannya kepada Reinhard oke-oke saja. Maka aku ….!”

Subaru tidak boleh terus berlama-lama di sini, secara buta mengamati pertarungan dan menunggu hasil.

Subaru menembus celah-celah keromunan, berlari sampai pintu masuk menara. Lusbel dijadwalkan menjadi bagian pidato Sirius, mungkin ditinggalkan di jam menara karena tak bisa memukul mundur Reinhard.

Menyelamatkannya akan meredakan keresahan Subaru.

Buat jaga-jaga saja, sehingga bila mana Sirius melarikan diri dari Reinhard, keselamatan Lusbel pasti terjamin. Subaru naik tangga spiral sambal merasa gelisah, sekali lagi merasakan suasana gelap dan lembab itu.

Menara jauh lebih terang ketimbang lima belas menit lalu, berkat cahaya menembus masuk dari dinding yang dihancurkan rantai Sirius.

Tidak ada masalah yang menghadangnya, Subaru mendapati Lusbel terikat di lantai teratas. Dia dibiarkan terkelungkup di tanah, air matanya menjadi genangan air. Isak tangis anak itu sungguh menyentuh hati Subaru.

“Lusbel! Kau aman sekarang, jangan khawatir!”

Subaru pelan-pelan mendekap Lusbel yang dirantai.

Mengabaikan semburan air mata hangat tatkala menatap balik Lusbel dengan tatapan menenangkannya.

“Mmmm!”

“Tidak apa-apa, aku dipihakmu. Soal monsternya, pahlawan yang bisa diandalkan sedang bertarung melawannya sekarang. Jadi, mumpung ada waktu ayo keluarkan dirimu dari sini.”

“Mmmm.”

Subaru berbicara sebaik mungkin. Sedikit demi sedikit, tubuh Lusbel melemah, dan ekspresi penuh tangis namun lega menghadap Subaru.

Setelah Subaru mengangguk sebagai tanggapan tatapannya, Lusbel mulai terisak lagi, alasannya berbeda dari sebelumnya.

“Tunggu sebentar. Biarkan aku melepaskan ini darimu.”

Setelah menyentuh lembut kepala bocah yang menangis, Subaru mulai pelan-pelan mengurus rantainya.

Dari bahu hingga pergelangan kaki, rantainya terlilit erat, dia pun terperangkap rapat-rapat. Subaru berhati-hati agar tak menyakiti anak itu selagi melepasnya.

“Yah, sudah kulepaskan. Bisa berdiri? Kalau tidak, aku akan menggendongmu.”

“J-jangan khawatir, itu … terima kasih … hiks.”

Lusbel berdiri goyah, mengguncang kaki kakunya, berterima kasih. Walaupun wajahnya berlinang air mata, dia adalah anak yang kuat. Subaru menepuk kepalanya lagi.

Kemudian seusai memikirkan pertempuran sengit dekat menara.

“Tinggal di sini sebetulnya lebih aman, mungkin untuk jaga-jaga saja kita harus keluar. Bisa jalan? Ada yang sakit?”

“Tangan kananku, sedikit saja ….”

Lusbel mengerutkan kening dan dengan patuh memberitahukan lukanya ke Subaru.

Di tangan kanan terulurnya adalah sayatan tajam yang jelas dibuat oleh senjata macam ular. Melihat darah mengalir dari lukanya, Subaru memberengut kesal.

“Bangsat, mengikat anak sekecil ini, dan bahkan melakukan hal ini padanya.”

“Tidak, tidak. Ini terjadi mendadak … tiba-tiba terasa sakit ketika aku diikat.”

“Tiba-tiba?”

Saat Lusbel diikat, Subaru teralihkan hal lain.

Paling tidak, Subaru semestinya tidak melukainya dalam proses mengurai rantai. Gerakannya sangat berhati-hati, dan seumpama Lusbel menderita cedera serius, Subaru pasti tahu.

—keresahan mengerikan tak menenangkan tumbuh dalam hati Subaru.

“… intinya, tidak boleh diam di sini. Ayo pergi.”

Subaru meraih tangan kiri tak terluka Lusbel dan membawanya ke tangga spiral lantai terbawah, ke pintu keluar menara.

Seketika Subaru kembali ke alun-alun, dia mendengar ….

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

Massa telah menggila, penuh semangat menunggu eksekusi orang aneh yang tertangkap itu, menyerukan penumpasan.

Banyak pasang mata haus darah, mulut menjulit geram, meraungkan pembunuhan.

Kebencian tanpa batas kepada kejahatan. Ingin menyingkirkan seorang musuh yang secara psikologis tak diterima. Emosi ini adalah salah satu naluri membunuh.

Apakah itu Namanya?

—namanya adalah Kemarahan.

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

Kerumunan orang asing betul-betul berdiri berdampingan sebagaimana rekan, bergerak menuju satu tujuan.

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

Dari lubuk hati terdalam mereka saat ini Bersatu, menghadapi roh-roh baik dan jahat.

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

Bersatu, mendorong batasnya, itulah—

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

“Menyatukan perasaan … ini pasti Cinta, benar? Yah, tidak salah lagi adegan ini hanya bisa dicapai Cinta, bukankah kau setuju?”

Alih-alih menyusun rencana, suara janggal Sirius bergumam.

Sirius didesak ke pinggiran menara oleh sang pahlawan. Kerumunan sekitarnya dengan semangat bersorak-sorai demi kematian orang tidak normal, tahu bahwa sang Pedang Suci punya kekuatan untuk membunuh kekejian tersebut.

Sirius yang tanpa harapan nampaknya kehilangan rantai di tangan kirinya. Semisal kedua tangan tak bersenjata, maka dia tak punya cara untuk bertahan melawan tangan sekuat pisau Reinhard.

Jelas-jelas jalan buntu—namun, Sirius memasang senyum tenangnya.

“Apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan?”

“Terima kasih. Kalau begitu, izinkan aku menawarkan sepotong saran. Uskup Agung lainnya barangkali tidak selembut diriku, jadi mana kala kau menanyakan kalimat terakhir, bisa jadi kau kena batunya.”

“—akan aku ingat baik-baik.”

Di hadapan kebaikan hati Reinhard, Sirius berbicara tenang. Reinhard mengangguk baik-baik dan melangkah maju, bersiap mengeksekusi dengan pedang di tangannya.

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

Semakin intensnya suara kerumunan, nasib Sirius kian pasti. Ini sudah jelas, lantas kenapa?

Berdiri di pintu masuk rusak menara, Subaru merasakan hawa dingin hendak menghancurkan hatinya.

Kenapa? Apa maksudnya pula? Dia sangat ingin berbicara, tapi mulutnya tidak bisa bergerak. Begitu mulai berbicara, Subaru tahu akan mengatakan apa.

Subaru tentu akan ikut berteriak, ‘Bunuh dia!’

“Kita mengenal satu sama lain. Saling rendah diri. Saling mengakui. Kita memaafkan satu sama lain. Itulah tindakan Cinta yang benar.”

Mengabaikan Subaru yang takluk, Sirius meneruskan retorika khotbahnya.

Sekilas terdengar masuk akal, namun sekiranya yang bilang Sirius, proporsi dan suasananya akan jadi tidak enak.

“….”

Reinhard sepertinya satu penilaian dengan Subaru.

Tidak perlu lagi membiarkan Sirius berbicara, jadi Reinhard bergerak maju. Namun persis sebelum Reinhard sempat mencapainya, Sirius tersenyum dan mengangkat tangan ke udara.

Mendadak, disertai suara derak, rantai keluar dari ujung mantelnya. Rantai itu menjulur dari lengan bajunya, lalu melilit menara dan Sirius sekali lagi terbang.

Bermaksud melarikan diri—tapi sebelum bisa melakukannya, Reinhard menginjak tanah. Gelombang kejut menyebar ke atas layaknya ledakan.

Tangan menusuknya bergerak halus ke atas. Pada saat itu, hidup Sirius akan berakhir.

“—bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia! Bunuh dia!”

Dan hasilnya, didesak teriakan orang-orang.

Hati Subaru beredebar-debar takut. Terdorong desakan mendadak ….

“REINHARD!”

Subaru meneriakkan nama sang pahlawan, namun termakan hiruk-pikuk massa ….

“—BUNUH DIA!”

Tebasan bersih menyapu bahu kiri Sirius hingga kanannya.

Potongan indah itu tajam sekali sampai-sampai ada jeda beberapa detik sebelum Sirius sempat bereaksi. Akhirnya, darah di tubuhnya menyadari luka, dan badannya roboh tatkala darah mulai menyemprot keluar.

“… ah, dunia lembut ini.”

Organ-orang dalamnya tumpah ruah, tubuh Sirius terbelah dua.

Tubuh bagian atasnya terbang ke atas, menyebarkan darah dan usus di tengah-tengah langit, sedangkan tubuh bagian bawahnya dibiarkan di tempat, menjadi air mancur darah yang menyiram alun-alun.

Neraka yang turun ke bumi.

Tak seorang pun tahan melihat langsung kengerian itu. Akan tetapi, tidak satu orang sanggup memalingkan muka. Tidak bisa mengalihkan wajah.

“… tidak mungkin.”

Setelah mendarat, Reinhard menggumam.

Subaru melihat mata birunya bergetar sedih, bayangan putus asa menyelimuti wajah tampan dan terangnya.

—kemudian Subaru tak bisa melihat apa-apa lagi.

“….”

Subaru, dan kerumunan lainnya, terbaring berserakan di alun-alun yang telah menjadi genangan darah. Dari bahu kiri hingga bahu kanan, semua orang jelas-jelas terbelah dua.

“….”

Darah dan jeroan berhamburan, kesadaran Subaru tidak memberikan waktu untuk memahami kejadian sebelum dirinya dipeluk kematian. Persis sebelum itu terjadi, Subaru merasakan sesuatu lain.

Tangan kiri anak laki-laki memegangnya, pemilik tangannya pun sudah terbelah, tangan anak itu meremasnya kuat-kuat, mencari pertolongan Subaru.

Rupanya pernah dia rasakan di suatu tempat sebelumnya.

 

TL N: Subaru pernah ngerasain ini pas pertama kali dia mati, di toko jarah dia mati dibunuh Elsa, sebelum mati dia genggam tangan Emilia. Gitu ….

 


 

“Sesudah lagunya berakhir dan mereka ngobrol lagi, bukannya kita mesti menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka? Termasuk manisan ringan yang tentunya menutup jarak antara mereka, menurutmu begitu?”

“… ugh!”

“Aduh! Aduh, itu sakit! Itu sakit, ya, SUBARU!”

Berkedip-kedip cepat, Subaru kaget oleh apa yang barusan dia dengar.

Pergantian kesadaran mendadak itu membuatnya mencengkeram tangan Beatrice seperti yang ia lakukan sebelum Return by Death terjadi.

Beatrice yang berkaca-kaca menendang kaki Subaru setelah menderita kekejaman itu, Subaru tersentak sakit dan melonggarkan cengkeraman tangannya.

“K-k-k-k-k-kenapa kau melakukan itu? Mengapa seketika menyerang tangan indah Beatrice-sama? Kau akan merusaknya … tapi tak apa, aku … aku akan menciumnya dan menjadikannya lebih baik, ha … hahaha.”

“Tidak apa-apa, ya! Itu lumayan menjijikkan, ya!”

Beatrice merona karena panik ketika Liliana meraih tangannya. Dia merunduk ke belakang Subaru. Bahkan jika pria itu telah melukai tangannya, kepercayaan kepada rekannya tidak berkurang.

“Subaru, kau baik-baik saja? Barusan, kau mendadak pucat ….”

“E-Emilia-tan ….”

Emilia yang gelisah menghampirinya, mengulurkan tangan ke dahinya. Subaru melihat dirinya terpantul di mata ungu Emilia dan menghela nafas.

Subaru telah kembali.

Menepuk bahu dan dadanya yang hampir dibelah dua. Perutnya terpotong, kepalanya gepeng. Meskipun Subaru yakin sudah berpengalaman dengan kematian, namun kejadian ini adalah pertama kalinya dia serasa dipacung. Yang menggantikan rasa sakitnya adalah rasa syukur dan kehilangan, tahu kematiannya menarik roh Subaru. Subaru merasa menerima kematian ini yang sedari awal menyasarnya.

“Kenapa, tidak bisa menemukan kesimpulan sederhana ….”

Sekali lagi mengorek-ngorek ingatan yang dia warisi, kematian ini mengajarkannya realitas kekuatan Sirius.

Biarpun tidak merasakan sakit intens, rasa kehilangan dan syok menghujam Subaru satu demi satu. Pemahaman parsialnya mengenai fenomena itu telah tumbuh.

Itulah, kali ini, penyebab kematiannya—

“Menjijikkan ….”

Tak usah dikatakan pun sudah jelas, Subaru telah lama mengerti.

Dia dipenggal dan dibunuh dengan cara yang persis sama seperti Sirius. Dengan kata lain, tanpa basa-basi, Subaru menjalani pertandingan kematian yang sama dengan Sirius. Merenungkan tiga pulih menit sebelum reinkarnasi pertama, Subaru hanya melihat kematian Lusbel sambal bersuka cita lalu meninggal. Penyebab kematian yang sebelumnya tak diketahui kini jelas.

—Sirius mampu memindahkan kematian jika ada seseorang di sekitarnya yang mati.

Bukan hanya mencuci otak dengan perubahan emosional. Bahkan perubahan tubuh pun bisa dibagikan. Tidak semata-mata mencuci otak, maupun mencuci tubuh. Ataukah cuci jiwa?

Yang artinya, membunuhnya sama saja membunuh semua orang di alun-alun itu.

“Harus bagaimana?”

Mengalahkan Sirius menggunakan kekuatan brutal bisa saja dengan kekuatan Reinhard.

Namun, harganya adalah nyawa semua orang di alun-alun. Dalam hal ini, hasilnya tidak berbeda dari kekejaman yang dimaksud Sirius.

Memanggil Reinhard hanyalah solusi ringkas dan mudah dipahami awalnya, tetapi kenyataannya jawaban salah. Kalau sudah begini, harus apa?

“Panggil Reinhard, dan menyuruhnya menangkap hidup-hidup ….?”

Itu kurang meyakinkan, tapi tidak mustahil.

Sebab Reinhard mampu membunuh Sirius, dia pun sanggup menahannya. Masalahnya adalah misalkan dia ditangkap hidup-hidup, takkan mungkin dia bisa mengakhiri kontrol spiritualnya.

Subaru sudah menghubungi Sirius dan Lusbel, kemudian menjadi sinting dan mati. Seandainya itu berbahaya, infeksi gila tersebut akan terus-menerus berulang, lantas sia-sia saja menangkap Sirius.

Misalkan dia terbunuh, semua orang akan dikubur bersamanya.

Jika dia tertangkap, ada kemungkinan pengaruhnya menyebar.

Eksistensinya sendiri adalah ancaman bagi orang lain, keberadaannya laksana bom. Sungguh-sungguh layak menyandang gelar Uskup Agung Dosa Besar.

“Selanjutnya apa?”

Tidak bisa menemukan terobosan baru, Subaru jatuh ke dalam dilema.

Seumpama Reinhard dipanggil, dia pasti akan membunuh atau menahan Sirius. Apakah tidak apa, mengabaikan kemungkinan dirinya terhanyut ke dalam kegilaan?

“….”

Bahkan selagi berpikir waktu terus mengalir.

Melihat Subaru yang diam, orang-orang di sekelilingnya kelihatan gelisah. Apakah membiarkan mereka khawatir atau biarkan tidak tahu, Subaru harus mengimbangi kesan itu.

Buru-buru mengubah ekspresi wajahnya dan mengumumkan ….

“Ah, iya. Itu … ya, aku mendadak merasa ingin memuntahkan daging panggang pagi ini. Dadaku sedikit tak nyaman.”

“Ah, aku mengerti, aku mengerti. Aku, juga, sering, merasa mual, dan terus ada banyak gas ….”

“Berhenti di situ. Tidak peduli bagaimana perilakumu, kau masih seorang gadis.”

Subaru menyela lelucon Liliana dengan senyuman dan berbalik ke Emilia. Melihatnya, pacar Subaru menurunkan pandangan.

“Aku percaya Subaru karena dia bilang demikian, tapinya … ini spesial, oke?”

“Mmn, makasih … kalau begitu, aku mau membeli makanan penutup, sesuai saran Liliana. Emilia-tan, tolong nikmati saja lagunya.”

Berkat kebaikan Emilia, Subaru bisa membuat pengumuman padahal sebelumnya ragu-ragu. Setelahnya memegang tangan Beatrice lagi.”

“Beako. Ayo belanja bareng. Mari jalan-jalan dan bercanda seperti biasa.”

“Kenapa mendadak begini—mmmn. Aku mengerti, ya.”

Beatrice membuang tingkah biasanya tatkala melihat wajah Subaru. Lebih tepatnya, menerima tawarannya setelah melihat wajah memohonnya.

Subaru meraih tangan bingung Beatrice dan berlari dari taman untuk keempat kalinya.

Kali ini, alih-alih meninggalkan Beatrice, dia membawa rekan andalnya. Meskipun Subaru belum mencapai terobosan apa pun.

“… hmm.”

—menatap sosok menjauh Subaru dan Beatrice, wanita berpakaian merah melihat duo itu sambil memasang paras serius.

8 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 22”

      1. maksud ane si cari solusi ke beatrice ada gak ajian atau guna-guna agar lepas dari mantra nya sirius, kan beatrice 400 tahun karyawan perpus tuh mungkin ada solusi buat itu

        kan saat subradun ngomong ke larkins kalo bakalan ada pemuja penyihir yg muncul, tapi dia gak dicekek tuh ama satella jadi aman

  1. W ngebayangin lewat sisinya reinhart, ngeliat semua orang di alun2 itu mati, gimana perasaannya ya, anjir sedih bat pasti, aaa reinhartqu :<< ditunggu apdetnya min♡♡

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *