RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 14

Posted on

Sang Pedang Iblis dalam Balutan Sinar Rembulan

Penerjemah: Pinwheel

Pesta makan malam adalah pesta semua orang melupakan permusuhan mereka.

Setelah makan malam, Subaru kembali lagi ke kamarnya yang sudah dipersiapkan para karyawan. Melihat dua futon berdampingan, kekaguman Subaru pada hotelnya meningkat. Mengikuti budaya Jepang di mana handuk, selimut, futon, dan sejenisnya diatur rapih ketika penghuni kamar pergi.

Walaupun dia selalu berpikir kalau penerapan itu membuat orang merasa agak lengah.

“Subaru. Tampaknya ketika kita tak berada di sini, orang-orang berhasil menyusup ke dalam kamar kita, ya—!”

“Ah. Nampaknya futon dan handuk yang kau buat berantakan sudah diatur ulang.”

“Itu ….! Ya, ini pasti jebakan buat memikat Betty, ya. Kedok mereka adalah perhatian sama kita, ya.”

“Sesekali orang semata-mata berniat baik. Meski layanannya tidak gratis.”

Beatrice bersikap waspada dan teliti biarpun matanya hampir tidak terbuka. Subaru cepat-cepat mengantarnya ke tempat tidur.

Karena secara resmi membentuk kontrak mereka, Subaru dan Beatrice tidur di kamar yang sama. Sekalipun Anastasia telah menawarkan Beatrice kamarnya sendiri, ujung-ujungnya dia nanti akan mendatangi kamar Subaru, jadi mereka dengan hormat menolak.

Bukannya bilang bahwa Beatrice itu anak kecil yang tidak bisa tidur sendirian. Sebaliknya Beatrice memanfaatkan kontak malam hari bersama Subaru untuk menghilangkan mana berlebih dari gerbang rusaknya.

“Jadi, Betty tidak di sini karena pengen dekat saja dengan Subaru, ya. Jangan salah paham, ya.”

Beatrice yang awalnya merancang syarat-syarat kontrak, berbicara demikian.

Tetapi niatnya tidak lagi penting. Subaru sudah lama terbiasa tidur sambil mendengar nafas orang lain.

“… benda hijau itu beracun, ya. Tidak dimaafkan, ya ….”

Bahagia dan lelah, Beatrice menyelam ke kasur dan segera tidur sambil memikirkan bubuk wasabi yang membuatnya trauma semalam.

Menyentuh dahi Beatrice yang memberengut, Subaru melihat wajah tidur imutnya sampai puas, lalu berdiri.

“Baiklah. Aku mau mandi juga. Selamat beristrirahat.”

Di samping futon Subaru tergeletak jubah mandi tidak digunakan. Misalkan saja dia tak tahu cara memakainya, Subaru bisa tanya-tanya dengan karyawan. Tentu saja Subaru mengenakan yukata semenjak dirinya berada di dunia asli dan tidak repot-repot mencari tahu cara memakainya.

“Seandainya Ferris dan Anastasia tidak di sana, aku mau menghias salah satu mantel mandi wanita.”

Subaru tentu saja ingin mencari pakaian mandi Emilia. Kandidat Pemilihan Raja semuanya gadis-gadis cantik, tapi apabila Subaru dapat menyesuaikan pakaian Emilia dan mendandaninya, maka dirinya yakin Emilia takkan lebih rendah dari mereka sedikit pun.

“Yah, mau bagaimana lagi. Aku puas setelah mengepang tiga rambut Emilia sesudah makan malam.”

Sekalipun Emilia melepaskan kepangannya sebelum tidur, rambutnya akan melancarkan, ‘Gelombang tiga kepang!’ saat terlepas, sesuai rencana Subaru. Rambut panjang alami tergerai layaknya gelombang, tapi Subaru menganggap rambut perak panjang Emilia adalah yang paling menarik.

“Tiga kepang dan gelombang tiga kepang sama-sama indah. Emilia sungguh seorang wanita lihai. Aku tidak mungkin melakukan itu dengan Beatrice.”

Rambut Beatrice misteriusnya tidak pernah tidak kepang dua.

Barangkali karena dia roh buatan. Mengubah gaya rambut mungkin bisa, tapi selalu kembali ke bentuk asli tatkala tangan Subaru melepaskan rambutnya. Terlampau mempesona sampai Subaru mau memainkannya berkali-kali.

Selagi menanti-nantikan keesokan pagi, Subaru mengambil pakaian mandi, berjalan pelan-pelan agar tak membangunkan Beatrice. Memikirkan orang-orang sekamarnya, Subaru tidak perlu was-was. Dia lumayan kasihan pada orang-orang yang berani meluncurkan skema jenis apa pun.

‘Kendati aku ragu terjadi sesuatu, aku langsung tahu misal ada yang janggal. Aku harap semua orang bisa menghabiskan malam dengan damai.’

Demikianlah ucapan menenangkan Reinhard ketika mereka meninggalkan ruang makan. Rasa aman bukan hanya terletak di hotel saja, tapi meluas ke seluruh wilayah. Mengenal Reinhard, bahkan satu kota pun akan merasa aman.

Jadi, untuk sekarang, Subaru dapat berkeliaran di hotel tanpa perlu berjaga-jaga. Walaupun sayangnya hotel tidak punya pemandian terbuka, Subaru masih bersemangat dikarenakan dia menemukan tempat mandi paling nikmat dalam hotel inap.

“….”

Subaru berhenti, wajah santainya berubah saat melihat koridor halaman, lokasi pertarungan Reinhard serta Garfiel. Malam harinya, suasana terasa berbeda dan agak menenteramkan.

Bulan bundar mengambang di langit gelap, diselimuti awan tebal yang memberi pemandangan indah terhadapnya. Angin dingin sepoi-sepoi bertiup dari taman, tempat seseorang berdiri.

“—Wilhelm-san?”

Punggung gagah dan rambut putih panjang.

Sepintas, Subaru tahu pria tua berpakaian yukata itu, dan hanya satu orang pria yang cocok dengan yukata tersebut.

“Subaru-dono, apa saya mengejutkan Anda?”

Mungkin sudah lama menyadari pergerakan di belakangnya, Wilhelm balik badan dan menyambut Subaru, matanya lembut.

Berdiri sambil menyelipkan tangannya di jubah mandi. Postur tubuhnya, berkombinasi dengan taman ala Jepang. Mengapa gambarannya sangat natural?”

“Kau mau mandi?”

“Ya, itu rencanaku. Ngomong-ngomong, aku datang ke sini untuk melihat taman senja hari, bukan karena tersesat sebab aku tidak familiar dengan hotelnya.”

“Itu takkan terjadi pada Subaru-dono. Saya pun datang tuk menikmati keindahan taman, lantas saya yakin bisa memahami suasana hati Subaru-dono.”

“… masih memalukan rasanya dipandang tinggi seperti ini.”

Subaru berbalik, merasa malu, tidak berlebihan sedikit pun dan dia berbicara penuh keyakinan padanya.

 Wilhelm adalah orang yang paling dihormati Subaru semenjak dirinya datang ke dunia ini. Ada orang-orang yang ingin berdiri di sampingnya, dan orang-orang yang tidak ingin dia saingi, tapi satu-satunya orang yang hanya semata-mata dihormati adalah Wilhelm.

“Subaru-dono mungkin datang ke sini mencari kedamaian dan kekhidmatan taman malam hari. Kehadiran saya di sini pastinya mengganggu.”

“Tidak sama sekali. Malahan, melihat sang Pedang Iblis di taman berangin ini sempurna banget sampai selamanya ingin aku ukir dalam hati. Aku suka melihat orang-orang disinari cahaya bulan.”

Setahu Subaru, kecantikan Emilia tak salah lagi sepadan dengan kecantikan bulan malam.

Rambut perak panjangnya berbeda dari sinar matahari. Kecantikan Emilia bagaikan ilusi cahaya rembulan, dan Subaru mau menjadi bintang yang melayang di sekitar bulan.

Jadi, melihat Pedang Iblis berdiri bermandikan cahaya bulan adalah pemandangan yang amat ingin dilihat Subaru.

“… Subaru-dono mestinya jangan membuang kata-kata sepenuh hati pada orang tua seperti saya. Sekiranya Anda membisikkannya kepada wanita tercinta, Anda pasti ‘kan memikat perhatiannya.

“Ucapanmu yang barusan diserap udara pasti menjadi insektisida semua kupu-kupu indah yang aku pikat. Ngomong-ngomong, orang yang ingin aku tuturkan kata-katanya dia tidak paham.”

“Berusaha memancing senyum indahnya, merangkai kata-kata sempurna … perasaan berdebar-debar itu salah satu kenikmatan cinta, Subaru-dono.”

Mendengar suara santai Wilhelm, bahu Subaru terangkat rileks.

“Oh? Kau roman-romannya merenferensikan kisah cinta nan jauhmu. Apa kau pernah merasakan itu, Wilhelm-san?”

“Anda ingin mendengarnya?”

“Pastikan setiap detailnya dijelaskan.”

Subaru membungkuk hormat secara seremonial, dan Wilhelm bilang, “Mau bagaimana lagi,” tingkahnya diwarnai tatapan kegembiraan.

“Saat saya masih muda, bicara saya sama mengerikannya seperti sekarang ini. Saya tidak berminat mendiskusikan hal lain selain pedang, karena saya hanya tertarik bermain pedang saja. Pasti membuat bosan istri saya di kali pertama bertemu.”

“Tapi, istrimu bukannya tidak suka ngomong dengan Wilhelm-san, kan?”

“Dia adalah orang berpikiran terbuka. Entah karena tanggung jawab berat yang membebani hati, atau kabur dari tugas, mengabaikan pemikiran orang lain, kami tak pernah membahas hal-hal tersebut dalam obrolan kami. Dia sedari lahir adalah orang lembut nan hangat.”

Wilhelm menutup mata dan tersenyum sedih.

Subaru membungkuk di koridor tanpa berkata apa-apa, mendengarkan ingatan pria tua itu.

“Karena saya orang anti sosial, istri saya yang selalu mengungkit topik selama percakapan. Terlebih lagi, gagal menyadari betapa tertariknya saya padanya. Kapan pun berbincang dengannya, saya berusaha tak menghadapi pergolakan dalam hati ini.”

“Wihelm-san betulan buruk soal wanita, ya.”

“Beneran, saya menyerahkan semuanya kepada pedang. Ketika saya mencengkeram pedang, saya melupakan semuanya, seolah-olah mengayunkan pedang belaka ‘kan memberi cara bertahan hidup—pengingat alasan saya mengangkat pedang adalah istri saya.”

“Apakah itu kala kau tersadar telah mencintainya?”

“… Anda tampaknya membaca isi hati saya, Subaru-dono.”

Wihelm terdiam, Subaru mengikuti kalimat selanjutnya.

Wilhelm tentu tidak tahu raut wajah yang dia pasang waktu-waktu ini. Tetapi Subaru merasakan gelombang kebanggaan kuat menerpa dirinya yang melihat wajah Wilhelm.

Tatapan mata Wilhelm, kerutan wajahnya, nada suaranya, segalanya legendaris. Istri yang dicintainya masih serasa kuat sebagaimana dahulu, Theresia van Astrea.

Tindak-tanduk, paras, bahkan eksistensinya tersendiri dengan rendah hati menyanyikan cinta yang dia dekap untuk istrinya.

Tidak peduli siapa pun yang melihatnya, tak salah lagi akan tahu dirinya tengah jatuh cinta.

Walaupun segala sesuatu di dunia telah layu dan memudar, tak seorang pun akan gagal memahami kedalaman emosi tersebut.

Itulah kedalaman cinta Wilhelm, jelas-jelas sesuatu yang mesti dia pegang dengan bangga. “….”

Tatkala Subaru menatap wajah Wilhelm, matanya tanpa sadar tergenang air mata.

Perasaan tak tertahankan muncul secara spontan, berkumpul menjadi panas di mata. Subaru tidak tahu hatinya sudah sangat tersentuh. Mengapa hatinya terasa begitu hangat sewaktu melihat seseorang jatuh cinta?

Menangis dalam situasi ini hanya akan mengganggu Wilhelm.

“Sesuai tutur Subaru-dono, seketika itulah saya menyadari perasaan untuk istri saya.”

Subaru menurunkan wajahnya, pura-pura menggaruk kepala selagi menyembunyikan air mata. Kendati harusnya tahu melihat Subaru berkaca-kaca, Wilhelm terus berbicara.

Benarkah dia hanya tenggelam dalam masa lalu, ataukah pura-pura tak menyadari reaksi Subaru? Anak muda itu tidak tahu, jadi dia diam saja dan setia mendengarkan.

“Pedang adalah segalanya bagi saya, tapi pedang sendiri merupakan satu bagiannya saja. Istri sayalah yang membuat saya menyadari kebenaran jelas ini, dan setiap kali saya mengayun pedang, saya mengingatnya.”

“Apakah itu, benar, hingga kini?”

“—kini lebih terasa nyata daripada sebelum-sebelumnya.”

Wilhelm berhenti sejenak dan merumuskan tanggapan.

Akhirnya, memungguni sinar bulan, Wilhelm berbalik menghadap Subaru. Perasaan yang melintas di wajah pria tua itu kelewat rumit sampai-sampai Subaru tidak mampu membaca seluruhnya.

Kebanggaan. Penyesalan. Keraguan. Antusiasme. Rasa malu. Keberanian.

—namun semua itu ialah buih-buih cintanya.

“Saya berusaha mati-matian tuk terus menggenggam pedang, agar terus diingatkan akan istri saya. Bahkan kematian pun tak mampu merenggutnya dari ingatan ini, saya ingin mati sambil memegang pedang. Saya akan bersamanya selamanya.”

“….”

Cara canggung dan lugas Wilhelm mengekspresikan cintanya yang tak bisa dia lakukan sebaliknya.

Subaru menelan ludah, berulang kali menarik nafas dalam-dalam sehingga tekanan dalam hatinya longgar dan lidahnya tidak mati rasa lagi, sampai akhirnya merasa sanggup berbicara kembali.

“Kalau aku mati dan semacamnya, tolong jangan bicarakan tanda-tanda kejadian yang akan terjadi kelak. Wilhelm-san luar biasanya jelas-jelas sungguh-sungguh sangat-sangat benar-benar banget-banget betul-betul teramat-amat seluruhnya bukan main bahkan jauh lebih muda dari super muda, memikirkan pensiunanmu bakal menyusahkan orang nantinya.”

“Subaru-dono?”

“Crusch dan Ferris sama-sama mengandalkan Wilhelm-san. Hilang ingatan Crusch tidak diragukan lagi masalah serius, dan Ferris yang mendukungnya belum mengutarakan ini, tapi aku yakin dia merasa menyendiri. Akan kacau jika Wilhelm-san tidak membantu! Dan, aku juga!”

“….”

“Aku juga punya banyak, banyak hal yang ingin dikonsultasikan dengan Wilhelm-sam. Kita tentu berada di faksi berlawanan, jadi barangkali aku naif saja, tapi, aku ….”

Subaru dari dalam hati menyayangi Wilhelm.

Wihelm yang mengubur hatinya ke dalam cinta kepada istri, berusaha membalaskan dendamnya, seseorang yang Subaru terlampau hormati. Meskipun itu tidak terjadi, biarpun hubungan mereka sebatas bimbingan pedang sepuluh hari, maka Subaru masih kelewat menghormati kekuatan lagi ketabahan Wilhelm.

Mendengar Wilhelm yang dia hormati nian menyebut, ‘Kematian,’ sudah mengerikan bagi Subaru.

Subaru jauh lebih peka terhadap gagasan orang-orang tersayangnya mati. Lantaran kontraknya dengan Roswaal juga pandangan pribadi mengenai Return by Death telah berubah.

Ada juga sebagian dirinya yang diam-diam merisaukan Emilia dan Beatrice.

“… saya pun masih sama seperti sebelumnya, sejatinya buruk merakit kata-kata.”

Mendengar tukas keras kepala nan putus asa Subaru, Wilhelm tersenyum.

Tatapan langsung pria tua kepada Subaru terlihat hangat, nafasnya masih setengah-setengah, dan dia berbicara.

“Mengerikan sekali sampai membuat Anda begitu gelisah. Terlepas dari imbuh sebelumnya, saya tidak senantiasa memikirkan kematian. Sekalipun kebenaran itu tidak terhindari, saya sudah berjuang melalui tantangan paling sulit.”

“… ah.”

Subaru sedikit santai ketika tersadar Wilhelm membicarakan Paus Putih.

Wilhelm tidak menghadapi pengorbanan kecil dalam pertempuran melawan musuh tertakdirkannya. Waktu itu, dia tahu betul kemungkinan kematiannya. Tapi pada akhirnya, dia menang, dan—

“Saya pikir sekarang ini dalam kondisi baik. Saya memenuhi harapan tersayang saya dan selamat, kemudian bisa hidup bebas dari rasa malu.”

“Wihelm-san ….”

“Saya melakukan apa yang perlu saya lakukan, dan saya rasa tiada yang lebih terhormat dari itu. Dulu dan sekarang, selain hanya mengayunkan pedang, dada saya bergetar mengejar kebahagiaan. Saya memiliki orang-orang yang mempunyai sumpah dukungan saya, saya pun mengunjungi makam istri. Saya telah menerima banyak berkah.”

Ya, itu saja.

Benar sekali. Wilhelm tidak melakukan hal absurd.

Senyum pria itu stagnan, Subaru sebagai anak muda yang suka berleha-leha tidak mungkin memahaminya. Namun senyum itu sama sekali bukan palsu ataupun ironis.

Wilhelm sendiri tidak tidak masuk akal. Bahkan dalam kejadian tak terduga yang terdapat masalah demikian, Wilhelm takkan menumpuk beban yang lama dipikulnya kepada Subaru.

Selain daripada itu, sejak awal pun bukankah Subaru yang berusaha mendorong Wilhelm mengutarakan isi pikirannya itu tidak baik?”

“Subaru-dono—ini adalah kebajikan, tapi kelemahan juga.”

“….”

Melihat Subaru yang gundah gulana, Wilhelm berbicara lirih.

Tiada senyum dalam suaranya, tapi tiada kritik pula. Lebih tepatnya, caranya bicara ibarat orang tua mengingatkan yang lebih muda.

Jujur saja, laksana seorang kakek berbicara dengan cucunya.

“Istri saya juga melakukan ini, kebiasaan buruk mengabaikan dan menyingkirkan perasaan pribadi saat fokus pada orang-orang di sekitar Anda.”

“Kebiasaan buruk, ya …. Tidak, aku bukan orang baik. Aku tidak mau apa-apa seperti kebahagiaan semua orang. Cuma ingin orang-orang terdekatku bahagia.”

“Kisaran orang-orang yang Anda anggap dekat juga masalah. Sementara bukan itu yang diinginkan istri saya, bagi seorang wanita, dia memiliki kekuatan besar dan mampu mempengaruhi lebih banyak orang dari yang dia inginkan.”

Istri Wilhelm, Theresia, adalah sang Pedang Suci sebelumnya.

Meskipun kurang pengetahuan umum, Subaru mendengar banyak tentangnya selama setahun terakhir. Perang saudara dalam Kerajaan Lugnica yang dikenal sebagai Perang Manusia Hewan, telah diakhiri oleh sang Pedang Suci sendirian.

Yang dia capai dengan kekuatan tak patut itu adalah keselamatan stabilitas negara. Natsuki Subaru tidak akan pernah setara dengan pahlawan tersebut.

“Aku mengerti, tentang istrimu, tapi aku tidak mampu menandinginya dengan cara apa pun.”

“Istriku hanyalah wanita biasa pengagum bunga belaka. Walaupun dia sang pahlawan legenda, perangainya tidak selalu melambangkan kepahlawanan. Dan Subaru-dono, reputasi Anda baik, pengaruh Anda pun luas. Di masa depan nanti, jangkauan Anda pastinya meningkat, dan Anda pasti dapat melakukan hal lebih lagi.”

“Hal semacam ini ….”

“Saya yakin Subaru-dono tidak bisa menggapai apa-apa sendirian, beliau ‘kan bekerja bersama orang lain, lalu menjadi orang hebat dan sukses.”

“….”

Terdiam.

Wilhelm terlalu melebih-lebihkannya, dan itu membuat Subaru tertegun. Dia adalah orang yang mampu melakukan hal hebat, bisakah Subaru mempercayainya?

Dia rapuh lagi lemah, kecerdasannya kurang, idenya kadang kala buruk dan tanpa dasar. Karena dialah orang yang tidak sanggup melakukan apa pun sendirian, dia melulu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya.

Metodenya tentu saja serba kekurangan. Untuk sekarang, dia hampir tidak berjuang, tapi akhir-akhirnya dia kelak menghadapi kegagalan.

Tatkala waktu itu tiba, Subaru mengecewakan begitu banyak orang.

“Maaf mengemukakan berkali-kali hal yang sama. Pasti menyusahkan Anda untuk mendengarnya terus-menerus.”

“Wilhelm-san, aku ….”

“Kemungkinan besar tidak banyak orang yang mengetahuinya, tapi suatu hari nanti semua orang akan paham.”

“Aku sekadar anak kecil tidak dewasa yang kikuk melakukan apa pun.”

“Yah, anak kecil tidak dewasa yang kikuk melakukan apa pun sangat aku sukai.”

Beberapa waktu berlalu, Wilhelm mengangguk puas.

“Dan orang-orang yang berpikir demikian tentunya akan meningkat mulai dari sekarang.”

Seolah-olah tersentuh ucapan Wilhelm, Subaru lagi-lagi terdiam.

Sebagian dirinya merasa kewalahan, ingin membuang gagasan itu dari benaknya. Tetapi karena ide tersebut tidak lain dari Wilhelm, Subaru tak bisa menyerah begitu saja.

Dalam lubuk hati terdalamnya, dia tak mampu mempercayai dirinya sejauh itu. Tapi dia pun tidak dapat membuang kepercayaan Wilhelm.

Subaru putuskan untuk menyimpan perasaan yang dia rasakan, hingga dia selesaikan.

Subaru sangat sadar kekurangan pribadi. Jadi apa pun perasaan, dorongan, ataupun kata-kata, dia putuskan untuk bawa bersamanya.

Dan begitulah caranya memperlakukan ucapan Wilhelm.

Subaru yang habis-habisan memilah perasaannya gagal menyadari sepasang mata lembut Wilhelm.

“Saya terlalu banyak bicara dan kelamaan menahan Anda di sini, saya meminta maaf.”

Memperkirakan bahwa Subaru tuntas bergulat dengan dirinya sendiri, Wilhelm angkat bicara. Menerimanya, Subaru menilai kejadian malam ini akan segera berakhir.

“Aku juga, maaf kebanyakan bertanya, tapi aku pengen mendengar cerita cintamu dengan istrimu.”

“Tidak, sudah lama semenjak saya merasa senang membicarakan istri saya. Belakangan ini, baik Crusch-sama dan Felix sedang sibuk.”

“Selain mendengar kisah cinta, aku juga mendapat wawasan mengenai bagaimana faksi lain beroperasi!”

“Sedikit sentimental. Mendengar ocehan panjang pak tua itu teramat membosankan.”

Mata biru Wilhelm menyala penuh kasih sayang selagi tersenyum ringan. Subaru tak memperhatikan emosi cepat lintas dan malah fokus pada apa yang barusan terjadi.

Awalnya Wilhelm berdiri sendirian di taman.

Dia memberi tahu Subaru dirinya datang menghayati taman malam hari.

Lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan taman adalah koridor tempat Subaru saat ini berdrii.

Bahkan berdiri di tempat Wilhelm sekarang kurang melihat lanskap taman bersimbah cahaya bulan.

Tentu saja Subaru barangkali kebanyakan berpikir. Tapi, jika ada hal lain yang berhasil membawa Wilhelm ke kebun, maka ….

“… di sana, di sanalah Reinhard berdiri.” “….”

Lokasi Wilhelm selama ini berdiri, adalah area bekas pertarungan Reinhard dan Garfiel.

Sepetak kerikil itu adalah tempat pendekar pedang rambut merah tampan berdiri, gambaran imobilitas tak tergoyahkan.

Wilhelm merasa terganggu dan pergi memastikannya dianggap wajar. Akan tetapi hanya Wilhelm yang tahu alasan dirinya belum juga meninggalkan tempat tersebut.

“Wilhelm-san. Aku tidak mau mengurus urusan keluarga lain, dan aku sudah lulus menjadi karakter hiperaktif yang bersikeras mendengar segala sesuatu semata-mata untuk memuaskan rasa penasaran sendiri, tapi ….”

“Ah, jangan ragu untuk bertanya.”

“Apa kau tidak rukun sama Reinhard? Kendati kalian jelas-jelas keluarga?”

Kakek dan cucu, hubungan kompleks dalam Keluarga Astrea.

Bahkan tahu dia telah merusak kepercayaan yang telah dibangun antara Subaru dan Wilhelm, pemuda itu masih mengungkit subjeknya.

Barangkali dia tak melakukannya semisal tidak berbicara dengan Wilhelm di taman. Subaru melihat sosok Wilhelm yang matanya beralih dari jejak cucunya.

Setelah pembicaraan mereka tamat, bagaimana bisa Subaru menahan diri untuk tidak bertanya?”

“Ketika berbicara bersama Subaru-dono, aku memikirkannya.”

“….”

“Kenapa saya tidak bisa membicarakan kalimat-kalimat ini kepada cucu sendiri?”

Kata-kata tertekan itu berasal langsung dari hati Wilhelm.

Wajahnya mendatar. Dia tanpa ekspresi, jelas-jelas bukan tanpa emosi. Menekan perasaannya untuk menyembunyikan ratapan di balik cangkang kerasnya.

Wilhelm kini menampakkan penyesalan murni.

“Saya adalah seorang pria penuh penyesalan, tapi ada tiga hal yang sama sekali tidak becus saya lakukan. Salah satunya adalah jarak antara diri saya dan cucu saya.”

“Tapi, bukannya Wilhelm-san menyesalinya?”

“Bahkan penyesalan pun tidak diizinkan. Kritik yang saya ucapkan kepada cucu saya … Reinhard, sungguh kasar. Sesuatu yang tak termaafkan, bodoh, tidak sanggup diperbaiki lagi.”

Wilhelm yang masih menyembunyikan perasaannya dengan kedok tanpa ekspresi, nampaknya terbakar emosi, nyala api yang mengikis Wilhelm bertahun-tahun. Ialah salah satu dari kemarahan dan penyesalan, satu hal yang senantiasa dia pegang.

“Saya menggunakan pedang saya tuk melawan pembunuh istri saya sebagai alasan untuk menghindari penyesalan tersebut, dan seusai berhasil menghancurkan musuhnya, saya sadar mesti mencari cara berdamai.”

“Tapi kau kurang berani?”

“Saya sungguh-sungguh memalukan. Cucu saya tentu saja membenci saya sekarang. Memikirkannya, saya tak mampu melangkah maju.”

Wilhelm mendesau kecewa, nampaknya tenggelam dalam pemikiran sendiri. Subaru tercengang dan tidak sengaja tertawa.

“Subaru-dono?”

“Maaf, aku tidak bermaksud tertawa, itu tidak pantas.”

Wilhelm menatap tidak percaya Subaru. Sungguhan, pria tua ini, berapa kali dia mengejutkan Subaru dalam satu malam?

“Wilhelm-san sepertinya berpikir tidak layak menjadi kakek Reinhard ….”

“Wah, iya. Dibanding cucu saya, saya tertambat setelah menyadari kesalahan saya. Dia terlampau baik kepada orang sepengecut diri saya ….”

“Seandainya kau berpikir begitu, maka aku sekadar melihat seorang kakek yang takut ditolak cucunya.”

“… hah?”

Wilhelm melepas kesuramannya dan menatap wajah Subaru. Subaru melambaikan tangan, masih menahan tawa.

“Aku tidak sepenuhnya paham latar belakang buruknya hubungan antara Wilhelm-san dan Reinhard, mungkin saja aku yang salah paham. Tapi menurut orang luar, Wilhelm-san ingin berdamai dengan Reinhard dan kelihatannya sungguhan mau minta maaf, lantas minta maaf sudah jadi ide bagus.”

“Tapi Reinhard takkan memaafkan saya.”

“Sekiranya awal-awal dia tak memaafkanmu, terus minta maaf sampai dia memaafkan. Kau minta maaf bukan untuk dimaafkan, kau minta maaf ya untuk minta maaf doang, kan? Orang yang meminta maaf tidak usah risau karena mereka bukan orang buruk.”

“….”

Kali ini giliran Wilhelm yang kehabisan kata-kata terhadap tukas ekstrem Subaru.

Tentu saja Subaru tahu ini sangat keras kepala. Meski begitu, dia yakin kalau bersiteguh hukumnya penting.

Demi memotivasi Wilhelm. Demi membuatnya menghadapi Reinhard.

Tentu saja setelah bersikap asing selama bertahun-tahun, permintaan maaf awalnya bakal dianggap, ‘Orang ini kenapa?’ akan tetapi, andai terlalu sering meminta maaf, maka yang tadinya, ‘Orang ini kenapa?’ menjadi ‘Mau bagaimana lagi,’ atau, ‘Duh, orang ini menyebalkan banget.’

“Saya pikir semuanya malah kian buruk.”

“Tapi paling tidak statusnya berubah. Bukankah perubahan apa pun lebih baik ketimbang terjebak dalam scenario terburuk sekarang ini?”

Secara universal Subaru terkenal atas awal mengerikan. Menembus hambatan antar pribadi tidak ada artinya bagi Subaru.

“Setelah bertahun-tahun lamanya, biarpun kau memberinya uang saku, kau bisa saja langsung melunakkan hatinya. Walaupun kesannya buruk, jika melakukan hal baik untuknya, bukankah dia akan menganggapmu orang baik? Reinhard maha gampang buat dihadapi, dan bahkan aku mendadak langsung menjadi kawannya.”

“Tapi … tidak sesederhana itu dengan Reinhard ….”

“… Reinhard bilang dia mau mendengar serba-serbi pertempuran Paus Putih.”

Gaya bicara Subaru mengandung humor, dan sedikit demi sedikit Wilhelm rasanya menyantai.

Subaru bilang kepada Wilhelm yang dikatakan Reinhard di luar ruang teh. Sesudah mendengar ceritanya, Wilhelm tiba-tiba membuka mata biru.

“Aku tidak tahu apakah Paus Putih terkait sama hubungan burukmu, tapi jika iya, maka Reinhard pasti mempedulikannya. Jelas dia mendengar bagaimana Wilhelm-san menghajar Paus Putih, dan aku yakin dia mau tahu caramu membalaskan dendam neneknya setelah sepuluh tahun berlalu.”

“….”

“Orang itu juga mau mengubah hubungan kalian yang kaku.”

Subaru tidak tahu niat Reinhard.

Subaru selalu menganggap Reinhard sebagai pria yang konyolnya jauh melampaui sempurna, tidak pernah menghubungkannya dengan kelemahan atau keapatisan sebelumnya.

Namun ide-ide itu cacat. Reinhard juga manusia. Dia bisa resah seperti orang lain.

Bahkan seseorang yang Subaru anggap manusia super, Wilhelm berada di bawah permukaan, pria biasa dan kakek biasa, penuh masalah dan kekurangan biasa.

Tidak mengherankan andai kata hal serupa berlaku pada Reinhard.

Imbuh Subaru barusan mengagetkan Wilhelm, dia memejamkan mata seakan sedang bermeditasi. Waktu seolah-olah mengaliri bersama silir-silir angin tenang.

Lalu setelah hening sejenak di antara keduanya, Wilhelm kembali membuka mata.

“Cucuku … Reinhard akan mendengarku.”

“Ganggu dia dengan salam halo dulu dan bangkit kembali semisal dia menolakmu. Kerap kulakukan pada gadis-gadis yang kutemui kecuali Emilia.”

“Masa ….”

Setelah mendengar jawaban Subaru, Wilhelm menggeleng kepala.

Selanjutnya pria tua itu mendongak, kepalanya menyandar ke belakang dan menatap bulan yang tergantung di langit.

“Subaru-dono tidak terkalahkan.”

Kata-kata itu diucapkannya sembari tersenyum sedikit.

3 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 14”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *