RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 5 BAB 15

Posted on

Kesunyian nan Menulikan

Penerjemah: Sanctuary Guardian

Keesokan paginya, Subaru yang matanya memerah berdiri di halaman yang diterangi matahari. Merasakan kerikil keras dan pasir di sepatunya, dia menghirup udara sejuk pagi.

Emilia mengarahkan senyumnya ke Subaru yang senang sembari menggumam santai, “Mmmm!”

“Ada apa? Subaru kelihatannya hari ini senang, apa terjadi hal baik?”

“Banyak hal baik terjadi. Peristiwa penting terjadi semalam, rambut kepang menawan Emilia sungguhan tidak terduga, pemandiannya luas dan nyaman lagi.”

“Ah, aku sama. Kemarin juga nyaman sekali mandinya. Pemandian Mansion Roswaal memang hebat, tapi pemandian dikelilingi batu rasanya segar.”

Semalam, keindahan rambut perak Emilia mengalir deras, seperti kepang Subaru yang bergoyang, sangat menakjubkan. Meskipun rambut lurus panjang biasanya juga menunjukkan kecantikan dingin layaknya salju, melihat gaya rambut tidak lazim padanya seolah terdapat keistimewaan tersendiri.

Lagipula, bagaimanapun penampilannya, Emilia sama menarik.

Berpikir begitu, Subaru mengalihkan perhatiannya kembali ke Emilia masa kini ketika dia berbicara lagi.

Kendati pemandian tertutup, pemandiannya sudah bagus sekali sampai menyerupai pemandian terbuka, dekorasinya pun membangkitkan citra alamiah dari alam terbuka. Batu bulat menutupi tepian sepanjang dinding kamar mandi. Jika batu bulat diganti marmer, pemandiannya akan kehilangan banyak bau-bau uniknya.

“Sebab aku pertama kalinya melihat jelas tipe pemandian semacam ini, aku malah iseng bersenang-senang sama Crusch-san dan Felt-chan.”

“Adegan fanservice dari gal game. CG yang wajib dikumpulkan.”

“C … G?”

“Bukan apa-apa, aku hanya menggodamu saja. Kau terlihat bahagia, ya?”

“Mm, banget.”

Emilia yang kebahagiaannya dibagikan ke Subaru, juga sekilas tampak, gembira, perasaan ini mengurangi kecemasan dan kecurigaan awal yang menyertai perjalanan mereka menuju Pristella. Masalahnya—

“Dua orang di sana punya wajah tidak bahagia dan suram.”

“… bukan apa-apa, ya.”

“Tolong jangan pedulikan aku … uhuk. Aku hanya sedikit, uhuk, kebanyakan minum.”

Berdirilah seorang loli yang memperlihatkan raut wajah dingin dari arah yang ditunjuk Subaru, serta seorang pria yang sosok mewahnya pucat.

Tak perlu disebut lagi, mereka berdua adalah Beatrice dan Otto. Setelah dipertimbangkan dengan cermat, Subaru putuskan menyapa Otto yang warna wajahnya hampir transparan.

“Otto. Batang hidungmu tidak kelihatan pas makan malam semalam, kau pergi ke mana?”

“Sudah kukatakan ketika berpisah, uhuk, jarang-jarang aku mendatangi Pristella, dan selagi sempat, uhuk, kita di sini, aku ingin membangun sejumlah koneksi.”

“Kau kenapa? Mabukmu malah lebih parah dibanding mabukmu di kali pertama kita bertemu.”

“…? Ingatanku mungkin kacau, tapi, uhuk, pertama kali bertemu dengan Natsuki-san tidak ada kaitannya dengan alkohol ….”

“Wah, itu, sih, memorimu, jadi pikirkan semaumu.”

Otto yang dicela entah karena alasan apa, memasang paras tak berdaya, walaupun komentar Subaru semuanya diperdebatkan.

Menurut Subaru, dia sering bertemu Otto, tapi kali pertamanya adalah ketika Otto stress di kedai minuman, wajahnya sepucat sekarang. Tak lama setelahnya, Subaru kembali dari kematian. Oleh karena itu, dari sudut pandang Otto, pertemuan pertama mereka adalah pertemuan memalukan di mana Subaru bertanggung jawab menyelamatkannya dari Pemuja Penyihir.

Tentu saja sia-sia diperdebatkan sebab keduanya bisa-bisa salah.

“Jangan lakukan hal yang memberi Beako kebiasaan buruk. Yah, aku paham kau berusaha membantu faksi kami.”

“Aku melakukan semua ini atas kemauan pribadi—walaupun tidak paham mengapa diriku melakukan ini.”

Otto yang kepalanya terasa agak berat, tidak mampu menanggapi Subaru. Setelah sejenak dia melihat halaman, mengubah arah pembicaraan dengan, “Sebetulnya ….”

“Garfiel kenapa? Jarang-jarang melihatnya tidak bangun jam segini. Bukannya lebih bagus untuk bangun lebih awal agar dia menemukan lokasi tertinggi dan berteriak dari sana?”

“Barangkali tidak ada tempat tinggi di sini, tapi bukan itu alasannya tidak di sini. Biarlah, rahasia remaja itu. Tolong lembutlah padanya kali berikut kau bertemunya.”

“Bagi seseorang yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, bukannya kata-kata itu menyesatkan!? Ahhh, kepalaku masih sakit.”

“Kau benar-benar menyakiti diri sendiri.”

Menahan Otto yang koma jatuh ke lantai, Subaru tersenyum. Kemudian berbalik dan menatap Beatrice yang diam saja sedari awal percakapan mereka.

“Jadi, kau bagaimana, Beako? Kemarin kau bersemangat banget, tapi sekarang serba muram. Tidak imut, tahu.”

“Jangan asal asumsikan sesuatu, ya. Aku tidak murung. Betty mendadak mengingat beberapa hal yang mesti dia teliti dengan cermat, ya.”

“Ada apa? Seandainya kau punya masalah, bilang saja. Semisal berbahaya, seseorang barangkali tahu cara menanganinya.”

Terkejut dengan perkataan Beatrice, Subaru menyipitkan mata dan memberi isyarat siap. Emilia pun mengangguk seakan mendengarkan dengan seksama.

Beatrice menggigit bibir, mengungkap keragu-raguan langka, lalu memilah kata-kata yang kedengaran angkuh.

“Awalnya kemarin, setelah Subaru mengabaikanku untuk bermain dengan Garfiel, ya.”

“Penafsiran yang dipertanyakan, tapi lanjutkan.”

“Betty pergi mencari Emilia buat menghabiskan waktu bersama-sama, ya. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan seorang pegawai yang kupikir tidak ada salahnya berbicang sedikit, ya.”

“Beako … berbincang sedikit ….!?”

Tahu kemampuan komunikasi Beatrice sedikit meningkat membuat Subaru terperangah. Dia menghadap Emilia, terheran-heran, dan pacarnya mengangguk bersemangat.

Luar biasa! Beatrice yang memulai percakapan dengan orang asing beneran tidak terduga. Boleh jadi kesegaran perjalanan membuat pengalaman Beatrice tumbuh seketika.

Setelah kembali pulang, Subaru harus memperbaharui Buku Harian Pertumbuhan Beako dengan perkembangan ini sesegera mungkin.

Buku harian yang mencatat pertumbuhan harian Beako sudah sampai tiga jilid. Berkat perjalanan ini, Subaru dapat menambahkan halaman baru.

Tidak sadar kegiatan hariannya direkam, Beatrice mendapati perhatian sepasang sejoli itu menyebalkan, dan selalu saja bereaksi tidak puas, “Kau berlebihan, ya!”

“Aku teruskan, ya. Saat pelayannya melihat Betty, dia bilang punya kabar baru dan menampakkan paras misterius, ya. Dia bilang, ‘Pada malam hari, sesuatu menakutkan menghantui hotel ini,’ ya.”

“….”

“Sejujurnya, kala Betty mendengar pegawai itu ragu-ragu memberi tahu siapa pun agar tidak jadi kebingungan, ya. Sekalipun aku waspada malam tadi untuk jaga-jaga saja, ya ….”

Suara Beatrice naik dan jadi marah, tidak sadar Subaru diam doang. Selanjutnya menurunkan suara sampai lirih, ritualistis seakan-akan menyebarkan rahasia kecil yang dia tahu.

“Di tengah malam, Betty mendengar hal aneh, ya. Aku tidak mau membangunkan Subaru yang pas tidur wajahnya bego, jadi aku diam-diam pergi dari kamar sendirian untuk menyelidikinya, ya.”

“Kau tidak boleh menatap wajah tidur orang lain.”

“T-tentu saja aku tidak menatap, ya! Aku melirik semata, sebagai wanita beretiket tidak mungkin melakukannya, ya!”

Beatrice mungkin tidak melihat tampang tertidur Subaru sama sekali, tapi imajinasinya teramat lucu sampai-sampai Subaru mengesampingkan masalahnya untuk sementara waktu.

Beatrice menganggap persetujuan Subaru sebagai tanda lanjut, wajah misteriusnya lagi-lagi muncul.

“Betty merasakan suatu kehadiran ganjil dekat hotel, jadi aku melacaknya, ya. Sesaat, akhirnya aku menemukan sumbernya di teras depan ….”

“Kau menemukannya?”

“Yah, wajah pucat pasi berbahaya muncul dari kegelapan, ya. Tampaknya mengepung Betty, jadi aku menghadapinya, ya.”

Dahi mungil Beatrice bersinar samar oleh keringat, seolah-olah sungguh-sungguh masuk dalam situasi suram tadi malam. Meskipun Subaru tidak mengerti cara kerja kelenjar keringat roh, suasana menjadi agak tegang, lantas Subaru tak mengomentarinya.

“Tak lama setelahnya, mungkin takut akan kekuatan Betty, sosok itu perlahan-lahan melebur kembali ke kegelapan, ya. Setelah berulang kali memastikan tiada masalah muncul, Betty kembali ke kamar, ya. Dan aku melangkahi Subaru tidur lanjut balik ke tempat tidur, ya.”

“Jangan mengintip orang tidur, itu tidak sopan.”

“Aku cuma memastikan kau masih baik-baik saja, ya! Tentu saja tidak ada hal seperti menyentuh dahi atau alismu, ya!”

Tentu saja barusan pengakuan diri, tapi karena pengakuannya kelewat manis, Subaru sekali lagi tidak mengungkitnya.

Secara keseluruhan, tampaknya itulah akhir kisah horror Beatrice. Subaru mengelus dagu dan sedikit mengangguk selagi merenungkan perkatannya.

Peristiwa aneh terjadi di penginapan.

Hal luar biasa dan aneh di dunia ini jumlahnya sedikit. Sebetulnya sesudah hidup satu tahun di dunia lain, Subaru dapat menavigasi keanehannya cukup baik. Contohnya, menggunakan akal sehat, dia menyimpulkan tidak ada hantu yang hidup di tempat ini.

Menurut akal sehat, bahkan menyebutnya hantu rasanya pernyataan buruk.

Biarpun begitu, rumor aneh semacamnya ada di sini, bahwa hotel bahkan mewarisi cerita roh ala Jejepangan yang betulan agak menakjubkan.

Subaru tulus mengagumi fenomena ini, dia menarik nafas konklusif.

“Jadi, semalam terjadi apa, Otto?”

“Ah, seingatku. Aku lagi berbaring di teras, masih mau muntah, aku menyadari Beatrice-chan menatapku, tetapi sewaktu itu aku tidak sanggup bicara. Ujung-ujungnya, tidak mampu kutahan dan muntah di semak-semak, begitu aku kembali, dia menghilang.”

“Begitu, deh, ya.” kata Subaru.

“… bagaimana ini, bagaimana bisa, ya?”

Hampir terlalu berat untuk Beatrice proses.

Pada titik ini jelas-jelas wajah sejati yang disebut-sebut momok sebetulnya ialah Otto yang mabuk, dan Beatrice tidak tahu harus bilang apa.

Yang tanpa henti dia yakini penglihatannya telah ditolak, Beatrice nampak seolah keahlian nalarnya menghilang. Subaru mengelus kepalanya seakan menghiburnya, tetapi dalam hati Subaru merumuskan Beatrice tidak cocok tidur di lingkungan asing.

Pelayan yang menggambarkan hantu kepada Beatrice, pasti tahu kalau Beatrice adalah ciri-ciri orang yang gampang ditipu, dan menganggap serius guyonan apa pun.

Wajahnya memerah, penuh penyesalan dan ketidakpuasan, terlampau menggemaskan sehingga Subaru menuturkan pujian kelas tertinggi.

“Yo, semua orang sudah berkumpul.”

Seorang cewek muda memotong ke tawa kerumunan.

Melihat sumber suara, Subaru melihat seseorang di koridor, seorang gadis menggeleng rambut pendek keemasan, Felt.

Mengganti pakaian mandi dengan pakaian biasa, mengayunkan lengan rampingnya dengan mudah, kurang lebih bagaikan cewek jalanan.

“Pagi. Pakaianmu kasual amat, aku bisa mendengar keluhan Reinhard.”

“Jangan khutbah begitu, orang itu sangat mengganggu, bahkan Rom-ji memihaknya. Memuakkan.”

Menyuarakan ketidakpuasannya, Felt yang tidak sabar melompat dari koridor dan mendarat di sebelah Otto yang tak terlalu paham alur kejadian. Kemudian menghadap Subaru dan menundukkan kepala lalu bertanya ….

“Kalau begitu, ada hal yang membuatku penasaran.”

“Apa, nih?”

“Ah, begini, kenapa kalian semua melakukan tarian aneh itu bersama-sama?”

Felt penasaran saat menyaksikan tarian aneh Subaru—senam radio.

Entah sebelum memulai perjalanan panjang, atau berjalan beberapa langkah, semua orang akan memulai pagi mereka dengan senam radio.

Adegan ini lama terjadi di setiap paginya tidak hanya di Mansion Roswaal, tetapi di seluruh wilayah Mathers.

“Oh, hanya rahasia kesehatan dan umur panjang. Dipraktikkan semua orang, dari anak-anak sampai orang tua, usia popular senam radio kesehatan akan meraja. Setelah Emilia-tan menjadi raja, senam radio kami bakal menjadi kegiatan pagi yang diamanatkan pemerintah!”

“Ya, aku senang jika semua orang melakukannya bersama.”

“Itu … aku cuma merasa seumpama betul-betul kejadian, reputasi raja akan hancur ….”

Mengamati gerakan mereka, Felt menggumamkan pikiran sinisnya.

Memang dilihat menyedihkan, tapi cepat atau lambat, bahkan mereka yang tidak mau ikut akan tertarik ke dalamnya setelah menyadari manfaat kegiatan mudah dilakukan ini.

Popularitas tentu tinggi hingga gerakannya menyebar ke berbagai desa.

“Beako dan Otto pertama-tamanya juga enggan, tapi sekarang mereka ikutan kendati malamnya merasa takut sepi, atau paginya mual-mual!”

“Betty terseret ke sini karena Subaru, ya.”

“Aku hanya mau menidurkan kepala pusing, tapi mendengar suara tepuk tangan dan melihat tariannya ….”

“Sekalipun aku sudah muak dengan ini, tapi aku ketagihan.”

“Menariknya bukan main.”

Beatrice dan Otto memberi penjelasan lemah, sedangkan Subaru dan Emilia berdiri bangga. Felt menggaruk leher putih sewaktu menimbang-nimbang dua pasang respon berbeda.

“Beneran, aku sering mendengar kegiatan terkenal aneh yang dilakukan di sekitar daerah mbak. Tarian aneh, labu berlubang, para wanita yang fokus memanggang makanan untuk kekasih mereka sebagai hadiah. Ah, seperti itu.”

“Biarpun sekarang ini dianggap hal unik di wilayah perbatasan, aku tahu suatu hari nanti akan menjadi proyek perkenalan seluruh negara. Mengingatnya, kami dapat meminta bantuan Anastasia-san dalam skemanya.”

Hari Valentine akan merevolusi makanan ringan, pasar akan meluas. Apabila muncuk topik pergeseran besar ekonomi, Anastasia pasti segera menemukan cara memnafaatkannya.

Kalau belum terlambat, Subaru mempertimbangkan untuk menemui Anastasia ketika dia sedang punya waktu kosong tuk mendiskusikan peluang itu dengannya.

“Apa abang selalu menyebarkan perasaan ini?”

“Yah, Subaru begitu terus. Luarnya kelihatan seperti ejekan, tapi dia benar-benar ingin memperbaiki keadaan, meski pura-pura bercanda.”

“Ya, tapi kau bahkan tidak tahu dia bercanda atau tidak sampai situasinya jelas ….”

Jawaban Emilia sedikit membingungkan Felt.

Kadang-kadang hal semacam ini terjadi lantaran usia spiritual Emilia. Baginya, memahami Felt bak anak kecil memahami seekor hewan.

Felt yang berjuang dan merangkak naik dari daerah kumuh pun punya cara hidup yang unik.

“Mengapa Felt-chan sendirian, apa Reinhard tidak khawatir saat kalian tidak bersama?’

“Aku bukan anak kecil yang perlu dijaga, lagian, orang itu mengganggu sekali saat dekat denganku, jadi kusuruh saja dia pergi ke suatu tempat, karena mba dan semua orang akan di sini. Dongkol banget, sewaktu terjadi sesuatu, pria itu dalam sekejap muncul.”

“Baiklah. Kalau begitu aku bisa tenang.”

Emilia dengan cerobohnya tertawa tatkala mendengar keluhan Felt.

Emilia gamblangnya menertawakan komplain Felt. Mendapat respon yang tak sesuai harapannya, Felt menghembuskan nafas sebal dan mulai dengan kasar memainkan rambut pirangnya.

“Felt-chan, rambutmu indah sekali, kau tidak boleh kasar-kasar memainkannya. Aku diajarkan menghormati rambut oleh Subaru dan Frederica-san.”

“Sial, dasar tukang suruh … terserah aku rambutku mau diapakan, dan bukannya sudah dibilang hentikan menambah -chan ke namaku? Membuat hatiku berdebar-debar!”

“Walau kau suruh pun, aku tidak bisa begitu saja menghentikan kebiasaan ini. Akan kusuhakan, tapi kalau tidak bisa, maaf banget, deh. Tidak apa-apa?”

“Tidak tidak apa-apa sedikit pun!”

Karena Emilia tak menyimpan niat jahat apa pun, Felt mengerang lirih mirip kucing untuk melampiaskan kejengkelannya.

Dari luar, orang-orang yang mendengar percakapan mereka akan tersenyum, sebab percakapan mereka seperti bahasa rahasia antara teman baik.

“Yah, senam radio kami selesai, jadi silahkan tidur. Atau kau mau mandi, itu bagus dan menyegarkan.”

“Aku sudah mandi … tapi, sedihnya, bau alkohol rupanya tidak hilang.”

“Sebelum Garfiel datang membentakmu, sebaiknya cepat bersihkan. Di kampung halamanku, ada pepatah bilang bahwa masalah manapun bisa diselesaikan dengan sejumlah air panas pemandian.”

Subaru mengulurkan tangan ke Otto yang lemah tatkala dia selesai bicara.

“Akan jadi bencana andaikan dia melihatku seperti ini … sebab kau memberiku nasihat, akan aku ikuti mumpung masih hidup ….”

Subaru membantu Otto berdiri dan menepuk bahu lemahnya. Otto menghela nafas, masih sedih hati selagi Subaru menatap langit.

Langit penuh senyuman. Awan tipis melayang di langit pagi, mencerminkan cuaca tenang. Tepat kala Subaru menikmatinya ….

“Selamat pagi, warga Pristella.”

“Hah!?”

Suara keras mendadak hadir, menggema di telinga semua orang, mengejutkan Subaru yang tak siap.

Bukan ilusi, saat Subaru dengan panik melihat sekeliling, dia menatap Emilia, Felt dan Beatrice yang ikut melihat-lihat, was-was.

“Hei, ada apa ini? Suaranya keras amat.”

“Bukan khayalan, hanya suara keras di jalanan ….”

Felt menggumam pelan sendiri, sedangkan Subaru berkomentar, sembari mencurigai kejadian ini tidak ada hubungannya dengan sihir.

Membicarakan sihir yang dapat mengirim suara ke semua orang, Subaru mengingat sihir berantai yang Julius gunakan untuk menghubungkan kesadaran semua orang.

Namun pada akhirnya merupakan satu-satunya penghubung mental banyak orang dalam jarak terbatas, dan tidak mampu mengirimkan suara secara langsung ke telinga.

Memikirkannya, Subaru pikir dia menemukan jawaban cocok. Itu ….

“Semacam pengeras suara?”

Felt serta Subaru satu komentar soal fenomenanya.

Bergema di langit, suaranya cukup keras sampai seluruh kota mungkin dapat mendengarnya, mirip pengumuman dari pengeras suara.

Satu-satunya masalah adalah bahwa dunia ini belum punya tanda-tanda perkembangan ilmiah dan teknologi seperti itu.

“Ah, kau tidak tahu? Radio ini berfungsi dengan bantuan instrumen bertenaga mana di Aula Pemerintahan Metropolis Pristella.”

Mana … jadi ini sihir!”

Otto menjawab pertanyaan Subaru, mengangguk seakan bilang, ‘Iya.’

“Dengar-dengar kemarin, saat aku minum-minum sama banyak orang, setiap pagi radio sihir di balai kota akan membuat pengumuman kepada warga Pristella.”

“Hah, rutinitas harian aneh.”

“Informasi yang perlu disampaikan ke seluruh wilayah kota dapat didengar dengan cepat dan mudah. Kalau-kalau keadaan darurat terjadi, evakuasi serta arahan bisa diberikan secara efisien. Demi mencegah kacaunya waktu-waktu mendesak, melakukannya setiap pagi membuat masyarakat terbiasa dengan si pembicara.”

“Oh … aku tidak memikirkan itu.”

Menggunakan perangkat sihir untuk bersiap-siap atas keadaan darurat.

Desa-desa kecil saja merepotkan, tapi bila terjadi kecelakaan di kota, penanganannya akan menyebabkan kekacauan. Tindakan pencegahan untuk mencegahnya pun punya kegunaan praktis.

Tidak normal dan cukup inovatif bagi seseorang yang rela meluangkan waktunya agar penduduk kota siap untuk itu.

“Sepertinya pria pintar penanggung jawabnya, mungkin walikota?”

“Tidak, karena perangkatnya dijalankan mana, butuh batu mana sebagai bahan bakarnya, lantas Kiritaka kemungkinan besar penanggung jawab radio.”

“Oh ….”

Kekagumannya mendadak diganggu dampak terebut.

Kiritaka mungkin orang yang berteriak, ‘Jangan sentuh Liliana!’ kemarin. Ingatan negoisasi terlintas di benak Subaru. Teriakannya. Kilatan batu sihir. Pria elegan yang menangis pada Liliana setelahnya.

“Tidak, tidak.”

“Tidak mungkin, ya.”

“Sepertinya itu sedikit ….”

Bagi Subaru, Beatrice, dan sinkronisasi sempurna Emilia, Otto nyengir-nyengir.

“Aku duga kau akan membalas seperti ini, tapi orang yang mengelola radio itu sebetulnya Kiritaka. Dengar, bukankah suara itu familiar?”

“Ini adalah alat sihir yang mampu menyebarkan suaraku ke seluruh kota. Jika aku mengejutkan siapa pun yang merasa asing dengan ini, aku minta maaf. Kau beruntung sekali bisa mendengar siaran hari ini.”

“Siapa itu?”

Walaupun Otto memperjelas, Subaru masih sulit mengaitkan suara ini dengan ciri-ciri Kiritaka. Dia terdengar serius sekali sampai-sampai tidak kelihatan sisi lolicon-nya.

Tidak, tunggu. Clind-san juga orangnya tidak serendah itu … mungkinkah lolicon pandai menyamar? Lolicon berstatus sosial menakutkan banget.”

Subaru lagi-lagi mengingat kepala pelayan mahakuasa tersebut.

Dia punya kecerdasan dan kemampuan luar biasa, namun punya sifat irasional. Kendati tidak tepat menyebut Clind perwakilan seluruh lolicon, tapi tidak mustahil ada kasus lolicon kelas atas yang menyerupainya.

“Yah, Kiritaka ini masih mencurigakan, kesan dari suara saja masih belum bisa diandalkan ….”

“Dan kepada mereka yang mendengarkan, izinkan aku mengantarkannya, dengan sepenuh hati … tidak! Dengan penuh perasaanmu, dunia memberkahi! Pagi akhirnya tiba … dialah Liliana sang Biduanita, pastikan dengarkan!”

“Ah, ini aku.”

Di tengah kekacauan, pria dari kenangan Subaru serta pria yang melakukan siaran akhirnya selaras.

Masalah ini sudah mengganggu Subaru di pagi hari. Mendengar gerakan orang pindah tempat, dan batuk sedikit yang dirasa sambil tersenyum.

“Baiklah~halo semuanya. Ini Liliana yang baru saja diperkenalkan. Melakukan ini setiap pagi membuat beban harapanku terlepas, tapi aku masih mau berusaha yang terbaik tuk bernyanyi dan menciptakan kegembiraan. Tolong perkenankan aku.”

Subaru langsung kenal cara ngomong khas Liliana, merasa seakan-akan tahu perilaku anehnya bahkan dari alat sihir ….

Anehnya, tak seperti suara Kiritaka yang sedikit-sedikit hilang dari radio sihir, tiada jejak suara Liliana menghilang.

Subaru tidak tahu apakah ada konsep afinitas alat sihir, tetapi kalau memang ada, maka cocok dengan gadis yang suaranya dijuluki Dewi Lagu sebab jelas sekali nyanyiannya dalam statis.

“Yah, aku sudah tidak tahan pengen nyanyi. Mohon dengarkan—Lagu Cinta Pedang Iblis, Babak Dua!”

Liliana menarik nafas lembut-lembut ketika bersiap memainkan instrumennya.

Judul lagu tersebut mencuri perhatian Subaru dari ucapan Liliana. Seandainya lagu itu persis sebagaimana kisah yang dia pikiran, lantas—

Lagu yang dinyanyikan ialah cinta tragis tentang iblis, wanita, dan sebuah pedang.

 

 

Tindakan terorisme Liliana si Biduanita diakhiri lagunya, dan Subaru kembali ke ruang tamu untuk sarapan pagi.

Sejujurnya, eksistensi Lagu Cinta Pedang Iblis, menusuk Subaru layaknya sambaran petir tak terduga.

Harusnya dia sadari dari dulu-dulu kala. Entah di dunia mana, kapan waktunya, aksi heroik apa pun akan terus berlanjut pada generasi mendatang.

Aksi-aksi itu bisa didokumentasikan dalam beberapa cara, seperti dalam tulisan atau lukisan.

Tidak terbayangkan apabila pahlawan wanita yang mengakhiri perang saudara serta Pedang Iblis yang menikahinya diabadikan dalam sebuah lagu.

Tentu saja, walaupun Subaru menyadari kemungkinannya, dia tak bisa mengubah kejadian pagi ini. Dia malah tidak tahu adanya perangkat sihir, dan mustahil menyuruh Liliana memikirkan perbuatannya.

Saat ini, dia cuma dapat mengutuk Biduanita yang memilih lagunya di waktu paling tidak tepat tanpa memperhatikan situasi.

Kesannya yang sudah buruk mengenai Biduanitas entah bagaimana lebih terjun bebas karena entah antusiasme di waktu tidak tepat. Liliana-nya Idiot, Kiritaka-nya bego.

“Apa Wilhelm-san … belum datang juga?”

Orang paling awal yang sampai di ruang tamu adalah penduduk halaman sebelumnya, kecuali Felt yang berpisah setelah mereka pergi. Dia mungkin nanti datang bersama Reinhard.

Memikirkan lagu yang baru saja didengarnya, mengingat anggapan Wilhelm perihal istri dan cucunya, membayangkan senyum pak tua itu, Subaru tidak sanggup menahan perasaan yang naik dalam dadanya.

Adapun kata yang dituturkan ketika melihatnya, Subaru tidak tahu. Baik demikian, selama masih berkomunikasi, Subaru tetap bersyukur. Tapinya, dia serius berharap agar Wilhelm entah bagaimana ketinggalan lagunya.

“Kelompok orang-orang terlalu serius itu, tidak mungkin mereka semua tidur di hari yang sama.”

Tiga anggota utama faksi Crusch, bahkan Ferris yang bekerja dan beristrirahat secara seimbang sesuai jadwal. Bahkan setelah tinggal bersama beberapa hari, Subaru menyadarinya.

Perjalanan menuju tempat tak dikenal, mereka barangkali gugup dan lebih giat mempertahankan jadwal, tidak dapat dipercaya andai mereka tidak mendengar siaran.

“Subaru, kau terlihat mengerikan, ada apa?”

Emilia mengarahkan pandangannya hingga selaras dengan Subaru yang duduk di atas bantal, mengetuk-ngetuk kakinya resah.

Setelah siaran berakhir, Subaru mengusulkan faksi mereka pergi ke ruang teh. Seusai memastikan ruangannya kosong, Subaru mengklaim kedamaiannya takkan terganggu.

Emilia dan kawan-kawan menikmati saja lirik tragis, Lagu Cinta Pedang Iblis, dan menghayati suara Liliana. Mereka tidak sadar bahwa Pedang Iblis dalam lagunya adalah Wilhelm, atau asal-usul Pedang Iblis manapun.

Karenanya, Subaru enggan tuk mengutarakan sumber keresahannya.

Lebih menakutkannya lagi adalah lagu Liliana telah menjerat Subaru.

Subaru yang ditakuti judul lagunya, tidak kuat meninggalkan halaman sambil mendengarnya. Atau lebih tepatnya, pemikiran semacam itu bahkan belum muncul.

Nyanyian Liliana mestinya mengandung sihir. Oleh karena ini, bahkan setelah pulih pun Subaru tidak mampu melepas kerisauan sewaktu memikirkan rambut coklat ceroboh itu.

“… bukan apa-apa … tidak, tidak apa-apa, cuma, lapar sedikit … kau tahu, kendati makanan penginapannya enak, bukannya jumlahnya kurang? Tubuhku mau mencuri makanan kecil dan nanti kumakan biar bisa tumbuh ….”

“Subaru, aku tidak percaya itu.”

Emilia yang normalnya gampang ditipu mengetahui alibi Subaru di saat-saat kritis ini. Apa sebegitu mudahnya dia dibaca? Keyakinan Subaru menghilang.

“Masa, Natsuki-san. Sekalipun aku tidak tahu kau mengkhawatirkan apa, kita mendiskusikan rencana siang harinya. Kau kudu memperhatikan.”

“Rencana siang ini, oh ya, rencana negoisasi kedua dengan Kiritaka. Hmmm … bisa kita sandera Liliana sehingga dapat menukarnya dengan batu sihir yang kita inginkan?”

“Mengapa kau mengusulkan rencana semengancam itu!?”

Otto terheran-heran oleh ucapan Subaru, mengangkat suaranya selagi wajahnya mengadopsi ekspresi suram. Melihatnya, Subaru memiringkan kepala sambil berkata, ‘Eh.’

Boleh jadi karena masih memendam amarah membara ke Liliana, namun itu tak bisa meningkatkan tingkat keberhasilan rencana.

“Pokoknya, siang ini, kita akan mencoba bernegoisasi dengan Kiritaka-san lagi, dan kita harus mendapatkan kepercayaan anggota Sisik Naga Putih, yang kemungkinan besar dapat membujuk Kiritaka-san.

“Sisik Naga Putih, namanya keren. Apa dia ada di pertemuan kemarin?”

“Ya, Sisik Naga Putih adalah kelompok tentara bayaran terkenal di daerah ini. Meskipun mereka sudah lama berdiri, mereka baru-baru ini dipekerjakan pasukan pribadi Kiritaka-san. Orang itu adalah wakil para tentaranya.”

“Dari semua orang di sana … ah, bisa jadi dia orang terbaik untuk diajak bicara.”

Sementara mereka tidak hadir semata-mata untuk mengamati ruangan tempat berlangsungnya negoisasi, Subaru punya ingatan samar perkara keberadaan seorang pria paruh baya sebelum cahaya batu sihir menelannya.

Kiritaka marah pada Liliana yang sering dalam kondisi menggila. Subaru jelas lebih ingin berbicara kepada seseorang yang lebih rasional daripada keduanya.

“Menilai siaran pagi ini, kemarahan Kiritaka-san mestinya sudah meredam, sepatutnya dia mau mendengarkan kita, tetapi bila Natsuki-san hadir, kemungkinan besar dia bakal jadi sedikit menggila.”

“Aku tahu mata menakutkan ini membuat orang memberi kesan buruk di kali pertama bertemu, tapi aku tak menyangka reaksinya seagresif itu. Agak menyakitkan.”

“Tidak jadi soal, Subaru. Aku tidak membenci mata galak. Ibuku matanya juga galak banget, tapi orangnya lembut.”

“Wajah Subaru tidak seburuk itu, ya … sebenarnya, aku salah, ya.”

“Pujiannya tidak ada yang menghibur, sebenarnya. Jangan buat aku menghadapi kebenarannya.”

Tutur licik terbalut ramah-tamah dan kata-kata kasar sebelum mendesak Otto melanjutkan diskusi. Otto bilang, “Jadi.”

“Selama negoisasi hari ini, aku rasa Natsuki-san tidak boleh menemani kita. Tidak apa-apakah?”

“Tidak peduli apa pun yang terjadi, aku hanya bisa setuju, tapi andaikan kau berhasil, terus apa gunanya aku di sini?”

“Antara Natsuki-san tidak berguna ke sini atau kita semua yang tidak berguna ke sini, kami memilih pilihan pertama karena kerugian paling minim, sebab dia cuma bermain-main saja sama Beatrice-chan.”

“Rasanya kau meremehkan Betty, ya! Menyebalkan, ya!”

Kemurkaan Beatrice diredam dan rencana aksi mereka kelar. Namun demikian, Subaru pun mempertimbangkan perkataan Otto.

“Siang ini aku akan jalan-jalan bersama Emilia dan Beatrice.”

“Eeeeh? Aku tidak pergi menemui Kiritaka-san bersama Otto-kun?”

“Mereka pasti mengantisipasi kita akan datang bernegoisasi lagi, dan sekiranya menyertakan Emilia-sama, nanti malah seperti kunjungan mendadak tanpa pemberitahuan, dan akan gagal seperti yang kita lakukan kemarin … Natsuki-san, aku lega kau tahu ini, tapi aku sungguh-sungguh berpikir kau merencanakan sesuatu.”

Otto memelototi Subaru yang merespon dengan siulan tanpa dosa.

Dia memberi tahu Otto soal pertemuan Liliana kemarin, tetapi lupa menyebut tempatnya. Kiritaka ingin mencegah faksi Emilia menemui Liliana, mungkin pria itu mengirimnya keluar, dan gadis itu memilih taman berpemandangan bagus sebagai tempat hiburannya.

“Aku menemukan taman bagus, aku ingin Emilia menemaniku ke sana. Kita bisa berjalan-jalan sambil masing-masing memegang satu tangan Beatrice di antara kita.”

“Waw, kedengarannya seru. Tapi, aku penasaran tidak apa-apatah bersenang-senang seperti itu. Yah, Otto-kun?”

“Saya tidak bisa menolak kiranya tatapan Anda demikian. Yah, Natsuki-san dan Emilia-sama tidak bisa pergi karena berbagai kondisi, jadi saya akan mengikutkan Garfiel. Dimohon jangan menyebabkan masalah.

Menegaskan kata-kata Otto, Emilia bersama Subaru mengangguk sungguh-sungguh. Tapi Subaru menjulurkan lidah di belakang Otto sebagai permintaan maafnya.

Liliana hampir pasti tidak ada di Kamar Dagang Muse hari ini. Sebab itulah Subaru semata-mata berasumsi dirinya akan pergi ke taman seperti kemarin.

Andai kata dia tidak di sana, Subaru tidak bisa melakukan apa-apa lagi, namun dia masih ingin membangun hubungan dengannya sebisa mungkin.

Jika Kiritaka betul-betul mencintai Liliana dari relung hatinya, kemungkinan besar bos Pristella itu menyetujui permintaan langsung darinya.

Tentu saja Subaru tidak boleh berpikir menggunakan Liliana secara cuma-cuma. Emilia pasti menentangnya, dan hati Nurani Subaru sendiri takkan membiarkannya. Apalagi, Subaru putuskan mengutarakan kisah Liliana tanpa keberatan sedikit pun.

Subaru berharap hasilnya akan lancar, walaupun menyimpang dari biografi heroik yang Liliana harapkan dan ‘kan mengecewakannya.

Dikekalkan lagu sebagai pahlawan dalam sejarah. Pemikiran itu saja membuat Subaru merinding, tapi semisal ingin menambah cuka ke dalam luka, Subaru mesti meninggalkan kesan sejati.

Sekurang-kurangnya, Subaru yang tersohor karena perbuatan-perbuatan kepahlawanannya juga akan kecewa tatkala para pendengar mengetahui kesalahan paling menyedihkannya.

“—selamat pagi. Kalian semua bangun lebih awal.”

Kala faksi Emilia menetapkan rencana internal dan eksternal mereka, pintu ruang teh dibuka, memperlihatkan sosok Anastasia. Hari ini dia mengenakan syal rubah biasa berpadu pakaian kimono.

Memang mengejutkan tiba-tiba melihat kimono dan Subaru jadi bersemangat. Mata Emilia berkilauan menyimpan alasan lain, dia senang melihat pakaian tersebut.

Anastasia menatap bangga mereka.

“Bagus sekali, bagus sekali. Aku senang mengagetkan orang di pagi-pagi hari.”

“Anastasia-san, pakaian itu indah sekali. Itukah yang kau maksud kemarin?”

“Yap. Inilah kimono yang aku sebutkan di pemandian kemarin. Walaupun terlihat mirip jubah mandi, perlu banyak persiapan untuk mengenakannya.”

Anastasia berputar-putar gembira, memamerkan pakaian birunya yang dipoles indah, kelopak-kelopak bunga bermekaran di sekujur pakaian.

—Kararagi rupanya Subaru anggap punya banyak kesamaan dengan budaya Jepang.

“Jenis pakaian itu, apakah sudah diwariskan semenjak zaman Hoshin?”

“Yah, kau banyak tahu, Natsuki-kun. Jenis pakaian ini nampaknya lebih sering muncul semenjak awal era Hoshin. Meskipun metode produksinya hilang, saat ini hanya reproduksi saja.”

“Era Hoshin.”

Pria ini, Hoshin dari Tanah Kosong, sekali lagi muncul. Sekarang Subaru mesti curiga bahwa Hoshin, seperti Subaru dan AI, telah dipanggil ke dunia ini.

Hanya saja, tak seperti Subaru dan AI, Hoshin dari empat ratus tahun lalu.

“Prioritasnya adalah mencari tahu situasi saat ini, tapi setelahnya mungkin aku ingin menyelidiki si Hoshin ini ….”

Mengenai pemanggilannya, Subaru tidak berniat menggali latar belakangnya saat ini.

Meskipun tahu struktur pemanggilan, tujuan pemanggilannya masih tidak diketahui. Sayangnya panggilan ini satu arah. Tidak ada cara memulangkannya.

Dalam halnya unta masuk jarum, tidak ada solusi. Subaru semata-mata ingin tahu apa-apa yang dimiliki pendahulunya, peninggalan-peninggalan di dunia ini, dan di mana ujungnya. Itu saja.

“Selamat pagi, Subaru. Semalam tidur nyenyak? Kau amat membantu mengingatkan Felt-sama untuk kembali ke kamar beliau hari ini.”

“Menjengkelkan banget. Aku tidak berniat kembali ke sana.”

Setelah Anastasia, Reinhard masuk ke ruang teh mengekor Felt. Menyiapkan bantal yang hendak diduduki tuannya, tidak menampakkan indikasi dia dengar lagu pagi itu atau tidak.

Pasti tahu, Lagu Cinta Pedang Iblis, merujuk ke kakeknya sendiri.

 “Anastasia-sama, Anda terlihat lebih cantik setiap pagi berganti. Saya senantiasa mengkhawatirkan kesederhanaan Anda, namun kini nampaknya tak berdasar.”

“H3h3h3h3, ini harta berhargaku. Aku tidak bisa pergi ke Pristella kecuali mempersiapkan diri. Itulah sebabnya harus aku pamerkan ke Julius.”

Sesudahnya, Julius bergabung dan Anastasia memperlihatkan pakaian kesatrianya. Setelah disanjung, Anastasia memiringkan kepala.

“Bukannya ada yang menemanimu?”

“Ricardo bilang dia punya hal yang perlu dilakukan dan pergi ke kota semalam, tapi Mimi dan saudara-saudaranya … mereka kelihatannya mengikuti Garfiel dari faksi Emilia.”

“Mereka mengikuti Garfiel?”

Emilia melotot saat mendengar nama salah satu pelayannya. Julius mengangguk.

“Mimi mendapati Garfiel meninggalkan hotel dan langsung mengejarnya. Kemudian Hetaro mengikuti, dan Tivey menyelesaikan masalahnya, bilang sudah ditangani, lantas mereka semua meninggalkan Joshua.”

Anastasia menatap Joshua yang bersembunyi di balik tingginya Julius sembari bertolak pinggang. Pemuda tampan tersebut menundukkan kepala kepada masternya selagi dia pelan-pelan melangkah maju, tampak sangat pucat serta gelisah.

“Saya sungguh, teramat-amat menyesal … saya habis-habisan menghentikan mereka, namun Mimi dan Hetaro sama sekali tidak mendengarkan. Tivey bilang untuk menyerahkan semua padanya.”

“Yah, misalkan Tivey di sana, mereka semestinya tidak membuat masalah. Kesampingkan dulu, kita tuan rumahnya, tapi membuat tontonan tak enak dilihat kepada para tamu kita.”

Pelan-pelan menepuk pundak Joshua yang malu sebagai tanda pengampunan, Anastasia berbalik menghadap semua orang yang hadir sambil tersenyum ramah. Menggosok rambut lembutnya, jemari memainkan syal.

“Seperti yang kalian lihat, kegagalan memalukan ini, aku harap kau memaafkannya … wakil kapten riang kami, yang nampaknya teralihkan oleh cinta pertamanya kesulitan melawan dorongan hati.”

Mimi terobsesi dengan Garfiel dan ingin nempel-nempel dengannya, semua orang tahu itu. Semua orang kecuali dua. Emilia memiringkan kepala bingung, Joshua mendesau, “Jadi begitu.”

“Ngomong-ngomong, Felt, aku tidak melihat trio Tonchinkan1 itu sama sekali. Apa mereka masih tinggal di sini?”

“Maksudmu Gaston dan kawan-kawan? Yah, tinggal di sini sia-sia saja dan kesannya konyol, mereka terlalu tak terbiasa dengan tempat-tempat seperti ini sampai jadinya canggung. Mereka tinggal di suatu tempat kota ini yang lebih murah, tapi ….”

Seraya menjawab pertanyaan Subaru, Felt menyeringai.

“Hei, panggilan Tonchinkan itu tidak buruk, karena nama mereka Gaston, Larkins, dan Camberley. Seratus persen tidak membingungkan, dan mereka sepertinya takkan keberatan.”

“Aku juga berpikir nama panggilannya hebat, ingin memuji diriku setahun yang lalu. Seketika pertama kali mendengar nama asli mereka, aku duga terjadi sebuah keajaiban.”

Trio Tonchinkan adalah awal mereka, trio Tonchinkan adalah akhir mereka.

“—kami terlambat, rupanya kami yang terakhir tiba di sini.”

Yang terakhir sampai di ruang teh adalah faksi Crusch. Hari ini menata rambut hijau panjang, pas dengan pribadi barunya, mengenakan jepit rambut bunga bak wanita cantik.

Berjalan singkat ke dalam ruangan, diikuti Ferris dan Wilhelm yang seperti biasa, berpakaian rapih, punggung tegak. Melihat postur lelaki tua tersebut membuat bahu Subaru gemetar. Menelan nafas, mencoba curi pandang raut wajah si orang tua, dan Wilhelm menangkap tatapan Subaru.

“….”

Tersenyum tipis, membungkuk sedikit.

Melihat lakunya, Subaru menerima pesan yang terkandung dalam senyum sebelumnya, ‘Anda tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa.’

Jantung Subaru mulai berdegup lebih cepat, hingga melihat Ferris duduk di samping Crusch, berkedip-kedip dan memberi tanda perdamaian.

—jangan risau, sudah kami urus.

Itulah pesan yang diterima Subaru dari Ferris.

Barangkali Ferris mengetahui perhatian Subaru. Dia berhenti dan mulai dekat-dekat ke sisi Crusch seperti biasa.

Subaru tersadar rasanya menjadi tidak berguna dan takut berlaku sok.

Crusch serta Ferris tentu tahu lebih dari Subaru perkara hubungan Wilhelm dan lagu-lagu tersebut. Mereka lebih sensitif dan kedekatannya lebih besar ke Wilhelm.

Wajar saja, lantaran mereka rekan-rekannya. Subaru tidak perlu gelisah lagi. “Sesungguhnya kelalaian kami sebab tak bisa membantu Garfiel.”

Bukannya mengatakan tidak boleh mempedulikan orang lain. Alih-alih lebih baik melakukan sesuatu untuk faksimu, setelahnya barulah bebas membantu orang lain.

Akan tetapi, depresi yang bergejolak dalam tubuh Garfiel bisa diatasi dengan usaha Garfiel sendiri, sehingga garis pemikiran Subaru tak menyelesaikan apa pun.

“Wah, masih ada beberapa orang yang belum muncul, tetapi kemungkinan besar mereka takkan datang.”

Walaupun jumlah penghuninya kurang dari yang hadir semalam, angkanya masih mengesankan. Lagian, antara kejadian-kejadian semalam, makan rasanya sangat menyenangkan.

Apa yang mesti ditampilkan pagi ini—jeda singkat penuh penantian, Anastasia tersenyum dan mengucap, “Bawa masuk.”

Sesuai perintahnya, karyawan hotel membuka pintu, segera sesudahnya, sebuah balok besi besar yang dipanaskan dibawa masuk.

“Hidangan hari ini adalah sarapan tradisional Kararagi—panekuk daisukiyaki2!” Anastasia menggulung lengan bajunya sedikit, suaranya meninggi.

Di depan kerumunan hening, karyawan penginapan melapisi besi dengan lapisan minyak dan membawa bermacam-macam bahan satu per satu ke dalam ruangan.

Panekuk daisuyaki—dari namanya, pelat besi, juga variasi bahan makanan, Subaru melihat sesuatu yang terlampau familiar. Sesuatu bernama ….

“Okonomiyaki3 … Jepang ….!?”

“Subaru, Subaru, lihat maha karyaku!”

“Subaru, ini panekuk terbaik buatan Betty, ya. Boleh kau cicipi, ya.”

Emilia tersenyum sungguh-sungguh, paras Beako sedikit memerah. Masing-masing menyuguhkan panekuk ke depan.

Bagi Subaru, panekuknya hanya balok -balok hitam hangus. Karena mereka tidak sadar kurang keahlian.

“Coba sendiri dulu.”

Melancarkan saran masuk akal, Subaru menahan pandangan kesakitan saat keduanya patuh dan mulai makan panekuk mereka selagi mengalihkan perhatian ke faksi lain.

“Selesai, Felt-sama.”

“Oh, enak rasanya, buatkan aku lagi. Aku senantiasa berterima kasih atas masakan enakmu.”

“Misalkan Anda mengandalkan hal lainnya, saya akan menepati ekspektasinya sebagai seorang kesatria.”

Itulah faksi Felt. Reinhard membuat panekuk dengan kecepatan mustahil, dan Felt pun cepat melahapnya.

Tersembunyi di suatu sudut sosok ramping Felt adalah Raja Perut. Atau dianya saja yang rakus. Intinya, dia makan jauh lebih banyak ketimbang bagiannya.

Secara keseluruhan, Reinhard belum makan, sementara Felt melibas sepuluh porsi.

Faksi Emilia buruk nasibnya. Seperti yang baru saja didemonstrasikan, Emilia dan Beatrice berusaha keras, anggota paling bergunanya adalah Otto dan Subaru.

“Lihat, Emilia-sama dan Beatrice-chan. Oh, makan ini …. Ah! Emilia-sama! Interopeksi diri memang baik, tapi jangan memakannya mentah-mentah! Beatrice-chan, itu kebanyakan saus!”

Dari faksi-faksi lain, orang paling menonjolnya adalah Anastasia.

Sarapan kejutan yang dia rencakan sendiri. Dia memiliki rasa percaya diri mendalam dan cinta akan daisukiyaki.

“Lihat cermat-cermat! Inilah daisuki asli!”

Membalik panekuk dengan rapi dan eloknya lalu meletakkan panekuk indah ke piring Julius.

“Saya tak layak memakan makanan Anstasia-sama, tapi saya pikir akan lebih baik bila dimasak lebih cepat. Tentu saja, saya tidak bermaksud merepotkan Anastasia-sama.”

“Tentu saja, tentu saja, harusnya tidak hangus. Meskipun Julius seorang pria, cara mengatakannya mirip gadis polos.”

Tidak seperti Subaru yang mengembalikan tawaran dan menyuruh si pemberi hadiah merefleksikannya, Julius tak hanya memakan panekuk, melainkan juga menjaga ekspresi wajah dan memberi petunjuk pada Anastasia agar kemampuannya meningkat.

Orang itu panutannya kesatria. Subaru terlampau tidak ingin menirunya, apalagi kurang kemampuan melakukannya.

Duduk di samping mereka, mengkonsumsi panekuk mentah nan lengket adalah Joshua yang terlihat menyedihkan. Kacamata lensa satunya kelihatan berkabut, mencegah daya pandangnya, mati-matian mencoba menyembunyikan upayanya. Joshua merasa malu jikalau Subaru yang ia benci melihat usahanya, lantas orang itu tak mengontak Subaru.

Setelah melihat perbedaan moral dua saudara, Subaru menyimpulkan bahwa faksi paling stabil adalah Crusch.

“Oh, Crusch-sama, Ferri-chan membuat panekuk yang indah banget, lihat!”

“Hmmmm, tentu, tapi aku tak akan kalah!”

Sebagaimana persaingan sengit dua wanita, Crusch dan Ferris berbincang. Keyakinan mereka didukung hasil akhir, panekuk buatan mereka sempurna. Ferris menambahkan telinga kucing pada panekuknya.

“Silahkan nikmati panekukku, sepenuhnya berisikan cinta Ferri-chan. Crusch-sama, buka mulut!”

“Hei, hei … itu, ummm ….”

Kendatipun adegan bahagianya terasa sedikit tidak nyaman. Barangkali karena Subaru tahu mereka itu pria dan wanita, atau lantaran paham perasaan Crusch berubah setelah hilang ingatan.

Bagaimanapun, tuan dan pelayan tampaknya tidak punya masalah. Anggota terakhir faksi mereka duduk di sebelah ruang berwarna buah persik, fokus pada panekuk pribadinya, Wilhelm.

“Hmmmmm ….”

Wilhelm yang mencoba membalikkan adonan, menutup mata dan menghela nafas.

Kelihatannya panekuk sudah robek sebab terlalu lama Wilhelm tinggalkan di panggangan, menjadi lengket.

Mendadak melihat sisi kaku Wilhelm.

“Rasanya melihat sesuatu yang seharusnya tak kumiliki, kalau begitu ….”

Merasa harus membantu Wilhelm, Subaru berdiri, dan duduk kembali, dipikir-pikir lagi.

“Wihelm-san.”

“… Subaru-dono?”

Mendengar namanya dipanggil, Wilhelm mengangkat kepala. Menyadari bahwasanya Subaru melihat sisi kakunya, alisnya mengekerut malu.

Subaru memberi anggukan penyemangat, rahangnya menunjuk. Wilhelm mengerti artinya, diam-diam menelan ludah.

“….”

Pindah ke tempat yang ditunjuk Subaru, Wilhelm duduk di sebelah Reinhard. Cucunya patuh sekali mengikuti setiap instruksi Felt, memproduksi panekuk tanpa henti dan melewatkan percakapan Subaru serta Wilhelm.

Biarpun Subaru sudah mengkomunikasikan seluruh keinginannya kepada Wilhelm.

Kegelisahan, kebingungan, keraguan, kecurigaan, semuanya terombang-ambing di mata Wilhelm. Perlu waktu lama hingga mencapai suatu keputusan. Akhirnya ….

“… Reinhard.”

“….”

Reinhard membeku sesaat Wilhelm memaksa dirinya memanggil nama sang cucu.

Spatula melayang di udara sejenak tangannya berhenti bergerak, Felt melapisi panekuknya dengan tangkapan sempurna.

Tingkahnya tidak elegan, namun Reinhard tak menghiraukan.

Pemuda berambut merah menghadap Wilhelm dan matanya melotot. Wilhelm membalas tatapannya secara langsung, tanpa menarik nafas berlebih.

“….”

“….”

Mendadak, hening menjamah.

Bukan hanya kepada keduanya, tetapi juga orang-orang yang menggubris.

Seluruh ruangan diam, satu-satunya suara adalah spatula yang menabrak besi.

Waktu terasa stagnan tatkala semua orang menahan nafas.

“Aku, anu, itu ….”

“Ada apa, kakek terhormat?”

“Aku … aku tidak piawai melakukan ini jadi, kau, jika kau tahu trik mudahnya, maukah … kau mengajariku?”

Ucapan canggung dan gagap Wilhelm.

Hanya Crusch, Ferris, dan Subaru yang matanya membelalak, tekad macam apa yang dibutuhkan Wilhelm agar kata-katanya keluar.

Wilhelm sendiri roman-romannya langsung loyo setelah mengajukan permintaannya.

Tanpa kata, Reinhard menelan ludah seraya memikirkan jawaban. Perawakannya tak berubah sedang emosi tak dikenal menyapu mata birunya.

Reinhard menutup mata dan mengubur emosi tersebut menjadi desahan lembut. Selanjutnya ….

“Ya, aku mengerti, kakek terhormat.”

Sudut mulutnya terbuka ketika menutup mata. Raut wajahnya hanya dapat digambarkan senyuman.

Bukan senyum menenangkan yang biasanya dia tampakkan agar orang-orang merasa aman. Mungkin ini satu-satunya waktu seseorang melihat pemuda bernama Reinhard keluar dari perannya sebagai sang Pedang Suci dan tersenyum tulus biasa.

Paras kaget Wilhelm perlahan-lahan memulihkan ketenangannya.

Menurunkan wajah, menutup mata seakan-akan menahan sesuatu. Bisa jadi kesulitan memproses reaksinya.

Akan tetapi, perasaan sejatinya ada. Begitu disampaikan, hanya perlu diterima saja.

Kesenjangan panjang antara kakek-cucu, hanya dapat diimbangi jumlah waktu yang sama.

Subaru melihat peluang di depan mata, mengepalkan tinju sembari menyipan sejumlah besar emosi.

Dari lubuk hati terdalamnya, dia ingin menyambut gembira Wilhelm. Dan ….

“—tidak semudah itu, kakek terhormat. Jangan pikir hubungan kita membaik karena itu.”

Tiba-tiba, sosok berambut merah membuka pintu ruang teh.

Wajah orang rambut merah yang menukas kata-katanya memikul banyaknya kebencian bukan main sampai-sampai semua orang membeku di tempat, melupakan aliran waktu.

 

Catatan Kaki:

  1. Tonchinkan, gua ga paham apa ini Tonchinkan. Satu-satunya informasi yang gua dapet ya ini: Tsuide ni Tonchinkan (Japanese: ついでにとんちんかん, lit. “Pokoknya tidak masalah”) adalah seri manga gag karya Koichi Endo yang diterbitkan pertama kali di Weekly Shōnen Jump pada tahun 1984.
  2. Daisuki pun gua kagak tahu apaan.
  3. Okonomiyaki adalah makanan Jepang berupa goreng tepung dengan kol ditambah isi, seperti daging sapi, kerang, cumi-cumi, atau udang yang diletakkan di bagian atas sesuai dengan selera. Okonomiyaki terdiri dari dua versi: versi Kansai: irisan kol dicampur dengan adonan seperti sewaktu membuat fuyunghai.

Noh, okonomiyaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *