RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 INTERLUDE i

Posted on

Pengakuan Semua Orang

Penerjemah: Thumbleback

Editor: DarkSouls

Proofreader: DarkSouls

QualityChecker: DarkSouls

Uploader: DarkSouls

Administrator: DarkSouls

“—Daaan, selesai!”

Subaru menancapkan kedua ranting ke tumpukan salju di depannya, kemudian menghapus keringat di alisnya.

Sebuah karya amatiran yang dibuat selama satu jam, tapi dia tetap merasa bangga dengan hasilnya.

Terdengar sorakan-sorai kagum di kerumunan sekitar yang tengah melihat karyanya.

“Ya, Aku pastinya punya bakat soal hal ini. Jika kita kehabisan uang dan makanan, kita tinggal membuat cuaca jadi bersalju, kemudian menjadikanku seniman salju tersohor di negeri ini.”

“Jangan bodoh. Aku tidak akan menurunkan salju untuk hal semacam itu … tapi, karyamu terlihat sangaaaaaat bagus.”

Ucap Emilia dengan hembusan nafas putih, dia sedang duduk di tangga berbatu, mengamati hasil karya Subaru. Kini yang tercermin di mata kecubungnya adalah boneka salju Subaru—Tetapi julukan boneka salju terasa kurang cocok, mungkin lebih tepat lagi kalau disebut patung es.

Saat ini ada sekitar dua puluh patung es berbentuk Puck yang disusun dari sisa-sisa salju Sanctuary. Apa yang membuat Subaru membuat begitu banyak patung es? Jika ditanya pasti jawabannya : wujud rasa cintaku yang besar.

Meski begitu Emilia dan semua penduduk Sanctuary merasa terhibur, hanya dengan alasan sederhana seperti itu.

“Aku yakin kau tidak bermaksud begitu, tapi kau sungguh bodoh, Barusu.”

Ucap orang lain, mengkritik kasar Subaru.

Seorang gadis duduk di tangga dan kepalanya dipangku Emilia. Biasanya seragam pelayan selalu menjadi ciri khasnya, namun saat ini dia hanya mengenakan baju putih sederhana.

Pakaian biasanya terbakar saat sedang berada situasi hidup mati.

Wajahnya tampak lebih pucat, tapi mulut berbisanya tidak. Berarti kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.

“Kalian berdua bersekongkol untuk mengejekku, ya … setidaknya aku sedikit berguna dalam seluruh kekacauan Sanctuary ini, jadi tidak bisakah kalian bersikap lebih  baik padaku? Sedikit pujian saja rasanya mantap.”

“Hmmm, kau benar. Aku sangaaaaaat berterima kasih, Subaru. Tapi aku satu-satunya orang yang berusaha keras ketika kau pergi, jadi aku juga ingin dipuji.”

“Yang barusan kau katakan, Emilia-tan ….”

Padahal Emilia memang pantas dipuji karena usahanya melindungi Sanctuary selama kepergian Subaru. Situasinya tidak pasti apakah para penduduk bisa selamat dari serangan Kelinci Besar jika Emilia tidak memerintahkan mereka berlindung di Makam. Dan seandainya Emilia tidak menyelesaikan Ujian, maka takkan ada tempat berlindung bagi para penduduk.

Subaru juga tidak sampai berpikir ingin menggunakan Makam sebagai tempat berlindung. Karena fokusnya hanya terpaku pada usaha pelarian sebelum salju turun.

“Baiklah, kita sebut kesalahan cemerlang karena pasukan pemuda Desa Arlam kembali dan memberi semangat, Emilia-tan …. Aku benar-benar berterima kasih padamu.”

Memang seperti kejadian sebelumnya, namun seluruh rangkaian peristiwa ini terlampau banyak mengaitkan pertaruhan.

Subaru merasa tak bisa mengatasinya sendirian, dan memerlukan bantuan orang lain. Walau begitu, dirinya tetap mengambil bagian yang tersulit.

“Tapi tentu saja. Kalau kau melakukan semuanya untukku, Subaru, Aku tidak tahu lagi mesti melakukan apa di sini. Kau sudah mensukseskan banyak hal, jadi istirahatlah sejenak.”

“Tidak, aku hanya ingin membantu semua orang dengan gagasan maupun kekuatan yang tidak kumiliki, yang bisa kulakukan hanya berlari ke sana-kemari seperti orang bodoh.”

“Tapi, ujung-ujungnya kau berhasil membuat perubahan, kan?”

Emilia menggodanya, menyembunyikan tawa sambil mengelus kepala Ram. Subaru paham, menggaruk hidung bawahnya sambil membalas, “Yea.”

Lelaki itu membuat banyak kekeliruan, dan semua orang selalu datang menyelamatkannya, Tetapi Subaru bertekad menyelamatkan setiap orang yang memerlukan bantuannya. Dan takkan akan menderita sendirian lagi terhadap permasalahan-permasalahan yang mendatanginya.

Subaru takkan lagi ragu-ragu mengandalkan orang lain, tekadnya tidak akan runtuh, dan orang-orang di sekitarnya akan selalu ada untuk memberi dorongan ketika dia membutuhkannya.

“—”

Subaru menatap ke arah lain, mengalihkan pandangannya dari tanah ke Makam.

Pandangannya melewati Emilia yang duduk di tangga menuju ke pintu Makam. Dalam tempat itu, di mana mekanisme Ujian telah mati, terdapat dua orang.

Apa yang mereka diskusikan di sana? Subaru jadi penasaran, tetapi ….

“Yah, aku masih waras untuk tidak mengganggu mereka.”

Perbicangan mereka masih banyak kesempatan lain, namun orang-orang tidak bisa menunda lagi.

Tentu. Banyak hal yang perlu didiskusikan.

Seorang gadis dan pria saling bertatap muka dengan peti mati berbahan kaca di antara mereka.

“Ibu …. ”

Bisik gadis itu ketika menatap wanita di peti kristal.

Tubuh si gadis kecil terlihat melayang, seolah kakinya tidak menapak tanah. Sebagian merasa bahagia setelah memenangkan pertarungan, sebagian karena kebebasan yang diperolehnya setelah terkurung sekian lama, dan sebagian besar karena pemandangan tak nyata di depan matanya.

Beatrice tidak menyangka bisa melihat Ibunya lagi.

Wanita di dalam peti mati—Sang Penyihir, Echidna—Sosoknya tidak jauh beda dari ingatan Beatrice. Rambut putih panjang nan indah serta kecerdasan yang terpancar dari wajah menawannya. Beatrice teringat kenangan bahagia masa lalunya ketika Echidna tersenyum padanya, meski jarang terjadi.

“Betty … tidak sanggup menepati janji. Maafkan aku.” Beatrice mengelus petinya, bereuni reuni setelah empat ratus tahun lamanya seraya meminta maaf.

Saat mereka berpisah, Echidna menyuruh Beatrice memberikan bekal pengetahuannya kepada orang itu. Penyihir tersebut memberikan buku yang berlimpah untuk mengisi Perpustakaan, dan sebuah Kitab berisikan masa depan. Kini Beatrice telah kehilangan keduanya.

Kitab penunjuk masa depan yang Echidna berikan kepada Beatrice, dan semua pengetahuan yang dikumpulkan Penyihir itu, sekarang telah menjadi abu.

“Betty bahkan tidak pernah menjumpai orang itu … dan semua bukunya telah terbakar. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang kulakukan, kayaknya.”

Aku anak durhaka, pikir Beatrice.

Anak perempuan bodoh yang bahkan tidak dapat menyanggupi satu pun permintaan Ibunya, bahkan selama empat abad. Saat ini dia bertemu ibu yang tak bisa dia hadapi, membuatnya ingin meminta maaf sebaik mungkin, tapi—

“ … Kau terlihat agak~ lebih muda.”

Gumam pria di seberangnya, dengan mudahnya mengungkap isi hati si gadis.

Beatrice mendongak dan mendapati seorang pria berambut panjang kusam, tersenyum tipis. Dialah Roswaal. Bukan wajah asing bagi Beatrice, namun dia tak dapat menghilangkan prasangka buruk pria itu. Mungkin matanya yang gila ambisi semenjak kali mereka bertemu, kini nampak bimbang—sebab tidak mengenakan riasan badut, wajahnya tampak polos.

“Sebenarnya kau lebih baik dariku dalam hal  tampil muda, Roswaal. Berada di depanku tanpa riasan artinya kau telah melanggar perintah leluhurmu, kayaknya.”

“Riasan badut tidak lebih dari cat perang bagiku, tahu~. Memakainya bisa membuatku bersemangat berinteraksi dengan orang lain, seolah-olah sedang mengenakan topeng. Tapi ada suatu~ hal yang kusadari.”

“Apa tuh?”

“Biarpun tanpa riasan, aku ini badut~ tulen. Jadi betapa berartinya, sampai diriku tidak memakai riasan?”

“Aku paham sekarang, kayaknya.”

Beatrice mengangguk saat Roswaal bercanda sambil mengangkat bahu. Sembari memainkan rambut kuncir kudanya, Beatrice melanjutkan ….

“Sekarang, kau pasti ingin mengatakan beberapa hal kepada Ibu, kayaknya.”

Roswaal tidak menjawab apa pun.

“Mungkin kau Roswaal ke sepuluh dari leluhurmu yang mengenal Ibu secara langsung. Kepala keluarga Mathers selalu berumur pendek selama beberapa generasi, jadi pengunjung Perpustakaan Terlarang berubah-ubah dengan cepat …. Kau terlihat berbeda sejak kecil, kayaknya.”

Beatrice mungkin tidak terlalu paham sejarah Keluarga Mathers, tapi dia selalu mengamati perkembangan hidup mereka.

Roswaal yang pertama adalah satu-satunya murid Echidna. Meski telah kehilangan hampir seluruh kekuatan sihirnya saat pertempuran melawan Hector, dia tidak menyerah untuk tetap menjadi murid Echidna.

Pria itu sering kali mengunjungi Perpustakaan Terlarang bahkan setelah kematian Echidna, mengabaikan Beatrice yang kebingungan karena melihatnya terobsesi mencari dan terus mencari sesuatu, yang kemungkinan memberikan sesuatu itu kepada penerusnya sebelum meninggal.

Sejak saat itu, seluruh garis keturunan Roswaal  menunjukkan kemampuan sihir yang tidak jauh berbeda dari leluhurnya, dan begitulah Keluarga Mathers berkembang.

Roswaal generasi masa kini. Orang yang berdiri di hadapan Beatrice.

Roswaal yang ini menunjukkan bakat paling menonjol dibandingkan semua pendahulunya. Dia seperti terlahir jenius, diam-diam, bahkan Beatrice sampai gemetar.

Kekuatannya melampaui kekuatan leluhurnya, yang dipilih Echidna secara pribadi, dan sanggup melakukan apa pun yang ia inginkan dengan klaimnya sebagai salah satu penyihir terkuat di dunia.

“Kau mempunyai semua bakat itu, tapi masih tidak bisa terlepas dari kutukan Mathers. Keluargamu terpikat dengan pemikiran bersatu kembali dengan Ibuku yang telah meninggal, alhasil menempuh jalan-jalan kejam … entah kenapa aku jadi kaishan padamu, kayaknya.”

“Benar begitu? Lantas apa yang membedakanmu dengan kami? Kau menghabiskan empat abad terikat dengan kata-kata Ibumu yang telah tiada. Itu sama saja. Atau lebih tepatnya, tidak seperti keluargaku yang bergantian dari generasi ke generasi, kau menderita seorang diri sampai empati orang pun tak berefek. Kami berusaha sebaik mungkin untuk meraih tujuan kami. Sementara kau hanya menderita di tempatmu.”

Ucap Roswaal, kata-katanya bahkan lebih menusuk dari Beatrice.

Ujung-ujungnya, mereka berdua memang buruk, pikir gadis cilik itu.

Keluarga Roswaal mewarisi perasaan yang sama di setiap kehidupan singkat mereka, demi mencapai pertemuan tunggal ini.

Beatrice terperangkap dalam sangkar kosong di kehidupan abadinya, menunggu waktu-waktu dia memenuhi janjinya.

Seseorang berpikiran objektif akan menyamakan mereka dengan badut bodoh.

Keduanya melihat satu sama lain tanpa berbicara. Namun keheningan mereka berakhir ketika Roswaal mengalihkan pandangannya.

“Argumen membosankan. Saat dua orang menyalahkan satu sama lain dan saling mengejek kebodohan mereka, kita mulai melewati batas drama komedi.”

“ … Kau benar, kayaknya.”

“Apa kau keberatan jika aku bertanya sesuatu?”

Rowaal mengangkat jarinya. Beatrice hanya diam menatap, tidak menolak.

Roswaal melihat Echidna yang sedang tertidur dalam peti mati.

“Apakah Subaru-kun adalah orang itu?”

Kata orang itu membuat nafas Beatrice sesak. Dia tidak pernah membahas secara langsung kepada Roswaal perihal orang itu. Tapi Beatrice tidak merasa aneh terhadap si badut yang seketika tahu asal-usul dirinya.

Kalau dipikir-pikir, semua orang yang pernah mengunjungi Perpustakaan Terlarang hingga sekarang selalu generasi Roswaal. Para Roswaal dengan mudah mendengar cerita leluhurnya dan meneruskan cita-cita kepada penerusnya.

Boleh jadi Subaru dibawa ke Perpustakaan Terlarang karena ulah Roswaal.

—Meski Subaru tentu bakal membantah bila diberitahu fakta tersebut.

“ … Kenapa kau tertawa?”

“—Ah. Maaf. Sebenarnya aku bukan menertawakanmu, Roswaal. Imbuhmu tadi mengingatkan sesuatu yang lucu, kayaknya.”

Benar-benar mengejutkan Beatrice karena dia dapat mengetahuinya, akurasi perkiraannya juga seratus persen, lantas bagaimana tanggapan remaja berambut hitam itu. Subaru memang orang yang suka berterus terang, barangkali. Beatrice tidak ingin berpikir lebih jauh dari itu. Biar begitu, Beatrice menggeleng kepala.

“Lelaki itu … Subaru tidak cocok disebut dalam kategori orang itu, ya.”

“… Hmm”

“Subaru sama sekali tak berkualifikasi untuk mewarisi pengetahuan dalam Perpustakaan Terlarang Ibu. Dia tidak enggan mengembangkan dirinya sendiri dengan pengetahuan atau menggunakannya demi mencapai tujuan pribadi, dan dia tak punya latar belakang kuat untuk melakukan keduanya, kayaknya. Tampangnya goblok dan lemah, apalagi tidak bisa menggunakan sihir dan kakinya pendek. Dia bukan orang itu yang Betty tunggu-tunggu selama ini dilihat dari segi mana pun juga.”

“Pendapat itu kedengaran~ cukup kasar.”

“Tepat sekali. Sebenarnya Betty memang kasar. Karenanya aku menolak setiap kesempatan yang datang kepadaku selama empat ratus tahun ini … sebetulnya, aku menolak mereka semua karena orang itu.

Beatrice merasa bersalah terhadap semua orang yang mencoba mengeluarkannya dari Perpustakaan Terlarang, kalau dipikir saat ini. Tidak semua orang yang mendekati Beatrice memikirkan kepentingan individu. Beberapa berbicara ramah pada gadis kecil itu. Namun Beatrice selalu menghempaskan semua orang yang ingin meraihnya.

“Aku tahu di masa lalu seharusnya aku sudah bisa memilih orang itu. Aku seharusnya menghadapi semua orang yang memanggilku, satu demi satu, dan memberi jawaban yang telah kupikirkan matang-matang. Aku semestinya menunjuk seseorang yang cocok untuk mewarisi Perpustakaan Terlarang, Pengetahuan Echidna … mestinya begitu, kayaknya.”

“Sekalipun, kau bilang orang terpilihnya adalah Subaru-kun, dia tidak cocok disebut orang itu?”

“Memang betul. Tidak masalah. Memang pilihan Betty adalah Subaru. Bukan orang itu. Aku memilih Subaru, kayaknya.”

Beatrice melihat Roswaal terperangah dan matanya membelalak.

Pasti jawaban yang sulit diterima Roswaal, mengingat sejauh mana dia telah mengabdi kepada Echidna. Beatrice berada di posisi yang sama persis dengan Roswaal hingga beberapa waktu yang lalu. Beatrice mengerti betapa tersakiti perasaan Roswaal saat ini.

Dan karena gadis kecil itu paham akan hal tersebut, dia perlu memberi penjelasan panjang lebar.

“Subaru tertawa padaku ketika aku memintanya menjadi orang itu. Anak itu begitu percaya dirinya mengaku sanggup membahagiakanku dari orang yang tak pernah kutemui, kayaknya.”

“Sungguh … sombong sekali dia.”

“Sejujurnya, aku bukannya membenci sikapnya yang memaksa.”

Alih-alih memikat Beatrice dengan ucapan sopan, menjelaskan apa yang seharusnya penunggu Perpustakaan itu lakukan, dan mengkonfirmasi dirinya bersedia menerima pengetahuan Echidna, Subaru malah blak-blakan soal keinginannya

“Entah apa pun petuah yang diberikan anak itu, Subaru-kun takkan memprioritaskan dirimu. Dari wajahnya pun sudah jelas … kau sepatutnya tahu itu.”

“Kau sepertinya tidak paham, kayaknya, Roswaal.”

“Aku tidak paham?”

“Betty tidak meninggalkan Perpustakaan Terlarang agar aku menjadi nomor satu di hati Subaru. Aku meninggalkan Perpustakaan Terlarang karena ingin menjadikan Subaru sebagai prioritas nomor satu, kayaknya”

Pilih aku, tukasnya.

Aku akan sangat kesepian menjalani hidup tanpamu, ujarnya.

Kata-kata indah namun palsu, pikir Beatrice. Dusta manis, pikirnya. Tapi kata-kata manis itu mengguncang hati Beatrice. Hatinya goyah. Ucapan itu telah mencuri hatinya, setelah terkurung empat abad lamanya, membuat hatinya terperanjat.

Kini Beatrice merasakan arti kebebasan setelah meraih tangan Subaru dan meninggalkan Perpustakaan Terlarang, hampir membuatnya menangis, hatinya tidak pernah berhenti berdebar.

“Meninggalkan tempatku mungkin membatalkan kontrakku sebagai roh Ibu, tapi aku tidak keberatan. Betty adalah roh yang menjalin kontrak dengan Natsuki Subaru. Penyesalan dan rasa maluku atas semuanya … telah hilang, kayaknya.”

Roswaal bisa jadi menganggapnya pengkhianatan.

Dia juga telah terikat selama empat abad oleh kutukan Echidna, dan mungkin mulanya pemberitahuan Beatrice bahwa dia telah melepaskan diri dianggap sebagai pengkhianatan oleh Roswaal. Beatrice tidak keluar dari Perpustakaan Terlarang karena telah memenuhi perannya, melainkan meninggalkannya.

Jika gadis kecil itu menghadap Ibunya, atau Roswaal, dia harus memikirkannya baik-baik.

“__”

Hatinya telah bulat, ia sudah meraih tangan itu. Beatrice akan menjalani kehidupan yang sangat cerah dan takkan pernah pudar. Sesuatu yang begitu kuatnya, tak lekang oleh waktu, gadis kecil itu takkan melupakan hal yang penting baginya. Beatrice tetap diam, menunggu balasan Roswaal.

“Kau tidak perlu memaksakan diri. Aku bukan juru bicara Echidna. Aku tidak berhak menyanggah jawabanmu, entah apa pun itu. Terserah kau.”

“Roswaal…. ”

“Dan bahkan jika kau tidak meninggalkannya, kau lagi tak akan bisa memenuhi permintaan Echidna. Karena aku akan memprioritaskan tujuanku dan mengorbankan dirimu. Jika kita memperbincangkan pengkhianatan, perbuatanku padamu adalah contoh jelasnya.”

“__”

Dengan menyesal, Roswaal mengakui kesalahannya atas tragedi yang terjadi di Mansion.

Setahu Beatrice, Roswaal merencanakan pembunuhannya. Pria itu beralasan tindakannya semata-mata merupakan perintah Kitab. Sekalipun dia tak tahu hubungan semuanya.

“Roswaal. Apa yang terjadi pada Kitabmu?”

“ … Telah musnah terbakar. Berkat pelayan gila yang melawan~ majikannya. Masa depan sekarang telah menjadi abu. Dan mungkin segalanya~ mengabu juga.”

“Segalanya mengosong dan masa depan berubah tak nampak … kedengarannya menarik, tapi kau kelihatan segar, kayaknya.”

“—Aku ingin tahu~ bisa begitu atau tidak.”

Roswaal menatap ke bawah sebagai balasan atas pertanyaan Beatrice yang diulang sebelumnya. Pria itu menyentuh jari Echidna yang terlindungi batu kristal besar.

“Aku sedih, dan ketakutan sebab kehilangan jalan pasti untuk meraih jawaban yang kucari-cari …. Mungkin menyenangkan juga kalau membaca cerita yang belum pernah kubaca sebelumnya. Padahal, situasi ini tak pernah kejadian selama empat abad silam, entah akhir ini bagus atau tidak.”

“…. ?”

Beatrice mengerutkan alis. Ada yang aneh dalam pernyataannya. Melihatnya kebingungan membuat Roswaal sedikit tersenyum.

“Kita belum pernah berbicara panjang lebar.”

Katanya sopan.

“Kau tidak bisa mengabaikannya sebagai~ mahluk di luar kendali kita. Mulanya ada masalah yang harus diluruskan secara membabi buta, setelahnya kita dapat waktu luang. Kita menghabiskan waktu di Mansion yang sama. Bahkan kita juga melihat hal yang sama, aku terus menghindarimu, seolah aku takut membicarakannya.”

“Roswaal, maksudmu apa?”

“Maksudku … kita mungkin bisa saja menghabiskan waktu empat abad terakhir ini seperti  saat di Laboratorium guru bersama-sama.”

“Gu—!?”

Mendapati kata familiar keluar dari mulut Roswaal, Beatrice kesulitan bernafas. Hembusannya goyah selagi menelan bulat-bulat makna tersiratnya ….

“Tidak mungkin, apa … kau, Roswaal?”

“Memangnya aku Roswaal?.”

“Tidak! Bukan seperti itu … kau tahu apa yang kumaksud!”

“Cuma bercanda. Dan kau benar. Aku—inilah aku, Beatrice. Roswaal.”

Sewaktu pria itu mengutarakan identitasnya, pandangan Beatrice kepada Roswaal terbelah dua.

Beatrice melihat seorang pria tinggi yang rambutnya panjang bergelombang, warnanya sama pula. Mereka berdua adalah pemuda pengagum Echidna, punya bakat besar dan selalu mengikuti penyihir tersebut ke mana pun ia pergi.

“Tapi, terus … Roswaal, ini … bagaimana mungkin!?”

“Aku menggunakan salah satu teori yang Guru gunakan untuk mendapatkan keabadian, transkripsi jiwa. Aku melakukan eksperimen yang sedikit berisiko di Sanctuary, dan mengujinya pada diriku sendiri.”

“Transkripsi jiwa … itu ‘kan eksperimen menyalin kesadaran dan ingatanmu ke dalam sebuah wadah kosong, dengan tujuan mencapai keabadian … tapi eksperimen itu berakhir gagal tatkalanya jiwanya tak bisa menyatu dengan wadah, ya!”

“Jiwa yang ditranskripsi sangat sukar menyatu dengan wadah kosong. Itu kelemahannya, namun … semisal masalahnya adalah kecocokan antara jiwa dan wadah, maka cara mengatasi masalah itu adalah dengan meningkatkan kecocokan tersebut.”

Penelitian ini mengalami kemunduran sebab masalah kecocokan antara Wadah dan Jiwa. Setelah Lewes Meyer menjadi inti Sanctuary, kegilaan Echidna akan pengetahuan menuntun penggunaan klon Lewes lain demi percobaan-percobaan berikutnya.

Tapi klon Lewes tidak punya syarat memadai untuk menerima jiwa lain, dan percobaan berakhir gagal. Roswaal bilang ia berhasil menyelesaikan masalahnya dengan meningkatkan kecocokan antara wadah dan jiwa. Setelah diteliti kembali, akhirnya Beatrice memahami arti kehadiran Roswaal di sini.

—Dengan memindahkan jiwa ke tubuh keturunannya, entitas terdekat dengannya, Roswaal pertama terus-menerus melakukan hal demikian agar menggapai keberhasilan.

“Ingin bilang aku tidak manusiawi, Beatrice?” Beatrice tidak mengatakan apa pun.

“Apa akan kau sebut tidak manusiawi karena aku hanya menginginkan reuni dengan Guru, melakukan hal kejam karena menjadikan para keturunanku yang tak tahu apa-apa sebagai wadah?”

Kata-kata Roswaal menusuk Beatrice.

Tapi tatapan tenang Roswaal membuatnya tampak seolah menunggu cercaan Beatrice.

Jadi Roswaal juga ingin di adili? Sama seperti saat Beatrice memberitahu Roswaal bahwa dirinya telah meninggalkan kontraknya dengan Echidna?

Roswaal ingin bertanya kepada Beatrice, yang mengenal Echidna baik-baik tentang moralitas tindakannya. Tentang obsesinya selama empat ratus tahun, tentang cinta tak bersalah dan tak terbalaskan juga tidak bermanfaat sama sekali selain merugikan pihak lain.

“… Pekerjaanku bukan mengomentari hal seperti itu. Aku tahu ini, tapi hubungan Betty dengan keturunanmu terasa rabun, kayaknya. Padahal, sekiranya diingat-ingat lagi, mereka semua adalah dirimu. Jadi aku tidak merasa jijik mendapati dirimu berada di tubuh-tubuh anak-anakmu. Pendapatku  cuma iyuhh.”

Iyuhh, hah. Kasar~ sekali.”

“Tapi itu cuma pendapatku, kayaknya. Pada hakikatnya aku juga bahagia teman empat ratus tahun laluku masih hidup.”

“ … Aku, mengerti.”

Roswaal menutup matanya. Perkataan Beatrice mungkin bukan jawaban yang diinginkan pria itu, namun si gadis tua tidak peduli.

Beatrice menyampaikan isi hati terjujurnya. Demikian hal yang dia putuskan tatkala meninggalkan Perpustakaan Terlarang. Dan sekarang ….

“Roswaal. Berjongkoklah sebentar.”

“Jongkok? Di sini?”

Roswaal memiringkan kepalanya ketika Beatrice menunjuk tanah di sampingnya. Beatrice mengangguk. Mata Roswaal terbuka lebar dan dengan patuh berjongkok di tempat.

Beatrice melihat Roswaal berjongkok lalu melepaskan sepatu kananya. Gadis kecil itu menggenggam sepatunya kuat-kuat dengan tangan kanannya,

“Nyengirlah dan tahan ini.”

“—Ghah!?”

Muka Roswaal sekarang berada di ketinggian yang pas sekali untuk ditampar-tampar sepatu.

Bunyi tamparan menyebar ke seluruh ruangan saat wajah Roswaal dipukul-pukul. Tangan pria itu memegang pipinya yang merah, matanya berputar. Beatrice memakai kembali sepatunya saat Roswaal masih kebingungan.

“Karena aku murah hati, kupikir ini cukup untuk memaafkanmu .… Makan nih konsekuensi dirimu yang membicarakan konsekuensi lain. Subaru kelak akan memaafkanmu, jadi lebih baik aku melepaskanmu, kayaknya.”

“… Kurasa kau berprasangka demikian lantaran semuanya berakhir tanpa korban jiwa seorang pun.”

“Tepat sekali, Ditambah, kerja keras Subaru yang menakjubkan untuk menyelamatkan semuanya, kayaknya. Kau harus belajar darinya.”

“—Ha, hahahaha! Bener nih~! Aku harus belajar darinya! Ahaha! Ya ampun …. Ah, bukankah ini, benar-benar~ lucu?”

Roswaal tertawa seolah Beatrice, sambil tolak pinggang, seakan gadis cilik itu baru saja melawak. Si badut tidak bisa berhenti tertawa dan membenturkan kepalanya ke dinding. Lalu dia memukul bagian belakang kepalanya ke dinding beberapa kali, sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang-panjang.

“Maaf—Rasanya aku tidak berbuat salah deh. Izinkan aku menegaskannya.”

“Terserah. Kalau kau ingin meminta maaf, minta maaf sama orang lain, kayaknya.”

Roswaal menanggapi kalimat Beatrice dengan anggukan.

Masih terduduk di lantai, Pria itu menatap ke arah peti mati. Dan ….

“Beatrice. yang akan kudiskusikan selanjutnya hanya antara kau dan aku.”

“—”

Roswaal yang melirihkan suara membuat Beatrice memicingkan mata.

Beatrice menyilangkan lengannya dan menyentakkan dagu lalu bilang, baiklah mari kita lihat apa yang ingin kau bahas. Roswaal menyentuh peti mati kemudian berdiri, dan menatap Echidna. Mata anehnya terlihat penuh hasrat gila,

“—Jika kita berkesempatan bertemu guru lagi, maukah kau membantuku?”

“Astaga, mereka benar-benar tidak keluar. Aku tahu ada banyak hal yang mesti diperbincangkan, tapi bukannya ini kelamaan?”

Gabut gara-gara situasi membosankan, Subaru cemberut dan menunggu di tanah lapang.

Tadinya anak itu sudah membuat lebih dari sepuluh manusia salju. Sekarang terdapat tiga puluh patung salju Puck dengan berbagai macam ekspresi yang membuat Emilia dan penduduk Sanctuary terpukau.

Dan Ram yang merasa iri telah bangun dari pangkuan Emilia, kini kondisinya membaik dan sedang bersandar di tangga batu. Tapi berhubung tatapannya tetap mengarah ke makam, sudah pasti dia mencemaskan apa yang sedang terjadi di dalam sana.

Beatrice tersadar, Roswaal terusir.

Subaru ragu apabila mereka saling bunuh di dalam sana, namun dia memahami kekhawatiran Ram. Mereka tidak mendengar Roswaal bilang bahwa dirinya sudah tenang setelah kondisinya membaik.

Mereka pikir Roswaal masih belum baik-baik saja.

“Yah, kita serahkan saja pada Beako.”

Beatrice mengenal Roswaal lebih lama dari Ram. Dan Beatrice yang memberitahu mereka kalau jasad wanita di Makam itu adalah Echidna.

Keputusan terbaiknya membiarkan mereka bercakap-cakap sendirian seandainya ingin berdiskusi di depan mayat. Subaru bisa saja melibatkan diri ke dalam topik tentang apa yang akan mereka rencanakan dengan tubuh Echidna. Tidak jadi masalah.

“Dan akan lebih mudah membicarakan masa depan kita setelah bertemu Garfiel dan yang lainnya.”

Semisal mereka berhasil melarikan diri hidup-hidup dari Mansion, seharusnya mereka langsung menuju Sanctuary. Subaru juga meminta Pasukan Desa mengembalikan karavannya ke Arlam. Kurang lebih semuanya akan saling bertemu nanti malam.

Mereka perlu mengurus salju yang menyelimuti Sanctuary dan sisa-sisa pertarungan. Mengingat lamanya waktu yang dibutuhkan, lebih baik mereka menghabiskan banyak waktu luang ini. Demikian juga perlu demi kesehatan masing-masing.

Sambil fokus mendesain manusia salju, Subaru kurang lebih berhasil menenangkan emosinya. Dia seharusnya bisa berbicara santai dengan Roswaal. Dia bisa. Ya, dia sanggup. Lebih baik dia menganggap dirinya mampu melakukannya.

“Kerja bagus, Subaru.… Kenapa kau mengayunkan lenganmu?”

“Ah, maksudku, bukan apa-apa? Aku tidak sedang berlatih tinju untuk menghajar wajah si kampret itu! Dia mungkin akan memukulku terlebih dahulu!”

“Beneran?”

Tanya Emilia di sampingnya, memiringkan kepala dan terlihat linglung. Gadis itu tampak riang di deretan patung salju.

“Ada banyak patung Puck disini. Aku yakin dia pasti akan senang melihatnya.”

“Masa? Aku malah membayangkan dia akan protes seperti ini, Sepertinya aku lebih manis dari patung ini?’”

“Oh, memang benar mirip dia. Puck, adalah … ah, dia lagi tertidur.”

Gumam Emilia saat dia mengeluarkan kristal biru dari saku dadanya.

Permata itu mengeluarkan sinar berwarna biru tua, memantulkan cahaya matahari ke arah salju yang dipegang Emilia. Puck yang tanpa kontrak apa pun dengan Emilia, disegel dalam kristal tersebut.

“Tapi tidak bisakah kau memanggilnya seperti dulu.”

“Tidak, aku tidak bisa. Kristal ini tidak cukup murni untuk menyegel roh sekuat Puck. Dia akan tetap berada di posisi tidur agar kristal ini tak hancur, sayangnya … kurasa aku tidak bisa menyentuh atau berbicara dengannya seperti ini …. ”

“Harus mencari permata yang lebih baik. Seperti punyamu yang hijau dulu.”

Liontin kristal di leher Emilia. Sudah hancur berkeping-keping sesaat setelah Puck memutuskan kontraknya, dan nampaknya batu permata itu langka nian.

Puck nyatanya punya batu itu kali pertama dia membentuk kontrak dengan Emilia, bahkan sang kontraktur tak tahu cara mendapatkannya.

“Aku pasti akan mendapatkan permata yang bagus dan kelak mengembalikan Puck. Terus … ada banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya. Ada banyak hal yang dia sembunyikan dariku dan aku mengetahuinya setelah kepergiannya.”

Emilia dengan penuh kasih sayang membelai permukaan permata itu, mata kecubungnya penuh tekad.

Gadis itu sangat cantik sampai Subaru sesak nafas. Emilia menyadari Subaru menatapnya dan melirih, “hmm?” pemuda itu menggosok hidungnya.

“Emm, tidak, cuma … Emilia-Tan, kau berubah. Maksudku kau selalu tampak manis tapi sekarang kau juga tampak kuat?”

“Bila benar, ini semua berkat dirimu dan semua orang. Aku ingin membalas budi semuanya.”

“Maksudku, situasi ini sama seperti yang pernah terjadi sebelumnya.” Subaru dan Emilia sama-sama merasa tak berguna.

Tapi bukan berarti mereka akan mengobati luka satu sama lain. Subaru mendapat gambaran itu dari Emilia, yang terasa begitu besar hati sekaligus kesepian.

Subaru akhirnya mendapat kepercayaan diri dan kekuatan untuk selalu mendukung Emilia, sampai gadis itu belari jauh ke depan  sampai tidak memerlukan bantuannya lagi. Rasanya Subaru tidak dapat mengejarnya selamanya, dan takkan pernah sanggup menyusulnya.

“Omong-omong, Subaru … jadi, hmm.”

“Hmmm?”

“Mereka kelamaan di Makam …. Hmmm, ya mereka terlalu lama.”

Sewaktu Subaru tengah merenung dalam batinnya, Emilia memanggil canggung. Gadis itu melihat Makam terus, sambil duduk di tempat yang sama.

Namun ekspresi Emilia berubah. Pipinya memerah, melihat rona wajah gadis itu memerah hingga ke ujungnya telinganya yang runcing, Subaru merasa panik.

“E-Emilia-tan!? Wajahmu menjadi merah, maksudku apa kau baik-baik saja!?”

“A-aku, baik-baik saja. Aku benar-benar tenang. Sekarang aku akan, ummm, ingin membahas sebuah masalah.”

“Aku, aku, siap mendengarnya.”

Entah kenapa tindak-tanduk sopan Emilia membuat Subaru ikut sopan juga.

Emilia memerhatikan sekitarnya, dan setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitarnya, gadis itu menatap Subaru dengan wajah merah. Lebih tepatnya menatap mulut Subaru.

“Jadi, umm … Subaru, ini, kau bilang bahwa kau me-mencintaiku, kan?”

“Emmm, anu, ya. Aku memang mengatakannya. Aku mencintaimu.”

“—Yah, Itu, umm, membuatku, sangat, sangattt bahagia, tapi…. ”

Cara Emilia berbicara membuat perasaan Subaru tidak enak. Gadis itu hanya ngomong “Itu membuatku bahagia, tapi…. ”. Subaru hanya bisa menebak satu hal yang mungkin dikatakan setelahnya. Kalimatnya adalah: Kita temenan aja.

“Aku sudah memberitahumu sebelumnya, bahwa aku akan menunggu jawabanmu, dan aku akan melakukan yang terbaik bergitu juga dirimu.”

“Aku … itu, membuatku sangat bahagia. Tapi, walau demikian, aku tidak terlalu paham menjadi seseorang yang seperti itu.”

Subaru terdiam.

“Sama saat seperti di karavan naga, dan di dalam Makam. Kau bilang padaku kalau kau mencintaiku, tapi aku masih belum menjawabnya. Aku tahu aku sangaaaat buruk…. ”

Mendengar akhir kalimatnya, Subaru membelai dada sambil merasa lega. Jawaban Emilia saat ini masih dalam mode siaga. Tidak ada yang berubah, semuanya masih aman terkendali.

Selama pengakuan cinta nan gigih Subaru tak membuat gadis itu muak, lantas semuanya akan baik-baik saja. Subaru akan menawarkan bantuan kepada Emilia tanpa ragu-ragu, jika memang gadis itu sudah terdesak dan betul-betul memerlukannya. Hanya itu sedikit perbedaan mereka berdua tentang perasaan satu sama lain. Sepenuhnya tidak berhubungan dengan pernyataan Emilia berikutnya.

“Tapi! Kupikir kita sungguh-sungguh harus membicarakan bayi dalam perutku!”

“—”

—.

——.

———.

“Bentar?”

“Aku tidak tahu bayinya laki-laki atau perempuan, tapi kita tetap harus menyayangi mereka! Tapi aku tidak pernah diajari hal ini jadi aku tidak tahu harus bagaimana …. Kau mesti bicara pada seorang ayah tentang permasalahan ini.”

“Tidak, tidak, tidak, tidak, tidak … tunggu, tunggu, tunggu…. ”

Pikiran Subaru tidak dapat menangkap ucapan Emilia yang berbicara cepat-cepat.

Emilia berbicara cepat sampai kehabisan napas, dan Subaru tahu pacarnya sedang gelisah. Kalau seperti ini pembicaraannya jadi tidak biasa.

“Emilia-tan, tarik nafas dalam-dalam, dan tenangkan pikiranmu. Aku lagi melakukannya, tarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Oh, hei, ada salju di sini.”

Subaru berjongkok, menggenggam salju, dan melempar salju itu ke wajahnya untuk mendinginkan kepalanya. Dia mendengar Emilia menarik nafas dalam-dalam saat sedang memaksakan diri untuk berpikir rasional.

Bayi dalam perut Emilia. Emilia seorang ibu, dan Subaru ayahnya. Anak muda itu tidak mengerti. Subaru jelas-jelas masih perjaka dan bujangan.

“Emilia-tan. Pas kau bilang bayi, maksudmu seperti janin begitu, kan?”

“Te-tepat sekali. Aku tahu ini semua akan sulit karena Pemilihan Raja, tapi … itu semua bukan salah bayi ini, dan kita harus membahagiakannya! Aku ingin bayi ini mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang seharusnya mencintainya.”

Tekad Emilia begitu mulia dan indah.

Tapi omongannya tidak masuk akal. Subaru belum pernah begituan dengan Emilia. Berarti Emilia dan orang lain yang begituan—tidak, Subaru membuang pemikiran negatifnya.

“Emilia-tan … kau tahu ‘kan kalau bayi tidak berasal dari bangau atau kebun kubis?”

“Tapi ketika laki-laki dan perempuan saling berciuman mereka akan menghasilkan bayi.”

“—”

Subaru tertegun.

Terhadpa kepolosannya, dan betapa imutnya si gadis ketika memikirkan hal ini.

“Subaru? Ada yang salah? Hei, Subaru!”

Emilia tentunya tidak tahu apa-apa selagi memanggil nama Subaru.

Entah bagaimana ekspresinya menjadi semakin kuat berkat naluri keibuannya. Mungkin inilah sebabnya Emilia tampak tangguh di depan Subaru. Sebaiknya Subaru tak perlu membetulkan kesalahpahaman ini.

—Tidak, Pemuda itu harus melakukannya. Bukan waktunya Subaru memikirkan hal itu. Seandainya Emilia terus berpikir seperti ini, semuanya akan berlanjut dengan kehamilan palsunya. Emilia membayangkan perutnya membesar dari hari ke hari sampai berbicara dengan bayinya. Lucu sih tapi bakal mendatangkan masalah lain.

“Subaru, mungkinkah, kau menyesal telah mengecupku .…?”

“Ah tidak malahan aku mendambakan kecupan tak terbatas darimu!”

“A-apa kau sekarang.… ”

Subaru menyesali tanggapan spontannya yang kini membuat percakapan semakin terjatuh ke rawa kesalahpahaman.

Subaru sebenarnya cuma ingin memberi tahu Emilia kalau dia mendambakan bayi tak terhingga. Memang benar, tapi yang terjadi setelahnya tidak sesuai ….

Emilia perlu diberitahu baik-baik terlebih dahulu. Tapi bagaimana cara Subaru melakukannya?

“T-Terkutuklah kau, Puck!”

Subaru menyumpahi roh kucing yang tengah tertidur di dalam kristal. Dalam kepalanya, dia membayangkan kucing itu sedang memegang kepala, menjulurkan lidah, dan berkata: ALAMAK!

—Subaru, setelah semua kekacuan ini, dia tersadar kalau masih ada Ram atau Frederica yang bisa menjelaskan masalah ini sedangkan Emilia mulai merongrong untuk memberikan nama anak yang cocok.