Re: Zero If Wrath

Posted on

Jika Mengemban Kemarahan

Diterjemahkan Oleh Daffa Cahyo Alghifari

—aku mendengar suara penuh kebencian.

—kata-kata terbalut kebencian menghantuiku.

—menyeramkan, sungguh menyeramkan sampai tidak bisa kutahan lagi.

—dihancurkan oleh tekanan suara yang tak menangkup hasrat-hasrat kebenciannya.

—ia mencengkeram jiwaku dan tidak mau lepas.

—semakin engkau bergantung pada hidup, semakin pasti pula engkau ‘kan menyakiti orang lain.

—karena, terawal dan terpenting, aku menyesal dan merasa bersalah sebab kita kian tenggelam menuju kedalaman.

Bab 1

—leherku.

Mendapati diriku ditahan oleh tubuh ringan seolah-olah ditunggangi layaknya kuda.

Lutut kecil menekan dalam ke pundak selagi menggelepar di bawahnya. Tangan putih kurus tertutup luka memenuhi penglihatan, leherku tersedak. Luka-luka itu mengingatkan bunga merah tua, renungku, sebelum menyesal kepada diri sendiri. Betul-betul gagal membaca suasana.

—sesak nafas, sesak nafas, sesak nafas ketika lehermu dicekik.

————

Persis di depan matanya terdapat sepasang pupil berpendar gairah.

Amarah tiada kekang dan keputusasaan hampa jauh dalam mata bulat besar tersebut.

“Bisa jadi aku jatuh ke mata tak berdasar itu …..” pikir Subaru.

“Ah, itu ….”

—jedug, jedug, jedug-jedug, jedug-jedug, suara-suara dalam diriku ketika meronta-ronta liar.

Bukannya aku berusaha keras untuk kabur.

Melarikan diri sudah tidak bisa lagi sejak sore. Jadi usahaku bukan kehendak untuk hidup, semata-mata penyalahan yang terlahir dari penderitaan belaka. Tubuhku menangis sendiri tanpa guna.

Otak kekurangan oksiden, namun kepala masih ingin hidup, sayangnya tubuh menggeliat protes.

Ada perbedaan di segala faktor, mencari-cari keseimbangan tidak ada faedahnya, aku tidak suka cara berpikir seperti itu.

Tidak bisakah aku mati dengan tenang? Aku hanya ingin mati tenang.

Sedamai mungkin, seolah-olah hendak tidur saja, itulah cara mati paling mengenakkan bagiku.

Tetapi harapan itu takkan terwujud. Jauh dari dikabulkan, takdirku sepenuhnya berkebalikan.

“Heh, he, hehe.”

Mata melebar melotot dari rongganya, mengigit keras dan mulut berbusa, hanya beberapa hari saja sampai tubuh terbebas, dalam kondisi demikianlah aku mengerang dan terluka layaknya hewan buas.

Kesempatan terakhirku untuk beraksi, harus kulakukankah?

Peluang terakhirku untuk mengatakan hal terpantas, mestitah kucoba?

Hei, mengapa dan bagaimana aku bisa berakhir dalam kondisi ini?

“—apa yang lucu?”

Mendadak, dia mendengar suara.

Tak seperti erangan hewan, suara ini dingin tapi jelas.

Pemilik mata itu dipenuhi amarah, bibirnya tertekan tipis saat meremas tenggorokannya, menatap suara itu.

“….”

Apa yang salah, kau tanya pun tidak bisa kuberi tahu jawabannya.

Dari awal tidak ada yang lucu. Tidak ada, jadi sebenarnya kau bertanya apa?

Pertanyaannya membingungkan. Semacam omong kosong kasar, sebuah teka-teki.

Walaupun seseorang memaksaku untuk menjawab, jawabannya pun tak ada. Tetapi waktu-waktu yang aku habiskan dalam keheningan rasanya serba sulit, timbangnya.

Absurd. Tergantung seperti ini karena semacam takdir ilahiah, berapa kali sebetulnya jadi demikian?

“—apa yang lucu?”

Tidak ada yang aneh.

“Huu, heh, heehee.”

Lalu, orang yang bertanyakah yang salah?

Ataukah orang ini saja yang tidak bisa membaca suasana, jadi bersenang-senang saat ini?

Apakah mereka menikmati pemandangan wanita yang menduduki seolah sedang menunggangi kuda, juga mencekik leherku? Jika begitu, lantas kemungkinan mereka bersahabat benar-benar telah terbalik 180 derajat, pikirnya.

“—apa yang lucu?”

Tidak ada yang salah di sini. Meskipun tidak ada apa-apa, pertanyaan tersebut terus-terusan dilontar ke sana-kemari.

Dilontar, tidak, sih. Dia tidak jauh-jauh amat. Malah bukan itu masalahnya.

Cukup dekat hingga bisa merasakan nafas satu sama lain, menatap wajah cantik gadis di seberangnya, dia dikelilingi suaranya. Diselimuti olehnya.

Suaranya berisikan kebencian murni kendati tanpa hinaan menyakitkan atau kata-kata.

“—apa yang kau l-?”

Lakukan.

Pertanyaan yang berkali-kali mencari jawabannya mendadak hilang laksana kabut.

“—euh.”

Memiring, wajah gadis di depanku seketika memiring ke kiri.

Leher miringnya tak naik. Merosot ke samping, tubuh gadis itu terkulai di salju putih. Tentu saja, tangan kurus yang sebelumnya melilit leher juga tidak melepas, takdir kematian Subaru yang sesak nafas telah berhenti di tengah-tengah.

Batuk-batuk, pahitnya darah naik dari tenggorokan.

Paru-paru mengembang dan mengempis, menyalurkan oksigen yang diperlukan ke seluruh tubuhku bergantian. Itu juga refleks, naluri bertahan hidup. Kalau seseorang tidak bernafas kemudian mati, lantas insting atau refleksnya tidak berfungsi dengan baik.

Pertanyaan tentang apakah hal tersebut normal untuk dilakukan seseorang atau tidak, tak ingin kudiskusikan saat ini.

“….”

Perasaan hati Subaru yang hingga kini menerima kematian, sekarang sirna. Digantikan hasrat hidup atas nama oksigen lebih, dan keinginan obsesif tak terlepaskan. Putus asa, mati-matian, dia menginginkannya sampai-sampai tampak menyedihkan.

Biar begitu, tanpa henti mengisi paru-parunya dengan udara dingin setiap kali tarikan nafas, dia mulai menyadari.

“….”

Di tengah-tengah salju putih halus menumpuk, di hadpaannya berbaring seorang gadis yang terjatuh di sisinya.

Wajah serta bibir memucat buruk, kecantikan realistisnya makin-makin memuncak. Mata putih kosong berkilau melebar, sebagai tanda-tanda kehidupan telah berakhir.

Dilihat baik-baik, pemandangannya tak cocok untuk salju.

Seragam pelayan menampakkan pundak dan paha telanjang, bahkan kain yang semestinya menangkal dingin tidak cukup tebal untuk melakukannya. Tengkuk, telinga, dan bagian-bagian lain dapat mudah diterpa angin.

Kondisi terbuka itu—di samping dirinya, sisi ini juga sama kondisinya.

“….”

—gemetar, gemetar, gemetar, gemetar, gemetar, gemetar, seakan Subaru tak biasa sedang gemetar.

Entah dingin atau melankolis kuat dalam hatinya yang menjadi sang pelaku, dia tak tahu.

Dalam situasi ini, alih-alih mencemaskan keadaan tubuh, dia tak dapat mengalihkan mata dari gadis di depannya.

“—M.”

Sekalipun tergeletak di salju, setengah wajahnya terkubur, dia masih kelihatan cantik.

Kebencian dan kemarahan tak terpadam meradang di tubuh proporsional dan menjaganya hidup, dia hanya bisa berpikir demikian. Sekujur tubuhnya terluka, aneh sekali apabila gadis itu masih hidup.

“—”

Salju putih bersih, di sekitarnya terdapat gadis juga, banyak mayat tertidur di sekelilingnya.

Hewan buas pemakan jiwa, melibatkan diri dan menghancurkan jiwa, semuanya sebelum gadis ini menjadi mayat. Jadi, di tempat ini, yang selamat hanyalah dua orang. Dirinya dan si gadis, hanya dua.

Tak lama lagi juga akan menjadi satu, menjadi nol.

“….”

Apa yang terjadi, bergumam di samping gadis sampai ia perlahan berdiri.

Jari-jari bebas di kedua tangannya berubah warna. Jemari yang temperatur suhunya menurun secara signifikan, tiada perasaan tersisa. Gatal lemah ialah satu-satunya bukti bahwasanya jari masih melekat pada tubuh.

Gemetar sebab jemarinya tak bisa diandalkan, dia mengangkat batu sebesar kepala.

Tanpa maksud maupun tujuan, hanya batu yang kebetulan berada di sana.

Dia yang dapat mengangkatnya diam-diam membuatnya lega.

Membandingkan batu di tangan dengan gadis yang pingsan.

Sejenak, baginya, batu tersebut memasang ekspresi serupa dengan mereka yang mati.

Dia tidak tahu sedang tertawa atau apa. Namun bayangan yang berapi-api dalam benaknya memanas. Seorang oni, mayatnya saja, dilempar ke musuh, sederhana.

Seolah dicabut dari akar-akarnya, dengan kedua tangan dia angkat batu itu ke atas.

Tindakannya, jika dilihat-lihat, pemilik mata merah muda itu berbicara lirih, namun suaranya jelas tak teragukan.

“—pasti, aku akan membunuhmu.”

“—suara sesuatu menimpa sesuatu berat, dalam hutan yang perlahan-lahan terlingkup salju, pelan-pelan bergema.

Ia bergema.

Bab 2

—hari itu, mansion rusak Roswaal L. Mathers berangsur-angsur runtuh.

Orang pertama yang menyadari keruntuhannya adalah seorang wanita yang berusaha habis-habisan untuk mempertahankannya, sebab itu sifatnya juga bisa dikatakan jahat.

“—”

Sang tuan rumah, Roswaal, darinya dia mendapatkan ganjaran besar.

Begitu mendengar kedua saudari pembantu mansion tidak lagi bekerja, tahu tidak ada lagi yang mengurus pemilik, dia segera pergi ke sisinya.

Melihat tuannya memucat membuat dadanya terasa sakit.

Meskipun kedua pasang mata beda warna yang berkilau-kilau penuh percaya diri.

Bisa dibilang bagus bisa juga dibilang unik lebih tapi mendekati aneh. Riasan badut sempurna yang menyeramkan itu nampak bagai paku yang menggores perasaan orang lain, dia telah kehilangan cahayanya, dialah Roswaal.

Setelah bereuni—Frederica mengepalkan tangannya erat-erat.

“Tidak boleh berakhir seperti ini. Meskipun demi anak-anak itu, saya-“

Kalau dia tak melindungi posisinya, seandainya dia memilih itu, maka semuanya akan jadi lebih sulit, demikian pikirnya. Tidak memikirkan bila hal itu bisa diselesaikan, melainkan fokus berharap dan berangan-angan untuk melakukan sesuatu, karenanya dia mesti mulai bertindak.

Untuk sekali lagi mengangkat derajat mansion, dia bergerak, walaupun tidak tahu caranya, dengan tawaran kerja sama yang ‘kan dia seret tangan masternya setiap hari, dia sibuk mondar-mandir.

Frederica sama sekali tidak berniat berhenti ataupun rewel.

Biarpun kadang kala kakinya sakit-sakit sampai melambankannya, dia senantiasa habis-habisan mengangkat kepala dan melanjutkan.

Apabila aku jatuh di tempat ini, maka aku tak layak menatap wajah orang-orang yang berharga bagiku.

Sebab suatu kala, dia sampai lupa tertawa. Sebab acap kali, dia lupa istrirahat malam sebenar-benarnya.

Biar begitu, dengan susah payah, Frederica berusaha melindungi orang-orang yang dia cintai, tak melepaskan gelembung-gelembung yang naik dari air dan memegangnya.

Meskipun begitu.

“—ah.”

Tatkala Frederica menyadarinya, sudah terlampau terlambat bagi semuanya dalam mansion.

Dalam koridor putih beku tersebut, dunia terbolak-balik saat sepatunya membeku, dia tak tahu sedang berada di mana.

Pemandangan mansion yang dahulu familiar telah berbeda penuh dari yang dia ketahui.

Koridor yang dibersihkan berhati-hati, dapur tempatnya selalu memasak, di mana tangan-tanganya bekerja untuk mereka yang memerlukan layanannya, di depan mata kini telah menjadi dunia putih mendung.

Perihal siapa yang melakukannya—

“Roh Agung-sama ….”

“Maaf, Frederica, bukan salahmu. Hanya saja, jikalau aku ingin melindungi hal terpenting, maka inilah keputusan terbaiknya.”

Mengatakannya, menunjukkan wajah dan melayang ke udara, dialah seekor kucing kecil bulu abu-abu.

Sedemikian mungil sampai-sampai kalau ia mau bisa saja berdiri di atas telapak tangan, namun dalam tubuh kecil itu dia memegang kekuatan definitif, potret mahluk sebagaimana rupanya.

Frederica tidak mempercayainya. Tapi sekarang ragu-ragu pun tidak ada dasarnya.

Ada insan yang mengubah mansion ini menjadi dunia putih.

“Kenapa, melakukan ini ….”

“Sudah kubilang, seluruh perbuatanku hanyalah untuk Lia. Lia meninggalkan hutan, itulah keputusannya. Demi keamanan gadis itu, pikirku …. Namun tidak berguna lagi. Pasti telah jatuh ke tempat lain.”

“—”

“Roswaal yang kusalahkan. Pria itu penjahat menyedihkan.”

Menggelengkan kepala, dengan suara tanpa emosi Puck menimpali kata-kata Frederica.

Terhadap kalimat itu, nafas wanita tercekat. Taring-taring tajamnya tertutup rapat-rapat.

“—tuan kediaman ini, menghina mereka, aku yang seorang pelayan, itu tak termaafkan.”

“Kau juga, anak yang menyedihkan. Hanya kau seorang yang terbengkil-bengkil melindungi tempat jatuh ini.”

“Tolong berhenti bicara seolah-olah Anda mengungkit masa lalu, masih belum berakhir.”

Panggilnya tajam. Tak memberikan kesempatan roh agung itu.”

Frederica melotot di depannya dan berkata begitu, anak kucing itu menyipitkan mata bulatnya dan menatap kasihan wajah si wanita. Gerakan dan eskpresi sesosok mahluk yang mirip-mirip peri kemanusiaan, Frederica maju dan merendahkan tubuhnya.

“Emilia akan sedih.”

Keengganan sejenak dari roh kecil agung itu bisa jadi menjadi kemenangan Frederica, itulah yang diharapkannya.

Sayang ….

Saat dunia yang berbeda antara dirinya dan Puck terbayang oleh mata, Frederica menggertak tegas giginya.

Apakah itu awal penyesalan atau kesedihan, sudah terlambat untuk dirasakan.

Semata-mata angin sepoi-sepoi biasa yang bertiup, dan di sanalah wanita bernama Frederica berdiri mebeku.

Kejatuhan mansion Roswaal baru permulaan.

Bab 3

Ketika menyadari tanda-tanda kehancuran, semuanya sudah kelewat terlambat.

“….”

Langkah kaki kedap suara, Roswaal berjalan di rumahnya sendiri.

Massa udara beku di bawah kaki pecah-pecah dengan suara dentingan, angin dingin menggelitik tengkuknya.

Lehernya sedikit merasakan dingin yang mendadak datang, reaksi fisologis aneh.

Sedang memilih pakaian, merias wajahnya adalah tugas Frederica.

Gadis rajin dan antusias, entah bagaimana berusaha membayar rahmat yang dia dapatkan dari tempat ini, namun kini amat terlambat. Hati Roswaal yang semestinya mati sekarang sakit sedikit.

—Jalan rahasia Roswaal suatu saat terhambat.

“Ram, Rem ….”

Barangkali kehilangan saudari oni.

Keduanya diperlukan sebagai kelangsungan rencana rahsianya, jadi jika mereka tiada maka bagian kuncinya dianggap gagal. Kala tersadar semuanya telah terbalik, Roswaal ditinggalkan sendirian.

Empat ratus tahun kemudian, ketika Roswaal sadar bahwa doa yang lama dipanjatkannya hancur, dia tidak lagi bisa berdiri sendiri.

“… Ram.”

Nama itu melirih singkat, nama yang menyampaikan penyesalan terbesar.

Awalnya, kemungkinan segalanya berakhir menjadi demikian, Roswaal sendiri sudah mempertimbangkannya.

Sebetulnya, pertimbangan seluruhnya akan berakhir buruk jauh lebih tinggi. Sebab Roswaal mengutamakan keselamatan dirinya.

Seketika sang ajal datang menjambangi, dia ingin seseorang entah di sana dapat menerimanya dengan bahagia.

Dia yang mati di hadpaannya, telah merusak roda gigi terakhir dalam sisa-sisa rencananya.

“….”

Lantas, Roswaal yang berjalan di mansion ini tentu aneh.

Telah kehilangan alasannya untuk berdiri, juga alasan untuk berjalan telah terenggut darinya.

“Master, mohon kembalilah ke pribadi Anda terdahulu. Sehingga mereka berdua—”

Seringkali Frederica memohon sungguh-sungguh pada Roswaal.

Roswaal yang berputus asa, tugas merawat masternya yang hilang harapan jatuh kepada Frederica. Dia berusaha keras membujuk tuannya untuk memulihkan diri, dengan kegigihan dan pengabdian.

Jadi kekuatan untuk berjalan di rumah yang kini beku masih mendekam dalam diri Roswaal.

Di tengah-tengah koridor, berkeliaran tanpa tujuan, pandangannya sekarang ke pemandangan di luar jendela.

Jadi dia melihat dunia beku, dan sosok gadis berambut pirang yang berusaha melawannya.

“….”

Tak memproteksinya adalah hal yang tidak dapat diterima, mungkin dia berpikir demikian.

Atau bisa saja berbuat berdasarkan refleks, dia tidak tahu.

Secara refleks, atau malah kalau tidak dilakukan maka takkan cukup, segitu saja akal sehat yang masih tersisa dalam tubuhnya.

Jadi sekarang, Roswaal perlahan-lahan merentangkan tangan lebar-lebar, bersiap-siap menyiapkan mana berjumlah besar—

“—hiyah!”

Pada waktu-waktu itu, Roswaal nyaris tidak menghindari cahaya terang tebasan yang menargetkan lehernya.

“—ah, ekspektasiku kau tidak bisa mengelaknya. Boleh jadi kau ini bukan cuma penyihir istana, tapi juga punya kemampuan bela diri yang sederajat kekuatannya?”

Dari belakang punggung Roswaal terdengar suara santuy.

Dalam lorong beku menghindari dengan kecepatan seolah terpeleset, atau kecepatan sesuatu yang terbakar, perlu banyak waktu untuk melihat ke arah suara seorang pria muda rambut biru.

“Gerakan barusan, salah sedikit takkan sukses. Sejujurnya, aku terkagum-kagum.”

Mengenakan kimono biru, langkahnya memperlihatkan kuda-kuda jernih, dua pedang di pinggangnya, salah satunya menepuk pundak dengan suara buk, buk.

Penampilan rapi dan nampak cocok dengan senyuman. Impresinya bak seorang anak kecil, mata bercahaya bersinar-sinar dan rambut panjang diikat itu entah bagaimana kelihatan seperti hermaprodit.

Namun dari matanya, walaupun jelas—ditatap olehnya saja sudah kedapatan bayangan dirimu yang seolah-olah dibunuh, penglihatan kematian juga menghampiri disertai kesan baik sebelumnya.

“Sekiranya kau seseorang yang percaya pada lebih dari sekadar sihir, hatiku terbebas dari beban, benar-benar sangat membantu. Lagian, tugas yang normal-normal tidak pas dengan estetikaku. Bukan, semisal disuruh melakukannya maka akan kulakukan, tapi kalau bisa sih ingin aku tidak ingin dianggap seorang penjahat.”

“Sesuai kata rumor, kau ini berisik, ya?”

“Oh, begitukah rumorku? Yasudah. Bahkan di tempat ini pun terkenal? Hehehe, aku harap rumor itu tidak aneh-aneh sih.”

Pria muda itu berbicara santai sembari menggaruk-garuk kepalanya sambil memasang senyum malu.

Selagi melihat pemandangan ini, membantu Roswaal untuk menyelesaikan situasi yang menimpanya, pikiran lambannya terbakar api hingga membuatnya terjaga.

Api berkecamuk di tangan kirinya merasakan sensasi terbakar.

“….”

“Tapi tangan itu, misal tidak buru-buru bertindak darahmu akan terkuras, betul?”

“Saranmu, aku sungguh berterima kasih karenanya.”

Dalam pandangan si pria muda, bibir Roswaal melengkung layaknya busur yang menggambar luka cat.

Tangan kiri dekat bahu Roswaal yang seharusnya menempel di sana menghilang, bagai boneka bekas, hampir tak realistis berguling-guling di lantai.

Tanganku terputus saat menghindari serangan pertama yang mengarah ke leherku.

Setelah mendengar saran untuk sepenuhnya bertindak, Roswaal menahan lukanya, dan semburan api instan langsung menghentikan pendarahan. Rasa sakit mengerikan itu mrobek-robek otaknya dengan pipi kaku yang dia tunjukkan.

Perawatan darurat ekstrem, pria muda itu hanya menatap tenang.

“Aku kira penyihir itu penyegan, tapi yang satu ini tidak … maksudku, tapi referensi untuk itu sebetulnya orang yang kukenaltah?

“Tadi kau bilang tahu, Cecilus Segmunt.”

“….”

“Sembilan Jenderal Dewa paling perkasa di Kekaisaran Vollachia? Berada di peringkat puncak, Petir Biru, kabar itu bahkan tersohor di Lugnica.”

“Oh, itu sebuah kehormatan.”

Di hadapan suara lirih Roswaal, pemuda itu—Cecilus Segmunt merespon dengan sopan santun.

Tidak ada gunanya menyembunyikan identitas. Sedari awal tidak perlu menyembunyikan nama, sehingga dia beraksi penuh martabat dan kepercayaan diri.

Menyaksikan tanggapan ramah dari percakapan dramastis mereka, Roswaal mendesah.

 “Tapi kesampingkan itu, apa yang terjadi sekarang ini? ~Aah, jangan-jangan, saat ini kala penguasa baru Kerajaan Lugnica ditentukan, rupanya Kekasiaran Vollachia bergerak melanggar perjanjian?”

“Oh, itu salah paham. Saat ini bisa dibilang aku sedang bertamasya dan bersantai-santai, atau bisa juga menganggur. Omong-omong, urusan ini tidak ada hubungannya dengan Kekaisaran.” ucapnya.

“….”

“Ini bukan lelucon krik ya. Perbuatanku, Kekaisaran tidak terlibat sama sekali. Tapi loyalitas kepada Yang Mulia masih bersemayam dalam hati …. Tapi bagiku, asalku yang berarti.”

Sikap apik, Cecilus menekankan bahwasanya dia dan Kekaisaran tidak bekerja sama. Sulit mempercayainya tanpa bukti. Tetapi gerak-geriknya, jika dia benar-benar beraksi sebagai agen Kekaisaran, itu sama sekali tidak masuk akal.

Atas alasan itulah, Roswaal menyipitkan matanya yang berwarna kembar lalu menanyai Cecilus.

“Malah jadi lebih mencurigakan lagi. Mengabaikan posisimu di Kekaisaran dan datang ke sini. Aku ingin tahu~ apa yang dapat menggerakkanmu sampai sini.”

“Mudah dimengerti—jalan menuju pedang ilahi, kepada langkah yang telah dijanjikan.”
“Jalan menuju pedang ilahi?”

Mendengarnya, Roswaal mengerutkan alis rapihnya.

Cecilus yang melihatnya mengangguk sebagai tanggapan. “Ya,” gumamnya. Ekspresi itu seolah-olah tengah tertawa, tetapi pupilnya berbeda emosi.

Selain kegembiraan dan kesenangan juga kebahagiaan, ada juga Petir Biru, sesuatu yang menarik perhatian seseorang.

“Rahasia yang tak pernah kuungkapkan kepada insan hidup mana pun. Menyelesaikan tugas ini adalah bantuan tuk mencapainya, kesempatan demikian takkan terlewatkan.”

“Sungguh tak terduga, kau sepertinya bukan tipe-tipe orang yang berada di bawah orang lain.”

“Dikendalikan orang lain, atau semata-mata menerima tahap yang takdir sediakan, bukankah hanya ada perbedaan subyektif antara keduanya? Aku menerima peran awal dunia, dan segala naskahnya pula. Menjaganya, suatu adegan mestinya terungkap seakan-akan muncul seorang aktor tanpa naskah, barangkali.”

Mengenai Cecilus yang mengangkat bahu dan matanya warna-warni, Roswaal hanya mengangguk.

Dia menyerah bertarung argumen. Keyakinan serta filosofi yang kukuh dibangun dari banyak kemenangan.

Untuk membengkokkan pemikiran tersebut, mustahil bagi Roswaal umur empat ratus tahun yang cuma mengejar obsesi individual.

Menurut Roswaal yang suka menjaga konsistensi, filosofi itu dianggap menarik baginya.

“Nampaknya aku tidak benar-benar membencimu, malahan agak menyukaimu. Namun karena ini merupakan peranku jua … penyihir kerajaan Kerajaan Lugnica, Roswaal L. Mathers, aku akan mengambil leher itu bersamaku.”

Rupanya mengambil keputusan sendiri dengan cara santun, Cecilus mengembalikan katana yang dia pegang ke sarungnya.

Keindahan pedangnya seperti yang dituturkan kabar burung, tebasan pedang yang terselimuti kekuatan maha besar.

“—sekali lagi, kini bersama pedang mimpi, Masayume.”

“Apakah itu tebasan yang memakan jiwa pemiliknya?—Cecilus, boleh bertanya sesuatu?”

Pemandangan berapi-api di hadapannya, Roswaal dengan gampangnya mengangkat satu jari.

Di depan suasana berlumuran darah lagi beku. Dalam situasi itu, seakan gagal membaca suasana, dia menanyakan Cecilus pertanyaan tunggal.

“Kelemahanku itu tidak mendengarkan orang-orang dan betul-betul tak tenang di depan seseorang yang usianya di atas 20 tahun. Karena itu aku acapkali kena masalah di Kekaisaran.

“Siapa nama bosmu?”

Cecilus yang ditanya demikian, alisnya terangkat sedikit.

Menurunkan pedang sembari menarik mundur kaki. Pelan-pelan tubuh bagian atasnya mencondong.

“Menggosipkan orang lain itu buruk, tapi, sebab itulah, aku mendengar semacam latar belakang Raja Pemurni …. Tapi untukmu, sebab aku diminta untuk memberi tahu nama sebenarnya kepadamu ….”

Memberi kalimat pembuka, lidah Cecilus membasahi bibirnya.

Setelah jeda beberapa menit, dia berkata ….
“….”

Tatkala nama itu menggapai telinga, bayangan kabur melompat dari lantai mansion, Cecilus menghilang.

Cukup cepat sampai salah kira bahwa ia menghilang dari dunia.

Petir Biru, layak dengan julukannya, baut busur tercepat, dan momen-momen itu kian cepat.

Melintasi jarak, secara instan.

Tetapi dalam waktu instan tersebut, Roswaal mengujar sambil tersenyum.

“Ternyata kau.”

Bahkan sebelum kata-kata itu muncul ke dunia, lintasan katana kedua berayun lebih kilat.

Tepat sebelum semuanya menggepal, benak Roswaal merenung.

Mengenai gadis-gadis yang berada di mansion.

Gadis-gadis yang terlibat dalam jalan rahasianya sendiri, ujung-ujungnya tak menyisakan kebahagiaan sama sekali.

—Kau tidak punya hak ataupun waktu untuk meminta maaf, setelah mengucap kata-kata terakhirnya, semuanya memudar.

Bab 4

Door Crossing, berfungsi menghubungkan pintu masuk Perpustakaan Terlarang ke pintu lain, hanya itu kegunaannya.

Dari efek sederhananya, fleksibilitan Door Crossing cukup tinggi, dan dia bangga dengan sihir luar biasa itu. Tapi, seperti sihir-sihir lainnya, Door Crossing tidak sepenuhnya sempurna.

Bila pintu-pintunya dipermainkan, kegunaannya bisa beralih menjadi kekurangan. Maka dari itu, eksistensi Perpustakaan Terlarang sekaligus Door Crossing tak boleh diungkap kepada orang luar.

Jadi bagi orang lain, sesuatu yang tak boleh diungkap.

—Sebab itulah. Situasinya tak terhindari, pikirnya.

“Apa itu, kau pengen melucu, ya?”

Pada saat pintu Perpustakaan Terlarang terbuka, Beatrice sendiri paham bahwa dirinya telah dipanggil.

Mansion besar disertai banyak pintu yang bisa dipilih, tetapi, Beatrice dipandu secara paksa ke satu pintu.

Metodenya gampil. Bila mana pintu-pintu lain tidak bisa dibuka lagi, maka teka-teki terselesaikan.

Cara menyegel Door Crossing adalah menghapus pilihan pintu-pintu mana saja yang terhubung.

Tugas yang memeras otak tersebut sukses dijalankan, dan dalam pintu mansion yang bisa terbuka sekarang terbatas pada satu pintu belaka.

Perkara seseorang yang memberi tahu caranya, pastinya nee-chan yang dia mengerti baik-baik.

Goyah oleh kenyataan ini wajar-wajar saja. Karena, membuat keberadaannya tidak jelas.

Meskipun begitu, mengira nee-chan-nya tidak bagus melawan Beatrice. Sebab itulah, gadis kecil menahan dendam kepada kakaknya, alih-alih menghadapinya langsung dengan pintu terbuka lebar-lebar.

“—yo, Beatrice.”

Tanpa ragu-ragu membuka pintu, memanggil Beatrice, dia melambai-lambaikan tangannya.

Suara serta tindak-tanduknya, dia ingat itu. Karena itu tubuh Beatrice merinding ketakutan.

Wajah dalam ingatannya, dan wajah yang kini terlihat di depannya, tak satu pun detail kelihatan sama.

Selagi bagian-bagian umum dalam ingatannya setuju saja, situasinya orang itu sudah seperti insan lain.

“Kau. Kenapa menatapku begitu, ya?”

Mata berkilau-kilau gelap tampak di depannya, Beatrice menggeleng kepala.

Jauh dari yang namanya kemajuan, mata dinginnya telah berubah dan kian menjijikkan.

Janggal, rambut dan mata hitam masih ada, sepasang pupil yang kehilangan cahayanya menampakkan samar-samar emosi gelap.

Sekeliling matanya yang mengingatkan kesuraman adalah lingkaran gelap nan dalam, pipi tipis nan rapuh berada di bawahnya, dan jari-jarinya pucat bagaikan mayat.

Pakaian gelap panjang membungkus tubuh, meminimalkan paparan kulitnya—di antara seragam serba hitam tersebut, yang menonjol adalah syal merah cerah. Barang itu saja cukup mengkhianati kesan suramnya.

Setelahnya, waktu berlalu sejenak.

Tapi, kendati begitu, perubahannya terlalu signifikan. Mungkinkah manusia ini sudah menjadi sangat berbeda?

“Kau, suasana hatimu sungguh-sungguh telah berubah, ya.”

“Dari perkataanmu, sama sekali tidak berubah. Pertumbuhanmu memangnya drastis? Normalnya, 2 tahun berlalu dirimu menjadi sedikit lebih dewasa.”

Suara kosong, ucapan Beatrice dibalas lelucon.

Dua tahun. Sesuai perkataannya, maka dua tahunlah waktu telah berlalu.

Hanya dua tahun, dari perspektif Beatrice, hanya sekadar kedipan mata, perasaannya merasa demikian. Bagi manusia, apalagi ia yang berdiri di depannya, tahun-tahun itu sangat bermakna, renung Beatrice.

—bocah yang bisa mati kapan saja, kembali membawa dendam seperti ini, apakah waktu itu amat bermakna?

“Aku penasaran kau masih ingat tidak, Beatrice, kita makan bersama.”

“… memori itu tidak ada, ya. Makan bersama tidak pernah terjadi.”

Di hadapkan dengan tuturnya, alis Beatrice mengernyit.

Dua orang yang saling berhadapan itu berada di dapur lantai pertama mansion. Kain putih menutupi meja, kursi di tengah adalah seseorang yang menanyakan Beatrice sebuah pertanyaan misterius.

“… ah, ah. Itu toh, kau tentu tidak tahu itu, barusan, aku jahat, selalu saja, jahat, selalu saja, aku.”

“Ada sesuatu …. Bukan, itu, mendengarnya sekarang, yah mau bagaimana lagi.”

Sesaat, hati Beatrice diterpa keragu-raguan.

Tapi, gadis itu dalam sekejap membunuh gangguan unfaedah dan menyegelnya. Kemudian. Ke seseorang yang mencurigakan, telapak tangan mungilnya menunjuk.

Sebagai pelindung dan pustakawan Perpustakaan Terlarang, kebanggaannya—atau, mempersembahkan tubuhnya untuk mempertahankan tugas tak diinginkan, rasa tanggung jawab seketika menguasainya.

“Balas dendammu padaku, barangkali itu yang aku dapatkan, ya. Biar begitu, Betty punya peran sendiri untuk dimainkan, ya. Maka dari itu ….”

“….”

Mengerahkan kekuatan, Beatrice dalam perannya sendiri hendak memblokir kejahatan apa pun dari orang itu, gadis itu fokus betul padanya.

Melihatnya, ekspresi pria itu agak samar. Sesuatu berada di sana, seolah berusaha menahan perasaan sulit nyata, ketika itulah Betarice menguatkan kakinya.

“Untuk menjagaku, Beatrice—aku, bukankah kontraknya untuk melindungiku?”

—saat itu, Beatrice mendadak berhenti.

“… ah.”

Kontrak, kata itu membuat tubuh Beatrice ditusuk syok, dia menjadi kaku.

Dan oleh kekakuan itu, tatkala otak Beatrice terus berpikir, belum hilang juga.

Sesuatu dalam benaknya bukan pelaku. Secara fisik, gerakannya terhalang. Itu—

“Maaf, tapi dengan ini kau takkan bisa bergerak.”

Di samping Beatrice, sesuatu bangkit dari bayang-bayang, seseorang terungkap dari sana.

Mengenakan kimono hitam dan menggigit pipa kiseru1 warna emas dengan gigi tajamnya, berdirilah seorang Manusia Serigala yang kelihatan tinggi namun lusuh.

Mata sipitnya bergerak melihatnya, menatap Beatrice yang cuma setinggi pinggangnya. Kedua pupiknya tak terdapat emosi satu pun, leher Beatrice merinding.

“Itu ….”

“Mengikat bayang-bayang, luarnya sepertinya teknik ninja nan menakjubkan, bisa dibilang begitu. Anggap saja sebuah seni. Meskipun, kau takkan mencari tahu mengenainya …. Bagaimanapun, kaulah manisku.”

Tertegun, kebebasan tubuhnya diambil, Beatrice tidak bisa melakukan apa-apa selain mendengar suaranya.

Kala kata-katanya terdengar, bicaranya tak gemetar, seakan tak salah lagi berada dalam ingatan terbagi-bagi. Pelan-pelan bangkti dari kursinya, dan makin mendekati sisi Beatrice, mata orang itu gelap, tapi tanda-tanda tak senang sama sekali tidak ditemukan.

Membalaskan dendam, apakah itu alasannya mencari tempat ini Beatrice menyimpulkan. Tapi kilau dalam mata si manusia, pembalasan dendam, entah bagaimana anggapannya malah terlihat jauh dari kebenaran.

Dalam mata gelap redup cahaya tersebut, bersemayam perasaan-perasaan yang merobek dadanya.

“Dulu, kau membiarkanku kabur dan aku masih di sini. Itu, tentunya, ingin memberitahumu bahwa aku menimbang-nimbangnya.”

“Bahwa, inilah metodemu …. Kau beneran pria menyusahkan, ya …. Jelas menjengkelkan.”

“Maaf. Tapi kau sudah tahu jawabannya, Beatrice.”

Menginterupsi imbuh Beatrice selagi si gadis menggertak gigi, pemuda itu berangsur-angsur menggelengkan kepala.

Bibir itu, membentuk sebuah senyuman, menatap Beatrice dalam diam.

Kalau dipikir-pikir lagi, pernahkah Beatrice melihat orang itu tersenyum seperti ini? Dulu, ketika dia membiarkan orang itu menghabiskan waktu berjam-jam di Perpustakaan Terlarang, waktu itu.

Mengingat-ngingat masa lampau Beatrice, orang itu mengulurkan tangan dan berkata.

“… bahwa kau dan aku, kita adalah jenis yang sama, begitu.”

“….”

Sudut matanya merosot, dan kini, matanya berubah lagi ke saat dahulu, sebagaimana pertemuan pertama mereka.

Kembali lagi, tempo hari di mansion, sebelum menjadi aneh, dia kembali lagi.

“Ketika itu, tekadku hanya mati saja, tapi kau tak menyerah, kau menyelamatkanku. Bahkan sekarang berapa kali pun, berapa kali pun sekelebat terbitnya matahari merah terlintas dalam kepalaku.

“Kau ….”

“Aku masih berterima kasih kala itu, Beatrice …. Mengapa, tatkala itu, kau tidak membunuhku?”

“… uh.”

Itu boleh jadi, ucapan terima kasih, atau kalau tidak maka kalimat penuh kebencian.

Yang mana pun, melihat wajah itu bersuka duka ketika mengatakannya, Beatrice hanya heran.

Jadi inilah pengaruhnya, hati mereka memakan keputusasaan, saat itulah Beatrice masuk.

Seolah secara alami mendekap tubuh yang membuat gelisahnya terlepas, dan tangan terentangnya menurun. Tapi, dalam kebebasan baru ini, kekuatan untuk melawan sudah hilang.

Kenapa, karena telah kembali, mudah untuk dipahami.

“Beatrice, aku berterima kasih. Rasanya aku menyukaimu. Dalam waktu-waktu itu, hanya kau seorang yang benar-benar dekat denganku, demikian isi pikiran ini.”

“… itu, pengakuan terburuk.”

“Aku setuju.”

Mendengar ujarnya, jawaban Beatrice adalah perasaan hampa.

Kemudian, dalam mata hitam bocah itu, Beatrice melihat kebenarannya—itu, emosi hitam di dalamnya akrab bagi Beatrice, dari situlah dia tersadar.

Ada, menetap dalam dadanya, sedikit demi sedikit ‘kan menelan seluruh harapan, pentingnya menghindari itu agar tidak kejadian.

—sebuah penyakit yang dinamakan keputusasaan, dalam dirinya, dalam Beatrice, telah bersarang tenang.

“Halibel, sebuah pedang.”

Atas permintaannya, manusia serigala itu menunggu di dekat Beatrice sembari mengangkat alis.

Diam-diam, melihat pertanyaan dan jawaban mereka berdua, sekarang Manusia Serigala itu yang menggeser kiseru-nya ke atas-bawah.

“… apa boleh?”

“Sebuah pedang.”

Diperintahkan berulang kali, pria serigala itu mengayun tangan kirinya tinggi-tinggi.

Lanjut, mendarat di lantai dapur dengan bunyi gedebuk, sebongkah baja hitam menempel di sana.

Melepaskan sinar kusam, sebuah logam berwarna gelap. Desain sederhananya dapat menebas kehidupan.

“Kau ingat kontraknya, aku sungguh senang.”

Walaupun kau cuma ingin menggunakannya saja, bukan pemikiran itu yang tak terpikirkan olehnya.

Namun. Benar-benar baginya ialah suka cita tak tertahankan, nada suaranya berbicara. Entah bagaimana perasaan untuk menyalahkannya tidak sungguh-sungguh muncul dalam diri Beatrice.

“Kau, dengan warna-warna yang layak padamu, sangat indah, lho.”

“….”

Ketika itu, mata Beatrice terbuka lebar, matanya penuh deras air.

Di pandangan mengaburnya, orang yang menatap lembut dirinya masih setia di sana. Saat dia berkedip, air mata mulai mengalir ke pipi. Menangis sepertinya, melihat sosoknya hingga akhir adalah harapannya.

Orang itu, diri Beatrice sama seperti dirinya, orang itu mengatakannya.

Setelahnya, pasti ada sebuah alasan, alasan dirinya berada di sana demi Beatrice.

Dulu, dari perbuatannya, aksi entahnya sangat memengaruhi hidupnya.

Itu telah berubah, berubah, dan berubah kepadanya seperti ini.

Bahwa mereka, demi Beatrice ini, perlakuan ini, adalah untuk membebaskannya—

“Apakah kau, Orang itu?”

“….”

Lidahnya kaku, menggigil dan gemetaran, Beatrice menukas kata-kata itu.

Kalimat yang tersembur seperti desahan, saat didengar oleh bocah laki-laki yang berdiri di depan matanya, gerakannya sedikit terhenti.

Aku memberikanmu waktu. Untuk kata-kata pahit atau apalah itu, akan aku terima segalanya, tekadmu dapat dipahami.

Terhadap kebulatan hatinya, Beatrice—

“… kaulah Orang itu, Betty, ya?”

Maksud pertanyana itu, dia pasti takkan mengerti.

Bahwasanya akan hadir jawaban, Beatrice tak terlalu mendambakannya.

Hanya saja, kalau perpisahan terakhirnya, bila itu yang datang mencari-cari dirinya, dia mesti mendengarnya baik-baik.

“aahhh.

—jadi, terhadap senyumnya, dia menyetujuinya, dan kepala Beatrice hancur dan kacau.

Oleh senyuman kasih sayang, oleh tutur yang terucap ramah, oleh pedang yang terangkat dalam berkat.

“Akulah, Orang itu bagimu.”

Sekali lagi, tetesan air mata besar, mengalir di atas pipi gadis yang memerah, menggulung dan terjatuh.

Bab 5

“Seorang pria tenggelam bahkan akan berani mencengkeram jerami, di daerah asalku ada pepatah seperti itu~”

Menghadap lantai yang tertutupi karpet merah, seorang pria mendengarkan.

Karpaet itu, wajahnya kelewat dekat.

Menatapnya, nafasnya megap-megap. Detak jantung berdegup di telinga, tubuhnya terasa seolah baru selesai berlari di sepanjang lapangan luas.

Nampak berusia enam puluh tahun, seorang pria paruh baya.

Terlihat kebapak-bapakan yang sudah punya anak, bahkan cucu, menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya telah hidup lama nan panjang.

Posisinya sedemikian rupa, banyak orang berbicara dengannya, dan sesekali perlu melawan salah satu dari mereka.

Punya karir panjang dan cemerlang, orang ini sangat dipercaya oleh pihak-pihak di sekitarnya.

Dirinya spesial, tidak ambil pusing untuk menyombongkan dirin seperti itu. Tetapi terlahir dengan kecerdasan di luar norma, dia putuskan hidupnya akan sangat berarti.

Karenanya, dalam situasi terkini, dia semata-mata bertanya-tanya apakah dirinya berada dalam mimpi atau ilusi. Dia tak mempercayainya.

—dia, telah bertekuk lutut, di depan lawan yang tidak lebih tua dari cucunya sendiri.

“Jerami, kau tahu apa itu? Barangkali ada jerami seperti yang kupikirkan di sini …. Contohnya gandum, atau semacamnya. Yang dalam air parah banget sampai tahu betapa tidak berguna sekali, segenap kekuatan mereka tak akan mendapatkan apa-apa … perasaan semacam itu.”

“….”

“Sederhananya, manusia sekarat akan habis-habisan berusaha bertahan hidup apa pun yang terjadi, demikian makna peribahasanya. Menurut sudut pandang mereka, hal-hal kelihatan berebda. Mereka masih berpikir hendak memutar balik keadaan, namun bagi kita itu tuh cuma perjuangan sia-sia.”

Dengan lancarnya, suara di atas kepalanya berbicara lancar.

Tentang perkatannya, sebagian besar tidak berguna, tapi tak satu kata, tak satu kalimat dilewatkan entah apa mungkin karena takut menyulut amarahnya. Tak tatkala rumor mengerikan mengenainya menumpuk bagaikan gunung.

Bocah itu, yang baru muncul dua tahun lalu, telah diperbincangkan dalam desas-desus kejam nan mengerikan semenjak itu.

Semua yang menentangnya, keluarganya, dan mereka yang penting baginya disingkirkan dengan cara apa pun. Oleh kekuatan tak tertahankan yang terus dia sebar luas, Pleiades.

Kesuksesannya mengerikan, meneguhkan hatinya terhadap mereka yang tak menghormati kekuatannya, dan orang-orang memanggilnya.

Raja Pemurni, panggilan bocah itu.

“….”

Pria tua berlutut di tempat yang tersembunyi empat negara besar, tujuannya dimulai dengan mengendalikan tatanan dunia bawah, markas organisasi ini benar eksis.

Potret-potret digambar mewah, benda-benda yang dihias secara yahud terkumpul dalam ruangan ini sampai kepenuhan. Itulah aula resepsi organisasi.

Sang raja berada di takhta ruangan—sesuatu yang dapat disebut harta, di atas takhta tertinggi dia duduk dan memandang rendah tamunya.

Persiapan mencengangkan dan mewah, jumlah emas yang digunakan cukup membuat pusing kepala seseorang. Penghasilan menumpuk dari kehidupan seseorang berjumlah seribu, tidak, puluhan ribu kali lipat, kesemuanya masih tak bisa disentuh sorot seseorang dan secara alamiah mengacaukannya, perasaan seperti itu.

Sebab organisasi ini—tidak, kekuatan sang raja yang bahkan sekilas tatapan orang idiot pun mengerti. Kendati seseorang tak layak mampu datang ke sana. Orang itu, sesudah memasuki ruangannya, tidak akan pernah melihat cahaya hari lagi.

Pertunjukkan kekuatan sederhana, pameran kekayaan semata sama sekali tidak sebanding.

Lusinan pria berjejer di dinding, mereka semua terkenal akan identitas tentara bayaran atau prajurit. Semuanya, kesetiaan mereka didapatkan hanya oleh uang, namun untuk betul-betul membayarnya, sebetulnya semahal apa?

Meskipun jumlahnya hanya beberapa lusin, untuk mempertahankan pasukan ini, sejumlah besar emas diperlukan.

Lanjut, di antara kerumunan orang-orang terbaik, bukan hanya itu saja. Tetapi pasangan di puncak yang berdiri di sebelah kiri dan kanan takhta, sebab lelaki tua yang berlutut itu lebih dari cukup sebagai pemberi kesan kuat perihal orang macam apa yang duduk di sana.

—kehadiran mereka yang berada di luar imajinasi, dialah Halibel sang Pengagum, Cecilus Segmunt sang Petir Biru.

Dari Negara Kota Kararagi, dan Kekaisaran Vollachia Suci.

Dari kedua negara tersebut, masing-masing memegang nama terkuat, keduanya berdiri bersampingan. Tiba-tiba muncul dalam grupnya, jelas sudah bos muda itu tidak tertandingi, tiada bukti yang lebih baik lagi dari ini.

“Sigrum-san?”

“….”

Pada waktu itu, pikirannya melamun, namanya dipanggil, pria itu—hati Sigrum membeku.

Melihat, menaruh dagu di tangan sang raja, senyum hilang dari wajahnya, mata gelap menatap Sigrum.

Seakan-akan hatinya dijepit secara langsung, Sigrum meronta.

Sesuatu, bila alibi tak segera dipersiapkan, bibirnya yang kekurangan oksigen merinding. Akan tetapi, di hadapan respon rapuh Sigrum, bahu Raja Pemurni merosot.

“Ah … membuat kalian bosan saja, maaf-maaf. Ceritaku yang melenceng adalah kebiasaan burukku, sejak dulu, sih, dan jikalau kita berputar-putar seperti ini bagian inti takkan tersampaikan.”

“S, saya baik-baik saja … hanya itu.”

“Aku lagi ngomong.”

“….”

Jari tangan kanan menyentuh bibir, tangan kiri raja menunjuknya.

Pertanda bahwa alibinya tiba-tiba ditolak, bulu kuduknya berkeringat dingin. Dalam keheningan yang serasa membekukan tubuh, sepuluh detik lamanya berlalu.

“… maaf. Tidak bermaksud mengancammu. Hanya saja, dua orang di sini. Dan yang hadir semuanya dipekerjakan olehku, tapi kau tidak seperti itu, kan? Baik, bagaimana, ya … tingkahku sebagaimana tata kelakuan normalku, maaf.”

“….”

Dalam istilah jujur, nada bicara penutur itu santai. Ukuran besarnya saja yang aneh.

Raja Pemurni berlaku sopan, kepada pihak lawan dia menyampaikan rasa hormat, dan tanpa ragu-ragu pula dia bersedia menyakiti mereka.

Nada raja dalam memperlakukan orang lain lewat kata-kata, tidak menunjukkan niat tersembunyi kepada para pendengar. Mata malu kurang percaya diri, teramat-amat menembus pemikiran batin oleh mata menyipit, perhatian kuat kepada gerak-gerik orang lain yang dia amati.

Pupil-pupil hitam semata-mata mengajukan satu pertanyaan.

—Aku penasaran, kau ini kawanku, atau musuhku.

“….”

Tentu saja mesti menegaskan bahwa dia bukan musuh.

Sayangnya, mulut Sigrum disegel, dilarang balas bicara.

Membuat suara, atau merespon dengan mata, bersikap, apakah berefek pada kesabaran orang itu?

Rasa takut yang begitu memikat hati orang tua, detik-detik terpanjang dalam hidupnya terasa bagai abadi.

Sesuatu seperti ini, jika hendak ditertawakan, tak seorang pun selamat mencobanya.

Pendirian organisasi itu tanpa belas kasih, dan di tengah-tengah dunia bawah keempat negeri, kelompok dalam kuasanya lama-lama tumbuh, dan kini menjadi luka tak tersembuhkan.

Untuk bertahan hidup, dari awal agar tidak terjerat rasa sakit, mengatasi penyakitnya saat sudah separah ini mustahil.

Lantas, satu-satunya metode untuk bertahan hidup. Adalah menawarkan pengabdian atas nama koeksistensi, itu saja.

Penyakit tak tersembuhkan yang dia coba hindari bagaimanapun caranya. Tapi ujung-ujungnya, tidak bisa kabur darinya, lelaki tua itu datang kemari.

Seluruh jawaban yang dia siapkan sebelumnya, tekad besi yang memilih untuk menyerahkan diri, karenanya dia datang.

Namun, meskipun keputusannya dibuat serampangan, Sigrum mulai paham.

Tangan dan kaki diikat, dilempar ke dalam air dan tak bisa bergerak. Seperti itu, kehabisan nafas, kekurangan oksigen juga bibirnya berjuang. Di darat, di ruangan ini, dia tenggelam oleh tatapannya.

“….”

Bukan penyakit. Melainkan kutukan.

Raja Pemurni, kutukan tiada akhir itu adalah kekuasaannya.

Ketakutan sampai membuatnya sakit mengaburkan matanya, kebimbangan tak berujung menggerogoti hatinya.

Dia, manusia itu takut. Lawannya takut, ragu, membenci.

Raja itu sendiri punya ketakutan terkuat yang terkubur dalam-dalam di dirinya, kutukan serupa bahwa dirinya menggerogoti mahluk lain, semua orang yang melewatinya sama-sama terinfeksi.

Ibarat tenggelam, raja mengatakannya lebih dulu. Sesuai perkataannya.

Kini, sekiranya disamakan kesempatan, Sigrum akan meraih jerami atau apa punlah.

“Jadi, anu …. Jadi, kisah jerami. Untuk hidup mati-matian … anu, seperti yang kita tahu, Sigrum-san berbicara bersama kita, sebab sebuah ide yang tidak bagus diutarakan, kau ingin secara paksa mendesak kami dengan hasrat akan hasilnya.

“….”

Mengucap demikian, Raja Pemurni merentangkan tangan kirinya. Seolah-olah memperkenankannya bicara, tangannya seolah mempraktikkan sebuah persembahan.

“Ah.”

Ketika itu, seakan penahannya terlepas, nafas keluar dari bibir Sigrum.

Saat itu, ditangkap rasa takut untuk tidak membuat sang raja sebal, di depan mata pemuda itu dia tak bereaksi. Pasien itu diam, karena raja menyorot langsung Sigrum.

“Sigrum-san?”

“Ah, tidak …. Saya meminta maaf. Adapun pemikiran saya, sebagaimana yang dinyatakan dalam surat. Seluruh anggota organisasi Anda, mulai dari sekarang dan untuk waktu lama, kami mengharapkan hubungan baik.”

 Kata-kata yang dipilih dengan hati-hati, sehingga tak menampakkan kerendahan hati berlebihan, Sigrum menyatakan posisinya terhadap masalah ini.

Mendengarnya, Raja Pemurni menyipitkan mata, tapi setelah direnungkan sejenak dia tersenyum.

“….”

Wajah tersenyumnya, melihatnya mendadak cocok dengan usia si pemilik, Sigrum kaget.

Di hadapan Sigrum yang terkejut, sang raja menyetujui.

“Mari kita bermitra dengan baik, Sigram-san. Rinciannya akan didiskusikan bersama penanggung jawab nanti …. Inilah pilihan terbaik dan paling bijaksana untukmu.”

“Ah ….”

“Mulai dari sekarang, mengenai asosiasi ini, mohon bantuannya.”

Tangan terangkat, sembari tersenyum Raja Pemurni mengakhiri pertemuan.

Seusai berkata, Sigrum pelan-pelan mengangkat tubuh. Badannya kaku karena berlutut terus, postur tubuhnya sempat goyah, tetapi dengan susah payah dia menghela nafas panjang.

“Terima kasih banyak. Mulai saat ini, pihak kami juga memohon bantuannya.”

“Umu.”

Entah bagaimana, menahan lidah, kata-kata terakhir menyusai percakapan.

Kemudian, mengangguk seakan telah berakhir, bangsawan itu menundukkan kepala dan melangkah mundur.

“….”

Dalam hati yang memantul dan bergeser, rasa lega dan prestasi kuat bertiup layaknya badai.

Tubuhnya yang beberapa detik lalu serasa berat, kini mendadak seperti melayang. Langkah kaki alami, wajah-wajah anggota keluargnaya yang menunggu kepulangannya terlintas satu per satu dalam benak.

Setelah berani menghadapi gelombang keras, pokoknya keinginannya terkabul.

“….?”

Kala itu juga.

Dari belakang, terdengar suara sangat lirih.

Suara yang familiar bagi telinga, suara koin, begitulah.

Suara yang mirip koin yang tergelincir dari tangan, menabrak lantai ….

“Ekor.”

Satu kata pendek, seseorang berkata.

Apa itu, kepala Sigrum bertanya-tanya, berputar cepat—

“….”

Pandangan orang tua itu memiring, mendatar dengan lantai.

Bahkan lebih datar ketimbang saat dia berlutut, karpet seketika mendekat—tatkala dia merasakannya, datang sudah sang akhir.

Bab 6

“….”

Tenggorokan mayat pria yang tergeletak itu teriris, mata mengernyit Halibel menatap.

Kemampuan hebat.

Tangan dan kaki mayat orang tua itu tidak kaku, kepala yang jatuh di karpet gagal membaca suasana. Mayatnya seperti mayat yang hilang satu-satunya sumber kehidupan, sebab itu bisa terbilang mayatnya hasil buatan indah.

Namun mayat tetaplah mayat, menganggapnya sesuatu yang menakjubkan, dari caranya menghakimi, demikian bukanlah hobi yang dia pribadi nikmati.

“Oh, uhhhh … eh.”

Menyaksikan mayat berdarah, seorang bocah di atas takhta menutup mulut rapat-rapat.

Dia sudah biasa melihat momen-momen seseorang dirubah jadi mayat, tapi karena temperamennya sensitif, dia benar-benar tidak kelihatan terbiasa.

Setelah diperintahkan, tingkahmu seperti itu kepada yang mati, bukankah itu menghina? Membiasakan diri dengan mayat, aku tidak meminta itu, tapi paling tidak jangan selalu membuatnya, bagaimana?”

“Aku juga tidak suka membunuh untuk bersenang-senang saja …. Ini. Bahkan aku pun tidak kuat melihat langsung, tapi sudah terlanjur, lebih pentingnya lagi ….”

“Itu dusta.”

Majikannya memegang sapu tangan di depan mulut, melawan mual, ucapan rekannya tidak berefek apa-apa.

Tentu saja, sisi yang berada di sebelah kanan—sisi Cecilus. Bahwa majikannya tidak merah-marah atas hal ini merupakan bukti bahwa perbuatannya bukanlah tipuan.

Selagi menatap wajah anak muda yang sepucat mayat, Cecilus memotong dengan, “Omong-omong,” lanjutnya bicara. Pandangannya masih mengawasi mayat, pria tua malang.

“Kontradiksimu tidak aneh bagiku,” ucapnya, perbincangan tenang mendadak diakhiri pembunuhan, kau mengejutkanku, bos. Aku harap kau menyesal.”

Seraya bicara demikian, Cecilus menggembung pipi tidak puas. Bukan perilaku yang tepat bagi seorang pria berumur dua puluhan, tapi pikiran dan penampilannya sama-sama cocok, jadi itu layak baginya.

Keindahan manusiawinya, seperti biasa adalah apa yang memungkinkannya terjadi.

“Jadi, sudah kubilang, aku tidak ingin dia mati. Suda kukatakan juga padanya, aku pengen mempercayainya. Muka-muka bohong atau semacamnyalah, aku tak melihat itu.”

“Terus, kenapa?”

“Biarpun tidak kelihatan berbohong, para pembohong banter-banternya akan berbohong juga.”

Tatapan Cecilus kaget, anak lelaki yang berlutut di atas takhta menggigit bibir.

Dalam kehidupan singkatnya, kehendak kuat tak tergoyahkan nampak darinya.

Halibel dan Cecilus, tak mengetahui masa lalunya.

Tapi, oleh masa lalu si bocah, mereka berdua yakin situasi itu pastilah terjadi.

Tersenyum, bersikap ramah, seseorang pasti menaruh keraguan dan sakit dalam dadanya, jemari yang memperlakukan baik, bibir yang tentu meludahkan kebencian lagi kedengkian, pengalaman macam itu.

Masa lalu sedemikian, pastinya telah mengajarkan anak ini.

“Pertama-tama potong kuncupnya, kemudian pisahkan dahannya. Aku takkan dibodohi dua kali.”

Dengan erat, si bocah meraih pundaknya dan menekan kuku ke kerah. Kuku-kuku itu kelihatan kejam, kulit terkoyak, darah mengalir. Baginya adalah ritual perlu untuk mempertahankan diri, para bawahan yang lama bersamanya sudah tahu dan tidak ada yang berani menghentikan.

Seolah-olah puas oleh rasa sakit, anak muda itu perlahan bangkit dari takhta.

“Mayatnya, rapikan dan kubur. Kirim seorang utusan ke toko mereka. Sita semuanya, tapi jika mereka menurut, baik-baiklah. Jika menolak, maka murnikan keluarga dan bakar toko. Tatkala pengambilalihan selesai, minta mereka menyapa penanggung jawab berikutnya dan ikuti rencana. Setelahnya, akan diputuskan hendak dihancurkan atau tidak.”

Cara bicaranya tenang, bocah itu memberi perintah agar orang-orang dalam ruangan mendengarnya.

Bagi siapa pun, bukan itu saja, untuk semua orang, yang tadi adalah perintah berani.

Permintaan-permintaan yang tak mengkhawatirkan proses namun lebih mempedulikan hasil, cara kerja tersebut berhasil mensukseskan grup. Memfokuskan pencapaian bareng-bareng, bukan seseorang saja, kekuatan sempurna organisasi mampu dipertahankan.

Lantas, seandainya seseorang keliru, resikonya bisa diminimalisir, dan dengan kekuatan semua orang pekerjaan dapat dilakukan—lingkungan kerja ideal.

—Sebagai contoh, keluarga, kekasih, kekayaan, kehidupan, banyak hal lainnya.

Memegang kelangsungan hal-hal itu sebagai asuransi adalah pekerjaan si bocah.

Jadilah sang Raja Pemurni sebagaimana julukannya dan dia ditakuti, inilah cara bertarung bocah lembut itu.

“Bos, kau melupakan mantelmu.”

“Ah, terima kasih.”

Berdiri di belakang bocah yang sedang menuju pintu, Halibel dengan lembut menyampirkan mantel hitam ke atas bahunya.

Sedikit digantungkan di pundak, dia juga mengingatkan—segera setelah kumis Halibel mati rasa oleh aura membunuh. Terhadap intensitasnya, Halibel menurunkan mata.

Sumber auranya tidak usah dipastikan, adalah dari anak laki-laki di depannya.

Bisa jadi karena dia berdiri di belakangnya.

“… Halibel-san, aku tidak ingin membunuhmu.”

“Hahaha, maka kau tidak usah membunuhku. Kau boleh menggunakanku saja.”

“Tapi, bisa mengendalikan sebuah alat sekaligus menghancurkan dirimu bersamanya, bukankah itu kemungkinan terburuk ….”

Bergumam sendiri, memikirkan metode untuk membunuh ajudan di depannya, bocah itu mengenakan jaket.

Kalimat goyahnya diabaikan cepat, tapi kata-kata si bocah bukan candaan.

Jika memungkinkan dia akan membunuh Halibel.

Hanya kurang usaha untuk membunuhnya, kurang pula persiapan untuk membunuhnya, dan masalah-masalah yang berdatangan setelah pembunuhan terjadi, karenanya dia menahan diri, itu saja.

“Bos, bos. Persembahan yang dibawa orang ini, harus dipindah ke mana?”

“Barang persembahan …. Isinya, apa?”

“Isinya … ah, ada barang sihir. Dari mana mereka tahu selera bos, mereka datang sambil membayarnya, aku bahkan lebih merasa menyesal kepada mereka.”

“Memotong kepalanya tuh ide Cecilus ….”

Di pintu masuk ruangan, bocah laki-laki yang dipanggil kebingungan. Dan pada sikap ria Cecilus, dia menghembus nafas.

“Barang sihir, nanti kusuruh untuk mengirimnya ke ruanganku. Selain itu terserah padamu.”

“Ya, ya, dimengerti. Dan, bos.”

“… ada apa.”

Suara bos yang tidak senang, kepada anak itu jari Cecilus menunjuk matanya.

“Lingkaran hitam itu, parah sekali. Mungkin kau mesti tidur di sebelah putri sebentar?”

Mendengar kata-kata Cecilus, lidah bocah itu menjengkel. Cecilus hanya tertawa saja, tapi orang-orang di sekitar mereka menegang. Mungkin saja karena itu bisa-bisa ada perintah untuk membunuh Cecilus.

Tentu saja dalam situasi terkini membunuh Cecilus takkan cukup. Memanfaatkan segenap kekuatan di sana, entah nanti hasilnya akan imbang walau disertai Halibel.

“—akan kupikirkan.”

Untungnya, bocah itu tidak sembarangan mengeluarkan perintah, tapi hanya dengan kata-kata itu dia beralih.

Sesudahnya, seluruh ruangan melega, dan orang-orang mengawasi punggung bos yang belakang. Cecilus yang melambai gagal membaca suasana, adalah satu-satunya perhatian terbesar Halibel.

“Aku pun tidak terlalu percaya diri menghadapi kelompok ini ….”

Mengguncang kiseru di mulutnya ke atas dan bawah, Halibel menatap sosok lelaki  yang pergi.

Pertama-tama, sebagai orang paling senior, penjagaan dan tugas serupa diserahkan kepada Halibel. Sayangnya, entah dari dalam atau luar mansion, ancaman sangat sedikit.

Beberapa dihentikan rasa takut, dan banyak lainnya tak menyadari keberadaannya.

“….”

Dengan hati-hati, Halibel mengawasi bocah yang mengevaluasi seluruhnya dengan mata menyipit.

Dalam bangunan, bukan hanya ruang resepsi yang didekorasi berbagai karya seni dan lukisan. Untuk menjaga kekayaan besar, seluruh tubuhnya digunakan untuk mempertahankannya.

Menunjukkan otoritas kekayaan dan memamerkannya, musuh takkan berdatangan dengan sendirinya, niatnya begitu.

Aku sudah menang tanpa bertarung, kata si bocah, tapi itu aneh.

Tentu saja, sebagaimana adanya kekayaan dan kekuasaan besar merupakan sasaran kecemburuan dan keirian pihak lain. Akhirnya, entah kau melakukan apa musuh akan muncul sendiri. Metode anak itu semata-mata mengurangi jumlah mereka.

Dan bila mana jumlahnya berkurang, maka yang lainnya hanya perlu diurus dengan kekuatan.

“Halibel-san …. Tepatnya, tolong perhatikan Cecilus agar dia tidak meledak.”

“Dipahami, serahkan padaku, bos harus menemui putri.”

“Baiklah.”

Menerima saran Cecilus barangkali membuatnya sebal, bocah itu menjawab sambil membuncit pipi.

Kemudian, sepasang kaki melangkah kian dalam—dalam di bangunan bernama Pandemonium, mereka tiba di sebuah pintu ruangan yang paling dijaga ketat.

—di pintu itu, ada begitu banyak kunci sampai-sampai orang yang pertama kali melihatnya bergidik, terlampau banyak kunci yang terkunci.

Jumlah lubang kunci mendekati lima puluh, jelas-jelas menunjukkan beatap pentingnya sisi lain pintu, juga kepribadian cermat, ulet, dan obsesi seseorang yang menyiapkannya.

Tapi, lebih pentingnya lagi, yang mengasuh obsesi si pembuat makin jelas ialah kunci untuk lubangnya tidak ditemukan satu pun.

Artinya, dengan cara biasa pintu ini takkan terbuka.

Untuk membukanya, maka—

“… Puck.”

“Au dipanggil, jadi aku muncul meong meong meong.”

Menerima panggilannya, suara lelah dan kilat-kilat cahaya berlebihan, anak kucing bulu abu-abu mendadak muncul di udara.

Penampilan imut dan konyol, namun masih mengemban kekuatan absolut, sang roh agung—eksistensi yang dikenal sebagai Puck, melayang turun dan mendarat di bahu bocah.

“Yo, sudah lama kau tidak ke sini lagi, apa alasanmu datang ke sini adalah Lia?”

“Pintunya, buka.”

“Mhmm, kenapa itu, nada bicaramu, seumpama kau merusak suasana hati ayahnya mungkin kau takkan dibiarkan melihat putrinya, tahu, perasaan seorang ayah yang punya anak perempuan berusia matang, jika kau lebih memahaminya aku akan senang ….”

“Puck.”

Di atas bahu, Puck membelai kumisnya. Anak laki-laki itu memanggilnya.

Melihat wajah bocah bertanda lingkaran-lingkaran hitam pekat, Puck bilang sesuatu seperti, “Aduh-aduh,” dan setelahnya dia menghela nafas.

“Kau menahannya sampai hampir gemetar seperti ini lagi, mau bagaimana lagi. Upayamu patut dipuji, jadi akan kubiarkan kali ini.”

Mengatakannya, dengan aura-aura puas, Puck menyatukan tangan pendeknya dan menunjuk pintu. Kemudian, melalui lubang kunci yang tak punya kunci, cahaya samar mengalir.

Klik.

Segera setelah cahaya samar berubah menjadi kunci buatan es dan pas dimasukkan ke pintu, dari dalam terdengar suara pembuka.

Metode untuk membuka pintu yang takkan terbuka—rahasianya adalah membuat kunci yang tidak eksis.

“Mengecek titik butanya baik-baik, gagasan sebuah lubang kunci berada di sana, maka seseorang mesti mencari kunci yang cocok, biasanya begitu. Tapi jika orang lain ingin menirunya, lantas bakal jadi persoalan sulit bagi mereka.”

“Ada mantra sihir juga di sini, singkatnya mana kala seseorang selain aku mencoba melakukan hal mirip-mirip dengan itu, kabarnya akan langsung tersampaikan kepadaku dan kau, lalu aku pasti akan berada di sana bersama Lia.”

“Itu benar.”

Terhadap kata-kata Puck, Halibel mulai paham dan setuju.

Tanpa memperhatikan jawabannya, si bocah menggerakkan tangan ke pintu terbuka dan terhenti. Di belakangnya, wajah yang pura-pura polos, Halibel. Si bocah menatapnya.

“Halibel-san, kau boleh pergi sekarang.”

“Benarkah? Tapi, aku kadang kali bukannya mesti menyapa tuan putri ….?”

“Kau boleh pergi sekarang.”

Ucapannya tertutur tanpa pikir panjang, ditolak mentah-mentah.

Halibel tentu saja menerima penolakan pasti. Bukan sesuatu yang layak disesalkan, lantas Halibel mengunyah kiseru-nya dan mundur.

“Seandainya terjadi sesuatu, panggil saja aku.”

“….”

Anak muda masih memberi tatapan peringatan dengan tangan menyentuh pintu. Halibel memunggunginya.

Sampai dia berbelok di tikungan, dan tidak kelihatan lagi batang hidungnya, penglihatan anak itu pindah.

Selalu berwaspada, alih-alih penuh kehati-hatian, dia lebih menakutkan daripada orang biasa. Itulah bosnya.

“Ah, kalau aku ngomongnya begitu, dia pasti tak akan memanggilku.”

Bergumam lesu, Halibel memuntahkan asap dari pipanya sambil melihat ke atas.

Asap menabrak langit-langit, tak ada tempat lagi, berserakan.

—demikian entah bagaimana, pertanda masa depan mereka, itulah pemikiran yang terlintas dalam kepalany.

Seolah-olah dia mati, wajah lelaki itu tertidur tenang.

“….”

Mempercayakan kepalanya ke lutut, tertidur bagaikan di ambang ajal, dialah anak laki-laki yang ditatap Emilia.

Di sekitar alisnya, terdapat lingkaran-lingkaran hitam yang nampak dilukis jelaga. Mengungkap tingkat kurangnya tidur, situasi seperti itulah sekarang.

“Oh, kayaknya dia belum tidur lagi.”

“Mau bagaimana lagi, posisi tidak mengizinkannya untuk bersantai, kemungkinan besar begitu. Kecuali kadang-kadang, dia menjambangi Lia dan jadi bayi.”

Membelai dahi, ujung jarinya mengatur bulu mata. Menonton paras tidur yang dibebaskan Emilia, Puck yang mengambang melilitkan ekor di perut lalu menghembus nafas. Persis seperti itu dia berputar mengelilinginya dan memeriksa kamar pribadi.

Kamar putih.

Dinding putih, lantai putih, langit-langit putih, kasur putih, furnitur putih, tirai putih, semua hal dalam kamar serba-serbi putih.

Berbaring di tengah-tengahnya, Emilia mengenakan pakaian tidur putih pula, hampir mirip patologis.

Kamar ini hanyalah kebebasan yang dimiliki Emilia—terkunci, bisa disebut dikurung dalam kandang, entah bagaimana sebutannya, Emilia masih ragu.

“Bahkan sekarang pun, Lia masih tidak marah pada anak ini?”

“… itu, aku juga ingin tahu.”

Ditanya Puck, Emilia ragu menjawab.

Bukannya sulit diungkap. Dia hanya tidak yakin pada perasaannya sendiri.

 Yah, awalnya dia benar-benar marah, bahkan sekarang mereka belum berbaikan.

Saling meminta maaf, mereka tak sempat melakukannya. Tanpa menyelesaikan masalah, waktu berlalu begitu saja, kehidupan sehari-hari terus berlanjut.

“Tapi, aku merasa kesal, Puck. Sambil merahasiakannya sendiri, berencana pergi sendirian.”

“Maaf. Tapi sudah terlanjur. Mustahil bisa mempercayakanmu kepada Roswaal di mansion itu, kan? Situasi dan tempatnya bahaya, menyeretmu pergi bisa, dan tidak bertanggung jawab apabila tidak melakukannya. Demi keamanan Lia, dari sana kita pergi.”

“….”

“Mencegah bahaya menghampiri Lia, aku dan anak itu satu pikiran.”

Lantaran rencana Puck adalah mengeret Emilia keluar mansion Roswaal, dia pun tak ragu-ragu mendukung organisasi.

Dan Emilia yang tidak tahu apa-apa akhirnya mendapati dirinya berada di sebuah kamar putih, seekor burung yang terjebak dalam sangkar—

Tapi, gadis itu tidak punya hak untuk mengkritik penilaian Puck, Emilia juga paham.

“Karena pada akhirnya, aku tidak bisa apa-apa ….”

Kerajaan Luginica tengah berjuang memilih penguasa berikutnya—dalam perebutan itu, mau dilihat bagaimana, Emilia menderita kekalahan besar-besaran.

Penyebab terbesarnya adalah menolak menghadiri pertemuan calok sukses. Akibatnya, partisipasinya dalam pemilihan belum diakui. Berarti Emilia juga sponsornya, Roswaal L. Mathers, sama-sama jatuh.

Sederhananya, Emilia bahkan tak datang di pertempuan kandidat, alhasil Roswaal telah kehilangan kredibilitasnya. Partai Emilia hancur di depan penghalang pertama.

Lantas, Emilia yang melangkah ke anak tangga pertama, merupakan orang gagal yang tidak bisa apa-apa.

“… harapanku.”

Adalah menciptakan dunia tanpa diskriminasi.

Entah blasteran elf atau yang mana pun, tempat di mana tanda lahir takkan menghakimi hidup seseorang, membuat tempat seperti itu adalah keinginan kikuk Emilia.

Akan tetapi, bahkan tidak berkesempatan untuk mengutarakannya keras-keras, harapannya menghilang bak mimpi fantasi.

Dan akhir dari harapannya, kebebasan kampung halaman Emilia—pekerjaan untuk menyelamatkan penduduk Hutan Elior yang masih tidur membeku dalam es, dia juga tidak bisa melakukannya.

“Seperti itu, tinggal di bangunan tak terlindungi, lebih baik kembali lagi ke hutan, tapi Lia sedang ada dalam situasi yang tak memungkinkan. Ah, jadi saat utusan pertama daatng aku sungguh terkejut.

“… masaaaaaa, terkejut. Bisa dibilang begitu.”

Bocah yang datang dan menemuinya, Emilia yakin dia sudah mati.

Pertemuan suksesi tanpa pertunjukkan, takdirnya telah ditentukan, oleh kematian bocah mansion.

Dalam serangan para penyihir, korban pertamanya adalah seorang gadis. Dia dituduh atas kematian si gadis, seorang laki-laki yang bekerja dalam mansion.

Kecurigaannya, si bocah tidak tahan lagi dan kabur. Setelahnya Ram mengejar—dan tidak kembali-kembali.

Kejatuhannya, barangkali dimulai dari sana.

Penyebab kematian Rem didapati oleh kutukan seorang dukun sesudahnya, dan kerusakan pada desa terdekat telah berubah menjadi situasi tak terpulihkan.

Menerima hasil serangan, Roswaal gagal mengambil kesemapatan dan kalah. Emilia gagal mengamankan partisipasinya dalam seleksi, dan hasil dari kegagalannya adaah penghinaan tak terbantahkan. Mansion dalam keadaan buruk, buruk sangat sampai-sampai tak seorang pun mengharapkannya, terus berlanjut ke arah sana.

Itu dulu.

Disapu oleh ketidakberdayaan sebab tidak bisa melakukan apa-apa, Emilia menghabiskan hari-harinya dalam kelesuan. Tapi suatu hari, seorang bocah yang menghilang telah datang menjemputnya.

“….”

Puck cepat merespon. Tapi Emilia marah padanya.

Tidak mempedulikan perasaannya, tanpa penjelasan apa pun, tidak saat kali pertama menghilang, bahkan saat kembali pun tidak, membungkam mulut, seketika membawanya pergi.

Dunia di sekelling Emilia mulai roboh, dia mungkin penyebabnya.

Tetap saja—

“Seperti itu ….”

Bagi Emilia yang bertemu kembali, bocah berwajah lemah yang kelelahan itu semakin buruk kondisinya, menangis, dan memohon-mohon bantuannya.

Dan saat bocah itu menangis-nangis kayak bayi, Emilia lupa mau marah.

Boleh jadi dia lemah. Bisa jadi gampangan.

Walaupun begitu, bocah lelaki yang wajah tidurnya seperti bayi. Jika ingin memarahinya, Emilia pikir posisinya kurang pantas.

Jadi, anak yang menemukan Emilia, sama saja menemukan jalan keselamatannya sendiri.

Dia datang mencarinya. Tidak mengatakan sepatah kata pun tentang pekerjaannya di luar pintu kamar, hanya merengek sedih dan membicarakan perasaan sendiri, di lutut Emilia dia mempercayakan hidupnya.

Entah ingin dipercaya benar-benar, ataukah jujur dipandang rendah dan dihina, itu tergantung pemikiran Emilia. Dan gadis itu tidak sanggup memberikan jawaban.

“Jelas, ini sangaaaaaaaaat tidak sehat ….”

Bahwa sekarang bukan keadaan normal, bahkan Emilia yang belum dewasa tahu itu.

Tapi, Emilia, sewaktu menerima air mata anak laki-laki yang menempel, memandangi sosoknya sebentar dan membiarkan dirinya beristrirahat, pikiran batinnya sendiri tidak yakin.

“….”

Membicarakan waktu interval anak itu mencari-cari Emilia, sekitar sekali setiap sepuluh hari.

Selain itu, bahkan mengurangi waktu tidur, dia mati-matian berjuang.

Beneran deh, kami tidak sering ngomong bareng.

Tapi, pada bocah yang diam-diam datang mencarinya setiap sepuluh hari sekali, Emilia ….

“… Subaru, dasar bego.”

—barangkali, dia merindukan kunjungannya, Emilia sadar itu.

Bab 8

 —jika koin emas yang dilempar mendarat dengan gambar ekor, hanya dengan itu pasti seseorang akan mati.

Memikirkan cara aneh masternya, Frederica tidak bisa tidak jijik.

Membersihkan mayat tanpa kepala di perjamuan, Frederica mengganti karpet kotor dan menyiapkan makanan untuk tentara-tentara bayaran Pandemonium.

“Takdir orang lain, secara harfiah terserah keberuntungan …. Sekarang kau merasa dirimu seorang dewa?”

Mengangkat seluruh tubuh mayat, Frederica yang tahu betul alasan ketidakberdayannya, taring tajam menggigit keras, gemetar marah sebab menahan perasaannya dalam hati.

Frederica Baumann dipekerjakan dan bekerja dalam organisasi, karena kepala organisasi, tuan putri Raja Pemurni, yakni Emilia, memohon-mohon atas namanya.

Hari itu, tatkala mansion penuh udara dingin dan salju, dia yakin nyawanya akan direnggut roh agung yang mengkhianatinya, tapi entah kenapa malah bekerja di sini.

Maka, dengan kerah besi yang dipasang di leher, kini dia mempersembahkan tubuhnya dan bekerja sebagai pelayan orang menjijikkan itu.

Bagaimana bisa, betapa enggannya dia bekerja sampai berakhir dengan pekerjaan tak masuk akal ini?

“… master, mohon maaf.”

Makanan si pemilik, sudah jadi aturan kalau Frederica akan langsung membawa ke ruangannya langsung.

Selain Frederica, dia tak mempercayakan tugas tersebut pada orang lain, tidak pula makan makanan selain buatannya, takkan dia jejalkan ke mulut. Sebenarnya hal itu terhormat, tapi Frederica tidak punya perasaan itu sama sekali.

Pertama-tama, bukan karena selera atau kepercayaan yang Frederica dapatkan dari tugas tersebut. Hanya saja wanita itu tidak berani melakukan hal-hal bodoh, keyakinan semacam itu yang takkan dia pegang.

“Masuk.”

Mendengar suara banyak kunci terlepas, sebuah perintah kasar membiarkannya masuk.

Mengikuti perintah, gerobak makanan di belakangnya, Frederica melangkah masuk ke ruangan master.

Ruangan masternya tidak seperti dekorasi dan interior mewah bangunan, memang besar tetapi cukup sederhana dan ruang rahasia kusam yang kurang sisi kemanusiaan.

Empat sudut ruangan punya banyak buku yang tidak dibeda-bedakan berdasar subjek. Buku-buku yang menumpuk berantakan ditumpuk di mana-mana, tempat yang tidak bisa ditanggung oleh Frederica yang pasalnya terbiasa rapih. Tapi orang tidak suka kalau dibersihkan.

Mungkin dia, mewaspadai sesuatu yang ditaruh dalam ruangan.

Tahu itu mustahil, tapi masih waspada, itu bukan kehati-hatian tapi agak pengecut—jelas-jelas, perilaku hina.

“Master, haruskah saya mengurus dokumen-dokumen yang jatuh ini?”

“… umu. Ah, tolong lakukan. Temukan beberapa orang yang kelihatan akan tahu, kau bisa menunjukkannya ke mereka.”

Demikian, dikesampingkan oleh master tak tertarik, berserakan di lantai, adalah beberapa kalimat yang tulisannya berantakan.

Sekilas, dokumen-dokumennya nampak ingin dibuang, konsepnya kacau, tapi faktanya itu adalah sumber kekayaan organisasi—dan peluang misterius ciptaan Raja Pemurni.

“Sebanyak itu, mungkin tidak terlalu membantu …. Mesin atau semacamnya, aku saa sekali tidak paham. Benar saja, jenis makanan berbeda paling mudah diketahui ….”

Mengomel-omel dan mengeluh, mencari tempat lain selain di sana adalah pemiliknya.

Yang dia bicarakan. Tidak pernah dilihat, atau pengetahuan tak tertemukan, budaya, petunjuk-petunjuk, atau kemungkinan-kemungkinan.

Bertemu banyak orang, bocah itu menentukan keputusan besar—seolah-olah telah ditandai takdir, dia punya banyak ide unik, dan perintis budayanya menghasilkan kecerdasan.

Banyaknya pengetahuan yang dia sebutkan, orang-orang bijak yang tertidur dalam bidang studi mereka telah menyalakan nyala api baru.

Kemungkinan yang tidak dipahami orang normal, kata-kata bocah itu hanya candaan, dan orang bijak mengujinya lalu diperdebatkan tanpa kompromi kemudian dimantapkan menjadi teori-teori.

Lantas, dari hasil keuntungan besar, bocah laki-laki yang tidak punya apa-apa menjadi penjahat hebat.

“Sejauh ini, menyebutnya nama templat dari pengetahuan masa depan tidak lucu.”

Sebelumnya, prestasi-prestasi itu dipuji-puji, tanggapannya adalah kata-kata aneh, Frederica tahu itu. Ketika dia sebutkan, si bocah tidak tertawa sama sekali.

Lantas, perbuatan satu orang dapat membuat banyak orang menderita, dan tangan satunya mengangkat kebahagiaan berlebihan, itulah salah satu bagian tidak jahat master rambut hitamnya.

Bahkan sebagai eksistensi problematic yang mestinya diperbaiki manusia, otaknya benar-benar bernilai.

Mahluk tak terjangkau ini. Tentu hanya ada satu di dunia, tidak salah lagi—mungkin dalam hal itu, dia punya kesamaan dengan Roswaal.

“….”

“Frederica, makanannya. Pertama, makanlah.”

Bahkan seketika sibuk dalam rentetan pikirannya, gadis itu menyajikan makanannya.

Bocah itu hanya punya kulit dan tulang, nampak bagai kerangka. Tapi bukannya porsi makannya kurang, masalahnya adalah mental.

Diberi dan menerima banyak luka, selagi hidup nyaman dia relative kurus soal penampilan. Sebagai penentu makanannya, Frederica tidak merasa baik, tapi bisa jadi masternya tidak muntah karena mau muntah.

“Master, dengan ini.”

Mengapa makanannya disiapkan untuk dua orang?

Semua menunya adalah untuk dua orang, ditaruh di piring besar, di atas meja yang diatur. Dan dari setiap hidangan, Frederica makan satu gigit. Bahkan memeriksa keberadaan racun adalah perannya.

Dia belum pernah menambahkan racun. Tapi aku mau menambahnya, sudah dia pikirkan sebelumnya.

Hanya saja bagi Frederica, pekerjaan pelayan menyita sebagian besar hidupnya, dan itu berharga baginya. Orang-orang yang mengajarinya, juga yang terlibat dengannya, ketika memikirkan mereka dia tidak ingin berbuat jahat.

“Kalau begitu, saya pergi ke luar, jika butuh sesuatu, tolong panggil saya.”

“Umu.”

Saat makan, masternya tidak mau dilihat.

Karena itu, setelah selesai menyiapkan makanan, Frederica merasa telah tiba waktunya untuk pergi, dan dia keluar ruangan.

Yang tersebar di atas meja adalah anggota-anggota organisasi. Di sebelah daftar, dapat terlihat sisa koine mas.

Saat itu dia menyadari maknanya, Frederica tidak sanggup menyembunyikan ketakutan bulu kuduknya.

“Master ….”

“Frederica.”

Melirik ke belakang, ke Frederica yang memanggil masternya, mata hitam kosong menatap.

Dalam kegelapan kosong, Frederica menelan ludah. Di depan, masternya perlahan-lahan menghampiri meja dan menutup daftar tak terlipat.

Selanjutnya, membalik koine mas di ibu jarinya ….

“… kepala.”

Suaranya santai, koin yang dilempar jatuh ke tangan kiri si bocah. Menangkapnya, dan setelah memeriksa sisi yang menghadap ke atas, master tersenyum kepada Frederica.

“Kepala, Frederica—adik dan nenekmu aman-aman saja.”

“… ah.”

“Keluarlah, dan jangan kembali sampai aku mengizinkanmu masuk.”

Mendengar kata-kata pemilik, Frederica mengangguk seperti boneka bisu.

Jadi, tidak kuat menyembunyikan air mata yang mengalir, membasahi pipi dengan air mata hangat, dia meninggalkan ruangan. Segera setelahnya, Frederica berlari sambil menutup wajah.

“Wa, waaa … waaaahh!”

Dia tidak boleh mengatakannya, tak seorang pun boleh diberi tahu, tidak ada yang boleh. Dia tak akan dimaafkan bila disebar.

Bagaimana bisa jadi seperti ini?

Mengapa, ini terjadi padanya?

Hari-hari di mansion, bersama junior-junior yang sepenuhnya tidak manis, junior-junior imut, master menyebalkan yang dia urus sejak lama—ke mana perginya waktu-waktu itu?

Bab 9

—Setelah menerima kabar dari seorang kurir, Cecilus menutup satu mata dan menatap bulan.

“Hmmmm, hmmhhmmm, hmmmhmm.”

Memuntir lehernya, menekuk pinggang, cukup rendah sampai ujung rambut panjangnya menyentuh tanah, dia memiringkan badan.

Secara alami, dia tidak terlalu percaya pada kemampuan berpikir. Cecilus tidak mengenyam pendidikan formal, dan dari awal hidup tanpa kemauan untuk belajar. Tahun ini, hidupnya terhitung sekitar dua puluhan, tapi dia habiskan semuanya dalam satu hal.

Hanya, dengan membanggakan ilmu pedang, bertahun-tahun mengayunkannya.

Sebab hidupnya cuma untuk itu, dalam relung hati terdalamnya dia benci masalah sulit.

“Kalau begitu, bagaimana caranya, seandainya ini aku ….”

Meluruskan tubuhnya yang memiring, Cecilus mengibas debu dari rambut yang menyentuh lantai. Tangannya memegang katana di pinggang dan melihat ke belakang seakan sedang menari.

“Hei, Halibel-san, menurutmu bagaimana?”

“—tololmu itu, kiranya kau sangat membangggakannya, aku yang diam saja bakal malu.”

Kastil—balkon Pandemonium, di bawah cahaya bulan bersama langit di atas, beberapa bayangan mewujud menjadi ninja mirip hewan.

Dideteksi, Halibel menggaruk wajah, saat itu wajah tak gentar Cecilus mendekat.

Menarik pipa dari sakunya, digigit, menyalakannya dan asap mengepul, dia menghembuskan nafas.

“Dulu, siapa yang menggunakannya?”

“Ini?—aku adalah salah seorang Sembilan Jenderal Dewa …. Yah, seumpama aku ditangkap ninja terhebat, Halibel, mau bagaimana lagi.

“Ceci-san, sesuatu seperti misi rahasia, kau sama sekali tidak cocok. Bukannya Ceci-san yang baru saja mengungkap bahwa dirinya tak pernah memutus hubungan dengan Kekaisaran Vollachia?”

“Tapi itu, Halibel-san, kau sudah tahu?”

“….”

Halibel menyeringai canggung, senyum Cecilus kian dalam seraya berkomentar.

Bukan pertanda negatif, Cecilus terus terang menyadarinya.

“Sesungguhnya, bekerja dengan bos adalah perintah Yang Mulia. Tentu saja aku tertarik undangan bos dan jatuh ke sisinya bukan dusta.”

“Kerah besi Kekaisaran mengikat lehermu …. Wah, gerakan Ceci-san, apabila digunakan baik-baik, akan lebih mudah untuk memberikan keuntungan pada Kekaisaran. Pengetahuan itu asalnya dari suatu tempat tak dikenal, alih-alih Lugnica dan Gusteko, akan lebih mudah diadaptasi di Kararagi dan Vollachia.”

“Ya, benar itu.”

Menarik tangannya ke bagian lengan kimono, Cecilus mengakui bahwa dirinya adalah seorang mata-mata.

Alasan Cecilus bekerja di bawah organisasi adalah atas perintah Kaisar Vollachia.

Kendait begitu, Kaisar yang mengenal temperamen Cecilus, tidak memberikan instruksi khusus. Bukan berarti bisa diingat juga, sih.

Hanya peran Cecilus sesuai perintah—

“Selain Yang Mulia, aku hanya harus membunuh orang yang bos perintahkan untuk dibunuh juga. Seperti biasa.”

“Ce-san, sepertinya kau lebih mirip seorang pembunuh bayaran ketimbang diriku seorang ninja?”

“Tidak, tidak, aku tidak sampai segitunya, maksudku, hal-hal macam bersembunyi dalam air, menyembunyikan racun, atau bangkit dari bayang-bayang itu mustahil.”

Menggelengkan kepala dan tangan, Cecilus dengan rendah hati merespon dengan mengakui perbedaan profesi masing-masing. Sebagai seorang ninja, seorang pembunuh bayaran, dia jauh di belakang Halibel. Tapi bila mana bertarung secara langsung, Halibel tak dapat menandingi kemampuannya.

“Baiklah, baru saja tertangkap basah bertemu dengan seorang kurir, bagaimana keputusanmu? Di sini, bersamaku, apa kau mau bertarung mempertaruhkan hidupmu?”

“Itu, tergantung pada kalimat yang tersurat di dalamnya.”

 “Hmm, maksudmu isinya.”

“Seumpama isinya adalah untuk membunuh Su-san, untuk menghentikannya mungkin aku mesti bertarung.

Sambil memegang kiseru di antara jemarinya, mengeluarkan awan asap, bulu Halibel berkibar di udara dingin malam.

Samar-samar, mendengar sia siap bertarung sampai mati demi tuannya, Cecilus merespon, “Benar juga,” dia mengangguk.

“Sedari awal aku bertanya-tanya, kenapa Halibel-san bertindak demi bos? Bukannya seperti kesetiaan tulusku kepada Yang Mulia.”

“Untuk membalas rahmat yang kuterima.”

“… dari orang itu, dalam situasi apa Halibel-san menerima kebaikan?”

Kata-katanya terucap, Cecilus bertanya sambil terkaget-kaget. Tergantung orangnya, bisa saja dianggap tidak sopan, namun Halibel tidak membalasnya.

Malahan, dia menatap bulan yang menggantung di langit malam—

“Sewaktu kali pertama aku bertemu Su-san, di sudut Kararagi ada sebuah insiden. Hanya saja, situasinya adaah perselisihan dengan Empat Roh Agung …. Su-san menenangkannya untukku.”

“Heheh, Empat Roh Agung! Aku sudah mengenal mereka, tapi ucapanku tidak kesampaian, aduh. Untuk menenangkan situasinya …. Aduh, bos lebih kuat dari dugaanku.”

“Salah, bukan situasi seagresif itu. Entah penanganannya desisif atau apa. Tapi lebih seperti …. Seperti kadang-kadang Su-san menunjukkan kita prediksi-prediksi aneh, seperti itu.”

Bilahnya berputar, Cecilus dengan satu mata terpejam mendengarkan penjelasan Halibel.

Membiarkannya merenungkan apakah itu mungkin atau tidak mungkin, suasana terbentuk sebab Cecilus sibuk mengevaluasi bosnya.

Halibel sebut prediksi aneh, tapi Cecilus tidak menganggapnya demikian.

Mempersiapkan segalanya adalah senjata seorang pengecut, pikirnya. Dan Cecilus berpikir memang harus menghormati yang kuat.

Itu, apa pun metode bertarungnya, seseorang yang menggunakan segalanya untuk meraih kemenangan akan dia akui sebagai seorang petarung.

“Yah, bagi yang terkuat di antara para pendekat pedang, bertahan dengan pedang paling cocok untukku.”

“Ce-san, Ce-san, ceritaku, kau mengerti.”

“Ya, itu benar. Ngomong-ngomong, bukannya aku menuduh Halibel-san atau semacamnya. Tidak seperti Kekaisaran, negara kota semuanya Bersatu …. Bukannya menuruti semua keinginan orang, tapi jauh lebih bisa diandalkan.”

Begitulah, Halibel tampak lelah dan kecewa. Terhadapnya Cecilus memiringkan kepala dan dengan, “Ah,” seolah melupakan sesuatu, dia menepuk tangan sekali.

“Benar juga, aku lupa sesuatu. Kontak yang datang dari kurir tadi.”

“Itu, tidak apa-apa memberi tahuku?”

“Kalau tidak kuberitahu, aku rasa akan menyebabkan banyak masalah.”

Di sana, sambil tersenyum, Cecilus menginformasikan Halibel.

“… kabar pembunuhan Margrave mulai menyebar, jadi kerajaan dengan ikhlas bergegas menghancurkan organisasi.”

Bab 10

—Ketenangan ini, di saat-saat terakhir kunjungan.

“Bisa bertemu dengan hari ini, benar-benar suatu kehormatan.”

Mengatakannya, disambut sebagai tamu di area resepsionis, pemuda ini berhadapan dengan Raja Pemurni.

“….”

Banyak membunuh, menghapus nyawa, berusaha mencari kelemahan orang ini.

Menemuinya, berusaha tetap tenang, kinerja pura-puranya hanay gertakan saja, banyak pula situasi.

“… entah bagaimana, kepercayaan dirimu luar biasa, meskipun tampaknya kau tidak jauh berbeda dariku dalam hal usia.”

“… tiba-tiba sekali, mengutarakan kata-kata pujian itu.”

Kepalanya menunduk, mengenakan setelan hitam dan dasi adalah pria muda bertubuh kurus.

Wajahnya memasang ekspresi lembut, tetapi di matanya bisa terlihat kegelapan nan jahat.

Senyum yang dia tampakkan boleh jadi palsu, dan dia sadar kepalsuannya ketahuan.

Bukan tidak bertanggung jawab, melainkan penuh keberanian—adalah pria muda yang sikapnya campur aduk.

“Ucapanmu, pasti ….”

“Sebenarnya, tidak lama dari sekarang, kami bermaksud melangsungkan bisnis skala besar di sini. Karena itulah, kami mencari-cari kesempatan untuk menemui kepala organisasi dan menghadirkan hadiah.”

“Kendati apa pun yang terjadi dengan itu tidak masalah bagiku.”

Tanpa ragu, postur maju di sepanjang perannya meninggalkan kesan baik.

Menerima sikapnya, bocah itu juga dengan tenang mulai bekerja.

“Persembahan kerajaan dari pihak kami—Kepala, kami dengar-dengar kau menginginkannya.”

“Hoh.”

Pria muda itu menyiapkan persembahan, tatkala si pembawa menyajikan dan membuka tutupnya, banyak tatapan akan ditarik ke arahnya. Di sana terdapat sebuah batu besar—mengandung kristal sihir, dan seolah menegaskan kemurniannya, mana yang memenuhi ruangan semakin tebal.

Persembahannya, raja sedang mengawasi, Raja Pemurni bergumam:

“Warna apa ini?”

“….”

“Merah tua dan biru nampak berlimpah, tetapi di bagian dalam emas serta merah terang juga bergelimang …. Sesuai dugaan, persepsiku memang tajam.”

Pertanyaan yang maknanya tidak diketahui, untuk pertama kalinya pemuda itu ragu.

Bukan si bocah, tapi Cecilus-lah yang menjawab, berdiri di sebelah raja. Setelah menerima laporan Cecilus, sang raja mengangguk magnifisen.

“Begitu, dengan ucapan terima kasih aku akan menerima pertimbanganmu, dan ….”

“Atas nama Russel Fellow.”

“Umu, mengerti. Russel Fellow, ya, jika muncul situasi sulit ….”

Setelahnya, Raja Pemurni memotong ucapannya.

Alasannya adalah sebab pemuda seperti singa yang menghentikannya berbicara telah mengulur tangan.

Seketika itu pula, aura dalam ruangan mulai kacau. Setelah menyela, tanggapan apa yang diberikan Raja Pemurni terhadap tindakannya, para penjaga langsung penasaran.

Akan tetapi, di antara Halibel dan Cecilus, hanya pemuda itu yang bersikap dingin ….

“Tunggu sebentar. Sebetulnya, persembahan, masih belum semuanya.”

“—hoo, aku malah lebih senang.”

Sesudah mendengar ujar pria tersebut, raja meresponnya, dan ketegangan para penjaga sedikit berkurang.

Suasana mulai rileks, kepala anak muda itu mengangguk.

Jadi—

“… dari Kerajaan Lugnica, mengenai kekejaman Raja Pemurni, demikianlah responnya.”

Segera, serangan cahaya putih menelan seluruh ruangan, dan menghancurkannya.

Jenis cahaya yang terlampau terang, dalam ruang resepsi mewah markas Pandemonium, ibarat memurnikannya, garis putih itu menyerbu.

Kebingungan total, yang langsung gugur sudah delapan belas orang—mereka semua yakin akan kemampuan masing-masing, nama-nama yang tenar, tapi yang satu ini berbeda kasus.

Meskipun orang-orang itu dikalahkan, kebenaran kejadian sebenarnya jelas bisa dikatakan, tidak seorang pun di sana mampu mempercayainya.

—serangan yang menguapkan mereka semua, cuma oleh satu tebasan belaka.

Hancur, markas organisasi.

Tempat hal-hal penting berkumpul telah dihempas oleh eksistensi maha kuasa.

Banyak sekali perbuatan-perbuatan jahat mengotori tangannya, kini diakui sebagai musuh dunia, “Raja Pemurni.”

Untuk menaklukkan keberadaannya, Kerajaan Naga telah mengirimnya—

“—dari garis keturunan Pedang Saint, Reinhard van Astrea.”

Seseorang yang berjuang sekuat-kuatnya akan jadi sia-sia, senjata absurd level dewa, telah muncul.

Bab 11

Di ruang tamu hancur itu, seorang pria berdiri santuy.

Rambut merah tua berapi-api, mata biru bak langit, seragam ksatria putih yang tidak terdapat noda sedikit pun, ksatria antara ksatria, kehadiran kuat itu tengah berdiri.

Di tangan sang ksatria, pedang yang dia pegang telah hancur berkeping-keping.

Satu serangan saja, senjata yang dibuat oleh penempa pedang yang meninggalkan namanya di dunia berubah menjadi debu. Sebagai gantinya, berulang kali menampakkan segudang keajaiban, dia seakrang menindak—

“… kau sama sekali bukan lawan manis, kau tahu itu, kan?”

“….”

Layaknya guntur yang menembus asap, serangan pedangnya mendekati Reinhard.

Lantas, dampak bagai guntur yang berdering itu disebut Petir Biru dihempas. Namun serangannya tidak mengenai tubuh—serangan dari katana, sang ksatria menahannya dengan sarung.

Bukan dengan tangan, tetapi memelintir tubuhnya dan menahan serangan dengan sarung pedang, maneuver akrobatiknya memukul balik pemuda itu—Cecilus bersiul.

“Serius nih, itu benar-benar tidak manusiawi …. Membuatku sangat senang, Reinhard-san!”

“Tapi bagiku, aku kira tidak terlalu senang pada reuni kita, Cecilus-kun.”

Menghentak lantai penuh debu, Murasame adalah katana yang tersampir di bahu Cecilus. Satu serangan pengganti salam, Reinhard mengerutkan alis.

Lalu, dari dalam asap yang memudar dari ruangan.

“… tidak sampai, ya.”

“Ah, sepertinya tidak mencapai bos. Yah, lantaran aku dan Halibel menjaga, tempat itu sulit dijangkau. Tapi, sejujurnya, aku tidak repot-repot bergerak selagi berpikir untuk melindungi bos, jadi pencapaian Halibel-san bernilai 10.”

Mengatakannya, dalam ruangan yang dagu Cecilus tunjuk—ke takhta yang diselimuti asap duduklah seorang Raja Pemurni, dan dari belakangnya, Halibel muncul di sana.

Halibel itu, meniup asap dari kiseru di mulutnya—

“Ce-san, kau tidak sepenuhnya benar. Ini semata-mata bukan pencapaianku.”

“Eh! Tentu saja tidak, kekuatan tersembunyiku ….”

“Bahkan bukan itu juga. Ini perbuatan Su-san …. Takhtanya pasti dilindungi semacam kekuatan besar aneh. Walau kita tidak pernah mendengarnya.”

Cecilus yang menatap tangannya sambil gemetar, Halibel menggeleng kepala.

Kemudian, di belakang Halibel, sang Raja Pemurni yang duduk di takhta mulai berdiri. Selanjutnya meraih syal merah yang dikenakan lehernya.

“—aku melihat seranganmu di toko jarahan, mempersiapkannya itu wajar.”

Pipinya beralih, senyumnya sungguh suram.

Tidak lain adalah Raja Pemurni—bukan, sekali lagi reuni Natsuki Subaru dan Reinhard.

“Subaru ….!”

“Kau beneran sial, Reinhard. Kalau saja tidak menolongku di toko jarahan dulu, kelak takkan menjadi seperti ini—tapi, kau malah tidak bisa menemui nyonya berhargamu itu, benar?”

“Ugh.”

Mengintip dari sisi Halibel, Subaru menjulurkan lidah kepada Reinhard.

Di hadapan sosok jahatnya, pipi Reinhard menegang seakan-akan kesakitan. Berayun sedih, mata birunya menatap wajah iblis nan penuh kebencian Subaru.

Tapi tiba-tiba, ekspresinya menghilang.

“—apa nih, kau hitam dan putih juga?”

“—? Hitam dan putih? Apa itu ….”

Kata-katanya tak menyimpan emosi, Subaru memalingkan matanya seolah tak punya minat kepada Reinhard. Sepertii itu, memukul bahu Halibel, menatap Cecilus yang terus menghadap Reinhard.

“Cecilus, kau boleh melakukan semaumu. Aku sudah tidak berminat lagi.”

“—aku tidak terlalu memahaminya, nampaknya bos dan aku menganggap halnya berbeda. Tapi aku terima kata-katamu dengan ucapan terima kasih.”

“Yang kita anggap berbeda …. Haha, itu jelas. Ujung-ujungnya kau membuatku tertawa.”

Seakan sesuatu dari ucapan Cecilus terasa lucu, Subaru menepuk lututnya karena geli ketawa. Kemudian senyumnya langsung hilang.

“Ada kalanya menyenangkan. Cecilus, karena kau tidak punya kelemahan, aku kerepotan.”

“Bagiku hanya satu hal itu—Mayones menakutkan.”

“Awokawoakwoakwaowk!”

Mendengar penegasan Cecilus, Subaru tertawa seolah dia senang.

Sosok Subaru itu, yang dipegang tangan Halibel, berubah menjadi bayangan dan tenggelam. Seperti itulah, Subaru dan Halibel pergi dari keadaan sulitnya.

“Tunggu! Pembicaraan kita belum ….”

“—itulah akhirnya, Pedang Saint. Jika kau tidak ingin berakhir, silahkan susul dan mulai lagi dari awal. Tapi sebelum itu, bawahan setia Raja Pemurni ini akan menghadang jalanmu.”

“Agh … uh.”

Mencoba mengejar SUbaru yang lenyap, Reinhard merasa sesuatu menyapu kaki bawahnya.

Menyusuri lantai selurus mungkin, serangannya, sekejap tak terlihat katana dihunuskan, pedang spektakuler melancarkan satu serangan, serangan dari orang yang telah mencapai puncak jalan berpedang.

“Sayang sekali, masih terlalu dini untuk menghakimi diriku seperti demikian. Aku masih di tengah-tengah pendakian. Berjalan maju, andaikan bisa kulampaui maka aku bisa mencapainya.”

“Mencapai, ke mana?”

“Tentu saja, pedang surgawi.”

Saat itu, suara bak udara membeku seakan tengah memotong dan sekarat terdengar.

Benar-benar telah mencapai puncak berpedang—tidak, katana yang jelas-jelas menyemburkan kabut, Pedang Iblis yang digosip-gosipkan, kejadian di luar akal sehat tengah berlangsung.

Inkarnasi pedang terhunus itu yang bahkan disentuh saja oleh bilahnya, benda tak kasat mata pun akan mati.

“Aku sudah lama menunggu ini—kesempatan untuk bersilangan pedang melawanmu.”

“… Cecilus-kun, aku pernah melawanmu sebelumnya. Pertarungan itu bagiku, signifikan sekali. Kenapa juga kau ….”

“Tentu tubuhku adalah pedang—dalam pertarungan hidup mati, seseorang yang bertatap muka.”

Katana pertamaku, Pedang Saint Murasame, memancarkan pendar-pendar cahaya.

Katana keduaku, Pedang Iblis Masayume, berhasrat memotong, mengungkap keindahan di dalamnya.

Berada dalam dunia Pedang Saint, Pedang Iblis, Pedang Naga, jumlahnya sepuluh, dan di antara mereka, dua potong—tidak ….

“—Pedang Naga, Reid.”

Selalu di samping Pedang Saint, tapi hanya dihunuskan kepada lawan yang pantas, pedang bercahaya putih itu menampakkan wujudnya.

Perasaan suara pedang terhunus itu, tidak salah lagi senjata Pedang Naga.

“Kau mesti tahu Reinhard-san. Di depan kita berdiri sebuah dinding.”

Pedang Saint, Pedang Iblis, Pedang Naga masing-masing dipegang tangan, keberadaan dahsyat ini saling berhadap-hadapan. Berdiri terpisah, tatkala jarak menyempit, dunia takut akan tabrakannya, dan suasana berubah.

“Mereka yang sampai di titik tertentu, jalan di hadapan mereka dihadang sebuah dinding. Mau bagaimana, mereka tak sanggup melampauinya. Ada beberapa orang yang mengorbankan sesuatu untuk menaklukkannya. Sesuatu seperti itu mustahil bagiku. Tapi seandainya tidak melewati dinding tersebut, aku tidak bisa diam saja.”

“….”

“Ada undangan dari bos. Jalan untuk menembus dindingnya …. Tapi pada akhirnya, adalah dengan bersilangan pedang denganmu, untuk benar-benar memperjuangkan hidup melawanmu—Yah, sesuai ocehannya, mencengkeram jerami, perasaan itu.”

“Jerami ….?”

“Soerang pria yang tenggelam, itu maksudku.”

Seorang pria tenggelam, Cecilus Segmunt di tempat ini telah mencapai satu solusi.

Atau mungkin, tatkala pendekar pedang memeplajari anginnya, apakah sebegitu tak terhindari?

Di depan Pedang Saint yang membelalak, Cecilus melengkung bibir.

Kemudian tertawa. Wajah tertawa terus menebas, Petir Biru itu tahu ….

“Kita tenggelam, Reinhard van Astrea. Seperti perkataan majikanku, kita tenggelam, yang kita inginkan masuk ke dalamnya. Tak sekali pun bajingan yang dipanggil Kemarahan itu tenggelam, tapi kita memang sedang tenggelam.”

“….”

Reinhard menelan nafasnya.

Di hadapannya, merendahkan kuda-kuda, memegang dua pedang.

“—Pendekar pedang, Cecilus Segmunt.”

Bukan Kekaisaran Vollakia, bukan pula Petir Biru—gelar-gelar tersebut tidak penting.

Tubuh ini, sebagai satu pendekar pedang, memandang jalan pedang surgawi.

—Petir, tepukan guntur, merobek Pandemonium.

Angin puyuh darah mengamuk.

Bab 12

—Pertempuran dalam Pandemonium terus berlanjut.

Gempa susulan dari pertarungan, serasa bagai guncangan dan getaran dahsyat, bahkan bergema sampai kamar EMilia.

Cahaya yang menggantung di langit-langit gemetaran. Melihat debu beterbangan selagi berbaring di tempat tidur, Emilia terpaksa memilih.

“….”

Aku tinggal di sini, itulah perkataannya.

Ataukah, ‘Tolong tetap di sini’ permohonan putus asa semacamnya.

Entah untuk percaya dan menunggu, atau mengabaikannya lalu melarikan diri saja.

Tentang keadaannya, pikiran batinnya hilang, dia menunda pilihan.

Tapi.

“Lia, berakhir sudah.”

“Eehhh ….”

Selagi pertarungan sengit berlanjut, Puck berbicara kepada Emilia yang sedang berbaring di tempat tidur.

Mata goyah menyorot langit-langit, tangan pendek Puck menyilang.

Mendengar akhir telah tiba, Emilia menahan nafas.

Lagi-lagi, aku tidak bisa apa-apa.

Mendesak pilihannya, konsekuensi tidak memilih akan diterima.

Tindakan pengecut, dia sadar di dalam sana, terlebih lagi dia—

Dia mendorong posisinya kepada Subaru—

“Reinhard datang. Subaru kalah.”

“….”

Pikiran Emilia masih membeku ketika mendengar kata-kata Puck.

“Eehhh.”

Pikiran yang tidak dia olah baik-baik, tidak bisa bicara tanpa membuat suara, mata Emilia membelalak.

Mendengar hasil akhir, padahal Emilia yakin Subaru menang. Tak pernah sekali pun dia ragukan, baru saat itulah dia tersadar.

Natsuki Subaru tidak kalah.

Tidak peduli lawan macam apa yang datang, dengan dalih egois dan keuletannya serta penyalahgunaan ketidakpercayaan manusia dia senantiasa meraih kemenangan. Perintah apa pun yang diberikan kepada para bawahannya, dengan cara apa pun dia menghancurkan musuh-musuhnya.

Lalu, ketika telah lelah berpikir, memerlukan momen-momen damai, dia datang mencari Emilia.

Seratus persen, Subaru akan menjambangi kamarnya, Emilia percaya itu.

“Sampai hari ini, aku tak pernah memburu-buru pilihan Lia, tapi kali ini pengecualian. Kau harus membuat pilihan, tergantung pilihanmu.”

“Membuat, pilihan ….”

“Apakah tinggal atau pergi, ya, itu pilihannya.”

Setahunya, suara tenang Puck itu adalah suatu kepastian.

Emilia yang erat-erat memutar seprai, Puck menatap. Dalam ekspresinya, penampilan santai yang biasa telah hilang sepenuhnya, kasih sayang untuk anak kesayangannya lebih kuat.

Kepada anak tersayang yang tersesat itu, pandangan Emilia tidak pasti, mata orang tua tampak pada Puck.

“Rupanya selama ini Subaru sukses membatasi informasi. Aktivitas organisasi, tidak ada pertanda Lia tersangkut ke dalamnya. Yah, Lia tidak benar-benar terlibat. Tapi secara komparatif telah hidup bersama begitu lama …. Pasti ada sesuatu yang mencurigakan. Tindakan pencegahan ini penting.”

“Jadi sama sekali tidak ada sangkut pautnya, terus posisiku apa?”

“Kau diculik dan dipenjara dari mansion Roswaal, cerita umum. Maka orang-orang yang menghancur leburkan Pandemonium, bagimu mereka seperti penyelamat.”

Mendengar penjelasan tak terduga, Emilia berdiri kaku.

Emilia dibawa keluar dari mansion Roswaal di luar kehendaknya memang benar. Dia pun marah karenanya, membenci Subaru sebab itu juga benar.

Akan tetapi, melihat Subaru yang memohon-mohon dan melengket, Emilia tidak menolaknya, berusaha keras melindungi waktunya bersama Emilia, itu juga kebenaran.

Setelah menerimanya, benarkah Emilia sungguh-sungguh tidak terkait dalam metodenya, betulkan itu?

Bukankah mendebatnya itu memalukan?

“Lia, seandainya kau duduk manis di sini seabgai seorang puti malang, penyelamat akan menolongmu, tapi ….”

Saat berbicara seakan sedang berbisik, Puck mendarat di bahu kurus Emilia. Dan kemudian, dekat pipinya, kata-kata tak terucapkan si kucing selanjutnya dapat dipahami Emilia hingga dia mual.

Andai kata menunggu di sini, dia akan diselamatkan sebagai korban.

Namun, andai Emilia pergi atas keputusannya sendiri, maka dia adalah pelaku yang menanggung kehendak bebasnya sendiri.

Menghadapi kebenaran tersebut, dia bahkan tidak ragu-ragu.

“….”

Bangkti, tangan Emilia bergerak ke satu-satunya pintu kamar putih.

Untuk membukanya dari luar, diperlukan prosedur otentikasi rumit, jadi Subaru yang mempercayakan Frederica akan perawatannya adalah satu-satunya orang yang bisa lewat.

“Subaru, dasar bego ….”

Menyentuh pintu yang hancur dengan telapak tangannya, Emilia bergumam lirih. Orisinilnya, pondai dibuat agar mudah dihancurkan olehnya. Dengan kata lain, Subaru membuatnya agar suatu hari nanti Emilia bisa melarikan diri.

Pintu di sangkar burung itu selalu muat diisi satu, dirancang khusus untuk dihancurkan.

Karena itulah, Emilia tidak pernah mencoba melarikan diri, entah Subaru memandang dirinya rendah atau tidak.

Atau mungkin, sebab kebaikan Subaru. Dia ingin menghormati keinginan kabur Emilia mana kala dia memilih, dia sendiri tidak pahaam.

Jawaban yang bisa dia dengar langsung dari bibir Subaru, renungnya.

—Di akhir waktu dia tidak memilih apa-apa, demikianlah keputusan Emilia.

Bab 13

Keluar dari ruang resepsi, Halibel yang berlarian di kastil. Raja Pemurni, bos muda itu, tuannya—Natsuki Subaru sedang tersenyum.

“Menawan Felt, aku ingin tahu idenya bagus atau tidak ….”

Lantas, dengan begitu bisakah gerakan Reinhard terbatas?

—tidak, daripada itu, malah akan menyulut kemarahan Reinhard, dan bertarung melawan Pedang Saint yang diperkuat emosi lebih mungkin terjadi.

Seperti itu, aliran-aliran simulasi.

Entah bagaimana, kala Pandemonium runtuh, nantinya akan menjadi seperti ini, demikian pikirnya.

“Memikirkan perasaan bos, mungkin dia bersenang-senang ….”

Melihat ke belakang. Ke jalan menuju tempat saat ini.

Sebesar apa penderitaan yang dia berikan, mengambil kelemahan banyak orang, dibenci, memerintah hidup lawan-lawannya, dan iseng-iseng mengambilnya—

—Tidak, iseng, memang tidak pernah ada.

Jika dia dianggap sedang bermain-main, maka besar sekali kesalahpahamannya.

Untuk menyelesaikannya, bekerja keras, sebab usaha tidak berarti lagi, dia tak pernah memikirkan itu.

—Subaru takut kepada orang-orang. Parahnya begitu.

Dari luar kelihatan senyuman, sejatinya dalam diri dia menyembunyikan kelicikan cerdik. Hatinya yang seperti itu, dia menyembunyikan kebenaran. Orang-orang bergerak sambil membawa banyak sekali niat, dia takut pada itu.

Orang-orang yang bersamanya, entah dipercaya atau tidak, meresahkannya itu hal idiot.

Maka Subaru memutuskan untuk menyederhanakan pengelolaan hubungan manusia.

Semua manusia pernah berbohon.

Kendati semua orang membenci Subaru, tetap saja tidak jadi masalah dalam pembangunan dunia semacam itu.

Siapa pun dia pasti memiliki kelemahan. Keluarga, kekasih, kekayaan, impian, harapan.

Maka dari itu—

“Kalau saja kelemahan semua orang di dunia, diketahui.”

Dengan itu Subaru tak perlu meragukan seorang pun.

Dalam dunia hitam dan putih, dunia tanpa rona yang bisa dipercaya, memakan kebencian, dia bisa hidup dalam nyaman.

“….”

Mengikuti Subaru, yang membantu pelariannya adalah Halibel.

Sosok Halibel itu, bagi Subaru tidak terlihat wujud aslinya—penampakannya kelihatan hitam dan putih. Hitam dan putih, semata-mata dua warna itu yang nampak padanya.

“….”

Tampil dalam monokrom semacamnya, Halibel bukan satu-satunya mahluk.

Kini, dunia yang terlihat oleh Subaru bukan pengecualian telah kehilangan warna dan cuma punya dua belaka.

Orang, benda, lukisan, alat, perhiasan, batu sihir, darah segar, air, semuanya hitam dan putih.

Darah dan air nampak sama, sup atau racun pun tidak bisa dibedakan.

Segalanya monokrom. Hitam dan putih.

Dalam dunia seperti itu, yang tampak berwarna bagi Subaru hanya sedikit saja.

Hanya hal-hal itu saja yang nyata, Subaru percaya itu.

Lainnya palsu, Subaru meyakininya.

Beatrice.

Emilia.

Dan, hanya—dan ….

Intinya, hal-hal lain, Subaru tidak mempercayainya.

Sisanya, sungguh-sungguh terlihat pudar.

Bukan dusta, hanya Natsuki Subaru sejati yang menyelamatkan, membunuh, memutuskan, ia seorang.

“… dari Reinhard, aku mengharapkan sedikit hal.”

Mungkin, sebelum hari itu—seandainya ada hubungan dari sebelum kepergian warna, bahwasanya rona-ronanya takkan memudar, dia terus mendamba.

Akan tetapi, ia memperlihatkan diri di hadapan Subaru sebagai hitam dan putih sebagai seseorang yang baru saja ditemui pertama kalinya. Ekspektasi itu mengecewakannya, Reinhard yang tadinya jelas sekarang memandang Subaru layaknya gumpalan putih. Kelihatan kotor.

Pada akhirnya, Reinhard sama-sama anak manusia.

Tidak salah lagi dia meneruskan hidup sambil berdusta. Jelas itu.

“Master—”

Dalam kastil, berlari menghampiri Subaru, di sebelahnya suara besar memanggil.

Yang terlihat dari sisi lain koridor, adalah pelayan berambut panjang, Frederica. Walau sulit dibaca, kesan kuat wajahnya mudah diingat.

Subaru pun diam-diam menyukai Frederica. Jadi—

“Putuskan—”

Menguatkan kakinya, dengan tulus ingin mengambil nyawanya, dia berpikir sisi teriaknya juga lucu.

Tentu saja perbuatan Frederica bagi orang terkuat Kararagi tidak bisa ditolelir.

“Ah, ugh!”

Belati di tangannya direnggut, tangan patah Frederica terdorong ke dinding. Halibel yang melakukannya, Frederica hanya menatap dengan kepala memiring.

“Kenapa, Anda, Halibel-sama? Dalam situasi ini, jika semuanya berantakan, orang itu ….!”

“Kau bisa membunuhnya. Kau berpikir begitu, aku juga tahu. Anak-anak yang tertangkap kelemahan mereka, membunuh Su-san akan membebaskan hasrat, bahkan aku pun tahu itu.”

Mata sipiy Halibel menatap Frederica. Cahaya yang terlihat dekat tersebut, dari tenggorokan kurus Frederica, terdengar suara lirih.

“Sayangnya, aku tidak mengikuti karena kelemahanku. Demi membalas kebaikan Su-san, sebabnya aku melayaninya.”

“Kebaikan?! Dari orang ini, kebaikan? Jangan bercanda ….!”

Tersemat di dinding, mat ahaus darah Frederica memelototi Subaru. Taring-taring tajamnya tumbuh, jemari feminim tipis mulai menebal, kuat layaknya hewan buas.

“Apa pun yang terjadi ….!”

“Su-san?”

Di samping Frederica yang bekerja keras dan berjuang, dia berdiri.

Mata Frederica membeliak, dan memanggil Halibel, namun Subaru tidak berhenti. Frederica susah payah mengangkat tangannya, dan memotong leher Subaru.

Saat itu, syal yang melilit tenggorokannya terlepas dan berkibar—

“—hu.”

Frederica yang melihatnya dari dalam tenggorokan, mengeluarkan suara.

Halibel pula untuk pertama kalinya kelihatan samar-samar kaget.

—di leher Subaru, sebelah kiri, terdapat tanda yang berbentuk seperti jari.

“Itu takkan terjadi, Frederica. Aku tak boleh mati demi hitam putihmu itu.”

“….”

Di hadapan Frederica yang membeku, Subaru mendekatkan wajahnya dan menegas jelas.

Bisa jadi bila dia Frederica, dia mengharapkan warna yang sama. Namun di momen-momen krusial ini, Frederica masih tak berwarna.

“Halibel-san …. Bawa Frederica lari.”

“… Su-san mungkin saja pengkhianat yang menyerang Pedang Saint adalah—”

“Aku tahu.”

Menatap Frederica yang tidak bergerak satu inci pun, Subaru memotong tutur Halibel.

Bahkan tanpa dikata pun, kau sudah tahu. Dapat dipahami bahwa Frederica diam-diam melakukannya, apabila itu bisa mengakhiri situasinya sekarang.

—tidak, bukan hanya Frederica. Andaikan bukan dia, orang lain pasti melakukannya. Salah perhitungan jika berpikir hanya perbuatannya seorang.

“Kau tidak perlu kembali lagi, Halibel-san. Aku, dengan caraku sendiri, akan menyelesaikan masalahnya.”

“….”
“Kalau kau ingin membalas kebaikanku, ini sudah cukup. Dari awal pun kau tidak usah berterima kasih … aku, hanya licik saja.

Sambil menggeleng kepala, Subaru tersenyum santai kepada Halibel.

Halibel barangkali secara serius benar-benar mempedulikannya. Tapi dari Halibel dia tidak melihat warna.

Mungkin warna yang hilang takkan kembali lagi.

Hak untuk mempercayai sesuatu, sebab Subaru telah kehilangan itu.

Jadi sekarang, tiada yang mewarnai dunia untuknya, bisa jadi begitu.

Sekiranya demikian, mulai sekarang, yang bisa diandalkan hanyalah—

“Aku ingin berteman baik dengan Su-san.”

“… seumpama aku tidak melarikan diri, itu bisa terwujud.”

Menerima niat Subaru, Halibel dengan kata-kata singkat tersebut, semata-mata mengujar selamat tinggal.

Subaru juga merasa bercakap-cakap lebih adalah hal tak pantas.

Tapi ujung-ujungnya, kepada orang yang bisa jadi seorang teman, dia ingin tampil keren.

“Frederica.”

“….’

Mendengar panggilannya, Frederica perlahan berbalik menghadapnya.

Pembantu yang sudah kehilangan moral, Subaru ragu-ragu bagaimana cara penyampaiannya, tapi.

Hendak diteruskan, lantaran dia sudah mendengarnya ….

“Makanannya, selalu lezat, dia ingin memberitahumu hal itu.”

—boleh jadi, ekspresi aneh itu, Frederica tak paham artinya.

Sampai akhir pun baginya, Natsuki Subaru tetaplah seorang monster.

Oke-oke saja. Biarpun seperti ini, tidak masalah. Lanjut beraksi seraya berpikir begitu.

Hasil yang ingin dilihatnya, tidak didapatkan, tapi.

“Nah, aku harus pergi ke mana, ya.”

Halibel membawa Frederica dan memudar dalam bayang-bayang, menghilang.

Ditinggalkan, Natsuki Subaru sendirian dalam kehancuran mimpinya.

Pandemonium berguncang terus, bukti bahwasanya pertarungan antara Reinhard dan Cecilus masih berlanjut, tapi dia bisa mendengar dari jauh suara-suara menyerukan balas dendam, bukan hanya Reinhard, tapi musuh yang memanfaatkan kesempatan kini berdatangan.

Musuh, musuh, musuh. Hanya musuh.

Sesudah menjalani hidup seperti itu, mau bagaimana lagi.

“….”

Subaru hinggap di pertigaan, di jalannya dia bimbang, sejenak memutuskan ke mana ia harus pergi.

Ke kanan, kamar Emilia yang mendukung kelemahannya.

Ke kiri, kelemahannya telah menjadi semacam dukungan, itu—

“—umu.”

Ke mana, sewaktu dihadapkan pilihan, pada saat itu.

Seseorang berlari memegang pisau tajam menikamnya.

Bab 14

Kastil aneh beserta lanskap aneh, Emilia yang bertelanjang kaki berlari.

Kendati sudah hidup satu tahun di dalam Pandemonium, Emilia hanya mengetahui warna putih dalam kastil. Di luar kamarnya, dan melewati bagian dalam gedung, betul-betul belum dijelajahi Emilia.

Dan itu tidak berubah pula. Dunia tidak menarik bagi Emilia.

Kini, satu-satunya perhatiannya adalah bocah yang terus memanggilnya, hanya satu orang itu.

“—Emilia-sama!”

Namanya dipanggil, wajah terkejut, Emilia menghentikan langkah.

Di tempat dan hancur kemudian kehilangan bentuknya, dalam koridor putih Pandemonium. Dekat jendela pecah, dia memanggil Emilia dan berhenti, seorang pemuda mata biru dan mata berapi.

“Reinhard ….”

“Anda baik-baik saja, Emilia-sama? Saya senang bisa bertemu Anda lagi.”

Bahkan di tempat ini, mematuhi sopan santun dan sikap ksatria, dia terlampau berani dan elegan.

Setelah berlari ke sisi Emilia dan menundukkan kepalanya, dialah Reinhard van Astrea. Tetapi dari penampilannya, mata gemetar Emilia melebar.

“Reinhard, lukamu serius. Kau tidak apa?”

“Tidak perlu risau. Luka ini ringan, tidak bisa dianggap demikian juga, tapi.”

Mengatakannya, atas kata-kata Emilia Reinhard mengendurkan bibir.

Tapi sosok Reinhard, adalah kondisi tak terbayangkan.

Sekujur tubuhnya terlingkupi banyak luka, bahkan sekarang tak henti-hentinya darah merah menetes ke koridor putih. Di pipi anggun tak kenal takut itu bertebaran helai-helai rambut merah tua, nafasnya yang tampaknya tak pernah mengatur ritme kelelahan, kini terpasang di wajahnya.

Seragam ksatria putihnya kotor dan berlumuran darah, dan yang paling mengejutkan—

“Pedangmu.”

“Sekarang adalah waktunya Pedang Naga dihunus, pedang memutuskannya sendiri.”

Pedang tak dibutuhkan yang tak pernah ditarik, turun-temurun dilimpahkan kepada Keluarga Astrea, Pedang Naga, Reid, dengan cahaya putih bersinar.

Pedang tersebut di dalam kastil, dia gunakan untuk melawan siapa? Di masa depan nanti akan melawan siapa juga?”

“Omong-omong, beruntung sekali Emilia-sama baik-baik saja …. Bersama saya, ayo pergi dari sini. Ada kereta naga yang menunggu di luar kastil. Kita pergi ke sana menuju Lugnica—”

“Ke Lugnica …. Sebenarnya ini dimana?”
“Ini di tepian Negara Kota Kararagi di bukit merah …. Mencari organisasi perlu mengerahkan upaya besar, tapi melalui usaha perwira intelijen kompeten dan mata-mata.”

Selagi menjawab pertanyaan Emilia, Reinhard melihat sekelilingnya dengan waspada.

Bahkan sekarang pun goncangan berlanjut berarti di suatu tempat dalam kastil ini pertarungan masih berlangsung. Reinhard juga ingin segera pergi untuk membantu sekutunya.

Betatapun penuh luka-luka dirinya, dia adalah orang terkuat Kerajaan—tidak, orang terkuat di dunia.

Andai tertangkap olehnya, menghancurkan Pandemonium hanya masalah waktu saja.

Tanpanya—

“Emilia-sama, dan juga tempat ini—”

Ayo cepat pergi, mungkin itu yang ingin dikatakan Reinhard.

Tapi kata-kata tersebut, oleh Emilia yang balik badan, mendadak sesuatu mengganggu.

“….”

Sesaat kemudian.

Dari belakang, mengenai perut Reinhard, sebuah pedang es menembusnya. Es dingin menyerbu aliran darah, menghancurkan isi perutnya dengan serangan dingin. Sang Pedang Saint yang tak pernah terkena serangan itu sebelumnya batuk darah.

“Emilia, barusan—”

“Ah.”

Reinhard masih tidak paham apa yang terjadi, dia jatuh terlutut. Melihat sosoknya, Emilia menatap kosogn jari-jari putihnya.

Apa yang dia lakukan, tersadar tindakannya benar-benar tak terduga.

—Jikalau pengkhianatan ini murni dari hati Emilia, Reinhard bisa saja menahan.

Tapi jika serangannya tidak murni dari kebencian dan niat membunuh, reaksi intuitif Reinhard tidak bisa menghindarinya, jikalau Berkat Ilahinya bekerja dengna baik, pertahanan Reinhard juga takkan bisa ditembus.

Tapi tempat ini ialah Pandemonium, dan Emilia tak bisa menentukan pemikirannya—Reinhard punya celah fatal.

“Aku, tidak bisa …. Bukan itu. Subaru, tidak. Reinhard, bukan itu. Subaru, tak akan kubiarkan Subaru tersakiti, aku, perlu ….”

Seakan berkata dia tak menginginkannya, menggeleng kepala, Emiia bersama niat sejatinya kini mendukung ulahnya.

Aksi mendadak itu, alasan secara tak sadar menyerang Reinhard, adalah karena eksistensinya telah menghancurkan Pandemonium dan menargetkan Natsuki Subaru, dia menyadarinya.

Tahu itu, secara naluriah tak menghentikan dirinya sendiri, itu karena dia berpikir demikian.

Emilia yang tak sadar tengah melindungi Subaru, tidak punya pilihan lain selain membunuh Reinhard.

“Subaru, bagiku, adalah ….”

Masalahnya sudah meleber ke sana, Emilia memahami perasaannya sendiri.

Berulang kali, Subaru datang mencarinya, melihatnya beristrirahat. Selama waktu itu juga Emilia merasa telah diselamatkan.

—sebagaimana Subaru yang memerlukan Emilia, Emilia pun memerlukan Subaru.

“Aku akan, menjaganya. Jika, aku, tidak melindunginya, maka ….”

“Emilia-sama, itu ….”

“—Puck! Tolonglah!”

Angin dingi nbertiup, bulu perak di koridor putih berkibar-kibar indah.

Mendadak, dagingnya membeku sebab diterpa angin kencang, darah Reinhard di udara tersapu jauh. Batuk bercampur darah dia mengangkat pedang.

Mata biru langit memandang Penyihir Glasiasi dan Hewan Akhir, saling bekerja sama.

“Maaf, Reinhard. Keinginan Lia adalah harapanku. Kalau kau selemah itu, bahkan aku pun bisa menang. Kau bisa menganggapnya kekejaman seekor kucing.

“Kumohon, Reinhard. Pergilah. Tinggalkan aku dan Subaru sendiri.”

“—itu, tidak bisa.”

Bahkan setelah mencetus situasi ini, dia masih mencari situasi memuaskan. Di depan Emilia sekarang, Reinhard menggeleng kepala.

Negoisasi ditolak. Saat pihak lain menuangkan energi ke dalam sergapan dari belakang—tidak, mungkin Reinhard sendiri, bahkan mengingat lukanya, mungkin telah menerima tawaran rekonsiliasi kalau-kalau situasi memungkinkan. Akan tetapi, keyakinan Reinhard tak memungkinkannya.

“Sebagai kepala Pleaiades, Raja Pemurni, Natsuki Subaru memulai pembunuhan Roswaal L Mathers, masyarakat Kekaisaran Vollachia, Negara Kota Kararagi, dan Kerajaan Suci Gusteko, total 126.700 orang dibunuh.”

“Hanya terhitung serangan langsung. Saat mempertimbangkan kerusakan tak langsung dan meningkatnya jumlah korban, besarnya meningkat ke tingkat lebih besar. Tidak peduli apa pun yang terjadi, kejahatan ini tidak boleh diabaikan.”

Kata-kata Reinhard beresonansi serius dan kesannya membela.

Mendengar kalimatnya dan mengetahui perbuatan jahat Subaru, dia mengharapkan perubahan hati Emilia, perasaan seperti itu.

Faktanya, Emilia memang terkaget-kaget. Terjebak dalam kamarnya, perannya adalah mengawasi wajah tidur Subaru, dia tak mengetahui penyimpangannya. Dari pembunuhan Roswaal, dia ditarik keluar dari mansion, samar-samar dia sudah menebak, tapi.

Terperangah oleh syok itu, Emilia menundukkan kepala.

Syok, seratus persen syok. Namun Emilia hanya merasakan syok dalam, bukan karena kekecewaan tentang berat dan besarnya jumlah dosa Subaru—”

“… maaf, Reinhard. Tetap saja, bagiku, Subaru adalah orang berharga.”

Bahkan setelah mengetahui perbuatan-perbuatan jahatnya, obsesinya kepada Natsuki Subaru sama sekali tidak tergoyahkan, mengetahui sumber keheranannya. Perasaan Emilia biar mengetahui kebenaran, tidaklah berubah.

“—ugh.”

Menghadapi Emilia yang berbicara demikian, Reinhard mengigit bibirnya. Buru-buru mengangkat wajah dan mengarahkan Pedang Naga terhunusnya.

“—dari garis keturunan Pedang Saint, Reinhard van Astrea.”

“Aku Emilia. Hanya Emilia.”

Masing-masing saling menamai diri sendiri, momen berikutnya, gelombang kejut putih menghancurkan lantai teratas Pandemonium.

Bab 15

“Bangsat …. Anjing …. Keparat, bajingan itu ….!”

Dalam kastil yang mulai runtuh, Subaru berlari sambil menyumpah-nyumpah.

Di bawah kakinya yang bergerak, tetes-tetes darah jatuh—di ketiak kirinya, titik serang pembunuh bayaran itu, pisauunya masih menancap, otaknya tanpa henti memperingatkannya akan hal itu.

“Bocah hitam putih itu …. Kalau sampai bertemu lagi, aku pasti akan membunuhmu ….!”

Keringat dingin menetes, bersandar di dindin gkoridor, Subaru masih bergerak.

“Lebih dari ini tidak termasuk ruang lingkup pekerjaanku. Natsuki-san. Berhati-hatilah.”

Dari musuh yang menyelamatkan bos, dan dengan santainya melarikan diri, menutur satu kata berani—memuji sesuatu seperti itu, Subaru tak punya hobi semacamnya.

Tepatnya, pekerjaan yang ingin dia lakukan, apa yang dilakukan orang itu. Penghinaan murni sebab melewatkan musuhnya merubah kekecewaan menjadi amarah.

Akan tetapi, melepaskan amarah pada saat ini pun adalah pencapaian mustahil.

“Kesempatan terakhir untuk bertindak, saat-saat terakhir paling pas, ya ….”

Tes, tes, menyentuh ketiak kiri yang serasa membara, Subaru bergumam muram.

Ketika memikirkan apa yang telah dia lakukan, suatu hari nanti dia pasti akan mendapat karmanya. Meski begitu, menunda karmanya sampai masuk neraka adalah rencananya, tapi ujung-ujungnya berkat tipuan kecil seorang penjahat—Semenjak dia memulainya tiga tahun hingga mencapai batas, memang menyedihkan.

Ucapan terakhir sang dictator.

Ketidakpercayaannya pada akhir kelewat berlebih, tidak salah lagi demikian yang mendorong kehancurannya.

Tetapi dia tidak menyesal.

Seumpama dia melakukannya, sekiranya melakukan itu, kesalahan0kesalahan jelas takkan terlintas dalam kepala. Sederhananya mencari jalan dalam dunia yang melenceng, Subaru sedang berjuang.

Seolah-olah tenggelam. Seakan-akan terjatuh, dia mati-matian mencari nafas.

Dari itu—

“Subaru.”

“….”

Meninggalkan jejak darah, dia merangkat di sepanjang koridor, seseorang memanggilnya.

Seketika itu tak kenal identitas suaranya, Subaru mengerutkan alis—bukan karena tiadanya jerami untuk digapai. Hanya saja, suara itu, dia tidak tahu kenapa bisa didengar di sini.

Karena kamarnya berada di sisi berlawanan tempat ini, dan seandainya berniat kabur, mustahil ia berada di sini.

Lantas—

“Uhh—oh!”

“Aku senang, Subaru … ternyata aku bisa bertemu denganmu baik-baik.”

“Emilia ….?”

Berpapasan dengan Emilia yang datang, bertemu di koridor, kini melihat wajah cantik itu mendekat, dengan itu Subaru dapat benar-benar menerima kejadiannya.

Dalam dunia monokrom perak, terlihat warna bibir merah muda lembut.

Emilia seorang, ibarat secara unik diajarkan kepada dunia, dilukis warna-warna cerah.

“—tapi, kenapa?”

Dunia mewarnai sosok Emilia, namun Subaru tidak paham situasinya.

Kehangatan pasti, dipeluk sampai sakit, Subaru menerimanya dari Emilia.

Karena yang senantiasa memanggilnya hanya Subaru saja, jadi mengapa dia sampai berada di suati sekarang—

“… Emilia, kau terluka.”

“Tidak apa, beneran. Sungguh, tidak terjadi apa-apa, semuanya damai.”

Emilia yang menempel itu menatapnya lagi, tersenyum dan berpura-pura kuat walau penuh luka.

Rambut perak indah acak-acakan, sebagaiannya terpotong. Piyama tipis warna putih sobek-sobek dan berlumuran darah. Kaki telanjangnya terdapat luka terbuka.

Mencegah hal terburuknya kejadian, dia pasti sangat bertahan.

Penderitaannya tak dimaafkan roh agung yang selalu bersamanya.

“Puck sedang apa ….”

“Puck …. Hmmm, ceritanya, pokoknya, pokoknya tidak apa-apa ….”

“….?”

Sejenak, mata Emilia ragu-ragu, tetapi tersembunyi di bawah kelopak mata yang tertutup cepat.

Reaksinya, Subaru curiga, tapi kala Emilia membukanya lagi, sedikit keraguannya tidak lagi dirasakan.

“Subaru, ayo kabur. Kalau sekarang, tidak aka nada yang mengejar kita.”

“—kabur, bersamaku?”

“Ya. Ada seseorang di luar. Aku tidak ngomong aneh-aneh, tahu.”

Setelah marah sebentar, jari Emilia menusuk hidup Subaru. Tingkahnya aneh, di atas Subaru melayang sebuah tanda tanya.

Orisinilnya, Emilia melabuhkan kebencian kepada SUbaru.

“Tapi, karena kau baik, aku baru saja dimanjakan ….”

“… benarkah itu? Aku, sedang kupikirkan.”

“Emilia?”

Tangan di dada, seolah Emilia bicara dingin, seakan perasaan tak berarti dari kata-kata itu, dia menurunkan sudut matanya.

Kebimbangan menyapu hatinya, memangnya Subaru menculiknya, apa dia sudah menghabiskan banyak waktu di sini? Berapa kali dia menatap wajah tidur musuh yang dibencinya?

Kala itu, Subaru mendapat keselamatan, tapi Emilia penuh penghinaan—

“Ah, aku marah kepada Subaru, aku memang berpikir begitu. Tapi, itu beneraaaan awalnya saja …. Semenjak itu, dari bantuan Subaru, aku memikirkannya.”

“Dariku, kau dibantu ….?”

“Karena diriku yang dibutuhkan Subaru. Tidak seorang pun membutuhkanku, itu perasaanku. Dan Subaru telah membebaskanku akan hal itu, jadi ….”

Saling bergantung, kalimatnya terlintas dalam benak Subaru.

Seperti Subaru yang memerlukan kehadiran Emilia agar hatinya tenang, Emilia saat itu juga tak terelakkan dalam hubungannya, demikian kesimpulan Subaru. Jadi pasangan itu, masing-masing saling bergantung, telah jatuh ke dalam hubungan ketergantungan.

“Aku ingin bersama Subaru. Jadi, ayo kabur?”

“… kek gitu, kau yang bilang, memang membuatku senang, tapi.”

Responnya gagap, Subaru belum bisa menerima pengakuan Emilia.

Dia sangat terkejut. Dalam hatinya dia memiliki perasaan, tapi otaknya memancing jawaban realistis.

Yang dikatakan Emilia, melarikan diri bersamanya itu mustahil.

Reinhard akan datang. Bahkan bila Cecilus menghadangnya, di luar kastil, tuk menaklukkan sang Raja Pemurni, akan terkumpul kerumunan besar musuh.

Kini di luar kastil Subaru tidak punya satu pun sekutu. Banyaknya trik untuk menangkap musuh-musuh potensial dalam situasi terkini takkan terealisasi.

Membawa kabur Emilia, sama sekali tidak realistis.

Akhir Natsuki Subaru adalah di sini. Saat ini, adalah masa-masa terakhir hidupnya—

“—kalau begitu, aku akan mati bersamamu.”

“….”

“Ketika itu, Subaru, lebih dari ditikam atau tatkala Reinhard pertama kali muncul, maupun menyadari waktu akhirnya, dia tertegun.

Emilia yang tersenyum menatap Subaru, kata-kata mengandung cinta dan kasih sayang.

Apabila Natsuki Subaru tamat, Emilia juga tamat—

“Aku akan berakhir bersamamu. Dirimu, di tempat yang dirimu takkan membutuhkanku, aku tak ingin tinggal di tempat semacamnya.”

“—ah.”

“Tolong, Subaru, aku membutuhkanmu. Aku harap kau mau ikut bersamaku.”

Di dadanya, Emilia kian dekat. Tetes dan desahan panas menyapu tubuhnya, Subaru merasa kebalikan dari yang dia perlukan jelas nampak.

Sebagaimana dirinya yang mengandalkan Emilia, kini Emilia mengandalkannya juga.

Selama ini, Subaru memerlukan Emilia. Darinya, dia mendapatkan keselamatan.

Dan sekarang, Emilia membutuhkan Subaru, dan sekarang meminta keselamatan.

Emilia membutuhkan Subaru dan sekarang meminta untuk menyelamatkan dirinya sendiri, sekarang ini.

Saat seperti ini akan datang, pikiran itu bahkan tidak—

“Subaru ….?”

Meraih bahu Emilia yang menempel, Subaru mendorongnya.

Tatapan matanya tidak bergerak. Pelan-pelan bangkit, Subaru bergerak mundur.

Emilia tengah menatap Subaru.

Di depan Emilia, bibir gemetar Subaru menutur.

“B, bohong ….”

Menggeleng kepala cepat-cepat, Subaru memperhatikan Emilia—maanya ketakutan, dia menonton.

“Suba ….”

“Tidak, hentikan, hentikan. Kenapa, aku, ayolah, kenapa! Hentikan! Hentikan hentika hentikan! Tolong hentikan!”

Ketakutan, itu ketakutan.

Ada ketakutan. Hanya ada ketakutan. Semata-mata ketakutan. Cuma ketakutan.

Ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan, ketakutan.

“—bau-bau penyihir.”

Dia menutup telinga.

Memegang kepala.

Suara itu, seruannya bergema, dari suara yang diedengarnya, dia mencoba melarikan diri.

“—memangnya kau tidak punya hubungannya, sikap tidak tahu malumu ada batasannya!”

Menutup telinga.

Mendekap kepalanya ….

Suara itu, seruannya berguma meskipun dia mencoba melarikan diri, dia tidak bisa kabur.

“—adikku terlalu baik.”

“Itu, kau pikir aku tahu ituuuuuuu—a!”

Beteriak keras-keras hingga memuntahkan darah, Subaru terhuyung mundur, merangkak jauh.

Emilia berdiri, dan bertanya apa yang terjadi. Subaru tak mendengarnya.

Kata-kata baik nan manis yang Subaru kira. Tidak bisa didengar.

Imbuhnya, suaranya, tidak terdengar. Tidak mau mendengarnya.

Jangan sok baik. Jangan perlakukan aku baik-baik.

Kenapa sekarang kau mencoba bersandar padaku?

Itu mustahil.

Berapa kali perbuatan jahat berulangku yang kau pikirkan?

Emilia takkan memaafkannya.

Takkan dia maafkan.

Apakah Natsuki Subaru telah mengubah itu?

Subaru yang bersandar, pilek, berusaha mengandalkan piyama malam yang dikenakan Emilia, apakah kebodohan Natsuki Subaru yang merubah Emilia?

Emilia pun, jadi berbeda?

“Aku! Jika kau membenciku aku akan bahagia! Aku, jika kau ingin menghindariku, aku akan senang!”

“….”

Sosok Emilia mengabur.

Warna-warna Emilia memudar, hanyut ke dalam dunia monokrom.

Bohong, itu bohong. Tipuannya memburam dunia Subaru.

Rambut perak dan mata ungu berkilau-kilau, warna-warna indah Emilia yang diyakini Subaru telah pergi, hanya noda hitam putih lick yang tersisa.

Kenyataan itu tidak dapat diterima. Emilia itu mulia dan takkan pernah berubah.

Bahkan lawan yang dibencinya, lawan yang menempel terus, dia tak sanggup mendorongnya.

Kebaikan pemikiran itu adalah karena dia percaya bahwa Emilia tak memaafknan Subaru, mempercayainya, Subaru jatuh ke dalam pelukan Emilia.

Tetapi seandainya dia paham bahwa Emilia berubah pula—

“Jangan, sok baik padaku ….!”

“Oh ya, sesuatu tetangku, kau akan membencinya, bukan? Mencurigaiku, benar? Karena aku ini penghalang, kau akan membunuhku, membenciku, mengutukku, dan akan mengkhianatiku!”

“Kalau begitu, tolong dari awal teruskan kebencianmu padaku! Jangan berubah, kalau saja kau seperti itu aku akan Bahagia! Kebencian, hanya saja, kebencian, hanya itu ….!”

Tiba-tiba amarah bangkit.

Entah apa, dalam dunia kacau ini dia jatuh ke kekisruhan.

Mencoba menyelamatkan dirinya yang tenggelam, dia secara refleks berjuang. Akhirnya sampai ke detik ini, bahkan Emilia mengkhianati Subaru.

—seluruhnya berubah, pasti suatu hari nanti akan berkhianat, jadi sekarang, tidak ada bedanya dengan dikhianati.

“Andaikan suatu saat kau hendak mengkhianatiku, berpura-pura jatuh cinta padaku, tolong jangan lakukan itu!”

“—ugh.”

Gemetaran, Subaru menjangkau, Emilia yang hitam dan putih itu terdorong ke samping.

Didorong kekuatan, tanpa dukungan, Emilia jatuh ke koridor. Sesaat, dadanya ragu-ragu, tetapi sudah diisi rasa takut oleh Subaru.

Bahkan Emilia pun tidak tenang.

Bahwa suatu kala, sebagai kemungkinan terakhir yang dia pertimbangkan akan terjadi—dia akan sangat membutuhkannya, dia tak memikirkannya.

—bahwasanya Emilia barangkali, kelak akan memaafkannya.

Hari-hari itu takkan datang seabgaimana harapannya, tapi itu pasti terjadi. Lantas bagi Subaru yang ditinggalkan dalam dunia hitam dan putih ini, hanya satu-satunya jalan terakhir yang dapat diandalkan.

“….!”

Emilia yang jatuh itu, meneriakkan sesuatu.

Meninggalkannya di belakang, Subaru mulai berlari.

Rasa sakit di sisinya tidak terasa. Dia tidak lagi menghiraukannya.

Seolah semuanya berakhir. Dalam dunia air Subaru segalanya menghialng.

Yang tersisa, hanyalah itu.

Jerami terakhir yang ditahan Natsuki Subaru yang tenggelam, hanya itu—

—kebencian yang takkan berubah, eksistensi yang tidak dimaafkan Subaru.

“….”

Suara setengah marah Emilia tidak menggapai setengah marah Subaru.

Kejatuhan Pandemonium, layaknya kehancuran pikirannya, mempercepat pemungkirannya.

Dalam dunia hancur lebur yang menghapus warna-warni, Subaru tiba.

“….”

Masih berdiri tegak, kantor Natsuki Subaru.

Pertahanan yang digunakan untuk kamar Emilia mengelilinginya—sebab, dalam ruangan ini, sama seperti Emilia, ada sesuatu yang tak boleh rusak di sana.

Tak ingin menyakitinya, dia menjauhkan Emilia, tapi yang satu ini berkebalikan.

Yang tersisa dari tempat terdekatnya, itulah yang dibuka Subaru.

Di sisi lain pintu, suara rantai logam yang berdentang-dentang menggema di dinding.

Selagi memainkan suara rantai, sepasang mata merah muda menatap Subaru dan bicara.

“—akhirnya, kau mau mati, ya, Barusu?”

Catatan Kaki:

  1. Kiseru (煙 管) adalah pipa rokok Jepang yang secara tradisional digunakan untuk merokok sedikit kizami (sekitar 25 mg), produk tembakau parut halus menyerupai rambut.

8 Replies to “Re: Zero If Wrath”

  1. Gw nunggu if ayamatsu aja dah slur wkwkkwkw next kan? Baru ntar gw baca ini oboreru walau dah tamat semua sih tapi eng kurang sreg

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *