Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 92

Posted on

Dusta

CH 92.png

Penerjemah: DarkSouls

“Rasanya seolah-olah sudah lama kita tidak berbincang-bincang seperti ini.”

“Ya memang sih … benar juga, hampir dua minggu kau diam saja. Pemilikmu benar-benar sangat khawatir dan mencarimu ke mana-mana, tapi tidak ketemu-temu.”

Perasaannya aneh, mendengar kata-kata Puck yang langsung menembus hingga tengkoraknya alih-alih berdengung di udara.

Namun demikian, mendengarkan suara Puck, yang riang sebagaimana biasanya, Subaru berusaha menekan amarahnya agar tidak tercampur dalam tanggapan barusan.

Lebih condong amarah ketimbang kegembiraan karena dijawab―― lebih tepatnya, diberi reaksi, terlampau banyak untuk Subaru telan.

“Nampaknya sudah dua minggu kita tidak berbicara … kau sudah membangun sedikit kebencian terhadapku.”

“Kau tahu alasannya … kan? Jangan buat aku mengejanya.” Kata Subaru.

“Benar. Hal yang aku ucapkan di depan gadis berambut biru itu sebelum berhenti keluar … kalau dipikir-pikir, bagiku tidak masuk akal. Aku benar-benar merenungkannya.”

“…! Bukan itu yang kita bicarakan!”

Yang direnungkan adalah menggali sesuatu yang sudah dilupakan Subaru sampai membuatnya berang. Terlebih lagi, benar-benar membelokkan pembicaraan yang tengah mereka diskusikan.

“Jangan marah ….” Celetuk Puck terhadap Subaru yang geram.

“Aku tahu aku tahu. Aku cuma ingin minta maaf saja. Jika kita tidak membersihkan sebagian masalah di antara kita sebelum pindah ke topik utama, pembicaraan ini takkan kau gubris, benar? Apalagi …. Aku tengah berada dalam posisi di mana ada begitu banyak hal yang mesti aku tanyakan kepadamu.”

“Oke, kau oke-oke saja? Kalau sudah selesai memuaskan dirimu sendiri, mari mulai bercakap-cakap. Kau tahulah, hal yang ingin kau diskusikan, tentang topik utama.”

Mengakui permintaan Puck dengan beberapa penerimaan acuh tak acuh, Subaru memelototi kristal sambil memotong percakapan langsung ke intinya.

Tercermin sosok Subaru dalam kristal tembus cahaya itu, batu di dada Emilia memancarkan pendar cahaya hijau nan gelap.

Subaru mendecakkan lidah, lalu ….

“Ngomong-ngomong, bukan tempat yang bagus untuk berbicara. Untuk saat ini, kita pergi ke luar saja. Kita tidak tahu kapan Emilia akan bangun. Alangkah baiknya mengubah lokasi sebelum ….”

“Maaf, tapi tidak bisa. ――Dan itu termasuk bagian topik utama kita.”

Sembari menatap Emilia yang tengah tidur, tawaran Subaru ditepis oleh kata-kata telepati Puck. Untuk sesaat, Subaru memasang ekspresi seakan-akan hidungnya terjepit.

“Bukan semacam penolakan ‘Tak mau’ … Kau tidak bisa? Maksudnya apa?”

“Seperti kedengarannya. Dalam kondisiku saat ini, keluar kristal … atau dengan kata lain, mewujud di dunia luar sekarang ini mustahil. Jikalau tidak, apa kau benar-benar berpikir aku akan membiarkan Lia merasa sesedih dan seterisolasi ini?”

“――――”
Mendengar kata-kata Puck seolah menandakan fakta jelas, kepala Subaru terdiam.

Sebenarnya, mengingat segala sesuatu yang terjadi antara Subaru dan roh ini sampai sekarang, Subaru jujur meragukan kepastian tutur Puck.

Selain kecenderungan Puck yang senantiasa muncul terlambat atau tatkala waktu-waktu penting, pada dasarnya―――― dia ada semata-mata demi Emilia dan perasaannya terhadap gadis itu tulus.

Subaru menganggap poin-poin tersebut tak dapat diragukan lagi.

Yang artinya ….

“Pokoknya terdesak kondisi, atau entah karena apa … mencegahmu keluar?”

“Itu benar. Aku bahkan belum bisa bertelepati seperti ini. Beruntungnya kau menyadari hal demikian dan memanggilku dalam kristal. Aku ragu ada orang lain yang mampu melakukan itu.”

“Orang lain ….?”

“Sederhana saja, satu-satunya orang yang sedekat ini dengan Lia selagi dia tidak sadar adalah kau. Selain itu, meskipun kebetulan ada orang yang menyentuh kristal, ada permasalahan afinitas yang barangkali dapat menghadang kami untuk saling berkomunikasi. Tapi kita pernah melakukan ini sebelumnya, tentu aku tahu kita bisa berbicara begini.”

“… Oh ya, kita pernah, bukan? Jadi, kau ingin apa dariku?”

“Hm ….”

“Karena seseorang akhirnya telah memenuhi persyaratan dan, entah karena keberuntungan sang ilahi, memanggilmu …. Kau pastinya sudah siap untuk tidak membiarkan kesempatan satu banding satu juta ini lenyap. Lantas, dengan waktu singkat yang kau pegang sekarang, kau ingin bilang apa padaku?”

“――――――――”

Imbuh Subaru disambut keheningan tanpa makna. Dalam benaknya, Subaru hampir dapat membayangkan roh kucing kasat mata tersenyum lebar sembari menyeringai layaknya seringai manusia.

Tidak mengkhianati imajinasi Subaru, Puck tertawa, gelak tawanya tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.

“Nah, aku benar karena telah menaruh harapan itu padamu … walau mengesalkan sebab harus mempercayakan Lia kepada orang lain selain aku.”

“… Aku bisa menyampaikan pemikiranmu kepada Emilia, kalau kau mau.”

Bagian terakhir tukas Puck yang penuh suka cita seketika tertutup kegelapan. Merasakan perubahan ini. Subaru menunduk. Sarannya tak lebih dari sebuah hiburan. Namun, setelah mengucapkannya, barangkali betul-betul menjadi ide bagus.

Setelah kehilangan Puck, yang telah memegang inti hati Emilia, keadaan gadis itu bimbang. Sampai sekarang masih menahannya, namun seiring berlalunya waktu dan berulang-ulang gagal menantang Ujian telah mengikis jiwa dan raganya, kelemahan Emilia perlahan-lahan mulai tampak. Seandainya akhir cerita demikian, maka mungkin menawarkan bantuan kepadanya akan――

“Lebih baik tidak. Mana kala dia tahu aku berbicara dengan seseorang tanpa sepengetahuannya, asumsikan hal terburuk, pikiran Lia bisa-bisa hancur.”

Tapi, sebelum Subaru dapat lebih mengembangkan pemikiran itu, dia terhenti oleh suara sedih Puck. Mencoba memahami kata-kata tersebut, “Hhaaa ….” Subaru mendesah lemah di dunia nyata.

“Dan … maksudnya apa pula?”

“Seperti kalimatnya. Bila mana kau bertindak sebagai perantara dan menyampaikan kata-kataku kepada Lia, dia akan tahu bahwa diriku tidak sepenuhnya tertidur dalam kristal. Apabila dia mengetahuinya apa lagi menahanku agar tidak mewujud dan menghalangiku agar tidak dapat menghubungi siapa pun, akan menggoyahkan mentalnya sampai hancur lebur.”

“Tunggu, tunggu sebentar――!”

Subaru menggelengkan kepala, menyuruh Puck berhenti berbicara.

Karena roh itu tak punya tubuh, hanya kristal yang nampak oleh Subaru, wajah Puck tidak kelihatan.

Paling tidak, menurut suara Puck, Subaru menilai bahwasanya dia tidak berbohong.

“Apa kau … paham mengenai apa yang baru saja disemburkan? Barusan … seolah-olah mengaku bahwa Emilia sendiri yang mencegahmu untuk keluar ….”

 


 

 

“……”

“Dan membungkammu …? Kau ngomong apa? Emilia memanggil-manggilmu, meratap serta menangis-nangis, meminta bantuanmu … jadi bisa-bisanya kau …! Bukan aku, bukan orang lain, melainkan namamu yang Emilia panggil sewaktu dia kelelahan dan hampir remuk! Kenapa kau ….!”

“…… Ah, benar juga. Kau ini orang pertama yang akan kesal ketika mendengar Lia memanggil-manggil nama orang lain yang bukan dirimu.”

“―――Tsk!!”

Kata-kata itu tidak penting sama sekali, menyadari bagiamana mereka secara akurat dapat menangkap inti maksudnya, tenggorokan Subaru tertutup rapat-rapat diikuti emosi tidak keras yang campur-aduk.

Berharap menjadi yang terpenting di hati Emilia, dia berusaha keras dan berjuang sampai sejauh ini. Dan kenyataan bahwa dia tidak berada di hati Emilia membuatnya risau berkepanjangan. Kebenarannya begitu.

Pada saat yang sama pula, membuatnya marah saat melihat ada orang lain yang menempati posisi itu dalam hati Emilia, yang biarpun memiliki kekuatan jauh lebih besar daripada Subaru dan mengaku memprioritaskan Emilia di atas segalanya, gagal mengambil tindakan apa pun demi dirinya.

Lantas, ketika Subaru bilang bahwa bukan dirinya, bukan juga Puck, melainkan Emilia sendiri yang bertanggung jawab atas fakta itu, bagaimana mungkin laki-laki itu menerimanya?

“Terus, apa …. Maksudmu setiap kali Emilia dihancurkan oleh Ujian, dilumat kesepian, tersenyum dalam linangan air mata kenangan masa lalunya yang menyakitkan, semua bagian itu adalah kepura-puraan apa lagi kebohongan? ――Kau berharap aku percaya itu!?”

Seandainya air mata, tangisan, dan ratapan itu semuanya adalah akting saja untuk menipu orang-orang di sekitarnya, maka Emilia pastinya seorang aktris lihai. Alih-alih membidik tahta, semestinya membidik Oscar saja.

Andaikan seseorang mengabaikan fakta yang jelas nampak bahwa Emilia tidak berbakat atau beralasan apa pun untuk menipu Subaru dan orang lain, lantas.

“Tidak mungkin … Jangankan terus-menerus menipu semua orang di sekitarnya, diterpa penyesalan hanya karena mengutarakan satu kebohongan kecil. Itulah sifat Emilia ….”

“Subaru, tenanglah. Aku tidak membicarakan sisi buruk Emilia sebagaimana imajinasi burukmu. Jadi tenanglah.”

“Imajinasi buruk ….? Imajinasi buruk apa … Bangsat, berhenti mengintip isi kepalaku! Tidak ada hubungannya dengan hal ini ….! Apa pun yang terjadi, takkan pernah kuanggap Emilia seperti ….”

“―――NATSUKI SUBARU!!!”

Suara tajam Puck menembus Subaru yang gelisah sekaligus berang.

Emosi kuat terkemas dalam satu panggilan singkat itu cukup untuk membekukan tubuh Subaru yang gemetaran walau sesaat. Namun di ujung pelototan Subaru bukanlah kepada kucing kecil itu, tetapi batu mati yang bersandar di dada Emilia, bersinar dibalut cahaya anorganik.

“…. Sudah tenang?”

“… Jadi kau bisa berteriak juga … Aku selalu mengira kau seorang bola bulu halus belaka tanpa beban dan tak peduli keseriusan suasana.”

“Jarang aku berteriak seperti ini. Cuma kepada Lia … atau ketika aku perlu memarahi bocah-bocah nakal saja, baru aku berteriak seperti ini.”

“Bocah-bocah nakal, ya.”

Mendengar penjelasan tak kenal ampun itu, Subaru menghela nafas singkat.

Tidak bisa Subaru sangkal. Dia tahu sikapnya menyusahkan di sini.

Sudah berapa kali Subaru gagal tenang selama pembicaraan yang sudah alam ditunggu-tunggu ini? Dan berapa kali Puck harus menegurnya agar pembicaraan ini kembali ke jalur utama?

Menyedihkan melihatnya tidak bisa menahan diri. Hati baja yang sangat dia idam-idamkan itu, apakah tak ada serpihan dalam dirinya?

“Tapi, sejujurnya, aku senang ada orang yang sangat mempedulikan Lia sampai sekukuh ini. Pastinya kau telah memberikan banyak kekuatan kepada Lia.”

“――Hah?”

“Belum ada mahluk yang berhasil melangkah sampai sejauh ini ke dalam hati Lia. Bahkan Roswaal, yang membawa Lia keluar dari hutan untuk Seleksi Raja, tak pernah menyentuh inti terdalam benaknya. Yah, sebab pria itu cuma ingin menempatkan Lia di atas tahta sebagai sarana untuk tujuan lain, tidak terlalu mengejutkan.”

“――Apa kau … tahu tujuan Roswaal?”

“Mengikuti Kitab, bukan? Barangkali, soal menghargai Kitab dia sangat menyerupai Betty. Terlepas dari besarnya takdir yang tertulis di dalamnya, meski ada beberapa takdir Betty yang tidak tertulis. Mirip namun berbeda, begitulah penjelasannya.”

Nampaknya Puck sudah mengetahui detail-detail keadaan Roswaal dan Beatrice. Subaru ragu informasi itu akan dioper ke Emilia, dan semakin meresahkannya tatkala dia menyimpan hal itu sendirian.

Tapi Subaru sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan Puck jika dia menanyakan hal itu.

“Karena tidak terkait dengan Emilia, kau lagi tidak buru-buru … ya.”

“Misal yang kau maksud Betty, aku bersedia melakukan apa pun untuknya. Tapi … karena Lia terjerat dengan Roswaal, aku tidak punya pilihan selain fokus pada hal itu.”

“Yah itu salahmu karena tidak berkata apa-apa terlepas mengetahui hal itu akan terjadi, kan?”

“Tidak ada komentar deh. Meski dipikir-pikir tidak adil sekiranya membuatmu berurusan dengan konsekuensinya.”

Terlepas niatnya, tampaknya penolakan Subaru demi mengutamakan apa pun selain Emilia adalah alasan utama di balik semua ini. Jika kelambanannya membuat Emilia jadi susah-susah begini, lantas akan jadi kesalahan besar sampai tidak bisa dianggap masalah sederhana lagi.

“Aku akan menghancurkan rencana Roswaal jadi jangan pernah memikirkan itu lagi. Perkara Beatrice … Aku tidak berniat menyerahkannya padamu. Satu-satunya hal yang membuatku setuju untuk bekerja sama denganmu adalah Emilia.”

“Okelah. Saat ini, kekuatanku tidak dihabiskan untuk orang lain selain Lia. Mengeluarkan usahaku untuk hal lain selain dari apa yang aku sukai takkan bermanfaat.”

“Kalau begitu katakanlah. Maksud mengenai Emilia mencegahmu keluar? Aku tidak percaya dia membohongi semua orang.”

Terakhir kali, Subaru sudah membuang jauh-jauh emosinya, namun pemikiran itu kembali-kembali jua. Sekalipun tidak mungkin Subaru mengetahui isi hati Emilia, dia jelas bukan tipe orang yang menipu orang lain dan meludahi perhatian orang lain dengan cara itu.

Mendengar demikian, Puck mentransmisikan sesuatu yang terasa bak desahan lega ke dalam pikiran Subaru.

“Aku tidak pantas mengatakan sesuatu seperti ‘Kau tidak perlu khawatir’. Tapi, sebab Lia mencegahku keluar … bukan berarti Lia sendiri yang mencoba mencegahku melakukannya.”

“…. Maaf, aku tidak mengerti maknanya.”

“Sukar memaparkannya. Lia mencari bantuanku, memanggil rkistal, dan tidak kuasa mendengar suaraku, semuanya nyata. Fakta bahwa dia takut sendirian dan goyah tanpa dukungan Puck juga benar. Tapi ….”

“――――”

“Alam bawah sadar Lia menolak memperkenankanku mewujud atau berkomunikasi dengannya. Bagian dalam serta luar hatinya tumpang-tindih … barangkali begitu gambarannya.”

Bagian dalam dan luar hatinya. Subaru menelan nafas setelah mendengar kata-kata itu.

Tentu saja, Puck tidak membicarakan kepribadian ganda? Kesampingkan itu, setiap kali Subaru dikejar-kejar keputusasaan oleh dunia ini, hatinya seolah-olah terkhianati.

Seandainya hal itu juga dirasakan Emilia, lantas ….

“Kau tidak bisa memengaruhi Emilia dari dalam?”

“Rumit. Relung dalam hati Emilia jauh lebih kuat dari bagian terluarnya. Dan walaupun aku berhasil menembus sampai ke luar, hanya akan menimbulkan masalah bagi pikiran Lia.”

“Menurutmu apa yang merepotkan? Contohnya, apakah ada sesuatu yang membuatnya sebal seumpama kau keluar ….”

“Kau sudah mengetahui jawabannya, bukan?”

Memotong rentetan pertanyaan Subaru, hampir ada sedikit sarkasme dalam suara Puck.

Menerima pemikiran ini, Subaru terdiam sesaat kemudian menurunkan matanya.

“――Itu hanya dugaan semata.”

“Hm, teruskan. Aku mau dengar. Sudah kubilang, kan? Aku mengharapkan banyak hal darimu, Subaru.”

Sebagaimana yang digumamkan Subaru, Puck memberinya cap persetujuan yang sepenuhnya tak mengesahkan ini. Merasakan suasana hatinya sedikit ringan meski belum pasti asal keringanannya, Subaru melanjutkan ….

“Semisal kau hadir, maka Emilia akan ….”

“Mhm, mhm?”

“…. Mesti menerima masa lalu buruknya. ―― Karenanya Emilia tanpa sadar menghentikanmu untuk campur tangan.”

 


 

 

“――――”

Diterpa gelombang opini Subaru, reaksi Puck bukanlah penolakan maupun tawa, tetapi keheningan.

Jika roh kucing itu berwujud di sini, dia mungkin mengambang di sana dengan ekspresi santai nan riang, mengayun-ngayunkan ekornya yang panjang ke sana ke mari.

“Luar biasa, Subaru. Jawabannya lebih mantap dari yang aku perkirakan.”

Kata Puck setelah terdiam beberapa saat dan suaranya terdengar nada terkesan. Mendengar ini, Subaru menghembuskan nafas melalui lubang hidung.

“Seriuslah, pujianmu sama sekali tidak membuatku senang, tahu.”

“Pujian tulus. Kau tidak punya banyak informasi, fakta kau dapat menyimpulkan sampai sejauh ini benar-benar mengejutkan. Kau tahu betul isi hati Lia.”

Mengatakan itu dalam balutan aura kasih sayang dalam, kesadaran Puck barangkali memperhatikan Emilia yang tengah tertidur. Seolah-olah terpikat oleh suara itu, Subaru mengalihkan pandangannya ke wajah pucat gadis yang sedang terlelap.

Berbaring di sana, sambil mendengkur, mustahil tahu gadis itu mimpi baik atau buruk.

Ujian dan masa lalu yang ikut menyertai di hatinya―― Subaru meragukan keakuratan masa lalu buatan terhadap masa lalu nyata Emilia.

Masa lalu yang dilihat Subaru dalam Ujian adalah mengenai perpisahannya dengan orang tua, yang mana menjadi simbol penyesalan terbesar masa lalunya. Memang wajar. Masa lalu yang mesti Subaru atasi bukanlah kejadian besar, namun lingkungan yang dia habiskan sepanjang waktu sembari merana dan bermalas-malasan.
Lantas, bagi Subaru, Ujian menciptakan waktu dan ruang yang tidak sungguh-sungguh nyata, menyenangkan kembali ke orangtuanya sambil mengucapkan selamat tinggal.

“Masa lalu itu tidak harus mirip dengan masa lalu dunia nyata. Semata-mata cuma gambar mental yang diambil dari ingatan penantang kemudian dikumpulkan sedemikian rupa menjadi adegan yang ditampakkan selagi Ujian berlangsung.”

Di akhir Ujian, Echidna memberi tahu Subaru garis besar cara kerja Ujian. Mengumpulkan potongan-potongan kenangan yang bahkan Subaru tidak ingat, Ujian memanfaatkannya lalu membentuk Sebuah Dunia Rumit Buatan. Dengan kata lain, tak satu pun ucapan selamat tinggal Subaru kepada orang tuanya nyata, dan semata-mata hanyalah hiburan diri.

――“Terus, ngapa?” Itulah pemikiran Subaru masa kini.

“Masa lalu yang kau lihat dalam Makam adalah sebuah kepalsuan yang menyamar menjadi kenyataan. Dan si keparat yang mengatur Ujian menciptakannya agar sang penantang mencapai jawaban apa pun yang paling memuaskannya.”

Echidna tidak mengumbar banyak hal, tetapi, dari apa yang dia lihat dari kegilaan Penyihir itu, Subaru teramat yakin dialah yang melakukan hal semacam itu.

Lantas ….

“Masa lalu yang dilihat Emilia adalah bagian kenyataan lagi rekayasa. Dan kau … mesti tahu perbedaan keduanya. Karena itulah alam bawah sadar Emilia menghalangi upayanya untuk memanggilmu.”

“… Yang menimbulkan pertanyaan adalah. Andai kata aku bersamanya, Lia akan melihat masa lalu sebagaimana adanya. Jadi mengapa hatinya menolakku, kau tahu jawabannya?”

“Itu ….”

Sederhana, Subaru hendak mengatakannya namun kembali ragu-ragu.

Alasan keragu-raguannya sama sederhana. Bila mana kalimat berikutnya dibunyikan dari mulutnya, berarti mengungkapkan masa lalu Emilia―― sekaligus fakta adegan keji penuh kebencian yang sudah Emilia gambarkan, semua itu menutupi kebenaran yang terkubur dalma hatinya.

“… Karena kebenaran yang telah dilupakan Lia jauh lebih tak termaafkan ketimbang ingatan palsu yang dia bicarakan.”

Puck menyelesaikan kalimat Subaru.

Mengetahui Subaru gagal menjawab pertanyaan sampai dijawab sendiri oleh Puck, wajah bocah itu berkerut sedih ketika melihat Emilia.

Orang-orang yang dia habiskan selama hari-hari bercampur kelembutan dan kehangatan―― menghadapi orang-orang itu yang menyalahkannya dengan semua kebencian lagi kedengkian mereka, menghujaninya dengan dendam mereka tatkala berada dalam es ketika Emilia menyampaikan ucapan perpisahan nan lamanya.

Subaru baru saja memikirkan masa lalu yang merobek-robek jiwa serta raganya, pada kenyataannya, merupakan buaian lembut untuk melindunginya dari kebenaran yang bahkan lebih kejam.

“Apa kau … kau tahu apa yang dilihat Emilia?”

“… Sayangnya, tidak. Saat aku pertama kali bertemu Lia, saat itu dia masih membeku di pesisir hutan. Lantas aku tidak tahu mengapa Lia takut padaku. Dan entah apa sangkut-pautku dengan masa lalunya.”

City vs Chelsea : 6-0

Mendengarkan gumaman kesal Puck, Subaru menggigit bibirnya.

Masa lalu asli Emilia―― adalah alasan Emilia tidak lulus Ujian. Memahami hal demikian, dia sekarang selangkah lebih dekat menuju jawaban.

Setiap kali Emilia berada dalam Ujian, dia melihat masa lalunya yang asli dan dibuat-buat. Dan dia sendiri ingin masa lalu palsu itu menjadi asli.

Selama dia gagal mencapai jawaban atas masa lalu orisinilnya, dia takkan menembus Ujian. Selama Emilia terus membohongi hatinya sendiri, pisau-pisau manis dari masa lalunya akan terus mencabik-cabik kepalanya.

“Aku harus apa?”

“Entahlah.”

“Aku ingin membantu Emilia … dan menjadi kekuatannya.”

“Aku pun sama. Aku ada karena dia. Misalkan aku tidak berhasil menjadi kekuatannya, maka eksistensiku tidak lagi diperlukan.”

“Aku ingin mendukung semua harapannya … dan aku ingin berada di sisinya.”

“――――”

Dihadapkan dengan permohonan Subaru, Puck terdiam sambil merenung. Sementara itu, Subaru menunggu tanggapan roh. Lalu, terdengar suara penuh tekad ….

“Subaru. ――Hanya ada satu kemungkinan.”

“Kemungkinan ….?”

“Ini adalah solusi yang betul-betul absur jika aku sendirian, bahkan sekarang, aku sangat menolaknya. Tak pernah kubayangkan akan menyarankan hal ini, meskipun terus kupertimbangkan.”

Mendengarkan kekhawatiran Puck, Subaru bersiap-siap terhadap saran itu. Paling tidak, ini pertama kalinya Subaru mendengar Puck berbicara seserius ini dalam wujud normalnya.

“Kau mau aku melakukan apa?”

“Sesuatu yang mesti aku lakukan. Meskipun cuma kau orang yang tersisa setelah bersih-bersih setelahnya.”

“…. Kedengarannya kau hendak mengatakan hal gila, aku agak takut.”

“Tak pernah kubayangkan akan menyerahkan semuanya di tangan orang lain. Tapi, yah … aku yakin kau adalah satu-satunya orang yang berkenan mempertaruhkan nyawa demi Lia, bila perlu.”

Merasakan emosi besar Puck yang meluap-luap seraya berbicara, Subaru menarik nafas singkat.

Tidak salah lagi―― Penilaian Puck benar. Demi Emilia, Natsuki Subaru dengan senang hati akan menyerahkan hidupnya.

Melihat Subaru diam-diam setuju, Puck tentunya mengangguk dalam kristal.

Tak lama kemudian, dengan suara lirih ….

“Esok pagi, aku akan memutus kontrak dengan Lia. ――Dan begitu hubungan antara Lia dan aku terputus, kuyakin tatkala dia menangis, kau akan melakukan apa pun untuk menghiburnya.”