Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 90

Posted on

Maafkan Aku

CH 90.jpg
Penerjemah: AshDarkEmbers

――Meskipun semestinya Subaru membulatkan tekadnya, saat Subaru melihat gelombang emosi di mata Emilia yang berkaca-kaca, dia diserang oleh rasa penyesalan.

Bertanya pada dirinya sendiri bahwa pertanyaan itu sama saja merobek bekas luka di dalam hati Emilia―― mencakar luka-lukanya yang tidak sembuh dan menggunakan kekhawatiran sebagai pembenarannya.

Rasa sakit dari penyesalan ini tidak kurang dari rasa sakit yang dirasakan Emilia.

“Ujian Makam menunjukkanmu masa lalu …… Itulah yang dikatakan semua orang kepadaku.”

“――――Ah.”

Tapi, mencari sesuatu yang bersemayam di balik rasa sakit itu, Subaru melangkah lebih dalam lagi.

Menggigit bibirnya, ekspresi Emilia terguncang, tetapi pupilnya yang gemetaran tidak mengalihkan pandangannya dari Subaru.

Untuk saat ini, akan lebih baik untuk tidak mengungkapkan bahwa dirinya pernah menantang Ujian. Subaru takkan sembarangan berkomentar seperti Kalau aku bisa, maka kau juga bisa, terutama tidak sekarang karena kualifikasinya telah dicabut. Selain itu, walaupun dia melakukannya, barangkali Emilia menganggapnya sebagai kebohongan yang menghibur.

Jika demikian yang terjadi, lantas langsung saja Subaru jujur memberitahu Emilia perasaannya.

“Kuduga karena itulah membuatmu seperti ini … kau menderita dan terluka, namun kau menyimpan semuanya sendirian, dan … kau akan menantang Ujian lagi malam ini, bukan begitu?”

“――――”

Melalui empat dunia yang berulang itu, Emilia tak pernah menyampaikan detail Ujian kepada Subaru. Kemungkinan besar karena Subaru praktisnya mengabaikan hak Emilia untuk melawan Ujian dengan memutuskan bahwa dirinya tidak perlu menjadi orang yang menyelesaikannya, namun juga karena Emilia tidak pernah berkesempatan untuk membicarakannya bersama Subaru.

Perkara pertama telah diselesaikan oleh fakta bahwa Emilia sekarang adalah satu-satunya yang mampu menghadapi Ujian, otomatis, perkara terakhir sedang dalam proses penyelesaian saat ini juga.

Mendengar ini, pipi Emilia menegang selagi menurunkan pandangannya.

Sebelum mata dan alisnya yang panjang luput, Subaru melanjutkan.

“Tapi, yah.”

“――――”

“Beban berat yang kau tanggung, tidak kau bagi denganku? Bila masa lalunya adalah sesuatu yang takut kau saksikan, bagaimana dengan memperkenankanku berdiri di sampingmu sewaktu bertemu masa lalu itu?”

Kepalanya yang miring ke bawah terhenti dan pelan-pelan kembali melihat Subaru.

Subaru tidak boleh membiarkan Emilia melihat sisi lemah penuh ragunya. Jadi, kepercayaan diri yang sama sekali tidak masuk akal, Subaru membusungkan dada sambil membalas tatapan Emilia.

Bagaimanapun, rasa percaya diri tipuan tanpa fundamental justru keahlian Subaru.

“Kalau dipikir-pikir, aku nyaris tidak tahu apa-apa tentangmu, Emilia. Aku menyukaimu … dan bagian dari hal itu karena aku sangat suka penampilanmu, tetapi pada waktu-waktu kita menghabiskan waktu bersama, semua hal yang aku lihat dalam dirimu membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya ….”

“――――”

“Dan karenanya dengan sangat yakin bahwa diriku menyukai dirimu yang sekarang ini. Tetapi, mengenai apa saja yang telah kau lalui, bagaimana perasaanmu, dan pribadimu sebelum menjadi orang seperti ini sekarang … nol yang kuketahui. Karena aku tidak perlu tahu amat. Karena masa kini dan masa depan lebih penting daripada masa lalu. Tapi ….”

“…… Tapi?”

“Kini, berada dalam situasi yang mengharuskanmu untuk melihat masa lalu, dan seandainya kau takut menghadapinya sendirian …… berkenankah kau mengizinkanku untuk berdiri di sampingmu sehingga kita dapat menghadapi apa yang harus dihadapi bersama?”

Izinnya untuk merasakan penderitaan Emilia telah ditolak.

Jadi sekarang, Subaru meminta izin untuk mendukung Emilia dari sisinya, memberinya pundak untuk bersandar ketika lelah dan hampir pingsan.

Mungkin hiburan kecil-kecilan, tetapi, akan ada saat ketika hiburan itu mengubah semuanya.

“――――”

Subaru dengan seksama menunggu jawaban Emilia.

Keraguan di mata Emilia menampakkan banyak konflik dalam dirinya. Keraguan, kebimbangan, rasa bersalah, membenci diri sendiri. Berbagai emosi bergelora di dalam tubuh ramping Emilia yang memang sudah berkecamuk.

Akhirnya, Emilia diam-diam bergumam,

“Berada di sini saja …… Kau sudah membantuku hanya dengan berada di sini …… ​​jadi, merepotkanmu lebih-lebih lagi akan ….”

“Direpotkan oleh Emilia sama sekali bukan masalah. Membuatku senang karena bisa melakukan sesuatu untukmu. Dan tatkala kau dalam kesulitan dan berharap ada seseorang yang menawarkan bantuan … aku ingin menjadi orang pertama yang meraih dan membantumu.”

“――Ah.”

Sekali lagi Subaru nyatakan ketika Emilia dengan lunglai mencoba menolak lamarannya.

Selama Emilia tidak menolaknya secara langsung, Subaru tidak berniat mundur. Dia tahu betul dia tengah menginjak suatu topik yang Emilia tidak ingin bicarakan, dan tak mungkin penolakan setengah-setengah mampu menghalangi Subaru.

Bukan tekad kaleng-kalengan yang membuat Subaru menyusun kontrak bersama Roswaal.

Masih gundah gulana, Emilia dengan tegas memejamkan mata dan melemaskan kepalanya.

“Subaru ……”

“――――”

“Subaru, apa benar-benar kau percayai ….”

Kata-kata yang selanjutnya terucap di bibir Emilia seketika berhenti. Luhurnya takkan mengizinkannya untuk menyuarakan kata-kata pengecut itu.

Dia tidak sejahat itu hingga meragukan orang yang memohon padanya setulus mungkin.

Apabila melakukannya, dia akan membuat kesalahan yang sama sebagaimana Subaru mencoba memaksakan keegoisannya.

Bahkan ketika terpojok, jiwa Emilia tidak kehilangan martabatnya.

Jadi, Subaru tidak menindaklanjuti masalah ini sedangkan bahu Emilia merosot, menyesali kata-kata itu.

“…… Bertanyalah apa yang ingin kau ketahui, Subaru.”

“…………”

“Jikalau aku yang menjelaskannya, pemaparannya malah jadi tidak nyambung. …… Jadi, alangkah lebih baik sekiranya Subaru yang mengajukan pertanyaan.”

“…… Bolehkah?”

“――Mmn. Akan kuanggap sebagai salah satu Ujianku.”

Kata Emilia dengan pasrah, senyumnya berlalu, dan untuk sesaat, Subaru diam seribu bahasa.

Kemudian, menggelengkan kepala agar dirinya tenang, Subaru menunjuk tempat tidur, menyarankan perubahan lokasi.

“Ngomong-ngomong, barangkali pembicaraan ini akan berlangsung lama, bagaimana kalau kita duduk dahulu?”

“…… Ya, kau benar.”

Memperbaiki postur tubuhnya, Emilia duduk di tempat tidur. Subaru menarik kursi, dan duduk menghadap Emilia.

Menghaluskan pakaiannya yang kusut, Emilia menunggu Subaru berbicara.

Setelah mencapai titik kritis itu, selama beberapa detik Subaru ragu tentang apa yang mesti dia tanyakan dahulu, kemudian berhasil meramu kata.

“Masa lalu macam apa yang kau lihat dalam Ujian, Emilia? Menurut kabar burung entah berantah …… Seperti kenangan penyesalanmu?”

Tanya Subaru, hati-hati memilih kata-katanya agar Emilia tidak sadar dia pernah melaluinya.

Ujian Pertama adalah menghadapi masa lalumu. Tapi bukan berarti masa lalu yang dilihat Subaru adalah Masa lalu yang beneran terjadi. Namun kejadian produksi teater mengenai kesalahan dan penyesalan terhadap keluarganya di Jepang.

Lantas, seperti apa Ujian itu bagi Emilia?

Mendengar pertanyaan Subaru, Emilia mengerutkan bibirnya yang kering, lalu ….

“Masa lalu … yang kulihat, adalah … mungkin ingatan sebelum aku tidur.”

“――? Sebelum kau tidur ….?”

“Ya, sebelum aku tidur. Ingatannya samar-samar, tidak begitu jelas, tapi … dalam Ujian, aku masih kecil, cuma sejelas itu.”

Emilia memejamkan matanya sembari mengorek-ngorek isi kepala, di sisi lain Subaru tampak bingung dengan penjelasannya.

Subaru mengerti maksudnya Aku masih kecil. Kemungkinan besar, Ujian menunjukkan masa kecilnya.

Tapi, Sebelum aku tidur―― adalah bagian yang tak dapat dipahami Subaru.

“Tunggu dulu … apa maksudmu sebelum tidur? Bukan berarti saat kau terlelap malam-malam, kan?”

“Tidak, bukan itu. Sebelum aku tidur maksudnya …. Sebelum aku tertidur di dalam es sebuah pohon besar di tengah-tengah hutan belantara. Itu benar-benar sangattttt lampau sekali.”

Di dalam es … apa lagi maksudnya?”

Tanpa konteks yang memperjelas, Subaru tidak yakin apakah dia sengaja membuatnya mustahil untuk dipahami. Terlepas dari hal itu, imajinasi Subaru unjuk gigi, membuat tubuhnya merinding.

Merasakan ketidaksabarannya yang berapi-api di dalam dada, Subaru berusaha menenangkan dirinya sebisa mungkin.

“Tolong jawab aku … Emilia. Apa maksudmu Di dalam es sebuah pohon besar?”

“… Yah persis seperti yang aku katakan.”

“――――”

Berhenti sejenak, Emilia mendongak dan memberi tahu Subaru.

“Selama itu, aku membeku dalam pohon besar di hutan. Dan setelah waktu yang lamaaanya bukan main, sungguh-sungguh lamaaaaa … Puck menemukanku.”


“――Akhirnya aku menemukanmu.” Ucap suara yang tak asing.

――Siapa di sana?

“Maaf … maafkan aku. Aku minta maaf … karena meninggalkanmu di sini sendirian. Aku sudah nian lama mencarimu. Tak henti-hentinya, mencari-cari dirimu, terus mencarimu.”

――Di mana … aku? Sangat … dingin.

“Segera kukeluarkan. Tempat tersembunyi ini …. Sendirian, …. Kenapa seorang gadis kecil mesti melalui ini ……. Mengapa sampai selama ini ….”

――Hei … kau siapa? Kenapa … kau menangis?

――Karena kau adalah mahluk termanis sejagat raya. Karena aku senang melihatmu lagi.”

――Kau … sesenang itu?

“Ya. Demi dirimu …… Demi melihatmu lagi, aku terlahir kembali.”

――Siapa kau?

“Aku …… Aku rekan terbaikmu. Rekan sejati terbaikmu.”

――Kalau begitu, kau adalah ….

“――Ya, itu benar. Mulai hari ini, aku akan menjadi keluargamu. Mulai saat ini sampai ke depannya, kau takkan sendirian lagi. ――Dengan ini, aku berjanji padamu.”

――Benarkah? Lantas, aku ini ….


“――Pokoknya sangattt senang.”

Emilia menempelkan tangannya ke dada, mengenang masa yang lebih bahagia.

Mendengarkan kata-katanya, Subaru merasa mulutnya mengering cepat.

Emilia, tertidur di dalam es.

Dalam Pohon Doa Besar di tanah kelahirannya. Membeku di dalam batangnya, Emilia tetap di sana sampai Puck menyelamatkannya.

Berapa lamakah dia membeku――?

“Emilia … kampung halamanmu Hutan Elior, kan? Yang sudah beku dari dahulu kala, tempat menyebarnya es secara bertahap bahkan sampai sekarang?”

“Mnn, benar. Saat aku terbangun, mereka menyebutnya Hutan Es. ――Tetapi tempat itu sejatinya adalah tempat terang nan nyaman yang bermandikan sinar matahari sebelum aku tertidur. Tidak pernah turun salju ketika aku tinggal di sana bersama semua orang.”

“Nyaman … tidak, lebih pentingnya lagi … siapa semua orang yang kau maksud?”

Subaru tidak terlalu mengenal tempat itu, jadi awal dan akhir Hutan Elior tidak diketahuinya. Namun di sini, ada hal lain yang menarik perhatiannya.

“Semua orang ya semua orang. Semua orang yang menghuni hutan itu … Semua elf.”

“Para elf … kalau begitu, keluargamu juga di sana? Ibu dan ayah, dan … saudara kandung juga.”

“――――”

Namun, melihat mata Emilia dipenuhi kesedihan, Subaru baru tersadar dia salah bicara.

Emilia pasti pernah memberitahunya. Puck seperti orang tua angkatnya, dan satu-satunya keluarga.

Semestinya Subaru tahu bahwa Emilia telah kehilangan keluarganya sebab satu atau dua hal.

“Maaf …… Aku tidak bermaksud ….”

“Tidak apa-apa. Kau semata-mata cuma mengkhawatirkanku, Subaru. Tapi … keluargaku bukan dari hutan. Semua orang di desa sangat baik padaku, dan senantiasa tersenyum, tapi … aku tidak punya kerabat darah di hutan itu.”

“… Kalau tidak ada, maka orang tuamu ….?”

Terhadap pertanyaan itu, Emilia dengan tenangnya menggelengkan kepala.

Memain-mainkan ujung kepangnya seakan-akan berusaha mengalihkan perhatiannya, kemudian ….

“Saat aku tersadar mereka berdua sudah tiada. Kala itu pikirku tidak aneh-aneh banget. Aku … memang mempunyai seseorang yang rasanya seperti ibu bagiku … sangat baik hati, kuat dan keren … aku punya seseorang seperti itu.”

“――――”

“Tetapi orang itu, dan semua orang lainnya … ketika aku tertidur, mereka juga tertidur. Bahkan sekarang pun, jauh di dalam Hutan Elior, banyak orang yang masih mendekam dalam tidur nyenyaknya.”

“Hha――――!?”

Berbicara dengan suara keras, Emilia tampaknya bertekad untuk menyatakan fakta belaka. Tenggorokan Subaru tersumbat oleh isi kata-katanya, tetapi Emilia tidak mempedulikannya dan terus melanjutkan.

“Setelah bangun, Puck dan aku terus mengawasi semua orang yang tertidur. Agar suatu hari, tatkala seseorang bangun sepertiku, mereka takkan sendirian, takkan kebingungan … memikirkan demikian, kami tinggal di sana.”

“… Tunggu sebentar.”

Beban informasinya begitu padat sampai-sampai otak Subaru berjuang untuk mengimbanginya.

Apa yang sebenarnya terjadi di Hutan Elior pada hari ketika Emilia kali pertama melihat salju?

“Dari yang aku ketahui, Hutan Elior mulai membeku … kira-kira lebih dari seratus tahun lalu … Maksudku, pernah kudengar ketika berada di Aula Seleksi Raja atau semacamnya.”

“Mm. Aku juga sangat terkejut ketika belajar di Mansion dan mengetahui hal ini.”

“Jadi, kau berada di sana ketika Hutan Elior untuk pertama kalinya membeku, kan? Apa kau tahu kejadiannya?”

“――Tidak, tak ingat.”

Emilia menggelengkan kepala terhadap pertanyaan Subaru.

Melihat Subaru mengerutkan alis, Emilia melihat ke bawah dengan ekspresi sedih.

“Benar-benar tidak tahu. Apa pun yang terjadi kala itu …. Sama sekali tidak bisa kuingat jelas. Yang kuingat aku masih kecil, dan aku sungguh ketakutan Tetapi karena tertidur terlampau lama, ingatan itu juga agak kabur ….”

“Kau bilang masih kecil … tapi berapa usiamu saat itu?”

“… Sepertinya … sekitar tujuh tahun.”

“Tujuh … benar tidak para Elf menghitung usia mereka sebagaimana manusia menghitung usianya?”

Mendengar pertanyaan ini, Emilia mengangguk.

Semisal Elf menghitung umur mereka seperti manusia biasa, maka setiap tahunnya bertambah. Elf terkenal akan umur panjangnya, dan Emilia, Setengah-Elf, seharusnya sama dengan Elf. Di sisi lain, bahkan Elf berumur panjang harus melewati masa kanak-kanak dahulu, lantas Emilia yang berumur tujuh tahun tidak dapat disalahkan.

Meskipun, menurut perhitungan aritmatika sederhana, berarti usia Emilia saat ini adalah tujuh tahun ditambah seratus tahun.

“Saat ini kesenjangan usia tidak perlu dicemaskan … Dan mengingat kita dari dunia yang berbeda, tidak jadi soal, kesampingkan saja ….”

“…. Subaru, ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang lucu, atau ….”

“Tidak, tidak. Menurutku perbedaan umur antara kau dan aku sangat besar, itu saja.”

Sambil mengatur pikirannya dan menarik nafas, Subaru melontarkan lelucon untuk meringankan suasana. Walaupun lelucon itu tidak Emilia mengerti, pipi gadis itu memang agak rileks selagi mendesah pelan.

“Memang … tapi karena aku tidur dan sudah sangat lama tak sadarkan diri, aku tidak teramat yakin bahwa diriku sudah dewasa ….”

“Masa? Aku tidak tahu detail-detail kecepatan pertumbuhan Elf, tetapi jika sama dengan manusia, maka kau cukup dewasa.”

Subaru dengan santai memandang Emilia di atas tempat tidur sebelum menampik kecemasannya.

Anggota tubuhnya sudah dewasa penuh, dan tubuhnya mempunyai sisi feminisme. Mata kecubung melankolis dan wajah layaknya mimpi terbalut suatu kecantikan misterius, berada di tengah-tengah gadis dan wanita.

Emilia sudah cukup matang.

Tapi sepertinya Subaru kehilangan titik kelesah, selagi menggelengkan kepalanya menunjukkan isyarat Tidak.

“Tidur di es tidak menghentikan waktu, namun hanya menidurkan kesadaranku. Jadi tubuhku terus tumbuh bahkan di dalam es. Mengontrol tubuhku terasa sangat berbeda setelah terjaga, beberapa saat setelah terbangun, aku kikuk.”

“Jadi berada dalam es itu … ada kekurangannya juga, ya.”

Ketika tertidur tubuhnya masih tujuh tahun dan ketika bangun berubah menjadi wanita dewasa pasti membingungkannya.

Cukup sering terjadi dalam anime dan manga yang awalnya sang tokoh punya tubuh anak-anak mendadak berubah jadi tubuh orang dewasa, tentu tidak mudah untuk beradaptasi. Wajar sih Emilia akan tertekan oleh perbedaan pikiran dan tubuhnya.

Assassin Creed III Remastered.

“Ketika Roswaal membawaku keluar dari hutan untuk belajar di luar … dan mempelajari bahwa aku tertidur selama hampir seratus tahun, aku sangat terheran-heran. Mendapati tubuhku ini sudah terlelap selama itu ….”

“Jikalau orang menua sebagaimana biasanya dalam es … maka semua orang selain Elf berumur panjang akan ta ….” Kata Subaru.

Tamat, adalah kata yang hendak dituturkannya, namun barulah Subaru sadar dia hendak mengutarakan fakta luar biasa,

Memejamkan mata, Subaru diam-diam menaruh angka-angka dalam benaknya.

Menambah dan mengurangi, kemudian kembali menghitungnya untuk sekedar memastikan saja, keraguannya berubah menjadi kecurigaan yang pasti.

“Hei, Emilia … kau baru saja bilang telah tertidur selama hampir seratus tahun?”

“Dan umurmu tujuh sebelum terkunci dalam es, kan?”

“Iya. Subaru, ada apa ….”

“Emilia. Berapa lama waktu berlalu semenjak Puck membangunkanmu?”

“Paling tidak, dari apa yang didengarnya, Roswaal membawa Emilia keluar dari hutan sekitar setengah tahun lalu. Yang artinya Emilia tinggal bersama Puck di Hutan Elior sampai Roswaal menjambanginya. Yang jadi pertanyaan, berapa lama jumlah waktu dari tidur, terbangun dan bertemu Roswaal?

Masih dalam ekspresi bingung, Emilia menyentuh bibir.

“… Kira-kira, enam atau tujuh tahun … segitu deh.”

“――――”

Mendengar jawaban Emilia, kecurigaan Subaru berubah menjadi keyakinan absolut.

Fakta itu mengejutkan tubuh Subaru bagaikan tersambar petir.

Tujuh tahun setelah kelahirannya, dia menghabiskan waktu hampir seratus tahun dalam tidurnya, kemudian menghabiskan tujuh tahun berikutnya setelah bangun.

Yang artinya――

――Emilia berusia sekitar 107 tahun. Raganya 18. Batinnya 14.

“Usia sebenarnya, usia sosoknya, usia mentalnya … kacau semua ….”

Perbedaan itu terjadi karena dia adalah Elf.

Sampai kini begitu banyak pertanyaan yang bermunculan dalam kepala Subaru mengenai perilaku Emilia, dan semuanya masuk akal.

Subaru menganggap bodoh pujian yang ditujukan kepada seorang Elf yang usianya lebih dari seabad, dan dia sama sekali tidak memperhatikan kurangnya interaksi sosial, ditambah lagi keimutan dari tindak-tanduknya yang terkadang kekanak-kanakan senantiasa terlihat mencolok.

Semua itu karena dia menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam es ….

“Empat belas tahun … Sama saja dengan Felt ….”

Mengapa seorang gadis semuda ini mesti memikul tanggung jawab yang besarnya bukan main? Kekesalan Subaru terhadap Seleksi Raja dan kepada Roswaal semakin menumpuk.

Kemudian, berpikir dalam-dalam topik macam apa yang mampu meringankan suasana hati yang sudah semaput, Subaru membahas topik lain yang tentunya tidak nyambung.

“Sebelumnya, kau bilang tidak tahu hutannya dibekukan. Jadi kau lihat apa dalam Ujian? Ingatan samar sebelum dirimu dibekukan … itukah yang kau lihat?”

“…. Kiranya begitu. Pemandangannya jelas sebelum aku jatuh tertidur … jadi kupikir ingatan kala-kala itu benar-benar ada.”

“Lantas, barangkali penyebab kau begitu takut dengan ingatan itu karena menemukan sesuatu yang membekukanmu dan para Elf lain, dan kau secara tidak sadar menolak untuk melihatnya ….”

“――Bukan itu ….”

“Maksudku, lebih menakutkan dari yang uucapkan tadi, benar? Ujian menunjukkan penyesalan terbesarmu. Jadi mungkin yang kau lihat adalah ….”

“Kubilang salah!”

Emilia berteriak, menghancurkan rentetan pemikiran Subaru yang tidak sabar tuk dituangkan dalam perkataan.

Namun Emilia segera berkedip seolah menyesal karena berteriak, kemudian menutup matanya untuk menghilangkan penyesalannya lalu mengalihkan mata berairnya ke Subaru.

“Bukan itu … yang kulihat dalam Ujian. Tidak ada hubungannya dengan itu. Yang aku lihat adalah ….”

“E-Emilia ….”

“――Anak Iblis.”

Hawa dingin bak tombak es membuat bulu kuduk Subaru naik.

Emilia membenamkan wajahnya di tangan, menyembunyikan ekspresinya. Dari balik wajahnya yang tertutup, suaranya berlanjut tenang, tanpa emosi.

“Benih bencana. Kekejian perak. Mahluk yang seharusnya tak terlahir. Sumber segala kebencian. Jiwa tak termaafkan. Iblis. ――Putri Penyihir.”

“――――” Subaru mematung.

“Semua orang baik padaku, tersenyum padaku, mengatakan hal itu kepadaku di antara beku salju, dan ….”

Tungkai Emilia, seluruh tubuhnya, gemetaran sedikit.

“Aku tak ingat apa pun yang terjadi kala berada dalam es. Tapi tidak bisa kulupakan bagaimana semua orang mengutukku, selagi membeku di sana. Dan bagaimana mereka terus mengumpatku.”

” ――――”

“Jadi, aku ingin membebaskan semua orang dari es … kemudian meminta maaf.”

Tanpa sadar, wajahnya berlinangan air mata, Emilia mendongak, seolah melihat mereka, lalu dengan tenang menundukkan kepalanya.

“Maaf sudah menyusahkan kalian. ――Semuanya, aku sayang kalian.”

2 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 90”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *