Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 89

Posted on

Kenangan Akan Salju

CH 89.jpg

Penerjemah: Daffa Cahyo

――Setelah mengakhiri perbincangan rahasianya dengan Lewes, Subaru berjalan menyusuri hutan sendirian.

Subaru memberitahu Lewes bahwa dia perlu berpikir sejenak dan meninggalkannya sendirian ditemani kristal. Berdiri di sana di hadapan seorang gadis dengan wajah yang serupa―― kurang lebih eksistensi orisinilnya. Sangat membuat bocah itu termenung dalam.

Walau ketertarikan Subaru pada semua hal ini tidak ada ujungnya, dia tidak yakin seberapa besar keinginannya untuk mempelajari masalah ini. Tapi, bagaimanapun juga, Lewes yang baru saja diajak berdiskusi berada persis di sampingnya.

Dari empat replika Lewes:

Menilai kata-kata Lewes, dua di antaranya berada di dalam Makam. Dengan kata lain, dua Leweses telah menantang Ujian.

Karena itu, Subaru curiga bahwa yang mengisi Garfiel dengan pemikiran-pemikiran tersebut adalah salah satu dari dua Leweses yang telah menantang Pengadilan.

Membandingkan keempat cloning itu, barangkali tidak semua pendapat mereka seragam.

Asumsi Subaru adalah, karena mereka semua memainkan karakter yang sama, sosoknya yang pastinya sama, menjadi senjata makan tuan. Meski keempatnya memang mendiami raga yang serupa, masing-masing eksistensi mempunyai pemikiran dan idealisme pribadi.

Lantas, tidak aneh-aneh amat jika salah satu Lewes mengalami sesuatu takkan membuat pemikiran Lewes lain menyimpang.

Untuk memudahkan saja, Subaru memutuskan untuk melabeli empat Leweses sebagai Alpha, Beta, Theta, dan Sigma. Leweses Alpha dan Beta tidak tahu tentang Ujian, sedangkan Leweses Theta dan Sigma tahu.

Lebih tepatnya yang ia lakukan adalah Eins Jerman, Zwei, Drei1, tetapi Subaru tidak ingat yang keempat jadi panggilan itu dieliminasi.

Lagi pula ….

“Masalahnya, pertemuan dengan Theta dan Sigma adalah dua hari dari sekarang ….”

Waktu serangan Kelinci Besar di Sanctuary―― atau, persisnya, sihir berskala besar yang menjatuhkan badai salju lebat akan memancing Kelinci Besar ke tempat ini, dan kejadian itu lima hari kemudian.

Seumpama Subaru tidak mampu menyusun taktik penanggulangannya segera setelah berbicara dengan Leweses, tiga hari yang tersisa akan sulit dimanfaatkan.

Banter-banternya, Garfiel akan membantai semua penduduk desa sampai habis demi mencegah pembebasan Sanctuary.

Bila mana merekalah yang meyakinkannya untuk melakukan ini, Leweses Theta dan Sigma, alhasil Garfiel sulit disadarkan. Memikirkan cara untuk membujuk mereka, masa depan memang nampak gelap.

“Tapi imbalan atas hambatan yang semakin menyulitkan ini … memberikan celah untuk mengurus Garfiel, ya. Jika aku dapat membujuk kedua Leweses yang campur tangan, selesai sudah masalah ….”

Apabila Theta dan Sigma adalah orang-orang yang menghasut Garfiel untuk bertindak bengis, meyakinkan mereka berdua sama saja menyelesaikan persoalan Garfiel. Karena Subaru tidak tahu cara menyelesaikan masalah Garfiel secara langsung, hal ini tentu merupakan secercah cahaya, meskipun redup dan lemah.

Saat ini, kekuatan Garfiel bukan sekedar kekuatannya sendiri, tetapi menyangkut dua puluh perwakilan aneh Leweses, kloningan kosong tanpa kuasa berkehendak.

Tak mempedulikan nyawa, setiap kloningan hampir mirip kekuatan tempur mekanis, dan Subaru tidak kuasa apa-apa seandainya Garfiel memilih untuk menggunakannya.

Mau dari kacamata mana pun, situasi Subaru melampaui batas kesukaran itu sendiri.

Kesampingan masalah perasaan, Subaru lebih suka tidak bertarung dengan Garfiel.

Sangat-sangat jelas menetralkan Garfiel dengan otot tidaklah mungkin.

Andai Subaru betul-betul mesti melawan Garfiel, yang didesak oleh Theta serta Sigma juga gadis-gadis itu di bawah Wewenangnya, peluang Subaru yang sudah minim akan lebih minim lagi.

“Setelah rencana kontrak blak-blakan bersama Roswaal, aku tidak boleh gagal. Gak berencana untuk gagal sih. Lupakan soal asuransinya berhasil atau tidak, kudu melakukan apa yang semestinya dilakukan.”

Subaru menguatkan pipinya tepat ketika mulai mengendur, lalu menggelengkan kepalanya, mengingatkan dirinya sendiri.

Kemudian, sekali lagi menatap lurus ke depan.

“Atau, aku harus berimprovisasi tatkala berhadapan dengan Theta dan Sigma. Bisa pula mencoba langsung Garfiel dan menyelesaikan perkaranya lebih awal, tapi … nanti saja deh.”

Keluar hutan, Subaru kembali ke pusat Sanctuary.

Matahari terbit penuh, penduduk Sanctuary dan desa Arlam mulai melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka di sekitar pemukiman.

Melirik mereka selagi berjalan melalui pemukiman, sesekali mengucap halo sambil melambaikan tangan, kaki Subaru mengantarkannya langsung ke tempat yang terpisah dari keramaian.

Ke tempat yang sedikit lebih jauh dari Katedral dan pusat desa.

Tempat Emilia tidur.


――Kapan pun memejamkan mata, ingatannya akan kembali mewujud, bahkan sekarang.

Putih. Dunia putih.

Sosok penuh perak, Emilia muda berjalan sendirian.

――Kau tidak boleh mengingat ini!

Sebuah suara tak ber-volume berteriak, tetapi Emilia muda, berjalan dengan kepala tertunduk, tidak mendengarkan.

Wajahnya risau, dikecewakan oleh harapannya yang berkhianat, Emilia terus menyeret kakinya melalui salju.

――Kembalilah! Tolong! Jangan diteruskan!

Emilia muda menghembuskan nafas putih dan menatap dengan benak bertanya-tanya pada kabut yang dikeluarkan dari mulutnya. Berkali-kali, dia terengah-engah. Pakaian satu-satunya adalah pakaian dalam yang terbuat dari kain tipis dan pakaian mirip jubah yang menutupi seluruh tubuhnya.

Bukan pakaian yang dikenakan seseorang ketika tengah melintasi dunia dingin ini, tetapi dia tidak dapat berbuat apa-apa.

Naasnya, ini adalah kali pertama Emilia merasakan lanskap sedingin ini, atau malah melihat salju.

Dunia yang dia tahu adalah hutan hijau yang penuh kehangatan juga cahaya, sama sekali tidak mirip dengan dunia yang terkubur es dan salju.

Tempat yang sangat tak asing ini dihadapi sosok asing.

Kondisi ini membingungkan Emilia muda, sampai lupa dan tidak mengikuti instrik sebagaimana biasanya.

–Tidak! Jangan melangkah lagi! Kembali! Kalau tidak, kau akan ….!

Tenggorokannya parau karena memohon, hancur, meludahkan darah, namun kaki Emilia tidak berhenti. Suara itu takkan mencapainya karena kaki mati gadis itu terus membawanya maju.

Kiprahnya sewaktu berjalan nyeker di atas dunia salju tak dikenal itu menyedihkan.

Setelah lumpuh dari semua sensasi kedinginan serta rasa sakit, kakinya, tersandung batu dan cabang yang bersembunyi di bawah salju, menandai jejaknya dengan tetesan darah.

Namun masih mati-matian melangkah maju, melupakan rasa sakitnya, lagi menyembunyikan terornya pada dunia tak familiar ini, atas tujuan apa sampai mendesaknya maju sendirian?

――Tolong, hentikan, kumohon … aku tidak tahan lagi … tolonglah ….

Permohonannya tidak menjangkau siapa-siapa. Hasratnya tidak terpenuhi. Harapannya akan hancur sepenuhnya.

Terlepas mengetahui fakta tersebut, bahkan dalam dunia mimpi nan kejam ini masih menghujamnya. ――Dengan menunjukkan masa lampau dirinya, dan kesalahan terbesarnya, begitulah.

“――――Hah”

Mata kecubung muda Emilia, seolah-olah melihat harapan di balik kabut salju yang mengaburkan, ada sinar.

Matanya mendarat, sejauh pandangannya, berdiri batang pohon tertinggi di dunia.

Pohon besar yang mereka sebut Pohon Doa adalah kanal suci tempat mereka menuangkan doa-doa mereka kepada sang ilahi dan eksistensi tak dikenal. Keberadaan berharga yang dihormati oleh semua penduduk desa.

Emilia muda, juga menghormatinya, keras kepala percaya bahwa dengan menyentuh batang pohon besar itu dia dapat merasakan berkah luar biasa di kulitnya.

Betapa meyakinkannya kala itu sewaktu melihat seluruh keagungan Pohon Doa persis di tempat semestinya.

Sungguh besar kelegaan yang dia lihat, di tengah-tengah suasana damai yang berubah menjadi dunia asing nan aneh ini, pohon besar bertahan sebagai tanda kehidupan sehari-harinya.

Megap-megap menghembuskan nafas putih, Emilia kikuk bergegas menghampiri pohon besar. Salju yang menumpuk memaksa Emilia jatuh terlutut, kendati pohon itu tidak jauh, gadis itu berangsur-angsur roboh, menyisakan jejak tubuhnya di atas salju putih murni.

Dan, beberapa kali jatuh dengan wajah yang menabrak duluan, hidungnya merah karena dinginnya salju, Emilia akhirnya mencapai pangkal pohon.

Ekspresi tegangnya sedikit demi sedikit melemas karena lega. Meskipun otot-ototnya kaku karena kedinginan, pipinya cuma berkedut-kedut.

“――――?”

Kemudian, ketika dia mengulurkan tangannya ke salah satu akar pohon, Emilia muda tampaknya memperhatikan sesuatu. Tangannya tersusur ke sepanjang akar, dengan jemari beku dia mulai menggali saju yang mengubur ujung akar.

――Hentikan!!

Dia menggali, dan terus menggali.

Demi satu tujuan, termotivasi oleh rasa tidak sabar yang berapi-api, Emilia muda menggali salju.

――Hentikan! Hentikan hentikan hentikan hentikan hentikan!

Tidak kuasa menyaksikan. Tidak ingin mengingatnya.

Berharap dapat memalingkan muka, menutup matanya, menutup telinganya, dan berteriak untuk merobek-robek dunia ini.

Namun wajahnya tak ada, matanya tak ada, telinganya tak ada, membuatnya tidak bisa beralih dari kejadian ini.

Ujung jari Emilia muda menyentuh sesuatu.

Perlahan-lahan, dengan tangannya sendiri, gadis itu menggali sepetak salju terakhir—

――HENTIKAN!!

……

……………………

……………………………………………………

――Kau benar-benar tidak lagi bisa diselamatkan

“――――” Emilia terdiam.

“Bukti dosamu. Bukti akan keburukanmu. Terkutuklah terkutuklah terkutuklah, dan di akhir penderitaanmu ….”

“――――”

“Matilah. ――Putri Penyihir.”


“――Emilia? Emilia? Hei, kau tidak apa-apa!?”

“Aa, e … eh … suba … ru .…?”

Dibangunkan oleh seseorang yang mengguncang-guncang bahunya, Emilia membuka mata dan menggumamkan nama Subaru. Menggelengkan kepalanya untuk memulihkan kesadarannya yang mengabur, tetapi ….

“Subaru, kenapa … kau di sini ….?”

“Apa perlu alasan untuk mampir? Kalau wajah Emilia-tan, bisa kutatap sepanjang hari tanpa merasa bosan”

“Bukan itu, maksudku …. Err.”

Barangkali karena kesadarannya belum jernih betul, respon Emilia masih agak tergagap.

Menghilangkan kecemasannya, Subaru menepuk lututnya dan berdiri sambil tersenyum,

“Tidak boleh lengah ketika berada di sisiku. Aku teramat senang kau mempercayaiku, tetapi aku masilah seorang pria serigala rakus yang bersembunyi di balik jubah rasionalitas ini. Aku ingin kau lebih berhati-hati dengan orang sepertiku, Emilia-tan.”

“……? Aku tidak melupakanmu kok, Subaru. Aku menuturkan hal aneh ketika bangun, itu aja … tapi, terlelap bahkan tanpa menyadarinya ….”

Meskipun kedengarannya dia tidak mengerti apa yang diomongkan Subaru, suara Emilia ketika dia menjawab membuktikan bahwa dia kurang lebih baik bangun. Mengkonfirmasi hal demikian, Subaru mengangguk terhadap Emilia yang tampak kesulitan.

“Aku mengerti tingkat lelahmu sudah maksimal, tapi jikalau kau mau tidur, lebih baik tidur di tempat tidur. Jika kau terus tidur di lantai seperti ini, akan terus membuatku panik setiap kali datang ke sini.”

“…… Ah, maafkan aku. Aku membuatmu khawatir, ya?”

“Dan aku baru saja memperbarui tekadku, tetapi melihat keadaanmu dan memikirkan beberapa KEJADIAN yang baru saja terjadi membuat semuanya hancur dan aku sangat-sangat panik, tahu. Malahan wajah tidurmu hari ini lebih emosional dari biasanya ….”

Bahkan, keterkejutan yang menimpa Subaru ketika dia berjalan ke dalam ruangan dan melihat Emilia, tak dapat dijelaskan.

Tidak dijawab ketika mengetuk dan berpikir mungkin dia sudah keluar, Subaru memasuki ruangan dan mendapati Emilia tergeletak di depan tempat tidur dengan rambut peraknya terbentang di lantai.

Tentu, Subaru tidak salah andai kalang kabut seketika melihat pemandangan mengerikan itu.

Demikianlah, kehangatan tubuh Emilia ketika Subaru mengangkatnya dan irama yang tak salah lagi dari detuk pernapasan dan denyut nadinya cepat-cepat menghilangkan kegelisahan itu.

Namun ….

“Sekiranya hanya itu, lebih baik membiarkanmu tetap tidur, tapi … kau kelihatannya sedang memimpikan mimpi yang teramat buruk. Salahkah aku membangunkanmu?” Tanya Subaru.

Tertidur dalam pelukannya, alis Emilia dipenuhi keringat sementara paras dan tubuhnya pegal-pegal. Subaru sendiri pernah merasakan hal ini, dan dia tahu bahwa tidak ada cara untuk melarikan diri dari mimpi buruk yang terlampau menakutkan. Satu-satunya cara melepaskan diri dengan cepat dari rasa sakit tersebut adalah ditarik ke luar dari mimpi itu sendiri.

Terhadap Subaru, yang tepatnya melakukan itu, “Tidak”, Emilia menggelengkan kepala,

“Aku sangat senang kau membangunkanku. Aku tengah mimpi indah … tidak, mimpi yang kelewat mengerikan … jadi, makasih.”

“Mimpi yang mengerikan, menghantui Emilia-tan … aku ingin bertanya isi mimpinya, sayangnya … aku yakin bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diperbincangkan.”

“――――”

Melihat seringai setelah Emilia terdiam, Subaru merenungkan penyebab mimpi buruk Emilia.

Kemungkinan besar, hasil dari keadaan negatif yang menumpuk di sekelilingnya. Dia tidak yakin kejadian apa yang dilihatnya, tapi ….

“…… Baiklah, takkan memaksamu untuk memberitahunya.”

Melihat Emilia memalingkan wajah seolah berusaha menghindari topik itu, Subaru menduga barangkali jenis mimpi buruk yang dapat dirasakan jelas.

Misal tidak jelas, mudah untuk dibicarakan. Tetapi melihatnya tidak membicarakan itu pastinya mimpi yang seakan-akan nyata dan dapat dirasakan.

Awal yang buruk untuk mengobrol dengan Emilia, dan takkan memudahkan percakapan yang akan datang.

Ekspresi bingung, Subaru menggaruk ujung hidungnya, berpikir bagaimana caranya memulai pembicaraan, tiba-tiba Emilia melihat ke atas.

“Jadi … ada apa, Subaru? Tidak mungkin kau melihat ke sini cuma untuk melihat wajahku, kan?”

Tidak mungkin … Menurutku hal itu tidaklah mustahil untuk kulakukan”

“Tidak, tentu saja tidak. Maksudku, kau selalu saja sibuk sendiri. Kau tidak dapat menggunakan waktumu hanya untukku.”

“Emilia-tan, menurutmu aku ini serajin apa? Kau tahu betul aku ini pemalas sampai-sampai sepenuh hati mendukung penetapan Hari Nyantai Nasional, benar?”

Tidak membesar-besarkan tidak juga bercanda, Subaru sadar betul sifatnya adalah pemalas tanpa masa depan. Ketika kau melihat seseorang tanpa peran atau tujuan hidup tengah jatuh ke dalam kemalasan tanpa ujung, nah orang itu adalah Natsuki Subaru.

Maka dari itu dia tidak pernah malas soal latihan sehari-hari serta keterampilan atau hobi sia-sia yang dia latih di Jepang. Karena tahu dia adalah manusia tanpa harapan ketika melakukannya.

――Kau tidak serta-merta memanggil seseorang yang berusaha keras, bahkan tanpa tujuan, seorang pemalas. Namun Subaru sepertinya tidak menyadari fakta yang agak samar itu.

Barangkali ingin mengomentari penilaian Subaru terhadap dirinya sendiri yang kritisnya bukan main, tatapan Emilia menghangat ketika mendengar jawabannya. Melihat ini, Subaru mengerutkan alis, Emilia tetap tidak berkomentar.

“Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, beritahu sajalah kenapa kau kemari. Ce~pat~lah.”

“Kenapa mendadak jadi manis begini …,! Uhh, tapi, baiklah. Pikirku mungkin jalan-jalan keluar bisa menambah mood sedikit ….”

“――――”

“Yah, itu tidak benar-benar meringankannya, ya ….” Tukas Subaru.

Melihat Emilia terdiam, Subaru sadar dia salah bicara dan menggaruk kepala.

Amat jelas kediaman Emilia ditempatkan terpisah dari pusat desa karena tidak diterima baik di Sanctuary.

Sesama orang buangan dari ras masing-masing, seharusnya ada aliansi di antara mereka, namun Setengah-Elf mungkin perkara lain.

Bagi para pengungsi dari Arlam, pelarian mereka dari Kultus Penyihir tidak secara langsung meningkatkan pendapat mereka tentang Emilia.

Perlakuan Emilia di Sanctuary tidak berbeda dengan perlakuannya di Ibukota, seperti halnya tumor.

Dia bertingkah kuat saat bersama Subaru, bukan berarti mudah juga untuk dihadapi. Dan bagaimana dia menangani semua tatapan itu ketika sedang sendirian?

Karena situasinya masih belum membaik, membawa Emilia ke luar hanya akan menaruh beban yang tidak perlu padanya.

“Karena semua ini aku ….”

Diperparah oleh kecerobohannya, Subaru meninju dahi sendiri.

Merasakan rasa sakit menjalar dari buku-buku jari menuju tengkoraknya, Subaru berbalik menghadap Emilia, yang matanya membelalak terhadap tingkah aneh Subaru ….

“Emilia.” Panggil Subaru.

“――Mm”

Melihat perubahan ekspresi Subaru, Emilia merasakan auranya berubah. Memperbaiki postur tubuh, dan, menenangkan pupil kecubungnya, dia kembali menatap Subaru.

Ekspresinya memberi tahu laki-laki itu bahwa tidak faedah yang didapatkan dengan membicarakan topik secara tidak langsung. Cara mengatakannya? Sesaat Subaru bingung memikirkan kata pembuka, lantas ….

“Apa kau … bersedia berbicara denganku tentang apa yang kau lihat dalam Ujian?”

――Subaru dapat dengan jelas melihat kengerian bercampur kesedihan membasahi mata kecubungnya yang berkaca-kaca.

Catatan Kaki:

  1. Eins, Zwei, Drei adalah bahasa Jermannya 1, 2 dan 3, dalam cerita ini, Subaru lupa angka no 4. Yaitu Vier.

5 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 89”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *