Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 87

Posted on

Satu Oni di luar, Dua Badut di dalam

CH 87.jpg

Penerjemah: AshSeekethDark

Dua pasang mata terheran-heran mendarat pada Subaru yang kehabisan nafas sehabis merengsek masuk ke dalam ruangan.

Sejauh yang dia ketahui, kedua orang ini semestinya benar-benar asing dengan konsep terkejut. Dan, sedikit puas terhadap reaksi mereka, senyum jahat di wajah Subaru semakin menjadi-jadi.

“――Taruhan?”

Menggumamkan ini, Roswaal menyipitkan mata yang saling berbeda warna.

Wajahnya yang biasanya tertutupi riasan badut sekarang tanpa cat. Dalam berbagai perulangan, cuma sekali Subaru melihat wajah asli Roswaal yang sama seperti saat ini.

Kulitnya yang dipoles kosmetik putih pucat, ada suatu kesederhanaan murni dari tatapan matanya yang tanpa eyeliner1―― kesannya terhadap Roswaal selama ini terlepas sudah. Tanpa sadar, sosok tenang dan penuh perhitungan di balik wajah yang dicat itu telah berubah menjadi pemuda diikuti menghilangnya rias di wajah.

Orang ganteng dasarnya memang ganteng tanpa perlu tambahan apa pun, kata Subaru dalam hati sambil mengangguk pada gumaman lirih Roswaal.

“Ya, taruhan. Harapanmu dan harapanku …… Sekali saja, pemenang mengambil semuanya.”

“――――”

Subaru mengangkat satu jari, dengan hebatnya mendeklarasikan demikian. Seolah meneliti penawaran Subaru, Roswaal menyipitkan mata. Tapi sebelum Roswaal dapat memberikan jawaban, sosok lain memotong di tengah-tengah penglihatan mereka―― dia adalah pelayan berambut merah muda, Ram.

Roswaal di belakangnya, tatapan Ram sangat tajam selagi menghadap Subaru. Meskipun, dalam keseharian mereka, Ram cenderung memerahi Subaru setiap saatnya, dan sorot matanya kepada bocah itu senantiasa tajam, namun mata-mata itu tidak ada apa-apanya dibandingkan matanya saat ini.

“Tunggu dulu, Barusu. Kau nyelonong masuk ke ruangan ini, dan persis ketika aku ingin tahu kau hendak mengatakan apa …… kau malah semakin membebani Roswaal-sama dalam pemulihan beliau? Penghinaanmu mesti dibatasi.”

“Mempertimbangkan keadaan ini, alasan Aku sakit dan terluka tidak lagi berfungsi. Tidak ada hubungannya dengan lidah licin serta hati hitamnya itu … jadi dia hanya harus menahan penderitaannya sampai aku selesai.”

“Barusu――”

“Dan apa pun yang kau katakan takkan mengubahnya!”

Perpaduan antara amarah dan kepelikan berkobar di mata Ram. Tapi sebelum dia dapat bertindak, Subaru menghentakkan kakinya ke lantai. Memanjangkan jarinya ke arah Ram, yang perlahan-lahan berhenti beraksi.

“Tidak ada alasan bagiku untuk berhenti atau pun ragu. Kau dan aku saling mengenal cukup baik sampai berani bertaruh begini, kan Roswaal?”

“――Hhm.”

“Ataukah motivasimu sudah hilang sampai nihil hanya karena ada sesuatu yang menyimpang dari buku harian kecilmu? Bagaimana kalau tunjukkan sedikit kegigihanmu dan berusaha keras untuk dirimu di kemudian hari?”

“… Penggambaran yang menarik. Diriku di kemudian hari, ya.”

Subaru mencoba menyampaikan maksudnya kepada Roswaal tanpa secara langsung menyebutkan Return by Death. Meskipun Ram mengerutkan alisnya karena bingung, Roswaal tampaknya mengertti.

Energi kembali memenuhi wajahnya yang tanpa nyawa, dia memanggil Ram di depannya.

“Ram. Turunlah … lebih te~patnya, bisakah kau meninggalkan kami sebentar?”

“……! Tapi, Roswaal-sama.”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Walaupun kami sendirian, Subaru-kun tidak seceroboh itu hingga menyerang~ku. Lagian mengalahkannya juga gampang. Benar ‘kan?”

“Ya, memalukan untuk mengakuinya. Bila mana kami melibatkan fisik, aku bahkan tidak yakin mampu menariknya dari tempat tidur.”

Melihat Subaru melambaikan tangan kosongnya, Ram menggertakkan gigi, sekali lagi mengalihkan pandangan khawatirnya ke Roswaal.

“――Tolong jangan paksakan diri anda.”

Setelahnya, Ram membungkuk hormat lalu menuju pintu keluar kamar. Tepat sebelum melewati Subaru, dia memelototinya.

“――Seandainya sesuatu terjadi pada Roswaal-sama, kau takkan kumaafkan.”

“Semestinya kau lebih merisaukan perbuatannya yang menghancurkan dirinya sendiri, tahu.”

Melihat Ram pergi sambil mengangkat bahu, Subaru melihat pintu tertutup di belakangnya lalu kembali beralih ke Roswaal.

Ekspresinya tetap berpikir walau satu matanya terjepejam, menatap Subaru dengan mata kuningnya.

“Lagi-lagi, parasmu sa~ngat berbeda sejak perpi~sahan kita semalam. Mungkinkah ada sesuatu yang berubah di hatimu dalam beberapa jam ini?”

“Perubahan hati … sekiranya begitu. Aku cekcok juga, bertengkar dengan teman dan … yah, meski pertarungan itu tidak sepadan, namun merupakan penegasan kembali persahabatan kami.”

Menyentuh pipi yang dipukul Otto, masih agak merah, Subaru mengingat kembali sensasi pagi itu.”

Kendati sosoknya kurus, Otto ternyata kuat. Barangkali, karena cobaan yang wajib dia lampaui lebih besar dari Subaru. Lelaki itu berpikir dia sudah sangat kesulitan sejak datang ke dunia ini, tetapi tampaknya tidak sebesar yang Otto hadapi.

“Serius nih, betapa kejamnya dunia ini ….”

 “Aku sungguh sangat setuju. Ya~~h, kemarin aku sudah mengonfirmasi bahwa aku tidak cu~kup membantumu, tetapi kenyataan kau kembali secepat ini membuat keputusanku salah.”

“Kurang lebih aku sudah mentok. Aku … berpikiran sederhana, kurasa begitu.”

Sepertinya kata-kata dan tinju Otto telah mengetuk akal lurus Subaru.

Metode yang sangat kasar lagi sederhana. Tidak ada yang lebih kekanak-kanakan dari mempunyai teman yang menghajarmu sampai masuk ke jalan yang benar, dan mana kala terjadi pada orang lain, Subaru pasti akan mencemooh mereka karena itu.

“Tapi pikirku itu bukan hal yang buruk. Tatkala kau mendapati dirimu terjebak tanpa jalan keluar, rasanya enak mempunyai teman yang membantu memecahkan masalah.”

“Naif. Polos, tidak dewasa. Pada akhirnya …… Kau hanya bisa menyelesaikan masalah dunia ini sendirian. Kau tidak perlu ide-ide malas seperti mengandalkan teman.” Ucap Roswaal.

“Mengandalkan teman, mengandalkan ikatan, mengandalkan perasaan … Menurutmu takkan berhasil?”

“Memang ti~dak.”

“Begitukah. Lantas, mari kita lihat siapa yang benar.”

Ekspresi di wajah Roswaal berubah, selagi Subaru berjalan ke tempat tidur, menjentikkan jarinya lalu menunjuk langsung pria badut itu.

“Sebagaimana yang aku katakan, ayo bertaruh. Dengan harapan kita sebagai chip, satu giliran menetapkan hasilnya.” Tawar Subaru.

Memastikan bahwasanya Roswaal tidak langsung menolak tawaran, Subaru menggerakkan jarinya ke langit-langit.

“Kali ini aku tidak akan mengikuti rencanamu. Cuma tidak kali ini, aku tidak ada niat mengikuti caramu … namun, sekalipun terus mengukuhkan hal itu, kita takkan pernah dapat menyelesaikan perbedaan ini. Jadi ayo tetapkan batas.”

“Batas?”

Mendengar Roswaal mengulang kata itu, “Ya.” Subaru mengangguk.

Membasahi bibirnya dengan lidah, bocah itu menatap lurus mata Roswaal.

“Perulangan ini, aku akan menembus semua masalah ini dengan caraku. Andai gagal … perulangan selanjutnya, akan kulakukan caramu. Itulah batasnya.”

“――Mempunyai kemampuan tuk mengulang waktu tanpa batas, kau mengabaikan hak untuk terus berusaha itu?”

“Kau sendiri yang bilang. Yang kau perbuat tidak cukup untuk menyudutkanku. Dan aku setuju pula. ――Seumpama terus berpikir bahwa aku bisa saja mengulang waktu dan menyelesaikannya dilain waktu, semuanya akan berakhir seperti itu lagi.”

Biarpun sudah jelas, Subaru tidak berniat menolak konsep itu sepenuhnya.

Dalam dunia tanpa belas kasih ini, apa yang dapat Natsuki Subaru lakukan tanpa Return by Death? Subaru bukanlah kacang lupa kulitnya sampai melupakan semua faedah yang telah diberikan Return by Death kepadanya.

Namun kini pola pikirnya berubah. Andaikan dia berusaha sekuat mungkin dan mati begitu saja, ujung-ujungnya cuma pasrah dan menerimanya. Tetapi kalau kronologinya tidak begitu, dan dia mati walau masih bisa hidup, maka ….

“Akan menghina semua orang yang menangisiku. Aku takkan melakukannya lagi.”

“Jadi, kau akan menetapkan batas pada dirimu sendiri … ka~n? Meskipun kuakui aku tidak bisa meminta persyaratan yang lebih baik lagi, nah apa jaminan kau akan mematuhinya?”

“Jaminan?”

“Ya, jaminan. Teramat pen~ting, bukan? Lagi pu~la, kemampuan mengulangmu itu, kau bisa saja berpura-pura janji ini tidak pernah di~buat. Andaikan kau gagal, kembali ke malam terakhir, d~an gamblangnya memilih cara lain ….”

“Roswaal.” Panggil Subaru.

Selagi Roswaal menyuarakan keraguannya, Subaru diam-diam memanggil namanya.

Terpotong oleh panggilan itu, menghadap tatapan Subaru, mata Roswaal sedikit membeliak. Kemudian, Subaru lanjut berbicara tanpa perubahan nada suara.

“Kau pikir aku akan melakukannya?”

“――――”

“Jika aku melakukannya, maka … perbincangan ini sama sekali tidak ada manfaatnya. Kita sudahi sampai sini saja.”

Roswaal menyipitkan matanya terhadap kata-kata itu, dengan lembut mengangkat tangannya, mendesah.

“Tidak, tidak~~. Ayo de~ngar sisa tawaranmu. Akan kuputuskan diakhir.”

“… Jadi begini. Seperti yang aku katakan, kita akan menentukan batas. Akan kupertaruhkan semua yang kumiliki dalam perulangan ini. Dan kalau masih tidak berhasil, akan kuikuti rencanamu. Karena, yah … misal caraku tidak berhasil, aku ragu cara lain bisa.”

“Kau kedengarannya tidak yakin, tapi, kau tentu punya tekad. Kalau begi~tu, aku akan merespon dengan baik. Nah, kau akan menetapkan batas pada dirimu sendiri, dan menjadikan upaya ini sebagai yang terakhir. Jadi, kau mau minta apa dariku?”

Nada bicara Roswaal berangsur-angsur mulai kembali normal.

Melihat negoisasi sampai ke tingkat saling pengertian, Subaru bertepuk tangan sekali.

“Permintaanku sederhana. Jikalau aku berhasil menerobos situasi ini dengan caraku dalam perulangan ini, masa depan akan menyimpang jauh dari harapanmu. Ketika itu terjadi, kau barangkali akan kehilangan keinginan untuk hidup di dunia yang tak selaras dengan Kitab, bersediakah … hal itu tidak boleh terjadi.”

“Tidak boleh? Maksudmu aku tidak boleh kehilangan tekadku? Sa~yangnya, mesti kukatakan itu permintaan yang agak sulit. Tentu saja, aku bisa berlaku seakan merasa baik-baik saja di luarnya, namun dalam lubuk relung hati terdalam nan dasar, aku akan …”

“Kau tahu, Roswaal. Aku tidak ingin kita bermusuhan selamanya.”

“――Hn?”

Tidak yakin akan arti Subaru, Roswaal memiringkan kepala.

Melihat demikian, Subaru menggosokkan jarinya ke hidung, lalu ….

“Aku tahu kau tidak kuasa menghadapi masa depan yang menyimpang dari Kitabmu serta rute yang berbeda dari yang terencanakn. Tetapi di masa depan yang tidak sejalur dengan Kitab itu, aku masih berusaha keras menjadikan Emilia sebagai Raja. Dan akan terus mengandalkan kekuatan ini untuk mengulang waktu demi memastikan hal itu. ――Jalan macam apa yang kita lalui sampai tiba di sana, hasil akhirnya takkan menyimpang dari tujuanmu.”

“――――”

“Roswaal, permintaanku sederhana. Andai kata aku membuka jalan menuju masa depan yang berbeda dari Kitabmu … maka kau akan membuang Kitab itu dan bergabung denganku. Akan kujadikan Emilia Raja. Dan aku memerlukan bantuanmu untuk hal itu.”

Tidak peduli, berapa banyak tindakan tak termaafkan Roswaal, kekuatannya masih diperlukan untuk mewujudkan tujuan Emilia. Subaru sendiri masih tidak paham dan agak jijik terhadapnya. Dan bila semuanya dibiarkan seperti ini, konsekuensi dari intrik Roswaal takkan pernah bisa diperbaiki. ――Namun Subaru sendiri akan memadamkan kemungkinan sekaligus menghindari jebakan fatal itu.

Mendengar permintaan Subaru, Roswaal menghela nafas panjang nan dalam.

Menutup matanya, dia tenggelam dalam pikiran, membelai dagunya sedangkan bibirnya perlahan terbelah.

“Jadi itu kompromi utama yang kau minta … ya.”

“Cukup mudah, bukan. Tapi aku suka hal-hal yang mudah. Emilia akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi Raja, aku akan mendukungnya di sisinya, dan kau akan ikut.”

“Kau menawarkan hal yang sulit dariku, aku melakukan sesuatu dengan satu cara untuk waktu yang sangat-sanga~t lama. Semisal kau ingin aku ber~ubah … perlu satu persyaratan yang setimpal, bukan?”

“Ya, memang begitu.”

Menyipitkan satu mata, sedangkan Subaru mengangguk-angguk dan mengangkat dua jari.

Merasakan tatapan Roswaal terfokus pada ujung jarinya, Subaru menggerakkan satu jari.

“Ada dua persyaratan. Dua persyaratan yang kau bilang mustahil dan takkan pernah berhasil. Jika aku berhasil menghapus persyaratan itu, aku berhasil memenangkan taruhan.”

“Dan jika persyaratan itu tidak terpenuhi, aku yang menang. Dan aku akan membuang kemanusiaanmu.”

ilus CH 87.png

Berbicara dengan nada rendah nan nyaring, Roswaal mengunci pandangannya kepada Subaru. Di akhir tatapan berat Roswaal, Subaru mengeritkan gigi sambil mengangguk setuju, kemudian melanjutkan ….

“Jadi syarat pertama. ――Akan kujadikan Garfiel sebagai sekutu, dan membawanya ke luar.”

“――――”

“Kau bilang kesetiannya pada Sanctuary berarti aku takkan pernah bisa membawanya keluar dari tempat ini. Setuju sih. Tapi meskipun begitu … di masa depan nanti kita memerlukan kekuatannya. Bahkan jika kita mempertimbangkan perasaan orang-orang di Sanctuary, kita tidak boleh membiarkan bocah nakal keras kepala mendekam di tempat ini selamanya. Jadi akan kulakukan hal yang kau anggap mustahil dan menarik Garfiel ke pihak kita.”

“――Dan yang kedua?”

Saat dia mendengar syarat pertama, emosi gelap mewarnai kedalmaan mata Roswaal. Tapi, tanpa mengomentari hal tersebut, ia bertanya syarat selanjutnya. Dengan anggukan, Subaru melanjutkan.

“――Akan kubuat Emilia melewati Ujian. Orang yang melampaui Ujian Makam dan membebaskan Sanctuary adalah Emilia. Bukan aku.”

“MUSTAHIL!”

Berteriak, Roswaal membanting telapak tangannya ke atas tempat tidur keras-keras.

Terdengar bunyi hentakan, wajah Roswaal berkerut marah. Mengangkat bahunya, menjentikkan jari ke arah Subaru.

“Sudah kubilang tadi malam. Mahluk itu tidak mampu mengatasi Ujian. Dan Garfiel takkan pernah meninggalkan keterikatannya pada Sanctuary!”

“Takkan tahu kalau tidak dicoba, kan?”

“Betul, kau takkan tahu kalau tidak dicoba. Dan bukankah itu justru karena kau sudah mencoba berkali-kali dan datang ke hadapanku dalam kondisi terhajar dan terkalahkan semata? Mimikmu, tekadmu sekarang adalah bukti bahwa keduanya tidak layak ditaruh investasi harapanmu!”

Berteriak, bahu Roswaal naik turun saat dia berbicara. Megap-megap, Subaru menatap santai dirinya.

“Kau sangat kesal, ya.”

“Apa ….?”

“Bukankah menguntungkanmu karena beban syaratnya lebih besar di pihakku? Tidak masuk akal jika kau marah-marah tentang kesulitannya, kan?”

“Dari awal yang jadi soal memangnya pertaruhan ini dapat dibuat. Legitimasi yang dipertanyakan alih-alih kesetaraan, hasil akhir taruhan ini akan dikompromikan. Wajar kalau aku berhati-hati.”

Diberi syarat yang sangat menyulitkan Subaru dan sangat menguntungkan Roswaal telah membuat dirinya waspada. Tetapi melihat reaksi Roswaal, pipi Subaru berkedut, senyum bengis nan jahat semakin tampak jelas.

“Roswaal, sepertinya kau tidak mengerti.”

“……….”

“Apa ada peluang keberhasilan? Nah, terlampau sukar mau dari sudut pandang mana kau melihatnya. Kuakui terlintas di benakku bahwa beberapa hal ini akan menyelamatkan sejumlah citramu selagi merevisi rencana besarmu itu, tapi … nyatanya menyangkut hal lain.”

Di hadapan Roswaal yang terbungkam, Subaru lanjut berbicara dengan senyum di wajahnya yang tak berubah.

“Kau sendiri yang bilang, Roswaal.”

“――――”

“Saat aku terpojok, aku malah menjadi kartu as terkuat. ――Barangkali tidak persis seperti yang kau inginkan, tetapi aku adalah kartu terkuat, tidak salah lagi. Dan kau masih tidak puas?”

Dihadapkan dengan kata-kata demikian, Roswaal tetap diam.

Dia hanya menatap Subaru tajam-tajam sembari mengendalikan ritme nafasnya. Dan, begitu nafasnya tenang, Roswaal mengangkat satu jari.

“――――Kontrak.”

“――――”

“Baiklah. Aku terima syarat yang kau suguh~kan. ――Mengeluarkan Garfiel dari kutukannya, dan membuat Emilia-sama membebaskan Sanctuary. Setelah kedua hal demikian terwujud, aku akan membuang rencanaku dan mengikuti jalan yang kau buat. Mari buat kontrak.”

Sebuah cahaya redup berkedip-kedip di atas jari Roswaal yang terangkat.

Konsentrasi mana berwarna pelangi tampak seperti cahaya multi-elemen yang Julius gunakan untuk menghancurkan Betelgeuse.

“Lewat gerbang mana kita, kita akan mengukir kontrak dengan ini ke dalam jiwa. Tidak peduli sapa yang kau tipu, kau takkan mampu menipu hati sendiri. ――Sebuah kontrak yang diukir pada jiwa melampaui jarak dan waktu, mampu bertahan di seluruh dunia. Akan terus-menerus mengikatmu kendati kau mengulang waktu dan memulai hidup baru.”

“Hah, jadi kau benar-benar sudah memikirkan sesuatu …. Tapi, justru semakin mempermudah semuanya. Apabila kita berdua terikat oleh kontrak, itu membantuku agar tidak ribut-ribut dan teriak-teriak setelah kalah taruhan.”

“Kelihatannya kau tidak menganggapi enteng hal ini … baiklah.”

Mengetahui Subaru bersedia menerima kontrak, Roswaal tak mengucapkan apa-apa lagi.

Cahaya di ujung jarinya ditekan ke tengah dada Subaru, dan mengalirlah sensasi sesuatu yang merembes ke dalam tubuhnya. Segera, merasakan gelombang nadi di dalam dirinya, membuka semua pori-pori tubuh, Subaru menghembuskan nafas.

“Aa, hha――”

“Hal yang sama akan terukir pada jiwaku. ――Sekali kontrak Natsuki Subaru telah terpenuhi, kontrak Roswaal L Mather’s akan terpenuhi jua.”

Semburan pelangi cahaya yang identik berdenyut di dada Roswaal.

Untuk sesaat, cahaya menyebar ke seluruh tubuh Roswaal, lalu semuanya kembali normal dalam sekejap mata.

“Jadi, selesaikah?”

“Sudah … tidak ada proses apa-apa lagi.”

Mengkonfirmasi ketidakmampuan mereka untuk melarikan diri, Subaru diam-diam menelan nafas.

Di sana, Roswaal meletakkan tangan ke dadanya sendiri, lalu…

“Sebagaimana dirimu yang berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi persyaratan, aku juga akan mengikuti kehendak tertulis Kitab. Kau takkan menyalahkanku atas hal itu, kan?”

“――Dalam lima hari, salju akan turun lagi?”

“… Misalkan Emilia-sama tidak mendatangkan hujan salju, kemungkinan besar mesti aku sendiri yang mendatang~kannya.”

Dengan kata lain, batas waktu telah ditetapkan. Dalam lima hari, Kelinci Besar akan menyerang. Emilia harus membebaskan Sanctuary, Subaru juga mesti mematahkan mantra Garfiel sebelum kala itu.

“Jika sudah diputuskan, tidak ada waktu lagi untuk disia-siakan. Lebih baik mulai sekarang.”

“Subaru-kun.”

Ketika Subaru hendak pindah dari tempat tidur untuk menyelesaikan tugasnya, Roswaal memanggil.

Berbalik, dia melihat Roswaal sedikit mengalihkan pandangannya.

“Perkara Mansion juga ditetapkan pada hari yang sama. ――Berusahalah sebaik mungkin, kudoakan perjuanganmu.”

“Karena kalau aku mencoba menyelesaikan segalanya dan malah merusaknya, lain kali kau akan buat aku menyelesaikan semuanya dengan caramu … kan?”

“――――”

Roswaal menanggapi balasan Subaru dalam diam.

Mendengarnya, Subaru menyeringai, dan membabatnya dengan satu jari terarah ke Roswaal.

“Roswaal, kau menghapus ciri khasmu jadi pasang kembali riasan badut itu.” Imbuh Subaru.

“Hhm, benar juga … ini kali pertama aku menyambutmu tanpa riasan, yah.”

“Di dunia ini sih, iya.”

Subaru tahu mata Roswaal membelalak terhadap sindirannya ketika dia berbalik, dia memulai langkahnya.

“Ini pertarungan antara kau denganku. Badut ganda yang terombang-ambing takdir―― jadi ayo bertarung, adil dan jujur.”

Sesudahnya, Subaru meninggalkan ruangan.

Syarat dan ketentuan taruhan telah berlaku. ――Jadi, di titik inilah semuanya dimulai.

Tantangan terakhir Natsuki Subaru, dengan pembebasan Sanctuary sebagai taruhannya.

Catatan Kaki:

  • Eyeliner adalah riasan yang dipake di alis, tahu alis badai syahrini? Nah itu namanya eyeliner, kalau gk tau berarti mainlu kurang jauh pulang kurang malam.

3 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 87”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *