Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 86

Posted on

Melawan Semua Peluang

CH 86.png

Penerjemah: AshSeekethSouls

No Editor Needed.

Subaru sangat terheran-heran dengan apa yang baru saja terjadi sampai-sampai lupa sakitnya ditonjok.

Roboh ke tanah, Subaru mendongak dan mendapati Otto memelototinya. Pada wajah yang biasanya menyedihkan, tak berdaya, tidak terlalu menampakkan jejak emosional, ada amarah yang menyala-nyala di matanya.

Mata Otto menatap Subaru, penuh kemarahan.

“Kau tidak tahu harus berbuat apa, dan isi kepalamu kacau.”

“――――”

“Ketika kau berada di titik di mana memerlukan bantuan, ketika kekuatan tangan dan kepalamu sendiri tidaklah cukup, yang kau lakukan dengan paniknya berjuang untuk menyelesaikan semuanya kecuali buang-buang waktu, kan?”

Mengucap demikian pada Subaru yang terdiam, selangkah demi selangkah, Otto mendekat.

Tangan dan lutut menempel di tanah, merasakan panas yang membengkak di pipi kirinya, Subaru cuma bisa menatap Otto.

“Diammu adalah benar. Paling tidak di dunia kita, terjebak adalah titik terendah yang dapat kau tuju. ――Kau dengar aku?”

Otto mengulurkan tangannya ke Subaru yang berdiam seribu bahasa dan meraih kerahnya.

“Kalau kau mendengarku, katakan sesuatu!”

“―――――――――”

Tumbukan yang tajam nan kuat menabrak dahi Subaru, membuat debu beterbangan.

Merasakan dunia berputar di depan matanya, laki-laki itu sadar dia disundul oleh Otto. Lagi-lagi, sundulan lain menghempaskannya ke belakang.

Dahi dan tulang pipinya yang nyeri, Subaru tersandung ke belakang. Tentu saja, tidak ada orang yang hanya duduk manis dan menerima serangan――

“Apa yang kau lakukan…!?”

“Oh, jadi kau sadar ketika aku menghajarmu tadi, padahal aku yakin tengah menghajar seseorang yang terlelap, tahu.”

“Apa yang kau――!?”

Sundulan kedua langsung ditujukan ke hidung, Subaru marah besar, mencoba menangkap Otto. Tapi dia menyelinap ke samping melewati lengan Subaru yang terulur dan dengan keras menendangnya dari bawah, membuat Subaru roboh ke tanah.

“Gha!?”

“Tepat saat kepalamu pendarahan, kau meninggalkan pijakanmu tanpa penjagaan. Persis sama selayaknya dirimu, Natsuki-san, menyedihkan.”

“Hoo…pikirmu begitu?!”

Sambil bangkit berdiri, Subaru melemparkan segumpal kotoran yang dia kumpulkan langsung ke wajah Otto. Tetapi, setelah membaca gerakannya, Otto menutupi wajahnya dengan tangan lalu mendekati lawannya sebelum Subaru dapat bereaksi. Seperti itulah, dalam waktu satu tegukan, Otto telah meraih kerah belakang Subaru dan satunya di pinggang kemudian membantingnya.

Punggung yang pertama menghantam tanah, Subaru tersedak rasa sakit.

Meskipun tempat tanahnya mendarat dipenuhi dedaunan kering, namun daun itu tidak menyerap tekanan setengah tabrakan.

Terengah-engah, tubuhnya mati rasa dari atas kepala sampai bagian akhir perut, Subaru tidak lagi bisa bangkit.

“Menggunakan trik kotor seperti biasa ya, Natsuki-san? Sayangnya tidak berefek padaku kalau ketahuan gerakannya.

“……Ghh, Kkhaak.”

“Nah, Natsuki-san? Kekuatanmu segini saja. Kau takkan pernah mencapai kelas KSatria atau Roswaal-sama, bahkan Garfiel pun tidak. Bahkan melawanku, kau akan berakhir seperti ini.”

Melihat Subaru mati-matian menarik oksigen ke paru-parunya yang megap-megap, Otto menggelengkan kepalanya dengan iba seraya menyemburkan kata-kata tersebut.

Berjalan ke samping Subaru yang tanpa daya, Otto mendekatkan wajahnya.

“Ngajak ribut Paus Putih dan Kultus Penyihir sama saja tolol. Kau lemah, tidak kuat bertahan bahkan satu detik dalam pertarungan langsung. Tentu kau tahu ini.”

“――――”

“Kalau begitu, apa kau berniat mengganti kekuranganmu dengan kecerdasan? Menurutku, kau sedikit pandai … tapi penilaian dan pengambilan keputusan tingkatannya tidak di atas rata-rata. Bahkan akal sehatmu saja kurang.”

Tidak tahu apa yang coba Otto katakan, pilu mulai muncul dalam nafas Subaru yang acak adul.

Sekarang ini, paru-parunya yang kembang kempis, syok karena dihempas jauh, dan rasa sakit di dahi dan pipinya sudah agak memudar. Diganti ketenangan yang berubah menjadi kebingungan terhadap maksud tutur Otto.

Melihat ke bawah menuju mata hitam Subaru, mata kosong, Otto melanjutkan.

“Kekuatan dan kecerdasanmu kurang, sekalipun ada hal lain yang mampu mengimbanginya…yah, tidak terlalu bermanfaat amat. Kau itu kecil, jangkauanmu pendek, orang semacam kau ini bisa ditemukan di mana saja. Kau hanyalah orang biasa, namun kau tetap mengincar sesuatu yang sangat tidak proporsional.

“Kau…ingin…ngomong apa?”

“Sudah tahu dirimu lemah lagi tak berdaya, jadi rencana cadangan apa yang kau buat? Apakah semakin menyudutkan dirimu, meremehkan dirimu, mencoba mengeluarkan sesuatu dari ketiadaan … Aku akhirnya memahami perasaan Patrasche-chan.”

“Patrasche…?”

Mendengar nama naga tanahnya, mata Subaru membeliak karena terkejut.

Patrasche. Naga tanah hitam rela terluka demi menyelamatkan tuannya yang bahkan tidak tahu mengapa dirinya melakukan itu, naga tersebut telah mengajari Subaru banyak hal serta kepada siapa dirinya berhutang budi――yang sudah sangat besar pengorbanannya kepada Subaru, kini Otto mengetakan bahwa dirinya memahami perasaannya.

Sedangkan Subaru terbaring di sana, berkedip-kedip, Otto menyisir rambut abu-abunya dengan jemari abu-abu, lalu, dengan suara tajam, “Jadi, yah kau tahulah,” lanjutnya.

“Tidak apa-apa pamer di depan gadis gebetanmu itu. Arogan semacam itu perlu, dan aku menghargainya. Sudah jelas sih kau akan menyombongkan hal-hal yang mustahil kau miliki. Jadi aku bersedia menampiknya.”

Gebetan itu adalah Emilia. Dan kearoganan itu adalah tindak-tanduk di depan Emilia.

“Dan aku maafkan kau karena congkak di depan gadis yang kau taksir. Sekali lagi, itu diperlukan. Ketika cinta terlibat, aku yakin orang yang ada di pihak penerima cinta juga mempunyai tanggung jawab tertentu. Maka dari itu, penting tuk berbangga-bangga di hadapan seseorang yang kau cintai, dan masih aku maafkan.”

Gadis taksir itu adalah Rem. Sekali lagi, Subaru memberi tahu Otto hal yang persis sama. Dia ingin sok-sokan di depan Rem, karena gadis itu mencintai Subaru.

“Tapi, di situlah dirimu berhenti.”

Setelahnya, Otto menempelkan wajahnya lebih dekat.

Subaru berjengit dan bersiap disundul lagi, tapi Otto berhenti, menggeram belaka.

“Padahal tahu betul dirimu kurang. Kau tahu tidak cukup. Namun masih ingin sok di depan gadis tercintamu. Dan kau ingin menjadi seseorang yang dapat dibangga-banggakan oleh gadis-gadis itu.”

“――――”

“Lantas, untuk menutupi bagian-bagian yang tidak ingin dilihat gadis-gadis tercintamu, bukankah semestinya meminta bantuan orang lain? ――Contohnya, dari seorang teman?”

Menarik wajahnya, Otto mengatakan bagian terakhir sambil menyentuh dada dengan telapak tangan.


“Hadeh…”

Mendengarkan kata-kata itu, Subaru menghembuskan nafas kecil.

Sejujurnya, untuk sesaat, Subaru memikirkan tanggapan Ya, kau benar.

Bukannya dia tidak berharap dapat berpegang teguh dan mengandalkan seseorang. Tentu saja dia punya teman. Sebagaimana ucapan Otto, Subaru tahu dirinya lemah dan kurang. Laki-laki berambut hitam itu tidak sombong-sombong amat sampai-sampai berpikir mampu menyelesaikan semuanya sendirian.

Malahan, selama ini, bukankah dia sudah mencoba meminta bantuan Echidna dan Roswaal untuk membantu ketidakkompetennya?

Alih-alih bekerja sama, yang dia dapatkan hanyalah luka dan kebenaran yang tidak ingin dia ketahui.

Subaru sudah melakukannya dengan cara Otto. Tapi apa yang disarankan Otto sama sekali tidak berhasil. Kesempatan itu telah berakhir.

“――Haha.”

“Apa yang lucu?”

Mencapai kesimpulan kecil dalam hatinya, kesimpulan tersebut mulai muncul di wajahnya jua. Melihatnya, Otto mengerutkan alis tidak senang, sementara Subaru, dengan wajah merah dan benjol-benjol, mendongak balik menatap Otto.

“Kau salah semua……Bukannya aku tidak meminta bantuan. Sudah kucoba semua hal yang menurutku akan berhasil. Sudah mencoba mengandalkan … semua orang yang pikirku dapat diandalkan, terlepas dari semuanya…”

Harapannya dikhianati, tetapi, tidak mau menyerah, bocah itu mendekap kepalanya.

Pada akhirnya, bahkan Emilia, yang dia pikir mesti Dilindungi dan Diselamatkan, menolak pemikirannya. Dan barulah dia menyadarinya, selama ini, dia meremehkan Emilia dan menganggapnya sebagai Mahluk lemah yang membutuhkan perlindungannya.

Mengalami berbagai hal, bertemu banyak orang, mengimbuh kalimat-kalimat norak, menyatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, menolak tekad untuk mati dan merangkul tekad untuk hidup, kemudian berpura-pura seolah-olah dia telah bergerak maju kendati cuma sedikit, pada akhirnya, Subaru hanya jalan di tempat.

Dia tidak menemukan satu hal pun yang dapat dimanfa’atkan untuk mengubah jalan buntu ini.

Sekarang bahkan senyum paksanya mengering, ekspresi dingin nan kaku belaka yang tersisa di pipi Subaru.

Melihatnya, bibir Otto mengernyit mendengar keluhan dalam hati Subaru.

“…Tapi, aku tidak ingat kau pernah meminta bantuanku, Natsuki-san.”

“――――”

“Aku tidak layak diandalkan, keberadaanku tidak ada faedahnya … begitukah anggapanmu terhadap diriku? Atau jangan-jangan, menurutmu … aku adalah salah seorang yang harus dilindungi?”

Suara Otto gemetaran ketika dia mencoba menahan emosinya malah semakin meninggikan suaranya.

Sosok itu hanya sekilas kemarahan Otto, kesedihan, dan emosi yang tak tertahan.

Tersentuk oleh riak emosi Otto yang meluap-luap, Subaru menyadari ucapannya menyakiti Otto secara tidak langsung, karenanya cepat-cepat menggelengkan kepala.

“Tidak, kau keliru…”

“Keliru bagaimana? Malahan aneh kalau aku keliru. Bila tidak, kalau begitu mengapa kau duduk diam di sana sendirian tidak memberitahuku satu hal pun?”

“Kenyataan aku tidak memberitahumu apa-apa … bukan berarti tidak mempercayaimu. Perkara itu kau salah.”

“――――”

Menggelengkan kepala, mata Subaru jelalatan.

Di sisi lain, Otto membantu, menjaga iris mata hijaunya tetap tertuju pada Subaru.

Tekanan tatapan itu membuat Subaru menurunkan matanya, mengeruhkan kata-katanya sambil menyentuh dahi.

Bukan berarti tidak mempercayai Otto. Dalam perulangan-perulangan itu, Otto mempertaruhkan hidupnya untuk melindungi sang pemeran utama, tetap bersamanya walau tidak ada keuntungan yang bisa didapatkan. Karena itulah, Subaru setulus-tulusnya berterima kasih, dan tidak berdusta tatkala memanggilnya teman.

Tapi bagaimana pula dia mengutarakan kebenarannya pada Otto? Jika itu Echidna atau pun Roswaal yang bisa memahami keadaan Subaru, oke-oke sajalah. Tabu takkan terlanggar, dan percakapan bisa dilakukan. Namun Otto tidak begitu. Bukan Otto saja, bahkan Emilia, Ram, atau orang lain di Sanctuary mengetahui situasi Subaru sekarang ini.

Tanpa menyebut-nyebut sang Penyihir atau Return by Death, mustahil Subaru menjelaskan kesulitan yang dia hadapi. Meskipun memberitahu kejadian selanjutnya, mengenai Kelinci Besar dan serangan terhadap Mansion――Subaru tidak bisa memberikan alasan dirinya mengetahui hal-hal itu.

Sewaktu-waktu terjadi, Subaru bisa apa untuk meyakinkannya? Apakah dia mengharapkan hal itu?

Subaru tahu dirinya tidak cukup kuat, tidak cukup pintar, tahu betul betapa lemahnya dia.

Sebab itulah, Subaru tidak bisa melakukan apa pun tanpa dibantu orang lain, dan dia mengerti bahwa tugasnya adalah untuk mencari bantuan sebanyak mungkin.

Tetapi sekarang, setelah gagal melaksanakan pekerjaannya, dia terhenti.

“Tidak bisa kujelaskan. Kepalaku kacau berantakan … persis yang kau tuturkan, semuanya berantakan, dan … tidak mungkin aku dapat membuktikan apa pun tutur ini.”

“………….”

“Masalah-masalah ini, sekalipun kujelaskan padamu, kau pasti takkan mempercayainya … jadi bagaimana cara menjelaskannya, ya … seperti itulah, semua orang juga ….”

“… Kenapa tidak kau coba ceritakan?”

“Hah?”

Subaru sudah bilang bahwa dia tidak bisa menyampaikan alasan untuk mempercayainya, namun begitulah tanggapan Otto.

Tanpa sadar mencerna ujar itu, dia melihat Otto melipat tangannya, kembali melihatnya.

“Jadi, kenapa tidak kau katakan saja? Meski tidak masuk akal dan teramat campur aduk karena kepalamu simpang siur, aku tak akan memotong, akan kudengar sampai akhir.”

“Tidak, tapi, anu ….”

“Semburkan … sajalah!!! Sudah kubilangkah berhenti bersikap apatis!?”

Otto menghentakkan kakinya ke tanah, berteriak sudah cukup dia menelan semua ini. Kemudian, mengacungkan satu jari ke arah Subaru yang membelalak.

“Semisal kau punya waktu untuk mengeluh ini-itu, soal tak seorang pun yang mempercayaimu, mengapa tidak gunakan waktu itu untuk memuntahkan semua yang tersembunyi dalam kepalamu!? Bukankah itu jauh lebih konstruktif ketimbang duduk muram di sana!?”

“Walau kau berkata demikian …! Tidaklah mungkin kau mempercayaiku seandainya kuberikan penjelasan morat-marit ini …!”

“――Utarakan saja informasi semrawut itu! Nanti balasannya adalah aku percaya kau! Karena itulah yang akan dilakukan seorang teman!!!”

――Semua isi kepala Subaru yang linglung nan riweh dicabut dan terurai oleh teriakan Otto.

Kata-kata Otto tidak disertai hal fundanmental, dan logikanya sama sekali tidak meyakinkan.

Namun, Subaru yang sedari tadi diam membeku, sudah cukup untuk memicunya.

“Yah … aku tidak berharap kau akan percaya ini, tapi ….”

Sedikit demi sedikit, dia menyuarakan setiap masalah yang tersimpan dalam relung dirinya, tidak perlu waktu lama untuk menjelaskannya.


“Jadi, yah … Roswaal menyewa pembunuh bayaran untuk menyerang Mansion … demi menyudutkanku dan Emilia sehingga tidak punya cukup ruang untuk melarikan diri … singkatnya begitu.”

Pelan-pelan mengawasi setiap sensor tangan yang barangkali terangkat, Subaru sepelan mungkin mengakhiri presentasinya.

Sementara itu, Otto diam mendengarkan, biarpun alisnya berkerut.

“Dan semua itu informasi yang aku miliki sekarang ini … barangkali tidak tepat-tepat amat, tapi itu semuanya. Tak ada yang tersimpan, lengkap semua.”

Secara alami, bagian yang tak terkatakan adalah Return by Death dan party para Penyihir.

Kedua cerita itu yang tertinggal, fondasi cerita ini benar-benar agak goyah. Bahkan Subaru sendiri merasa seakan-akan hubungan satu dengan yang lainnya terlalu samar.

Jadi dia sangat risau untuk mecari tahu reaksi Otto nantinya. Meskipun Otto berjanji untuk mengatakan Aku percaya padamu di akhir cerita, sebetulnya apa sih yang ada dalam kepalanya saat mengatakan itu?

“Natsuki-san ….”

“………”

Setelah hening panjang dalam benak, Otto menjatuhkan lipatan tangan dan menatap Subaru. Melihat dirinya sendiri tercermin dalam pupil hijau Otto, Subaru tanpa sadar menahan nafas.

Dia mau ngomong apa? Subaru dapat mendengar jantungnya sendiri berdetak cepat.

Dan, untuk Subaru yang kaku ini…

“Tidak mungkin aku berpura-pura tidak mendengar hal itu dan kabur terbirit-birit, kan?”

“Apa――apaan dahh!?”

Seru Subaru, terperangah karena jawaban tidak masuk akal itu. Namun Otto meneriaki keluhan Subaru dengan “Lagian!”

“Kita terjebak di tempat ini sementara Kelinci Besar mendekat, satu-satunya jalan keluar adalah bila Emilia-sama menaklukkan Ujian, jikalau kita pergi bersama orang-orang yang tidak terpengaruh oleh Penghalang kita akan dihentikan oleh Tuan Tidak tahu-menahu di sana, dan walaupun berhasil sampai di Mansion kita bakal dibunuh seorang pembunuh bayaran yang disewa oleh pemilik MANSION SENDIRI …… Situasi macam apa ini!?”

“Itulah yang aku cari-cari! Kenapa aku mesti digiring ke situasi konyol bin bego kayak gini!? Maksudku, aku sudah tahu itu, tapi sebesar ini ‘kah Dewa membenciku!? Yah, sebesar kebencianku padanya juga sih!!”

Kalau memang benar Dewa Takdir eksis, maka tidak salah lagi dewa itu kelewat membenci Subaru. Dan karena Subaru berpikir dirinya tidak melakukan hal mengerikan sampai-sampai diazab seburuk ini, maka semua ini tidaklah adil. Namun menyumpah-nyumpah Dewa takkan memindahkan situasinya ke mana pun atau mempermudah segalanya. Bahkan, sebelum hal tersebut terjadi pun ….

“Tunggu, Otto. Aku mengerti alasanmu ingin gila-gilaan sekarang, tapi … kau sungguh-sungguh mempercayai semua hal gila yang aku katakan?”

“――――”

“Bahwasanya Monster Iblis—Monster Iblis haus darah itu akan datang, bahwa bahkan jika kita berlari tetap tidak pasti apakah Emilia akan berhasil atau tidak, bahwa Garfiel akan menghalangi kita, dan bahwa Roswaal sudah mengkhianati kita karena ide sinting nan sarapnya … kau sungguh percaya semua itu?”

Menyatakannya keras-keras, terdengar layaknya daftar masalah-masalah yang ditumpuk menjadi satu.

Kesimpulannya, Kelinci Besar dan Roswaal yang mendalangi serangan terhadap Mansion semuanya tanpa bukti nyata. Kedua hal itu adalah bagian terpentingnya, dan Subaru tidak dapat berbuat apa-apa untuk meyakinkan siapa pun.

Soal Kelinci Besar, bagaimana Subaru dapat memprediksi pergerakan Monster Iblis ketika hampir semua orang di dunia ini pernah mencobanya?

Adapun Roswaal, mengapa merencanakan sesuatu di belakang Emilia, kandidat yang dia usung sendiri pada Seleksi Kerajaan? Tak satu pun dari hal ini bisa dijelaskan Subaru.

“Natsuki-san.”

Otto memejamkan matanya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Subaru. Dia mengangkat satu jari, dan…

“Sampai sekarang aku pernah mengunjungi beberapa tempat, barangkali sukar dipercaya, tetapi aku sudah berinteraksi dengan semua jenis orang di jalan.”

“…Terkecuali, kau bisa tahu apakah seseorang bisa dipercaya hanya dalam sekali tatap?”

“Bukan itu, aku tidak meyakini takhayul semacam itu. Seandainya kau seorang pedagang, dengan sangat cepat kau pasti tahu bahwa ada orang yang bisa berbohong kepada siapa pun tanpa ada jejak intrik di dalam matanya. Aku sudah lebih dari berpengalaman dalam bidang itu.”

Otto membual, tetapi bukankah Otto sudah kebanyakan ditipu sampai-sampai mendapatkan semua pelajaran itu?

Namun, berpikir percakapan ini pentingnya bukan main, Subaru menutup mulut dan membiarkan Otto melanjutkan.

“Yah, setelah bertemu semua orang itu, aku juga belajar berbisnis dengan caraku sendiri. Sudah empat tahun meninggalkan rumah, perkara baik buruknya, aku masih bertahan.”

Otto membuatnya terdengar sederhana, tapi nyatanya mungkin jalan yang tak mudah.

Dia pula mesti terlempar ke dalam situasi hidup atau mati lebih dari beberapa kali.

Di dunia ini, di mana seseorang bisa saja bertemu Paus Putih saat tengah melintasi ladang, tidak sulit membayangkan jenis bahaya yang harus dihadapi pedagang keliling. Anjing-anjing liar, hal-hal semacam itulah.

“Lantas, hari demi hari seperti ini, aku berhasil menjadikan hidupku lebih dari sekedar pedagang … dan kini kuyakin, hingga sekarang, aku selalu beruntung. Kendatipun hal-hal tidak senantiasa nurut harapan … dan ada momen-momen tatkala aku pikir pihak yang menang ternyata akan menghadapi bencana lain dan takkan pernah menemui keberuntungan lagi ….”

“Ey, ey, ey ….”

“Tapi, terlepas hasilnya, aku kerap kali mencoba memilih pilihan yang nantinya tak kusesali. Ketika mempertaruhkan hidupku, kurasa sudah jelas seberapa pentingnya itu.”

Subaru masih tidak terlalu mengerti kriteria Otto, tapi sepertinya dia acap kali memilih sisi yang berpeluang terbaik.

Berharap membangun hubungan dengan Roswaal, Otto menemani Subaru ke Sanctuary memegang agenda besar pribadi dalam kepalanya. Dalam hal itu, tindakan Otto bak realis, terus-menerus seperti itu.

Itu sebabnya Subaru menduga Otto tidak punya alasan untuk mendengarkan kata-kata tak berdasarnya tanpa sedikit pun harapan akan――

“Jadi, ini kali pertama, Natsuki-san.”

“――Huh?”

Tidak yakin apa yang selanjutnya dia katakan, Subaru hanya menatap Otto dengan mulut menganga.

Melihat ini, sembari memasang ekspresi ceria nan goblok.

“Melawan segala rintangan dan bergabung bersama tim tanpa peluang sukses yang jelas adalah pertama kalinya.”

Otto menyatakan keputusannya.


Berlari secepat mungkin. Tersengal-sengal.

Mengejar jantungnya yang melesat melintasi padang rumput, tidak memelan sesaat pun, tubuh Subaru diselimuti angin.

Mengiris udara pagi yang segar, mengayunkan tangannya lebar-lebar, dia berlari, langkah demi langkah.

Memijak tanah, menginjak-injak bebatuan, dia berlari lurus di sepanjang jalan rusak.

Akhirnya, bangunan destinasinya memasuki bidang pandang.

Pipinya tanpa sadar terpelintir bahagia, Subaru memamerkan giginya. Gelagapan bagaikan anjing yang lidahnya terulur keluar, dia menuju pintu masuk, meraih pintu.

Dan…

“――ROSWAAL!”

Membuka pintu dengan kasar, Subaru merengsek masuk. Melalui pintu dan melewati ruang tamu yang berdekatan, dia mendorong-membuka pintu tipis kuat-kuat sampai hampir menghancurkannya.

Di dalam, ada Roswaal, duduk di tempat tidur, dan Ram, yang rajin merawatnya, paras mereka terlukis wajah terkejut.

Sangat jarang melihat paras terkejut Roswaal yang biasanya tanpa beban dan Ram yang senantiasa tanpa emosi.

Dan, karena Subaru hendak melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, maka jadi pertanda baik.

Mengandalkan keterkejutan mereka sebagai angin takdir baik, Subaru menunjuk tuan serta pelayannya yang diam mematung, kemudian ….

“――Ayo taruhan. Keinginanmu dan Keinginanku sebagai chip1-nya.”

Catatan Kaki:

  1. Chip adalah sesuatu yang lu miliki sebagai barang kekayaanlu kalo main kasino, chip yang beda warna beda juga nilainya. Untuk lebih jelasnya, sono gih ke bar maen kasino.

2 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 86”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *