Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 85

Posted on

“Dengan Ucapan, Dengan Perasaan, Dengan Pukulan”

CH 85.png

Penerjemah: AshSeekethEmbers

“――Huh?”

Untuk sesaat, tidak dapat memahami perkataan Emilia, Subaru terperangah. Matanya membelalak dan mulutnya menganga, sedangkan Emilia melihatnya seraya meramu hasil pemikirannya menjadi kata-kata.

“Aku senang kau merasa seperti itu, mengatakan hal-hal itu, dan melakukan semua hal itu padaku. Membuatku merasa aman, dan aku mengandalkanmu, sangat-sangat. Tapi …… Aku tidak bisa membiarkanmu mencarikanku rute pelarian.”

“T-tidak itu … itu bukan masalahmu saja!”

“Akulah yang menerima tantangan ini. Ada suatu tempat yang mesti kudatangi, sebuah pintu yang wajib aku lalui demi sampai ke tempat sana, dan kini, aku kudu berusaha sebaik mungkin untuk melewatinya. Aku tidak ingin berdalih apa pun.”

Subaru melumat bibirnya selagi ditusuk oleh mata penuh tekad Emilia. Wajah gadis itu yang tegas diselimuti cahaya berkemauan gigih. Bukanlah wajah gadis kecil lemah yang berhenti di tengah jalan tanpa tarikan tangan Subaru. Tapi, mengapa? Kenapa hatinya ditembaki pertanyaan, Subaru menggelengkan kepala.

“Emilia, aku pikir kebulatan hatimu luar biasa. Tapi Ujian tidak cocok untukmu. Pergi ke dalam sana tanpa rencana padahal peluang keberhasilannya … begitu tipis, menurutku itu tidaklah mulia atau semacamnya.”

“…Peluangnya memang tipis, ya.”

“…………”

Emilia tersenyum masam pada pernyataan fakta Subaru. Fata bahwa alisnya sedikit mengkerut hanya karena dia menyadari pemikiran jujur Subaru. Dan Subaru sendiri merasa seakan dirinya seorang manusia buruk sebab tidak menemukan hal yang mampu menghiburnya.

“Tidak bisakah kita paling tidak menunggu sampai aku menemukan petunjuk? Kalau saja ada waktu, aku … bisa mempermudah semuanya untukmu. Maka dari itu kau tidak perlu mencemaskan……”

“Tidak, kau tidak boleh, Subaru. Entah bagaimana, aku tahu saja. ――Bahwasanya tidak ada orang dalam atau jalan tikus untuk melewati Ujian Makam.”

“――――”

“Tentu aneh. Tapi aku menyadarinya belaka. Bahkan waktu pun, kecuali aku sudah mempersiapkan diri akan tantangan, hasilnya akan selalu sama. Aku tahu itu.”

“Aa…”

Subaru tidak mampu membantahnya.

Meskipun bocah itu tahu rincian dibalik Ujian, dia setuju-setuju saja pada Emilia mengenai perasaan tersebut. Berulang kali menantang Ujian takkan mengurangi maupun menambah kesulitan tantangan atau jenisnya. Kondisi dan isi yang sama akan selalu siap menyambut para penantang. Menjaga sifat-sifatnya yang konstan, cuma sebuah perubahan dalam hati sang penantanglah yang akan membedakan hasil akhir――sebagaimana halnya selera Echidna.

Langsung mengetahui Subaru mencoba menghiburnya, pengetahuan Emilia akan Ujian lebih dari yang laki-laki itu bayangkan.

Meski demikian, selagi Subaru yang dengan panik merakit kata-katanya…

“Hei, Subaru. ――Kenapa kau ingin membantuku?”

“――――”

Pertanyaan itu memiliki makna luar biasa kali terakhir ditanyakan.

Betapa mati-matiannya Subaru berjuang untuk menjawabnya? Sebesar apa kesulitan yang dia atasi hanya untuk memberi tahu jawabannya?

Dan karena itulah, ditanyai pertanyaan yang persis sama, Subaru dapat menjawabnya tanpa ragu sedikit pun.

“Aku ingin membantumu … karena aku mencintaimu. ――Karena aku mencintai segala seluk-beluk dirimu.”

“――Emm. Ya, aku tahu itu. Subaru, kau mencintaiku.”

“――――”

“Dan itu membuatku sangat-sangat bahagia kau mencintaiku. Membuatkuu kelewatttt aman. Dan membuatku amaatttt bergantung padamu. Dan dirimu yang melihatku seperti ini, rasanya aku bisa mencoba yang terbaik.”

Menempatkan tangannya di dada, pipinya sedikit merona, Emilia menutup mata.

Seolah-olah tertanam oleh semua emosi yang terkumpul, “Lantas,” lanjutnya.

“Jangan terjebak pada pemikiran aku harus melakukan sesuatu. Aku dapat berusaha yang terbaik bila dirimu menyaksikanku. Bila mana kau ingin melakukan perbuatan, semisal kau memanjakan keegoisanku, maka aku ingin kau tetap di sisiku. Dan berada di belakangku, mendukungku.”

“Emilia…”

“Dengan bantuanmu tatkala aku goyah, aku pasti mampu bangkit kembali. Dan sewaktu-waktu diriku bimbang, aku ingin kau berada di sisiku, Subaru.”

“――――”

“Makasih … sudah berjalan bersamaku, melampaui penghalang demi penghalang, membersihkan jalan, kemudian membimbingku sambil menggenggam tangan. Tapi, rasanya, andai kau senantiasa melakukan itu, aku justru akan membebanimu. Selain itu dalam hati akan kuyakinkan1 tekadku.”

“Siapa yang, meyakinkan…lagi…”

Subaru hendak berkata biasa, namun tidak ada kata-kata yang tertutur.

Subaru tidak kuasa menahan emosi yang membengkak dalam dadanya. Sensasi tak terlukiskan, tak dimengerti, apakah ini? Agar tidak terhanyut dalam emosi yang tidak tertahankan itu, Subaru menggertakkan giginya sambil terus menghadap Emilia.

“Aku cuma mengambil dan mengambil darimu … jadi, kali ini, akan berbeda. Membuatku risau setiap kali aku gagal dan membuatmu serta semua orang khawatir … memastikan hal itu takkan terulang lagi, aku akan berusaha sebaik mungkin.”

Di depan Subaru, yang tertegun, diam seribu bahasa, senyum lembut nan berani tumbuh di wajah Emilia.

“Tolong tetap berada di sisiku, dan lihat usaha terbaikku. ――Hanya itu yang aku minta, Subaru.” Tukas Emilia.


“――――Kuh.”

Menembus angin, meregangkan kakinya selagi berlari, jantungnya tidak berhenti berdebar.

Setiap langkah kakinya yang menuruni lereng membuat cabang-cabang pohon menabrak pipinya, tersandung berkali-kali, Subaru terus saja berlari dengan panik.

“――――!!!”

Mengusir jeritan tanpa suara, mengosongkan tenggorokannya sampai mau robek, dia menatap malam melalui celah-celah tipis dedaunan, ke langit tanpa awan, ke bulan samar, terang di tengah-tengah bintang yang berkilauan, kemudian berteriak.

――Seolah-olah ingin memuntahkan semua kebodohan bin ketololan di dalam dirinya, lalu mengosongkan dirinya dari segala sesuatu.

――Senyuman tekad terakhir Emilia, masih terbayang di matanya.

Senyum itu, kebulatan hatinya yang diutarakan, kesombongan Subaru yang keliru. Laki-laki akhirnya mengerti apa rasa panas yang meraung-raung dalam dadanya. Karenanya, Subaru tidak tahan lagi untuk berada di sana. Malah, setelah berpisah dari Emilia, Subaru bergegas menuju hutan, berlari tanpa tujuan layaknya hewan.

Tidak membiarkan dirinya berdiri diam, tidak memperkenankan dirinya kabur dengan tidur, emosi itu akan terbakar semata-mata karena memikirkan Emilia――emosi itu adalah Malu. Rasa malu mendominasi seluruh eksistensi Subaru, melarangnya untuk berhenti.

“Aku…aku…aku…!”

Idiot bukan main. Sungguh, benar-benar, idiot yang tidak dibuat-buat.

Ketika Roswaal meremehkan Emilia dan menyebutnya mahluk, Subaru naik pitam. Subaru menampakkan giginya, berteriak, menyatakan bahwa dirinya takkan membiarkan Roswaal menghina Emilia.

Namun, tatkala dia bertemu Emilia setelahnya, sewaktu Subaru menegaskan bahwa semuanya dilakukan untuknya, ditolak, saat itulah dia baru menyadari.

――Orang yang paling bersalah karena meragukan, tekad, keteguhan, dan kekuatannya tidak lain Subaru sendiri.

Bimbang apakah semestinya melindungi Emilia, tidak rela membiarkannya merasakan kesedihan dan rasa sakit――

Atas alasan itu, dia memutar otaknya guna menjauhkan Emilia dari kesulitan apa pun. Menggantikannya untuk menantang Ujian, kemudian mencari jalan pintas sewaktu-waktu gagal, bahkan pun dalam kondisi tanpa harapan――akhir terburuk, kalau saja Subaru dapat mengurus Kelinci Besar sebagai tenggat waktu Sanctuary. Selama ini, Subaru memenuhi benaknya, berusaha menemukan cara untuk menyelesaikan segalanya tanpa perlu membiarkan Emilia menyelesaikan Ujian.

Selagi Suabru terobsesi dengan keinginan egoisnya yaitu melindungi Emilia dan menyusun rencana tuk melindunginya, gadis elf itu menguatkan tekad dan determinasinya malam-malam hari belakangan ini yang dia habiskan sendirian, memilih untuk tidak melarikan diri, namun menghadapi Ujiannya secara langsung.

Satu-satunya keinginan Emilia adalah menginginkan Subaru mendukung determinasi itu.

Namun, tidak lain Natsuki Subaru sendiri yang membengkokkan jalannya dari awal.

“――――!”

Begitu menyadarinya, perasaan malu tak tertahankan menerkam kepala Subaru.

Memberi Emilia beberapa jawaban tidak jelas ketika gadis itu memerlukannya, Subaru melambai pada gadis yang khawatir itu kemudian pergi menjauh, praktis kabur. Lalu, kaki mengantarkannya ke hutan, tempat dia sekarang.

Di Ibukota, keegoisan nan sombong yang persis sama telah melukai Emilia.

Tanpa mempedulikan pertimbangan atau pendapat Emilia, semata-mata memikirkan Wewenang barunya, Subaru tidak menjelaskan apa-apa tentang perilaku bebalnya dan membuka celah di antara mereka.

Sebab hal itu, sebab Subaru memastikan perasaannya kepada Emilia dan sudah mengekspresikannya, Subaru mampu berdiri di sini.

――Naas dia lagi-lagi salah.

Menggantikan luka Emilia, memikul beban Emilia, membersihkan jalan demi Emilia.

Walaupun dia sombong-sombongkan kepada Emilia, Subaru tak pernah menunjukkannya kepada orang lain. Paling tidak, sudah ada kenaikan dibanding kali terakhir――namun nyatanya, sama sekali tidak ada yang berubah.

Subaru cuma lebih mahir menyembunyikan lukanya.

Dia baru saja membungkam pribadi egoisnya yang menjadi-jadi sembari memamerkan luka-lukanya.

Tetapi dia masih memaksakan keegoisannya pada Emilia, mengaku dirinya benar.

“Aku…aku…ukh.”

Kehabisan nafas lagi terengah-engah selagi berlari, ketika dia melihat ke atas lagi, dahan tebal menabrak dahinya. Terjungkal ke belakang sambil merasa perih, rasanya seakan-akan pijakannya berada di ruang kosong.

Jatuh ke samping, menabrak tanah kotor dan dedaunan yang menutup permukaan, Subaru berbaring di atas tanah.

Tanah terlampau dingin yang akan menyedot semua kehangatan dari punggungnya, menarik nafas panjang, Subaru terbaring di sana menatap lurus ke atas. Melalui celah-celah di antara pepohonan, dia bisa melihat langit malam. Dunia tanpa lampu jalan ini, udara bersih dan menusuk, bintang-bintang bersinar cemerlang. Di bawah hamparan penuh cakrawala berbintang itu, dikelilingi rasi bintang yang tak dia kenal, Subaru merasa dirinya larut dalam alunan kecilnya sendiri, tentang ketidakpastian masa depannya, ketakutannya yang nyata, serta emosinya yang campur aduk.

Diterpa kelelahan mendadak, Subaru tidak kuasa menjaga kesadarannya.

Waktu nan kacau ini meninggalkan tidak hanya tubuhnya yang terbebani oleh kelelahan, namun juga pikirannya, terbebani oleh kerja keras yang tak terhitung perjuangannya, terus-menerus menariknya menuju kegelapan.

Return by Death. Pesta teh para Penyihir. Itikad Roswaal. Dirinya yang pongah, dan Emilia, yang memutuskan untuk berdiri sendiri.

Asyik dalam kekalutan pikirannya sendiri, Subaru mesti apa――


“Woi, kau kelihatan seperti sampah.”

Hal pertama yang Subaru rasakan tatkala dirinya bangun adalah hawa dingin yang menusuk kulit dan suara yang bebicara kepadanya.

Kelopak matanya berdesir di bawah sinar matahari nan dingin selagi dia meringis sambil membuka matanya. Tanpa sadar melihat matahari yang mengintip melalui pepohonan, matanya berkaca-kaca ketika mencoba membenarkan posisinya.

“Argh, ow, sakit…”

Mendengar suara persendiannya yang kaku, Subaru mengerang sakit.

Dinginnya tanah dan udara saat ia berbaring di tanah padat membuat tubuhnya kaku, setiap gerakan sendinya ditekan oleh rasa sakit yang nyeri.

“Kaga tau gua lu ngapain di sini, tapi tidur di tempat tanpa atap gak gua rekomendasikan. Seketika mendapati atap dan lantai, seorang Gauran mampir, begitulah kata pepatah.”

“Gauran apaan…ouch, lupakan saja.”

Menggelengkan kepala, Subaru menatap suara berisik itu――Garfiel, mengklik taringnya dan menatap Subaru di tanah.

Sesudahnya, Subaru yang kembali sadar teringat situasi yang membuatnya begini.

“Benar…juga……Aku ketiduran seperti ini semalaman…”

“Gua nyium baulu di hutan selagi berutinitas pagi dan menghampiri untuk melihat ada apa di sini. Terbaring terlentang seperti itu, meskipun seseorang ngebuatlu dan jadi seperti ini.”

“Sebagai tersangka utama, jikalau kau tidak melakukannya, aku ragu orang lain akan. Tunggu dulu, sekarang jam berapa…?”

Sambil memegangi dahinya, Subaru menolehkan kepalanya yang berat lantas bertanya. Mendengar ini, Garfiel mendengus seraya nyeletuk “Hah”, lalu…

“Tidak perlu terburu-buru, masih belum waktu sarapan. Selain kakek dan nenek yang beranjak bangun, cuma lu dan gua aja yang udah terjaga.”

“Jadi belum ada orang yang merindukanku, kalau begitu. Akan jadi soal kalau aku tidak kembali ke Katedral sebelum…atau, langsung saja…”

Jika Subaru tidak kembali semalaman, Otto, yang kembali sebelum dia, barangkali curiga ada sesuatu yang salah.

Walaupun tidak ada masalah dalam dirinya sendiri, Subaru lebih suka mencegah terciptanya kecemasan pada para pengungsi Arlam. Dengan segunung masalah seperti ini, semakin menambah konflik karena ketidakpercayaannya sendiri takkan termaafkan.

“…Mukalu berbeda dari malem kemaren.”

“Hah?”

Memanfaatkan pohon terdekat sebagai penopang untuk berdiri, Subaru memutar lehernya saat mendengar panggilan Garfiel.

Melihat ke belakang, Subaru mendapati Garfiel menggaruk-garuk rambutnya yang pendek dan keemas an.

“Kemaren gua kagak tahu kalau lu ini kelewat ambisius atau enggak, tapi sekarang nampaknya … wajahlu terlihat segar atau semacamnyalah.”

“―――― “

“Cih, kek gitu lagi. Lu kagak bisa ngomong, ya … woi, lu ngetawain apa?”

“Kh, haha…”

Menanggapi perkataan Garfiel, Subaru menyentuh pipinya. Merasa ujung bibirnya agak mendengur, tawa setengah-setengah keluar dari tenggorokannya.

Mula-mula gelak tawa itu lirih dan tertahan-tahan, namun berangsung-angsur semakin keras.

“Hah, hahaha! Aku kelihatan segar!? Benar nih, aku kelihatan begitu?”

“Ya, emang ngapa? Apa sih yang lucu……”

“Kau keliru, Garfiel. Cuma, keliru saja.”

“Hah?”

Menekan hasrat untuk tertawanya, Subaru menunjuk Garfiel, dan…

“Aku sema sekali tidak segar. Bagian dalam tubuhku retak-retak dan berdebar-debar, jujur saja, sekarang ini, rasanya seolah-olah aku bisa meledak kapan saja. Semua yang coba aku perjuangkan menjadi bumerang … dan aku sungguh-sungguh tidak tahu mesti apa sekarang.”

“――――”

“Lalu, sewaktu menyadari aku terjebak, itu membuatku merasa ingin tertawa. Bila semua yang berusaha aku lakukan tidaklah berguna … maka aku kembali ke awal lagi, kan.”

Bergumam tanpa daya, bahu Subaru terkulai lemas.

Sekiranya Subaru sudah salah dari awal, lantas semua pemikiran dari masa itu adalah salah jua.

Tenggat waktu yang perlahan-lahan mendekat, barulah sekarang dia terlambat menyadari bahwa dirinya salah rencana. Buruknya, dia menghadapi masalah tanpa ada orang yang mampu memberikan solusi.

Garfiel mengerutkan hidung, tidak yakin harus berkata apa pada Subaru yang sedih. Subaru juga tahu Garfiel takkan langsung menjawab mana kala dia bertanya, yang dirasakan bocah manusia itu adalah patah hati.

Setelahnya, keheningan canggung jatuh di antara mereka――sampai…

“――Semisal aku yang memberitahumu harus apa, bagaimana?” Kata seseorang.

“――――!”

Subaru cepat-cepat menoleh ke arah datangnya suara, yaknik dari atas, tapi Garfiel tidak tampak terkejut ketika melihat kea rah yang sama, barangkali karena sudah merasakan kehadirannya.

Di ujung tatapan mereka, meliuk-liuk melewati celah di antara pepohonan, orang itu adalah.

“…Otto?”

“Mhm, selamat pagi. Yup, ini aku.”

Didampingi oleh suara ranting-ranting yang patah di bawah kakinya, Otto tersenyum agak tidak ikhlas selagi mendekat. Kendati kedatangannya mengejutkan Subaru, Garfiel cuma mendecakkan lidah.

“Cuma mau bilang, gua juga baru nemuin dia. Bukan berarti gua lupa kalau elu mau ngomong sama si ini nih.”

“Aku tidak mempersoalkan hal itu. Lega saja mendapati Natsuki-san sehat sentosa. Lagian――keberatan ‘kah seumpama aku membuat suatu permintaan?”

“…Ucapkan saja.”

Berkenankah memberi waktu untuk berbicara empat amta dengan Natsuki-san? Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan.”

Di depan Subaru yang masih kebingungan, Otto serta Garfiel berbincang-bincang sembari merasakan hembusan angin. Menggertakkan gigi terhadap permintaan Otto, Garfiel melirik Subaru.

“Jangan lakukan hal konyol aja.”

Sesudahnya, dia meninggalkan mereka. Menginjak-injak rumput, keluar dari hutan, Garfiel kembali ke Sanctuary. Melihat kepergiannya, Subaru membasahi bibir dengan lidah.

“Kedengarannya kau menemukan sisi baik Garfiel saat aku tidak berada di sana.”

“Itu karena aku tidak hanya diam saja selagi kau berpetualang kecil, Natsuki-san. Ada pemahaman mendalam antara para pengungsi dan penduduk di sini, dan…yah, kini tidak begitu berarti.”

Setengah jalan menjawab jujur pertanyaan Subaru, Otto tiba-tiba menolak topik itu dengan lambaian tangan lanjut mengunci pandangannya pada Subaru. Atau lebih tepatnya, pelototan tajam. Intensitasnya lebih condong ke melotot.

“Anu, ada apa…”

Gelisah betul oleh pelototan itu, Subaru hanya dapat bergumam lirih. Mendengarnya, Otto menghela nafas kecil.

“Sekalipun sepotong-sepotong, aku mendengar keluhanmu. Natsuki-san, sepertinya kau tengah terpojok…oleh suatu hal.”

“――――”

“Biasanya, aku takkan tahu detail-detailnya, jauh-jauh dari urusan orang. Tapi kau pasti sudah mentok, bukan? Kalau tidak kami tidak akan mendengarmu mengoceh-ngoceh mesti apa sekarang?”

“Lantas, aku harus apa? Bilangnya kau dapat membantuku.”

Mendengarkan komentar Otto yang sinis, Subaru mengutarakan apa yang dituturkan Otto sewaktu pertama kali memotong pembicaraan.

Tentunya, itulah yang diujar Otto saat Subaru dan Garfiel membisu. Maksudnya apa seketika mengimbuhkan hal itu?

“Kau bilang dapat memberitahu hal yang harus aku lakukan……”

“Ya, aku tahu itu. Sebenarnya sederhana kok.”

“Seder…hana.”

“Mau tahu?”

Cara bicara itu membuat Subaru jengkel.

Setelah semua yang dia derita, berakhir dalam keadaan menyedihkan ini, yang orang ini tukas membuat Subaru dongkol sepenuhnya.

“Y-ya iyalah! Aku mau tahu! Berhenti bercanda! Misal ada sesuatu yang kau ketahui, kalau begitu…”

“Okelah, bersiap, ya.”

“B-bersiap…?”

“Ya. Pertama-tama, ambil nafas panjang nan dalam…”

Sambil mengulurkan tangan, Otto menyuruh Subaru menarik nafas. Biarpun tidak tahu maksud Otto, Subaru tetap mengikuti instruksi dan menyesuaikan nafas, memejamkan mata dan membiarkan paru-parunya mengembang――

“――――!?”

Detik berikutnya, benturan tajam menghantam wajahnya, membuatnya jatuh ke tanah.

Gagal mempertahankan keseimbangannya saat jatuh, yang pertama menabrak tanah adalah wajahnya. Lekas menggelengkan kepala, melihat sekeliling, mencari tahu apa yang terjadi, dia melihat Otto mengacungkan tinjunya, barulah kemudian menyadari dirinya telah dipukul.

Di sana, di hadapan Subaru yang megap-megap, Otto mengepalkan tinjunya yang memerah, dan…

“Kau sepatutnya berhenti bersikap angkuh ketika berada di depan temanmu, Natsuki Subaru.”

ilus CH 85.png

4 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 85”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *