Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 79

Posted on

Akhir Dari Mimpi

CH 79.jpg

Penerjemah: DarkSoul

Saat Subaru menyadari oksigen telah melewati tenggorokannya, dengan batu berdahak-dahak, Subaru menyemburkan sisa darah yang menggumpal di tenggorokannya.

Masih ambruk dengan muka di tanah, kempang-kemping, dia menarik nafas dalam-dalam demi menyambung hidupnya.;

Tidak ada waktu untuk memikirkan betapa malangnya Subaru sekarang.

Walaupun, dia yakin betul betapa sengsaranya untuk berpegang teguh kepada maut setelah menggigit lidahnya sendiri sampai mati.

Tapi…

“Apakah…”

“――Hm?”

“Apakah hidupku…ada artinya…? Selain mati… mati lagi dan lagi…apa aku bahkan berarti…?”

Kembali dari kematian, dan menyelamatkan semua orang dari keputusasaan. Subaru percaya bahwa membayar nyawanya demi menemui akhir bahagia adalah satu-satunya arti hidup Natsuki Subaru.

Tapi, apa oke-oke saja untuk berpikir sebaliknya?

“Apa tidak apa-apa…untuk berpikir bahwa pribadiku ini…ada artinya selain Return by Death? Berpikir…bahwa orang-orang yang aku pedulikan…juga mempedulikanku?”

“Mana kutahu”

Minerva membuang muka dan menembak pertanyaan sungut Subaru.

Setelah kehilangan lengan kanan dan kedua kakinya, Minerva menggunakan tangan kiri untuk menjauh dari Subaru. Kemudian, mengarahkan wajahnya ke bahu kanan――lalu dia gigit. Tiba-tiba, tangan kanan Minerva yang seharusnya buntung tumbuh kembali dari tetesan cahaya. Membuka dan menutup kepalan tangan kanannya yang telah pulih, lanjut meninju kakinya―yang buntung dari paha sampai ujung kaki, sesudah ditinju tumbuh kembali.

Roknya yang sudah pendek telah dicukur lebih pendek dan tangan kanannya sekarang terbuka penuh tetapi, meski kostumnya compang-camping, sang Penyihir Kemarahan sudah kembali ke kondisi semula.

Kemudian dia berdiri dengan kaki baru, menyilangkan lengannya di bawah payudara super besarnya, lalu menatap Subaru.

“Aku tidak tahu-menahu soal hidupmu itu ada artinya atau tidak. Tapi dia betul-betul ingin kau hidup……Dan sudah kau lihat di Ujian kedua, kan?”

“…Tapi Ujian Kedua…adalah kesalahnku…dan dosa-dosaku…”

“Kau bodoh ya? Bukan berarti kau bertanggung jawab pada dunia yang kau kacaukan. Itu untuk menunjukkanmu betapa sedihnya semua orang akibat kesalahanmu――Begitukan, jawaban yang kau damba-dambakan?”

“――――h”

Subaru ingat.

Suara yang hendak menangis. Suara yang menyesakkan penyesalannya. Suara yang dengan lirih menghantarkannya pergi. Bisikan cinta dari seseorang yang mempercayai Subaru. Dan kata-kata yang memulai semuanya yang nantinya akan menjadi penyemangat Subaru.

Tidak satu pun semestinya Subaru dapatkan.

Tanpa apa-apa, kehilangan yang seharusnya dia miliki, Subaru dipanggil ke dunia ini.

Untuk membuktikan keberhargaannya, laki-laki itu hanya bisa bertarung. Demi melindungi semua yang dia sayangi, dia mesti menempuh jalan sepi itu.

Kupikir diriku hanya pernah menerima sesuatu dari orang lain, tapi tidak apa-apakah untuk berpikir sebaliknya?

        Akankah mereka menangisi diriku?

        Akankah mereka menyesali ketidakberdayaan mereka sendiri, demi diriku?

        Bersediakah mereka melihat masa depan bersama denganku?

        Ketika kami sampai di sana, orang-orang yang aku cintai, berkenankah mereka memberikanku tempat untuk tersenyum di dekat sana?

Adapun soal Subaru berada di sana atau tidak dia sendiri tidak yakin.

Tapi tentu saja, seandainya Subaru menapaki jalan itu sendirian, pada akhirnya, tempat itu akan tidak ada untuknya.

Hatinya,, yang telah berubah menjadi baja sampai-sampai kuat bertarung dengan tekad tak tergoyahkan, takkan punya kelembutan sedikit pun untuk menumbuhkan senyum di bibirnya.

Dari semua hal itu, apa boleh-boleh saja untuk mempercayainya?

Entah mendapatkna masa depan itu untuk orang-orang tersayangnya dengan mengorbankan hati sendiri.

Kesampingkan dua opsi itu, apakah ada pilihan lain yang lebih serakah?

Dalam masa depan itu, bersama semua orang yang dia sayangi, dapatkah Natsuki Subaru juga berharap untuk menjaga diirnya sendiri?

“――Kau bisa” ucap Satella.

“――――” Subaru terdiam.

Hanya menitikkan air mata semata, itu adalah pemikiran Subaru yang tak dapat disuarakan.

Tapi waktu jawaban itu terucap begitu sempurna seolah-olah ucapan itu telah bekerja sama dahulu dengan suara.

Masih terbaring di tanah, Subaru menoleh ke belakang Minerva――menghadap seorang gadis yang jatuh berlutut di rumput, tersenyum tanpa menyeka tetes matanya.

Subaru masih tidak bisa meliaht wajah Satella.

Selubung kegelapan masih menutupinya, bahkan sampai sekarang, Subaru tidak tahu bagaimana ekspresinya. Tapi entah bagaimana Subaru tahu dia tersenyum.

Echidoa telah memberitahunya. Alasan Subaru tidak melihat wajah wanita itu adalah karena dia tidak bisa menerima Satella. Bocah itu tahu betul dia tersenyum, tapi benaknya menutupnya.

“Kau menyelamatkanku. Tentu, kau juga layak diselamatkan. Aku ingin kau diselamatkan” ujar Satella.

Sadar akan kata-kata dan suara Satella yang merembes ke dalam jantung remuk Subaru. Subaru membenamkan wajah dalam tangannya. Pasti jelek karena menangis terus, dan tidak mungkin lagi dia bisa kelihatan lebih goblok dari saat-saat ini. Akan tetapi, Subaru tidak ingin orang lain melihatnya.

Bahkan setelah melancarkan pelecehan tanpa ampun itu, bagaimana bisa Subaru merasa lege setelah mendengar tutur Satella? Dan bagaimana pula membiarkan kata-kata itu menenangkan paras Subaru? Termasuk imbuh “Cinta” Satella tak terjelaskan itulah yang memberi Subaru arti sebenarnya dari Ujian.

“…Aku terkejut melihat Minerva berhasil menembus Typhon dan Sekhmet, tapi, menurutku yang lebih mengejutkan adalah kalian berdua”

Mengindahkan wajah Subaru yang terkubur, Echidna diam-diam mengoceh.

Setelah melihat Minerva yang telah beregenerasi, Echidna mengalihkan tatapannya ke arah lain――menuju peti mati hitam yang menyematkan Typhon di tanah dengan cakar-cakarnya, sang pemilik, Daphne. Menghadap Sekhmet.

Mendengar ocehan Echidna, Daphe tertawa berkotek. Dia membuka bagian bawah kekangnya, dan melangkah ke rumput tanpa alas kaki, menjulurkan lidahnya.

“Aku tentunya adalah musuh alami terbaik Ty-Ty~…Peti Lipan-ku tidak pandang bulu…Bertindak sebagai tangan dan kaki Daphne~ Wewenang Ty-Ty tidak bekerja padaku…”

“UUuu~, Phinnie~hentikanlah~~! Hnn~! UUUU~!”

“Jadi, haa…Kau menunjukkan sifat aslimu demi mencegah gerak-gerikku? Huu. Aku bukan Echidna, haa. Kenapa repot-repot melakukan itu? Huu…Nggak seperti Minerva, aku tidak tahu mengapa kau ikut terlibat, haa”

Sekhmet dengan kasar menggaruk rambutnya yang terlalu tinggi mengambang di udara. Dengan Typhon yang disandera, bahkan Sekhmet tidak bisa serampangan di sini. Mendengar pertanyaan sang Penyihir Kemalasan, Daphne menyisir kunci pendeknya dan tersenyum “Yahhhhhh~”

“Subaruuun~, dia membuat beberapa penawaran yang cukup besar untuk Daphne~. Sesuatu seperti membunuh Paus Putih, kemudian Kelinci Besar~? Jadi~aku tengah berpikir~aku ingin dia paling tidak hidup lama untuk mewujudkannya~”

“Itu sudut pandang yang menarik. Kalau Subaru fokus pada hal itu, tentu saja dia akan mencapainya. Kau mengetahuinya, bukan? Atau……kau benar-benar ingin Kelinci Besar dihancurkan?”

“Apa bedanya~? Ketika Kelinci Besar teprisah dari Daphne~, perut mereka tidak lagi ada hubungannya dengan perut Daphne lagi~, entah dihancurkan atau tidak sama sekali nggak memusingkanku~……tapi aku tertarik untuk melihat bagaimana akhir Kelinci Besar yang mewakili rasa lapar tak terpuaskan Daphne~”

“Lagi pula,” lanjut Daphne.

“Kalau akhir Kelinci Besar adalah dipuaskan~……Akhir itu akan menjadi kebahagiaan yang benar-benar asing bagiku~”

Daphne, yang terus-menerus disika oleh kelaparan yang takkan ada habisnya, rasa puas adalah impian yang jauh tak terjangkau.

Kelinci Besar adalah cerminan kelaparannya yang tak berkesudahan, dan bahkan mungkin, lebih lapar dari Daphne sendiri. ――Walaupun Penyihir Kerakusan kurang sadar akan hal itu.

Semisal Kelinci Besar menemui akhir berbeda dari yang Daphne perkirakan, apakah itu bisa disebut kepuasan? Apa mungkin Daphne bisa puas? Dengan ketertarikannya pada hal lain selain makanan, dia tersenyum.

Mendengar jawaban Daphne, Echidna mengangguk puas, dan sekali lagi memalingkan kepalanya. Bukan kepada Subaru, Satella, atau Minerva. Mau pun Daphne dan Sekhmet juga Typhoon, tapi seseorang yang, seperti Echidna sendiri, tetap mendekam di tempat yang terisolasi dari keributan.

Melihat Camilla si Penyihir, Echidna dengan lembut membelai rambut putihnya.

“Dan bagaimana denganmu, Camilla? Apa kau menyukai Daphne?”

“A-apa, kau ingin…mengatakan sesuatu…? E-Echidna…chat…?”

“Sederhana sih. ――Kau muncul di alam bawah sadarnya ketika Subaru hampir mati, persis ketika dia hampir saja binasa. Memiliki Wewenang Dewi Tanpa Wajah kau pastinya tahu bagaimana hasilnya”

“――――”

“Panggilanmu akan sangat berarti baginya. Kau sudah tahu ini. Lantas kutanya kau. Kau nampaknya tidak menyukai Subaru? Jadi mengapa membantunya?”

Mendengar pertanyaan Echidna, Camilla menyentuh bibirnya sambil mengubah arah amta. Dia melirik Daphne dan Minerva, seakan-akan berharap ada orang lain yang datang membantunya.

Tapi tidak ada Penyihir yang terpikat oleh Camilla yang lemah lembut.

“Itu……tidak, ada ala…san, kan? Subaru, menolak…Godaan E-Echidna-chan, alhasil, aku sudah, puas……dan, semua orang, mulai, bertarung satu sama lain, tidak jelas…tapi, itu tidak ada, hubungannya, denganku……”

“Tidak ada hubungannya?”

“C-cinta, itu urusan yang…besar, tahu? Tidak baik, untuk…menolak…nya. Dia, tidak…ingin, melihatnya, tapi, di sana, ada Cinta…dan ketika, ada cinta, di sana……Maka takkan kubiarkan, ditolak. Dan, aku…sungguh sangat benci jika tidak ada kompensasi”

Mendengar hanya bagian terakhir yang diucapkan dengan sangat jelas, Echidna mengangkat bahu.

Sang Penyihir Keserakahan tersenyum masam, lalu satu persatu melihat Penyihir-Penyihir lain.

“Sekhmet dan Typhoon menghargai keinginan Subaru dan ikut campur tangan, sedangkan Minerva menghargai nyawanya dan disembuhkan. Daphne bantu memperpanjang nyawanya agar bisa melihat tekad perjuangannya, dan Camilla menggunakan Wewenang untuk memberitahu Subaru cinta yang dia tolak untuk dilihat. ――Jadi, semua orang di sini, dengan alasan berbeda-beda, memutuskan untuk membantu Subaru”

Mendengarkan penilaian Echidna atas aksi kawan-kawannya, semua ekspresi Penyihir berubah.

Kebanggaan memiringkan kepalanya, Kemalasan menghela nafas lesu, Kemarahan mendengus dan melipat tangannya, Kerakusan mengunyah salah satu kakinya yang panjang dan tersenyum, sementara Hawa Nafsu dengan sedih merengut. Dan, melihat semua hal ini, Keserakahan memegangi rahminya.

“Sungguh mempesona. ――Benar?”

Bibi Echidna melembut ketika senyum bahagia tampak di wajahnya.

Tuturnya ditujukan pada orang di hadapannya――Subaru, goyah saat dia berdiri.

Setelah menyeka jejak air matanya dengan lengan baju, baru sekarang akhirnya berhasil berdiri, Subaru tidak menanggapi pertanyaan Echidna.

Subaru hanya melihat dengan tatapannya yang loyo, lalu memandangi para Penyihir lainnya, lalu…

“Kalian ini…ngapain”

“――――”

“Keingintahuan. Simpati. Empati. Tugas. Harapan. Kemuakan. Tidak satu pun alasan kalian membantuku masuk akal. Kurasa aku mengerti kenapa kalian dipanggil Penyihir”

“Karena kau telah kembali untuk mengumpat, barangkali kekuatanmu sudah pulih?”

“…Aku tak tahu”

Echidna menyipitkan satu mata sedangkan Subaru menekan dadanya dan bergumam.

Beberapa kata yang tumpah itu dengan sempurna mencakup semua perasaan Subaru saat ini.

“Semestinya aku memutuskan…apa yang harus kulakukan. Hal-hal yang mesti kuusahakan belum berubah. Itu sudah pasti. Pasti…”

Tapi, lanjutnya, lebih kepada diri sendiri ketimbang orang lain.

Sudah kutetapkan bahwa ini adalah satu-satunya cara. Itulah pilihanku…ketetapan yang telah kupilih. Walau demikian, di sini, Ujian menghancurkan semuanya”

Ujian Kedua, masa kini yang seharusnya tidak kau saksikan――terjebak oleh konsekuensi tindakannya dan kenyataan bahwa dia tidak lagi bisa menggunakan Ketetapan Hati untuk membetulkan hatinya yang telah terobek-robek.

Dipaksa untuk menyaksikan semua kejadian itu, Subaru mencoba tidak menghiraukannya, dan mendorong jauh-jauh dengan ketetapan itu. Faktanya, begitulah yang seharusnya terjadi.

“Tapi ketika aku mengetahui alasan kalian semua membantuku, dan Satella yang mendadak muncul di hadapanku…kepalaku luluh lantak. Kalian semua…bisakah kalian menghentikan semua ini? Yang aku mau hanyalah biarkan saja. Tapi, kalian malah…”

Saat ini, bagaimana bisa dia mengandalkan kehidupan yang sudah Subaru putuskan sebagai barang yang bsia dibuang?

        Kini, bagaimana bisa dia mulai menghargai nyawa yang tujuannya untuk dikorbankan sebesar mungkin?

        Sekarang ini, apa yang bisa dia lakukan setelah mengetahui dirinya dicintai?

“Aku…tidak tahu…harus melakukan apa”

Kau tidak bisa melindungi orang lain kalau mati! Rasionalitas Subaru menjerit.

Ada orang yang akan sedih adai kata kau melukai dirimu seperti ini, ucap ingatan Subaru.

Orang-orang akan menderita bila Subaru tidak mati, dan tetap akan menderita kendati hidup.

――Kuhadapkan dirimu dengan pertanyaan ini sekali lagi, Natsuki Subaru

Selagi Subaru menggelengkan kepalanya penuh kebingungan, Echidna menghembuskan nafas dan berkata. Mendongak, Subaru melihat Echidna mengangkat satu jari.

Melihat rupanya terlefleksi dalam mata Subaru, Echidna mengangguk pelan.

“Jikalau dirimu meminta bantuanku, kehendakmu, tanpa gagal, mencapai masa depan yang semua orang tersayangmu selamat. Kalau begitu takkan ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kasarnya, aku akan menyelesaikan semua masalah yang kau hadapi. Yang kau lakukan hanyalah fokus menerapkan solusi-solusi ini, dan selama mengatasi halangan-halangan tersebut. Andaikan beban konstan ini terlalu menyakitkan bagimu, kau punya pilihan untuk menyerahkan semuanya padaku. Aku tidak akan menyalahkanmu karena hal itu, kau berhak menyerahkan semuanya padaku. Takkan kukecewakan dirimu, dalam arti tertentu, justru akan kusambut. Jadi, kuhadapkan dirimu dengan pertanyaan ini sekali lagi”

“――――”

“Tersesat dan tidak tahu arah, bersediakah dirimu mengizinkan diriku membantumu? Akan kubantu, tanpa gagal, mengantarmu ke masa depan itu. Aku bersumpah”

Mengatakan ini dengan lirih, Echidna mengulurkan tangannya kepada Subaru.

Menatap jari putih Echidna, kemudian melihat wajahnya yang menunggu jawaban, nafas Subaru membeku.

Itu adalah ucapan sama yang Subaru baru saja tolak.

Dahulu ketika Subaru pertama kali mengetahui sifat asli Echidna, dia merasa takut dengan rasa penasaran yang intens.

Tapi, bagaimana dengan sekarang? Waktu sudah lama berlalu dan diam-diam merenungkan kata-katanya, bagaimana? Memperlakukan hidupnya sebagai bahan habis pakai, menempuh segala bentuk percobaan yang berujung gagal, menggunakan tinju untuk menerobos rintangan yang menghalangi jalannya. Antara menerima nasihat Echidna, berjuang dengan mengorbankan hatinya――juga menolak tawaran bantuannya, memutuskan untuk berjuang sendiri, apa bedanya?

Itu karena otaknya saat itu keras kepala, jijik pada sikapnya, membuat Subaru menolak tawarannya. Tapi bila mana Subaru benar-benar mempunyai kebulatan utuk mengabaikan semuanya dan mengorbankan dirinya sendiri, andai dia bisa mengabaikan sifat Echidna, lalu mengapa Subaru tidak menerima tawarannya?

Menolak tawaran Echidna cuma karena mengikuti ego untuk melanjutkan jalan yang sama persis――kebodohan ini apa untungnya?

Semestinya Subaru meraih bantuan itu.

Kalau saja dia memiliki tekad untuk menelan semua rasa sakit dan penderitaan, serta berjuang tanpa takut terluka, maka dia harus meraih tangan itu.

Dan…

“Echidna” panggil Subaru

“――――”

“Aku tidak suka rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Aku tidak ingin lagi melalui pengalaman mengerikan itu, dan aku tidak ingin melihat orang lain mengalami nasib yang sama. ――Aku tidak ingin mati”

“――――”

“Jadi, dirimu yang mensyaratkan pengorbanan――aku tidak lagi bisa menahannya”

Bahkan Subaru tidak yakin apa yang bisa dia lakukan sendirian.

Tapi tampaknya dia tidak memilih jalan yang Echidna paparkan.

Subaru sadar bahwa dia tidak ingin mati. Dia tahu bahwa, ketika dia berpikir kematian adalah satu-satunya usaha, ada juga beberapa yang menerima keberadaannya walaupun dia tidak mati.

Natsuki Subaru bukanlah seorang pria yang hanya menghargai kematian.

Orang-orang yang berduka padanya melakukan itu karena melihat nilai dari kematian Subaru.

Lantas, apa yang mereka lihat dari Subaru sampai berduka?

“Aku masih tidak tahu apa yang mereka lihat. ――Tapi, aku berniat untuk mencari tahu. Aku punya firasat bahwa suatu hari aku menemukannya, aku mampu membayar kembali semua orang dengan cara lain selain kematian”

“…Tapi jalan itu berduri, Natsuki Subaru. Menggunakan Kematian sebagai alat untuk membuka jalan, mempermudah mengatasi situasi dan lanjut melangkahi jalan itu, tidak salah lagi itu adalah jalan tercepat, sekalipun berbahaya. Satu-satunya hal yang perlu kau tawarkan adalah hatimu. Tapi menolak ini, berniat untuk menjaga hatimu dan masa depan orang-orang yang kau cintai adalah tugas yang teramat sulit, dan terlebih lagi――”

Kala ini, Echidna berhenti sejenak. Kemudian, dengan senyum paling gemilang yang pernah dipasang wajahnya.

“――Itu keserakahan, benar”

Menegaskan hasratnya, sang Penyihir Keserakahan menerima keputusan Subaru Degnan wajah puas.

Sayangnya, meski ditolak, Penyihir ini masih tersenyum bahagia. Bukan sesuatu yang mudah dipahami, tapi…

“Sebenarnya kau sudah menyelamatkanku berkali-kali…Walaupun, jauh di lubuk hati, kau menganggapku semacam binatang percobaan…hal itu masihlah sebuah kenyataan”

Dengan berada di sini, Echidna telah mendukung hati Subaru, dan membantunya melewati waktu-waktu sulit.

Jadi, karena telah memberikannya penangguhan hukuman untuk mempertahankan hatinya, Subaru betul-betul berterima kasih padanya.

“――Garfiel tolol nan menyedihkan itu takut pada dunia luar”

“…Hah?”

“Yang anak itu lihat pada Ujian Pertama selalu mengikatnya. Misalkan kau memecahkan situasi itu sendirian, kau harus membatalkan kutukan itu”

“Echidna?”

“Penyihir-Penyihir lain juga melakukan hal yang baik padamu, nah jika aku tidak memberikanmu sesuatu, nanti kau menganggap aku apa? Aku tidak ingin kau berpikir begitu, semua Penyihir mempunyai hati yang baik, kecuali si Echidna yang kejam itu. Lagian, aku ini seorang gadis, dan aku agak menyukaimu”

Mengatakan ini dengan cepat, Echidna menusuk dada Subaru.

Terdesak mundur selangkah demi selangkah, tatkala Subaru mendongak lagi, Echidna sudah mengalihkan wajahnya. Rambut putihya yang berdesir, Penyihir Keserakahan itu menjauh dari Subaru. Para Penyihir lai juga, diam-diam memperhatikan Subaru.

“…Aku hanya tidak bisa memahami kalian semua”

“――――”

“Kalian semua membuatku gila, mengotak-atik kepalaku seperti itu, dan aku masih kesal dengan perkataanmu. Selama itu aku terus berpikir Berhentilah membicarakan hal-hal yang tidak aku mengerti! Aku sungguh-sungguh tidak bisa tahan dengan kalian…”

Itu benar.

Semua Penyihir mempunyai idealisme tak tergoyahkan kuat sampai melampaui idealism Subaru――atau orang normal mana pun.

Karenanya, Subaru tidak memahami mereka, atau setuju dengan tindakan mereka.

Tetapi tepat seperti perasaannya terhadap Echidna, pemahaman dan rasa terima kasih adalah hal yang berbeda.

“Terima kasih…karena membiarkanku mati. Terima kasih…karena membiarkanku hidup. Terima kasih, karena membiarkanku mendengar saran-saran penting itu. ――Atas semua hal ini, terima kasih”

Subaru menundukkan kepalanya ke para Penyihir secara bergantian, sedikit senang oleh tarikan napas singkat mereka.

Kemudian, Subaru berbalik, dan berjalan maju.

Di hadapannya, adalah seorang gadis yang tengah berlutut di atas rumput――Satella.

Satella mendongak saat Subaru mendekat, menahan napas seolah-olah tenggorokannya membeku. Melihatnya ketakutan, duduk diam di sana seperti gadis kecil, Subaru terdiam seribu bahasa.

Mengapa, ketika dihadapkan dengan seseorang yang dia pikir menjijikkan, hatinya dipenuhi kehangatan?

Emosi apa yang dia simpan di dalam dirinya untuk seseorang yang belum pernah dia sentuh?

Subaru telah memperoleh terlampau banyak pertanyaan tak terjawab sejak tiba di sini.

Masih tanpa jawaban, hanya memilih untuk terus berjuang, Subaru mengulurkan tangannya pada sang Penyihir di tanah itu.

Satella melihat tangan terulur Subaru, termenung dan tak yakin.

“Aku tidak tahu siapa dirimu. Aku tidak tahu kenapa kau menyatakan cinta padaku, atau apalah…ketika kau bilang aku pernah menyelamatkanmu”

“a……”

“Tapi, Return by Death yang kau berikan menyelamatkanku, itu adalah fakta. Berkat dirimulah, aku berhasil sampai ke titik ini. Itu adalah kebenaran”

“――――”

“Return by Death bukanlah satu-satunya pilihan…kan?”

“――――”

“Sudah sepatutnya tidak bergantung penuh pada hal itu, harus lebih mencintai diriku lagi…itu maksudmu, kan?”

“――――”

“Aku tidak akan berpura-pura bahwa solusi mudah benar adanya. ――Tapi kau…orang yang melimpahkanku Return by Death…tidak ingin aku mati. Sekarang aku tahu kepastiannya”

Itulah sebabnya…

“Seperti yang kau tukas, aku akan…sedikit menyayangi diriku sendiri. Menghargai diriku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika melakukannya…tapi tidak apa-apalah”

“…Akankah dirimu sehat selalu?”

“Ya…disbanding mati, itu tidak berarti apa-apa”

Menjawab suara khawatir Satella, Subaru berusaha keras untuk menunjukkan senyum tipis.

Seakan-akan lega melihat ekspresi Subaru, Satella meraih tangannya.

Seketika, suara dunia yang jatuh memekakkan gendang telinga Subaru.

Cakrawala biru dan ladang rumput hijau mulai pudar warnanya saat Natsuki Subaru terbebas dari Benteng Mimpi.

“――――Baiklah…aku pergi, ya?”

Subaru tidak bisa lagi mengingat bagaimana, atau megnapa, dia datang ke sini.

Yang dia lakukan pertama kali ketika keluar? Demi alasan ini di dalam hatinya, hal itu tidak jelas.

“Jangan…berjuang sendirian. Lakukan bersama orang-orang yang peduli padamu…” ujar Satella.

“――――”

“Orang-orang yang tidak menginginkan kematianmu, orang-orang yang tidak akan membiarkanmu mati, bertarunglah bersama mereka……Biarpun tidak cukup, jangan lupa bahwa kau takut pada kematian”

“――――”

“Jangan lupa…bahwa ada orang yang mendukakan kematianmu――”

Dunia hancur berkeping-keping. Suara Satella semakin jauh. Kenyataan yang mengoyak-ngoyak hati Subaru.

Telapak tangannya sangat panas.

Tapi tidak boleh dilepaskan, harus dirasakan.

“――!”

Dia tidak bisa merangkai kata-kata untuk memanggilnya.

Dia tidak bisa membunyikan namanya. Satella, nama itu tak boleh terucap dari bibirnya. Hasratnya untuk menolak Satella berkelahi dengan keinginan untuk menerimanya.

Langit roboh ke bawah. Bumi hancur lebur. Cahaya banjir keluar sampai-sampai sekelilingnya bukan lagi Benteng Mimpi.

Penyihir lain telah menghilang, meninggalkan Subaru dan Satella seorang di dunia ini.

Semuanya sirna. Mulai membentuk hal baru. ――Subaru cuma mengamat-amati Satella di depannya, tidak dapat mengucap apa-apa

“――――”

Mendadak, tabir kegelapan buyar.

Bayangan tak tertembus yang terbentuk oleh alam bawah sadar yang menolak kehadiran Satella bercerai-berai. Dan, ketika dia melihat wajah dibaliknya, tenggorokan Subaru tercekat.

Di hadapan Subaru yang tidak bernapas, rambut perak Satella berayun, terdapat air menetes jatuh dari ujung matanya yang menyipit, mata ungu――

“Dan suatu hari――kau harus datang, lalu membunuhku”

Mengabur.

Menghilang.

Dunia terhapus, dan bahkan gadis di depan matanya telah lenyap.

“Aku…akan――”

Hanya, mengepalkan kehangatan tertentu yang masih tersisa di telapak tangannya.

“――Menyelamatkanmu, pasti”

Kata Subaru pada gadis yang menghilang itu, gadis tercinta.

9 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 79”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *