Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 79.5

Posted on

Setelah sang Tamu Pergi

CH 79.5.png

Penerjemah: DarkSoul

“Tidak apa-apa nih…haa. Membiarkan mereka pergi seperti itu…huu?”

“Itu keputusannya, pilihannya. Aku menghargai hal itu……Walaupun, tidak terbesit satu atau dua alasan dia pergi sambil memegangi tangan mahluk itu”

Echidna mengangkat bahu saat menanggapi suara lesu Sekhmet.

Seperti biasa, mereka berada di dalam Benteng Mimpi dengan padang rumput dan langit biru yang tidak berubah. Angin dingin berhembus, membelai lembut rambut Penyihir.

――Setelah dunia yang rekah menelan Subaru dan Satella, melepaskan mereka dari Mimpi, dunia terbentuk kembali.

Tapi tentu saja. Ruang tak terhancurkan ini ditenun dari jiwa Echidna, dan selama Echidna eksis, dunia itu tetap kekal. Apa yang terjadi tidak lebih dari kepulangan para tamu.

“Yah, ketika kau melancarkan kekuatanmu seperti itu, aku serta-merta merinding, tahu. Akan lebih berfaedah seandainya kau ancang-ancang sebentar sebelum melakukan penyembuhan gaduhmu”

“Aku mengikuti keyakinanku, sekiranya aku melihat luka, langsung kusembuhkan. Mau manusia, Penyihir, hewan, burung, ikan, serangga, atau Monster Iblis, tidak ada bedanya, luka pada mahluk hidup adalah musuhku!”

“Ya, tapi, tidak seperti kehidupan, apa pun yang kau lakukan membebaniku. Sewaktu kau masih hidup, dunialah yang mesti memikul beban itu, tetapi sekarang semuanya ada padaku, bisakah kau bayangkan betapa sulitnya menanggung sendirian?”

“Beban atau apalah, aku sama sekali tidak peduli tentang hal-hal yang tak tampak oleh mata. Aku menyembuhkan luka. Jikalau perbuatanku memperpendek usia dunia atau sesuatu semacam itu, tidak jadi masalah”

Minerva menyilangkan lengannya, menopang payudaranya yang segede gaban, sementara kedua Penyihir lainnya tersenyum masam.

Pada pandangna pertama, sang Penyihir Kemarahan, Minerva, nampak seperti Penyihir yang paling ramah, padahal tidak――justru yang paling berbahaya.

Malahan, tindakannya dipenuhi penyembuhan, dan jumlah nyawa yang telah dia selamatkan semasa hidupnya melampaui puluhan ribu.

――Meski begitu, penyembuhan Minerva yang tidak memberikan efek samping secara tidak langsung menghancurkan dunia.

Energi destruktif dari setiap pukulan, tendangan, dan gigitan akan berubah menjadi penyembuhan di tangan Minerva. Karena ini adalah algoritma Penyihir Kemarahan, tak seorang pun selain dia dapat melakukannya. Bahkan Echidna, yang memahami konstruksi kekuatannya, tidak bisa meniru.

Serangan penyembuhan Minerva dapat membawa mahluk hidup kembali dari ambang kematian.

――Namun mengira bahwa Wewenang ini sangat kuat, tentu keliru.

Kekuatan penyembuhan pukulannya adalah produk dari suatu algoritma yang memutar sebab-akibat secara paksa dan mengaktifkan teramat banyak jumlah mana.

Mana yang dibutuhkan jauh melebihi kapasitas manusia, bahkan bagi Penyihir, Minerva tidak bisa mengeluarkannya sendiri.

Kalau begitu, darimana mananya berasal? ――Jawabannya sederhana, dicuri dari inti dunia.

Biasanya, ketika manusia menggunakan sihir, energinya dengan menarik mana dari atmosfer menuju sumber sihir mereka, mengubahnya menjadi energi sihir, kemudian merapalkan mantranya.

Soal Minerva, sumber sihirnya tidak terhubung pada atmosfir, tapi langsung ke inti dunia. Sukar untuk menjelaskan apa itu inti dunia, tapi intinya merupakan massa supernatural mana――seseorang bahkan mungkin dapat mengatakan bahwa di sanalah tempat mana terlahir. Serangan Minerva menarik mana dari tempat itu dan diubah menjadi serangan penyembuhan.

Berkali-kali melakukan ini, mana yang mulanya terdapat di suatu tempat yang tak tercapai, serta mengeringnya mana yang bertugas mempertahankan struktur dasar dunia, muncul bahaya ekstrim setingkat bencana yang sewaktu-waktu akan menimpa dunia.

Barangkali dia telah menyembuhkan puluhan ribu mahluk dengan tinjunya.

――Tapi, bencana alam secara tidak langsung disebabkan oleh perbuatannya, dan semakin banyak pula yang modyar.

Karena itulah, Penyihir Kemarahan paling berbahaya dari Penyihir-Penyihir yang mengemban nama Dosa lain, lantas dia dijadikan musuh dari setiap bangsa.

“Yang bisa kulakukan di sini adalah menyusun mana milikmu, Echidna. Aku bisa menyembuhkan apa pun walaupun aku mengisapmu sampai kering”

“Dari awal sudah sepatutnya tidak ada orang yang terluka di sini. Tapi semuanya hancur berantakan dengan keributan baru-baru ini”

“Benar…ya. Memang sangat keruh, untuk sesaat”

Kata-kata Echidna entah mengapa menyurutkan intensitas Minerva. Wajahnya yang menggemaskan tampak gelap kala sang Penyihir pirang tersebut memandang langit.

“Pikirmu dia baik-baik saja, ga? Aku sungguh cemas”

“Tenang saja. Karena dia menolak bantuanku, dia akan berjuang sekuat-kuatnya hingga berhasil. Kendati, dia masih belum punya jawaban”

“Apa-apaan ungkapan itu? Kau yang menyuruh Subaru menolaknya, dan sekarang kau berpura-pura tidak melakukannya ketika semua orang tahu pemikiranmu? Maksudmu apa?!”

“Bukannya aku ingin ditolak. ――Karena mau ditolak atau diterima, dua-duanya menyenangkanku”

Menjawab sanggahan Minerva, Echidna duduk di meja yang kembali terbentuk. Menjentikkan jarinya, dia memanggil cangkir teh. Muncul, kemudian diarahkan ke mulutnya.

“Akan kutegaskan pilihan apa pun yang dia buat, dan aku tidak melihat setitik pun masalah dari dampak pilihan itu. Fakta dia memilihnya atau tidak, itu adalah bagian penting. Adapun kebaikan dan keburukan hasilnya, aku bangga dengan kemampuanku karena berbahagia terhadap keduanya”

Tapi~ bukan berarti kau tidak punya preferensi~” ujar Daphne.

Tatkala Echidna mendekatkan ujung cangkir ke bibirnya, sebuah peti mati gelap muncul di samping. Daphne, yang sekali lagi telah mendekam di peti mati, tertarik oleh berbagai macam manisan di atas meja.

“Kau bilang menghargai hasilnya~, tetapi Dona-Dona tidak ragu untuk membimbing Subaru ke akhir yang diinginkanmu, benar~~. Walau mungkin kau senang pada keduanya~, tapi tetap ada satu yang tidak kau inginkan, bukan~?”

“Kau hampir tidak tertarik pada orang lain, tapi kau selalu saja tepat sasaran, Daphne”

“Dibanding rasa lapar yang terus-menerus berada di kepalaku~~, aku tidak begitu mengerti hal-hal terpentingnya. Haahaa, nyam~nyam~”

Langsung menguyah manusian, Daphne sekalian memakan piringnya juga. Melihat ini, Echidna mendesah lalu melihat Penyihir-Penyihir lain yang kini tengah duduk mengelilingi meja.

Lemas, tampak marah, lembut――dan satu Penyihir lagi dengan sorot mata mengancam.

“Yah, kau kelihatan berang, Typhoon”

“Karena Dona tidak jujur…tidak jujur…kau seorang pembohong? Dan pembohong…adalah pendosa? Dona…apa kau seorang pendosa~?”

“Aku selalu bertingkah sesuai keinginanku. Kebohongan adalah sesuatu yang tidak ingat pernah aku lakukan”

Tidak bergeming, Echidna menjawab pertanyaan Typhoon yang polos dan blak-blakan.

Frasa banding makna Echidna mungkin ditelan bulat-bulat oleh Typhoon muda itu. Bagaimanapun, Echidna tahu sisik buruk Typhoon, kehadiran semua orang akan sangat terancam.

Mengancam penjahat dan menghakimi orang berdosa adalah sebagian kecil dari Wewenang Kebanggaan.

Tapi, melihat Typhoon menggembungkan pipinya menyetujui sindiran batin Echidna, yang berkata selanjutnya adalah Kemalasan yang terkubur di dalam bola rambut.

“Menyembunyikan niat sejatimu seraya berbicara…haa…tidak benar-benar berbohong…beruntung sekali dirimu…huu”

“E-Echidna-chan, sangat, menyedihkan…benar….”

“Kalian berdua…”

Melihat Echidna cemberut karena terjebak dalam rentetan satire, Penyihir-Penyihir lain tersenyum.

Satu-satunya orang yang masih merajuk adalah Minerva, memelototi Echidna dengan sudut matanya yang miring ke atas.

“Minerva ikut jua, mau sampai kapan kau kesal dengan hal itu, haa. Bukankah kita semua sepakat sebelumnya, huu? Kau tahulah kita melakukan ini ketika sang Kandidat Sage datang…haa”

“Ugh, aku tahu, aku tahu. Aku tahu semua orang setuju. Tapi tidak bisa kurasionalkan seperti kalian. Kuharap kau memahaminya”

“Met-Met selalu akrab dengan Ty-Ty, dia takkan mengerti~. Kalian menghabiskan terlalu banyak hidupmu untuk merisaukan sesuatu yang bukan makanan~sungguh sia-sia, benar begitu~?”

Daphne ikut campur, mengemukakan ketidaksenangan Minerva dan Sekhmet.

Ada suatu keseimbangan sempurna pada pesta teh para Penyihir, yang mana seharusnya merupakan kumpulan ego. Mereka tidak setuju dalam segala hal, dan tidak jarang semuanya berakhir dalam pertengkaran.

Apalagi Minerva, yang bisa tersinggung oleh semua orang, juga Sekhmet, yang tidak suka perkelahian, tidak ada emosi dalam kegaduhan kecil ini. Setiap saat, Daphne akan menengahi dengan menyerang inti permasalahan dengan satu komentar teguh. Dan kemungkinan besar, perbincangan akan berakhir tanpa kesimpulan nyata.

Minerva berang, Sekhmet mengamati kelanjutannya, Daphne muncul memicu, Camilla menenangkan Typhoon agar tidak meledak, dan Echidna memperhatikan dengan penuh antusias di samping――sementara Satella melihat mereka, tersenyum bahagia saat melihat keenam orang itu baik-baik saja.

Momen-momen itu ada pada suatu hari dari empat ratus tahun yang lalu, dan takkan terulang lagi.

Satella menjadi gila karena Gen Penyihirnya, Minerva mati sinting di dalam perangkap, Camilla tewas dalam lautan api, Daphne kurus kering sampai mati di padang pasir, Sekhmet jatuh dari Air Terjun Besar ketika dia membantai para naga, dan Echidna mengumpulkan jiwa-jiwa mereka yang seolah-olah terikat pada dunia.

Semua ini hanyalah pengulangan tak sempurna hari-hari yang telah lama berlalu.

“Kau kelihatan, sedih…Echidna…chan…? Benar-benar…sedih?”

“Kenapa mesti sedih? Untuk apa kesedihanku. Kalian semua bersamaku di sini, dan masih punya kesempatan untuk berinteraksi dengan dunia luar. ――Kenapa harus bersedih hati?”

“Apa, itu, oke-oke aja? K-kita ‘kan, cuma……jiwa, dan, bukan benar-benar raga kita, kan? Kita, sudah…mn, su-sudah…mati. Kita, tidak bisa, bersama, sama, lagi, Echidna-chan, benar…?”

Tutur gagap Camilla membuat Echidna terdiam sejenak.

――Kekuatan Echidna-lah yang telah memberikan para Penyihir, yang sudah kehilangan tubuh dan hanya memiliki jiwa mereka, raga sementara ini.

Echidna sudah menyiapkan wadah, dan menempatkan jiwa mereka di dalamnya.

Tapi jiwa mereka membeku saat ajal tiba, tidak berubah sedikit pun. Jadi apakah Camilla yang dia lihat sekarang ini adalah Camilla asli?

Menarik kesimpulan dari reaksi jiwa mereka yang kembali hidup, dan memanfaatkannya untuk menghidupkan raga ini――benarkah ini hanyalah permainan boneka-bonekaan yang dibuat oleh Echidna sendiri?

Faktanya, mereka semua berbagi pengetahuan Echidna.

Jadi bagaimana seseorang dapat menjelaskan hal ini, kecuali mereka diciptakan langsung oleh Echidna? Pertanyaan ini membatu sang Penyihir Keserakahan berpikir berulang-ulang kali.

“Sekumpulan narsisme sepertimu, meski aku ini kawanmu, jarang-jarang kau merisaukan aku…jangan-jangan kepribadian lembut namun keras kepalanya menular padamu?”

“Aku, tidak…tahu, tentang, itu, Echidna-chan…idiot”

Dihadapkan dengan jawaban pengalih topik Echidna, Camilla menutur demikian dengan ekspresi  sedih.

Mendengar tanggapan Camilla, Echidna malah tertawa terbahak-bahak.

Melihat Echidna seperti ini, Penyihir-Penyihir lain, yang sampai sekarang masa bodoh, kembali melihatnya.

Merasa ditatap semua orang, Echidna membentangkan tangannya.

“Nah, sekarang pesta the ini jadi khusus Penyihir untuk sementara waktu. Dia――Natsuki Subaru barangkali takkan melangkahkan kakinya ke sini lagi”

“Dan kau oke-oke saja dengan itu? Bukannya aku risau kau akan kesepian atau semacamnya, tapi bukankah kau yang menutup semuanya? Kau selalu bersikeras untuk meminta kompensasi atau apalah yang mirip”

“Kompensasi…ah, benar juga. Tertawakah kalian kalau aku bilang yang barusan itu adalah hadiah perpisahanku karena lelaki itu akan menghadapi kesengsaraan?”

Selagi dia menempelkan tangannya ke dagu dan merenung, para Penyihir lain saling bertatap-tatapan.

Kemudian, sama-sama mengangguk, mereka membuka mulutnya dalam satu waktu.

“Tentu saja tidak!” teriak semua Penyihir selain Echidna.

“Aduh-aduh, aku tidak tahu kalian begitu menghormati diriku…”

“Tidak, itu karena tidak mungkin kau membantu seseorang tanpa menerima imbalan apa pun”

Mengatakan ini, Minerva melipat tangannya sementara para Penyihir lainnya mengangguk setuju.

Echidna memejamkan mata setelah mendengar pendapat bulat mereka, dan berdeham.

“Kurasa kita masih punya banyak hal yang harus dibicarakan. Serius nih, begitukah pemikiranmu terhadap diriku?”

“――――”

“Yah…”

Di hadapan para Penyihir yang tertegun, Echidna meminum sisa isi cangkiranya, dan kemudian, menjilat bibirnya dengan lidah.

“――Kurang lebih, kalian tidak salah”