Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 78

Posted on

Sebuah Suara yang Terdengar Hendak Menangis …

CH 78

Penerjemah: DarkSoul

“Ngedumel, keras kepala…bukankah itu seperti anak kecil? Sungguh sangat menyusahkan, aku tidak tahan melihatnya…haa…”

Mendegar Sekhmet memanggilnya seorang anak kecil, Subaru, tertutup dalam dunianya, hanya dapat berpikir bahwa dia benar.

Keras kepala dan congkak, dengan sombongnya menampik suara di sekelilingnya――tapi satu hal yang pasti, Subaru mendapatkan cara paling meminimalkan kerugian. Diberikan kesempatan tak terbatas untuk mengulang kembali dunia, hanya dengan dibayar nyawa, Subaru bisa terus mencobanya. Dalam prosesnya, berulang kali, hati Subaru terkikis.

Tetapi ketika dia berada di ambang kehancuran, Subaru diberikan motivasi yang menyemangatinya lagi.

――Kaulah pahlawanku, Subaru-kun

Itu. Ucapan itulah yang cuma Subaru butuhkan.

Setelah jiwanya layu sampai ke inti-intinya, kalau saja dia bisa mendengar ucapan itu dengan semua kenalannya di sisinya――Subaru akan puas.

Apa yang salah dengan hal itu?

“――Baru menangis~?” kata Seseorang.

Tiba-tiba, suara seorang anak menembus keheningan sedangkan para Penyihir menahan nafas.

Meringkuk menjadi bola, Subaru merasa kepalanya dibelai oleh telapak tangan kecil. Melirik ke atas melalui penglihatannya yang berkaca-kaca, Subaru melihat sosok gelap seorang gadis berkulit cokelat.

Tatapan Subaru mendarat pada Penyihir Kebanggaan.

“Baru yang malang…dia mena~ngis……Siapa yang membuatnya menangis~?”

Typhon yang berlutut segera berdiri, memelototi Para Penyihir diam seribu bahasa.

Tampak kilat-kilat berbahaya yang berputar di matanya selagi melihat Para Penyihir secara bergantian, lalu mengangkat alisnya ketika mendapati Satella.

“Tella? Tella di sini? Kenapa? Sudah sangat la~ma”

Typon melambai ketika dia memanggil Satella, tapi kilatan tempur di matanya tidak menghilang. Melihatnya begitu, orang pertama yang memanggilnya adalah Sekhmet, yang mendesah lesu saat dia beranjak bangun.

“Typhon…haa…dia sedikit sibuk saat ini, huu…Jangan hiraukan bocah itu, haa. Sini-sini…huu…”

“Mama…apa kau menjahati Baru? Mama…apa kau seorang pendosa juga~?”

“Mamamu…haa…tidak punya energi untuk menjadi jahat, huu…Aku tidak ingin ditambah pekerjaan, tak ingin pula aku memberikanmu pekerjaan lebih, haa”

Typhon mengangguk kecil pada jawaban Sekhmet, tapi tidak berniat pindah dari Subaru seperti yang Sekhmet suruh. Justru, dia beralih ke Minerva.

“Nerva~~? Apa kau membuli Ba…nah~”

“Kenapa kau bertanya padaku? Tidak aneh, kan? Bukannya aku mondar-mandir menyembuhkan orang, sesekali aku terbawa emosi dan jahatin orang juga, tahu…maksudku, aku…bisa melukai, orang…juga…”

“Ketika wajahmu jadi biru ketika memikirkannya, sulit membayangkan kau dapat melukai seseorang…”

Echidna mengangkat bahu, menggoda Minerva karena tanggapannya yang tidak jelas. Minerva memelototinya, Typhon juga mengikuti tatapan Penyihir Nafsu itu, menghadap Echidna sementara ekspresi kekanak-kanakannya berubah menjadi cemberut.

“Jadi Dona, ya. Dona, kau jahat lagi, bukan~? Dona…apa kau termasuk pendosa~?”

“Nah, mengapa kedengarannya seperti sebuah kesimpulan daripada pertanyaan ketika kau bertanya kepadaku? Kurasa aku harus berbicara dengan orang yang membesarkanmu. Jadi, bagaimana?”

“Benar-benar berkaitan dengan tingkah laku biasamu…haa…”

Mengatakan demikian, Sekhmet dengan lembut menggerakkan tangannya ke dahi. Tanpa meninggalkan Subaru, Typhon masih mencari-cari Pendosa yang membuat Subaru menangis.

Melihat Penyihir mungil ini bertingkah demikian, Echidna menyipitkan matanya, bergumam “Pokoknya…”

“Karena Typhon di sini, semuanya hampir lengkap. Misal Daphne muncul, keadaan di sini akan seperti 400 tahun lalu…”

“Apakah…seseorang baru saja memanggil Daphne…?”

Menanggapi komentar Ehcidona, peti hitam pekat mendadak muncul di padang rumput.

Di dalamnya, dengan seluruh tubuhnya dilingkupi perban dan matanya ditutupi penutup mata, adalah seorang Penyihir Kerakusan, Daphne.

“Bukan hanya Subaruun…Tella-Tella juga di sini? Woaaawwww…Ketujuh Penyihir Dosa Besar kumpul di sini, bahkan sang kandidat Sage…”

“Daphne. ――Dia…tidak ada di sana”

“……Aaah~, benarkah? Maaf…Ngomong-ngomong … pssh~pshh~~aku mencium sesuatu yang asin…apa ada orang yang menangis? Apakah Neru-Neru?”

Tanpa sedikit pun memikirkan suasana, Daphne terus mengaduk-aduk situasi tegang dengan nada tololnya.

Ketujuh Penyihir, termasuk Satella, berkumpul di Benteng Mimpi pastinya pemandangan langka bahkan selama masa keemasan Para Penyihir empat ratus tahun yang lalu.

Dengan tujuh Penyihir yang pernah menenggelamkan dunia ke dalam kekacauan――sekarang mereka berkumpul, waktu kini yang siap meledak, punya kekuatan yang cukup untuk membentuk dunia kembali.

Penyihir Kebanggaan, berusaha menghakimi orang yang membuat bocah itu menangis.

Penyihir Kemarahan, mengepalkan tinjunya, bertujuan mewujudkan keinginan dari teman dekat di sisinya.

Penyihir Kemalasan, melihat pergerakan semua orang, siap menghancurkan siapa pun yang memecah kedamaian.

Penyihir Hawa Nafsu, menjaga ketidakterlibatannya, melindungi dirinya sendiri jika sesuatu terjadi.

Penyihir Kerakusan, sudah hilang minat pada adegan yang terjadi di depannya, tengah tersiksa dan mengunyah jemarinya karena lapar.

Penyihir Keserakahan, mengarahkan kebenciannya kepada satu orang Penyihir, sedangkan matanya ingin tahu akhir dari pesta teh ini.

Dan, eksistensi yang bukan Penyihir Kecemburuan, melainkan Satella――

“Aku, mencintaimu. ――Karena kau memberikanku cahaya. Kaulah yang membawaku keluar, menunjukkan dunia luar. Dalam malam ketika diriku kesepian dan ketakutan, kau meraih tanganku. Dan ketika aku sendirian, kau mencium bibirku dan memberitahuku bahwa aku tidak sendiri. Kau memberikanku sangat banyak, banyak hal. Karena itulah, aku mencintaimu. Karena dirimulah…kau memberikanku segalanya”

“――――”

Subaru tidak ingat pernah melakukan salah satu hal yang dibisikkan Satella.

Subaru sama sekali tidak ada kaitannya, tidak ada hubungannya. Apakah bertemu Satella, bertukar kata dengannya, atau saling berbagi kehangatan. Semua yang Satella katakan adalah delusinya semata. Fantasi yang hampa dan kosong dari seorang wanita yang tergila-gila pada kerinduan belakanya.

Seharusnya begitu. Namun, Natsuki Subaru teringat.

“Kenapa ini…ada di dalam diriku, ini apa? Aku tidak menginginkan perasaan ini. Jangan ikat aku…dengan ingatan yang tak bisa kuingat…kau…kau…aku…agh”

Aku membencimu, Subaru hanya harus mengatakan itu. Yang harus dia lakukan adalah menusuk gadis yang menawarinya perasaan ini meski Subaru tidak sayang sedikit pun padanya. Ketika Subaru mengucapkan kata itu, dia akan bisa melihat ekspresi seseorang yang dengan egoisnya berusaha melumpuhkan hati Subaru. Tentu saja, akan menjadi ekspresi yang luar biasanya berubah total menjadi patah hati.

“――Tapi, bagaimana kau melakukan itu padanya?”

“Baru?” panggil Typhon.

“Oh, bocah…” ucap Sekhmet.

“D-dia…” kata Camilla.

“Kau…cih” cela Minerva.

“Subaruuun?” Daphne bingung.

“――Ah, yah, itu salah satu solusinya sih…Natsuki Subaru” ujar Echidna.

Selagi para Penyihir secara bergantian memanggil Subaru, Echidna mengangguk pelan pada akhir kejadian ini.

“――agh, bhak” ringis Subaru.

――Tepat seperti ini, meringkuk di tanah, Subaru mengigit jarinya sendiri.

Dipojokkan oleh para Penyihir, dia tidak tahu apa-apa lagi.

Hatinya yang hampir dipuntir, apa yang harus dilakukan saat kehendaknya bukan lagi miliknya?

Benar-benar sesuatu yang tidak bisa dia terima, Subaru bisa saja menolanya dan tidak jadi masalah.

Akan tetapi, di hadapan Satella, ketika bahkan penolakannya berubah menjadi penerimaan――hal itu sungguh-sungguh menakutkan.

――Wah, kira-kira apa yang akan terjadi jika dirimu tersesat dalam mimpi?

Tubuh Subaru seharusnya berada di Makam dalam Sanctuary.

Yang dipanggil di sini adalah roh Subaru, dengan kata lain, jiwanya. Andai kata rohnya mokad di sini, apakah raganya juga? Apakah roh bisa mati? Tidak satu pun jadi soal. Kalau mati terus kembali hidup seperti biasa, Subaru oke-oke saja.

Dia takkan menerima uluran tangan Para Penyihir. Justru, dia akan maju dengan kepongahannya yang menjadi-jadi, menyingkirkan sesuatu yang tidak penting, dan, seandainya Subaru dapat fokus dengan jalannya, tentu saja, jalan akan terbuka――andaikan aku bisa seperti itu, aku…

“Si idiot itu――!”

Saat Minerva tahu Subaru hendak bunuh diri, wanita itu menggulung lengan bajunya dan menerjang ke depan, menghampiri Subaru untuk menyembuhkannya. Tapi, yang menghadang di depannya adalah Typhon, yang sedari tadi berdiri di samping Subaru.

Penyihir kecil itu membentangkan tubuhnya, menghalangi jalan Minerva.

“Baru menetapkan pilihannya sendiri! Nerva, jangan ikut campur!”

“Melukai diri sendiri atau bunuh diri atau pun pembunuhan, tak akan kubiarkan itu terjadi selama masih dalam pengawasanku! Aku tidak bisa mengurus luka yang tak bisa kulihat! Karena itulah! Tidak mungkin aku mengabaikan luka yang aku lihat!”

Tanah runtuh di bawah salah satu kakinya saat tinju Minerva menembus angin, menyasar ke wajah Typhon.

Pukulan kuat dengan kekuatan yang cukup menghancurkan sebuah gunung, tapi tatkala terhubung dengan mahluk hidup, dampaknya akan berubah menjadi penyembuhan. Walaupun, gelombang kejut dari dampak tersebut masih akan diterima korban.

Membuat ledakan besar, kekuatan penuh Minerva menerbangkan Typhon.

Gadis praremaja itu mental layaknya daun, berputar-putar di langit buatan. Pemandangan yang agak brutal――tapi Typhon bukan korban satu-satunya.

“――――Cih!”

Tangan kanan Minerva, dari pundaknya, hancur seperti kristal es.

Inilah konsekuensi dari menyentuh keputusan Penyihir Kebanggaan, dan dicap sebagai seorang Pendosa.

Minerva memiringkan kepalanya kesakitan karena kehilangan tangan, membuka lebar mulutnya dan berteriak――

“Satu goresan――!!”

Tidakkah?

Walaupun dia peka terhadap penderitaan orang lain, Penyihir Kemarahan betul-betul mengabaikan penderitaannya.

Bahkan saat dia mengkritik Natsuki Subaru karena keputusannya, sebenarnya dia juga salah.

“Bodo amatlah, haa――!”

Setelah menyingkirkan hambatannya, Minerva melompat ke arah Subaru, menyiapkan tangan kirinya yang tersisa. Fokus melancarkan kekuatan penuh lengan kirinya dari atas.

“Selanjutnya aku yang menghalangimu…haa”

Dalam sekejap, dengan rambut pirangnya yang berkibar-kibar, Minerva terhempas ke tanah. Seluruh tubuhnya disematkan ke bumi menciptakan kawah berbentuk manusia di rumput, Minerva mengangkat wajahnya, memerah karena marah, lalu berteriak pada Sekhmet yang sedang duduk.

“Jangan halangi aku――! Sekhmet――!”

“Itu tidak bisa, huu. Sejujurnya, aku di pihak bocah itu, haa. Sekaligus di pihak Typhon, huu…Jadi aku punya alasan untuk menghalangimu, haa…”

Mendengar pernyataan perang Sekhmet, Minerva dengan sebal mengigit bibirnya saat dia memperhatikan sekeliling.

Tapi Daphne dan Camilla tetap netral dalam konflik ini, dan Echidna hanya menonton ingin tahu hasil akhirnya. Lalu, Satella――

“Hhh…hha…”

Meronta-ronta, suaranya gemetar saat melihat Subaru menyemburkan banyak darah.

Darahnya yang mengalir keluar dan lidah yang terpotong menyumbat tenggorokannya, Subaru mengalami sensasi tenggelam ketika dia melirik Satella di sudut kesadarannya.

Dia menangis, ya?

Menyaksikan Kematian Subaru, Satella tampak lebih terguncang dari yang pernah dilihat Subaru.

“Kenapa kau tidak mengerti…? Dari semua hal yang ingin kau lindungi, dirimu sendiri juga mesti dilindungi”

Mengapa Satella sebegitu gigihnya memikirkan Subaru?

Dalam khayalannya, seberapa besar dukungan yang Subaru berikan kepada hatinya?

“Persis seperti orang lain, berjuang di ujung tanduk takdir, kau juga sama. Hanya saja rasanya kau bisa memutarbalikkannya … tapi … kau juga perlu diselamatkan … karenanya …”

Satella salah kaprah.

Subaru adalah seorang bajingan tengik menyedihkan yang bahkan tidak bisa mempertahankan suatu dalam genggamannya, apa lagi menyelamatkan mereka. Seorang bangsat setengah-setengah yang tidak berguna. Tidak dapat dipungkiri lagi.

 Untuk mengatasi dirinya yang tidak berguna itu, untuk tidak meninggalkan semuanya setengah jalan. Bukankah itu yang Subaru janjikan?

Menjadi insan terbaik. Bukankah itu yang dia putuskan?

――Dirinya yang lemah dan tidak berguna, serta pribadi yang tidak ingin Subaru menjadi lemah sedang berkecamuk di dalamnya.

Takkan ada orang yang akan melihat kelemahan Subaru lagi.

Dia harus menjadi pahlawan kuat, bermartabat juga tak tergoyahkan.

Karena ada seorang gadis yang menginginkan hal itu dari Subaru. Itu adalah kutukan yang telah Subaru berikan padanya, dan sudah jadi tugas pria itu tuk membalasnya karena sudah menerima kutukan tersebut. Atau, lebih tepatnya, bukan tugas yang terlalu berat. Hanya segitu-segitu saja, sebab gadis itu percaya padanya, Subaru ingin gadis itu meneguhkan kepercayaannya.

Ya. Itu dia.

Hanya itu saja.

Semisal ada orang lain yang berduka atas kematian Subaru, pasti gadis itu.

Memilih Mati adalah pengkhianatan terhadap gadis yang mempercayainya. Tentu saja, bagi Subaru, Kematian bukanlah akhir. Menggunakan Kematian sebagai batu loncatan, Subaru akan memusnahkan penyebab Kematiannya dan mengambil kembali semua yang telah hilang.

Namun apakah arti kematian Subaru bagi orang-orang yang telah ditinggalkannya?

Dia tidak boleh memikirkannya.

Dia tidak boleh mengetahuinya. Itu adalah pemikiran berbahaya.

Tidak apa-apa. Natsuki Subaru tidak keberatan dengan caranya sendiri.

Dia tidak boleh berpikir bahwa orang lain akan berduka atas kepergiannya.

Dia tidak boleh berpikir seseorang akan melakukannya. Hidup Subaru bisa habis. Digunakan terus sampai mencapai akhirnya. Seperti sebagaimana mestinya.

Memanfaatkan kematian sebagai makanan sehari-hari demi mendapatkan efek terbesarnya, Subaru tidak boleh menolak Kematiannya sendiri.

Jadilah penentu. Boleh-boleh saja tidak memikirkannya. Demi mengambil apa yang perlu diambil, Subaru harus bersiap mengabaikan apa yang perlu diabaikan. Semua orang melakukan ini. Subaru juga bisa.

Dia hanya harus menyelamatkan orang tersayangnya.

Bila dia bisa melakukan itu, Subaru――

“Apa yang kau lihat…di Ujian kedua…?”

Ujian. ――Ujian. Ujian Ujian. Ujian Ujian Ujian, Ujian Ujian Ujian, Ujian Ujian Ujian――?

Keterkejutan dan kekurangan oksigen sudah memperlambat pikirannya. Penglihatannya semakin mengabur hingga merah berkedip-kedip, kepalanya seperti saluran tv rusak. Sudah waktunya semua ini berakhir, pikirnya samar-samar.

Akhir berangsur-angsur mendekat.

Sudah berapa kali, dia menyambut Kematian seperti ini? Terlalu melelahkan untuk menghitungnya, tapi tidak apa-apalah.

Ujung-ujungnya, dia akan berulang-ulang kali menghadapi kematian sampai-sampai menghitungnya saja membuatnya muak.

Subaru tidak menyangka dirinya sadar cukup lama setelah menghitung semua Kematian.

Hati baja itu.

Mempunyai, hati baja tak tergoyahkan――

Perlahan demi perlahan, kesadaran Subaru pergi, memudar.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Aku mengandalkanmu, nak.

Sebuah suara.

Di tengah-tengah kebisingan ini, dan melalui hiruk pikuk gaduh ini, Subaru mendengar suara yang sangat jelas

――Hati-hati ya

Dia mendengar lagi.

Suara yang berbeda. Tapi membawa emosi yang sama ke dalam dadanya.

Aku menganggapmu seorang teman

Suara lain, membawa emosi yang berbeda lagi. Entah bagaimana, membuat Subaru gelisah. Tapi, ada pula kedamaian dalam suaranya.

Subaru-dono…mohon maafkan aku…

Suara lain lagi.

Memenuhi dadanya dengan kesepian singkat dan sesuatu yang mirip layaknya kerinduan. Suara yang ingin dia minta maaf.

Kau…bukan, orang itu…aku tahu…kurang lebih…tapi…

Suara inilah yang menggenggam dadanya.

Mendengar suara ini, Subaru tak lagi bisa mengontrol dirinya. Suara ini, yang hendak menangis. Suara ini yang tidak boleh dibiarkan menangis. Suara ini yang mestinya dia lindungi. Suara ini. Suara ini. Suara ini.

Jadi tunjukkan aku betapa mengagumkannya dirimu. Subaru-kun

*Duk, ada yang berdebar di dalam hatinya menjawab suara ini.

Tubuhnya memanas. Terdorong oleh motivasi. Suara ini yang selalu mendukungnya.

Dan…

Terima kasih, Subaru

Ada suara lain.

Sudah menyelamatkanku

――Suara yang menandakan permulaan dari segalanya.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Subaru mungkin menangis.

Seumpama orang yang dicintainya mengetahui kematiannya, akankan mereka bersedih?

Orang-orang tak tergantikan yang ditinggalkan dalam dunia yang Subaru dengan egoisnya tinggalkan melalui Kematian, maukah mereka berduka dan bersedih?

Sama seperti Subaru yang meratapi kelemahannya sendiri, mengulangi Return by Death demi mencari masa depan yang sempurna, mereka yang kehilangan dirinya di langkah terakhir――akankah bersungkawa jua?

Orang-orang yang berharga baginya.

Orang-orang yang dia percaya harus lindungi.

Orang-orang yang tak salah lagi berharap untuk diselamatkan dari kebuntuan takdir mereka.

――Apakah Subaru layak dibelasungkawa oleh mereka yang berharga baginya?

Tidak apa-apa mempercayainya sedikit, bukan? Yakin bahwa mereka yang aku lindungi juga ingin melindungiku.

Aku diizinkan memegang harapan kecil juga, kan!?

Bahwasanya seseorang akan meneteskan air mat ajika aku mati, dan menganggapku cukup penting hingga mereka mengulurkan tangannya menyelamatkanku.

――Boleh-boleh saja berpikir seperti ini, benar?

Aku tidak mau mati.

Aku tidak mau menyerah, seakan-akan ini jalan terakhir.

Aku tidak ingin menjadi batu loncatan, meskipun demi menyelamatkan masa depan orang-orang yang aku cintai.

Dalam kesalahan itu di mana diriku melindungi mereka semua, aku juga ingin berada di sana.

Tidak apa-apa ‘kan, berpikir seperti ini?

Aku…punya hak juga…kan?

Kalau begitu――

Mendenguk lewat pakaiannya yang bersimbah darah, bersama udara yang terbebeas, Subaru berbicara.

Lidah yang terluka menyumbat tengorokannya terbebas, selagi mulutnya buka-tutup, mencari-cari udara. Paru-parunya melebar, oksigen mengalir di otaknya, dan pandangannya mulai kembali. Lalu…

“Nah, itu tuh pemikiran aslinya…agh!”

――Kendati kehilangan kedua kakinya, dengan kekuatan tekad semata, Penyihir Kemarahan yang kemerah-merahan menuangkan penyembuhannya ke kepala Subaru.

11 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 78”

  1. min, ini memang ga ada Ilustrasinya? soalnya selama oe baca offline, kan gambar yg g bisa terload warnanya gak nampak dan abu”, jadi pas di Load pake paketan, g ad illust, sedangakn pas di donlod gambarnya pas lagi offline bisa 😕

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *