Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 76

Posted on

Satella

CH 76.png

Penerjemah: DarkSouls celalu cayang kamu

Penerjemah: DarkSouls celalu cayang kamu

――Ini pertama kalinya Subaru bertemu dengan sang Penyihir secara langsung.

Penyihir Kecemburuan, nama itu pernah berkali-kali Subaru dengar sebelumnya, sekaligus seorang penyihir yang kekejiannya telah Subaru rasakan selama pertarungan di Perulangan Sanctuary.

Menentang aturan yang diberikan kepada Subaru secara sepihak, tidak satu-dua kali dia merasa jantungnya dicengkeram sampai hancur oleh Satella, tidak juga mudah memberikan kesan positif pada seorang Penyihir yang merasuki tubuh Emilia sambil memporak-porandakan Sanctuary.

Hampir seusai percakapannya dengan Echidna telah memunculkan sepatah kata dalam dirinya yakni Penyihir. Tapi…

“Benar…yang satu ini…tingkatannya berbeda jauh dengan Penyihir-Penyihir lain” kata Subaru.

Menghadapi tekanan yang terpancar dari Penyihir yang berdiri di hadapannya, Subaru bergumam parau.

Dia wanita yang ramping.

Berdiri dengan kedua tangannya yang tergantung di samping badan, nampaknya dia memelototi Subaru. Menyelimuti tubuhnya dengan pakaian hitam pekat――yang secara harfiah ditenun dari bayangan-bayangan di bawah kakinya, seolah-olah satu irama dengan detak jantungnya. Walaupun lengan bajunya panjang, Subaru melihat tangannya yang teruntai sampai ujung pergelangannya. Kebetulan saja, seperti para Penyihir lain, Penyihir Kecemburuan sangat-sangat cantik.

Tapi penggalan paling vital tuk memastikan hal itu telah hilang.

“Pernah melihatnya beberapa kali…tapi yang sekarang apa?”

Bayangan tak tertembus menutupi semua yang ada di atas lehernya, alhasil tidak bisa dipastikan dengan visual.

Tidak seperti pakaiannya yang gelap, bayangan melayang layaknya kabut, menyembunyikan wajah Penyihir Kecemburuan dari Subaru.

Sang Penyihir tidak memberi tanggapan pada pertanyaan terheran-heran Subaru.

Didesak oleh ketakutan yang meluap-luap dalam hatinya, keringat jatuh dari jidat Subaru ketika melihat orang-orang di sekitarnya――keempat Penyihir lain, menyaksikannya tanpa bicara.

“――”

Tapi ketika dia melihat ekspresi mereka yang berubah, Subaru tersentak.

Setahunya, hubungan antara Penyihir Kecemburuan dengan Penyihir-Penyihir lain bak pembunuh dan korbannya. Bertemu dengan pembunuh mereka――Subaru tentu sadar betapa stress perasaan mereka.

Tapi wajah para Penyihir itu tidak mirip seperti yang dibayangkan Subaru.

Salah seorang menampakkan senyum lembut, ada yang simpati, ada juga ekspresi datar tanpa dosa, dan yang terakhir――

“Jadi kau telah melanggar batasku dan sampai kemari. Masuk tanpa izin ke Benteng Mimpi-ku…kau selalu saja egois”

Hanya satu Penyihir, Echidna, yang memelototi Penyihir Kecemburuan dengan sorot permusuhan.

Melihat kebencian itu, atau mirip-miriplah, membuat Subaru terheran-heran. Padahal Subaru baru saja pamit, berpikir bahwa Echidna tidak mempunyai perasaan apa pun, namun emosi blak-blakannya membuat Subaru berpikir ulang apakah dia salah.

Meskipun, realistisnya, waktu-waktu pemikiran itu telah berlalu.

Saat ini, masalahnya adalah bagaimana mengurus Penyihir tanpa emosi di depannya.

“Tapi dari awal kenapa dia ada di si…”

“Karena kau membuatnya marah karena mengoceh tentang hal-hal yang seharusnya kau miliki? Aku tak tahu apa yang mesti dilakukan untuk menutup mulut pria sepertimu. Aku agak mengerti mengapa dia marah” omel Minerva.

“Apa, aku tidak mengerti…Maksudku, apa kau berpihak padanya? Kukira kau dan Penyihir lain adalah musuh Satella?”

“Musuh, pertanyaan macam apa itu? Akan kutunjukkan sekarang dan kita lihat apakah kau benar”

Menyipitkan matanya ke arah Subaru, Minerva membelai rambut pirangnya saat dia beraksi.

Menerjang langsung ke arah pandangan Penyihir Kecemburuan yang tertuju pada Subaru, dia memamerkan dada besarnya sambil menatap Penyihir Kecemburuan. Lalu

“Bisa dengar tidak? Ini aku, Minerva? Penyihir Kemarahan Minerva? Jika kau mengingat dan mendengarku, katakan sesuatu ya?”

“――! Tidak, t-tunggu! Yang aku tahu, kita tidak bisa berbicara dengannya! Kalau kau aneh-aneh sampai memprovokasinya…”

“Diam, dan lihat saja, haa” Sekhet kesal.

Dalam mata Subaru, perbuatan Minerva bisa disebut ceroboh. Tapi saat Subaru hendak menghentikannya, dia ditahan oleh bola yang berguling di tanah, Sekhmet.

Subaru berbalik, dan melihat bola rambut berwarna merah keunguan terang, bola itu adalah Sekhmet yang ukurannya sedikit berbeda.

“Waktu yang kami habiskan bersama dengan mahluk itu, huu…jauh lebih lama dengan interaksi pendekmu itu, haa. Wajar saja jika kau cemas, huu…tapi kau bisa mengandalkan Minerva, haa……Sesekali dia melakukan sesuatu tanpa dipikir dulu, huu. Tapi, kali ini nampaknya tidak berakhir buruk, haa…”

“Sekhmet, aku dengar lho! Kalau kau tidak ingin aku mengacaukan perbincanganmu dan membuat kita semua ditelan, jangan katakan sesuatu yang akan membuatku berang! Aku sudah sangat siap meninju sesuatu!”

“Kapan kau bisa marah sama orang, huu…aku hanya bernafas di depanmu, haa…aku harus apa dong, huu”

Kendati diserang oleh kritikan tidak menarik itu, Minerva tidak mengalihkan pandangan dari ancaman di depannya.

Penyihir Kecemburuan juga tidak bereaksi apa pun meski sudah digoncang-goncangkan, hanya berdiri di sana, tak bergerak, tatapannya terfokus pada Subaru melintasi Penyihir Kemarahan.

Memang, jelas-jelas ini salam kepergian, reaksi langsung dari sang Penyihir.

Tapi semua itu tidak membuatnya mengambil tindakan, perkara apakah mereka bisa bercakap-cakap, adalah masalah lain.

Sementara itu, setelah Sekhmet meninggalkan keseluruhan perbincangannya pada Minerva, kedua Penyihir lain――

“Yah A-a…aku pikir, bila memang, Minerva-chan, berusaha, yang terbaik…semuanya, akan, baik-baik saja…kan? Namun bila, dia…me-menyakiti, Minerva-chan…A-aku akan, membunuhnya” imbuh Camilla.

“Aku tidak meragukannya, tapi seperti yang kukatakan, kecocokanmu buruk dengan mahluk itu. Satu-satunya orang di sini yang mampu bertahan hanyalah Sekhmet. ――Pahamkah?”

Echidna menuturkannya dengan suara selirih mungkin selagi dia menenangkan Camilla yang gagap namun agresif itu. Di sisi lain, menyadari tatapan Penyihir berambut putih, bundelan rambut itu merinding seakan menanggapinya saja sudah menyusahkan.

“Bahkan aku tidak bisa lama-lama mengunci gerakannya, haa. Kau tahulah kemampuanku tidak cocok dengannya, huu”

“Tentu aku tahu. Makanya kau mesti menghancurkan perutnya dan menyabet lehernya. Saat kau mengunci gerakan dan menghentikan nafasnya, aku bisa menghapusnya dari ruang ini dengan kekuatanku sendiri.” Ucap Echidna.

Cukup banyak kebencian dari perkataan Echidna, membuat pernyataan Camilla tampak lucu. Walau dia berkata dengan santai, ada rasa jijik tak terungkapkan yang tersisip dalam suaranya, menandakan Echidna tidak bercanda. Di hadapan sang Penyihir Kecemburuan, Echidna tidak ragu untuk menyemburkan sumpah serapahnya.

Selagi ada percakapan berbahaya di belakangnya, Minerva terus menggoncang-goncangkan Penyihir Kecemburuan. Malahan, seolah-olah agar Satella tidak mendengar Penyihir-Penyihir lain, dia mendekatkan dirinya.

“――――”

Subaru menelan nafasnya saat melihat Minerva melangkah semakin dekat.

Meski tindakan Minerva kelihatan gila bagi Subaru, lebih tidak masuk akal lagi kedatangan Penyihir Kecemburuan ke tempat ini.

Kalau ini seperti yang terakhir kalinya, Penyihir Kecemburuan muncul karena Subaru telah melanggar tabunya. Namun tindak-tanduk Penyihir itu selama ini hanya mencengkeream jantung Subaru dan jika muncul di dunia nyata dia akan menelan semuanya ke dalam bayangan.

Jangan harap interaksi bersahabat, Penyihir Kecemburuan saja tidak pernah menjelaskan niatnya. Tujuannya sekarang sangat misterius sejak kedatangannya tadi.

Jadi, bagaimana reaksi Penyihir masih tidak diketahui oleh Subaru.

――Andaikan Minerva dilahap oleh bayangan itu, ketiga Penyihir lain di belakangnya akan langsung bergerak.

Apabila ekspektasi Echidna akan Sekhmet terbukti benar, Penyihir Kemalasan seharusnya bisa menghancurkan Penyihir Kecemburuan dengan Wewenangnya, dan Echidna akan mampu mengusir Penyihir Kecemburuan lemah itu dari tempat ini. Seandainya itu benar――

Subaru tidak mengerti apa yang mereka lakukan sekarang.

“――――” Subaru masih terdiam.

Soal keanehan, kenyataan Minerva diberi tugas yaitu melakukan kontak dengan Penyihir Kecemburuan, dari awal memang sudah aneh.

Camilla bersumpah untuk ikut campur jika terjadi sesuatu, Sekhmet tampaknya tidak benci-benci amat, dan bahkan Echidna, yang dialiri cibiran, tidak menentang permintaan Minerva yakni mengekang Satella. Apa sih yang mereka pikirkan――

“Kau terlihat sedang pusing memahami kami, Para Penyihir” tukas Echidna.

“………………”

“Meskipun, jika kami…Maksudku, jika pemikiran kami bisa dibaca semudah itu, kami takkan dipanggil Penyihir. Salah kaprah jika kau sangat menggampangkan kami” (Dona mulai menggunakan “boku” sebagai panggilan dirinya)

        “Hentikan Bokukko palsu itu. ――Aku hanya berpikir apakah kau betul-betul ingin mengusir Penyihir Kecemburuan, bukankah ini kesempatan sempurna karena dia sedang lengah”

“Aku mengerti. Begitukah kau mengartikan situasi sekarang? Aduh…mn, masa. Aku sendiri, setuju penuh dengan usulanmu. Lagian, tak ada lagi yang membuatku lebih senang selain menghajar mahluk itu dengan semua Wewenang yang bisa aku keluarkan dan membantainya sampai tidak tersisa secercah debu pun, sayangnya…”

Echidna menghentikan ucapannya, dan menyipitkan mata.

Tingkah itu sama sekali tidak mirip dirinya――bukan berarti Subaru sudah sangat kenal Echidna, tapi Subaru tetap merasakan ketidaksediaan tertentu yang persis bukan dirinya selagi Subaru menunggu kata-kata berikutnya. Setelah terdiam sebentar, Echidna melanjutkan…

“Melakukan segalanya tuk menghapus mahluk itu dan membuat Penyihir lain jadi musuh adalah rencana hebat. Siapa peduli pada Minerva, tapi akan buruk seumpama Sekhmet dan Typhon jadi musuh”

“Aku tidak mengerti. Mengapa menendang Penyihir Kecemburuan akan membuat Penyihir lain memusuhimu? Dia ‘kan musuhmu, kalian semua juga sama…”

“Anu, tidak seperti, itu…kan?”

Camilla, yang sampai sekarang diam saja, tiba-tiba menginterupsi pertanyaan Subaru. Tanpa melihat Subaru yang linglung, Camilla menyaksikan Minerva mengguncang-guncangkan Penyihir Kecemburuan, dan berkata dengna lirih.

“Kecemburuan, adalah, musuh, semua orang…itu…benar, tapi, mahluk itu…dan, dirinya…berbeda, tahu?” Jelas Camilla.

“…Maksudnya apa? Kalian sedang apa…”

“Selama kami tidak tahu…yang mana dari keduanya, huu…bukan berarti kami ingin…tapi akan tanpa alasan nantinya…haa…”

“Yang…mana…?”

Sekhmet membantu menjelaskan. Tapi mendengarnya justru membuat Subaru semakin bingung. Apa sih yang mereka bicarakan? Absurdnya, jawaban itu datang dari arah berbeda.

Mengambil langkah ke depan, Minerva mendekat ke Penyihir Kecemburuan.

Dia mengulurkan tangannya, membuat gerakan bebas tanpa pertahanan, dan bertanya pada Penyihir Kecemburuan,

“――Apa kau Penyihir Kecemburuan? Ataukah Satella? Yang mana?”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

        Apa yang baru saja didengar Subaru rasanya akan memutar segala sesuatu di kepalanya.

Pertanyaan Minerva berkebalikan penuh dengan yang dipahami Subaru. Tapi Penyihir lain yang tetap diam walau sudah hidup di era itu mengkonfirmasi bahwa Minerva tidak sinting atau pun bercanda.

Mendengar panggilan Minerva, untuk pertama kalinya, bahu Penyihir Kecemburuan gemetran. Kabut hitam yang mengelubungi kepalanya menggeliat-geliut, karena dia tampaknya menoleh ke arah Minerva.

――Baru saja sang Penyihir nampaknya menyadari kehadiran Minerva.

“――――”

Apa maksud perkataannya? Tidak ada waktu bertanya untuk Subaru, bahkan ketika rasa takut mencekat tenggorokannya, seketika memperburuk keresahannya.

Afirmasi para Penyihir semakin mengacaukan pikiran Subaru.

Karena, perkataan Minerva mengartikan――

――Dia yang dipanggil Penyihir Kecemburuan, dan Satella, barangkali orang yang berbeda.

Tidak. Itu akan terlalu menafsirkan sedikit informasi yang diberikan kepadanya.

Sudah berapa kali Subaru mengalami penderitaan karena dia terjatuh ke asumsi paksa dengan petunjuk minim? Meskipun dia selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinannya, Subaru tidak boleh hanya mengandalkan satu ide. Lebih pentingnya lagi, dia tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari adegan di hadapannya walau sedetik.

“Karena dari awal banget kau tidak menyerangku…maka masih ada kesempatan”

Setelahnya, Minerva memperpendek jarak. Antara Penyihir Kemarahan dan sang Penyihir, hanya ada lima langkah lagi.

“Kendati, kau betul-betul Penyihir Kecemburuan, akan mengejutkan jika kau tidak menyerang karena cemburu saat aku memisahkan kalian berdau…jadi aku tak serisau itu”

Empat langkah.

“Lagi-lagi, kau bisa mengatakannya dari awal. Maksudku, aku tahu kesempatan kita bertemu secara langsung tidak banyak. Dan ekspresi terakhirmu ketika menelanku dahulu tidak bisa aku lupakan”

Tiga langkah.

“Ketimbang kelima Penyihir lain, kupikir akan lebih baik kalau aku saja. Lagi pula Typon, dari semua Penyihir, adalah…teman terdekatmu, kurasa”

Dua langkah. Dia menundukkan kepalanya.

“Ya, Itulah yang aku pikirkan…dan ini pemikiranku……!”

Berhenti, dengan sisa jarak dua langkah saja, Minerva menerjang, mengumpulkan kekuatannya ke kaki belakangnya.

Lalu…

“Tahukah kau rasanya diabaikan sangat lama begini――!?”

Tanah hancur, memotong langsung jarak di antara mereka.

Minerva menerjang meninggalkan awan debu di belakangnya sambil memutar tubuh dan memukulnya sekuat tenaga. Menembus udara, memotong penghalang suara dengan tepukan gemuruh, berlanjut serangan ke kepala Penyihir, bayangan menyelimuti sosoknya, lalu――

“――, HAH, aku tahu”

Pukulan Minerva berhenti beberapa inci dari wajah Penyihir.

Bukannya bayangan Penyihir menahan tangannya. Tapi, Minerva yang sengaja berhenti tepat sebelum tinjunya menghantam dia. Tangan Minerva masih terulur, kemudian dia mundur, menyisir rambut emasnya.

“Nah, lihat gak? Dia tahu tidak perlu menghindari pukulanku, dia Satella, bukan Penyihir Kecemburuan. Echidna, kau terlaluuuu khawatir”

“…Aku penasaran. Sekaligus mengagumi tekadmu karena mengorbankan tubuhmu untuk mengujinya, keduanya bukan hal yang sama. Bisa jadi ancamanmu tidak ada apa-apanya sehingga dia tidak bereaksi. Jadi, Sekhmet…”

“Kau akan kedapatan alasan apa pun untuk menggerakkanku…huu…dan kau buruk perkara menyerah, Echidna…haa…Akuilah, itu Satella, huu”

Sekhmet mendesah pada Echidna yang tertegun. Masih menyerupai bola rambut, senjata terakhir Penyihir itu berniat tidak bergerak. Lalu, berdiri dalam jarak Penyihir――Satellah, Minerva berbalik menghadap Subaru.

Melihat dirinya terpantul dalam mata biru pucat Minerva, masih tidak dapat menyadari bahwa sang Kemarahan berdiri persis di samping ancaman besar itu, Subaru hanya berdiri di sana, melongo. Melihatnya begitu, Minerva mendengus, dan cemberut membuat ekspresi tidak puas.

“Untuk apa kau berdiri di sana? Ayolah, sini”

“Ke…sana…yah, meski kau yang suruh…”

“Apa sih, kau sama sekali gak gentle. Aku persis ada di sini, sudah kubuktikan tidak apa-apa, kan? Nah, bisakah kau langsung ke sini? Atau semua usahaku masih belum cukup? Jika kau tetap tidak mau menyebrangi jembatan batu meskipun seseorang sudah memberi jalan, bagaimana kau menyebrang!?”

“Jangan mendadak bersemangat begitu! Bukan berarti aku tidak ingin menghampiri karena panik! Aku takkan kesana karena tidak tahu mengapa harus kesana!”

Balas teriak pada Minerva dengan nada marah yang sama, Subaru keberatan untuk ditinggalkan di kegelapan.

Menunjuk Satella, yang baru-baru ini tidak dianggap sebagai ancaman, Subaru melihat Penyihir lain, yang telah melemaskan kuda-kuda tempur mereka.

“Pertama-tama, apa maksudmu Penyihir Kecemburuan berbeda dari Satella!? Kau terus membicarakannya seakan-akan hal itu sudah jelas, tapi bagiku sama sekali tidak!” Subaru kesal.

“Tidak rumit-rumit amat. Ketika kau dengan paksa menyuntikkan Gen Penyihir ke seseorang yang tidak cocok, maka Gen itu akan memberikan rasa sakit. Kepribadian Penyihir yang muncul dari pengaruh Gen itu akan berkonflik dengan kepribadian diri aslinya…kira-kira begitu penjelasannya. Tapi setahuku, keduanya sama saja, jadi aku tidak begitu paham tentang membeda-bedakan keduanya seperti yang orang-orang lakukan” kata Echidna.

“Perpisahan…kepribadian…? Terus, apa…? Maksudmu mahluk yang menelan kalian semua dan mengukir sejarah kelam itu adalah kepribadian lain, meskipun kepribadian yang asli tidak berniat melakukannya…”

“Tidak, itu juga salah”

Saat Subaru mencoba memahami informasi yang dijelaskan, Echidna menghentikannya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan membenarkan teori Subaru.

“Memakan setengah dunia, dan melahap kami Keenam Dosa, semuanya dilakukan Satella, bukan Penyihir Kecemburuan”

“Apa――!? Tidak, itu tak masuk akal! Jika yang menyantapmu adalah Satella, dan Satella itu tengah berdiri di sana…kalau begitu…”

“Sebenarnya, masuk akal, haa. Meskipun kami tidak bisa memaafkan Penyihir Kecemburuan…huu…kami tidak menyimpan dendam pada Satella…haa…singkatnya begitu, huu…”

“A-aku juga…tidak…menyukai, Satella-chan…tapi…paling tidak, dia lebih baik, dari, sang Penyihir…kurasa”

Kesepakatan Sekhmet dan Camilla hanya membuat pertanyaan lain di kepala Subaru. Para Penyihir tampaknya mempunyai semacam persetujuan, tapi Subaru sama sekali tidak memahaminya. Mereka akan memaafkan kepribadian yang membunuh mereka, tapi bukan kepribadian lain yang tidak membunuh mereka――maksudnya apa?

“Aku selalu menegaskan bahwa perbedaan semacam itu tidak berarti…tapi sia-sia saja. Jadi aku tidak bisa mengabaikan perasaan mereka dan memusnahkan mahluk itu. Roh rapuhku tidak akan bertahan lama jika melakukannya, hanya akan membuat mereka semkain membenciku. Bahkan aku sendiri tidak bisa kembali jika jiwaku tersebar ke angin”

“T…tapi…bukankah itu sangat-sangat beresiko untuk kelima Penyihir lain? Kau ‘kan yang menjaga jiwanya tetap utuh. Bilamana kau menghilang, Penyihir lain akan…”

“Mereka sudah mencapai Kematian mereka sendiri. Jadi mereka tidak tertarik untuk memperpanjang eksistensi mereka sebagai jiwa. ――Mereka lebih baik memilih mati daripada hidup dengan mengkhianati idealisme mereka. Karena itulah mereka dianggap sebagai Penyihir”

Tidak Sekhmet maupun Camilla keberatan pada perkataan Echidna. Kepala batu mungkin deskripsi yang kelewat menyanjung, namun Subaru tidak boleh komen terhadap idealisme yang dipilih para Penyihir. “Andai kata aku bisa seperti ini”, “Kuharap bisa seperti ini”, semua orang akan berpikir seperti itu.

Tapi tetap memegang teguh idealisme mereka walaupun sudah mati tidak bisa dilakukan semua orang.

“Dan Minerva…” ucap Subaru.

Kemungkinan besar sama. Sebelum orang lain, mungkin dia insan pertama yang dihancurkan oleh Penyihir Kecemburuan. Tapi Minerva masih mempercayainya sampai mendekat dalam jangkauan tangan, dan hasilnya membuktikan bahwa kepercayaan Minerva tidak salah taruh.

Subaru tidak tahu hubungan macam apa yang dimiliki gadis-gadis ini.

Tapi jika ada ikatan kepercayaan di antara mereka, apa motif Penyihir Kecemburuan untuk menghancurkan keenam Penyihir? Dan bagaimana bisa, mereka memaafkannya?

Pemikiran Echidna kurang lebih bisa dimengerti. Tapi, meski begitu――

“Aku tahu sedikit keadaan kalian. Sedikit…sulit, tapi aku mengerti sedikit. Akan tetapi, masih tidak kudengar seseorang menjelaskan kenapa Satella di sini”

“――――”

“Dia juga tidak menyerang begitu saja. Aku mengerti itu……Tetapi, bukannya dia aman. Sekiranya yang aku hadapi adalah Penyihir Keemburuan, lalu apa yang diinginkan Satella dariku? Penyihir Kecemburuan saja sudah sangattt menyusahkan…jadi meskipun kau bilang yang satu ini berbeda cerita, aku tetap tidak mengerti”

Selain itu, menurut para Penyihir sendiri, Satella-lah yang memakan mereka semua. Walaupun yang mencaplok Sanctuary adalah sang Penyihir Kecemburuan, berarti Satella tidak kalah berbahaya. Lantas siapa yang bisa menyalahkan Subaru karena merasa terancam dan hati-hati, ingin jauh-jauh dari sini?

“Apa yang dia inginkan, mengapa dia di sini. Selama tak seorang pun menjelaskannya….!”

“Kalau kau ingin tahu, sini dulu”

Minerva membungkam Subaru. Meletakkan tangannya di pinggul, Minerva tidak bisa menyembunyikan rasa sebal di wajah manisnya selagi menatap Subaru.

“Cukup sudah dalih bertele-tele dan pembelaan yang dibuat-buatmu itu. Aku di sini berdiri di sampingnya, tidak ada yang terjadi nih. Dan juga, dia kesini untuk bertemu denganmu. Karenanya, bila kau terus bertingkah layaknya seorang pecundang dan tidak mendekat, maka kami salah menilai dirimu”

“Apa yang salah nilai!? Jangan membayangkan hal yang tidak-tidak tentang diriku! Dan berhenti menumpahkan omong kosong itu padaku! Lagi pula apa yang kau ketahui tentang diriku!?”

Ditampar dengan lukisan asal-asalan perkara dirinya, bukan berarti Subaru pura-pura. Tapi, pernah sekali, ketika Subaru meneriakkan hal yang sama, ada suara yang membalasnya. Subaru masih ingat apa yang dikatakannya. Bahwa dunia itu telah menjadi kekuatannya.

――Seumpama Subaru tidak ingin mengkhianati diri dulunya yang diselamatkan oleh kata-kata itu, maka.

“Agh, bangsat…apa sih yang kupikirkan…idiot…”

Tidak rasional, membuat keputusan berdasarkan emosi semata.

Setelah mengalami banyak penderitaan hasilnya adalah ini, apa Subaru sama sekali tidak mempelajari sesuatu? Sebaiknya, Subaru harus memperhatikan detail-detail setiap kejadian, menahan emosinya agar bisa bertindak tenang, bukan karena dorongan hati, tetapi berdasarkan fakta-fakta――untuk menegakkan hati besi yang tak pernah bimbang itu.

Itulah yang Subaru inginkan.

“Kau terlalu banyak mengoceh”

“Bagaimana rasanya dekat-dekat dengan seseorang yang pernah menyiksamu sampai mati…sial, sebenarnya kau tahu betul, kan? Agak sulit”

“Kami tidak tidak memikirkannya. Sekhmet dan Camilla hanya lebih dewasa, tidak sepertiku. Tapi ada alasan mengapa aku menjaganya”

Melihat Subaru mendecakkan lidahnya selagi dia menghampiri, Minerva mengangkat bahu. Tidak memberi Subaru kesempatan untuk bertanya alasannya. Minerva menyerahkannya pada Subaru. Penyihir Kemarahan itu memberi jalan selagi Subaru mulai mendekat――sampai dia bertatap muka dengan Satella.

“――――”

Tanpa sadar menelan ludah di depan mahluk itu, Subaru diam seribu bahasa.

Meskipun dia sudah menduga hal ini selagi menyaksikannya dari jauh, sekaligus sembari berjalan ke arahnya, Subaru tidak terbiasa dengan pancaran tekanan besar dan pemandangan ganjil.

Pakaian bayangan yang melilit tubuhnya mengukir lekukan tubuhnya, sementara bayangan tak tertembus di atas lehernya memberikan daya pikat nan buruk.

Tapi semua itu langsung tersapu oleh ketidaksesuaian kepala tak tampaknya.

“――――”
Melihatnya dari jarak sedekat ini, Subaru menyadari bayangan itu bukanlah sesuatu yang menutupi pandangannya.

Bukan juga kegelapan yang menyelimuti kepalanya, menyebabkan parasnya tidak nampak.

Yang membuat wajah Penyihir itu tidak kelihatan adalah sesuatu yang lebih primordial, sesuatu yang setingkat dengan kebatinan.

Tidak ada penghalang fisik yang menutupi sosok wajahnya. Justru, merupakan sesuatu yang bersifat insting, makanya Subaru tidak bisa melihat wajahnya.

“Semua orang ingin mengalihkan sorot mata mereka dari delusi yang paling memuakkan” kata Echidna.

“……”

“Semisal kau tidak bisa melihat wajahnya, maka ada masalah dengan hatimu”

Suara peringatan datang dari belakangnya, menegaskan realita Subaru. Menahan dorongan hati tuk membantahnya, Subaru mengabaikan Echidna――lebih tepatnya, tidak punya cukup perhatian karena sudah dituangkan sepenuhnya dalam menatap Satella.

Sementara itu, Satella belum mengambil tindakan apa pun.

Satu-satunya hal yang diperbuat Satella selama ini adalah hadir ke sini, orang-orang disekitarnyalah yang memancing keributan, dengna panik berusaha mencegah potensi kerusakan akibat aksinya. Tidak berlebihan jikalau kehadirannya saja menyebarkan rasa takut merupakan bukti seberapa berbahaya eksistensinya di sini.

Dan, tepat ketika Subaru mulai tidak sabar karena tidak diperlakukan apa-apa…

“――gh”

“――――”

Melihat tangannya tiba-tiba terulur meraih Subaru, tenggorokan lelaki itu membeku.

Tidak teralih sedetik pun atau berkedip secara instan, Subaru meneruskan fokusnya pada Satella. Apa yang akan terjadi selanjutnya? ――Ketegangan ketidaktahuannya bagaikan tangan tak terlihat tengah memainkan kepalanya.

Syok Subaru bukan karena dia gagal melihat tangannya bergerak. Tapi tangan Satella yang jelas-jelas terulur ke arahnya. Mengejutkannya lagi adalah kesadarannya sendiri, sampai saat ini masih melihat tangannya terulur.

“Apa…yang kau, bener nih? Apa sih…yang kau inginkan dariku?”

Kenyataannya, Subaru tidak bereaksi pada tangan yang terulur padanya. Meskipun secara tidak sadar memahami maksud dari gerakan itu, Subaru buru-buru berucap. Seolah-olah dia tidak perlu mengakui ulang fakta itu, seakan-akan Subaru tidak mesti menghadapinya, dia menyemburkan kata-kata ini…

“Semisal kau…yang memberikanku kekuatan Perulangan…kenapa…kau…”

Subaru tidak tahu kenapa Satella melakukan ini.

Atau kenapa tubuhnya, menghadap Satella dalam jarak yang cukup dekat sampai bisa saling bersentuhan, walau Subaru berkali-kali menjerit dalam hati, dia menolak mematuhinya.

――Apakah dia seharusnya merasa sangat Lega di depannya?

“――――h”

“――Apa?”

Masih berjuang meskipun tubuhnya lumpuh, Subaru terlambat bereaksi terhadap suara yang mendengung gendang telinganya. Kali ini, reaksi barusan tidak salah lagi karena segala halnya telah melampaui ekspektasinya.

Menahan nafasnya, Subaru menunggu Satella melanjutkan perkataannya. Di depan Satella, memelototi dirinya dengan ekspresi datar, Subaru menelan nafas, dia terus menunggu selagi waktu tetap berlalu, sampai dia bicara.

“――――Aku akan”

“――――”

“Aku akan selalu. Selalu. Mencintaimu”