Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 75

Posted on

Orang Itu

Penerjemah: DarkSoul clalu

Terhempas dari dampak itu seolah-olah ada karpet yang ditarik di bawahnya, Mata Subaru membelalak pada gadis berambut pirang yang melotot padanya.

Matanya yang biru penuh dengan amarah yang berkobar-kobar dan wajahnya yang cantik diwarnai dengan warna merah padam, dia adalah sang Penyihir――Minerva.

Menatap tajam Subaru yang tertegun, dia berbalik menghadap Echidna yang sama sekali tidak terpengaruh, berdiri di hadapannya.

“Akan kukatakan sekali lagi, hentikan ini sekarang. Aku tidak mengizinkan kontrak semacam ini”

“……Hm. Nah bukankah ini … perkembangan yang cukup tak terduga”

Sentimennya terlalu mirip dengan kebencian, dan terlalu ganas jika disebut kemarahan. Berdiri di dalam kawah yang dia buat, mengerahkannya hanya kepada Echidna, Minerva melipat tangannya, mengayunkan payudara besarnya ke atas sambil menggigit bibirnya.

“Memang sih――kau harus memahami makna kontrak dengan seorang Penyihir. Kenyataannya kau memilih untuk ikut campur … apa mungkin, kau juga ingin menyegel kontrak dengannya pribadi? Kau tak berniat mengesampingkan Subaru saat mengetahui dirimu tidak bisa membuat kontrak dengannya, kan?”

“Tidakkah kau lihat amarahku, bahwasanya tidak ada yang tenang dalam diriku? Aku marah. Aku sangat jengkel. Aku sangat kesal, aku siap meledak.

Di depan gurauan yang dijadikan dalih Echidna, Minerva membalasnya dengan pipinya yang semakin memerah. Air mata menggenang di matanya karena luapas emosi sementara wajahnya cemberut bak anak kecil yang merajuk.

Wajah kekanak-kanakannya sepenuhnya bertentangan dengan tubuh seksi itu―― Subaru tidak bisa berbuat apa-apa selain melihat sosok seperti itu secara langsung.

Lagipula…

“Apa … yang kau lakukan di sini?”

“Apa. Apa aku tidak diperkenankan berada di sini?”

“Yah, tidak. Itu bukan … tapi …… Maksudku, Echidna ada di sini” kata Subaru

Setelahnya, Subaru menunjuk Echidna saat Minerva mengkedutkan pipinya ngambek. Tidak mendapati maksudnya, Minerva memiringkan kepala, sedangkan Echidna, yang tampaknya mengerti, dengan santai menggenggam tangannya dan menyatukan kedua telapak tangan lalu mengangguk.

“Ah, sepertinya aku tahu mengapa kau bingung. ――Kau terkejut melihat Penyihir lain bermanifestasi saat aku masih di sini, benar?”

“Y-ya. Maksudku, karena aku selalu bertemu dengan Penyihir satu per-satu … Kupikir mereka akan mengambil tempatmu kalau ingin muncul. Tapi……”

“Kuyakin dia tidak pernah mengatakan kami tidak dapat muncul pada saat yang sama. Kedengarannya seperti sebuah prank yang akan dilakukan roh jahat Penyihir ini!”

Sambil terengah-engah, Minerva dengan mudahnya membungkam komplain Subaru. Bergumam “Serius…?”, Subaru menatap Echidna. Tapi, di hadapan tatapan Subaru dan protes Minerva, Echidna tidak berusaha menyangkalnya.

“Aku tidak ingin kau salah paham. Memanggil Penyihir lain ke sini adalah tindakan yang berat dan berisiko untuk dilakukan. Ada kemungkinan mereka bahkan dapat merebut Wewenangku atas tempat ini, atau, meskipun tidak melakukannya, terlampau menyusahkan untuk memanggil mahluk sekuat mereka”

“Itu … alasannya? …… Tidak, tapi, kau ……”

“Aku tidak pernah berbohong tentang hal ini. Paling tidak sebanyak itulah aku meyakinkanmu”

Dengan satu pernyataan jelas itu, Echidna mengiris kata-kata Subaru yang goyah.

Itu benar. Menggali ingatannya, Echidna tidak pernah mengatakan apapun tentang situasi sekarang ini sambil menyisipkan suatu kebohongan.

Hanya imajinasi Subaru yang berkeliaran sendiri ketika dia disajikan dengan fenomena ini.

Jadi, pada akhirnya, secara teknis, Echidna tidak benar-benar menipunya, tapi…

“Aku hanya tidak ingin kau tahu bahwa Penyihir lain dapat meuwujud sesuai keinginan mereka, dan meminta mereka mengambilmu dariku”

“Hah?”

“Bagiku, kau adalah tamu pertama yang aku miliki dalam waktu yang sangat lama. Bercakap-cakap denganmu telah membuatku bergairah dengan cara-cara yang tak pernah sebegairah ini, termasuk sebelum atau sesudah kematianku. Jika aku bilang hanya ingin memilikimu di sini, untuk diriku sendiri, apa kau akan mencaci diriku karena pemikiran sempit ini?” tanya Echidna.

“――――”

“Aku tahu terus mengatakan ini, tapi aku agak menyukaimu. Dan, aku tidak ingin minatmu beralih ke Penyihir lain yang lebih mempesona dan lebih berguna ketimbang diriku. ――Ayolah, kau boleh menertawaiku kapan saja”

Jadi keinginan untuk memiliki yang ekstrim nan mengerikan ini――adalah alasannya untuk menyembunyikannya darinya.

Diam mendengarkan dalih Echidna tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Subaru bertanya-tanya mengapa Echidna begitu ingin memiliki dirinya—bagaimana sudut pandangnya menganggap hal semacam ini?

Sama saja dengan Penyihir Kecemburuan, dan sekarang Echidna ikut-ikutan juga. Ada apa dengan mereka?

“Kamu terlalu mudah untuk ditipu, tahu!?”

“――Ddgah!?”

Saat pikirannya tenggelam dalam pemikirannya, kepala Subaru ditabrak oleh tinju lembut dari belakang.

Dia berbalik memegang kepalanya, dan mendapati Minerva tepat berada di belakangnya. Minerva meraih tangan Subaru yang sedang memegang kepalanya, dan, dalam satu gerakan yang mulus, dia memutar lengannya dan membanting Subaru ke tanah.

“Oa, aah! Tunggu-, sakit sakit, sakit …… atau … tidak?”

“Ketika aku menyentuh mahluk apa pun dengan tangan telanjang, tidak peduli tindakan apa yang aku ambil, akan berubah menjadi penyembuhan. Aku bisa-bisa saja memukul sekuat tenaga tapi fungsinya tetap menutup luka, aku bisa membantingmu ke tanah dan itu akan menyembuhkan penyakitmu, aku bisa mengkuncimu dan justru akan memperbaiki rasa sakit di pundakmu…!”

“Itu …… menjelaskan kenapa tubuhku tidak sakit, tapi”

Selagi tubuhnya tengah mengecap kekuatan penuh dari Penyihir Kemarahan, Subaru dengan panik memutar lehernya menghadap Minerva yang sedang menguncinya.

Meskipun tulang-tulangnya berderak dan arahnya yang tampak tidak alamiah, persendiannya sedang dipilin, alih-alih sakit, yang Subaru rasakan adalah kehangatan ganjil yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Penyihir ini, dengan Wewenang aneh yang dapat mengubah serangan menjadi penyembuhan. Setelah dipikir-pikir, Subaru tidak memiliki satu pun kesan buruk tentang dirinya hingga saat ini, tapi…

“Apa sih yang coba kau lakukan ……?”

“Jika aku tidak melakukan ini, kau akan dengan senang hati terbuhuk dan menandatangani kontrak dengan Echidna. Sikap ceroboh tanpa otak ini benar-benar membuatku kesal!”

“Cajole, jangan buat buruk gitu dong. Aku hanya menjelaskan keuntungan dari menyegel kontrak denganku dan berusaha saling mengerti……” ucap Echidna.

“Caramu menjelaskannya kedengaran seolah-olah hanya demi memenuhi penjelasan yang untung-untungnya saja. Kau menjelaskan faedahnya dengan baik. Kau melakukannya …… ​​tetapi kalau rincian detail kerugian mengenai kontrak kau tidak mengatakan apa-apa!”

Diisi kemarahan, Minerva dengan geram menghentak-hentakkan kakinya. Tempat di mana tumitnya mendarat persis pantat Subaru, dan dia merasakan sensasi tumit yang tak dapat dijelaskan di pantatnya, kekuatan itu memaksa masuk dalam dirinya, membuat lekukan di tanah.

Selagi merasakan ususnya yang entah bagaimana diperbaiki oleh injakan di belakangnya, sampai Subaru terkejut, dia mulai menyadari arti kata-kata Minerva.

――Benar juga, bahwa percakapannya dengan Echidna tidak mengungkit kerugian kontraknya sama sekali. Butuh waktu berapa lama sampai Subaru kembali menyedarinya?

“Tidak, tapi …… menyebutnya kerugian …… tidak parah-parah banget, kan?”

“Tidak parah-parah amat, begitukah yang ada dalam kepalamu? Kau terlalu meremehkan kontrak. Terutama ketika orang lain adalah seorang Penyihir――dari ketujuh Penyihir, dia yang membawa nama-nama Dosa, telah membuat kontrak paling banyak, paling sering berhubungan dengan manusia, dan paling besar campur tangannya pada sejarah dunia: sang Penyihir Keserakahan”

“Semua itu adalah pencapaian hidupku …… meski semuanya bisa dibilang terhormat. Dan, memang benar bahwa menyegel kontrak denganku tidak selalu menyelamatkan mereka”

Yang ditukas Minerva adalah sesuatu yang tidak pernah diketahui Subaru. Mengikuti kata-kata Minerva, Echidna bersikeras bahwa dia tidak punya niat buruk terhadap Subaru.

Terjebak di antara keduanya saat mereka menegaskan argumen mereka, kepala Subaru kacau sekacau-kacaunya.

Dia tidak tahu kata-kata siapa yang harus dipercaya.

Sejak Subaru terlibat dalam Ujian di dalam Makam, beberapa pertemuannya dengan Echidna dan waktu yang mereka habiskan bersama, melipur kesedihannya, telah membuat Subaru menganggap Echidna sebagai seorang rekan seperjuangan.

Maka dari itu, ketika Echidna mengusulkan tuk membuat kontrak sebagai peresmian kerja sama mereka, sebagian diri Subaru bahkan merasa bersyukur.

Di sisi lain, disbanding waktu yang dihabiskannya bersama Echidna, kesempatannya untuk berbicara dengan Minerva sangat singkat. Namun setiap kali Subaru berada di ambang kehancuran, Minerva penuh belas kasih menyelamatkannya dengan tinju kuatnya lalu kabur begitu saja seperti badai tanpa menuntut ucapan Terima kasih.

Tidak ada alasan Minerva menipu Subaru, namun bila ada masalah yang cukup penting sampai-sampai dia mengintervensi, mungkin bisa menjadi alasan untuk Subaru agar mempertimbangkannya kembali dengan hati-hati.

Atau, sebenarnya, daripada merenung seperti ini, seharusnya Subaru menanyakan pertanyaan ini terlebih dahulu.

Dan pertanyaan itu adalah–

“Echidna. Jika kita menyegel kontrak ini … kau tentunya mendapatkan sesuatu sebagai timbal balik, bukan?”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“……Mn, itu benar. Kontrak perlu balasan. Sebagaimana diriku memberikan pengetahuan yang kau cari-cari, dirimu juga ‘kan memberi sesuatu yang aku inginkan”

“Tentu saja. ‘Kan. ――Kalau begitu, apa yang kau inginkan dariku? Jika mengikat kontrak denganmu, apa yang harus aku berikan kepadamu?”

Mulai saat ini, kapan pun Subaru terjebak dalam kebuntuan dan keputusasaan lalu meminta bantuan Echidna, apa yang harus dia bayar?

Dihadapkan dengan pertanyaan tersebut, pipi Echidna melunak menjadi senyuman.

“Tidak ada yang perlu kau risaukan. Yang aku inginkan tidak sukar. Malah, karena kompensasi yang aku inginkan bukanlah materi, atau sesuatu berharga yang tidak bisa dibeli uang, bisa dibilang permintaanku ini adil”

“――Dan apa … yang kau inginkan?”

“Itu sederhana. ――Yang kau rasakan, pikirkan, dan yang bernaung dalam hatimu, yang kau ketahui juga lakukan, ciptaanmu, dan semua buah yang disebut Tak Dikenal, yang lahir dari keberadaan tunggalmu, aku ingin menikmatinya … setiap saat”

Wajah Echidna memerah layaknya gadis muda sedang naksir doinya.

Buah yang disebut Tak Dikenal ―― kalimat puitis itu membuat Subaru mengerutkan alisnya.

“Apa-apaan … itu? Kau ingin aku menyerahkan perasaanku, ingatanku, kenanganku, itukah maksudmu? Kalau memang begitu……”

“Bukankah aku sudah memberitahumu? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku hanya ingin menyaksikan pemandangan yang kau lihat, melodi yang kau dengar, kisah-kisah yang kau kagumi, semuanya dari kursi kotak khusus. Yang aku inginkan adalah mengalaminya. Untuk berada dalam posisi untuk mengetahui Tak Dikenal yang kau buat. Dengan itu, dan hanya itu saja, aku baru puas”

Untuk menghilangkan kegelisahan Subaru, Echidna dengan jelas memberitahukan permintaannya.

Hanya untuk menonton Subaru berjalan di jalannya. Untuk melihat pemandangan yang sama dengan yang dia lihat. Untuk mengetahui perasaannya, tahu yang Subaru ketahui, dan menyaksikan hasil dari tindakannya.

Inkarnasi dari Haus untuk Pengetahuan, sang Penyihir bermahkota Keserakahan, hanya menginginkan itu.

“Kau tidak, berbohong padaku, kan?”

“Berbohong tentang kesepakatan kontrak itu absurd. Sedangkan aku sendiri, aku bersumpah tak akan pernah melakukan apa pun sampai bisa mengkhianati kata-kataku. Aku bersumpah atas nama hidupku”

Menempatkan tangannya di dada, Meskipun, saya sudah mati, tukas Echidna dengan sindiran.

Subaru merasa tidak ada tipuan dalam kata-kata atau tingkah lakunya. Atau mungkin, itu karena Subaru ingin mempercayainya.

“Minerva. Karena Echidna berkata begitu … kupikir aku akan……”

“I-itu semua …… benar, tapi …… dia belum, memberitahumu semuanya, kan?” imbuh seseorang.

Tepat saat Subaru meminta Minerva melepaskannya dari kuncian, kali ini, Subaru mendengar suara orang lain memanggilnya. Itu merupakan suara yang dia dengar sepuluh menit yang lalu―― suara yang Subaru anggap benar-benar tidak ada sisi positifnya.

“Camilla……Penyihir Nafsu!”

“Jangan … jangan …… lihat aku … dengan mata seram itu. Aku, aku …… bahkan tidak, melakukan apapun…… menge, mengerikan ……”

“Mata menakutkan ini bawaan dari lahir. Aku tidak membuat-buat ekspresi inten ini”

Subaru yang masih dikunci di tanah, di depannya berdiri Echidna dan di belakangnya adalah Minerva, ketiganya membentuk garis lurus sembari duduk di rumput tak jauh darinya, yang paling belakang adalah seorang gadis berambut merah muda— Camilla.

Dia dengan malu-malu menyembunyikan wajahnya dari tatapan Subaru, dan hanya sekarang dia baru mengintip sedikit. Sikapnya menjengkelkan seperti biasa, tetapi secara sadar mengalihkan perhatiannya dari Camilla, Subaru berhasil menghindari Terpikat sampai jiwamu terancam.

Kemudian, Subaru bertanya lagi,

“Omong-omong, apa yang kau bicarakan? Aku tidak akan mengeluhkan para Penyihir yang baru-baru ini berdatangan, tetapi jika ada…”

“E-Echidna-chan …… menyembunyikan banyak dan banyak hal, tahu ……? Dia, tidak berbohong, tapi …… dia menyembunyikan banyak, dan banyak ……”

“Menyembunyikan … apa ……?”

Memikirkan kata-kata Camilla, Subaru memandang Echidna dengan tatapan memohon. Sedangkan Echidna berpaling ke Camilla yang muncul tiba-tiba dan menyipitkan salah satu matanya,

“Dan aku bertanya-tanya kenapa kau tiba-tiba muncul, intinya untuk menjelek-jelekkan diriku kan? Yang jadi soal, bagaimana bisa dia sampai menarik perhatianmu? Tidak seperti Minerva, aku tidak tahu kenapa kau merasa nyaman dengannya. Kukira kau tidak menyukainya”

“A, a-alasan, seperti …… Minerva-chan? Tidak, aku tidak punya alasan, apapun …… atau sesuatu seperti itu. Tapi, Echidna-chan, kau …… menipuku …… kan?”

Berbicara dengan suara lirih dan gagap, Camilla menunduk ketika dia menanggapi pernyataan metodis Echidna. Akan tetapi, tidak seperti kerapuhan suaranya, isi dari kata-katanya tidak menyiratkan adanya kelemahan atau kompromi.

Tatapan tidak tenangnya mondar-mandir, beberapa kali melirik Echidna,

“Aku-aku tidak suka …… dia, tapi, kau me-menipuku …… E-Echidna-chan, jadi aku, tidak, berada di pihakmu, lagi, tahu? Orang-orang, yang menipuku, membenciku …… menjahatiku, tak …… tak akan pernah kumaafkan”

――Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan sangat-sangat jelas.

Sederhananya, untuk sesaat, Subaru tidak menyangka kata-kata itu berasal dari gadis di sampingnya.

Jadi memang benar bahwa suara itu berasal dari kesannya terhadap gadis ini hingga sekarang.

Kecuali…

“――――”

Tanpa bicara, namun teguh dan tak tergoyahkan, Camilla memelototi Echidna.

Di matanya ada emosi yang tak terlukiskan — pusaran dari sesuatu yang gelap juga muram, tak kenal ampun terhadap orang yang telah menyakitinya dengan perilaku jahat mereka.

Sebuah kumpulan narsisme murni ―― gambaran itu mendadak menggores tajam pikiran Subaru.

“Walaupun penyelamatan Subaru sungguh penting, melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Camilla adalah kesalahanku. Tidak ada sesuatu yang lebih salah lagi daripada menjadikanmu musuh, Camilla”

“S-semua orang, ada di pihakku …… jadi, , tidak bagus, jika aku, membencimu …… tahu? Kau boleh, minta maaf, tapi, aku tidak akan, memaafkanmu……”

Camilla bukan sekedar keseimbangan dari penyegan dan pemberontakan.

Kepribadiannya begitu tertutup sehingga dia terlalu takut untuk berkomunikasi dengan orang lain ―― tetapi itu hampir tidak ada hubungannya dengan dendam terhadap orang-orang yang menganiaya dirinya.

“Kalian semua …… apa yang kalian semua bicarakan !?”

Alhasil memecah suasana berbahaya antar Penyihir, Subaru angkat bicara dan berseru.

Merasa tatapan ketiga Penyihir tertuju padanya, Subaru dengan panik memutar lehernya, lalu…

“Berapa lama kau mengindahkanku dari percakapan!? Aku, Akulah orang yang harus memilih di sini! Katakan dengan cara yang bisaku mengerti! Echidna, apa yang kau sembunyikan!? Dan kalian berdua, kalian tahu apa sampai menghentikanku!?”

“Menempatkanmu dalam kondisi lemah mental ini sehingga kau serta-merta meraih tangan siapa pun yang diulurkan kepadamu …… semua ini adalah perencanaan matangnya, kau berada di sini juga termasuk rencananya!”

“Kau membuatku kedengaran seperti penjahat. Bukankah itu membuatnya salah paham? Jika kami menyegel kontrak ini, aku pasti akan membantunya, dan membimbingnya ke tujuan yang diinginkannya. Permintaanku hanyalah untuk melihat apa yang dilihatnya, mendengar apa yang dia dengar, dan mempelajari apa yang dia pelajari dalam hidupnya. Aku tidak salah apa pun”

Minerva mengecam protes Subaru, suaranya gemetar marah. Sementara itu, Echidna tetap tenang seperti biasa.

Mendengarkan penjelasan sebenarnya Echidna, Subaru mulai merasakan bahwa ada sesuatu yang serba salah. Setelah mengatasi keadaan sinting yang sampai sekarang masih memanas, Subaru sekali lagi meneliti kata-kata Echidna. Tindak-tanduknya, dan mengapa dua Penyihir lainnya mencoba menghentikannya.

Adakah yang janggal? Dia tidak mengatakan hal aneh. Kedua Penyihir lainnya mengakui bahwa Echidna tidak berbohong. Jadi, di mana masalahnya――?

“Akan kuulang lagi, Natsuki Subaru. Jika kau memilihku, memilih untuk menyegel kontrak ini denganku ―― Aku akan menuntunmu ke tempat yang kau inginkan, tanpa gagal …”

“――Pada akhirnya, adalah sangkalan terpaksa atas janji itu, kan? Haa …”

Tepat setelah Echidna mengulurkan tangannya ke Subaru, suara lesu membungkamnya.

Melihat ke atas, nampak seekor monster yang terbuat dari rambut magenta muncul di depan Camilla―― terduduk di tanah, terkubur dalam rambutnya yang panjang, dia adalah Penyihir Kemalasan.

Meningkatnya jumlah Penyihir tidak mengejutkan Subaru lagi. Tapi, apa yang Subaru lakukan adalah,

“Pada, akhirnya ……?”

“Aku yakin Echidna, huu… pasti akan memenuhi kontraknya, haa. Tapi, selama dia mengikuti kesepakatan, huuu … bahwa dia berniat untuk memenuhi kontrak itu juga, haa. Dia mungkin bisa melakukan apa pun yang dia sukai selama berjalannya kontrak, huu”

“Lakukan, apapun yang――”

Mengikat kata-kata Sekhmet yang terengah-engah dan terputus-putus dengan rasa kesal yang dia rasakan sebelumnya, satu penjelasan muncul di pikiran Subaru.

Tetapi penjelasan itu terlalu sulit untuk diterima. Wajahnya menegang karena terkejut, Subaru memandang Echidna, yang telah menutup matanya, kemudian…

“Echidna, jika aku kontrak denganmu …… kau pasti akan membawaku ke masa depan yang terbaik, begitukah maksudmu?”

“Ya, benar. Itu fakta. Tanpa ragu, aku akan mengikuti kontrak ini sampai akhir. Dengan pengetahuanku dan kemampuanmu, kami pasti akan dapat mencapainya”

Ya, tentu saja, kontraknya akan dipenuhi dengan benar.

Tidak ada kebohongan dalam kata-kata Echidna. Jika Subaru bekerja sama dengannya, mereka pasti akan dapat menyelamatkan semua orang dan mencapai masa depan yang sempurna. Meski demikian,

“Saat kau membimbingku menuju masa depan yang terbaik, apakah kita akan mengambil jalan yang terbaik jua?”

“――――”

“Akankah kau mengerahkan segala kekuatanmu untuk membawaku ke tempat yang aku inginkan?”

“――――”

“Kenapa … kau tidak mengatakan apa-apa. Jawab aku, Echidna …… tidak …… PENYIHIR KESERAKAHAN!”

Mengangkat kepalanya, Subaru berteriak sekeras-kerasnya

Meskipun masih terkunci di tanah dengan persendiannya yang lumpuh, Subaru tidak menghiraukannya sambil melotot pada Echidna.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Di ujung lain tatapan tajamnya, Echidna mendesah kecil.

“――Jika kau ingin mencapai masa depan yang terbaik, kau harus mengorbankan sesuatu di sepanjang jalannya. Mungkinkah tekadmu itu kurang, Natsuki Subaru?”

“――――gh”

Jawabannya tidak mengkonfirmasi atau membantah apa yang ditanyakan Subaru.

Tapi, Subaru sudah menyadarinya:

Kata-kata Echidna tidak dimaksudkan untuk menghilangkan keraguan Subaru.

Sebaliknya, seakan ingin membuat pemikirannya dipahami Subaru, dia mengulurkan lengannya,

“Kemampuan luar biasa yang kau miliki, Kemampuan Return by Death: Utilitasnya adalah sesuatu yang belum kau ketahui betul. Tidak setuju dengan akhir yang bertentangan dengan keinginanmu, Kau berulang-ulang kali kembali, dan berulang kali berusaha meraih masa depanmu――itulah idealisme yang hampir sempurna untuk seorang penyelidik. Tapi tentu saja. Dari awal, saat suatu peristiwa mencapai kesimpulan akhirnya, berarti tidak ada hasil lain yang dapat menggantikannya. Selagi dalam proses mencapai hasil akhir, mungkin kau bisa menyusun hipotesis akan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi di masa depan. Pemikiran semacam itu dalam kondisi tersebut berfungsi untuk memverifikasi berbagai hipotesis tersebut. Tetapi tatkala ada hasil aktual yang ingin kau capai, hasil akhir dari setiap eksperimen dan hipotesis yang diverifikasinya haruslah tunggal. Sementara itu, untuk benar-benar membuat kembali kondisi yang persis sama tidaklah mungkin. Tidak peduli seberapa teliti persiapannya, kesalahan dari momen-momen yang ingin kau ciptakan itu tidak bisa dicegah. Dan demikian juga dengan pertanyaan: Apa hasil akhirnya bila mana aku melakukannya dengan cara yang berbeda? ―― Selamanya di luar jangkauan seorang penyelidik seperti diriku, malah akan menjadi sesuatu yang kau sebut mimpi di dalam mimpi. Memiliki Ingatan Dunia, memang ada cara di mana aku bisa Mengetahui jawabannya. Tetapi meski ada jawabannya, aku tidak ingin menggunakan atau mengandalkan metode seperti itu. Hasrat Untuk Mengetahui-ku bukan hanya Keinginan untuk Memiliki Pengetahuan. Bahkan bagiku, perbedaan itu adalah hal yang sangat kontradiktif dan menjijikkan. Oh aku malah terbawa perasaan, mari kita kembali ke topik utama …… untuk orang sepertiku, tanpa pilihan selain menerima hasil tunggal, hanya punya satu sudut pandang, eksistensimu dan Wewenangmu adalah sebuah rahmat Tuhan. Menggunakan Kondisi yang Sama untuk melakukan Tes yang Berbeda, dan melihat Hasil yang Berbeda dari Yang seharusnya Sudah Ada――siapa lagi yang tidak menginginkan Wewenang tertinggi seperti itu? Melihat kejadian yang berubah-ubah di depan matamu, siapa orang yang meninggalkannya tanpa benar-benar mencoba semuanya terlebih dahulu? Tentu aku, saya tidak berniat mengambilnya dengan paksa. Ujung-ujungnya, kau akan sepenuhnya mengandalkan Return by Death demi mencapai tujuanmu. Akulah yang memastikan bahwa kau ‘kan mencapai masa depan yang kau inginkan dengan segenap kekuatanku. Dan, dalam prosesnya, kalau bisa, aku ingin memuaskan keingintahuanku semaksimal mungkin. Tentu saja, kau takkan menyalahkanku untuk permintaan yang sangat sedikit ini? Kau mendapat jawabanmu. Aku akan memuaskan keingintahuanku. Kepentingan kita satu jalur. Karena aku tidak tahu jawabannya sendiri, aku pasti tidak akan menyesatkanmu dengan sengaja mengantar akhir yang paling buruk. Ketika pertama kali menghadapi masalah, aku sama bodohnya denganmu, memikirkan solusi terbaiknya. Jadi bersama-sama, kita akan memikirkan, mengeksekusi dan menemukan jawabannya sebagai rekan seperjuangan. Aku mengatakan ini tanpa rasa malu. Aku sangat menyukaimu, yaitu, karena kau telah memperbesar sarana penyelidikanku, dan aku bersumpah tak akan menghalang-halangimu. Tentu saja, kalau dari awal saja tidak ada jawaban, aku tidak bisa menjamin penyelesaian yang mulus untuk setiap masalah bahkan dengan bantuanku. Selagi diriku dapat membantumu dengan kekuatan pengetahuanku, aku tidak akan dapat ikut campur dalam dunia nyata. Jika rintangan yang menghalangimu membutuhkan fisik, kekuatan material, aku tidak dapat membantumu. Dari waktu ke waktu, mungkin dalam ratusan atau ribuan, pikiran dan tubuhmu akan hancur dan terkoyak. Namun sampai saat itu, aku akan dengan setia mendekam dalam hatimu. Aku blak-blakan tidak ingin kehilangan sesuatu sepenting dirimu. Tapi, rasa penasaran, dan niatku untuk meminjamkanmu kekuatanku adalah nyata. Kuharap kau enggak berpikir tidak-tidak tentang diriku. Kendati sudah kukatakan berkali-kali, aku pasti akan membuktikan keberhargaanku dalam pencapaian tujuanmu. Memang, seperti diriku yang biasa, memanfaatkanmu sebagai pemuas Keserakahan Keingintahuanku, kau juga dapat menggunakanku untuk Mencapai Masa Depanmu Yang Sempurna. Justru keinginanku untuk menjadi gadis yang dapat diandalkan kapan pun kau menghubungiku. Jika itu bisa menyemangatimu, maka dengan senang hati aku ‘kan menawarkan hidupku. Meskipun sederhanya, mengetahui aku sudah mati, apakah kau ingin memiliku adalah persoalan lain. Sayangnya, kurasa itu tidak adil bagi gadis-gadis itu di dalam pikiranmu itu. Subjek kerinduanmu――Setengah-Elf berambut perak, dan Iblis berambut biru itu: gadis-gadis yang kau lindungi dalam sumpahmu. Aku tidak akan membahas pemikiranku tentang emosi kuat yang kau rasakan terhadap mereka, tetapi akan kukatakan satu hal: Barikade yang berdiri di depanmu jauh lebih besar daripada yang kau bayangkan. Kendala yang kau rasakan ini membuatmu berjuang habis-habisan. Sekalipun tekad untuk mengatasinya tanpa bantuan orang lain pantas dipuji, tetap menjadi pertarungan mati-matian. Tidak ada sedikit pun kebohongan soal keinginanku untuk membantumu. Dan kau sangat membutuhkan bantuanku. Kau harus menggunakan semua yang kau miliki, memanfaatkan semua yang bisa dimanfaatkan, dan hanya dengan begitu kau dapat menyelamatkan orang tersayangmu. Bukankah itu merupakan sumpah yang kau ucapkan, dan keyakinanmu mengantar ke jalan menyakitkan yang telah kau pilih? Itulah sebabnya aku menantangmu, mengulanginya dan merasakannya bersama. Jalan yang telah kau korbankan untuk menempa kehidupanmu, ironis memang, kini telah divalidasi dalam bentuk Ujian Kedua. Mungkin, Ujian menawarkan nyata untuk membuatmu memahami arah jalan yang telah kau pilih, dan itu sangatlah penting. Namun kebenarannya sendiri tidaklah penting, dan hal-hal itu sebenarnya hanya berfungsi untuk melemahkan hatimu. Namun, di antara mengetahui atau tidak mengetahui, tidak peduli betapa mengerikan kebenarannya, aku akan selalu menghargai hasilnya. Kau telah berusaha, dan akan terus menggunakan hidupmu sebagai harga Return by Death dan demi beringsut lebih dekat ke masa depan. Ketika kau melakukannya, kau akan terus-menerus memikirkan kembali kemungkinan bahwa pengorbanan yang kau buat dan dunia-dunia itu sendiri Mungkin Masih Ada dalam beberapa aspek atau lainnya. Sampai suatu hari, kau akan berhenti merasakan apa pun tentang membayar dengan hidupmu, emosi manusia kau akan sirna, kematian orang-orang yang berharga bagimu tidak lagi membuat hatimu pedih, dan begitu menenggelamkan hari-harimu dalam kebencian tanpa perasaan dan emosi, kendatipun kau pada akhirnya mencapai masa depan yang sempurna, kau tak lagi mempunyai sesuatu――oleh karena itu, agar tidak tenggelam ke dalam kebinasaan, ini lagi-lagi penting. Memang, tidak ada satu pun hal yang tidak berguna di dunia ini, setiap langkah itu penting, semuanya adalah bagian yang tak tergantikan dari teka-teki: kau betul-betul perlu tahu bahwa Ujian itu ada. Jika kau memahami alasan kenapa sekarang kau berhenti dalam jalanmu, maka pikirkanlah dengan cara ini. Dan akan kuperkuat lagi jalan pemikiranmu. Jika kata-kataku dapat memberikanmu kekuatan untuk maju, maka akan habis-habisan kuberikan. Hiburan, hasutan, bisikan cinta, atau sumpah serapah, jika itu bisa menjadi kekuatanmu maka aku tidak akan ragu untuk melakukannya. Kau mungkin tidak menyukainya, tetapi kau mesti membutuhkanku. Jika kau terus melanjutkan jalan penuh rasa sakit nan menyedihkan ini, maka kau membutuhkan seorang pendamping yang akan fokus memperhatikan jalanmu. Jika kau menyerahkan peran ini kepadaku dan tidak pada orang lain, maka aku bersedia berjalan di jalan ini bersamamu. Akan kuulangi lagi, dan akan kunyatakan kembali, aku akan menyampaikannya sebanyak mungkin. —Kau membutuhkanku. Dan aku membutuhkanmu. Aku sangat membutuhkanmu. Keingintahuanku tidak bisa lagi dipadamkan oleh apa pun kecuali dirimu. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa memuaskanku. Keserakahanku yang tak terpuaskan akan dipenuhi olehmu. Keberadaanmu kelewat perlu bagi dunia yang tertutup ini. Jika kau ingin menjadi harapan orang lain dan menggunakan kekuatanmu untuk membuka dunia mereka, bisakah kau tidak mengasihani diriku yang menyedihkan agar aku dapat mengambil bagian dalam masalah-masalahmu? Jika kau mewarisiku kebaikan ini, tak perlu dipikirkan lagi, aku akan mempersembahkan tubuh, pengetahuan, dan jiwaku. Kumohon. Percayalah padaku. Bahwa aku tidak memberi tahumu perasaanku yang sebenarnya sampai sekarang tidak pernah, karena aku ingin menipumu. Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk melakukannya. Sekarang ini, seketika aku mengutarakan fragmen-fragmen niatku yang terdalam, terlampau pasti kau akan meninggalkanku. Dan itu sangat membuatku terpukul. Tentu kau juga, karena kau telah menjauhkan dirimu dari masa depan yang kau cari-cari. Meskipun, dengan kekuatan Return by Death, masa depan yang kau inginkan mungkin tercapai. Namun demikian, tentu akan lebih baik untuk mencapai masa depan itu dengan pengorbanan sesedikit mungkin. Dengan diriku kau dapat meringankan harganya. Aku tidak ingin kau membuat kesalahan dengan berpikir selama mencapai masa depan yang dikehendaki, kebajikan yang lebih besar dapat mengesampingkan yang lebih kecil, dan itu tak layak diambil pusing. Memang, jatuh termakan hasrat dan gagal menasehatimu tentang jalan yang terbaik hanya agar diriku dapat melihat ujung benang ―― keinginanku bukanlah sesuatu yang begitu dapat kukendalikan, tapi akan kujamin tidak akan pernah terjadi. Kuakui hal ini. Tapi, aku tidak akan menyesatkanmu. Jika saat itu aku mengkhianati kepercayaanmu, aku tidak akan menyembunyikannya darimu. Aku pasti akan mengungkapkannya. Dan kemudian, aku akan melakukan apa pun untuk membetulkan kepercayaan yang rusak itu. Apapun yang terjadi, aku akan mengantarmu ke masa depan yang kau inginkan. Itu jelas, sudah jelas. Dan sekarang, jika kau setuju ini penting, apakah kau masih tidak memilihku? Yang aku inginkan dan minta darimu adalah seperti yang kusebutkan dalam kontrak. Setelah itu, yang jadi persoalan adalah berapa banyak penderitaan yang bersedia kau tahan demi hasratmu, dambaanmu. Sudah kuberitahu tekadku. Sekarang giliranku mendengar tekadmu. Buktikan kepadaku, segel kontrak ini denganku, mintalah bantuanku, dan kumpulkan keinginan tuk mencapai masa depan yang ditakdirkan. Lakukan demikian, dan kau dengan bangga dapat menyatakan bahwa Ujian Kedua sudah kau taklukkan. Kemudian, lanjutkan Ujian Ketiga dan selesaikan lagi, bebaskan Sanctuary. Sesudahnya, menimbang-nimbang malapetaka yang akan melanda Sanctuary, orang-orang yang kau cintai dan sayangi, itu adalah ujian terbesarnya. Tunjukkan padaku bahwa kau punya kekuatan dan tekad untuk mengatasinya. Lalu, rampaslah diriku, gunakan pengetahuanku, dan capai masa depan. Yang aku inginkan dan kuminta darimu, dan apa yang aku tawarkan sebagai imbalan persis seperti yang telah kukatakan. Dengan tulus, rela dan juju raku mengakuinya. Jadi sekarang, beritahu aku――apa keputusanmu? Hanya dengan itu saja, akan memuaskan sebagian keingintahuanku”

――Senyum indah nampak di wajah Echidna.

Dengan rambut putih layaknya salju yang menari-nari dan pipinya memerah karena bergairah, dia menatap Subaru, menunggu jawaban.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Bulu mata Echidna gemetar takut atas tanggapan Subaru, jari-jarinya ditempelkan ke dada dengan gelisah. Bibirnya beberapa kali ingin mengucap, tetapi, ragu-ragu, dia hanya membasahinya dengan lidah.

Subaru memelototi orang yang menahannya, Minerva.

Untuk beberapa saat, mereka terus saling menatap, sampai Minerva mendesah pelan dan akhirnya melepaskan lengan Subaru. Terbebas dari kunciannya, Subaru berdiri sambil meregangkan bahu.

Seperti yang dijanjikan Minerva, rasa sakit di pundaknya hilang. Bahkan, dia bisa merasakan pinggangnya yang agak tegang dan bagian lain tubuhnya telah dibersihkan dari kelelahan. Itu adalah penyembuhan mengerikan dari Wewenang Penyihir Kemarahan.

“――――”

Melemaskan berbagai bagian tubuh, Subaru memeriksa sensasi badannya sembari berpikir tentang apa yang baru saja dia dengar, tentang niat sejati Echidna yang tanpa meminta balasan.

“Echidna”

“Ya?”

“Kau …… akan memanfaatkanku?”

Menggunakan, dan digunakan. Itulah yang berulang kali diproklamasikan Echidna dalam pidatonya. Mendengarnya, Echidna mengangguk tanpa ragu.

“Aku. Kau juga boleh menggunakanku. Kontrak itu hanya sebagai pengaman, jikalau salah seorang dari kita melanggar perjanjian yang sudah disepakati. Jika kau ingin menghukumku karena berupaya melakukan apa pun untuk mendapatkanmu, maka aku hanya bisa pasrah saja” kata Echidna.

“Bukan berarti belum kupikirkan … Ujung-ujungnya, malah kepentingan bersama, aku juga paham. Aku sungguh berharap kau membantuku ikhlas dalam hati …… paling tidak aku siap menerima kenyataan kau membantuku dengan agenda tertentu. Tapi…”

Di depan Echidna, Subaru menutupi wajahnya dengan tangan dan mendongakkan kepalanya ke belakang.

“Hanya saja, tidak ada lagi ……”

“Tidak … ada apa?”

“Semua yang kau lakukan sampai saat ini … tampak pudar bagiku. Setiap kehangatan yang kau tunjukkan, semua hal yang membuatku mempercayaimu, untuk mulai percaya bahwa mungkin dirimu bukanlah orang jahat … semuanya telah menghilang”

Segala sesuatu dari pertemuan pertama mereka hingga saat ini tiba-tiba runtuh dengan bunyi gedebuk.

Pesta teh pertama mereka, adegan setelah Ujian, dan waktu-waktu yang tak terhitung jumlahnya, terhalang oleh kenyataan, kebijaksaan Echidna terasa dipaksakan bagi Subaru: Ketika Subaru berpikir bahwa dia tidak menyesal telah membuat kontrak dengannya.

――Semua itu sekarang mengejek kebodohan Natsuki Subaru.

“Apa dari awal ini memang naitmu?”

“Aku tidak tahu apa yang kau permasalahkan? Kalau memang demi mencapai masa depan terbaik, maka kau tidak akan ragu untuk mengambil jalan apa pun menuju ke sana – bukankah itu kebulatan tekadmu? Kau sendiri yang mengkonfirmasikannya, aku hanya setuju dan menyemangatimu dari belakang ……”

“Kapan aku memutuskan itu …… padahal belum, dan kau mencoba membimbingku melalui jalan itu, apa semua itu bagian dari rencanamu? …… Apa itu yang kau maksud?”

“Aku tidak ingin kau salah paham. Seluruh kesmpulanmu adalah pilihanmu sendiri. Semua yang aku lakukan adalah memberikanmu sedikit dorongan. Menyalahkan kesimpulanmu sendiri pada orang lain adalah sesuatu yang tidak dapat aku setujui. Aku tidak sependapat denganmu, dan aku tidak begitu lemah hati hingga duduk diam dan menerimanya saja”

Cemberut bibirnya, wajah Echidna merajuk geram. Peragaan emosi itu begitu kekanak-kanakan dan tidak pantas. Hanya membuat Subaru merasa aneh.

Entah bagaimana, ada sesuatu yang ganjil dari hasratnya.

Tidak ada yang salah dengan cara Echidna mengekspresikan emosinya. Dia naik darah jika diragukan, tersenyum ketika ada sesuatu yang membahagiakan, dan menampik kesedihan ketika ada alasan untuk bersedih. Semua itu tepat, tidak ada kesalahan apa-apa.

Namun ketidaksesuaian ini, dan ketidakpercayaan yang muncul, adalah karena――

“Semua emosimu buatan … dan sebenar-benarnya emosi”

“――――”

“Entah senang, atau marah, emosimu sama, kekanak-kanakan dan tidak sungguh-sungguh. Baru saja, ketika kau gusar, yang kau lakukan hanyalah mencibir. Itu tidak ada hubungannya dengan kemurahan hati. Reaksimu …… semua reaksimu aneh. Sebelumnya … aku pikir … kau hanya orang santai dan berpikiran terbuka, tapi ……”

“――――”

“Kebenaran adalah sesuatu yang tidak biasa. Kau adalah seseorang yang tidak dapat memahami emosi orang lain sama sekali”

Mengingat semua perilaku Echidna sampai sekarang, seolah-olah semuanya telah diperbaiki dalam sekejap.

Subaru kira emosi Echidna yang lalu-lalu adalah sifat baiknya, tetapi salah kaprah, melainkan bukan emosi yang sebenar-benar emosi. Saat Subaru mengetahuinya, warna dari interaksi mereka tiba-tiba membuyar.

Dan, bahkan ketika dihujani oleh kata-kata menusuk ini, wajah cemberut Echidna tetap tidak berubah, Seakan tidak tahu cara mengekspresikan wajah yang lebih kesal.

“Waktu-waktu seperti ini seharusnya kau marah, tahu”

“……Begitukah. Jadi sekaranglah aku harus berang, dan menghujammu dengan sumpah serapah? Aku mengerti, aku dapat ilmu baru. Akan kupastikan untuk melakukannya kali berikutnya”

Setelah disembur perkataan Subaru, ekspresi Echidna lenyap.

Tanpa ekspresi―― itu adalah sesuatu yang belum pernah dilihat Subaru dari Echidna yang dia kenal: tapi wajah sebenarnya dari Penyihir Keserakahan.

Di depan Subaru, yang terdiam, Echidna menjentikkan jarinya. Dalam sekejap, bukit yang hancur dikembalikan ke bentuk aslinya, dan meja yang hancur dan kursi yang berhamburan terbentuk lagi.

Echidna duduk di salah satu kursi, dan menunjuk satu kursi di seberang meja,

“Kau mau duduk? Aku ingin menyusun detail-detail kontraknya”

“……Kalau semuanya sudah seperti ini, kau pikir aku masih mau membuat kontrak denganmu?”

“Kecuali, kau benar-benar akan menolakku hanya karena pertengkaran kecil barusan? Apa gunanya? Terdesak oleh emosi sampai meninggalkan pilihan yang benar tidaklah bijak. Kusarankan kau melihat kenyataan, dan pilih tindakan yang paling rasional”

Dihadapkan dengan kata-kata Echidna yang beremosi beku, Subaru menutup matanya dan menahan napas. Echidna benar. Subaru adalah orang yang kehilangan jati dirinya karena perasaan batin, tak terbantahkan lagi. Argumennya masuk akal. Dia juga tidak berbohong. Yang Echidna lakukan hanyalah menyembunyikan niat sebenarnya dari Subaru. Dia tinggal diam soal cara dia dapat untung hanya dengan mengamat-amati jalan yang diambil Subaru. Jika dia menyegel kontrak ini, kemungkinan besar, Subaru memperoleh solusi yang benar. Ditambah lagi Subaru akan dibantu Echidna yang ikhlas tak perlu balasan.

“Ada satu hal … Aku ingin bertanya padamu saat aku bertemu denganmu lagi”

“――Hm, dan apakah pertanyaan itu?”

“Setelah mendengar jawabannya, kurasa diriku akan siap memilih”

Echidna menunggu pertanyaan Subaru.

Subaru akan mengajukan pertanyaan paling penting, pertanyaan yang Subaru sendiri belum mendapatkan secercah penerangan sejak Perulangan pertamanya di Sanctuary. Sebuah pertanyaan yang tidak mungkin ada hubungannya dengan Echidna.

“――Kau kenal Beatrice, bukan, Echidna”

“……Ya, aku kenal. Malahan, aku sangat terlibat dalam penciptaannya. Apa sesuatu terjadi padanya?”

Echidna mengembalikan jawaban santai ini, yang tampaknya tidak mempunyai makna tersembunyi, namun penuh dengan pertanyaan yang serupa.

Subaru memejamkan matanya sekali lagi, dan membayangkan gadis kuncir dua dalam kepalanya.

Sebelum dia mati, punggungnya tertusuk sampai bolong, tepat sebelum dia menghilang.

Pada akhir kesendiriannya yang panjang nan berat, bayangan yang menyelimuti dirinya masih mendekam dalam hatinya.

Mendorong Subaru ke samping, melindunginya dari pisau pembunuh itu, ekspresi terakhir yang Beatrice tunjukkan pada Subaru—bahkan sekarang pun, masih berbayang dalam matanya, tidak memudar. Dan sebagainya,

“Karena kontraknya, Beatrice menunggu Orang Itu datang. Apa kau orang yang membuat kontrak itu? Apakah kau orang yang mengikatnya ke Mansion?”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Saya tidak ingat pernah menentukan lokasinya …… tapi akulah orang yang menerima janjinya untuk menjaga Perpustakaan Terlarang dan menunggu seseorang datang”

“Lalu … siapa Orang Itu? Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskannya?”

Empat ratus tahun sendriian, Beatrice telah menunggu Seseorang.

Bahkan Beatrice sendiri tidak tahu siapa Seseorang itu. Subaru juga tidak memiliki petunjuk sedikit pun.

Tetapi jika dia bertanya pada Echidna sendiri, orang yang membuat janji itu sendiri――

“Siapa ya, aku jadi ingin tahu?”

“――H, uh?”

“Tidak tidak, aku tidak bercanda, aku sungguh-sungguh ingin tahu. Menurutmu, siapakah Seseorang yang ditunggu Beatrice?”

Tanya Echidna, seolah-olah dia tengah ditanya pertanyaan yang tidak dia tahu jawabannya. Tertegun oleh jawaban ini, Subaru menggelengkan kepalanya,

“Bahkan kau pun … tidak tahu siapa yang ditunggu Beatrice?”

“Tidak, aku tidak tahu. Aku tidak tahu siapa Seseorang yang ditunggu Beatrice”

“Tapi … bagaimana caranya? Bukankah kau yang menyuruhnya menunggu di Perpustakaan Terlarang? Jika kau tidak tahu, kalau begitu …… kecuali …”

Orang yang menginstruksikan Beatrice untuk menunggu di Perpustakaan Terlarang adalah Echidna, tetapi bisa saja orang lain yang membuat syaratnya, yakni menunggu Orang Itu datang.

Jika demikian, maka yang mengetahui jawabannya adalah orang lain――

“Tidak, kau keliru”

“――――”

“Akulah yang menyuruh Beatrice menunggu Orang itu. Soal itu kau tidak salah. Salahmu ada di bagian pentingnya”

“Pen…ting?”

“Kenapa juga aku membuat kontrak dengan Beatrice? Di situlah kau salah paham. Aku membuat Beatrice menjaga Perpustakaan Terlarang agar dia bisa memberikan isinya kepada Orang Itu, begitukah pikirmu?”

Subaru tidak mengerti apa yang dikatakan Echidna.

Itu hanya asumsi belaka. Ketika meminta seseorang untuk memberikan sesuatu kepada orang lain, alamiahnya, adalah agar Perpustakaan itu berakhir di tangan orang yang tepat.

Tetapi, menurut penafsiran alamiah Subaru, Echidna menggelengkan kepalanya, dan berkata,

“Itu bukan inti perintahku kepada Beatrice. Aku menyegel kontrak dengannya, meminta dia menunggu Orang Itu …… sekaligus menunggu siapa Orang Itu yang Beatrice pilih”

“――――”

――――

――――――

――――――――――――

——————–Hah?”

“Kau tahu, anak itu diciptakan demi mencapa suatu tujuan. Tapi jalan hidupnya berbeda dengan tujuan aslinya …… karena itulah, dia harus pergi jauh dari sini, dan jauh sana, dia harus diberikan tujuan baru. Anak itu, yang sekarang tidak punya apa-apa, harus diberikan alasan hidup. Karenanya, aku membuat kontrak”

“――I…tu”

“Mengawasi Perpustakaan Terlarang, dan menyerahkan seluruhnya kepada Orang Itu yang ditakdirkan untuk datang. Siapa pun, karena dari awal, tidak ada jawaban benarnya. Dia tetap hidup, dan aku punya hasil lain yang kuharapkan. Itu cukup logis, bukan?”

“――――”

“Tentu saja, empat ratus tahun tanpa memilih seorang pun juga terhitung hasil. Begitu juga kenyataan Beatrice tidak memilih salah seorang yang dia temui dalam hidupnya tuk menjadi Orang Itu. Dan sangat mungkin, dia menghancurkan kontraknya dan menginginkan kematiannya sendiri, juga termasuk hasil”

“Dan apa…persaanmu tentang hal itu?” tanya Subaru.

“――? Kupikir luar biasa?”

Seolah-olah Echidna baru saja ditanyai sesuatu yang sangat jelas, dia dengan polos memiringkan kepalanya.

Jawaban itu, sikap itu, dan ekspresi gadis dalam benaknya, semuanya menuntun Subaru pada satu jawaban.

Sudah diputuskan. Mengerti. Sangat dimengerti.

――Kesalahpahamannya tentang orang yang dia hadapi, telah dibetulkan.

“Echidna …… kau benar-benar, seorang Penyihir”

“――――”

“Seekor monster yang tidak dapat dijelaskan sekaligus tidak tertebak”

“――――”

Jawab Subaru. Jawaban yang selama ini menggantung dalam hatinya.

Subaru menarik tangan yang hampir diberikan pada Echidna, dan sekarang dia tahu untuk siapa uluran tangannya, sudah dia putuskan.

“Aku …… aku tidak bisa meraih tanganmu. Aku sudah memutuskan tangan siapa yang aku terima” ucap Subaru.

“――――”

“Dengan perkataan tanpa perasaan yang mengikat itu, tanpa kebencian sedikit pun, kau mencuri empat ratus tahun hidup gadis itu. ――Sudah kutetapkan. Aku akan meraih tangan gadis itu. Bukan tanganmu”

Itu perpisahan mereka.

Dengan begitu, Subaru menampik tangan orang yang dia pikir akan berjalan di sampingnya.

Subaru mengangkat wajahnya. Dan melihat ke depan.

Di bawah kelopak matanya, terbayang ekspresi terakhir gadis itu.

――Menghilang, sekarat, takut, berkaca-kaca seolah hendak menangis, namun bersyukur karena dia telah melindungi Subaru.

Dia akan meraih tangan gadis yang berduka atas Kematian-nya, itulah kebulatan hatinya.

“――――”

Mata Echidna menyipit.

Siluet-siluet kebulatannya melintasi mata seakan merenungkan kata apa yang harus diucapkan kepada Subaru.

Sebelum memikirkannya, sang perubah mendadak muncul.

“――――Dia di sini”

“Oh, tidak, aku …… aku tidak mau, ikut-ikutan, dengan …… beginian, lagi” Camilla takut.

“Pada saat-saat sulit, orang yang merepotkan telah tiba dan menambah masalah lagi, haa…”

Tiga orang Penyihir, masing-masing menunjukkan reaksi mereka.

Subaru merasa ada desakan berat di balik tubuhnya.

Sedangkan di hadapan Subaru, mata Echidna melebar ketika melihat apa yang ada di belakang Subaru. Mengikuti tatapan terheran-herannya, Subaru berbalik, kemudian melihatnya—

“――――” ???

――Segala sesuatu yang berada di atas lehernya diselimuti kegelapan, seorang Penyihir Kecemburuan telah datang.

6 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 75”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *