Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 77

Posted on

Kesendirian …

Penerjemah: DarkSoul

Bagaimana cara menggambarkan dampak yang mengejutkan keseluruhan Subaru sewaktu dia dihadapkan pernyataan cinta?

Subaru membayangkan ada baut listrik yang menembusnya dari ujung kepala sampai kaki.

Setiap pori-pori tubuhnya merinding sampai membuat kulitnya mengkerut, sedangkan darah yang mengalir di pembuluh darahnya mendidih. Detak jantung yang berdebar-debar di dada Subaru membuat anggota tubuh dari leher sampai atas memerah, megap-megap, Subaru mundur satu langkah.

Tidak bisa berdiri di sana lebih lama.

Jika Subaru terus di sana, nafasnya akan mencapai Satella, ujung jarinya akan sampai padanya, semisal Subaru tidak jauh-jauh darinya walau kesadarannya masih terjaga, dia takkan mampu menghentikan hasratnya.

Bila itu terjadi, Subaru akan ditelan oleh Cinta――

“Hentikan…” tukas Subaru.

“Aku mencintaimu” ujar Satella.

“Aku selalu, ‘kan selalu, mencintaimu”

“Sudah kubilang hentikanlah――”

Menggelengkan kepalanya dan melambai-lambaikan tangan, Subaru menampik perhatiannya dari tatapan menggoda nan menjerat.

Meski begitu, ekspresi Satella masih tak terlihat oleh Subaru. Karenanya, dia tidak tahu emosi apa yang berlabuh di matanya.

Namun hentakan keras di dadanya masih belum berakhir.

Hanya dengan menekan perasaan itulah, mati-matian menjerit, terus menolak cintanya seakan-akan menyemburkan darah, barulah Subaru mampu mempertahankan kesadaran dirinya. Jikalau dia tidak meneruskan upaya ini tuk menjaga dirinya agar tetap sadar, Subaru yakin eksistensinya sendiri akan berubah. Dan pemikiran itu tidak henti-hentinya membuat Subaru ngeri.

Terang-terangan menolaknya, mengungkapkan rasa jijik dan menamparnya dengan kebenaran, Subaru berteriak, sementara Satella hanya berdiri diam di sana.

Ekspresi tak nampak Satella disembunyikan tabir kegelapan. Tak terjelaskan. Mustahil untuk di baca. Akan tetapi, entah bagaimana, Subaru tahu bahwa Satella terluka oleh perkataannya, dan sekarang menundukkan kepalanya. Suatu tempat di hati Subaru, ada hasrat untuk membelai rambutnya, menghiburnya agar wajah sedihnya terangkat, dan membisikkan kata-kata cinta sehingga barangkali Satella akan tersenyum lagi.

Walaupun Subaru berusaha keras menolaknya, hatinya kukuh menuturkan bahwa dirinya Mencintai Satella.

“Apa…apa maksudmu!? Apa yang kau perbuat padaku!? Seperti halnya Return by Death…apa kau menaruh sesuatu di dalam diriku sehingga bisa memanipulasi hatiku!?”

Subaru mengeluarkan semua ketidakpercayaannya kepada Satella.

Kenapa juga hatinya tiba-tiba bereaksi lewat cara yang sepenuhnya bertentangan dengan pemikirannya? Kalau luapan emosi di dalam dirinya ini dikarenakan kelakuan aneh sang Penyihir, maka terlalu mengerikan jadinya.

Memutar balikkan perasaan seseorang sesuai keinginannya――adalah perbuatan paling hina lagi menjijikkan.

Secercah cahaya yang pernah Subaru terima di dunia ini adalah cintanya pada Emilia.

Tersesat, tanpa arah dalam keputusasaan, Subaru berhutang budi pada Emilia karena membantunya, dan ingatannya masih berkata-kata bahwa Emilia telah menyelamatkan hatinya tepat sebelum hancur lebur.

Bahkan sekarang pun, eksistensinya tidak kehilangan sebagian pun kilau itu.

Selama Subaru menghabiskan hari-harinya dalam Perulangan Kematian, berjuang sendirian melawan banyak kesengsaraan, orang yang ingin dia lindungi telah meningkat, sedangkan ucapan, ikatan, dan emosi yang Subaru bagikan bersama mereka perlahan-lahan terkumpul dalam dirinya.

Kini, persaannya pada Emilia bukan lagi motivasi utamanya.

Meski begitu, Emilia merupakan sinar cahaya pertama yang diterima Natsuki Subaru. Dan sekarang Satella ingin dicintai sebagaimana Subaru mencintai Emilia.

Meskipun tidak ada tutur yang ditukarkan, tak ada sentuhan kehangatan, tidak sedetik pun waktu dihabiskan bersama, tanpa suatu ikatan, tidak ada satu hal pun yang saling mereka bagikan, Satella meminta Cinta Subaru.

Lantas apakah ini, selain keegoisan?

“Kau, dan Echidna … kalian berdua sama-sama gila! Tempat…tempat ini penuh dengan para bangsat tidak jelas! Aku sungguh-sungguh muak!”

Kepada Penyihir tak berwajah di depan dan Penyihir berambut putih di belakangnya, Subaru berteriak tak menyembunyikan rasa muaknya.

Satella, yang berusaha memeras kasih sayang tidak berdasar darinya, dan Echidna, yang akan menjerat seseorang demi memuaskan rasa penasarannya, mereka adalah monster sebenar-benarnya monster.

“Memang agak menyebalkan jika disamakan dengan mahluk itu. Kendati kami berdua pada dasarnya adalah seorang Penyihir, bagiku, mahluk itu beberapa kali lipat lebih cabul dari Para Penyihir. Tapi, tidak jelas, soal itu kau tidak salah”

“Bacot. Keramahtamahanmu hanya pura-pura saja, tidak pernah kulupakan betapa dustanya dirimu. Cukup sudah. Tidak ada faedahnya tinggal di sini. Biarkan aku keluar. Aku tidak ingin terlibat dengan orang seperti dirimu lagi!”

Menyumpah Echidna, Subaru memeluk kepalanya dan memohon agar dibebaskan dari Benteng Mimpi.

Subaru tidak tahan lagi berdiri di hadapan Satella dan Echidna. Sudah banyak sesuatu yang dikhawatirkan Subaru, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk mencari masalah lain lagi

Subaru tidak serba tahu, dan hal yang bisa dia urus ada batasnya. Namun mengapa masalah berdatangan terus, satu demi satu, padahal rintangannya sendiri sudah sangat merumitkannya?

“Aku takkan pernah meminta bantuan kalian lagi…Semua perkara di luar, akan kuselesaikan sendiri. ――Begitulah semestinya, bukan!? Seharusnya itulah yang aku lakukan dari awal…”

“Lalu? Mati lagi dan lagi, membuat banyak orang menangis seraya meyakinkan dirimu sendiri sekedar pengumpulan informasi, yah mau bagaimana lagi kan? Hah, baguslah” omel Minerva.

Minerva menyilangkan tangannya dan mendengus pada salam perpisahan Subaru. Kemudian, melihatnya kembali menatap Minerva, wajahnya semakin memerah.

“Apa. Mau bilang sesuatu?”

“Memangnya ada hubungannya denganmu. Rasa sakit, penderitaan, luka, stress karena Return by Death, semua persoalan itu adalah urusanku! Atas hak apa kau nyinyir begitu!?”

“Mudah menukas bahwa dirimu siap merasakan rasa sakit, penderitaan, serta tekanan batin. Siapa juga mempedulikan perasaan orang-orang yang harus menyaksikanmu muntah darah sedangkan dagingmu dikuliti dan tulang-tulangmu di hancurkan? Kau selalu saja berdalih seakan-akan dirimu yang paling sengsara”

“Apa…!?”

“Hanya karena kau menderita luka yang kelihatan kalau itu luka, pikirmu seseorang yang menelan luka lebih ringan karena hasil dari tindakanmu tidak punya hak untuk komplain apa-apa. Lagian, kau yang paling tersiksa. Paling menderita. Paling bertahan…Karena itulah secara otomatis, orang-orang di sekitarmu mestinya diam hanya boleh menangis tersedu-sedu saja, kan?”

Barangkali karena amarah yang menggelora selagi dia berbicara, nada Minerva semakin menjadi-jadi sementara Subaru menunjukkan taringnya. Tidak mungkin dia membiarkan kata-kata menusuk itu tidak dibantah.

“Kau! Kau pikir aku tenggelam pada tragediku sendiri agar bisa menutup mulut semua orang!? Bahwasanya jalan kematian yang aku tapaki ini hanyalah kepura-puraan saja!?”

“Tidak, bukan itu maksudku. Maksudnya tidak apa-apa bila hanya aku yang paling teraniaya dari orang lain, pemikiran itu pengecut. Aku tidak mengidolakan metode jahat Echidna, dan sampai mati pun takkan mengerti betapa ribetnya Satella…tapi rasanya caramu memutar balikkan sesuatu jauh lebih memuakkan daripada kami, para Penyihir”

“――――” Subaru terdiam.

“Paling parahnya, seusai aku mengalahkan semuanya demi menyembuhkan mereka, jalan hidupmu bukan hanya bersebrangan, tapi berlawanan dari yang aku lakukan. ――Bukankah itu sangat tidak berterima kasih mengingat apa yang Satella lakukan padamu?”

Sambil mengulurkan tangannya yang terkepal ke arah Subaru, Minerva menyemburkan kata-kata barusan. Menambahkan bisikin lirih di akhir kalimatnya, dia memalingkan mata birunya ke Satella.

Berdiri tertegun di sana, Satella terdiam semenjak Subaru mencercanya, tidak menunjukkan tanda-tanda ingin menanggapi sumpah serapah itu. Melihatnya begini, Minerva menyipitkan matanya, agak sedih.

Tapi sekarang ini Subaru tidak begitu peduli tentang perasaan batin seseorang.

“Memuakkan…tak tahu terima kasih…?”

Menangkap imbuh terakhir Minerva, dengan wajah tertunduk, bahu Subaru sedikit gemetaran. Lalu gemetarnya semakin parah, dan, ketika Subaru menoleh, dia tengah tersenyum. Senyum geli, bagaimana bisa dia tersenyum di waktu-waktu ini?

“Persetanlah. Bodo amat…menurutmu kenapa aku menjadi seperti ini? Bagaimana pemikiranku bisa sesinting ini? Mau metode atau cara berpikirku…bukankah itu konsekuensi dari perbuatanku? ――Benar!?”

“――――――” Satella masih terdiam.

“Dan kaulah! KAULAH! Kaulah yang menjadikanku seperti ini!”

Sambil mengerang, Subaru melontarkan seluruh amarahnya pada Satella, yang sedari tadi diam seribu bahasa seolah-olah melarikan diri dari kesalahannya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

 

 

Dengan menerima Return by Death, menggunakan kekuatan itu untuk mengatasi rintangan-rintangan Subaru, menahan semua kesulitan yang telah dilampauinya sejauh ini.

Mengecap pedihnya Kematian berkali-kali, membiarkannya mengukir jiwa Subaru, mengubahnya menjadi kekuatan, Subaru bisa sampai di sini.

――Dan jalan penuh luka Natsuki Subarulah yang membuatnya sampai seperti ini.

“Yang menerima luka, yang menderita…! Adalah aku, semuanya aku, hanyalah aku! Jika membuatku menderita sudah cukup, maka semuanya akan baik-baik saja, benar!? Selama aku masih bisa bertahan, selama masih bisa memendam kemarahan, lara, apa pun, takkan kubiarkan rasa sakit menyentuh orang lain tidak peduli mau sesakit apa kematianku! Dari awal sampai akhir, selagi cuma diriku yang terluka, maka semuanya akan baik-baik saja, bukan!? Apa yang salah dengan semua itu!?” kata Subaru.

Hidup-mati di Return by Death, dan, melalui percobaan dan kegagalan, meraih masa depan yang bahagia. Seperti yang Echidna katakan. Alih-alih menerima tawaran Echidna yang mana akan menggunakan tekad itu tuk memuaskan keingintahuannya sendiri, Subaru akan lanjut menempa jalannya, serupa yang selalu dia lakukan.

Tidak seperti Echidna, yang selalu memancing Subaru biar mengambil jalan ekstra, andai kata Subaru membulatkan jiwa dan raganya untuk mencari akhir bahagia, percobaannya untuk menyelesaikan persoalan akan lebih sedikit. Tapi, meskipun begitu, ada sisi positif dalam mencoba.

Semisal saat Subaru sedang berada di ujung tanduk ada masa depan di mana tak seorang pun terluka, lantas…

“Kubilang kau tidak dapat dimengerti, bahwa aku muak dengan hal itu, kan!? Ya, maaflah, salahku. Tidak ada sedikit pun kebohongan dari perasaan itu…tapi aku sepatutnya berterima kasih padamu. Bagaimana bisa aku lupa? Oh aku betul-betul lupa, betapa tidak berterima kasihnya diriku”

“――――”

“Hanya ada satu hal yang harus kuucapkan terima kasih. Makasih, telah memberikanku Return by Death. Semuanya berkat dirimu. Tanpa itu, aku takkan bisa melindungi satu hal pun yang berharga bagiku. Jadi akan terus kuandalkan kekuatan itu. Karenanya, dan cuma karena itu…terima kasih”

Subaru sudah siap uji coba. Pilihan kabur dari takdir ini sudah dihapus dulu-dulu kala.

Semenjak dia mengatakan Raih tanganku, dan kaburlah bersamaku

Subaru harus bertarung. Sebab itu adalah sumpahnya, yang dia kagumi, dan dia percayai. Subaru tidak akan melarikan diri, tapi terus bertarung.

Subaru adalah pria yang ‘kan selalu bangkit. Kalau tidak begitu, dia tidak akan menjadi pahlawan Rem.

“Maka dari itu…terima kasih sudah memberikanku kekuatan ini. Berkatmulah orang tidak berguna ini, si tolol ini bisa mengubah situasi menyedih…”

“――Jangan”

“Menyedih…kan…”

Baru saja Subaru ingin menumpahkan semua kekesalan yang terkumpul dalam dadanya, tiba-tiba Satella angkat bicara dengan suara lirih.

Mendengar sepotong kata itu, kata-kata Subaru kehilangan momentumnya. Wajahnya menegang, menunggu, berdoa untuk mendengarkan bisikan itu sekali lagi. Barusan dia bilang apa? Sepertinya sesuatu yang tidak bisa dia dengar.

Subaru menahan nafasnya, sedangkan Satella, setelah beberapa saat, kembali berbicara.

“――Tolong…jangan menangis. Jangan terluka. Jangan menderita. Jangan memasang…wajah semacam itu lagi”

Memohon, Satella berbisik pada Subaru.

Ucapannya menyapu getaran bengis dalam hatinya. Amarah, syok, semua emosinya campur aduk.

“K, kau…apa yang…”

Ditelan oleh pusaran emosi, Subaru tidak tahu harus mengimbuh apa. Hasrat intensnya menyumbat tenggorokan sewaktu dia membuka-tutup mulutnya, memelototi Satella.

Di hadapan Subaru yang bimbang, Satella melanjutkan hasutannya.

“Dengan begitu, cinta…”

“Be…begitukah kebenarannya? Kau ingin memelintir emosiku sampai akhirnya mencintaimu? Apakah itu yang kau…” kata Subaru.

“――Tidak” potong Satella.

Satella menginterupsi tutur yim-yam Subaru.

Ekspresi Satella tetap tidak terlihat. Akan tetapi, entah bagaimana, Subaru hampir-hampir merasa seolah Satella tengah melihatnya dari balik kepulan bayangan itu.

――Satella, dia…

“――Lebih cintai … dirimu lagi.”

Tak diragukan lagi, Satella memberinya tatapan penyamangat――

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

 

 

Butuh beberapa waktu sampai makna kata-kata itu menjejal otaknya.

Tapi seumpama terjadi, gelombang emosi tanpa bentuk seketika memakan hatinya.

“Apa…yang baru saja kau katakan”

“…Tolong…jangan menderita lagi. Lebih baiklah pada dirimu lagi”

“Kau…adalah orang yang memberikanku Return by Death…kan? Kau melimpahkan kekuatan ini agar aku punya jalan untuk maju ke depan…”

“――Aku mencintaimu. Jadi, tolonglah, cintai dirimu juga, dan lindungi dirimu”

“Jikalau aku hanya mementingkan diriku sendiri, seandainya kau mengambil metode ini dariku! Lantas, apa lagi yang tersisa dariku!!?”

Menolak bisikan cinta Satella, Subaru berteriak, menekan dadanya dengan tangan.

“Kau juga tahu, kan!? Aku benar-benar tidak bergaya, tanpa skill, sama sekali tak mempunyai kekuatan spesial! Satu-satunya hal yang berguna adalah Return by Death yang kau berikan padaku! Bukankah Cuma nyawaku yang bisa kusuguhkan!?”

“Jangan sedih” ucap Satella.

“Aku sudah memperhitungkan semua rasa sakitnya, semua kematian yang aku alami. Kuterima, ikhlas-ikhlas saja! Semisal hanya dirikulah yang mesti menderita, maka aku terima-terima saja!”

“Jangan menderita lagi”

“Membiarkan diriku terluka lebih dari orang lain, dengan bersusah-payah lebih dari yang lainnya, apabila aku berusaha dan berjuang untuk melindungi semua orang, maka bisa kupastikan bahwa semua orang selain aku mesti terluka! Tak ada lagi yang aku inginkan!”

“Tolong…jangan menangis”

“Tidak peduli apa yang terjadi padaku, kan!? Memangnya ada orang yang peduli pada manusia bangsat sepertiku, sungguh menyusahkannya diriku, selama semua orang mencapai masa depan itu dengan aman, maka…hiks”

Karena, bila Subaru berhenti mengambil luka-luka di garis depan sana――

“Jika kita bisa menyambut masa depan bersama…tanpa orang lain…maka…gh”

――Barangkali Subaru tidak dapat mengembalikan rasa kehilangannya akan seseorang jauh di tempat tak terjangkau.

“…Rem…sudah…tiada”

“――――”

“Kalau saja aku lebih cermat, kalau saja aku lebih kuat, kalau saja aku tidak begitu mempedulikan nyawaku, kalau saja aku menempatkan diriku di garda depan…bisa kucegah”

Rasa kehilangan dan keputusasaan yang lalu masih selalu mengikat Natsuki Subaru.

Itulah sebabnya, Subaru memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan orang lain, melainkan menanggung lukanya sendiri, bertarung sendiri, percaya bahwa ini adalah pilihan terbaik.

“Aku harus percaya…harus percaya bahwa selalu ada jalan…”

Return by Death mampu menyelesaikan apa pun.

Selama dia menggunakannya dengan baik, Subaru pada akhirnya takkan kehilangan apa pun.

Jika dia tidak mempercayainya, jika dia tidak percaya bahwa menerima luka-luka itu adalah penting, jika dia tidak meyakinkan dirinya bahwasanya inilah kebenaran, bagaimana bisa dia melawan siksaan itu lagi?

“Aku…! Aku tidak ingin kehilangan orang lagi sebagaimana kehilangan Rem――gh!”

Mendekap kepalanya, Subaru mengerang seolah menolak suara lainnya.

Tanpa sadar, dia telah meringkuk di tanah. Lupa bahwa dia sudah menjauhkan diri dari Satella, dia kembali ke cangkangnya, meringkuk sembari membantah bisikan manisnya. Racun. Racun mematikan. Eksistensi Satella adalah racun perusak tekad Subaru.

Hati Subaru, yang telah dia sumpah untuk tidak lagi membiarkannya goyah, perlahan mulai bimbang.

Dalam celah terbuka itu masuklah melankolis menusuk, menghancurkan hatinya dengan pilu yang bangkit hari itu.

“Kau bukan lagi seorang bocah” tukas Sekhmet.

Mendadak, terdengar suara ocehan.

“Menangis, berteriak, menyalah-nyalahkan orang, mengemban semuanya sendirian…bukankah, sama seperti…”

“――――” Subaru terdiam.

“――seorang anak kecil, yang ditinggalkan sendirian?”

Dengan suara sedih nan kasihan, Sekhmet mengkasihani Subaru.

Penyihir-Penyihir terdiam lain yang mendengar celotehan Sekhmet juga tidak membantahnya.

Perkataan Penyihir Kemalasan terlampau akurat.

Karena sosok Subaru sekarang ini hanyalah seorang bocah kecil yang menyedihkan juga lemah.

10 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 77”

      1. Bukan best TL mu ya min :p
        (canda :v).
        Dichapter ini mirip eps 18animnya,keluh kesah subaru tpi ver. Sattela bukan Rem wkwk 😂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *