Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 74

Posted on

Rencana Penyihir
dan Usulan

Penerjemah: DarkSoul

Gelagapan karena sesak napas, Subaru mendapati tangannya menyentuh padang rumput hijau.

Tanah tempat anggota tubuhnya mendarat menyebarkan aroma rumput sampai tercium oleh hidungnya. Seperti padang rumput yang bermandikan sinar matahari setelah hujan, aroma alam dengan lembut membungkus seluruh tubuhnya.

Dia menoleh, lalu melihat Echidna di sana.

Dia, seperti biasa, berada di bukit kecil kecil tengah-tengah stepa, duduk di kursi meja, menunggu tamu pesta tehnya――menunggu Subaru.

Seperti biasa. ――Ya, seperti biasanya.

“Aku yakin ada banyak hal yang ingin kau katakan dan tanyai …… tapi pertama-pertama, bagaimana kalau duduk dan minum teh dahulu?”

“……Jika kau, memikirkan apa yang baru saja kau perbuat padaku, kau pikir aku akan duduk sopan di kursi itu … dan ikut-ikut saja dengan pesta tehmu?”

“Ya. Daripada jadi gila karena hasrat dan amarah tidak jelas, kau adalah orang yang condong berpikir rasional dan dengan kepala dingin. Nah, ketimbang menjaga jarak dari diriku, lebih baik kita diskusi yang bermanfaat-manfaat saja……bukankah itu yang didambakan hatimu?” tanya Echidna.

“――――”

Dihadapkan dengan kemarahan ditahan-tahan Subaru, Echidna yang riang tetap tidak terpengaruh.

Memanggil lelaki itu dari atas, seolah-olah mengejek gertakan Subaru yang terlalu terang-terangan, kata-kata itu kelewat benar sampai Subaru tidak bisa menyangkal atau pun menafsirkannya.

Kecuali, hal yang diinjak Echidna tidak begitu murah sehingga dia mudah menyerah.

“Echidna …… katakan saja padaku kau tidak bermaksud melakukannya”

“Hm?”

“Baru saja …… trik Penyihir Nafsu itu, katakan padaku kau tidak berniat merencanakannya. Katakan padaku, bahwa kau salah, ayo, katakanlah”

“………” Echidna mendadak terdiam.

“Katakan itu tidak bisa lagi dihentikan. Katakan kau tidak memperkirakannya, katakan tidak seharusnya seperti itu. Katakanlah. Jika kau mengatakan itu padaku … kau tak akan kusalahkan”

Yang dikatakan Echidna benar.

Jika Subaru ingin melanjutkan hidup ini, dia tentu membutuhkan pengetahuan dan bantuannya.

Tapi, yang tak termaafkan tetap tak termaafkan. Echidna telah menyuruh Penyihir Nafsu untuk masuk tanpa izin ke tempat yang berharga, tak dapat diganggu di dalam Subaru―― Sanctuary-nya. Ironisnya begitu.

Jadi, bagi Subaru, ini adalah persyaratan yang diperlukan untuk memaafkan Echidna dan bercakap-cakap dengannya.

“…Dan aku justru bertanya-tanya apa tanggapanmu”

Pada saat itu, Echidna pastinya telah memahami kelemahan dan keteguhan batin Subaru.

Mengatakan gumaman tanpa niatan itu, Echidna mengalihkan pandangannya ke arah Subaru, yang sedang menggigit bibirnya, menunggu jawabannya. Echidna dengan santai memainkan rambut putihnya, kemudian…

“Okelah, seperti keinginanmu, yang tadi itu cuma amukan Penyihir Nafsu. Aku mencoba menghentikannya, namun dia tidak mendengarkan. Memanfaatkan Ujian, dia mencoba merayumu dengan membuka bagian dirimu yang tak ingin disentuh, dan lewat cara itu dia bisa menenggelamkanmu”

“――――”

“Hampir sih, tapi kau berhasil melepaskan diri dari mantranya dengan kekuatanmu sendiri. Kemudian, setelah rayuannya gagal, ketika Camilla lengah, aku merebut kembali Wewenang dan memanggilmu ke Citadel. Yang artinya, suatu keberuntungan kau bisa berada di sini dan bertatap-muka denganku” ucap Echidna.

“――――”

“……Nah, karena aku sudah memberitahumu semua itu, sudah puaskah?”

Dengan cepat, dia mengurutkan semua yang ingin didengar Subaru, dan pada akhirnya seluruh desakan Subaru tidak berhasil memojokkan Echidna.

Tanpa berkata sepatah pun, Subaru melihat ke atas, seolah-olah menghapuskan Echidna pandangannya.

“……Tujuanmu apa sih, menyuruh-nyuruh seorang Penyihir seperti itu” kata Subaru

“Camilla tidak memberitahumu ‘kah? Yang dia lakukan adalah menyelamatkanmu, semua Ujian itu telah menghancurkan hatimu.”

“Itu…itu tidak mungkin niat Penyihir Nafsu. Jika apa yang dikatakannya benar, maka harapan mendengar Rem mengatakan hal-hal itu padaku karena didorong keegoisanku sendiri. Sang Penyihir Nafsu tidak punya alasan untuk bersikap baik padaku. …… Semuanya kau yang suruh, kan?”

“Jadi sudah sebanyak itu kesimpulanmu walau yang kututurkan sangat singkat…… kalau begitu, sepertinya tidak perlu berdalih lagi”

Dengan selawnya, Echidna cuci tangan dengan mengangkat bahu. Lalu, dia mendekatkan cangkir tehnya ke bibir, dan meneguknya.

“Persis seperti kecurigaanmu, mengirim Camilla kepadamu dan menyuruhnya berpura-pura menjadi gadis tersayangmu adalah perintahku. Padahal, hasil yang tidak sempurna dan kemungkinan ketahuannya merupakan masalah Camilla, bukan masalahku”

“……Kenapa…kau melakukan itu?”

“Mendengarnya langsung mungkin akan membuatmu marah. ――Ini adalah metode yang paling efisien, dan yang paling mungkin berhasil”

Tanpa permintaan maaf, Echidna melanjutkan penjelasannya dan Subaru seketika tanpa ekspresi.

“Bahkan tidak kusangka kau akan sampai seperti itu di Ujian Kedua. Apa lagi, fakta bahwa ujiannya memukulmu sekeras ini adalah … jujur saja, sesuatu yang tidak dapat kubayangkan sampai aku melihatnya sendiri secara langsung”

“――――”

“Ya ampun, aku memang berharap kau menghiraukan diriku yang menguntit Ujianmu. Kuyakin sudah memberi tahumu setelah Ujian Pertama selesai, bahwa semua Ujian ini didesain oleh Penyihir? Kendati produkku agak kejam, aku masih tidak ingin memiliki Ujian ini dan begitulah penjelasanku”

“……Langsung ke intinya saja”

“Ngomong-ngomong, saat menonton dirimu menghadapi Ujian dari pinggir lapangan, aku punya teori. ――Jika kau terus menantang Ujian seperti ini, tak lama lagi kau akan hancur lebur sampai dalam-dalamnya……”

Itu tidak dilebih-lebihkan sih. Justru kebenarannya tidak jauh-jauh amat dari teori Echidna.

Subaru tidak begitu peduli dengan apa yang terjadi padanya, karenanya Subaru tidak membantah perkataan Echidna.

Ujian Kedua――masa kini yang seharusnya tidak kau saksikan―― dan kejadian, peristiwa, juga tragedi yang Subaru saksikan lebih dari cukup untuk menghancurkan kesombongan, kepala batu, dan delusinya.

“Jadi aku ikut campur. Meskipun, hancur perasaannya juga merupakan hasil dari Ujian, aku suka bereksperimen dengan segala hal melalui trial and error. Keingintahuanku takkan pernah terpuaskan, berusaha tanpa henti tuk membuat suatu kesimpulan. Untuk memuaskan Keserakahanku yang tak akan puas, aku meneliti semua femomena dan kemungkinan yang terjadi. ――Orang yang membuat Ujian ini tentu juga akan ikut menghancurkanmu.”

“Lantas, kenapa kau campur tangan? Jika pelanggaranku adalah sesuatu yang kau cari-cari, mengapa tidak tinggalkan saja diriku di sana. Jika hasilnya sama saja…kau juga akan terpuaskan, benar?”

“Aku betul-betul keberatan untuk menerimanya……memang kulakukan, tapi bukan berarti aku tidak boleh melakukan sesuatu tuk mendapatkan hasil yang kuinginkan?”

“Apa ……?”

Diburu oleh pertanyaan Subaru, Echidna menjawab dengan santai.

Mendengarkannya, untuk kali pertama, Subaru mengerutkan alisnya bukan karena kemarahan semata.

Hati-hati memahami kata-katanya dan menyusun suatu makna, kalau dia tidak salah, maka berarti…

“Semuanya demi menolak hasil bahwasanya diriku tidak menjadi apa-apa……karena itulah kau menjadikan semua tepat seperti ini. Begitukan maksudmu?”

“……Alhasil, aku menyusup ke wilayah sensitifmu, soal itu aku tidak punya dalih ya. Jadi jika kau ingin menghujaniku dengan sumpah-serapah, dengan pasrah akan kuterima semuanya. Kemarahanmu dapat dibenarkan, salahku karena tidak pengertian kepadamu. Begitulah”

Meletakkan cangkirnya di atas meja, sorot mata Echidna terfokus lurus ke bawah menuju Subaru di kaki bukit.

Benar-benar berbeda dengan tingkah lucu yang sebelumnnya, Penyihir Keserakahan sekarang menghadapi Subaru dengan sungguh-sungguh.

Sikapnya, caranya duduk, dan kata-katanya membuat Subaru kewalahan.

Tiba-tiba, kemarahan dan ketidakpercayaan terhadap Echidna yang menyelimuti dadanya beberapa saat yang lalu sekarang tampak egois dan pongah.

Sebenarnya—Subaru tidak bisa melupakan perbuatannya, dia masih enggan menerima bantuan Echidna, namun demikian, apa guna hatinya tanpa sifat-sifat itu?

Berbaring di lantai dingin Makam, hatinya, hancur, terburai menjadi debu, sendirian dalam kegelapan tanpa cahaya secuil pun, dan di sana, tidak terdapat apa-apa. Sulit untuk dibayangkan.

Dia tidak bisa sampai berterima kasih padanya. Tetapi Subaru juga tidak merasa bahwa dia layak menerima kemarahan dan cercaannya. ――Semua itu, adalah perasaannya.

“――――”

Berdiri tanpa bicara, Subaru membersihkan pakaiannya dari rumput dan berjalan menaiki bukit.

Duduk di kursinya, sekilas penderitaan terlintas pada mata Echidna saat menyaksikan Subaru menghampirinya. Apa yang hendak Subaru katakan pada Echidna begitu tiba di sana? Bahkan Penyihir yang usianya sudah ratusan tahun tidak tahu.

Perwujudan dari Haus Akan Pengetahuan. Penyihir Keserakahan. Melihat mata Echidna yang disipitkan pada Subaru membuatnya sedikit merasa lega.

“――Ah”

Di depan jeritan terkejut Echidna, Subaru menarik kursi dan duduk di depannya.

Walaupun Subaru tidak berniat mendekatkan cangkir itu ke bibirnya, begini adalah cara Subaru menunjukkan kesediaannya untuk berbincang dengan Echidna. Sedangkan Echidna nampak sedikit gelisah, Subaru menopang pipinya dengan tangan dan memalingkan wajahnya.

“Aku lagi tidak mau minum teh. …… Tapi aku ingin berbincang-bincang denganmu”

Menelan emosi yang tak tertahankan, Subaru membalasnya dengan murah hati.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Sesungguhnya, Ujian Kedua itu apa sih?”

Sambil menopang pipinya dengan telapak tangan, Subaru bertanya tanpa melihat ke Echidna.

Di sisi lain, Echidna menggeser kursinya ke depan sampai memasuki bidang pandang Subaru,

“Yah, menurutmu Ujian Kedua tuh apa?”

“Kamu tidak …… berusaha membuatku kebingungan, kan? Begitukah sarkasmu, bilang saja aku terlalu banyak bicara? Sampai mendesakku seperti itu”

“Kekejamanku tidak setengah-setengah gitu. Lagian, aku melakukan sesuatu yang membuatmu sebel. Hanya ingin tahu saja apakah kita masih bisa berbicara dengan ramah, dan juga mendengar pendapatmu saat kita berbincang” kata Echidna.

Kalimat itu akan membuat orang merasa malu.

Kalau saja Subaru ikut dalam percakapan ini dengan cara berpikir orang biasa, dia pasti sudah terkurung dan terjebak dalam kata-katanya.

Tapi, dalam keadaan pikirannya saat ini, tidak mungkin Subaru akan mengekspresikan reaksi yang diinginkan Echidna. Sebaliknya, Subaru hanya mendesah pelan.

“Topik Ujian adalah Menyaksikan masa kini yang seharusnya tidak kau saksikan. Itu adalah premisnya, sekaligus subjek dari adegan yang ditunjukkan padaku. …… Kurasa masa kini yang seharusnya tidak kau saksikan, merupakan masa kini yang mungkin terjadi jika di tengah-tengah jalan aku memilih jalan yang berbeda, kan?”

Salah satu cara untuk memikirkannya adalah seperti apa yang terjadi dalam Visual Novel.

Itu adalah permainan di mana para pemain membuat keputusan pada titik-titik penting tertentu dalam cerita, menyebabkan jalan cerita terbagi-bagi. Pada skala yang lebih besar, seseorang bahkan boleh mengatakan bahwa kehidupan itu sendiri layaknya permainan raksasa.

Orang-orang harus menghadapi pilihannya secara langsung, dan membuat keputusan berdasarkan kehendak pribadi mereka — sembari mencoba mencapai suatu tujuan di dunia, itulah definisi dari Kehidupan.

“Menurut definisi, masa-masa itu seharusnya tidak bisa kau saksikan. Siapa tahu? Kau mungkin mendapati bahwa dirimu lebih bahagia di dunia itu ketimbang di masa sekarang, maka kau mungkin akan menyesal dan berkata: Kenapa saat itu aku tidak memilih pilhan itu? Atau sebaliknya, bila mana dunia tersebut mungkin lebih kacau dari duniamu sekarang, kau akan begumam: Syukurlah, aku tidak memilih itu. Pada akhirnya, Ujian Kedua adalah untuk menyaksikan Masa kini selain Masa kini yang telah kau pilih, dan untuk memastikan apakah kau dapat memilih mana Masa kini yang sebenarnya.”

Mengikuti argumen Subaru, Echidna dengan ringkas menyimpulkan Ujian Kedua.

Tidak jauh-jauh amat dari yang Subaru pikirkan. Kecuali bagian di mana Subaru harus melalui cobaan yang terlampau tajam itu.

“――Jadi, Masa kini alternatif yang aku lihat, apakah benar-benar ada?” Subaru bertanya.

“…………”

“Setiap kali aku mati, Return by Death akan mengembalikanku. Jadi aku tidak pernah mengetahui apa yang terjadi setelah kematianku…….Sampai sekarang aku bahkan tidak pernah mempertimbangkan kemungkinan dunia itu akan terus berlanjut setelah kematianku…….Tidak, sebenarnya, aku tidak sama sekali tidak pernah memikirknanya”

Ya tentu saja.

Subaru akan mengaktifkan Return by Death jikalau dunia sudah lagi bisa diselamatkan. Demi keluar dari kebuntuan dan menyelamatkan semua orang yang dia sayangi, Subaru percaya bahwa dengan kembali dari maut dia bisa mencapai masa depan yang sempurna――begitu pikirnya agar terus bisa melanjutkan hidupnya.

Keberadaan dunia setelah kematiannya akan membalikkan teori itu sampai ke akar-akarnya.

Kalau hanya untuk menenangkan pikirannya, Subaru hanya harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa tidak ada Dunia yang dia tinggalkan, berpikir orang-orang di dunia yang hilang itu sebenarnya telah diselamatkan.

Jadi…

“Setelah aku mati…apakah dunia terus berlanjut……? Ketika pilihanku membuat dunia berubah arah, ketika aku meninggalkan dunia yang tidak dapat diselamatkan begitu saja…apakah orang-orang yang gagal aku selamatkan masih ada di sana……?”

“――――”

“Echidna. ……Tolong jawab aku”

Setelah kehilangan pilihan dan mengalihkan tatapan matanya, Subaru membungkuk ke depan lewat kursinya dan membuat ekspresi memohon kepada Echidna.

Echidna diam seribu bahasa, tetapi, ditarget oleh sorot mata Subaru, dia menyentuh dagunya seolah-olah tengah berpikir, dan kemudian menutup matanya.

“Ada, satu hal yang harus kujelaskan mengenai Ujian”

“…………”

“Masa kini dalam Ujian Kedua tidak lebih dari sebuah fenomena yang memungkinkanmu untuk menyaksikan dunia khayalan. Sang penantang mengikuti Ujian……dan orang itu adalah dirimu. Dengan mempertontonkan rincian-rincian ingatanmu, Kenangan Dunia menyusun segala sesuatu sehingga membentuk suatu eksistensi: insan-insan, dunia, suasana, dan bahkan mana, setelahnya, disatukan dengan informasi penting dari masa lalu, sekarang, dan masa depan, begitulah Masa kini dibuat”

“…………” Subaru terbungkam.

“Yang artinya, tidak peduli seberapa sempurna, dunia itu tidak lebih dari Kenyataan Palsu yang disusun dengan baik. Merupakan sesuatu yang lebih hebat dari delusi, yaitu kenyataan palsu yang mungkin saja terjadi. Soal nyata atau tidak, aku tidak bisa menjawabnya”

“I-itu artinya ……”

“Akan tetapi”

Melihat secercah harapan dari penjelasan Echidna, Subaru mengangkat kepalanya. Dia pikir telah melihat cahaya, tetapi Echidna mengangkat telapak tangannya dan menghentikan harapan Subaru.

“Mekanisme dari Return by Death-mu tidaklah jelas. Hampir seratus persen bahwa yang memberikan Return by Death adalah sang Penyihir Kecemburuan, tetapi persoalan bagaimana Penyihir Kecemburuan merapalkan Return by Death padamu masih menjadi teka-teki. Mungkin, itu adalah kekuatan memutar kembali dunia tatkala kau Mati. Atau mungkin, saat kau mati kau dipindahkan ke dunia lain, sederhananya, menulis kembali keberadaanmu”

“Ah……”

“Jika kita mengasumsikan yang kedua, maka Dunia Lain memang ada, dan, setelah kau mati, dunia-dunia itu akan terus berlanjut bahkan tanpa dirimu”

“J-jadi bagaimana caranya memastikan itu……”

“――Tidak perlu dipastikan”

Dengan gelengan kepalanya, Echidna serta-merta memotong ucapan gemetar Subaru.

Mata Subaru terbuka lebar sementara mulutnya menganga tanpa mengeluarkan suara. Echidna memberinya tatapan simpatis dan mengetuk-ngetukkan jarinya di tepi meja.

“Kalau cara mengonfirmasikannya, tanya saja langsung pada Penyihir Kecemburuan. Tetapi kuyakin sangat sulit dinilai dari pengalamanmu, betul?”

Echidna pastinya membicarakan ingatan Subaru tentang kali pertama dia menghadap langsung Penyihir Kecemburuan. Meninggalkan Makam setelah berakhirnya pesta minum teh, di sana, ia menemukan sang Penyihir Pencemburu.

Mencuri tubuh Emilia, mencabik-cabik Garfiel hingga hancur, dan menelan Sanctuary dalam bayangan, dia adalah monster yang sebenar-benarnya. ――Tiba-tiba, Subaru ragu-ragu sesudah mengingat sosok mahluk itu.

“Be…nar………Echidna. Sebelumnya, setelah pesta teh berakhir……di luar, aku melihat seorang penyihir di Sanctuary. Itu…apa? Itu apa sih?”

“Bukankah sudah jelas? Itulah Penyihir Kecemburuan. Sekalipun, tiruan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang asli. Wadah hidupnya masih belum matang, dan terlebih lagi, tidak satu pun segelnya rusak. Kekurangan Gen Penyihir, tidak mungkin dia bisa macam-macam seperti saat masa keemasannya”

“Masih tidak ada apa-apanya dibanding masa keemasannya……?”

Memakan Garfiel yang dalam bentuk manusia hewan seakan bukan masalah besar dan membantai semua orang tanpa terkena serangan sedikit pun, monster itu masih belum sebanding dengan Penyihir Kecemburuan sejati.

Empat ratus tahun yang lalu, masa-masa ketika Penyihir sejati mengamuk, yang terjadi bagaimana ya?

“Seperti yang kau bayangkan, pemicu kemunculannya adalah pesta teh. Bahkan mahluk itu tidak bisa ikut campur di sini. Jadi, Penyihir Kecemburuan itu marah-marah namun tidak dapat melampiaskannya ke sini, karena itulah dia mengambil wadah di dunia luar, mengamuk dan menimbulkan kekacauan di mana-mana”

“Dan kau tahu itu akan terjadi?”

“Tidak juga. Lagi pula itu pertama kalinya terjadi. Setelah kejadian itu, barulah aku dapat membuat suatu hipotesis. Aku tidak menyimpulkan sesuatu sebelum melihatnya lebih dulu, dengan kata lain, sebagai Penyihir Keserakahan, aku tidak jauh berbeda dari kalian.”

“――――”

Subaru tak dapat berkata apa-apa pada tindak-tanduk Echidna yang sedari tadi tidak bergeming. Tidak perlu menyalahkannya lebih jauh. Tetapi meskipun Subaru mengetahui hal ini, dia masih tidak bisa menampik rasa sebalnya.

Kalau saja Echidna merasa seperti itu, jika dia merasa ingin membantu Subaru, maka mungkin――

“Aku ragu pasti ada alasan besar kenapa orang tercintamu itu menjadi Wadah. Kendati ada suatu kecocokan pada Setengah-Elf, kupikir latar belakang terbesarnya adalah Kecemburuan”

“Kecemburuan ……?”

“Bagi seorang Penyihir yang ingin menjadi satu-satunya orang yang kau pikirkan, sebegitu sulitkah untuk percaya bahwa dia membenci dan berusaha menghancurkan seorang mahluk yang disayangimu?”

Mencintai seseorang sampai segila itu berarti memaksa si target cinta membalas cintanya. Selama cinta itu tidak ditujukan padanya, Satella akan berupaya tuk mengalihkan cinta Subaru. Begitulah kesintingan sesuatu yang dikenal sebagai cinta.

Barangkali Penyihir Kecemburuan adalah inkarnasi dari sifat tersebut.

“Semua pertanyaan yang mengganggu pikiranmu, hanya bisa dijawab oleh Penyihir Kecemburuan”

“――――”

“Kau bisa memikirkan pertanyaan tersebut tanpa henti, tapi, sejujur-jujurnya, aku ragu kau akan mendapat jawabannya. Bukan masalah kenapa dulu Satella mengejarmu, atau tentang Masa kini yang mungkin ada atau malah tidak ada”

“I…itu….”

Untuk Subaru, kenyataan itu sangat kejam.

Subaru ingin mendengar Echidna membantahnya. Diberitahu bahwa dunia setelah kematiannya tidaklah eksis.

Atau paling tidak, Subaru ingin mendengarnya langsung. Bahwa Banyak yang telah dikorbankan demi kesombonganmu.

Apapun jawabannya, Subaru akan menganggapnya sebagai peringatan, peyakinnya, pengingatnya agar tidak pernah lupa, dan walau dia tengah menggertakkan giginya, jiwanya mengucurkan air mata darah dari lubuk jiwa, Subaru ‘kan mengubah langkahnya ke depan.

――Tetapi bila jawabannya adalah Tidak ada jawaban, bukankah itu terlalu kejam?

Apakah dia hidup, tanpa kepastian atau pun penolakan, menyerahkan nasib dunia dalam limbo tak tentu ini?

Untuk terus berjalan tanpa mengetahui apakah langkahnya adalah miliknya. Apakah dia telah meninggalkan yang sudah ditinggalkannya. Apakah dosa-dosanya memang nyata. Apakah ini hukumannya?

Apakah kejahatan Natsuki Subaru terlampau besar sampai-sampai tidak termaafkan lagi?

Tidak ada yang bisa mengadili Subaru. Mau pun menghukumnya. Dia sudah mengerti akan hal ini.

――Namun benarkah Subaru menyangkal kebenaran itu?

“Menurutku memang sukar. Tapi kupikir, satu-satunya hal yang mesti dilakukan adalah memutuskan”

Saat Subaru dilanda kebisuan, Echidna memanggilnya dengan perkataan barusan.

Subaru perlahan-lahan mengalihkan kepalanya, dan memindahkan tatapan kosongnya kepada Echidna.

Menghadapi pandangan Subaru, Echidna menahan nafas, dan, dengan ekspresi serius…

“Ekstrimnya, Ujian Kedua adalah menerima masa kini sebagai satu-satunya masa kini, sambil memisahkan kemungkinan masa lainnya, sebagai dunia tak terjangkau”

“――――”

“Aku yakin itu berat, karena, dibanding penantang lain, kau memiliki alasan yang jauh lebih rasional untuk percaya bahwa kenyataan itu benar-benar eksis. Tapi tetap saja, sudah waktunya kau berganti.

“Berganti ……?”

“Pilihanmu mungkin memang meninggalkan banyak pengorbanan. Dan di antara dunia yang kau tinggalkan, sebagian besar memang tidak bisa diselamatkan. Tapi menghabiskan hidupmu dengan menghitung sesuatu yang hilang dan kau tinggalkan…itu menyedihkan. Sia-sia juga menyakitkan, bukan begitu?”

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

“Jika aku menginginkan idealisme kosong, aku tak akan datang kepadamu…….Tidak tahukah kenapa aku mendatangimu, kau sangka nasihat kilat ini akan membantuku melewati situasi rumit ini……?” omel Subaru.

Kata-kata Echidna menenangkan, dan pelipur lara.

Jika lukanya dangkal, atau mempunyai cahaya dosa, atau kalau hanya kejadian biasa, mungkin nasihatnya bisa membantu.

Atau mungkin, jika Subaru hanya ingin merasa diselamatkan, dia mungkin telah menekan saklar itu. (maksudnya dia bunuh diri lagi)

Tapi…

“Tetap tidak mengubah fakta bahwa semua hal yang telah aku lakukan dan tidak kulakukan, kenyataan ini masih tidak berubah sedikit pun…bahwa setiap orang yang aku korbankan percaya dunia-dunia itu tetap eksis, adalah sebuah kesalahan…”

“…… Itu benar”

“Terus bagaimana bisa aku terima-terima saja semua ini? Bagaimana caranya memaafkan diriku sendiri? Ketika kau menawarkan bantuan, seketika itu juga aku menepisnya. Itu karena aku tidak ingin diselamatkan oleh Rem palsu. Pada akhirnya, aku pasti akan meraih tangan Rem asli, entah dengan cara apa―― tetapi”

Menjeda napas, wajah Subaru berubah sedih…

“――Ketika aku berhasil…benarkah dia Rem asli yang kuselamatkan?”

“――――”

“Tanpa jawaban, hatiku tidak punya tempat bernaung…….Dan sekarang kau bilang aku tidak harus seperti ini, yang harus aku lakukan adalah memutuskan ……?”

“――――”

“Ketimbang menghitung yang tidak bisa aku selamatkan, aku harus hidup, menghitung orang yang aku selamatkan……itu intinya?”

Maksud Echidna adalah ada harapan jika dia hanya melihat ke depan.

Bagi Subaru, kata-kata itu justru memicunya.

――Tapi kegelapan tempatnya tenggelam tidak dangkal sampai bisa berkata begitu.

“Dengan idealisme biasa-biasa ini…kau menyuruhku……untuk bertarung……?”

“――Betul” ucap Echidna.

“――――”

“Begitulah maksudku”

Selagi menghempas jauh-jauh kata pilu dan tangisan dalam penderitaan terdalamnya, Echidna mengatakan ini kepada Subaru.

Berbicara perlahan, mengucapkan setiap suku kata, Echidna menatap tajam Subaru dan memberitahunya…

“Alih-alih menghitung orang yang tidak mungkin kau selamatkan, seharusnya menghitung yang sudah kau selamatkan. Aku telah melihat jalan yang telah kau pilih untuk bisa sampai di sini”

“Aku, apa……apa yang kau ketahui…tentang diriku……”

“Aku melihat upaya terbaikmu, berjuang dengan segenap jiwa untuk menempa jalanmu sendiri hingga sekarang. Karena itulah, kukatakan. Aku mengetahuinya”

“――――”

“Dari seluruh jalan yang sampai sekarang kau tempuh, tidak satu pun yang terbuang sia-sia. Tidak seorang pun berhak bilang upaya terbaikmu masih belum cukup. Hanya dengan membuang semua yang kau miliki, kau berhasil mencapai momen ini. ――Itulah sesuatu yang seharusnya kau banggakan”

Kata-kata tulus Echidna menimpa dada Subaru yang kosong. Sesuatu bergema dalam rongga dalamnya – tetapi itu belum cukup. Ucapannya belum bisa membuatnya berdiri.

Walaupun Subaru diberitahu dia seharusnya bangga, kenyataannya dia telah meninggalkan dan terlalu banyak kehilangan. Hal-hal yang seharusnya bisa dia ubah. Sesuatu yang akan berbeda jika bukan Subaru. Tapi, karena orang itu adalah Subaru, ada begitu banyak hal yang tidak bisa diselamatkan.

Itulah kesalahan Subaru. Dosa Subaru. Dosa yang harus diterima dan ditebus Subaru.

“Tidak ada orang yang bersedia memaafkanku”

“Kalau begitu aku akan memaafkanmu. Akulah, orang yang mengetahui segala hal tentang dirimu”

“Tidak ada orang yang mampu menghakimiku”

“Kalau begitu aku juga ‘kan menghakimimu. Akulah, orang yang mengetahui seluruh dosamu”

“――Tak seorang pun menerimaku”

“Jika kau tidak bisa menerima dirimu sendiri, maka perkenankan aku menyangkal pribadi tak termaafkanmu itu”

“――――”

“Jika kau tidak bisa menerima dosamu, serahkan saja bagian penolakannya padaku”

Setiap kalimat yang Subaru tuturkan, Echidna selalu membantahnya.

Mengapa Penyihir ini ngotot banget memungkiri dosa Subaru?

Kenapa Penyihir ini begitu menggebu-gebu soal menghapuskan kegelapan dalam hati Subaru?

“Kenapa…kenapa kau…..nian bersikeras membantuku?”

“……Meminta seorang gadis untuk mengatakan hal semacam ini benar-benar memalukan, tahu”

Echidna, yang sampai sekarang tidak pernah goyah, untuk pertama kalinya, merasa kesal.

Kemudian, dengan pipinya yang sedikit merona, Echidna berdeham, dan…

“――Maukah kau membuat kontrak denganku, Natsuki Subaru?”

Suaranya tenang, namun mengisyaratkan kehendak yang kuat.

Subaru berkedip-kedip, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam otaknya tetapi masih perlu banyak waktu untuk memahaminya.

“Kon…trak……?”

“Ya, sebuah kontrak. Kontrak resmi dengan Penyihir Keserakahan ――apa kau tertarik membuat kontrak denganku?”

“Jika kita membuat……membuat kontrak ini, selanjutnya apa?”

“Sederhana sih. ―― Mulai sekarang, setiap kali kau bertemu dengan rintangan yang tidak bisa kau atasi, aku akan hadir dan merenungkannya denganmu. Kapanpun kau ingin mendengar kata-kata seseorang, aku ‘kan berusaha memberikanmu jawabannya. Kapanpun kau merasa hendak dihancurkan oleh dosa-dosamu, akan kita besihkan dosa itu bersama”

Imbuhnya tanpa menarik napas, senyum malu muncul di wajah Echidna.

“Apa kau ingin membuat kontrak denganku?”

“……Tapi kau sudah mati … jadi kau tidak bisa lagi muncul di dunia nyata, bukan?”

“Kuyakin pengaruhku melebihi mereka yang sudah mati. Aku rasa agak terlambat untuk mengakui ini, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.……Tapi yah, itu kalau kau memaafkanku”

Meletakkan tangannya di dada, mencondongkan kepalanya saat dia berbicara, kata-kata Echidna menggema di gendang telinga Subaru. Tubuhnya gemetaran, aliran darahnya membawa kehangatan dan menjalar ke sekujur tubuhnya.

Jari-jemarinya yang lumpuh mendapatkan indra perasanya kembali.

Lidahnya yang kering kembali basah dan dapat digerakkan, matanya yang picek karena lupa berkedip dialiri sesuatu yang basah dan panas.

Uluran tangan Echidna, permintaannya, usulnya, janji bantuannya membuat Subaru bingung bagaimana menjawabnya.

Persis ketika sumpahnya perjuangannya nampak sudah kehilangan seluruh maknanya, sang Penyihir berjanji untuk berada di sana, untuk mendukungnya.

“Bukannya sombong, tapi aku percaya dengan jumlah pengetahuanku. Aku bisa mencarikan jalan keluar atas semua masalah yang mungkin kau hadapi, dan tidak peduli betapa absurdnya situasi yang menghadangmu, tidak seperti rekan-rekanmu, tidak perlu bersusah payah menyuruh-nyuruhku. Dan, yang paling penting, aku memahami Return by Death-mu”

“Kau mau mendesakku dengan sales secepat kilat itu?”

“Sebagai pihak yang meminta, wajar untuk menyebutkan seluruh manfaat yang akan kau dapatkan jika membuat kontrak denganku. Dan jika berhasil menenangkan hatimu, maka semuanya akan berjalan dengan lancar, bukan begitu?” tanya Echidna.

Memanfaatkan kata-kata Subaru, Echidna bahkan menjadikan protes Subaru sebagai sisi positifnya. Melihat sang Penyihir yang seperti ini, Subaru hanya bisa menyeringai.

Tiba-tiba merasakan udara lancar mengalir keluar dari paru-parunya, ahh, Subaru menghembuskan napas.

Bermandikan angin lembut padang rumput, dia menyandarkan punggungnya ke kursi dan memandang ke langit.

Di langit biru buatan, Subaru melihat awan putih mengambang.

Setiap kali dia terjebak, kapan pun dia hilang tanpa jawaban, setiap kali dia menghadapi rintangan yang mustahil.

――Jika dia bisa duduk di sini, di bawah langit biru ini, dan bertukar kata dengannya tuk mencari solusi …

“Mungkin, tidak buruk-buruk amat…….”

“―― Maksudmu ……?”

Kursinya berderit saat Echidna berdiri, tanpa sadar mengepalkan tinjunya, Echidna menatap Subaru. Tapi, baru sadar Subaru balik memelototinya tajam-tajam dengan punggungnya yang masih tersandar, wajah Echidna tiba-tiba berubah warna seolah-olah malu karena tindakannya sendiri,

“Ah, tidak……Mn, tapi, jika kau benar-benar menginginkannya, kurasa menyegel kontrak semacam ini tidak betul-betul—”

“Sudah terlambat untuk menariknya, bukan? Maksudku, kau adalah orang yang bertanya soal …… ugh lupakan saja, mengatakannya akan terasa sangat memalukan”

Echidna-lah orang yang menyarankannya, namun dia melakukan itu untuk menyelamatkan hati Subaru.

Sederhananya, itu adalah kebaikan seorang Penyihir. Fakta bahwa Echidna tidak membuatnya melekat dan memohon-mohon pasti merupakan pertimbangan sang Penyihir untuk Subaru.

Tidak peduli di mana Subaru berada, tidak peduli siapa dia, apakah dia akan selalu diselamatkan seperti ini?

Mencondongkan tubuhnya ke depan dari kursi, Subaru berdiri.

Berdiri cukup dekat sampai bisa menyentuh Echidna jika Subaru mengulurkan tangannya, Penyihir itu menatap tajam mata Subaru yang selaras dengan dirinya, sedikit kegelisahan dalam ekspresinya.

Bahkan tingkahnya selama satu menit ini sangat licik, pikirnya.

Tapi karena Subaru yang diselamatkan, dia tidak pantas komplain.

“Jadi … bagaimana cara menyegel kontrak?”

“――Untuk menyegel kontrak formal, kau dan aku harus terhubung dengan satu jalur. Akan kuurus detail-detailnya … tapi untuk sekarang, tolong berikan telapak tanganmu”

Echidna mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan putih menghadap ke arah Subaru.

Di sini, letakkan telapak tanganmu di tanganku mungkin itulah maksudnya.

Merasa sedikit linglung, menyaksikan Penyihir di hadapannya gagal memberikan maksud, haa, Subaru mendesah lirih…

“Aduh, semoga semuanya akan berubah……”

Dipenuhi dengan harapan besar akan masa depan, Subaru menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan sang Penyihir, dan――

Dampak.

Ledakan keras terdengar saat meja piala di sampingnya meledak menjadi ribuan keeping.

Dampaknya menghancurkan meja, membuat kawah di permukaan sedangkan gemuruh gempa bumi mengguncang-guncang tubuh Subaru yang terkaget-kaget…

“――Aku menghentikan kontrak ini”

Menghujamkan tinjunya ke tanah, berseru dengan suara agung, adalah seorang gadis berambut pirang, bermata biru――

――Penyihir Kemarahan, memelototi kedua orang itu, bersimbah api kemarahan.

5 Replies to “Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 74”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *