Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 71

Posted on

Daftar Akhir Perulangan

CH 71.png

Penerjemah : DarkSoul

Bilah yang menusuk kulitnya membuat celah pada tubuh Subaru, dangkal tapi tajam, nyawanya melayang keluar. Darah segar muncrat membasahi rumput hijau saat tubuh Subaru kejang-kejang di bawah tatapan seorang pemuda berambut ungu.

Matanya berputar menampakkan sisi putihnya, mulutnya berbusa. Darah bersimbah keluar dari mulut dan lehernya. Perlahan-lahan pendarahannya mulai mereda, lalu mendengarkan suara desahan.

“———“

Subaru tahu betul bahwa dirinya di masa itu sudah mati. Bukan karena dirinya yang dulu dan sekarang mempunyai pikiran yang sama. Tapi, sensasi lehernya yang diiris terbuka dirasakan oleh jiwa tanpa tubuh Subaru.

“Emilia-sama, apa anda berkenan…menyeka…wajah Subaru”

“——-” Emilia tetap terdiam.

“Subaru lebih senang jika anda yang melakukannya, ketimbang saya. Dengan tangan anda sendiri”

Membersihkan Pedang Ksatria yang penuh darah dan memasukkannya kembali ke sarung pedang, ucap Julius pada Emilia yang tertegun. Di hadapan mayat Subaru yang terbaring dengan wajah menghadap ke langit, seorang gadis berambut perak jatuh berlutut. Mata kecubungnya kosong akan emosi, menolak kenyataan yang terpampang jelas di hadapannya. Tidak juga mampu menyeka tetes air mata di pipinya yang berkilau-kilau.

Melihat Emilia seperti ini membuat dada transparan Subaru merasa seakan-akan ditusuk-tusuk. Wajah sedihnya menampakkan hukuman yang tidak ingin Subaru ingat, menggertakkan gigi taringnya lalu mengesampingkan perasaan masa bodonya.

“Suba…ru” panggil Emilia.

Tangan lembutnya menyusuri wajah Subaru, mengusap darah yang dimuntahkan dengan telapak tangannya. Dengan tangan telanjang, Emilia tidak ambil pusing pada tangannya yang kotor selagi merapikan wajah kacau Subaru. Kemudian sesudah mengusap darah di wajahnya…

“Kenapa…? Kenapa Subaru…kenapa kau…”

Sebuah pertanyaan. Emilia menanyakan pertanyaan kepada seseorang yang tidak akan menjawabnya. Mayat Subaru tidak lagi bisa mendengar atau pun menjawab.

Apa pun yang Emilia ucapkan tak akan sampai pada Subaru yang sudah tidak bernyawa itu.

“——–”

Menyaksikannya dari atas, Subaru mengeruk-ngeruk kepalanya, mencari kapan percakapan ini berlangsung. —Saat itu pasca pertarungan keduanya dengan Betelgeuse, ketika dirinya tidak mampu menahan penguasaan si gila itu, alhasil mereka berdua dibunuh oleh Julius. Sihir Ferris membuat mana dalam tubuhnya berkecamuk, wadah mana dan anggota tubuhnya meluap-luap, rupa wajahnya setelah kematian tampak tidak indah. Nampak luka merah di kulitnya, dan matanya yang setengah terbuka memerah karena syaraf di dalamnya telah mati.

Sebelum diseka, darah yang mengucur dari hidungnya telah memenuhi bagian bawah wajahnya, dan kalau bukan karena coupe de-grace1 Julius, kematiannya akan lebih mengerikan lagi.

Tetapi tidak peduli seberapa bersih kematiannya, tetap tidak bisa menghibur orang yang ditinggalkannya. Khususnya mereka yang selamat dari pertempuran melawan Paus Putih dan pertarungan terakhir menghadapi Kemalasan, baru saja ingin merayakan kemenangan mereka di Ibu Kota — namun rasa putus asa dan penyesalan yang terpajang di seluruh wajah mereka, meremukkan hati Subaru.

“Subaru-dono……mohon maafkan diriku…….”

Berlutut, Wilhelm menundukkan kepalanya di depan mayat Subaru.

Setelah membunuh semua Kultus Penyihir pimpinan Betelgeuse, ekspresi Wilhelm memahit karena hasil pertempuran mereka. Para Ksatria-ksatria tua yang ikut andil dalam pertempuran tersebut, beberapa meratapi mayat Subaru bersama dengan Wilhelm, sementara yang lainnya menghantamkan tinju mereka ke tanah. Bahkan ada beberapa ksatria yang terhanyut dalam emosi mereka.

Subaru diam tanpa kata melihat kematiannya begitu membuat banyak orang berkabung.

Hal itu bahkan jauh luar biasa dibandingkan melihat sesuatu setelah kematiannya.

“Kenapa……kau sampai segitunya, hanya untuk membantuku? ……Hei, Subaru…kenapa?”

Menyentuh pipi mayat Subaru, Emilia terus memanggil namanya walau tidak akan dia tanggapi.

Menyaksikan kesedihannya, baru sekarang, Subaru menyadari.

Di dunia ini, Subaru tidak pernah menjawab pertanyaan Emilia.

Subaru tidak pernah menjawab jujur pertanyaan Emilia di Ibu Kota, “Kenapa kau ingin membantuku?”

Begitulah, Emilia masih tidak tahu alasan dibalik bantuan tanpa pamrih Subaru.

――Meskipun sangat berbeda dari kejadian yang ditunjukkan Sacntuary sebelumnya, kedua Ujian itu adalah karma dari dosa-dosanya yang tidak dapat diampuni.

“Dunia telah lama dihantu-hantui oleh Pemuja Penyihir, dan kita telah membunuh garda depannya, Kemalasan. Bagi dunia, ini adalah pencapaian penting. –Akan tetapi”

Melihat mayat Subaru, Julius mengetukkan jarinya ke gagang pedang terselubungnya. Berulang kali, tempo ketukannya semakin melamban…

“Tapi tidak bisa menggantikan semua pengorbanan untuk mencapai saat-saat ini. ――Aku ingin bercakap-cakap denganmu lebih lama lagi. Natsuki Subaru”

Setelah gumaman sedihnya, wajah Julius berpaling dari mayat Subaru yang tak bernyawa.

Ksatria itu memandang ke langit, matanya menyembunyikan kegelapan suram.

“Aku ingin memanggilmu teman”

Dengan suara lirihan Julius yang memelan, hamparan padang rumput telah berakhir.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Sekali lagi, semuanya menghitam selagi Subaru kembali terbangun dengan goncangan.

“――Dgh, hwa! ……Ah, aaah, hah, haaa !?”

Subaru mendapati dirinya sedang menggeliat-geliat di lantai dingin nan keras.

Bau lumut menyerang lubang hidungnya ketika berguling-guling di tanah, tenggelam dalam reaksi tidak masuk akal itu seolah-olah hendak melarikan diri dari emosi yang menghempaskan kekacauan dalam dirinya.

“Apa yang terjadi?” bukan pertanyaan di pikirannya.

Terengah-engah, berguling-guling, telinga bagian dalamnya terasa nyeri, Subaru berusaha menghirup udara dari paru-parunya yang megap-megap agar dapat mengalihkan sedikit fokusnya dari kepalanya, Biar pun hanya sebagian kecil saja yang bisa dirinya alihkan.

“――Gg, gahhh!]”

Bahkan usaha mengalihkan fokusnya gagal tatkala menabrak dinding Makam.

Tabrakan itu menyakiti tulang belakangnya, dan Subaru merasakan darah mengalir keluar dari dahinya yang mengkerut. Terkesiap selagi wajahnya menempel di lantai, tanpa sadar, mengalir tetes air dari matanya.

――Menyedihkan. Bodoh. Mengecewakan.

Berapa kali, dan sejauh mana, Natsuki Subaru tunduk pada kelemahannya sendiri?

Dan apa yang perlu dia lakukan untuk mendapatkan tekad besi tak tergoyahkan tidak peduli apa yang terjadi, dan tidak peduli rasa sakit macam apa yang harus dia tanggung?

Dia sangat lemah, begitu rapuh, dan itulah Subaru…

“Pura-pura tidak melihatnya, dan mengalihkan pandanganku…jadi inilah hukumannya….?”

Subaru selalu memikirkannya.

Pada suatu waktu, lebih dari satu kali, pasti pernah dipikirkannya.

Namun demikian, pemikirannya tidak pernah Subaru praktikkan, karena menolak untuk mencari dan memastikan kebenarannya.

Bagi Subaru, yang bisa Kembali Dari Kematian, saat dia mencari tahu apa yang terjadi pada dunia setelah kematiannya— lantas seluruh strateginya hancur lebur.

Semua yang Natsuki Subaru ingin selamatkan, justru meninggalkannya.

Atau, Natsuki Subaru yang telah meninggalkan mereka. Dengan egonya dan dirinya yang menyedihkan memilih untuk mati, Subaru meninggalkan dunia-dunia itu, melarikan diri ke dunia baru.

Jika dunia yang ditinggalkan oleh ego Natsuki Subaru masih ada, maka kejadian setelahnya persis seperti yang disaksikan Subaru.

Melalui Kematian, Subaru mencari bantuan dari Neraka, dan kejadian itu adalah apa yang terjadi selanjutnya.

“—–Tidak…mungkin”

Tanpa sadar, kewarasannya sekali lagi mulai memudar tapi tidak serupa dengan rasa kantuk, kesadarannya memutih seolah-olah diputus paksa dari kenyataan.

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

 

Sekali lagi, suara tak dikenal berbisik di telinganya.

“Suara siapa itu?” Kesadarannya yang memudar bertanya — sampai Subaru mengetahuinya sendiri.

―― Tidak salah lagi, itu adalah suaranya sendiri.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Di depan tengkorak hancur, seorang gadis muda berlutut.

Setelah jatuh dari ketinggian semacam itu, tidak ada daging manusia yang dapat bertahan dari benturan permukaan jika tidak hancur. Rambut hitam serta isi kulit kepalanya yang berceceran di tanah, bak bunga merah yang bermekaran.

“――――”

Sensasi kesadarannya yang berubah-berubah tidak lagi mengejutkan.

Sudah Subaru tebak saat kesadarannya direnggut dengan paksa.

Tapi yang dia tidak harapkan adalah pemandangan yang disajikan ketika kesadarannya terbangun—

“Mengocehkan omong kosong sampai mati …… ketika tidak ada … yang bisa ……”

Mati karena jatuh dari tebing, tubuh Subaru tergeletak di tanah. Dan yang berdiri di sampingnya, meludah, adalah seorang gadis berambut pink ―― Ram.

Kepribadiannya yang kalem menjadi linglung, bibirnya yang pecah-pecah serta air mata yang tampak mengalir jatuh dari ujung seragam pelayannya. Di wajahnya, yang selalu tanpa ekspresi, adalah emosi rumit bercampur marah.

Alih-alih menyesali kematian Subaru―― Nampak lebih mirip seperti kemarahan.

Ram dengan kasar menggaruk kepalanya, dan berbalik.

“Apa semua hal ini sesuai dengan rencana anda, Beatrice-sama? Anda menghalangi saya supaya orang itu bisa……” kata Ram.

“――――” Beatrice terdiam.

Baru saja Ram ingin melontarkan tuduhannya, namun wajah Ram seketika menegang dan berhenti di tengah-tengah kalimat.

Yang terpantul dari mata pinknya adalah Beatrice yang tengah berlutut di samping mayat Subaru. Tidak peduli gaunnya yang kotor, Beatrice hanya duduk di tanah―― tatapan Ram bergetar melihatnya seperti ini.

“Beatrice-sama ……”

“—Kenapa”

Gumam lirihnya.

Tidak mengindahkan keberadaan Ram, Beatrice terus fokus menatap mayat Subaru.

Tampak air mata dari sudut mata birunya, bahkan Subaru bisa melihatnya.

――Beatrice menangisi…kematian Subaru.

Melihat itu membuat hati Subaru bagaikan ditikam-tikam sebilah pisau.

Bagian dalam matanya memanas karena rasa sakit yang menimpa hatinya, rasanya Subaru ingin menghampiri gadis mungil itu, dan mengatakan sesuatu, apa saja padanya.

Namun Subaru tidak punya kaki, tangan, atau mulut untuk melakukannya.

“Kau…bukanlah, orang itu…..Aku mengetahuinya…paling tidak…tapi”

Wajahnya tanpa ekspresi, Beatrice melirih seakan merasa sangat bingung selagi tetes demi tetes air mata terus berjatuhan.

Di hadapan yang menyayat hati itu, Ram tidak ingin lagi mengatakan sesuatu. Dia menghela nafas, dan mengalihkan tatapan sinisnya ke mayat Subaru, lalu lehernya mendongak ke atas, 90 derajat.

“Omong kosong macam apa…..Mencintai kami—kau benar-benar sudah gila”

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

Seakan-akan udara itu sendiri sedang dibekukan, kabut putih dingin menyelimuti dunia.

Hutan yang membeku rontok setiap dihembus angin, dan, tidak dapat mempertahankan eksistensi mereka di tengah-tengah kelangkaan mana ini, segala hal kembali menjadi debu.

Pepohonan, jalan-jalan, makhluk-makhluk, dan dunia, semuanya berubah menjadi partikel-partikel kristal putih yang disapu oleh badai, kala sang Akhir Putih perlahan-lahan melahap bumi.

{――――}

Kali ini, Subaru menyaksikan akhir dunia.

Mencerminkan kekosongan putih yang merupakan alam bawah sadarnya, dunia menunggu akhir dingin penuh belas kasihnya.

Kecuali,

“—-Jadi, kau datang juga” ucap seseorang.

Suaranya suram, menggetarkan udara saat dirinya berteriak, adalah salah satu sumpah yang telah dia buat.

Tak lama, disusul dentuman yang memekakkan telinga saat Mahluk Raksasa itu menghantam daratan dan mengubah bentuknya. Pohon-pohon bergoncangan dan roboh, saling menimpa bagaikan bongkahan es saat hutan itu disapu bersih menjadi hamparan bulat, daratan tandus.

Yang meratakan hutan beku itu adalah makhluk berkaki empat yang dilapisi bulu abu-abu.

Setengah dari gigi-gigi monster itu hancur, sementara kabut putih memudar di celah-celah gigi taring bak pedangnya. Roboh ke samping, mata emas berkilaunya berbalik, melihat seseorang di hadapannya.

Gemetaran, hampir tampak seperti kejang-kejang.

“Sungguh memalukan …… aku tahu ini akan terjadi, namun tetap tidak bisa mengubah apa-apa”

“Aku kurang lebih memahaminya. Memang, sangat disayangkan”

Hewan itu berbicara, bukan untuk menyesali kekalahannya, tetapi menerima kenyataannya. Dan, suara jelas yang elegan itu menaanggapinya.

Di dunia yang sudah berakhir, suara itu tidak terluka atau melemah sedikit pun. Berdiri tegak lurus, rambut merah berkibar ditiup angin kencang, ia adalah seorang pemuda bermata biru tua.

“Emilia-sama dan Subaru tidak lagi ada di dunia ini, aku mengerti” kata si pemuda.

“Lia sedang tidur, selamanya. Dunia tanpa anak tidak memberiku alasan untuk hidup. Dan aku, telah gagal melindungi Lia, sama bersalahnya dengan lelaki itu—” kata sang Hewan.

“Karenanya, kau berambisi menghancurkan dunia?”

“Aku tahu pasti ada saja yang menghalangi. Tapi itulah sumpahku”

Terlepas dari sarung pedang naganya, bilah yang berkilat terhunus ke arah moncong hewan itu — ke arah Puck yang dalam wujud sejatinya, selagi memegangnya, Reinhard sang Pedang Suci menggelengkan kepalanya dalam diam.

Di dalam mata biru tuanya, terlihat duka cita dalam, dan emosi penuh iba.

“Aku memahami penyesalanmu. Aku pun juga merasakan hal yang sama. Tapi bukan berarti dengan kejamnya melampiaskan penyesalanmu kepada negeri ini. Perbuatan juga sumpahmu, akan menyebabkan kekacauan pada dunia ini. ――Dan aku tak akan pernah membiarkannya”

“Karena itu tidak adil?” -tanya Puck

“Ya, karena itu tidak adil. ――Akulah wujud Keadilan itu sendiri. Pedang untuk menumpas kebatilan. Dan dengan demikian, akan kubunuh kau di tempat ini, Roh Agung-sama”

Meskipun dalam segi ukuran mereka terlampau berbeda, sebelah mana yang kekuatannya lebih kuat, mudah ditentukan.

Bahkan Puck, dalam wujudnya yang sebenarnya, gagal mengubah ekspresi kosong Reinhard, Puck sedang sekarat. Hanya menggambar busur perak dengan ujung pedangnya yang dipanjangkan, pedang Reinhard membelah eksistensi Roh itu menjadi dua.

Menampik Aura-Pendekar Pedangnya, Reinhard dengan teguh melakukannya.

“――kh”

Suara itu membuat Reinhard mengerutkan alisnya.

Bahkan Subaru yang tidak punya tubuh merasakan sesuatu yang mirip kebingungan dalam emosinya yang tidak jelas.

Singkat dan putus-putus, sulit mengetahui apa yang didengar.

Sulit, karena memang kedengarannya sulit jika semua itu sulit untuk dipercaya.

“Kh, kheheh …… haha, hhahaha!”

“—–Apa yang lucu?”

Tenggorokannya yang gemetaran dan diambang kematian, wajah Puck memilin saat dia tertawa.

Bahkan dengan nyawa dan kematiannya di telapak tangan orang lain, dan sumpahnya digagalkan, Puck tertawa. Tidak dapat memahami maknanya, Reinhard menanyakan pertanyaan itu.

Tapi Puck sepertinya menganggap lucu reaksi Reinhard.

“Apa yang lucu? Ya karena itu lucu, pokoknya lucu deh. Reinhard, kau …… tidak, apa sih yang diketahui pemula ini?”

“…………” Reinhard terdiam.

“Oh ya. Aku ingat semuanya. Butuh waktu cukup lama untuk memahaminya. Dan, setelah kupahami dan kudapati kau masih tidak mengetahuinya, rasanya sangat lucu sampai aku tidak bisa berhenti tertawa”

Ada sesuatu yang berbeda dengan nada dan caranya menanyakan pernyataan itu, tidak seperti Puck yang biasanya.

Bagi Subaru sendiri, dia sering melihat Puck dalam bentuk kucing imutnya, ini adalah kali pertama dia mendengar ucapan itu terlontar keluar dari mulut Puck.

Berbeda dengan kebenciannya terhadap Subaru dan Betelgeuse setelah Emilia terbunuh. Pada saat itu, Puck masihlah Puck.

Kini, tawa yang ditujukan pada Reinhard tidak pernah Subaru lihat dari Puck sebelumnya, melainkan sesuatu yang berbeda sepenuhnya――

“Aku ingin memastikan tidak ada lagi korban jiwa. Bilamana dirimu ingin membenci seseorang, maka bencilah aku”

“Aku tidak membencimu, Reinhard. Kau adalah seorang pahlawan. Dan seorang pahlawan memiliki peran pahlawan untuk diisi. Aku tidak membenci mau pun menyalahkanmu karena mengikuti jalan ninjamu

“――――”

“Kau adalah pahlawan, Reinhard. ――Kau akan selalu menjadi seorang pahlawan”

Di akhir dari akhir, Puck mengucapkan kata-kata paling dengki dari semua kata yang pernah diucapkannya.

Setelahnya, Reinhard mengangkat pedang ke atas kepalanya dan dalam satu sabetan pendek pedangnya―― dari kilatan bilahnya, dilancarkan sebuah sayatan intens.

Membelah udara, menyayat atmosfir dan menggetarkan bumi, pusaran mana memotong segalanya dalam garis lurus panjang yang dibentuk oleh ayunan pedang itu ―― dan, ketika kilat itu berhenti, mata telanjang Subaru melihat dunia yang terbelah.

“――――”

Di akhir sabetan pedang itu, dunia yang awalnya diselimuti salju putih, seketika melahirkan hawa dingin baru.

Dunia yang terbelah itu diperbaiki, pusaran mana perlahan-lahan mulai memudar, kembali ke atmosfer. Bumi yang hancur lebur, Bunga-bunga berkembang dan bermekaran. Udara yang menusuk dipenuhi dengan kehangatan seolah-olah mentari tengah bersinar terang dari langit terbelah jauh di atas.

Serangan sang Pedang Suci mengakhiri dunia sekaligus mereinkarnasikannya.

――Sedangkan Hewan buas raksasa yang terkena serangan itu menghilang tanpa jejak.

Beberapa menit yang lalu Puck hadir di bumi, sekarang tubuh maha besar itu hilang, tidak ada bekas kehancurannya.

“――――”

Dengan suara dentingan, Reinhard memasukkan Pedang Ksatria ke sarungnya.

Angin membelai rambut merahnya, Reinhard menyipitkan matanya sembari menatap langit lalu menghembuskan nafas yang hampir tidak terdengar hembusannya.

“—Felt-sama pasti akan sedih”

Gumamnya sambil menutup mata.

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

[Saksikanlah, masa yang seharusnya tidak ada]

Catatan Kaki :

  1. Coup de grace adalah serangan yang langsung membunuh mahluk atau manusia sekarat, cara membunuh penuh belas kasih tanpa memberikan rasa sakit sedikit pun pada korban.