Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 71.5 (Selingan I)

Posted on

Pesta Teh

CH 71.5.jpg

Penerjemah : DarkSoul

“Alam Semesta Paralel, adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa adanya alam semesta lain yang terpisah dengan alam yang kita tinggali sekarang, ada banyak alam semesta, dan semuanya mengikuti jalan yang sama”

Orang yang barusan menjelaskan sebisa mungkin menekan emosi kegembiraan dalam suaranya.

Mendengarkan penjelasan bak ceramah itu, dia mengetuk-ngetukkan jarinya dengan pelan di atas meja, ketukannya berirama datar dan terdapat emosi kegembiraan di dalamnya.

“Kedengarannya, huu…seperti, haa…… agak rumit”

“Tidak sulit jika memutar kepalamu kok. Bayangkan Dunia Paralel tak terbatas, masing-masing Dunia itu terbentuk dengan sebuah pilihan yang berbeda. Misalnya, katakanlah ketika kau pulang, ada dua jalur persimpangan di hadapanmu. Kedua jalan itu mengarah ke lokasi rumahmu, dan ada salah seorang dari dirimu berbelok ke kanan, ada juga yang berbelok ke kiri—contoh itu sudah jadi Alam Semesta Pararel kecil”

“Begitu. Jadi maksudmu ada banyak sekali dunia di luar sana sampai tidak bisa kita hitung? Bodoh banget”

Mendengar tanggapan bersuara lesu, mendadak terdengar suara bersemangat.

Si penceramah tersenyum masam, dan menunjuk rekan tidak sabarannya itu.

“Kedengarannya sedikit konyol. Memang, contoh barusan mungkin belum bisa dijadikan penjelasan menyeluruh tentang teori itu……tapi kau tentu bisa menggunakannya untuk Skala yang lebih besar”

“Skala yang lebih besar…apa contohnya?

“Hmm apa ya, benar juga. ―― Bayangkan jika kau telah meninggalkan pasukan garda depan para elf yang terisolasi di Boroid Plains, selanjutnya apa yang akan terjadi?”

“――――”

“……Hmm. Tebakanku kau akan semakin terpicu”

“Sederhana sih, kenapa aku tidak marah. Walaupun kau mengatakannya sepuluh, seratus atau ribuan kali, aku selalu akan menghujamkan tinjuku dalam kekacauan. ――Jadi Alam Semesta Paralelmu atau apa pun itu, tidak nyata!”

Mengutarakan pernyataan kuatnya, si penyata menaikkan kakinya ke meja. Ibaratnya melihat dia menghentikan pembahasan persoalan ini, si penceramah tersenyum tipis. Menyadarinya, si penyata mengerutkan wajah cantiknya.

“Apa yang lucu!?”

“Tidak, kau ini tomboy banget ya, tapi celana dalammu kelihatan, Minerva”

“Aa, kya! Apa, dasar dungu! Tidak dapat dipercaya! Idiot! Bodoh! Goblokkkkkkk! Keras kepala! Bego, dasar bego, ampass!”

Meneriakkan semua sumpah serapah yang dia ketahui, gadis berambut pirang itu—Penyihir Kemarahan, Minerva, menarik kakinya dari meja dengan air mata berlinang, cepat-cepat merapatkan kakinya dan menurunkan rok dengan kedua tangannya.

Dia mendongak marah pada—–Penyihir berambut putih yang duduk di hadapannya. Namun…

“Haa. Kesampingkan dulu yang benar dan yang salahnya, huu…celana dalammu…haa……itu karena kebodohanmu sendiri, Minerva sangat tomboy, huu …… tidak ada gunanya menyalahkan orang…haa”

“Tidak seperti seorang wanita saja! Seharusnya aku yang bilang begitu, Sekhmet. Memangnya kau pernah mengenakan pakaian lain……malah, kapan terakhir kali kamu mengganti jubahmu?”

Minerva memelototi Penyihir Kemalasan――Sekhmet, menempelkan kepalanya di atas meja, wajahnya benar-benar terkubur dalam rambut hijaunya.

Di bawah lautan rambut itu, kepalanya bergerak dan mengintip lewat celah di tangannya, menatap balik Minerva.

“Kau indahkan saja sih, huu…begini paling nyaman……haa … Typhon, tolong pijat tubuhku…huu…bukan berarti aku ini mesum atau semacamnya ya…ha”

“Kau mengkritik perilaku orang lain padahal sendirinya……argh, rargh, rrgghhh……Kau mau apa!? Jadi aku harus disalahkan? Itu semua salahku? Kau ingin aku menghajarmu di sini!?”

Minerva dengan marah mengayunkan tinjunya, sedangkan Sekhmet memalingkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Melihat Sekhmet tidak mempunyai tenaga tuk berbicara, muncul urat-urat biru di dahi Minerva, tapi, seakan terbiasa dengan wataknya, Sekhmet sudah benar-benar kehilangan minat.

Menggantikan Penyihir Kemalasan, Penyihir pertama, sang Penyihir Keserakahan, bertepuk tangan dan melanjutkan percakapan.

“Aku memahami kemarahanmu, tapi karena yang barusan menyenangkan, ingin kulanjutkan saja topiknya, sekarang”

“Hrrmph. Kaulah yang memprovokasiku dengan Dunia Paralel sampah itu, Echidna. Aku marah. Aku marah. Sangat berapi-api…” kegeraman Minerva semakin menjadi-jadi.

“Ya, ya. Sekarang, soal Alam Semesta Paralel. Jika contoh terakhir itu tidak nyambung……coba kita pikirkan. Menurutmu apa yang akan terjadi jika Flugel tidak menyegel pakta dengan Volcanica?”

Satu jari menyentuh bibirnya, Echidna tersenyum nakal sambil mengajukan pertanyaan ini kepada Minerva.

Minerva menahan napas dan menyipitkan mata birunya.

“Jika Volcanica dan Flugel tidak pernah menyegel pakta mereka, Reid tidak dapat menghentikannya sendirian…dan dunia akan ditelan”

“Jika sudah ditelan, aku jadi penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Hanya Penyihir Kecemburuan yang tersisa di dunia ini. Mungkin, Alam Semesta Paralel memang ada. Dan bila semuanya begitu, bukannya ini sangat menarik?”

“Matamu selalu menebal setiap kali membicarakannya, Echidna. ――Aku tidak begitu marah padanya. Aku tidak mengerti kenapa kau marah padanya”

“Yah, itu pandanganmu padanya, ya. ――Jenis kemarahanmu itu naim. Karena itulah kau yang paling manis dari semua Penyihir”

Kata Echidna dalam bentuk lampau, sementara Minerva memalingkan wajahnya dengan dengusan kecil dan menyilangkan lengannya, menekan payudaranya yang besar dengan punggungnya yang disentakkan.

“Aku tidak ingin dicintai. Yang aku inginkan hanya menghapuskan seluruh konflik di dunia ini, semua penderitaan, kesedihan, duka, tangisan, rasa sakit, dimusnahkan oleh tinjuku. Aku tidak membutuhkankan apa pun lagi. Kemarahanku, kemurkaanku, dan tinjuku yang menyelamatkan ―― adalah segalanya bagiku”

Minerva memproklamasikan tujuan hidupnya tanpa keraguan sedikit pun.

Tidak bimbang dan ragu-ragu, itu adalah bukti bahwa tidak ada sesuatu yang mampu membelokkan keyakinannya

Sungguh, inilah Kemarahan ―― ditujukan pada dunia, Kemarahan yang tiada habis-habisnya membentuk akar keberadaannya sebelum semua hal tentang dirinya dibangun.

“Nah, boleh sih bilang begitu, sesuka kau aja~. Tetapi kau justru sangat bahagia ketika orang-orang memujimu, tidak bisa tidak menyeringai lebar, itulah sisi manismu, Neru-Neru~”

Saat mengucapkan akhir kalimatnya, suara yang agak bodoh memotong percakapan.

Asalnya dari seberang Sekhmet, dan dari kiri Minerva.

“Neru-Neru ~, kau yang tidak bisa jujur pada perasaanmu parahnya sudah tingkat Penyihir~. Aku sangat suka dirimu yang seperti itu sampai-sampai ingin kumakan~”

“Diam, Daphne. Barusan kau tidur, kenapa tiba-tiba bangun sih?” -keluh Minerva.

“Tapi aku sudah bangun sejak Neru-Neru ribut-ribut dan mulai memamerkan celana dalammu. Berpergian mengenakan rok kecil yang berkibar setiap kali kau bergerak, sudah begitu masih tetap dikenakan~, ck ck~, Neru-Neru~”

“S-seharusnya aku yang bilang begitu! Kau lebih muda dariku, dan pakaianmu sangat tidak senonoh! Dan apa yang kau bicarakan? Ini bukan pakaian dalam, ini tali, bego! Kau tolol ya!? Bodoh bodoh! Serius nih, dasar otak udang menyedihkan, kamu tahu kan? Goblokkkkk”

Wajahnya memerah dan matanya berlinang air, Minerva kembali menyumpah — sedangkan yang dengan senang hati mengabaikannya adalah Penyihir Kerakusan, Daphne.

Dengan tubuhnya yang sepenuhnya terikat dan matanya ditutup dengan silangan penutup mata, tubuh mungilnya menghuni peti hitam aneh. Meskipun pesta ini sekedar ngobrol-ngobrol di depan meja, bagi orang luar, pesta teh ini pasti tampak sangat surealis.

Kehabisan sumpah serapah yang dilemparkan pada Daphne (meskipun dia hanya meneriakkan Bego, Bodoh, berulang kali) Minerva kembali duduk di kursinya, membenamkan wajahnya di telapak tangan, dan merosot di atas meja.

“Apa ini apa ini apa ini apa ini apa ini! Seakan-akan aku yang salah? Bukan berarti aku melakukannya agar dapat dipuji-puji, tapi kau tentu akan sangat bahagia jika orang lain memujimu. Ketika seseorang mengatakan Terima kasih, kau pasti berpikir Aku senang melakukannya. Apa itu salah? Apakah aku yang salah dalam hal ini? Aku ingin menyembuhkan semua orang tapi aku juga ingin disembuhkan……”

“Kenyataan dirimu tidak hilang kendali barusan merupakan kelebihanmu, kurasa. –Sekarang”

Membiarkan Minerva, yang memperhatikan percakapan lalu tenggelam ke dalam lautan renungannya sendiri, Echidna mengarahkan pandangannya pada Daphne.

Dengan kedua mata yang tertutup, Daphne seharusnya tidak bisa merasakan tatapan Echidna, tapi hidungnya yang kecil masih berkedut dengan endusan pelan.

“Dona-Dona, kau menatap Daphne untuk apa~? Tidak seperti Neru-Neru dan Met-Met ~, otak Daphne tidak kuat berbicara denganmu tahu~. Lagi pula……haa…haaa~…… Aku sudah kehabisan kalori~”

“Tidak ada hal yang lebih bodoh lagi selain meminta bantuan seorang Penyihir…..Aku sudah sangat mempelajarinya saat aku hidup……tapi tidak kusangka pembicaraan ini akan sangat kacau, kalian semua sudah melakukan yang terbaik, aku hampir saja ingin mengucapkan selamat”

Sambil mengoceh, Echidna mengangkat tangan kanannya dan menjentikkan jarinya.

Seketika, secangkir teh hangat dan sepiring penuh kue muncul di depan Daphne. Matanya yang tertutup melebar, Daphne langsung berbinar-binar saat melihat makanan.

“Tentu saja, aku tidak ingin membuatmu menunggu, jadi makanlah sebelum…”

“Gafugafu ~ Omuomu ~ Muchumuchu ~”

“Lupakan yang kukatakan…kendati aku berharap kau berlatih etika makan di meja”

Echidna mengangkat bahu, sementara di depannya, Daphne menjunamkan seluruh tubuhnya ke atas meja saat dia makan. ―― Secara harfiah, dia menjejalkan seluruh tubuhnya. Meski dia sedang mengunyah, teh dan kue kering dihisap langsung saat menyentuh kulitnya.

Teh dan kue kering yang ditawarkan, juga barang tembikar, semuanya menghilang dilahap Daphne, langsung menjadi makanan Gluttony.

“Aaa ~, enak banget ~, manis banget ~. …… Oh ~, maaf ~. Aku sedikit berlebihan dan melahap mejanya juga~” Daphne keenakan.

“Tidak perlu khawatir”……yah, aku tidak sampai mengatakan ini, tapi aku kurang lebih sudah tahu hal ini akan terjadi jika mengundangmu. Selain itu, tolong berhati-hatilah, tidak ada lagi yang ingin kuminta darimu”

“Dona-Dona~, apa kau menyuruh burung untuk tidak terbang dan ikan untuk tidak berenang~?”

Mendengar penolakan rumit Daphne, Echidna mendesah, sementara, setelah menyelesaikan traktirannya, Daphne menggeliat dan melanjutkan percakapan dengan “Baiklah”

“Perutku sekarang sudah penuh makanan~, jadi aku akan menemani Dona-Dona sedikit lebih lama~. ――Kau membicarakan Alam Semesta Lain~?”

“Itu benar. Daphne, apa pendapatmu tentang hal itu?”

===

“Kau bilang aku betul-betul tidak memikirkan apa-apa~? Bagaimana dengan ini dan ini~, atau itu dan itu~, perutku tidak akan kenyang kalau hanya dipikirkan saja~. Duh, aku bingung ingin makan daging atau ikan ya nanti malam~, tidak sia-sia kalau dipikirkan~” kata Daphne

“Bila begitu, Daphne, pemahanmu itu tidak usah dibuat ribet…sepertinya hanya masalah seleramu saja. Itu sih sudah bisa ditebak”

Dari seluruh penyihir, kepribadian Daphne terbilang lembut. Yang jadi persoalan, eksistensinya adalah malapetaka bagi mahluk lain, terlepas dari perangai lembutnya, kekuatan kejamnnya mempersulitnya berhubungan dengan orang lain.

“Jadi ujung-ujungnya begitu. Ahh. Walaupun kita berspekulasi tentang dunia lain. Tetap tidak berguna, yaaaa…benar begitu…uuu”

Yang mengutarakan komentar tidak membangun itu adalah sang Penyihir Kemalasan, dia masih memencil di depan meja.

Berselimut rambut panjangnya sendiri, Sekhmet balik menatap Echidna lalu Daphne yang mengendus-ngendus.

“Walaupun kau menerima aliran pemikiran ini dan dunia yang begitu banyak macamnya, haa. Masih tidak bisa menyaksikan atau merasakannya sendiri, huu. Semua itu hanya kumpulan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti, haa. Kemungkinan yang muncul lalu menghilang jika kau menyeentuhnya, huu”

“Benar, menurut sudut pandang yang realistis, tepat seperti yang kau katakan, Sekhmet. Sekalipun kita menyadari keberadaan Dunia Lain, dunia itu tidak bisa kita mati. Lain, adalah penjelasan yang sangat tepat. Dua garis yang tidak pernah bersilangan—Dunia berbeda yang

memanjang dalam garis lurus”

“Tapi, itu tidak ada hubungannya dengan Ujian kedua, kan?” timpa Minerva.

Saat Echidna meringkas argumen Sekhmet, pernyatannya dipotong oleh interupsi mendadak Minerva. Wajah cantik Minerva diwarnai merah amarah,

“Jika yang dibicarakan Echidna melenceng dari topik. Pastinya akan mengarah ke sesuatu yang bermaksud jahat, benar?” Ha, ketahuan. Rasanya seakan aku menyerang titik lemahmu. Jika kau tidak ingin ketahuan, jangan coba-coba menyembunyikan kebenarannya”

“Aku bahkan belum mengatakannya, dan kau sudah kesal, marah padaku. Aku merasa tidak enak, tahu…Tapi, yah memang benar sih, aku tidak bisa menyangkalnya. Begitulah Ujian Kedua”

Melihat Minerva menggebrak meja, dengan santainya Echidna mengulurkan tangannya dan muncul buku hitam di sana.

Itu adalah buku pengetahuan milik Echidna yang berisikan Masa lalu, Masa Sekarang dan Masa Depan—Ingatan Dunia. Inkarnasi dari Rasa Haus akan Ilmu Pengetahuan, yaitu Echidona, dia merasa seolah-olah bisa mengakses informasi apa pun, pengetahuan, atau sejarah di dunia ini. Tapi dia pribadi, enggan menggunakan buku tebal terlarang ini.

“Ujian Kedua merayap ke dalam hati sang penantang, dan mencari setiap persimpangan yang telah dia lalui— dengan kata lain, Penyesalan. Ingatan dunia menayangkan kembali apa yang terjadi jika dia memilih pilihan lain, sebagai masa yang seharusnya tidak ada. Pada dasarnya, dibandingkan dengan Ujian Pertama yang menghadapi masa lalu, dan Ujian Ketiga yaitu mengatasi masa depan, Ujian Kedua lebih mudah dilalui”

“Lebih mudah dilalui, maksudmu apa?” Minerva bertanya.

“Itu adalah pertanyaan apakah seseorang dapat melihat dunia seperti Daphne. Sekhmet sudah mengatakannya, yang disebut Dunia Paralel pada akhirnya akan tetap terpisah, garis tak tersentuh, tidak akan pernah saling bertemu. Terlepas dari penyesalan atau kerinduan, keduanya tidak bisa dicapai”

“Dan Ujian Kedua menerobos garis tersebut dan menampakkannya”

Melihat Minerva menaikkan sudut matanya karena kesal, Echidna mengangkat bahu dengan santai.

Echidna membelai rambut putihnya dengan tangannya, dan berkata, seolah-olah untuk menenangkan Minerva yang sekarang berdiri,

“Bagi orang biasa, Ujian Kedua memang lebih mudah untuk dilewatkan. Dibandingkan menghadapi masa lalu yang benar-benar terjadi, Ujian Kedua hanya menjamah Kejadian yang mungkin terjadi. Terserah orang itu sendiri, menerima atau menolaknya…​​dan yang harus dilakukan adalah menerima masa kini, dan dunia nyata saat ini”

“Dunia, nyata…”

“Kembali lagi ke pertanyaan opini. Sekhmet, Daphne, atau bahkan kau sendiri bisa dengan mudah menemukan solusinya. ――Jika kau bisa melakukannya, maka kau lulus dari Ujian ini”

Mendengarkan penjelasan Echidna, Minerva mengangguk enggan.

Memang, jika persis seperti yang dikatakan Echidna, maka Ujian tidak sesulit yang dipikirkannya.

Bagi semua Penyihir yang hadir di sini ―― atau bahkan untuk semua orang dengan kesadaran diri yang jelas, seharusnya mudah untuk melewati Ujian itu.

“Jika begitu~, lalu mengapa~, Subarun sulit menghadapinya~? Subarun tampak seperti seorang anak yang mengenal dirinya sendiri~”

“—-Kalau dia…hm”

Mengingat-ingat Subaru, entah kenapa, mulut Daphne mengunyah-ngunyah. Melihat tingkahnya, Echidna menutup mata lalu memikirkan jawabannya.

“Ujian Kedua adalah pengamatan Dunia Paralel. Yang artinya, babak penyaksian penyesalan seseorang. Sudah kukatakan, mudah untuk menerima atau menolaknya. ――Sebenarnya, orang hanya harus mendoktrin kepalanya dengan berpikir kenyataannya tidak seperti ini”

“Namun” lanjut Echidna …

“Hanya dia seorang, cara itu tidak berhasil. Aku sangat terkejut Ujian Kedua memberikannya dampak separah ini――Sungguh, tidak terduga”

“Sniff~ sniff~……Aku bisa mengendusmu menyeringai dengan sukacita, Dona-Dona ~”

“Dia senang setiap kali melihat sesuatu yang tidak bisa dia tebak, kuyakin itu. Dasar mesum menjijikkan…nggak guna”

“Kesukaan seseorang sama dengan kepribadiannya. Karena kalian semua adalah temanku, kau pun juga sama”

Daphne tertawa kecil sedangkan Minerva tersulut amarah, dan jika memasang telinga baik-baik, terdengar dengkuran dari arah Sekhmet. Melihat setiap reaksi para Penyihir ini dengan matanya, Echidna kaget ketika…

“Dona~, Typhon juga lapar~”

Datang dari padang rumput dengan lari kecil adalah seorang gadis mungil. Seolah-olah melompat ke atas meja dari atas bukit, dia memanggil Echidna.

Rambut hijau dan kulit kemerahan, senyumnya menampakkan gigi-gigi putih, dia adalah Penyihir Kebanggaan, Typhon.

Melihat gadis yang tidak terlibat dalam percakapan rumit, malah menghabiskan waktunya bermain di padang rumput, Echidna balik tersenyum.

“Maaf sudah membuatmu bosan. Sekarang untuk teh Typhon……haruskah aku membuatnya lebih manis? Dan apa kau mau disuapi juga.

“Apa saja boleh~. Berlarian membuatku lelah, aku mau makan, minum lalu istrirahat~” kata Typhon

Mengatakan ini dengan energi yang luar biasa, Typhon menarik kursi kosong di sebelah Sekhmet dan melompat ke atasnya. Kemudian, satu tangan membelai rambut panjang Sekhmet, tangan yang satunya menyabet makanan yang dibuat Echidna, remah-remah berjatuhan ke seluruh meja.

Kejadian ini mungkin membuat wajah seseorang yang tidak mengetahui sifat sejati Typhon, tersenyum.

“Kau pasti lelah juga, menjaga Typhon” Echidna menggoda.

“I…itu tidak, benar……kan? T-Typhon adalah gadis yang baik, dan, kekuatannya……juga, tidak berefek…padaku, tahu? J-jadi, tidak apa-apa, aku tidak keberatan”

Sepasang mata menatap Echidna dari sisi sebelahnya, orang yang tiba terakhir di pesta the adalah Camilla yang menjawab pertanyaan dengan tergagap dan tersenyum tipis.

Rambut pink yang terjuntai hingga pinggangnya, gadis itu gemetaran sesaat. Meskipun tidak ada yang luar biasa dari perawakannya, entah kenapa, dia menarik tatapan seseorang.

Yang paling menonjol, seperti hewan kecil, pengaruh dari ekspresi dan sikapnya, menyentakkan focus hati seseorang.

“Duduklah, Camilla. ――Aku memanggilmu ke sini karena suatu alasan”

“A-apa ada sesuatu yang…sedang di, dimulai? Tidak, tidak…menakutkan kan?” tanya Camilla.

“Tidak akan menakuti atau menyakitimu. —Aku hanya butuh bantuanmu untuk menggerakkan potongan ini.

Duduk di sebelah Echidna, Camilla―― sang Penyihir Hawa Nafsu, dengan ragu-ragu menatap balik Echidna. Penyihir Keserakahan itu tersenyum, dan dengan luwes mengayunkan lengannya.

“—–Dengan cintamu, aku ingin kau menyelamatkan domba malang yang tersesat itu”

Ucap Echidna dengan suara Penyihir yang gemetar, lalu mengulurkan lengannya—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *