Re: Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Bab 72

Posted on

Akhir yang Buruk

CH 72.png

Penerjemah : DarkSoul 

—Berapa kali hatiku harus hancur sampai semua dosaku di ampuni?

“Dan semuanya sudah berakhir…pekerjaan ini tidak layak diambil”

Di sebuah gudang yang gelap, menatap tiga mayat yang bersimbah darah, seorang wanita cantik berjubah hitam perlahan memiringkan kepalanya.

Meski dalam kejadian yang diliputi darah ini, kejanggalan skillnya membuat Elsa tidak tersentuh satu tetes darah pun, pikirannya yang absurd juga tidak terpengaruh oleh mayat-mayat itu.

Tidak salah lagi, inilah yang mereka maksud sebagai monster rupa manusia.

Memijak lantai yang direndam darah, si monster melihat mayat dengan wajah menyeringai.

Seorang pria tua besar yang lengannya terluka sampai bahu dan darah mengalir jatuh dari kepalanya.  Seorang pemuda berambut hitam dengan perut yang terbelah dua, menggeliat-geliat saat ususnya tumpah keluar.

Dan, seorang gadis berambut perak terpotong dua dari bahu kiri sampai pinggang kanannya.

—Sudah berapa lama Subaru bertarung bersusah-payah agar dia tidak menyaksikan kejadian ini.

“Kalau dijadikan kesepakatan penawaran, ini sih hasil yang paling parah….Kenapa semuanya jadi begini, ya”

Menyentuh bibir merahnya, si monster ini dengan buruknya menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Menari-nari di tangan yang satunya adalah bilah berdarah penuh dosa—Pisau Kukri. Mengayun-ayunkan senjata yang baru saja merenggut tiga—tidak, empat nyawa di toko ini, monster yang bernama Elsa tersenyum puas.

“—Hmm”

Elsa memiringkan kepalanya, dan mundur ke belakang.

Tiba-tiba, sepotong es menusuk lantai tempat Elsa berdiri barusan. Rentetan tombak es mengejar Elsa dengan suara geretakkan taring.

“Sekarang apa lagi…”

“Beraninya—kau”

Sebelum Elsa menghindar, titik-titik cahaya redup yang mengumpul membentuk roh kecil. Seekor roh kucing yang mengambang—ekspresi wajah Puck sangat bengis, sedangkan suara seraknya gemetar penuh amarah.

“Akan kubuat kau menyesal karena telah membunuh Lia—”

“Ah, gadis itu ya…seorang Pengguna Teknik Roh. Sungguh hebat…aku tidak pernah membuka perut Roh sebelumnya”

Menghadapi Puck yang siap bertarung, dikelilingi oleh tombak es, wajah Elsa antusias akan pertarungan di depannya. Namun, sebelum menaikkan kewaspadaannya, Elsa menutup satu mata.

“Kenapa kau tidak muncul sebelum gadis itu mati? Roh dan si Pengguna Teknik Roh seharusnya satu tim—sayang sekali aku tidak bisa menikmati sepenuhnya”

“Tutup mulutmu, dasar pembunuh….Kalau saja aku tidak terikat dengan kontrak itu, maka aku…”

Puck menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jengkel. Puck memperlihatkan taringnya, tangan mungilnya menunjuk Elsa.

“Aku tidak ingin bercakap-cakap lebih lama lagi. Kan’ kubekukan dirimu, dan membuat Lia beristrirahat dengan tenang. Setelah aku menghabisimu, Kerajaan, dunia, lalu naga dan Penyihir. Semuanya”

“Hhaa~luar biasa—aku akan menikmati ini!”

Elsa melompat, merangkak di dinding dan langit-langit bagaikan laba-laba. Dengan lekuk tubuhnya yang ramping menghindari tembakan es nan cepat, tombak es itu menusuk dinding rumah dan membekukan udara, auman Puck mendengung di udara. Seluruh pandangan ditutup kabut putih, sampai tidak ada lagi yang bisa dilihat. Tidak ada apa-apa lagi di lantai rumah, mayat Subaru atau Emilia, tak ada apa-apa.

…………………………………..

—Berapa kali aku harus dikhianati oleh dunia ini sampai mendapat ganjaran atas perjuanganku?

 

“Saya hanya membuat situasinya tidak semakin memburuk. Saat saya menemukannya, kondisi Subaru-kun sudah tidak bisa diselamatkan lagi. —Dia sendiri juga berharap ingin mati saja”

“Dan…begitu kejadiannya…itu kematian yang buruk….Itukah yang kau maksud…Rem? Subaru adalah penyelamatku, ada banyak hal yang ingin kami bicarakan…dan kau malah…”

Subaru menyaksikan pertengkaran dua gadis yang dicintainya.

Suara itu memanggil-manggil nama Subaru, terdengar penuh kasih sayang namun juga sedih.

Suara itu, ketika Subaru tengah menghadapi kesulitan, dia sudah berdoa berulang kali, penuh kesabaran, memohon penuh, betapa berharapnya dia ingin disentuh oleh suara tersebut.

Gadis berambut biru dan perak itu saling berhadapan saat atmosfir ruangan makin bergejolak. Mereka sedang berdebat di ruang tamu Mansion, mereka bedua duduk berhadap-hadapan dengan meja yang berada di tengah-tengahnya, situasinya tambah memanas.

“Nah~nah, Emilia-sama tidak boleh emosi begitu. Pertama-ta~ma, kita harus mende~ngar apa yang ingin dika~takan Rem, benar?”

“Roswaal…apa kau mengerti apa yang sedang terjadi sekarang ini? Rem…pelayanmu, telah membuat penyelamatku ter…terbunuh…alias tamumu…Subaru”

“Ten~tu saja aku mengerti. Karena itula~h aku…memastikan percakapan kita terus berlanjut. —Kita tidak boleh salah paham dan membawa-bawa perasaan dalam masa~lah ini”

Roswal menyipitkan mata kuningnya saat menjawab. Lalu si badut itu menatap Rem yang berdiri di sampingnya. Merasakan tatapannya, Rem mengangguk.

“Semalam di Mansion bagian Timur…ada seorang penyusup yang kekuatannya setara dengan Emilia-sama. Menyadarinya melalui alat Permata Alarm, Rem langsung menghampirinya, tepat saat itulah aku menemukan Subaru-kun tengah merangkak di lantai”

“Dan Barusu sudah terkena efek kutukan tersebut” tambah kakak Rem.

“Ya, persis seperti yang dikatakan kakak. Subaru-kun sudah dalam keadaan sekarat. Efek kutukannya telah merampas nyawa Subaru, dan saya tidak lagi bisa menyelamatkannya…”

“Dan kau malah menghantamnya dengan rantaimu sampai mati. —Justru itu semakin menambah penderitaannya”

“Emilia-sama…”

Ram sedang memegang tangan adiknya, gadis berambut merah itu menatap dalam-dalam Emilia. Namun tatapan tajam tak bergemingnya tetap tertuju pada Rem.

“Fakta adalah fakta…tubuh Subaru, tangan, san kepalanya…jika kau ingin mengeluarkan dia dari penderitaannya, seharusnya ada cara yang lebih baik. Tapi kau malahan…”

“Itu karena…”

“…………”

Rem tidak bisa menjawab pertanyaan Emilia.

Emilia tidak lagi berbicara, mungkin karena kepribadiannya adalah anti-bohong, dan omelan Emilia telah menghujam inti motif Rem.

Rem dari awal memang sudah sangat tidak mempercayai Subaru.

Setelah Perulangan kedua di mansion—tidak bisa memeriksa mayat Subaru karena sudah diratakan sampai remuk di lorong, hal itu menyeret Rem ke dalam masalah ini.

Keramah-tamahan Subaru pada Ram pasti makin mendidihkan amarah Rem, sampai tidak bisa lagi menahan hawa membunuhnya.

—Apa yang ada di dalam kepala Rem sampai sebegitu teganya mengayunkan rantai besi kepada Subaru di lantai atas Mansion?

Mungkin Rem sendiri tidak mengetahui alasannya.

“—Kau sengaja…atau tidak sengaja…itulah jawaban yang ingin aku dengar…”

“——–Hg”

Dengan mata tertutup, Emilia bertanya dengan suara lirih sedangkan waajah Rem menegang.

Masih tidak jelas motif sejati Rem yang diketahui Emilia. Dan selamanya akan tidak jelas.

“Emilia-sama, anda hendak pergi kemana?”

Melihat Emilia berdiri, menepuk-nepuk celananya, ekspresi Roswaal seketika kosong sembari bertanya.

Mendengarnya, Emilia membelai rambut perak panjangnya dengan tangan.

 “—Aku pergi. Walau hanya sebentar, terima kasih atas kebaikan kalian. Tanpa dukunganmu Roswaal, aku tidak akan bisa ikut andil dalam Seleksi Raja. Akan tetapi…aku tidak bisa mempercayaimu lagi”

“Biar pun anda tidak mempercayai kami, tentunya hubungan mutualisme kita masih bermanfaat, bukan? Meninggalkan posisi karena kemurkaan anda, itu bukan keputusan yang bijak “

“Kemurkaan…?” Emilia bertanya.

Mendengar penjelasan Roswaal, Emilia tertegun, ekspresi wajahnya mengeras. Lalu, dia berbalik menghadap Roswaal.

“———”

Tak seorang pun dapat mencegah suara tepakan itu.

Jari putih Emilia menampar pipi putih-biru Roswaal. Merah dan membengkak, itulah pipi yang telah ditampar Emilia. Orang yang ditampar tidak bereaksi, menahan Ram yang hendak berdiri sigap dengan wajah yang mengkerut.

“Ram” tahan Roswaal.

“Tapi, Roswaal-sama”

“Tidak apa. Duduk saja. Emilia-sama, tolong maafkan Ram”

“Kau selalu seperti ini padaku…tapi kalau Subaru…kau tidak berkata apa pun…”

Menggigit bibirnya, Emilia memelototi Roswaal. Walau dipelototi oleh mata ungu yang berapi-api, Roswaal tidak bergeming sedikit pun. Inilah wujud dari sudut pandang mereka yang tidak dapat saling toleransi.

“Saat anda meninggalkan Mansion, dan kembali ke hutan—lantas apa lagi yang anda miliki?”

“Aku salah karena terpedaya oleh ucapanmu. Kekhilafanku…penebusan dosaku, akan kulakukan dengan segala cara. Salahkulah…Subaru mati”

Emilia menutup matanya, dan menjawab pertanyaan Roswaal dengan suara lirih. Lalu, Emilia menggelengkan kepalanya sedikit.

“Akan kusaksikan rohnya pergi menuju hutan dan kuistrirahatkan. —Demi Subaru, dan yang lainnya, sepanjang hidupku akan kuhabiskan untuk menjaga roh-roh itu. Sekian dariku.

Setelahnya, Emilia berbalik, menandakan bahwa dia tidak punya niat untuk melanjutkan percakapan.

Rambut peraknya beryaun-ayun, Roswaal memperhatikannya dengan tatapan penyesalan. Masih duduk di kursinya, dia mengulurkan tangannya pada sosok anak gadis yang beranjak pergi itu—lalu menurunkannya lagi.

“Bila sudah melenceng dari apa yang telah dituliskan, kalau begitu…di sinilah jalan~ku berakhir”

“Roswaal-sama…”

Mendengarkan lirihan tak berdaya Roswaal, Ram menyuarakan kekhawatirannya sambil memegang tangan Roswaal. Badut itu melirik gadis berambut merah dan memasang senyum tipis.

“Ram, sepertinya kau memenangkan taruhan~nya. Saat inilah tujuanku tertahan…dengan kata lain, kontraknya sekarang dapat dipenuhi.

“……Ya. Ya, Roswaal-sama”

Membiarkan mereka berdua berbicara sendiri, Emilia menghampiri Rem yang tengah membuka pintu. Sebelum melewatinya, Emilia melihat kepalanya yang tertunduk.

“Bawa aku ketempat Subaru”

“Emilia-sama, itu…”

“Kondisi mayatnya sangat buruk, aku tahu. Aku akan membersihkannya sebisa mungkin…dan membawanya ke hutan…”

Melihat wajah sedih Emilia, ekspresi Rem menegang sembari menundukkan kepalanya. Dalam ekspresi itu terdapat suatu penyesalan sekaligus amarah.

Kenapa semuanya berakhir seperti ini, dia pasti bertanya-tanya.

Kenapa semuanya berakhir seperti ini? Tak seorang pun mengetahui jawabannya.

“Maafkan aku, Subaru—aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa”

Gumam Emilia di saat-saat terakhir.

É

――Berapa kali aku harus dicekoki dengan kebodohanku sendiri sampai aku mengerti?

“DESU, DESU! DESUDESUDESUDESU, DESU!” pekik seseorang.

Suara pekikan yang memekakkan telinga itu terus bergema.

Dada ditegakkan, mulut membentang lebar, meneteskan air liur dari bibir dan menyusuri rambutnya yang panjang berwarna merah, seorang wanita muda memekik.

Perilaku wanita yang menjijikkan ini, mata merah darahnya yang membelalak, dan postur gila yang dia lakukan sekarang menandakan bahwa dirinya bukan manusia.

“DEMI CINTA! MENCINTAI! JATUH CINTA! OLEH CINTA! CINTA YANG DIBALAS ADALAH SEGALANYA! DESU! AAH! OH PENYIHIR! WAHAI PENYIHIR YANG TERSAYANG! TAKDIR CINTAKU YANG TERLARANG!

Jatuh terlutut, dengan kedua tangan terentang ke langit dan air mata mengalir dari matanya, wanita itu mengutarakan cintanya.

Di sekitar wanita gila itu ada kumpulan-kumpulan mayat yang dibanjiri darah. Anggota badan berserakan, kepala yang terbuka tanpa kulit, terbaring mayat yang tak terhitung jumlahnya.

Di tengah-tengahnya, terdapat tubuh seorang pemuda berambut hitam, tenggorokannya ditusuk oleh pedangnya sendiri.

Darah menenggelamkan setiap sudut desa Arlam, selagi setiap anggota ekspedisi terbaring di tanah tanpa tanda-tanda kehidupan.

Pada saat aset mereka yang paling kuat, sang Pedang Iblis, gugur karena serangan mendadak, arus pertempuran sudah ditetapkan.

Selebihnya adalah pembantaian oleh Tangan Tak Terlihat, rantai maut yang tak putus-putus sampai insan terakhir menemui ajalnya.

“SEMBAHLAH KETEKUNANKU! APA SEBUTAN UNTUK SI PEMALAS INI, KALAU BUKAN SUMPAH CINTAKU! DESU! AAAH! CINTAKU YANG DALAM, KEYAKINANKU, CINTAKU YANG TAK SIRNA! TERIMALAH! TERIMA ITU! BIARKAN CINTAKU HIDUP DALAM DEKAPANMU ―― DESU !!]

Menyatakan cintanya, air mata mengalir, wanita itu teriak-teriak di tengah banjir darah – tubuhnya dirampas, pikirannya diserang oleh monster, Betelgeuse Romanée-Conti.

Setelah membantai tim penyelamat Subaru dalam satu serangan, meski kehilangan penganutnya, orang gila itu terus menyatakan cintanya.

Lalu–

“Apa yang…terjadi?”

Seorang gadis yang tersentak kaget bergumam sambil berlari menyusuri jalan setapak desa.

Teburu-buru membetulkan rambut peraknya yang menempel di dahi, mata ungunya mengamati pembantaian tersebut. Mata Emilia melebar pada penduduk desa yang tenggelam dalam lautan darah, kemudian menyadarinya.

“Suba…ru?

Terbaring di sana, adalah seorang pemuda yang sangat dikenalnya.

Apa yang terlintas dalam perasaannya kala itu? Emosi di mata yang membelalak itu terlalu rumit, tidak seorang pun bahkan dirinya sendiri dapat memahaminya.

Bibir Emilia hanya gemetaran.

“Kenapa, apakah…Subaru, tertidur…huh?”

“Lia――! Ini buruk, dia dari Kultus Penyihir! Penyihir Kemalasan…kenapa, kenapa harus sekarang!?”

Ekspresi Emilia tercengang, seakan tidak menerima kenyataannya. Puck terbang ke depan wajah Emilia yang panik.

Mengelilingi Emilia sambil memperhatikan Betelgeuse baik-baik, berdiri sendirian di pembantaian itu, mata bulat hitamnya was-was dan penuh kebencian.

“Lia! Sekarang, sekarang juga! Pergi dari sini sekarang! Mahluk itu……kamu tidak boleh bertemu dengan Penyihir Kemalasan! Ujiannya akan dimulai! Jika dipaksakan padamu, akibatnya akan sangat buruk!”

“Puck ……?”

“Aku baru ingat, akhirnya aku ingat! Bajingan itu…bertemu dengan bajingan itu akhirnya membuatku ingat! Kenapa aku lupa……dan ada begitu banyak hal yang masih belum bisa aku ingat……aku baru mengingatnya kalau keadaannya begini……tapi jika begitu, maka!”

Menghadap ke langit, Puck membentangkan tubuh kecilnya selebar mungkin, dan berteriak.

“SEMUANYA TIDAK PERSIS SEPERTI YANG KAU KATAKAN ―― ECHIDNA!!”

Penuh sesal dan kebencian, teriakan itu bergema dan Puck terengah-engah, menggelengkan kepalanya. Sedangkan Emilia terdiam di depan rekannya yang berubah sepenuhnya.

Mendengar teriakan itu, Betelgeuse perlahan berdiri tegak.

“Wah wah….senang bertemu DENGAN KALIAN! DESU!”

Memiringkan tubuh bagian atasnya, Betelgeuse dengan kasar menarik rambut merah panjangnya, menariknya begitu saja dan darah mulai merembes keluar dari kulit kepalanya.

Melihat kejadian melukai diri sendiri ini, ngeri bercampur jijik terbayang di mata Emilia.

“AKU adalah Kultus Penyihir, sang Dosa Kemalasan―― Betelgeuse Romanée-CONTI…DESU!”

…………………………………………………

Orang gila itu tertawa-tawa, suaranya mengguncang suasana.

Sama seperti sebelumnya, orang gila itu tertawa-tawa sambil memiringkan tubuhnya, dia mengamati Emilia dari kepala sampai kaki kemudian ke tubuh bagian atasnya, mengamati seluruh bagian tubuhnya lewat tatapannya.

“……..Luar, biasa, desu”

Betelgeuse menyebutkan rasa penasarannya.

Suara tepuk tangan. Betelgeuse bertepuk tangan, mengarahkan tepuk tangannya pada Emilia.

“Luar biasa ―― DESU! SEBUAH SOSOK YANG SEMPURNA TUK DIJADIKAN WADAH! SOSOK YANG SANGAT MENGINGATKANKU PADA SANG PENYIHIR! Karena kau sudah menyiapkan wadah yang indah, maka tidak perlu lagi berbicara! DESU! UJIAN! UJIAN UNTUK MENENTUKAN APAKAH SANG PENYIHIR MAMPU MENDAPATKAN KEKUATAN BESAR!”

“Diam, dasar gila! Kau berjalan satu langkah mendekati anakku! Aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan――! Semenyesal mungkin!”

“Dalam menghadapi cinta, rasa sakit dan ketakutan adalah persembahan yang harus dikorbankan……semua yang kau katakan tak akan membuatku berhenti, desu”

Puck memberi peringatan pada Betelgeuse yang sedang mengoceh-ngoceh, tetapi orang gila itu tidak ambil pusing. Menyeret langkahnya di tanah, perlahan-lahan mendekat, sementara Puck tampak gemetaran, tidak dapat melakukan apapun.

“Kenapa…kenapa, bukankah momen ini saat aku…… tidak, ini salah. Aku ingat sekarang. Itu salah. Ya, ini salah, itu salah! itu salah Aku…aku

“Puck! A-apa yang harus aku……apa yang harus aku lakukan!? A-aku……dan Subaru…di sana dia……”

“UJIAN! LUBUK JIWA YANG TEKUN INI TELAH DIPILIH! DESU! SEBUAH WADAH YANG SUDAH DIKUASAI, AKAN MENCAMPURI JIWA YANG BERDOSA! DESU! ISINYA, TIDAK DIKETAHUI ―― DESU!”

Emilia mati-matian memanggil Puck, yang memegang kepalanya. Sementara Betelgeuse melanjutkan menuju pasangan bingung tanpa henti.

Melihat Betelgeuse menggerakkan jari-jemarinya dengan aneh dan menjilati bibirnya, Emilia merasa bahaya.

Saat melihat mata Puck yang kacau, Emilia terkesiap, dan, dengan suara tercekik.

“Tidak……aku takut, ayah……..yah”

Emilia merintih, memanggil-manggil seseorang.

Mencari bantuan dengan suara yang begitu lirih sampai tidak ada orang yang dapat mendengarnya.

Betelgeuse betul-betul mengabaikannya dan mengulurkan tangan ke arah Emilia. Tentunya, dalam tangan itu adalah Wewenang Kemalasan, Tangan Tak Terlihat.

Tangan tersebut akan mencapainya dan mengikat tubuh Emili, berniat memasukkan niat jahatnya――

“—–Jauhkan tangan kotormu dari putriku!!”

 

Ø

Setelahnya, dinding es dengan ketebalan dan tinggi yang luar biasa muncul di depan Emilia.

Membatasi dirinya dengan Betelgeuse, dinding itu terus meluas, muncul dari tanah.

Dalam sekejap, bahkan Betelgeuse, dengan Tangan Tak Terlihatnya, terpaksa melompat mundur.

(DarkSoul)

“Itu—–!”

“Aku akhirnya ingat sesuatu yang paling penting……Demi melindunginya, kontrak dan batasan tidak lagi aku indahkan. Sungguh aku diikat oleh sesuatu yang tidak berguna…sekarang, aku akhirnya ingat”

Mendengar tanda keraguan dalam suara Betelgeuse, kucing kecil yang mengambang di udara itu menyatakannya.

Aura linglungnya telah lenyap, roh itu memelototi Betelgeuse sambil terbang.

“Kini aku ingat, mengapa aku menjadi seperti ini. Semua itu untuk melindungi putriku, akhirnya—jika harga untuk melindungi Emilia sangat besar…bedebah keji di sana itu…”

“Puck—–a” panggil Emilia.

Emilia mengulurkan jari-jarinya ke arah Puck yang sedih, dan tenggorokannya membeku.

Di dadanya, ada kristal yang bersinar dengan cahaya hijau. Itu adalah tempat tinggal roh Puck, batu penting yang mengikatnya dan Emilia.

Tapi tiba-tiba, tidak disentuh apa pun, batu itu hancur menjadi debu.

“Apa…ke-kenapa…!?”

“Aku……Aku telah melanggar batasannya, dan konsekuensinya sudah dimulai. Mungkin dari awal kejadian ini sudah diramalkan……tapi tetap saja”

Berbalik, Puck terbang kehadapan Emilia.

Mata Emilia berkedip-kedip ragu di depan Puck. Menatapnya balik, ekspresi Puck seakan-akan tengah menatap sesuatu yang sangat berharga dan disayanginya.

“Lia, selamat tinggal—-”

“Apa…”

“Pembatasnya telah rusak. Aku tidak lagi terikat dengan tubuh ini. Termasuk keinginanku untuk terus bersama denganmu, itu termasuk harga yang harus dibayar. –Maafkan aku”

“Tidak, jangan, Puck……semua orang…semuanya telah pergi……Subaru…dia……semua orang…telah pergi! Puck…jika kau meninggalkanku juga……aku…aku akan sendirian……Aku tidak… ingin…sendirian…”

Seperti anak ngambek, Emilia memohon-mohon dan air menetes jatuh dari matanya.

Puck menggunakan ekor panjangnya untuk menyeka air mata Emilia, dan dengan lembut mencium ujung hidung gadis yang sedang menangis itu.

“Jangan bilang begitu, dengarkan baik-baik. Masih ada Ram di Mansion. Betty juga ada. Jika kau butuh bantuan, kau bisa mengandalkan Betty. Anak itu…tidak akan pernah menolakmu. Meskipun agak jahat memintanya begitu”

“Aku…! Puck, selain dirimu, aku tidak punya siapa-siapa lagi…..”

“Sekarang, pergilah. Yang paling aku sayangi di dunia ini, Emiliaku yang tercinta, yang paling kucintai…”

“Tung–”

Sebelum kata itu terucap dari mulut Emilia, tubuh kecil Puck menghantam dahi Emilia.

Tidak dapat menahan kekuatan Puck, tubuh Emilia terhempas ke belakang――mendadak muncul retakan di udara dan menelan tubuhnya yang ramping.

“Apa—-“

Sesaat kemudian, sosok Emilia menghilang dari desa.

――Menyaksikannya sampai akhir, Puck mendesah panjang dan menariknya kembali

“Maaf sudah memaksamu melakukan ini, Beatrice”

Puck berterima kasih kepada kenalannya karena telah membantu menyingkirkan Emilia.

Kemudian, dia berbalik, dan memelototi Betelgeuse yang sedari tadi memperhatikan mereka.

“Kau hanya duduk di sana diam mengamati…sikap yang bagus bagi seorang penyembah fanatik”

“Tampaknya jika aku melakukan sesuatu, kau akan langsung menghancurkanku, desu. Lagi pula, semuanya akan sama saja jika aku sendiri yang pergi ke Mansion, desu. Tidak ada gunanya mencari-cari masalah…desu”

“Aku mengerti. Kau mungkin terlihat gila, tapi nyatanya kau sangat peka. –Dasar sampah”

Menyemburkan sumpah serapah, Puck terbang melewati dinding es dan menghampiri Betelgeuse.

Bahkan Betelgeuse tidak macam-macam seperti menggunakan Tangan Tak Terlihat-nya untuk menghadang Puck.

Tak lama kemudian, mereka saling berhadapan dengan sejumlah kecil jarak di antara mereka,

“Tidak ada waktu lagi. ――Mulai saja sekarang agar cepat selesainya. Sisanya…akan kuserahkan pada adik kecilku”

“Ada yang berubah dalam dirimu, desu. Kau seorang roh berbau manusia”

“—-Ya, kutebak begitu”

Puck menggosok-gosokkan hidungnya dengan tangan merah muda sembari memasang senyum mengejek.

“Mungkin sekarang aku nampak seperti ini, tapi tubuh normalku sedikit lebih panjang, dan wajahku juga agak tampan, karena putriku manis, bukankah itu wajar?”

“…….Aku sulit memahami perkataanmu, desu”

“Yah, bodo amatlah. Aku tidak mengharapkanmu untuk mengerti……karena tak lama lagi kau akan mati”

Mengatakan ini, Puck mengarahkan tangannya ke arah Betelgeuse dan tubuhnya serta-merta menjadi putih.

Puck kehabisan mana, dan kehilangan kemampuannya mempertahankan tubuh ini. Mungkin karena sebagian ikatannya dengan Emilia terputus, dan sebagian lagi karena dia telah melanggar batasan yang telah disebutkan sebelumnya.

Sosoknya perlahan mulai pudar――

“Sebelum aku mati, aku akan mematikanmu terlebih dahulu. Siapa sangka yang menemani kematianku adalah seorang penyembah fanatik. Menjijikkan”

“Maaf memberitahumu ini, desu, tapi kendati kau menghancurkan tubuhku, itu tak akan menghen—-“

“Aku akan membekukan jiwamu sekaligus. ――Jika aku melakukan itu, aku penasaran apa yang akan terjadi?”

Seringai tak berdaya di wajah Betelgeuse mendadak membeku.

Melihat mata orang gila itu membelalak, Puck menampakkan senyum gembira,

“Aaah—-datang juga wajah yang ingin aku lihat, dasar tolol”

Dalam sekejap, serentak dengan sosok roh itu memancarkan warna putih lalu meledak meledak, dan――

※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※ ※

――Dipaksa menyaksikan akhir dunia satu demi satu, Subaru terbaring jatuh di tanah.

Dia tidak lagi tahu tempatnya berada.

Apakah ini kenyataan, atau apakah Subaru ada di dalam mimpi? Mungkinkah salah satu mimpi buruk berantai? Dan kalau memang mimpi buruk, apakah dia akan dibebaskan begitu saja?

Bukankah kejadian-kejadian itu hanya kemungkinan belaka? Ataukah kejadian tersebut ada di sebuah dunia yang eksis sampai sekarang? Bukankah itu hanya sebuah khayalan yang terlintas dalam benak Subaru? Jika demikian, lalu bagaimana dia menjelaskan maksud kejadian tersebut yang sebelumnya tidak pernah terjadi?

Apakah dunia-dunia itu lahir dari khayalan? Apakah kenyataan itu menggantikan satu sama lain? Dari kedua hal itu siksaan untuk hati Subaru sangat besar.

Sangat besar sampai-sampai dia tidak bisa berdiri, atau mengangkat kepalanya, tidak bisa melakukan apa pun.

Tepat saat itu—

“Apa kau tidak bisa berdiri lagi? Subaru-kun?” tanya Rem.

Dia mendengar suara seseorang di sampingnya, dengan lembut membangkitkan hatinya dengan kata-kata itu.

Subaru pikir itu adalah suara seseorang yang dia cintai.

ilus CH 72.png

“Subaru————”

Garis-garis air mata panas yang seharusnya tidak lagi tumpah menjejak di pipi Subaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *