RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 129

Posted on

Pilihlah Aku

Penerjemah: Haruhime

—Seketika itu ia berpikir, seketika itu pulalah dirinya diteror.

Jari-jarinya yang terajut telah ditampik, namanya yang dituturkan tersisip kasih sayang.

Cinta dari perpisahan mereka. Tekad dan tangisan dalam mata tersenyum mereka. Keduanya mengemban berat yang cukup besar sampai membungkamnya.

Mestinya dia bilang apa? Dia masih tidak tahu.

Dia sedang memikirkan apa? Dia tidak ingat lagi.

Harusnya berbuat apa? Lagi-lagi tidak tahu.

—Beatrice tetap sama, sampai sekarang, meringkuk tak bergerak di Perpustakaan Terlarang. “… Lewes.”

Suara lirih dari bibirnya merupakan penggalan memori teramat kuno., bahkan namanya saja terdengar sendu. Kala mengucap nama itu, emosi meledak-ledak, waktu Beatrice membeku—empat ratus tahun dalam kehampaan—mendadak tampil di dunia nyata.

Beatrice mengurung dirinya dalam Perpustakaan, menunggu kedatangan Orang itu, setelah nyawa Lewes Meyer terenggutlah Sanctuary berhasil didirikan, dan Penyihir Hector terusir.

Beatrice kehilangan seseorang yang begitu dekat baginya, sangking dekatnya dianggap sebagai satu-satunya teman.

Semua orang tahu betapa lesunya Beatrice, kehilangan teman karena ketidaksanggupannya sendiri.

Semua orang pun tahu hanya waktulah yang dapat menyembuhkan hati terlukanya.

Kesimpulan Ibunya sederhana.

“Aku rasa suatu hari penyihir itu akan menghancurkanku. Aku ingin menyiapkan rencana untuk melawannya sebelum itu terjadi … namun aku tetap bisa gagal.”

“Bila kita terpaksa berkonfrontasi lagi, pertarungannya akan benar-benar intens dan absolut. Memperhitungkan kekuatan tempur musuh, peluang hidupku hanya lima puluh banding lima puluh … atau mungkin sedikit lebih rendah? Sebab Roswaal kehilangan gerbangnya dan tidak bisa ikut bertempur.”

Echidna menurunkan pandangan, tapi sikap Beatrice yang stagnan tak tergoyahkan.

Bukannya sengaja bersikap demikian. Sejak hari itu, wajahnya hampir kehilangan seluruh emosi. Siapa kira efeknya seluar biasa ini, gempa emosi susulan, telah menimpa dirinya?

Boleh jadi emosinya membeku karena sang hati tahu dampaknya.

Echidna menatap Beatrice serta ekspresi tak berubahnya, menyisir rambut putih dengan jari.

“Aku sudah jadi salah satu penyihir yang paling tidak ahli bertarung. Sewaktu tahu tidak bisa mengandalkan Roswaal, yang jenius perkara sihir, setelah menghabiskan seluruh peluang akhirnya aku melihat harapan kemenangan.”

“… Betty harus apa?”

Siapa pun tahu hidup Roswaal setengah gugur dalam pertarungan pembuatan fungsi-fungsi Sanctuary. Gerbangnya musnah seluruhnya, tidak memenuhi syarat sebagai seorang penyihir.

Melihat rekannya terbaring di tempat tidur, sampai kini ia sekarat, terbesit dalam benak Beatrice.

Kedengaran agak putus asa, dia menanyakan Echidna.

“Wajibkah aku berbuat hal yang sama seperti Roswaal, mengulur waktu sampai algoritmanya selesai? Ataukah mengorbankan diri sendiri, menggabungkan kekuatanku, dan menjadi inti algoritma, kayakknya? Aku takkan menyesalinya sesaat pun andai demi dirimu …. Tolong, gunakan aku sesukamu.”

Beatrice mencengkeram rok dan menunduk, menunjukkan kepercayaan terbesar kepada ibunya.

Tentu, emosinya terlampau rapuh dan samar untuk disebut sebagai Kepercayaan. Tapi Beatrice tidak memahami kondisi mentalnya saat ini, walau mengerti pun, kemungkinan besar kalimat itu akan terimbuh.

Nafsu balas dendam tak berkesudahan, amarah kepada ketidakberdayaannya—pertanyaan apakah dia mengenali atau tidak persaan ini adalah perbedaan satu-satunya.

“—Aku paham. Kalau begitu, aku bisa memintamu tanpa perlu pedekate dulu. Kau sungguh gadis baik, Beatrice.”

“… Ya. Karena Betty putrimu.”

Mendengar kata-kata itu dari Echidna biasanya akan sangat membahagiakan Beatrice.

Barangkali Ibunya tahu itu, karena jarang memberikan pujian verbal kepada Beatrice. Namun kini kata-kata ajaib tersebut meresap dalam dada kosong hampa, menuju lapisan kosong tersembunyi.

Mungkin api dalam hatinya tidak bisa dibangkitkan lagi.

Demikianlah pemikiran Beatrice, gagal bereaksi terhadap perkataan Echidna selanjutnya.

“Beatrice. Aku mempercayakan perpustakaan pengetahuanku kepadamu. Sampai tiba waktu yang pasti akan tiba, kau melindungi pengetahuan itu sebagai penjaga perpustakaan—Agar tidak seorang pun bisa mencurinya.”

“… Ha.”

“Sayangnya, sihir afinitas bayanganmu tak tertandingi. Kau gunakan Door Crossing untuk menghubungkan lokasi rapat dengan ruang terisolasi …. Ya, kita sebut Perpustakaan Terlarang. Di sana, aku ingin kau menjaga seluruh pengetahuanku, yang disusun menjadi buku.”

Mata Beatrice membelalak terbuka, terheran-heran selagi Echidna menjelaskan, tidak mengindahkannya. Beatrice mengira Echidna akan memintanya untuk ikut dalam pertempuran hidup-mati ini. Dilempar ke peran yang sama sekali tidak ada hubungannya, Beatrice bengong.

Meskipun sedang menyaksikan kegelisahan putrinya, Echidna terus menjelaskan tanpa henti.

“Lebih baik menghubungkan Perpustakaan Terlarang dengan Mansion Roswaal. Aku akan membongkar laboratorium, dan bersiap untuk pertempuran terakhir. Maaf, tapi aku tidak boleh membiarkan seorang pun membawa buku-buku itu. Sana suruh Roswaal menyiapkan rak buku dan mengurusnya.”

“T-tunggu ….”

“Takkan bertahan selamanya. Kau dan aku sudah terbebas dari belenggu takdir kehidupan. Lingkaran masa tidak lagi berarti bagi kita. Walau begitu, saat kau menyangka aku telah tersesat, aku tidak bertanggung jawab karena melewati tenggat waktu. Yang artinya ….”

“Tunggu!”

Setelah menarik nafas panjang, putrinya berteriak.

Beatrice tidak paham perkataan ibunya.

Atau memang tidak ingin dipahami. Naluri berteriak-teriak padanya, menyuruhnya untuk tidak boleh paham. Pemikiran Echidna luas, dengan mudahnya selalu mengungguli isi pikiran orang biasa. Berarti kata-kata Echidna adalah pilihan terbaik, dan Beatrice tidak pernah menginterupsi sebelumnya.

Kini tidak sama. Tidak sama sekali.

Apabila Beatrice membiarkan Echidna mengatakan keseluruhan niatnya, Beatrice pasti akan menyesal.

Kalau Echidna menyatakan seluruh pendapatnya, maka akan terbentuk solusi optimal absolut yang tak bisa diperdebatkan. Dunia senantiasa mengikuti ketegasan pilihan Echidna, dan Beatrice takkan mampu menentangnya.

Untuk menentangnya, Beatrice harus menyela sebelum selesai.

“Ibu … maksudmu apa? A-aku tidak mengerti tentang Perpustakaan Terlarang ini, kayaknya. Betty! Tetap bersamamu!”

“Sayangnya, dirimu tidak terlalu mempengaruhi konfrontasi melawan penyihir itu. Memang, akan meningkatkan peluangku, tapi … hanya sedikit sekali. Ujung-ujungnya malah merusak semuanya.”

“T-tapi Ibu lebih baik bersamaku daripada tidak sama sekali, Betty akan membantu Ibu, kayaknya! Nanti—”

“Kau tidak bisa. Resiko kita berdua yang dihancurkan itu besar, sama sekali tidak meningkatkan peluang kemenanganku. Apalagi statistiknya kurang dari lima puluh persen diriku selamat dari pertarungan, aku mesti mengamankan pengetahuanku dari sekarang.”

Memastikan pengetahuannya aman berarti penjagaan Perpustakaan Terlarang dipercayakan pada Beatrice.

Saat ini, Beatrice mengutuk Door Crossing-nya sekaligus kemampuan penciptaan ruang unik. Kalau saja dia tidak punya kemampuan ini, ibunya tidak akan menyuruhnya—

“Jangan … bilang … kekuatanku adalah untuk ini?”

“—”

“Kau tahu dari awal ini akan terjadi … andai kata begitu, lantas bukan hanya soal Perpustakaan Terlarang, y-yang terjadi di Sanctuary juga ….”

“Mengantisipasi sesuatu bukan berarti harus banget dilakukan. Aku tentu punya cara untuk melewati perkara ini, menyelesaikannya tanpa banyak masalah. Tapi aku bersumpah belum pernah menggunakan kekuatan itu. Aku ingin kau tahu itu.”

Echidna menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan singkat Beatrice.

Echidna menghampiri Beatrice, yang sedang menggigit bibir, lalu mengambil sebuah buku dari rak dan memberikannya kepada sang putri.

“Ini, apa ….?”

“Replika tak sempurna Kitab Kebijaksanaanku. algoritma Kitab Kebijaksanaan sama-sama canggih dan lebih rumit, jadi aku tidak seratus persen berhasil mengurai semuanya … tapi paling tidak cukup untuk dijadikan panduan sederhana masa depan bagi si pemilik.”

Beatrice menerima buku itu, jemari gemetarnya menyusuri sampul.

Kepalanya terangkat dan menatap Echidna, tatapan jauh ibunya menatap Beatrice. Seakan-akan matanya melihat suatu kejauhan.

“Ada dua buku. Satu untukmu, satunya untuk Roswaal. Aku harap Roswaal akan mengatur apa-apa yang terjadi selanjutnya asalkan membaca buku itu. Aku tahu permintaan ini terkesan memaksa, tapi aku ingin kau melakukannya.”

“—”

Beatrice melihat bukunya, mata goyah ketika menyadari dirinya sudah terlambat. Aku harus membuatnya bicara, aku harus membuatnya bicara. Begitulah idenya, namun kini sia-sia.

Echidna, ibunya, telah menentukan seluruh jawabannya.

Beatrice ingin menangis, memohon-mohon dan menempel padanya, tapi pendirian Echidna takkan berubah.

Karena itulah sifat sang Penyihir Keserakahan, kaum penyihir sepertinya.

“Kita kembali ke topik. Aku bisa jadi tidak kembali. Tapi perpustakaan pasti akan terbuka untuk seseorang suatu hari nanti. Setelahnya, kau pasti akan tahu. Seseorang yang layak mewarisi pengetahuanku akan mendatangimu.”

“Mendatangi, ku ….”

“Kita panggil seseorang ini Orang itu. Saat itu adalah tatkala Orang itu membuka Perpustakaan Terlarang, kemudian berkata tugasmu sudah selesai—Inilah permintaan terakhirku.”

Permintaan terakhir.

Ungkapan tersebut mencekat tenggorokan Beatrice, melihat paras Echidna yang balas melihat Beatrice.

Raut wajah ibunya konstan, tidak berubah.

Tetapi Beatrice merasa, dalam sekejap ini, wajahnya terbalut emosi tak dikenal.

“Betty—baik-baiklah.”

Setelah berpisah dengan Echidna, mematuhi permintaan ibunya dan tinggal di Mansion Roswaal, menggunakan sihir bayangannya untuk mendirikan Perpustakaan Terlarang dan diisi dengan buku-buku pengetahuan ibunya.

Lautan pengetahuan yang dikumpulkan sepanjang hidup Echidna. Sewaktu mendekam di ruangan penuh buku ini, rasanya seolah sang ibu memeluknya.

Buang jauh-jauh pertanyaan mengenai Beatrice yang merasa demikian atau tidak, gadis itu mematuhi perintah Echidna.

Jika dia lalai menjalankan tugasnya, duka yang menyiksa hatinya lebih berat dari apa yang bisa dia tanggung. Melewati hari-harinya di Perpustakaan, lupa waktu, dirinya selalu merasa kehilangan.

“Mereplikasi jiwa … menulis ulang ke wadah baru ….”

Beatrice tidak tahu pasti kapan hidupnya terasa kosong.

Tapi waktu berlalu sangat lama sampai-sampai tidak dia ingat kapan kali terakhir berbicara, seorang Roswaal dewasa mulai menjelajahi Perpustakaan Terlarang.

“Kali ini aku nimbrung~ lagi.” seorang anak muda kurus keramping merengsek masuk ke dalam ruangan.

Menggunakan tongkat dan berjalan tertatih-tatih—pertarungan melawan penyihir telah menghancurkan tubuhnya, gerbangnya telah kehilangan sebagian besar fungsinya. Bahkan aktifitas sehari-hari berat bagi Roswaal versi sekarang.

Biar begitu, setelah memulihkan sebagian kekuatannya, Roswaal meregangkan tubuh cacatnya dan memperlihatkan kondisi lemahnya sambil menghadap rak buku.

Tubuhnya tersisa kulit dan tulang saja. Sosoknya, yang dikenal indah, kini tiada terlihat cemerlang. Mata kuning cekungnya berkobar keganasan sinting.

“—Terserah saja.”

Walaupun sebenarnya Beatrice tidak membiarkan seorang pun memasuki Perpustakaan Terlarang.

Sampai Orang itu yang dimaksud Echidna datang, tempat ini adalah Sanctuary khusus Beatrice, tak pernah disentuh oleh orang lain.

Tetapi Roswaal adalah pengecualian. Dia sendiri telah mengabdikan dirinya kepada hasrat Echidna, sebagaimana Beatrice, seorang rekan yang menghabiskan lebih dari sedikit waktu bersamanya.

Harapan Roswaal telah memperkenankan hati Beatrice untuk memberikan tiket Perpustakaan Terlarang kepadanya.

Mungkin rasa persahabatan samar Beatrice yang menentukan takdir Roswaal L. Mathers, beserta keluarganya.

Roswaal berkelana dalam Perpustakaan, tenggelam dalam ilmu pengetahuan Echidna, lalu mempertaruhkan segenap hidupnya untuk mencari-cari sesuatu.

Beatrice tidak tahu apakah upayanya akan membuahkan hasil atau tidak.

Tapi Roswaal L. Mathers yang belajar bersama Beatrice di bawah perguruan Echidna, sepuluh tahun setelah Echidna dan Beatrice berpisah—saat mendekati usia tiga puluh tahun—ia meninggal, dan keturunannya mewarisi Mansion itu.

“Aduh~, senang bertemu denganmu, Beatrice-sama. Pendahuluku memberitahu hal-hal tentangmu.”

“…Roswaal sudah mati?”

“Roswaal sebelumnya sudah meninggal. Tapi tenang saja. Aku, Roswaal L. Mathers saat ini, telah mewarisi tugasmu serta ibumu.”

Roswaal kedua tersenyum pada Beatrice.

—Dengan satu mata kuning dan satu mata biru.

Tidak ada hal istimewa yang terjadi sesudahnya.

Keluarga Mathers terus memperkenalkan diri mereka sebagai Roswaal dari generasi ke generasi.

Kendati melakukan demikian untuk menghormati mendiang ibunda Beatrice, Echidna, Beatrice tidak memperkenankan Roswaal-Roswaal baru masuk ke Perpustakaan Terlarang.

Jelas saja. Satu-satunya Roswaal yang diberikan perlakuan khusus oleh Beatrice adalah Roswaal pertama. Roswaal-Roswaal lain adalah penipu.

Beatrice memang membantu mereka, karena telah memberikan Mansion sebagai tempat Perpustakaan Terlarang, tapi tidak lebih dari itu.

Mulai dari sekarang, Beatrice hanya akan membuka Perpustakaan kepada Orang itu.

Orang itu yang ditunggu-tunggu ini, juga termasuk petunjuk yang disampaikan ibunya, memaksa Beatrice menghabiskan waktu dalam kesendirian dalam waktu yang sangat, sangat lama.

“Kekuatanmu sungguh besar. Tolong, jadilah rohku dan limpahkan kekuatan itu.” —Diam. Pergi sana.

“Kau sudah lama terisolasi di sini. Takdir yang mengerikan. Entah siapa yang menyuruhmu berbuat demikian, tidak bisa dimaafkan.”

—Kau tahu apa? Tentang tugas berharga yang dititahkan ibu kepadaku.

“Kau tidak ingin pengetahuannya terbebas? Tahukah kau berapa banyak nyawa bisa terselamatkan sekiranya pengetahuan-pengetahuan yang tersimpan di sini disebarkan? Kau pastinya tahu itu.”

—Tidak ada hubungannya dengan banyak. Aku hanya ingin menyelamatkan beberapa orang saja. Tidak ada lagi yang bisa kuselamatkan, kecuali satu.

Empat ratus tahun.

Beatrice mencari Orang itu, tak membiarkan mereka masuk, tapi masih banyak saja orang yang mengunjungi Perpustakaan Terlarang.

Masing-masing mengatakan kata-kata memikat kepada Beatrice, sang penjaga Perpustakaan, sebelum ujung-ujungnya meminta Perpustakaan dibuka.

Permintaan mereka, tuntutan mereka, terkadang mengguncang hati Beatrice.

Dia merenungkannya banyak-banyak kali setelah pintu dibuka, menyadari cahaya siang hari tumpah-ruah, tentang apakah hari ini adalah hari kedatangan Orang itu.

Sayang, menyimpang dari harapan Beatrice, tak seorang pun mengenal Orang itu, buku Beatrice juga hanya menyebutkan Orang itu belaka, tidak ada informasi lebih.

Lantas Beatrice membuang kata-kata itu, bantuan, tawaran mereka, menolak mereka, dan mendekap erat-erat kata-kata ibunya hingga saat ini.

Bertahun-tahun, kepasrahan dan kekecewaan terus-menerus menguasai hati Beatrice.

Ingin sekali berbincang-bincang dengan Roswaal pertama.

Semenjak kehilangan satu-satunya orang yang berbagi ingatan bersama Echidna, Beatrice menghadapi sesuatu yang disebut masa sendirian.

Tidak seorang pun dapat dia andalkan. Satu-satunya pilihan adalah menjadi keras kepala, menutup diri dalam barikade tertutup tak tertembus.

Selama empat ratus tahun, kandangnya mulai mewujud. Apakah itu penjara yang dikunci dari luar, atau dari dalamkah?—Beatrice sendiri tidak tahu.

“Hei, Betty. Sudah lama tidak bertemu. Ini aku, Puck.”

Reuni tak terduga-duga mungkin satu-satunya peristiwa yang dapat mencairkan hati beku Beatrice.

“B-Bubby? Bagaimana bisa, kau di sini ….?”

“Mansion ini tempat tinggal Roswaal dan putriku. Jadi aku di sini bersamanya. Tidak kusangka kau di sini juga. Aku senang kita bisa bertemu lagi.”

Nama roh kucing ini, dengan manja menyeka wajahnya dengan cakar, ia Puck.

Seperti Beatrice, dia adalah roh buatan Echidna. Satu-satunya entitas yang punya tanda lahir dan silsilah yang sama dengan Beatrice, bagian dari rasnya.

Waktu yang dihabiskan Beatrice bersama Puck selama empat ratus tahun lalu sungguh singkat, namun terasa lama. Puck diciptakan duluan sebelum Beatrice, dan dipisahkan dari tim Beatrice pra pertarungan antar penyihir, mengembara di dunia sesuai dengan tujuannya.

Beatrice tidak menyangka dia akan bertemu dengannya lagi, praktis menganggapnya sudah mati dari dulu. Sangat tersentuh saat menghadiri reuni ratusan tahun ini. Tapi, kegembiraannya hanya sekejap saja.

“Setelah meninggalkanmu, kira-kira tiga abad aku berkeliaran di dunia sebelum akhirnya menemukan Lia. Aku tidak yakin kau sedang menunggu apa, tapi aku tahu harapanmu akan terwujud.”

“Ya, ya, ya. Tapi aku iri padamu, kayaknya. Peran yang dimainkan Betty atas permintaan Ibu ….”

“Ibu? Siapa lagi dia?”

“—:

Beatrice masih ingat tatapan Puck, tidak bercanda sedikit pun, kepalanya memiring penasaran. Ketika Puck pergi, dia dan Echidna membentuk beberapa kontrak. Beatrice tak tahu rincian kontraknya, tapi Puck yang melupakan keberadaan Echidna jelas salah satu dari kontrak itu.

“… Tidak, lupakan saja. Aku senang bisa bersua denganmu lagi, kayaknya.”

“Hmm, hebatlah, Betyy.”

Puck, telah memenuhi tujuan dan makna hidupnya, terlihat berbinar-binar bagi Beatrice. Tetapi gadis itu tahu topik yang dia bahas malah akan menghambat tugasnya.

Jadi dia diam saja, tersenyum sedih sambil berharap masa depan kakaknya baik-baik saja.

Reuni tak teduga itu sedikit menyenangkan Beatrice, namun lebih banyak penderitaan dalam empat ratus tahun hidupnya.

Membandingkan dirinya dengan Puck, sang kakak telah memenuhi perannya, Beatrice teramat-amat heran terhadap perbedaan hasil kerja mereka.

Dan dia pikir:

“… Aku tidak bisa tertawa sepertimu lagi, Bubby.”

Beatrice berusaha untuk seminimal mungkin terlibat dalam urusan blasteran elf putri Puck.

Jika tidak, Beatrice malah akan membencinya. Banternya akan menjahati putri polos kesayangan kakak laki-laki tercintanya itu, sampai situasinya tak termaafkan lagi.

Menghentikan hati dan menekan emosi adalah keahliannya.

Empat abad dia tuntaskan sembari melakukannya di bawah sambutan sinar mentari, setelah matahari tenggelam, hadirnya rembulan.

Kepiawaiannya. Suatu kebiasaan. Berserah diri. Hal semacam itu.

Kehidupan semacam itu—tiba-tiba dijambangi seorang penyusup.

“J-jangan sampai sakit.”

“Menakjubkan sekali dirimu begitu teguh pada kelakuan sembronomu, kayaknya.”

Benar-benar sudah sangat-sangat lama sejak terakhir kali seseorang memasuki Perpustakaan Terlarang tanpa izin. Sambil menatap anak muda itu, roboh ke lantai karena mana-nya dikuras, Beatrice mendesah dan membelai rambutnya.

Menggunakan kekuatan penghubung ruangnya untuk mendepak bocah itu menuju labirin semata-mata adalah perbuatan balas dendam biasa.

Balas dendam karena kudu menyembuhkan anak laki-laki itu ketika dia datang disertai luka kemarin. Balas dendam karena harus mengabulkan permintaan gadis setengah elf yang dia selamatkan.

Rencana Beatrice adalah menghapus perasaan kesalnya dengan membuli anak bocah itu.

Kemudian Subaru mengalahkan Door Crossing dalam percobaan pertama.

Dia tidak tahu betapa gemetarnya Beatrice.

“Bukan seseorang yang ingin aku urus, kayaknya.”

Kata Beatrice setelah mengusirnya dari Perpustakaan.

Bahkan Beatrice pun tidak tahu bagaimana caranya menemukan Perpustakaan Terlarang dalam satu percobaan. Mungkin afinitasnya adalah sihir bayangan, kebetulan saja hari itu dia bisa membaca isi pikiran Beatrice. Sekalipun anak itu memang punya afinitas bayangan, dia kurang afinitas yang mumpuni sebagai penyihir.

Dia hanya akan tinggal selama beberapa hari. Setelahnya, Beatrice sukses mengabaikan ketegangan tak nyaman di dadanya.

“Betty. Maksudmu dia? Ayolah, jangan begitu. Dia membantu Lia, sebaiknya kau minta maaf baik-baik kepadanya.”

Keesokan paginya Puck menjambangi Perpustakaan dan memarahi perbuatan Beatrice, sekarang dia mesti berhadapan dengan bocah yang baru saja ingin dia abaikan.

“Dia muncul, apa pula yang dikatakan loli ini?”

“Loli itu apa. Tidak pernah kudengar sebelumnya, dan itu membuatku jijik, kayaknya.”

“Maksudnya kelewat muda untuk menempuh rute mereka. Lagian seleraku bukan gadis muda.”

“Kau sangat tidak sopan pada Betty sampai rasanya kasihan.”

Mata dibalas mata.

Beatrice belum juga minta maaf, namun percakapan barusan sudah benar-benar menghilangkan dorongan hati untuk meminta maaf.

Beatrice melewatkan sarapannya, melihat muka pasrah Puck, yang mendesah putu asa. Sepertinya ia telah memaafkan Beatrice.

Sebagai ganti atas pertolongannya kepada Emilia, bocah itu akan tinggal lama di Mansion.

Beatrice ingin banget mengutuk situasi yang kian parah ini, jadi dia pergi dan kembali ke Perpustakaan. Lagi pula Mansion ini punya kondisi dan sejarah rumit tersendiri, sekarang keadaannya lagi darurat.

Beatrice hanya harus bertahan sampai saat itu terjadi.

“Hei, Beatrice. Baru saja aku selesai bekerja, ayo nongkrong sini.”

Beneran tidak tahu apa yang dipikirkan Beatrice, anak itu dengan santainya masuk Perpustakaan seperti orang bego, membuat Beatrice sebal padahal dia tidak memintanya masuk, selalu saja nyelonong setiap kali punya waktu luang.

Beatrice tidak boleh duduk diam saja, tertegun melihat kecerobohannya.

Ada orang lain yang memenuhi syarat untuk masuk ke Perpustakaan tanpa izin Beatrice.

Tetapi motif mereka semua adalah mencari pengetahuan Perpustakaan, atau mencari roh kuat Beatrice.

Begitu membuka mulut, permintaan mereka adalah membebaskan pengetahuan. Atau meminta kontrak dengan Beatrice. Selalu saja begitu.

“Beatrice—boleh aku tarik kuncir kudamu dan aku mainkan?”

“Kau mau mati, kayaknya?”

Persis sewaktu dia hendak mengujar hal penting, nyatanya omongannya tidak berguna seperti biasa.

Entah bagaimana dia terlihat buruk beberapa hari pertama setelah menjadi pegawai Mansion, tapi setelahnya, tindak-tanduk terlalu akrab Subaru sudah melampaui batas.

… Demikianlah isi pikiran Beatrice, tapi tiba-tiba:

“Aku terjebak tanpa jalan keluar. Betulan parah, aku memerlukan bantuanmu.”—dia menyadari tanda-tanda awal pergerakan Monster Iblis di hutan sekeliling Mansion.

Tubuhnya bermandikan kutukan Monster Iblis, memohon untuk menyembuhkannya dan mendiskusikan asal kutukannya dengan Beatrice, gadis itu merasa ada yang berbeda dari dirinya dibanding sebelumnya. Dan seketika itu juga Beatrice menyadari sesuatu:

Kekuatan bayangan yang dia rasakan dari pria itu, perangainya yang agak gila.

Masalah Monster Iblis berakhir tanpa campur tangan Beatrice, Subaru rupanya menyelesaikan persoalan itu bersama pelayan bersaudari, dan disambut dengan tangan terbuka sebagai anggota sejati Mansion.

Subaru lalu mondar-mandir riang, mengganggunya dengan tingkah yang lebih sok kenal daripada sebelumnya, dan ada satu bumbu di antara hal-hal misteri lain mengenainya, yakni mayones, sedangkan Beatrice mulai bermeditasi pada fantasi mustahil ini.

—Seorang anak lelaki yang tidak berminat pada pengetahuan atau kekuatan Beatrice.

Mungkinkah dia yang ditunggu-tunggu Beatrice?

Kecurigaannya tak berdasar, terus berasumsi sampai dia sendiri lelah. Namun ketika Beatrice mencoba menganggapnya sebagai teori sah, dia pribadi menyangkalnya dengan kitab ramalan kosong.

Terlebih lagi Subaru kekurangan banyak hal yang menjadi kategori Orang itu.

Pertama, matanya jahat. Perilakunya juga. Sama sekali tidak paham budaya, gampang emosian. Menganggap hal lain lebih penting dari Beatrice, tidak sopan pula padanya.

Malahan gadis itu tidak menemukan hal baik apa pun darinya. Gadis setengah elf dan pelayan berambut biru bisa-bisanya tertarik pada dia.

Tidak ada yang bagus darinya, kenapa dia tidak dibenci dan dicengin? Misalkan iya, lantas ketika dia datang ke Perpustakaan, maka Beatrice tidak ragu untuk mengubah cara interaksinya sedikit.

Demikianlah pandangan Beatrice, namun.

“Beatrice. Aku ingin mengajak Emilia-sama dan Subaru-kun ke Sanctuary.” kata Roswaal kepada sang roh setelah kembali dari Ibu Kota.

Banyak sekali pertanyaan terbesit dalam benak Beatrice, matanya terbuka lebar. Tapi Roswaal membungkam pertanyaan Beatrice dengan satu tindakan.

Membelai sampul buku kenabian di tangannya.

“… Kau mengerti? Beatrice.”

“A-aku, mengerti, kayaknya …. Terserah kau saja.”

Beatrice tidak bisa bilang apa-apa lagi.

Setelah Roswaal balik badan, dan tahu pergi ke Sanctuary duluan, Beatrice memutuskan untuk terkunci dalam Perpustakaan Terlarang tanpa menemui orang lain.

Tulisan kitab Roswaal menuntut kedatangannya ke Sanctuary.

Beatrice memang menyimpan harapan bila kitabnya sendiri yang berkata begitu. Tetapi kitab ramalannya berisi lembaran-lembaran halaman kosong seperti biasanya, membengkalaikan hatinya di antah berantah.

Beatrice tahu hasil pengorbanan Lewes Meyer.

Dia juga tahu tempat itu tidak terurus selama empat ratus tahun. Dan masyarakat yang menyimpang dari kaum demihuman bermukim di sana, menunggu dibebaskan.

Dan Penghalangnya mesti ditaklukkan seorang blasteran elf jikalau dia ingin menduduki tahta—Lalu bagaimana dengan pengorbanan Lewes Meyer seumpama tempat itu terbebas? Kepada Beatrice yang tidak bisa menyelamatkan Lewes Meyer?

Merasa kehilangan besar, apakah itu memicu perpisahannya dengan Echidna?

Emosinya tidak ke mana-mana. Merasa sesuatu yang sepantasnya beku telah terungkit kembali, Beatrice paham akhir takdirnya telah datang.

Beatrice tidak tahu detail-detail kejadian di luar Mansion.

Bocah itu kembali dari Ibu Kota bersama kenang-kenangan seseorang terdekat dari ingatan Beatrice. Melihatnya, seolah dunia sekali lagi mencampakkannya, Beatrice melihat grup si bocah beranjak dari Mansion menuju Sanctuary.

Dan, mengira sesuatu yang akan mereka bawa pulang dari Sanctuary adalah jawabannya, ia menyerah.

“Jadi Betty telah bertekad ….!”

Sebelum mereka sempat membawa kembali jawabannya, Beatrice merasa bahaya besar sedang mengancam Mansion.

Ketika tahu apa yang menyadarinya, Beatrice paham betul takdir benar-benar telah membuangnya.

“Aku takkan mengingkari janjiku pada Ibu … tapi tidak ada faedahnya berlama-lama lagi dalam ruang kosong ini, kayaknya!”

Orang itu takkan pernah datang. Tapi Beatrice tidak tahan menunggu.

Dengan kata lain Beatrice memerlukan seseorang yang bisa mencuri opsi Tunggu darinya.

Walaupun akan kehilangan nyawanya, dia akan menawarkannya tanpa ragu-ragu.

Kalau saja ada orang, siapa pun, yang dia rasa bisa mempercayakan tugas ini, maka Beatrice yakin keinginan terakhirnya akan terkabul.

Jadi ketika si bocah—Natsuki Subaru—merengsek masuk ke Perpustakaan Terlarang malam ini, hati Beatrice menyimpan lebih banyak emosi dari biasanya.

Rasanya seperti takdir, yang tidak pernah sekali pun melipur Beatrice, kini melimpahkannya hadiah.

Bila tawarannya akan mengambil nyawa dan membuat Beatrice menentang janji, maka itu pun—

“Aku mengeluarkanmu dari sini, Beatrice—Kuseret kau menuju sinar matahari, tempat kita bermain hingga gaunmu penuh lumpur coklat.”

—Dan dia berkata begitu.

“Campur tangan yang tak perlu, kayaknya. Malahan tidak ada yang memintamu.”

Beatrice tidak mengerti. Apa sih yang Subaru katakan?

Dia tak pernah, tak pernah sesaat pun, berperilaku layaknya Orang itu sebelumnya. Tidak pernah menyabet Kitabnya dan bilang, Maaf membuatmu menunggu.

“Jangan terombang-ambing oleh sebuah buku dan janji berumur empat ratus tahun—Jadilah orang yang memilih setiap kehendakmu sendiri, Beatrice.”

“—”

—Kenapa dia tiba-tiba begini, setelah semuanya, mengganggu hati Beatrice yang sudah membulatkan hatinya?

Ajalku sudah datang, demikianlah isi pikiran Subaru.

Dia melihat pemuda itu kembali, dan berharap: Aku akan mati olehnya.

Namun dia berusaha menampilkan masa depan yang menjauh dari harapannya.

Bukan itu yang Beatrice inginkan.

Hatinya yang menginginkan harapannya telah, empat ratus tahun lalu, dulu-dulu sekali sudah sirna.

“A-apakah kau, adalah … Orang itu ….”

… Seharusnya begitu, tapi selagi mendengarkan suara marah-marah bocah itu, sesuatu di dalam hati Beatrice berubah.

Emosi tertidurnya gemetar bagaikan bunga yang bermekaran setelah musim dingin. Ia mengangkat kepala.

Tidak bisa ditarik kembali, terlanjur mengatakannya.

Dia menghilangkan ketaatan empat ratus tahunnya kepada kata-kata sang ibu, kini melekat pada sesuatu baru yang tidak ada hubungannya sama sekali.

Kendati mengerti itu, dari mulutnya sendiri, terdengar ucapan penentu segalanya harapan—

“Maukah … kau menjadi Orang itu Betty?”

“Apa kau dungu?—Jelas-jelas aku ini bukan Orang itu misteriusmu itu.”

Saat Subaru berkata demikian, wajahnya terlihat menghina, harapan baru Beatrice telah terkhianati.

Dia tidak betul-betul ingat kejadian selanjutnya, karena tenggelam selanjutnya dalam kemarahan dan mengusirnya dari ruangan.

Namun Beatrice tahu dia mengatakan sesuatu yang tak bisa ditarik lagi, sebelum berubah menjadi sesuatu yang tak bisa dirubah, Beatrice melupakannya.

“—”

Benar-benar konyol.

Berarti dia telah mengkhianati perintah ibunya. Pengkhianatannya kian membatasi pergerakannya, menjadikan sumpah Beatrice sebagai sesuatu yang tak lebih dari kata murahan.

“Aku keletihan, kayaknya….”

Maka dia hanya perlu membiarkan semuanya seperti dulu.

Salah sekali bila ingin meraih bantuannya dari awal. Tidak cocok dengan pemilik hati seorang pemberani sampai rela mengotori tangannya demi orang lain.

Itulah Beatrice, terus-menerus mencemaskan hal sepele, ragu-ragu dan tidak yakin, dalih demi dalih, pemilik hati lemah.

Dan Kematian yang ‘kan mengakhiri Beatrice akan berbeda—

“Sampai juga! Woi, goblok. Jangan asal lempar orang yang lagi ngomong. Dengarkan saja aku sekarang dan—”

“—!”

“Rencanaku!?”

Mengikuti kontemplasi Beatrice, seorang anak muda menyerbu masuk ke dalam Perpustakaan Terlarang.

Ketika melihat anak itu, yang hendak membicarakan hal lebih lagi, emosi Beatrice mendidih dan meledakkannya dengan sihir.

Menyaksikannya gagal menahan serangan sihir dan ditembak keluar dari Perpustakaan sampai pintu tertutup.

Percakapan mereka gagal, diakhiri komentar desisifnya, tapi tetap balik lagi. Dia tidak punya malu, kayaknya?

Beatrice tidak paham bisa-bisa Subaru menyatakan hal itu kepadanya, kemudian balik lagi dengan berani.

Menaruh tangan ke dada biar tidak kesal, mendadak—

“Kenapa tidak akhiri saja semua ini! Inikah yang membuatmu murka!? Kalau kau ingin main fisik, pembicaraannya kagak bakal—”

“Kau saja yang mengakhirinya!”

“Ua!”

Sihir lebih kuat mengalir dari kepala Beatrice, menuju anggota tubuhnya.

Mendengarkan seorang anak muda menjerit-jerit di luar pintu karena menabrak dinding, Perpustakaan sekali lagi memutus hubungannya dengan koridor.

Beatrice masih tidak mempercayai kegigihannya.

Dia tidak tahu konsep menyerah? Ataukah memang tidak sadar seberapa dalam luka yang dibuat kata-kata sembarangnya? Yang mana pun, bocah itu tidak menerima perpisahan Door Crossing.

“… Benar-benar bukan candaan, kayaknya.”

Menggumam kesal, Beatrice menyeret tangga dari belakang ruangan, dan berposisi seperti biasa di seberang pintu. Membuka kitab ramalan di tangan sambil menatap portal.

—Pemuda itu akan membuka pintunya sekali lagi.

Membawa logika naif yang tidak sopan, dia akan datang.

Berkali-kali, dia menolak kehadirannya dan alhasil mengusirnya.

Karena dia bukanlah Orang itu.

Karena dia sendiri telah kehilangan haknya untuk mengeluarkan Beatrice dari sana.

Jadi Beatrice takkan pernah pergi, pergi dari sini.

 Harus tamat di sini, bersama janji tak terpenuhinya.

Sebab itulah satu-satunya hal yang bisa melipur Beatrice.

Dihempas keluar dari ruangan, kepala Subaru menabrak dinding lebih dahulu membuat nafasnya tertahan.

Kali keenam dirinya ditendang dari Perpustakaan setelah gagal membujuk Beatrice. Dia merasa semua hempasan berulang dalam waktu singkat ini kian membuatnya ahli ketika berhadapan dengan serangan tak terlihat.

Namun sihir Beatrice mulai terasa kekuatannya padahal tidak bermaksud melukai Subaru, berarti ia tidak boleh menyerah dulu.

“Bukan waktunya memoles sihir bodohmu, pukimay! Dia tidak mendengarkan sama sekali ….”

Menyeka keringat dengan lengan bahu, Subaru meminta lututnya berdiri.

Dari kemarin dia berlari mulu, pendarahan dan patah tulang, fisiknya kelelahan. Keletihan total membuat penglihatannya kabur, dan satu-satunya hal yang menggerakkannya adalah tekad semata.

“Apinya sudah menyebar luas sekarang ….”

Subaru membungkuk rendah dan memutar kepalanya ke sana-sini, mendecakkan lidah, karena kelesuannya tak menjelaskan alasan buruk penglihatannya.

Api yang melahap habis Monster Iblis terus menyelimuti seluruh Mansion.

Lantai bawah di gedung utama sudah tenggelam sepenuhnya dalam api, dia bisa melihat gupalan asap melayang dari sayap timur dan barat.

Api yang menyebar telah mendesak keluar Monster Iblis dari Mansion, jadi tidak ada monster yang menghalangi jalan Subaru ketika dia berlari. Namun temperatur udara dalam gedung telah memanas bak oven, keringatnya cepat menguap, dagingnya bisa hangus kapan saja. Tak lama lagi bangunan runtuh, dan Subaru akan mati dilalap api.

Sebelum itu terjadi, dia mesti memenuhi tujuannya dan melarikan diri bersama Beatrice.

Tetapi hati gadis itu tetap tertutup rapat.

“Baguslah api di Mansion telah menghabisi sejumlah pintu, tapi ….” benar-benar manfaat tunggal kobaran api ini.

Door Crossing hanya beroperasi di pintu fungsional Mansion. Jadi pintu terbuka atau yang terbakar tidak berlaku.

Semakin luas penyebaran api, semakin sedikit pintu yang berpotensi mengarah ke Perpustakaan. “Pokoknya, apinya akan memanggangku duluan sebelum pintunya.”

Dan Subaru pun tidak ingin memikirkan apa yang akan terjadi jika semua pintu Mansion terbakar. Subaru tak tahu spesifiknya bagaimana Door Crossing Beatrice menghubungkan satu ruang ke ruang lainnya. Secara potensial, kebakaran Mansion menyembunyikan Perpustakaan Terlarang, mengubahnya menjadi ruang terisolasi selamanya.

Ada satu tempat yang terbesit dalam benak Subaru, tempat luar Mansion yang barangkali terhubung dengan Door Crossing, laboratorium tempat kristal Lewes Meyer tertidur, tapi—

“Apa dia akan menghubungkan Mansion dengan tempat di sana dalam kondisi mentalnya saat ini ….?”

Door Crossing Beatrice pernah sekali mengirim Subaru ke Sanctuary.

Subaru berspekulasi tentang peristiwa abnormal ini.

Emosional Beatrice sedang kacau dan terpaksa mendepak Subaru dari Perpustakaan Terlarang. Niatnya menyimpang dan fokus sepenuhnya pada perpisahan—Akibatnya Door Crossing akan mengirim Subaru ke laboratorium, demikian perkiraannya.

Lokasi itu adalah simbol perpisahan menyedihkan nan menyakitkan bagi Beatrice. Barangkali begitulah sebabnya Subaru dideportasi ke Sanctuary kala itu.

Tidak masuk akal jikalau Door Crossing Beatrice terhubung ke laboratorium sekarang.

Beatrice tidak fokus pada perpisahan, melainkan akhir.

Apabila dia kehilangan koneksi dengan dunia, Mansion, Beatrice akan mencapai akhirnya.

Bagi Subaru rasanya keputusan terakhir Beatrice adalah itu.

“Takkan kubiarkan kau berakhir seperti itu!”

Menarik nafas dalam-dalam, Subaru lari cepat sambil merendahkan tubuhnya.

Membiarkan pintu terbuka dan mencari pintu berikutnya, mengipas-ngipas asap selagi langkahnya mengantar lebih dalam ke Mansion.

Mendengar derak-derak konstan struktur bangunan yang termakan api.

Kulitnya hangus dan udara mendidih hendak membakar matanya. Subaru menahan keduanya sambil menyeringai.

Asap yang menyelinap melalui hidung membuatnya hampir tersedak, seketika itulah dia menemukan pintu tertutup dan langsung menyambar kenopnya.

Gagang pintu memancarkan hawa panas, membakar tangan Subaru. Terdapat banyak luka bakar mengerikan di telapak tangannya. Subaru sudah terbiasa menggertakkan gigi karena kesakitan.

Rasa sakit menusuk menembus pelipisnya, Subaru menendang pintu terbuka.

“—”

Jatuh ke dalam ruangan berbau buku-buku kuno.

Membuka mulutnya lebar-lebar dan menarik nafas dalam-dalam, roboh dengan wajah menghadap ke bawah, dia beranjak dan menatap langit-langit samar di atas.

Suasana akrab, kemurkaan sesuatu menjalar di kulitnya—seratus persen Perpustakaan Terlarang. “Kau lagi, memang sudah tak terobati ….!”

“Huhhh! Tentu saja aku kembali! Aku akan kembali entah berapa kali untuk menculikmu. Kalau tidak mau yasudah berserah diri saja dan biarkan aku menyeretmu keluar! Maka berakhirlah percakapan kita!”

“Sudah cukup omong kosongmu! Aku tahu Mansion sedang kebakaran! Semisal kau tidak buru-buru keluar dari sini, kau akan terbakar sampai mati, kayaknya!”

Subaru tersentak, nafasnya tertahan saat menatap Beatrice.

Gadis itu tetap duduk di tangga, mata bulatnya terlihat paling tajam sambil menampakkan kemurkaannya kepada Subaru.

Sesaat, nampak sekelebat emosi di sepanjang tepi mata itu, bibir Beatrice gemetaran. “Ataukah … kau ingin terbakar sampai mati bersama Mansion dan Betty?”

“Dasar bego! Padahal sudah kukatakan semuanya, kau masih tidak paham!? Aku sama sekali tidak ingin mati bersamamu! Aku di sini untuk mengeret keluar dirimu yang hidup!”

“—! Selalu saja bilang begitu! Pergi sana!”

Subaru berdiri, langsung menghampiri rak buku dan menunggu rapalan sihir pertama.

Rasanya dihantam angin kencang, kemudian rapalan kedua menguras seluruh energinya. Mendongak dan mendapati tangan kiri Beatrice terangkat ke langit-langit, mukanya berubah sedih lalu dipaksa untuk tersenyum.

“Aku sudah mencuri seluruh mana-mu, kayaknya. Ingatlah sensasi ini.”

“Dasar, kau ….”

“Sekiranya cengkeramanmu pada rak buku itu mengendur, berakhir sudah dirimu, kayaknya. Jangan ikut campur lagi!”

Sewaktu lututnya mulai menyerah, rapalan sihir ketiga menyerang Subaru dari depan. Dinding kekuatan tak terlihat menghujamnya. Tidak mampu menahan posisi, Subaru lagi-lagi terdorong ke pintu, lalu terjatuh dan terbang menuju—

“Nnnngh!”

—Anggota tubuhnya menjangkau sejauh mungkin, Subaru berhasil bertahan di pintu.

Badannya sakit-sakit, pengalaman berbisik bahwa tangannya akan retak dan mungkin bisa patah.

Menggemeletukkan gigi dan berusaha menahannya.

“Ap—”

“Berkali-kali melawannya, aku pun bisa bertahan. Bagaimana kalau hentikan dan berdiskusi?”

“Kau sudah tidak punya kesempatan untuk berbicara dengan Betty. Karena tindakanmu sendiri, kaulah yang menyia-nyiakannya, kayaknya …. Kenapa kau tidak paham-paham juga!?”

“Aku tidak mengerti. Sejak kapan kau tidak bersalah soal semua ini?”

Tangannya menyentuh pintu, Subaru bangkit dan menyeka darah yang menetes dari bibir terbukanya.

Melihat bagaimana alis Beatrice mengkerut bingung, dan tersenyum masam. “Apa yang lucu?”

“Hanya memastikan serangan berturut-turutku membuahkan hasil. Sekiranya kau benar-benar menolakku, hentikan bualan ribet ini dan hempaskan saja aku. Kau bisa melakukannya. Solusi itu lebih cepat.”

“… Kau menyuruhku untuk membunuh.”

“Bukannya kau bisa membunuhku. Aku saja yang brengsek. Maaf. Tapi jika kau betul-betul menolakku, pasti ada cara yang lebih mudah untuk melakukannya.”

Beatrice, yang hampir menangis, tidak ingin membunuh Subaru sebelumnya.

Subaru belum berada di posisi dirinya memahami apa sentimen atau alasannya saat itu. Dia hanya punya spekulasi. Terhimpun dari masa lalu yang diketahui Subaru. Dia punya dugaan tersendiri, dan masih menanyakan pertanyaan itu, terkejut perkara betapa kejamnya dia sendiri.

Andai kata ditanyakan, Beatrice tidak akan sadar.

Tersadar akan kontradiksi antara pikiran dan tindakannya, terhadap kehadiran Subaru di sini.

“Misal kau sungguh-sungguh tidak ingin melihatku di sini, mendekamlah dalam Perpustakaan, Beatrice.”

“Apa …yang kau … Betty belum pernah selangkah pun keluar dari Perpustakaan Terlarang sebelumnya, kayaknya. Tapi kau memaksakan kepentinganmu sendiri, dan ….!”

“Tidak, itu keliru. Kalau benar-benar serius ingin terkunci di tempat ini sendirian, tidak mungkin aku bisa kembali ke sini dengan waktu singkat. Dalihmu tidak masuk akal.”

“Itu! Itu karena … ya, kau menggunakan metode untuk mengalahkan Door Crossing, kayaknya. Mansion dibakar, mengurangi jumlah pintu ….”

Kehabisan kata-kata, sanggahan Beatrice melemah.

Deklarasi membuat Beatrice meragukan dirinya sendiri. Terlepas dari benar atau tidaknya keraguan itu, Beatrice telah kehilangan pilar yang menopangnya selama empat ratus tahun ini, kini tengah goyah.

Beatrice tidak tahu lagi apakah Subaru benar atau salah, emosinya tidak karuan.

“—”

Jujur saja, Subaru juga tak tahu. Tak tahu mengapa dia bisa sampai di Perpustakaan Terlarang Beatrice dengan mudahnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Barangkali karena pintu-pintu di Mansion terbakar, meninggalkan sedikit pilihan.

Atau mungkin situasi darurat memaksa kemampuan bayangannya menampilkan kekuatan absurd, memungkinnya mengalahkan Door Crossing.

Bisa jadi Subaru benar, bahwasanya Beatrice tidak betul-betul membencinya, dan Door Crossing terbuka untuknya.

Subaru ingin yang terakhir.

Namun kenyataannya tidak selaras. Apa yang perlu dilakukan Natsuki Subaru di sini, saat ini, adalah mengamankan kemungkinan apa pun yang bisa membawa Beatrice keluar.

“Kau … kau! Bukan Orang itu Beatrice!”

Jeritnya, menggaet roknya erat-erat.

Beatrice tidak ingin lagi mengasihani Subaru, dia menjerit.

“Kau bilang, bukan dia, kayaknya! Kau … kau bilang bukan dia. Kalau kau bukan dia …walaupun bohong juga, Betty akan mempercayaimu. Meskipun tahu itu bohong, aku hanya bisa percaya padamu.”

“Beatrice ….”

“Tapi kau tidak mengaku sebagai dia, kayaknya. Bukan dia, mengutuk diriku orang bego. Kau benar sih. Betty benar bego, bego dan dungu, yang sekarang bahkan tidak bisa melanggar janji empat ratus tahun lalu … jadi! Apa pun yang kau katakan takkan merubah apa pun!”

Memilih untuk menolak, angin tak terlihat mencambuk Beatrice yang berteriak-teriak.

Aliran sihir menyelimuti pakaiannya, rambut panjangnya, memenuhi Perpustakaan dengan udara tegang yang berkecamuk. Subaru merasa badai ini masih belum yang terparah, tubuhnya gemetar ketakutan saat serangan datang menyerangnya.

Hati terombang-ambing menyuruhnya mundur, pergi saja ke luar pintu.

Subaru berhasil menekan dorongan hati itu, menggigit bibirnya lebih dalam, dan mengangkat kepala.

Untuk mengatakan apa yang mesti dikatakan.

“Aku ….”

“—”
“Aku bukan Orang itu. Akan terus kukatakan entah berapa kali kau mau. Pangeran yang ditunggu-tunggu itu takkan datang bersama kuda putihnya. Tidak sampai akhir, tidak akan pernah!”

“—! Kalau begitu! Betty akan membusuk di sini saja, kayaknya!”

“Takkan kubiarkan. Tak kuizinkan kau melakukannya. Aku akan terus mengoceh sampai kau berubah. Orang itu tidak akan datang. Kau tidak bisa menepati janji—Tapi kau tidak boleh mati.”

“Aku hanya … sangat membencimu!”

Setelahnya, emosi Beatrice meledak.

Aliran sihir berubah bentuk selagi masih mengemban satu tujuan, cahaya putih memenuhi seluruh penglihatan Subaru.

Dia bahkan tidak sempat merasakan hembusan angin.

Gelombang kejut menghantam Subaru di bagian depan dan belakang, mengacak-acak seluruh tubuhnya. Darahnya mengalir mundur di sekujur tubuhnya sedangkan segala sesuatu dalam dirinya mau keluar dari pori-pori kulit, pedihnya terlampau menyiksa.

Matanya berputar-putar, kehilangan keseimbangan, pusing tiada tara, kehilangan segala rasa pendengaran, penciuman, dan penglihatan. Mungkin sesuatu yang disebut sekarat bagi para manusia.

—Tapi, natsuki Subaru tahu.

“—Ngapain sih?”

Menahan mual-mual besar sampai organ-organnya hendak keluar lewat mulut, Subaru memaksa dirinya untuk berbicara agar kelemahannya tidak kelihatan.

Ada dunia di bawah kakinya, ketika menyadari itu, Subaru kembali ke kenyataan. Punya anggota tubuh, kepala, organ-organnya tidak keluar dari mulut, jiwanya belum terlepas dari raganya.

Terus apa. Seperti biasa saja, berada di penghujung maut.

Natsuki Subaru sudah cukup tahu: ini bukan Kematian.

“Kau bercanda ….”

Visinya mengabur, buram, tidak stabil.

Kembali fokus untuk entah bagaimana tahu dia ada dalam Perpustakaan, dia menatap gadis di depannya, tangannya terbentang lebar seolah-olah menyaksikan sesuatu luar biasa.

Ia Beatrice.

Bahkan dia pun tidak memaafkan dirinya yang gagal bunuh diri, dan menjaga wujud awalnya.

Tiada yang ditutup-tutupi lagi. Subaru tahu semuanya akan jadi seperti ini.

Mustahil Beatrice membunuh Subaru.

“Beatrice ….”

“—”

Kesadarannya buyar. Namun kekuatan tekad mendorongnya untuk melabuhkan pikiran yang hampir hangus.

Gadis di depannya ragu-ragu. Tidak mengerti dirinya sendiri, tidak bisa menolaknya secara terbuka, menatap Subaru yang ketakutan.

Menduga suaranya akan menggapai wanita itu dalam sekejap, dia mati-matian mengumpulkan kesadarannya yang berantakan dan berkata:

“Aku, bukan … Orang itu ….”

Beatrice tidak membalas apa-apa.

“Tapi.”

Penolakan demi penolakan diupayakan Beatrice yang hampir menangis.

Percakapannya biasanya berakhir di sini. Sebelum keburu berakhir—sebelum emosi Beatrice meluap hingga mencapai batas—Subaru mengujar:

“Aku … ingin bersamamu, Beatrice.”

“—!”

“Kau baik, agar kau tidak sedih, aku ingin berada di sisimu.”

“Auh … ghhh ….”

Wajah Beatrice berubah.

Seakan-akan menekan amarah, seakan menahan tangis, seolah-olah habis-habisan berusaha menjaga emosi yang tidak tampak sepenuhnya di wajah.

Namun Beatrice menelan kata-katanya sendiri, desahannya compang-camping, dia mengambil buku di tangga. Membuka halamannya, merobek-robeknya, jarinya menggesek kertas, lalu merengek lirih.

Ketika itulah ….

“—Ap, a?”

Sebelum Beatrice bisa merespon apa pun, penglihatan Subaru berubah.

Tidak ada hubungannya dengan kesadaran yang mulai sirna atau kekurangan darah. Pertanyaan realitas.

Perpustakaan Terlarang mulai menunduk di hadapan Subaru.

Lantai di sekitarnya rusak-rusak, rak buku mulai tidak seimbang dan jatuh satu per satu. Buku jatuh tidak karuan ke lantai, lantai di perpus langsung menjadi lautan buku tebal.

Walau begitu, dunia terus menunduk. Lantai di bawah kaki Subaru juga rasanya sedang berputar-putar, bergelombang layaknya hembusan angin, makin menggoyahkan keseimbangannya.

“Apa … apa-apaan ….!?”

“—”

Sambil berpegangan erat kepada pintu, Subaru melihat Beatrice.

Mendapati ruangan ancur ini, daerah Beatrice tidak tersentuh sama sekali. Tangga yang dia duduki tidak bergerak satu incipun, mendukung tubuh Beatrice selagi menatap Subaru.

“—Auh.”

Sebelum Subaru bisa berbuat apa-apa, lantai di bawahnya memiring.

Lantai di bawah Subaru terbuka dan suaranya bak robekan kertas. Sebuah ruang hitam melebar dari bawah ubin, tentu akan mengirimnya ke suatu tempat dengan Door Crossing.

Boleh jadi memenjarakannya dalam ruang hiper dimensi non eksisten.

“—Sial.”

Sewaktu Subaru mendapati sebuah lubang, dia melangkah mundur.

Dunia mulai condong, Subaru tertarik mundur karena gaya tarik gravitasi. Mulut terbuka pintu menelannya, mengirimnya kembali ke Mansion membara melalui Door Crossing.

“F-fanass!”

Panasnya dinding yang dia tabrak membuatnya merengkuh.

Subaru mengangkat kepala, tahu-tahu dia dikeluarkan ke koridor yang diliputi neraka. Satu-satunya hal yang dia kenal adalah dia berada di gedung utama.

Nyala api menghanguskannya tatkala melihat pintu yang baru saja dia lewati, dan, mengetahui bahwa bagian bawah pintunya hilang ditelan api, Subaru terperangah.

Ajaibnya Door Crossing berhasil. Subaru tidak tahu melompat ke pintu itu akan membawanya ke Perpustakaan kembali atau tidak.

“Si, al … ini, gedung utama ….”

Kalau begitu dia pastinya menemukan pintu fungsional di lantai atas.

Hanya dari jumlah pintu dia lumayan tahu sedang tidak berada di lantai teratas, Subaru pergi ke tangga, yang dimakan api seperti apa adanya.

Asap menyengat matanya, air mata mengalir deras. Paru-parunya tebakar setiap kali mengambil nafas, meski masih bisa menghalangi kabut asap untuk tidak menyambar kesadarannya dengan menutup mulut menggunakan jersey.

Setiap menitnya terhitung penting. Masih kukuh ingin pergi ke Perpustakaan—Tidak. Bukan waktu yang tepat untuk merengek.

Sampai sekarang Subaru tidak bisa melupakan raut wajah Beatrice di detik-detik terakhir.

“Idiot tolol, memasang wajah semacam itu lagi ….”

Anggota tubuhnya mati rasa karena sihir Beatrice masih belum meninggalkan tubuhnya.

Subaru menyeret badannya, kurang lebih masih menaati hasratnya, menyulut jiwanya selagi berjalan menuju ujung koridor.

Ekspresi Beatrice terlintas-lintas dalam kepalanya.

Ekspresi identik yang dia lihat saat perulangan sebelumnya.

Tatkala dia dan Beatrice mengalahkan Elsa, seorang wanita yang semestinya telah kalah itu mengambil nyawa Beatrice.

Ketika Beatrice mendorongnya untuk menyelamatkan nyawa Subaru, mengorbankan perutnya.

Saat melihat Subaru baik-baik saja, tubuhnya mendadak berubah menjadi partikel cahaya.

Subaru belum melupakan paras terakhirnya sejak saat itu.

Tidak merasa lega karena berhasil melindungi Subaru, atau gembira sebab mendapatkan kematian yang diinginkannya, melainkan meringis.

—Aku tidak ingin sendirian lagi. Ekspresi semacam itu, jelas sudah bagi semua orang. “Kagak mungkin … kagak mungkin membiarkanmu sendirian saja!” setelahnya, Subaru melompat ke dalam api sembari mencari jalan pelarian.

Merasakan sesuatu menggeliat-geliat dan salah dalam dirinya, tetapi panas dari dagingnya yang gosong dan rasa sakit kulitnya yang terbakar tidak membuatnya fokus.

Jikalau Subaru memandangnya dalam kacamata obyektif, dia mungkin sudah mundur karena rasanya begitu repulsive. Subaru, berlari menembus api sambil bersumpah untuk mengeluarkan Beatrice, dia di kelilingi jumlah miasma hitam maha besar, merangkulnya bagaikan jubah bayangan pelindung.

Tidak menyadarinya, Subaru menerobos dinding api dan sampai di tangga.

Nafasnya megap-megap, memandang tangga di atas, tahu dia sekarang berada di lantai dua.

Subaru naik tangga, niatnya langsung pergi ke lantai teratas—persis saat itu.

“—”

DIa mendengar sesuatu basah diseret di lantai, dia melihat ke bawah.

Suaranya dari lantai bawah. Kepalanya menganggap imajinasi belaka.

Semua suara di sekitarnya hanyalah gemeretak dan ledakan bangunan yang terbakar.

Mansion lantai dua mau runtuh, dan suara itu asalnya dari lantai bawah gedung utama, tempat apinya menyebar. Semestinya tidak ada yang bergerak di sana.

Subaru berlari menyusuri seluruh Mansion berarti dia tahu kebakaran besar ini, dia pun tahu Monster Iblis sudah pergi semua.

Jelaslah suara ini pastinya hanya halusinasi.

—Tapi kalau memang halusinasi, terus apa itu?

“… Tidak mungkin.”

Sambil menyeret sesuatu bersamanya, satu sosok muncul dari dalam api.

Tujuannya adalah ke lantai atas karena dia menaiki tangga seperti yang dilakukan Subaru, berhenti di pertengahan lantai satu dan dua—ia mendongak dan mendapati Subaru berada di atasnya.

Sosoknya mengenakan pakaian hitam, memegang pisau hitam, punya rambut hitam, dan seorang wanita.

“Elsa ….?”

“—”

Sosoknya tidak merespon. Tapi mirip seeperti wanita berpakaian hitam yang Subaru kenal.

Kenapa dia di sini? Apa Garfiel entah bagiamana kalah? Bila begitu, maka pertarungan Subaru—Pertarungan Subaru untuk menyelamatkan semuanya—telah kalah, dan ….

“Tidak, aku harus pergi ….”

Saat Subaru mulai mendapatkan pemikiran itu dalam benaknya, Subaru menggelengkan kepala.

Subaru harus percaya pada kekuatan Garfiel. Bahkan seumpama lawannya kuat, Subaru bertaruh Garfiel pasti menang.

Otto dan Frederica telah berusah sekuat mungkin untuk mengeluarkan Petra dan Rem.

Garfiel juga akan berjuang sehebat-hebatnya.

Bagiamana bisa Natsuki Subaru berpikir demikian tanpa percaya pada kawan-kawannya? “Garfiel takkan kalah. Jadi, kenapa kau ….”

Meyakini pertarungan gagah berani Garfiel, Subaru melemparkan kata-kata itu kepada sosok di bawahnya. Wanita itu harusnya tidak di sini. Apa yang mendasari tindakannya?

Tapi ketika dia menanyainya, Subaru menyadari sesuatu. Atau malah tidak. Dia dipaksa untuk menyadarinya saja.

“—Kau bukan Elsa lagi, bukan?”

Mata gelap yang menatap Subaru tidak terdapat setitik cahaya pun.

Sepasang matanya kosong nan hampa sampai-sampai sulit menganggap kedua bola matanya terpasang dalam rongga-rongaa itu.

Suara itu dari tubuh bagian bawah yang hancur, dia menyeretnya. Tapi tubuhnya tetap bergerak seolah-olah masih hidup, bagi Subaru itu menjijikkan.

Subaru pikir Elsa punya kekuatan untuk mempertahankan hidupnya, tapi masih tidak mati setelah semua kehancuran di sana?

“Aduh, bukan waktunya mengasihani dia ….!”

Bahkan seandainya dia tidka mati pun, Subaru tidak simpati sama sekali.

Menimbang-nimbang fakta Elsa yang muncul di sana setengah mati, simpati adalah perlakuan ringan terhadap kondisi buruknya. Karena, Subaru tidak hobi menyiksa mayat berjalan.

Otak Subaru bilang Elsa hanya perlu terjebak dalam reruntuhan Mansion, dan meminta api mengkremasinya.

“Sana main ke dalam api. Aku pergi mencari Beat—”

 Menggelengkan kepala, Subaru mengabaikan siluet hitamnya dan pergi ke lantai atas.

“—Hah?”

Suara kecil, sosok itu melompat.

Mulutnya menganga terbuka mengincar Subaru, mengayunkan pisau jahatnya.

“—”

Angin dari pisau yang mengalir melewati hidung menghambat nafas paru-paru dan mengganjal detak jantung Subaru.”

Tubuh itu ingin membunuh Subaru, masuk akal jadinya jika berjalan menghampirinya.

Namun serangannya hampir saja mengenai Subaru, malah menghancurkan lantai di depan ujung jari kakinya.

Musuh tidak menahan diri, setengah tubuh bagian bawahnya yang mati cuma kurang kekuatan saja. Seandainya punya kaki, serangan barusan pasti membunuh Subaru.

“Kau bercanda!”

Subaru langsung menendangnya ketika ia kian mendekat sebelum naik ke tangga.

Dia melesat cepat sampai-sampai lupa cara bernafas, dia melirik sosok itu lagi. Kepalanya berayun dari tendangan Subaru dan menggerakkan anggota tubuh kakunya di tanah, seperti sebuah boneka, kemudian mengejar cepat Subaru layaknya laba-laba.

“ALAMAK!?”

Subaru pernah memanggilnya wanita laba-laba, tapi tidak menyangka akan jadi laba-laba beneran.

Tertegun melihat gerakan tak manusiawinya, Subaru melesat ke puncak tangga. Membayangkan sosok berbalut api sedang ngejar-ngejar Subaru yang menyelam masuk ke neraka di koridor lantai tiga.

Tempat di tengah-tengah aula ini adalha kantor.

Ruangan itu, adalah tempat paling kuat di Mansion, mestinya tidak rusak—

“—σσσ!”

“Dhahhh!?”

Mencegah Subaru yang mau melompat ke dalam kobaran api, seekor Monster Iblis singa mengaum.

Kehilangan kejantanannya, lebih dari separuh tubuhnya terbakar, tidak salah lagi Monster Iblis ini seharusnya sudah mati dibunuh tim Subaru di ruang makan.

Rupanya hewan yang hampir mati kembali ke pintu ini dan mematuhi perintah tuannya.

Berarti Subaru saat ini adlaah seekor ngengat yang menghampiri api.

Pertemuan tak terduga-duga di tengah api. Monster ini benar-benar menjijikkan.

Monster Iblis setengah terbakar mengayunkan kaki depan bercakar besarnya. Serangan itu menggores dinding, mendekati leher Subaru, lebih dari cukup untuk menebas Subaru ketimbang tanaman tembakau meskipun kondisi sang hewan kritis.

“Licik sekali kau!”

Tapi Subaru merunduk rendah dan maju ke depan.

Dia belajar dari Monster Iblis lain, mereka mengincar titik vital mangsa. Memperkirakan ia pasti akan membidik kepalanya, Subaru berguling ke depan dan menyelinap dari titik buta hewan itu.

Hewan buas ini, bisa langsung melahap Subaru hanya dengan sekali telan, meraung-raung marah sembari mencoba menyesuaikan diri dan menghadapi Subaru. Tapi semuanya tidak semudah itu.

“—σσσσ!”

Mengejar Subaru lagi, sosok yang bergerak cepat memamerkan giginya kepada Monster Iblis setengah mati.

Binatang itu balik badan, reaksinya terhadap bilah yang menebas ke bawah itu lamban. Kaki kiri belakang Monster Iblis itu terpotong, darah mengalir dari luka buntung dan erangan sang singa menggema di koridor.

Ia mencambung ekornya yang mirip ular, menyerang Elsa yang lagi merangkak di tanah.

Elsa menghindarinya, gerakannya melampaui kemampuan manusia dan melawan ekornya dengan bilah, pisaunya menusuk dalam-dalam ke luka hewan itu, semakin dalam menembusnya.

Subaru mendengarkan pekikan yang memekakkan telinga saat pergi menuju kantor, tentu tidak menyia-nyiakan kesempatannya.

Menendang pintu ruang catatan sampai terbuka, tetapi tidak mengantarkannya ke Perpustakaan, waktunya terbuang. Monster Iblis dan Elsa masih bertarung di bealkangnya, namun Subaru hanya mendengar lolongan itu, jelas sudah siapa yang memenangkan pertarungan.

“Beatrice!”

Sesampainya di kantor, Subaru memanjatkan doa sambil membuka pintu.

Jikalau Perpustakaan muncul di depannya, Subaru dapat mengucapkan selamat tinggal pada pertarungan antar monster.

Jahatnya, yang nampak adalah pemandangan kantor berantakan.

“Brengsek … yang ini juga bukan!”

Mengilustrasikan kekuatan penolakan Beatrice, kantornya tidak sesuai dengan doa Subaru. Dia tidak bisa lagi mencari pintu lain, atau kembali ke lantai pertama Mansion. Andai ada pintu potensial lain, maka—

“Lorong rahasia ….”

Aneh rasanya menyebut lorong rahasia karena terbuka melalui suatu mekanisme, sebuah pintu.

Lorongnya akan kelihatan bila menggeser rak buku di sekitarannya, dan tidak mungkin melewati jalan itu akan mengantarkannya ke Perpustakaan Terlarang.

Sekiranya ada pintu lain, maka letaknya di kedalaman lorong rahasia.

“Seharusnya ada pintu di tengah jalan yang terhubung dengan sebuah ruangan kecil … tapi ….”

Dalam perulangan sebelumnya, Elsa menyerangnya dari balik pintu itu.

Tapi dia tak tahu apakah pintu itu termasuk dalam efek Door Crossing atau tidak. Terlebih lagi, Subaru berpikir semua ini adalah perbuatan Beatrice, membimbingnya dari pintu ke pintu, mencoba mengeluarkannya dari Mansion melalui lorong rahasia.

Beatrice mungkin tahu keadaan Mansion saat ini, dan menuntunnya menuju rute yang akan menjamin keselamatannya.

Kalau begitu, lorong rahasia juga tidak mesti memasukkannya ke Perpustakaan Terlarang.

Malah mungkin diusir ke luar Mansion, dipindahkan ke kabin aman di gunung persis di ujung lorong, alhasil selamanya kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan Beatrice.

“—Tidak ada waktu untuk berpikir!”

Subaru mendengar rintihan keras Monster Iblis, serangan pramungkas sudah dilancarkan.

Guiltilaw, bertarung hebat untuk mengulur waktu Subaru, mungkin sudah benar-benar mati oleh Elsa.

Subaru menggelengkan kepala, menyelam lebih dalam ke lorong rahasia.

Tangga spiral yang cukup panjang hingga daerah bawah tanah Mansion menyambutnya—nampaknya api telah sampai di sini, panas dan asap mencegah gerakan seseorang di sini.

Subaru menyentuh dada untuk menghilangkan rasa sakit, menguatkan tekadnya saat melaju lurus menuruni tangga. Turun dan turun. Panas api membakarnya, mengangan warna kulitnya saja sudah menakutkan.

Setelah sampai di ujung tangga, Subaru mengintip kegelapan lorong, nafasnya tidak beraturan.

Sepertinya asap mulai menyusup masuk dari celah di dinding tangga, sebab dia tidak melihat hawa panas atau kebakaran di lorong bawah tanah ini.

Alih-alih kebakaran, Subaru harus meraba-raba dalam kegelapan ini.

Berjalan sepuluh meter lebih dalam dan mencapai ruang yang lebih luas, menemukan pintu ke ruang kecil yang dia cari-cari, dan berhenti.

“Di sini ….”

Subaru tidak pernah menyusuri lorong lebih jauh dari pintu ini. Dia tidak tahu apakah ada pintu lain selain pintu tersebut.

Berarti, kemungkinan terakhir Subaru untuk membuka pintu menuju Beatrice. Dan bila mana tempat ini berfungsi sebagai jalur tersembunyi—

“—”

Menggeleng kepala biar menampik kelemahan hatinya, Subaru meraih gagang pintu.

Andai kata Beatrice sendiri yang mengarahkan Subaru ke sini untuk menyelamatkannya, maka peluangnya sedikit. Subaru takut-takut menyentuh gagang pintu—

“Hhhttt! Pintu ini lagi ….”

Menangis kesakitan saat tangannya terbakar, Subaru menyeringai dan menatap pintu.

Pintunya merespon, seakan-akan terlefreksi dalam hati Subaru, gelombang kesedihan muncul dalam dirinya, dan—Subaru mengetahuinya.

“Gagang pintunya, panas ….?”

Lorong bawah tanah memang panas hawanya, tapi tidak terlihat adanya tanda-tanda kebakaran.

Asap dan panas kemungkinan besar telah bocor melalui celah antara batu yang membentuk tangga. Seandainya spekulasi Subaru benar, maka pintu ini pastinya panas.

Pintu ini panas nian sampai dia resah apakah dalamnya terbakar api atau tidak. “… Beatrice. Kalau kau bisa dengar ini, tolong dengarkan.”

Berhati-hati untuk tidak menyentuh pintu, Subaru melihat ke atas sedikit dan bergumam.

Yakin bahwa suaranya akan mencapai gadis yang sedang absen itu.

“Kau membawaku ke sini? Jika iya, berhubung satu-satunya jalan pelarian adalah lewat sini, maka aku tidak tahu mesti bilang apa soal dirimu yang lihai menyusun tipu muslihat.”

Taktik Beatrice yang mengarahkan Subaru ke tempat ini memang patut diapresiasi.

Pertemuan dengan Elsa dan Monster Iblis pasti tidak ada hubungannya dengan Beatrice, tapi pasti ada alasan Subaru diarahkan satu per satu menuju tempat ini.

Jika dia mulai membuka pintu ini dan sampai di kabin gunung, rencana Beatrice akan berhasil.

“Ternyata semuanya tidak berjalan mulus …aku bisa saja membuka pintu ini, tetapi aku tidak akan dapat melarikan diri sebagaimana keinginanmu. Bukan soal pribadiku yang keras kepala dan kukuh tidak ingin pergi, kayaknya? Kurang lebih suasana hatiku setengahnyalah, tapi … ada sesuatu yang lebih serius.”

Berbicara dengan seseorang yang bahkan mungkin tidak mendengarkan, Subaru merajut kata demi kata.

Mengetuk kukunya ke pintu yang menghalangi jalan di depannya lalu membuang nafas.

“Seandainya aku membuka pintu ini, aku mungkin akan mati. Kau dan yang lainnya barangkali tidak akan tahu, tapi sekarang, demikianlah situasi di balik pintu ini. Sulit menjelaskannya dengan kata-kata … tapi aku memahami jiwa sains, dan aku tahu itu.”

Mengesampingkan kegagalan di ruang makan, pengetahuan abad ke-21 Subaru berteriak-teriak kepadanya. Pintu yang dilihat Subaru sekarang ini lazim ditemukan selama situasi darurat kebakaran, dan sangat-sangat-sangat tidak boleh disentuh.

Tidak bercanda sama sekali, nyawa Subaru dalam bahaya.

Selanjutnya adalah pertanyaan apakah Beatrice mendengarkan atau tidak. Kalaupun iya, percayakah ia pada tutur Subaru?

“Beatrice. Aku akan membuka pintunya—Kuserahkan penilaian omonganku padamu.”

Walaupun tahu sesuatu di depannya ini bisa mengancam hidupnya, hati Subaru masih tenang.

Bukan karena saraf kuatnya, atau kebulatan hatinya.

Melainkan karena dia dapat berserah diri kepada orang lain.

Maksudku, lagi pula.

“—Beatrice, aku percaya padamu.”

Tangannya kesakitan, Subaru membuka pintu.

Dan—

Mendapati Perpustakaan Terlarang sudah berubah, paru-paru Subaru tersumbat.

Lantai dekat pintu retak-retak, lubang menuju ruang hiper-dimensi masih ada dan sehat-sehat saja. Rak-rak buku yang berjatuhan tidak bisa dibenarkan lagi, bahkan sebagian ruangan sudah terbakar.

Situasi dalam Mansion Roswaal mempengaruhi Perpustakaan Terlarang. “—”

Tapi, melihat sepasang mata tertuju padanya, Subaru menekan keterkejutannya dan mengubah fokusnya.

Sekarang, dia akan menaruh segalanya kepada satu orang gadis saja.

—Karena ini adalah kesempatan terakhir.

“Kau memang idiot ….”

“Serius nih, itu kata-kata pertama yang kau katakan?”

“Kau memang idiot, kayaknya. Betty berusaha keras agar kau bisa keluar, kemudian langsung menyia-nyiakan kesempatan itu, dan balik lagi ke sini …. Mansion sudah tidak punya pintu lagi. Perpustakaan Terlarang juga ikut kebakaran, kayaknya.”

Beatrice benar.

Api menyebar ke beberapa rak buku yang jatuh, mengubah buku-buku tercintanya menjadi abu.

Seluruh tempat sudah kebakaran, dan akan habis dalam sekejap. “Berarti ini adalah akhir bagiku dan bagimu.”

“… Ya. Inilah akhirnya, kayaknya. Tidak banyak juga yang diinginkan Betty. Api sudah membakar pengetahuan yang telah ditakdirkan untuk diberikan kepada Orang itu, dengan kata lain telah merusak janjinya.”

“Benarkah. Kalau begitu, aku ingin kau mendengarkan ucapan terakhirku.” mata kosong Beatrice menatap Subaru.

Tidak mengatakan apa-apa untuk melawan atau menolaknya, tetapi reaksinya mungkin mengisyaratkan bahwa dia bersedia mendengarkan. Subaru mengangguk, lalu menghela nafas singkat.

Kata-kata yang tak berhasil dia sampaikan sebelumnya, pada perpisahan mereka sebelumnya.

Saat ini, Subaru akan mengimbuh semua hasratnya, semuanya.

“Beatrice—Batu aku.”

“… Hah?”

Penegasan, diucapkan sambil membusungkan dada.

Mata Beatrice langsung syok sebagai tanggapan deklarasi Subaru yang berwajah serius.

Beatrice memutar otak untuk memahami maksudnya.

Selagi mendekati akhir tak terhindarkan, Beatrice telah memikirkan macam-macam kata yang hendak dikatakan Subaru.

Aku ingin menyelamatkanmu. Takkan kubiarkan kau sendirian. Barangkali kata-kata jantan itu, dan salam dingin yang dia harapkan dari Orang itu, adalah apa yang dia tunggu-tunggu.

Apabila Subaru ingin mengemukakan perasaan sebenarnya, kata-kata itu tidaklah mustahil baginya.

“Kalau dipikir-pikir, aku yang terus mengocehkan: Kukeluarkan kau dari kesendirian, atau aku akan menyelamatkanmu …. Beneran deh, semua itu aku katakan saat suasananya cocok. Jadi aku mempertimbangkannya betul-betul. Aku memikirkan apa tentangmu? Aku memikirkan apa tentangmu? Aku memikirkan apa tentangmu, dan apa yang ingin aku komunikasikan kepadamu?”

Subaru mengungkapkan niatnya setulus mungkin kepada Beatrice yang tertegun.

Walaupun gelap mata karena sungguh pengecut dan tidak adilnya Subaru menyerahkan penyambutannya kepada Beatrice.

“Segenap diriku yang menyelamatkanmu ini hanyalah dagelan, sebenarnya, kau tidak membutuhkan bantuanku sama sekali. Kau kuat, kau pintar, kau manis … kau bisa melakukan apa pun sesukamu, dan bisa menyelesaikan apa pun yang ingin diselesaikan.”

“—”

“Kau sudah bisa lebih dari hidup mandiri. Tentu. Semisal tidak bisa kau takkan bertahan selama empat ratus tahun. Sepatah kata pun soal menyelamatkan atau membantu takkan kau anggap.”

“—”

“Sekalipun kau kuat dan pintar, apalagi bisa melakukan semuanya, kau takut hidup sendiri. Itu melukaimu. Membuatmu kesepian. Tidak seorang pun menyalahkan dirimu yang bergantung pada Orang itu.

“Setelah kau menolakku … perasaan Betty …memangnya … kau bisa mengerti!” menggigit bibir, Beatrice menatap Subaru sambil merasa emosi.

Tetapi emosi goyah itu tidak benar-benar dibenci. Beatrice berpegang pada amarahnya yang memudar, gelagapan berusaha untuk mempertahankannya, Subaru menggeleng kepala saja.

“Aku tahu itu. Kau baik. Karena ketika seseorang sedang mimpi buruk, kau akan memegang tangan mereka untuk menenangkannya. Saat seseorang berada di tengah kesulitan tak terselesaikan, kau akan menawarkan bantuan dan memubka jalan. Sewaktu itulah seseorang yang tidak bisa tidak kau benci kehilangan jiwa-jiwa terdekatnya, kau akan berkabung kepada mereka.”

“Sok tahu, kau sok tahu semuanya ….”

“Aku tidak berdaya. AKu tidak bisa membantumu. Tapi kiranya kita mengatakan ada yang bisa kulakukan, tidak ingin kau sendiri, maka berpegang erat dan memohonlah.”

Mata Beatrice melebar, Subaru mengulurkan tangan kanannya.

Tangan terluka bakarnya kosong, tidak elok untuk dilihat. Namun masih lebih baik ketimbang tangan kiri mengerikannya yang penuh luka parah.

Subaru menyekanya, mempersiapkannya, membersihkannya sebersih mungkin agar layak memegang tangan Beatrice.

“Beatrice. Bantu aku.”

“—”

“Aku takkan bisa hidup tanpamu. Bantu aku.”

Bagi pendengar pihak ketiga, kedengarannya menyedihkan dan pemaksaan memalukan.

Aku tidak bisa hidup tanpamu, jadi tolong temani aku, adalah ancaman Subaru.

Subaru tidak bermanfaat bagi orang lain, lantas dia bilang mereka bisa melakukan sesuatu untuknya, dan dari pemikiran itu, meminta mereka untuk hidup.

Pemaksaan egois, tidak masuk akal, lagi tak berdaya.

“Tidak, adil … tidak adil.”

Subaru tidak membalas apa-apa.

“Menggunakan, kata-kata itu … dan, bilang begitu … setelah semua ini, kau … kau bukanlah Orang itu … saat menolak Betty, dan ….”

Mereka terbungkam, terdiam seribu bahasa, enggan untuk berbicara, dan menderita.

Mata Beatrice tertuju pada tangan yang terulur kepadanya sembair memeluk erat-erat sebuah buku dalam tangannya.

Air mata menetes turun.

“Aku sendirian selama empat ratus tahun! Waktu-waktu itu aku habiskan sendirian, kau pikir aku bisa membantumu, nanti …ujung-ujungnya kau mati juga!” umur kaum manusia itu seperti kejapan mata bagi Betty … setelah semuanya! Bagaimana bisa aku mengandalkannya!”

“Mustahil membayangkan empat ratus tahunmu. Aku tidak ngomong mengerti juga. Empat ratus tahun, umurku bahkan belum 1/20-nya. Aku tidak tahu apa ketakutan yang datang setelah kematianku.”

“Kalau begitu! Kalau begitu … apa pun yang kau katakan, tidak membuat solusi apa pun ….!”

“Tapi, besok hari, kita bisa berpegangan tangan.”

“—”

“Besok, lusa, dan esok lusa juga. Mungkin tidak empat ratus tahun, tapi kita bisa menghabiskan hari-harinya bersama. Barangkali tidak sampai selamanya, tapi besok hari, dan tepat saat ini, aku bisa menghargaimu.”

“—Ugh.”

“Beatrice—Pilihlah aku.”

Subaru sudah memilih.

Kini dia menghadirkan pilihannya kepada Beatrice. Semua ada di tangannya.

Akankah Beatrice setia pada ibunya, dan mengakhiri empat ratus tahun dengan mati ditelan api? Namun akankah dia melanggar janji ibunya, meninggalkan pertemuan dengan Orang itu, dan ikut bersama Subaru?

“K-kaulah, Orang itu ….”

“Bukan aku. Jangan samakan aku dengan orang lain yang muncul di kepalamu. Aku itu aku. Natsuki Subaru. Ambil seluruh perasaan empat ratus tahun tak terbalaskan itu, dan buanglah.”

“—”

“Daripada menakutkan perpisahan yang datangnya masih nanti, hiduplah bersamaku di hari esok yang pasti. Aku lemah, tapi tujuanku masih tinggi … bila kita bersama, kau akan sibuk meributkanku, kau tidak punya waktu bosan atau kesepian lagi.”

“… Nnh.”

“Pilihlah aku, Beatrice.”

Subaru akan mengulanginya sebanyak mungkin agar kata-kata itu menggapainya.

Karena Subaru memahami perasaan dan hatinya yang berguncang.

Sehingga keegoisan Subaru mampu memikul beban atas rasa bersalah dan malu Beatrice karena telah merusak janji.

Agar gadis ini tak akan pernah menangis lagi.

“Tapi kau akan pergi ….”

“Memang takkan selamanya. Masa depan yang kau takutkan pasti akan sampai. Waktu ketika kau ditinggalkan, abadi sebagaimana dirimu, pasti akan datang. Tapi andai kata kau hanya memikirkan rasa takut akan perpisahan, dan membuang semua kesenangan bersama, rasanya terlampau sulit bagi hidup kita berdua.”

“Tapi kau akan meninggalkanku ….”

“Ayo bersama. Hidup bersama. Pergi bersama. Tumpuk kenangan demi kenangan, cukup untuk meledakkan rasa takut perpisahanmu, sampai kau bisa tersenyum dan merasa bangga dan bilang: aku menikmatinya. Cukuplah untuk menutup empat ratus tahun yang kau habiskan dalam kesendirian, dan menyeimbangkannya.”

“Meskipun … itu terjadi! Aku akan sendirian, suatu hari nanti!”

Subaru melangkah maju. Menutup jarak. Mata gadis yang gemetaran itu memantulkan sosoknya.

Subaru terlihat menyedihkan, kelihatan tercela, jauh dari pangeran yang ditunggu-tunggu.

Tapi di sana, ada Natsuki Subaru biasa.

“Kau akan hidup selamanya, dan waktu yang kau habiskan bersamaku mungkin terasa satu mikro detik bagimu. Karenanya aku akan mengukirnya dalam-dalam di jiwamu. Satu mikro detikku.”

“—”

“—Bahwa Natsuki Subaru adlaha seorang pria, sepanjang masa, takkan pernah sirna!”

Perpustakaan Terlarang runtuh dan terdengar suara-suara kaca pecah.

Daerah di sekeliling Subaru dan Beatrice dilingkupi celah spasial dan api membara.

Tapi detik ini, dia tidak takut pada api.

Satu-satunya hal di kepala Subaru adalah Beatrice.

Dan satu-satunya hal di kepala Beatrice adalah Subaru.

Tangan gemetar Beatrice mendekap buku yang diberikan ibunya.

Yakin seumpama jari-jarinya terlepas berarti telah memperbaiki kesendirian berabad-abad, Subaru mengulurkan tangan.

Dan berteriak:

“Pilihlah aku! Beatrice!”

“—Uh.”

“Kau ingin seseorang mengeluarkanmu! Sebab itu kau selalu murung! Duduk di seberang pintu talaso!”

Setelahnya terdengar ledakan besar, kata-kata Subaru berakhir.

Perpustakaan Terlarang, penjara isolasi si gadis, telah ditelan dan menghilang dalam keruntuhan dan api.

Namun sesaat sebelum itu terjadi.

—Sebuah buku terbanting ke lantai Perpustakaan Terlarang.

Melarikan diri lewat lorong rahasia dan sampai di kabin gunung, kelompok Otto menyaksikan Mansion besar terbakar dari atas bukit.

Otto, Petra, dan Frederica. Bersama Rem yang nempel di punggung mbak palayan. Mereka berempat berhasil dievakuasi di pegunungan.

Gunung-gunung, khususnya daerah di sekitar kabin, tampaknya punya penghalang di sekelilingnya yang berfungsi untuk mengusir Monster Iblis. Mereka tidak melihat tanda-tanda Monster Iblis liar atau yang menyergap mereka.

Anehnya tidak seorang pun di sini memikirkan kelangsungan hidup mereka.

Mereka semua menatap Mansion seperti sedang berdoa, menunggu perubahan nyata.

Sambil percaya Subaru dan Garfiel selamat, karena mereka berdua masih di Mansion.

“—”

Mengesampingkan perawatan luka-lukanya, Otto kembali melihat Mansion, berkedip pun dia akan menyesal. Petra berdiri di sampingnya, memegangi tangan Otto dengan kekuatan melampaui masa mudanya.

Petra resah, sangat resah, resaha tak tertahankan. Semua orang tahu bahwa gadis muda itu sungguh menyukai Subaru. Menyadari duka citanya, mustahil Otto tidak mendoakan keselamatan Subaru.

“—”

Otto menaruh tangan di atasnya lembut-but biar Petra tenang.

Tersenyum kepada anak yang terkejut itu, kemudian mengembalikan sorot matanya ke Mansion.

Otto menyadarinya.

“… Di sana.”

Di tengah-tengah gedung utama Mansion yang kebakaran.

Ledakan api besar meletus-letus dari kantor berlorong rahasia yang dilewati kelompok Otto. Jendela-jendela pecah, si jago merah meluas ke seluruh area dalam sekejap, lalu Mansion mulai kehilangan bentuk—dan jatuh.

“Uh ….”

Otto mendengar tangisan atau pilu Petra.

Dan Otto, juga, menyaksikan kenyataan yang sama dan satu pikiran dengan Petra, menahan desakan hati untuk berteriak menolak. Apabila Otto melempar minyak sekarang, malah akan memperparah hati seorang gadis yang ingin menangis.

Tapi pemikiran Otto terbukti salah.

“Otto-san, lihat!”

“Hahh!?”

Tepat ketika Otto ingin menurunkan pandangan, tangan kecil Petra menampar pipinya.

Tamparan menyadarkannya, penglihatannya berkilat-kilat dan membuat kepalanya pening. Segera melihat wajah gembira Petra yang menunjuk-nunjuk Mansion, Otto melihat arah telunjuknya, dan mengerti.

“Haa, hahahahaha ….”

—Pilar cahaya putih membentang dari Mansion hingga menembus langit.

Cahaya berputar-putar layaknya pelangi, mengubah sudutnya menjadi vertikal ke angkasa, menembak jauh menuju timur.

Mengumumkan destinasinya berada di sana.

Otto tahu apa yang ada di sana.

Jadi pipinya merileks ketika melihat Petra bersorak kegirangan, dan ….

“Kuserahkan padamu—Aku betul-betul capek.”

Sementara itu, cahaya sama yang melegakan Otto disaksikan oleh Garfiel, setengah telanjang dan hanya memakai kain, itu juga di pinggang. Dia menggertak taring-taringnya.

“Ha! Lu berhasil, Kapten! Gua tau lu sabi! Sang Hosin selalu menepati janjinya!”

Setelah meloloskan diri dari Mansion dan berlari ke hutan, Garfiel tolak pinggang dan ketawa-ketawa kek orang bego.

Berbaring di tanah di samping Garfiel adalah seorang gadis, tubuhnya diikat kain yang sama dengan yang dikenakan pinggang Garfiel—Meili, ia tak sadarkan diri.

Rampasan perang! Demikian bualannya, namun dia adalah saksi hidup yang terlibat dalam serangan, dan juga banyak hal yang mesti diinterogasi.

Paling pentingnya, prinsip Garfiel tidak membiarkannya membunuh gadis muda itu.

“Nah, tante hitam itu pasti udah kebakar ampe krispi.”

Garfiel menatap Mansion yang hancur, mendesah dalam-dalam.

Melemparkan Monster Iblis besar sampai menghancurkannya—metode tak langsung yang tidak mengikutsertakan tangannya, tetapi Garfiel masih tidak mau membantai manusia.

Jemarinya gemetaran, perutnya sakit-sakitan.

Namun Garfiel menekan perasaan itu sambil menggelengkan kepala, duduk di samping Meili dan bersandar di pohon.

“Sekarang kita tunda dulu hasrat kemenangan dan perasaan membunuh. Gua yang hebat ini gak menyelesaikan apa-apaan …. Lu gua andelin, Kapten.”

Sambil mengacungkan tinju, Garfiel memelototi jejak cahaya putih, dan:

“Pas semuanya beres, ada orang yang pengen gua pukul mukanya!”

—Dia tertangkap.

Dia tahu ini akan terjadi, dan masih berusaha memahaminya.

Meskipun sangat tahu bila meraih tangannya, mana kala melekat pada kehangatannya, dia takkan bisa kembali ke malam-malam sunyi senyapnya.

Kendati telah mengikrar betapa bodohnya bergantung pada kehangatan sesaat.

Suara itu, memanggilnya.

Suara itu, menatapnya.

Tangan itu, menagih kehadirannya.

Biarpun tahu tidak bisa menolaknya.

—Subaru.

“Ya, apaan.”

—Subaru, Subaru.

“Yak. Itu namaku.”

—Subaru, Subaru, Subaru.

—Subaru!”

“—Akhirnya kau memanggil namaku.”

—Badai salju berkecamuk.

Tirai putih membutakan, seketika menyentuh udara luar dunia dingin ini hembusan nafas pun akan membeku.

Angin es sepoi-sepoi memandikannya, angin badai membawa salju sangat tajam sampai hampir memotong kulit. Walau berada di tengah-tengah badai ganas ini, gadis berambut perak melambai-lambai mendekap tekad kuat dalam mata ungunya, ia menghadpa depan.

“Aku takkan, takkan … membiarkanmu membunuh sorang pun!”

Sebuah cahaya menyelubungi tangan yang direntakan, melepaskan sejumlah besar kekuatan sihir. Badai salju menguatkan sihir es yang menghamburkan dirinya dalam cahaya redup, kemudian mengiris dunia layaknya pedang, satu demi satu menebas Monster Iblis putih yang lewat.

Suara tak beralamat bagus dari gemerincing-gemerincing taring tak berhenti.

Perwujudan kelaparan—malapetaka kuno yang tak terselamatkan, mempersembahakan dirinya untuk melahap mangsanya saja, monster yang tidak bisa hidup berdampingan dengan monster lain.

Menghadapi kekejaman kelaparan berlipat-lipat di tempatnya berdiri, tidak mundur selangkah pun, ialah seorang gadis berambut perak.

Namun nafasnya setengah-setengah, kehilangan control atas mana raksasa, kristal putih mulai menutupi tubuh bagian bawahnya.

MIsal dilanjutkan, dia akan berubah menjadi patung es.

Padahal mengetahuinya, dia pantang mundur.

“—”

Gadis itu melirik ke belakang.

Di sana terdapat segala sesuatu yang harus dia lindungi dari sekawanan Monster Iblis.

Reruntuhan bobrok, dan beberapa nyawa yang menaruh harapan pada pundak mungilnya.

Serta seorang pria, yang tidak memasuki reruntuhan, dengan bingung mengamati pertempuran si gadis, seorang gadis berambut merah muda yang tak sadarkan diri di tangannya.

Setengah tubuhnya membeku. Namun api berkobar-kobar dalma hatinya.

Siapa pula yang sempat-sempatnya merengek dan iba setelah menyaksikan mereka?
Untuk tujuan apa, dan atas keyakinan siapa, dia berdiri di sini?

“Aku … aku takkan membiarkanmu mengakhiri siapa pun! Semua orang sudah saling terhubung … dan aku akan melindunginya! Itulah yang aku janjikan kepada Ibuku!”

Semburan cahaya samar menabrak sekawanan Monster Iblis yang mendekat.

Mereka tidak mengerang mati, jatuh tak bergerak bersimbah cahaya putih. Melihat kematian sedih rekan-rekan mereka, dan langsung saja mengkanibal mereka dan mengunyah es.

Melihatnya saja mengerikan.

Barangkali secara potensial begitulah orang-orang ketika berpegang teguh pada harapan.

Meski begitu. Meski begitu.

“Selama aku tidak melupakan Ibu dan Geuse, serta semua orang hari ini … tentang apa yang dia tuliskan kepadaku, aku tidak akan menyerah.”

Sekalipun dia akhirnya terbungkus es, dia takkan menyesalinya.

Menembus badai salju, para Monster Iblis berangsur-angsur muncul semakin banyak dan dekat, menghampiri gadis serta orang-orang yang bergantung padanya.

Kalau harus pun, dia rela menyerahkan hidupnya.

Tapi sewaktu sang gadis terbayang-bayangangi pemikiran itu, ia mendengar suara seseorang.

“Tidak usah memaksakan dirimu, Emilia-tan.”

“—”

Dia tahu seseorang baru saja mendarat di sampingnya, turun dari langit.

Emilia melihat ke samping. Badai salju kuatnya bukan main, dia tak bisa melihat wajah-wajah yang terselubung putih.

Tapi dia tahu persis siapa yang berbicara.

Suara mereka, gaya mereka, lebih pentingnya lagi, mereka senantiasa datang untuknya kapan pun diperlukan.

“Kau bisa bertahan dan mundur saja—Pertempuran perdana pembebasan sedang berlangsung sekarang.”

“Maaf. Aku berpikir seperti itu.”

Rasanya mereka tengah tersenyum.

Sosok-sosok itu mulai berjalan, diikuti oleh sosok lain yang lebih kecil.

Dia mendengar suara kedua.

Suara itu kedengaran hidup, seolah-olah si pembicara sudah menunggu sangat-sangat lama untuk merasakan momen-momen ini—

“Selanjutnya misteri, ya.”

“Ya, kita akan melakukan ini—Bersama, aku dan kau!”

Roh Beatrice dan Kontraktor Natsuki Subaru, dua orang yang mulai sekarang akan ikut bertarung sambil mengikat hubungan, memulai pertarungan perdana mereka di sini.

19 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 129”

  1. Gw belom baca sih dan emang panjang bener chapter 1 ini, gw stuck baca english disini dan gatel batt wkwkwk but well xD Great adm00n-sama :v
    Arigatou gozaimasu ︶︿︶

    Semangat buat seluruh tesnya, siap siap jadi anak kampus

    Btw gratz 1 chapter lagi

  2. Min pas bagian yang ini

    [Maksudku, lagi pula.

    “—Beatrice, aku percaya padamu.”

    Tangannya kesakitan, Subaru membuka pintu.

    Dan—]

    Bukannya masih ada lanjutan pas si bayangan ikutan turun ke tangga ruang rahasia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *