RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 128

Posted on

Aku Cinta Kamu Sampai Darah dan Usus-Ususmu

Penerjemah: Daffa Cahyo

Mengarahkan taringnya ke ekor hijau yang menyelinap di depannya. Tanpa ampun mencincang-cincangnya.

Cairan ungu berceceran ke mana-mana dan darah jernih menciprati wajahnya, namun dia tak peduli. Mata kirinya bermandikan cairan berbisa dan penglihatannya tertutup selama berabad-abad.

Ia mengaum tuk menghilangkan rasa sakit membara dan membanting tangannya ke ular berkepala dua, langsung membunuhnya. Dia menendang mayatnya, mengusir segala sesuatu di depannya selagi mundur, ketika dia merasa ada yang salah—dia langsung mundur.

Kemudian bilah mengerikan melewati dagunya.

Monster Iblis di jalur bilahnya menjadi mangsa pisau bak taring itu. Daging berhamburan, cipratan-cipratan darah beterbangan, organ-organ tubuh membentuk penghalang di hadapannya—sialnya Garfiel sedang menyerang, membidik seorang wanita kemudian menghantamkan tangan ke perutnya.

“—!”

Perisai kanan menabrak dada, perisai kiri di tubuh samping, daging terdorong mendempet dan tulang-tulang wanita itu retak di setiap titik.

Di telinga Garfiel, di depan matanya, dari segala arah pengang serak hewan buas, raungan mereka, memicu konflik, benturan antara logam dengan logam, terlampau banyak suara yang disatukan bersama-sama sampai-sampai Garfiel tak dapat mendengar suara dunia.

Ia tak menghiraukannya. Hal-hal di depannya, apa-apa yang dilihat mata kanannyalah yang penting.

Payudara menggairahkan berlubang, kekuatan pukulan penghancur raga membuat Elsa muntah darah. Bahkan bibir merahnya kian dialiri sesuatu yang merah, dihadapkan dengan rasa sakit yang menghantui nyawanya, parasnya tetap menampakkan kebahagiaan.

Barangkali bukan kekuatan tempur, maupun staminanya, melainkan keteguhan batin yang jadi masalah utama.

“—Hah!”

“RRrrgghhrrr!”

Mengambil nafas pendek. Menanggapi raungan Garfiel.

Dia mengayunkan tangan kirinya dari belakang ke depan, suara melesit kedengaran dari belakang Garfiel. Sabetannya terbayang dari dinding, menggema di langit-langit hingga lantai, serangan tersebut mengincar kepala belakangnya.

“—”

Garfiel memfokuskan perhatian ke sudut belakang, sama sekali tidak berpikir untuk menghindarinya.

Wanita di depannya menarik tangan kanan kuat-kuat ke belakang, bersiap menusukkan pisau hitam bergerigi. Jika serangan ini bertujuan menjebak Garfiel di antara dua pisau, kemungkinan besar kepala si target akan buntung, boleh jadi lehernya.

Garfiel miring ke samping, memaksa tubuhnya menjauh dari jalur pisau yang hendak menusuk kepala belakangnya.

Terdengar suara keras dari bahu kirinya. Merasakan sensasi ujung bilah menusuk celah di antara tulang-tulangnya, dia mendecakkan lidah—ketika pisau tersebut mengenai persendiannya, mengakibatkan tangan kanan Garfiel melumpuh selama sesaat.

“Huahhhhh!”

“Shah!”

Kerasnya raungan hingga membisukan suara lain, Elsa kehilangan pisaunya.

Serangan tak berkesudahan ini meminimalkan tebasan dan memaksimalkan tusukan.

Bila Garfiel terkena serangan tadi kepalanya sudah hilang, memotongnya sebersih mungkin. Garfiel buru-buru mengangkat tangan kiri untuk menahan serangan, tetapi kuda-kudanya tidak bagus, tidak mungkin bisa menghindari semua serangan yang mengarah ke bahu kanannya.

Gigi-gigi binatang menjerit melawan logam dalam waktu semikro detik sebelum memotong buntung tangan Garfiel.

Kecepatannya menurun sedikit, bilah belakang melanjutkan serangan menuju kepala Garfiel. Lebih dari cukup untuk membelah tengkoraknya, hantaman datang sedetik lagi. Hantaman datang—

“—!?”

—Garfiel menendang ke atas, bergerak ke celah antara kepala dan pisau, sambil membawa mayat Monster Iblis.

Sensasi janggal macam sayur berkulit keras menabrak pipinya, asam bisa melepuhkan kulit yang disentuhnya. Beresiko termandikan oleh kedua hal itu, Garfiel menyelamatkan dirinya dari dampak fatal serangan Elsa.

Pisaunya malah mengiris mayat Monster Iblis, kekuatannya terus menembus mayat dan menghujam seluruh wajahnya.

Dampak serangan tersebut menghempasnya, membuatnya berputar ke kiri-kanan, berputar 360 derajat—lalu dengan dua langkah di tanah, dia mundur.

Divine Protection of Earth-Soul-nya aktif, mematuhi kehendaknya, yaitu: membuat tanah yang dia tapak meledak. Ledakan membuatnya terlempar ke belakang, wanita itu kini berada di belakangnya selagi Garfiel berusaha menghindarinya—Pisau putih Elsa masih menancap di bahu Garfiel.

Tatkala pisau menyentuh Elsa, dia tersentak.

Meskipun tahu yang menyentuhnya adalah pangkal pisau, sejenak Elsa jadi ragu membuat keputusan.

Bahu kanannya masih menempel pada si wanita, Garfiel memperlebar kuda-kudanya biar tidak goyah.

Tindakan Garfiel membuat Elsa mundur dan membuka jarak, tangan Garfiel melaju cepat dan menangkap bulat-bulat wajah Elsa.

“—Partial Transformation!”

Setelah dia berteriak, tangan yang mencengkeram wajah Elsa berubah.

Tangannya membesar secara eksplosif—sekejap menumbuhkan bulu-bulu emas, berubah menjadi tangan hewan buas setebal kayu.

Tentu saja, mempunyai cakar hewan setajam, pedang saber1.

“Kyaaaaaaaa!”

Cakar tebal menggurat wajah sang psikopat, meronta-ronta dan darah tersebar ke mana-mana. Kelima jarinya yang menusuk masuk ke kepala memberikan rasa sakit juga luka setara seperti ditusuk pisau. Bahkan Elsa terpaksa meraba-raba wajahnya, meronta mundur, menjerit sambil melihat langit-langit.

“Rrrhmm!”

Menendang batang tubuhnya, mengendurkan punggungnya.

Daya kekuatan yang menabrak dada mengemban kekuatan yang lebih dari cukup untuk menghancurkan tulang dan jeroan, makin-makin menghancurkannya.

Elsa menjatuhkan senjata, meludahkan air liur sambil tertawa-tawa.

Mendengarnya saja sudah mengerikan, Garfiel siap untuk melancarkan serangan pramungkas dan menghentikannya, namun ….

“Kont*l dah, dateng mulu!”

Sebagaimana Garfiel yang berlari mengejarnya, Monster Iblis membanjiri sosoknya.

Tikus bersayap hitam, tupai yang menggendut segendut amarah mereka, Rex bertutul datang berkumpul di tempat ini dari seluruh Mansion, serta raksasa besar—sang Boulderpork juga ikut bertarung.

Cakar-cakarnya merobek sekawanan tikus, satu langkah kakinya mengeliminasi tupai gendut, tendangannya mematahkan leher Rex, sisanya Garfiel melawan Boulderpork secara langsung.

“Gepeng lu!” teriak Meili.

“Lu kira gua biarin, dasar bego!”

Berat seekor monster berton-ton menerjang maju membawa kekuatan maha besar.

Alih-alih serangan hewan, rasanya bak sebuah gedung jatuh menghantamnya.

Garfiel pun tak mampu menahannya dan bila dia tahan dampaknya parah. Garfiel takkan kuat sedetik pun, terhempas dan digepengkan. Akan tetapi ….

“Gini nih yang mantep—!”

Menguatkan kakinya, Garfiel meluapkan Divine Protection of Earth-Soul-nya sampai batas maksimal.

Merasakan berkat-berkat dari bumi berdenyut-denyut dari bawah kaki, mengalir ke daging-dagingnya.

Kilat-kilat cahaya tempur di mata Garfiel, memamerkan taring-taringnya kala tersenyum jahat, mendidihkan darah yang bersemayam terbengkalai dalam dirinya.

“—σσσσσȠ!”

Lenguhan itu bukan untuk musuhnya, melainkan untuk memanggil bagian dalam dirinya.

Menjalar ke seluruh tubuh, sulit diterima, tentunya bukan sesuatu yang diterimanya: adalah garis keturunannya. Memanggil silsilah tersembunyi, jiwanya bergetar hebat.

Layaknya tangan kiri yang merobek-robek wajah wanita itu, tangan kanan Garfiel membesar secara eksplosif. Mulai dari tangannya, bahunya, pundaknya, tubuhnya, lehernya, kepalanya berderak-derak selagi kerangkanya berubah bentuk, wajah manusianya menjadi kucing ganas—harimau raksasa.

Setelah tubuhnya membesar, pinggulnya, kakinya, pakaiannya tidak kuat menahan tekanan dan robek-ribek.

Tersisa potongan kain yang membingkai tubuhnya, dua perisai di tangannya masih bisa digunakan sebagai perisai mini—demikianlah hewan yang secara fisik saja, setara dengan Boulderpork.

“——Ϡ!”

Lantai retak-retak, membelah di bawahnya. Bahkan Mansion yang dibangun kokoh ini tidak dapat menahan tabrakan dua hewan raksasa ini. Terlalu raksasa sampai koridor tak kuat menahan mereka, Garfiel menghancurkan dinding, ornament jatuh ke lantai sedangkan punggungnya menggores langit-langit.

“——Wugpig!”

Gadis di atas Monster Iblis menjerit terhadap transformasi Garfiel.

Pastinya meneriakkan nama monsternya. Menjawab panggilan tuannya, Boulderpork meraung kuat-kuat, menghancurkan penghalang jalannya dan membuka rahang lebar-lebar, tampak gigi pipihnya, ia berpacu menuju Garfiel.

Monster Iblis itu bangkit dengan kaki belakangnya, mengangkat kaki depan untuk menginjak Garfiel sampai rata.

Harimau besar melebarkan mata emasnya, membiarkan kaki membawanya ke celah serangan sebelum raksasa menghantamkan kakinya, lalu Garfiel menusukkan cakarnya ke kulit tebal berbatu hewan itu.

Gigi-giginya merobek kulit sekeras batuan sedangkan cakar harimau mengupas keluar dari dalam rongganya. Giginya gagal menembus kulit tebal, dan kaki depan si babi yang terjatuh mendarat langsung ke harimau. Tekanan itu menjatuhkan harimau, bahunya terubtruk. Kekuatan mega kian menekan tubuh Garfiel ke tanah, dampak tanpa ampun membuat sang harimau menderam.

“Wugpig, jangan berhenti!”

Tulang-tulang hancur dan daging ditindas, namun suara keras itu tidak menutupi panggilan sang penguasa Monster Iblis.

Mendengar suaranya yang meratap, babi itu mengaum dan mengangkat kaki depannya, sekali lagi bersiap untuk menginjak dan menghancurkan kepala harimau.

Sialnya ….

“——Ϡ!”

Misalkan cakar tidak efektif, Garfiel punya satu senjata lagi.

Memutar leher, harimau yang pundaknya hancur memanfaatkan tulang punggungnya untuk berdiri tegak. Kaki depan babi terangkat dan perutnya tanpa pertahanan—harimau itu menajamkan taring-taringnya.

Namun tidak semua titik tubuh Boulderpork sekuat kulitnya yang sekokoh batu. Dibandingkan kaki atau punggung, daerah vitalnya kurang pertahanan. Lantas, Garfiel mengarahkan taring tajamnya ke perut si babi.

“Boulderpork!?”

“—ℓℓℓℓ₰!!”

Rahang harimau yang teramat-amat besar sampai bisa menelan manusia utuh, menutup hampir setengah dari perut luas babi.

Sekejap, kulit Boulderpork berusaha melawan taring yang menusuk itu. Bagaikan ujung pisau menusuk buah, taring tajam langsung menembus kulit tipisnya.

Boulderpork meringis ketika harimau menghentak lantai, menggunakan momentumnya untuk berguling ke samping. Taringnya masih tenggelam ke dalam mangsa, mencoba untuk mencabik-cabik sang monster—kelakuan naga air yang tinggal di tepi sungai.

Seandainya Natsuki Subaru menontonnya, dia akan menganggapnya sebagai tontonan gulingan kematian buaya, monster yang tak ada di dunia ini.

Kaki belakangnya menggempur lantai, berguling ke depan dan menyerbu maju tatkala mengoyak-ngoyak tubuh Boulderpork. Di dalam kulit tebalnya tersembunyi darah merah dan macam-macam isi perut, tumpah-ruah tanpa henti dari luka terbuka bekas gigitan ke lantai koridor Mansion.

“—ζ”

Mata membelalak terbuka, Boulderpork merintih lemah seiring kematiannya.

Sang harimau meludahkan potongan daging dan menginjak monster raksasa itu dengan kaki belakang, menjatuhkannya ke samping. Meili, setelah melompat turun dari Monster Iblisnya begitu Boulderpork menabrak tanah, terdiam seribu bahasa selagi menyaksikan kematian buruk Monster Iblisnya.

“Tidak, tak mungkin … aku tidak percaya ini ….”

Melangkah mundur, si gadis melirik ke belakang dan melihat sisa-sisa pasukannya.

Banyak Monster Iblis yang mengindahkan panggilannya telah berkumpul di sini. Tapi mereka hanya sekawanan monster berukuran kecil dan menengah, tiada yang besar layaknya Boulderpork.

“Ugh! Apa ini!? Elsa! Elsa! Lakukan sesuatuuuuu!”

“… Itu, permintaanmu sadis banget.”

Tahu posisinya tidak menguntungkan, gadis itu menyumpah seraya memanggil nama rekannya. Tanggapan memang ada, dari seorang wanita hitam yang merangkak keluar dari kegelapan. Wajah hancurnya beregenerasi kembali. Mengutak-atik jalinan rambutnya yang berdarah.

“Menggurat wajah seorang wanita sampai terbuka tanpa ragu sedikit pun, kau memang fantastis.”

“—σσϡ! σσϠ! σσϠ!”

Wanita itu tertawa sambil meringis berdarah. Harimau itu, pundaknya patah, menggeram gelisah. Wujud raksasanya berguncang, menghantamkan kepala besarnya ke Boulderpork yang jatuh, kemudian muntah-muntah. Harimau merintih dan perlahan-lahan tubuhnya menciut, mulai kembali ke wujud manusianya. Beberapa detik kemudian berdirilah seorang bocah setengah telanjang, menepuk-nepuk helai bulu keemasannya.

“Auh … asu, gua balik. Aduh pala pusing ….”

“Begitu … jadi kau manusia hewan. Aku pikir matamu terlihat jahat bagi seorang manusia.”

“Kalau ngikutin logika lu, berarti Kapten bukan manusia juga.”

Garfiel menggelengkan kepala, menyesuaikan sensasi tubuh manusianya sendiri.

Ketika kembali ke wujud manusia, bahu patahnya sudah cukup pulih untuk bisa digerakkan. Biar begitu, Garfiel masih merasa sakit setiap kali menggerakkannya, benaknya mengabur.

Garfiel tidak bisa lama-lama bertarung dalam performa terbaik lagi.

Namun musuhnya juga sama.

“Monster Iblis lu dah gua bukain isi perutnya. Silahkan berenang di lautan darah, di situ tuh, gua kaga keberatan.”

“Aku menolak. Isi perut hewan adalah barang substitusi kecuali aku luar biasa lapar. Keindahan isi perut adalah ketika dirobek keluar dari punya orang.”

“Estestika lu kagak masuk akal.”

Garfiel mengorek-ngorek teliga dengan jari kelingking dan mengeluarkan kotorannya sambil mendesah dalam-dalam.

Elsa sedang tidak diutungkan, tapi perangainya tak berubah.

—Garfiel memperkirakan perlu sebanyak-banyaknya lima percobaan lagi sampai keabadian Elsa lenyap.

Dan Garfiel telah menghujani empat pukulan fatal padanya. Lima bila perkara wajahnya termasuk. Semestinya regenerasinya sudah mencapai batas.

Berarti stok nyawa Elsa sudah habis. Garfiel juga terluka, tapi bukan berarti akan mengurangi kekuatan tempurnya.

Tidak ada dukungan dari monster Meili, mereka gencatan senjata sementara—masalahnya kenapa Elsa begitu tenang?

“Bukannya ada alasan khusus untuk itu. Jangan takut begitu.”

Melihat alis Garfiel berkerut bingung, Elsa berbicara seakan-akan menghibur anak kecil.

Wajah Garfiel memberengut sebagai respon, menggeram bagai binatang.

Menampik kebenaran Elsa yang persis membaca isi hati kecilnya.

“Bacot. Lu kagak tau apa-apa.”

“Tapi hatimu terlihat jelas. Membongkar isi perut seseorang berarti mengalahkan seseorang yang belum dibongkar isi perutnya. Tampangmu sangat familiar bagiku.”

“—”

“Tampang seseorang yang tak mampu memahami seorang penyimpang.”

Garfiel terdiam, tenggorokannya tercekat. Elsa menutup mulut dan tertawa.

Elsa tersenyum tipis sambil memiringkan kepala.

“Tak usah khawatir, itu tidak apa-apa. Bukan pula ingin dipahami oleh siapa pun. Kebahagiaanku adalah merenggut hidup orang lain. Hidup berarti menolak kematian.”

“… Gua paham kalau nganggep ini serius, gila deh gue.”

Garfiel mengangkat tangan, memukulkan perisainya secara bersamaan sembari menolak untuk memahaminya. Garfiel tak punya waktu untuk memikirkan keadaan Elsa. Pernyataan terakhir pemburu itu baru saja menghapus fokus Garfiel.

“Gua minta lu lakuin ini … bersumpahlah kagak bakal ngelakuin hal buruk lagi dan cabut dari sini, gua masih bisa ngampunin lu.”

“Kau benar-benar anak baik.”

Garfiel menyampaikan belas kasih terakhirnya, lalu ditolak Elsa dengan senyuman—sinyal, pertarungan yang telah dimulai.

Penuh semangat, Garfiel melaju ke depan. Elsa membalasnya dengan mengayunkan pisau putihnya ke atas, mengenai langit-langit, mengenai lantai, naik-turun saat mendekati Garfiel.

Bilah putih lebar Elsa adalah gabungan beberapa pisau. Ujung bilah berganti-ganti dari satu sisi ke sisi lain, pisaunya beriak bak tulang ular saat memantul-mantul di koridor.

Naik? Turun? Pisaunya dengan cekatan melampaui kecepatan mata, melesat seperti cahaya putih. Garfiel menahan perisai di atas kepalanya dan tidak menghindar. Pisaunya menyayat lengan kiri atas, tulang patahnya langsung terasa pedih sesaat Garfiel bergerak.

“Aku lahir di Gusteso, negeri belahan utara, tempatnya sangat, sangat dingin.”

Pertempuran sepersekian detik tengah berlangsung di medan perang ini, tapi entah kenapa suara Elsa yang mendayu-dayu menyerap ke telinga Garfiel.

Bahkan suara lain hampir tidak kedengaran. Perhatiannya piroklastik, tertuju pada rentetan serangan beruntun mematikan. Seharusnya tidak ada celah untuk dimasuki suara.

Sepatutnya begitu, namun gelombang suara Elsa menyelinap lancar ke kesadaran Garfiel.

“Kesenjangan kekayaan sangat besar, tidak jarang sama sekali anak masyarakat kecil dicampakkan. Aku salah satu anak-anak itu, tanpa orang tua yang kukenal, meminum air kotor semata-mata untuk bertahan hidup.”

“—Rrgghhh!”

“Menghabiskan hari-hariku untuk mencuri barang-barang, mengancam orang, semacam itulah, seiring berubahnya orang-orang di sekitarku. Kenapa aku hidup? Apa itu kebahagiaan? Bukan pertanyaan tersebut yang aku pikirkan pada masa-masa itu.”

Tinju Garfiel merosot ke depan, beberapa inchi lagi meninju wajah Elsa.

Namun dia menghindar ke samping, menggerakkan pisau hitamnya untuk mengiris dangkal tubuh Garfiel.

Taring buas tertancap di daging-dagingnya. Elsa menjilat bibir tatkala darah cerah bersimbah di badannya.

“Hari itu amat dingin.”

“Diem! Gua kaga ngedengerin!”

“Angin yang bertiup dari pegunungan kelewat kencang, terlalu dingin, sampai-sampai kota membeku hari itu. Nafasku bisa jadi es sangking dinginnya, seketika itulah penjaga toko yang barangnya kucuri menangkapku.”

Desahan panas, Elsa terus mengoceh, masih fokus.

Mata pisau kematiannya bergerak mengendarai momentum, terus memotong Garfiel yang gagal mengikuti gerakannya.

“Tidak seorang pun akan komplain sekiranya aku dibunuh dia, tapi karena melihat aku ini seorang gadis kecil … aku masih mengingat paras tersenyumnya, kemudian merobek pakaianku.”

“Gh, ughh ….”

“Angin dingin menderu sewaktu dirinya melepas pakaianku, menyambar celana dalam … sebelum memikirkan sesuatu yang hendak dia lakukan, hawa dingin barangkali akan membunuhku duluan, kebetulan tanganku meraih pecahan kaca.”

Kakinya menyapu dan mencoba mengunci sisi kepala, tapi Garfiel menyundulnya.

Dampaknya bergema sampai otak, Garfiel terhuyung mundur, tapi kaki Elsa hancur.

Elsa menarik kakinya, ke belakang. Tapi mukanya tetap menampakkan ekstasi.

“Kepalaku kosong. Hanya punya pecahan kaca, kemudian saat dia condong ke depan aku tusukkan ke perutnya, mengoreknya, dan membukanya.”

“—”

“Sarafku lumpuh atas jeritannya, atau perbuatanku yang telah mengambil nyawanya. Tapi di tengah-tengah badai es, aku berpikir.”

Nafas Garfiel membeku. Elsa tersenyum.

“Hangat sekali, darah dan isi perut.”

Pisau Elsa mengayun ke atas, ingin membelah tengkorak Garfiel. Pria itu meluncur ke samping, menendang dinding untuk berpindah ke belakang Elsa, menendang punggungnya—tetapi perempuan itu berputar dan menyiku tulang keringnya, mengacaukan tendangan Garfiel.

Kaki Garfiel merusak dinding, rubuh dan debu-debu beterbangan. Garfiel mendecak sambil melompat mundur.

“Jika memang ada kebahagiaan di dunia, maka kebahagiaan itu adalah kehangatan dan keindahan pelupa dingin. Sejak lahir aku tak punya apa-apa, kini aku punya ini: satu-satunya kebahagiaan pertama yang aku temukan—Kau tidak mengerti, kan?”

“Emang kagak pengen ngerti.”

“Tak apa. Aku tidak ingin simpati.”

“Terus kenapa lu certain kisah jijik itu.”

“Kenapa, ya?”

Mata Garfiel penuh kebencian seketika Elsa memiringkan kepala, sedang linglung.

Lanjut menyipitkan mata penuh kecurigaan, menjilat bibirnya sembari merasa puas.

“Karena aku mendapati dirimu sangat menawan.”

“… Maaf, tapi gua dah suka cewe lain. Kgak ada waktu buat berkencan sama lonte gila.”

“Dingin sekali. Tak apa. Aku hanya tertarik pada isi tubuhmu.”

Rasanya seperti bercakap-cakap biasa, tapi sebenarnya tidak ada percakapan.

Perbincangan mereka selama ini, Garfiel akhirnya paham juga.

Tidak berminat atau bersimpati sedikit pun terhadap cerita hidup Elsa.

Itu alasannya, Elsa mengalami hal-hal itu, dan dia menjadi monster. Sederhana.

Perisai Garfiel sudah tahu siapa yang mesti dilindungi.

“—Mati lu, Elsa Granhiert.”

“Saat aku membunuhmu, aku akan menyayangimu, Garfiel Tinzel.”

Masing-masing memanggil nama, manusia hewan dan si pemburu saling bunuh.

Kilau-kilau cahaya dari pisau putih mengiris kegelapan koridor, dan pisau hitam mau membelah dua Garfiel.

Penglihatannya serba pisau. Garfiel tidak bisa bertahan, ataupun menghindarinya. Seumpama dia gagal bertahan dan mengurangi dampaknya, dia hanya mengulangi kesalahan bodoh yang sama.

“—”

Pisau memotong suara, menari-nari di sepanjang koridor.

Misal tidak bisa membaca gerakan pisau, dia hanya bisa bertahan pada titik lemparannya.

Garfiel mengulurkan tangan kiri, pengencang di perisainya melonggar—lalu menerbangkannya.

Melonggarkan ikatannya saat dia pukul bersama-sama. Sekarang dia lempar, mata Elsa membeliak saat tangan kirinya tertabrak pisau—sesuatu berderak, jari-jarinya patah dan menjatuhkan pisau putih.

Kehilangan tangan, pisaunya menusuk langit-langit, membatu di sana.

Senyum dalam nan gelap, jeritan menggempar. Pisau mematikan membunuh udara ketika diayunkan ke bawah—Garfiel menyerbu Elsa secara langsung—serangan itu mengenainya.

Tangan kanan Garfiel menadahkan kepalanya untuk menahan serangan langsung pisau hitam.

Dampaknya menembus perisai, mengguncang tengkorak. Mata Garfiel berputar-putar dan hampir tersandung ke depan, tetapi dia berhasil bertahan dan menjaga keseimbangannya. Dia berhasil—seketika itu lutut Elsa meluncur ke atas dan menghancurkan hidung Garfiel.

“Jangan pernah lengah dan mengira kau sudah aman.”

Kata Elsa sambil tertawa-tawa, menyapu kakinya ke atas sedangkan Garfiel mundur.

Kakinya menggantung tinggi, dari sepatunya terlihat kilatan pisau di sebelah tumit—bertujuan menusuk leher Garfiel—

“Harusnya elu yang antisipasi senjata hebat gua.”

Rahang terbukanya menelan tumit serta seluruh bilahnya, mengunyah kaki ramping Elsa.

Tulang dan pisau dikunyah sampai tumit, mata Elsa terbuka.

“Ya ampun.”

Berteriak kaget, Elsa ingin menjauh tetapi goyah dan jatuh, tergeletak di tempat. Kaki kanannya buntung dari pergelangan sampai bawah, tidak bisa dioperasi, kekuatan serangannya sendiri telah mematahkan lengannya. Kaki kiri sebagai penopang, Elsa menatap Garfiel—

“—Ahh.”

Menarik nafas, Elsa merona seperti seorang gadis yang jatuh cinta.

Tarikan nafasnya saja sudah bisa membuat nada. Mata basahnya terbalut nafsu.

—Di depan Elsa, Garfiel memanggul Boulderpork besar, lalu dia lemparkan.

Walau sadar dirinya akan hancur tertimpa massa besar, tidak sesiluet pun mata Elsa teralih dari Garfiel.

Nafasnya acak-acakan, mata berisikan cinta melihat bocah berambut pirang—“Aku merasa girang.”

Massa besar menghancurkan sang pembunuh, seorang vampir, sang Pemburu Usus, sampai tidak tersisa apa-apa lagi.

Dagingnya mati. Darah segar bercampur darah Monster Iblis.

Mengendus bau kematian, Garfiel melolong.

Meraung, berteriak, menggelegar seolah Guntur menembus Mansion yang terbakar.

—Tameng Sanctuary, Garfiel Tinzel, dan Pemburu Usus, Elsa Granhiert, pertempuran mereka telah berakhir.

Catatan Kaki:

  1. Sabel atau sabre ( dibaca “saber”) adalah pedang bermata satu melengkung yang berasal dari Eropa yang memiliki pelindung tangan yang besar. Di ruang lingkup TNI dan Polri, ini diketahui sebagai Pedang Pora yang dimiliki oleh setiap perwira TNI dan POLRI dan biasanya digunakan untuk keperluan upacara.

4 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 128”

  1. SERU BGT BGST, wkwkwk gasabar gw nunggu rilis animenya, semoga gak ancur dah grafiknya

    Ty to adm00n-sama yang telah begitu mantep menerjemahkannya

    Dan Nagatsuki-sama yang udah bikin ini cerita

  2. Goddamn Garfiel, gila bgt anjir bisa ngelawan Elsa dan monster² iblis sendirian. Padahal gue udh nganggep Elsa musuh yg sangat kuat, ternyata Garfiel lebih kuat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *