RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 126B

Posted on

Kita Akan Bertemu Lagi di Pesta Teh

Penerjemah: Thimbletack

Editor           : DarkSouls

—Dia melihat masa depan

“—Pergilah, kau bahkan tidak bisa memegang pedang dengan benar. Dasar Pencuri!”

“—Saksikanlah. Pemenangnya tetap aku”

Subaru, Emilia-neesama, aku tahu kalian pasti lelah. Maaf. Tapi aku tidak ingin menjadi beban. Maafkan aku. Semua rasa terima kasih yang ingin kuucapkan pun tidak akan pernah cukup .

–Setiap cahaya yang disentuhnya, Emilia melihat masa depan yang berbeda-beda

Tak kusangka seseorang yang ingin kubunuh ternyata orang yang sangat baik, sungguh mimpi buruk yang luar biasa.”

Ada perasaan yang tidak boleh diucapkan. Apa sekarang kau puas, setelah semua ini terungkap?

Apa ini membuatmu merasa telah memenuhi janjimu? Jika iya … jika iya, aku lebih baik terjebak dan mati di gua itu! Kalau aku ingin melihat fajar esok, seharusnya aku pergi lebih cepat …! Sial, sial!

Ya Allah, maafkan aku. Aku lemah dan jadi seperti ini. Ya Allah, maafkan aku. Aku tidak bisa membunuhnya. Ya Allah, maafkan aku. Kini ▒▒▒ akan selalu sendirian selamanya. Ya Allah, maafkanlah kelemahanku.

Duka, amarah, kematian, kelahiran, perpisahan, perjumpaan, masa depan hadir dalam berbagai bentuk.

“Ya … cucuku sayang … kau tumbuh dengan baik ….”

“Aku tidak akan pernah binasa karena omong kosongmu yang seperti kutukan itu!”

“Sederhananya aku menyadari sesuatu … bahwa di sepanjang perjalananku hingga saat ini, aku tidak~ sendirian”

“Bagaimana mungkin … tidak ada jiwa di dalam tubuhnya”

—Haruskah masa depan diisi dengan keputusasaan? Tidak adakah hal lain selain kesedihan dan penderitaan?

Gua janji, gua bakal bunuh lu! Ya!? NATSUKI SUBARUUUUUUUU !!”

“Apakah aku begitu tamakh? Apakah aku mengatakan sesuattu yang kelewat ramah? Jangan adaa yang mati, jangan adda yang menangis … kenapa susssah sekali?”

“Lagipula, kita harus berkorban sampai tetes darah penghabisan untuk bertaubat, benar?”

“Benar atau salah, baik atau buruk semuanya omong kosong. Kau berhenti di situ. Entah itu Naga atau Penyihir, jika kau menghalangi jalanku … maka kami, akan menghentikanmu.”

—Lalu benarkah salah memilih jalan ini? Benarkah salah mengharapkan bantuan?

“Aku yakin doa meminta sesuatu itu angkuh. Kau hanya boleh berdoa meminta pengampunan.”

—Sekelebat cahaya terakhir dunia, seorang gadis yang belum pernah Emilia lihat terjaga ataupun berbicara telah terbangun.

Aku ingin berbicara baik-baik dengannya, pikir Emilia.

Perasaan tersebut cukup meyakinkan Emilia atas bantahan segala bentuk penolakan.


Pandangan Emilia menjelas, dan mendapati dirinya berada di padang rumput tertiup silir-silir angin.

Satu bukit kecil dengan meja putih di atasnya. Emilia duduk sendirian di kursi putih, tidak ingat apa yang terjadi beberapa detik yang lalu. Tetapi dia tahu sedang berada di Benteng Mimpi.

“Echidna?”

Jika ada yang menyambutnya di akhir Ujian, maka orang itu ialah pengawasnya, Echidna. Emilia mencari-cari dirinya.

Meskipun dapat melihat rerumputan ini membentang hingga ke ujung cakrawala, dia tidak melihat tempat berteduh atau satu sesuatu pun yang menunjukkan keberadaan orang lain. Apabila meninggalkan meja dan jalan-jalan, dia mungkin akan kehilangan mejanya dan tak pernah menemukannya lagi.

Semestinya Echidna ada di sini, tapi anehnya ia terasa jauh melampaui ufuk sana. Emilia menarik nafas biar dirinya tenang, ingin langsung bergerak bila tidak ada orang. Barangkali ada pintu keluar di suatu tempat. Emilia akan menemukannya dan keluar dari tempat ini. Tidak boleh buang-buang waktu lebih lama lagi di sini.

“Sudah lama, ya—haaa—tapi kenapa saat-saat seperti ini—huuu—selalu jadi bagianku—haaa? Bisa dibilang aku tidak menyukainya.”

“ …, auh.”

Melihat bola rambut yang tiba-tiba muncul di meja samping, Emilia membeku. Dia hanya menatap benda itu karena terkejut saat baru mau berdiri.

Lalu menelan ludah.

“Mm … reaksi yang dapat dipahami—haa—dan yang benar—huu. Bocah sebelummu kagak punya otak—haa.”

“—”

Setiap kata yang terucap oleh orang ini bercampur desahan malas. Dia adalah wanita yang agak lesu berambut magenta yang sangat panjang, mengenakan jubah hitam. Komentarnya tidak terasa menyakitkan sama sekali, dan orangnya kelihatan santuy.

—Bagiamanapun juga Emilia merasakan tekanan sihir yang terlampau kuat dari orang itu, begitu kuat seolah mencekiknya.

Kalau dia mau, kepala Emilia bisa hilang dalam sekejap.

Emilia telah mendapatkan kembali masa lalunya, dan sekarang mampu memanipulasi sejumlah besar mana sampai tubuhnya tidak sanggup menampung seluruhnya. Meski kemampuannya sebagai petarung solo meningkat drastic, dia merasa tidak punya peluang kemenangan melawan wanita ini.

Dia bisa membunuh Emilia semudah menampar lalat, dan Emilia tahu itu.

“Kau tidak perlu cemas—huu. Aku tidak berniat menyakitimu, atau melukaimu—haaa. Karena itu tidak berfaedah—huu. Tapi Echidna tidak ingin melihatmu, jadi dia—haa—memaksaku ke sini.”

“A-aku, mengerti….”

Emilia mengangguk malu.

Tekanan yang menyelimuti wanita ini tak kunjung reda. Tiada yang berubah tentang kemampuannya yang dengan mudah bisa menghancurkan Emilia. Namun wanita itu masih bisa mengalahkan Emilia kapan pun juga, fakta tetap tak berubah entah Emilia ketakutan atau tidak.

Emilia menarik nafas, menahannya, dan menghembuskannya. Melakukannya sembari memaksa dirinya untuk tenang.

“Kau di sini, di tempat Echidna … jadi kau juga penyihir?”

“—Aah begitu—haa—jadi kau lebih pemberani dari yang kuperkirakan—huuu. Kau tidak takut walau tengah menghadapi kondisi mendesak seperti itu—haaa—mungkin sifat sang ibu menurun padamu—huuu.”

“Kau mengenal ibuku?”

“Aku tidak boleh memberitahumu apa-apa, tapi ya—haaa.”

Hubungan tak terduga membuat Emilia menelan ludah, tetapi wanita itu terlihat sangat lelah setelah berbicara. Emilia bisa saja menyelidikinya, tapi kemungkinan besar takkan ada gunanya.

Sesaat Emilia mengucap dalam hati: Suatu hari nanti, dan memutuskan untuk membuang topik tentang ibunya. Dia telah melihat masa lalunya, melihat masa depan mustahil dan kini cahaya dari Fortuna dan Geuse bersinar dalam hatinya.

Saat ini hal itu saja sudah cukup baginya.

“Kau ingin aku memanggilmu siapa?”

“Menyenangkan sekali anak-anak yang tidka nakal—huu—aku ingin Typhoon mendapat mempelajarinya darimu—haaa. Namaku Sekhmet—huuu. Seperti tebakanmu, aku ini Penyihir Kemalasan—haaa.”

Sekhmet menyandarkan tubuhnya ke meja, menatap Emilia sambil menyeringai.

Kantong mata dan kulit pucatnya terlihat memprihatinkan, tetapi sosoknya menarik, dia adalah wanita yang cantik. Namun kata penyihir dan aura mengerikan yang terpancar mengartikan dirinya bukan orang biasa.

“Aku benar-benar tidak bisa—huuu—tidak peduli tentang bagaimana nama kami sebagai Penyihir diniai saat ini—haa—jadi tidak masalah—huu. Aku cuma ingin segera menyelesaikan permintaan ini—haa—dan kembali tidur—huu.”

“Emmm, jika memang merepotkanmu … tidak bisakah orang lain yang melakukannya? Tidak harus Echidna jika memang dia tidak ingin … tapi penyihir lain ada?”

“Kau takkan—haa—bicara dengan penyihir lain—huuu. Minerva satu-satunya orang yang bisa diandalkan disini —haa—tapi dia tak boleh menampakkan wajahnya padamu—huuuu.”

“Minerva….”

Irama bicara Sekhmet buruk karena sering berhenti merengkuh. Mendengar perkataan Sekhmet bahwa Penyihir lain lebih buruk lagi interaksinya membuat Emilia takut pada mereka. Namun pemikiran itu dikalahkan oleh perasaan kuat Emilia setelah mendengar kata Minerva.

“Minerva….”

Emilia bergumam sendiri sembari memiringkan kepalanya. Sungguh kata yang tak asing bagi benaknya, sesuatu terasa merangsang kepalanya untuk mengingat-ingat kembali. Sayangnya Emilia tidak dapat mengingat apa pun tentang kata itu hingga saat ini, ataupun dari ingatannya yang telah kembali. Nama itu terdengar aneh, bisa menghidupkan seseorang yang sepertinya dekat dengannya.

“Tidak ada gunanya membicarakan seseorang yang tidak di sini—haaa. Omong-omong aku disini untuk menyampaikan pesan dari Echidna—huuu. Lalu sisanya tergantung dirimu perkara gambaran apa yang didapatkan dari Ujian terakhir—haa. Pekerjaan yang mudah bagiku—huu.”

“Emmm, terimakasih atas bantuannya ….?”

“Kuanggap terlewati, ya—haa. Sekarang dengarkan baik-baik—huuu.”

Sekhmet memanggil Emilia yang merenung, dan membaringkan kepalanya di atas meja. Menatap Emilia sambil mendesah, menaruh tangan kanannya diatas meja juga.

“Di Ujian ketiga kau telah melihat masa depan—huu. Semua masa depan itu adalah kemungkinan yang akan terjadi—haa—di masa depan saat kau memutuskan untuk menantang Makam—huuu.”

“Kemungkinan, masa depan.”

“Semua masa depan itu mungkin akan terjadi—huu. Kemungkinan juga tidak akan terjadi satu pun—huuu. Tapi, mengingat kepribadian Echidna—haaa—bahkan aku pun tahu masa depan yang barusan kau saksikan tidak ada bagus-bagusnya—huuu.”

Apa pendapat penyihir lain tentang Echidna? Kurang lebih, sepertinya Sekhmet menganggap Echidna orang yang jahat. Emilia tidak bisa berkata banyak tentang itu.

Pendapat Sekhmet mengenai Echidna sebenarnya sedikit lebih buruk dari apa yang Emilia bayangkan, sialnya sulit menuntut penilaian yang lebih buruk daripada sebutan Penyihir jahat dari Emilia.

“Masa depan terbagi dalam jalur tak terbatas—begitu pula kemungkinan—haa,  masa depan yang kau lihat semuanya bagikan biji penuh tragedi—huuu. Setelah biji-bijinya tumbuh dan besar, bunga apa yang akan mekar .…? Haaa, sanggupkah dirimu menjalani hidup dengan berjalan di atas dunia penuh bunga beracun bermekaran yang mampu menyengsarakan semua orang …? Huu.”

“__”

Tetap diam, Emilia menatap serius Sekhmet.

Dia terlihat lelah setelah berpidato panjang. Tapi dia segera mengerutkan alisnya ketika melihat tatapan Emilia.

“…Aku cukup yakin sudah menanyakan sesuatu, haa.”

“Hah? Apa? Yang tadi itu pertanyaan? Setelah aku menjawabnya Ujian berakhir?”

“Begitulah—huuu, … walau, dari tujuanmu saja, sebenarnya Ujian sudah berakhir ketika kau tiba disini—haaa.”

Seakan-akan Sekhmet memberikan ronde gratis. Emilia nyengir senang. Tidak bermaksud buruk. Sayang sekali perkaranya gampang betul hingga mengejutkannya. Lagian, jelas sekali respon Emilia terhadap semuanya.

“Dunia yang berakhir tragis bagi semua orang. Tidak, aku tidak siap melihat semua itu.”

Dia memikirkan kenangan yang merobek-robek dadanya, cakar yang didengarnya. Dalam dunia gelap, di tengah warna-warni cahaya, Emilia mendengar ratapan mereka berkali-kali.

“Masa depan yang semua orang mungkin akan menemui akhir tragis. Dunia gelap sebelum ini, aku telah melihat banyak masa-masa itu. Masa mereka menangis, menderita, marah. Aku tak tahu rincian kejadiannya, tapi aku tidak ingin melihat masa depan semacam itu.”

“…Tapi, aku jamin misal melanjutkan jalanmu saat ini—hal seperti itu kemungkinan besar bisa terjadi—haaa. Apa kau akan melarikan diri? Huuu.”

“Tidak. Malah akan membuatku semakin menghadapinya.”

Sekhmet memicingkan mata saat Emilia menggelengkan kepala dan membusungkan dada.

Tekanan luar biasa hendak melahap Emilia. Namun semangat Emilia tidak kendur. Seumpama dia ingin menyerah, dia punya orang-orang yang mendukungnya untuk tetap maju.

“Kami akan berlari secepat mungkin sampai menghindari masa depan yang mengenaskan itu. Kalau masih tidak bisa, kami akan mengerahkan segalanya untuk melompati masa tersebut. Bila ada yang terjatuh, kami akan menariknya dan membangunkannya. Dan jikalau kami terus melakukannya, kami akan menyapu bersih semua kesedihan itu.”

“Kau kedengaran teramat percaya diri semata-mata demi menjadi orang yang ceroboh—haaa. Ketika kau hanya membicarakan angan-angan serta manfaatnya saja, kau akan hancur seketika tatkala dirimu terjatuh—huuu. Tidakkah kau berpikir hal seperti itu bisa terjadi? Haaaa.”

“Andai kami sendiri, bisa jadi.”

Emilia menjawab ejekan Sekhmet tanpa rasa takut. Berarti sikap Emilia adalah sikap yang bergantung pada orang lain. Karena hanya itu pilihan yang Emilia miliki, sebab tidak pernah dapat memilih satu hal pun untuk dirinya sendiri.

“__”

Sekhmet semakin loyo. Dia menghadap ke bawah meja, rambut menutupi raut wajahnya. Lalu ….

“Pfff, haaah … haah, hahahahah! Ya, benar! Jadi begitu ya! Ya, itu dia! Ya itu dia, tepat sekali, tentu saja itu jawabanmu sekarang! Ahhh lucu banget!”

“Apakah selucu itu?”

“Benar-benar menghancurkanku—haaa. Baiklah? Huuu. Jadi, Echidna, benar—haa. Padahal sudah mati tapi dia tuh orang gila sinting—huuu—sukanya menonton para penantang Ujian menderita karena masa lalu dan masa depan mereka seorang diri—haaa. Tahu rencananya akan hancur, dan jadi seperti ini … ahhh, ini lucu sekali—huuu.”

Sekhmet tertawa terbahak-bahak, nafasnya sampai sakit dan berbicara dengan ceria. Mengangkat kepala dan duduk tegak, bersandar di kursi belakang untuk melihat Emilia secara langsung. Mata Sekhmet nampak nostalgia sambil tersenyum.

“Ujian ini mengandaikan dirimu yang berjuang sendirian—haaa—dan jawabanmu adalah takkan menghadapi tantangannya sendirian—huuu—andaikan Echidna dengar ini, dia pasti tak akan menerimanya, semuanya akan nampak sangat serius—haaa.”

“Oh. Jadi seperti itu kemungkinan responnya …. Mhm, Aku juga jadi sangatttt ingin melihat ekspresinya.”

“Dia pecundang payah, jadi aku ragu dia akan membiarkanmu melihatnya seperti itu—huuu. Itulah hak istimewa yang disediakan untuk kami para penghuni mimpi—haaa.”

“Tidak adil sekali.”

Emilia cemberut, membuat ekspresi Sekhmet lebih ceria. Andai kata dilihat orang, keakuran mereka barangkali nampak seperti teman yang mengenal satu sama lain selama beberapa dekade.

“Meski begitu, sebagai gantinya, aku akan memberikan hasil Ujianmu—haaa. Seperti yang kau harapkan, tidak ada yang perlu dikeluhkan—saat ini, kau lulus dengan nilai bagus—huuu.”

“Sesederhana itukah?”

“Apa kau ingin jawaban yang lebih bagus atau mantra dramatis—haaa? Maaf tapi kau tidak bisa mendapatkannya dariku—huuu. Aku adalah pengawasnya sekarang, dan kata-kataku adalah penentunya—huuu …  ujian selesai tanpa masalah—haaa.”

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Sekhmet menjentikkan jarinya. Jentikan pertama dan kedua tidak terjadi apa-apa, tapi yang ketiga akhirnya terdengar suara klik—kemudian angin berhembus dari belakang Emilia. Emilia menoleh ke belakang, rambut peraknya berdesir-desir, dan melihat kemunculan sebuah pintu di dasar bukit. Tampaknya tidak terhubung ke tempat mana pun, tetapi Emilia secara instuitif tahu pintu ini adalah pintu keluar Benteng Mimpi.

“Maksudmu … begitu aku keluar lewat pintu itu, Ujian berakhir?”

“Tepat sekali—haaa, Selamat—huuu, setelah empat abad—haaa sejak makam ini dibangun dan Ujian Echidna dimulai, belum pernah ada seorang pun yang sanggup mengalahkan Ujian ini—huuu. Yah, bukan berarti ada banyak penantang dulunya—haaa.”

“… ya. Tidak banyak orang pergi ke Sanctuary, dan memenuhi persyaratan untuk memasukinya, ternyata sangat sulit.”

“Nah itu juga, tapi … yah, tidak amat penting—huuu, lagi pula sudah berakhir—haaa.”

Emilia mulai terganggu dengan Sekhmet yang makin negatif, namun dia tak ingin membahasnya. Lebih pentingnya lagi, Emilia sungguh gembira mendengar Ujian telah berakhir.

Sejujurnya, dia belum merasakan pencapaian apapun. Masih belum membuatnya merasakan apa pun. Dia sangat menderita karena Ujian pertama dan hampir hancur karenanya, menganggap semua Ujian ini mustahil ditaklukkan.

Dia datang ke Makam bertekad untuk menang, biarpun begitu ….

“Kau tampak tidak setuju dengan ini—huuu.”

“Emmm, ya ada yang mengganggu sedikit, agak sangatttt menggangguku”

“Echidna tidak mendesain Ujian yang tidak dapat diselesaikan—haaaa. Tidak benar juga menyebutkan keseluruhannya, pokoknya kayak gitu—huu.

Saat seorang penyihir menggosip penyihir lain, yang digosipkan boleh jadi benar. Emilia mengangguk ragu sebagai persetujuannya. Sekhmet menatap Emilia, memeriksanya, sebelum melambaikan tangannya di atas meja.

“Tatkala kau keluar—haa—dari pintu itu, artinya salam perpisahan dari Benteng Mimpi ini—huuuu. Berarti akhir Ujian—haaa. Serta kau terkualifikasi untuk memasuki ruangan—huu—di belakang ruang Ujian—haaa.”

“Buka, pintunya. Hmmm, benar, Dan jika aku kesana … apa yang menungguku?”

“Mekanisme yang membuat Makam berfungsi—huuu. Ketika dihentikan—haaa—tugas Sanctuary akan berakhir—huuu. Kau akan tahu bagaimana menghentikannya pas di sana.”

“Bila aku mematikan fungsi Makam maka tugas Sactuary berakhir sudah, dan Penghalangnya akan menghilang.”

Jika Penghalang Sanctuary menghilang, maka Emilia bersama penduduk Sanctuary dapat keluar dari hutan.

Emilia tidak tahu berapa orang yang akan pergi melihat dunia luar ketika Penghalang dibuka. Ataukah kehidupan di luar sana betul-betul memberkati mereka.

Tapi mereka tidak bisa tetap di sini lebih lama lagi. Sebagaimana Subaru membantah Garfiel, Emilia harus meyakinkan mereka. Inilah akhir tempat yang tak terjangkau waktu.

Ketika waktu mulai bergerak lagi, bagaimana mereka akan bertahan hidup? Kalau bisa, maka Emilia ingin mencari jawabannya bersama mereka.

Dia bisa memandu mereka, membantu mereka dari belakang, dan tidak peduli bagaimanapun sulitnya, dia akan berjalan di sisi mereka.

Meski itu perasaan seorang pemimpin yang tak dapat diandalkan, mudah goyah, dan belum berkembang.

“Sudah cukup.”

Ucap Sekhmet, seolah tahu isi kepala Emilia. Komentar itu sendiri tidak disertai keluhan khasnya. Sekhmet berkata demikian agar Emilia menatapnya secara langsung, Emilia menelan ludah dan tersenyum.

“Hmmm, terima kasih. Itulah yang kuinginkan.”

Kemudian, Emilia bangkit berdiri. Dia menyisir rambutnya sampai rapi, selanjutnya menundukkan kepala, hormat kepada Sekhmet.

Emilia tidak tahu kenapa melakukannya. Rasanya salam perpisahan saja tidak akan cukup. Mengapa dia merasa sangat bersyukur? Sekhmet tentunya takkan memberitahu.

Mengembalikan kursinya ke tempat semula, menuruni bukit menuju pintu keluar. Pintunya terasa rapuh selayaknya pintu itu yang berdiri sendirian di tengah-tengah padang rumput, Emilia sedih ketika mesti meninggalkan Benteng Mimpi.

Meja putih, angin sepoi-sepoi. Sinar matahari cerah, cuaca sempurna.

Akan sangat menyenangkan bila mengadakan pesta teh di sekitar meja itu.

“Sekhmet-san bisa sampaikan sesuatu kepada Echidna?”

“… apa tuh—haaa.”

“Andai kata takdir mempertemukan kita lagi, mari pesta teh. Sekalipun mengdakannya di Benteng Mimpi, aku pasti akan menerimanya.”

“—Tidak masalah sama sekali. Aku akan menyampaikannya.”

Tangannya di gagang pintu, Emilia melirik Sekhmet yang tersenyum. Emilia balas tersenyum dan membuka pintu.

Kegelapan menyelimuti dunia di balik pintu itu. Entah kenapa Emilia tidak merasa ragu untuk melangkah ke sana. Gadis itu tahu betul ke mana pintunya mengarah.

Dia telah mengatasi masa lalunya, memilih masa kininya, dan sekarang menemui pintu menuju masa depan.


—Terasa agak lemas, Emilia berdiri di atas tanah keras.

Kembali dari Ujian tidak sama seperti bangun dari mimpi. Tubuhnya tidak tertidur, namun kesadaran direnggut dari tubuhnya dan dibawa ke tempat lain. Jiwa dan raganya berada di tempat berbeda, tahu bahwa jiwanya tidak tertidur, tentu saja berbeda dari tidur biasa.

Kalau sama seperti tidur pada umumnya, maka ingatan Emilia pasti agak kacau saat bangun, cukup banyak waktu berlalu sampai dia bangun sepenuhnya. Puck-lah yang pertama kali membangunkannya, sekarang dia tidak hadir, dan waktu ketidakhadirannya sangat lama. Kini dia harus menghadapinya sendiri, demi masa depannya.

“—Ah, aku harus berhenti memikirkannya.”

Emilia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk, dan menggerakkan tangan ke dinding sambil bangkit. Dia merasa jauh lebih baik. Masih tidak terasa seperti melewati Ujian. Seandainya tutur Sekhmet dalam mimpinya benar—.

“Aku seharusnya bisa membuka pintunya.”

Dia melihat bagian belakang ruangan, melihat pintu batu di seberang ruangan kecil. Pintu itu tidak bergerak seinchi pun biar telah didorong atau ditarik, layaknya dinding Makam yang bersinar redup, pintu itu juga kelihatan diselimuti cahaya.

Tidak terkunci. Mungkin itu artinya. Langkah kaki Emilia lebih cepat ketika dia mendekati pintu itu, menahan nafas sejenak.

Di sisi lain pintu ini ada sesuatu yang bisa membebaskan Sanctuary. Sekhmet bilang dia pasti tahu apa yang harus kulakukan, jujur saja Emilia resah apabila dia tidak tahu. Emilia tidak terlalu percaya dengan kecerdasannya.

Memangnya dia tidak diperkenankan membawa orang lain bersamanya? Biarpun begitu, selain sedikit sekali orang yang sampai ke sini, roman-romannya si pintu takkan terbuka jika ada orang lain di sini.

Mungkin segalanya jadi begini karena semuanya berjalan dengan lancar. Emilia tidak sanggup menghapus paranoidnya tentang pintu ini.

Mungkin semuanya tipuan, dia bertanya-tanya. Kau boleh lebih berate-hati dari biasanya, tapi kehati-hatian itu mesti ada hubungannya dengan Echidna. Perasaan waspada sebab memahami kepribadian orang yang mengatur semua ini.

“Baiklah, pokoknya harus masuk. Oke, ini dia.”

Mengepalkan tangan untuk menyemangati dirinya lalu menempelkan tangan ke pintu. Didorong atau ditarik? Selagi mempertimbangkannya, tepat saat ujung jari menyentuh pintu—

—Pintu batu itu bergeser ke samping dan membukakan jalan bagi Emilia.

“… sepertinya Echidna sedang menertawaiku sekarang.”

Gumam Emilia, cemberut karena ragu-ragu tadi.

Awalnya Emilia merasa tipu muslihat pintu ini merupakan bagian Ujian yang sangat rumit dari Echidna, sekarang dia merasa lebih tenang.

Gadis itu mendesah, suasana hatinya kembali mencerah lalu melangkah ke dalam ruangan.

Pintu itu membukakan ruangan yang luasnya setengah ruang Ujian.

Luasnya lebih kecil dari ruangan yang sudah kecil. Semata-mata seukuran dua kasur yang ada di mansion Roswaal. Emilia tidak menyangka ruangannya sesempit ini. Matanya melebar melihat betapa sempitnya ruangan itu, seketika dia melihat benda di bagian belakang ruangan, si gadis kaget dan otomatis menutup mulut.

—Di bagian belakang ruangan terdapat sesuatu seperti peti mati transparan, dengan tubuh wanita di dalamnya.

Waktu berhenti, menjaga sosoknya cantiknya sampai-sampai kau penasaran dia sedang tidur atau tidak.

Peti mati tersebut nampaknya terbuat dari batu sihir, sewaktu Emilia menyentuh peti dengan niat memeriksa kemurniannya, Emilia terkejut mendapati betapa murninya kualitas batu sihir itu. Kristal bermutu tinggi peti bahkan lebih mantap daripada wadah lama Puck.

Seorang wanita yang tersegel dalam batu sihir lebih hebat dari Roh Agung Puck—Tentu saja wanita itu tidak bernafas. Emilia tak merasakan tanda-tanda kehidupan darinya, dan yang tersisa adalah jasadnya.

Rambut panjang nan halus berwarna putih bagai es. Pipi serta leher yang terlihat bagian kulitnya menunjukkan sosok putri salju cantik. Emilia bernafas di hadapan wajah menakjubkannya. Sosok indah mengenakan pakaian serba hitam sempurna, tiada warna yang menonjol, jubahnya bak gaun yang ajaibnya dibuat cocok untuknya.

Seorang wanita cantik yang tergambarkan dua rona, putih dan hitam.

Kecantikan sejati—tidak memerlukan perhiasan berlebihan—mungkin orang lain akan ngeri jika kudu berhadapan dengan wajah hitam-putih ini.

“Dia sangat cantik…”

Isi pikiran Emilia terujar dari bibirnya.

Emilia akan mendapati wanita lain yang cantiknya bukan main misalkan bercermin, tapi bukan saatnya berpikir begitu.

Sungguh-sungguh terpesona oleh keindahan jasad di depan matanya sampai-sampai merasa tersentuh. Wanita cantik terbalut warna hitam dan putih.

Seseorang yang ditemui Emilia di Benteng Mimpi, Sang Penyihir Kerakusan. Jauh di dalam Makam, menunggu seseorang untuk bisa mengalahkan Ujian Sang Penyihir Kerakusan. “Dia mirip Echidna … tapi siapa dia?”

Seorang wanita yang mengingatkan inkarnasi Hasrat Untuk Memiliki Pengetahuan, namun orang itu belum pernah Emilia jumpai.