RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 127B

Posted on

Jangan Menyerah

Penerjemah : Thumbleback

Editor            : DarkSoul

Sebuah kamar sempit berisikan peti mati yang membungkus tubuh seorang wanita di dalamnya.

“Jadi, jasad di peti ini … adalah kunci untuk membuka Penghalang?”

Kata Emilia sembari melihat seisi ruangan. Tidak ada benda mencurigakan seperti tuas atau batu sihir lain di sana. Satu-satunya hal yang berfungsi di ruangan tersebut hanyalah peti mati itu.

“Seriusan deh, dia ini siapa … apa mungkin ibunya Echidna?”

Teringat kembali akan penyihir yang selalu menatap jijik Emilia.

Echidna juga berambut putih dan berpakaian serba hitam layaknya wanita dalam peti mati itu, dan Emilia ingat betul wajah atraktifnya.

Banyak kemiripan antara wajah Echidna dengan wanita yang ada di dalam peti itu, pikir Emilia.

Seperti matanya yang sedang tertutup, bentuk bibir dan hidungnya.

Bedanya, Echidna terlihat seperti anak usia remaja akhir sedangkan wanita di dalam peti ini tampak berumur sekitar awal dua puluhan.

Barangkali menebak wanita ini kakak Echidna lebih masuk akal daripada ibunya.

“Dan … tidak tertulis nama. Tapi pasti tempat peristirahatan akhir Echidna.”

Bagaimana jika setelah diselidiki ternyata wanita ini bukan Echidna. Bagaimana kalau istilah Makam ternyata hanya tipuan, atau —

“Mungkinkah ini Echidna yang asli, dan perempuan yang kulihat dalam Benteng Mimpi bukan Echidna?”

Teori gila yang membuat Emilia sampai menggelengkan kepala. Terlepas dari apa yang dikatakan Echidna, pasti Sekhmet menyebutkan sesuatu. Dan kini Emilia sudah terlambat memanggil orang lain Echidna.

“Tempat ini memang Makam Echidna, namun orang lain sedang beristirahat di dalamnya … mungkin begitu kejadiannya.” bila benar, seharusnya mereka mengganti nama Makamnya.

Katanya Echidna Beristirahat di Sini. Nyatanya Makam ini berisi orang lain, Masalah akan timbul kalau ada sesajen yang dilimpahkan kepada orang yang salah.

Bukan konklusi terakhir, Emilia lanjut memeriksa peti itu tanpa menyentuhnya sekali pun. Gadis itu mendapati mana yang diserap dari bumi dan dialirkan ke peti mati serta bangunan Makam ini, mana itu juga dimanfaatkan untuk mendorong semacam sistem algoritma.

Muatan mana yang diisap terlampau kecil, namun sanggup menciptakan Penghalang besar, artinya mana dikuras dari tempat yang cukup besar.

Makan yang Terhubung ke Bumi demikianlah kira-kira istilah tepatnya.

Bisa jadi luas area yang digunakan sebagai sumber energi adalah seisi hutan di sekeliling Sanctuary. Jumlah mana yang diserap Makam dalam satu waktu sangat minim, sehingga tak membebani kondisi alam sekitar yang berperan sebagai sumber tenaga.

“Menakjubkan … sangat-sangat menakjubkan, aku tak tahu bagaimana caranya …. ” algoritma sihir yang menyerap aliran mana dari bumi dan membuat Makam hidup.

Emilia bisa menulis algoritma sederhana, tapi algoritma yang digunakan Penghalang Sanctuary jauh melampaui kemampuannya. Sulit mengaktifkan kembali algoritma Makam yang di non-aktifkan. Siapa pula yang ingin mengaktifkannya lagi.

“Itu dia. Jika kuhentikan aliran mana di sebelah sini, mungkin akan menghentikan pasokan energinya”

Emilia mengikuti aliran mana dan menemukan titik inti pusatnya yang mengarah ke Penghalang, sedangkan peti mati adalah intinya.

Dalam peti mati, terdapat seorang wanita yang melipat tangan di atas perut—di situlah pusat mana mengalir. Seandainya aliran mana pada titik itu diganggu, dampaknya akan mengakhiri seluruh mekanisme Makam.

“__”

Sesaat Emilia merasa ragu. Menghentikan mekanisme Makam akan berimbas pada Ujian percobaan, berarti gadis itu takkan bisa lagi mengunjungi Benteng Mimpi.

—Pesta teh dengan Echidna hanya akan menjadi angan-angan belaka.

Penyihir lain, atau paling tidak Sekhmet mengenal ibu Emilia. Gadis itu kagum sekaligus nostalgia atas kekuatan luar biasa Sekhmet. Dia ingin tahu makna dibalik keakraban itu.

Apabila Emilia tidak bisa masuk ke Benteng Mimpi, maka tujuannya akan semakin jauh. Yang artinya —

“—Aku tidak sanggup membiarkannya, ya?”

Sambil bergumam, Emilia mengacaukan aliran mana yang mengalir dari peti mati lewat ujung jarinya.

Kekuatan yang menopang Sanctuary dan mendirikan Penghalang mulai berubah. Mengintervensi bagian-bagian vital algoritma, perubahan berangsur-angsur membesar

Cahaya yang menyelimuti dinding Makam seakan memudar, seluruh tanda algoritma telah menghilang dari batu sihir peti. Semuanya telah meredup hingga menyisakan setitik cahaya di batu sihir tempat si wanita bersemayam.

“ … Kurasa sudah berakhir.”

Tidak melihat perubahan apa pun, Emilia dengan seksama memerhatikan sekitarnya. Aliran mana yang sebelumnya menyelimuti Makan telah sirna, meninggalkan makam yang kini tak lebih dari bangunan batu besar biasa.

Sembari bernapas lega, Emilia bersandar di peti mati.

Seseorang tanpa kualifikasi saat ini mungkin bisa memasuki Makam. Dia berniat mengajak Roswaal atau Lewes ke dalam Makam guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mengungkap identitas asli wanita yang terbaring di sini.

“Sudah selesai … ya, ini sudah berakhir …. ”

Sambil mengulangi kalimatnya berkali-kali, Emilia berusaha menenangkan diri karena tidak menyangka telah menyelesaikan Ujian Percobaan yang ia pikir mustahil untuk dituntaskan.

Sebelum Emilia menantang Ujian, dia sok berlagak di depan Roswaal.

Roswaal pun bilang: Kau hanya harus mendapatkan hasil yang kau dambakan.

Emilia tidak paham apa maksud Roswaal berkata demikian, namun dia ragu Roswaaal ingin Emilia mampu mengalahkan Ujian. Walaupun Roswaal yang mendukungnya di sini, memperkenalkannya sebagai Kandidat Seleksi, membuat Emilia kian bingung terhadap motifnya.

“Guru … dia memanggilnya begitu, kan?”

Emilia teringat kepada orang yang Roswaal panggil Guru.

Bahkan mahluk yang menempati kursi puncak klasemen penyihir seperti Roswaal pernah punya seorang master.

 “Dan mungkin … orang itu adalah dirimu.”

Roswaal master, orang yang dia panggil Guru, telah membangun Sanctuary bersamanya.

“Dan mungkin … kaulah guru itu.”

Pikir Emilia sambil membelai lembut peti tersebut. Jika Roswaal ingin bertemu dengan sang guru, sosok yang tak tergantikan baginya, maka wanita ini paling cocok dengan dugaannya.

“—Aku harus mendiskusikannya bersama semua orang.”

Menggelengkan kepala sembari mengalihkan pandangannya dari peti.  Meski perlu menunda persoalan wanita yang tinggal di Makam. Kata Subaru, jika mereka gagal membebaskan Sanctuary esok malam—senja lusanya—akan terjadi sesuatu yang buruk.

Andaikan ada yang aneh di Sanctuary, lari secepat mungkin, ucapnya.

Kendati punya cukup banyak waktu ekstra, gadis ini tidak tahu apa yang menunggunya di luar Makam.

Emilia berlari keluar dari ruangan sempit itu menuju lorong dan berjalan ke pintu keluar. Jika semuanya masih sama, maka Lewes dan para penduduk Sanctuary semestinya berada di luar Makam hendak menyambutnya.

Langkah kaki Emilia terdengar jelas di atas ubin batu sambil berlari menyusuri lorong Makam dan keluar dari sana ke tempat terbuka.

Dimana ….

“—Hah?”

—Mendapati badai salju yang hebat tengah mengamuk di Sanctuary, Emilia menghembuskan nafas putih berkabut


Salju menutup seluruh bidang pandang.

Raungan angin dingin terdengar jelas, merenggut kehangatan tubuh Emilia. Setelah beberapa kali meniup napas putih, mata kecubung Emilia berkedip-kedip dan dirinya membeku syok.

—Apa yang sebenarnya terjadi!?

“—Emilia-sama!”

Angin menderu. Telinga membekunya kesakitan.

Udara es rasanya seakan-akan mengiris kulit Emilia yang berpakaian tipis, kala itu ia mendapati sebuah suara yang memanggil dari balik badai salju.

Salju sudah menumpuk sampai lutut dan mengancam mau menelannya. Setiap langkahnya sangat berhati-hati, menembus salju lalu mendapati banyak sosok yang mengumpul dalam selubung putih.

Merekalah penghuni Sanctuary, sedang menunggu Emilia di tengah badai salju, tidak kembali ke rumah masing-masing —

“Semuanya! Kenapa kalian masih di luar … hah?”

Terlihat semua orang sedang berkumpul untuk menghangatkan badan.

Ada sekitar empat puluh penghuni Sanctuary termasuk Lewes. Angkanya besar, dan juga tampak orang-orang yang mestinya tidak berada di tanah percobaan.

“Nona Emilia! Apa Ujian telah berakhir!?”

Terlihat seorang anak muda berambut cepak.

Emilia tahu dia. Karena pernah berbicara dengannya sebelum pergi ke Sanctuary, meski tidak tahu namanya

Dialah pemuda dari Desa Arlam, seseorang yang seharusnya sudah pergi meninggalkan Sanctuary beberapa jam yang lalu atas instruksi Otto, membuat mata Emilia membelalak terbuka. Yang mengejutkannya lebih-lebih lagi bukan itu saja.

Pemuda tersebut sebagai pemimpin, dia dan rekan-rekannya mengangkut semua penghuni Sanctuary ke dalam karavan naga untuk bertahan dari badai salju.

“Ke-kenapa semuanya …? Tapi, kenapa kau tidak menyelamatkan diri?”

“Atas perintah Subaru-sama dan Otto-san. Mereka bilang naga tanah tahu jalannya, jadi langsung naik saja”

“Lalu kenapa!? Tidakkah kau lihat betapa bahayanya di sini sekarang?”

“Ya kami sudah tahu, dan kami juga diberi tahu —.”

Menggertakkan giginya kemudian mengangkat kepala sambil menunjuk luar hutan, pemuda itu berkata.

“—Untuk menunggu di luar hutan, lantas kembalilah ketika ada sinyal dari Sanctuary dan selamatkan orang yang tinggal di sini.”

“Hah?”

“Seperti Nona Ram dan lainnya. Omong-omong, mereka menembak sihir api ke langit. Begitu melihatnya, kami langsung bergegas kemari dan mengangkut semuanya ke karavan, kemudian pergi.”

“Siapa yang menyuruhmu?”

“Otto-san.”

Mendengar nama Otto membuat Emilia mengingat seorang pedagang yang tampangnya lusuh.

Terlepas jenis kesan Otto, dia tetap teman Subaru. Setiap kali Emilia melihat mereka berbicara riang, kian menegaskan bahwa Otto adalah seseorang yang mampu menandingi Subaru. Lelaki itu pasti telah merencanakan banyak hal di Sanctuary, dimulai perlawanan Garfiel, dan berperan sebagai asisten Subaru.

Berarti instruksinya akan memberi dampak besar.

“T-tapi, tindakanmu ini sungguh ceroboh. Badai saljunya ekstrim … kau tahu keputusan ini gila!”

Pria itu terdiam.

“Ada apa?”

Pemuda itu menatap canggung Emilia lalu memalingkan wajahnya. Emilia ingin tahu maksud reaksinya, tidak mendesaknya lebih jauh.

Mata kecubung Emilia menatapnya. Pria itu menyentuh alis, dan menghembuskan nafas putih beku.

“Otto-san bilang sesuatu yang sangat berbahaya akan datang bila salju turun. Karena ada tenggat waktu sampai salju turun … dia menyuruh kami segera meninggalkan hutan.”

“Mereka bahkan tahu akan turun salju … tidak, lupakan itu. Lalu kenapa kau malah kesini!?”

“—Karena salju telah turun.”

Dengan tegas pemuda itu menyampaikan alasannya kepada Emilia. Tatapannya yang penuh percaya diri membuat Emilia terdiam.

Mereka tahu kalau salju turun adalah tanda bahaya. Mereka melihat hujan salju di Sanctuary, dan tahu bahwa mereka telah mencapai batas waktu yang ditenggatkan sebelum bahaya datang. Tahu itu, mereka malah berkumpul di sini.

Malahan menempatkan posisi mereka dalam bahaya.

“Kami menduga Subaru-sama atau Anda sendiri telah menyelesaikan Ujian.”

“__”

Tersenyum masam, pria itu menjawab pertanyaan Emilia.

Jadi orang-orang yang mengevakuasi karavan di belakang Emilia adalah para pemuda desa Arlam. Tujuannya adalah menyelamatkan penduduk Sanctuary. Penduduk desa lain pasti telah dievakuasi dan meninggalkan mereka. Mereka yang masih tinggal terpaksa mengevakuasi dengan berjalan kaki. Jadi begitulah pasukan Desa Arlam tiba di sini, sebab memutuskan inilah jalan yang terbaik.

“Nona Emilia, jika Ujian telah berakhir … bisakah mereka keluar dari tempat ini?”

“Y-ya, seharusnya bisa. Tapi salju dan angin ini …. ”

Pria itu menatap tanah, menggigit lidah fustrasi. Sulit menembus tumpukan salju tebal ini meski menggunakan karavan naga. Mereka kini terdampar.

Kalau saja sekurang-kurangnya mereka bisa menemukan tempat hangat, untuk berlindung dari hawa dingin—

“Seandainya kita tidak bisa mencapai Katedral … paling tidak kita bisa menuju Makam. Mana di tempat itu sanggup menjaga kita semua agar tetap hangat, dan kita tak perlu cemas kalau-kalau bangunannya akan runtuh karena salju.”

“Apa kami bisa masuk?”

“Aku telah menonaktifkan algoritma berbahaya Makam, sekarang semuanya sudah normal, jadi semuanya bisa masuk. Omong-omong, apa kau bisa membawa semua orang ke dalam Makam? Bawa masuk juga naga tanah, lepaskan mereka dari karavannya.”

Keenam naga tanah membawa pasukan Desa Arlam hingga ke sini. Bahkan persis sekarang, para naga itu tengah melindungi empat puluh orang. Mana mungkin mereka dibiarkan tinggal di karavan.

Pria itu mengangguk seraya membalas, “Segera.”

Harusnya sudah cukup untuk menghadapi salju di luar, yang menjadi masalahnya adalah bahaya yang akan datang setelahnya.

“Coba kita bicarakan semua ini sebelumnya!”

Emilia mengeluh karena kekurangan waktu dan seharusnya membicarakannya terlebih dahulu bersama Subaru sebelum menantang Ujian. Mungkin Subaru tidak ingin membuat Emilia khawatir.

Sekalipun senang karena kekeraskepalaan Subaru, konyol sekali kalau dipikir akan menghambat reaksi Emilia terhadap bahaya ini.

Terbersit tiga orang dalam kepala Emilia yang mungkin mengetahui masalah salju ini. Antara Roswaal, Ram, dan—

“Kerja bagus sudah bisa mengalahkan Ujian, Emilia-sama.”

“Lewes-san”

Sesosok wanita berambut merah muda melompat dari karavan ke dataran bersalju—Lewes. Karena tubuh pendeknya dia mati-matian berusaha menghampiri Emilia selagi si gadis sendiri mendekatinya.

“Ujian sudah berakhir! Kenapa kalian semua malah di sini!?”

“Seluruh penghuni Sanctuary dan Penduduk Desa Arlam ada di sini. Tapi..”

“Tetapi?”

“Nona Ram dan Roz-bo tidak ada. Mereka berdua pasti berada di suatu tempat saat salju turun.”

Emilia memerhatikan semua orang dan karavan naga.

Dirinya tidak mendapati pelayan berambut merah muda maupun pria berbaju eksentrik itu.

“Jika aku tidak mencari mereka … Lewes-san! Apa kau tahu? Apa yang akan terjadi di Sanctuary dengan semua salju ini?”

“___”

Mendengar pertanyaan gadis tersebut, wajah Lewes menegang dan ia memandang ke bawah. Emilia tahu bahwa Lewes pasti paham betul bahaya seperti apa yang akan datang menyerang.

“Tolong beritahu aku, Lewes-san. Kita harus mencegahnya.”

“Kau tahu sendiri perkiraan waktunya tidak tepat. Su-bo bilang Roz-bo akan menjatuhkan salju besok malam, pasti ada yang salah kalau salju turun sekarang …. ”

“Kesalahan apa, salju sudah turun sekarang! Kita harus sebisa mungkin untuk menghadapi salju ini! Lewes-san!”

Emilia menepuk pundak Lewes untuk meyakinkan wanita kerdil itu.

Raut wajah Lewes memasam selagi menatap Emilia yang terheran-heran.

“A-apa yang salah, Lewes-san.”

“ … Nona Emilia. Pernahkah kau pergi ke bangunan yang terletak jauh di dalam hutan Sanctuary.”

“Jauh ke dalam hutan? Tidak, belum … ”

Emilia memiringkan kepalanya karena bingung.

“Kau tidak bohong … ”

Ucap Lewes, sebelum menatap ke Makam di belakang Emilia.

“Kalau begitu adakah sesuatu di dalam Makam … yang terlihat spesial, mungkin? Seperti, barangkali, batu sihir raksasa, atau sesuatu semacamnyaa.”

“—Ada sebuah batu sihir yang sangatttt besar. Aku ingin mengajakmu dan Roswaal untuk melihatnya nanti …. ”

Emilia melihat sekeliling dan membisikkan telinga Lewes.

Sehingga orang-orang yang sedang memindahkan naga tanah tidak mendengar pembicaraan mereka.

“Ada seorang wanita di dalam batu sihir itu. Aku tidak tahu siapa dia.”

“__”

Kabar tersebut mengguncang Lewes.

Ia membuka matanya lebar-lebar dan menatap arah Emilia. Membuang nafas dalam-dalam-dalam.

“Kalau begitu …. ” Lewes mengangguk paham akan sesuatu.

“Baiklah, Nona Emilia, perintahkan aku. Aku berkewajiban menjawab dan mengikuti perintahmu.”

“Aku tidak menyuruh apa-apa!”

“Dengarkan aku. Sesuatu yang kau sentuh di Makam adalah sebuah batu sihir sebagai syarat Wewenang atas Lewes. Kau sekarang sudah punya kualifikasi untuk menggunakannya yang dulu dimiliki Gar-bo. Aku … tidak, kami akan mematuhimu. Tolong perintahkan kami apa pun yang kau inginkan.”

Dengan jawaban serius itu Lewes merendahkan tubuhnya, ingin berlutut dan mengubur dirinya ke dalam salju, membuat Emilia panik. Gadis itu meraih bahu Lewes untuk menghentikannya.

“Aah! Oke, Baiklah! Semisal aku bisa menyuruhmu melakukan sesuatu, Lewes-san. Kalau begitu tolong jelaskan apa yang akan terjadi ketika salju turun di Sanctuary.”

“Su-bo bilang ketika salju turun di Sanctuary, Monster Iblis Kelinci Besar akan datang. Mereka tertarik oleh mana dari algoritma yang menyebabkan perubahan masif seperti mengubah cuaca menjadi bersalju.”

“Algoritma mengubah cuaca … kalau begitu, pasti ada yang menyihirnya!?” Lewes mengangguk pelan.

Sihir yang cukup kuat sampai mampu memanipulasi cuaca. Puck sanggup melakukannya kalau dia serius. Membuat roh kucing itu sebagai kandidat penyihirnya. Tetapi mengingat sikap Lewes dan konteks situasinya, Emilia langsung tahu si pelaku.

“… apakah pelakunya Roswaal?”

“Bisa jadi. Aku pikir Nona Ram pergi menghentikannya. Tapi jika salju tetap turun, mungkin saja …. “

“Berhenti. Aku tidak ingin memikirkannya. Pokoknya aku harus menemukan mereka. Lewes-san, aku akan mencari di desa. Sekiranya kau tahu di mana kemungkinan mereka—”

“Tidak perlu, Emilia-sama.”

Ucap Lewes dengan percaya diri.

Seakan-akan tahu isi kepalanya, membuat Emilia terkejut, dan—

“—Kami para Lewes punya tugas untuk mengawasi semua yang terjadi di Sanctuary. Kami akan menemukan mereka dalam sekejap.”

 Ucap Lewes mengkonfirmasi perintah Emilia.


Ram terbaring tidak sadar, kelihatan seperti orang yang sedang terlelap.

“ … Ram?”

Roswaal menarik tubuh pelayan itu ke dalam pelukannya, menyentaknya. Namun Ram tidak menjawab apa-apa.

Gadis ini. Yang mengutamakan Roswaal lebih dari apa pun. Ram.

Tentu saja Ram tidak bereaksi sama sekali.

Gadis itu sedang sekarat sekarang, dan itu semua karena Roswaal. Kitabnya yang terbakar membuatnya murka. Penglihatannya mendadak memerah, tidak tahu mesti melakukan apa lagi, Roswaal tahu betul ia tidak bisa memaafkan perbuatan Ram, lalu—

“___”

—Menyerangnya dengan bola api yang meledak persis di hadapan pelayan tanpa pertahanan itu.

Kekuatan Oni tidak sempurna milik Ram terlalu dipaksakan, tubuhnya terbebani dan kehabisan tenaga di awal-awal pertarungan. Tubuh Ram telah mencapai batas saat bola api itu menerjangnya.

Hidupnya kini diujung tanduk.

“ … Ram.”

Roswaal tak dapat lagi mengingat pemikiran pendeknya selagi mendekatkan tubuh Ram dan menyentuhnya.

Bahkan kini, pria itu memeluk erat Ram yang sedang tertidur. Kepalanya tidak memikirkan apa-apa lagi, selain pelayan setianya.

Selama ini Roswaal hanya menganggap Ram sebagai pion yang dapat diandalkan.

Wanita itu melewati banyak cobaan berat karena Roswaal, serta kontrak yang mengikat mempertahankan hubungan sederhana di antara keduanya.

Roswaal telah mencurahkan segenap pemikiran dan mengungkap semua tujuan hanya kepada Ram. Penyihir itu percaya bahwa ketika suatu saat tujuannya telah tercapai, dia akan menyerahkan hidupnya kepada Ram sebagai hadiah atas kesetiaannya.

Tetapi Ram mengkhianati Roswaal di tengah-tengah usahanya.

Ucapan Ram benar, berdasarkan kontraknya, apa yang tertulis di Kitab tidak terjadi seperti yang dikatakan Roswaal. Karena itu Ram memberontak beberapa kali sebelum membalaskan dendamnya..

Roswaal tidak bisa menyalahkan Ram atas tindakannya. Seumpama terpaksa mengatakan sesuatu, ia ingin Ram menunda balas dendamnya dan merencanakannya lagi ketika status Penghalang di Tanah Percobaan telah hilang. Sementara pertaruhan yang dibuat oleh Roswaal dan Subaru hampir mendekati akhir. Garfiel mendadak jadi baik, kemudian muncul beberapa simpatisan yang tampaknya mendukung Emilia tatkala kembali menantang Ujian, ujung-ujungnya ucapan Subaru tidak lebih dari ocehan orang lemah belaka.

Menentang masa depan yang telah ditakdirkan pada dasarnya mustahil. Jalan untuk masa depan itu mungkin berubah, tapi rangkaian peristiwa yang terjadi pasti akan mengarah ke tujuan akhir yang telah ditetapkan. Mana kala seseorang menyimpang dari jalan takdir, yang menanti selanjutnya adalah kehancuran.

Sudah tahu tapi tetap menolak, membuat Roswaal geli tertawa. Pria itu tahu, tapi dia juga takut terhadap tindakan mereka, sekaligus membuatnya cekikikan.

Kenapa mereka ingin mengubahnya? Penyihir itu tidak paham

Ketika parameter perasaan seseorang telah mencapai puncak, jangan harap akan akan pudar begitu saja. Misal kau mencintai seseorang, andai kata hatimu pernah membara karena cinta kepada seseorang, maka panas itu, semua kilauan itu niscaya akan abadi.

Konsep yang sama berlaku pada kebencian.

Perasaan yang dipendam sekian lama, perlahan-lahan mulai mewujud. Perasaan yang dipupuk dari waktu ke waktu akan menjadi sangat kuat, takkan menyerah pada apa pun. Itu mutlak.

Kebencian Garfiel terhadap dunia luar telah sirna.

Emilia telah menerima masa lalu menyedihkan yang dia benci-benci.

Kebencian Ram yang tak terbendung serta pembalasan dendamnya kepada Roswaal telah ….

Aku jatuh cinta padamu, Roswaal-sama.

“__!!”

Pengakuan cinta layaknya kutukan, membakar telinga Roswaal. Kata-kata yang keluar dari gadis dalam pelukannya, kata-kata yang seharusnya tak terucap.

Karena kontrak telah mengikat hati dan jiwa gadis malang itu, Roswaal paham. Pembalasan dendam Ram telah berubah menjadi kesetiaan kepada Roswaal, begitu pula kebenciannya menjadi bentuk kasih saying. Karenanya Roswaal lebih baik meminta bantuan Ram untuk mewujudkan tujuannya alih-alih orang lain, dan mempercayai Ram terlepas dari apa yang terjadi setelahnya.

Sebab Roswaal yakin akan benci yang berubah cinta itu, juga hasrat dendam membunuhnya. Karena Roswaal meyakini kebencian di mata gadis yang pertama kali ia temui, sebagaimana tatapan Ram penuh nafsu membunuh kepada Roswaal.

—Ujung-ujungnya Ram melupakan pembalasan dendam, malah terikat dengan cinta.

“Kenapa kau melakukannya, Ram? … Aku tidak mengerti …. ”

Roswaal merasakan nafas Ram yang kian melemah, dan merasa gadis itu akan menemui ajalnya.

Detak jantungnya memelan. Sesuatu di kepala Roswaal meraung-meraung agar semua ini tak boleh dibiarkan. Mata kanannya sakit, nyeri sekali. Hentikan! Berhenti memaksakan diri! Penyihir itu kehilangan arah.

Dia harus apa? Harus apa? Penyihir itu tak tahu apa yang mesti dan tak mesti dilakukannya. Dia tidak ingat. Tidak memahaminya.

Roswaal mendeteksi area sekitar. Diia tidak menemukan apa yang dicarinya. Kitab yang menuntun Roswaal kepada jalan yang benar, telah habis termakan api. Tidak ada lagi yang akan mengajari Roswaal. Pilihan apa yang harus diambil sekarang? Tidak ada yang akan mengajarinya.

Tidak tersisa apa-apa lagi sekarang.

Ratapan angin menghadirkan salju, cahaya membasahi bumi tertarik ke langit. Setiap tetes jatuh adalah perwujudan kesunyian, perak suci tak tersentuh karma masa lalu berduka pada keabadian absolut.

Sebuah rapalan.

Mantra senandung terlafal mendayu-dayu ini mendekap Roswaal L. Mathers. Mana bermassa besar dirapalkan dengan algoritma yang telah disempurnakan, membimbing awan gelap kepada hutan malam.

Angin dingin berhembus, dan hawa dingin yang cukup membekukan tubuh mengamuk di Sancutary.

Seluruh area hutan tertutup rapat awan kelabu, seketika menurunkan kristal putih yang menari-nari di atas bumi.

—Inilah kekuatan sihir beralgoritma besar Ultimillion.

“—Ugh, khh.”

Rapalannya berakhir dan melepaskan kekuatan sihir maha dahsyat.

Mana berukuran besar telah diambil paksa dari tubuh Roswaal, alhasil dia agak pusing sekalipun merupakan penyihir yang punya cadangan mana maha besar di tubuhnya.

Mana yang diperlukan untuk menciptakan sihir sebesar ini seharusnya dikumpulkan dalam waktu beberapa bulan, dan sihir itu semestinya digunakan dalam area yang lebih kecil. Roswaal mengumpulkan mana yang dibutuhkan hanya dalam dua hari secara besar-besaran, dan luas area target Roswaal untuk Ultimillion dua kali lipat dari seharusnya.

Sang penyihir bernafas lega, mendapati dirinya benar-benar bingung karena tidak tahu apa harus melakukan apa selanjutnya.

“Aku menurunkan salju seperti yang tertulis di kitab … sekarang apa?”

Roswaal lupa bahwa dia telah membuat hujan salju satu hari lebih awal dari yang tertulis di kitab. Atau lebih tepatnya, dia sudah tidak memikirkannya lagi.

Bagi Roswaal proses itu sekarang sudah tidak penting. Dia hanya fokus pada kejadian akhir sebagai penentu nasib Sanctuary. Salju telah turun dan Penghalang telah terlepas. Haruskah semua ini terjadi, kalau iya—maka apa kejadiannya?

“Ram … ya … Ram.”

Dia tidak mendengar nafas Ram lagi.

Roswaal menatap parasnya, dan dengan lembut menyentuh dahi gadis malang itu. Perubahan wujud Oni miliknya berhubungan erat dengan bekas lukanya, tepatnya di bagian tanduk yang kini tengah berdarah. Roswaal menyeka darah Ram dan melakukan rutinitasnya pada gadis itu, menyuntikkan energi mana tanpa warna dari enam elemen sihir miliknya. Ritual yang senantiasa mereka lakukan, agar kekuatan darah Oni Ram takkan menguasai tubuhnya.

Roswaal tidak memikirkan apa-apa lagi.

Roswaal secara tidak sadar mengerti dirinya semata-mata bertaruh pada kemampuan Oni milik Ram yang masih menjaga hidupnya. Roswaal ingin menyelamatkannya.

Ram harus hidup. Demi tujuan Roswaal, serta untuk apa yang akan terjadi setelah tujuannya tercapai.

“Guru … Guru, aku … apa! Apa yang harus kulakukan! Guru … Guru! Tolong beritahu aku … tolong … tuntunlah aku, sekali lagi …. ”

Kebimbangan Roswaal sudah tak tertolong lagi, bahkan tidak dapat memahami isi hatinya selagi meratap.

Walau sedang berusaha memastikan keselamatan Ram, kemarahannya kepada pengkhianatan sang pelayan setia masih terukir dalam hatinya. Penyihir itu kehilangan penuntunnya, namun masih mencari-cari cahaya lama.

Salju turun membungkus Roswaal dan Ram tenggelam oleh serpihan putih.

Semuanya tertutup warna putih, dan menghilang.

Sambil memikirkan, mungkin tidak apa-apa, tidak tersebit dalam kepalanya sesaat pun.


Emilia menembus salju, menghembuskan nafas putih sambil terus maju kedepan.

“Huma! Lagi, Huma!”

Berteriak sambil merapal sihir es satu per satu guna memberi jalan pada kakinya agar bisa berlari bebas tanpa ada hambatan.

Sebagian orang mungkin terpeleset apabila menggunakan metode yang sedikit berbahaya seperti ini, tetapi ….

“Baiklah! Aku mengerti!”

Dahulu Emilia adalah pengguna sihir es yang tumbuh di Hutan Besar Elior. Tanah beku bukan sesuatu yang asing baginya. Gadis ini berlari di atas salju Sanctuary seolah-olah tempat tinggalnya sendiri, bersama pengawal kecil yang berlari mengekor di belakang.

 “Jujur saja, kalian benar-benar bisa mengerti ucapanku?”

Tanya Emilia yang sedang terengah-engah kepada pemandunya. Gadis kecil itu menatap Emilia dan balas mengangguk. Mereka bisa berkomunikasi, tapi tidak bisa bicara. Sebagaimana perkataan perwakilan Lewes sebelumnya.

Lewes tiba-tiba menunjukkan rasa hormat berlebihan saat berada di luar Makam.

Memberitahu Emilia bahwa perwakilan Lewes adalah entitas yang terlahir dari jiwa seorang gadis kecil bernama Lewes Meyer, dan saat ini terdapat beberapa duplikat dirinya dalam Sanctuary. Tugas Lewes adalah Mata Sanctuary, yang saat ini diberi perintah oleh Emilia untuk memandu proses pencarian Roswaal serta Ram di kedalaman hutan Sanctuary.

Dunia ini terdapat sihir langka yang disebut sihir duplikasi.

Emilia belum pernah mendengar sihir ini diterapkan pada makhluk hidup sebelumnya, atau mungkin sihir ini diimplementasikan sebagai jenis sihir terlarang. Gadis berambut perak itu menahan-nahan rasa penasarannya dan berlari menyusuri Sanctuary sambil mengandalkan duplikat Lewes di sisinya untuk bergegas menemukan Roswaal juga Ram.

“Kalau kita tidak cepat … Kelinci Besar akan datang!”

Kelinci Besar.

Bahkan Emilia yang kurang info dunia tahu betapa mengerikannya makhluk ini. Kelinci besar adalah satu dari tiga Monster Iblis agung seperti Paus putih dan Ular Hitam, mirip dua makhluk itu, mereka mengemban malapetaka.

Monster Iblis ini mungkin terlihat lemah, rapuh, layaknya anak kelinci. Namun mereka hidup berkelompok, membentuk sebuah pasukan besar. Bukan individual Kelinci Besar, melainkan sekelompok Monster Iblis Kelinci Besar yang hendak mendatangkan bencana kepada Sanctuary.

Kelaparan tak terpuaskan serta jumlahnya yang luar biasa banyak, mereka akan melahap apa pun. Namun masih takkan memuaskan rasa lapar Monster Iblis tersebut, mereka malah terus berkeliling ke penjuru dunia sembari memakan kawanan kelompoknya sendiri. Benar-benar sebuah bencana.

Yang menakutkannya adalah cara mereka berkembang biak dengan sendirinya tanpa batas. Kelinci Besar kelihatannya saja sedikit, mereka akan memakan kawanan sendiri ketika tidak ada lagi yang dapat dimakan—tetapi mereka tak terhentikan tatkala melihat mangsa lain memicu nafsu makannya. Seketika jumlah mereka akan terus bertambah, memakan habis tubuh mangsanya hingga tak tersisa apa pun, kemudian jumlahnya kembali menurun meninggalkan daerah yang mereka jajah menjadi ladang tandus. Seperti itulah Kelinci Besar.

Emilia bertekad dirinya akan menghadapi Monster Iblis yang merepotkan ini. Semua orang tidak sempat untuk melarikan diri dari serangan Kelinci besar. Salju yang jatuh menumpuk telah menghalangi jalan keluar mereka, Emilia dan rakyatnya tersisa satu pilihan saja, bertarung melawan bencana itu.

Menempatkan mereka yang tidak bisa bertarung ke dalam Makam, sementara yang lain menjadi garis depan berjaga-jaga di pintu masuk.

Hanya ini satu-satunya strategi untuk melawan Monster Iblis tersebut. Yang pasti bisa bertarung adalah Emilia dan Roswaal, kalau bisa Ram akan ikut bertarung dan mengumpulkan segenap kekuatan yang  tersisa di Sanctuary. Lalu —

“__”

Tampak pohon-pohon dan beberapa bangunan hancur akibat pertempuran. Retakan tanah serta tumpukan salju yang tak wajar—Seorang pria dan wanita yang berpelukan di bawah naungan pohon. Emilia telah sampai di lokasi pertarungan Roswaal dan Ram.

Begitu mendapati Ram kelihatan lemah dan tak sadarkan diri, Roswaal yang tampak kebingungan, Emilia berteriak

“—Roswaal! Ram!”

Emilia meninggalkan duplikat Lewes dan meluncur di atas salju yang membeku. Menggunakan sihirnya untuk memanipulasi bentuk salju menjadi apa pun yang ia inginkan, memecah serpihan es dan bergerak layaknya peri salju. Emilia meraih bahu Roswaal saat dia terbaring tak bergerak dan setengah tertimbun salju.

“Apa kau dengar!? Roswaal, ayolah, Roswaal! Kita dalam masalah! Kita harus menyelamatkan semua orang! Bukan waktunya berdiam diri!”

“__”

Gadis itu menggoyangkan tubuh Roswaal dan salju berjatuhan dari kepalanya. Dari tampang Roswaal semuanya sudah jelas, Emilia membersihkan tenggorokannya.

Wajah Roswaal menatap Ram, sorot matanya kosong, terlihat lemah.

“Roswaal … ?”

Roswaal hanya diam, dia bahkan tidak memerhatikan Emilia. Reaksi diam penyihir ini membuat Emilia takut, Pacar Subaru melihat ke bawah dan mendapati Ram sedang tertidur dalam pelukan Roswaal—salju di pipinya yang tak kunjung mencair.

“—! Ram? Ram!”

Emilia memanggil Ram di pelukan Roswaal dan berusaha membangunkannya. Tapi Ram tidak menjawab. Bahkan membuka mata pun tidak. Kelopak matanya stagnan tak bergerak. Emilia menyentuh pipi dan bibir Ram, suhu tubuhnya terlampau dingin. Seolah dia telah—

“Ini, tidak mungkin !”

Emilia membuang pikiran negatifnya sambil menggertakkan gigi dan meraih pakaian Ram. Tangannya menyentuh dada gadis malang itu, merasakan jantung Ram berdetak lambat sampai bisa berhenti kapan saja, lemah nan rapuh.

“—Dia masih hidup! Tidak apa-apa! Kita masih punya kesempatan, Roswaal!”

Teriak Emilia penuh harap sembari melirik Roswaal. Namun Roswaal masih nampak sungguh kosong sambil menyentuh lembut dahi Ram. Emilia memperhatikannya. Terdapat sejumlah mana yang mengalir di tangan Roswaal menuju Ram. Mana itu yang menyambung hidup Ram.

“Kalau begitu, kau yang menyelamatkan nyawa Ram ….”

“__”

“__!”

Sewaktu Emilia mengetahui kabar baik itu, dirinya juga sekaligus mendapatkan kabar pahit.

Ram sedang tak sadarkan diri, kondisinya kritis, dan Roswaal harus merawatnya agar dia sembuh. Mereka jelas tidak dapat berpartisipasi dalam pertarungan saat ini. Artinya Emilia harus menghadapi Kelinci Besar sendirian.

—bisakah dia melakukannya ?

Kelinci Besar adalah satu dari tiga Monster Iblis yang telah bertahan selama empat ratus tahun semenjak era Penyihir Kecemburuan.

Sudah berapa orang yang telah menguatkan dirinya untuk menghadapi hal seperti ini seperti Emilia sekarang?

Tidak seorang pun mampu menghancurkan monster itu. Bagaimana cara Emilia mengalahkannya sendirian? Tanpa Puck. Hanya Emilia seorang.

“Andaikan kita pergi sekarang …. ”

Mungkin mereka masih bisa melarikan diri. Tapi bagaimana bila Kelinci besar mengejar mereka? Apa yang harus mereka lakukan?

Seandainya tidak ada cara untuk melarikan diri maupun tempat bersembunyi. Maka Emilia tidak dapat melindungi semua orang dari hewan buas itu. Memposisikan mereka di tempat seperti Makam adalah kondisi yang paling memungkinkan saat ini.

Sungguh kenyataan pahit bahwasanya Roswaal dan Ram tidak dapat bertarung saat ini. Tetapi Emilia tetap berjuang dan takkan menyerah.

“Roswaal. Bawa Ram dan ikuti aku. Semua penduduk Sanctuary … mm, semua orang berlindung di makam. Dan aku akan melindungi mereka. Jangan menyerah, tetap sembuhkan Ram, dan— ”

“Tidak ada gunanya.”

Ucap Roswaal putus asa sambil terus menatap hampa wajah Ram.

“Sia-sia. Semuanya .… Aku tidak tahu masa depan nanti, aku tidak paham diriku sendiri … dunia ini telah berakhir.”

“Kau sadar cuma untuk mengatakan ini! Persetan dengan Kitabmu! Mungkin orang penting yang menulisnya, tapi apa hubungannya dengan keputusan kita!”

Tidak tahan melihat sikap Roswaal, Emilia meninggikan suaranya kepada penyihir itu.

Kenapa bisa seperti ini? Dia bukan Roswaal biasanya.

Lelaki yang selalu tenang membuat keputusan besar, tingkahnya seolah-olah tahu segalanya serta merencanakan semuanya sambil tersenyum. Bukankah seperti itu Roswaal seharusnya?

Kini dia hanya orang lemah, yang menyerah pada segalanya, bagaikan anak yang tersesat.

“Roswaal, aku tidak paham perasaanmu atau setersakiti apa kau saat ini. Aku ingin memahaminya, tapi sudah tidak ada waktu lagi … tapi aku ingin mengetahuinya suatu saat nanti. Maka dari itu, aku ingin kau ikut denganku sekarang.”

“__”

Emilia tidak mengerti kondisi Roswaal. Pria itu terus diam dan membuat Emilia semakin bingung.

Seandainya mereka berkenan bertukar kata, mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, Emilia barangkali dapat memahami sedikit kondisi Roswaal. Dan ada sesuatu yang tidak dia pahami bila tidak menanyakannya. Juga hal-hal yang takkan pernah terungkap, bila mana waktu mengungkapnya tak ada.

“Kumohon, bangkitlah, Roswaal. Kita tidak akan berakhir di sini. Kita juga tidak akan membiarkan Ram berakhir. Kita akan kembali bersua semua orang, bersama-sama, dan —”

“Aku …. ”

Emilia bersikeras. Tapi Roswaal tidak memedulikannya. Pria itu tetap menatap sayu Ram, bibir merahnya bergerak dan berkata ….

“Aku, menyerah …. ”

Diucapkan lirih, hampir-hampir tak terdengar.

Bahkan suara angin yang bertiup nyaris menenggelamkan ucapan Roswaal.

Bisikan lemah yang tersisip dari mulut pria itu, bahkan menjadi pertanyaan apakah Roswaal sendiri dapat mendengar suaranya barusan.

Namun Emilia yakin ia mendengar keputusasaan Roswaal yang sudah menyerah.

Seketika itu gadis itu—

“—Jangan berani-beraninya kau bilang seperti itu!!”

—Meraih kerah baju Roswaal dan berteriak marah. Tindakan Emilia mengguncang kepalanya, membuat pria itu merintih kesakitan. Emilia menyerangnya tanpa henti dengan kata-kata.

“Kau menyerah!? Kau bilang tidak akan menyerah!? Tidak ada pilihan untuk menyerah! Kau tidak boleh menyerah! Jangan pernah kau bilang berhenti! Jangan pernah kau bilang pasrah! Tidak padaku, kepada Ram, atau dirimu sendiri, masih belum ada sesuatu yang kita selesaikan!”

“__”

“Aku menyelesaikan Ujian! Masa lalu yang aku takutkan! Masa-masa bahagia yang tidak terjadi saat ini! Kesedihan yang mungkin akan datang di masa depan! Aku telah menyaksikan semua itu! Dan aku bersikeras untuk menghadapinya … bersama tekad itu, akhirnya aku sanggup melewatinya.”

Gadis itu berteriak.

Amarah Emilia melampaui batasnya, kesal mendengar suara lirih itu, pendapat menyedihkan tiada keberanian pada pria tersebut. Karena seperti itulah sosok seseorang ketika memilih menyerah sebagai keputusan akhirnya.

Amukan Emilia membuat pipi Roswaal kaku dan seketika memalingkan wajahnya. Pria itu tidak mengkhawatirkan Ram, dia malah mengalihkan perhatian dan melarikan diri dari sesuatu yang tak ingin dilihatnya. Emilia mencekik rahangnya dan memaksa lelaki itu menatapnya.

“Lihat wajah orang yang bicara padamu!”

“—hk”

“Kau takkan mengerti apa yang orang lain pikirkan jika tidak menatap mata mereka. Kau takkan mengerti mengapa orang-orang melakukan apa yang ingin mereka lakukan ketika kau tidak melihatnya. Tatap mataku, dengarkan suaraku, bangkitlah, dan ikuti aku.”

Mata aneh Roswaal berkedip seakan menyadari sesuatu. Bibirnya bergerak namun tetap diam tak mengatakan apa-apa.

“—auh,”

“Takkan kubiarkan seorang pun menyerah. Selama kau masih hidup, tidak ada pilihan menyerah. Dan—aku tidak akan membiarkan siapa pun mati di sini!”

Emilia bangkit, balik badan. Sebanyak sepuluh Lewes sedang berkumpul. Mereka semua berlutut hormat, menunggu perintah.

Emilia menarik napas, dan meneriakkan perintahnya.

“Bawa Roswaal dan Ram kembali ke Makam. Aku akan melindungi semuanya apa pun yang akan terjadi.”

Ucapnya tegas memanfaatkan otoritas yang diperolehnya secara kebetulan setelah menyelesaikan Ujian. Emilia memimpin pasukan Lewes dan berlari melintasi salju Sanctuary.

Pasukan Lewes bahu-membahu membantu Roswaal dan Ram serta bergiliran membuat rute pelarian bersama Emilia.

—Tidak ada lagi keraguan di hati Emilia.


Dan kelanjutan kisah ini—

Tidak usah memaksakan dirimu, Emilia-tan

Seorang lelaki penyayang wanita yang memutuskan ingin melindungi semuanya kini telah kembali ke sisi Emilia.

“Kau bisa bertahan dan mundur saja—Pertempuran perdana pembebasan sedang berlangsung sekarang.”

Maaf. Aku berpikir seperti itu.”

Senda gurau antar kedua orang yang terdengar akrab oleh Emilia membuat dirinya tersenyum, matanya menatap ke arah bayangan putih yang sedang mendekat. Terlihat dua sosok berjalan bergandengan tangan.

Gadis itu mendengar suara dua orang. Suaranya penuh semangat, dan merasa seolah menunggu sangat-sangat lama momen-momen ini.

“Selanjutnya misteri, ya.”

“Ya, kita akan melakukan ini—Bersama, aku dan kau!”

Kisah yang kini telah bersatu kembali, harapan mereka mencerminkan keutuhan pertarungan terakhir.

Seorang Kesatria dan seorang Putri, menghadapi Monster Iblis dibalik salju Sanctuary.

Seorang Kesatria yang bahkan tidak dapat bertarung sendirian dan membawa penyihir di sisinya, menandakan sebuah akhir kemenangan mutlak.

—Pertarungan terakhir Sanctuary dimulai.

11 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 127B”

  1. RE: ZERO IF GLUTTONY ada Hubungan apa ya dengan Re zero Kara Hajimaru ?. Itu LN / WN-nya berhubungan ngga satu sama lain ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *