RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 126

Posted on

Serangan Guiltilaw, Raja Hutan Eboni!

Penerjemah : Aku Cinta Elsa

—Api terpercik-percik karena benturan antar besi.

“Rrarghhhhhhhhhhhh!”

“Ahahaha! Luar biasa, luar biasa, luar biasa!”

Tubuhnya menari-nari di udaranya. Bilah-bilahnya berayun tanpa arah karena sedang mengincar titik fatal Garfiel.

Tidak seorang pun tahu gerakan Elsa. Setiap serangan yang terlihat disertai kekuatan dan akurasi mematikan yang bisa langsung menghabisi Garfiel.

Bilah bengkoknya mencabik-cabik udara, kecepatannya setara dengan gelombang suara.

Garfiel melancarkan pukulan atas menggunakan perisainya, bertahan dengan membiarkan serangan si wanita ketimbang menahannya secara langsung.

Kekuatan tebasan wanita itu tetap kuat walau hanya menggeser lintasan tebasannya, tubuhnya berliuk-liuk lihai ke samping. Memasuki celah, Garfiel membidik perut tanpa pertahanan Elsa dan mengayunkan kakinya.

Tendangan Garfiel sekuat bola meriam, mampu menghancurkan dinding batu.

Jika kekuatan penuhnya mengenai seseorang, tubuh manusia yang berdaging takkan berkutik terhadap daya hancur maha kuat.

Garfiel pada kenyataannya berhasil mendaratkan serangan tersebut hingga menghancurkan daging dan tulang wanita itu beberapa kali.

Akan tetapi ….

“Aku pernah merasakan ini sebelumnya.”

“Diem njing.”

Si wanita memutar titik butanya dan mundur dari lintasan tendangan Garfiel.

Kaki si bocah membelai punggung wanita, semata-mata menyerempetnya, kemudian tersangkut pada jubah hitam. Kendati tertegun sesaat, bisa-bisa berakibat fatal bagi mereka berdua.

“Hah—”

Mengambil nafas cepat, sang vampir menggerakkan tangannya ke belakang, menjerat kaki Garfiel dengan jubahnya. Tangan satunya melesat dari belakang, setengah salto, mengincar Garfiel.

Ayunan bilah dari tangan Elsa satunya akan membelah dua paha kanan Garfiel—sebelum dirinya sempat berpikir, Garfiel melompat dengan tumpuan kaki kiri dan menendang tepat dari bawah kaki kanan.

Kaki kiri Garfiel menghantam bagian tumpul bilah Elsa.

Logam dan pergelangan tangan patah ketika wanita itu berteriak seksi, menjatuhkan senjatanya. Ia mundur, sayangnya Garfiel tidak dapat mengejar karena kakinya terjerat dan jatuh ke lantai. Memanfaatkan momentum tendangannya dan menaruh tangan ke tanah dan bersalto belakang, membuka jarak di antara mereka sebelum melepaskan jubah yang menjerat kakinya.

“Pergelangan tangan sama pisaumu kena, haha.”

“Tidak apa-apa sih. Aku punya beberapa pisau cadangan, tak lama lagi tanganku bisa bergerak lagi. Jubahnya … cuma rintangan saat melawanmu.”

“Ga usah sok-sok berani.”

“Kita pastikan sendiri apakah yang barusan adalah keberanian.”

Garfiel memanfaatkan jubah curian untuk menyeka keringat dan membuangnya di koridor.

Elsa tak menggubris jubahnya selagi menyentuh tangan kirinya yang patah, kemudian memanggil sosok besar di belakangnya.

“Mei Lee. Jangan menonton saja, beri aku pisau lain.”

“Aduhh, terserah kau deh, Elsa. Aku bukan gadis pembawa barang atau kacung pisaumu. Kau terus-terusan bertarung sampai Boulderpork tidak bisa ikutan.”

Gadis yang menunggangi Monster Iblis raksasa menggembungkan pipinya sambil melemparkan sesuatu kepada Elsa. Sarung pisau-pisau yang digunakan Elsa. Dari sarung itu Elsa mengeluarkan dua kukri bersih, memegang keduanya di masing-masing tangan. Elsa menatap Mei.

“Manismu jadi berkurang karena mengikut sertakan Monster Iblis itu. Meski aku sendiri senang-senang saja berdansa bersamanya tanpa ada yang mengganggu.”

“Konyol kalau kau tertangkap dan melepaskan targetnya. Andaikan mama tahu perbuatanmu, dia akan ngomel-ngomel. Aku akan memberitahu mama bahwa kau nakal, Elsa.”

“Andai kata aku takut dimarahi, lantas aku takkan memulai tanpamu ataupun mencuri makanan. Kau dan yang lainnya cukuplah menjadi anak baik. Aku sih tidak ragu-ragu untuk merepotkan orang lain.”

Selagi berbicara, Elsa melempar-lempar kedua kukri ke udara dan memain-mainkannya dengan satu tangan. Ukuran juga kecepatan bilahnya kala berputar di udara bisa menghilangkan tangan Elsa kalau tidak berhati-hati.

“Maaf sudah membuatmu menunggu lama. Sepertinya tanganku sudah sembuh.”

“Gak usah dipikirin. Gua yang hebat ini juga lagi ngundur waktu, gue juga kagak enak nimbrung dalem percakapan antar saudari. Percakapan keluarga itu penting.”

“Aduhai. Kenapa kau berkeyakinan bahwa aku dan dia adalah saudari?”

“Karena kalian manggilin wanita brengsek itu, ibu? Rambut dan mata kalian yang beda tidak jadi soal. Gua ngomongin tentang keluarga, bukan darah.”

Mendengar alasan Garfiel, mata Elsa membelalak terbuka karena terkejut. Menutup mulut, kemudian tertawa ceria.

“Eh?”

“Hehe … ah, tidak, maafkan diriku. Aku tidak menduga akan direspon seperti itu, jadinya agak lucu saja …. Kau sungguh-sungguh bocah yang baik.”

“Berhenti nganggep gua anak kecil. Gua yang hebat ini adalah pria yang gagah.”

“Betulkah? Biarpun aku merasa kau ini bukan seorang pria atau orang dewasa.”

Elsa menanggapi Garfiel yang tak puas, pipi laki-laki itu menyantai.

Alis Garfiel mengkerut linglung, senyuman Elsa makin ceria.

“Elsa Elsa. Bukankah pria yang terlihat sangat menyeramkan ini benar-benar sangat berharga?”

“Ya, Mei Lee. Awalnya aku merasa begitu. Aku boleh jadi telah menyaksikan kali pertama seseorang yang ingin aku biarkan hidup bahkan setelah kukeluarkan isi perut mereka.”

“Bacot lu ngeod. Lu berdua bakalan mokad pas makan tinju gua.”

Garfiel buru-buru memutar pergelangan tangannya seraya bicara.

Tidak teramat paham perbincangan Elsa dan Mei Lee, tapi dia tahu mereka tengah melemahkan tekadnya sedikit.

Mana kala Garfiel menyadarinya, dia tak bisa berkata-kata lagi.

Kecuali meminta maaf sambil menangis-nangis memohon pengampunan, Garfiel akan menghancurkan mereka sampai tidak bergerak, menimpakan hukuman yang layak bagi mereka—hal itu adalah tugas Garfiel.

“Majulah. Kalian malah nyediain banyak waktu biar Kapten dan kawan-kawan bisa kabur. Gua yang hebat ini kagak bakal kabur. Akan gua hajar lu ampe mampus, ngajarin lu sesuatu. Bahwa gua yang hebat ini adalah tameng terkuat di dalam dan di luar Sanctuary.”

Setelahnya, Garfiel menubrukkan perisainya secara bersamaan.

Dentingan menggema di koridor tatkala Garfiel mengunci tekadnya pada dua musuh yang bersimbah cahaya bulan.

“—Pffffhahahaha! Elsa, kau dengar itu? Dia tameng terkuat! Tameng terkuat … pff. Pffffhahaha! Dia betulan berharga!”

Akan tetapi! Situasi membuat Mei Lee tertawa, alih-alih demikian, senyum Elsa kian jelas! Mereka tak merasa terancam sedikit pun.

“Apaan yang lu ketawain?”

“Haaa, lucu banget. Sangking lucunya aku langsung ketawa saja. Kau lucu karena berlagak sok kuat, kelompok yang baru saja kabur juga lucu.”

“Kelompok Kapten lucu?”

“Ya. Bukan? Peliharaanku akan mengepung Mansion, jadi hanya ada satu tempat untuk melarikan diri. Yakni tempat posisi Elsa, sayangnya dia beraksi sendiri, jadi aku taruh penggantinya di sana.”

“—”

Mei Lee menatap sebal Elsa. Sang pemburu usus tak mengindahkannya.

Mata pembunuhnya fokus saja pada Garfiel seorang, mengamati setiap gerak-geriknya, membuat Garfiel sulit bergerak. Pria itu juga mesti mendengar komentar Mei Lee.

Mei Lee memukul punggung Monster Iblis yang dia tunggangi sedangkan sorot mata Garfiel kian tajam.

“Kecuali Boulderpork, aku membawa satu hewan peliharaan besar lagi hari ini. Dia menghalangi jalan kelompokmu. Pikirmu sedang mengulur waktu, padahal mah kebalikannya.”

Garfiel terbungkam.

“Kau kira setelah mengalahkan aku dan Elsa, kau bakalan sempat mengejar dan menyelamatkan mereka, sebetulnya tidak. Saat kutahu kau berusaha yang terbaik untuk mengulur waktu tanpa mengetahuinya, jadi lucu.”

Tidak bisa menahan senyum, Mei Lee menertawakan kekonyolan Garfiel.

Menghadapi kedengkian anak muda itu, Garfiel mendesah panjang.

Memang, banyak tantangan tak jelas yang menghalangi mereka. Mei Lee benar, mereka menghadapi situasi yang menyimpang dari rencana. Namun ….

Ha. Dasar tolol.”

“… Hah?”

“Lu yang kagak ngerti. Lebih banyak monster? Kami yang dipojokkan? Emangnya gua ama Kapten peduli.”

Menikmati adegan senyum Mei Lee yang perlahan menghilang, Garfiel melangkah maju.

Melihat reaksi Elsa, membungkuk sedikit ke depan, kemudian berkata:

“Kapten dan kawan-kawannya ngalahin gua—Mereka pasti ketawa keras-keras sambil hancurin rintangan goblokmu dan keluar dari sini!”


“Mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus mampus, apa lagi yang terjadi di sini!?”

Kehabisan nafas, Subaru merengek ketika merebahkan diri ke lantai.

Lantai ketiga gedung utama Mansion Roswaal, peron yang mengarah menuju tangga lantai teratas, hadirlah kelompok Subaru yang beranggotakan—Subaru, Otto, Frederica, Petra, bersama Rem, mereka semua megap-megap dan terdiam di tempat.

Kecapekan menghujam diri mereka semua yang terduduk di sana, ditemani luka-luka yang memenuhi seluruh party.

Khususnya ….

“Kau tidak apa, Frederica?”

“… Aku tidak apa-apa, bukan masalah besar. Subaru-sama, maafkan aku telah menunjukkan hal tidak enak dipandang seperti ini.”

“Kita takkan pergi ke mana-mana tanpamu. Yang paling lemah dari kita semua adalah aku, dan Otto. Maaf. Kami tak berguna.”

“K-kali ini saja … aku tidak bisa menyangkal kata-kata kotormu, Natsuki-san.” Otto frustasi. Subaru meludahkan darah dari mulutnya.

Sambil mengabaikan rasa sakit mengerikan di sekujur tubuhnya, Subaru membenarkan posisi Rem di punggungnya—Bertukar posisi dengan Frederica, kini tugasnya adalah membawa Rem.

Otto membimbing Petra sambil menggenggam tangannya sementara Subaru membawa Rem di punggungnya. Satu-satunya petarung mereka, Frederica, berdiri di garis depan sambil membuka jalan—demikianlah rencana teroptimal bagi kelima orang ini.

Persis setelah berpisah dengan Garfiel, kelompok Subaru diserang oleh dua hyena. Memanfaatkan batu sihir Otto dan Frederica, mereka berhasil menghabisi para hyena, namun bagaikan keluar kandang singa masuk kandang buaya, mereka menemukan lebih banyak Monster Iblis di seluruh Mansion yang siap menyiksa.

Tikus Bersayap yang menyerupai kelelawar mengintai di koridor penghubung area utama dan area terpisah. Rex Berbintik layaknya hyena mondar-mandir di seluruh Mansion, siap menyerang kapan pun. Hewan bak tupai yang memasang jaring di langit-langit seketika memasuki sebuah ruangan, kemudian menukik ke bawah begitu lengah.

Mereka menempuh pertempuran yang menyakitkan sewaktu berhadapan dengan ular berkepala dua setebal lengan Subaru.

Sukses mengusir monster bersayap hitam dengan asap, cakar Frederica membantai Rex, mereka melarikan diri dari possum1 yang mengejar-ngejar di belakang, negoisasi mendadak Otto menghentikan ular sementara, Subaru memanfaatkan waktu sementara itu untuk mencengkeram ularnya dan Frederica memenggal dua kepalanya—Kini, mereka di sini.

“Kita benar-benar … kalah karena berpisah dari Garfiel ….”

“Jangan lemah. Sekarang waktunya Garfiel dengan penuh keyakinan meneriakkan kesuksesan kita, sebaiknya taruh harapan yang setara dengan harapan yang ditaruh Garfiel pada kita.”

“Kau ini positif sekali, betul-betul tidak cocok menjadi pedagang ….”

Otto kelihatan paling sehat di antara mereka semua, dari sisi stamina. Subaru menyeringai, memompa tubuhnya, dan beranjak bangun.

Rem di punggungnya, jujur terlampau ringan, yang mana membuat Subaru sedih. Pria itu dengar-dengar bahwa orang yang sedang tak sadarkan diri atau tertidur berat untuk dibopong, namun Rem adalah pengecualian.

Hampir tak bisa merasakan berat badan ataupun kehangatannya. Eksistensinya redup. Detak jantung dan pernafasannya yang samar adalah satu-satunya bukti kehidupannya, Subaru membenarkan posisinya.

Seolah-olah takut, walaupun takkan terjadi, dia tak sadar telah melepaskannya. “Kakak Frederica ….”

“Tidak usah khawatir, Petra. Jangan cemas-cemas begitu … tak lama lagi kita akan sampai.”

Frederica menanggapi tatapan resah Petra dengan senyuman hangat.

Namun situasi Frederica tak seoptimis yang Petra bayangkan. Seekor hyena menggigit tangannya selama pertarungan berlangsung, dia tidak bisa menggerakkan tangan kirinya yang berdarah, gerakannya kurang cekatan. Mereka tak bisa mengharapkan Frederica bertarung dalam kekuatan penuh, memerlukan suatu tempat untuk menyembuhkan diri sekaligus beristrirahat.

“Meskipun, kita benar-benar sudah dekat dengan tujuan.” gumam Subaru saat menaiki tangga—di lantai teratas.

Tim mencoba mencapai kantor Roswaal. Tentu saja tujuannya adalah rute pelarian di sana, jalan jelek yang disambut Elsa dari perulangan sebelumnya.

Kala Subaru pertama kali gagal untuk keluar dari Mansion, dia memutuskan untuk tidak menelusuri rute ini—tapi setelah berbicara dengan Frederica, ia mengubah pikirannya.

Terjadi tepat setelah meninggalkan Garfiel dan mengusir dua hyena.

“Ada lorong tersembunyi di kantor Master yang mengarah ke luar. Lewat sana, barangkali kita bisa melarikan diri dari Mansion dan pergi menuju kabin hutan. Sesampainya di sana ….”

“Maaf, Frederica. Tidak semudah itu. Ada jalan lain yang tersembunyi dalam lorong sana. Jalan itulah yang dilalui wanita itu.”

“—”

Sadar situasinya hampir tiada harapan, Subaru menyampaikan informasi tersebut. Subaru pernah bertemu Elsa sebelumnya ketika memeriksa jalan rahasia. Kesampingkan apakah Elsa beneran melalui rute ini, banter-banternya perempuan itu tahu jalan ini ada.

“Menurut perkataan Elsa dan gadis itu … kedengarannya mereka punya sekutu lain. Buang jauh-jauh apakah mama ini betulan ibu mereka, dari sosok mereka yang mirip … seandainya ingin menugaskan penjaga belakang, lantas ada seseorang di jalan itu.”

Tentu saja mereka hendak memblokir jalannya.

Para Monster Iblis tengah mengepung Mansion, ada juga musuh di rute pelarian. Mereka terjebak sepenuhnya, Subaru membakar otak.

Segalanya jadi tanpa harapan.

Sangat disayangkan rute pelarian mereka tak efektif, tidak bisa meminta bantuan Beatrice.

Mereka tak perlu menyayangkan hal ini misalkan Subaru berhasil meyakinkan Beatrice. Lewat Door Crossing-nya, keluar dari tempat ini akan jadi sangat sederhana sampai-sampai mereka tak perlu risau.

“… Aku sangat egois.”

Subaru mengetahui kesedihan Beatrice dan alasan di baliknya, namun Subaru masih mengandalkan bantuannya.

Tak mendapatkan bantuannya di sini berarti gagal membawanya keluar, dalam artian lain Subaru tidak memahaminya secara benar.

Wajar andai kata Beatrice membenci dan mengusir kehadirannya dari perpustakaan.

“Natsuki-san.”

“Subaru.”

Mungkin memikirkan sesuatu mengenai tampang Subaru yang lagi merenung, bahunya ditepuk dan tangannya di tarik.

Mendapati Otto menepuk bahu kanan dan tangan kirinya ditarik Petra. Mereka berdua menyadarkan Subaru, kemudian tahu mereka melakukan hal yang serupa, wajah mereka masing-masing saling mengerut.

Melihat keduanya, Subaru mendesah, merasa diselamatkan.

“Subaru-sama. Aku yakin kita mesti menyusuri jalan itu.”

Subaru mendongak. Frederica mengangkat jari.

“Seperti yang kau nyatakan, saat ini kita terjebak dalam jalan buntu. Monster-Monster Iblis ganas mengepung Mansion, musuh mengetahui satu-satunya rute pelarian kita. Berpikir biasa pasti akan berujung pada kematian kita ….”

“Ya, benar. Aku juga berpikir begitu, aku bertanya-tanya apakah bisa menemukan titik buta di antara perimeter Monster Iblis, tapi ….”

“Oh iya, Subaru-sama. Kapan kau bertemu wanita itu?”

Diinterupsi oleh pertanyaan lirih Frederica, tenggorokan Subaru tertahan.

Tak bisa  membaca motif pertanyaan itu, Subaru mengangguk.

“Ya, dia menargetkan Emilia di Ibu Kota sebelumnya. Sang Pedang Suci kebetulan lagi patroli dan menyelamatkan semua orang. Meskipun tidak menduga orang keren itu ada di sana.”

“Begitu. Pertemuan terakhirmu melibatkan sang Pedang Suci. Tidak, hal demikian tak masalah. Aku tak ingin tahu cara mengalahkan wanita itu, aku lebih ingin tahu kepribadiannya.”

“Kepribadiannya?”

Subaru bingung terhadap pertanyaan aneh Frederica.

“Maksudku, kepribadiannya adalah pengidap fetis. Dia tuh Pemburu Usus, suka memotong perut orang dan memeriksa isinya. Salah satu orang yang masuk nominasi wanita paling berbahaya.”

“Menilai bagaimana dia kelihatan menikmati pertarungannya, dia akan semakin tenggelam dalam perbuatannya … benar?”

“Bukannya aku kenal dia, tapi kemungkinan besar orangnya begitu … aku tidak paham maksudmu apa?”

“Sederhana saja, Subaru-sama—kejadian tak terduga dari serangan ini juga terjadi pada musuh.”

Pernyataan kuat.

Mata Subaru membelalak kaget.

“Para Monster Iblis saat ini mengepung Mansion. Gadis muda yang ternyata pengendali Monster Iblis … mungkin kita panggil dia master Monster Iblis. Itikad musuh sebenarnya adalah menyerang Mansion sambil menaruh perimeter para Monster Iblis, juga menyerang kita-kita yang berada di dalam, kurang lebih demikian.”

“Apa yang mendasari pemikiranmu?”

“—Jeda waktu antara serangan mMonster Iblis dan sang Pemburu Usus tidak selaras.”

Sejenak, Subaru merenung. Tetapi segera menyadari apa yang hendak dikatakan Frederica, Subaru mendadak memukul telapak tangannya.

“Itu dia, jadi begitu! Sue, kenapa tidak kusadari juga? Ya, Frederica benar! Kepribadian aneh itu, tentu saja kejadiannya begini!”

“A-ada apa nih? Aku tidak amat paham hubungan semuanya ….”

Subaru menendang lantai dan merasa putus asa sekaligus gembira. Otto entah bagaimana terlihat gugup, Subaru hanya mengangguk saja.

“Sederhana nian, Otto. Serangan Monster Iblis dimaksudkan untuk memojokkan semua orang di Mansion. Dan ketika kita terpojok, maka tak bisa melarikan diri lewat jalur biasa. Jadinya kita melewati jalur rahasia—begitu kronologi kejadiannya. Kan?”

“Tentunya kronologi yang kita jalani, betul? Tapi bukankah musuh mengetahui jalan rahasianya, jadi tidak bisa kita gunakan?”

“Tepat sekali. Rencana mereka sebetulnya adalah memojokkan kita agar menuju jalan rahasia, ketika itulah kita dibunuh oleh Elsa yang sedang menunggu. Rencananya begitu …. Tapi sekarang sudah menyimpang. Elsa tidak berada di jalan rahasia sana sekarang.”

“—”

Kenapa tidak?

Mempertimbangkan disposisi Elsa, jawabannya jelas sangat.

“Elsa tak ingin kehilangan mangsanya jadi dia mulai bergerak sendiri. Karenanya tidak sinkron dengan si penguasa monster. Berarti Elsa tak berada di tempat yang semestinya—jadi tak seorang pun berada di jalan rahasia!”

“Rencana orisinilnya adalah Elsa menyergap di jalan rahasia. Resikonya, kronologi kejadian menyimpang dari rencana, sangat tidak mungkin penjaga belakang tengah menempati jalan sana. Musuh pasti sadar ada sesuatu yang janggal dari rencana asalkan diberi waktu. Peluangnya kian meningkat dan mereka ‘kan segera mengirim orang lain ke jalan rahasia sana.”

“Jadi kita harus melewatinya duluan mumpung tidak ada orang!”

Lanjutan teori Subaru dan Frederica, Petra melompat-lompat saat memberikan jawaban.

Subaru tertawa sembari menepuk-nepuk rambut pirang kepalanya.

“Mantaplah.” kata Subaru.

“Dari informasi ini, kemungkinan besar begitu kronologinya. Omong-omong, ide itu lebih meyakinkan ketimbang menembus perimeter Monster Iblis di luar. Sekurang-kurangnya, kita bisa memeriksa barang-barang di kantor …. Ayo. Ini satu-satunya jalan keluar aman dari sini!”

—Siap menjalankan rencana, tim tiba di area luar kantor.

Semua orang secara fisik dan mental telah lelah. Biarpun begitu, harapan atas tujuan telah mengisi energi sampai penuh untuk menggerakkan tubuh mereka yang luar biasa terluka. Kini, kedipan harapan itu telah—

“… Tidak mungkin.”

Tutur Subaru otomatis stelah sampai di bagian atas tangga dan mengintip koridor. Otto menjulurkan kepalanya ke atas, seperti halnya Petra di bawah, dan melihat hal yang sama, mereka semua penasaran soal Subaru yang terheran-heran.

“Ada apa? Ada apa dengan kantor Master ….?”

Frederica duduk di tangga belakang seraya menanyakan ketiga pengintai. Namun melihat reaksi mereka, sepertinya situasi telah memburuk.

Subaru menahan langkahnya dan berbalik lalu angkat bicara resah: “Ada monster yang kelihatan jahat sedang berdiam diri di luar ruangan sialan sana”—Bagi Subaru, monster itu seperti Chimera2.

Kepala singa mirip kucing, tubuh sekurus kuda menyerupai kambing. Ekor panjangnya mencambuk-cambuk bagaikan ular, walaupun lebih kecil dari kudanil tunggangan penguasa monster, cukup besar untuk menghalangi jalan masuk luas Mansion. Entitas aneh perwujudan mitos—kekuatan tempurnya sudah jelas.

“Itu … Monster Iblis Guiltilaw. I-ia hidup jauh di dalam hutan penuh miasma, monster yang disebut-sebut sebagai raja monster … sekarang, dia berada di desa manusia … bukan jenis hewan yang bisa dengan bebasnya kau bawa ke dalam Mansion ….”

“Peluang kita berapa persen, kelihatannya jinak, ya? Soalnya, perawakannya saja begitu tapi dalamnya bisa saja lembut, kau beri saja katsuobushi3 dan dia langsung senang, atau semacamnyalah ….”

“Aku tidak tahu katsuobushi itu apa, maksudmu menyuapnya dengan makanan? Malah badan kau yang dikunyah jadi dua.”

Deklarasi Otto membuat Subaru berpikir ulang sebesar apa kepala Guiltilaw.

Memang. Dengan mulut sebesar itu, Subaru akan habis dalam dua gigitan.

“Transformasi Garfiel lebih besar lagi. Oke, ayo kita dekati dan bandingkan ukurannya. Kalau kawan kita lebih besar maka hewan akan dihajar.”

“Misalkan kita panggil Garfiel lagi, maka wanita itu akan mengiris kita. Berhenti bercanda, Natsuki-san …. Kau kepikiran ide lain?”

Otto menghibur lelucon Subaru, namun sorot matanya penuh harapan.

Seakan-akan mengira Subaru kedapatan ide hanya dari percakapan singkat tersebut. Otto adalah penaruh harapan bego, Subaru balik menatap Frederica dan Petra.

“Subaru.”

“Subaru-sama.”

Mereka ikut menatap Subaru sambil menaruh harapan.

“—Serius nih, ekspektasi macam apa yang kau tujukan padaku?”

Mendesah dalam-dalam, Subaru merinding terhadap beban besar ini. Menyesuaikan posisi Rem di punggungnya, kemudian menutup mata.

Apa, saat ini, adakah kekuatan tempur mereka?

Frederica terluka dan Otto tak punya sihir. Petra maupun Subaru bukanlah petarung, mereka berada di lantai tiga gedung utama Mansion. Tidak mungkin memanggil Garfiel ke sini, mengharapkan bantuan Beatrice juga mustahil.

Terlepas dari hal itu, bertarung mengerahkan segalanya adalah satu-satunya teknik yang dimiliki Subaru.

Kemampuan semua orang, kemampuan mereka, material-material yang tersedia, persyaratannya, Subaru menimbang-nimbang semuanya, memperhitungkan segalanya—lalu membuang nafas.

“Kalau tidak ada kekuatan fisik ataupun sihir … waktunya mempertaruhkan pengetahuan tak tertandingi dari abad ke-21.”

Hal pertama yang menarik perhatian Guiltilaw adalah suara.

“—”

Setelah mendengar suara gemuruh dentingan di lantai bawah, Guiltilaw mengangkat moncong.

Raja Bisu dari Hutan. Beberapa daerah memang merujuk ke Guiltilaw, tidak seperti Monster Iblis lain, ia tak meraung-raung dan benci suara.

Berkebalikan dari badan raksasa dan perawakan anehnya, ia melangit di antara limbah-limbah sampah, tidak membuat suara sedikit pun, mendekati mangsanya sebelum mendaratkan serangan fatal dan membunuh langsung sasarannya. Teknik perburuan licik adalah keahlian terbaiknya.

Jadi, kendati Masternya sendiri yang memberi perintah, Guiltilaw tidak melihat buruan yang hendak dia sergap kecuali monster tolol yang ‘kan menyia-nyiakan tenaganya.

Meski alamiahnya ia tak berniat sedikit pun untuk kufur atau menentang Master.

Karena tanduk patahnya memungkinkan Guiltilaw untuk melepaskan diri dari kutukannya.

“—”

Guiltilaw mengarahkan moncongnya ke sekeliling, mencari sumber suara sambil memikirkan perintah Masternya.

Terdiam di luar pintu, memburu musuh apa pun yang mungkin mendekat—demikianlah tugas yang dilimpahkan kepada Guiltilaw, sebagaimana hasrat Masternya.

Drap, drap, drap. Suara-suara kelelahan tak berdaya itu jelas adalah langkah kaki.

Banyak monster berkaki dua, seperti Masternya, membuat suara ini ketika sedang berjalan. Antara monster-monster itu ada yang sungguh-sungguh kuat, yang bahkan tak membuat suara seperti langkah kaki, namun pemilik langkah saat ini tidaklah kuat.

Langkah-langkah itu tanpa pertahanan, tak terduga, tidak disengaja, teracuhkan—tiada keagungan sama sekali.

 Guiltilaw mendapati langkah-langkah ini menjengkelkan meski dijadikan makanan karena sangking lemahnya mereka.

“—”

Diam-diam, Guiltilaw menjauh dari pintu.

Langkah kaki datangnya dari tangga barat, arah ia mendengar suara samar-samar pertempuran beberapa saat ini.

Guiltilaw tahu bahwa Masternya telah membawa Monster-Monster Iblis lain. Selagi menginstruksikan banyak hewan yang lebih lemah darinya dalam segi kekuatan maupun ukuran untuk mengepung Mansion itu, Masternya menugasi Guiltilaw untuk menjaga pintu, menunggangi hewan buas besar dan pergi berburu.

Guiltilaw sangat-sangat tidak puas karena memilih binatang berukuran besar itu dan meninggalkannya untuk menjaga sisi belakang. Tetapi bila musuh yang dia lawan di sini kuat, lantas Guiltilaw mau-mau saja berada di sini, dan menjaga kehormatannya.

Jadi, Guiltilaw tidak melakukan hal tolol seperti meninggalkan posnya untuk menyerang musuh, entah monster apa yang mereka lawan, sampai mencapai tempat ini.

Monster lemah yang bahkan tak bisa sampai di lokasi Guiltilaw tak pantas dilawan.

Sosok lemah yang dibantai oleh Monster-Monster Iblis sihir inferior darinya tak pantas diburu.

Akan tetapi. Mereka, mangsa yang mengalahkan Monster-Monster Iblis lain, dan tiba di tempat ini pantas diburu. Kedua kalinya Guiltilaw merasakan kehadiran mereka, diam-diam ia girang.

—Dan ini yang dia tunggu-tunggu?

Sesuatu yang rapuh, tak tahu caranya menyembunyikan jejak, daya tempur teramat lemah.

Satu ayunan cakarnya, satu gigitan taring kuatnya, akan mencerai-beraikan gerangan ini, monster rendahan tuk digigit.

“—”

Yang berkobar dalam dirinya adalah kemarahan. Kemarahan belaka.

Taringnya ‘kan menghancurkan para mangsa, tak membiarkan seonggok daging pun turun ke kerongkongannya, dia biarkan saja berserakan di lantai.

Demikianlah satu-satunya cara yang akan meredakan hinaan membara ini.

Mengejar langkah-langkah kaki tersebut, Guiltilaw bergerak tanpa menyulut sebayangan pun dalam sinar bulan. Bila mana seseorang mendapati bayangan sosok besarnya bergerak, mereka pasti berpikir sedang melihat mimpi buruk.

Pembunuh dari hutan eboni mendekat, mendapati mangsanya berhenti di tikungan berikutnya—Guiltilaw menghunuskan cakarnya, berniat membelah dua si mangsa dari belakang.

“—!”

Tanpa suara apa pun, Guiltilaw merentangkan leher dan mengincar punggung buruannya—tapi.

“—?”

Mangsa yang ia tangkap, juga rasakan dalam radal jahatnya, tak terlihat di mana pun. Tidak yakin mesti mencakar ke arah mana, Guiltilaw berhenti semili detik, merasa ada yang tidak benar. Mengendus-ngendus sambil memutar kepalanya.

Kemana perginya mangsa yang bodoh, lemah nan rapuh itu?

“—!”

Sekali lagi, suara langkah kaki menggelitik telinga Guiltilaw.

Dia menundukkan kepala dan merasakan asal suara, mendapati suaranya berasal dari tangga.

Suara langkah kaki mangsa, kian lemah, sedang berlari menuruni tangga.

Tampaknya mereka telah menyadari kehadirannya dan berusaha menghindarinya. Tapi jika Guiltilaw tahu itu, dia takkan pernah membiarkan mangsanya kabur.

Guiltilaw menoleh. Melihat pintu yang semestinya dia lindungi atas perintah sang Master.

Barangkali menjauhkan diri dari posnya, namun mangsa ini tentu adalah mangsa yang sang Master perintahkan. Apabila dia membantai mangsa-mangsa itu, sama saja ia memenuhi perintah Master.

Setelah membuat keputusan, Guiltilaw mengejar mangsa yang melarikan diri tanpa ampun.

Baik-baik mengajarkan mangsanya bahwa ketika mereka memunggungi Guiltilaw—belum lagi dalam jangkauan serangannya—mereka tak lagi dapat bertahan.

Bagi Guiltilaw, yang berlari menjelajahi gunung dan seekor Raja hutan, memburu mangsa yang kabur adalah hiburan sehari-hari.

Satu-satunya mangsa yang layak ditelan daging ini adalah mangsa yang sungguh-sungguh kuat.

Mangsa yang melarikan diri dan tak bertahan sama sekali membuat Guiltilaw tak luput dari sensasi berdarah seolah cakar serta taringnya mengaduk-aduk jeroan—mereka juga mesti tahu itu.

Guiltilaw turun tangga, mengikuti jejak.

Menandang dinding di tangga, mendarat, dan melayang-layang di udara sampai ke lantai bawah. Kemudian lantai dua, lanjut lantai pertama untuk mengejar mangsanya, sekarang dia berada di lantai gedung paling bawah.

Merasakan tanda-tanda pertempuran.

Bau Masternya, dan bau binatang buas menyebalkan yang menemaninya. Bau lainnya adalah darah dan baja, aroma-aroma kuat.

“—”

Kalau boleh, dia akan berlari ke sana, nimbrung dalam pertarungan. Ingin mengayunkan cakar dan taringnya di hadapan sang Master, mengoyak-ngoyak petarung kuat sampai hancur dan menghanyutkannya dalam lautan darah, menyicip rasa kemenangan. Sayangnya. Dia tak bisa melakukannya. Dia punya perintah yang harus ditegakkan.

—Misal dia bisa memburu mangsa ini, barangkali akan diperkenankan untuk ikut serta dalam pertarungan.

“—!”

Guiltilaw merasa taringnya makin terbakar, tubuhnya gemetaran.

Lagi-lagi mendengar langkah kaki, mengejarnya dan kemudian mendengar suara pintu tertutup jauh di koridor gelap yang berhasil memancing perhatiannya, pintu itu tertutup rapat.

Menghampiri, berdiri diam di hadapan pintu, Guiltilaw menggunakan ekor panjangnya dan membuka portal.

Bukan pertama kalinya ia menyerbu monster berkaki dua dan menajamkan taringnya.

Guiltilaw memahami kerangka pintu-pintu ini, meremas tubuh besarnya melalui pintu dan menyelinap ke dalam ruangan. Dia mengira ada mangsa yang tengah menunggu kematiannya, tapi ia tak menemukan satu orang pun dari mereka, sekali lagi Guiltilaw terkejut hebat. Namun kekecewaannya kali ini tak bertahan lama.

“—”

Memutar kepala, tatapan Guiltilaw tertuju pada sudut ruangan—di lemari pakaian. Yang mencuat dari celah antara dua pintu lemari adalah kain pakaian yang jumlahnya kebanyakan. Pastinya mangsa-mangsa itu menjejal masuk ke dalam karena panik, dan pakaian mereka tersangkut. Kebodohan mangsanya, yakin bisa bersembunyi dari Guiltilaw, lucu banget.

Guiltilaw diam-diam melangkahkan kakinya. Merayap ke dekat lemari.

Mengangkat ekornya, menajamkan ujungnya, tidak ragu-ragu sejenak pun.

“—!”

Ekornya memanjang, dengan mudah menembus lemari bak tombak.

Menyisakan lubang bundar seolah dibor—banyak lubang, lubang seukuran koin menusuk satu demi satu ke dalam lemari, menusuk mangsa malang yang bersemayam di dalam.

Setelah lebih dari dua puluh lubang mendesain lemari pakaian, Guiltilaw berhenti menyerang dengan ekor.

Menggerakkan kaki depannya dan menarik pintu lemari agar melihat mangsa menyedihkannya mati. Pintu berlubang itu terbuka dengan mudah, dan mangsa di dalamnya—

“—Grawh!?”

Begitu Guiltilaw mengkonfirmasi keberadaan mayatnya, hidungnya yang membara membuatnya terhuyung mundur.

Bau busuk kuat menembus lubang hidungnya, sensasi menyakitkan sampai-sampai ia meratap pilu. Kembali melihat lemari pakaiaan, mendapati botol transparan pecah yang dibanjiri cairan tak berwarna.

Bau busuk itu dari zat ini. Tidak ada mangsa dalam lemari pakaian.

Kain yang menonjol hanyalah pakaian dari dalam saja.

“—!”

Sekali lagi mendengar langkah kaki dari aula di luar ruangan, Guiltilaw berbalik.

Namun hidungnya tak berfungsi, untung mata dan telinganya baik-baik saja. Mendapati bayangan yang berlarian di koridor, sambil meratapi penghinaan terhadap hidung cacatnya, ia mengejar bayangan itu. Guiltilaw tak pernah semalu itu dalam hidupnya.

Bukan konfrontasi berani nan jujur kepada Guiltilaw, monster itu telah mengalahkan semua musuhnya, entah dengan mudah menenggelamkan taringnya kepada mangsa yang melarikan diri. Mangsanya adalah entitas yang teramat-amat bergantung pada nyawanya, tak pernah ditemui Guiltilaw sebelumnya.

Sungguh pasti, bunuh mereka. Bantai mereka. Kunyah mereka, obrak-abrik mereka, injak-injak mereka. “—”

Lupa untuk membungkam langkah kakinya, tubuh besar Guiltilaw memaksa masuk ke dalam ruangan yang kakinya tuntun.

Terlalu mudah menembus pintu kembar. Yang menyambutnya adalah ruangan yang jauh lebih besar daripada kelihatannya.

Sebuah meja besar berdiri di tengah-tengah ruangan, di ujung ruangan adalah perapian. Lilin menyala di atas taplak meja putih. Berada di satu-satunya ruangan yang diselimuti sumber cahaya, nyala api berkedip-kedip memanggil.

“—”

Api adalah sesuatu menyebalkan bagi Guiltilaw.

Bahkan pada siang hari, ketika bola api putih besar tetap berada di atas langit, Guiltilaw tidak suka berada dekat-dekat api.

Lagi pula, hutan yang ditinggali Guiltilaw habis dilahap api, kehilangan rumah damainya. Tanduknya patah dan mulai mematuhi perintah Masternya selama kerusuhan itu, jadi api memicu kenangan akan kebebasan sekaligus penghinaan bagi Guiltilaw.

“—”

Dia tak mendengar langkah kaki. Namun mendengar sesuatu yang lain.

Di seberang pintu yang baru saja ia lewati ada pintu lain, di ujung ruangan besar sana.

Ruangan sempit tepat di balik pintu, dia merasakan sesuatu.

Guiltilaw mengendus, sayang indra penciumannya belum sembuh.

Tidak bisa mengendus aroma mangsa yang mengompol ketakutan. Detik-detik ia mengoyak mangsanya, kemungkinan besar tak merasakan atau mengecap darahnya, sungguh sangat disayangkan.

Namun ia bisa menunda sensasi itu untuk waktu yang lama, asalkan berhasil membantai mangsanya. Sekarang ini, menghapus rasa penghinaan yang menyala-nyala di dadanya, juga membuat mangsa yang mempermalukannya menjerit kesakitan, adalah hiburan yang dengan senang hati dilakukan Guiltilaw.

“—”

Monster itu melangkah maju, langsung menuju ruangan.

Menusukkan ekor tajamnya ke pintu ruangan. Melubanginya seperti lemari pakaian, kemudian Guiltilaw membuka pintu dan merengsek masuk.

“—OOOOO!”

Meraung-raung di dalam ruangan, berkobar-kobar.

Raungannya mengintimidasi mangsa, menakut-nakuti yang lemah, mencakar dan menggigit dagingnya.

Mencambuk-cambukkan ekornya, menyebarkan kehancuran di seluruh ruangan, seketika itulah debu meletus dari rak dan kotak-kotak dalam lemari. Kaki depannya menghajar lantai, merusak lemarinya dan merobek-robek kain yang tersebar ke seluruh lantai hingga debu mengepul—namun tidak. Gumpalan debu yang cukup tebal kian menghalangi penglihatan Guiltilaw.

“—!?”

Visi Guiltilaw memutih, tenggorokannya perih tatkala menarik nafas, ia batuk-batuk. Semacam tepung berjumlah besar beterbangan di udara. Cukup banyak tepung hingga pandangannya dirampok, bahkan merampas nafasnya.

“Kena!”

Seseorang, beberapa monster, berbicara.

Guiltilaw mendengar suara mereka bukan dari dalam ruangan ini, alih-alih dari ruangan sebelumnya.

“Makan nih, ilmu sains—bom tepung!”

Terdengar suara, sesuatu dilemparkan ke dalam ruangan yang penuh warna putih.

Sesuatu cerah yang bekerlip-kerlip itu adalah salah satu kandil dari meja di perapian.

Lilin-lilin itu menabrak dinding, nyala api berkedip jatuh ke lantai dan menyulut lebih besar selama sesaat.

“—”

“H-hah ….?”

Tapi hanya itu saja.

Kendilnya jatuh saja ke lantai, tidak terjadi apa-apa. Si pembicara nampaknya salah paham tentang sesuatu, Guiltilaw tahu mereka persis berdiri kebingungan di luar ruangan.

“—!”

Insting Guiltilaw memberitahu bahwa dirinya takkan mendapatkan kesempatan emas lagi.

Musuh melakukan kesalahan. Dan bila kesalahan itu tak terjadi, hidup Guiltilaw pasti dalam bahaya.

Paham akan hal itu, Guiltilaw memutar tubuhnya, bermaksud melarikan diri dari ruangan ini.

Kalau saja bisa keluar menuju ruangan besar, tempat dia bisa mengayunkan cakar dan ekornya dengan bebas, tak mungkin mangsanya bisa membuat rencana. Guiltilaw hendak memanfaatkan perbedaan kekuatan, dan meraih kemenangan. Tak perlu lagi melakukan lebih dari itu—

“Ya, sudah aku bilang, kan? Jangan melakukan hal sia-sia seperti ini!’

“Lebih cepat begini!”

Sewaktu Guiltilaw berniat terbang keluar ruangan, dia mendengar dua orang mangsa tengah berbincang.

Satunya bersuara lirih, satunya bersuara keras. Saat-saat menyadari mangsanya berjenis kelamin berbeda, Guiltilaw merasa rak di belakangnya runtuh menimpanya.

Tali yang ditarik melalui pintu masuk terhubung ke kaki rak.

Ditarik paksa, rak itu runtuh menimpa punggung Guiltilaw. Namun ukuran rak hanya menghantam punggung raksasa Guiltilaw.

Kekuatan hantamannya ke Guiltilaw adalah nol.

Masih santai setelah ditubruk rak, Guiltilaw memotong talinya dengan cakar.

Dan ketika hendak keluar dari ruangan—

“—?”

Lemari terbuka, cairan membasahi seluruh tubuhnya.

Rasanya berlendir, tak seperti air. Warnanya agak kuning, mengalir di atas bulu-bulu hitam rasanya tak nyaman bagi Guiltilaw. Tapi ketidaknyamanan itu langsung lenyap.

“—!?”

“Rasakanlah investasi pribadi minyak Otto Suwen—ambil sebanyak pun Anda mau!”

Terdengar suara mangsa dari luar ruangan.

Tapi Guiltilaw tak punya waktu untuk memikirkan suara lemah itu.

—Minyak yang menutupinya bersimbah api, api yang dia benci membakar seluruh tubuhnya. “—!”

Raja Hewan Buas, turun dari dataran dan selamanya terobsesi pada tahkta di langit hutan, tak mengenal dirinya, ia dibakar dalam api panas sepanas penghinaannya.

Catatan Kaki:

  1. Possum kerdil pegunungan (Burramys parvus) adalah binatang marsupial Australia yang aktif di malam hari, berukuran kecil sebesar tikus (45 gram / 1,6 ons, dapat ditemukan di daerah pegunungan batu bersalju, dan lahan berbatu besar terutama di Victoria selatan, dan sekitar Gunung Kosciuszko di Taman Nasional Kosciuszko New South Wales di ketinggian 1300 – 1230 mdpl, ekor prehensilnya yang memiliki panjang hampir 14 cm, lebih panjang daripada panjang tubuh dan kepala yang hanya 11 cm. Makanan dari Possum kerdil pegunungan meliputi serangga (seperti ngengat Bogong), buah berdaging, kacang-kacangan, madu dan biji-bijian. Tubuh mereka diselimuti mantel rambut tebal berwarna abu-abu pekat kecuali bagian perut yang berwarna krem. pada bagian bawah hewan betina, terdapat kantung pada bagian bawah perut yang di dalamnya terdapat empat puting.
  2. Khimaira (Yunani: Χίμαιρα; Chímaira) adalah makhluk legendaris dari mitologi Yunani yang merupakan gabungan dari tiga hewan: ular, kambing, dan singa. Berbadan kambing, berekor ular, dan berkepala singa, namun beberapa kisah mengatakan kepalanya terdiri dari dua hewan (kambing dan singa), atau gabungan dari ketiga hewan tersebut. Khimaira mampu menyemburkan api dari hidung dan mulutnya. Kadang-kadang Khimaira menjadi lambang kekuatan setan.

Menurut mitologi, Khimaira merupakan puteri dari Tifon dan Ekhidna, dan bersaudara dengan beberapa monster dalam legenda, seperti anjing Kerberos dan Hidra dari danau Lernai.

Khimaira berhasil dikalahkan oleh Bellerofon sambil menunggangi Pegasus (kuda bersayap), atas perintah Raja Iobates dari Likia. Ia mengalahkan Khimaira dengan lembing dan memenggal kepala makhluk itu.

4 Replies to “RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 126”

  1. Adm00n-sama, kalau boleh ngasih masukan sebenernya nama sang master makhluk sihir itu Meili bukannya Mei Lee

    Btw otsukare-sama adm00n, dan minnal aidin wal faizin :v

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *