RE: ZERO KARA HAJIMERU ISEKAI SEIKATSU ARC 4 BAB 125

Posted on

Pertempuran di Mansion Roswaal

Penerjemah : Dark Souls

“Al-Donaaa!”

Satu-satunya orang yang dapat bereaksi terhadap ancaman serangan adalah Otto.

Mengulurkan tangan ke depan seraya merapal—aliran mana menerobos lantai Mansion, bangkit suatu tembok bumi, yang menghalangi keseluruhan koridor dan menghambat laju Elsa.

Akan tetapi ….

“Dasar pengganggu.”

“Satu serangan saja!?”

Sekelebat pernyataan singkat, bersamaan dengan dua ayunan kukri.

Tebasan itu menyobek dinding layaknya kertas, satu tendangan kepada blokade itu, penghalangnya langsung hancur.

Partikel-partikel mana tersebar di sepanjang sisa-sisa dinding yang runtuh. Senyum sadis khas disertai sinar perak pisau.

“Pertama-tama menggorok lehermu biar tidak bisa bicara, karena aku curiga kau tidak bisa diam.”

“Berhenti ngomongin hal-hal mengerikan.”

Memanfaatkan celah sesaat yang diciptakan Otto, Subaru mmeluk Petra erat-erat dan pergi ke ruang sebelah. Otto mengekor di belakang, menutup pintu rapat-rapat kemudian bermanuver ke tempat tidur belakang.

Sebuah tebasan memotong pintu. Bagian bawahnya terjatuh setelah ditendang, Elsa masuk ke dalam.

“Makan nih!”

Elsa merengsek masuk ke dalam ruangan, Subaru melawannya dengan gantungan kayu. Perempuan itu menghindar dengan mundur dan membelah dua gantungannya oleh bilahnya, lanjut mengincar leher Subaru dengan ayunan belakang. Untungnya Petra ikut bertempur dan mendorong Subaru menjauh dari serangannya, kontak senjata berakhir dengan sedikit goresan.

“Duh. Gadis bandel.”

“Dasar tolol! Dia tuh kebanggaan kami sekaligus gadis baik.”

Darah merembes keluar dari leher Subaru. Menekan lukanya sambil menarik mundur Petra.

Seringai menyeramkan tumbuh di wajah Elsa selagi bersiap untuk mengejar mereka.

Sayangnya ….

“Bagaimana dengan ini!”

Otto melempar batu sihir, mengincar wajah musuhnya.

Benda merah bercahaya ini dikemas mana api, bagaikan peluru shotgun.  Benda itu adalah kartu truf Otto, lebih truf daripada yang dia gunakan saat melawan Garfiel.

Kartu as tersembunyi Otto terbang lurus menuju Elsa yang tak berdaya—DUARR.

Batu Sihirnya meledak merah di tengah ruang antara Otto dan Elsa.

Suara ledakan serta kilauan cahaya sekilas menyelimuti ruangan, angin panas mengipas-ngipas Subaru yang menonton.

Matanya fokus betul melihat Elsa yang tidak repot-repot balik badan karena dia melempar pisaunya dan menghancurkan batu sihir Otto.

Batunya meledak bukan pada titik sasarannya, ledakannya membakar mata Otto. Pria itu berteriak dan terhuyung mundur.

Elsa menendang perut Otto, menghempasnya sampai menabrak dinding. Wanita itu bahkan tidak melirik Otto yang roboh dan langsung saja mengejar Subaru, yang menahan nafas. Alis Elsa terangkat.

“Oh? Kau … kurasa aku kenal kau yang dari Ibu Kota itu.”

“A-aku merasa terhormat kau mengingatku. Jadi dari hubungan demikian, berkenankah kau melepaskan kami?”

“Aku tekankan sekali lagi, entah berapa lama, aku akan mengorek setiap perut yang gagal aku dapatkan.”

“Dia seorang kolektor.”

Petra lebih erat mencengkeram lengan baju Subaru. Isi kepala laki-laki itu kosong-melompong.

Merasa Gerbangnya sudah mati. Dia bisa-bisa saja berdoa atau mengobarkan semangat jiwanya. Namun mustahil untuk merapalkan Shamac di sini, parahnya lagi dia akan pingsan bila menggunakannya saat ini. Tersisa satu pilihan—Unseen Hand.

“—”

Begitu Subaru memutuskan untuk menggunakannya, benda asing nan gelap merayap di sekeliling tubuh Subaru.

Tadinya diam, tetapi mulai memperjelas eksistensinya tatkala Subaru memanggilnya, tak sabar ingin menunjukkan kekuatannya dan bersorak-sorai.

Merasakan suatu firasat, seolah-olah ia memberi makan monster menjijikkan.

Selagi secara sadar mengabaikan sensasi itu, Subaru menitahkan kekuatan gelap yang meringis-ringis berteriak, hendak merobek-robek jalan ke dunia luar.

Subaru bisa saja menangis darah terhadap penderitaan ini, ditambah lagi enggan memanfaatkan kekuatan tersebut.

Bagaimanapun juga. Subaru mengandalkan segenap kekuatannya, mengeksploitasi segalanya.

Semuanya demi menyelamatkan orang-orang yang ingin dia selamatkan.

“Ahh … tampangmu mendebarkan.”

“Aku tunjukkan kau sesuatu yang lebih hebat.”

“Aku jadi girang nih.”

Membidik titik fatal Elsa yang mengayunkan kedua bilahnya, Subaru menarik pelatuknya kuat-kuat.

Kini dia perlu melepaskannya saja, lalu sosok rampingnya akan tercabik-cabik dan terlubangi.

“—○○○”

Sesuatu yang menggeliat-geliat mengalir dalam aliran darahnya, tersebar ke seluruh tubuh.

Seakan-akan bak udara yang dia serap terlihat berwarna, seolah terselubung panas menyengat, kala sang alien gelap memanjangkan kekuasaannya, gerakan Elsa dapat dibaca dan diantisipasi. Persis seperti ini, mengerahkan segalanya, kemudian—

“Subaru!”

Erangan sedih rasa sakit dari sampingnya.

Wajah Subaru berkerut karena kaget, emosi kotor dalam dirinya telah menyebar.

Tinggal sisa-sisa sedikit noda hitam, emanasi hitam kejam yang tak berubah.

Elsa mulai mendekat, Subaru dengan panik mencoba mengubah sasarannya karena takut tidak tepat waktu—ketika itulah.

“—Hampir.”

“—Dihindari!?”

Perlu satu mili detik tuk menyadari sensasi yang datang dari belakang, ia menghindar.

Membatalkan serangannya kepada Subaru, berputar menjauh, menari-nari dari kekangan cakar yang menghantui punggungnya.

Berbalik ke belakang, menendang bagian samping Frederica dan mengayuh momen itu untuk menyikut Subaru, menghempaskan mereka berdua sambil berjungkir balik ke belakang—kabur dari mereka berdua dan mendarat aman di tempat tidur kamar.

Elsa menyentuh-nyentuh punggungnya, mendapati darah di telapak tangannya. Dia terlihat kelewat senang.

Selanjutnya menatap Frederica yang jatuh terlutut di lantai, dan memiringkan kepala ceria.

“Satu lagi … tidak, dua orang lagi melukaiku. Benar-benar Mansion mantap.”

“Serangan kejutan barusan bahkan tak berhasil … barusan bukan reflex seorang manusia.”

Frederica mengerang frustasi, tidak bisa diam.

Dadanya yang kena siku membuat Subaru batuk-batuk selagi merangkak menghampiri Frederica.

“Frederica, ini salahku, terima kasih. Dan, Petra juga.”

Setelah berbicara pada Frederica, Subaru berterima kasih kepada Petra, tangan gadis mungil itu menggenggamnya. Petra menggeleng kepala dengan mata berkaca-kaca.

“T-tidak, akulah yang semestinya minta maaf. Tapi, Subaru … matamu tampak seram, dan ….”

“Jujur saja, aku berada di ambang kematian. Akhirnya bakalan buruk apabila aku tidak dijauhkan dari sana. Sepertinya tidak boleh ceroboh sewaktu menggunakan Unseen Hand ….”

“Unseen … apa?”

Tidak mengejutkan bagi Subaru bila kartu as-nya adalah pedang bermata dua.

Masalahnya di sini, cara menggunakannya kini terbatas—dia hanya bisa berdoa bahwa situasi bumerang ini berakhir kesuksesan.

“Kakak Frederica ….”

“Pasti kau ketakutan, Petra. Hebat sekali kau tidak menangis.”

Petra masih mencengkeram lengan bahu Subaru saat Frederica memanggilnya. Frederica memberi pujian kepada perjuangan pelayan juniornya selagi menghadap Subaru, raut wajahnya tegang.

“Subaru-sama, maafkan aku. Aku tahu kau berkehendak membawa Rem-sama dan keluar dari Mansion … tugasku gagal.”

“Tidak, keadaan di sini sudah buruk. Keadaan di luar pun lebih buruk … mana Rem?”

“Di sini.”

Tangan Frederica tidak memegang apa pun, karena keduanya memakai cakar cestus.

Subaru cemas soal kondisi Rem yang absen, Frederica menampakkan punggungnya. Diamankan kuat-kuat dengan tali, yang berada di punggung belakangnya adalah, Rem.

Terikat mantap, namun masih tidak terlihat meyakinkan bagi Subaru.

“Aku tahu kita lagi darurat, tapi sepertinya leher Rem bakalan patah semisal kau banyak bergerak, rasanya mengerikan!” ucap Subaru.

“Untungnya, aku ragu-ragu untuk menuturkannya, tetapi Rem-sama telah terpisahkan dari aliran waktu teratur. Demikianlah, aku mendapati segala sesuatu tidak memengaruhinya bahkan perlakuan kasar ….”

“M-meski begitu, berusahalah untuk memperlakukannya baik-baik, oke?” begitulah upaya terbaik Frederica.

Subaru tak ingin komplain karena dia tak punya rencana lain untuk diajukan. Mesti membiarkan Rem bertahan melalui pengalaman tak nyaman untuk sementara waktu. Omong-omong ….

“Tak satu pun dari kami bisa bertarung kecuali Frederica. Aku dan Petra bukan petarung. Rem tertidur pulas. Otto bertarung sekuat mungkin, tetapi perjuangannya berakhir tanpa hasil ….”

“Kecuali aku tidak mati!? Bisakah kau tidak menceritakan hal-hal menakutkan saat kepala orang tengah pusing!?”

Subaru merenung ke bawah sungguh-sungguh, Otto yang berbaring di sudut ruangan telah sadar.

Menggelengkan kepala dan merangkak menghampiri kelompok, pria itu gemetaran di dekat pintu serta gantungan pakaian yang rusak.

“Siapa kira batu sihirnya akan diiris dua seperti itu … sama Garfiel sukses-sukses saja.”

“Pengalaman mereka berbeda perkara bertarung, otak mereka boleh jadi berbeda. Jangan bandingkan mereka. Menyedihkan tahu.”

“Garf … dia besar dengan perilaku macam itu. Aku tidak mengawasinya ….”

Subaru menghentikan perbandingan kejam Otto.

Nampaknya Frederica pun menyimpan suatu pemikiran tentang Garfiel setelah reuni sepuluh tahunnya. Mungkin merasa bersalah karena tidak mengurusnya, alhasil adiknya besar menjadi semacam anak punk.

Mengesampingkan pemikiran itu jauh-jauh dan hubungan adik-kakak yang bisa dipikirkan nanti ….

“Kudu menyelesaikan masalah di depan mata ini.”

“Tampaknya obrolan menyenangkan kalian sudah selesai?”

“Maaf sudah membuatmu menunggu. Kau sendiri bagaimana? Kau sendiri siap menghadapi pertarungan satu lawan lima ini?”

“Tiga lebih tepatnya, atau bisa jadi empat anak yang tersesat dalam perhitunganmu?” Elsa tersenyum samar selagi ecara akurat menghitung jumlah non-kombatan.

Kukri di masing-masing tangan Elsa menari-nari seketika dirinya dengan mudah melompat dari tempat tidur. Menyaksikannya, Subaru menyadari sesuatu:

—Tiada darah yang terjatuh dari punggung Elsa.

“Padahal kulihat bekasnya dalam?”

“Maksudmu lukaku? Jangan khawatir, baik-baik saja kok. Lihat nih.”

Setelahnya, Elsa menghadap ke belakang.

Tepat seperti dugaan Subaru, bekas luka serangan Frederica kepada Elsa sudah hilang sepenuhnya. Bekas cakarnya masih merobek pakaiannya, bukan berarti Subaru telah mengiranya.

Frederica masih sama seperti semua orang kecuali Subaru yang menahan nafas, wajahnya tegang.

Sesudahnya, Subaru mendesah nafas panjang dan mengutuk firasat buruknya karena telah menjadi kenyataan.

“Maksudku, aku tahu membunuhmu tidak membuatmu mati … tapi beneran nih, lukamu sembuh juga? Kau beneran monster.”

“Aku tidak ingat pernah membuang sisi kemanusiaanku, aku juga merasa aneh pada dirimu yang mengucapkannya pada seorang wanita. Selain demikian, darimana kau tahu karakteristikku?”

“Semua orang akan berpikir begitu kepada seseorang yang masih selamat setelah dibelah dua oleh Reinhard.”

“Aku tidak sering-sering mengalaminya. Hampir saja mati terbelah—aku penasaran seperti apa perut para pahlawan, sangat menarik.”

Biarpun telah menyaksikan kekuatan tempur nan besar, sepertinya Elsa tidak belajar dari pengalamannya.

Oke-oke saja sih untuk berkeliling mencari Reinhard, rasanya ksatria itu takkan mati walaupun kau membunuhnya, jadi kenapa juga Elsa yang kelewat Fokus mempersulit tim Subaru?

Subaru telah keseringan mengeluh dan komplain pada Roswaal, lebih dari yang dikehendakinya.

“Subaru-sama … kehadirannya di sini berarti Garf, telah ….?”

Tanya Frederica ragu-ragu, wajahnya kaku.

Setelah melihat keabnormalan perkataan Elsa, dia penasaran soal ketidakhadiran adiknya.

Namun Subaru tak punya jawaban yang bisa menghilangkan kegelisahan Frederica.

Seandainya ada sesuatu yang dapat diutarakannya, yakni adalah ….

“Sayangnya, aku juga tidak tahu kenapa Elsa bisa di sini. Tapi diriku terlampau ragu soal Garfiel yang bisa dikalahkan dalam waktu sesingkat ini.”

“Selihatku, kekuatan mereka kurang lebih setara … Garf sepertinya unggul sedikit.”

“Pikirku juga begitu, tapi ujung-ujungnya kita tidak ….”

tahu, demikianlah maksud Subaru saat melirik Elsa, nafasnya membeku.

Mengikuti tatapan Subaru, Frederica menatap ke sebelah sana dan tenggorokannya tercekat.

Alis Elsa berkerut, kebingungan, dia juga melihat titik yang sama di atas kepalanya.

Sesungguhnya langit-langit ruangan itu telah menurun—jatuh—dan ….

“Bangsatlahh!”

“Ee, eehh!?”

“Si bego itu!” teriak Subaru.

Begitu mendengar retakan langit-langit, Subaru dan kawan-kawan bergegas menghampiri pintu.

Tepat setelah mereka berlima membanjiri pintu, langit-langit runtuh dan menghantam seluruh ruangan, perabotan berteriak dan kayu hancur berantakan.

Suara ledakan serta angin ribut yang berlari keluar ruangan, hasil akhir kehancuran itu menghantam koridor.

Kepulan asap putih membumbung naik. Subaru meludahkan debu pasir dari mulutnya ketika dia terjerembab ke koridor untuk menghindari kejatuhan langit-langit lantai atas. Rupanya semua orang berhasil menghindari keruntuhannya.

Dan dari balik asap.

“Jangan aneh-aneh deh lu! Sekarang kita berhadapan lagi!”

Suara kasar familiar penuh semangat.

Suara benturan antar logam dan bunyi pukulan menyertai suaranya, hingga sesosok bayangan menembus asap dan menampakkan diri di koridor.

“Uh, apaan dah!?”

Melihat sosok itu, Subaru berteriak kaget.

Tentu saja. Penampakannya tidak ia antisipasi, yang terlihat malah hewan berkaki empat dan berbulu kasar—bulunya bergelombang, kelihatan bak hyena.

Tapi besarnya tidak se-hyena. Lebih besar, besarnya dua kali lipat Subaru.

Subaru bergidik sesaat pada kedatangan hewan raksasa itu, namun segera menyadari mata hyena tak punya kehidupan lagi, kelihatan mati. Mendapati tulang lehernya patah, ditekuk berlawanan sudut dari yang seharusnya.

Sesuatu yang punya kekuatan maha besar jelas-jelas telah mematahkan leher monster itu. Bila mensuspek seseorang di Mansion yang mampu melakukan itu pada si hewan, ia adalah—

“Hei, Kapten. Kok kau masih di dalam?”

—Garfiel, yang menendang asapnya menjauh telah muncul sehat wal-afiat di koridor.

Memperhatikan Subaru dan teman-teman menatap terheran-heran pada si hyena yang meninggal, bocah itu tertawa-tawa. “Ga usah takut, semuanya baik-baik aja. Gua yang hebat ini udah ngebunuh dia.”

“Benar sekali, makasih … ya tidaklah! Kau mengalihkan perhatian darinya! Aku kira barusan akan mati! Sungguh mengerikan! Aku pikir aku akan mati!”

“Ya, ya, salah gua, tapi gua yang hebat ini sama sekali kagak pengen ngelepasin dia. Dia sendiri yang kabur pas gua berurusan sama si pengganggu.”

“Pengganggu apa?” tanya Subaru.

Wajah Subaru memahit sambil menggertakkan taringnya.

Pengganggu yang dia bicarakan barangkali adalah para hyena. Dari pembicaraan sebelumnya, pasti semacam Monster Iblis, tapi—dan saat itu ketika:

“Aduhhh! Aku tidak percaya ini! Elsa! Elsa! Lakukannn sesuatuuu!” kata seseorang.

“Inginnya begitu, tapi kau sendiri yang bilang serahkan padaku, urus saja hal lain. Aku pribadi sih senang-senang saja karena bisa mengeluarkan lebih banyak isi perut.”

Dua suara perempuan, satu keras, satu pelan.

Seketika, ruangan yang dihancurkan Garfiel meledak lagi, sesosok siluet menembus asap dan muncul di koridor.

Langkah kaki besar dan kecil—perbedaan ukurannya terlampau jauh sampai-sampai kau ragu untuk menyebutnya dua pasang saja.

“… monsterapa itu?” tanya Otto.

Tidak bisa diam, Otto mengungkapkannya dan menanyakan Subaru.

Subaru merinding, keringat dingin menuruni tubuhnya.

“Dari kelihatannya, monster itu kudanil raksasa.”

“Raksasa?”

“Ya. Lagian kudanil memang besar.”

Bila kau membayangkan kudanil dan mentiga kali lipatkan besarnya, mungkin akan seukuran monster ini.

Daging hitam, kulit tebal berbatu. Mata bundarnya bersinar merah, buas dan sangar. Mulutnya kelewat besar sampai bisa menelan Pak Tua Rom dalam satu gigit, gigi pipih bak batu mortar. Sekilas menyerupai kudanil, kurang lebih demikianlah yang kau ketahui mana kala melipat gandakan kebuasan dan kesangaran kudanil ini.

“Rex bercak-bercak udah matiiii! Dia matiii!!! Anak malang! Mengerikannn! Mengerikannnnn!” isak tangis bernada tinggi meraung-raung dari atas kudanil raksasa, berkabung atas kematian si hyena.

Seseorang yang menunggangi kudanil, kaki bergelantungan, adalah seorang gadis kecil. Rambut cokelat kepangnya menjuntai-juntai, perawakannya proporsional.

Wajahnya akrab bagi Subaru.

“… Dari hutan Monster Iblis.”

Tatkala Subaru terjebak dalam perulangan Mansion.

Sewaktu Subaru menyelami hutan untuk menyelamatkan anak-anak Desa Arlam. Dialah alasan utama anak-anak itu tertarik ke dalam hutan. Subaru dengar-dengar dari Roswaal bahwa dia menghilang ketika kerusuhannya berkahir, namun ….

“Dia orang yang itu!”

Sepertinya Petra satu pikiran.

Apabila Subaru satu-satunya orang yang mengetahuinya, bisa jadi akan dia anggap sebagai semacam kesalahpahaman. Tetapi sekiranya ingatan Petra sama, lantas laki-laki itu benar.

Gadis itu terlibat dalam bencana Monster Iblis.

Mempertimbangkan situasi saat ini, berarti bencana itu disebabkan oleh—

“Rencana, Roswaal!”

Dia bekerja sama dengan Elsa. Jadi Roswaal adalah orang di balik layar konflik itu?

Berarti kejadian-kejadian di Ibu Kota, di Mansion, semuanya adalah perbuatan Roswaal. Seluruh perjuangan Subaru telah tertulis oleh sebuah buku nubuat nan tidak jelas.

“Memangnya bisa aku terima hal tolol macam itu!”

Walaupun takdir berubah Subaru takkan menerimanya.

Sekurang-kurangnya, akan berubah dari sekarang. Jelasnya mengesampingkan bencana Monster Iblis sebagai bahan interogasi Roswaal nanti, sekaligus jadi alasan untuk membogem wajah si badut.

Subaru terselimuti kemurkaan dan rasa permusuhan. Gadis di atas kudanil akhirnya menyadari tatapan Subaru.

Mengedipkan mata bundarnya sambil melambai.

“Oh, kau cowok yang dulu. Dan Petra-chan di sini juga. Sudah lamaaaa, ya.”

“K-kau berani sekali bicara begitu. Sadarkah kau situasi sekarang bagaimana?”

Subaru tidak bisa mengindahkan sikap masa bodoh gadis itu.

Kebingungan karena Subaru yang berwaspada.

“Aku tahu, aku ‘kan lagi kerjaaaaa. Mama akan marah-marah kalau aku tidak bekerja. Tapi Elsa di sana bebas melakukan apa saja.”

“Beraksi di lini belakang sangat membosankan, sangat salah ketika menempatkanku ke sana. Metodeku jauh lebih segar dan lembut untuk menikmati hidup, ketimbang dijadikan makanan hewan. Terbunuh olehku adalah pilihan yang lebih baik bagi para korban, betul?”

Elsa mulai menghampiri sisi kudanil seraya mengarahkan perbincangan kepada Subaru.

Subaru mendesah, kemudian mengangkat satu jari.

“Oke, kalau begitu kuberi kau saran terkeren sepanjang sejarah. Ambil pisau yang kau pegang kemudian putar-putar. Lanjut tusukkan benda itu ke perutmu. Setelahnya kau berguling-guling di lantai. Isi perut di mana-mana, aku bahagia, kau juga bahagia. Tantangan seppuku1. Keren, gak?”

“Prett! Ahahahahahaha! Itu mengagumkan! Ayolah, Elsa, mau coba? Elsa, kau ‘kan suka perut. Seru tahu! Aku sangat menantikannya!”

“Maaf, tapi sudah kulakukan berkali-kali sampai bosan.”

Setelah mengetahui bahwa sarannya sudah pernah diterapkan, bulu kuduk Subaru seketika naik.

Bagaimanapun jua, dua kesulitan di hadapan mereka takkan berubah.

“Aku tidak tahu detailnya, tapi benarkah dia yang mengendalikan para Monster Iblis?”

“Keknya lu bener. Dia bersama Monster Iblis di luar, bersama kudanil juga, apa yang dia lakuin sama omongin kaga masuk akal sama sekali—Kapten, rencananya gimana?”

Jujur saja, situasinya berubah seratus persen dari rencana awal. Bukan hanya Elsa, mereka kedapatan musuh lain—musuhnya adalah seseorang yang menguasai Monster Iblis berjumlah besar.

Selama masih ada Monster Iblis buas di luar, hampir mustahil untuk keluar dari Mansion secara aman. Paling pentingnya lagi, tim Subaru belum mengumpulkan semua orang yang perlu mereka selamatkan.

Sekalipun membawa Frederica, Petra, serta Rem ke desa, masih belum cukup.

“Garfiel … mau melakukan hal gila?”

“Apa nih, Kapten.”

“Aku ingin kau melawan gadis itu dan Elsa secara bersamaan, terus-terusan.”

“—”

Subaru tahu dia meminta sesuatu yang tak masuk akal.

Elsa sendiri merupakan musuh yang tingkat kesulitannya tiada tara. Selagi Garfiel menyibukkannya, dia juga mesti mengalihkan perhatian Monster Iblis besar.

Subaru sejak pertama kali datang ke dunia ini, mempelajari ancaman Monster Iblis sampai hafal mati. Jadi ….

“Gak masalah. Serahin aja ama gua. Gua dah bersemangat sekarang.”

“—!? Serius? Tidak bercanda, kan? Kau bisa?”

“Terus gua ngapain di sini. Cuma omong doang. Dah telat ngedumel musuh yang menang jumlah. Sebagaimana ucapan Meedan yang mengemban gunung di bahunya tidak bisa jalan ke mana-mana.”

Setelahnya, Garfiel menyatukan perisainya bersama-sama.

Bahkan Subaru pun tak tahu itu keberanian atau bukan, parahnya tidak didukung oleh kepercayaan diri yang nyata.

Terlepas dari semuanya, Garfiel adalah satu-satunya orang yang bisa dia andalkan.

“Garfiel. Aku tahu sudah mengatakan ini berkali-kali di karavan , tapi ….”

“Gua denger. Gua yang hebat ini juga kagak pengen mati di sini.”

Garfiel menyela Subaru dan meyakinkannya dengan mendorong tubuhnya dengan bahu.

Berarti tidak perlu menuturkan hal lain lagi.

Protes lebih lanjut akan menghina kebulatan hati Garfiel. Jadi Subaru menelan kata-katanya dan kembali mendorong bahu Garfiel.

Sesudahnya, dia menaruh kepercayaan maha besar kepada Garfiel.

“Pergilah. Gua kaga bisa serius kalau lu ngalangin.”

Garfiel memamerkan taring-taringnya kala berbicara dengan orang lain.

Mendengarnya, Otto, Petra, juga Frederica menatap satu sama lain.

“Garfiel, jangan mati. Aku tidak ingin membersihkan kekacauan akibat Natsuki-san sendirian.”

“Kita tidak bicara banyak. Tapi baiklah. Kita akan berbicara nanti, bersama Nenek.”

“K-kau bisa, pria berwajah seram.”

Garfiel tersenyum kecut sambil mengangguk tiga kali.

Subaru merasa seolah-olah mereka telah menambah bendera kematian pada Garfiel, yang jadi pertanyaan seberapa besar tumpukan bendera itu sampai berubah menjadi bendera kehidupan, demikianlah cara Subaru merasionalisasikan sesuatu menjadi harapan.

“Jadi, musuh lu kali ini adalah gua. Sekarang gua kaga akan terganggu dan bercandaan. Cakar serta taring gua bakal ngehajar lu ampe nangis!”

Aum Garfiel saat dirinya balik badan.

Bermandikan agresinya, Elsa tersenyum sementara gadis yang duduk menggeram lirih.

“Mei Lee. Kali ini jangan ikut campur.”

“Tapi kaulah yang ikut campur, Elsa! Aku hanya mengikuti perintahhhhhhhh Mama!”

Kendati saling tidak setuju, Elsa and si gadis menyerang Garfiel.

Pria itu menguatkan dirinya tatkala menahan pukulan berat di satu perisai dan serangan tajam lainnya, percikan-percikan api beterbangan selagi Subaru melarikan diri secepat mungkin.

“Otto! Frederica! Situasinya telah berubah! Karena kita tidak bisa meninggalkan Mansion, kita kudu kabur lewat rute berbeda agar tidak dimakan para Monster Iblis!”

“Kau bilang rute berbeda, tapi aku yakin kita akan ketemu itu-itu juga meski lewat jalan belakang. Bila Garfiel tidak dapat mendukung pertarungan kita, bagaimana ini?”

“Bagaimana jika kau bernegoisasi dadakan dengan para Monster Iblis dengan memanfaatkan Divine Protection of Enoglossy-mu, tergantung bagaimana jalannya negoisasi, mereka bisa saja memberikan jalan dan kita cabut? Sekarang adalah kesempatanmu sebagai penuntun.”

“Monster Iblis biasanya akan ngomong Aku telan kau bulat-bulat, jadi tidak bisa dirundingkan!”

Dari awal harapannya sudah samar, Otto tampak sedih saat meresponnya, berlari di samping Subaru.

Ya, memang ada orang yang bisa kau ajak bicara, tapi tidak berkomunikasi. Nampaknya ajaran itu berlaku bagi manusia dan hewan. Elsa-lah bukti hebatnya.

Lantas tersisa satu jalan keluar yang bisa dipikirkan Subaru—

“Subaru-sama. Aku punya ide soal rute pelarian.”

“Aku tahu, Frederica. Mungkin saja tempat yang aku sarankan sama. Tapi ….”

Ada masalah dengan rute itu.

Sebagaimana yang Subaru ucapkan, dia belari cepat di koridor sembari menahan nafas. “Kemana pun kita pergi mereka tetap mempersulit kita, bangke!” —Di hadapan mereka, dua hyena hadir dan mulai melesat maju.

Meski para pemeran Pertempuran di Mansion Roswaal telah berubah, pertarungannya masih sengit.

Catatan Kaki :

  1. Gyokusai (玉砕), secara literal “shattered jade“, adalah eufemisme rakyat Jepang untuk serangan bunuh diri, atau bunuh diri untuk menghindari rasa malu (seppuku).Hal ini berdasarkan kutipan buku teks Bahasa Tionghoa Klasik Buku Qi Utara, 大丈夫寧可玉砕何能瓦全 “orang besar harus mati sebagai permata hancur daripada hidup sebagai ubin yang utuh.” Hal ini diaplikasikan pada konsep mati terhormat atas kekalahan oleh Saigō Takamori (1827–1877), dan digunakan sebagai slogan ichioku gyokusai(一億玉砕) “seratus juta perhiasan yang rusak” oleh pemerintah Jepang saat bulan-bulan terakhir Perang Pasifik, saat Jepang menghadapi serangan oleh Sekutu, beberapa persepsi dari keyakinan ini juga berasal dari Hagakurenya Tsunetomo Yamamoto, yang terkenal pada abad ke-18 atas risalahnya mengenai bushido.